Kumpulan Cerita Silat

25/08/2008

Kisah Membunuh Naga (45)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:03 am

Kisah Membunuh Naga (45)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

“Poet Hwie moy moy apa kau terluka?” tanya Boe Kie.

“Tidak, terima kasih atas pertolonganmu,” jawabnya.

Boe Kie bersembunyi. “Hayo kita balik!” katanya.

Karena harus menolong nona Yo, Boe Kie tidak bisa mengurus Hoan Cong itu lagi. Begitu tiba di puncak gunung, tiba-tiba mereka mendengar teriakan menyeramkan. “Siapa yang takut mati, tak diberi ampun! Siapa yang takut mati, tak diberi ampun!”

Ketika itu, rombongan Boe san pang sudah merusak dan mereka kabur kalang-kabutan. Tapi, begitu mendengar teriakan yang begitu menakutkan itu, semangatnya kembali lagi dan mereka lalu melawan pula secara nekat. Dalam sekejap sejumlah anggota Beng Kauw mati dan terluka. Tapi sebab kalah tenaga dan kalah jumlah, satu demi satu mereka roboh.

“Kalian dengarlah!” terial Boe Kie. “Tak guna kalian melawan lagi, lebih baik meyerah saja.”

Tapi orang-orang terus meyerang mati-matian. Di bawah sinar purnama, paras mukanya kelihatan ketakutan, seperti juga di belakang mereka ada iblis yang memaksa mereka bertempur nekat.

Melihat begitu, Boe Kie merasa tak tega. Dengan menggunakan ilmu ringan badan tubuhnya berkelebat dan jari-jari tangannya bekerja, menotok jalan darah orang-orang itu. Sekejap saja, kecuali 3 orang yang berkepintaran sangat tinggi dan lincah geraknya, mereka roboh. Ketiga orang itu akhirnya dibinasakan oleh Yo Siauw, Wie It Siauw dan In Ya Ong.

Beng Kauw mendapat kemenangan besar. Lebih dari 300 musuh dibinasakan atau ditawan. Yang berhasil melarikan diri hanya beberapa orang saja. Tak lama kemudian di atas Kong Beng Teng dinyalakan api unggun yang sangat besar, sebagai peryataan terima kasih kepada beng coen yang sudah melindungi Beng Kauw.

Selama beberapa hari Boe san pang dan yang lain-lain telah membuat gubuk2 di atas Kong beng teng. Sekarang gubuk-gubuk itu dapat digunakan oleh Beng Kauw dan Peh Bie Kauw untuk mengaso. Tanpa memperdulikan rasa letih, para anggota wanita segera menanak nasi, memasak air dan menyediakan sekedar lauk-pauknya. Semua orang bersuka ria, rasa kantuk dan lelah tidak dirasakan.

Sekonyong-konyong, dengan paras muka berseri-seri In Thian Ceng berdiri dan berkata dengan suara nyaring. “Para anggota Peh bie kauw dengarlah! Peh bie kauw dan Beng kauw sebenarnya berpangkal satu. Pada 20 tahun lebih yang lalu, karena tidak akur dengan Beng Kauw, aku mendirikan sebuah agama lain. Sekarang, sesudah Thio Tayhiap menjadi Kauwcoe, semua orang harus melupakan ganjelan lama dan harus bersatu-padu. Mulai hari ini Peh bie kauw tak ada lagi. Kita semua harus mentaati perintah Kauwcoe. Siapa tak setuju, boleh segera turun gunung!”

Pernyataan itu disambut dengan tepuk tangan dan sorak sorai gegap gempita.

Si kakek tersenyum dan berkata pula. “Mulai hari ini kita hanya mempunyai Beng Kauw dengan Thio kauwcoe satu-satunya. Siapa yang memanggil aku In Kauwcoe lagi, dia dianggap sebagai orang berdosa.”

Boe Kie menyoja dan berkata, “Persatuan kembali antara Peh bie kauw dan Beng kauw adalah kejadian yang sungguh-sungguh menggirangkan. Akan tetapi, aku yang rendah hanyalah kauwcoe untuk sementara waktu. Sesudah musuh dikalahkan, tibalah waktunya untuk memilih Kauwcoe yang baru. Dalam Beng Kauw dan Peh bie kauw terdapat banyak sekali tokoh-tokoh yang berkepandaian tinggi. Aku yang masih berusia muda, berpengatuan cetek, mana bisa menduduki kursi yang tinggi itu?”

“Thio Kauwcoe jangan kau berkata begitu!” teriak Cioe Tian. “Coba kau pikir, karena berebut kursi Kauwcoe, kami berantakan. Untung besar semua orang takluk kepadamu. Jika kau tetap menolak, biarlah kau saja menunjuk seorang kauwcoe baru. Hu uh!!! Tapi, siapapun juga yang ditunjuk olehmu, aku, Cio Tian, yang paling dulu menentang. Kalau kau mengangkat aku, tentu ada orang lain yang tidak mufakat!”

Pheng Eng Giok berdiri dan berkata denan suara nyaring. “Thio Kauwcoe, jika kau menolak Beng kauw pasti akan berantakan lagi!”

Apa yang dikatakan Pheng Hweesio memang sangat mungkin terjadi. Boe Kie menunduk dan menimbang-nimbnag. semua orang menunggu jawaban sambil menahan nafas.

Akhirnya ia berkata, “Karena kecintaan kalian yang sangat besar, aku yang rendah merasa berat untuk menolak terus. Tapi aku hanya bersedia untuk memegang tugas Kauwcoe sementara waktu dengan satu syarat. Syaratnya ialah kalian harus mengiakan 3 permintaanku. Jika kalian menolak, meskipun mesti mati aku takkan menerima kedudukan Kauwcoe.”

“Baik! Baik!”

“Bagus!”

“Jangankan tiga, tiga puluhpun kami akan meluluskan!”

“Permintaan apa?”

“Kauwcoe bilang saja!”

Sesudah teriakan-teriakan mereda, Boe Kie membungkuk dan berkata dengan suara nyaring. “Agama kita dinamakan orang luar sebagai agama siluman. Hal ini tentu saja tidak benar. Mereka yang berkata begitu tidak tahu isi daripada Beng Kauw. Akan tetapi karena jumlah anggota kita sangat besar, maka memang benar ada sejumlah anggota yang melakukan perbuatan-perbuatan menyeleweng. Maka itu, permintaanku yang pertama ialah mulai dari sekarang, dari Kauwcoe sampai anggota biasa semua orang harus mentaati peraturan-peraturan Beng kauw, harus menolong sesama manusia dan harus berlaku sebagai ksatria sejati. Aku ingin minta supaya Leng Kiam Sianseng suka menjadi Hio coe dari Heng tong Cie coe (pemimpin dari bagian hukum) untuk mengadili segala pelanggaran dan membereskan segala percecokan antara kita. Siapa yang berdosa akan dihukum berat. Aku, kakek, pamanku dan lain-lain ketua tidak terkecuali”.

Semua membungkuk dan mengiakan.

“Waktu mendiang Yo Kauwcoe masih hidup, peraturan kita dipegang keras sekali.” Kata Pheng Eng Giok. “Belakangan orang-orang yang berdosa tidak diadili secara tepat dan makin lama keadaan makin buruk. Soal ini memang merupakan soal terpenting dari agama kita dan aku merasa girang, bahwa Kauwcoe dan saudara Leng akan bertindak tanpa memilih bulu”.

Leng Kiam maju setindak seraya berkata dengan ringkas. “Aku terima”. Kakek ini memang paling tidak suka bicara banyak.

“Permintaanku yang kedua mungkin agak berat,” kata pula Boe Kie. “Kedua belah pihak telah menderita kerusakan besar, banyak orang mati atau luka. Tapi sekarang aku ingin minta supaya kalian suka mengakhiri permusuhan ini dan tidak cari-cari urusan lagi dengan keenam partai itu”.

Semua orang kaget. Itulah permintaan yang sukar diluluskan. Mereka saling mengawasi dan membungkam. Sesudah selang beberapa lama, Cioe Tian bertanya “Bagaimana kalau mereka yang mengganggu kita?”

“Kita harus bertindak dengan mengimbangi keadaan,” jawab Boe Kie. “Mana kala mereka mendesak terlalu keras, kita tentu saja tidak bisa menerima kebinasaan tanpa melawan”.

“Baiklah!” kata Tiat koan To jin. “Jiwa kita ditolong Kauwcoe. Biarlah kita turut apa yang diinginkan Kauwcoe”.

“Saudara-saudara!” teriak Pheng Eng Giok, “Enam partai itu telah membunuh banyak anggota kita, tapi kita pun telah banyak membinasakan anggota mereka. Kalau permusuhan terus berlarut-larut, makin lama makin banyak manusia mati. Menurut pendapatku, perintah Kauwcoe supaya kita tidak cari permusuhan lagi dengan mereka, adalah untuk kebaikan kita sendiri”.

Semua orang menyetujui pendapat itu dan mereka segera meluluskan permintaan Boe Kie yang kedua ini.

Boe Kie merangkap kedua tangannya dan berkata dengan suara terharu. “Pandangan luas dan hati lapang yang ditunjukkan kalian sungguh-sungguh rejeki umat manusia. Permintaanku yang ketiga adalah supaya kita mentaati pesan mendiang Yo Kouwcoe yang ditulis dalam surat wasiatnya. Yo Kouwcoe memesan, supaya siapa yang bisa mendapatkan kembali Seng Hwee Leng dan mengambil pulang barang peninggalan Kauwcoe turunan ketiga puluh satu dari tangan Kay pang, dialah yang harus diangkat menjadi Kuwcoe turunan ketiga puluh empat. Yo Kauwcoe juga memesan, supaya sesudah ia, meninggal dunia, untuk sementara jabatan Kuwcoe dipegang oleh Kim Mo Say Ong. Maka itu sudah sepatutnya kalau sekarang kita menyeberangi lautan untuk menyambut Cia Hoat agar beliau bisa menduduki kursi Kauwcoe sementara waktu. Belakangan barulah kita mencari Seng Hwee leng dan mengambil pulang barang peninggalan Kauwcoe turunan ketiga puluh satu. Siapa yang berhasil, dialah yang harus menjadi Kuwcoe.”

Semua orang saling mengawasi. Sesudah kehilangan pemimpin selama beberapa puluh tahun, mereka sangat tidak ingin melepaskan Kauwcoe baru itu yang berkepandaian sangat tinggi dan luhur pribadinya. Andaikat di kemudian hari Seng hwee leng didapat oleh seorang goblok, apakah manusia goblok itu akan menjadi pemimpin mereka?

“Syarat mendiang Yo Kauwcoe ditulis pada dua puluh tahun lebih berselang. Berbeda dengan keadaan sekarang, kita memang pantas menyeberangi lautan untuk meyambut Kim mo say ong. Kita memang harus berusaha mencari Seng hwee leng, tapi kalo diangkat oleh orang lain menjadi Kauwcoe, kuatir tidak semua orang menyetujuinya.”

Tapi Boe Kie tetap pada pendiriannya, bahwa pesan Yo Kauwcoe harus ditaati. Sebab tak bisa mengubah lagi, maka pada akhirnya semua orang mengiakan juga kemauan itu.

Setelah perundingan beres, Boe Kie segera mengeluarkan perintah untuk menyalakan Seng Hwee (api suci) dan kemudian, dengan meneteskan darah, semua pimpinan dan anggota Beng Kauw bersumpah, bahwa mereka tidak akan melanggar peraturan itu.

Tak lama kemudian fajar menyingsing sekonyong-konyong di dalam hutan terdengar teriakan kaget dari seseorang.

“Siapa itu?” bentak Tiat koat tojin.

Hampir berbareng dari dalam hutan kelihatan berlari-lari 2 anggota Ang soei kie. Begitu mereka tiba di hadapan Tong Yang Ciang kie soe Ang Soei kie, mereka segera melaporkan sesuatu dengan suara perlahan.

“Apa benar?” tanya Tong Yang dengan kaget. Dengan cepat ia memberi isyarat dengan gerakan tangan dan barisan Ang soei kie dengan serentak bergerak, masing-masing anggota menduduki kedudukan Pat Kwa, siap sedia untuk bertempur. Sesudah itu, dengan mengajak beberapa orang, Tong Yang lantas masuk ke dalam hutan.

Sesudah mendapat kerusakan besar dalam beberapa kali pertempuran, jumlah anggota Ang sioe kie tidak cukup seratus orang. Tapi kegagahan tidak berkurang dan cara Tong Yang mengatur barisannya tetap angker luar biasa.

Tak terlalu salah bila dikatakan, bahwa Ang soei kie saja, satu bendera dalam Beng Kauw, sudah cukup untuk melayani partai biasa dalam Kang ouw. Melihat begitu, Boe Kie merasa sangat terhibur, karena itulah suatu tanda, bahwa Beng Kauw mempunyai hari depan yang gilang gemilang.

Tak lama kemudian Tong Yang keluar dari dalam hutan dengan tindakan lebar. Ia menghampiri Boe Kie dengan paras muka bingung. Sambil membungkuk ia berkata, “Melaporkan kepada Kauwcoe, bahwa Tong Yang menunggu hukuman”.

“Ada apa?” tanya Boe Kie.

“Aku telah memerintahkan orang-orangku untuk menjaga tawanan,” jawabnya. “Di luar dugaan, orang-orang itu telah berhasil merampas senjata orang-orangku dan membunuh diri”.

“Aneh sungguh!” kata Boe Kie dengan kaget. Dengan diiringi tokoh2 Beng Kauw, ia segera masuk ke dalam hutan.

Benar saja, para tawanan Boe san pang dan Ngo ho tong sudah menjadi mayat dan menggeletak di tanah. Enam orang dari delapan penjaga mendapat luka dan mereka berlutut untuk mendapat hukuman.

“Apa benar mereka bunuh diri?” tanya Boe Kie.

“Melapor kepada Kauwcoe,” kata pimpinan rombongan penjaga itu, “mereka menyerang kami secara mendadak dan merampas senjata kami akan kemudian bunuh diri. Dalam melakukan perbuatan itu, mereka tak pernah mengucapkan sepatah kata”.

Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. “Bukan salah kalian, bangunlah!” katanya.

“Terima kasih ata belas kasihan Kauw Coe” kata pemimpin itu.

Boe Kie segera memeriksa luka para tawanan, dan ternyata, mereka memang bukan dibunuh orang.

Di antara mayat-mayat itu terdapat seorang yang masih belum putus jiwa, sebelah lengannya masih bergerak-gerak. Boe Kie segera membungkuk dan menotok Leng tay hiatnya, sambil mengirim Kioe Yang Cin Khie.

Orang itu perlahan lahan tersadar.

“Mengapa kau bunuh diri?” tanya Boe Kie.

Jawab orang itu dengan suara terputus2. “Siapa…yang takut mati…tak diberi ampun…tidak…diberi…ampun”

Boe Kie terkejut ia ingat, bahwa selama pertempuran ia pernah mendengar teriakan begitu di lereng gunung dan sebagai akibatnya pihak musuh berkelahi secara nekat. Ia sekarang mengerti, bahwa di balik teriakan itu tersembunyi rahasia hebat. “Siapa yang tak memberi ampun?” tanyanya.

“Keluargaku…tua-muda…istri-anak, semua dalam tangan orang,” jawabnya.

“Dalam tangan siapa? Kami akan menolong kau,” kata pula Boe Kie.

Orang itu menggeleng-geleng kepalanya. Ia tersenyum getir, kepalanya terkulai dan nafasnya terhenti.

Yo Siauw dan yang lain-lain saling memandang. Mereka tak dapat menembus teka-teki itu.

Sesudah memerintah Angsoei Kie mengubur mayat-mayat itu Boe Kie segera mengajak In Thian Ceng, Yo Siauw, Wie It Siauw dan yang lain-lain ke gubuk untuk mendamaikan urusan ini.

“Dari keterangan orang itu, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa keluarganya ditahan oleh seorang yang berkuasa dan kalau dia tak berkelahi mati-matian, keluarganya akan dibinasakan.” Kata Pheng Eng Giok. “Siapa orang itu yang mempunyai kekuasaan begitu besar, sehingga dia bisa menindih begitu banyak orang gagah dari partai-partai persilatan? Siapa manusia itu yang dapat menahan begitu banyak keluarga?”

Kecuali Boe Kie, tokoh-tokoh Beng kauw adalah orang-orang berpengalaman. Tapi mereka tak bisa meraba siapa adanya orang itu.

“Menurut pendapatku urusan ini ada sangkut pautnya dengan Goe Bie pay,” kata Coe Tian. “Hoan Cong itu menggunakan pedang Ie Thian Kiam, Biat Coat sangat beracun dan mungkin sekali, sebab tak unggulan melawan Kauwcoe kita. Dia menyuruh orang-orang itu datang kemari”.

“Bukan begitu,” kata Leng Kiam.

“Mengapa bukan?” tanya Cioe Tian.

Leng Kiam tidak menjawab.

“Kurasa soal menahan keluarga berbagai partai terpisah dari soal serangan enam partai besar” kata Swee Poet Tek. “Dalam serangannya itu, keenam partai pasti tidak akan menduga, bahwa mereka akan mengalami kegagalan. Biat Coet Soethay dan sejumlah kawannya adalah orang-orang yang sangat sombong dan mereka tentu tak pernah ingat perkataan kalah. Maka itu, tidak bisa jadi mereka lebih dahulu sudah mempersiapkan sebuah siasat lain untuk menyerang kita”.

Semua orang membenarkan perkataan Swee Poet Tek.

“Andaikata kau benar, tapi siapa musuh kita itu?” tanya Coe Tian.

“Aku pun tak tahu,” jawab Swee Poet Tek.

“Kalau Seng Koen belom binasa. Kita bisa menuduh dia”.

Sesudah berunding beberapa lama, mereka belum juga mendapat kemajuan.

“Kurasa urusan ini bisa dikesampingkan untuk sementara waktu,” kata Boe Kie akhirnya. “Soal penting yang kini dihadapi kita adalah menyeberangi lautan untuk menyambut Kim Mo Say Ong. Tugas ini harus dilakukan olehku sendiri, siapa yang ingin ikut?”

Semua orang segera berbangkit dan menjawab “Kami semua bersedia untuk mengiring Kauwcoe”

“Jangan terlalu banyak,” kata Boe Kie, “Di samping itu ada beberapa urusan besar yang perlu diurus. Begini saja, Yo Co Soe dan Soe coen berdiam di Kong Beng Teng untuk membangun lagi dan menjaga pusat kita. Kim, Bok, Soie, Hwee, Touw Ngo heng kie pergi ke berbagai tempat untuk mengumpulkan lagi anggota-angota kita yang sudah terpencar dan menyampaikan tiga janji yang sudah disetujui. Kakek dan paman coba menyelidiki musuh yang bersembunyi itu dan berbareng coba mencari Kong Beng Yoe Soe serta Cie san liong ong. Tugas Wie Hok Ong ialah pergi menemui Cia Boenjin keenam partai besar untuk memberitahukan perubahan-perubahan di dalam Beng kauw. Andaikata Hok Ong tidak dapat mengubah musuh menjadi sahabat, tindakan ini setidaknya akan dapat menunda permusuhan untuk sementara waktu. Kutahu tugas ini bukan tugas enteng. Tapi dengan kebijakannya, kupercaya Hok ong akan berhasil. Aku sendiri bersama Ngo sian jin akan melayari lautan guna menyambut Cia Hoat ong.”

Sebagai seorang kauwcoe, setiap perkataan Boe Kie adalah undang-undang yang tidak dapat dibantah. Semua orang lantas saja menggangguk dan menerima baik perintah itu.

“Thia?” tiba-tiba Poet Hwoei berkata “Aku ikut, ku ingin melihat gunung es”

Sang ayah tersenyum, “Kau harus memohon pada Kauwcoe,” jawabnya. “Aku tidak berkuasa.”

Si nona memoyongkan mulutnya, tapi ia tak dapat berkata apa-apa lagi.

Boe Kie tertawa. Ia ingat, waktu mengantar Poet Hwei ke see hek, si nona sering meminta ia bercerita dan ia sering menceritakan pengalamannya di pulau Heng hwee to. Berkali-kali ia menceritakan keindahan pulau itu dengan beruang putihnya, kera api, ikan-ikan aneh dan sebagainya. Maka itu tidaklah heran kalo sekarang Poet Hwie ingin mengikut.

“Poet Hwie moy moy,” katanya “Pelayaran ke Peng hwee to banyak bahayanya. Tapi jika kau tak takut dan Yo Coe soe meluruskan biarlah Yo Cosoe dan kau sama-sama ikut”

“Takut apa?” kata si nona sambil menepuk nepuk tangan. “Thia biarlah kita berdua mengikut Kauwcoe.”

Sambil mengawasi Boe Kie, Yo Siauw hanya mengangguk.

“Kalau begitu aku ingin minta bantuan Leng Sianseng untuk menjaga Kong Beng teng dan untuk sementara waktu soe boen ditaruh di dalam kekuasaannya”

“Baiklah! Sungguh bagus!” teriak Cioe Tian.

“Cioe heng bagus apa?” tanya Swee Poet Tek.

“Beng Kauw menaruh penghargaan begitu tinggi kepada Leng Kiam merupakan suatu penghormatan besar untuk Ngo sian jin” jawabnya “Di samping itu, dalam perjalanan ini, entah berapa lama Kauwcoe harus terombang-ambing di tengah lautan. Dengan ada, Yo Coe soe bakal tak terlalu kesepian. Mereka bisa beromong-omong. Jika Leng Kiam yang pergi, maka Kauwcoe seperti juga mengajak sepotong balok”

Semua orang tertawa terbahak-bahak. Leng Kiam tidak jadi gusar, tapi ia pun tak tertawa. Ia bersikap seperti tak dengar gurauan Cio Tian.

Sesudah bersantap, semua orang lantas pergi mengaso.

Sebelum berangkat, Boe Kie minta Poet Hwie membuka rantai hian tiat yang merantai Siauw Cioew. Tapi anak kunci hilang dalam tumpukan puing dan tak dapat dicari.

“Tak apa,” Siauw Ciauw dengan suara tawar. “Suara rantai ini bahkan lebih merdu kedengarannya.”

“Siauw Ciauw, kau tunggulah di Kong Beng Teng dengan hati tenang.” Boe Kie menghibur “Aku akan meminjam To Liong To dari Cia Hoat ong untuk memutuskan rantai ini.”

Siauw Ciauw menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak menyahut.

Pada keesokan paginya, Boe Kie dan rombongan berpamitan, “Kauwcoe kau adalah seorang yang bertanggung jawab atas mati hidupnya Beng Kauw” kata Seng Kiam. “Kuharap kau menjaga diri baik-baik”

“Terima Kasih,” jawab Boe Kie. “Leng Sian seng dalam menjalankan tugasmu, kau akan banyak capai”

“Hati-hati ikan aneh akan makan kau” kata Leng Kiam kepada Cioe Tian.

Dengan rasa terharu Cioe Tian mencekal tangan Leng Kiam erat-erat. Kecintaan antara Ngo sian jin menyerupai kecintaan saudara kandung sendiri. Hari ini, Leng Kiam melanggar kebiasaannya dan bicara lebih banyak. Hal ini sudah terjadi karena kegoncangan hatinya.

Bersama-sama Soe Boen, Leng Kiam mengantar rombongan Kauwcoe sampai di kaki Kong Beng Teng dan dengan perasaan berat mereka berpisahan.

Sesudah berlalu seratus li lebih rombongan Boe Kie bermalam di gurun pasir. Kira-kira tengah malam, tiba-tiba Boe Kie mendengar suara “ting, tang, ting, tang”. Sesudah memiliki Kioe Yang Cin Keng panca inderanya sepuluh kali lebih tajam dari manusia biasa. Ia kaget, bangun dan lantas berlari-lari ke arah suara itu. Sesudah melewati beberapa li, jauh-jauh ia lihat sebuah titik hitam yang bergerak kearahnya dan makin lama makin besar.

Tiba-tiba ia bergerak. “Siauw Ciauw! Mengapa kau datang?”

Orang itu memang bukan lain daripada si nona. Melihat Boe Kie ia lantas menangis keras.

“Anak baik! Sudahlah jangan menangis” kata Boe Kie seraya menepuk-nepuk pundak si nona.

Tapi si nona jadi makin sedih dan menangis makin keras. “Kemanapun jua kau pergi…aku…ikut.” katanya.

Boe Kie merasa sangat kasihan. “Dia sangat tak beruntung dan karena aku berlaku manis terhadapnya, dia sangat mencinta aku,” katanya dalam hati, maka itu ia segera berkata, “Sudahlah kau jangan menangis, kau boleh ikut”

Si nona menjadi girang. Ia mendongak dan mengawasi Boe Kie dengan sorot mata berterima kasih.

Di bawah sinar rembulan yang masih putih bagaikan perak, dengan muka yang cantik dan potongan badannya yang langsing kecil, ia seolah seorang dewi yang turun dari kayangan. Melihat kedua pipi yang masih basah oleh air mata dan paras muka yang berseri-seri, Boe Kie jadi ingat sekuntum bunga dengan butiran-butiran embun.

Ia tersenyum dan berkata dengan suara perlahan “Siauw Ciauw, kalau sudah besar kau akan cantik luar biasa”

“Bagaimana kau tahu?” tanya si nona sambil tertawa.

Sebelum Boe Kie menjawab, di sebelah timur laut tiba-tiba terdengar suara kaki kuda yang mendatangi dari barat ke timur. Di dengar suaranya yang makin lama makin jauh, jumlah penumpang paling sedikit 100 orang lebih.

Beberapa saat kemudian, Wie It Siauw datang dengan saling susul. “Kauwcoe,” kata Wie It Siauw “Di tengah malam buta serombongan penumpang kuda lewat sini. Ku khawatir mereka musuh-musuh kita”

Boe Kie segera minta Siauw Ciauw mempersatukan diri dengan Pheng Eng Giok dan yang lain-lain, sedang ia sendiri bersama Yo Siauw dan Wie It Siauw mengubar rombongan penumpang kuda itu.

Tak lama kemudian mereka bertemu dengan tapak-tapak kuda. Wie It Siauw membungkuk dan menjumput segenggam pasir. “Ada darahnya,” katanya.

Boe Kie mencium pasir itu dan merasai bau darah yang masih segar. Mereka lalu mengejar dengan mengikuti tapak-tapak itu.

Sesudah melalui beberapa li, tiba-tiba Yo Siauw melihat sepotong golok buntung di atas pasir, ia menjumput dan ternyata di gagangnya terukir 3 huruf “Pang Jin Ho” ia memikir sejenak dan berkata, “Inilah orang Kong Tong Pay, Kauw Coe. Kurasa mereka memang sengaja menyediakan kuda-kuda di tempat ini untuk pulang ke Tiong goan.”

“Sudah setengah bulan lebih mereka turun dari Kong Beng Teng” kata Wie It Siauw. “Apa perlunya mereka harus berdiam di sini?”

Sesudah mengetahui bahwa rombongan itu adalah rombongan Kong Tong Pay, Boe Kie bertiga tidak berkuatir lagi dan lalu kembali ke tempat asal. Malam itu lewat dengan tentram dan pada keesokan paginya, mereka meneruskan perjalanannya.

Pada hari kelima, pagi-pagi mereka tiba di padang rumput. Selagi enak berjalan, di kejauhan muncul serombongan orang yang mendatangi ke arah mereka. Boe Kie yang matanya paling lihai sudah dapat lihat, bahwa rombongan itu terdiri dari nie kouw (pendeta perempuan) yang mengenakan jubah pertapaan dan di antara mereka terdapat 7-8 orang lelaki.

Dalam jarak belasan tombak, salah seorang nie kouw berteriak, “Apa kamu bangsat-bangsat Mo Kauw?” hampir berbarengan semua kawannya menghunus senjata dan berpencaran.

Boe Kie tahu, bahwa mereka itu adalah orang-orang Go Bie Pay. Tapi ia belum pernah bertemu dengan yang manapun jua. “Apakah kalian murid-murid Go Bie Pay?” tanyanya.

Seorang nie kouw setengah tua yang bertubuh kurus kecil melompat keluar dan membentak, “Bangsat Mo-kauw! Jangan rewel! Terimalah kebinasaanmu!”

“Siapa Soethay? Mengapa Soethay bergusar?” tanya Boe Kie dengan sabar.

“Bangsat! Siapa kau?” bentak pula nie kouw itu, “Apa derajatmu sehingga kau berani tanya namaku?”

Melihat kekurangajaran pendeta itu, Wie It Siauw jadi mendongkol. Bagaikan kilat ia melompat masuk ke dalam barisan Go Bie Pay dan lantas menotok jalan darah dua murid pria yang lalu di cengkeram leher bajunya. Hampir berbareng, ia melompat keluar dan berlari-lari, seperti angin cepatnya, akan kemudian melemparkan kedua tawanannya di atas tanah. Dilain saat, ia sudah kembali kedalam rombongannya sendiri.

Kecepatan bergeraknya Ceng Ek Hong Ong mengejutkan semua anggota Go Bie Pay. Dengan mulut ternganga mereka mengawasi kedua saudara seperguruannya yang dibawa lari puluhan tombak dan sekarang menggeletak di tanah tanpa bergerak.

Sesudah memperlihatkan kepandaiannya seraya tertawa, Wie It Siauw berkata “Yang berdiri di hadapanmu adalah seorang gagah luar biasa yang ilmu silatnya paling tinggi pada jaman ini, yang memimpin Kong Beng Co Soe dan Kong Beng Yoe Soe, yang mengepalai keempat Hoe Kauw Hat Ong Ngo Sian Jin. Ngo Heng Kie dan Thian Tee Hong Loei Soe Boe yaitu Thio Kauw Coe dari Beng Kauw kami yang pernah mengusir Go Bie Pay dari atas Kong Beng Teng dan merampas Ie Thian Po Kiam dari tangan Biat Coat Soe Thao. Sekarang aku mau tanya kau, apakah orang seperti Thio Kauw Coe mempunyai cukup derajat untuk menanya hoat beng Soethay?”

(Hoat beng Nama, bukan nama asli yang digunakan oleh seorang pendeta)

Semua murid Go Bie terkesiap. Sesudah menyaksikan Wie It Siauw, mereka tidak menyangsikan keterangannya.

Setelah menentramkan hatinya si nie kauw setengah tua bertanya, “Siapa Tuan?”

“Aku she Wie, bergelar Ceng Eh Hok Ong,” jawabnya.

Beberapa murid Go Bie mengeluarkan seruan tertahan. Empat orang lantas saja berlari-lari menghampiri kedua saudara seperguruannya yang tergeletak di tanah.

Ceng ek Hok ong bersenyum dan berkata dengan suara sabar, “Atas perintah Kauw Coe Beng Kauw dan keenam partai mengadakan gencatan senjata dan kami akan berusaha untuk memperbaiki perhubungan. Kalian tak usah khawatir. Kedua orang itu tidak kurang sesuatu apa. Sekarang si kelelawar tidak menghisap darah manusia lagi.”

Keterangan Wie It Siauw memang tak salah. Sesudah mengobati Boe Kie dengan menggunakan Kioe yang Sin kang, bukan saja racun It im cie terusir dari dalam badannya, tapi racun dingin yang dahulupun sudah turut dipunahkan, sehingga sekarang sesudah menggunakan Lweekang ia tak usah mengisap darah manusia lagi untuk melawan racun dingin itu.

Sementara itu, keempat murid Go Bie sesudah balik kebarisannya dengan menggotong kedua saudara seperguruannya. Baru saja mereka mau membuka jalan darahnya yang tertotok tiba tiba terdengar suara “seer, seer” ” dua butir pasir yang disertai Lweekang sangat hebat menyambar jalan darahnya kedua orang itu yang lantas saja terbuka.

Orang yang menolong adalah Yo Siauw. Dengan menggunaan ilmu Tan Sie Sin Thing dan Cie Sek Tiam hoat, ia membuka jalan darah kedua orang itu.

(Tan cie sin thong = ilmu menyentil dengan jari tangan. Cie Sek Tiam Hoat = ilmu menotok jalan darah dengan timpukan batu)

Melihat lawat berkepandaian begitu tinggi, nie kauw setengah tua itu jadi keder. “Pie nie bernama Ceng Kong,” memperkenalkan dirinya. “Apakah aku boleh mendapat tahu she dan nama yang mulai dari Sie coe (tuan) yang menggunakan Tan Sie Sin Thong dan Cie Sek Tiam Hoat.

Sebelum Yo Siauw menjawab, Cioe Tian sudah mendahului sambil tertawa terbahak-bahak, “Dia bukan lain dari Kong Beng Soe sia, dengan kalian dia mempunyai sangkutan keluarga.”

Si pendeta mundur setindak. Bahwa gusarnya kedua alisnya bediri, “Ha! Kalau begitu kau bangsat Yo Siauw yang mencelakai Kie Soe moay!” teriaknya. Ia mengibas pedangnya dan bergerak untuk menyerang.

“Soethay tahan!” kata Boe Kie. “Kau tahu akan segala persoalannya jika kau menanyakan gurumu sendiri. Jangan kita bertempur karena urusan ini.”

“Mana guruku!” tanya Ceng Kong.

“Pada setengah bulan yang lalu, gurumu sudah turun dari Kong Beng Teng,” jawabnya. “Mungkin sekali ia sekarang sudah masuk di Giok Boen kwan.”

“Soecie, jangan dengar segala obrolannya,” kata seorang murid Go Bie yang berdiri di belakang Ceng Kong. “Kita menyambut dari tiga jurusan, di sampingi tu kita juga menggunakan tanda-tanda rahasia dan panah api. Kalau bener soehoe sudah turun dari Kong Beng Teng, tak mungkin kita tidak bertemu dengan nya.”

Mendengar itu Cioe Tian mendongkol. Tapi sebelum ia membalas dengan kata-kata pedas, Boe Kie sudah berkata dengan suara perlahan. “Cioe siang seng tak usah ladeni dia. Karenat tak bertemu dengan guru mereka, bisa mengerti jika mereka marah-marah.”

Ceng Kong kelihatan bersangsi. “Apakah guruku dan saudara-saudara ku bukan jatuh kedalam tangan Beng Kauw?” tanyanya. “Seorang lelaki sejati harus berlaku jujur. Tak usah kamu berdusta.”

Cioe Tian tertawa dan berkata, “Baiklah, sekarang aku mau bicara terang-terangan. Tanpa menimbang-nimbang tenaganya yang kecil, Go Bie pay telah menyerang Kong Beng teng kami. Biat coat Soethay dan semua muridnya sudah ditawan dan dipenjarakan dalam penjara di dalam air. Kami akan menahan mereka delapan belas tahun lamanya, supaya mereka bisa merenungkan kedosaannya mereka. Sesudah delapan belas tahun barulah kami akan menimbang pula, apa kami akan melepaskan mereka atau tidak.”

Pheng Eng Giok terkejut, “Cioe Heng, jangan kau berguyon secara melampui batas,” tegurnya. “Kalian jangan dengar guyonan saudara ini. Ia hanya main-main. Bibi Coat Soethay adalah seorang yang berkepandaian luar biasa, sedang semua murid Go Bie juga berkepandaian tinggi. Mana bisa mereka jatuh di dalam tangan beng kauw? Sekarang ini, kedua belah pihak sudah mengadakan gencatan senjata. Kalian pulanglah! Kalian pasti akan bertemu dengan mereka.”

Ceng Kong tak menjawab. Ia bercuriga, bersangsi dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

“Cioe Heng memang paling suka main-main,” kata Wie It Siauw. “Apakah seorang yang berkedudukan tinggi seperti Kauw Coe kami bisa memperdayai kalian?”

“Sedari dulu Mo Kauw terkenal licin, licik dan banyak akal bulusnya,” kata si nie kauw setengah tua. “Bagaimana kita bisa gampang-gampang percaya?”

Sekonyong-konyong Tong Yang, Ciang Kie Soe Ang Soei Kie, mengibas tangan kirinya. Di lain saat lima barisan Ngo Heng Kie bergerak serentak. Kie Bok Kie mengambil kedudukan di sebelah timur. Liat hwee di selatan. Swie Kim di barat, Ang Soei di utara. Houw touw di tengah-tengah dan mengurung seluruh barisan Go Bie Pay.

“Loehoe adalah Peh Bie Eng Ong,” teriak In Thian Ceng. “Dengan seorang diri loehoe sanggup membekuk kamu semua. Tapi hari ini Beng Kauw menaruh belas kasihan. Loehoe hanya ingin memperingatkan, bahwa orang-orang muda harus berhati-hati sedikit dalam mengeluarkan perkataan.” Si kakek bicara dengan menggunakan lweekang sehingga suaranya sangat menusuk kuping dan menggoncangkan hati.

Melihat kelihaian orang tua itu, semua murid Go Bie jadi kaget tercampur kagum.

Boe Kie lantas saja mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Kami ingin meneruskan perjalanan dan kuharap kalian suka menyampaikan hormat Boe Kie kepada gurumu.” Sehabis berkata begitu, ia segera berjalan ke jurusan timur.

Sesudah semua pemimpin Beng Kauw lewat barulah Tong yang menarik pulang barisan Ngo heng Kie dan mengikuti dari belakang. Murid-murid Go Bie tidak berani bergerak. Mereka mengawasi dengan mata membelak.

“Kauw Coe,” kata Peng Eng Giok, “Menurut pendapatku dalam hal ini mesti terselip sesuatu yang luar biasa. Sama sekali tak bisa terjadi, bahwa rombongan Biat coat Soethay tidak bertemu dengan murid-muridnya. Setiap partai mempunyai tanda rahasia yang selalu digunakan di dalam perjalanan. Mana bisa jadi rombongan Biat coat menghilang dengan begitu saja?”

Sambil berjalan, mereka bicarakan hal yang luar biasa itu. Semua orang sependapat dengan Peng Eng Giok. Menghilangnya rombongan Biat coat mencurigakan, apabila jika diingat, bahwa Lie Thian Kiam telah jatuh ke dalam tangan seorang hoan ceng.

Dilihat dari sudut ini, mungkin sekali rombongan itu menemui bencana. Diam-diam Boe Kie berkuatir. Ia berkuatir akan keselamatannya Cioe Cie Jiak, tapi ia tentu saja tidak mengutarakan perasaannya itu kepada orang lain.

Pada magrib, selagi enak jalan, sekonyong-konyong Swee Poet Tek berkata. “Eeh!… Di sini ada sesuatu yang luar biasa.”

Ia berlari-lari ke arah serentetan pohon-pohon kate dan mengawasi bumi. Ia mengambil cangkul dari tangan seorang pengikut dan menggali tanah. Tak lama kemudian, di dalam lubang terlihat sesosok mayat yang sudah rusak, tapi dari pakaiannya dapat dikenali, bahwa mayat itu adalah mayat seorang murid Koen Loen Pay.

Beberapa anggota Beng Kauw lantas saja bantu menggali dan belakangan ternyata, bahwa di dalam lubang terdapat belasan mayat semuanya murid-murid Koen Loen yang mati dengan luka-luka. Swee Poet Tek segera memerintahkan sejumlah anggota Beng Kauw menguburkan kembali mayat-mayat itu secara baik-baik.

Semua orang saling mengawasi dengan sorot mata menanya. Di dalam hati mereka rata-rata muncul sebuah pertanyaan. Siapa yang melakukan itu?

“Kalau urusan ini tidak diselidiki sampai ke dasarnya, segala kedosaan pasti akan ditimpakan ke atas kepada Beng Kauw,” kata Peng Eng Giok.

Semua pemimpin Beng Kauw, kecuali Boe Kie sendiri, adalah orang-orang yang berpengalaman. Mereka mengerti bahwa di sebelah depan bersembunyi musuh-musuh yang bukan saja berkepandaian tinggi, tp juga kejam dan banyak akal busuknya. Mereka tahu, bahwa musuh semacam itu tak mudah dilawan.

“Saudara-saudara dengarlah!” kata Swee Poet Tek. “Kalau kita diserang dengan golok dan tombak terang, dibawah pimpinan Kauw Coe, biarpun kita tidak bisa mengatakan bahwa kita tidak pernah akan menemui tandingan di dalam dunia, akan tetapi, anak panah gelap suka ditangkis. Maka itu, mulai sekarang, baik waktu makan maupun waktu berjalan atau mengaso, kita harus berlaku hati-hati untuk menjaga bokongan musuh.”

Semua orang manggut-manggutkan kepalanya.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, sang surya mulai selam ke barat dan cuaca perlahan-lahan berubah gelap. Baru saja mereka mau mencari tempat untuk mengaso, di sebelah timur laut tiba-tiba terlihat tiga empat ekor elang yang terbang melayang-layang di angkasa. Dengan mendadak salah seekor menyambar kebawah dan dengan mendadak pula, dia terbang lagi ke atas sambil mengeluarkan pekik kesakitan, sedang beberapa lembar bulunya berhamburan di udara. Binatang itu rupanya menyerang sesuatu, tapi sudah kena dihajar.

“Coba aku selidiki,” kata Gouw Kin Co, Ciang Kie Soe Swie Kim Kie. Setelah Cung Ceng, pemimpin Swie Kim Kie binasa. Boe Kie mengangkat Gouw Kin Coe, yang tadinya memegang jabatan wakil pemimpin, menjadi pemimpin.

Sehabis berkata begitu, dengan mengajak dua orang anggota barisannya, ia menuju timur laut sambil berlari-lari. Tak lama kemudian, salah seorang kembali dan berkata kepada Boe Kie.

“Melaporkan kepada Kauw Coe, bahwa In Liok Hiap dari Boe tong pay rebah di dalam jurang!”

Boe Kie terkejut, “In Liok hiap?” ia menegas.”Apa terluka?”

“Kelihatannya terluka berat,” jawabnya. “Begitu melihat In Liok hiap, Gouw Kiesoe segera memerintahkan aku kembali untuk memberi laporan kepada Kauw Coe, sedang ia sendiri sudah turun kedalam jurang untuk menolong?”

Sebelum orang itu bicara habis, Boe Kie sudah berjalan dengan tindakan lebar. In Thian Ceng dan yang lain-lain lantas saja mengikuti dari belakang.

Tak lama kemudia mereka tiba di tebing dengan jurang yang cukup dalam. Di lereng tebing tumbuh pohon-pohon kecil, dan Gouw Kin Co, dengan lengan kiri memeluk tubuh In Lie Heng, sedang berusaha memanjat ke atas dengan pertolongan pohon-pohon kecil itu.

Dengan penuh rasa kuatir Boe Kie melompat ke bawah. Sebelah tangannya mencekal lengan kanan Gouw Kin Co, sedang tangannya yang lain meraba dada pamannya. Ia girang sebab In Lie Heng masih bernapas. Buru-buru ia menyambut tubuh sang paman dan dengan beberapa lompatan, ia telah berada di atas dan lalu merebahkan tubuh In Lie Heng di tanah.

Begitu memeriksa luka In Lie Heng, paras muka Boe Kie berubah merah padam. Rasa kaget, gusar dan duka bercampur menjadi satu. Sang paman ternyata telah dianiaya secara kejam. Tulang lututnya, sikut, tulang kering, tumit kaki, jari tangan semua buku-buku tulang di kaki tangannya, hancur semua. Ia tak bisa bergerak dan napasnya sangat perlahan. Tapi walaupun begitu, otaknya masih terang, begitu melihat Boe Kie, paras mukanya berubah menjadi terang dan ia segera mengeluarkan dua butir batu kecil dari mulutnya.

Sesudah dianiaya hebat, In Liok hiap dilemparkan kedalam jurang. Berkat lweekangnya yang sangat tinggi, ia dapat menyelamatkan jiwanya. Kawanan elang yang sangat ganas ingin memakan dagingnya. Tapi ia berhasil mempertahankan diri dengan menyemburkan batu-batu kecil dari mulutnya. Perlawanannya terhadap burung-burung itu sudah berlangsung beberapa hari lamanya.

Melihat empat ekor elang masih melayang-melayang, Yo Siauw jadi gusar. Ia menjemput empat butir batu-batu dan menimpuk. Hampir berbareng, keempat binatang bersayap itu jatuh dengan kepala hancur. In Lie Heng manggut-manggutkan kepalanya sebagai tanda terima kasih.

Buru-buru Boe Kie memasukkan sebutir yo wan untuk menghilangkan rasa sakit dan melindungi jantung ke dalam mulut In Lie Heng. Sesudah it,u mereka terus mencoba-coba untuk menyambung tulang-tulang yang patah. Tapi begitu memeriksa lebih teliti, hasilnya berkerut. Pada kaki sang paman terdapat kurang lebih dua puluh tempat yang hancur, dihancurkan dengan pijitan jari-jari tangan. Tulang-tulang yang hancur itu tak bisa disambung lagi.

“Sama seperti Sam ko?” kata In Lie Heng dengan suara yang lemah. “Pijitan Kim kong cie dari Siauw Lim Pay”.”

Boe Kie lantas saja ingat penuturan mendiang ayahnya, bahwa tulang-tulang Sam Soe peh Thay Giam telah dihancurkan oleh Kim Kong Cie dari Siauw Lim Pay. Sampai kini Sam Soe peh itu telah dua puluh tahun lebih rebah di ranjang sebagai orang yang bercacat. Tak dinyana, setelah berselang beberapa lama, seorang paman kembali dianiaya dengan Kim Kong Cie.

Setelah menentramkan hatinya, Boe Kie berkata, “Liok siok jangan jengkel. Serahkanlah urusan ini kepada tit jie. Orang yang berdosa itu pasti tidak akan terlepas dari keadilan.”

“Apakah Liok Siok tahu siapa yang melakukannya?”

In Lie Heng menggelengkan kepala, di lain saat, ia pingsan. Selama beberapa hari, dengan seantero tenaganya, ia mempertahankan diri. Kini, sesudah bertemu dengan keponakannya hatinya lega, badannya yang sudah terlalu lelah tidak tertahan lagi.

Dengan hati seperti disayat pisatu, Boe Kie berdiri bengong. Ia ingat, bahwa sebab-musabab terutama yang menyebabkan pembunuhan diri dari kedua orang tuanya adalah karena merasa berdosa terhadap Sam soe peh itu. Kini paman keenam mendapat kecelakaan yang serupa. Jika ia tidak memaksa supya Siauw Lim Pay mengeluarkan orang yang berdosa, cara bagaimana ia bisa menunaikan tanggung jawabnya terhadap paman Jie dan paman In itu? Cara bagaimana ia bisa berhadapan dengan roh kedua orangtuanya di alam baka?

Ia sekarang menghadapi persimpangan jalan. Jalanan mana yang harus diambil? Sambil menggendong tangan, ia menyingkir diri dari rombongannya, ia ingin pergi ke tempat yang sepi untuk
merenungkan persoalan itu semasak-masaknya.

Ia menaik ke atas sebuah bukit kecil dan lalu duduk di situ. Dua rupa pikiran berkelahi dalam otaknya. Apakah ia harus pergi kekuil Siauw Lim Sie untuk mencari musuh besar itu? Kalau Siauw Lim Sie suka menyerahkan orang yang berdosa urusan akan menjadi bersampai di situ. Tapi jika Siauw Lim Sie menolak, bukankah Beng Kauw dan Boe tong pay akan bermusuhan dengan partai itu?

Bersama-sama para anggota Beng Kauw, ia sudah bersumpah untuk tidak bermusuhan lagi dengan keenam partai. Sekarang karena urusan pribadi, ia mesti melanggar sumpahnya sendiri. Dengan membuat begitu, cara bagaimana supaya bisa menaklukkan orang banyak? Di samping itu kalu permusuhan dimulai lagi, balas membalas akan berlangsung terus. Dari satu ke lain urusan, darah akan terus mengucur. Berapa banyak orang akan mengorbankan jiwa karena itu.

Siang sudah terganti dengan malam. Para anggota Beng Kauw sudah menyalakan api unggun dan menanak nasi, tapi Boe Kie masih tetap duduk di atas bukit. Sampai tengah malam barulah ia bisa mengambil keputusan. Biarlah pergi ke Siauw Lim Sie dan menemui Kong Boen Seng ceng, katanya di dalam hati. “Aku akan menceritakan segala kejadian dan meminta keadilan.” Tapi dilain saat ia mendapat lain ingatan. “Kalau sampai bertengkar, aku pun mesti bertempur. Bagaimana jika terjadi kejadian itu?? Ia menghela napas dan lalu berbangkit.

Boe Kie masih berusia muda dan baru saja memikul beban berat, ia sudah harus menghadapi cengkraman yang sangat sulit. Pada hakekatnya persoalan itu belmu tentu segera dipecahkan secara memuaskan biarpun oleh orang tua yang berpengalaman. Di satu pihak ia ingin menghentikan permusuhan, tapi di lain pihak perbuatan musuh adalah sedemikian ganas dan sakit hati adalah sedemikian besar, sehingga tidak dapat dibiarkan begitu saja. Karena maunya nasib, tanpa bisa menolak lagi ia terpaksa menduduki kursi Kauw Coe dari Beng Kauw, sehingga oleh karenanya, ia mesti menghadapi macam-macam kesulitan.

Dengan pikiran kusut perlahan-lahan ia kembali ke rombongannya. Biarpun sangat lapar, tak seorangpun berani makan dahulu. Ia merasa tidak enak hati dan berkata dengan suara menyesal, “Kalian janganlah menunggu aku. Lain kali, makanlah terlebih dahulu.” Sehabis berkata ia pergi menengok In Lie Heng.

Paman itu sedang diberi minum kuah daging oleh Poet Hwie yang sudah mencuci bersih luka-lukanya dengan air hangat. In Liok hiap masih belum sadar. Tiba-tiba ia mengawasi nona Yo dan berteriak, “Siauw Hae Moay, siang malam aku memikirkan kau! Apa kau tahu?”

Paras muka Poet Hwie berubah merah. Ia mengangsurkan sesendok kuah dan berbisik, “Minumlah.”

“Lebih dahulu kau harus berjanji, bahwa kau tidak akan berlalu lagi dan disampingku untuk selama-lamanya,” kata Lie Heng.

“Baiklah, tapi minumlah dulu,” kata si nona.

In Liok hiap kelihatan puas. Ia segera meneguk kuah yang diangsurkan kemulutnya.

Pada esok harinya, Boe Kie mengeluarkan perintah, supaya rombongannya menuju siauw Lim Sie di Siong san untuk menanyakan siapa yang mencelakai In Lie Heng.

Wie It Siauw, Cioe Tian dan yang lain-lain adalah jago-jago ksatria. Melihat penderitaan In Leng Heng, di dalam hati mereka merasa panas. Maka itu, perintah Boe Kie untuk pergi ke Siauw Lim Sie guna membuat perhitungan sudah disambut dengan sorak-sorai.

Di antara mereka hanyalah Yo Siauw yang tidak buka mulut. Akan tetapi, semenjak terjadinya peristiwa dengan Kie Siauw Hoe, hatinya selalu merasa tidak enak. Ia merasa berdosa terhadap In Lie Hong. Maka itu selain memberi bisikan supaya putrinya merawat sebisa-bisanya, ia diam-diam mengambil keputusan untuk menggunakan seantero tenaga guna membalas sakit hati In Liok Hiap.

Pada suatu hari, rombongan itu tiba di Giok Boan Kwau. Beberapa orang segera diperintahkan membeli kuda-kuda tunggangan.

Selama dalam perjalanan, In Lie Heng sebentar ingat, sebentar lupa. Ia belum bisa menjawab pertanyaan Boe Kie secara tegas. In hanya berkata, “Aku dikepung oleh lima pendeta Siauw Lim Pay. Mereka menyerang aku dengan ilmu silat Siauw Lim Pay. Tak bisa salah lagi.”

Supaya tidak menyolok mata, rombongan Boe Kie menyamar sebagai kaum pedagang. Pagi itu mereka berangkat dan mengambil jalanan raya Kim Liang. Sesudah berjalan kira-kira dua jam, hawa udara berubah sangat panas. Untung juga, tak lama kemudian di sebelah kejauhan terlihat deretan pohon-pohon Hoe yang sangat besar, semuanya kurang lebih dua puluh pohon. Mereka girang dan buru-buru menuju pohon-pohon itu untuk mengaso.

Ketika mereka tiba, di bawah pohon sudah berduduk sembilan orang lain. Yang delapan terdiri dari pria bertubuh kasar yang mengenakan pakaian pemburu dengan golok dipinggang dan busur serta anak panah dipunggungnya.

Mereka membawa lima enam ekor elang yang berbulu hitam dan bercakar tajam. Elang-elang itu bisa diginakan untuk membantu dalam pemburuan. Yang seorang adalah lain dari yang lain. Dia kelihatannya seperti seorang pemuda sasterawan yang lemah lembut, seorang kong coe yang tampan. Ia memegang kipas bergagang batu giok dan tanggannya yang putih tiada bedanya dari giok yang putih itu (Kong coe = putra seorang berpangkat atau sastrawan).

Tapi pada saat itu, mata semua orang ditujukan ke pinggang si kongcoe tampan, karena pada pinggang itu tergantung sepasang pedang yang gagangnya diukir dengan huruf “Ie Thian”. Bentuk dan panjangnya pedang itu bersamaan dengan Ie Thian kiams milik Biat Coat Soethay.

Semua orang kaget bukan main. Coe Tiam yang berangasan tidak dapat menahan sabar lagi. Tapi baru saja bibirnya bergerak untuk mengajukan pertanyaan, di sebelah sekonyong-konyong terdengar suara kuda yang sangat ramai, diiring dengan teriakan-teriakan menyayat hati.

Semua orang menengok k earah timur. Tak lama kemudia mereka lihat sepasukan serdadu Goan, yang berjumlah kira-kira limapuluh orang. tiba-tiba semua orang meluap darahnya.

Mengapa? Karena serdadu Goan itu menyeret seratus lebih wanita Han yang diikat dan diranteng kan dengan tambang. Beberapa antaranya sudah tidak kuat berjalan lagi, tapi terus diseret dengan kejam. Ratapan mereka sangat memilukan hati.

Semua anggota Beng Kauw merah matanya. Tangan mereka meraba pinggang. Mereka hanya menunggu perintah untuk menerjang.

Sekonyong-konyong si kongcoe berkatar “Li ok Po, suruh mereka lepaskan wanita-wanita itu!” suaranya nyaring empuk, suara seorang wanita.

“Baik!” jawab salah seorang pria yang lantas membuka tambang tambatan kuda di sebuah pohon. Ia melompat ke punggung kuda yang lalu dilarikan ke arah pasukan Goan yang sedang datang. ”

Hei! Mengapa kau bikin ribut-ribut di tengah hari bolong!” teriaknya. “Apa kamu tak punya pembesar yang mengurus kamu” Hayo, lepaskan wanita-wanita itu!”

Seorang yang mengenakan pakaian pembesar majukan tungganggannya. Ia tertawa cekakakan, “Berani sungguh kau campur tangan urusan tuan besarmu!” bentaknya. “Apa kau sudah bosan hidup?”

“Kaulah yang bosan hidup! Sebentar kau akan bertemu dengan Giam Loo Ong,” kata pria itu dengan suara dingin.

Dengan rasa heran, pembesar Goan itu mengawasi orang-orang yang sedang meneduh di bawah pohon. Ia merasa sangat heran akan keberanian orang itu. Mendadak ia lihat dua butir mutiara sebesar buah lengkeng di ikat kepala si kong coe tampan. Rasa serakahnya lantas saja muncul. Sambil majukan tunggangannya ke arah kongcoe, ia menyeringai dan berkata. “Siangkong, paling benar kau ikut aku. Aku tanggung kau akan memperoleh banyak keuntungan.”

Mendengar perkataan itu, alis si kongcoe berdiri, “Binatang!” bentaknya. “Turun tangan! Satupun tak boleh diberi ampun!”

“Sret!” sebatang anak panah menancap di ulu hati pembesar Boan itu yang lantas saja roboh tanpa bersuara lagi. Anak panah itu dilepaskan oleh seorang pemburu yang berada di dekatnya.

Dilihat dari cara melepaskan anak panah itu dan tenaga yang menyertainya, sudah terang orang itu bukan pemburu biasa. Di lain saat, anak panah menyambar nyambar bagaikan hujan gerimis, setiap batang selalu tepat pada sasaran.

Tapi biar bagaimanapun jua, serdadu-serdadu Boan tidak boleh dipandang enteng. Sesudah kagetnya hilang, mereka segera melawan dengan nekad, anak panah dibalas dengan anak panah.

Melihat perlawanan, delapan pemburu itu segera melompat naik ke punggung kuda dan menerjang bagaikan angin puyuh.

Dalam sekejap, tigapuluh lebih serdadu Goan sudah roboh tak bernyawa. Melihat gelagat tidak baik, yang lainnya lantas saja terus melepaskan anak panah, sehingga pada akhirnya, sesudah mengejar kira-kira dua li, mereka berhasil membinasakan semua musuh. Tak satupun diberi ampun.

Sesudah itu, dengan sikap acuh tak acuh si kong coe tampan melompat ke atas punggung tunggangannya dan berlalu tanpa menengok lagi.

“Hei! Tahan dulu!” teriak Cioe Tian. “Aku mau bicara dengan kau.”

Tapi si kongcoe tidak meladeni. Ia berjalan terus dengan diiringi oleh kedelapan pemburu.

Kalau mau, dengan menggunakan ilmu peringan badan, Boe Kie dan yang lain-lain masih bisa menyusul sembilan orang itu. Tapi sebab menghormati perbuatan orang-orang itu, biarpun mereka heran, mereka sungkan melanggar adat. Mereka coba menduga-duga, tapi tak bisa meraba siapa adanya orang-orang itu.

“Kong coe itu terang-terangan seorang wanita yang menyamar sebagai pria,” kata Yo Siauw. “Delapan orang yang menggenakan pakaian pemburu rata-rata berkepandaian tingi dan mereka bersikap hormat terhadap si kongcoe. Kepandaian mereka dalam melepaskan anak panah sangat luar biasa dan dilihat dari gerak geriknya, mereka bukan orang-orang dari salah sebuah partai di wilayah Tiong goan.”

Sementara itu, Yo Poet Hwie dan sejumlah anggota-anggota Houw Touw Kie memberi hiburan kepada para wanita yang baru terlepas dari bahaya. Atas pertanyaan, mereka menerangkan, bahwa mereka adalah penduduk dari tempat sekitar daerah tersebut.

Dari saku mayat serdadu-serdadu Goan, Poet Hwie mengumpulkan emas, perah dan lain-lain barang yang berharga yang lalu dibagikan kepada wanita2 itu, yang kemudia diperbolehkan pulang ke masing-masing rumahnya.

Sesudah beres rombongan Boe Kie lalu meneruskan perjalanan. Selama beberapa hari, tak lain yang merek bicarakan pembasmian pasukan Goan yang dilakukan oleh kesembilan orang itu.

Sebagaimana biasanya orang gagah menghormati orang gagah. Mereka merasa menyesal, bahwa mereka tidak mendapat kesempatan untuk mengikat tali persahabatan dengan orang-orang itu.

“Yo Heng,” kata Cioe Tian kepada Yo Siauw, “Puterimu adalah seorang yang sangat cantik. Tapi kalu dibandingkan dengan si nona yang menyamar sebagai lelaki, ia kalah jauh.”

“Benar,” kata Yo Siauw. “Jika mereka bersedia untuk masuk ke dalam agama kita, kedudukan delapan pemburu itu akan lebih tinggi dari pada Ngo Sian Jin.”

Cioe Tian meluap darahnya. “Omong kosong,” bentaknya. “Apa keistimewaannya ilmu melepaskan anak panah dari atas kuda? Kau boleh suruh mereka coba-coba bertanding dengan Cioe Tian.”

“Kalau mesti bertempur melawan Cio Heng, tantu saja mereka akan kalah,” jawab Yo Siauw. “Tapi jika dilihat kepandaian mereka kurasa mereka lebih tinggi setingkat dari pada saudara Leng Kiam.”

Dengan berkata begitu, Yo Siauw memberi ejekan yang lebih hebat, karena diantaranya Ngo sian jin, Leng Kiam Lan yang ilmu silatnya paling tinggi.

Cioe Tian dan Yo Siauw memang tak begitu akur. Sekarang meskipun bermusuhan secara terang-terangan tapi tiap kali mendapat kesempatan, Cioe Tian selalu menggunakan kesempatan untuk mengejek.

Mendengar kata-kata yang menghina Ngo Sian Jie, ia jadi makin gusar. Tapi sebelum dia membalas, Paeng Eng Giok sudah mendahului dengan berkata sambil tertawa, “Cioe beng sekali lagi kau ke dijebak Pe Co Coe. Ia sengaja ingin membangkitkan hawa marahmu.”

Cioe Tian tertawa terbahak-bahak, “Tidak. Aku tidak gusar,” katanya. “Apa yang bisa perbuat terhadapku?”

Semua orang tertawa. Mereka mengenal kawan itu yang otak-otakkan dan yang belum pernah menang dalam mengadu lidah melawan Yo Siauw.

Dengan diobati dan diawasi oleh Boe Kie sendiri, selama beberapa hari In Lie Heng sudah banyak lebih baik dan peringatannya sudah pulih kembali. Ia mengatakan bahwa sesudah turun dari Kong Beng Teng pada hari itu ia kesasar.

Delapan sembilan hari ia berputar-putar di gurun pasir. Waktu ia bertemu dengan jalanan yang benar, saudara-saudaranya sudah jauh sekali dan tidak dapat disusul.

Pada suatu hari, ia berpapasan dengan serombongan pendeta Siauw Lim yang lantas menyerang tanpa menegur lagi. Ia berhasil merobohkan empat orang, tapi sebab musuh berjumlah lebih banyak lebih besar, akhirnya ia kena dijatuhkan pula. Ia memastikan, bahwa ilmu silat pendeta-pendeta itu adalah ilmu silat Siauw Lim Pay.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: