Kumpulan Cerita Silat

26/08/2008

Kisah Membunuh Naga (46)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:12 am

Kisah Membunuh Naga (46)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Menurut dugaannya, rombongannya itu merupakan bala bantuan yang datang belakangan, sebab ia melihat mereka waktu berada di Kong beng teng. Ia sendiri tak bisa menebak, mengapa mereka turunkan tangan beracun itu. Sekian antara lain penuturan In Lie-Heng.

Selama dalam perjalanan, Poet Hwie merawat Lie Heng dengan telaten. Si nona tahu, bahwa mendiang ibunya telah mengecewakan pendekar Boe tong itu. Melihat keadaan orang tua itu yang sangat menyedihkan, rasa kasihannya jadi semakin besar.

Hari itu di waktu magrib, rombongan Boe Kie tiba di Eng teng. Dari Eng teng mereka membedal kuda, sebab ingin buru-buru tiba di Kang shia coe untuk menginap.

Sekonyong-konyong, dari kejauhan mendatangi dua penunggang kuda. Dalam jarak beberapa puluh tombak, mereka melompat turun dan berdiri di pinggir jalan dengan sikap hormat.

Boe Kie dan yang lain-lain segera mengenali, bahwa mereka itu adalah orang-orang yang turut membasmi tentara Goan. Dengan girang para pemimpin Beng kauw segera turun dari tunggangannya mereka.

Kedua orang itu menghampiri Boe Kie dan memberi hormat dengan membungkuk. “Orang atasan kami sangat luhur pada Thio kiauw coe,” kata salah seorang. “Maka itu siauw jin diperintah untuk mengundang kalian datang di tempat kami untuk mengutarakan rasa hormatnya.”

Boe Kie membalas hormat. “Tidak berani kami menerima kehormatan yang begitu besar,” katanya. “Bolehkan aku mendapat tahu she dan nama yang mulia dari atasan kalian?”

“Ia she Tio,” jawabnya. “Tanpa diberi permisi, aku tak berani beritahukan nama nonaku kepada Kauw coe.”

Mendengar pengakuan orang itu, bahwa si kong coe adalah seorang wanita yang menyamar sebagai pria. Semua orang jadi girang, sebab hal itu membuktikan, undangan nona Tio keluar dari hati yang setulusnya.

“Sedari menyaksikan cara kalian melepaskan anak panah, dengan rasa kagum setiap hari kami membicarakan ilmu malaikat itu,” kata Boe Kie, “Hari ini kami merasa sangat beruntung, bahwa kalian sudi mengikat tali persahabatan dengan kami semua.”

“Kalian adalah orang orang gagah sejati pada jaman ini”, kata orang itu. “Hari ini secara kebetulan kalian lewat di tempat kami. Maka itu, mana bisa kami menyia-nyiakan kesempatan untuk mengajak kalian meneguk tiga cawan arak?”

Boe Kie jadi girang. Ia bukan saja ingin bersahabat dengan orang-orang itu, tapi juga ingin menyelidiki pedang Ie thian kiam yang tergantung di pinggang si kong coe tampan. Maka itu lantas saja berkata, “Kalau begitu baiklah, mari kita berangkat.”

Dengan girang kedua orang itu melompat ke punggung kuda dan jalan lebih dahulu sebagai penunjuk jalan. Baru berjalan kira-kira satu li mereka dipapak oleh kedua orang lain.

Jauh-jauh kedua orang itu juga anggota dari Sin-cian Pat-hiong (delapan jago yang bisa melepaskan anak panah bagaikan malaikat) sudah turun dari tunggangannya dan menunggu di pinggir jalan. Sesudah berjalan kurang lebih satu li lagi, mereka disambut oleh empat anggota lain dari Sin cian Pat hiong. Melihat penyambutan yang begitu sungguh-sungguh, para pemimpin Beng Kauw menjadi girang.

Tak lama kemudian mereka tiba di depan sebuah perkampungan besar yang dikitari dengan sebuah sungai dan di pinggir sungai dengan berderet-deret pohon-pohon lioe hijau (leklioe).

Melihat pemandangan Kang lam di daerah Kam liang, para orang gagah terbangun semangatnya.

Hampir berbareng dengan tibanya rombongan Boe Kie, pintu tengah dari perkampungan itu terbuka dan sebuah jembatan gantung diturunkan.

Seorang gadis yang mengenakan pakaian lelaki keluar dengan tindakan lebar dan seraya memberi hormat dengan membungkuk ia berkata, “Kami merasa sangat beruntung, bahwa para orang gagah dari Beng Kauw hari ini datang berkunjung pada Liok lie San coeng. Thio Kauw-coe, selamat bertemu dan masuklah! Yo soe-cian! In Loocian pwee! Wie Hok ong?” Ia menegur setiap orang dan menyebutkan nama-nama dengan tepat sekali, sehingga tak usah diperkenalkan lagi. Bukan saja begitu, ia bahkan tahu runtunan tinggi rendahnya kedudukan para pemimpin Beng kauw itu.

Semua orang kaget. Si sembrono Cioe Tian tak tahan untuk membuka mulut. “Siocia, bagaimana kau tahu nama-nama kami yang rendah?” tanyanya. “Apakah kau mahir dalam ilmu petang-petangan?”

Tio Siocia bersenyum. “Siapa yang tidak mengenal nama para pendekar Beng kauw yang menggetarkan dunia Kang ouw?” katanya. “Dalam pertempuran di Kong beng teng, dengan sinkang yang sangat tinggi, Thio Kauw coe telah menundukkan enam partai besar. Kejadian luar biasa ini dengan cepat sudah diketahui oleh seluruh rimba persilatan. Dalam perjalanan kalian ke wilayah Tionggoan, entah berapa banyak sahabat rimba persilatan akan menyambut kalian. Dalam penyambutan ini, aku yang rendah tentu tak mau ketinggalan.”

Para jago itu merasa, bahwa si nona bicara sebenarnya, tapi mereka lantas merendahkan diri.

Sesudah itu, Boe Kie lalu menanyakan nama-nama Sin cian Pat hiong.

“Aku yang rendah Tio It Siang” jawab salah seorang yang bertubuh tinggi besar. “Yang itu Cian Jie Pay, yang ini Soen Sam Wie. Itu Lie-Sie Coet, Cioe Ngo Siok, Gauw Liok Po, The Cit Biat, dan yang itu yang paling belakang, Ong Pat Swee.”

Semua orang terkejut. She dari kedelapan orang itu adalah menurut runtunan dari she yang terdapat dalam buku Pek kee she (she seratus keluarga), yaitu “Tio, Cian, Soen, Lie, Cioe, Gouw, The dan Ong.”

Di samping itu, nama-nama merekapun sangat luar biasa sehingga dapatlah diduga, bahwa nama-nama mereka bukan nama sejati. Akan tetapi, digunakannya nama samaran dalam dunia Kang-ouw adalah kejadian yang biasa, sehingga Boe Kie pun tak mendesak terlebih jauh.

Dengan manis budi, Tio Siocia mengajak tamu-tamunya masuk ke ruangan tengah.

Di tengah-tengah ruangan itu tergantung sebuah gambar Pat coen touw (delapan kuda) yang sangat indah lukisan Tio Beng Siauw. Ke delapan kuda itu dilukiskan dalam rupa-rupa sikap yang angker serta garang.

Dinding sebelah kiri dipasang selembar sutera yang sangat lebar dengan tulisan yang berbunyi seperti berikut:

“Bianglala putih terbang ke angkasa
Ular hijau bersuara di dalam kotak
Pedang diasah supaya tajam;
Rembulan naik mendekati pintu
Pedang bisa membabat awan di luar langit
Pedang bisa menerjang mencari di angkasa
Pedang menikam perut siluman
Pedang menyabet kepala pengkhianat
Aku bersembunyi untuk menjauhi siluman
Janganlah mengganggu aku, seorang wanita
Pedang harus disimpan untuk membunuh Kauw,
Jangan dijajal untuk “membacok anjing”

Di bawah sajak itu terdapat tulisan dengan huruf-huruf kecil seperti ini:

“Di waktu malam, aku mencoba It-thian Po kiam.
Pedang itu sungguh-sungguh senjata mustika.
Maka itu aku menulis sajak Swee kiam untuk memujinya Pian liang Tio Beng.

Semua huruf itu indah dan angker, seakan naga atau burung Hong.

Ayahanda Boe Kie seorang sasterawan dan ia sendiri mempunyai pengetahuan lumayan dalam Soe hoa (seni menulis huruf indah).

Melihat bahwa dalam keangkerannya, huruf itu mempunyai sifat yang ayu, ia segera mengetahui bahwa penulisnya bukan lain daripada nona Tio sendiri. Ilmu surat Boe Kie tidak tinggi, tapi karena arti sajak itu tak terlalu mendalam, ia masih bisa mengerti bunyinya.

“Dilihat begini, It thian kiam benar berada dalam tangannya,” katanya di dalam hati. “Dalam sajak itu ia mengatakan, bahwa pedang menikam perut siluman, pedang menyabet kepala pengkhianat. Kata-kata ini menunjuk bahwa ia memiliki jiwa ksatria. Tapi pernyataannya bahwa pedang harus disimpan untuk membunuh kauw, jangan dijajal untuk membacok anjing, menunjukkan kesombongan. Pian liang Tio Beng kalau begitu ia orang Pian liang, she Tio bernama Beng.”

Memikir begitu, ia lantas saja berkata, “Tio kouw nio boen boe coan cay. Aku sungguh merasa sangat kagum. Kalau begitu nona berasal dari keluarga sasterawan di ibukota jaman yang lampau.”

Si nona bersenyum. “Ayahanda Thio Kauwcoe yang bergelar Gin kauw Tiat hoa itu barulah merupakan seorang sasterawan kelas satu” katanya. “Thio Kauw coe sendiri tentunya memiliki ilmu surat turunan. Sebentar aku ingin memohon supaya Thio Kauw coe suka menulis sebuah sajak.”

Paras muka Boe Kie lantas saja berubah merah. Waktu baru usia sepuluh tahun kedua orang tuanya meninggal dunia dan ia belum keburu belajar banyak dari mendiang ayahnya. Belakangan ia belajar ilmu ketabiban dan ilmu silat, sedang pengetahuannya dalam ilmu surat dapat dikatakan masih cetek sekali. Maka itu, ia lantas saja berkata, “Kalau Kauw nio meminta aku menulis sajak seperti juga kau minta jiwaku. Sian hoe (mendiang ayahku) meninggalkan aku selagi aku masih kecil dan aku belum keburu memetik pelajarannya. Dalam hal ini, sungguh merasa sangat malu.”

Begitu lekas semua tamu duduk, pelayan segera menyuguhkan teh.

Dengan rasa heran, Yo Siauw dan kawan-kawannya mengawasi cangkir teh. Dalam cangkir-cangkir itu yang berwarna hijau mengambang daun teh Liong ceng yang masih segar dan yang menyiarkan bebauan sedap. Liong ceng adalah teh keluaran Kang lam dan tempat dimana mereka terpisah ribuan li dari Kang lam. Cara bagaimana si nona bisa mendapatkan daun the Liong ceng yang masih segar.

Tio Beng mengangkat cangkirnya terlebih dahulu, meneguk isinya dan kemudian mengundang para tamunya minum. Sesudah beromong-omong beberapa saat, ia berkata, “Kalian datang dari tempat jauh dan untuk pelayanan yang serba kurang ini, aku minta kalian suka memaafkan. Mungkin sekali kalian sudah lapar dan aku mengundang kalian makan saja disini seada-adanya.” Seraya begitu tanpa menunggu jawaban, ia berbangkit dan mengajak para tamunya masuk ke dalam. Sesudah melewati beberapa lorong dan bangunan, tibalah mereka di sebuah taman bunga.

Taman bunga itu yang sangat luas dihias dengan gunung-gunungan batu dan empang-empang. Pohon-pohon kembangnya tidak banyak, tapi diatur secara indah sekali.

Boe Kie sendiri tidak dapat menghargai keindahan taman itu, tapi Yo Siauw, begitu melihatnya lantas saja manggut-manggutkan kepalanya dan di dalam hati ia mengakui, bahwa majikan taman itu benar-benar bukan sembarangan orang.

Di tengah-tengah Soei kok (semacam pendopo yang dikelilingi air) sudah dipasang dua meja perjamuan. Tio Beng segera mengundang Boe Kie dan para pemimpin Beng kauw berduduk di kursi kedua meja itu, sedang Sin cian Pat hiong Tio It Siang, Cian Jie pay dan enam kawannya menemani para anggota Beng kauw di ruangan samping. In Lie Heng sendiri yang belum bisa bergerak disuapi dan dilayani oleh Poet Hwie dalam sebuah kamar.

Sesudah meneguk kering secawan arak, Tio Beng berkata, “Inilah Lie tin coe dari Siauw lin yang usianya sudah delapan belas tahun. Minumlah!”

Yo Siauw, Wie It Siauw, In Thian Ceng dan yang lain-lain percaya, bahwa nona Tio adalah seorang pendekar wanita. Tapi mereka tetap berhati-hati. Mereka memperhatikan poci dan cawan arak yang bebas dari tanda-tanda mencurigakan. Sesudah Tio Siocia menceguk araknya, barulah semua kesangsian hilang dan mereka lalu mulai makan-minum dengan gembira.

Dahulu, anggota Beng kauw dilarang meminum arak atau makan makanan berjiwa. Tapi sedari jaman Cio Kauw coe, peraturan itu dirubah dan larangan dicabut. Sesudah pusat Beng kauw dipindahkan ke gunung Koen loen san, daging dan minyak jadi lebih perlu lagi untuk menahan hawa yang dingin.

Di empang seputar Soei kok terdapat tujuh-delapan pohon bunga yang menyerupai Coei-sian, tapi banyak lebih besar dari Coei-sian dan kembangnya yang berwarna putih menyiarkan bau yang sangat harum.

Nona Tio pandai bergaul dan ia beromong-omong secara bebas. Ia menceritakan banyak kejadian dalam rimba persilatan di wilayah Tionggoan, beberapa di antaranya bahkan tidak diketahui oleh orang-orang yang berpengalaman seperti In Thian Ceng dan puteranya.

Tentang Siauw lim, Go-bie dan Koen-loen tidak banyak dibicarakan olehnya, tapi terhadap Tio Sam Hong dan Boe-tong Cit-hiap, ia mengutarakan rasa kagumnya. Setiap pujian yang diberikan bukan umpakan kosong, tapi pujian tepat yang berdasarkan kenyataan.

Boe Kie dan yang lain-lain merasa senang sekali dan takluk akan pengetahuan si nona yang sangat luas. Tapi kalau mereka balas menanyakan siapa gurunya, Tio Beng hanya tertawa. Ia tidak menjawab atau memutar pokok pembicaraan ke jurusan lain.

Dengan beruntun nona Tio sudah mengeringkan beberapa cawan. Setiap piring sayur yang disuguhkan, ia selalu memakannya terlebih dahulu, sehingga hilanglah segala kecurigaan yang masih terdapat dalam hati para pemimpin Beng kauw. Karena pengaruh arak, kedua pipi si nona bersemu dadu, sehingga ia kelihatannya lebih cantik lagi dan dalam kecantikannya terdapat hawa keangkeran dan kegagahan yang membangkitkan rasa hormat dalam hati semua orang.

“Tio Kouw-nio, kami merasa sangat berterima kasih untuk penyambutanmu yang ramah tamah ini,” kata Boe Kie. “Aku yang rendah sebenarnya ingin mengajukan sebuah pertanyaan, tapi aku tidak berani membuka mulut.”

“Mengapa Thio Kauwcoe menganggap aku sebagai orang luar?” kata si nona. “Kita semua sama-sama berkelana dalam dunia Kangouw. Kata orang: Umat manusia di empat lautan adalah masih saudara. Jika kalian tidak mencela, siauw-moay ingin sekali mengikat tali persahabatan dengan kalian. Kalau Kauwcoe memerlukan suatu keterangan, asal saja siauw-moay tahu, siauw-moay pasti akan memberi penjelasan dengan seterang-terangnya.”

“Kalau begitu baiklah,” kata Boe Kie. “Apa yang ingin aku menanyakan ialah, darimana Tio Kauw-nio mendapat Ie-thian Po kiam itu?”

Tio Beng bersenyum. Ia membuka pedang dari pegangannya dan menaruhnya di atas meja. “Semenjak bertemu tak henti-hentinya kalian mengawasi pedang ini,” katanya. “Mengapa begitu? Apakah Kauw coe bisa memberitahukan sebab musababnya?”

“Ie thian kiam adalah milik Biat coat Soethay dari Go bie pay,” jawabnya. “Saudara-saudara dari agama kami banyak sekali yang binasa di bawah pedang itu. Dadaku sendiri pernah ditikam dengan pedang itu, sehingga hampir-hampir jiwaku melayang. Itulah sebabnya mengapa kami sangat memperhatikannya.”

“Thio Kauw coe mempunyai Sin kang yang tiada tandingannya dalam dunia ini,” kata Tio Beng. “Menurut cerita orang, dengan menggunakan Kian koen Tay lo ie, Thio Kauwcoe telah merampas Ie thian kiam dari tangan Biat coat Soethay. Bagaimana Kauw coe sampai kena dilukai? Selanjutnya siauw moay dengar, bahwa yang melukai Kauw coe adalah seorang murid wanita Go bie pay yang ilmu silatnya tak seberapa tinggi. Hal ini dengan sesungguhnya tidak dapat dimengerti olehku.” Ia mengucapkan kata-kata itu sambil mengawasi Boe Kie dengan sorot mata tajam, sedang di kedua ujung bibirnya tersungging senyuman, tapi bukan senyuman biasa.

Paras muka Boe Kie lantas saja berubah merah. “Dari mana dia tahu kejadian itu?” tanyanya di dalam hati. Dengan paras jengah ia menjawab, “Serangan itu datang dengan tiba-tiba, sedang aku sendiri kurang waspada.”

“Kalau tak salah, Cioe Cie Jiak Cioe Cie cie cantik luar biasa” kata pula si nona sambil tertawa. “Bukankah begitu?”

Selebar muka Boe Kie jadi makin merah. “Ah! Kau suka sekali bercanda,” katanya.

Si Nona mengangkat cawan, tapi sebelum menceguk isinya tangannya bergemetar sehingga sebagian arak tumpah membasahi tangan bajunya.

Si nona bersenyum dan berkata, “Siauw moay tak kuat minum, kalau minum lagi mungkin sekali siauw moay akan melanggar adat. Sekarang saja siauw moay sudah mengeluarkan kata-kata yang tak pantas. Siauw moay ingin minta permisi untuk masuk sebentar guna menukar pakaian dan akan segera kembali. Kalian jangan berlaku sungkan dan makanlah secara bebas.” Seraya berkata begitu, ia berbangkit dan sesudah memberi hormat, ia bertindak keluar dari Soei-kok. Pedang Ie thian-kiam ditinggalkan di atas meja.

Sementara itu, para pelayan terus mengeluarkan piring-piring makanan.

Para pemimpin Beng kauw saling mengawasi dan lantas berhenti makan. Lama juga mereka menunggu, tapi Tio Beng belum juga kembali.

“Dengan meninggalkan pedangnya, ia kelihatannya menaruh kepercayaan penuh atas diri kita,” kata Cio Tian sambil menjemput pedang itu.

Tiba-tiba ia mengeluarkan seruan kaget, “Mengapa begini enteng?” tanyanya. Ia memegang gagangnya dan menariknya.

Tiba-tiba jago-jago itu serentak bangkit dan mengawasinya dengan mata membelalak.

Mengapa? Karena pedang itu bukan terbuat daripada logam tapi hanya sebatang pedang kayu! Badan pedang yang kekuning-kuningan mengeluarkan bau harum dari kayu garu.

Dengan bingung Cioe Tian memasukkannya lagi ke dalam sarung. “Yo… Yo… Co soe. Permainan apa yang sedang dilakukan ini?” tanyanya dengan suara terputus-putus. Biarpun sering bertengkar dengan Yo Siauw, di dalam hati ia selalu mengakui kecerdasan Co coe itu, sehingga dalam bingungnya tanpa merasa ia mengajukan pertanyaan tersebut.

Dengan paras muka berkuatir Yo Siauw berbisik, “Kauw coe, sepuluh sembilan Tio siocia mengandung maksud yang kurang baik. Kita sekarang berada di tempat bahaya dan jalan yang paling baik ialah menyingkir secepat-cepatnya.”

“Takut apa?” bentak Cioe Tian. “Kalau mereka main gila, apakah kita yang berjumlah begini besar, masih tak cukup untuk menghajarnya?”

“Sedari masuk di Lek lioe-chung, aku merasa tempat ini diliputi dengan teka-teki,” kata Yo Siauw tanpa meladeni Cioe Tian. “Mau dikata tempat orang baik-baik, kelihatannya bukan tempat orang baik-baik. Mau dikata sarang penjahat, bukan sarang penjahat. Aku tidak dapat menerka tempat apa sebenarnya Lek lioe chung ini. Biar bagaimanapun jua, aku tidak dapat menghilangkan perasaan bahwa kita sekarang berada di tempat yang sangat berbahaya. Kauw coe sebaiknya kita angkat kaki.”

“Yo Co coe, kau benar,” kata Boe Kie. “Sekarang saja kita berpamitan.” Seraya berkata begitu, ia berbangkit.

“Kauw coe, apakah kau tak mau menyelidiki kemana perginya Ie-thian kiam yang tulen?” tanya Tiat-koan Too-jin.

“Menurut pendapatku, semua teka-teki ini telah diatur oleh Tio-soe-cia,” kata Pheng Eng Giok. “Dia pasti mempunyai maksud tertentu. Andai kata kita tak cari dia, dia tentu akan cari kita.”

“Tak salah,” katanya. “Kita harus menggunakan siasat. Menguasai lawan dengan bertindak belakangan, menunggu letihnya musuh dengan menyembunyikan diri.”

Semua orang lantas saja meninggalkan Soei-kok, kembali ke toa thia dan meminta supaya beberapa pegawai yang bertugas di situ melaporkan kepada nona Tio, bahwa para tamu dari Beng kauw menghaturkan terima kasih dan berpamitan.

Tio Beng buru-buru keluar. Ia sekarang mengenakan baju dari sutera kuning, sehingga kelihatannya jadi lebih ayu lagi. “Baru saja kita bertemu, mengapa kalian sudah mau berangkat lagi?” tanyanya. “Apakah penyambutan siauw-moay tidak memuaskan?”

“Janganlah Kauw-nio mengatakan begitu,” jawab Boe Kie. “Kami sangat merasa berterima kasih atas budi kecintaan Kauw-nio. Mana bisa jadi kami mencela kesambutan yang begitu ramah-tamah? Kami perlu segera berangkat sebab mempunyai tugas yang sangat penting. Di belakang hari kita pasti akan bertemu lagi.”

Bibir si nona bergerak, ia seperti mau bersenym, tapi bukan bersenyum biasa. Ia mengantar semua tamunya sampai di pintu depan, sedang Sin-cian Pat-hiong berdiri di pinggir jalan dengan sikap hormat.

Sesudah menyoja, Boe Kie dan rombongannya lantas saja melompat ke punggung kuda dan tanpa bicara lagi, mereka melarikan tunggangan-tunggangan itu.

Tidak lama kemudian mereka itu sudah terpisah amat jauh dari Lek-lioe chung dan tiba di sebelah tanah datar dan sepi.

“Nona itu mungkin tak mempunyai maksud jahat,” kata Cioe-Tian dengan tiba-tiba. “Bisa jadi, dengan pedang kayu itu ia hanya ingin berguyon dengan Kauw coe. Yo-heng, kali ini kau salah mata.”

Yo Siauw tak lantas menjawab. Alisnya berkerut dan beberapa saat kemudian barulah berkata, “Akupun tak bisa mengatakan, tidak bisa menebak, apa maksud nona itu yang sebenarnya. Aku hanya merasa, bahwa ada sesuatu yang kurang beres.”

Cioe Tian tertawa nyaring. “Ha-ha! Yo Co soe yang namanya besar, baru saja bergebrak sekali di Kong beng teng sudah berubah menjadi seorang penakut. Aduh…” Badannya mendadak bergoyang-goyang dan ia terjungkal dari tunggangannya.

Swee Poet Tek yang berada paling dekat lantas saja melompat turun dan membangunkannya. “Cioe heng, mengapa kau?”

Cioe Tian tertawa. “Tidak” tidak apa-apa,” jawabnya. “Sebab minum terlalu banyak, kepalaku agak pusing.”

Berbareng dengan terdengarnya perkataan “pusing”, paras muka para pemimpin Beng Kauw lantas saja berubah pucat. Sedari meninggalkan Lek-lioe chung, mereka semua memang sudah merasa agak pusing. Karena menganggap bahwa perasaan itu adalah akibat arak, mereka tidak memperdulikan. Tapi Cioe Tia yang terkenal kuat minum dan mempunyai Lweekang tinggi, tak mungkin bisa roboh karena beberapa cawan arak itu. Kejadian ini mesti ada latar belakangnya.

Sambil mendongak mengawasi langit, Boe Kie mengasah otak. Ia mengingat-ingat isi Tok keng dari mendiang Ong Kauw.

Racun apakah yang tanpa warna, tanpa rasa dan bau, bisa menerbitkan rasa pusing? Ia mengingat-ingat kitab itu dari kepala sampai di buntut, tapi tak ada racun yang seperti itu. Makanan dan arak yang dimakannya tidak berbeda dengan arak yang dimakan oleh kawan-kawannya. Mengapa dia sendiri tidak merasai apapun juga? Heran sungguh!

Sekonyong-konyong bagaikan kilat, dalam otaknya berkelebat suatu ingatan. Ia terkesiap parasnya pucat pasi.

“Semua orang yang turut makan minum di Soei kok turun” teriaknya dengan gugup. “Duduk bersila, tapi sekali-kali tidak boleh mengerahkan khie (hawa). Bernafaslah secara wajar.”

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula, “Kuminta saudara-saudara dari Ngo heng kie dan Peh bie kie berpencar dan berbaris di empat penjuru untuk menjaga keselamatan para pemimpin kita. Siapapun jua yang mendekati, bunuhlah!”

Sesudah Peh bie kauw mempersatukan diri dengan Beng kauw, dengan perkataan “kauw” (agama) dibuang dan diganti dengan “Kie” (bendera).

Anggota keenam bendera itu membungkuk, menghunus senjata dan lalu berpencaran untuk menunaikan tugas yang diberikan oleh sang Kauw coe. “Sebelum aku kembali, kalian semua tidak boleh berkisar dari tempat penjagaan,” kata pula Boe Kie.

Semua orang kaget bukan main. Mereka hanya merasai sedikit pusing. Mengapa kauw-coe mereka jadi begitu bingung?

“Kalian, dengarlah” kata Boe Kie dengan suara sungguh-sungguh. “Biar bagaimana tidak enakpun, kalian tidak boleh, sekali-kali tidak boleh mengerahkan tenaga dalam. Kalau racun mengamuk, tak akan ada obat lagi untuk menolong kalian!”

Semua orang jadi terlebih kaget.

Dalam saat, dengan sekali berkelebat Boe Kie melesat belasan tombak jauhnya. Ia tidak mau menggunakan kuda sebab larinya binatang itu dianggap masih terlalu lambat. Sambil mengempos semangat, dengan ilmu ringan badan yang paling tinggi, ia “terbang” ke Lek hoe-chung.

Jarak duapuluh li lebih dilaluinya dalam sekejap mata, bagaikan seekor burung ia masuk ke dalam perkampungan. Para penjaga melihat berkelebatnya satu bayangan.

Mereka sama sekali tak menduga, bahwa seorang manusia sudah menerobos masuk dari tempat jaganya.

Tanpa menyia-nyiakan waktu, Boe Kie berlari-lari ke Soei kok. Dari kejauhan ia melihat seorang wanita yang mengenakan baju warna hijau sedang membaca buku sambil minum teh. Wanita itu bukan lain dari Tio Beng.

Mendengar tindakan kaki, si nona menengok dan bersenyum.

“Tio Kauw nio,” kata Boe Kie, “aku minta beberapa pohon rumput.” Tanpa menunggu jawaban, kakinya menotol tepi empang dan melompat ke Soei kok, badannya melayang di permukaan air, seolah-olah seekor capung. Sambil melayang kedua tangannya mencabut tujuh delapan pohon yang menyerupai pohon bunga Coei sian.

Tapi sebelum kedua kakinya hinggap di Soei kok, tiba-tiba terdengar sret” srr” beberapa senjata rahasia yang sangat halus menyambar dirinya. Dengan sekali mengibas, ia sudah menggulung semua senjata rahasia itu di dalam tadang saku bajunya dan hampir berbareng, ia mengebut Tio Beng dengan tangan baju kiri. Si nona berkelit dan angin kebutan itu sudah melontarkan poci dan cangkir teh yang jatuh hancur.

Sesudah berdiri tegak di lantai Soei-kok, Boe Kie melihat, bahwa pada setiap pohon bunga terdapat ubi sebesar telur ayam, merah. Ia girang sebab obat pemunah racun sudah didapatkan.

“Terima kasih untuk obat ini, aku sekarang mau berangkat!” katanya sambil memasukkan pohon-pohon itu ke dalam sakunya.

“Datangnya gampang, perginya mungkin tidak begitu gampang,” kata si nona sambil tertawa. Ia melemparkan buku yang dipegangnya seraya menarik keluar dua batang pedang yang tipis bagaikan kertas dari dalam buku itu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, ia menerjang.

Karena memikiri orang-orang yang kena racun, Boe Kie sungkan berkelahi lama-lama. Ia mengibaskan tangan bajunya dan beberapa belas jarum emas milik si nona berbalik menyambar majikannya. Dengan satu gerakan yang sangat indah Tio Beng menyelamatkan diri.

“Bagus!” memuji Boe Kie.

Di lain detik, si nona sudah mulai menyerang dengan kedua pedangnya.

Sambil mengegos Boe Kie berkata dalam hatinya, “Perempuan ini sungguh kejam. Jika aku tidak memiliki Kioe yang Sin kang dan tidak pernah membaca Tok keng, hari ini jiwa para pemimpin Beng kauw tentu sudah terbinasa di dalam tangannya.”

Sesudah mengegos, kedua tangannya menyambar untuk merampas senjata si nona. Tapi Tio Beng cukup lihai, ia membalik kedua jari tangannya dan pedangnya memapas jari-jari tangan Boe Kie.

Melihat kecepatan si nona, Boe Kie merasa kagum. Tapi Sin kang bukan ilmu biasa. Biarpun gagal dalam usaha merampas senjata, Sin kang itu sudah mengebut jalan darah di kedua pergelangan tangan Tio Beng, sehingga si nona tidak dapat mencekal lagi senjatanya. Tapi sebelum senjatanya terlepas, bagaikan kilat ia menimpuk. Boe Kie miringkan kepalanya dan kedua pedang itu amblas di tiang Soei kok.

Ia kaget. Ia kaget bukan lantaran tingginya ilmu si nona. Dalam ilmu silat Tio Beng masih kalah dari Yo Siauw, Wie It Siauw atau In Thian Ceng.

Ia kaget sebab kecerdasan nona itu, yang bisa segera mengubah siasat dengan mengimbangi keadaan. Sesudah jalan darahnya dikebut dan ia tidak bisa mencekal lagi senjatanya, ia bisa berpikir cepat dan menimpuk. Kalau Boe Kie kurang gesit, pedang yang sangat tajam itu tentu sudah amblas di batok kepalanya.

Dalam pertempuran, sering kejadian bahwa seseorang yang ilmu silatnya lebih rendah berhasil merobohkan seorang yang ilmunya lebih tinggi. Sebab musababnya terletak di sini.

Sesudah kedua pedangnya ditimpukkan, buru-buru Tio Beng menjemput pedang Ie thian kiam kayu yang menggeletak di atas meja. Tanpa menghunusnya, ia menyodok pinggang Boe Kie dengan sarung pedang. Boe Kie berkelit, tangan kanannya menyambar dan kali ini, ia berhasil merampas Ie thian kiam kayu itu.

Tio Beng melompat mundur. “Thio kong coe,” katanya sambil tertawa, “apakah itu yang dinamakan Kian koen Tay lo sin kang? Kulihat Sin kang itu sama sekali tidak mengherankan.”

Sambil tersenyum, Boe Kie membuka telapak tangan kirinya yang ternyata menggenggam sekuntum kembang mutiara, yaitu yang dipakai di kondai si nona.

Tio Beng kaget tak kepalang. “Dia memetik perhiasanku tanpa aku merasa,” katanya di dalam hati. “Kalau dia mau mencelakai aku, kalau dia itu mau menotok Tay yang hiatku, jiwaku tentu sudah melayang.”

Tapi, sedang jantungnya memukul keras paras mukanya tidak berubah. Ia tertawa tawar dan berkata, “Jika kau senang dengan kembang itu, aku bersedia menghadiahkan dengan suka rela, tak perlu kau merampasnya.”

Boe Kie merasa jengah. “Aku pulangkan,” katanya sambil melontarkannya. Sesudah itu ia memutar badan dan melompat ke atas dari Soei-kok.

“Tahan!” seru si nona seraya menyambuti kembang mutiara itu.

Boe Kie menengok.

“Mengapa kau curi dua butir mutiara?” tanya Tio Beng.

“Justru aku tak punya waktu untuk berguyon,” jawabnya.

Nona Tio mengangkat kembangnya tinggi-tinggi. “Lihatlah!” katanya. “Dua butir mutiara hilang.”

Boe Kie melirik dan memang benar dua butir mutiara tidak ada pada tempatnya tapi ia tahu, bahwa kedua mutiara itu sudah sengaja disingkirkan oleh pemiliknya. Ia mengerti, bahwa si nona mau memancingnya untuk menjalankan akal bulusnya lagi. Maka itu, ia tidak mau meladeni lagi. Sambil mengeluarkan suara di hidung, ia bertindak keluar.

“Thio Boe Kie!” bentak Tio Beng. “Kalau kau mempunyai nyali, datanglah kepadaku dalam jarak tiga tindak.”

Tapi Boe Kie tidak kena dibikin panas. “Kalau kau menganggap aku bernyali tikus, apa boleh buat,” katanya sambil bertindak turun dari undakkan Soei-kok.

Melihat semua akalnya tidak berhasil, paras muka Tio Beng lantas saja berubah. “Sudahlah!” katanya dengan suara putus harapan. “Hari ini aku kalah. Mana aku ada muka untuk bertemu lagi dengan lain manusia?”

Ia mencabut sebatang pedang yang menancap di tiang dan berteriak, “Thio Boe Kie, terima kasih bahwa kau sudah menyempurnakan aku!”

Boe Kie menengok. Tiba-tiba sinar putih berkelebat. Tio Beng mengayun tangannya untuk menancapkan pedang di dadanya.

Boe Kie tertawa dingin dan berkata, “Aku tak akan kena…”

Sebelum perkataan “ditipu” keluar dari mulutnya, ujung pedang sudah menancap di dada si nona. Tio Beng berteriak, tubuhnya terkulai.

Kali ini Boe Kie benar-benar kaget. Ia tidak pernah menyangka, bahwa si nona beradat begitu keras. “Asal saja pedang tidak melanggar isi perut, aku masih bisa menolong,” pikirnya sambil melompat untuk memeriksa luka si nona.

Tapi baru saja ia tiba dalam jarak tiga tindak dari meja, mendadak kakinya kejeblos, tubuhnya meluncur ke bawah!

“Celaka!” ia mengeluh.

Cepat bagaikan kilat ia mengibaskan kedua tangan bajunya ke bawah sehingga untuk sedetik, tubuhnya terhenti di tengah udara. Hampir berbareng, satu tangannya coba menepuk pinggiran meja. Kalau kena dengan meminjam tenaga, ia bisa menyelamatkan diri.

Tapi Tio Beng yang hanya pura-pura bunuh diri, sudah menduga usaha pemuda itu dan dengan cepat ia menyampok dengan tangan kanannya. Selagi kedua tangan kebentrok, tubuh Boe Kie merosot ke bawah.

Dalam bingungnya, ia membalik tangan dan coba mencengkeram jari-jari tangan Tio Beng tapi jari-jari tangan si nona licin luar biasa, bagaikan licinnya lindung, sehingga tidak dapat dicengkeram! Cekalannya terlepas!

Pada detik yang sangat berbahaya, Sin kang yang dimiliki Boe Kie memperlihatkan kelihaiannya.

Biarpun cekalannya terlepas, tapi sebab cekalannya itu, ia berhasil meminjam sedikit tenaga, sehingga kemerosotan tubuhnya terhenti untuk sedetik dan tangannya menjambret lengan si nona.

Jambretan itu berhasil!

Ia mengerahkan Sin kang untuk melompat ke atas. Kali ini maksudnya gagal. Karena tubuhnya berat dan Tio Beng enteng, maka begitu ia membetot, tubuh si nona terjungkal dan tidak dapat tercegah, kedua-duanya tergelincir ke dalam lubang kemudian sesaat terdengar “trang!” tutupan lubang tertutup lagi.

Lubang itu, atau lebih benar sumur, tidak terlalu dalam, hanya belasan tombak. Begitu hinggap di dasarnya, Boe Kie melompat dengan menggunakan ilmu Pek houw Yoe ciang (Cicak merayap di tembok), ia merayap ke atas. Setelah sampai di atas, ia mendorong tutupan sumur beberapa kali, tapi tidak bergeming. Tutupan itu, yang dingin seperti es, adalah selembar besi tebal yang dipegang erat-erat dengan semacam alat. Walaupun memiliki sin kang, tapi lantaran badannya berada di tengah udara, ia tidak bisa meminjam tenaga. Sesudah mendorong beberapa kali tanpa berhasil, ia terpaksa melompat turun lagi.

Tio Beng tertawa geli. “Tutupan itu dipegang dengan delapan batang baja yang kasar,” katanya. “Dengan berada di bawahnya, cara bagaimana kau bisa membukanya?”

Boe Kie sangat mendongkol. Ia tak dapat meladeni dan meraba-raba pinggiran sumur yang licin dan dingin.

“Thio kongcu. Peh houw Yoe ciangmu betul betul lihai,” kata si nona. “Lubang jebakan ini terbuat daripada baja murni yang licin luar biasa. Tapi kau masih bisa naik ke atas, betul-betul hebat…hi..hi..hi!”

“Apa yang lucu?” bentak Boe Kie.

Mendadak ia ingat, bahwa nona itu sangat licin. Di dalam sumur mungkin terdapat sebuah jalan rahasia. “Aku tak dapat membiarkan dia kabur seorang diri,” pikirnya. Memikir begitu, ia segera mencengkeram tangan si nona.

Tio Beng terkesiap, “Mau apa kau?” tanyanya.

“Kau tak usah harap bisa lari seorang diri” jawab Boe Kie. “Kalau kau masih kepingin hidup, bukalah jalan keluar.”

“Kau tak usah bingung,” kata Tio Beng. “Kita tidak akan mati kelaparan dalam jebakan ini. Kalau orang-orangku tidak melihat aku, mereka pasti akan datang kemari untuk melepaskan kita. Aku hanya kuatir, mereka menduga aku pergi keluar. Jika mereka menduga begitu, celakalah kita.”

“Apa dalam sumur ini tak ada jalanan keluar?”

“Kulihat kau bukan manusia goblok, tapi mengapa kau ajukan pertanyaan setolol itu? Jebakan ini dibuat bukan untuk ditempati sendiri, tapi untuk menangkap musuh. Perlu apa dibikin jalan keluar?”

Boe Kie merasa perkataan Tio Beng ada benarnya jua. “Menjeblaknya papan tutupan dan jatuhnya kita pasti didengar oleh orang-orangmu,” katanya. “Mengapa mereka belum datang? Lekas panggil mereka!”

“Orang-orangku sedang menjalani tugas,” jawabnya. “Besok kira-kira pada waktu begini, barulah mereka kembali. Kau tidak perlu bingung. Mengasolah tenang-tenang. Tadi kau sudah makan kenyang.”

Boe Kie jadi gusar. Ia tak keberatan untuk berdiam lebih lama dalam jebakan itu. Tapi bagaiman keselamatan kakeknya dan yang lain-lain?

Ia menyengkeram tangan si nona terlebih keras dan membentak, “Kalau kau tidak segera melepaskan aku, terlebih dahulu aku akan segera mengambil jiwamu.”

Tio Beng tertawa, “Jika kau bunuh aku, kau takkan bisa keluar dari penjara ini,” katanya. “Eh!… perlu apa kau pegang tanganku?”

Boe Kie jadi malu hati. Buru-buru ia melepaskan cekalannya, mundur dua tindak dan lalu duduk di lantai. Tapi karena sumur itu terlalu kecil, mau tidak mau ia mengendus juga bebauan wangi yang keluar dari badan si nona.

Makin lama ia makin mendongkol. Tiba-tiba ia berbangkit dan berkata dengan suara gusar, “Beng kauw dan kau belum pernah sama sekali bermusuhan. Mengapa kau begitu jahat?”

“Ada banyak hal yang tak dimengerti olehmu” jawabnya. “Sebab kau sudah bertanya begitu, biarlah aku menceritakan sebab-musababnya, dari kepala sampai di buntut. Apa kau tahu siapa sebenarnya aku?”

Boe Kie ingin sekali mendengar asal usul dan maksud nona itu. Tapi kalau ia mendengar cerita, mungkin sekali In Thian Ceng dan yang lain sudah keburu mati. Apapula, cerita wanita itu tentu benar.

Jalan satu-satunya adalah memaksa supaya ia membuka papan tutupan. Memikir begitu, ia lantas saja berkata, “Aku tak punya waktu untuk mendengarkan ceritamu. Jawablah pertanyaanku. Kau mau atau tidak mau teriaki orang-orangmu untuk membuka papan tutupan itu?”

“Aku sudah memberitahukan kau bahwa semua orang-orangku tak berada di sini,” jawabnya. “Selain itu teriakan yang bagaimana keraspun takkan terdengar di luar jebakan ini.”

Darah Boe Kie meluap, bagaikan kalap ia menubruk. Tio Beng kaget dan coba melawan, tapi jalan darahnya segera tertotok dan ia tak bisa bergerak lagi.

Sambil mencekik tenggorokan si nona, Boe Kie membentak. “Sedikit saja aku menambah tenaga, jiwamu melayang!”

Tio Beng megap-megap. Tiba-tiba ia menangis. “Kau hinakan aku! Kau hinakan aku!” teriaknya.

Kejadian ini lagi-lagi di luar dugaan Boe Kie. Ia melepaskan cengkeramannya dan berkata, “Aku tak berminat untuk menghinakan kau. Aku hanya ingin supaya kau melepaskan aku.”

“Baiklah,” kata si nona. “Aku akan panggil orang-orangku.”

Sehabis berkata begitu, ia berteriak. “Hei!… hei!… kemari! Buka tutup jebakan! Aku jatuh ke dalam penjara baja.” Tapi di luar hanya sepi-sepi saja.

Ia sekarang tertawa dan berkata, “Kau lihatlah! Bukankah tak berguna aku berteriak-teriak?”

“Sungguh kau tak mengenal malu!” kata Boe Kie dengan mendongkol. “Sebentar menangis, sebentar tertawa.”

“Kau yang tak tahu malu!” bentak si nona. “Lelaki menghina perempuan.”

Boe Kie mengeluarkan suara di hidung. “Kau bukan perempuan biasa!” katanya. “Akal bulusmu terlalu banyak, sepuluh lelaki belum tentu bisa menandingi kau seorang.”

Tio Beng tertawa geli. “Aku rendah tak sanggup menerima pujian terlalu tinggi dari Thio Kauw coe yang mulia,” katanya.

Boe Kie menggertak gigi. Waktu sudah mendesak, kalau ia ayal-ayalan, semua pemimpin Beng Kauw akan binasa. Tiba-tiba tangannya menyambar dan merobek bagian bawah dari kain si nona.

Tio Beng terkesiap dan berteriak dengan suara terputus-putus. “Mau? Mau bikin apa kau?”

“Jika kau bersedia melepaskan aku dari penjara ini, manggutkan saja kepalamu,” jawabnya.

“Mengapa begitu?” tanya pula si nona.

Boe Kie tidak menyahut, tapi segera membasahi kain sobekan itu dengan ludahnya. “Maaf, aku tidak bisa berbuat lain,” katanya seraya menyumbat mulut dan hidung si nona dengan kekainan itu.

Tio Beng tak bisa bernafas. Tapi ia bandel sekali. Walaupun dadanya menyesak dan selebar mukanya sudah berubah merah, ia tetap tak mau mengangguk. Akhirnya kedua matanya berkunang-kunang dan ia pingsan.

Lalu Boe Kie memegang nadi si nona, ketukan nadi itu ternyata sudah sangat lemah, sehingga ia buru-buru mencabut kekainan yang menyumbat mulut dan hidung.

Beberapa saat kemudian, Tio Beng tersadar. Ia membuka kedua matanya dan mengawasi dengan penuh kegusaran.

“Tak enak bukan?” tanya pemuda itu. “Bagaimana? Apa kau bersedia untuk melepaskan aku?”

“Tidak nanti!” bentaknya dengan bernafsu. “Biarpun pingsan ratusan kali, tidak nanti ku melepaskan kau. Kalau penasaran, kau boleh membunuhku.”

Mendengar jawaban yang keras kepala itu, Boe Kie tertegun dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Akhirnya sambil menggertak gigi ia berkata, “Untuk menolong jiwanya banyak orang, aku terpaksa berlaku kasar terhadapmu dan kuharap kau suka memaafkan.”

Sehabis berkata begitu, ia memegang kaki kiri Tio Beng dan melocotkan sepatu serta kaus kakinya.

Si nona kaget bercampur gusar. “Anak bau! Mau berbuat apa kau?” teriaknya.

Tanpa menjawab Boe Kie lalu membuka sepatu dan kaus kaki dan kemudian, dengan telunjuk ia menotok Yong coanhiat, di kedua telapak kaki si nona. Sesudah itu, ia mengerahkan Kioe-yang Sin-kang dan mengirim hawa hangat dari “hiat” tersebut.

Yong coanhiat, yang terletak di bagian cekung telapak kaki, adalah permulaan dari jalan darah Ciok siauw im Kian keng dan merupakan bagian tubuh manusia yang sangat perasa. Sebagai seorang yang mahir ilmu ketabiban Boe Kie tahu kenyataan itu.

Jika bagian itu dikitik, orang akan merasa geli luar biasa, sehingga sekujur tubuhnya lemas kesemutan. Kiu yang Sin kang yang dikirim Boe Kie seratus kali lebih daripada dikitik. Semula Tio Beng tertawa geli terus-menerus ia mau meronta tapi karena ditotok kaki tangannya tidak bisa bergerak. Sesaat kemudian, ia merasai penderitaan yang lebih hebat daripada bacokan golok atau cambukan. Ia merasa seperti juga berlaksa kutu merayap dan menggigit isi perutnya serta tulang tulangnya. Dari tertawa ia sekarang menangis dan sesambat.

Sambil mengeraskan hati Boe Kie terus mengirim Sin kangnya. Keringat dingin membasahi baju si nona, jantungnya seolah-olah mau melompat keluar.

“Anak bau”!” cacinya. “Bangsat! Bangsat tengik! Satu hari, aku… aku akan cincang kau!… Aduh! Ampun!… ampun!… Thio Kongcoe. hu.hu hu!…”

“Kau mau lepas aku atau tidak?” tanya Boe Kie.

“Lepas! Ampun!…” jawabnya.

Boe Kie segera menarik pulang Sin kang-nya dan menepuk punggung si nona beberapa kali, sehingga jalan-jalan darah yang tertotok segera terbuka lagi.

Nafas Tio Beng tersengal-sengal. Beberapa saat kemudian, barulah ia bisa membuka suara, “Bangsat! Pakaikan sepatuku.”

Boe Kie segera mengambil kaos kaki dan sepatu dan kemudian memegang kaki kiri si nona. Tadi, waktu membukakan, dalam gusarnya, ia tak punya lain pikiran.

Tapi sekarang, begitu tangannya menyentuh tumit kaki yang halus lemas itu, jantungnya memukul keras. Di lain pihak, si nona pun mendapat perasaan serupa, sehingga parasnya lantas saja berubah merah. Untung juga karena berada di tempat gelap Boe Kie tak lihat perubahan paras muka itu. Dengan cepat kedua kakinya sudah memakai lagi sepatu dan kaos kaki.

Tiba-tiba ia mendapat perasaan luar biasa. Di dalam hati kecilnya, ia kepingin pemuda itu memegang lagi kakinya.

Mendadak ia tersadar. Kupingnya mendengar bentakan Boe Kie. “Lekas! Lekas lepaskan aku.”

Tanpa menjawab, tangannya meraba dinding jebakan dan kemudian dengan gagang pedang, ia mengetuk-ngetuk sebuah lingkaran yang diukir pada dinding baja itu. Sesudah mengetuk beberapa kali, sekonyong-konyong terdengar suara menjeblak dan tutupan jebakan terbuka.

Ternyata pada lingkaran itu terdapat alat rahasia yang dihubungkan dengan penjaga di luar jebakan. Begitu melihat isyarat yang diberikan oleh majikannya, si penjaga segera membuka tutup lubang.

Boe Kie kaget tercampur girang. “Mari kita keluar,” katanya.

Tapi Tio Beng tidak bergerak, ia tetap berdiri sambil menundukkan kepala. Melihat begitu dan mengingat akan perbuatannya, Boe Kie merasa tidak enak hati. Ia membungkuk seraya berkata, “Tio Kauw nio, tadi sebab sangat terpaksa aku sudah melakukan perbuatan yang sangat tidak pantas terhadapmu. Kuharap kau tidak menjadi gusar”.

Si nona tetap tidak menyahut. Ia bahkan memutar badan dan berdiri menghadapi dinding jebakan. Pundaknya bergoyang-goyang seperti orang lagi menangis.

Waktu sedang mengadu kepandaian, Boe Kie merasa sangat mendongkol terhadap nona itu yang dianggapnya sebagai wanita kejam. Tapi sekarang di dalam hatinya muncul rasa kasihan. “Tio Kauw nio,” katanya dengan suara menyesal, “aku mau pergi sekarang. Aku mengakui, bahwa aku sudah berbuat kedosaan terhadapmu dan kuharap kau suka memaafkan.”

Sehabis berkata begitu, dengan menggunakan ilmu Pek houw Yoe ciang ia merayap ke atas. Setibanya di mulut lubang sambil menendang pinggiran jebakan sehingga badannya lantas saja melesat ke atas, ia mengibaskan kedua tangan bajunya untuk menjaga bokongan. Sebelum kakinya hinggap di bumi, ia menyapu seputar Soe kok dengan kedua matanya, tapi disitu tidak kelihatan bayangan manusia.

Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi ia melompati tembok dan dengan menggunakan ilmu ringan badan, menuju ke tempat berkumpulnya rombongan Beng Kauw. Karena terjebak, ia sudah terlambat kira-kira satu jam.

Apa In Thian Ceng dan yang lain-lain masih bisa ditolong? Dengan penuh rasa kuatir, ia berlari-lari sekeras-kerasnya dan dalam beberapa saat, ia sudah hampir tiba di tempat yang dituju.

Mendadak hatinya mencelos. Bukan main kagetnya sebab ia lihat sepasukan serdadu Mongol berkuda sudah mengurung rombongan Beng kauw dan melepaskan anak panah. “Celaka” ia mengelak dan mempercepat tindakannya.

Sekonyong-konyong di tengah rombongan Beng kauw terdengar suara seorang wanita yang sangat nyaring. “Swi-kim kie menyerang dari timur laut! Ang soe kie mengurung ke barat daya.”

Itulah suara Siauw Ciauw! Hampir berbareng dengan komando itu, pasukan Beng kauw yang membawa bendera putih yang menerjang dari timur laut dan sepasukan lain yang membawa bendera hitam mengurung ke barat daya. Barisan Goan segera dipecah untuk menahan kedua pasukan itu. Mendadak Houw toaw kie yang membawa bendera kuning dan Kie kok kie yang membawa bendera hijau menyerang dari tengah. Mereka menerjang bagaikan sepasang naga yang kuning yang lain hijau. Barisan Goan lantas saja terpukul pecah dan terpaksa mundur.

Dengan beberapa kali lompatan, Boe Kie sudah berada di antara orang-orangnya sendiri. Melihat pemimpin mereka, para anggota Beng kauw terbangun semangatnya. In Thian Ceng, Yo Siauw dan yang lain-lain masih tetap bersila di tempat tadi, sedang Siauw Ciauw memimpin gerakan-gerakan Ngo heng kie dan Peh bie dengan berdiri di atas bukit kecil dan sebelah tangannya memegang bendera. Di bawah pimpinan si nona yang menggerakkan keenam bendera menurut ilmu Kie boen Pat kwa, serangan-serangan barisan Goan selalu dapat dipukul mundur.

“Thio Kongcoe, gantikan aku,” kata Siauw Ciauw dengan suara girang.

“Pimpin terus!” jawab Boe Kie. “Aku akan coba membekuk pemimpin barisan musuh.”

Tiba-tiba beberapa batangan panah menyambar ke arahnya. Dengan cepat ia menjambret sebatang tombak dari tangan seorang anggota Beng kauw dan memukul jatuh semua anak panah itu. Sesudah itu, sambil mengerahkan Sin kang ia menimpuk dengan tombaknya yang amblas di dada seorang Peh hoe thio. Sejumlah serdadu yang mengiring Peh hoe thio itu jadi ketakutan dan mundur serabutan.

Sekonyong-konyong dari kejauhan terdengar bunyi terompet tanduk, disusul dengan munculnya belasan penunggang kuda yang mendatangi dengan cepat. Boe Kie yang bermata paling jeli lantas saja mengenali bahwa dalam rombongan itu terdapat Sio Cian Pat hiong. Ia kaget dan berkata dalam hatinya. “Kalau mereka turun tangan banyak saudara bakal jadi korban. Lebih baik aku turun tangan lebih dahulu.”

Tapi lantas saja ternyata bahwa mereka tak bermaksud untuk menyerang. Dari jauh Tio It Siang, yang jadi pemimpin sudah menggoyang-goyangkan sebatang tongkat pendek kepala naga yang berwarna kuning emas. “Majikan mengeluarkan perintah untuk segera menarik pulang tentara!” teriaknya.

Seorang Cian hoe thio yang memimpin barisan itu lantas saja beteriak dalam bahasa Mongol dan seluruh barisan segera mundur dengan teratur.

Sementara itu, dengan tangan menyangga nampan, Cian Jie pay melompat turun dari tunggangannya dan menghampiri Boe Kie seraya membungkuk ia berkata, “Majikanku minta Kauw coe suka menerima ini sebagai kenang-kenangan.”

Di atas nampan itu yang dialaskan dengan selembar sutera sulam warna kuning terdapat sebuah kotak emas dengan ukir-ukiran yang sangat indah.

Boe Kie menjemput kotak itu yang kemudian lalu diserahkan kepada Siauw Ciauw. Cian Jie pay membungkuk lagi, mundur tiga tindak dan kemudian barulah melompat ke punggung tunggangannya.

Sesudah musuh mundur dan rombongan Sin-cian Pat hiong berlalu, tanpa menyia-nyiakan waktu lagi Boe Kie segera mengeluarkan pohon-pohon bunga yang serupa Cioe sian dari sakunya. Ia minta air bersih dan kemudian menghancurkan semua ubi yang warna merah di dalam air. Campuran itu segera diberikan kepada Ie Thian Ceng dan yang lain-lain untuk diminum. Kecuali Boe Kie sendiri yang dilindungi Kioe yang sin kang sehingga tak mempan racun, semua orang yang turut makan minum dalam Soet kok sudah kena racun. Yo Poet Hwie terbebas sebab ia menemani In Lie Heng di dalam kamar, begitupun Siauw Ciauw dan para anggota Beng kauw yang lainnya, yang makan minum di lain ruangan.

Obat yang diberikan Boe Kie sangat mustajab. Belum cukup setengah jam, rasa pusing sudah hilang dan yang masih ketinggalan hanya perasaan lemas.

Menjawab pertanyaan beberapa orang cara bagaimana ia tahu tentang keracunan itu, sambil menghela napas Boe Kie berkata. “Kita semua berhati-hati dan kalau racun ditaruh dalam makanan atau minuman, kita bisa segera mengetahuinya. Di luar dugaan caranya wanita lihai luar biasa. Sebelum kalian merasa pusing, siapapun jua tak akan bisa menebaknya. Pohon kembang yang menyerupai bunga Coei sian itu adalah pohon Coei sian Leng hoe yang jarang terdapat di dalam dunia. Pada hakekatnya pohon itu tidak beracun. Di lain pihak, pedang Ie thian kiam kayu terbuat dari kayu Kie kiauw Hiang bok yang terdapat di dasar laut. Kayu ini pun pada hakekatnya tidak beracun. Tapi disinilah terletak kunci persoalan. Tapi, kalau bau wangi dari Coei sian Leng hoe dan Kie kiauw Hiang bok tercampur menjadi satu, maka kedua macam wangian itu akan berubah menjadi racun yang sangat berbahaya.”

Cioe Tian menepuk lututnya. “Aha! Kalau begitu akulah yang bersalah,” teriaknya. “Aku yang gatal tangan sudah mencabut pedang kayu itu.”

“Cioe heng tidak bersalah,” kata Boe Kie. “Wanita itu sudah bertekad untuk mencelakai kita, sehingga biarpun Cioe heng tidak mencabut pedang itu, ia tentu akan mencari jalan untuk mencabutnya. Kejadian itu tak akan bisa dicegah.”

“Kurang ajar!” kata si semberono dengan gusar. “Mari kita bakar perkampungannya sampai rata dengan bumi!”

Baru saja berkata begitu, di sebelah kejauhan tiba-tiba terlihat mengepulnya asap hitam. Benar-benar Lek lioe chung terbakar. Para pemimpin saling mengawasi tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata.

Semua orang kagum. Tio Beng ternyata dapat menghitung dengan tepat, ia sudah menduga bahwa sesudah racun dipunahkan, jago2 Beng kauw akan kembali untuk membakar perkampungannya, sehingga oleh karenanya, ia sudah mendahului dengan membakarnya sendiri. Walaupun ia masih berusia muda dan hanya seorang wanita, nona Tio ternyata merupakan seorang lawan yang tidak boleh dipandang enteng.

“Paling benar kita mengejar mereka dan menghajarnya sampai mereka bertobat,” kata Cioe Tian.

“Sesudah dia membakar perkampungannya sendiri, kita tahu, bahwa dalam setiap tindakannya, dia sudah mempersiapkan segala sesuatu,” kata Yo Siauw. “Kurasa belum tentu kita dapat menyusul mereka.”

“Yo heng, kau sungguh pintar,” kata Cioe Tian. “Dalam akal budi, kau memang lebih tinggi daripada Cioe Tian.”

Yo Siauw tertawa, “Aduh! Tak berani aku menerima pujian Cioe heng,” katanya. “Dalam hitung-hitungan, mana bisa siauw tee menandingi Cioe heng.”

“Sudahlah, Jie wie tak usah saling merendahkan diri,” menyela Boe Kie seraya bersenyum. “Bahwa hanya beberapa belas saudara terluka enteng karena panah dan bahwa kita tidak menderita kerusakan terlebih hebat, sudah dapat dikatakan untung sekali. Marilah kita meneruskan perjalanan.”

Di tengah jalan, beberapa orang menanya Boe Kie cara bagaimana ia bisa menebak keracunan itu.

“Kuingat, bahwa dalam Tok keng terdapat keterangan yang mengatakan, bahwa jika bau wangi dari kayu Kie kauw Hiang bok tercampur dengan bau wangi sebangsa kembang Hoe-yong, maka bebauan itu mengakibatkan mabuk, seperti mabuk arak, selama beberapa hari. Kalau hawa beracun itu masuk ke dalam isi perut, jantung dan paru-paru bisa rusak. Itulah sebabnya mengapa aku melarang kalian mengerahkan tenaga dalam. Manakala kalian mengerahkan khie (hawa), sehingga racun masuk ke dalam pembuluh darah, besarnya bahaya tidak bisa ditaksir lagi.”

“Tak dinyana si budak Siauw Ciauw berpahala begitu besar,” kata Wie It Siauw. “Kalau pada detik berbahaya dia tak tampil ke muka, kita pasti mendapat kerusakan besar sekali.”

Perbuatan Siauw Ciauw terutama membingungkan Yo Siauw. Ia telah menduga pasti, bahwa nona itu seorang mata-mata musuh yang mau menyelidiki segala rahasia Beng kauw. Tapi sekarang si nona berbalik menjadi seorang penolong.

Malam itu, rombongan itu menginap di sebuah rumah penginapan. Seperti biasa, Siauw Ciauw membawa sepaso air cuci muka ke kamar Boe Kie.

“Siauw Ciauw, hari ini kau berjasa besar sekali,” kata Boe Kie. “Mulai dari sekarang kau tak usah melakukan tugas pelayan lagi.”

Si nona tersenyum. “Aku justru merasa senang jika bisa merawat kau,” katanya. “Tugas semua sama saja, yang satu tidak lebih mulia daripada yang lain.”

Sesudah Boe Kie mencuci muka, si nona mengeluarkan kotak emas yang dikirim Tio Beng. “Apa di dalamnya?” tanyanya. “Mungkin racun, mungkin senjata rahasia. Kita harus berhati-hati.”

“Ya, kita harus berhati-hati,” kata Boe Kie. Ia menaruh kotak itu di atas meja dan sesudah menarik tangan si nona supaya menyingkir yang agak jauh, lantas ia menimpuknya dengan uang tembaga.

“Tring!” uang itu kena tepat di pinggir kotak dan tutupannya lantas saja terbuka. Boe Kie mendekati dan melongok ke dalam kotak, yang isinya ternyata bukan lain daripada kembang mutiara yang pernah dipetik olehnya dari kondai nona Tio. Dua butir mutiara yang katanya hilang, juga sudah berada di tempatnya. Boe Kie mengawasi dengan mata membelalak. Ia tahu apa artinya itu.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: