Kumpulan Cerita Silat

29/08/2008

Kisah Membunuh Naga (49)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:19 am

Kisah Membunuh Naga (49)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Karena belum berlatih dalam Thay Kek Koen, Boe Kie lantas saja keteter. Beberapa saat kemudian terdengar suara “Bret!” dan tangan baju Boe Kie robek, kesambar jari tangan yang sangat luar biasa itu. Boe Kie terpaksa menggunakan ilmu mengentengkan badan. Oe Boen Cek mencaci dan mengejar. Tapi mana bisa ia mengejar Boe Kie?

Sambil berlari-lari, Boe Kie berpikir, “Kalau aku terus kabur, bukankah aku kalah” Aku belum biasa dengan Thay Kek Koen, biarlah aku menyisipkan Kian Koen Tay Lo Ie.”

Memikir begitu, ia memutar badan seraya memasang kuda-kuda dari Ya Ma Hoen Coeng, salah satu pukulan Thay Kek Koen, tapi tangan kirinya diam-diam bersiap-sedia untuk mengeluarkan gerakan Kian Koen Tay Lo Ie.

Oe Boen Cek menubruk dan menusuk pundak Boe Kie dengan satu jari. Hampir berbareng, ia mengeluarkan kesakitan dan matanya berkunang-kunang, karena entah bagaimana jarinya berbalik menusuk lengan kirinya, sehingga lengan itu hampit tidak bisa diangkat lagi.

Yo Siauw tahu, bahwa Boe Kie bukan menggunakan Thay Kek Koen, tapi ia sengaja berteriak, “Lihai sungguh ilmu Thay Kek Koen!”

“Thay Kek Koen apa! Ilmu siluman!” teriak Oe Boen Cek dengan mulut berbusa. Secara nekat-nekatan ia mengirim tiga pukulan berantai, sehingga Boe Kie terpaksa melompat mundur. Dengan mata beringas, ia melompat mundur seraya menyodok dengan dua jari tangannya.

Sekarang Boe Kie sudah bersiap sedia dengan Kian Koen Tay Lo Ie, bagaikan kilat ia menempel dan menarik tangan musuh. “Tok!” kedua jari tangan Oe Boen Cek amblas di tiang Sam Ceng Tian!

Semua orang kaget tercampur geli.

Sesudah suara tertawa mereda. Mendadak terdengar bentakan Jie Thay Giam. “Tahan! Oe Boen Cek, kau menggunakan Kim Kong Cie dari Siauw Lim Pay, bukan?”

Boe Kie melompat mundur mendengar “Kim Kong Cie dari Siauw Lim Pay” ia segera ingat luka Jie Thay Giam dan In Lie Heng dan selama kurang lebih dua puluh tahun, orang-orang Boe Tong Pay menduga bahwa perbuatan itu dilakukan oleh orang Siauw Lim Pay. Mendengar bentakan Jie Thay Giam terdapat kemungkinan besar, bahwa si penyerang gelap itu adalah Pat Pie Sin Mo.

Sementara itu Oe Boen Cek sudah menjawab dengan suara dingin. “Kalau benar Kim Kong Cie, mau apa kau? Siapa suruh kau berkepala batu, tak mau memberitahukan ke mana perginya To Liong To” Enakkah menjadi manusia bercacat selama dua puluh tahun?”

“Oe Boen Cek!” teriak Jie Thay Giam. “Terima kasih, bahwa hari ini segala apa sudah menjadi terang. Kalau begitu, aku sudah dicelakai oleh Siauw Lim Pay dari See-Hek.” Ia berhenti sejenak dan berkata pula dengan suara parau. “Hanya sayang? Hanya sayang Ngo Tee…” Ia tak dapat meneruskan perkataannya, sedang air matanya mengucur dengan deras.

Sebagaimana diketahui, Thio Coei San membunuh diri sebab Jie Thay Giam dilukai oleh In So So dengan jarum emas. Sehingga ia tak ada muka untuk bertemu pula dengan kakak seperguruannya itu. Tapi sesudah melukai Jie Thay Giam, In So So telah minta bantuan Liong Boen Piauw Kiok untuk membawa pendekar itu pulang ke Boe Tong. Sebenarnya kalau itu hanya mendapat luka itu, luka dari jarum emas, sesudah diobati Jie Sam Hiap akan sembuh seluruhnya. Yang mengakibatkan kelumpuhan kaki tangannnya adalah pijitan Tay Lek Kim Kong Cie. Andaikata pada hari itu, orang yang berdosa dapat dicari, suami isteri Thio Coei San tentu tidak akan membunuh diri.

Mengingat begitu dan mengingat pula penderitaannya sendiri, Jie Thay Giam sedih bercampur gusar. Dengan darah mendidih dan kedua mata yang seolah-olah mengeluarkan api, ia menatap wajah musuh besarnya itu.

Mendengar perkataan pamannya, Boe Kie lantas saja ingat cerita yang pernah dituturkan oleh mendiang ayahnya. Dahulu dalam kuil Siauw Lim Sie terdapat seorang Tauw Too (Hweesio yang piara rambut) yang bekerja di dapur dan yang karena sering dianiaya oleh pemilik dapur menjadi sakit hati dan lalu belajar silat secara diam-diam. Belakangan Tauw Too itu membinasakan Sioe Co (pemimpin) Tat Mo Tong, Kouw Tie Sian Soe, dan lalu melarikan diri. Sesudah itu, di dalam Siauw Lim Sie timbul gelombang. Pentolannya pada berebut kekuasaan. Akhirnya salah seorang pemimpin, yaitu Kouw Hoei Sian Soe pergi ke See Hek dan mendirikan lagi Siauw Lim Pay di daerah tersebut.

(baca Kisah Membunuh Naga Jilid 2)

“Oe Boen Sie Coe sungguh kejam,” kata Thio Sam Hong. “Kami sama sekali tidak pernah menduga, bahwa di antara ahli waris-ahli waris Kouw Hoei Sian Soe terdapat manusia seperti Sie Coe.”

Oe Boen Cek menyeringai, “Kouw Hoei!” katanya. “Huh huh! Manusia apa Kouw Hoei?”

Thio Sam Hong lantas saja mendusin.

Sesudah Jie Thay Giam bercacatt karena Kim Kong Cie, Boe Tong Pay lalu mengirim orang ke kuli Siauw Lim Sie untuk menanyakan. Hong Siauw Lim Sie menolak segala tuduhan dan menduga bahwa perbuatan itu dilakukan oleh salah seorang anggota Siauw Lim Pay cabang See Hek. Tetapi sesudah diselidiki dengan seksama, terdapat bukti bahwa cabang See Hek itu sudah lemah sekali. Murid-muridnya kebanyakan hanya mempelajari ajaran agama Buddha dan tidak mengenal ilmu silat.

Sekarang mendengar jawaban Oe Boen Cek “manusia apa Kouw Hoei” Thio Sam Hong segera menarik kesimpulan bahwa dia bukan murid Siauw Lim Pay cabang See Hek, tak mungkin dia mencaci Aoew Soe-nya sendiri.

Maka itu ia lantas saja berkata. “Tak Heran! Tak Heran! Sie Cie tentulah ahli waris dari si Tauw Too pembantu dapur. Sie coe bukan saja sudah mempelajari ilmu silatnya, tapi juga sudah meneladani kejamannya. Tak heran kalau Siauw Lim Pay rusak dalam tangan Sie Coe. Siapa itu Kong Siang? Apa dia saudara seperguruan Sie Coe?”

“Benar! Jawabnya. “Ia Soehengku, ia bukan Kong Siang, ia bernama Kang Siang. Thio cin jin, bagaimana kalau Pan Jiek Kim Kong Cie dari Kim Kong Boen kami dibandingkan dengan Ciang Hoat dari Boe Tong Pay?”

“Tidak sama!” bentak Jie Thay Giam. “Batok kepalanya sudah dihancurkan oleh guruku.”

Sambil berteriak, Oe Boen Cek menubruk. Dengan Jie Hong Sie Pit, Boe Kie merintangi serangan terhadap Jie Thay Giam. “Oe Boen Cek,” bentaknya. “Lekas keluar Hek Giok Toan Siok Ko!” (Koyo Giok Hitam untuk menyambung tulang)

Oe Boen Cek terkesiap. “Bagaimana dia tahu?” tanyanya di dalam hati. “Koyo penyambung tulang sangat dirahasiakan, walau murid biasa tak mungkit tahu adanya obat luar biasa itu.”

Boe Kie mengenal nama obat itu dari kitab obat-obatan mendiang Ouw bahwa di daerah See Hek terdapat semacam ilmu silat Gwa Kee mungkin cabang Siauw Lim Pay yang sangat aneh. Tulang manusia yang dipatahkan dengan ilmu itu hanya bisa diobati dengan Hek Giok Toan si Koyo, tapi cara membuat obat itu dengan sangat dirahasiakan dan tak diketahui oleh orang luar.

Mengingat itu, Boe Kie segera menyebutkannya untuk menjajal benar tidaknya catatan dalam kitab itu. Benar saja paras muka Oe Boen Cek segera berubah dan ia tahu bahwa tebakannya tidak meleset.

“Anak kecil, cara bagaimana kau tahu nama obat itu?” tanyanya.

“Keluarkan!” bentak Boe Kie. Mengingat nasib kedua orang tuanya karena gara-gara manusia itu, darah Boe Kie mendidih dan ia tak mau banyak bicara.

Sementara itu, sesudah memikir sejenak, hati Oe Boen Cek jadi lebih besar. Tapi biarpun dalam gebrakan pertama, ia mendapat sedikit kesalahan, akan tetapi sesudah ia mengeluarkan Tay Lek Kim Kong Cie, Boe Kie tak berani melawan lagi dan hanya berlari-lari. Maka itu asal saja ia berhati-hati terhadap ilmu menempel dan menarik dari si Too tong, ia pasti akan memperoleh kemenangan, pikirnya.

Memikir begitu, ia maju setindak seraya membentak. “Binatang kecil! Aku suka mengampuni jiwamu, jika kau berlutut tiga kali. Kalau tidak, lihatlah contoh si orang she Jie.”

Alis Boe Kie berkerut. Ia bertekat untuk mendapatkan Hek Giok Toan Siokko, tapi ia belum mendapat jalan untuk memunahkan Tay Lek Kim Kong Cie. Kian Koen Tay Lo Ie memang bisa melukai dia, tapi tidak bisa memaksa dia mengeluarkan obat itu.

Selagi ia mengasah otak, tiba-tiba Thio Sam Hong menggapai seraya berkata, “Anak, mari sini!”

“Baik, thay Soehoe,” jawabnya sambil menghampiri.

“Anak, kau dengarlah,” kata guru besar itu. “Menggunakan maksud tidak menggunakan tenaga. Thay Kek Koen berputaran bundar tak putus-putusnya mendapat kesempatan mendapat kedudukan baik, sehingga akarnya lawan putus sendirinya. Setiap jurus, setiap pukulan, haruslah bersambung-sambung seperti sungai Tiang Kang, gelombang tak habis-habisnya.”

Sesudah memperhatikan cara berkelahinya Boe Kie, Thio Sam Hong sudah mendapat intisari dari pada Thay Kek Koen, tapi karena Boe Kie sudah memiliki ilmu yang tinggi, maka dalam menggunakan pukulan-pukulan Thay Kek Koen, ia masih belum bisa menyelamai maksud terpenting dari Thay Kek Koen, yaitu Wan Coan Poet Toan (berputaran tidak habis-habisnya)

Sebagai seorang yang cerdas, beberapa perkataan itu sudah cukup untuk menyadarkan Boe Kie.

“Cepat!” teriak Oe Boen Cek. “Sesudah masuk ke gelanggang, mana bisa kau belajar?”

“Bisa! Kau sambutlah pukulan yang baru didapat olehku,” katanya seraya memutar tubuh. Ia membuat sebuah lingkaran dengan tangan kanannya dan menghantam muka musuh. Itulah pukulan Ko Tam Ma dari Thay Kek Koen. Oe Boen Cek menyambut dengan babatan jari-jari tangannya yang berbentuk golok.

Bagaikan kilat Boe Kie mengubah gerakannya. Ia membuat lingkaran dengan kedua tangannya dalam pukulan Song Hong Koan Nyie. Kali ini terlihatlah lihainya ajaran Thio Sam Hong mengenai Wan Coan Poet Toan.

Begitu ia mengerahkan tenaga, tubuh Oe Boen Cek terhuyung. Dengan saling susul Boe Kie segera membuat lingkaran-lingkaran. Lingkaran di kiri, lingkaran di kanan, lingkaran besar, lingkaran rata, lingkaran berdiri, lingkaran miring. Setiap lingkaran merupakan bola dunia.

Diserang begitu, Oe Boen Cek tak bisa mempertahankan diri lagi. Tubuhnya limbung, terhuyung kian kemari seperti orang mabuk arak. Tiba-tiba dengan nekat dia menyodok dengan lima jari tangannya.

Boe Kie menyambut dengan Ia Chioe (tangan awan) tangan kiri tinggi, tangan kanan lebih rendah dan dengan sekali membuat lingkaran, ia sudah menggulung lengan musuh dalam lingkaran itu. Hampir berbareng, ia mengeluarkan tenaga Kioe Yang Sin Kang.

“Krek krek krek”!” tulang lengan Oe Boen Cek hancur beberapa tempat.

Mengingat kekejaman musuh dan mengingat pula nasib kedua orang tuanya. Boe Kie turun tangan tanpa sungkan-sungkan. Dengan saling susul ia membuat lingkaran-lingkaran In Chioe diikuti suara patah atau hancurnya tulang setelah lengan kanan, lengan kiri, kemudian betis kiri dan betis kanan. Sambil mengeluarkan teriakan menyayat hati, Oe Boen Cek terguling. Seumur hidup Boe Kie belum pernah begitu gusar. Kalau bukan ingin mendapatkan Hek Giok Toan Siokko, ia tentu sudah mengambil jiwa musuh besar itu.

Salah seorang pengikut Tio Beng lantas saja memburu dan mendukung jago yang roboh itu, dibawa balik ke barisan sendiri.

Si botak A Jie melompat ke luar dan tanpa menegur lagi, ia menghantam dada Boe Kie. Sebelum telapak tangan musuh tiba, Boe Kie sudah merasai tindihan tenaga yang sangat berat, maka ia buru-buru mengeluarkan pukulan Sia Hwie Sit untuk menolaknya.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, A Jie menancapkan kedua kakinya di lantai dan mengirim pukulan berantai yang disertai Lwee Kang yang sangat dahsyat. Melihat pukulan dan usia musuh, Boe Kie menduga bahwa dia adalah kakak seperguruan Oe Boen Cek. Dia kalah gesit, tapi tenaganya lebih besar daripada Oe Boen Cek.

Dengan menggunakan Kouw Koat (teori) “menempel dan menarik” dari Thay Kek Koen. Boe Kie coba mendorong, tapi tenaga dalam musuh terlalu kuat. Bukan saja ia tidak berhasil, bahkan dia sendiri kena didorong dan terhuyung beberapa kali.

Tiba-tiba semangat Boe Kie terbangun, “biarlah aku melawan Lwee Kang dengan Lwee Kang,” katanya di dalam hati. “aku akan lihat Lwee Kang Siauw Lim atau Kioe Yang Sin Kang yang lebih lihai.”

Sesaat itu, telapak tangan si botak kembali menyambar. Sambil mengerahkan Kioe Yang Sin Kang, Boe Kie memapaki dengan tangannya. Itulah keras melawan keras. Dengan mengeluarkan suara nyaring, kedua tangan kebentrok dan tubuh kedua lawan sama-sama bergoyang.

Thio Sam Hong terkejut, “dengan cara itu, siapa lebih kuat siapa menang dan bertentangan dengan teori Thay Kek Koen.” pikirnya. “kakek itu memiliki Lwee Kang luar biasa tinggi, yang jarang terlihat dalam rimba persilatan. Dalam gebrakan tadi, anak itu mungkin sudah menderita luka.”

Tapi sebelum Thio Sam Hong sempat memikir jalan yang baik, tangan Boe Kie dan si botak sudah beradu lagi. Kali ini si kakek bergoyang-goyang, sedang badan Boe Kie tidak bergeming. Ia berdiri tegak dengan paras muka tenang.

Sekali lagi Thio Sam Hong kaget, tapi kaget tercampur heran dan girang.

Kioe Yang Sin Kang dan Lwee Kang Siauw Lim Pay bersumber satu, kedua-duanya digubah oleh Tat Mo Kauw Coe. Bila telah mencapai tingkat tinggi, kedua ilmu itu tidak ada perbedaannya.

Tapi sebagaimana diketahui, pendiri partai Kim Kong Boen, Touw Too bagian dapur mendapat ilmunya dengan jalan mencuri bukan didapat dari seorang guru. Pukulan-pukulan yang bisa dilihat dengan mata memang mudah dicuri, tapi tenaga dalam yang harus dilatih dengan menjalankan hawa di dalam tubuh, tidak dapat dicuri dengan begitu saja. Maka itulah walaupun Gwa Kang (ilmu luar) Kim Kong Boen sangat lihai dan bersamaan dengan Gwa Kang Siauw Lim Pay yang tulen Lwee Kangnya masih kalah jauh.

A Jie adalah seorang luar biasa dalam Kim Kong Boen. Ia memiliki tenaga yang sangat besar, pembawaan dalam dirinya sendiri. Dengan menggunakan cara-cara sendiri, ia berlatih dan akhirnya mendapat Lwee Kang yang sangat kuat yang bahkan melampaui tenaga dalam Couw Soenya, si Touw Too bagian dapur.

Selama hidupnya ia jarang menemui lawan yang bisa menyambut tiga pukulannya. Sekarang ia ketemu batunya. Untuk pertama kali ia bertemu dengan seorang lawan yang dapat menindih tenaga dalamnya. Ia kaget bercampur gusar, ia segera menarik napas dalam-dalam dan dengan kedua tangan ia menghantam Boe Kie.

Tiba-tiba Boe Kie berteriak, “In Liok Siok, lihatlah! Tit Jie akan balas sakit hati Liok siok.”

Ternyata dengan diantar Yo Poet Hwi, Siauw Ciauw, dan yang lain-lain In Lie Heng yang digotong dalam sebuah tandu oleh dua orang anggota Beng Kauw sudah masuk ke dalam ruangan Sam Ceng Tian.

Di lain saat jago-jago Ngo Heng Kie pun tiba saling menyusul.

Seraya berteriak begitu, Boe Kie menangkis dengan tangan kanannya, “Dak!” si botak terhuyung tiga tindak, matanya melotot dan darahnya bergolak.

“In Liok Siok!” teriak pula Boe Kie. “Apakah di antara penyerang terdapat manusia gundul itu?”

“Benar! Bahkan dia yang menjadi kepala.” Jawabnya.

Sementara itu, si botak mengumpulkan tenaganya, sehingga tulang-tulangnya berkeretakan.

“Sebelum dia menyeberang, seranglah di tengah sungai!” seru Jie Thay Giam. Seruan itu berarti bahwa sebelum A Jie selesai menjalankan pernapasannya dalam mengumpulkan tenaga, Boe Kie harus menyerang lebih dahulu.

Boe Kie mengerti maksud sang paman. Iapun tahu, bahwa sesudah si botak mengumpulkan tenaga, dia bisa mengeluarkan tenaga dalam yang lebih hebat daripada tadi.

“Baik!” jawabnya.

Ia maju setindak, tapi tidak menyerang. Di dalam hati ia percaya penuh, bahwa Kioe Yang Sin Kang tak kalah dari Lwee Kang musuh. Semangatnya sudah terbangun dan ia bertekad untuk melayani secara ksatria, sesudah musuh selesai mengumpulkan tenaga.

Dilain detik, A Jie menghantam dengan kedua tangannya. Hebat sungguh tenaganya yang menindih bagaikan gunung roboh, Boe Kie menarik napas dalam-dalam dan Kioe Yang Sin Kang mengalir di dalam tubuhnya. Ia mengangkat kedua tangannya, satu mendorong, satu menyambut, melawan keras dengan keras pula.

Hampir berbareng, A Jie mengeluarkan teriakan menyayat hati, badannya terbang bagai sebutir peluru, menyambar tembok dan…”brak!” tembok berlubang besar dan tubuh si botak terlempar ke luar dari lubang itu!

Semua orang tertegun, Tio Beng dan kawan-kawannya pucat, jago-jago Boe Tong dan Beng Kauw mengawasi dengan mata membelalak. Selama hidup belum pernah mereka menyaksikan pemandangan sehebat itu.

Sekonyong-konyong dari lubang tembok masuk seorang yang menenteng A Jie, dia lalu menaruhnya di lantai. Orang itu kate, gemuk tubuhnya, lucu mukanya tapi gerak-geriknya bukan lain daripada Gan Hoan, Ciang Kie Soe Houw Touw Kie.

Tulang tangan, dada, dan pundak si botak ternyata sudah remuk, terpukul tembok. Sesudah meletakkan A Jie, Gan Hoang menghampiri Boe Kie dan memberi hormat dengan membungkuk dalam. Sesudah itu, dengan gerakan menggelikan hati, ia keluar lagi dari lubang di tembok.

Sesudah si “Too Tong” merobohkan kedua jagonya, Tio Beng bercuriga dan melihat cara memberi hormatnya Gan Hoan, ia lantas saja mengenali Boe Kie.

“Celaka sungguh!” ia mengeluh, “aku sungguh tak pernah menyangka bahwa si setan kecil sudah lebih dahulu berada di sini.”

Sesudah menetapkan hatinya, ia berkata dengan suara lemah lembut, “mengapa kau begitu rendah? Dengan menyamar sebagai seorang Too Tong kau memanggil orang luar sebagai Thay Soehoe, apa kau tak malu?”

Melihat dirinya sudah dikenali, Boe Kie lantas saja menjawab dengan suara lantang, “Mendiang ayahku Thio Coei San, adalah murid kelima dari Thay Soehoe, aku memang harus memanggil Thay Soehoe.” Sehabis berkata begitu, ia menghampir Thio Sam Hong dan berlutut. “Anak Thio Boe Kie memberi hormat pada Thay Soehoe dan Sam SoePeh,” katanya dengan suara gemetar. “Karena keadaan anak tidak lebih dahulu memperkenalkan diri, untuk kekurang ajaran itu, anak memohon Thay Soehoe dan Sam Soe Peh sudi mengampuni.”

Perasaan Thio Sam Hong dan Jie Thay Giam tak mungkin dilukiskan dengan kalam. Girang, kaget, heran, sedih, dan terharu mangaduk dalam dada mereka. Untuk beberapa saat kedua orang tua itu tak dapat mengeluarkan sepatah kata. Perlahan-lahan air mata turun dari mata mereka. Mimpi pun mereka tak pernah mimpi, bahwa pemuda yang telah merobohkan kedua jago Kim Kong Boen adalah si anak kurus kering, dia yang telah menghadapi kebinasaan.

Sesudah lampiaskan perasaannya dengan air mata, Thio Sam Hong berbangkit dan membangunkan cucu muridnya. “Anak…kau tidak mati.” Katanya dengan suara parau, “Ah… Coei San mempunyai turunan…,” ia berhenti sejenak dan tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.

Ia menengok kepada In Thian Ceng dan berteriak, “In Heng! Aku memberi selamat, bahwa kau mempunyai seorang cucu yang sangat baik.”

“Thio Cinjin,” jawabnya seraya tertawa lebar, “akupun memberi selamat, bahwa kau mempunyai seorang cucu murid yang begitu baik.”

“Tua bangka bangsat!” caci Tio Beng. “Cucu baik!…cucu murid baik! A Toa, coba jajal ilmu pedangnya!”

“Baik!” jawab kakek bermuka sial itu. Ia menghunus Ie Thian Kiam yang mengeluarkan sinar menyilaukan mata.

“Pedang itu adalah milik Go Bie Pay,” kata Boe Kie. “Mengapa sekarang berada dalam tanganmu?”

“Setan kecil, tau apa kau?” bentak si nona. “Si tua bangka Biat Coat telah mencuri Ie Thian Kiam dari rumahku. Sekarang pedang itu pulang kepada majikannya yang lama. Ada hubungan apa antara Ie Thian Kiam dan Go Bie Pay?”

Boe Kie yang tidak mengenal sejarah pedang mustika itu, tidak dapat membuka mulut lagi. “Tio Kouw Nio, berikanlah Hek Giok Toan Siok kepadaku,” katanya dengan menyimpang, “sesudah Sam Soepeh dan Liok Soesiok sembuh, kita boleh bikin habis permusuhan ini.”

“Bikin habis permusuhan ini?” menegas si nona dengan suara dingin. “Bagus! Apa kau tahu di mana adanya Kong Boen Kong Tie, Song Wan Kiauw dan yang lain-lain?”

Boe Kie menggelengkan kepala, “Tak tahu.” Jawabnya. “Bolehkah Tio Kouw Nio memberi keterangan?”

“Perlu apa aku beritahu kau?” jawabnya. “Jika aku tidak mencincang padamu sampai menjadi berlaksa potong, tak dapat aku melampiaskan rasa penasaran untuk segala hinaan dalam penjara besi di Lek Lioe Chung.” Sehabis berkata begitu, paras si nona bersemu dadu.

Mendengar perkataan hinaan dalam penjara besi di Lek Lioe Chung, paras muka Boe Kie pun lantas berubah merah. Pada hari itu, untuk menolong jiwa para pemimpin Boe Kie, karena terpaksa ia sudah mengitik telapak kaki Tio Beng. Ia sama sekali tidak berniat untuk menghina seorang wanita, tapi biar bagaimanapun jua perbuatan itu sangat melanggar kesopanan. Ia tidak pernah memberitahukan kejadian itu kepada siapapun jua dan kalau sampai diketahui orang, ia malu besar.

Sebab tidak bisa membela diri di hadapan orang banyak, ia hanya berkata, “Tio Kouw Nio, bilanglah terus terang, kau suka menyerahkan Hek Giok Toan Siokko atau tidak?”

Biji mata Tio Beng memain dan ia berkata sambil tersenyum, “Boleh kau bisa segera mendapatkan Hek Giok Toan Siokko apabila kau meluluskan permintaanku.”

“Permintaan apa?”

“Sekarang belum dapat dipikir olehku.”

“Kau tentu bakal mengajukan permintaan yang gila-gila. Apakah aku harus meluluskan juga manakala kau minta membunuh diri sendiri atau mengubah badan menjadi babi dan anjing.”

“Aku pasti tak akan minta kau membunuh diri atau minta kau menjadi babi dan anjing, hihihi” andaikata kau mau, kaupun tak akan bisa melakukan itu.”

“Sebutlah sekarang, apabila permintaanmu tidak melanggar kesatriaan dalam rimba persilatan dan bisa dilakukan olehku, aku akan meluluskannya.”

Baru saja Tio Beng mau bicara lagi, tiba-tiba ia melihat sekuntum kembang mutiara pada kundai Siauw Ciauw dan kembang itu adalah miliknya sendiri yang dihadiahkan kepada Boe Kie. Tiba-tiba saja darahnya meluap.

Sambil menggigit gigi, ia berpaling kepada A Toa dan berkata, “Putuskan kedua lengan bocah she Thio itu!”

“Baik,”jawabnya. Ia maju setindak menghunus Ie Thian Kiam dan berkata, “Thio Kauw Coe, Coe jin memerintahkan aku memutuskan kedua lenganmu.”

Alis Boe Kie berkerut. Ie Thian Kiam tajam luar biasa, tidak bisa dilawan dengan senjata apapun jua. Jalan satu-satunya ialah coba merampas pedang mustika itu dengan tangan kosong dengan menggunakan ilmu Kian Koen Tay Lo Ie. Tapi kalau musuh memiliki ilmu yang tinggi, sekali kurang hati-hati, sekali tergores, ia bisa celaka. Maka itulah ia jadi agak bingung dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Sekonyong-konyong Thio Sam Hong memanggil, “Boe Kie, kau sudah paham Thay Kek Koen. Di samping ilmu pukulan itu, akupun menggubah Thay Kek Kiam (Ilmu Pedang Thay Kek) “Mari! Aku akan mengajar ilmu pedang itu kepadamu supaya kau bisa melayani Sie coe itu.”

“Terima kasih Thay Soe Hoe,” kata Boe Kie. Ia berpaling kepada A Toa dan berkata pula, “cianpwee, aku tidak paham ilmu pedang, sesudah Soehoe memberi pelajaran barulah aku melayani cianpwee.”

Biarpun ia mempunyai pedang mustika, tapi sudah melihat kelihaian Boe Kie, A Toa masih merasa keder. Sekarang ia girang, ilmu pedang adalah serupa ilmu yang sangat sulit. Untuk mempergunakannya secara lancar, orang harus berlatih sepuluh dan dua puluh tahun. Begitu belajar, begitu mempergunakannya adalah hal yang tak mungkin.

Maka itu, ia lantas saja manggutkan kepala dan berkata, “baiklah, aku menunggu di sini. Apa dua jam cukup?”

“Aku akan menurunkan pelajaran di sini,” kata Thio Sam Hong. “Tak usah dua jam, setengah jam sudah lebih dari cukup.”

Kecuali Boe Kie, semua orang kaget. Mereka hampir tak percaya kuping sendiri. Andaikata benar Thay Kek Kiam Hoat pandai luar biasa, tetapi dengan mengajar di hadapan orang banyak dan musuh bisa menyaksikannya, rahasia pukulan-pukulan lihai tidak dapat dipertahankan lagi.

“Baiklah,” kata A Toa. “Kalau begitu, sebaiknya aku keluar dari ruangan ini.”

“Tak usah,” kata Thio Sam Hong.

“Ilmu pedangku gubahan baru. Aku sendiri tak tahu apa dapat digunakan atau tidak. Tuan boleh turut menyaksikan dan kuminta tuan suka memberi petunjuk pada bagian-bagian yang kurang sempurna.”

Sesaat itu, Yo Siauw mendadak ingat sesuatu, “Ah!” teriaknya, “Sekarang aku ingat, tuan adalah Giok Bin Sin Kiam tiang loo yang berkedudukan tinggi dalam Kay Pang! Mengapa tuan rela menjadi budaknya orang?”

(Giok Bin Sin Kiam Sim = Malaikat pedang yang mukanya seperti batu pualam, tiang loo ” tetua Kay Pang partai pengemis. Dalam Rajawali Sakti dan Pasangan Pendekar, Kay Pang dipimpin oleh Kioe Cie Sin Kay Ang Cit Kong)

Mendengar itu, jago-jago Beng Kauw terkesiap, “Bukankah kau sudah mati?” kata Cioe Tian.

“Bagaimana”.. bagaimana kau bisa hidup lagi?”

A Toa menghela napas. “Aku manusia sisa mati.” Katanya sambil menundukkan kepala. “Apa yang sudah lampau perlu apa disebutkan lagi? Telah lama aku sudah bukan tiang loo dari Kay Pang.”

Orang-orang yang lebih tua mengetahui, bahwa Giok Bin Sin Kiam Phoei Tong Peng dahulu menjadi kepala dari keempat tetua partai pengemis. Kelihaiannya dalam ilmu pedang telah menggetarkan dunia kang ouw dan disamping itu, ia pun terkenal sebagai pria yang sangat tampan, sepanjang warta, pada belasan tahun berselang, ia telah meninggal dunia karena sakit. Tentu saja munculnya di Sam Ceng tian sangat mengejutkan, lebih-lebih sebab mukanya berubah dan sekarang ia menjadi kaki tangan Tio Beng.

“Aku merasa sangat girang, bahwa Thay Kek Kiam Hoat akan mendapat pelajaran dari Giok Bin Sin Kiam,” kata Thio Sam Hong. “Boe Kie, apa kau mempunyai pedang?”

Siauw Ciauw segera menghampiri dan menyerahkan Ie Thian Kiam kayu yang diambil dari Lek Lio Chung. Thio Sam Hong menyambut pedang itu dan berkata sambil tersenyum, “pedang kayu? Apa kau kira aku akan menulis jimat atau mengusir hawa jahat?” Ia berbangkit dan memegang senjata itu di tangan kiri, perlahan-lahan ia membuat lingkaran.

Ia mulai bersilat dengan gerakan sangat lambat “San Hoan To Goat, toa Kwie Chee Yan Coe Tiauw Coei, Co Lan Sauw, Yoe Lan Siauw dan sebagainya.”

Boe Kie mengawasi dengan mata tidak berkesiap tapi yang diperhatikannya bukan jurus pedang, hanya jiwa ilmu pedang itu bersambung-sambung.

Sesudah Thio Sam Hong selesai bersilat, tak seorangpun yang menepuk tangan. Mereka semua merasa heran. Apakah ilmu pedang itu yang lambat gerakannya dan tak menunjukkan keluar-biasaan apapun jua dapat digunakan untuk melawan Giok Bin Sin Kiam?

Tapi ada juga yang memikir lain. Mereka menduga, bahwa Thio Sam Hong sudah sengaja memperlambat gerak-geriknya, supaya dilihat oleh cucu muridnya.

“Anak apa kau sudah lihat terang?” tanya Thio Sam Hong.

“Cukup terang,” jawab Boe Kie.

“Kau ingat semua?”

“Sudah lupa sebagian.”

“Bagus, aku banyak membikin susah kepadamu. Sekarang kau harus memikiri sendiri.”

Alis Boe Kie berkerut, suatu tanda ia sedang mengasah otak.

Beberapa saat kemudian, Thio Sam Hong bertanya lagi, “Bagaimana sekarang?”

“Sudah lupa sebagian besar.” Jawabnya.

“Celaka!” teriak Cioe Tian. “Makin lama diingat makin banyak yang dilupakan. Thio cinjin, ilmu pedangmu sangat sulit tak dapat orang mengangkatnya dengan hanya sekali lihat, coba sekali lagi.”

Thio Sam Hong tertawa. “Baiklah, aku akan bersilat sekali lagi,” katanya.

Seperti tadi ia bersilat pula dengan gerakan perlahan. Sesudah beberapa jurus, semua penonton jadi makin heran sebab jurus-jurus yang diperlihatkan kali ini berbeda dengan jurus-jurus yang tadi.

“Gila! Betul-betul gila!” Teriak Cioe Tian.

Tapi guru besar itu tak meladeni si sembrono. Ia hanya senyum. “Anak,” katanya kepada Boe Kie. “Bagaimana sekarang?”

“Masih ada tiga jurus yang belum terlupa.”

Thio Sam Hong balik kursinya, sedang Boe Kie jalan terputar di ruangan itu. Tiba-tiba ia mengangkat kepala dan dengan paras muka berseri-seri, ia berseru, “sekarang anak lupa semuanya! Lupa seluruhnya.”

“Bagus!” kata sang Thay Soehoe. “Sekarang kau boleh minta petunjuk Giok Bin Sin Kiam.” Seraya berkata begitu, ia menyerahkan pedang kayu yang dipegangnya kepada Boe Kie.

Boe Kie seraya menghampiri Phoei Tong Peng dan berkata seraya membungkuk, “Phoei Cian Pwee, silahkan.”

Cioe Tian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Hatinya penuh kekuatiran.

Bagaikan seekor kera, Phoei Tong Peng melompat dan sambil berkata, “Maaf.”

Ia menikam. Sinar hijau berkelebat disertai dengan suara “Sret.” Hal ini membuktikan, bahwa ia memiliki Lwee Kang yang sangat kuat, sedikitnya tak kalah dengan A Jie.

Semua orang terkejut. Dengan Lwee Kang yang sehebat itu, jangankan ia menggunakan pedang mustika, sedang pedang biasapun sudah sukar dilawan.

Meskipun ia sudah tidak memiliki Giok Bin (muka tampan seperti batu pualam), tapi julukan Sin Kiam (pedang malaikat) sungguh bukan nama kosong.

Melihat serangan hebat itu, cepat Boe Kie membuat setengah lingkaran, menempelkan badan pedang kayu di badan Ie Thian Kiam, mengirim Lwee Kang, dan Ie Thian Kiam tertekan ke bawah.

“Bagus!” puji Phoei Tong Peng seraya membalik pedangnya dan menusuk pundak lawan.

Boe Kie memutar senjata dan kedua lawan sama-sama melompat mundur. Ie Thian Kiam tergetar dan mengeluarkan suara “ngung” yang sangat nyaring.

Kedua pedang itu berbeda bagaikan langit dan bumi. Yang satu bersenjata mustika, yang lain hanya kayu belaka. Akan tetapi, karena bentrokan terjadi pada badan pedang, maka yang tajam tidak dapat berbuat banyak terhadap yang tumpul.

Dengan memukul badan pedang maka boleh dikatakan Boe Kie sudah berhasil menangkap jiwa Thay Kek Kiam Hoat.

Tadi waktu memberikan pelajaran yang diturunkan Thio Sam Hong ialah “jiwa” atau “intisari” dari Thay Kek Kiam Hoat, tapi bukan “justru” ilmu pedang itu. Maka itulah, sesudah Boe Kie bisa menyelami intisari daripada ilmu pedang itu dan bisa menggunakan secara bebas, wajar dengan segala perubahan-perubahannya yang bermacam-macam. Dalam otak masih teringat sejurus dua dari apa yang dilihatnya, maka kelancaran itu akan terganggu.

In Thian Ceng dan Yo Siauw mengerti prinsip tersebut, tapi Cioe Tian yang ilmunya masih agak cetek, sudah jadi kebingungan.

Suara bentrokan senjata makin lama makin gencar. Dengan jurus-jurus luar biasa, dengan Lwee Kang yang dahsyat dan dengan senjata mustika. Phoei Tong Peng mengirim serangan-serangan berantai bagaikan hujan dan angin. Sinar hijau berkelebat-kelebat tak ada hentinya dan hawa dalam Sam Ceng Tian berubah dingin.

Boe Kie melayani dengan hati-hati dan tenang. Dalam membela diri atau balas menyerang, pedang kayunya membuat lingkaran-lingkaran, lingkaran besar, dan kecil. Lingkaran itu seolah-olah benang sutra yang berputar-putar dan untuk menggulung Ie Thian Kiam. Makin lama jumlah benang sutera jadi makin banyak.

Sesudah bertempur dua ratus jurus lebih, kelincahan Ie Thian Kiam mulai berkurang. Phoei Tong Peng merasa, bahwa berat pedang selalu bertambah, dari lima menjadi enam kati, tujuh, delapan, sepuluh, dua puluh”

Si kakek sekarang sangat heran, ia mengeluarkan keringat dingin. Tiga ratus jurus sudah lewat. Tapi ia belum juga bisa merampas pedang lawan yang terbuat dari pada kayu. Itulah kejadian yang belum pernah dialami.

Pihak lawan seperti juga melepaskan jala raksasa yang makin lama jadi makin kecil. Berulang kali Phoei Tong Peng menukar ilmu pedang, tapi itu tetap tidak dapat kemajuan.

Terus-menerus Boe Kie membuat lingkaran-lingkaran di antara penonton, kecuali Thio Sam Hong seorang, tak satupun yang bisa melihat tegas apa dia sedang menyerang atau membela diri.

Pada hakikatnya Thay Kek Kiam Hoat hanya terdiri daripada lingkaran-lingkaran besar, kecil, miring, berdiri rata dan sebagainya, sehingga jika orang ingin berbicara tentang “jurus” ilmu pedang itu hanya terdiri dari satu jurus lingkaran. Tapi dalam jurus tunggal itu terdapat perubahan-perubahan yang tiada habisnya.

Sekonyong-konyong Phoei Tong Peng membentak keras, kumis atau alisnya berdiri dan Ie Thian Kiam menyambar dada Boe Kie. Itulah serangan yang disertai dengan seantero tenaga dalam. Boe Kie membalik senjata dan coba menangkis.

Mendadak si kakek memutar sedikit pergelangan tangannya merampas dari samping. “Kres” pedang kayu itu putus enam dim dan Ie Thian Kiam meluncur terus ke dada Boe Kie.

Boe Kie terkesiap. Tapi dalam bahaya, ia tidak jadi bingung. Secepat kilat, telunjuk dan jari tengah tangan kirinya menjepit badan Ie Thian Kiam sedang tangan kanannya membabat lengan kanan musuh dengan pedang buntung. Biarpun kayu, tapi ia sebab membacok dengan tenaga Kioe Yang Sin Kang sepenuh hati untuk menyerang pula dan merampas pedang mustika itu.

Dengan tangan kiri mencekal Ie Thian Kiam Boe Kie seperti juga jepitan besi. Dalam keadaan begitu, jalan satu-satunya untuk menyelematkan lengan kanannya dari bacokan ialah melepaskan Ie Thian Kiam dan melompat mundur.

“Lepas!” bentak Boe Kie sambil menggigit gigi dengan nekat si kakek yang bandel membetot lagi. “Kres!” lengan itu terbabat putus dan terus meluncur jatuh!

Phoei Tong Peng lebih suka mengorbankan lengan daripada kehilangan pedang.

Sebelum lengan yang jatuh itu menyentuh lantai, tangan kiri si kakek menjambretnya dan mengambil pedang Ie Thian Kiam yang masih terus dicengkram dengan jari-jari tangan dari lengan yang putus itu.

Melihat kegagahan orang tua itu, Boe Kie kaget bercampur kagum dan ia tak sampai hati untuk menyerang pula dan merampas pedang mustika itu. Phoei Tong Peng menghampir Tio Beng dan seraya berkata membungkuk, “Coe Jin, Siauw Jin tak punya kemampuan dan rela menerima hukuman.”

“Aku suruh kau putuskan kedua tangan bocah itu.” Katanya dengan suara dingin.

Muka si kakek yang sudah pucat jadi lebih pucat lagi. “Baiklah.” Katanya. Tangan kirinya mengayun Ie Thian Kiam yang dengan sekali berkelebat sudah memutuskan lengan kiri si kakek.

Dengan serentak semua orang mengeluarkan seruan tertahan.

Boe Kie gusar tak kepalang. Sambil menuding, ia membentak, “Tio Kouw Nio! Sungguh kejam kau! Phoei Sian Seng telah berbuat apa yang dia bisa. Tapi kau masih tak bisa memaafkannya.”

“Kau, bukan aku yang memutuskan tangannya.” Kata si nona dengan suara dingin, “Apa kau atau aku yang kejam?”

Boe Kie jadi kalap, “Kau…Kau…” teriaknya. Ia tidak bisa mendapatkan kata-kata yang tepat untuk melampiaskan kemarahannya.

Tapi Tio Beng tenang-tenang saja. “Budakku, tak perlu kau campur urusan orang lain.” Ia menengok kepada Thio Sam Hong dan berkata pula. “Hari ini, dengan memandang muka Thio Kauw Coe, aku memberi ampun kepada Boe Tong Pay,” ia mengibaskan tangan kirinya dan membentak, “Berangkat!” beberapa orang sebawahannya segera mendukung Phoei Tong Peng, A Jie, dan Oe Boen Cek dan kemudian beramai-ramai keluar dari Sam Tian Ceng.

“Tahan!” teriak Boe Kie, “sebelum kamu tinggalkan Hek Giok Toan Siokko, jangan harap kamu bisa berlalu dari Boe Tong San!” dengan sekali melompat, tangannya menjambret Tio Beng.

Tapi sebelum tangan itu menyentuh si nona, tiba-tiba ia merasa kesiuran angin yang menyambar dari kiri ke kanan. Kedua serangan itu tidak ada suaranya. Tahu-tahu sudah tiba di hadapannya.

Ia terkesiap, dengan kecepatan luar biasa ia membalik kedua tangannya dengan tangan kanan menyambut serangan yang datang dari sebelah kanan, tangan kiri menangkis pukulan yang menyambar dari sebelah kiri. Begitu kedua tangannya kebentrok dengan tangan musuh, ia merasa tekanan Lwee Kang yang sangat kuat dan lebih hebat lagi, Lwee Kang itu dingin luar biasa.

Tiba-tiba ia terkejut, hawa dingin itu sudah dikenalnya. Aha! Hian Beng Sin Ciang yang dahulu hampir-hampir mengambil jiwanya!

Dalam kagetnya, Boe Kie segera mengerahkan Kioe Yang Sin Kang. Hampir berbareng, iga kiri dan kanannya ditepuk orang sehingga ia terhuyung beberapa tindak. Yang menepuknya adalah dua kakek yang bertubuh kurus jangkung. Selagi sebelah tangan mereka kebentrok dengan kedua tangan Boe Kie, sebelah tangan yang lainnya tanpa mengeluarkan suara sudah menyambar ke iga pemuda itu.

Seraya membentak keras, Yo Siauw dan Wie It Siauw melompat dan menyerang kakek itu.

“Plak, plak!” kedua jago Beng Kauw itu juga terhuyung beberapa tindak, dada mereka menyesak dan hawa dingin meresap sampai ke tulang.

“Nama Beng Kauw sungguh besar, tapi kepandaiannya hanya sebegitu!” kata si kakek di sebelah kanan. Sehabis berkata begitu, dengan kawannya, ia melindungi Tio Beng keluar dari Sam Ceng Tian.

Sebab kuatir akan keselamatan Kauw Coe mereka, orang-orang Beng Kuaw tidak mengejar dan mereka lalu mengerumuni Boe Kie yang duduk di lantai dengan dipeluk oleh In Thian Ceng.

Semua orang kelihatan bingung. Sambil tersenyum, Boe Kie menggoyang-goyangkan tangannya supaya orang jangan berkuatir. Perlahan-lahan ia mengerahkan Kioe Yang Sin Kang untuk mengeluarkan racun dingin itu dari dalam tubuhnya. Selagi hawa dingin itu terdesak ke luar, beberapa orang yang Lwee Kangnya agak cetek, bergemetaran badannya. Tapi karena mencintai pemimpin mereka, tak seorangpun meninggalkan Boe Kie.

Beberapa saat kemudian, Boe Kie berkata, “Gwa kong dan saudara-saudara sekalian. Keadaanku tak apa-apa. Harap kalian jangan kuatir.”

Mendengar Kauw Coe mereka bicara, semua orang merasa girang dan lantas mengundurkan diri.

Sementara itu, kelihatanlah di atas kepala Boe Kie terus menerus keluar semacam asap berwarna putih, sebagai tanda bahwa pemuda itu sedang mengerahkan Lwee Kang yang dahsyat.

Beberapa saat kemudian, ia membuka baju dan pada kedua iganya terlihat tapak tangan dengan warna kehitam-hitaman. Berkat khasiat Kioe Yang Sin Kang, warna hitam itu perlahan-lahan berubah menjadi ungu, dari ungu menjadi abu-abu yang akhirnya menghilang. Demikianlah, dalam waktu kira-kira setengah jam Boe Kie sudah berhasil mengusir seantero racun hitam Hian Beng Sin Ciang.

Ia berbangkit dan berkata sambil tertawa, “Biarpun mesti menghadapi bahaya, kita sekarang sudah mengenal muka musuh.”

Yo Siauw dan Wie It Siauw pun tidak terluput dari racun dingin. Tapi sebab pada waktu menangkis, mereka mengeluarkan seluruh Lwee Kang, maka racun itu hanya masuk sampai di pergelangan tangan dan tidak menembus ke isi perut. Maka itu, sesudah mereka bersemedi dan mengerahkan tenaga dalam beberapa lama, merekapun berhasil mengusir racun tersebut.

Beberapa saat kemudian, Gouw Kin Co, Ciang Kie Soe Swie Kim Kie, melaporkan bahwa semua musuh sudah turun gunung.

Jie Thay Giam lantas saja memerintahkan Tie Kek Toojin menyediakan makanan untuk menjamu para anggota Beng Kauw.

Selagi makan minum, Boe Kie menceritakan kepada Thay SoeHoe dan Sam SoePehnya segala sesuatu yang terjadi atas dirinya semenjak mereka berpisahan. Mendengar penuturan yang luar biasa itu, semua orang merasa kagum dan heran.

“Tahun itu, di ruangan ini juga aku telah beradu tangan dengan si kakek yang memiliki Hian Beng Sin Ciang itu,” kata Thio Sam Hong. Pada waktu itu, ia menyamar sebagai perwira tentara mongol. Sampai sekarang, aku masih belum tahu dengan kakek yang mana aku beradu tangan. Kalau dipikir-pikir, aku harus merasa malu, karena sampai hari ini aku masih belum mampu meraba asal-usul kedua orang itu.

“Kitapun masih belum tahu siapa adanya wanita She Tio itu,” menyambung Yo Siauw. “Dia pasti mempunyai orang-orang seperti Hian Beng Jie Loo (dua kakek yang memiliki Hian Beng Sin Ciang) menakluk di bawah perintahnya.”

“Kita sekarang menghadapi dua tugas yang harus segera diselesaikan,” kata Boe Kie. “Pertama kita harus merampas Hek Goan Toan Siokko untuk mengobati luka Jie Sam SoePeh dan In Liok Siok. Kedua, kita harus segera menyelidiki di mana adanya Song Toa Peh dan yang lain-lain. Untuk menunaikan kedua tugas ini, kita harus mencari si wanita she Tio.”

Jie Thay Giam tertawa getir, “Aku sudah bercacat selama kurang lebih dua puluh tahun, sehingga biarpun Hek Goan Toan Siokko bisa dirampas, kurasa cacat ini tak mungkin disembuhkan lagi.” Katanya. “Perhatian kita sekarang harus ditujukan kepada Toako, Liok Tee dan yang lain-lain.

“Kita harus bertindak cepat,” kata Boe Kie pula. “Kuminta Yo Co Soe, Wie Hok Ong, dan Swee Poet Tek Tay Soe mengikuti aku turun gunung untuk mengejar musuh. Dengan berpencaran, kelima Ciang Kie Hoe Soe (wakil pemimpin) dari lima bendera harus pergi ke Go Bie, Hwa San, Koen Loen, Khong Tong, dan Siauw Lim Sie di Hok Kian untuk mengadakan hubungan berbagai partai dan mengadakan penyelidikan. Gwa Kong dan Koe Koe (Paman In Ya Eng) pulang ke Kang Lim untuk mempersiapkan seluruh pasukan Peh Bie Kie. Tiat Koan Too Tiang dan Cioe Sian Seng, Pheng Thay Soe dan Ciang Kie Soe dari Ngo Heng Kie untuk sementara waktu berdiam di Boe Tong Pay guna memantu Thay Soehoe Thio Cin Jin.”

Demikianlah, dengan sikap wajar ia mengeluarkan perintah. Sedang In Thian Ceng, Yo Siauw, Wie It Siauw dan yang lain-lain menerimanya sambil membungkuk.

Melihat begitu, bukan main girangnya Thio Sam Hong. Semula guru besar itu masih bersangsi, apakah cucu muridnya yang masih baru begitu muda bisa menguasai jago-jago Beng Kuaw. Sekarang dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan bahwa In Thian Ceng dan yang lain-lain benar-benar mengakui Boe Kie sebagai pemimpin mereka yang mempunyai kekuasaan mutlak.

“Kepandaiannya yang tinggi dan otaknya yang cerdas biarpun harus dikagumi di mataku tidaklah berharga terlalu besar.” Kata Thio Sam Hong di dalam hati. “Tapi bahwa ia berhasil menaklukkan jagoan-jagoan Beng Kuaw dan Peh Bie Kie, hingga mereka sekarang balik ke jalanan lurus sungguh-sungguh satu kejadian yang menakjubkan. Ha!…Coei San ada turunannya…” memikir begitu, kedua mata guru besar itu mengembang air.

Boe Kie berempat cepat-cepat makan dan sesudah makan, mereka segera meminta diri dari Thio Sam Hong dan segera turun gunung untuk mengejar Tio Beng. In Thian Ceng dan para pemimpin Beng Kauw menghantar sampai di kaki gunung.

Poet Hwi yang rupanya berat untuk segera berpisahan dengan ayahnya mengikuti terus dan sesudah melalui lagi kira-kira satu li, Yo Siauw berkata, “Poet Hwi, kau baliklah, rawatlah In Liok Siok sebaik-baiknya.”

“Baiklah,” jawab si nona, mengawasi Boe Kie dan tiba-tiba paras mukanya berubah merah. “Boe Kie Koko,” katanya dengan suara perlahan. “Aku ingin bicara sepatah dua patah dengan kau.”

Yo Siauw, Wie It Siauw, dan Swee Poet Tek tertawa dalam hati. Kedua orang muda itu sahabat lama dan dalam menghadapi perpisahan mereka mungkin ingin mengatakan sesuatu yang tak boleh didengar orang lain. Memikir begitu, mereka segera mempercepat tindakan dan meninggalkan Boe Kie dan Poet Hwi.

Sesudah ketiga orang tua itu pergi jauh, sambil menarik tangan Boe Kie, si nona berkata, “Boe Kie koko, kemari,” mereka menghadapi sebuah batu besar dan lalu berduduk di atasnya.

Jantung itu memukul keras. “Aku dan dia pernah sama-sama melewati banyak bahaya besar. Perhubungan antara aku dan dia bukan perhubungan biasa.” Katanya di dalam hati. “Tapi sesudah perpisahan lama dan bertemu lagi sikapnya agak dingin, acuh tak acuh. Apakah yang dia sekarang mau sampaikan kepadaku?”

Sebelum bicara, paras muka si nona sudah berubah merah dan ia menundukkan kepala. Lama juga ia berdiam bagaikan patung. Akhirnya ia mendongak dan berkata, “Boe Kie koko, pada waktu ibu mau menutup mata, bukankah ia telah meminta supaya kau melihat-lihat aku?”

“Benar,” jawabnya.

“Dengan melalui perjalanan berlaksa li, dari Tepi Hwai Ho sampai ke See Hek, kau telah berhasil menyerahkan aku kepada ayah. Dalam perjalanan itu, berulang kali kau mengalami penderitaan hebat dan menghadapi bahaya-bahaya besar. Budi yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata belaka. Sebegitu jauh aku hanya mengingat di dalam hati dan tidak pernah menyebutkannya di hadapanmu.”

“Itu semua tak ada harga untuk disebutkan lagi,” kata Boe Kie. “apabila aku tidak mengawani kau ke See Hek, aku tentu tidak mengalami kejadian-kejadian yang sangat kebetulan dan di waktu ini aku pasti sudah tidak berada di alam dunia.”

“Tidak! Boe Kie koko, kau tak boleh mengatakan begitu,” kata si nona sembil menggeleng-gelengkan kepala. “Kau seorang yang sangat mulia, dengan “restu Tuhan” segala bahaya akan berubah menjadi keselamatan. Boe Kie koko, sedari kecil aku sudah ditinggalkan ibu, ayah adalah seorang yang paling dekat denganku, tapi aku tidak bisa mengatakan kepadanya apa yang aku ingin katakan sekarang. Kau adalah Kauw Coe kami, akan tetapi, di dalam hati aku masih tetap memandang kau sebagai kakak kandungku. Hari itu, ketika kau datang di Kong Beng Teng dalam keadaan sehat, bukan main rasa girangku. Akan tetapi, aku merasa malu hati untuk menyatakan perasaan itu. Boe Kie koko, kau tidak gusar, bukan?”

“Tidak! Tentu saja aku tidak gusar,” jawabnya.

Si nona menundukkan kepala dan berkata pula. “Terima kasih, kau sungguh mulia, Boe Kie koko, aku telah memperlakukan Siauw Ciauw secara kejam dan mungkin sekali kau mendongkol terhadap perlakuan itu. Hal itu terjadi karena aku selalu tidak dapat melupakan kebinasaan ibu yang sangat mengenaskan sehingga terhadap orang jahat, aku tidak main kasihan lagi. Belakangan sesudah melihat perlakuanmu terhadap Siauw Ciauw, aku tidak membencinya lagi.”

Boe Kie tersenyum, “Siauw Ciauw beradat aneh, tapi kurasa dia bukan seorang jahat,” katanya.

Ketika itu matahari sudah mulai menyelam ke barat dan musim rontok yang dingin mulai turun. Untuk beberapa saat mereka tidak berkata-kata.

Tiba-tiba paras muka si nona berubah lagi, kulitnya yang putih bersemu dadu, kedua matanya mengeluarkan sinar kecintaan, sedang sikapnya seperti orang kemalu-maluan. “Boe Kie koko,” katanya dengan suara hampir tidak kedengaran, “bukankah ayah dan ibu berdosa terhadap In Liok Siok?”

“Ah! Kejadian yang sudah lampau, tak perlu disebut-sebut lagi,” kata Boe Kie.

“Tidak!” bantah si nona. “Bagi orang lain, kejadian itu memang kejadian yang sudah lama. Aku sendiri sekarang sudah berusia tujuh belas tahun. Tapi bagi In Liok Siok kejadian itu bukan kejadian lama. Ia masih tidak bisa melupakan ibu. Waktu ia terluka berat dan berada dalam keadaan setengah sadar, sering-sering ia mencekal tanganku dan berkata Siauw Hoe! Siauw Hoe! Jangan tinggalkan aku, aku sudah menjadi manusia bercacat. Tapi aku memohon jangan tinggalkan aku…jangan tinggalkan aku,” ia bicara dengan suara parau dan kemudian air matanya mengalir turun di kedua pipinya.”

“Liok Siok mengatakan begitu, sebab ia berada dalam keadaan lupa ingat,” kata Boe Kie dengan suara membujuk. “Kau tidak boleh menerima perkataan itu secara sungguh.”

Poet Hwi menggelengkan kepala. “Kau salah,” bantahnya. “Bukan begitu, kau tidak tahu, tapi aku tahu. Belakangan sesudah tersadar, ia mengawasi aku dengan sorot mata dan sikap yang tidak berbeda. Ia mau minta supaya aku gantikan dia, tapi ia merasa berat untuk membuka mulut.”

Boe Kie menghela napas. Ia mengenal baik adat paman itu. Biarpun ilmu silatnya sangat tinggi, pada hakekatnya In Lie Heng berperasaan sangat halus.

Dahulu waktu masih kecil, Boe Kie sering menyaksikan cara bagaimana paman itu mengucurkan air mata untuk urusan-urusan kecil. Kebinasaan Siauw Hoe merupakan pukulan sangat hebat. Maka tidaklah heran meskipun sudah bercacat, Lie Heng masih tidak bisa melupakan tunangannya itu.

Sesudah termangu beberapa lama, Boe Kie berkata dengan suara serak, “Ya… kita tidak bisa berbuat banyak untuk menghibur hatinya. Jalan satu-satunya aku harus berusaha sekeras-kerasnya untuk merampas Hek Goan Toan Siokko guna mengobati Liok Siok san Sam Soepeh.”

“Makin lama melihat sikap In Liok Siok, hatiku merasa kasihan.” Kata pula Poet Hwi. “Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bahwa selama orang itu termasuk ayah dan ibu telah melakukan perbuatan yang tidak pantas terhadapnya. Boe Kie koko…”

Ia terdiam sejenak kemudian meneruskan perkataannya dengan suara hampir tak kedengaran, “aku…aku sudah berjanji dengan In Liok Siok, bahwa aku tak perduli ia sembuh atau tak sembuh, aku akan mengawaninya seumur hidup dan tidak akan berpisah lagi selama-lamanya!” sehabis berkata begitu, air mata mengucur deras, akan tetapi paras mukanya berubah terang. Itulah paras dari seorang yang dihinggapi rasa malu bercampur bangga.

Boe Kie terkejut. Ia tak pernah mimpi, bahwa Poet Hwi rela mengabdi kepada In Lie Heng seumur hidup. Untuk beberapa saat, dia mengawasi si nona dengan mata membelalak dan kemudian berkata dengan suara terputus-putus, “Kau!…kau…”

“Secara tegas aku sudah berjanji dengannya, bahwa dalam penitisan ini, aku akan mengikutinya selama-lamanya,” berkata pula Poet Hwi dengan suara yang tetap. “Walaupun seumur hidup ia bercacat, maka seumur hidup aku akan mendampinginya, melayaninya dan coba menghiburnya.”

Boe Kie menghela napas dan sambil mengawasi si nona dengan alis berkerut, ia berkata, “tapi kau… ”

“Janjiku tak diberikan kepadanya secara tergesa-gesa,” memutus Poet Hwi. “Di sepanjang jalan, aku merenungkan soal itu masak-masak. Bukan saja itu tidak berpisahan denganku, akupun tak bisa berpisahan dengannya. Kalau lukanya tak sembuh, aku tidak bisa hidup lebih lama di dalam dunia. Saban kali aku mendampinginya, ia selalu mengawasiku dengan sorot mata yang tak dapat dilukiskan pada saat itu. Boe Kie, dahulu, waktu masih kecil, aku selalu memberikan rahasia hatiku kepadamu. Ku ingat karena tak punya uang untuk beli kembang gula, di tengah malam buta, aku mencuri sebuah tong jin (kembang gula yang berbentuk manusia) dan memberikannya kepadaku. Apa kau masih ingat?”

Di sebutkannya kejadian yang lampau itu mengharukan sangat hatinya Boe Kie. Di depan matanya lantas saja terbayang pengalaman-pengalaman pada waktu ia bersama Poet Hwi, dengan bergandengan tangan, merantau ke wilayah barat. “Aku ingat,” jawabnya sambil menundukkan kepala.

Seraya memegang tangan kakaknya, si nona berkata pula, “tapi aku tidak tega untuk makan gula itu yang akhirnya melumer karena hawa panas matahari. Aku sangat berduka dan menangis terus. Kau coba membujuk aku dan mengatakan, bahwa kau akan memberikan sebuah lagi. Tapi biar bagaimanapun jua, kau takkan mendapatkan tong jin yang sama seperti itu. Belakangan kau membeli tong jin yang lebih besar dan lebih bagus, tapi sebaliknya dari girang, aku menangis lagi. Waktu itu kau sangat jengkel dan mencaci aku yang dikatakan tidak dengar kata. Apa kau masih ingat?”

Boe Kie tersenyum. “Apa aku maki kau?” katanya. “Aku sudah lupa.”

“Adatku sangat kukuh,” kata pula si nona. “In Liok Siok adalah tong jin pertama yang disukai olehku. Aku menolak lain kembang gula. Boe Kie koko, sering-sering di tengah malam yang sunyi kuingat segala kebaikanmu. Beberapa kali kau sudah menolong jiwaku. Menurut pantas, aku harus mengabdi kepadamu seumur hidup. Akan tetapi, aku hanya bisa menganggap kau sebagai saudara kandung.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: