Kumpulan Cerita Silat

30/08/2008

Kisah Membunuh Naga (50)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:22 am

Kisah Membunuh Naga (50)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

“Di dalam hati, aku menyintai dan menghormati kau sebagai seorang kakak. Tapi terhadap dia, aku mempunyai rasa kasihan dan rasa cinta yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Usianya banyak lebih tua dan tingkatannya pun lebih tinggi daripada aku. Di samping itu, ayah adalah seorang musuh besarnya. Ku tahu bahwa dalam hal ini kau menghadapi kesukaran-kesukaran besar. Tapi.. tanpa memperdulikan apapun jua, aku membuka isi hatiku kepadamu.” Sehabis berkata begitu, tiba-tiba ia berbangkit dan kabur secepatnya.

Boe Kie berdiri bagaikan patung dan dengan hati berduka ia mengawasi si bayangan Poet Hwi yang lalu menghilang di lembah gunung. Lama ia berdiri di situ dengan air mata mengalir di kedua pipinya. Sesudah kenyang menangis, barulah ia menyusul kawan-kawannya.

Melihat tanda-tanda bekas air mata di kedua belah pipi kauwcoe mereka, Wie It Siauw dan Swee Poet Tek melirik Yo Siauw sambil bersenyum. Di dalam hati, mereka menduga bahwa tak lama lagi Ko Cosoe bakal menjadi mertua Thio Kauwcoe.

Sesudah berada di kaki gunung, Yo Siauw berkata. “Kauwcoe, menurut pendapatku, Tio Kauwnio yang mempunyai banyak pengiring tidak akan berjalan sendiri. Maka itu usaha mencari dia tidaklah terlalu sukar. Sebaiknya kita sekarang mengejar dengan berpencaran, ke arah timur, selatan, barat dan utara dan besok tengah hari, kita berkumpul di Kok shia. Bagaimana pikiran kauwcoe?”

“Aku setuju,” jawabnya. “Aku akan mengambil jalan ke barat.” Kok shia terletak di sebelah timur Boe tong san dan dengan mengejar ke jurusan barat, ia harus menempuh jarak lebih jauh daripada kawan-kawannya.

“Hian beng Jie lo memiliki kepandaian yang tinggi,” katanya pula. “Apabila Sam wie bertemu dengan mereka, menyingkirlah jika masih bisa menyingkir. Tak usah Sam wie bertempur dengan mereka.” Ketiga jago itu mengiakan dan segera mengejar ke timur, selatan dan utara.

Jalanan ke barat adalah jalanan gunung, tapi dengan menggunakan ilmu ringan badan, Boe Kie tidak menemui kesukaran apapun jua. Dalam waktu satu jam lebih, ia sudah tiba di Sip yan tin. Sesudah makan semangkok mie di sebuah warung makan, ia menanya seorang pelayan, apakah dia pernah melihat sebuah joli dengan tirai sutera kuning.

“Lihat!” jawabnya. “Di samping joli ada tiga orang sakit yang digotong dalam tandu. Mereka lewat di sini kira-kira satu jam yang lalu menuju ke arah Oey liong tin!”

Boe Kie girang karena rombongan itu pasti tidak bisa berjalan cepat. Ia segera mengambil keputusan untuk menyelidiki di waktu malam. Ia segera pergi ke tempat sepi dan tidur di sebuah batu besar. Kira-kira tengah malam, barulah ia menuju ke Oey liong tin.

Dengan melompati tembok ia masuk ke dalam kota. Jalanan sepi, tapi penerangan di sebuah penginapan yang besar kelihatan terang sekali. Ia melompat naik ke genteng dan dengan beberapa lompatan ia sudah berada di atas genteng sebuah rumah kecil yang berdampingan dengan rumah penginapan itu. Dengan matanya yang sangat jeli ia memandang ke sekitarnya.

Tiba-tiba ia melihat sebuah tenda di atas lapangan, di pinggir sungai di bagian luar kota. Di seputar tenda itu berkelebat-kelebat bayangan-bayangan manusia suatu tanda bahwa tenda tersebut dijaga keras.

“Apa Tio Kouw nio berada di tenda itu?” tanyanya di dalam hati. Muka dan bicaranya nona itu tidak berbeda dengan orang Han, tapi tempat tinggalnya dan makanannya mempunyai selera orang Mongol.”

Tapi baru saja ia mau menghampiri tenda itu, dari jendela sebuah rumah penginapan tiba-tiba terdengar suara merintih. Boe Kie kaget. Ia melompat turun, mendekati jendela itu dan melongok ke dalam.

Dalam kamar itu terdapat tiga ranjang dan di atas setiap ranjang berbaring satu orang. Yang kedua tidak kelihatan mukanya, tapi yang menghadap ke jendela bukan lain adalah Pat pie Sin mo Oe boen Cek. Ia merintih dengan perlahan, rintihan dari seorang yang menahan kesakitan hebat. Sedang kedua lengan dan kedua betisnya dibalut kain putih.

Mendadak Boe Kie ingat sesuatu. “Tulang kaki tangannya telah dihancurkan olehku dan sekarang sedang diobati dengan Hek giok Toansiok ko,” pikirnya. “Kalau tidak merebut sekarang, mau tunggu kapan lagi?”

Memikir begitu ia segera mendorong jendela dan melompat masuk. Seorang yang berada di dalam kamar itu berteriak dan meninju. Dengan tangan kirinya Boe Kie menangkap tinju yang menyambar, sedang tangan kanannya menotok ke jalan darah itu.

Ia sekarang suatu mendapat kenyataan bahwa dua orang yang lain adalah si kakek botak A jie dan Giok bin Sin kiam Poei Tong pek. Orang yang ditotok olehnya mengenakan jubah panjang warna hijau dan tangannya memegang dua batang jarum emas. Tak bisa salah lagi dia seorang tabib yang sedang mengobati ketiga jago itu dengan penjaruman. Di atas meja terdapat sebuah botol yang berwarna hitam dan pinggir botol menggeletak beberapa gulung daun hio.

Boe Kie menjemput botol itu, membuka tutupnya dan mencium-cium. Ia mengendus bebauan yang pedas dan tajam.

Tiba-tiba Oe boen Cek berteriak, “Tolong!… ada orang merampas obat!…”

Bagaikan kilat Boe Kie menotok A-hiat (hiat yang membuat orang jadi gagu) ketiga jago itu dan kemudian membuka balutan lengan Oe boen Cek. Ternyata lengan itu dilabur dengan lapisan koyo yang berwarna hitam. Karena mengenal kelicikan Tio Beng, sehingga nona itu mungkin menaruh obat palsu di dalam botol untuk menjebaknya, maka Boe Kie segera mengeruk koyo yang melekat di luka-luka Oe boen Cek dan si kakek botak. Ia menganggap bahwa andaikata di dalam botol itu berisi obat palsu, obat yang dilabur kedua jago itu tak mungkin palsu.

Sementara itu karena mendengar teriakan Oe boen Cek, orang-orang yang menjaga di luar sudah mulai menyerang. Pintu ditendang dan beberapa orang menerjang masuk. Tanpa menengoki Boe Kie menendang setiap musuh yang mendekatinya. Dalam sekejap ia sudah merobohkan enam orang. Sesaat kemudian ia sudah mengeruk habis koyo yang melekat di luka-luka Oe boen Cek dan A jie dan kemudian membungkusnya dengan kain pembalut.

Ia tidak berani berdiam lebih lama lagi, karena jika Hian beng Jie lo keburu datang, ia bakal berabe sekali. Dengan cepat ia masukkan botol hitam dan bungkusan koyo ke dalam sakunya dan kemudian melontarkan tubuh si tabib keluar jendela.

“Plak!” tabib itu terpukul jatuh. Benar saja di luar bersembunyi musuh. Dengan menggunakan kesempatan itu, Boe Kie melompat keluar. Dua sinar golok menyambar. Dengan menggunakan Kian koen Thay lo ie Sin kang, Boe Kie menyeret dengan tangan kanannya dan menarik dengan tangan kirinya, sehingga musuh yang di sebelah kiri membabat yang di sebelah kanan. Sementara itu, ia sendiri kabur secepat-cepatnya.

Ia berlari-lari dengan hati bungah. Biarpun ia tidak dapat menyelidiki asal usul Tio Beng tapi didapatkannya Hek giok Toan Siok ko secara begitu mudah sudah merupakan hasil yang gilang gemilang. Ia tidak mau membuang-buang waktu pergi ke Kok shia guna menemui Yo Siauw dan yang lain-lain, tapi terus menuju ke Boe tong san. Setibanya di kuil, ia segera memerintahkan salah seorang anggota Ang sei kie pergi ke Kok shia untuk memberitahukan hal itu kepada Yo Siauw dan kawan-kawannya.

Mendengar Hek giok Toan siok ko telah dapat dirampas, Thio Sam Hong dan yang lain-lain tentu saja merasa sangat girang. Sesudah menuturkan cara bagaimana ia merebut koyo itu, Boe Kie segera membandingkan koyo kerokan dengan obat yang terisi di dalam botol hitam itu. Ternyata kedua-duanya tidak berbeda, di samping itu ia pun mendapat kenyataan bahwa botol obat dibuat daripada sepotong batu giok hitam yang jika dipegang mengeluarkan rasa hangat, sehingga botol itu saja mempunyai harga yang tidak bisa ditaksir berapa besarnya.

Sekarang ia tidak bersangsi lagi. Ia segera memerintahkan orang menggotong In Lie Heng ke kamar Jie Thay hiam dan merendengkan kedua mereka. Poet Hwie yang ikut masuk tidak berani kebentrok mata dari Boe Kie, tapi paras mukanya yang berseri-seri membuktikan bahwa ia merasa sangat berterima kasih. Dahulu waktu mengantar dia ke See hek Boe Kie telah membuat pengorbanan besar, antaranya di Koen loen san mewakili dia minum arak beracun. Tapi bagi si nona, semua budi itu kalah besarnya seperti budi yang sekarang.

“Sam soepeh,” kata Boe Kie, “lukamu yang dahulu sudah rapat dan sembuh. Kalau sekarang mau diobati tit-jie harus mematahkan lagi tulang-tulang dan kemudian menyambungnya pula. Tit-jie harap Sam soepeh suka menahan sakit untuk sementara waktu.”

Di dalam hati Jie Thay Giam tidak percaya bahwa kelumpuhannya yang sudah berjalan kurang lebih duapuluh tahun masih dapat diobati. Tapi ia tak mau menolak, sebab ia merasa paling jeleknya obat itu tidak berhasil dan ia bercacat terus. Di samping itu iapun sungkan mengecewakan keponakannya yang sangat berbudi. “Boe Kie berusaha untuk menebus dosa kedua orang tuanya dan jika aku menolak, ia tentu tak enak hati,” pikirnya. “Perduli apa sedikit rasa sakit.”

Ia seorang lelaki keras kepala yang tak suka banyak bicara. Ia hanya tersenyum dan berkata. “Boe Kie, kau boleh berbuat sesukamu.”

Sesudah meminta Poet Hwie keluar Boe Kie buka pakaian pamannya itu dan sehabis menotok jalan darah Hoen soei hiat (jalan darah yang mengakibatkan pulas) ia segera mematahkan tulang-tulang di bagian yang dulu patah. Ia menyambung lagi tulang itu melabur koyo dan dibalut dengan jepitan papan tipis.

Mengobati In Lie Heng banyak lebih mudah karena waktu bertemu dengan sang paman di See hek ia sudah menyambung tulang yang patah secara sempurna sehingga sekarang tidak perlu dipatahkan lagi. Ia hanya perlu melabur koyo dan membalutnya.

Sesudah selesai barulah merasai letihnya. Ia segera memerintahkan kelima orang kie soe Ngo heng kie untuk menjaga kedua pamannya secara bergilir lalu sehabis makan tengah hari, ia mengaso dalam kamarnya. Karena kantuk dan lelah tak lama kemudian ia tertidur.

Tiba-tiba lapat-lapat terdengar suara tindakan kaki dan seseorang berhenti di depan kamarnya. “Ada apa? Kauw coe sedang tidur?” bisik Siauw Ciauw yang menjaga di luar pintu.

Jawab Goan Hoan, Ciang kie soe Houw touw kie dengan suara perlahan, “In Lie hiap menderita kesakitan hebat dan sudah tiga kali pingsan.”

Sebelum Gan Hoan bicara habis, Boe Kie sudah melompat keluar dan berlari pergi ke kamar Jie Thay Giam. In Lie Heng sedang pingsan. Kedua matanya mendelik dan Poet Hwie menangis sambil mendekap muka dengan kedua tangannya. Di ranjang lain, sambil menggertak gigi Jie Thay Giam menggelisah.

Tak kepalang kagetnya Boe Kie. Ia segera menotok beberapa hiat dan mengurut tubuh In Lie Heng untuk menyadarkannya. Sambil menengok kepada Jie Thay Giam ia bertanya, “Samsoepeh, apa kesakitan terasa di bagian tubuh yang patah?”

“Benar, tapi itu masih tak apa,” jawabnya. “Yang lebih hebat lagi, rasa sakit di dalam perut? seperti…seperti digigit berlaksa kutu.”

Boe Kie mencelos hatinya. “Kalau benar keterangan itu, sang paman sudah pasti kena racun hebat. “Liok siok, apa yang dirasai Liok siok?” tanyanya kepada In Lie Heng yang sudah tersadar.

“Yang merah, yang ungu, yang hijau, kuning putih, biru…indah sungguh!…banyak sekali bola-bola kecil menari-nari…sungguh indah…lihatlah…lihatlah!… kau lihatlah.”

“Ah!” teriak Boe Kie. Ia merasa seakan-akan disambar halilintar, sehingga hampir-hampir ia jatuh pingsan. Mengapa? Karena ia ingat keterangan dalam Tok keng (kitab tentang racun) dari Ong Lan Kauw, yang antara lain berbunyi seperti berikut:

Cit ciong Cit hoa ko dibuat daripada tujuh macam serangga dan tujuh macam bunga beracun. Orang yang kena racun itu lebih dahulu merasakan sakit di dalam perut, seperti digigit serangga. Kemudian, ia seperti melihat macam-macam warna yang indah, seperti 7 macam bunga yang berterbangan kian kemari. Dari sekian banyak serangga dan bunga beracun, orang dapat memilih tujuh macam serangga dan tujuh macam bunga-bunga beracun untuk membuat Cit ciong Cit hoa ko. Yang paling hebat ialah empat puluh sembilan macam campuran itu dengan perubahan-perubahannya yang tak kurang dari enampuluh tiga macam. Racun koyo itu hanya dapat dipunahkan dengan menggunakan racun juga.

Keringat dingin membasahi baju Boe Kie. Ia tahu, bahwa ia sudah kena dijebak Tio Beng dan bahwa koyo di dalam botol itu bukan lain daripada Ciat ciong Ciat hoa ko. Mengingat kekejaman Tio Beng, ia bergidik. Dalam memasang jebakan, perempuan itu tidak merasa segan untuk melebur racun di tubuh kedua orang sebawahannya, untuk mengorbankan jiwa jago-jagonya yang berkepandaian tinggi.

Dengan cepat Boe Kie membuka kain pembalut dan dengan arak mencuci koyo racun yang melekat di kaki dan tangan kedua pamannya. Melihat paras muka pemuda itu, Poet Hwie tahu, bahwa sesuatu yang hebat telah terjadi. Tanpa malu-malu lagi, ia segera bantu mencuci kaki dan tangan In Lie Heng. Sesudah koyo bersih, ternyata warna hitam sudah masuk ke dalam daging dan tidak dapat dihilangkan lagi.

Boe Kie tidak berani sembarangan menggunakan obat. Ia hanya memberikan obat untuk menahan sakit dan menentramkan semangat kepada kedua pamannya. Sesudah itu, dengan tindakan limbung ia bertindak keluar dari kamar Jie Thay Giam. Rasa kaget, kuatir dan malu memenuhi dadanya. Tiba-tiba kedua lututnya lemas dan ia roboh sambil menangis.

Poet Hwie memburu. “Boe Kie koko! Boe Kie koko!” teriaknya dengan air mata bercucuran.

“Aku sudah membunuh Sampeh dan Liok siok!…” katanya dengan suara putus harapan. Pada detik itu, ia sama sekali tidak melihat jalan untuk menolong jiwa kedua pamannya. Cit ciong Cit hoa ko dapat dibuat menurut ratusan cara. Siapapun jua tak akan tahu serangga macam apa dan bunga apa yang digunakan dalam membuat koyo itu. Untuk memunahkan racun itu, orang harus menggunakan “racun melawan racun”. Dengan demikian, sebelum orang tahu racun apa yang terdapat dalam koyo itu, ia tidak berdaya, sebab kalau salah menggunakan racun, maka si penderita pasti akan hilang jiwanya.

Dalam kedukaannya dan rasa menyesalnya yang sangat besar, tiba-tiba Boe Kie mengerti, mengapa dahulu ayahnya telah membunuh diri. Ia sekarang sudah berbuat kesalahan besar yang tidak bisa diperbaiki lagi. Seperti mendiang ayahnya, baginya pun hanya terdapat satu jalan. Jalan membunuh diri untuk menebus dosa. Perlahan-lahan ia bangun berdiri.

“Boe Kie koko, apa benar tak ada obat lagi?” tanya Poet Hwie dengan mata membelalak. “Boe Kie koko, mengapa kau tidak mau mencoba?”

Boe Kie menggeleng-gelengkan kepala.

“Oh, begitu?” kata si nona. Di luar dugaan dalam mengeluarkan perkataan itu, suara dan sikap Poet Hwie kelihatan tenang.

Mendadak jantung Boe Kie memukul keras. Ia ingat apa yang pernah dikatakan oleh si nona. Pada waktu membuka rahasia hatinya, antara lain Poet Hwie mengatakan, “Kalau lukanya tak sembuh akupun tak bisa hidup lebih lama di dalam dunia.” Ia sekarang tahu, bahwa ia bukan membunuh dua, tetapi tiga orang.

Dengan mata berkunang-kunang, ia berdiri bagaikan patung. Tiba-tiba Gouw Kin Co masuk dan berkata, “Kauw coe, Tio Kouw nio berada di luar kuil dan minta bertemu dengan kau.”

“Aku justru mau cari dia!” teriak Boe Kie. Ia mencabut pedang yang tergantung di pinggang Poet Hwie dan lalu menuju keluar pintu dengan tindakan lebar.

Siauw Ciauw mencabut kembang mutiara yang tertancap di kundainya dan sambil mengangsurkan perhiasan itu kepada Boe Kie, ia berkata, “Kong coe, pulangkan ini kepadanya.”

Boe Kie mengawasi dan di dalam hati ia memuji sikap si nona. Tanpa mengatakan suatu apa, ia mengambil kembang itu.

Setibanya di luar, ia lihat Tio Beng berdiri sendirian dengan bibir tersungging senyuman, dengan disoroti sinar matahari sore, nona itu kelihatan lebih cantik lagi. Di belakangnya, dalam jarak belasan tombak, berdiri Hian beng Jie lo yang memegang tali les dari tiga ekor kuda.

Boe Kie melompat. Dengan sekali berkelebat tangan kirinya sudah mencekal kedua pergelangan tangan si nona, sedang pedangnya yang dipegang dengan tangan kanan, menuding dada musuh. “Keluarkan obat pemunah!” bentaknya.

Kata Tio Beng sambil tersenyum, “Kau pernah memaksaku, apa kini kau ingin memaksa lagi? Aku datang untuk menengok kau. Mengapa kau bersikap begitu garang terhadap seorang tamu?”

“Berikan obat pemunah kepadaku!” kata Boe Kie. “Jika tidak, aku tidak ingin hidup lebih lama lagi dan kaupun tak usah hidup lebih lama lagi”.

Muka si nona bersemu dadu, “Fui!” katanya. “Kau mau mati, boleh mati. Kau sangkut paut apa denganku? Siapa mau mati bersama-sama kau?”

“Aku bukan berguyon,” kata Boe Kie dengan mata melotot. “Apabila kau tidak menyerahkan obat pemunah, hari ini adalah hari matinya kau dan aku”.

Dari kedua pergelangan tangannya yang dicengkeramkan Boe Kie, nona Tio dapat merasakan bergemetarnya tubuh pemuda itu. Iapun merasai sebuah benda keras di telapak tangan Boe Kie.

“Pegang apa kau?” tanyanya.

“Kembangmu”, jawabnya. “Nih, aku pulangkan!” Dengan sekali menggerakkan tangan kembang itu sudah menancap di kundai si nona dan kemudian, secepat kilat, tangan kirinya itu sudah mencengkeram pula pergelangan tangan Tio Beng.

“Mengapa kau pulangkan?” tanya nona Tio.

“Kau mempermainkan aku hebat sekali,” jawabnya. “Aku tak sudi memegang segala milik kau”.

“Apa benar?” menegas Tio Beng sambil tersenyum. “Tapi mengapa kau meminta obat dari aku?”

Ditanya begitu, Boe Kie jadi tertegun. Dalam mengadu lidah, ia selalu kalah.

Mengingat bahwa Jie Thay Giam dan In Lie Heng akan segera meninggal dunia, bukan main rasa dukanya. Kedua matanya merah, hampir-hampir ia mengucurkan air mata. Andaikata ia bisa mendapatkan obat itu, ia rela untuk berlutut. Tapi ia yakin, bahwa terhadap wanita yang kejam itu, takkan guna ia memohon-mohon.

Sementara itu, In Thian Ceng dan yang lain-lain sudah datang ke situ. Melihat tangan nona Tio dicekal Boe Kie dan Hian beng Jie lo berdiri di tempat jauh dengan sikap acuh tak acuh, merekapun segera berdiri di belakang Boe Kie dan menunggu perkembangan selanjutnya dengan hati berdebar debar.

Sesudah berdiam sejenak, nona Tio berkata pula, “Kau seorang kauwcoe dari Beng kauw dan ilmu silatmu yang sangat tinggi menggetarkan dunia. Tapi mengapa baru saja menghadapi sebuah cengkeraman kecil, kau sudah bersikap kanak-kanak? Kau berteriak-teriak dan menangis-nangis. Sungguh memalukan! Aku sekarang mau bicara sejujurnya. Sebab kau kena pukulan Hian beng Sin ciang, aku sengaja datang untuk menengok keadaanmu. Di luar dugaan, begitu bertemu dengan aku, kau berteriak-teriak. Lepaskan tanganku! Mau lepas atau tidak?”

Ditegur begitu, Boe Kie merasa sedikit jengah. Ia segera melepaskan cekalannya, sebab ia merasa bahwa biar bagaimanapun jua, nona itu tak akan bisa melarikan diri.

Sambil mengusap-usap kundainya yang tertancap kembang mutiara, Tio Beng tertawa. “Tapi kau rupanya tidak terluka,” katanya.

Boe Kie mengeluarkan suara di hidung. “Hm! Segala Hian beng Sin ciang belum tentu dapat melukai orang,” katanya.

“Tapi bagaimana dengan Tay lek Kim kong cie? Dengan Cit ciong hoa ko?” tanya Tio Beng dengan nada mengejek.

“Benar-benar Cit ciong Cit hoa ko!” kata Boe Kie dengan penuh kebencian.

Tiba-tiba nona Tio mengubah sikapnya. Sekarang ia berkata dengan suara sungguh-sungguh. “Thio Kauwcoe, aku bersedia untuk menyerahkan Hek giok Toan sik ko kepadamu dan akupun bersedia untuk memberi obat pemunah Cit ciong Cit hoa ko kepadamu. Aku bersedia, asal saja kau suka meluluskan tiga permintaanku. Jika kau menggunakan kekerasan, kau dapat membunuh aku, tapi kau jangan harap bisa mendapat obat. Kalau kau coba memaksa aku dengan disiksa, aku bisa memberi obat palsu atau racun yang hebat.”

Boe Kie girang, “Permintaan apa? Lekas bilang!” katanya cepat.

Sambil bersenyum, si nona menjawab. “Bukankah aku pernah mengatakan, bahwa begitu lekas aku dapat memikir tiga permintaan itu aku akan segera memberitahukan kepadamu? Kau hanya perlu mengatakan dan berjanji untuk tidak melanggar janji. Aku mesti tak akan minta kau menangkap rembulan di langit, tak akan minta kau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan rimba persilatan dan juga takkan minta kau membunuh diri sendiri.”

Mendengar bahwa ia tak akan diminta untuk “melakukan sesuatu yang bertentangan dengan peraturan rimba persilatan” Boe Kie merasa lega. Ia lantas saja berkata dengan suara lantang, “Tio Kouwnio, asal saja kau benar-benar memberikan obat yang bisa menyembuhkan kedua pamanku, biarpun mesti masuk ke lautan api, aku tak akan menampik segala perintahmu.”

Tio Beng tersenyum sambil mengangsurkan tangan ia berkata, “Baiklah! Marilah kita menepuk tangan sebagai sumpah. Aku akan segera memberikan obat yang diminta olehmu. Di belakang hari, sesudah Samsoepeh dan Lioksoesiokmu sudah sembuh, kau akan melakukan tiga permintaanku. Asal saja ketiga permintaanku itu tidak bertentangan dengan peraturan dalam rimba persilatan. Kau setuju?”

“Ya.” Kata Boe Kie seraya mengulurkan tangannya dan menepuk tiga kali tangan si nona.

Sesudah itu, Tio Beng mencabut kembang mutiara yang tertancap di kundainya. “Sekarang kau harus menerima lagi hadiah ini!” katanya.

Sebab kuatir nona Tio marah dan menarik pulang janjinya, Boe Kie segera menyambuti perhiasan itu.

“Tapi kau tidak boleh memberikan lagi kembangku ini kepada budak yang cantik itu, kata Tio Beng.

“Baiklah!” jawabnya.

Nona Tio tertawa dan mundur tiga tindak. “Obat akan segera diantarkan kepadamu,” katanya. “Thio Kauwcoe, sampai bertemu lagi!” Ia mengibaskan tangan baju, memutar tubuhnya yang langsing dan lantas berjalan pergi. Dengan sikap menghormat Hian beng Jie lo menyerahkan tunggangannya. Tio Beng melompat naik ke atas punggung tunggangannya dan tanpa menengok lagi, ia turun gunung.

Sesudah si nona dan dua pengiringnya membelok di satu tikungan, dari atas sebuah pohon tiba-tiba melompat turun seorang pria. Boe Kie mengenali, bahwa dia itu bukan lain daripada Cian Jie Pay, salah seorang dari Sin cian Pat hiong. “Majikanku mengirim sepucuk surat kepada Thio Kauwcoe!” teriaknya sambil melepaskan anak panah.

Boe Kie menyambutnya dengan tangan kiri. Di ujung anak panah itu, yang mata panahnya sudah dicopotkan, terikat sepucuk surat yang dialamatkannya kepada “Thio Kauwcoe pribadi”.

Boe Kie segera merobek sampul dan surat itu berbunyi seperti berikut:

“Di lapisan kotak emas,
Koyo mustajab sudah tersimpan lama.
Di lubang kembang mutiara,
Terdapat surat obat
Kedua barang itu sudah lama berada dalam tangan Tuan.
Tapi mengapa Tuan begitu bersusah hati
Karena Tuan tak sudi melihatnya
Dan menyerahkannya kepada seorang budak.”

Membaca itu, Boe Kie kaget, girang dan malu. Tanpa menyia-nyiakan waktu, ia memperhatikan kembang mutiara itu dan coba memutar-mutar setiap mutiara yang tertera di atasnya. Benar juga salah sebuah dapat diputar, karena bagian bawahnya diperlengkapi dengan ulir (alur-alur berputar seperti pada sekrup). Boe Kie segera mencopotnya dan ia mendapat kenyataan, bahwa pada batang kembang yang terbuat emas terdapat sebuah lubang. Di dalam lubang itu terisi benda yang berwarna putih.

Dengan jarum emas, ia mengorek keluar benda itu selembar kertas amat tipis dengan tulisan yang memberitahukan nama nama serangga dan kembang beracun yang digunakan dalam Cit ciong Cit hoa ko. Di samping itu juga terdapat petunjuk cara bagaimana ia harus menolong orang yang kena racun koyo itu.

Petunjuk yang terakhir sebenarnya tak perlu diberikan. Begitu lekas mengetahui nama-nama serangga dan kembang yang digunakan, Boe Kie sendiri bisa mengobati. Sesudah melihat, bahwa petunjuk itu tidak menyimpang dari keharusan, ia jadi girang sekali. Ia sekarang tahu bahwa Tio Beng tidak main gila.

Buru-buru ia masuk ke dalam dan dengan dibantu oleh beberapa orang, ia segera membuat obat dan memakaikannya di kaki dan tangan kedua pamannya. Benar saja, dalam waktu kurang lebih satu jam, akibat mengamuknya racun sudah banyak mereda. Rasa sakit di perut dan warna-warna yang dilihat oleh Jie Thay Giam dan In Lie Heng mulai menghilang.

Sesudah itu Boe Kie mengambil kotak emas tempat penyimpanan kembang mutiara yang diberikan kepadanya oleh Tio Beng.

Sesudah meneliti beberapa lama, ia berhasil mendapatkan lapisan rahasia dalam kotak itu dan pada lapisan itu terdapat koyo yang berwarna hitam. Berbeda dengan koyo racun, koyo sangat harum baunya. Tapi Boe Kie tak berani berlaku sembrono lagi. Ia menangkap seekor anjing, mematahkan satu kakinya dan kemudian mengobatinya dengan koyo itu. Pada keesokan harinya tulang yang patah sudah mulai menyambung.

Berselang tiga hari, racun yang mengeram dalam tubuh Jie Thay Giam dan In Lie Heng sudah terusir semua dan Boe Kie mulai mengobati dengan Hek giok Toan siok bo. Kali ini tidak terjadi sesuatu yang diluar dugaan.

Koyo ini ternyata sangat mujarab. Kira-kira dua bulan kedua tangan In Lie Heng sudah bisa bergerak. Tapi Jie Thay Giam yang sudah lumpuh selama sepuluh tahun tidak bisa sembuh seperti sedia kala. Ia hanya bisa jalan perlahan-lahan dengan bantuan tongkat. Biar bagaimanapun jua, hal itu sudah merupakah perbaikan yang tidak diduga-duga.

Karena harus mengobati kedua pamannya, Boe Kie terpaksa berdiam lama di Boe tong san. Sementara itu para Ciang kie Hoe oe dari Ngo heng kie sudah kembali dengan beruntun dan mereka membawa warta yang mengejutkan.

Menurut mereka, rombongan-rombongan Go bie, Hwa san, Khong tong dan Koen loen yang menyerang Beng kauw di See hek, belum pulang ke masing-masing tempatnya. Kalangan Kang ouw gempar. Orang-orang rimba persilatan percaya, bahwa sesudah membasmi rombongan keenam partai, Beng kauw akan segera menyatroni dan merampas berbagai partai persilatan. Menghilangnya pendeta-pendeta kuil Siauw lim sie telah menerbitkan gelombang yang belum pernah dialami dalam rimba persilatan.

Masih untung para wakil pemimpin Ngo heng kie membawa surat Thio Sam Hong dan merekapun tak memperkenalkan diri sebagai anggota Beng kauw. Kalau bukan begitu mereka mungkin tak pulang.

Mereka selanjutnya menerangkan, bahwa pada waktu ini, berbagai partai, berbagai piauw hang dan kelompok-kelompok perampok, baik yang di gunung maupun di air, semua siap sedia dan sangat waspada sebab mereka kuatir Beng kauw akan menyerang dengan tiba-tiba.

Beberapa hari kemudian, In Thian Ceng dan In Yo Ong yang pulang ke markas besar Peh bie kie sesudah Jie Thay Giam dan In Lie Heng mendapat obat juga sudah kembali di Boe tong san.

Mereka melaporkan bahwa dalam Peh bie kie sudah dibuat perubahan-perubahan dan seluruh pasukan sekarang berada di bawah Beng kauw. Di samping itu merekapun memberitahukan bahwa jago-jago rimba persilatan di daerah tenggara sudah mulai bergerak dan membentuk pasukan-pasukan rakyat untuk menggulingkan pemerintah penjajah.

Pada waktu itu tentara Goan masih sangat kuat dan dengan cepat mereka menumpas pasukan-pasukan rakyat. Di samping kekuatan pemerintah Goan, perlawanan rakyat itupun mempunyai kelemahan, ialah mereka bergerak dengan sendiri-sendiri, satu sama lain tidak mengadakan hubungan atau perserikatan, sehingga dengan mudah mereka dapat dibasmi.

Malam itu di ruangan belakang Thio Sam Hong mengadakan perjamuan cia cay untuk In Thian Ceng dan puteranya. Selagi makan minum In Thian Ceng menceritakan sebab musabab dari kekalahan pemberontakan rakyat. Dalam setiap pergerakan anggota-anggota Beng kauw dan Peh bie kie (dahulu Peh bie kie kauw) selalu mengambil bagian dan banyak di antaranya telah ditangkap atau dibinasakan oleh tentara Goan.

“Menurut pandangan hati rakyat sekarang sudah berubah dan waktu ini adalah waktunya mengusir Tat-coe dan merampas pulang tanah air kita,” kata Yo Siauw. Selama hidup mendiang Yo Kauwcoe itu selalu memikiri persoalan ini, hanya sayang karena bermusuhan dengan berbagai partai persilatan, maka selama kurang lebih seratus tahun agama kita tidak bisa bergandengan tangan dengan orang-orang gagah di seluruh negeri untuk mengusir kaum penjajah. Atas berkah Tuhan sekarang, Thio Kauwcoe memegang tampuk pimpinan. Permusuhan kita dengan berbagai partai sudah mulai berkurang. Kini tibalah waktunya untuk kita bersatu padu dalam melawan musuh.”

“Yo Co soe,” kata Cioe Tian. “Apa yang dikatakan olehmu kedengarannya sangat tepat, tapi itu semua hanya omong-kosong.”

Yo Siauw tak jadi gusar. “Bagaimana pendapat Cioe heng?”

“Orang-orang Kang ouw semua mengatakan bahwa Beng kauw telah membunuh jago-jago dari enam partai..”, jawabnya. “Begitu mendengar nama Beng kauw, begitu mereka naik darah. Mana bisa bersatu-padu dalam melawan musuh” Kata-katamu enak sekali kedengarannya. Tapi bagaimana melakukannya?”

“Memang pada waktu ini kita memang masih mendapat nama jelek,” kata Yo Siauw. “Bagi aku percaya, pada akhirnya segala apa akan jadi terang. Apabila dalam hal ini seorang yang berkedudukan begitu tinggi seperti Thio Cinjin bisa menjadi saksi.”

Cioe Tian tertawa nyaring, “Andai kata kita benar sudah membunuh Song Wan Kiauw Biat coat, Ho Thay Ciong dan yang lain-lain, Thio Cin-jin yang berada di gunung ini sudah pasti takkan mengetahuinya,” kata si sembrono. “Maka itu kesaksian Thio Cinjin tak bisa diterima sebagai bukti yang kuat.”

“Cioe Tian!” bentak Tiat koan Too jin, “Di hadapan Thio Cinjin dan Kauwcoe tak dapat kau bicara yang gila-gila.”

Disemprot begitu, Cioe Tian tak berani membuka mulut lagi.

“Apa yang dikatakan Cioe heng bukan tidak beralasan sama sekali” sela Pheng Eng Giok. “Menurut pikiran pin ceng sebaiknya kita segera mengadakan sebuah perhimpunan antara pemimpin Beng kauw. Dalam perhimpunan kita mengumumkan keinginan Thio Kauwcoe untuk memperbaiki hubungan dengan berbagai partai. Di samping itu, dalam pertemuan tersebut, kitapun dapat menyelidiki di mana adanya rombongan Song Thay-hiap, Biat coat Soethay dan lain-lain.”

“Menyelidiki dimana adanya Song Thay hiap bukan pekerjaan sukar,” kata Cioe Tian. “Bahkan mudah sekali, kita tidak usah mengeluarkan tenaga.”

Beberapa orang lantas saja menanya dengan bernafsu.

“Bagaimana?”

“Lekas katakan!”

“Mengapa kau tak siang-siang memberitahukan kami?”

Dengan paras muka berseri-seri si sembrono menceguk cawannya dan kemudian berkata dengan suara nyaring, “Anak kunci berada dalam tangan Thio Kauwcoe sendiri. Asal Thio Kauwcoe mau membuka mulut, menanyakan Tio Kouwnio, segala apa akan menjadi terang. Aku merasa pasti, bahwa tidak dibunuh mereka pasti ditawan oleh nona tersebut.”

Selama dua bulan lebih, Wie It Siauw, Peng Eng Giok dan Swee Poet Tek pernah turun gunung untuk menyelidiki jejak Tio Beng yang sesudah membuat perjanjian dengan Boe Kie sesudah menghilang tanpa bekas.

Bukan saja nona itu, tapi orang-orangnya pun yang berjumlah tak sedikit tak ketahuan kemana perginya. Para pemimpin Beng kauw hanya bisa menduga-duga bahwa nona Tio mempunyai hubungan dengan kaisar Goan. Di samping itu tak terdapat lain penerangan.

Maka itulah, mendengar jawaban Cioe Tian, beberapa orang lantas saja mengejek dan mengatakan bahwa pikiran si sembrono hanya omong-kosong belaka. Meskipun tahu, bahwa nona Tio merupakan sumber keterangan. Tapi yang menjadi soal, kemana mereka harus mencari nona yang licin itu.

Cioe Tian tertawa, “Orang-orang seperti kalian tentu saja takkan bisa mencari nona itu,” katanya. “Tapi Kauwcoe kita tak usah mencarinya. Kauwcoe kita masih hutang tiga pekerjaan yang belum dikerjakan. Apa kalian kira nona yang lihai akan membebaskan hutang dengan begitu saja? Huh huh!… Dia sangat cantik dan ayu. Tapi aku setiap kali ku ingat namanya, badanku sudah bergemataran.”

Semua orang tertawa, tapi mereka mengakui bahwa pendapat kawan itu memang sebuah kenyataan.

Boe Kie menghela napas, “Aku mengharap supaya lekas-lekas menyebutkan tiga permintaannya, supaya aku segera bisa membereskan hutang,” katanya. “Siang malam aku selalu memikiri, permintaan apa yang akan diajukan olehnya. Pheng Thaysoe, tadi kau mengusulkan supaya agama kita mengadakan sebuah perhimpunan besar antara para pemimpin. Bagaimana pendapat kalian?”

“Aku setuju,” kata Yo Siauw. “Tapi di mana kita harus mengadakan perhimpunan tersebut?”

Sesudah memikir beberapa saat, Boe Kie berkata, “Dalam menduduki kursi sebagai wakil Kauwcoe, aku sering sekali ingat dua orang yang telah melepas budi besar terhadapku. Yang satu Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe Sianseng. Sungguh menyesal, orang tua itu telah binasa di tangan Kim hoa popo. Yang satu lagi, Siang Gie Cien Toko yang sekarang tak diketahui dimana adanya. Sebagai peringatan untuk kedua tuan penolong itu, kalau bisa, ku ingin perhimpunan kita di adakan di Ouw tiap kok di Hwaipak.”

“Bagus-bagus!” teriak Cioe Tian sambil menepuk-nepuk tangan. “Dahulu Kian sie Pout kioe setiap hari bertengkar dengan aku. Sebagai manusia dia boleh juga. Melihat kebinasaan dia tak sudi menolong dan akhirnya dia sendiri binasa tanpa ditolong orang. Tapi biar bagaimanapun jua, Cioe Tian mau memberi hormat dengan berlutut di depan kuburannya.

Persetujuan dicapai dengan suara bulat. Kurang lebih tiga bulan lagi, pada Peh Swee Tiong Cioe (tanggal lima belas bulan delapan menurut penanggalan Imlek, yaitu pesta pertengahan musim rontok). Beng Kauw akan mengadakan perhimpunan besar antara para pemimpinnya di seluruh negeri.

Pada keesokan paginya, sejumlah petugas dari Ngo heng-kie dan Peh bie-kie turun gunung untuk menyampaikan perintah Kauwcoe kepada para pemimpin Bengkauw. Segenap para pemimpin Bengkauw, yang berkedudukan hin coe ke atas, harus sudah berada di Ouw tiap kok pada sebelum Pehgwee Cap go guna bertemu dengan Kauwcoe baru dan merundingkan hal-hal penting mengenai agama mereka.

Sebab masih ada waktu tiga bulan dan juga sebab kuatir Jie Thay Giam dan In Lie Heng kumat lagi penyakitnya, maka Boe Kie tidak berani lantas meninggalkan Boe tong san. Sambil merawat kedua pamannya, dalam waktu-waktu luang, ia selalu meminta penjelasan-penjelasan mengenai Thay kek koen dari kakek gurunya. Sementara itu, Wie It Siauw, Pheng Eng Giok, Swee Poet Tek dan yang lain-lain terus berkelana di berbagai tempat untuk menyelidiki tempat sembunyinya Tio Beng.

Atas perintah Kauwcoe, dengan apa boleh buat Yo Siauw berdiam terus di Boe tong san. Mengingat perbuatannya terhadap Kie Siauw Hoe, ia selalu merasa malu terhadap In Lie Heng dan tidak berani sering-sering bertemu muka. Saban hari, ia kebanyakan menutup diri di dalam kamar dan membaca buku. Tanpa urusan yang sangat penting, ia tak pernah keluar dari kamar itu.

Pada suatu lohor Boe Kie datang di kamar Yo Siauw untuk merundingkan soal-soal yang mau dibicarakan dalam perhimpunan besar. Sebagai seorang muda yang mendadak memikul beban sangat berat, ia sering merasa kuatir kalau-kalau ia tidak dapat menunaikan tugasnya itu. Yo Siauw adalah orang satu-satunya yang paham akan seluk beluk Beng kauw. Maka itulah ia meminta Yo Co soe untuk mengawaninya di Boe tong san supaya setiap waktu ia bisa minta pikirannya.

Sesudah bicara beberapa lama, Boe Kie menjemput sejilid buku yang terletak di meja. Di kulit buku tertulis huruf-huruf yang berbunyi “Masuknya Beng kauw ke Tiongkok” dan di sebelah bawah dalam huruf-huruf kecil tertulis “Disusun oleh tee coe Kong beng Co soe Yo Siauw”.

Boe Kie menghela nafas. “Yo Co soe” katanya, “kau seorang boen boe coan cay dan merupakan tiang dari agama kita”.

“Terima kasih atas pujianmu Kauwcoe,” jawabnya sambil membungkuk.

Boe Kie membalik-balik lembaran buku itu yang mencatat sejarah Beng kauw. Menurut catatan itu, Beng kauw masuk ke Tiong Tauw (tanah tengah atau Tiongkok) pada tahun Yancay kesatu dari Boe Cek Thian dari kerajaan Tong yaitu pada waktu seorang Iran menghadap ratu dan menyerahkan Sam cong keng kitab pelajaran Beng kauw. Mulai waktu itu orang Tionghoa mempelajari kitab tersebut.

Tahun tay lek ketiga (kerajaan Tong) bulan enam tanggal 29 di Lok yang Tiangan diberdirikan sebuah kuil Beng kauw yang diberi nama Tay in Kong beng sie, belakangan kuil-kuil seperti itu juga diberdirikan di Tay goan, Keng cioe, Yang cioe, Ang cioe, Wat cioe dan lain-lain kota penting.

Pada tahun Hwee ciang ketiga Kaisar mengeluarkan perintah untuk membinasakan anggota-anggota Beng kauw. Semenjak itu pengaruh dan tenaga agama tersebut sangat berkurang. Karena dilarang, Beng kauw menjadi semacam agama rahasia yang selalu diuber-uber dan ditindas oleh pembesar-pembesar negeri. Nama Beng kauw yang asli adalah Mo ni kauw, belakangan orang menukar perkataan “mo” dari “Moni” menjadi “mo” yang berarti “iblis”, sehingga akhirnya agama itu diejek sebagai “Mo kauw” atau agama iblis.

Membaca sampai di situ, Boe Kie menghela napas panjang. “Yo Co soe,” katanya, “tujuan agama kita ialah menyingkirkan kejahatan dan menjalankan kebaikan. Pada hakekatnya agama yang kita pelajari itu, tidak banyak berbeda dengan Hoed kauw dan Too kauw. Mengapa sedari jaman Tong sampai sekarang agama kita selalu ditindas?”

“Hoed bertujuan untuk menyelamatkan mahluk,” jawabnya. “Tapi pendeta-pendeta Hoed kauw adalah orang-orang beradat yang tak mau campur tangan dalam urusan dunia. Too kauw pun demikian. Di lain pihak, agama kita bergerak di antara rakyat jelata dan mengambil bagian dalam segala suka dan dukanya. Penganut-penganut agama kita selalu membantu orang-orang yang mendapat kesukaran. Ada kalanya, pembesar yang rakus menindas rakyat. Terhadap pembesar-pembesar semacam itu agama kitapun tak segan-segan untuk memberi perlawanan, sehingga sebagai akibatnya, kita sering mesti kebentrok dengan kalangan pembesar”.

Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. “Kalau begitu, agama kita baru benar-benar bisa menjadi makmur, manakala kaisar dan pembesar-pembesar negeri waktu sekarang ini sudah tidak mau menindas rakyat dan jagoan-jagoan serta hartawan-hartawan berpengaruh menghentikan segala tindakan yang sewenang-wenang,” katanya.

“Kauwcoe benar!” teriak Yo Siauw sambil menepuk meja. “Itulah tujuan agama kita, negeri yang adil dan damai.”

Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. “Yo Co soe, apa bisa kita mengalami jaman itu?” tanyanya.

“Atas berkah Tuhan, semoga kita akan mengalami jaman yang diidam-idamkan itu,” jawabnya. Sesudah berdiam sejenak, ia berkata pula, “Biarpun ditindas, sampai kini masih berdiri. Pada kerajaan Lam-song (Song Selatan), tahun Siauw hin ke empat, seorang pembesar bernama Ong Kie Ceng telah membereskan laporan mengenai urusan agama kita kepada kaisar. Jika mau, Kauwcoe boleh membaca laporan itu.” Seraya berkata begitu, ia membalik lembaran yang mencatat laporan itu mengangsurkan kepada Boe Kie.

Boe Kie segera membaca laporan itu berbunyi sebagai berikut:

“Di Ciat kang dan Kang ouw terdapat kebiasaan cia cay (tidak makan makanan berjiwa) mengabdi kepada iblis. Sebelum jaman Phoei Lap, larangan masih longgar dan jumlah orang yang mengabdi kepada iblis tidak begitu besar. Sesudah jaman Phoei Lap, larangan semakin diperkeras, tapi jumlah iblis jadi makin besar.”

“Hamba dengar, sepak terjang kawanan iblis adalah sebagai berikut. Dalam setiap kampungan, satu dua orang yang lebih licik dan cerdik menjadi kepala iblis. Mereka mencatat she dan nama-nam penduduk yang kemudian dipersatukan ke dalam persekutuan iblis. Seorang pengikut iblis tidak makan makanan berjiwa. Kalau dia mendapat urusan atau kesukaran, maka kawan-kawan sekutunya akan membantu, baik dengan uang, maupun dengan tenaga atau jiwa.”

“Pada hakekatnya, tidak makan daging berarti mengirit ongkos dan dengan hidup irit, seseorang gampang merasa puas. Saling bantu-membantu antara kawan-kawan berarti saling mencintai dan saling mencintai berarti setiap pekerjaan mudah diselesaikan dengan jalan gotong royong.”

(Poei Lap yang disebutkan dalam buku itu adalah salah seorang Kauwcoe Beng Kauw yang memberontak terhadap kerajaan Song di Ciat kang timur. Ia dikalahkan dan belakangan dibinasakan).

Membaca sampai disitu, Boe Kie berkata, “Biarpun Ong kie Ceng memusuhi Beng kauw, tapi ia mengakui bahwa penganut-penganut agama kita hidup irit dan sederhana dan saling menyintai.” Sebab berkata begitu ia membaca pula, “Sepanjang pengetahuan hamba mendiang kaisar pun selalu menganjurkan rakyat untuk saling mencintai dan bantu-membantu. Hidup sederhana dan irit memang merupakan kebiasaan yang baik dari jaman dahulu. Hanya sayang banyak pembesar tidak bisa hidup sederhana sehingga pemimpin-pemimpin iblis bisa mendapat kesempatan untuk menghasut rakyat dan menerima pujian rakyat untuk persekutuan mereka.”

“Rakyat banyak yang bodoh. Mereka menganggap, bahwa jika mereka menuruti perkataan iblis dan mengabdi kepada iblis, mereka bisa mendapat keputusan dan segala rupa pekerjaan bisa diselesaikan dengan gotong royong. Dengan demikian mereka percaya segala apa yang dikatakan oleh pemimpin-pemimpin iblis dan dengan berlomba-lomba mereka masuk ke dalam persekutuan iblis. Itulah sebabnya, mengapa larangan makin diperkeras, kemajuan mereka makin sukar dibendung.”

Boe Kie menengok kepada Yo Siauw dan berkata sambil tertawa, “Yo Co soe, Ong Kie Ceng seorang jujur. Dia kata larangan makin diperkeras, kemajuan mereka makin sukar dibendung. Inilah pengakuan bahwa agama kita dicintai rakyat. Apa boleh kupinjam buku ini? Adalah kewajibanku untuk mempelajari usaha-usaha dan nasehat-nasehat para pemimpin kita yang sudah almarhum.”

“Tentu saja boleh,” jawabnya. “Aku justru ingin minta petunjuk Kauw coe.”

Sambil memegang buku itu Boe Kie berkata pula. “Jiu samsoepeh dan In Lioksiok sudah boleh dikatakan sembuh. Besok kita berangkat ke Ouw tiap kok. Di samping itu ada suatu hal yang kuinginkan menanyakan pikiran Yo Co soe. Hal ini mengenai adik Poet Hwie.”

Yo Siauw menduga Boe Kie melamar puterinya jadi girang sekali. “Jiwa Poet Hwie telah ditolong Kauwcoe,” katanya. “Kami berdua ayah dan anak ingin sekali membalas budi yang sangat besar itu. Perintah apapun jua yang Kauwcoe mau berikan aku pasti akan menurut dengan girang hati.”

Boe Kie lantas saja menceritakan pengakuan Poet Hwie pada hari itu.

Yo Siauw kaget tak kepalang dan untuk beberapa saat ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata. “Bahwa anakku dicintai In Liok hiap adalah kejadian yang sangat menggirangkan,” kata ia akhirnya. “Tapi usia mereka berbeda terlampau jauh dan angkatan mereka pun tidak bersamaan. Ini.?” berkata sampai di situ ia tidak dapat meneruskan perkataannya.

“Usia In Liok siok belum cukup empat puluh. Ia sedang gagah-gagahnya. Biarpun benar adik Poet Hwie memanggilnya dengan sebutan Siok-siok (paman), mereka tidak mempunyai hubungan dalam perguruan. Mereka saling mencintai dengan setulus hati. Manakala pernikahan ini bisa terjadi, maka ganjalan yang dahulu lantas bisa disingkirkan. Menurut pendapatku inilah kejadian yang sungguh-sungguh boleh dibuat girang.”

Yo Siauw seorang yang sangat terbuka. Sebab perbuatan terhadap Kie Siauw Hoe, ia selalu merasa malu untuk bertemu muka dengan In Lie Heng. Sekarang mendengar perkataan Boe Kie di dalam hati ia mengakui, bahwa pernikahan itu bukan saja menebus dosa, tapi juga bisa menghilangkan segala ganjelan antara Beng kauw dan Boe tong pay.

Memikir begitu ia lantas saja menyoja dan berkata, “Bahwa Kauwcoe sudah sudi campur tangan untuk membereskan soal ini merupakan bukti bahwa Kauwcoe sangat menyayangi kami. Untuk itu semua, terlebih dahulu aku menghaturkan banyak terima kasih.”

Malamnya Boe Kie mengumumkan kabar girang itu. Semua orang turut bersyukur dan mereka menghaturkan selamat kepada In Lie Heng. Poet Hwie sendiri tidak berani menemui orang dan bersembunyi di dalam kamarnya. Thio Sam Hong dan Jie Thay Giam yang merasa kaget dan heran, belakangan turut bergirang. Waktu ditanya tentang tanggal pernikahannya, In Lie Heng menjawab, “Sesudah Toa soeko dan yang lain-lain pulang barulah kita menetapkan tanggal itu.”

Pada keesokan harinya, bersama Yo Siauw dan In thian ceng, In Ya ong, Tiat koan toojin, Cioe Tian, Siauw Ciauw dan yang lain-lain, Boe Kie mohon berpamitan dengan Thio Sam Hong dan kedua pamannya untuk berangkat ke Hwaipak. Poet Hwie tidak mengikut sebab ia masih perlu merawat In Lie Heng.

Dalam perjalanan itu rombongan Boe Kie menyaksikan penderitaan rakyat yang sangat hebat. Daerah sepanjang pantai biasanya daerah yang kaya. Tapi apa yang dilihat mereka hanyalah ladang-ladang yagn kosong kering dan kelaparan yang merajalela di mana-mana. Dengan ringkas dapat dikatakan, bahwa kemiskinan rakyat sudah sampai pada puncaknya.

Boe Kie dan kawan-kawannya merasa sangat berduka, tapi merekapun tahu, bahwa dengan adanya penderitaan itu kekuasaan Mongol di Tiongkok pasti tidak dapat dipertahankan dalam waktu lama. Sekarang saja, orang-orang gagah di seluruh negeri sudah mulai bangkit untuk mengusir kaum penjajah itu.

Pada suatu hari mereka tiba di Kay pay kie yang terletak tak jauh dari Ouw tiap kok. Selagi enak berjalan, sekonyong-konyong mereka mendengar teriakan-teriakan dan belakangan ternyata bahwa teriakan itu keluar dari dua pasukan yang sedang bertempur.

Boe Kie dan kawan-kawannya segera membedal kuda dan sesudah melewati sebuah hutan, mereka melihat kira-kira seribu serdadu Mongol sedang mengepung sebuah tangsi yang di atasnya berkibar bendera Bengkauw. Tangsi itu dipertahankan oleh anak buah yang berjumlah kecil yang perlahan-lahan mereka tak dapat mempertahankan diri lagi. Tapi biarpun dihujani anak panah, mereka tetap tidak mau menyerah. Tentara Goan berteriak-teriak.

“Pemberontak Mo kauw! Lekas menakluk!”

“Kalau menakluk, kalian mendapat ampun.”

“Apa kamu mau mampus semua?”

Untuk beberapa saat, rombongan Boe Kie memperhatikan jalannya pertempuran.

“Kauwcoe, apa kita sudah boleh menerjang musuh?” tanya Coe Tian.

“Baiklah!” jawabnya. “Lebih dahulu singkirkan pemimpin-pemimpin pasukan itu.”

Di lain saat, Yo Siauw, In Thian Ceng, In Ya Ong, Tiat koan Toojin dan Cioe Tian sudah menerjang musuh. Dua orang Peh hoe thio lantas saja roboh. Sesaat kemudian, Cian hoe thio yang memimpin pasukan dibinasakan In Ya Ong.

Karena kehilangan pemimpin, tentara Goan lantas saja kalut.

Dilain pihak, melihat datangnya bala bantuan, orang-orang yang membela tangsi bersorak-sorai. Pintu tangsi terbuka dan seorang pria yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata tombak menerjang keluar. Dalam sekejap ia sudah merobohkan sejumlah serdadu Goan.

Setiap kali tombak orang itu berkelebat, seorang serdadu Goan terjungkal. Melihat begitu, tentara Goan menjadi jeri. Mereka lari serabutan untuk menyingkirkan diri dari orang itu yang gagah dan angker bagaikan malaikat.

Para pemimpin Beng kauw dalam rombongan Boe Kie merasa kagum dan memuji orang gagah itu. Tapi yang paling bergirang adalah Boe Kie sendiri karena ia sudah mengenali bahwa orang itu bukan lain daripada Siang Gie Coen yang selalu diingatnya siang dan malam. Hanya karena masih mesti bertempur, ia tak bisa segera menghampiri tuan penolong itu.

Sebab digencet dari depan dan belakang, tentara Goan mendapat kerusakan besar. Kurang lebih lima ratus orang mati dan luka-luka. Sisanya tidak berani berperang terus dan lalu melarikan diri.

Sesudah musuh kabur, sambil tertawa terbahak-bahak Siang Gie Coen berseru, “Saudara-saudara dari manakah yang sudah memberi bantuan? Siang Gie Coen menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya.”

“Siang Toako!” teriak Boe Kie. “Aduh! Siang malam siauwtee memikiri Toako,” ia berlari-lari dan memegang tangan kakak itu erat-erat.

Siang Gie Coen memberi hormat dengan membungkuk. “Saudara Kauwcoe,” katanya dengan suara gemetar. “Aku menjadi kakakmu dan juga menjadi orang sebawahanmu. Tak dapat aku mengatakan, betapa besar rasa girangku.”

Ternyata Siang Gie Coen memegang tugas Hee koa dalam Kie bok kie. Pertempuran hebat di Kong beng teng yang berakhir dengan diangkatnya Boe Kie sebagai Kauwcoe sudah diketahuinya dari Boen Cong Siong Ciang kie soe Kie bok kie.

Sudah beberapa hari, dengan sejumlah anggota Kie bok kie, ia berkemah di situ untuk menunggu kedatangan Boe Kie. Apa mau, sepasukan tentara Goan menyerang. Karena musuh berjumlah lebih besar, ia berlagak kalah dan memancing musuh untuk dibasmi. Di luar dugaan rombongan Boe Kie muncul pada saat yang tepat dan ia segera menerjang ke luar.

Dalam Bengkauw, ia berkedudukan rendah sebagai orang bawahan, ia lantas memberi hormat Yo Siauw, In Thian Ceng dan yang lain-lain. Melihat kegagahannya dan mengingat bahwa saudara angkat Kauwcoe, para pemimpin Beng kauw itu memperlakukannya sebagai sahabat yang sederajat.

Siang Gie Coen segera memerintahkan orang menyediakan makanan untuk menjamu para tamunya.

Selagi makan minum, ia menceritakan keadaan dan apa yang dilakukannya di daerah itu. Selama beberapa tahun, daerah Hwai lam dan Hwai pa (sebelah selatan dan utara sungai Hwai ho) mengalami kekeringan, sehingga rakyat sangat menderita. Karena terpaksa, ia mengumpulkan saudara-saudara Beng kauw dan melakukan pekerjaan tanpa modal. Tapi dalam pekerjaan itu ia hanya merampok milik hartawan jahat atau pembesar rakus dan jika ada kelebihan, kelebihan itu selalu digunakan untuk menolong rakyat. Beberapa kali tentara Goan coba menyerang tangsi mereka tapi selalu dapat dipukul mundur.

Sesudah menginap semalaman, pada keesokan paginya, bersama pasukan Siang Gie Coen rombongan Boe Kie meneruskan perjalalan. Mereka menganggap, bahwa sesudah mengalami kekalahan, selama dua tiga bulan tentara Goan pasti tak akan berani menyerang lagi.

Beberapa hari kemudian mereka tiba di luar Ouw tiap kok. Mendengar kedatangan Kauwcoe para anggota Bengkauw yang sudah tiba lebih dahulu lantas saja keluar menyambut. Ternyata barisan Kie bok kie sudah membangun rumah-rumah kecil untuk tempat meneduhnya para orang gagah. Wie It Siauw, Peng Eng Giok dan Swee Poet tek pun sudah berada di situ dan mereka segera menemui Boe Kie.

Sesudah berkenalan dengan semua orang, Boe Kie segera memerintahkan disediakan barang sembahyang dan lalu menyembayangi suami istri Ouw Ceng Goe dan Kie Siauw Hoe. Mengingat kejadian dahulu bukan main rasa terharunya. Mimpipun tak pernah mimpi, bahwa hari ini ia bisa kembali seorang Kauwcoe dari satu agama yang sangat besar pengaruhnya pada jaman itu.

Tiga hari kemudian tibalah harian Tiongcioe. Di tengah-tengah lapangan Ouw tiap kok yang luas didirikan sebuah panggung tinggi dan di depan panggung dinyalakan api koen boen, yang sangat besar.

Sesudah semua pemimpin Beng kauw berkumpul, Boe Kie segera naik ke atas panggung dan dengan suara lantang mengumumkan bahwa Beng kauw sudah menghentikan permusuhan dengan berbagai partai persilatan di wilayah Tiong goan dan bahwa sekarang Beng kauw berusaha dengan sekuat tenaga utnu mengusir penjajah Goan dari tanah air. Sesudah itu, ia membaca peraturan-peraturan agama yang bertujuan untuk menyingkirkan penjahat dan menolong sesama manusia yang memerlukan pertolongan.

Pengumuman itu disambut oleh sorak sorai gegap gempita. Dalam suasana riang gembira dan dengan semangat bergelora para hio coe dan yang lain-lain memasang hio dan bersumpah untuk mentaati pesan Kauwcoe.

Hari itu api berkobar-kobar, wangi hio dapat diendus di seluruh selat. Sesudah terpecah-belah begitu lama, Beng Kauw sekarang bersatu kembali. Semua orang mengakui, bahwa di dalam Beng Kauw belum pernah tercapai persatuan yang sedemikian kokoh dan diantaranya banyak yang mengucurkan air mata kegirangan.

Sesudah itu Boe Kie membuat lain pengumuman yang berbunyi sebagai berikut:

“Menurut kebiasaan agama kita, kita semua tidak makan makanan yang asalnya berjiwa. Tapi dalam menghadapi kelaparan, manusia harus makan apapun juga yang bisa dimakan. Apa pula hari ini kita harus bertekad untuk melakukan satu pekerjaan besar, yaitu mengusir Tat coe (orang Mongol) dari tanah air kita. Kalau kita tetap tidak makan makanan berjiwa, maka tenaga atau semangat kita akan berkurang dan kita sukar untuk menunaikan tugas tugas yang berat itu. Maka itulah, mulai dari sekarang, kami mulai menghapuskan peraturan yang melarang anggota-anggota makan makanan berjiwa dan minum arak. Sebagai manusia yang hidup dalam dunia ini, kita harus mementingkan urusan besar. Soal makan adalah soal remeh yang bisa diubah sesuai dengan keadaan.”

Malam itu, dibawah sinar rembulan, beberapa ribu pemimpin Beng kauw makan minum sepuas hati dan pesta baru berakhir setelah terang tanah.

Sesudah mengaso sampai kira-kira tengah hari, Boe Kie bangun dan mandi. Baru saja dia selesai berpakaian, seorang anggota melaporkan bahwa Cioe Coan Ciang, Cie Tat dan beberapa anggota lain dari Ang soei kie minta bertemu.

Boe Kie girang dan lalu keluar menyambut. Begitu melihat Boe Kie, Cioe Coan Ciang, Cie Tat, Thong Ho, Teng Jie, Hoa In, Gouw Liang dan Gouw Tin yang menunggu di luar pintu, lantas saja memberi hormat dan membungkuk.

Cepat-cepat Boe Kie membalas hormat. Di depan matanya lantas saja terbayang kejadian pada hari itu, pada waktu Cie Tat menolong jiwanya. Dengan tangan kiri menuntun Coe Goan Ciang dan tangan kanan menuntun Cie Tat, ia mengajak semua orang memasuk ke dalam. Sesudah meminta maaf, Coe Goan Ciang dan kawan-kawannya baru berani duduk di kursi. Ternyata Coe Goan Ciang sudah tak menjadi pendeta lagi. “Sesudah menerima perintah Kauwcoe, buru-buru kami datang ke sini,” katanya.

“Di luar dugaan, di tengah jalan kami bertemu dengan kejadian yang luar biasa, sehingga kami terlambat, dan untuk itu, kami memohon maaf.”

“Kejadian apa?” tanya Boe Kie.

“Pada bulan enam kami telah menerima perintah Kauwcoe,” jawabnya. “Kami merasa girang lalu berdamai tentang barang antaran yang sebaiknya dibawa kami untuk memberi selamat kepada Kauwcoe. Tapi Hwai pak daerah miskin dan tak ada barang berharga. Untung juga masih ada banyak waktu dan sesudah berunding, kami mengambil keputusan untuk mencoba peruntungan di propinsi Shoa tang. Sebab kuatir dikenali pembesar negeri, kami menyamar sebagai kusir kereta keledai, dengan aku sendiri sebagai pemimpin rombongan. Hari itu kami tiba di kota Kwie tek hoe di mana kereta kami disewa oleh beberapa saudagar yang ingin pergi ke Ho tek, di Shoa tang. Selagi enak berjalan, tiba-tiba kami dikejar oleh sejumlah orang yang bersenjata dan kelihatannya garang sekali. Mereka mengusir saudagar-saudagar itu dan kemudian dengan sikap galak mengatakan bahwa kami harus mengangkut lain penumpang. Saudara Hoa In yang beradat berangasan lantas saja mau turun tangan. Untung saja ia keburu dihalangi oleh saudara Cie Tat yang buru-buru memberi isyarat dengan lirikan mata. Orang-orang itu mengirim kami dan sembilan buah kereta kami ke sebuah lembah, dim ana sudah menunggu beberapa belas kereta lain. Di atas tanah kelihatan berduduk sejumlah hweeshio.”

“Hweeshio?” menegas Boe Kie.

“Benar,” jawabnya. “Mereka kelihatannya sangat berduka cita, sebagian besar mereka berduduk dengan menundukkan kepala. Tapi banyak di antaranya bukan sembarang orang. Ada yang Tay yang hiatnya menonjol keluar, ada yang tubuhnya tinggi besar kokoh. Bisik-bisik saudara Cie Tat mengatakan, bahwa pendeta-pendeta itu memiliki ilmu silat yang sangat tinggi. Setibanya kami, orang-orang galak itu memerintahkan semua hweeshio naik ke kereta dan menggiring kami ke jurusan utara.”

Advertisements

1 Comment »

  1. salam kenal,
    saya penggemar cersil sejak usia 9 th, terutama karangan prof Louis Cha.
    blog ini benar2 mengobati rasa kangen saya dg cersil. terutama cersil kisah membunuh naga/ie thian tu lung ci, saya blm baca sama sekali, biarpun serialnya udah lihat berkali2. ditunggu kelanjutannya ya.. apalagi cerita setelah ini seru bgt. saya ingin membaca adegan boe-ki menyelamatkan tokoh2 persilatan dari pagodanya tio-beng dan adegan tio-beng merusak acara pernikahan boe-ki pasti seru. thank’s

    Good job..bravo..

    Comment by ira — 07/10/2008 @ 1:49 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: