Kumpulan Cerita Silat

27/08/2008

Kisah Membunuh Naga (47)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:26 am

Kisah Membunuh Naga (47)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

“Thio Kongcoe,” kata Siauw Ciauw sambil tertawa. “Thio Kauwnio bersikap manis luar biasa terhadapmu.”

“Aku seorang lelaki, perlu apa dengan perhiasan itu?” kata Boe Kie. “Siauw Ciauw, kau ambillah.”

Si nona tertawa nyaring. Sambil menggoyang-goyangkan tangannya ia berkata, “Tidak! Tak bisa begitu. Bagaimana aku bisa menerima hadiah itu yang diberikan kepadamu dengan penuh kecintaan.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Boe Kie segera menjemput kembang mutiara itu. “Kena!” serunya seraya menimpuk. Timpukan itu tepat sekali menancap di rambut Siauw Ciauw tanpa melukai kulit kepalanya.

Si nona mau mencabutnya, tapi Boe Kie buru-buru mencegah dengan berkata, “Anak baik, apakah aku tidak boleh menghadiahkan sesuatu kepadamu?”

Paras muka si nona lantas saja bersemu merah. Ia menunduk dan berkata, “Terima kasih. Tapi aku kuatir Sio-cia akan menjadi gusar jika ia lihat aku memakai perhiasan ini.”

“Tidak!” bantah Boe Kie. “Hari ini kau berjasa besar. Yo Cosoe, ayah dan anak tidak akan curiga lagi.”

Siauw Ciauw jadi girang sekali. “Melihat Kongcoe belum juga kembali, hatiku bingung. Apalagi belakangan datang barisan Goan itu yang segera mengurung dan menyerang,” katanya. “Entah bagaimana, entah dari mana aku dapat keberanian, tahu-tahu aku memegang bendera dan berteriak-teriak. Kalau sekarang kuingat kejadian itu, hatiku masih ketakutan. Thio Kongcoe, kumohon kau mau berkata begini kepada Ngo heng-kie dan Peh bie-kauw. Untuk segala kekurang ajaran Siauw Ciauw, aku harap kalian tidak kecil hati.”

Boe Kie tersenyum, “Kau gila?” katanya, “Mereka sebenarnya harus menghaturkan terima kasih kepadamu.”

Sambil berjalan, para pemimpin Beng-kauw beromong-omong membicarakan soal Thio Beng dan coba meraba-raba asal usulnya. Tapi tak satupun yang bisa menebak.

Boe Kie sendiri menceritakan bagaimana ia mengambil Cui sian leng hoe tapi menyembunyikan hal terjebaknya dan segala kejadian dalam penjara baja itu. Meskipun benar segala tindakannya dapat dipertanggungjawabkan. Akan tetapi ia merasa jengah untuk menceritakan itu.

Pada suatu hari, tibalah mereka di daerah Ho-lam.

Jaman itu adalah jaman kalut rakyat Tiongkok yang mulai bangkit melawan penjajah. Di mana-mana tentara Mongol mengadakan pemeriksaan yang sangat keras. Untuk menghindarkan kecurigaan dan mencegah kerewelan, rombongan Beng-kauw dipecah dan kemudian berkumpul lagi di kaki gunung Siong san, dari sana mereka terus mendaki Siauw sit san, Gouw Kin Co diperintahkan jalan lebih dahulu dengan membawa karcis nama Boe Kie dan pemimpin lain untuk dipersembahkan kepada Hong thio Siauw lim sie.

Boe Kie mengerti bahwa dalam kunjungannya ke Siauw lim sie itu, walaupun dia tidak menghendaki pertempuran, sesudahnya masih merupakan teka-teki. Manakala pendeta-pendeta Siauw lim tidak bisa diajak bicara dan menyerang lebih dulu maka Beng-kauw tidak bisa tidak melayani. Maka itu ia segera mengeluarkan perintah supaya menyamar sebagai pelancong, anggota-anggota Ngo heng-kie dan Peh bie-kauw berpencar di seputar kuil dan mereka harus segera menerjang masuk jika mendengar tiga siulan panjang, perintah itu segera dijalankan dengan bersemangat.

Tak lama kemudian seorang Tie-kek ceng (pendeta penyambut tamu) ikut Gouw Kin Co turun dari atas gunung. “Kauw coe,” kata pendeta itu kepada Boe Kie. “Hong thio dan para Tiang-loo dari kuil kami sedang menutup diri dan bersemedi sehingga mereka tidak dapat menemui Kauw coe. Kami harap Kauw coe sudi memaafkan.,”

Mendengar itu, paras muka semua orang langsung berubah.

“Pendeta-pendeta Siauw lim sungguh sombong!” kata Cioe Tian dengan gusar. “Mereka sama sekali tidak memperdulikan bahwa yang datang berkunjung adalah Kauw coe kim sendiri.”

Pendeta itu menundukkan kepalanya dengan paras duka. “Tidak bisa menemui!” katanya.

Cioe Tian jadi lebih gusar. Tangannya menyambar untuk mencengkram dada si pendeta tapi keburu ditangkap oleh Swee Poet Tek. “Cioe heng jangan sembrono,” bujuknya.

“Kalau Hong thio sedang menutup diri, kami boleh bicara dengan Kong-tie dan Kong-seng Seng ceng,” kata Pheng Eng Giok.

Tie-kek ceng itu merangkap kedua tangannya dan berkata dengan suara dingin, “Tidak bisa menemui!”

“Bagaimana kalau Sioeco dari Tat-mo tong?” tanya Pheng Eng Giok. “Jika Sioeco Tat-mo tong juga tak bisa menemui kami, kami bersedia untuk bicara saja dengan Sioeco Lo-han tong.”

Tapi jawaban si pendeta tetap tidak berbeda, “Tidak bisa menemui!” katanya.

In Thian Ceng meluap darahnya. “Gila!” teriaknya. “Kau bilang saja apa pemimpin kamu mau menemui kami atau tidak?” Hampir bersamaan dengan bentakannya, ia menghantam sebuah pohon siong tua dengan kedua tangannya. Pohon itu segera patah dan roboh.

Pendeta itu ketakutan. “Kalian yang datang dari tempat jauh sebenarnya harus diterima dengan segala kehormatan,” katanya. “Hanya menyesal para pemimpin kami sedang menutup diri sehingga kami mohon kalian sudi datang di lain waktu.” Seraya berkata begitu, ia membungkuk dan memutar badan.

Dengan sekali melompat Wie It Siauw sudah menghadang di depannya. “Bolehkah aku mendapat tahu hoat-beng Taysoe yang mulia” Tanyanya.

“Hoat beng siauw ceng Hoei-hian,” jawabnya.

Mendengar itu semua pemimpin Beng-kauw dongkol bukan main. Seorang pendeta Siauw lim yang menggunakan nama “Hoei” adalah pendeta ketiga yang hidup pada saat itu. Sebagaimana diketahui yang paling tinggi “Kong”, sedang yang kedua adalah “Goan”. Bahwa Siauw lim hanya mengirimkan seorang wakil dari tingkatan “Hoei” untuk menyambut pemimpin Beng-kauw dianggap suatu hinaan paling besar.

Dengan paras muka gusar Wie It Siauw menepuk pundak pendeta itu. “Baiklah!” katanya. “Taysoe terus menerus mengatakan tidak bisa menemui. Jika Giam-loo-ong yang memanggil, Taysoe akan menemui atau tidak?”

Begitu ditepuk Hoei-hian merasakan hawa dingin yang sangat hebat menerobos, sehingga sekujur badannya gemetaran dan giginya gemelutukan. Sambil menahan rasa dingin itu, dia lari melewati Wie It Siauw dan terus kabur ke atas gunung dengan langkah limbung.

“Sesudah dia dipukul, guru dan paman-paman gurunya tidak akan menyudahi begitu saja,” Boe Kie menyambung perkataan itu. “Sekarang tak ada jalan lain daripada naik ke atas untuk melihat pendeta-pendeta itu benar-benar tidak mau menemui kita.”

Semua orang mengangguk. Mereka merasa bahwa satu pertempuran hebat tidak bisa dielakkan lagi. Siauw lim-pay dikenal sebagai gunung Thay-san atau bintang Pak tauw dalam rimba persilatan dan selama ribuan tahun, partai itu dinamakan sebagai “partai yang tak pernah terkalahkan”.

Hari ini akan diputuskan, apa Beng-kauw atau Siauw lim-pay yang akan unggul. Mereka tahu bahwa di dalam kuil Siauw lim sie terdapat banyak orang pandai sehingga hebatnya pertempuran yang akan terjadi sukar dibayangkan lagi. Mengingat begitu, dengan semangat bergelora para pemimpin Beng-kauw mendaki gunung.

Berselang kira-kira sepeminuman teh mereka tiba di pendopo Lip-soat-teng. Dengan rasa terharu Boe Kie ingat bahwa pada beberapa tahun berselang mereka bersama-sama Thay-soehoenya, ia bertemu dengan pendeta suci Siauw lim-pay di pendopo itu. Pada waktu itu ia datang sebagai seorang bocah yang kurus kering yang menderita keracunan hebat, tapi sekarang ia berkunjung sebagai seorang Kauw coe dari Beng-kauw yang sangat berpengaruh. Jangka waktu kunjungan itu hanya beberapa tahun tapi seolah-olah sudah satu abad.

Boe Kie menahan rombongannya di pendopo itu. Ia ingin menunggu wakil Siauw lim sie. Sebelum menggunakan kekerasan, ia mau bertindak menurut peraturan sopan santun, tapi mereka menunggu dengan sia-sia.

“Ayo kita naik!” kata Boe Kie akhirnya.

Dengan Yo Siauw dan Wie It Siauw di sebelah kiri dan In Thian Ceng dan In Ya Ong di sebelah kanan, Thian koan Toojin, Pheng Eng Giok, Cioe Tian dan Swee Poet tek di belakang, Boe Kie lalu memasuki pintu kuil Siauw lim sie. Setelah berada di dalam ruangan sembahyang Tay-hiong Po tian, mereka melihat patung Budha yang agung, kursi meja yang mengkilap, asap hio yang mengepul ke atas dan lampu-lampu yang menyala tapi dalam ruangan itu tak kelihatan bayangan manusia.

“Beng-kauw Thio Boe Kie bersama Yo Siauw, In Thian Ceng dan lain-lain datang berkunjung untuk bertemu dengan Hong Tio Tay-soe!” teriak Boe Kie yang suaranya disertai Lweekang hebat sehingga lonceng yang tergantung di dalam ruangan itu mengeluarkan suara “ngung-ngung?”

Yo Siauw, Wie It Siauw dan yang lain-lain saling mengawasi dengan perasaan kagum. Dengan mempunyai seorang pemimpin yang tenaga dalamnya begitu tinggi, mereka merasa bahwa dalam pertempuran ini Beng-kauw akan memperoleh kemenangan.

Teriakan Boe Kie bisa di dengar di seluruh kuil tapi sesudah menunggu beberapa lama seorang manusiapun tak kelihatan batang hidungnya.

“Hei! Apa kamu mau bersembunyi seumur hidup?” teriak Cioe Thian berangasan.

Mereka menunggu lagi tapi tetap tiada yang muncul.

“Sudahlah!” kata In Thian Ceng. “Sekarang kita tak usah perdulikan akal apa yang dijalankan mereka, mari kita masuk semua!” Seraya berkata begitu dengan diikuti oleh yang lain ia maju lebih dulu dan terus menuju ke ruang belakang. Tapi seorang manusia pun tidak ditemui mereka.

Mereka heran tak kepalang. Siauw lim-pay adalah sebuah partai persilatan yang besar dan sejak dulu sudah mempunyai nama yang sangat harum. Di dalam kuil terdapat banyak sekali pendeta yang tinggi ilmu silatnya dan banyak akal budinya. Tapi hari ini mereka menjalankan “tipu kuil kosong”.

Tipu apa itu? Tak bisa tidak suatu tipu yang sangat hebat. Mengingat begitu, mereka makin berhati-hati. Mereka waspada pada setiap tindakan sesudah melewati Ka-lam tian, tapi mereka belum juga menemui manusia.

Tiba-tiba Wie It Siauw berkata, “Swee Poet Tek, mari kita mengamat-amati dari atas!”

Swee Poet Tek mengangguk dan badannya segera mencelat ke atas, tapi sebelum kedua kakinya menginjak payon rumah, Wie It Siauw sudah berada di atas wuwungan.

“Ilmu ringan badan Wie Hong ong benar-benar tak akan bisa ditandingi oleh Po tay Hweeshio,” katanya di dalam hati.

“Hei! Pendeta-pendeta Siauw lim sie!” teriak Cioe Tian. “Mengapa kau main bersembunyi terus menerus?”

Rombongan Boe Kie menyelidiki dari satu ruang ke lain ruang. Sebegitu jauh mereka bukan saja belum menemui manusia, tapi juga belum melihat tanda-tanda yang mencurigakan.

Di Lo-han tong ruangan berlatih silat, mereka mendapati kenyataan bahwa semua senjata yang biasanya terdapat dalam ruangan itu sudah tidak ada lagi. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, cepat-cepat mereka menuju ke Tat-mo tong. Dalam ruangan itu di atas lantai, hanya terdapat sembilan lembar tikar yang sudah separuh rusak.

Dengan alis berkerut, Yo Siauw berkata, “Kudengar Tat-mo tong adalah tempat beristirahatnya para cianpwee dari Siauw lim sie, di antaranya ada yang tidak pernah keluar dari pintu ruangan ini selama sepuluh tahun. Mana bisa jadi…Mana bisa jadi, tanpa bertempur, mereka menyembunyikan diri?”

“Hatiku sangat tidak enak,” sambung Pheng Eng Giok. “Aku merasa di dalam kuil ini sudah terjadi sesuatu yang sangat hebat, kejadian yang sangat buruk”.”

Cioe Tian tertawa nyaring, “Ada-ada saja!” katanya.

Tiba-tiba Boe Kie ingat pengalaman waktu ia belajar Siauw lim Kioe yang kang.

“Coba kita pergi ke situ,” katanya. Dengan diikuti oleh pengiringnya, ia menuju ke kamar Goan tin. Di dinding masih terlihat bekas-bekas dari bagian yang dahulu dijobloskan Goan tin, tapi kamar kosong tiada manusianya.

“Coba kita selidiki di Cong keng kok,” kata Yo Siauw.

Di Cong keng kok, rak-rak buku kosong semua! Ke mana perginya beberapa laksa jilid kitab suci” Semua orang menggeleng-gelengkan kepala. Mereka benar-benar pusing. Andaikata benar pemimpin-pemimpin Siauw lim menyingkirkan diri, sepantasnya mereka harus meninggalkan beberapa orang untuk membersihkan kuil itu. Beng-kauw pasti tidak menyusahkan mereka itu. Apakah jika mereka meninggalkan beberapa orang pemimpin Siauw lim sie kuatir rahasianya terbuka?

Semua orang kembali ke Tay hiong Po thian. Wie It Siauw dan Swee Poet Tek yang menyusul belakangan melaporkan bahwa sesudah menyelidiki seluruh kuil mereka tidak mendapatkan apapun jua bahkan si pendeta penyambut tamupun turut menghilang.

Sementara itu, Yo Siauw memanggil Goan Hoan, pemimpin Houw touw-kie dan memerintahkannya supaya bersama semua anggota bendera tersebut menyelidiki kalau-kalau di dalam kuil tersebut terdapat jalan atau tempat rahasia untuk menyembunyikan diri. Dua jam kemudian Goan Hoan kembali dengan laporan bahwa penyelidikan tidak memberi hasil. Ia hanya menemukan beberapa kamar untuk menutup diri dan bersemedi, tapi kamar itu kosong semua.

Goan Hoan adalah seorang ahli bangunan dan di dalam Houw touw-kie terdapat tukang membuat rumah yang pandai. Maka itu, laporan tersebut boleh tidak diragukan lagi.

Yo Siauw, In Thian Ceng, Pheng Eng Giok dan yang lain-lain adalah orang-orang yang berpengalaman luas dan berakal budi. Tapi sekarang mereka menemui jalan buntu. Mereka mengasah otak, berpikir bolak-balik tapi mereka tetap tak bisa menembus misteri yang aneh itu.

Selagi mereka berunding, tiba-tiba di sebelah barat terdengar suara kedubrakan sebuah pohon siong tua roboh dengan tiba-tiba. Semua orang kaget dan memburu ke tempat itu. Pohon itu berada di pinggir sebuah perkarangan yang terkurung tembok dan batang yang patah menimpa tembok itu. Waktu didekati, pohon itu ternyata roboh karena terpukul, sebab urat-uratnya di bagian yang patah putus semuanya. Dilihat dari urat-uratnya yang sudah agak kering, pukulan itu bukan baru terjadi, tapi sudah berselang beberapa hari.

Mendadak beberapa orang mengeluarkan seruan kaget.

“Ih!”

“Lihat ini!”

“Aha! Di sini terjadi pertempuran hebat!”

Memang dalam perkarangan itu terlihat tanda-tanda bekas pertempuran. Di atas lantai batu hijau, di dahan pohon dan di tembok terlihat bekas bacokan senjata tajam atau pukulan-pukulan yang dahsyat. Dilihat dari bekas-bekasnya orang-orang yang bertempur adalah ahli-ahli silat kelas satu. Tapak-tapak kaki yang menggores lantai membuktikan Lweekang yang sangat tinggi dari orang-orang yang berkelahi itu.

Mendadak Wie It Siauw mengendus bau darah. Dalam pertempuran itu rupanya sudah mengucur banyak darah tapi karena semalam turun hujan besar, sebagian besar darah itu sudah hanyut dan hanya ketinggalan di beberapa tempat tertentu.

Perkarangan itu sangat besar dan tadi waktu diperiksa, orang tidak memeriksa secara teliti sebab di situ tak terdapat manusia. Kalau pohon siong itu tidak roboh mereka tentu takkan datang lagi ke sini.

“Yo Cosoe, bagaimana pendapatmu?” tanya Pheng Eng Giok.

“Pada tiga empat hari yang lalu, di sini telah berlangsung pertempuran yang sangat hebat,” jawabnya. “Hal ini tak usah disangsikan lagi. Apakah orang-orang Siauw lim sie terbasmi semua?”

“Aku sependapat dengan Yo Cosoe,” kata Pheng Eng Giok. “Tapi siapa musuhnya Siauw lim sie? Mana ada partai yang begitu lihai? Apa Kay-pang?”

“Biarpun partai besar dan banyak orang pandainya, Kay-pang pasti takkan bisa membasmi semua pendeta dalam kuil ini,” kata Cioe Tian. “Yang bisa berbuat begitu hanyalah Beng-kauw kita, tapi jelas-jelas bukan kitalah yang melakukannya.”

“Cioe Tian lebih baik kau jangan mengeluarkan segala omong kosong,” kata Tiat koan Toojin. “Apakah di antara kita ada yang tidak tahu bahwa kita tidak melakukan perbuatan ini?”

Di luar dugaan, perkataan Cioe Tian yang dikatakan sebagai omong kosong sudah mengingatkan sesuatu kepada Yo Siauw. “Ah!…,” ia mengeluarkan seruan tertahan. “Kauw coe mari kita pergi lagi ke Tat-mo tong.”

Boe Kie tahu bahwa ajakan itu mesti ada sebabnya. “Baik,” katanya.

Dengan cepat semua orang masuk lagi ke dalam Tat-mo tong. Dalam ruangan itu, di samping sembilan lembar tikar pecah, di atas meja sembahyang terdapat sebuah patung batu dari Tat-mo Couw soe. Muka patung itu menghadap tembok, dengan punggung menghadap keluar. Semua orang tahu bahwa itu adalah untuk memperingati satu kejadian penting dalam hidupnya guru besar tersebut. Menurut cerita, sesudah bersemedi menghadap tembok selama sembilan tahun Tat-mo Couw soe berhasil mendapatkan inti sari ilmu silat.

“Tapi kita sudah menyelidiki, ada perlu apa kita datang lagi ke sini?” tanya Cioe Tian.

Tanpa meladeni perkataan Cioe Tian, Yo Siauw berkata kepada In Ya Ong. “In Sie heng, aku minta bantuanmu. Mari kita putar patung Tat-mo Couw soe.”

“Jangan!” cegah In Thian Ceng.

Tat-mo Couw soe adalah pendiri Siauw lim sie yang dipandang suci dan dipuja bukan saja oleh orang-orang Siauw lim-pay, tapi juga oleh semua tokoh persilatan di kolong langit.

“Eng Ong jangan kuatir,” kata Yo Siauw. “Siauw tee bertanggung jawab untuk segala akibatnya,” seraya berkata begitu ia melompat ke atas meja sembahyang dan coba memutar patung itu. Namun karena terlalu berat, patung itu tidak bergeming.

“Ya Ong, bantulah,” kata sang ayah.

In Ya Ong segera melompat ke atas dan dengan tenaga dua orang patung itu yang beratnya dua ribu kati lebih dapat diputar.

Begitu patung diputar, paras muka semua orang berubah pucat. Ternyata muka patung telah dipapas rata sehingga merupakan selembar papan batu dan di atasnya terdapat huruf-huruf yang berbunyi seperti berikut:

“Lebih dahulu membasmi Siauw lim.
Kemudian menumpas Boe tong.
Yang merajai rimba persilatan hanyalah Beng-kauw.”

Huruf-huruf itu ditulis dengan jari tangan yang seolah-olah memahat papan batu itu.

Tanpa merasa semua orang mengeluarkan teriakan kaget. Itulah tipu daya yang sangat busuk, yang menimpakan semua dosa di atas pundak Beng-kauw.

Dengan bersamaan Yo Siauw dan In Ya Ong melompat turun.

“Hidung kerbau Tiat koan!” bentak Cioe Tian. “Jika aku tidak mengeluarkan omong kosong, Yo Cosoe pasti tak bisa menebak kejahatan musuh.”

Tiat koan Toojin tidak meladeni. Ia tak ada kegembiraan untuk bertengkar dengan saudara yang rewel itu. “Yo Cosoe, bagaimana kau dapat memikirkan bahwa pada patung itu terdapat sesuatu yang luar biasa?” tanyanya.

“Tadi waktu pertama kali aku masuk ke sini, aku sudah lihat bahwa patung itu memang digeser orang,” jawabnya. “Tapi aku belum dapat berpikir bahwa dalam penggeseran itu bersembunyi tipu daya yang sangat busuk.”

“Ada hal lain yang belum dimengerti olehku,” kata Pheng Eng Giok. “Tak bisa disangsikan lagi bahwa dengan huruf-huruf itu musuh ingin menumpahkan dosa di atas pundak Beng-kauw supaya kita dikeroyok oleh seluruh rimba persilatan. Tapi mengapa musuh itu manghadapkan muka patung ke tembok? Kalau Yo Cosoe tidak berotak cerdas, bukankah kitapun tak tahu adanya huruf-huruf itu?”

Yo Siauw manggut-manggutkan kepalanya. “Patung itu telah diputar lagi oleh orang lain,” jawabnya. “Dengan diam-diam, seseorang yang sangat tinggi kepandaiannya telah membantu kita. Kita telah menerima budi yang sangat besar.”

Semua orang segera menanyakan siapa adanya orang itu.

Yo Siauw menghela nafas dan berkata, “Aku pun tak tahu”.”

Perkataan itu tiba-tiba diputuskan oleh teriakan Boe Kie. “Celaka”! Lebih dahulu membasmi Siauw lim, kemudian menumpas Boe tong? Boe tong menghadapi bencana besar!”

“Kita harus segera membantu,” kata Wie It Siauw. “Dengan memberi bantuan, kitapun bisa menyelidiki siapa adanya anjing terkutuk itu.”

Saat itu, di depan mata Boe Kie segera terbayang kecintaan Thay soehoe dan para pamannya. Apa Song Wan Kiauw dan yang lain-lain sudah kembali ke Boe tong?

Di sepanjang jalan ia tak pernah menerima berita mengenai gerak-gerik rombongan Boe tong. Kalau rombongan itu terlambat, maka yang berada di gunung hanyalah Thay soehoe, murid-murid turunan ketiga dan Sam Soepeh Jie Thay Giam yang cacat.

Jika musuh menyerang, bagaimana mereka bisa melawannya? Mengingat begitu, ia bingung bukan main. “Para Cianpwee dan Heng tiang!” katanya dengan suara nyaring. “Boe tong adalah tempat asal dari mendiang ayahku. Sekarang Boe tong menghadapi bencana. Kalau sampai terjadi sesuatu dik emudian hari, aku sukar menginjak bumi lagi sebagai manusia terhormat. Menolong orang seperti menolong kebakaran, lebih cepat lebih baik. Sekarang aku ingin minta Wie Hok-ong mengikuti aku untuk berangkat lebih dulu. Yang lain bisa menyusul belakangan. Kuminta Yo Cosoe dan Gwa kong sudi mengepalai rombongan kita.” Sehabis berkata begitu, ia menyoja dan dengan sekali berkelabat, ia sudah berada di luar kuil. Wie It Siauw mengikuti dengan ilmu ringan badan. Dalam sekejap mereka sudah melewati Lip-soat-teng. Dalam ilmu ringan badan di kolong langit tak ada orang yang bisa menandingi mereka.

Setibanya di kaki gunung Siong san, siang sudah berganti malam. Tapi mereka meneruskan perjalanan dan jalan semalaman suntuk, mereka sudah melalui beberapa ratus li. Kecepatan lari Wie It Siauw tidak kalah dari Boe Kie, tapi dalam jangka waktu panjang, ia kalah tenaga dalam. Biar bagaimanapun jua, lama-lama mereka merasa lelah.

“Untuk mencapai Boe tong san dengan kecepatan seperti sekarang, harus menggunakan waktu satu hari satu malam lagi,” kata Boe Kie di dalam hati. “Manusia yang terdiri darah dan daging tak akan bisa lari terus menerus. Apalagi dalam menghadapi musuh kelas berat, kita harus menyimpan tenaga!”

Berpikir begitu ia segera berkata, “Wie Hok-ong, setibanya di kota aku ingin membeli dua ekor kuda untuk dijadikan tunggangan.”

Wie It Siauw memang sudah punya niat itu, tapi ia merasa malu hati untuk membuka mulut. “Kauw coe beli kuda sangat repot,” katanya sambil tersenyum. “Perlu apa kita membuang-buang waktu?”

Tak lama kemudian dari sebelah depan datang lima-enam penunggang kuda. Dengan sekali melompat Ceng-ek Hok-ong sudah mengangkat tubuh dua penunggang kuda yang lalu dilepaskan di tanah dengan perlahan. “Kauw coe, naiklah!” serunya.

Boe Kie ragu. Perbuatan itu tiada bedanya dengan merampok.

“Kauw coe!” teriak Wie It Siauw. “Demi kepentingan urusan besar, kita tidak boleh menghiraukan segala hal remeh.”

Beberapa orang itu yang mengerti sedikit ilmu silat segera menyerang. Dengan tangan memegang les kuda, Wie It Siauw menendang kian kemari dan beberapa golok terpental.

“Bangsat! Siapa kau!” bentak salah seorang.

Boe Kie mengerti bahwa jika orang-orang itu diladeni terlalu lama, Beng-kauw akan mendapat lebih banyak musuh. Maka itu, ia segera melompat ke punggung seekor kuda dan lalu kabur bersama-sama Wie It Siauw. Orang-orang itu mencaci tapi mereka tidak berani mengejar.

“Biarpun kita berbuat begini karena terpaksa, tapi orang-orang itupun mungkin mempunyai urusan yang sangat penting,” kata Boe Kie. “Aku sungguh merasa tidak enak.”

Wie It Siauw tertawa nyaring. “Kauw coe,” katanya. “Janganlah kau memikirkan urusan yang tiada artinya. Kalau dulu memang benar kita pernah berbuat seenaknya saja.” Sehabis berkata begitu ia tertawa terbahak-bahak.

Mendengar itu Boe Kie berpikir, “Kalau orang menamakan Beng-kauw sebagai agama yang sesat memang beralasan juga. Tapi dalam hakekatnya apa yang benar dan apa yang salah tak gampang disimpulkan dengan begitu saja.”

Ia ingat bahwa dalam memikul beban Kauw coe yang sangat berat, ia kurang pengalaman dan pengetahuan sehingga ia sering ragu untuk mengambil keputusan. Meskipun ia memiliki ilmu silat yang sangat tinggi tapi urusan-urusan penting di dalam dunia tak bisa dibereskan dengan mengandalkan ilmu silat saja.

Dengan pikiran kusut, ia larikan tunggangannya. Ia hanya berharap supaya berhasil dalam usaha menyambut Cia Soen. Agar ia bisa menyerahkan tanggungan yang berat itu kepada ayah angkatnya.

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba berkelabat bayangan manusia dan dua orang menghadang di tengah jalan.

Boe Kie dan Wie It Siauw menahan kudanya. Yang mencegat mereka adalah pengemis anggota Kay-pang yang bersenjata tongkat baja dan menggendong karung.

“MInggir!” bentak Wie It Siauw sambil mengedut dan menyabet salah seorang dengan cambuk. Pengemis itu menangkis dengan tongkatnya, sedang kawannya mengeluarkan siulan nyaring seraya mengibaskan tangan kirinya. Tunggangan Wie It Siauw kaget dan berjingkrak. Sesaat itu, dari gombolan pohon-pohon melompat pengemis lain, yang dilihat dari gerakannya berkepandaian cukup tinggi.

“Kauw coe, jalanlah lebih dulu!” seru Ceng-ek Hok-ong. “Biar aku yang melayani kawanan tikus ini.”

Boe Kie dongkol bukan main. Pencegatannya itu membuktikan bahwa Boe tong-pay benar-benar menghadapi bencana. Dengan mengingat bahwa Wie It Siauw memiliki ilmu ringan badan yang sangat tinggi sehingga andaikata ia tidak bisa memperoleh kemenangan sedikitnya ia masih bisa menyelamatkan diri, maka Boe Kie segera menjepit perut kuda dengan kedua lututnya dan binatang itu segera lompat menerjang.

Dua orang pengemis mencoba merintangi dengan tongkatnya. Sambil mencondongkan badannya, Boe Kie menangkap kedua tongkat itu lalu dilemparkan. Hampir bersamaan kedua pengemis itu mengeluarkan teriakan kesakitan dan roboh di tanah karena tulang betisnya patah terpukul tongkatnya sendiri. Boe Kie sebenarnya tidak berniat melukai orang, tetapi karena melihat empat pengemis yang baru datang dan berkepandaian tinggi, maka ia terpaksa turun tangan untuk membantu Wie It Siauw.

Meskipun Siong san dan Boe tong san terletak di dua propinsi yang berlainan, tapi lantaran yang satu berada di Ho-lam barat dan yang lain berada di Ouw-ak utara, maka jarak antara kedua gunung itu tak begitu jauh. Sesudah melewati Ma san-kauw, daerah di sebelah selatan adalah tanah datar sehingga kuda bisa lari lebih cepat. Kira-kira tengah hari setelah melalui Lweehiang, Boe Kie segera berhenti di satu pasar untuk membeli makanan guna menahan perut.

Selagi makan ia mendadak mendengar pekik kesakitan dari kudanya. Ia menengok dan dengan terkejut ia melihat sebatang pisau tertancap di perut kuda dan berkelabat bayangan manusia yang coba melarikan diri. Tak salah lagi, binatang itu ditikam orang tersebut. Dengan beberapa lompatan Boe Kie berhasil membekuk orang itu yang ternyata juga seorang murid Kay-pang denagn baju berlepotan darah kuda. Dengan gusar Boe Kie menotok Toa-tio-hiatnya supaya ia menderita tiga hari tiga malam lamanya.

Boe Kie menjadi bingung kudanya mati dan ia tak punya uang lagi. Tapi waktu menggeledah tawanannya ia mendapatkan seratus tail perak lebih. “Kau sudah membunuh kudaku biarlah aku ambil uang ini sebagai gantinya,” katanya. Ia pergi ke pasar dan secara kebetulan ia bertemu kuda yang sikapnya garang. Sesudah melemparkan seratus tail perak lebih di tanah, tanpa memperdulikan si pemilik kuda, ia melompat ke punggung kuda yang lalu dilarikannya sekencang-kencangnya.

Tak lama kemudian ia tiba di Sam koan-tian, di tepi sungai Han-soei. Sungguh untung di pinggir sungai kelihatan berlabuh sebuah perahu eretan besar. Sambil menuntun kudanya ia turun ke perahu dan minta diseberangi.

Selagi perahu melaju di tengah sungai, di depan mata Boe Kie terbayang kejadian di masa lampau. Ia ingat, sekembalinya dari Siauw lim sie, waktu lagi menyeberangi Han-soei bersama Thay soehoe ia bertemu Siang Gie Coe dan kemudian menolong nona Sie Coe. Dengan pikiran melayang ia mengawasi air sungai yang berombak.

Mendadak ia tersadar dari lamunannya karena perahu bergoyang-goyang. Dengan kaget ia menyadari bahwa perahu bocor, air menerobos masuk dari sebuah liang. Sebagai orang yang pernah menghuni pulau Peng-hwee to, ia pandai berenang. Tapi bila perahu tenggelam perjalanannya jadi terlambat.

Ia memutar badan dan melihat si juragan perahu sedang mau melompat ke dalam air dengan bibir tersungging senyuman mengejek. Gerakan Boe Kie cepat luar biasa. Dengan sekali melompat, ia sudah menjambret pakaian orang itu yang lalu ditotok sehingga dia berteriak-teriak. “Lekas kayuh!” bentak Boe Kie. “Kalau kau mau gila lagi, kusodok kedua biji matamu!” Sesudah mendengar ucapan itu, si juragan perahu tidak berani membantah dan segerah mengayuh sekuat-kuatnya. Selagi dia mengayuh, Boe Kie merobek ujung bajunya yang lalu digunakan untuk menyumbat liang kebocoran di dasar perahu.

Sesudah tiba di seberang, sambil mencengkram dada juragan perahu itu, Boe Kie membentak, “Siapa yang suruh kau mencelakai aku?”

Dia ketakutan dan menjawab dengan suara terputus-putus. “Siauw jin…siauw jin…Kay-pang”.”

Tanpa menunggu selesainya jawaban, Boe Kie melompat ke punggung kuda yang lalu dilarikan ke arah selatan.

Cuaca sudah mulai berubah gelap. Sesudah berjalan kira-kira satu jam lagi, kuda itu berlutut karena terlalu lelah. Sambil menepuk-nepuk punggung kuda itu, Boe Kie berkata, “Kuda biarlah kau mengaso di sini. Aku perlu segera meneruskan perjalanan.” Dengan menggunakan ilmu ringan badan ia segera berlari sekencang-kencangnya.

Sesudah lewat tengah malam, selagi enak berlari-lari dengan kecepatan kilat, sayup-sayup ia mendengar suara kaki kuda yang ramai di sebelah depan. Ia menyusul dan melewati rombongan penunggang kuda itu. Karena gelap dan gerakannya sangat cepat, rombongan yang dilewati tidak mendusin. Dilihat dari arahnya, rombongan itu yang terdiri dari dua puluh orang lebih pasti menuju ke Boe tong san. Mereka terus berjalan tanpa berbicara sehingga Boe Kie tidak bisa mendapat keterangan apapun jua tapi lapat-lapat ia melihat bahwa orang-orang itu berbekal senjata. “Mereka tentu mau menyerang Boe tong san,” pikirnya. “Untung juga aku keburu menyusul. Dilihat begini tong-pay belum diserang.”

Berselang setengah jam ia kembali bertemu dengan serombongan orang yang menuju ke Boe tong san. Kejadian itu terulang beberapa kali sehingga ia telah menyusul dan melewati tidak kurang dari lima rombongan orang.

Boe Kie jadi bingung sendiri, “Berapa rombongan yang sudah naik ke atas?” tanyanya di dalam hati. “Apa mereka sudah bertempur dengan partaiku?” Secara resmi ia sebenarnya belum menjadi murid Boe tong, tapi karena ayahnya ia selalu menganggap dirinya sebagai seorang anggota Boe tong-pay.

Dalam bingungnya, ia lari makin cepat. Ketika tiba di tengah-tengah gunung, di sebelah depan tiba-tiba terdengar suara bentakan dan teriakan. Dengan mengambil jalan mutar, ia bersembunyi. Di lain saat ia lihat bayangan hitam yang sedang kejar-mengejar di depan, tiga menggenakan baju putih mengejar dari belakang.

“Kepala gundul! Perlu apa kau naik ke Boe tong san?” teriak salah seorang yang mengejar.

“Usahamu untuk menyampaikan berita tidak ada gunanya,” sambung yang lain. Hampir bersamaan terdengar suara “serrr…serrr…serrr” dan beberapa senjata rahasia menyambar ke arah orang yang dikejar. Di dengar dari suaranya, orang yang melepaskan senjata rahasia bukan sembarang orang.

“Kalau begitu dia sahabat,” pikir Boe Kie. “Aku harus mencegat ketiga pengejar itu.” Ia melompat dan menyembunyikan diri di belakang pohon.

Di lain saat, orang yang dikejar sudah lewat di depannya. Orang itu gundul kepalanya, benar seorang hwee-shio. Ia memegang golok yang warnanya kehitam-hitaman dan larinya terpincang-pincang, rupanya ia sudah terluka.

Tiga pengejarnya mengikuti dengan cepat. Mereka bersenjata tombak bercagak dan Boe Kie mengenali bahwa mereka itu orang-orang Kay Pang tapi memakai baju putih yang biasa dipakai oleh anggota Beng-kauw.

Darah boe Kie bergolak, “Ayah sering menceritakan bahwa dahulu di bawah pimpinan Kioe cie Sin kay Ang Cit Kong, Kay-pang adalah sebuah partai yang dihormati dan disegani dalam rimba persilatan,” katanya dalam hati. “Siapa nyana sekarang partai itu sudah berubah tidak keruan.”

Sementara itu, si pendeta lari terus dengan langkah limbung. “Kepala gundul, berhenti kau!” teriak seorang pengejar. “Siauw lim-pay-mu sudah musnah semuanya. Apa yang bisa diperbuat olehmu seorang diri? Paling baik kau takluk. Beng-kauw bersedia untuk mengampuni.”

Boe Kie jadi makin gusar.

Karena merasa tidak bisa lari lebih jauh, pendeta itu berhenti memutar badan dan membentak seraya melintangkan goloknya. “Manusia siluman! Aku mau lihat sampai kapan kamu masih bisa berbuat sewenang-wenang. Sekarang aku mau mengadu jiwa dengan kamu.”

Ketika anggota Kay-pang itu segera mengurung si pendeta dan menyerang secara hebat. Tapi pendeta itu ternyata berkepandaian cukup tinggi dan melawan dengan gagah. Sesudah bertempur beberapa lama, sambil membentak keras pendeta itu membacok bagaikan kilat dan golok mampir tepat di lengan kiri seorang lawannya. Selagi musuh-musuhnya kaget, ia membabat lagi dan sekali ini berhasil melukai pundak seorang musuh lainnya. Sesudah dua kawannya luka, yang ketiga buru-buru angkat kaki.

Tanpa mengaso lagi pendeta itu lalu mendaki gunung secepatnya.

“Permusuhan antara Beng-kauw dan Siauw lim serta Boe tong masih belum selesai dan dengan adanya siasat busuk ini permusuhan akan menghebat,” pikir Boe Kie. “Kalau aku tunjukkan muka, urusan mungkin akan lebih sulit. Paling baik aku menguntit dan bertindak dengan mengimbangi keadaan.” Berpikir begitu, dengan menggunakan ilmu ringan badan, ia mengikuti di belakang pendeta itu.

Waktu hampir mencapai puncak, tiba-tiba terdengar di belakang, “Sahabat dari mana yang datang berkunjung?” Bentakan itu disusul dengan melompat keluarnya empat orang, dua imam, dua orang biasa dari belakang batu-batu gunung. Mereka adalah murid-murid turunan ketiga dan keempat dari Boe tong-pay.

Sambil merangkap kedua tangannya, pendeta itu menjawab. “Kong-siang pendeta Siauw lim, mohon berjumpa dengan Thio Cin-jin dari Boe tong-pay untuk suatu urusan yang sangat penting.”

Mendengar nama “Kong-siang”, Boe Kie agak terkejut. “Kedudukan pendeta itu ternyata setingkat dengan ketiga Seng ceng (pendeta suci) dari Siauw lim sie Hong thio Kong-boen, Kong-tie dan Kong-seng. Tidak heran kalau ilmu silat begitu tinggi. Dia benar seorang ksatria,” pikir Boe Kie. “Tanpa memperdulikan bahaya dan lelah, dia datang ke Boe tong untuk menyampaikan berita.”

“Tay soe tentu capai, masuklah untuk minum secangkir teh,” kata salah seorang murid Boe tong.

Selagi berjalan, Kong-siang menyerahkan goloknya kepada salah seorang too-jin sebagai tanda menghormati bahwa ia tidak berani masuk ke dalam kuil dengan membawa senjata.

Boe Kie pernah berdiam di Boe tong san. Dengan rasa terharu ia melewati pohon rohon dan batu-batu yang dikenalnya. Keenam murid Boe tong itu lalu mengajak tamunya masuk ke dalam Sam ceng tian dan Boe Kie segera bersembunyi di luar jendela untuk mengamat-amati.

“Too-tiang, lekaslah memberi laporan kepada Thio Cin-jin,” kata Kong-siang. “Urusan ini sangat penting dan tidak boleh ditunda-tunda.”

“Taysoe datang pada waktu yang tidak tepat,” kata si imam dengan suara menyesal. “Tahun yang lalu Soe coe menutup diri dan sampati sekarang sudah setahun lebih. Kami sendiripun sudah lama tidak pernah bertemu muka dengan orang tua itu.”

Alis Kong-siang berkerut, “Kalau begitu, biarlah aku menemui saja Song Thay-hiap,” katanya.

Too-jin itu menggeleng-gelengkan kepala. “Toa soe-peh belum pulang,” jawabnya. “Sebagaimana Taysoe tahu bahwa Toa soe-peh, Soe hoe dan para Soe siok bersama partai Taysoe sendiri telah pergi menyerang Beng-kauw. Sampai sekarang mereka belum pulang.”

Boe Kie kaget. Ia sekarang tahu bahwa rombongan Boe tong-pay pun belum kembali dan terdapat kemungkinan besar para pamannya mendapat bencana atau sedikitnya mendapat halangan di tengah jalan.

Kong-siang menghela nafas, “Dilihat begini Boe tong-pay bakal sama nasibnya dengan Siauw lim-pay dan hari ini sukar meloloskan diri dari mara bahaya,” katanya dengan suara duka.

Si imam yang tidak mengerti maksud pertanyaan itu segera berkata, “Segala urusan partai kami untuk sementara diurus oleh Tong hian soe Soe-heng. Aku bisa melaporkan padanya.”

“Murid siapa Tong hian Too-tiang?” tanya Kong-siang. Paras muka pendeta itu berubah terang.

“Biarpun Jie Sam-hiap cacat, ia seorang pandai,” katanya. “Biarlah aku bicara dengan Jie Sam-hiap saja.”

“Baiklah, aku akan menyampaikan keinginan Taysoe,” kata too-jin itu sambil masuk ke dalam.

Dengan roman tidak sabaran, Kong-siang jalan mondar-mandir dalam ruangan itu. Kadang-kadang ia berhenti dan memasang kuping, kalau-kalau musuh sudah tiba.

Tak lama kemudian too-jin yang tadi keluar dengan tergesa-gesa, “Jie Samsoe siok mengundang Taysoe,” katanya seraya membungkuk. “Samsoe siok memohon maaf bahwa ia tidak bisa keluar untuk menyambut Taysoe.”

Sikap too-jin itu sekarang lebih banyak manis daripada tadi. Mungkin sekali, sesudah mendengar bahwa yang datang berkunjung adalah seorang pendeta Siauw lim dari tingkatan “Kong” Jie Thay Giam sudah memesan supaya dia berlaku hormat terhadap tamu itu.

Boe Kie sebenarnya sangat ingin mengintip dari jendela kamar pamannya, tapi ia segera membatalkan niatnya itu. “Sesudah kaki tangannya lumpuh, kuping dan mata Sam soepeh lebih hebat daripada manusia biasa,” pikirnya.

“Kalau kau mendengar di luar jendela, ia pasti akan mengetahui.” Berpikir begitu, ia lalu berdiri di tempat yang berjarak beberapa tombak dari kamar Jie Thay Giam.

Kira-kira sepeminuman teh dengan tersipu-sipu si imam keluar dari kamar. “Ceng-hong! Beng-goat!” teriaknya. “Kemari!”

Dua too-tong (imam kecil) menghampiri dengna berlari-lari, “Ada apa Soesiok?” tanyanya.

“Sediakan kursi tandu, Sam soesiok mau keluar,” jawabnya.

Kedua too-tong itu mengiyakan dan segera berlalu untuk mengambil kursi tandu.

Tie-kek Too-jin (imam penyambut tamu) yang menyambut Kong-siang adalah murid baru dari Jie Lian Cioe. Boe Kie tidak mengenalnya, karena pada waktu ia berada di Boe tong san imam itu belum menjadi murid. Tapi ia mengenal Ceng-hong dan Beng-goat. Ia pun tahu bahwa saban kali Jie Thay Giam mau keluar, paman itu selalu digotong dengan kursi tandu oleh mereka.

Melihat too-tong itu masuk ke kamar kursi tandu, ia lantas mengikuti dari belakang. Tiba-tiba ia menegur, “Ceng-hong, Beng-goat, apa kalian masih mengenaliku?”

Mereka terkejut dan mengawasi. Mereka merasa bahwa mereka sudah pernah bertemu dengan orang yang menegur itu tapi mereka lupa siapa orang itu.

Boe Kie tertawa dan berkata, “Aku Boe Kie, Siauw soesiok-mu! Apa kau lupa?”

(Siauw soesiok artinya Paman kecil)

Mereka segera mengenali. Mereka girang tak kepalang. “Aha! Siauw soesiok pulang!” seru yang satu. “Apa kau sudah sembuh?”

Usia mereka bertiga kira-kira sepantaran. Dulu waktu Boe Kie di Boe tong san, mereka bersahabat dan sering bermain bersama-sama, main petak umpet, adu lari, adu jangkrik, tangkap kodok dan sebagainya. Pertemuan yang tidak diduga-duga tentu saja menggirangkan.

“Ceng-hong, aku ingin menyamar sebagai kau dan ingin menggantikan tugasmu menggotong. Apa Sam soepeh kenali aku atau tidak.”

Ceng-hong ragu, “Aku bisa dimarahi”,” katanya.

“Tak mungkin!” kata Boe Kie, “Melihatku pulang dengan sehat, Sam soepeh tentu kegirangan. Mana ia ada waktu untuk mengusir kau?”

Kedua too-tong itu tahu bahwa semua pemimpin Boe tong-pay dari Couw soe sampai pada Boe tong Cit-hiap sangat mencintai paman kecil itu. Sekarang mendadak Siauw soesiok itu pulang dalam keadaan sembuh. Kejadian ini tentu saja kejadian yang sangat menggirangkan. Maka itu mereka berpikir, “Apa halangannya kalau si paman kecil mau berguyon sedikit untuk menggirangkan hati Jie Thay Giam yang sedang sakit?”

“Baiklah Siauw soesiok, kami menurut saja,” kata Beng-goat.

Sambil tertawa ha ha hi hi Ceng-hong segera membuka pakaian imamnya, sepatu dan kaus kakinya yang lalu diserahkan kepada Boe Kie. Sementara itu Beng-goat membuat kundai imam di kepala sang paman. Dalam sekejap seorang kong-coe yang tampan sudah berubah menjadi seorang too-tong.

“Siauw soesiok, tak bisa kau menyamar sebagai Ceng-hong sebab mukamu sangat berlainan,” kata Beng-goat. “Begini saja, kau mengaku sebagai seorang murid baru dan menggantikan Ceng-hong yang keseleo kakinya. Tapi kau harus mempunyai nama. Nama apa yang baik?”

Sesudah berpikir sejenak Boe Kie berkata sambil tertawa, “Ceng-hong meniup daun-daun jatuh. Biarlah aku menggunakan nama Sauw-cap.” (Ceng-hong Angin, Sauw-yan Menyapu daun)

Kedua too-tong itu tertawa nyaring. Ceng-hong menepuk-nepuk tangan dan berseru, “Bagus!…Sungguh bagus nama itu!”

Selagi mereka bersenda gurau, tiba-tiba terdengar teriakan si too-jin penyambut tamu, “Hei, lagi apa kamu? Mengapa belum juga keluar?”

Boe Kie dan Beng-goat buru-buru memikul kursi tandu dan pergi ke kamar Jie Thay Giam. Dengan hati-hati mereka mengangkat Jie Sam-hiap dan merebahkannya di kursi. Pendekar Boe tong itu kelihatannya diliputi kedukaan dan ia tidak memperhatikan kedua too-tong tersebut.

“Pergi ke belakang gunung, ke tempat Couw soeya,” katanya.

Mereka segera memikul kursi tandu itu dan berangkat. Beng-goat berjalan di depan dan Boe Kie di belakang sehingga Jie Thay Giam hanya melihat punggung Beng-goat. Kong-siang sendiri berjalan di samping tandu. Karena diminta oleh sang paman, too-jin penyambut tamu itu tidak ikut.

Thio Sam Hong menutup diri dalam sebuah gubuk kecil, di hutan bambu di belakang gunung. Tempat itu sunyi senyap kecuali suara burung dan binatang-binatang kecil tidak terdengar suara apapun juga.

Setibanya di depan gubuk Beng-goat dan Boe Kie menghentikan langkah. Baru saja Jie Thay Giam mau memanggil, dari dalam gubuk mendadak terdengar sang guru, “Seng ceng Siauw lim-pay yang mana yang datang berkunjung? Aku minta maaf bahwa aku tidak dapat menyambut dari tempat jauh.” Hampir bersamaan pintu bambu terbuka dan Thio Sam Hong berjalan keluar.

Kong-siang kaget. “Bagaimana ia tahu bahwa yang datang adalah pendeta dari Siauw lim sie?” tanyanya di dalam hati. “Ah! Mungkin ia sudah diberitahukan oleh too-jin penyambut tamu itu.”

Tapi Jie Thay Giam tahu bahwa berkat ilmunya yang sangat tinggi, dengan hanya mendengar suara langkah kaki Kong-siang, sang guru sudah bisa menebak partai dari orang yang sedang mendatangi itu, bahkan bisa menebak juga tinggi rendahnya kepandaian itu. Tapi kali ini tebakan Thio Sam meleset sedikit. Ia menduga yang datang adalah salah seorang dari ketiga pendeta suci Siauw lim sie.

Di lain pihak Lweekang Boe Kie lebih tinggi banyak dari Kong-siang. Oleh karena itu dia bisa menyembunyikan gerak-geriknya dari pendengaran Thio Sam Hong, sebab pada hakekatnya seseorang yang Lweekangnya sudah mencapai tingkat tertinggi bisa berbuat sedemikian rupa sehingga yang “berisi” menjadi “kong”, yang “ada” menjadi “tidak ada”.

Dengan jantung memukul keras, Boe Kie mengawasi paras muka Thay soehoenya. Muka itu tetap bersinar merah tapi dengan rambut dan jenggotnya yang putih semua, paras itu kelihatan lebih tua daripada delapan sembilan tahun berselang. Ia girang bercampur terharu dan tanpa terasa air matanya mengalir keluar. Cepat-cepat ia melengos.

Kong-siang merangkap kedua tangannya, “Kong-siang pendeta Siauw lim sie, menghadap Boe tong Cianpwee Thio Cin-jin,” katanya.

Guru besar itu membalas hormat, “Aku tak berani menerima pujian yang sedemikian tinggi,” katanya. “Taysoe tak usah menggunakan banyak peradatan. Masuklah.”

Mereka berlima segera melangkah masuk. Dalam ruangan gubuk hanya terdapat sebuah meja dan di atas meja sebuah poci teh dan sebuah cangkir. Di lantai tergelar selembar tikar dan di dinding tergantung sebatang pedang kayu. Hanya itulah, tak ada apa-apa lagi.

“Thio Cin-jin,” kata Kong-siang dengan suara berduka. “Siauw lim-pay telah mengalami bencana hebat yang belum pernah dialami selama ribuan tahun. Mo-kauw telah menyerang dengan mendadak. Semua anggota Siauw lim-pay yang berada di dalam kuil dari Hong thio Kong boe Soe-heng sampai pada pendeta yang tingkatannya paling rendah, kecuali aku sendiri tidak ada yang lolos. Mereka binasa atau ditawan musuh. Hanya Siauw ceng sendiri yang luput dan siang malam Siauw ceng kabur ke sini. Serombongan Mo-kauw yang berjumlah besar sedang menuju ke Boe tong san. Mati hidupnya rimba persilatan Tiong goan sekarang berada dalam tangan Thio Cin-jin seorang.” Sehabis berkata begiut ia menangis sedih sekali.

Biarpun Thio Sam Hong berilmu tinggi dan berusia seabad lebih, mendengar laporan itu ia terkesiap. Untuk sejenak ia mengawasi Kong-siang dengan mulut ternganga. Sesudah ia menentramkan hatinya lalu ia berkat, “Dalam Siauw lim sie banyak orang yang pandai. Bagaimana kalian sampai mendapat kesukaran begitu besar?”

“Sebagaimana Thio Cin-jin tahu, Kong-tie dan Kong-seng, Jie-wie Soe-heng dan para murid Siauw lim sie bersama-sama lima partai besar telah pergi ke daerah barat untuk menumpas Mo-kauw,” kata Kong-siang.

“Entah bagaimana mereka dikalahkan, mereka tertawan”.”

Boe Kie terkejut, “Siapa musuh itu?” tanyanya dalam hati.

Sesudah berdiam sejenak, Kong-siang meneruskan penuturannya. “Pada saat kami mendapat laporan bahwa rombongan yang menyerang Mo-kauw telah pulang. Hong thio Kong-boen Soe-heng sangat girang dan lalu keluar menyambut dan membawa murid Siauw lim sie. Kong-tie dan Kong-seng Soe-heng dan yang lainnya lantas saja masuk ke dalam kuil dan selain mereka juga terdapat kurang lebih seratus tawanan. Waktu itu berada di dalam perkarangan kuil, Kong-boen Soe-heng lalu menanyakan perihal berhasilnya keenam partai dalam usaha membasmi Mo-kauw. Kong-tie Soe-heng memberikan jawaban yang tidak terang. Mendadak Kong-seng Soe-heng berteriak, “Soe-heng, awas! Kami semua telah jatuh ke tangan musuh. Semua tawanan adalah musuh!….” Sebelum Hong thio bisa berbuat apa-apa semua tawanan sudah menghunus pedang dan menyerang. Lantaran gugup dan tak membawa senjata, kami segera terdesak. Semua pintu sudah ditutup musuh. Suatu pertempuran yang sangat hebat, kami terbasmi, Kong-seng Soe-heng sendiri binasa”.” Ia tak bisa meneruskan perkataannya lalu menangis sesegukan.

Thio Sam Hong sangat berduka, “Sungguh jahat!” katanya sambil menghela nafas berulang-ulang.

Sementara itu Kong-siang mengambil buntalan yang digendong di punggungnya. Ia lalu membuka buntalan itu yang di dalamnya terdapat bungkusan kain minyak, semua orang terkesiap karena di dalamnya terdapat satu kepala manusia, kepala Kong-seng Taysoe salah seorang dari Siauw lim Seng ceng!

Dengan bersamaan Thio Sam Hong, Jie Giam dan Boe Kie mengeluarkan teriakan kaget.

“Dengan mati-matian aku berhasil merebut jenazah Kong-seng Soe-heng,” kata Kong-siang dengan air mata bercucuran. “Thio Cin-jin, bagaimana caranya kita harus membalas sakit hati yang besar ini?” Seraya berkata begitu ia berlutut di hadapan Thio Sam Hong. Guru besar itu membungkuk untuk membalas hormat.

Rasa duka dan gusar mengaduk dalam dada Boe Kie. Ia ingat bahwa dalam pertempuran di Kong beng-teng Kong-seng Taysoe telah memperlihatkan ksatriaannya dan sifat-sifatnya yang agung sehingga ia boleh tak usah malu menjadi seorang guru besar dari Siauw lim-pay itu. Siapa nyana ksatria telah binasa dalam tangannya manusia-manusia terkutuk.”

Melihat Kong-siang masih mendekam di lantai sambil menangis, Thio Sam Hong mengangsurkan kedua tangannya dan mengangkatnya seraya berkata, “Kong-siang Soe-heng, Siauw lim dan Boe tong pada hakekatnya adalah sekeluarga. Sakit hati ini tidak bisa tidak dibalas.”

Bersamaan dengan perkataan “dibalas” mendadak saja Kong-siang mengangkat kedua telapak tangannya dan menghantam ke punggung Thio Sam Hong!

Itulah kejadian yang takkan diduga oleh siapapun juga, Thio Sam Hong seorang guru besar yang berpengalaman sangat luas. Tapi iapun tak pernah mimpi bahwa seorang pendeta beribadat dari Siauw lim sie yang mempunyai sakit hati hebat dan dari tempat jauh untuk menyampaikan kabar penting bisa memukul dirinya.

Dalam sedetik, pada saat Kong-siang baru menyentuh punggungnya, ia bahkan menduga bahwa karena terlalu berduka, pendeta itu jadi was-was dan menganggap ia sebagai seorang musuh. Tapi di detik lain ia terkesiap.

Pukulan itu adalah Kam kong Pan jiak ciang dari Siauw lim-pay dan Kong-siang telah menghantam dengan seluruh tenaganya. Muka pendeta itu pucat bagaikan kertas tapi pada bibirnya tersungging senyuman mengejek.

Melihat kejadian ini kagetnya Jie Thay Giam, Boe Kie dan Beng-goat bagaikan disambar halilintar. Mereka terpaksa dan mengawasi dengan mulut ternganga. Karena cacat, Thay Giam tak dapat membantu gurunya. Untuk beberapa detik, Boe Kie yang belum berpengalaman masih belum mendusin bahwa dengan pukulan itu si pendeta mencoba mengambil jiwa Thay soehoe-nya.

Sebelum mereka bergerak, Thio Sam Hong sudah angkat tangan kirinya dan menepuk batok kepala Kong-siang. Berbarengan dengan suara “plak” tepuknya yang kelihatan enteng itu sudah menghancurkan kepala si pendeta yang segera roboh tanpa bersuara lagi.

Dengan latihan hampir seabad, Lweekang guru besar itu sukar diukur bagaimana tingginya. Meskipun Kong-siang seorang dengan ilmu kelas satu, ia masih tak mampu melawan tepukan yang enteng itu.

Sesudah hilang kagetnya, Jie Thay Giam teriak, “Soehoe! Kau”.” Ia tak meneruskan perkataannya sebab sang guru sudah pejamkan kedua matanya dan dari kepalanya keluar uap putih, satu tanda bahwa guru besar itu sudah mengerahkan Lweekang untuk mengobati lukanya. Beberapa saat kemudian, mendadak Sam Hong membuka mulutnya dan memuntahkan darah.

Boe Kie kaget bukan kepalang. Ia sekarang tahu bahwa Thay soehoe menderita luka berat. Kalau darah itu berwarna ungu hitam maka dengan mempunyai Lweekang yang tinggi kesehatan guru besar itu akan segera pulih. Tapi darah yang barusan dimuntahkan adalah darah segar. Ini merupakan petunjuk bahwa isi perut Sam Hong sudah terluka hebat.

Sesaat itu beberapa ingatan keluar masuk dalam otaknya. Apa yang harus diperbuatnya? Apa sebaiknya ia segera memperkenalkan diri dan menolong Thay soehoenya?

Sebelum ia bisa mengambil keputusan, di luar pintu mendadak terdengar suara langkah kaki. Langkah itu cepat sekali datangnya tapi segera berhenti di luar pintu. Orang itu yang rupanya sedang kebingungan tak berani membuka suara.

“Siapa? Apa Cong-hian? Ada apa?” tanya Thay Giam.

“Benar,” jawab too-jin penyambut tamu itu. “Melaporkan kepada Sam soesiok bahwa sejumlah besar musuh sudah berkumpul di luar kuil. Mereka mengenakan seragam Mo-kauw. Mereka mau bertemu dengan Couw soe Ya ya dan mereka mengeluarkan perkataan-perkataan kotor, mereka bilang mau injak Boe tong-pay sampai jadi tanah rata.”

“Diam!” bentak Thay Giam. Ia kuatir gurunya jadi lebih sakit karena laporan itu.

Perlahan-lahan Thio Sam Hong membuka kedua matanya dan berkata dengan suara perlahan. “Kim kong Pan jiak ciang benar-benar hebat. Untuk sembuh aku harus beristirahat tiga bulan lamanya.”

“Kalau begitu Thay soehoe menderita luka lebih berat dari dugaanku,” kata Boe Kie di dalam hati.

“Dalam serangannya ini, Beng-kauw pasti sudah membuat persiapan sempurna,” kata Sam Hong pula. “Hai! Bagaimana dengan Wan Kiauw Lian Cioe dan yang lain-lain? Thay Giam, apa yang harus kita perbuat?”

Si murid tak menyahut. Ia mengerti bahwa kecuali sang guru dan ia sendiri, murid-murid Boe tong lainnya, murid-murid turunan ketiga dan keempat tak akan mampu menahan musuh dan mereka hanya akan membuang jiwa dengan sia-sia. Maka itu, jalan satu-satunya adalah mengorbankan jiwa sendiri supaya sang guru bisa menyingkirkan diri untuk mengobati lukanya, untuk membalas sakit hati di kemudian hari. Berpikir begitu, ia segera berkata dengan suara nyaring, “Cong-hian, beritahukan orang-orang itu bahwa aku akan segera keluar untuk menemui mereka. Minta mereka tunggu di Sam cong tian.”

“Baiklah,” kata Cong-hian yang lalu berjalan pergi.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: