Kumpulan Cerita Silat

28/08/2008

Kisah Membunuh Naga [48]

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:14 am

Kisah Membunuh Naga [48]
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Thio Sam Hong dan Jie Thay Giam sudah menjadi guru dan murid selama puluhan tahun dan mereka sudah saling mengenal isi hati masing-masing.

Mendengar perkatahan Thay Giam, Sam Hong segera mengerti maksud si murid. Ia tersenyum-senyum dan berkata, “Thay Giam, hidup atau mati, dihormati dan dihina, adalah soal-soal remeh. Tapi pelajaran istimewa dari Boe Tong Pay tidak boleh karena itu menjadi putus di tengah jalan. Dalam menutup diri selama delapan belas bulan, aku telah mendapatkan intisari dari ilmu silat dan telah mengubah Thay Kek Koen serta Thay Kek Kiam. Kedua ilmu ini sekarang aku hendak turunkan kepadamu.”

Thay Giam tertegun. Sebagai seorang bercacat, mana bisa ia belajar silat? Di samping itu musuh sudah masuk ke dalam kuil! Mana ada waktu lagi untuk menurunkan ilmu silat?

“Suhu…” katanya dengan tergugu.

Thio Sam Hongtertawa tawar. “Sedari didirikan, Boe Tong Pay kita telah melakukan banyak perbuatan baik, sehingga menurut pantas partai kita tidak akan musnah dengan begitu saja,” katanya.

“Thay Kek Koen dan Thay Kek Kiam yang digubah olehku berlainan dengan ilmu silat yang pernah dikenal semenjak dahulu. Dasar daripada ilmu ini ialah ‘yang tenang menindih yang bergerak, yang bergerak belakangan menguasai yang duluan.'”

“Thay Giam, gurumu sudah berusia lebih dari seratus tahun. Andaikata hari ini dia tidak bertemu dengan musuh berapa tahun lagi dia bisa hidup? Aku merasa girang, bahwa pada saat-saat terakhir dari penghidupanku aku masih bisa mengubah ilmu silat ini. Wan Kiauw, Lian Cioe, Siong Kee, Lie Heng dan Seng Kok tidak berada di sini. Kecuali Ceng Soe, di antara murid-murid turunan ketiga dan keempat tidak terdapat orang yang berpangkat baik. Tapi Ceng Soe pun tak berada di sini. Maka itu, Thay Giam, kau adalah orang satu-satunya yang bisa menerima warisan ini. Dihormatinya atau dihinanya Boe Tong Pay, di satu waktu tertentu tidaklah menjadi soal. Soal yang penting adalah semoga Thay kek Koen dapat diwariskan kepada orang-orang yang hidup di jaman belakangan. Kalau harapanku ini bisa terwujud, maka Boe Tong Pay pasti akan bisa hidup abadi selama ribuan tahun,” ia mengucapkan kata-kata itu dengan semangat gelora seolah-olah melupakan rombongan musuh yang sudah menumbuh di luar.

Dengan mata mengembang air, Thay Giam manggut-manggutkan kepalanya. Ia mengerti maksud sang guru. Ia mengerti, bahwa sang guru memerintahkan supaya ia menelan segala hinaan, agar ia dapat mewariskan ilmu silat Boe Tong Pay kepada dunia.

Perlahan-lahan Thio Sam Hong berdiri. Kedua tangannya diturunkan belakang tangannya menghadap ke luar, jari-jarinya ditekuk sedikit dan kedua kakinya dipentang. Sesudah itu, dengan perlahan ia mengangkat kedua lengannya. Di depan dada, lengan kiri ditekuk, telapak tangan menghadapi muka, sehingga merupakan Im Ciang.

Hampir berbareng, telapak tangan kanannya dibalik menjadi Yan Ciang. “Inilah permulaan Thay Kek Koen.” katanya. Sesudah itu, sejurus demi sejurus, ia mulai bersilat sambil menyebutkan nama-nama setiap pukulan Lang Ciak Pwee, Tan Pian, Tee Chioe Siang Sit, Pek Ho Liang Cie, Siowsit Youw Pwee, Cioe Hwie Pee, Cin Po Pan Lan Toei, Jie Hong Sit Pit, Po Houw Kwie Shoa, Cap Jie Chioe.

Dengan sepenuh perhatian Boe Kie mengawas saban pukulan. Semula ia menduga Thay Suhu sengaja perlambat gerakannya, supaya Jie Thay Giam bisa melihat dengan tegas. Pada jurus ketujuh yaitu, Cioe Hwee Pie Pee, dengan Yang Ciang pada tangan kiri dan Im Ciang pada tangan kanan dan dengan mengawasi tangan kirinya Thio Sam Hongmendorong telapak tangannya dengan perlahan. Dorongan itu kelihatannya berat seperti gunung, tapi juga enteng bagaikan bulu burung.

Tiba-tiba Boe Kie mendusin. “Ah! Inilah yang dinamakan perlahan mengalahkan yang cepat, yang tenang menguasai yang bergerak!” katanya di dalam hati. “Aku tak nyana dalam dunia terdapat ilmu silat yang begitu lihai.” Ia memang sudah memiliki ilmu silat tinggi. Begitu dapat menangkap intisari Thay Kek Koen, perhatiannnya jadi lebih besar.

Thio Sam Hong bersilat terus dengan kedua tangannya membuat gerakan-gerakan yang merupakan lingkaran dan setiap jurus mengandung perubahan Im Yang dari Thay Kek Sit. Ilmu silat itu digubah dari kitab Ya Keng dari Tiongkok purba dan berbeda dengan ilmu silat Tat Mo Couw Soe. Biarpun belum tentu menang, ilmu itu sedikitnya tidak usah kalah dari pelajaran Tat Mo.

Kira-kira semakanan nasi Thio Sam Hong selesai dan lalu berdiri tegak. Sesudah itu ia memberi pelajaran tentang pukulan-pukulan yang tadi diperlihatkannya.

Jie Thay Giam mendengar tanpa membuka mulut. Ia tahu, bahwa waktu sudah mendesak dan ia tak keburu mengajukan pertanyaan-pertanyaan lagi. Banyak yang tidak dimengerti olehnya dan hanya diingat saja dalam otaknya. Andaikata sampai terjadi sesuatu yang tidak diharapkan atas diri sang guru, ia bisa mengajar Kouw Koat (teori) itu kepada orang lain, supaya di hari kemudian seseorang yang cerdas dan berbakat bisa memecahkan artinya yang dalam.

Di lain pihak, Boe Kie berhasil menyelami hampir seluruh pelajaran itu. Kouw Kaot dan cara-cara latihan Kian Koen Tay Lo Ie berbeda dengan thay Kek Koen, tapi pada hakekatnya, dasar kedua ilmu silat itu adalah sama. Kedua-duanya berdasarkan “meminjam tenaga untuk memukul tenaga.” Maka itulah, setiap jurus dan penjelasan Thio Sam Hongdapat ditangkap olehnya.

Melihat paras bimbang pada muka muridnya. Thio Sam Hongbertanya, “Thay Giam, berapa bagian yang dapat dimengerti olehmu?”

“Murid berotak tumpul, hanya mengerti tiga empat bagian,” jawabnya. “Tapi murid sudah menghafal semua jurus dan Koaw Koat yang diberikan Suhu.”

“Aku banyak menyusahkan kau,” kata pula sang Guru. “Kalau Wan Kiauw berada di sini, ia pasti dia, bisa menangkap lima bagian dari pelajaran ini. Hai! Di antara murid-muridku, Ngo Soetee-mu yang berotak paling cerdas, hanya sayang, siang-siang ia sudah meninggal dunia. Jika ia masih hidup, dibawah pimpinanku dalam lima tahun ia tentu sudah bisa mewarisi seantero pelajaran ini.”

Mendengar mendiang ayahnya disebut-sebut, jantung Boe Kie memukul keras.

Sesudah berdiam sejenak, Thio Sam Hong berkata pula, “Nah sekarang perhatikan ini. Tenaga pukulan kelihatannya enteng, tapi tidak enteng, agaknya sudah dikerahkan, tapi belum dikerahkan, seolah-olah putus, tapi sebenarnya belum putus…”

Ia berhenti karena dari Sam Ceng Tian tiba-tiba terdengar teriakan. “kalau Thio Sam Hong bersembunyi terus, lebih dahulu kita binasakan murid-murid dan cucu-cucu muridnya!”

“Boe!” menyambung seorang lain. “Bakar saja kuil ini!”

“Mampus dibakar terlalu enak untuk dia,” kata orang ketiga sambil tertawa, nyaring. “Kita harus tangkap dia, belenggu kaki tangannya, arak dia ke pusat berbagai partai, supaya semua orang bisa lihat macamnya gunung Thay San dan Bintang Pak Tauw dari dunia persilatan.”

Jarak antara gubuk di belakang gunung itu dan Sam Ceng Tiang kira-kira satu li, tapi suara mereka terdengar tegas sekali, sehingga dapat dilihat, bahwa musuh sengaja memperlihatkan Lweekang mereka dan memang juga, tenaga dalam itu harus diakui kelihatannya.

Mendengar cacian itu, tak kepalang gusarnya Jie Thay Giam, sehingga kedua matanya seolah-olah mengeluarkan api.

“Thay Giam,” kata sang guru, “apa kau sudah lupa pesanku? Jika kau tidak bisa menelan hinaan, cara bagaiman akau bisa memikul tanggung jawab yang sangat berat itu?”

“Benar,” kata si murid sambil menundukkan kepala.

“Kau bercacat dan musuh tentu tak akan turunkan tangan jahat atas dirimu.” Kata pula Thio Sam Hong, “Sekali lagi aku meminta supaya kau menahan napsu amarah. Manakala kau tidak bisa menyebar pelajaranku kepada turunan yang belakangan, maka aku menjadi seorang yang berdosa dari partai kita.”

Thay Giam mengeluarkan keringat dingin. Ia mengerti maksud gurunya. Demi kepentingan Boe Tong Pay, ia diperintah menelan segala hinaan.

Sesudah berkata begitu Thio Sam Hong mengeluarkan sepasang Loo Han besi dari sakunya dan menyerahkannya kepada si murid. “Menurut katanya Kong Siang, Siauw Lim Pay sudah termusnah, katanya.”

“Entah benar, entah dusta, kita tak tahu. Tapi bahwa seorang tokoh Siauw Lim Pay seperti dia menaklukkan kepada musuh dan kemudian membokong aku, dapatlah kita menarik kesimpulan, bahwa Siauw Lim Pay benar sudah mendapat bencana. Pada kira-kira seratus tahun yang lalu, Kwee Siang Lie Hiap telah menghadiahkan sepasang Loo Han ini kepadaku. Di hari kemudian serahkan kepadaku ahli waris Siauw Lim Pay. Aku berharap bahwa dengan bantuan sepasang Loo Han ini, sebagian ilmu silat Siauw Lim Sie akan dapat mempertahankan!” Sesudah memberi keterangan, sambil mengipaskan tangan jubah, ia bertindak ke luar pintu.

“Mari kita ikut,” kata Thay Giam, “Boe Kie dan Beng Goat lantas saja memikul kursi tandu dan mengikuti di belakang guru besar itu.

Setibanya di Sam Ceng Tian, mereka mendapat kenyataan, bahwa di ruangan itu sudah penuh dengan manusia yang berjumlah kurang lebih tiga ratus orang, Thio Sam Hong hanya mengangguk dan tidak mengeluarkan sepatah kata.

“Inilah guruku, Thio Cin Jin,” kata Jie Thay Giam dengan suara nyaring. “Perlu apa kalian naik ke Boe Tong San?”

Semua mata ditujukan kepada Thio Sam Hong, tokoh tertua dalam rimba persilatan yang namanya menggetarkan seluruh dunia. Guru besar itu mengenakan jubah hitam warna abu, rambut dan jenggotnya putih laksana perak, sedang badannya tinggi besar.

Sedang semua orang mengawasi Thio Sam Hong, Boe Kie menyapu seluruh ruangan dengan matanya. Ia mendapat kenyataan, bahwa separuh dari orang-orang itu memakai seragam Beng Kauw dan berapa belas orang, yang rupa-rupanya juga jadi pemimpin, mengenakan pakaian biasa.

Sekonyong-konyong di luar pintu terdengar teriakan, “Kauw Coe tiba” ”

Ruangan Sam Ceng Tian lantas saja berubah sunyi. Belasan pemimpin itu dengan tergesa-gesa keluar menyambut, diikuti oleh yang lain dan dalam sekejab beberapa ratus orang sudah keluar dari Sam Ceng Tian.

Tak lama kemudian, orang-orang itu kembali tapi mereka tidak lantas masuk dan berhenti di luar pintu. Boe Kie melongok keluar dan tiba-tiba saja ia terkesiap, karena ia lihat delapan orang memikul sebuah joki indah yang dikawal oleh enam tujuh orang dan delapan tukang pikul itu bukan lain dari Sin Cian Pat Hiong.

Cepat-cepat ia mengusap debu lantai dengan kedua tangannya. Melihat begitu, Beng Goat geli bercampur takut, ia menduga bahwa perbuatan Boe Kie terdorong oleh perasaan takut. Dalam bingungnya, ia pun segera memoles debu pada mukanya sehingga di lain saat kedua Too Tong itu sudah berobah menjadi badut wayang.

Joli diturunkan tirai disingkap dan dari dalam joli, keluar seorang Kong Coe tampan yang menikam jubah panjang warna putih dengan sulaman obor kemerah-merahan pada tangan bajunya. Ia itu bukan lain daripada Tio Beng.

Dengan diiring oleh belasan pemimpin rombongan, sambil menggoyang-goyangkan kipasnya, si nona bertindak masuk. Seorang pria yang bertubuh jangkung itu maju lebih dulu dan kemudian berkata sambil membungkuk. “Melaporkan pada Kauw Coe, yang itu Thio Sam Hong, yang itu yang bercacat, Jie Thay Giam, murid ketiga dari Boe Tong Pay.

Tio Beng manggut-manggutkan kepala. Ia maju beberapa tindak menutup kipasnya dan lalu menyoja seraya membungkuk. “Boan Seng Thio Boe Kie pemimpin Beng Kauw!” katanya. “Boan Seng bersyukur, bahwa hari ini bisa bertemu dengan Gunung Thay san dari rimba persilatan.”

Boe Kie kaget dan gusar. Di dalam hati, ia mencaci wanita itu yang sudah menyamar sebagai dirinya dan menipu Thay Suhu.

Mendengar nama Thio Boe Kie, Thio Sam Hong heran, “Mengapa namanya bersamaan dengan nama anak Thio Boe Kie,” tanyanya di dalam hati. Ia membalas hormat dan menjawab, “Sebab tak tahu Kauw Coe dari tempat jauh. Untuk kelainan itu kuharap Kauw coe suka memaafkan.”

“Bagus, bagus!” kata si nona.

Dengan diikuti oleh seorang Too Tong bagian depan Tie Kek Toojin menyuguhkan the. Tio Beng duduk di kursi seorang diri. Orang-orang bawahannya berdiri jauh-jauh dengan sikap hormat.

Sebagai seorang yang sudah memiliki usia seabad lebih dan memiliki ilmu yang sangat tinggi, Thio Sam Hong mempunyai ketenangan luar biasa dan tak menghiraukan lagi segala apa yang bersifat keduniawian. Akan tetapi, ikatan antara guru dan murid adalah sedemikian erat, sehingga dalam ketenangannya, guru besar itu masih memikirkan keselamatan murid-muridnya.

“Dengan tidak mengimbangi tenaganya yang sangat kecil, beberapa murid Lao Too telah pergi ke tempat Thio Kauw Coe untuk meminta pelajaran,” katanya. “Sampai kini mereka belum pulang. Apakah Thio Kauw Coe sudi memberi sedikit keterangan?”

Tio Beng tertawa, “Song Tay Hiap, Jie Tay Hiap, Thio Sie Hiap, dan Boh Cit Hiap sudah berada dalam tangan Beng Kauw. Mereka mendapat luka enteng karena totokan dan sama sekali tidak membahayakan jiwa mereka.”

“Luka totokan mungkin berarti luka kena racun,” kata Thio Sam Hong.

Tio Beng tersenyum. “Thio Cin Jin kelihatannya sangat mengagulkan kepandaian Boe Tong Pay,” katanya. “Kalau Thio Cin Jin menduga kena racun, biarlah kita anggap mereka kena racun.”

Thio Sam Hong mengenal kepandaian murid-muridnya. Mereka adalah ahli-ahli silat kelas satu pada zaman itu. Andai kata benar, karena berjumlah kecil mereka tak dapat melawan musuh yang jumlahnya besar. Biar bagaimanapun jua mesti ada beberapa orang yang bisa meloloskan diri untuk menyampaikan berita. Jika tidak menggunakan racun, musuh tak mungkin bisa merobohkan atau menangkap mereka semua.

Mendengar jitunya tebakan guru besar itu, Tio Beng pun tak mau membantah.

“Di mana adanya muridku yang she In?” tanya pula Thio Sam Hong.

Si nona menghela napas, “In Liok Hiap telah dibokong oleh orang-orang Siauw Lim Pay dan keadaannya bersamaan dengan Jie Sam Hiap,” jawabnya. “Tulang kaki tangannya dihancurkan dengan Kim Kong Cie sehingga biarpun tidak binasa, ia sudah menjadi seorang bercacat yang tidak dapat bergerak pula.”

Paras muka Thio Sam Hong jadi lebih pucat. Ia tahu, Tio Beng tidak berdusta. Tiba-tiba ia memuntahkan darah.

Orang-orang itu yang berdiri di belakang si nona kelihatan bergirang sebab muntah darah itu sebagai bukti bahwa Kong Siang sudah berhasil dalam bokongannya. Lawan paling berat sudah terluka berat dan mereka boleh tak usah takut lagi.

“Dengan setulus hati aku ingin memberi nasehat, hanya aku tak tahu apakah Thio Cin Jin suka mendengarnya,” kata Tio Beng.

“Kauw Coe boleh bicara.”

“Selebur bumi di kolong langit ini adalah milik kaisar, keangkeran kaisar Mongol kami meliputi empat lautan. Jika Thio Cin Jin suka menakluk kepada kaisar Hong Siang tentu akan memberi anugerah dan Boe Tong Pay akan menikmati jaman gilang gemilang. Di samping itu, Song Tay Hiap dan yang lain-lainpun bisa segera pulang dengan selamat.”

Thio Sam Hong mendongak dan mengawasi genteng. Sesudah itu, perlahan-lahan ia berkata dengan suara dingin, “Walaupun Beng Kauw banyak melakukan perbuatan yang tidak patut, semenjak dahulu agama itu menentang penjajah Goan. Lagi kapan Beng Kauw menakluk kepada kerajaan? Lao Too belum pernah mendengar kejadian itu.”

“Meninggalkan tempat gelap dan pergi ke tempat terang adalah perbuatan seorang gagah sejati,” kata Tio Beng. “Siauw Boen dan Kong Tie Seng Ceng sampai pada pendeta yang berkedudukan paling rendah sudah menunjuk kesetiaannya kepada kerajaan. Tindakan kami adalah demi kepentingan negara dan mengikuti tindakan segenap orang gagah di seluruh rimba persilatan. Apa hal itu mengharapkan Thio Cin Jin?”

Kedua mata Thio Sam Hong berkeredepan bagaikan kilat dan sorot matanya yang setajam pisau mengawasi muka si nona. “Orang Goan kejam dan banyak mencelakai rakyat,” katanya dengan suara gemetar. “Di waktu ini, segenap orang gagah di kolong langit bangkit serentak untuk mengusir penjajah dan merampas pulang sungai dan gunung kita. Di dalam hati setiap anak cucu Oey Tee terdapat tekad untuk mengusir Tat Coe. Tindakan inilah yang bisa dinamakan sebagai tindakan demi kepentingan negara. Biarpun hanya seorang pertapaan, kami mengenal juga peri budi luhur. Kong Boen dan Kong Tie adalah pendeta-pendeta suci. Mana bisa mereka ditundukkan dengan kekerasan? Nona, mengapa kau bicara begitu sembarangan?”

Mendadak seorang pria tinggi besar yang berdiri di belakang Tio Beng melompat ke luar dan membentak. “Bangsat tua, jangan kau menggoyang lidah seenaknya saja! Boe Tong Pay sedang menghadapi kemusnahan. Kau sendiri tidak takut mati, tapi apakah ratusan imam yang berada di kuil ini juga tak takut mati?” Ia bicara dengan suara yang disertai Lweekang dan sikapnya garang sekali.

Mendengar cacian itu, Thio Sam Hong berkata dengan suara tawar. “Semenjak dahulu, manusia mana yang tak pernah mati, aku menggunakan kesetian untuk mencatat kitab sejarah.”

Kata-kata itu adalah sajak gubahan Boe Thian Siang yang sangat dikagumi Thio Sam Hong. Selama hidup sering kali ia rasa menyesal, bahwa waktu Boe Thian Siang menghadapi kebinasaan, ia tidak bisa menolong sebab ilmu silatnya belum cukup tinggi. Sekarang dalam menghadapi kematiannya sendiri tanpa merasa ia menyebutkan sajak itu.

Sesudah berdiam sejenak, ia menambahkan, “Sebenarnya Boe Sin Siang pun terlalu kukuh. Aku hanya ingin bersetia terhadap nusa dan bangsa. Aku tak perduli apa yang akan ditulis dalam kitab sejarah,” ia lirik Jie Thay Giam dan berkata di dalam hati, “aku hanya mengharap agar Thay Kek Koen bisa diwariskan kepada orang-orang yang hidup di zaman belakangan. Tapi? hai! Jika aku mengharap begitu, bukankah akupun memikirkan soal sesudah aku meninggal dunia? Bukankah sikapku jadi bersamaan dengan sikap Boe Sin Siang? Hai, perduli apa bisa diwariskan atau tidak! Perduli apa mati hidupnya mati Boe Tong Pay!”

Tiba-tiba Tio Beng mengibaskan tangan kirinya dan pria tinggi besar itu lantas saja mundur sambil membungkuk. Si nona tersenyum dan berkata, “Thio Cin Jin ternyata seorang kukuh, biarlah untuk sementara kita tidak bicara lagi. Mari! Semua ikut aku!” seraya berkata begitu, ia berbangkit.

Hampir berbareng empat orang yang tadi berdiri di belakang Tio Beng, melompat dan mengurung Thio Sam Hong. Keempat orang itu ialah si pria tinggi besar, seorang yang mengenakan dandanan pakaian pengemis, seorang hwesio kurus dan seorang wanita setengah tua. Dilihat gerak-geriknya mereka semua ahli silat kelas utama.

Boe Kie kaget, “Dari mana Tio KouwNio mendapat orang yang begitu lihai?” tanyanya di dalam hati.

Keadaan sudah mendesak! Kalau Thio Sam Hong tidak mengikut, keempat orang itu pasti akan menggunakan kekerasan.

“Jumlah musuh sangat besar dan mereka semua kawanan manusia tidak mengenal malu, tidak dapat dibandingkan dengan enam partai yang mengurung Kong Beng Teng, pikir Boe Kie. “Biarpun aku dapat merobohkan beberapa orang, yang lain pasti dan akan mengerubuti. Sangat sukar untuk aku melindungi Thay Suhu dan Sam Supeh. Tapi keadaan sudah jadi begini, sudahlah! Jalan satu-satunya ialah mengadu jiwa.

Tapi baru saja ia mau menerjang, di luar pintu mendadak terdengar suara tertawa yang sangat nyaring, disusul dengan berkelabatnya masuknya satu bayangan hijau.

Gerakan orang itu cepat luar biasa, laksana angin, bagaikan kilat. Begitu berkelebat masuk, ia sudah berada di belakang si pria tinggi besar juga cukup lihai. Tanpa memutar badan, ia menangkis dengan sepenuh tenaga.

Tapi orang itu sudah keburu menarik pukulan-pukulannya dan dengan berbereng tangan kirinya menepuk pundak wanita setengah tua. Wanita itu berkelit seraya menendang, tapi ia menendang angin, karena orang itu sudah melompat ke samping dan menghantam si pendeta. Dalam sekejab ia sudah mengirim empat pukulan kepada empat jago itu. Biar semua pukulan gagal, kecepatan gerakan itu sungguh menakjubkan. Keempat jago itu mengerti, bahwa mereka sedang menghadapi lawan berat.

Dengan serentak mereka melompat mundur untuk melakukan serangan teratur.

Tanpa menghiraukan gerakan musuhnya, orang yang mengenakan pakaian hijau itu sudah menghampiri Thio Sam Hongdan sambil membungkuk, ia berkata, “boanpwee Wie It Siauw, orang sebawahan Thio Kauw Coe dari Beng Kauw memberi hormat kepada Thio Cin Jin!”

Orang itu, memang bukan lain daripada Wie It Siauw yang sesudah berhasil mengelakkan musuh, buru-buru menyusul Boe Kie.

Mendengar perkataan, orang sebawahan Thio Kauw Coe dari Beng Kauw, Thio Sam Hong semula menganggap, bahwa ia adalah kaki tangan Tio Beng dan serangannya terhadap keempat jago itu hanya berpura-pura. Maka itu, ia lantas saja berkata dengan suara tawar, “Wie Sian Seng tak usah menggunakan banyak peradatan. Sudah lama kudengar bahwa Ceng Ek Hok Ong memiliki ilmu ringan badan yang sangat luar biasa. Hari ini baru aku tahu, bahwa pujian itu bukan pujian kosong!”

Wie It Siauw girang, “Thio Cin Jin adalah gunung Thay san dari rimba persilatan,” katanya. Pujian Thio Cin Jin sungguh-sungguh membikin terang muka Boanpwee,” sehabis berkata begitu, ia memutar tubuh dan membentak sambil menuding Tio Beng.

“Tio Kouw Nio! Perlu apa kau merusak nama baiknya Beng Kauw? Kalau kau laki-laki sejati, mengapa kau menggunakan tipu yang begitu busuk?”

Si Nona tertawa geli, “aku memang bukan laki-laki,” jawabnya. “kalau aku menggunakan tipu busuk, kau mau apa?”

Ceng Ek Hok Ong tertegun. Ia insyaf bahwa ia sudah salah omong. Sesudah kagetnya hilang, ia berkata dengan sungguh-sungguh. “Siapa sebenarnya kamu semua, lebih dahulu menyerang Siauw Lim, kemudian membokong Boe Tong. Kalau kamu hanya bermusuhan dengan Siauw Lim dan Boe Tong, Beng Kauw tak perlu campur. Tapi kamu menyamar sebagai orang-orang Beng Kauw, aku Wie It Siauw tidak bisa tidak campur tangan!”

Thio Sam Hongmemang tidak begitu percaya, bahwa Beng Kauw yang sudah berseteru dengan kerajaan Goan selama hampir seratus tahun bisa gampang menekuk lutut.

Mendengar perkataan dari Wie It Siauw, ia berkata di dalam hati. “Walaupun Mo Kauw mempunyai nama tak baik, tapi dalam soal penting para anggotanya ternyata bisa berpendirian secara tegas sekali.”

Sementara itu, Tio Beng sudah berpaling kepada si pria tinggi besar dan berkata, “Dengarlah, suaranya besar sungguhan! Coba kau jajal-jajal kepandaiannya.”

“Baik,” jawabnya. Sesudah mengencangkan pinggang, ia segera bertindak ke tengah ruangan, “Wie Hok Ong,” katanya, “aku meminta pelajaran dari Han Peng Bian Cang-mu!”

Wie It Siauw terkejut, “bagaimana dia tahu aku memiliki Han Peng Bian Ciang?” tanyanya di dalam hati. “Sesudah tahu aku memiliki ilmu itu, dia masih berani menantang. Dia pasti bukan lawan yang enteng.” Sambil memikir begitu, ia bertanya, “Bolehkah aku mendapat tahu nama tuan?”

“Sesudah datang menyamar orang-orang Beng Kauw, apa mungkin kuperkenalkan namaku yang sejati?” kata orang itu. “Wie Hok Ong, pertanyaanmu sungguh tolol!”

Wie It Siauw tertawa dingin. “Benar, pertanyaanku pertanyaan tolol,” katanya dengan suara mendongkol. “Mengapa juga, setelah rela menjadi anjingnya kaisar Goan dan bersedia menghamba kepada orang asing, terlebih baik tuan tak memperkenalkan nama sendiri. Dengan demikian sedikitnya kau merusak nama leluhurmu.”

Didamprat begitu, si tinggi besar jadi malu juga dan karena malu ia jadi gusar. Sambil membentak keras, ia menghantam dada Wie It Siauw.

Wie Hok Ong melompat ke samping, disusul dengan lompatan kedua di belakang lawannya sambil mengirim satu totokan. Sebab ingin menjajal “isi” orang itu totokan ini bukan totokan Han Peng Bian Cian. Orang itu mengegos lalu balas menyerang. Sesudah bertempur beberapa jurus, Wie It Siauw merasa heran lantaran ia merasai sambaran angin panas dalam pukulan-pukulan lawan.

Tiba-tiba ia terkejut karena melihat kedua telapak tangan orang itu merah bagaikan darah. “Apa itu Coe See Cit Cat Siang?” tanyanya di dalam hati. “Ilmu itu sudah lama hilang dari rimba persilatan. Siapa dia? Bagaimana dia bisa memiliki ilmu yang luar biasa itu?”

Kini Ceng Ek Hok Ong berkelahi dengan hati-hati. Luka di dalam tubuhnya baru saja sembuh dan sekarang menghadapi musuh yang berat. Ia segera menggosok kedua telapak tangannya dan mulai bersilat dengan ilmu Han Peng Bian ciang.

Tak lama kemudian, jalam pertempuran berubah dari cepat menjadi perlahan karena mereka mulai menguji tenaga dalam. Sekonyong-konyong dari mulut pintu gerbang masuk serupa benda yang sangat besar dan menyambar ke tubuh si tinggi besar. Benda itu jauh lebih besar daripada karung beras. Semua orang kaget, senjata apa itu?”

Si tinggi besar terkejut dan dengan sepenuh tenaga, ia menghantam benda tersebut, yang lantas saja benda itu terpental setombak lebih, dibarengi dengan teriakan manusia yang menyayat hati. Ternyata benda itu sebuah karung dan di dalam karung terdapat manusia. Dipukul dengan Coe See Cit sat ciang, orang itu telah hancur tulangnya.

Si tinggi besar tertegun. Mendadak ia menggigil karena pada saat itu ia tidak berwaspada, Wie It Siauw melompat ke belakangnya menotok Toa Toei Hoatnya, di bagian punggung dengan Han Peng Bian Ciang. Dibokong begitu, ia jadi kalap. Sambil memutar tubuh, ia menghantam batok kepala Wie It Siauw dengan telapak tangannya.

Nyali Ceng Ek Hok Ong benar-benar besar. Ia tertawa terbahak-bahak dan berdiri tegak, tidak berkelit atau menangkis. Si tinggi besar ternyata sudah habis tenaganya. Telapak tangannya tepat mampir di batok kepala Wie It Siauw, tetapi Wie Hok Ong hanya seperti diusap-usap.

Melihat gilanya Wie It Siauw, semua orang menggeleng-gelengkan kepala. Kalau si tinggi besar mempunyai ilmu untuk bertahan terhadap pukulan Han Peng Bian Ciang, bukankah ia akan mati konyol”

Tapi memang adat Wie Hok Ong yang otak-otakan itu. Makin besar bahaya yang dihadapi, ia makin gembira. Ia menganggap bokongannya sebagai perbuatan yang kurang bagus, maka itu ia memasang kepalanya untuk menebus dosa.

Sementara itu si tokoh Kay Pang (Partai pengemis) sudah membuka karung itu dan mengeluarkan sesosok tubuh manusia yang berlumuran darah dan yang sudah mati karena pukulan Coe See Cit Sat Ciang. Mayat itu yang berpakaian compang-camping adalah mayat seorang pengemis. Entah mengapa dia berada di dalam karung dan menemui ajal secara mengenaskan.

Tak kepalang gusarnya si tokoh Kay Pang. Dengan mata merah, dia berteriak, “Bangsaat?” Ia tidak dapat meneruskan caciannya, sebab pada detik itu, selembar karung menyambar dan mau menelungkup dirinya. Cepat-cepat ia melompat mundur.

Di lain saat, seorang pendeta gemuk sudah berdiri di tengah ruangan sambil tertawa haha hihi.

Dia bukan lain daripada Poet Tay Hweeshio Swee Poet Tek! Sesudah karung Kian Koen It Khie Tay dipecahkan Boe Kie, ia tak punya senjata yang tepat dan terpaksa membuat beberapa karung biasa sebagai gantinya. Meskipun ilmu mengentengkan tubuhnya tidak selihai Wie It Siauw, tapi karena tidak menemui rintangan, ia sudah tiba di Boe Tong San pada saat yang tepat.

Ia menghampir Thio Sam Hongdan sambil membungkukkan, ia memperkenalkan diri, “Yoe Heng Sian Jin Poet Tay Hweeshio Swee Poet Tek, orang sebawahan Thio Kauwcoe dari Beng Kauw, memberi hormat kepada Boe Tong Ciang Kauw Couw Soe Thio Cin Jin.”

Guru besar itu membalas hormat dan berkata sambil tersenyum. “Tay Soe banyak capai. Terima kasih atas kunjunganmu.”

“Thio Cin Jin,” kata pula Swee Poet Tek dengan suara lantang. “Kong Beng Soe Cia, Peh Bie Kie Peh Bie Eng Ong, empat Sian Jin, lima Kie Soe, berbagai pasukan dari agama kami sudah mendaki Boe Tong San untuk menghajar kawanan manusia yang tak kenal malu itu, yang sudah menggunakan nama kami.”

Boe Kie dan Wie It Siauw tertawa geli di dalam hati. Hebat sungguh “ngibulnya” Poet Tay Hweeshio.

Tapi Tio Beng kaget dan berkuatir. Ia kira benar para pemimpin Beng Kauw sudah tiba dengan seluruh barisan. “Cara bagaimana mereka bisa datang begitu cepat? Siapa yang membocorkan rahasia?” tanyanya dalam hati.

Karena bingung, tanpa merasa ia bertanya, “Mana Thio Kauw Coe mu? Suruh dia menemui aku.”

“Thio Kauw Coe sudah memasang jaring untuk menjaring kamu semua,” jawab Swee Poet Tek. “Orang yang berkedudukan begitu mulia mana boleh sembarangan menemui manusia seperti kau.” Sambil berkata begitu, ia saling melirik dengan Wie It Siauw dengan sorot mata menanya.

Melihat datangnya bantuan, tidak kepalang girangnya Boe Kie.

Tio Beng tertawa dingin. “Yang satu kelelawar berabun, yang lain hweesio bau. Hawa di sini sungguh tidak sedap.” Katanya.

Mendadak di sudut timur terdapat suara tertawa yang sangat nyaring. Swee Poet Tek, apa Yo Co Soe sudah tiba?” tanya orang itu, yang ternyata bukan lain daripada In Thian Ceng. Sebelum Swee Poet Tek keburu menjawab, suara ketawa Yo Siauw sudah terdengar di sudut barat. “Eng Ong sungguh lihai, sudah tiba lebih dahulu daripada aku.” Katanya.

“Yo Co Soe jangan berlaku sungkan,” kata In Thian Ceng. “Kita berdua tiba bersamaan, tak ada yang kalah tak ada yang menang. Mungkin sekali, karena memandang muka Thio Kauw Co, Yo Co Soe sengaja mengalah terhadapku.”

“Tidak!” kata Yo Siauw. “Boanpwee sudah menggunakan semua tenaga tapi setindakpun tidak bisa mendului Eng Ong.”

Mereka berbicara begitu sebab di tengah jalan selagi gembira mereka setuju untuk menjajal tenaga kaki. In Thian Ceng memiliki Lweekang yang lebih kuat, tapi Yo Siauw bisa lari lebih cepat, sehingga pada akhirnya mereka tiba pada detik yang bersamaan dan lalu melompat turun dari kedua ujung payon kuil.

Thio Sam Hongsudah mengenal lama nama besarnya In Thian Ceng. Mengingat bahwa jago itu juga mertua Thio Coei San, maka ia lantas saja maju tiga tindak dan menyambut sambil merangkap kedua tangannya. “Thio Sam Hong menyambut In Heng dan Yo Heng,” katanya.

Diam-diam ia merasa heran. Terang-terang In Thian Ceng seorang Kauw Coe dari Peh Bi Kauw, tapi mengapa ia menyebut-nyebut “karena memandang Thio Kauw Coe?”

In Thian Ceng dan Yo Siauw membalas hormat dengan membungkuk. “Sudah lama kami dengar nama harum Thio Cin Jin hanya menyesal sebegitu jauh kami belum mendapat kesempatan untuk bertemu muka,” kata Peh Bie Eng Ong.

“Kami bersyukur bahwa hari ini kami bisa melihat wajah Thio cin Jin yang mulia.”

“Kalian adalah guru-guru besar pada jaman ini,” kata Thio Sam Hong. “Kunjungan kalian merupakan kehormatan untuk Boe Tong San.”

Tio Beng jadi lebih jengkel dan gusar. Makin lama jumlah tokoh Beng Kauw makin bertambah. Boe Kie sendiri belum muncul, tapi keterangan Swee Poet Tek tak boleh diabaikan. Memang mungkin pemuda itu sudah mengatur siasat untuk menghancurkan segala rencananya. Makin dipikir, ia makin mendongkol.

Dengan mudah ia berhasil melukai Thio Sam Hong. Hasil itu hasil luar biasa. Hari ini adalah satu-satunya utnuk membasmi Boe Tong Pay. Di lain hari kalau Thio Sam Hong sudah sembuh, kesempatan itu tak ada lagi.

Di luar semua penghitungan, Beng Kauw mengadu biru. Yang datang pentolan-pentolannya. Apa ia akan berhasil?

Makin dipikir ia makin mendongkol. Biji matanya yang hitam bermain beberapa kali. Tiba-tiba ia tertawa dingin dan berkata dengan suara mengejek, “Dunia Kang Ouw selamanya memuji Boe Tong Pay sebagai partai yang lurus bersih. Huh huh! Mendengar tak sama dengan melihat. Tak dinyana Boe Tong Pay bergandeng tangan dengan Mo Kauw dan mempertahankan tenaga Mo Kauw. Huh Huh!… Sekarang baru kutahu, ilmu silat Boe Tong Pay tiada harganya.”

Swee Poet Tek tertawa nyaring. “Tio Kauw Nio,” katanya, “pemandanganmu tidak lebih panjang dari panjang rambutmu. Kau sungguh masih kanak-kanak. Dengarlah Thio cin Jin sudah dapat nama besar pada sebelum kakekmu dilahirkan! Anak kecil tahu apa!”

Belasan orang yang berdiri di belakang Tio Beng mengawasi hweesio yang gatal mulut itu dengan mata melotot, tapi Poet Tay Hweeshio tenang-tenang saja. “Apa aku tidak boleh bicara begitu.” Tanyanya. “Aku Swee Poet Tek, tapi bila aku bicara, aku tetap bicara. Mau apa kamu?”

(Swee Poet Tek = tak boleh dibicarakan)

Seorang Hweesio jangkung meluap darah. “Coe Jin,” katanya, “permisikan aku membereskan Hweesio gila itu!”

(Coe Jin = Majikan)

“Bagus!” kata Swee Poet Tek. “Aku hweesio gila, kaupun hweesio gila. Yang gila ketemu dengan yang gila, kita boleh minta Thio Cin Jin jadi juru pemisah.” Seraya berkata begitu, ia mengibaskan tangannya yang sudah memegang selembar karung.

Tio Beng menggelengkan kepala, “Hari ini kita meminta pelajaran Boe Tong,” katanya. “Kalau yang turun anggota Boe Tong Pay, kita boleh melayani. Berisi atau kosongnya Boe Tong Pay akan dapat dipastikan hari ini. Perhitungan antara kita dan Mo Kauw dapat dibereskan di hari nanti.

“Kalau aku belum mencabut urat-urat setan kecil Thio Boe Kie dan membeset kulitnya, belum puas hatiku. Tapi hal itu boleh ditunda untuk sementara waktu.”

Mendengar perkataan setan kecil Thio Boe Kie, Thio Sam Hongjadi sangat heran. “Apa Kauw Coe Beng Kauw juga bernama Thio Boe Kie?” tanyanya di dalam hati.

Swee Poet Tek tertawa geli, “Kauw coe kami seorang pemuda gagah yang sangat tampan,” katanya. “Mungkin usiamu lebih muda beberapa tahun daripada Kauw Coe. Apa tak baik kau menikah saja dengan Kauw Coe kami? Kulihat cocok benar.”

Sebelum ia habis bicara, orang-orangnya Tio Beng sudah membentak dan mencaci.

“Bangsat, tutup mulut!”

“Diam!”

“Kau sungguh telah bosan hidup!”

Paras muka si nona lantas saja bersemu dadu, sehingga ia nampaknya lebih cantik lagi. Pada paras itu terlihat tiga bagian kegusaran dan tujuh bagian kemalu-maluan. Seorang pemimpin yang berkuasa lantas saja berubah menjadi seorang gadis pemalu. Tapi perubahan itu hanya untuk sedetik dua saja.

Di lain saat, paras muka mereka itu berubah dingin seperti es. “Thio Cinjin,” katanya dengan nada memandang rendah. “Jika kau tak mau turun ke dalam gelanggang, kamipun tak akan memaksa, asal saja kau mengakui terang-terangan, bahwa Boe Tong Pay adalah partai yang mendustai dunia dan mencuri nama. Sesudah kau mengaku begitu, kami akan pergi. Kami bahkan bersedia untuk memulangkan Song Wan Kiauw, Jie Lian Cio dan lain-lain kawanan tikus kepadamu.”

Sesaat itu, Tiat Koat Toojin dan In Ya Ong tiba, disusul dengan Cioe Than dan Pheng Eng Giok. Melihat bertambahnya tenaga Beng Kauw, Tio Beng mengerti bahwa dalam suatu pertempuran memutuskan, pihaknya belum tentu menang. Dan apa yang paling dikuatiri adalah Boe Kie dan siasatnya.

Sambil menyapu pihak lawan dengan matanya yang jeli, si nona berkata dalam hati. “Thio Sam Hongdi benci kaisar karena hambanya yang sangat besar dan dianggap sebagai thaysan atau Pak Tauw dalam rimba persilatan. Tapi dia sudah begitu tua, berapa tahun lagi dia bisa hidup? Tak perlu aku mengambil jiwanya. Kalau aku bisa menghina Boe Tong Pay, jasaku sudah cukup besar,” memikir begitu, ia lantas saja berkata, “tujuan kedatangan kami ke sini adalah untuk menjajal kepandaian Thio Cin Jin. Kalau kami mau mengukur tenaga dengan Beng Kauw, apakah kami tak tahu jalanan ke Kong Beng Teng. Begini saja, sebelum menjajal, kami tidak bisa mengatakan apa ilmu silat Boe Tong berisi atau kosong. Aku mempunyai tiga orang pegawai rumah tangga yang sudah lama mengikuti aku. Yang satu mengerti sedikit ilmu pukulan, yang lain mempunyai lweekang yang cetek, yang ketiga mengenal sedikit ilmu pedang. A Toa, A Jie, A Sam, kemari! Asal Thio Cin Jin bisa mengalahkan mereka, kami akan merasa takluk dan mengakui, bahwa Boe Tong Pay benar-benar mempunyai ilmu silat tinggi. Manakala Thio Cin Jin tidak mau apabila dijajal atau tidak mampu melawan mereka, maka kesimpulannya biarlah ditarik oleh orang-orang Kang Ouw sendiri. Seraya berkata begitu, ia meneput tangan dan tiga orang, yang berdiri di belakangnya lantas saja bertindak ke tengah ruangan.

Yang dinamakan A Toa seorang kakek kurus kering yang kedua tangannya memegang sebatang pedang, pedang itk. Mukanya yang berkerut-kerut diliputi paras sedih.

Yang kedua, A Jie, juga bertubuh kurus, tapi lebih tinggi daripada A Toa. Kepala botak Tha Yang Hiatnya melesak ke dalam, kira-kira setengah dim.

A Sam yang ketiga, berbadan keras padat, sikapnya garang anker bagaikan harimau. Pada mukanya, lengannya, lehernya, pendek kata di bagian-bagian badannya yang terbuka terlihat otot-otot yang menonjol keluar.

Thio Sam Hong, In Thian Ceng, Yo Siauw dan yang lain terkejut. Ketiga orang itu bukan sembarang orang.

“Tio Kouw Nio,” kata Cioe Thian, “mereka bertiga adalah ahli-ahli silat kelas utama dalam rimba persilatan. Melawan mereka Cioe Thian tidak unggulan. Tapi mengapa secara tidak mengenal malu, nona memperkenalkan mereka sebagai pegawai rumah tangga? Apa nona mau berguyon dengan Thio Cin Jin?”

“Mereka ahli silat kelas utama?” menegas Tio Beng. “Ah! Aku sendiri tak tahu. Apa kau tahu siapa mereka? Apa kau tahu nama mereka?”

Cioe Thian tertegun, ia diam tak dapat menjawab pertanyaan itu.

Si nona tersenyum tawa. Ia menengok kepada Thio Sam Hong dan berkata, “Thio Cin Jin lebih dahulu, biarlah kau mengadu pukulan dengan A Sam.”

A Sam maju setindak dan sambil merangkap kedua tangannya. Ia berkata, “Thio Cin Jin, silahkan!” berbareng dengan tantangannya, kaki kirinya menjejak lantai. “Brak!” tiga batu hijau persegi hancur. Orang tak heran kalau yang hancur hanya batu yang terjejak. Yang luar biasa adalah turut hancurnya dua batu yang lain.

Sesudah kawannya maju, A Toa dan A Jie segera mundur sambil menundukkan kepala. Sedari masuk ke dalam sam ceng tian, ketiga orang itu selalu mengikuti Tio Beng dengan kepala menunduk, sehingga orang tidak memperhatikan mereka. Siapapun tak menduga bahwa mereka adalah jago-jago yang tidak boleh dibuat gegabah. Tapi begitu mundur, mereka memperlihatkan lagi sikap sebangsa budak belian.

Melihat lihainya A Sam, In Thian Ceng merasa kuatir akan keselamatan Thio Sam Hong. “Thio Cin Jin sudah terluka berat, tapi meskipun tidak terluka, dengan usianya yang sudah begitu tinggi, bagaimana ia bisa bertanding dengan orang itu?” pikirnya. “dilihat gerak-geriknya, orang itu ahli dalam ilmu silat keras. Sudahlah! Biar aku saja yang melayaninya.”

Memikir begitu, ia lantas saja berkata dengan suara nyaring. “Seorang yang kedudukannya begitu tinggi seperti Thio Cin Jin mana boleh melayani manusia rendah semacam kau! Jangankan Thio Cin Jin, sedang akupun, seorang she In, rasanya masih terlalu tinggi untuk berhadapan dengan seorang budak belian seperti kau.” Ia tahu, bahwa ketiga orang itu bukan sembarangan orang, supaya mereka panas dan diterimanya dengan baik tantangannya itu.

“A Sam,” kata Tio Beng. “Apa kau masih ingat namamu yang dahulu? Cobalah beritahu mereka, supaya mereka bisa menimbang-nimbang apa kau cukup berderajat atau tidak untuk bertanding dengan seorang tokoh Boe Tong Pay.” Dalam pembicaraan itu, ia menekankan perkataan Boe Tong Pay.

“Sedari Siauw Jin (aku yang rendah) menghadapi kepada Coe Jin, nama yang dahulu telah tak digunakan lagi,” kata A Sam. “Kalau diperintah, siauw jin tidak berani tak berbicara, dahulu Siauw Jin she Oe Boen Cek.”

Semua orang terkesiap.

Sesaat kemudian, In Thian Ceng membentak, “Oe Boen Cek! Pada dua puluh tahun berselang, bukankah kau yang sumpah membinasakan lima jago she Sie Tiangan! Pada malam itu, pembunuh yang mengenakan topeng dan baju merah yang mengaku sebagai “Piat Pie Sin Mo Oe Boen Cek” telah membunuh tiga belas tokoh rimba persilatan dalam sebuah perjamuan hari ulang tahun. Bukankah kau yang melakukan pembunuhan itu?”

(Pat Pie Sin Mo Iblis bertangan delapan)

“Ingatanmu sangat kuat, aku sendiri telah lupa,” jawabnya dengan suara dingin.

Mendengar perkataan itu, semua orang dari Beng Kauw dan Boe Tong Pay meluap darahnya.

Lima jago She Sie adalah orang-orang yang sangat disegani dan dihormati dalam rimba persilatan. Ia berkepandaian tinggi, dan selalu bersedia untuk menolong sesama manusia yang perlu ditolong. Tiba-tiba pada suatu malam, mereka semua dibinasakan oleh seorang bertopeng dan mengenakan baju merah. Pembunuh itu mengaku sebagai Ang Ie Kok Oe Boen Cek.

Di samping lima jago She Sie, beberapa tokoh Hoan San Pay dan Go Bie pay turut dibinasakan. Karena orang tak bisa menyelidiki asal-usul manusia yang bernama Oe Boen Cek itu, maka orang lantas saja menduga, bahwa perbuatan musuh itu dilakukan oleh Beng Kauw dan Peh Bie Kauw.

Tuduhan itu sangat menjengkelkan hati In Thian Ceng, tapi ia tak dapat jalan untuk melampiaskan rasa penasarannya. Tidak dinyana, sesudah berselang dua puluh tahun barulah diketahui pembunuh yang benar.

Biarpun Oe Boen Cek hanya muncul satu kali di Tiong Goan, tapi perbuatannya itu adalah sedemikian hebat, sehingga kalau mau diperhitungkan soal derajat yang berdasarkan tingginya ilmu silat, maka dia memang cukup berderajat untuk bertanding dengan Thio Sam Hong.

Di samping itu, andaikata ia tidak menantang Thio Sam Hong, tapi sesudah ia memperkenalkan dirinya menurut pantas seorang tetua. Thio Sam Hong harus turun tangan untuk menegakkan rimba persilatan. Maka itu sesudah ia memperkenalkan diri Oe Boen Cek telah mendesak Thio Sam Hongse demikian rupa. Sehingga guru besar itu tak bisa mengelakkan diri lagi dari satu pertempuran.

“Bagus!” seru In Thian Ceng. “Kalau benar kau Pat Pie Sin Mo, biarlah aku orang she In yang menyambut tantanganmu.” Seraya berkata begitu, ia melompat masuk ke dalam gelanggang.

“In Thian Ceng,” kata Oe Boen Cek, “Kau siluman, aku iblis, kita berdua sama-sama bangsa jejadian. Orang sendiri tak bertempur dengan orang sendiri. Kalau kau mau juga, kita boleh memilih lain hari untuk berkelahi. Hari ini atas perintah Coe Jin aku hanya ingin menjajal kosongnya ilmu silat Boe Tong Pay.” Ia menengok kepada Thio Sam Hong dan berkata pula, “Thio Cin Jin, apabila kau tak sudi turun gelanggang, cukuplah bila kau membuat pengakuan yang diminta Coe Jin. Kami tak akan menggunakan kekerasan.”

Thio Sam Hong tersenyum. Di dalam hati ia menimbang-nimbang keadaan yang tengah dihadapinya. Dengan menggunakan Thay Kek Koen, dengan ilmu “yang kosong menjatuhkan yang berisi,” belum tentu ia kalah dari lawan itu. Apa yang sukar dihadapi ialah sesudah merobohkan A Sam, ia tentu harus mengadu lweekang melawan A Jie. Dan sesudah terluka berat, ia tidak boleh mengerahkan tenaga dalam. Inilah yang paling sulit, ia tak bisa mencari jalan keluar. Tapi api sudah membakar alis, ia tak bisa mundur lagi.

Perlahan-lahan ia maju ke tengah ruangan dan berkata kepada In Thian Ceng. “Untuk maksud In Heng yang sangat mulia, pinto merasa sangat berterima kasih. Selama berapa tahun terakhir pinto telah menggubah mengganti dengan semacam ilmu silat yang diberi nama Thay Kek Koen. Ilmu ini agak berbeda dari ilmu silat yang sudah dikenal dalam dunia. Oe Boen Sie Coe mengatakan bahwa ia bertujuan untuk menjajal ilmu silat Boe Tong Pay. Manakala In Heng yang merobohkannya ia tentu merasa tidak puas. Biarlah pinto saja yang melayani berberapa jurus dengan menggunakan Thay Kek Koen. Biarlah kita lihat apakah pinto yang sudah begitu tua masih berharga untuk menunjukkan kebodohan pintoo.

Mendengar perkataan itu, In Thian Ceng girang bercampur khawatir. Ia girang karena dari omongannya, Thio Sam Hong ternyata penuh percaya penuh akan kelihaian Thay Kek Koen. Tanpa pegangan kuat, guru besar itu tentu takkan bicara sembarangan. Ia khawatir karena ingat usia Thio Sam Hongdan luka yang dideritanya. Tapi ia tak berani membantah lagi dan sambil merangkap kedua tangannya ia berkata, “Boanpwee memberi selamat kepada Thio Cin Jin untuk ilmu silat yang luar biasa itu.”

Melihat Thio Sam Hongsudah turun ke gelanggang, Oe Boen Cek jadi agak keder, tapi di lain saat ia bias menetapkan hati, “Biarlah aku berkelahi mati-matian, sehingga kedua belah pihak sama-sama rusak.” Pikirnya. Ia segera menarik napas dalam-dalam dan mengumpulkan semangat, sedang kedua matanya mengincar Thio Sam Hongtanpa berkedip. Sesaat kemudian tulang-tulangnya berkerotokan.

Mendengar itu, orang-orang Boe Tong dan Beng Kauw saling memandang dengan rasa cemas. Itulah suatu tanda, bahwa Oe Boen Cek sudah mencapai puncak tertinggi dari ilmu silat Gwa Boen (ilmu silat luar). Menurut cerita di dalam dunia hanyalah ketiga pendeta suci Siauw Lim Sie yang sudah mencapai tingkatan itu. Siapapun tak menduga, bahwa Pat Pie Sin Mo memiliki ilmu tersebut yang dikenal sebagai ilmu malaikat Kim Kong Hok Mo.

Thio Sam Hong pun turut merasa kaget. “Orang itu mempunyai asal usul yang tidak kecil!” pikirnya. “Thay Kek Koen belum tentu bisa melawannya.” Perlahan-lahan ia mengangkat kedua tangannya. Tapi baru saja ia ingin mengundang lawan untuk memulai, tiba-tiba dari belakang Jie Thay Giam melompat keluar seorang too tong.

“Thay Soehoe,” katanya. “kalau siecoe itu mau menjual ilmu silat Boe Tong, perlu apa thay soehoe turun tangan sendiri? Biarlah teecoe sendiri yang melayani sejurus dua jurus.”

Too tong itu, yang mukanya berlepotan tanah, bukan lain daripada Boe Kie. In Thian Ceng, Yo Siauw dan lain-lain jago Beng Kauw lantas saja mengenali dan mereka kegirangan. Tapi Thio Sam Hongdan Jie Thay Giam tentu tak dapat mengenalinya. Mereka menduga, bahwa too tong itu Ceng Hong adanya.

“Ini bukan permainan anak-anak,” kata Thio Sam Hong. “Oe Boen Cek mempunyai kim kong Hok Mo. Mungkin sekali mereka seorang pentolan dari Siauw Lim cabang See Hek. Dengan sekali pukul, ia bisa menghancurkan tulang-tulangmu.

Dengan tangan kiri, Boe Kie mencekal ujung baju orang tua itu, sedang tangan kanan memegang tangan kiri guru besar itu. “Thay Soehoe,” katanya, “Thay kek Koen yang telah diturunkan kepada Tee Coe belum pernah digunakan. Kebetulan sekali Oe Boen Sie Coe seorang ahli Gwa Kee. Permisikanlah Tee coe untuk menjajal ilmu melawan kekerasan dengan kelemahan, yang kosong memukul yang berisi. Kalau Tee Coe berhasil, bukankah ada baiknya juga,” seraya berkata begitu, ia mengerahkan Kioe Yang Sin Kang, yang dahsyat, yang lembut dan mengirimnya ke tubuh thay Soe Hoe, melalui telapak tangannya.

Pada detik itu, sekonyong-konyong Thio Sam Hong merasai semacam tenaga yang hebat luar biasa menerobos masuk dari telapak tangannya. Biarpun belum bisa menandingi tenaganya sendiri, tenaga itu yang murni dan yang halus menerobos bagaikan ombak gelombang demi gelombang.

Dalam kagetnya, ia mengawasi muka Boe Kie. Kedua mata too tong itu tidak memperlihatkan sinar berkeredepan yang bisa dipunyai oleh seorang ahli silat kelas satu. Tapi sayup-sayup, dalam kedua mata itu terlihat selapis sinar kristal yang sangat lembut. Itulah suatu tandan dari lwee kang yang sudah mencapai puncak tertinggi. Thio Sam Hong makin kaget, selama hidupnya dalam jangka waktu seabad lebih, ia hanya pernah menemui satu, dua orang yang mempunyai sinar mata begitu, misalnya mendiang gurunya sendiri Kak Wan Tay Soe dan Tay Hiap Kwee Ceng. Di antara ahli-ahli silat pada zaman itu, sebegitu jauh yang diketahui ia sendiri yang sudah mencapai tingkat tersebut.

Selama satu dua detik, macam-macam pikiran berkelabat-kelebat dalam otak Thio Sam Hong.

Sementara itu, Boe Kie terus mengirim lwee kangnya. Di lain saat guru besar itu sudah mengambil keputusan. Ia yakin bahwa ditinjau dari lweekang itu yang bertujuan untuk mengobati lukanya si too tong pasti tidak bermaksud jahat. Maka itu, sambil tersenyum ia berkata, “aku sudah tua dan tak punya guna. Pelajaran apa yang kudapat berikan padamu? Tapi jika kau mau juga menjajal ilmu gwa kee Oe Boen Sie Coe, kau boleh melakukan itu.”

Thio Sam Hong menduga, bahwa too tong itu seorang ahli dari partai lain yang sengaja datang untuk membantu Boe Tong Pay. Maka itu, ia telah menggunakan kata-kata rendah.

“Budi Thay Soehoe terhadap anak berat bagaikan gunung,” kata Boe Kie. “Biarpun badan hancur luluh, tak dapat anak membalas budi Thay Soehoe dan para paman, biarpun ilmu silat Boe Tong Pay kita tidak bisa dikatakan tiada tandingannya di dalam dunia, tapi kita pasti tak akan kalah dari ilmu silat Siauw Lim cabang See Hek. Legakanlah hati Thay Soehoe.”

Itulah jawaban yang tidak bisa disalahartikan! Jawaban murid terhadap seorang guru, dalam suara yang agak gemetar itu terdengar nada dari cinta yang tidak terbatas, rasa berterima kasih yang tiada taranya dan rasa terharu yang memuncak.

Bukan main herannya Thio Sam Hong. Apa benar dia murid Boe Tong? Tanyanya di dalam hati. Mungkin sekali sejarah mendiang gurunya, Kak Wan Tay Soe, terulang pula dan dia belajar secara diam-diam. Sambil memikir begitu, ia melepaskan tangan Boe Kie dan lalu kembali pada kursinya. Ia melirik Jie Thay Giam, tapi dilihat dari paras mukanya, murid itupun sedang terheran-heran.

Bagi Oe Boen Cek, dipermisikan seorang too tong untuk melayani merupakan hinaan yang sangat besar. Tapi sebagai manusia yang beracun, ia tak memperlihatkan kegusarannya. Dengan sekali pukul, ia akan membinasakan too tong itu dan sudah itu ia akan menantang Thio Sam Hong lagi. “Anak kecil, kau mulailah,” katanya.

“Ilmu silat Thay Kek Koen adalah hasil jerih payah Thio Cin Jin, Thay Soehoeku, selama banyak tahu,” kata Boe Kie, “boanpwee baru saja belajar silat dan sekarang belum bisa melayani intisari daripada ilmu silat itu. Mungkin sekali boanpwee belum dapat merobohkan kau di dalam tiga puluh jurus. Apabila benar sedemikian, maka hal itu adalah kesalahanku dan bukan lantaran jeleknya Thay Kek Koen. Sebelum kita bertempur, boanpwee menganggap hal ini perlu dikemukakan terlebih dahulu.”

Dalam gusarnya Oe Boen Cek berbalik tertawa terbahak-bahak, “Toa ko, jie ko, lihatlah!” serunya. “Dalam dunia, mana ada bocah segila dia!”

A Jie turut tertawa, tapi A Toa tajam matanya. Ia dapat melihat bahwa Boe Kie bukan sembarang orang. “Sam tee, kau tidak boleh memandang enteng,” katanya.

Oe Boen Cek maju setindak dan segera meninju dada Boe Kie dengan tangan kanan. Tinju itu menyambar bagaikan kilat.

Di luar dugaan, sebelum tinju pertama mampir pada sasarannya tinju kedua, yang dikirim dengan tangan kiri menyusul. Tinju itu yang dikirim belakangan tiba lebih dahulu dan menyambar muka Boe Kie. Itulah pukulan yang sangat luar biasa.

Sesudah mendengar keterangan dan melihat contoh-contoh Thio Sam Hon gmengenali ilmu silat Thay Kek Koen, selama kurang lebih satu jam diam-diam Boe Kie mempelajari isi daripada ilmu silat itu.

Melihat menyambarnya dua tinju yang saling susul, ia segera menyambut dengan Long Ciak Bwee kaki kanannya “berisi” kaki kiri “kosong”, tapak tangan menyentuh pergelangan tangan kiri musuh dan segera melepaskan tenaganya dengan menggunakan teori “menempel”.

Tanpa tercegah jadi tubuh Oe Boen Cek terhuyung dua tindak.

Semua orang terkejut.

Demikianlah, untuk pertama kali, Thay Kek Koen dijajal untuk melawan musuh. Biarpun baru saja menerima pelajaran itu dengan memiliki Kioe Yang Sin Kang dan Kian Koen Tay Li Ie Sin Kang, Boe Kie sudah dapat menggunakan ilmu yang lihai itu. Tinju Oe Boen Cek yang bertenaga ribuan kati seolah-olah amblas di dalam lautan, amblas tanpa berbekas bukan saja begitu, bahkan tubuhnya kena didorong tenaganya sendiri.

Sesudah hilang kagetnya, Oe Boen Cek segera menyerang seperti orang kalap. Tinjunya menyambar-nyambar bagaikan hujan gerimis, berkelebat-kelebat seperti keredengan kilat. Sehingga ia seolah-olah mempunyai beberapa puluh tangan yang menyerang Boe Kie dengan dahsyatnya.

Kecuali Beng Goat, semua orang yang berada dalam ruangan sam Ceng Tian rata-rata ahli silat kelas satu. Mereka kagum melihat serangan itu. Nama besar Pat Pie Sin Mo ternyata bukan nama kosong belaka.

Untuk mengangkat derajat Boe Tong Pay, Boe Kie hanya menggunakan pukulan-pukulan Thay Kek Koen. Dengan beruntung, ia mempergunakan Tan Pian disusul dengan Tee Chioe Siang Sit. Kemudian Pek Ho Liang Chie Dan Louw Sit Yauw Po. Selagi mengeluarkan Chioe Hie Pie Pee (jari-jari tangan memetik pie-pee semacam tetabuhan seperti gitar) tiba-tiba saja ia mendusin dan pada ketika itu, ia menyelami intisari daripada Thay Kek Koen yang pada hakekatnya mempunyai dasar yang bersamaan dengan Kian Koen Tay Li Ie Sin Kang. Dengan demikian, Chioe Hwie Pie Pee menyambar bagaikan mengalirnya air, dengan keindahan yang mengagumkan.

Pada detik itu, Oe Boen Cek merasa, bahwa bagian atas badannya sudah ditutup dengan tenaga pukulan lawan dan dia tidak dapat berkelit lagi. Dalam menghadapi bahaya, cepat-cepat ia mengerahkan tenaga di punggungnya untuk menerima pukulan Boe Kie dan dengan berbareng tinju kanannya disabetkan. Ia mau melawan keras dengan keras, supaya kedua belah pihak celaka bersama-sama.

Di luar dugaan, pada waktu belakangan Boe Kie mengubah gerakannya. Ia membuat sebuah lingkaran dengan kedua tangannya, seperti orang memeluk (alam semesta). Mendadak saja dari lingaran itu keluar semacam tenaga dahsyat, tenaga yang berputaran seperti pusar laut.

Hampir berbareng, tubuh Oe Boen Cek berputar-putar tujuh delapan putaran laksana gangsing. Dengan ilmu Cian Kin Toei, ia berhasil menolong diri. Paras mukanya berubah merah padam, malu bercampur gusar.

“Sungguh lihai Thay Kek Koen dari Boe Tong Pay!” teriak Yo Siauw.

“Oe Boen Lao heng!” seru Cioe Tian sambil tertawa nyaring. “Lebih baik jika kau dinamakan si gangsing berlengan delapan.”

(Gelar Oe Boen Cek Pat Pie Sin Mo = Iblis berlengan delapan)

“Apa salah orang berputaran?” menyambung In Ya Ong. “Liang San mempunyai Hek Soan Hong (si angin puyuh hitam). Angin puyuh mesti berputaran, bukan?”

Saling sahut, pentolan-pentolan Beng Kauw mengejek sepuas hati.

Sekarang Oe Boen Cek benar-benar kalap. Dari merah, paras mukanya berubah hijau. Dengan mengaum seperti harimau edan, ia menerjang. Cara menyerangnya berubah. Tangan kirinya menghantam dengan tinju atau telapak tangan. Tangan kanannya dengan menggunakan jari-jari tangan, menotok atau mencengkram.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: