Kumpulan Cerita Silat

24/08/2008

Kisah Membunuh Naga (44)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:09 am

Kisah Membunuh Naga (44)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Jika Song Ceng Soe tidak menyerang begitu cepat, sesudah menotok Pot Hoe Hiatnya sendiri, ia tak akan bisa mengirim dua pukulan yang berikutnya. Tapi karena empat pukulan itu dikirim secara berantai dengan kecepatan luar biasa, maka biarpun Pok Hoe Hiat nya sudah tertotok, ia masih bisa mengirim dua serangan lagi, sebab lengannya belum kesemutan. Sesudah keempat pukulan itu dikirim, barulah kaki tangannya lemas dan ia roboh terjengkang. Beberapa kali ia coba bangun, tapi tidak berhasil.

Song Wan Kiauw menghampiri dengan berlari-lari. Dengan mengurut beberapa kali, ia membuka jalan darah puteranya yang tertotok. Kedua pipi Ceng Soe bengkak dan bertepa lima tarak jari. Lukanya enteng, tapi karena adatnya yang tinggi, maka bagi Ceng Soe, kekalahan itu merupakan penderitaan yang lebih hebat dari pada kebinasaan.

Song Wan Kiauw mengenal adat puteranya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata ia menuntung anaknya dan kembali ke barisan Boe tong.

Tepuk tangan dan sorak sorai menggetarkan seluruh lapangan. Semua orang merasa kagum, kagum sekali.

Tiba-tiba Boe Kie muntah darah, sambil memegang dada ia batuk-batuk.

Semua orang mengawasi kejadian itu dengan hati berdebar-debar. Mereka berkuatir akan keselamatan jiwanya pemuda gagah itu.

Sebagian memperhatikan Boe Kie, sebagian pula mengawasi orang-orang Boe Tong. Apa yang akan diperbuat mereka? Mengaku kalah kan? Mengajukan lain jago kah?

Sesaat kemudian Wong Wan Kiauw berkata dengan suara nyaring. “Hari ini Boe tong pay sudah menunaikan kewajiban. Mungkin sekali bintang Mo Kauw masih terang. Secara tidak diduga-duga muncul pemuda luar biasa ini. Kalau kita mendesak terus, apa bedanya antara partai lurus bersih dan Mo Kauw?”

“Aku setuju dengan pendapat Taoko,” menyambung Jie Lian Cioe. “Sekarang kita pulang dan minta petunjuk Soehoe. Sesudah pemuda itu sembuh, kita boleh bertempur lagi. Ia berbicara dengan suara nyaring dan bersemangat. Dengan kata-kata itu ia menekankan bahwa hari ini Boe tong pay mengalah, ia tak percaya bahwa partainya tidak bisa melawan pemuda itu.

Thio Seng Kee dan Boe Seng Kong mengangguk, sebagai tanda mereka menyetujui pendapat Lian Cioe.

Sekonyong konyong In Lie Heng menghunus pedang dan dengan mata menyala ia menghampiri diri Boe Kie. “Orang she Can!” bentaknya. “Dengan kau, aku tak punya permusuhan apapun jua. Jika sekarang aku mencelakai kau, In Lie Heng bukan seorang baik-baik. Tapi sakit hati ku terhadap Yo Siauw dalam bagaikan lautan. Aku mesti bunuh padanya. Kau minggirlah!”

Boe Kie menggelengkan kepalanya. “Sebegitu lama aku masih bernyawa, aku akan cegah pembunuhan terhadap anggota Beng Kauw yang manapun jua,” katanya dengan suara tetap.

“Kalau begitu, aku terpaksa membunuh kau” kata In Lie Heng dengan mata beringas.

Boe Kie muntah darah lagi. Matanya berkunang dan ia berada dalam keadaan separuh ingat, separuh lupa, “In Liok siok!” katanya denga suara parau. “Kau turun tanganlah.”

In Lie Heng terkesiap. Suara itu, suara memanggil “In Liok siok,” agaknya mungkin tidak asing lagi didengar dikupingnya. Mendadak ia ingat.

“Boe Kie!” katanya di dalam hati. “Di waktu kecil, Boe Kie sering memanggil “In Liok siok” dengan nada suara seperti itu. Apa pemuda ini Boe Kie…” Ia mengawasi muka yang pucat pasi itu.

Makin diawasi, muka itu makin mneyerupai muka Boe Kie. Sudah delapan tahun mereka berpisah. Dari seorang bocah cilik, Boe Kie sudah berubah menjadi seorang dewasa. Tubuhnya sudah berubah, mukanya pun sudah banyak berubah. Tapi dalam semua perubahan itu, masih banyak terbayang muka Boe Kie si bocah cilik yang menderita hebat karena pukulan Hiang Beng Sin Ciang.

Sesaat kemudian, In Lie Heng membuka mulutnya, suaranya gemetar. “Apa…Apa kau Boe Kie?”

Boe Kie merasa tenaganya habis semua. Matanya labur, kepalanya pusing dan ia merasa bahwa ia sudah berada dekat dengan liang kubur. Ia sekarang tak pelu menyembunyikan lagi dirinya. Bibirnya bergerak dan ia berbisik, “In Liok siok…Titijie sering ingat kau…”

Mata In Liok hiap berkunang-kunang. Perkataan seolah-olah halilintar di tengah hari bolong. Kaget, heran, kagum, gegetun…Semua tercampur menjadi satu. Ia seorang yang berperasaan sangat halus. Air matanya lantas saja mengucur deras. Ia melontarkan pedangnya menubruk, memeluk dan mendukung Boe Kie. Kata dia dengan suara serak “Boe…Kie!…Putra tunggal dari Ngo ko…”

Song Wan Kiauw, Jie Lian Cioe, Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok memburu dan berdiri di seputar In Lie Hong. Kekagetan dan kegirangan mereka sukar dilukiskan.

Orang-orang Beng Kauw tak kurang girangnya, mimpipun mereka tak pernah mimpi, bahwa pemuda yang coba menolong mereka dengan mempertaruhkan jiwa sendiri, bukan lain daripada putranya Boe Tong Ngo Hiap Thio Cioe San.

Melihat keponakannya pingsan buru-buru In Lie Heng mengeluarkan Thian ong Hoe Sim tan dan memasukannya ke dalam mulut Boe Kie. Sesudah menyerahkan pemuda itu kepada Jie Lian Cioe, ia segera memungut pedangnya dan menghampiri Yo Siauw.

Seraya menuding musuh besar itu, ia berteriak, “Binatang Yo Siauw! Aku…aku…” Ia tidak dapat meneruskan perkataannya dan lalu mengangkat pedang.

Kong Beng Soe cia itu yang badannya masih belum bergerak, lantas saja meramkan kedua matanya dan menunggu kebinasaan seraya bersenyum.

Tiba-tiba, pada detik sangat berbahaya, seorang wanita muda melompat dan menghadap di depan Yo Siauw. “Tahan! Jangan lukai ayahku!” bentaknya.

In Lie Heng mengawasi. Tiba-tiba ia mengeluarkan seruan tertahan dan sekujur badannya dingin. Gadis itu yang bertubuh jangkung kecil dan bermata besar tiada bedanya dari Kie Siauw Hoe.

Sedari bertunangan, wajah nona Kie yang manis selalu terbayang didepan matanya. Belakangan ia mendapat tahu, bahwa tunangan itu dibawa lari dan dinodai kehormatannya oleh Kong Beng Soe cia Yo siauw, sehingga akhirnya ia membuang jiwa. Tak usah dikatakan lagi, kejadian itu sangat menyakiti hatinya.

Tak dinyana Kie Siauw Hoe muncul pula. Badannya bergoyang-goyang dan ia berkata dengan suara gemetar. “Siauw Hoe Moay coo…kau?”

Gadis itu bukan lain daripada Yo Poet Hwie, berkata, “Aku bernama Yo Poet Hwie. Kie Siauw Hoe adalah ibuku. Ibu sudah lama meninggal dunia.”

In Lie Heng tertegun dan tersadar, “Ah!…aku betul gila!” katanya. “Kau minggirlah. Hari ini aku akan membalaskan sakit hati ibumu.”

“Bagus!” seru si nona. “In Siok siong, bunuhlah pendeta perempuan bangsat itu!” Seraya berkata begitu, ia menuding Biat Coat Soethay.

“Apa? Mengapa?” menegas In Lie Heng.

“Ibu dipukul mati oleh pendeta bangsat itu,” jawabnya.

“Dusta! Kau jangan bicara sembarangan,” bentak Lie Heng.

“Aku tidak berdusta,” kata si nona dengan suara dingin. “Ibu dibinasakan di Ouw tiap kok. Pendeta bangsat itu menyuruh ibu membunuh ayah. Ibu menolak dan dia lantas turun tangan. Kulihat dengan mata ku sendiri. Kejadian itu juga disaksikan oleh Boe Kie Toako. Jika Siok-siok tidak percaya, tanyalah pendeta bangsat itu sendiri.”

Waktu nona Kie binasa, Peot Hwie masih sangat kecil. Belakangan, sesudah dewasa, barulah ia tahu apa yang sudah terjadi.

In Lie Hong menengok dan mengawasi Biat Coat dengan sorot mata menanya. “Soe…thay…” katanya dengan suara tak lampias. “Dia kata…Kie Kouw Nii…”

Paras muka si nenek merah padam. “Benar,” katanya. “Perlu apa murid yang tidak mengenal malu itu dibiarkan hidup lebih lama dalam dunia? Dia dan Yo Siauw saling mencintai. Dia lebih suka berkhianat dari pada menurut perintah guru. In Liok Hiap, guna menolong mukamu, aku tak tega untuk membuka rahasia itu. Hm! Tak guna kau memikiri perempuan yang mukanya begitu tebal!”

Paras muka Lie Heng pucat bagaikan kertas. “Tidak! Aku tak percaya!” teriaknya.

“Tanyakan anak itu, siapa namanya,” kata Biat Coat.

Dengan air mata berlinang, Lie Heng menatap wajah si nona.

“Aku bernama Yo Poet Hwie,” kata nona itu “Ibu pernah mengatakan bahwa ia tidak merasa mneyesal akan terjadinya kejadian itu!”

Mendadak In Liok Hiap mengeluarkan teriakan menyayat hati. Ia melemparkan pedangnya di tanah, menekap mukanya dengan kedua tangan dan lari turun gunung bagaikan terbang.

“Liok tee! Liok tee!” memanggil Song Wan Kiauw dan Jie Lian Dioe.

Lie Heng lari terus. Tiba-tiba ia terguling, bangun, lari lagi dan dalam sekejap tak kelihatan bayang-bayangnya lagi.

Semua orang menghela napas dan turut merasa duka akan nasib In Liok hiap yang malang itu. Bahkan seorang pendekar Boe Tong jatuh di waktu lari merupakan penderitaannya yang maha hebat.

Sementara itu, Song Wan Kiauw, Jie Lian Cioe, Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok duduk di seputar Boe Kie. Dengan masing-maisng mengeluarkan sebelah tangan yang telapaknya ditempelkan di dada, perut, punggung dan pinggang Boe Kie dan kemudian mengerahkan Lweekang yang dimasukkan ke dalam tubuh pemuda itu untuk mengobati lukanya.

Selang beberapa saat, mereka merasai munculnya tenaga mengisap dalam tubuh Boe Kie yang terus menerus menyedot Lweekang mereka. Mereka kaget, kalau pengisapan itu tidak berhenti, dalam waktu sejam dua jam, tenaga dalam mereka bakal disedot habis-habisan. Namun karena jiwa Boe Kie masih dalam keadaan bahaya, mati hidupnya belum ketahuan, mereka tentu saja tidak bisa segera menarik pulang bantuan itu.

Bagaimana baiknya?

Selagi keempat partai itu bersangsi tiba-tiba Boe Kie membuka matanya dan mengeluarkan seruan perlahan. “Ah!”

Di lain saat Song Wan Kiauw merasai masuknya semacam hawa hangat dari telapak tangan mereka. Pemuda itu ternyata sudah menggerahkan Kioe yang Sin kang dan mengirim tenaga dalamnya kepada keempat paman itu.

“Tak boleh! Kau harus istirahat,” kata Song Wan Kiauw. Dengan serentak mereka menarik tangan mereka dan berbangkit. Hampir berbareng mereka merasai mengalirnya hawa hangat yang sangat nyaman di sekujur badan mereka. Boe Kie bukan saja sudah memulangkan tenaga bantuan, tapi sudah membalas budi dengan menghadiahkan Kiauw yang Cie Khie kepada paman-pamannya itu.

Song Wan Kiauw berempat saling mengawasi dengan rasa kagum. Bahwa keponakan itu yang sudah terluka sedemikian berat masih mempunya Lweekang yang begitu kuat, sungguh-sungguh di luar dugaan.

Meskipun Boe Kie masih menderita luka di luar yang sangat hebat, kesehatan di dalam badan sudah pulih kembali dan hawa sudah bisa mengalir dengan leluasa. Perlahan-lahan ia bangun seraya berkata, “Song Toapeh, Jie Jiepeh, Thio Siepeh, Boh Cit siok, tit jie memohon maaf untuk segala kekurangajarannya. Apakah Thay soe hoe berada dalam keadaan sehat?”

“Soe hoe baik-baik saja,” jawab Wan Kiauw. “Boe Kie…kau…kau sudah besar…” Perkataan terputus-putus karena terharu, ia ingin bicara banyak tapi mulutnya terkancing.

Di lain pihak sesudah mengetahui bahwa pemuda yang sudah menolong jiwanya adalah cucunya sendiri Peh Bie Enghong In thiau Ceng girang bukan main, meski belum bisa berbangkit, ia tertawa terbahak-bahak.

Biat Coat Soethay mengawasi itu semua dengan paras muka menyeramkan. Tiba-tiba ia mengibaskan tangannya dan lalu bertindak untuk turun gunung, yang diikuti oleh murid-muridnya. Sambil menundukkan kepala, Cioe Cie Jiak turut berjalan, tapi baru bertindak beberapa langkah ia tak tahan untuk menengok ke arah Boe Kie. Pemuda itupun sedang mengawasinya sehingga kedua pasang mata lantas saja kebentrok.

Pada muka si nona yang pucat lantas saja timbul sinar dadu. Sinar matanya adalah sedemikan rupa, sehingga ia seperti juga mau minta maaf atas perbuatannya dan mengharap supaya Boe Kie menjaga diri baik-baik.

Pemuda itu rupanya tahu akan perasaan si nona. Sambil tersenyum, ia manggut-manggutkan kepalanya. Perasaan Cie Jiak lantas saja berubah terang. Ia balas tersenyum dan lalu meyusul rombongannya dengan tindakan lebar.

Itu semua tak terlepas dari mata Song Ceng Soe. Untuk beberapa detik, mata pemuda itu mengeluarkan sinar kebencian.

Sesudah Boe Tong pay tahu siapa adanya Boe Kie dan sesudah Go Bie Pay berlalu, usaha enam partai untuk membasmi Beng Kauw gagal seanteronya.

Orang-orang Khong tong dan Koen Loen lantas saja berpamitan. Ho Tay Ciong mendekati dan berkata, “Saudara kecil aku memberi selamat bahwa hari ini kau bertemu dengan keluarga sendiri…”

Tanpa menunggu sampai orang tua itu habis bicara, Boe Kie segara mengeluarkan dua butir Yowan dari sakunya. Yowan itu hanya obat biasa untuk menolak racun. Sambil mengangsurkan kepada Ho Thay Ciong. Pemuda itu berkata. “Cianpwee berdua masing-masing boleh menelan sebutir. Sesudah makan obat ini, racun Kim cam Kauw tak akan punah.”

Ho Thay Ciong mengawasi kedua yowan itu dengan perasaan sangsi.

“Boanpwee pasti tak berdusta” kata pula Boe Kie.

Mendengar perkataan itu ia tak berani membuka mulut lagi. “Andaikata dia memberi obat palsu di hadapan keempat pendekar Boe tong aku tentu tak bisa menggunakan kekerasan,” pikirnya. “Apalagi orang-orang Siauw Lim berdiri di pihak bangsat kecil itu. Sudahlah! Terserah kepada nasib,” memikir begitu seraya tertawa getir, ia berkata, “Terima kasih.” Sesudah menelan yowan itu bersama Pay Siok Ham, ia segera memerintah murid-muridnya merawat jenazah partai Koen Loen dan kemudian sesudah berpamitan mereka turun gunung.

“Boe Kie,” kata Jie Lian Cioe, “karena kau terluka berat sebaiknya kau berdiam saja di sini untuk sementara waktu, guna berobat. Kami tak bisa menemani kau. Kami hanya mengharap supaya sesudah sembuh, kau sudah tangan ke Boe tong San, agar Soe Hoe turut merasa girang.”

Dengan mata mengembang air, pemuda itu manggutkan kepalanya.

Keempat pemuda itu ingin sekali mengajukan banyak pertanyaan, tapi melihat kelemahan keponakannya, mereka tidak berani bicara banyak-banyak.

Sekonyong-konyong di antara barisan Siauw Lim terdengar teriakan seorang, “Ke mana perginya jenazah Goan tin soeheng?”

“Mengapa hilang?” menyambung yang lain.

Boh Seng Kok heran dan segera mendekati tujuh delapan pendeta Siauw Lim yang sedang merawati jenazah anggota-anggota partainya. Benar saja, mereka tidak melihat jenazah Goan tin.

“Lekas pulangkan jenazah Goan tin soeheng!” teriak Goan im sambil menuding orang-orang Beng Kauw.

Cioe Thian tertawa terbahak-bahak. “Benar-benar kau sudah gila!” katanya. “Perlu apa kami mencuri mayat pendeta.”

Orang-orang Siauw Lim tidak rewel lagi. Jawabnya itu ada benarnya juga. Mereka menduga mungkin sekali waktu mengumpulkan jenazah orang-orang Hwa san pay atau Kong tong pay sudah mengambil jenazah Goan tin.

Tak lama kemudian, dengan beruntun barisan Siauw Lim dan Boe Tong turun gunung.

Boe Kie menyoja dan membungkuk untuk memberi selamat jalan kepada para pamannya.

“Anakku Boe Kie,” kata Song Wan Siauw. “Hari ini namamu tersohor di kolong langit dan Beng Kauw menanggung budimu yang sangat berat. Kuharap supaya kau bisa menuntun mereka ke jalan yang lurus.”

“Anak pasti akan memperhatikan pesan Tao Soe pek,” jawabnya.

“Dalam segala hal kau harus berhati-hati, kau harus menjaga jangan sampai diperdayai oleh manusia-manusia rendah,” kata Thio siong Kee.

Boe Kie mengangguk. Baik pihak paman, maupun pihak keponakan, sama-sama merasa berat untuk berpisahan.

Sesudah keenam partai pergi semuanya, Yo Siauw dan In Thian Ceng saling mengawasi. Tiba-tiba mereka berteriak dengan berbareng, “Para anggauta Beng Kauw dan Peh Bie Kauw! Berlutut untuk menghaturkan terima kasih kepada Thio Tay hia!”

Di lain saat semua orang sudah mendekam di atas tanah.

Boe Kie bingung tak kepalang. Apa pula di antara mereka terdapat kakek dan pamannya sendiri. Di luar dugaan, karena berlutu,t luka di dadanya terbuka lagi dan darah kembali mengucur dan ia lantas saja roboh pingsan.

Siauw Ciauw tersipu-sipu memapahnya. Dua orang tauw bak (pemimpin regu) segera mengambil tandu dan merebahkan tuan penolong itu didalamnya

Alis Yo Siauw berkerut, “Lekas antar Thio Tay Hiap ke kamarnya,” katanya. “Selama beberapa hari ia tidak boleh diganggu oleh siapapun jua.”

Kedua tauw bak itu mengiakan sambil membungkuk dan lalu membusung Boe Kie ke kamar Kong Beng Soe cia dengan diikuti oleh Siauw Ciauw. Waktu ia lewat didepan Poet Hwie, nona Yo berkata dengan suara dingin, “Siauw Ciauw! Kau sungguh pandai bersandiwara. Aku memang sudah menaksir, bahwa kau main gila. Aku hanya tidak menduga, bahwa dibelakang penyamaran siluman perempuan bersembunyi seorang nona yang cantik manis.”

Siauw Ciauw tidak menjawab. Ia berjalan terus sambil menundukkan kepala dan menyeret rantai.

Selama beberapa hari orang-orang Beng Kauw yang tidak terluka sangat repot. Mereka harus mengubur yang mati dan mengobati yang luka. Sekarang mereka insyap, bahwa adegan yang berupa cakar-cakaran di dalam kalangan sendiri akhirnya membawa bencana besar. Di tambah dengan kekuatiran akan keselamatan Boe Kie, maka dia ntara mereka tak ada yang menyentuh-nyentuh lagi soal permusuhan lama.

Dengan memiliki Kioe yang sin kang dan juga sebab tusukan pedang yang tidak melanggar bagian berbahaya, kesembuhan Boe Kie terjadi dengan cepat sekali. Dalam tujuh delapan hari, lukanya sudah mulai rapat.

In Thian Ceng, Yo Siauw, Wie It Siauw, Swe Poet Tek dan yang lain-lain masih rebah di ranjang. Tapi setiap hari, dengan menggunakan tandu mereka menengok tuan penolong itu. Melihat kesehatan Boe Kie pulih dengan cepat, mereka semua girang sekali.

Pada hari ke delapan, malam. Boe Kie sudah bisa duduk. Malam itu Yo Siauw dan Wie It Siauw datang di kamarnya.

“Sesudah kena It im cie, bagaimana keadaan Jie Wie selama beberapa hari ini?” tanya Boe Kie.

Serangan-serangan dingin kian hari kian meningkat, akan tetapi, sebab kuatir pemuda itu jengkel, mereka serentak menjawab, “Banyak mendingan.”

Tapi Boe Kie tak mudah dibohongi. Melihat mukanya yang bersinar hitam dan suara yang tak bertenaga, ia tahu keadaan yang sebenarnya. “Tenaga dalamku sudah pulih enam-tujuh bagian dan kini aku telah bisa membantu jie wie,” katanya.

“Tidak! Tak boleh!” kata Yo Siauw tergesa-gesa. “Perlu apa Thio tayhiap begitu kesusu? Sesudah sembuh seluruhnya, masih banyak waktu untuk menolong kami.”

“Memang juga tidak perlu terburu-buru,” menyambung Wie It Siauw sambil tertawa. “Sekarang atau nanti tak banyak bedanya. Yang paling penting ialah Thio tayhiap harus menjaga diri sendiri.”

“Gie hoe (ayah angkatku) adalah pantaran jie wie dan tingkatan jie wie lebih tinggi daripada aku,” kata Boe Kie. “Maka itu kumohon jie wie jangan mengunakan panggilan tayhiap lagi karena aku tak bisa menerimany.”

(Tayhiap = pendekar besar)

Yo Siauw bersenyum. “Di kemudian, hari kami semua akan menjadi orang sebawahanmu,” katanya. “Di hadapanmu kami takkan berani turun bersama-sama.”

Boe Kie terkejut. “Yo Peh peh, apa katamu!” ia menegas.

“Thio tayhiap” kata Wie It Siauw, “Kedudukan Kauw coe dari Beng Kauw tak bisa diduduki oleh lain orang daripada kau sendiri!”

Dengan kaget pemuda itu menggoyang goyangkan kedua tangannya. “Tidak! Tidak! Biar bagaimanapun jua tit jie takkan berani menerima,” katanya.

(Tit jie = keponakan)

Saat itu, mendadak saja, dari sebelah kejauhan terdengar teriakan nyaring. Itulah tanda bahaya di kaki Kong Beng Teng!

Yo Siauw dan Wie It Siauw agak terkejut. Apa keenam partai masih merasa penasaran dan datang menyerang lagi? Tapi sebagai jago kelas utama, paras muka mereka sedikitpun tidak berubah.

“Apakah jin somg yang kemarin sudah dimakan?” tanya Yo Siauw. “Ciauw, pergi kau ambil lagi dari kamar obat dan tolong godok supaya bisa lantas bisa dimakan oleh Thio tayhiap.” Baru saja ia berkata begitu, di sebelah barat dan selatan kembali terdengar teriakan nyaring.

“Apa kita diserang musuh?” tanya Boe Kie.

“Beng Kauw dan Peh bie Kauw tidak kekurangan orang pandai,” kata Wie It Siauw. “Thio tayhiap, kau tak usah kuatir. Beberapa bangsat kecil tak cukup untuk dibuat pikiran.”

Beberapa saat kemudai teriakan-teriakan sudah terdengar di pinggir gunung! Cepat sungguh bergeraknya musuh. Mereka ternyata bukan bangsat kecil.

“Coba ku keluar untuk membereskan mereka,” kata Yo Siauw. “Wie Heng, kau berdia saja di sini untuk menemai Thio tayhiap. Huh, huh! Apakah orang kira Beng Kauw boleh dihina terus, menerus oleh segala manusia?” Biarpun badannya belum bisa bergerak, suaranya lantang dan gagah.

Diam-diam Boe Kie merasa bingung. “Siauw Lim, Boe tong dan yang lain-lain adalah partai-partai lurus bersih dan tak mungkin mereka datang lagi untuk menyerang,” pikirnya. “Yang datang mungkin sekali manusia-manusia jahat. Semua orang pandai di Kong Beng Leng terluka berat. Selama tujuh delapan hari mereka belum mendapat pengobatan yang tepat. Kita tak akan bisa melawan musuh. Kalau bertempur, kita semua akan mengantarkan jiwa.”

Sekonyong-konyong dari luar menerobos masuk sesorang yang mukanya berlepotan darah dan dadanya tertancap pisau.

Begitu masuk ia berteriak dengan suara terputus-putus. “Musuh…Meyerang dari tiga jurusan… saudara-saudara kita…Tak tahan…”

“Musuh dari mana?” menegas Wie It Siauw.

Orang itu menuding keluar, tapi sebelum ia bisa menjawab, ia roboh dan melepaskan napasnya yang penghabisan.

Suasana teriakan jadi makin ramai.

Sekonyong-konyong dua orang lain masuk ke kamar. Yo Siauw mengenali, bahwa yang di sebelah depan adalah Cian Kie Hoe Soe (wakil pemimpin) dari Ang Soei Kie. Ia terluka berat, lengannya putus sebatas bahu dan mukanya pucat pasi. Orang yang mengikuti di belakangnya juga berlumuran darah.

Meskipun berada dalam keadaan setengah mati, wakil pemimpin itu bersikap tenang dan sambil membungkuk, ia berkata, “Thio tayhiap, Yo Co soe, Wie Hiat ong, musuh yang menyerang kita terdiri dari Kie Keng pang, Hay see pay, Sin koen boen dan lain-lain.”

Alis Yo Siauw berkerut dan ia mengeluarkan suara di hidung, “Hm… kawanan setan kecil itu juga berani menghina kita?” katanya.

“Yang menjadi kepala adalah seorang Hoan ceng dari See Hek,” menerangkan Ciang Kie Hoe Soe.

“Dia berkepandaian sangat tinggi dan menggunakan Ie thian kiam…”

(Hoan ceng dari Seee hek = Pedeta asing dari daerah barat).

Mendengar “Ie thian kiam”, hampir berbarengan Boe Kie, Yo Siauw dan Wie It Siauw mengeluarkan seruan tertahan.

“Apa benar Ie thian kiam?” tanya Yo Siauw, “Apa kau tak salah lihat?”

“Selagi aku bertempur, saudara Ong ini berada di sampingku, memegang obor,” jawabnya. “Aku pasti tidak salah lihat. Dengan sekali, pendeta itu memutuskan golok dari lenganku. Aku dapat membaca huruf “Ie thian” pada pedang itu. Tak bisa salah lagi.”

Waktu bicara sampai di situ, kelima Ngo Sian Jie Leng Kiam, Tiat Koen Tan Jin Thio Tiong, Pheng Eng Giok, Swee Poet Tek dan Cioe Tian masuk dengan digotong oleh beberapa orang.

“Kurang ajar! Betul-betul kurang ajar!” teriak Cioe Tian. “Kay pang bersama Sam boen pang dan Boe San pang juga turut menyerang. Sebegitu lama masih bernyawa aku tak akan menyudahi sakit hati ini…” belum habis ia bicara, dengan bertongkat In Thian Ceng dan In Ya Ong turut masuk ke dalam kamar.

“Boe Kie, kau tidur saja di sini,” kata sang kakek. “Bangsat! Segala partai cilik seperti Ngo Beng to dan Toan Hoen chio juga berani datang kemari. Aku mau lihat apa yang bisa diperbuat mereka.”

“Dilihat begini, musuh yang menyerang bukan kecil jumlahnya,” kata Yo Siauw, “Sayang, sungguh sayang kita masih belum bisa bergerak.”

Di antara tokoh-tokoh itu, dalam kalangan Beng Kauw, Yo Siauw berkedudukan paling tinggi. Dalam Peh Bie Kauw, In Thian Ceng menjadi Kauw Coe sedang Pheng Eng Giok dikenal sebagai jago yang terkenal budi. Selama hidup mereka sudah kenyang mengalami gelombang hebat. Dengan kepandaian dan kebijaksanaan mereka selalu bisa lulus dari ujian dengan selamat. Tapi sekarang mereka menghadapi jalanan buntu. Sedang semua jago terluka hebat, musuh yang berjumlah besar datang menyerang. Apa yang harus diperbuat mereka? Kemungkinan satu-satunya adalah dibasmi musuh.

Waktu itu didalam hati, semua orang sudah menganggap Boe Kie sebagai Kauw Coe sehingga tanpa merasa mereka semua mengawasi pemuda itu.

Tentu saja Boe Kie turut mengasah otak. Dalam beberapa detik, macam-macam ingatan berkelebat2 dalam otaknya. Dalam ilmu silat, ini memang lebih unggul daripada To Siauw dan yang lain2. Tapi dalam menarik daya upaya ia masih kalah dari jago-jago yang sudah berpengalaman itu. Kalau mereka sudah putus asa, apakah yang bisa diperbuat olehnya sendiri.

Untuk beberapa saat kamar itu sunyi senyap.

Sekonyong-konyong Boe Kie ingat sesuatu. “Ah!” teriaknya. “Jalan satu-satunya menyembunyikan diri dalam jalanan rahasia. Musuh mungkin tak akan tahu. Tapi seandainya mereka tahu tak gampang-gampang mereka menerjang masuk.” Di dalam hati ia merasa, bahwa daya itu paling sempurna sehingga suaranya penuh kegirangan. Tapi diluar dugaannya, kelihatannya tidak mendapat jawaban.

Semua saling mengawasi tanpa mengeluarkan sepatah kata. Mereka kelihatannya tidak menyetujui usul itu.

“Seorang laki-laki harus bisa mundur dan bisa maju,” kata Boe Kie. “Kau sekarang mundur untuk sementara waktu. Begitu lekas kita sudah sembuh, kita boleh keluar untuk bertarung. Menurut pendapatku, tindakan ini sama sekali tidak menurunkan derajat atau keangkeran kita.”

“Daya upaya Thio tayhiap memang sangat baik,” kata Yo Siauw. Ia menengok kepada Siauw Ciauw dan berkata pula, “Siauw Ciauw, tolong antar Thio tayhiap ke jalanan rahasia.”

“Kalau aku pergi, kita semua pergi bersama-sama,” kata Boe Kie.

“Thio tayhiap jalan duluan, kita akan mengikuti di belakang,” kata Yo Siauw.

Di dengar dari nada suaranya, pemuda itu tahu, bahwa Yo Siauw dan yang lain-lain takkan mengikuti. Maka itu, ia lantas saja berkata dengan suara nyaring. “Para cianpwee! Walaupun Thio Boe Kie bukan anggauta Beng Kauw, tapi sesudah kita bersama-sama melewati bahaya besar, perhubungan antara kita adalah perhubungan mati hidup bersama-sama. Apakah para cianpwee kira aku seorang manusia yang takut mati? Apakah para cianpwee duga, ada sesuatu yang tidak diketahui olehku,” jawabnya dengan suara terharu.

“Menurut peraturan Beng Kauw yang sudah berturun turun, jalanan rahasia di Kong beng teng dianggap sebagai tempat suci. Kecuali Kauw coe, anggota yang manapun jua tak boleh masuk kesitu. Siapa yang melanggar peraturan, dia akan kena hukuman mati. Karena Thio tayhiap dan Siauw ciauw bukan anggotra partai, maka kalian berdua tak usah menaati peraturan tersebut.”

Sementara itu teriakan-teriakan makin santer dan makin dekat kedengarannya.

Jalanan ke atas Kong keng teng penuh dengan bahaya, tak mudah dipanjat dan di sana-sini terdapat tebing-tebing yang curam. Di banyak tempat di pasang pintu-pintu besi atau batu raksasa. Maka itu, biarpun Beng Kauw tak bisa memberi perlawanan hebat tapi musuh tidak gampang-gampang bisa mencapai puncak Kong Beng teng.

Di samping itu, karena merasa jeri akan nama Beng Kauw yang besar, musuh tidak berani menerjang secara sembrono. Tapi di dengar dari teriakan-teriakan itu, mereka dapat merasak maju dengan perlahan.

Makin lama Boe Kie jadi makin bingung. “Dalam waktu satu jam lagi, semua orang bakal binasa,” katanya di dalam hati. Dalam bingungnya, ia segera bertanya, “Para Cianpwee! Apakah peraturan itu tidak dapat diubah?”

Dalam paras duka Yo Siauw menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Bisa!” kata Pheng Eng Giok sekonyong-konyong. “Thio Tayhiap memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan rasa perikemanusiaan yang sangat luhur. Di samping itu, Thio tayhiap telah membuang budi yang besar luar biasa kepada kita. Sampai mati, kita semua tak akan bisa membalas budi itu. Kalau sekarang kita ramai-ramai mengangkat kau sebagai Kauw Coe turunan ke tiga puluh empat, maka sebagai Kauw Coe kau bisa memerintah kita semua untuk masuk ke jalan-jalan rahasia itu. Kalau di perintah oleh Kauw Coe sendiri, kita tidak melanggar peraturan yang sudah ditetapkan.”

Mendengar usul Pheng Eng Giok, semua orang yang sudah mempunyai niatan untuk mengangkat Boe Kie sebagai Kauw Coe, dengan serentak menyatakan setuju.

Tapi Boe Kie menggoyang-goyangkan tanganya. “Tak bisa, ini tak bisa!” katanya. “Boanpwee masih terlalu muda dan berpengetahuan terlampau cetek. Boanpwee tidak mempunyai kemuliaan apapun jua. Bagaimana boanpwee bisa menerima tanggung jawab yang sedemikian berat? Disamping itu, Thay soehoe juga pernah memesan, bahwa boanpwee sekali-kali tidak boleh masuk ke dalam kalangan Beng Kauw. Dengan merasa sangat menyesal, boanpwee tidak bisa menerima usul Pheng Tay soe.”

“Boe Kie, aku adalah kakekmu dan sebagai kakek, aku sekarang memerintahkan supaya kau masuk ke dalam Beng Kauw,” kata In Thia Ceng. “Andai kata dalam ikatan dengan kau kedudukan sebagai kakek tidak lebih tinggi dari Thay soehoemu, tapi sedikitnya sebagai kakek aku tidak jauh lebih rendah dari guru besar itu. Sekarang, dengan menggunakan kekuasaan sebagai kakek, aku memudahkan perintah Thay soehoemu. Kalau kau menerima, orang luar pasti tak akan bisa menyalahkan kau. Tapi biar bagaimanapun jua, aku menyerahkan segala keputusan kepada pertimbanganmu sendiri.”

“Dengan ditambah seorang paman, kita jadi terlebih kuat,” menyamnung In Ya Ong. “Kata orang, bertemu dengan paman seperti bertemu dengan orang tua sendiri. Orang tuamu sudah meninggal dunia dan aku sebagai pamanmu, bisa menggantikan kedudukan orangtuamu.”

Mendengar perkataan kakek dan pamannya, Boe Kie berduka dan serba salah. Sambil menghela napas, ia berkata, “Waktu berada dalam jalan rahasia, aku telah mendapatkan surat wasiat mendiang Yo Kauw Coe. Aku mengambil surat itu untuk diperingatkan kepada kalian. Dan surat tersebut, mendiang Yo Kauw Coe memesan supaya ayah angkatku, Kamo mo Say Ong, diangkat menjadi Kauw Coe untuk sementara waktu.”

“Thio tay hiap,” kata Pheng Eng Giok, “Seorang laki-laki tidak boleh terlaku berkukuh dalam hal-hal kecil. Seorang laki-laki haris bisa menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan besar dalam dunia. Sekarang Cia Soen tidak berada di sini. Maka itu, aku sekarang mengusulkan, supaya sesuai dengan keinginan mendiang Yo Kauw Coe, Thio tayhiap menduduki kursi Kauw Coe, untuk sementara waktu.”

“Benar! Benar!” menyambut semua orang.

Dalam menghadapi bencana, Boe Kie akhirnya mengambil keputusan cepat. Yang paling penting menolong jiwa yang lain boleh di damaikan belakangan, pikirnya. “Sesudah para Cianpwee mengunjuk kecintaan yang sedemikian besar, jika aku tetap menolak, maka aku akan menjadi manusia yang berdosa. Sekarang untuk sementara waktu Boe Kie menerima kedudukan Kauw Coe. Nanti, sesudah kita melewati bahaya dengan selamatan kuharap kalian suka mengangkat seorang lain yang lebih cakap.”

Pertanyaan itu disambut dengan sorak-sorai. Biarpun sedang menghadapi bencana mereka sangat girang dan paras muka semua orang berseri-seri.

Bagaimana mereka tak girang? Semenjak meninggalnya Yo Po Thian, Beng Kauw tidak mempunyai pemimpin, sehingga belakangan agama itu menjadi berantakan dan jago-jagonya saling bermusuhan.

Sebagian memisahkan diri, sebagian mendirikan lain agama atau partai, sebagian melakukan perbuatan-perbuatan jahat tanpa tercegah. Kejadian-kejadian itu bantu-membantu meruntuhkan Beng Kauw.

Sekarang sesudah lewat banyak tahun, mereka mendapat seorang Kauw Coe yang berkepandaian tinggi dan luhur pribadinya, sehingga bila diharapkan bahwa Beng Kauw akan segera mendapat kembali keangkeran dan kemakmuran yang dahulu. Bagaimana mereka tak girang?

Dengan serentak, orang-orang yang masih bisa berlutut lantas saja berlutut di hadapan Kauw coe baru itu. In Thian Ceng dan In Ya Ong adalah kakek dan paman Boe Kie. Tapi kedua orang tua itupun turut menekuk lutut.

Dengan bingung ia berteriak, “Aduh! Harap kalian jangan begitu! Bangunlah Yo Co Soe, aku minta kau segera menyampaikan perintah kepada semua orang, supaya seluruh anggota agama kita, dari yang tinggi sampai yang rendah, semua masuk ke jalanan rahasia. Perintahkan Ang So Kie dan Liat Hwee Kie melepas api dan menahan musuh. Semua bangunan yang berdiri di atas Kong Beng Teng harus dibakar habis.”

“Baiklah,” jawab Yo Siauw. “Perintah Kauw Coe akan segera dilaksanakan,” ia lantas saja di gotong keluar dari kamar itu untuk memerintahkan Ang Soei dan Liat Hwee melindungi dari belakang dan semua orang mundur ke jalanan rahasia.

Waktu masuk ke jalanan rahasia mereka membawa ransum dan air secukupnya, sehingga biarpun harus bersembunyi satu dua bulan, mereka takkan mati kelaparan.

Para anggauta Beng Kauw dan Peh Bie Kauw berjalan tanpa mengeluarkan sepatah kata. Jalanan rahasia itu dianggap sebagai tempat suci oleh orang lain kecuali Kauw Coe. Hanyalah atas kurnia Kauw Coe, mereka sekarang bisa masuk ke situ.

Dengan berdiri di sekitar kerangka Yo Po Thian, Yo Siauw dan lain-lain pemimpin mendengari penuturan Boe Kie tentang cara bagaimana ia mendapat surat wasiat mendiang Yo Kauw Coe dan cara bagaimana ia melatih diri dalam ilmu Kien Koen Tay Lo Ie Sin Kang.

Sesudah selesai penuturannya, Boe Kie segera mengangsurkan kulit kambing yang berisi pelajaran Kian Koen Tay Lo Ie Sin Kang kepada Yo Siauw.

Tapi Yo Siauw tidak berani menerima. Seraya membungkuk ia berkata, “Dalam surat wasiat mendiang Yo Kauw Coe telah menetapkan, bahwa untuk sementara waktu Kian Koen Tay Lo Ie Sim hoat dipegang oleh Cia Soen dan kemudian diserahkan kepada Kauw Coe baru. Menurut pantas, Sim hoat ini sekarng harus disimpan Kauw Coe Sendiri.”

Dengan bergilir, semua orang membaca surat wasiat Yo Po Thian. Banyak diantaranya menghela napas dan menggeleng gelengkan kepala. Mereka tak pernah menyangka bahwa Yo Po Thian sedemikian gagahnya akhirnya binasa karena gara-gara cinta.

Kalau siang-siang mereka tahu ada surat wasiat itu, Beng Kauw tantu takkan terpecah-belah berantakan. Mengingat saudara-saudara yang sudah mengorbankan jiwa dan segala hinaan yang dideritanya merasa menyesal dan lalu mencaci Seng Koen.

“Biarpun Seng Koen adik seperguruan mendiang Yo Kauw Coe dan guru dari Kim mo Say ong, kita tak pernah bertemu muka dengannya,” kata Yo Siauw. “Siapapun takkan menduga bahwa selama beberapa puluh tahun ia mengatur dan menjalankan siasat untuk merobohkan Beng Kauw.”

Cioe Tian mengeluarkan suara di hidung.

“Yo Coe Soe, Wie Hong Ong, sesudah masuk dalam perangkap, kalian masih juga belum mendusin dan dilihat begini, kalian seperti juga manusia-manusia tolol,” kata Cioe Tian. Ia sebenarnya mau menyebutkan juga nama “si tua bangka Peh Bie,” tapi perkataan itu ditelan lagi ke dalam perutnya, sebab ia merasa malu hati kepada Kauw Coe.

Disentil begitu, paras muka Yo Siauw lantas saja berubah menjadi merah. “Tapi manusia takkan bisa terlolos dari jaring Langit,” katanya. “Pada akhirnya, bangsat Seng Koen mampus juga dalam tangan saudara Ya Ong.”

“Mengingat kejahatannya, dia sebenarnya mati terlalu enak,” kata pemimpin Liat hwee kie dengan suara mendongkol.

Setelah beromong-omong lagi beberapa lama, mereka baru bersila dan menjalankan pernapasan untuk mengobati luka.

Berselang tujuh delapan hari Boe Kie sudah hampir sembuh dan yang masih ketinggalan hanya luka yang dalamnya kira-kira sedim. Ia segera mengobati anggota-anggota Beng Kauw dan Peh Bie Kauw yang mendapat luka di luar. Meskipun kekurangan obat, dengan pembantuan penjaruman, “pempakaran” dan ilmu mengurut, ia berhasil menolong semua orang.

Semua orang-orang itu hanyalah mengenal Kauw Coe mereka sebagai pemuda yang ilmu silatnya tinggi luar biasa. Mereka tak pernah menyangka, bahwa Boe Kie pun memiliki ilmu ketabiban yang dapat direndengkan Tiap kok ie sian Ouw Ceng Goe.

Lewat beberapa hari lagi, Boe Kie sudah sembuh seanteronya. Dengan menggunakan Kioe yang Sin Kang, ia segera menolong Yo Siauw, Wie It Siauw, Yo Poet Long Hwie dan Ngo Sin Jiu untuk mengusir racun dingin It Im Cie yang mengeram dalam tubuhnya. Dalam tempo tiga hari saja, racun telah dapat dikeluarkan.

Begitu sembuh, dengan semangat bergelora mereka terus mau keluar untuk menghajar musuh.

“Tunggu dulu,” kata Boe Kie. “Kalian baru saja sembuh dan tenaga dalam belum pulih semuanya. Bersabarlah beberapa hari lagi.”

Selama beberapa hari itu, semua orang-orang bersiap sedia. Yang ilmu silatnya agak rendah menggosok golok, menggosok pedang. Yang ilmu silatnya tinggi, melatih Lweekang.

Sedari dikeroyok oleh enam partai besar, mereka telah menerima banyak hinaan dan kedongkolan sudah bersusun tindih.

Malam itu, Yo Siauw mengawasi Boe Kie dan menceritakan segala sesuatu mengenai agama mereka, seperti sejarah, peraturan-peraturan, pengaruh dan kekuatan di berbagai tempat, kepandaian dan watak tokoh-tokoh yang terkemuka.

Selagi beromong-omong tiba-tiba terdengar suara rantai dan Siauw Ciauw masuk dengan membawa nampan teh. Setelah menaruh kedua cangkir di hadapan pemimpin itu, ia segera keluar lagi.

Sekonyong-konyong Boe Kie teringat sesuatu dan ia segera berkata, “Yo Co soe, selama beberapa hari ini nona kecil itu tidak pernah melakukan pelanggaran apa-apa. Kuharap kau suka membuka rantainya.”

“Baiklah,” kata Yo Siauw yang lantas saja memanggil putrinya. “Poet Hwie, Kauw Coe ingin supaya Siauw Ciauw dilepaskan,” katanya. “Kau bukalah kuncinya.”

“Anak kunci berada dalam lemari, dalam kamarku,” jawabnya. “Aku tidak membawanya kemari.”

“Tak apa, nanti saja,” kata Boe Kie.

“Kurasa anak kunci itu takkan terbakar lumer.”

Sesudah puterinya keluar, Yo Siauw berkata, “Kauw Coe, biarpun Siauw Ciauw masih berusia muda, tindakan-tindakannya sangat aneh. Kita harus berhati-hati.”

“Siapa nona itu? Bagaimana asal usulnya?” tanya Boe Kie.

“Pada waktu kira-kira setengah tahun yang lalu, waktu aku bersama Poet Hwie jalan-jalan di bawah gunung, tiba-tiba kulihat dia sedang menangis di gurun pasir sambil memeluk dua mayat,” kata Yo Siauw. “Aku menghampiri dan menanya. Ia mengatakan, bahwa kedua mayat itu adalah jenazah ayah-ibunya. Menurut penuturannya, sebab sang ayah membuat suatu pelanggaran di Tiong Goan, maka mereka ” ayah, ibu dan anak tiga orang ” dihukum untuk bekerja dalam tentara See Hek. Beberapa hari yang lalu, mereka melarikan diri karena tak tahan dihina dan dipersakiti perwira Mongol. Tapi akhirnya, sebab sudah terluka dan habis tenaga, kedua orang tua itu meninggal dunia. Biarpun romannya jelek, aku merasa kasihan. Sesudah mengubur kedua jenazah itu, dan mengajaknya pulang dan menyuruh menemani Peot Hwie.”

Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya.

“Kalau begitu Siauw Ciauw yatim piatu, sama seperti aku,” katanya di dalam hati.

Sesudah berdiam sejenak, Yo Siauw berkata pula, “Sesudah Siauw Ciauw berdiam di Kong beng teng, pada suatu hari, ketika aku mengajar ilmu silat kepada Poet Hwie, itu terjadi sesuatu yang luar biasa. Aku mencoba memberi penjelasan tentang kedudukan ke enam puluh empat dari Pat Kwa. Anehnya Poet Hwie masih belum mengerti, mata Siauw Ciauw sudah mengawasi kedudukan yang benar.”

“Mungkin sekali sebab dia berotak sangat cerdas,” kata Boe Kie.

“Semula akupun menganggap begitu dan bahkan aku merasa girang,” kata Yo Siauw. “Tapi belakangan aku bercuriga dan dengan sengaja menyebutkan satu kauw koat (teori ilmu silat) yang sangat sulit. Kauw koat itu belum pernah diturunkan kepada Poet Hwie. Untuk menjajalnya, aku sengaja menyebutkan kedudukan-kedudukan Pat kwa yang kalah. Benar saja, kulihat alisnya berkerut, sehingga aku menarik kesimpulan, bahwa ia tahu akan kesalahanku itu. Mulai waktu itu aku berhati-hati. Aku tahu, bahwa nona cilik ini memiliki kepandaian tinggi dan kedatangannya ke Kong Beng Teng mengandung maksud tertentu.”

“Apakah tidak bisa jadi kedua orang tuanya paham kitab Ya Keng dan ia mendapat pelajaran turunan?” tanya Boe Kie.

“Aku rasa tidak begitu,” bantah Yo Siauw. “Sebagiamana Kauw Coe tahu. Ya Keng yang dipelajari oleh seorang selalu bersamaa dengan Ya Keng yang dipelajari untuk ilmu silat. Kalau benar Siauw Ciauw mendapat pelajaran itu dari kedua orang tuanya, maka kedua orang itu adalah ahli-ahli silat kelas utama. Supaya dia tidak bercuriga, sikapku sama sekali tidak berubah. Beberapa hari kemudian dengan menggunakan satu kesempatan baik, aku menanyakan nama ayah-ibunya dan asal-usul mereka. Tapi, ia sangat licin dan aku tidak dapat meraba apapun jua. Akupun tidak marah. Aku hanya memesan supaya Poet Hwie berhati-hati. Satu hari aku berguyon dan Poet Hwie tertawa terbahak-bahak. Siauw Ciauw yang juga berada di situ tak takut untuk tidak tertawa. Ia berdiri di belakang aku dan Poet Hwie dan rupanya ia mangganggap kami berdua tidak akan lihat tertawanya. Di luar dugaannya, ketika itu Poet Hwie sedang memegang sebatang cit sioe (pisau) yang mengkilap bagaikan kaca dan bayangan mukanya terlihat nyata ke badan pisau itu. Dengan tertawanya itu, penyamarannya terlucuti. Ia ternyata bukan seorang wanita jelek. Romannya yang jelek bukan sewajarnya, tapi dibuat-buat. Kecantikannya bahkan melebih Poet Hwie.”

Boe Kie bersenyum, “Membuat muka yang aneh itu terus-menerus memang bukan pekerjaan mudah,” katanya.

“Tapi kami masih belum membuka topengnya,” Yo Siauw melanjutkan penuturan. “Malam itu, sesudah larut malam, diam-diam aku pergi ke kamar Poet Hwie untuk mengintip gerak-geriknya. Sesudah mengintip beberapa lama, dan keluar dari kamar Poet Hwie dan pergi ke runtuhan kamar-kamar di sebelah timur. Ia masuk ke setiap kamar dan menyelidiki saban pelosok, entah mau cari apa. Aku tak tahan lagi. Aku keluar dari tempat sembunyi dan tanya dia lagi cari apa. Akupun tanya siapa yang menyuruhnya datang kemari. Tapi ia tenang-tenang saja. Ia menyangkal semua tuduhan dan mengatakan, “bahwa ia masuk keluar kamar hanya untuk main-main karena tak bisa pulas. Dengan berbagai jalan aku coba membujuknya dan memancingnya supaya aku mengaku terus-terang, tapi semua usahaku sia-sia saja. Karena jengkel, aku mengurung dia di dalam kamar dan tidak memberi makan selama 7 hari dan 7 malam, sehingga mati. Tapi ia tetap menutup mulut. Dengan kewalahan aku lalu merantai kaki tangannya dengan rantai hian tiat supaya kalau dia bergerak rantai itu bersuara. Tindakan ini adalah untuk mencegah dia mencelakai Poet Hwie dengan membokong.

“Kauw Coe, aku merasa pasti, bahwa dia datang kemari atas suruhan musuh kita. Sebab dia mengerti kedudukan-kedudukan Pat Kwa, maka mungkin sekali dia anggauta Boe tong ataupun Go Bie. Tapi biar bagaimanapun jua, kita tentu tak usah terlalu berkuatir. Dia hanya seorang gadis cilik. Dengan mengingat jasanya, bahwa dia sudah merawat Kauw Coe selama beberapa hari. Kauw Coe sudah menaruh belas kasihan dan mengampuninya. Dia untung besar bertemu dengan Kauw Coe dan aku pun tidak menentang keputusan Kauw Coe.”

Boe Kie tertawa dan lalu berbangkit, “Yo Co soe, sudah lama kita terkurung di penjara dan kurasa sekarang sudah tiba waktunya untuk kita mencari sedikit hiburan,” katanya.

Yo Siauw girang sekali. “Apa kita sudah boleh keluar?” tanyanya.

“Yang belum sembuh tidak boleh bergerak,” jawabnya. “Kedua Ciang Kie Soe dari Ang Soen dan Kie Bok, tak boleh ikut serta. Yang lain keluar semua.”

Perintah itu disambut dengan sorak-sorai. Sesudah semua orang bersiap-sedia, Boe Kie mendorong batu raksasa yang menutup pinta jalanan rahasia. Ia keluar lebih dahulu dan menunggu di luar pintu. Sesudah semua orang keluar, ia menutup lagi pintu itu dengan batu raksasa tersebut. Dalam kalangan Beng Kauw, orang yang memiliki tenaga paling besar ialah Gon Hoan Ciang Kie Soe Houw Touw Kie. Ia mengerahkan lweekang dan coba mendorong batu itu dengan sekuat tenaga. Tapi usahanya itu seperti capung mendorong pilar batu.

Supaya tidak mengagetkan musuh, semuanya berjalan dengan mengendap-endap sambil menahan napas.

Boe Kie sendiri menilik gerakan barisan itu dengan berdiri di atas satu batu besar. Dengan bantuan sinar rembulan, ia lihat pasukan Peh Bie Kauw mengambil kedudukan di sebelah barat. Rombongan-rombongan Lwee Sam Tong dan Gwa ngo tan, yaitu Sin Coa, Ceng Liong, Peh Houw Hian Boe dan Cioe Ciak tan berbaris rapi dengan masing-masing dikepalai oleh pemimpin mereka.

Di sebelah timur berkumpul Ngo Kie dari Beng Kauw, yaitu Swie Kim, Kie Bok, Ang Soet Liat Hwee dan Houw Touw Kie, yang mengambil kedudukan Ngo Heng dan masing-masing di kepalai oleh pemimpin-pemimpinnya.

Yang di tengah-tengah adalah empat pasukan Soe Boen (Empat Pintu) yang berada di bawah kekuasaan Yo Siauw. Soe Boen berarti pintu Thian (Langit), Tee (Bumi), Hong (angin) dan Loei (Geledek) yang masing-masing dipimpin oleh seorang Boen Coe dan semua anak buahnya adalah para anggota dari Kong Beng Teng.

Thian Coe Boen terdiri dari para anggota pria daerah Tion ggoan. Lee Coe Boen yang dipimpin Yo Poet Hwie terdiri dari hweeshio atau toojin, sedang Loei Coe Boen terdiri dari orang-orang See Hek (Daerah Barat).

Anak buah Lima Bendera dan Empat Pintu itu banyak yang baru saja sembuh dari lukanya, tapi sekarang mereka berbaris dengan semangat bergelora.

Sebagai rombongan terakhir ialah rombongan Boe Kie sendiri yang dilindungin oleh Ceng ke Hong Ong, Wie It Siauw dan Ngo Sian Jia.

Dengan hati, berdebar-debar semua orang menunggu perintah Kauw Coe.

Perlahan lahan Boe Kie berkata, “Musuh sudah menyerang sampai di sini. Biarpun kita tak ingin bertempur, kita tak bisa tidak bertempur. Akan tetapi, kalau bukan terlalu terpaksa, kita tak boleh melukai atau membunuh sesama manusia. Kuharap kalian suka ingat pesan ini.”

“Saudara-saudara Peh Bie Kauw, yang di pimpin oleh In Kauw Coe, harus menyerang dari jurusan barat. Ngo Heng Kie, yang di pimpin oleh Boen Ciong Siong, Ciang Kie Soe dari Kei Bok Kie menyerang dari timur. Yo Co Soe yang memimpin Soe Boen menyerang dari utara. Ngo Siang Jin menyerang dari selatan, Wie Hong Ong dan aku sendiri akan berdiam di tengah-tengah untuk memberi bantuan kepada yang memerlukan bantuan.”

Semuar orang membungkuk.

Sesaat kemudian, Boe Kie mengibas tangan kirinya dan berkata, “Serbu!!” Dengan serentak empat pasukan bergerak mengepung Kong Beng Teng dari empat jurusan.

“Hok Ong,” kata Boe Kie, “Kita berdua keluar dari jalanan rahasia dan serang mereka secara mendadak.”

Mereka masuk ke jalanan rahasia dan keluar dari kamar Yo Poet Hwie. Begitu keluar mereka bertemu dengan tumpukan puing dan hidung mereka mengendus bau sangit.

Di kalangan musuh ternyata terdapat banyak orang pandai. Sebelum pasukan-pasukan Beng kauw, Peh Bie Kauw datang dekat, mereka sudah tahu dan segera berteriak-teriak, memberi isyarat kepada kawan-kawannya.

Boe Kie dan Wie It Siauw saling mengawasi sambil tersenyum. Mereka yakin, bahwa pihak mereka akan mendapat kemenangan. Mereka memperhatikan jalan pertempuran dengan menyembunyikan diri di belakang tembok yang roboh.

Beberapa saat kemudian, dengan bantuan sinar rembulan mereka lihat Swee Poet Tek dan Cioe Tian, yang tiba paling dahulu dan yang segera menyerang musuh. Sesudah itu, dengan beruntun tibalah In Thian Ceng, Yo Siauw, dan pasukan-pasukan Ngo Heng Kie. Hebat sungguh serangan mereka. Mereka mengamuk bagaikan harimau edan.

Yang menyerang Kong Beng Teng di kali ini adalah Kaypang, Hay see pay dan lain-lain, semuanya beberapa belas partai besar dan kecil.

Sesudah Kong Beng Teng terbakar habis, mereka anggap orang-orang Beng Kauw sudah binasa semua dan mereka sudah mendapat kemenangan besar. Maka itu, selama beberapa hari, Kay Pang, Kie Keng Pang dan sejumlah partai lain sudah turun gunung, sedang yang masih berada di Kong Beng Teng hanyalah Sin Koen Boen, Sam Kang Pang, Boe San Pang dan Ngo Hong To. Serangan mendadak dari Beng Kauw dan Peh Bie Kauw sudah membingungkan mereka dan biarpun diantara mereka terdapat banyak jago yang pandai mereka semua bukan tandingan Yo Siauw dan kawan-kawannya. Baru saja bertempur kira-kira semakan nasi, sebagian besar sudah mati atau terluka.

Melihat begitu, Boe Kie segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata dengan suara nyaring, “Anggota-anggota dari berbagai partai dengarlah! Semua pemimpin Beng Kauw sekarang berkumpul di sini. Tak guna kalian melawan terus. Lemparkan senjata kalian! Aku akan mengampuni jiwa kalian dan memperbolehkan turun gunung tanpa diganggu.”

Tiba-tiba seroang Hoan Ceng (pendeta asing) yang bertubuh kate kecil melompat dan membentak, “Siapa kau?”

“Jangan kurang ajar!” bentak Yo Siauw, “Inilah Thio Kauw Coe, Kauw Coe kami yang baru.”

“Aku tak perduli Kauw Coe atau bukan Kauw Coe,” kata si pendeta dengan jumawa.

“Sambutlah pedangku!” bagaimana kilat pedang menyambar. Dengan matanya yang sangat jeli, Boe Kie segera mengenali bahwa pedang itu benar In Thian Kiam, ia berkelit dan bertanya, “Mengapa pedang milik Go Bie itu bisa di tangan Tay soe?”

Sebaliknya dari menjawab dia mengirim tiga serangan berantai. Menghadapi senjata mustika itu, Boe Kie sangat berhati-hati. Untuk menyelamatkan diri ia berkelit berulang-ulang. Tiba-tiba tangan kiri Boe Kie menyambar dan mencekal pergelangan tangan kanan si pendeta yang lantas saja kesemutan dan Ie Thian Kim yang dipegangnya, jatuh ke tanah. Tapi hoan ceng itu cukup lihai.

Mendadak tangan kirinya menghantam dada Boe Kie. Tapi sebaliknya dari Boe Kie, dia yang terguling karena seluruh tubuh pemuda itu dilindungi oleh Sin kang. Begitu terguling, begitu dia melompat bangun menjemput In Thian Kiam yang menggeletak di tanah, Peng Eng Giok buru-buru melompat dan menjambret dengan pedangnya. Berbarengan dengan berkelebatnya sinar pedang, pedang Peng Hwesio sudah kutung dua. Sesudah memutuskan pedang lawannya, si pendeta segera kabur k ebawah gunung.

Seraya membentak keras Boe Kie melompat dan mengejar pendeta itu. Didalam hati sangat berkuatir akan keselamatan Cioe Cie Jiak. Cara bagaimana In Thian Kiam, yang berada dalam tangan nona Cioe, kena rampas oleh hoan ceng itu? Maka itu, ia segera mengambil keputusan untuk membekuk pendeta itu guna mencari keterangan.

Tapi baru saja ia mengejar beberapa puluh tombak, di sebelah kiri tiba-tiba terdengar teriakan “Celaka!” diikuti dengan terbangnya sebatang pedang yang berkelebat ke tengah udara.

Itulah suara Yo Poet Hwie si nona pasti sedang menghadapi bahaya. Teriakan Poet Hwie keluar dari tempat yang penuh pohon-pohon. Tanpa memikir lagi Boe Kie melompat masuk kedalam gerombolan photon itu. Sekonyong-konyong ia merasai menyambar angin tajam dan sebatang golok berkelebat ke mukanya. Searaya mengengos ia menangkap tangan si penyerang yang lalu dilemparkan beberapa tombak jauhnya.

Hampir berbareng itu, ia dengar bentakan dan cacian. Ia menerobos ke arah suara itu. Ternyata Poet Hwie yang tidak bersenjata tengah diserang oleh seorang pria sangat tinggi besar yang menggunakan sepasang kampak.

Dengan sekali melompat Boe Kie sudah menghadang di depan si penyerang, “Tahan!” bentaknya.

Orang itu terkejut sejenak, akan kemudian mengayun kedua kampaknya. Boe Kie mengibaskan tangan kirinya dengan menggunakan Kian Koen Tay Lo Ie Sin Kang. Kedua senjata itu tersempok miring oleh tenaga Sin kang dan “prak”, menghantam satu batu besar sehingga api muncrat dan mata kampak somplak.

Dengan lelaki itu kesemutan dan tidak bisa mengangkat senjatanya lagi, Poet Hwie sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik. Ia melompat dan meninju Tay yang hiat musuh yang lantas saja roboh tanpa bernyawa lagi.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: