Kumpulan Cerita Silat

23/08/2008

Kisah Membunuh Naga (43)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:06 am

Kisah Membunuh Naga (43)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Mendengar perkataan muridnya, Biat-coat jadi girang sekali. Ia mengangguk beberapa kali dan berkata. “Anak, kau tidak menyia-nyiakan capai lelahku.” Nenek itu adalah manusia yang paling jarang memuji orang. Perkataannya itu adalah pujian tertinggi yang dapat diberikan olehnya.

Dalam girangnya, Biat-coat sedikitpun tidak memperhatikan suara Cie Jiak yang sebenarnya terlampau nyaring. Tapi banyak orang sudah melihat keluarbiasaan itu.

Melihat banyak mata ditujukan kepadanya, Cie Jiak lantas saja pura-pura tergirang-girang dan berkata sambil menepuk-nepuk tangan. “Soehoe, benar, Soe-siang ciang dari Go bie pay kita, dalam bundarnya terdapat persegi, Im dan Yang saling bantu membantu. Yang bundar yang berada di luar, adalah “Yang”. Yang persegi, yang di tengah-tengah, ialah “Im”. Yang bundar, yang bergerak dinamakan “Thian” (langit). Yang persegi, yang diam (tenang), dinamakan “Tee” (bumi). Dengan demikian, dalam ilmu silat kita itu terdapat Langit, Bumi, Im, Yang, persegi, bundar, bergerak dan diam. Menurut pendapatku, Soesiang ciang lebih unggul setingkat daripada Ceng hoan Liang gie.”

Biat coat yang memang selalu merasa bangga akan kelihaiannya Soe siang ciang jadi makin girang, “Tak salah apa yang dikatakan olehmu,” katanya selalu bersenyum. “Akan tetapi, kelihaian ilmu silat itu tergantung atas kepandaian dan tenaga dalam diri orang yang menggunakannya.

Di waktu kecil, Boe Kie sering mendengar ceramah-ceramah mengenai pelajaran kedudukan Pat-kwa, karena Yan-keng adalah kitab yang terutama dipelajari oleh murid-murid Boe tong dan lweekang Boe tong pay juga berdasarkan kitab itu.

Mendengar perkataan nona Cioe mengenai Soe siang ciang, Soen dan Gok, ia terkejut. Ia segera memperhatikan po hoat (tindakan) dan jurus-jurus keempat lawannya dan benar saja, semua itu berdasarkan perubahan-perubahan dari Soe siang Pat kwa. Sekarang ia mengerti, mengapa Kian koen Tay lo ie tidak bisa bergerak.

Pada hakekatnya, kalau sama-sama sudah mencapai puncak kesempurnaan, ilmu silat See hek tidak akan bisa menandingi ilmu dari Tiong goan. Bahwa Boe Kie masih terus bisa mempertahankan diri adalah karena ia sudah memiliki ilmu See hek sampai pada tingkat yang tertinggi, sedang keempat lawannya baru mengenal kulit-kulit dari ilmu silat Tionggoan itu.

(See hek = Daerah barat).

Dalam sekejap ia sudah dapat memikir beberapa cara untuk merobohkan lawannya itu. Tapi ia masih bersangsi. “Kalau kini aku menjatuhkan mereka, Biat coat akan mendusin dan menggusari nona Cioe,” pikirnya. “Nenek itu sangat kejam. Ia dapat melakukan perbuatan apapun jua.”

Maka ia tak lantas mengubah cara bersilatnya. Tapi sekarang, berbeda daripada tadi, ia bisa melayani dengan tenang sambil memperhatikan jurus-jurus lawan. Makin lama ia makin tahu seluk-beluk Ceng-hoan Liang gie.

Sementara itu, melihat keadaan Boe Kie tak berubah, Cie Jiak jadi makin bingung.

“Dalam repotnya melayani musuh, ia tentu tak bisa lantas menangkap ilmu silat yang sangat tinggi itu,” pikirnya. Melihat Boe Kie makin terdesak, ia jadi nekat.

Sambil menghunus pedang, ia melompat masuk ke dalam gelanggang. “Soe wie Cianpwee!” serunya. Jika kalian tidak bisa merobohkan bocah itu, biarlah aku yang mencoba-coba.”

Ho Thay Ciong jadi gusar. “Jangan rewel! Minggir kau!” bentaknya.

Alis Pan Siok Ham berdiri. “Pernah apa kau dengan bocah itu?” tanyanya dengan suara keras. “Kau mau melindungi dia? Koen loen pay tak boleh dibuat permainan.”

Karena topengnya dilucuti, paras muka Cie Jiak lantas saja berubah merah.

“Cie Jiak balik!” bentak Biat-coat. “Koen-loen-pay tidak boleh dibuat permainan. Apa kau tidak mendengar?”

Boe Kie merasa sangat berterima kasih. Dia merasa, bahwa mereka terus berlagak terdesak, si nona pasti akan mencari lain daya upaya untuk membantu dirinya. Kalau hal itu dilihat oleh Biat-coat, Cie Jiak bisa celaka. Maka itu, ia lantas tertawa terbahak-bahak. “Aku adalah pecundang dari Go-bie-pay”, katanya. “Aku pernah ditawan Biat-coat Soethay, memang benar Go-bie-pay lebih unggul daripada Koen-loen pay”. Seraya berkata begitu, ia maju dan tindak ke kiri. Kini tangan kanannya yang memegang ranting bwee membabat ke bawah.

Kesiuran angin yang dahsyat itu, lantas saja menghantam punggung si kate. Pukulan dan tindakan Boe Kie dilakukan dengan tenaga dan waktu yang tepat, sehingga tanpa merasa, golok si kate menyambar ke arah Pan Siok Ham. Pemuda itu ternyata memukul dengan Kian koen Tay-lo-ie Sin-kang dan bertindak menurut kedudukan Pat kwa. Dalam kagetnya, si jago pedang betina menangkis dengan pedangnya. “Trang!”, tangkisannya berhasil, tapi golok si jangkung sudah menyusul.

Untuk menolong istrinya, Ho Thay Ciong melompat dan menangkis golok si jangkung.

Boe Kie menepuk dengan telapak tangannya dan golok si kate membacok kempungan Ho Thay Ciong. Pan Siok Ham gusar. Dengan beruntun ia mengirim tiga serangan berantai, sehingga si kate repot. “Hei! Jangan kena diakali si bangsat kecil itu!” teriaknya.

Kini Ho Thay Ciong mendusin seraya menikam Boe Kie. Dengan Tay-lo-ie Sin kang, pemuda itu menyambut pedang Ho Thay Ciong yang lantas saja berubah arah dan menyambar pundak si jangkung.

Si jangkung berteriak-teriak karena gusarnya. Dengan sekuat tenaga ia membacok kepala Ho Thay Ciong.

Si kate buru-buru berteriak, “Soetee, jangan kalap! Itu semua perbuatan si bocah. Celaka!” Pada detik itu, pedang Pan Siok Ham berkelebat di pundaknya.

Dalam sekejap kedua kakek Hwa san pay sudah terluka enteng, digores pedang kawan sendiri. Gerakan-gerakan kedua golok dan kedua pedang jadi kalang kabut. Bacokan, babatan, papasan, tikaman yang ditujukan ke tubuh Boe Kie selalu berubah arah dan menghantam kawannya sendiri.

Kini semua orang bisa lihat, bahwa itu semua perbuatan Boe Kie. Tapi ia tak tahu, ilmu apa yang digunakan pemuda itu. Yang tahu hanyalah Yo Siauw seorang. Tapi iapun hampir tidak percaya, bahwa seorang manusia bisa memiliki Kian koen Tay-lo-ie Sin-kang sampai pada taraf yang begitu tinggi.

Untuk melawan, Pan Siok Ham memberi isyarat dengan teriakan. “Mutar ke Boe-bong wie!…” Tapi itu semua tak menolong sebab Kian-koen Tay-lo ie Sin-kang sudah menguasai mereka dari delapan penjuru. Mati-matian ia coba memberontak. Tapi semua sia-sia saja setiap gerakan atau bacokan pasti menikam kawannya sendiri.

“Soeko, apa tak baik kau mengurangi sedikit tenagamu?” teriak si jangkung sambil menangkis golok kakak seperguruannya.

“Aku bacok bangsat kecil itu, bukan kau?” kata si kate.

“Soeko, hati-hati!” teriak si jangkung. “Bacokan ini mungkin akan berbalik?” Benar saja goloknya menyambar sang kakak.

Tiba-tiba dengan paras muka menyeramkan, Pan Siok Ham melemparkan pedangnya. “Ini benar,” pikir si kate yang lantas saja turut membuang senjatanya dan kemudian menendang Boe Kie.

Mendadak pedang Ho Thay Cong menyambar mukanya dan sebab telah tak bersenjata, buru-buru ia menundukkan kepala. “Lepaskan senjata!” teriak Pan Siok Ham.

Mendengar perintah sang isteri, Ho Ciang-boen segera melontarkan pedangnya jauh-jauh. Sambil membuang goloknya, si jangkung menjambret leher Boe Kie. Ia merasa telapak tangannya menyentuh benda keras dan ia segera mencengkeram. Sedetik kemudian ia terkesiap, sebab yang dicengkeramnya bukan lain daripada gagang goloknya sendiri yang dipulangkan oleh Boe Kie dengan menggunakan Kian-koen Tay-lo-ie Sin Kang.

“Aku tak mau menggunakan senjata!” teriak si jangkung seraya melemparkan lagi goloknya. Boe Kie miringkan badan dan menangkap pula senjata itu yang sekali lagi dipulangkan ke tangan lawan. Kejadian itu terulang beberapa kali.

Dalam kaget dan kagumnya si jangkung tertawa terbahak-bahak. “Bangsat bau, kau benar-benar mempunyai ilmu siluman!” teriaknya.

Sementara itu, si kate dan suami isteri Ho sudah menyerang dengan tangan kosong. Ilmu silat tangan kosong dari Hwa san dan Koen loen tidak kalah hebatnya dari ilmu silat dengan memakai senjata. Tapi pemuda itu licin bagaikan ikan di air. Pada detik-detik berbahaya, ia selalu bisa menyelamatkan diri, akan kemudian balas menyerang. Sampai di situ, keempat jago mengerti bahwa mereka tak akan bisa mendapat kemenangan.

“Bangsat bau! Awas senjata rahasia!” teriak si jangkung. Ia mendehem dan menyembur Boe Kie dengan riaknya. Boe Kie berkelit dan dengan menggunakan kesempatan itu, si jangkung melontarkan goloknya.

Tiba-tiba ia berteriak, “Celaka! Maaf!” Apa yang sudah terjadi” Dengan tangan kiri Boe Kie mengibas riak itu yang berbalik dan mampir di dahi Pan Siok Ham.

Si ratu Koen loen jadi kalap. Sekarang ia nekad. Ia mengambil keputusan untuk mati bersama-sama Boe Kie. Sambil mementang sepuluh jarinya dan berdiri di belakang Boe Kie untuk mencegat jalan mundur pemuda itu. Melihat kesempatan baik, Ho Thay Ciong juga menubruk. Ia merasa pasti kali ini bocah bau itu tak akan bisa meloloskan diri.

Seraya bersiul nyaring, badan Boe Kie mendadak melesat ke atas dan begitu berada di tengah udara, ia mengerahkan Kian koen Tay lo Ie Sin kang dan mengibas kedua tangannya dengan gesit dan cekatan. Sesudah itu ia lantas memutar badan dan dengan gerakan yang sangat indah tubuhnya melayang ke muka bumi dan hinggap pada jarak kurang lebih setombak dari tempat semula.

Hasil perbuatan Boe Kie sangat menakjubkan!

Ho Thay Ciong memeluk pinggang isterinya, Pan Siok Ham mencengkeram pundak sang suami, sedang si kate dan si jangkung juga saling peluk erat-erat. Sesudah berkutat sejenak, keempat jago itu sama-sama roboh.

Di lain detik suami isteri Ho mendusin dan dengan paras muka kemerah-merahan mereka melompat bangun.

“Mampus kau!” teriak si jangkung. Celaka! sial!…”

“Lepas!” seru si kate.

Dengan malu bercampur gusar, kedua kakek itu pun berbangkit.

“Bangsat bau!” teriak si jangkung. “Ini bukan pieboe. Kau menggunakan ilmu siluman. Kau bukan enghiong.”

Si kate mengerti, bahwa pertempuran tak guna dilangsungkan lagi. Makin lama mereka akan menderita makin hebat. Sambil mengangkat kedua tangannya ia berkata, “Sin kang tuan tinggi luar biasa, aku si tua belum pernah melihat kepandaian yang semacam itu. Hwa san pay menyerah kalah.”

“Maaf”, jawab Boe Kie sambil membalas hormat. “Boanpwe menang sebab kebetulan. Kalau tadi para Cianpwee tak menaruh belas kasihan, siang-siang Boanpwee sudah binasa di bawah golok dan pedang Ceng-hoan Liang gie.” Dengan berkata begitu Boe Kie bicara sejujurnya. Kalau tak dibantu Cie Jiak, ia memang bakal celaka.

Si jangkung girang. “Bagus! Kau tahu, bahwa kau menang sebab kebetulan,” katanya.

“Apakah aku boleh tahu she dan nama Jie wie Cianpwee yang mulia?” tanya Boe Kie. “Kalau belakang hari kita bertemu pula, boanpwee bisa memanggil dengan panggilan yang benar.”

Si jangkung tertawa lebar dan menjawab. “Soeko ku ialah Wie”

“Tutup mulut!” bentak si kate. Ia menengok kepada Boe Kie dan berkata pula. “Sebagai jenderal yang keok, kami merasa sangat malu. Tuan tak perlu tahu nama kami yang hina-dina.” Sesudah berkata begitu, ia masuk ke dalam barisan Hwa san pay.

Si jangkung tertawa nyaring. “Dalam peperangan, menang atau kalah adalah kejadian lumrah,” katanya. “Bagiku tak menjadi soal.” Ia menjemput dua batang golok yang menggeletak di tanah dan kemudian balik ke barisannya sendiri.

Sementara itu Boe Kie sudah menghampiri Sian Ie Thong dan menotok jalan darahnya. “Sesudah pertempuran selesai, aku sekarang mau mengobati kau,” katanya. “Aku menotok jalan darahmu untuk mencegah naiknya racun ke jantung.”

Di detik itu, mendadak ia merasai kesiuran angin dingin di belakangnya dan rasa perih di punggungnya. Ia terkesiap, kakinya menotol bumi dan badannya melesat ke atas.

“Cres…cress…” disusul dengan teriakan menyayat hati.

Di tengah udara, ia memutar badan dan ia mendapat kenyataan dua batang pedang suami-isteri Ho Thay Ciong sudah amblas di dada Sian Ie Thong!

Sebagai orang yang mempunyai kedudukan dan kepandaian tinggi dan sebagai orang yang selalu bangga akan kepandaiannya, Ho Thay Ciong dan Pak Siok Ham merasa penasaran, bahwa mereka telah roboh dalam tangannya seorang pemuda yang tak dikenal dalam rimba persilatan. Maka itu, tanpa memperdulikan pantas atau tidak pantas selagi Boe Kie membungkuk untuk menotok jalan darah Sian Ie Thong, ia membokong dengan pukulan yang dinamakann “Boe seng Boe sek” (tak ada suaranya, tak ada warnanya).

Boe seng Boe sek adalah salah satu pukulan terhebat dari Koen loen pay. Pukulan itu harus didalami oleh dua orang yang tenaga dalamnya kira-kira bersama. Dua tenaga yang keluar dari pukulan itu saling bertentangan, sehingga sebagai akibatnya, suara yang bisa terdengar dalam menyambarnya senjata menjadi hilang. Itulah sebabnya mengapa jurus ini dinamakan “Boe seng Boe sek.”

Di luar dugaan, sesudah memiliki Kioe yang Sin kang, panca indera Boe Kie lebih tajam dan gerakannya cepat luar biasa. Tapi meskipun begitu, bajunya robek dan kulitnya kena juga digores pedang. Karena suami isteri Ho tidak keburu menarik pulang senjata mereka, maka yang menjadi korban adalah Sian Ie Thong.

Semua orang menjadi gempar.

Sebab sudah ketelanjur, bagaikan kalap kedua pemimpin Koen loen pay itu segera menerjang Boe Kie. Sesudah mendapat malu besar mereka mengambil keputusan untuk mengadu jiwa. Pedang mereka menyambar-nyambar dan setiap serangan adalah serangan untuk binasa bersama-sama musuh.

Tiba-tiba Boe Kie mendapat serupa ingatan. Ia berjongkok dan menjemput sedikit tanah yang sesudah dicampur dengan keringat pada telapak tangannya, lalu dibuat menjadi dua butir pel.

Di lain saat Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham menyerang dari kiri kanan.

Boe Kie melompat ke samping mayat Sian Ie Thong dan berlagak mengambil sesuatu dari saku mayat. Kemudian ia memutar badan dan menghantam kedua lawan itu dengan telapak tangan, dengan menggunakan tujuh bagian tenaga. Dengan berbareng suami-isteri Ho merasai tekanan hebat pada dada mereka dan napas mereka menyesak. Cepat-cepat mereka membuka mulut untuk menyedot hawa segar. Tiba-tiba Boe Kie mengayun kedua tangannya dan kedua pel tanah itu masuk ke dalam tenggorokan Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham. Mereka batuk-batuk, tapi kedua “yo-wan” sudah masuk ke dalam perut.

Paras muka kedua suami isteri itu lantas saja berubah pucat. Mereka melihat Boe Kie mengambil sesuatu dari saku Sian Ie Thong. Apalagi kalau bukan racun?

Mengingat penderitaan Sian Ie Thong, bulu roma mereka bangun semua. Pan Siok Ham sudah lantas merasa pusing dan badannya bergoyang-goyang.

“Di dalam sakunya Sian Ie Thong selalu membawa-bawa ulat sutera emas yang dibungkus dengan lilin,” kata Boe Kie dengan suara tawar. “Kalian masing-masing sudah menelan sebutir lilin, kalau Jie wie cianpwee bisa memuntahkannya sebelum lilin melumer di dalam perut, mungkin sekali jiwa kalian masih bisa ditolong.

Sambil mengerahkan lweekang, Ho Thay Ciong dan isterinya segera berusaha untuk memuntahkan “yo-wan” itu. Dengan tenaga dalamnya yang sangat kuat, beberapa saat kemudian mereka berhasil mengeluarkan tanah itu yang sudah tercampur dengan cair kantong nasi.

Si kakek jangkung dari Hwa san pay lantas saja mendekati dan setelah melihat apa yang keluar dari perut, ia tertawa dan berkata, “Aduh! Itulah tai ulat sutera emas. Ulat itu mengeram dalam perutmu dan berak.”

Kaget dan gusarnya ratu Koen loen pay sukar dilukiskan. Dengan sekuat tenaga ia menghantam si jangkung yang iseng mulut. Kakek nakal itu melompat balik ke barisannya dan seraya menuding Pan Siok Ham, ia berteriak, “Perempuan galak! Kau sudah membunuh Ciang bun jin dari partai kami dan Hwa san pay pasti tak akan menyudahi perbuatanmu itu.”

Suami isteri Ho terperanjat. Meskipun berdosa besar, Sian Ie Thong adalah seorang Ciang bun jin. Mereka mengerti bahwa kesalahan tangan itu akan berekor panjang dan hebat, tapi dalam menghadapi kebinasaan segera, mereka tak sempat menghiraukan lagi bahaya di belakang hari.

Mereka tahu bahwa di dalam dunia hanyalah Boe Kie yang bisa menolong mereka. Tapi mengingat perbuatan mereka dahulu hari, apakah pemuda itu sudi mengangsurkan tangan?

Boe Kie tertawa tawar dan berkata dengan suara tawar pula. “Jie wie tak usah takut, walaupun Kim-can sudah berada dalam perut enam jam kemudian barulah racunnya mengamuk. Sesudah membereskan urusan besar ini, boanpwee pasti akan menolong. Boanpwee hanya berharap Ho Hoejin jangan memaksa aku minum arak beracun.”

Biarpun disindir, kedua suami isteri itu menjadi bingung. Tapi mereka merasa malu hati untuk mengucapkan terima kasih dan sambil menundukkan kepala, mereka lalu kembali ke barisan sendiri.

“Cobalah Jie wie minta empat butir Giok tong Hek seng tan dari Khong tong pay, kata Boe Kie. “Obat itu bisa menahan naiknya racun ke jantung.”

Ho Thay Ciong mengangguk dan segera memerintahkan salah seorang muridnya minta pel itu dari pemimpin Khong tong pay.

Dalam hati Boe Kie tertawa geli. Giok tong Hek sek tan memang obat pemunah racun, tapi obat itu mengakibatkan sakit perut selama dua jam. Sesudah menelannya, perut suami isteri Ho sakit bukan main. Mereka makin ketakutan dan menduga racun sudah mulai mengamuk. Mereka tak pernah mimpi bahwa mereka dikelabui oleh pemuda itu.

Sementara itu Biat coat Soethay berkata kepada Song Wan Kiauw. “Song Thay hiap, antara enam partai hanya ketinggalan dua partaimu dan partai kami. Partai kami kebanyakan terdiri dari kaum wanita. Maka itu, Song Tayhiap lah yang harus bertindak.”

“Siauw too sudah dikalahkan oleh In Kouwcoe,” jawab Wan Kiauw. “Kiam-hoat Soethay tinggi luar biasa dan Soethay pasti bisa menakluki bocah itu.”

Biat-coat tersenyum tawar dan seraya menghunus Ie thian kiam, ia bertindak masuk ke dalam gelanggang.

Sekonyong-konyong, Jie hiap Jie Lian Cioe keluar dari barisan Boe tong pay. Sedari tadi dengan rasa kagum dan heran ia memperhatikan ilmu silat Boe Kie. “Walaupun lihai belum tentu Biat-coat Soethay bisa melawan empat jago dari Hwa san dan Koen-loen,” pikirnya. “Kalau ia kalah Boe tong pay jua kalah, maka usaha enam partai akan gagal sama sekali. Biarlah aku yang menjadi lebih dulu.” Memikir begitu ia segera menyusul Biat-coat dan berkata. “Soethay, biarlah kami berlima saudara yang lebih dulu mengadu ilmu dengan pemuda itu. Paling belakang barulah Soethay maju dan aku merasa pasti Soethay akan memperoleh kemenangan.”

Maksud Jie Lian Cioe cukup terang. Boe tong pay dikenal sebagai partai yang mengutamakan latihan lweekang. Kalau ilmu pendekar Boe tong dengan bergiliran melayani pemuda itu, maka andai kata mereka tak mendapat kemenangan, pemuda itu pasti akan lelah sekali. Sesudah dia lelah, Biat coat maju untuk merobohkannya.

Si nenek mengerti maksud Jie Lian Cioe. Ia mendongkol dan berkata dalam hati. “Siapa sudi menerima budi Boe tong pay? Dengan cara begitu biarpun menang, kemenangan itu bukanlah kemenangan gemilang!” Ia sombong memandang rendah kepada semua manusia. Meskipun sudah menyaksikan kelihaian Boe Kie, di dalam hati ia merasa bahwa jago dari lain-lain partai adalah manusia-manusia tolol. Ia tak percaya bahwa ia tak bisa merobohkan pemuda itu.

Maka itu seraya mengibaskan tangan jubah ia berkata, “Jie Jie hiap balik saja! Sesudah dihunus, Ie thian kiam tak bisa dimasukkan lagi ke dalam sarungnya sebelum bertempur.”

“Baiklah,” kata Jie Lian Cioe yang segera kembali ke barisannya.

Sambil melintangkan pedang mustika di dadanya, Biat coat menghampiri Boe Kie. Ie thian kiam dibenci dan ditakuti Beng kauw. Anggota Beng kauw yang binasa karena pedang itu sukar dihitung jumlahnya. Sekarang, melihat si nenek maju dengan pedang terhunus, mereka semua berkuatir tercampur gusar dan beramai-ramai mereka mencaci Biat coat.

Si nenek tertawa dingin, “Jangan rewel kalian!” bentaknya. “Kalian tunggulah! Sesudah membereskan bocah itu, aku akan segera membereskan kalian semua.”

In Thian Ceng tahu Ie thian kiam sukar dilawan. “Can Siauw hiap, senjata apa yang ingin digunakan olehmu?” tanyanya.

“Aku tak punya senjata,” jawabnya. “Bagaimana pikiran Loo ya coe?” Di dalam hati ia memang merasa jeri terhadap pedang mustika itu.

Perlahan-lahan sang kakek menghunus pedang yang tergantung di pinggangnya. “Terimalah Pek hong kiam ini,” katanya. “Meskipun tidak bisa menandingi Ie thian kiam dari bangsat perempuan itu, pedang ini senjata yang jarang terdapat dalam dunia Kangouw.” Seraya berkata begitu, ia menyentil badan pedang yang lantas saja membengkok karena lemas seperti ikat pinggang. Satu suara “ngunng !” yang nyaring bersih lantas saja terdengar dan badan pedang pulih kembali seperti sedia kala.

(Pek hong kiam = Pedang bianglala putih).

Dengan sikap menghormat Boe Kie menyambuti pedang itu. “Terima kasih,” katanya sambil membungkuk.

“Pedang itu sudah mengikuti aku selama puluhan tahun dan sudah membunuh banyak sekali manusia rendah,” kata In Thian Ceng. “Kalau hari ini dia bisa membunuh bangsat perempuan itu, biarpun mati loohoe merasa puas.”

“Boanpwee akan perbuat apa yang boanpwee bisa,” kata Boe Kie.

Sambil menundukkan ujung pedang ke muka bumi dan memegang gagang pedang Pek hong kiam dengan kedua tangan, pemuda itu berkata kepada Biat coat. “Kiam hoat boanpwee sudah pasti bukan tandingan Soethay dan sebenar-benarnya boanpwee tidak berani melawan Cianpwee. Cianpwee pernah menaruh belas kasihan kepada para anggota Swie kim kie, mengapa sekarang Cianpwee tidak bisa menaruh belas kasihan kepada boanpwee?”

Alis si nenek lantas saja turun. “Kawanan setan Swie kim kie ditolong olehmu,” katanya dengan suara menyeramkan. “Biat coat Soethay belum pernah mengampuni orang. Sesudah menang baru, kau boleh membuka bacot.”

Para anggota Lima Bendera Beng kauw, yang sangat membenci nenek itu, lantas saja berteriak-teriak.

“Bangsat tua! Kalau kau benar-benar jagoan coba kau bertanding dengan tangan kosong melawan Can Siauwhiap.”

“Kiam hoatmu cetek sekali. Yang diandalkan olehmu hanyalah pedang Ie thian kiam.”

“Apa kau rasa kau bisa menang?”

Dan sebagainya.

Biat coat tidak memperdulikan cacian dan ejekan itu. “Hayo mulai!” katanya dengan nyaring.

Boe Kie sebenarnya belum pernah belajar ilmu pedang. Mendengar undangan si nenek ia bersangsi. Tiba-tiba ia ingat Liang gie Kiam-hoat dari Ho Thay Ciong yang lihai dan indah. Ia segera mengangkat pedang dan membabat. “Siauw Pek Toan in dari Hwa san pay!” seru Biat coat dengan heran (Siauw pek Toan in ” memapas tembok memotong awan).

Bagaikan kilat si nenek menikam dari samping. Dalam gebrakan pertama itu, tanpa menangkis serangan, ia balas menyerang. Dengan lweekang yang hebat, ujung Ie thian kiam menyambar pusar pemuda itu.

Boe Kie berkelit ke samping, tapi sebelum ia berdiri tegak pedang Biat coat sudah meluncur di tenggorokannya. Boe Kie terkesiap. Dengan bingung ia menggulingkan diri di tanah. Tapi sebelum ia melompat bangun, angin dingin sudah menyambar-nyambar di lehernya.

“Celaka!” ia mengeluh, ujung kakinya menotol tanah dan badannya melesat ke atas. Ia berhasil menyelamatkan jiwa dari satu kedudukan yang hampir tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusia. Baru saja hadirin mau bersorak, si nenek sudah melompat dan pedangnya diangkat untuk memapaki tubuh pemuda itu.

Detik itu tubuh Boe Kie sedang melayang turun ke bawah. Karena berada di tengah udara, ia tidak bisa berkelit lagi. Ie thian kiam menyambar! Hati Boe Kie mencelos. Satu di antara dua: kalau bukan kedua kakinya, badannya akan terbabat kutung!

Pada saat yang sangat berbahaya, Kian koen Tay lo ie memberi reaksi yang wajar. Tanpa memikir lagi, ia menyentuh ujung Ie thian kiam dengan ujung Pek hong kiam. “Trang!” Pek hong kiam melengkung dan membal. Dan dengan menggunakan tenaga membal itu, badan Boe Kie sekali lagi melesat ke atas!

Biat coat benar-benar tidak mengenal kasihan. Ia melompat dan membabat tiga kali beruntun. Badan Boe Kie sudah melayang ke bawah. Ia tidak bisa berbuat lain daripada menangkis “Trang.”

Pek-hong kiam kutung dua! Dengan hati mencelos ia menepuk ubun-ubun (embun-embunan) segera membabat pergelangan tangannya. Sebab babatan itu cepat luar biasa, ia tidak keburu menarik pulang tangannya. Dalam keadaan demikian, ia hanya bisa menolong diri dengan satu jalan. Dengan kecepatan yang hampir tiada taranya, ia menyentil badan Ie thian kiam dan berbareng dengan meminjam tenaga sentilan itu, tubuhnya terbang ke tempat yang lebih selamat.

Lengan Biat coat kesemutan, telapak tangannya seperti juga terbeset dan Ie thian kiam hampir terlepas dari tangannya! Ia terkesiap. Ia menengok dan Boe Kie dengan tangan mencekal pedang buntung, berarti dalam jarak dua tombak lebih.

Itulah gebrakan-gebrakan yang sungguh jarang terlihat dalam rimba persilatan!

Dalam sekejap mata itu, Biat coat menyerang delapan kali setiap jurus, jurus membinasakan.

Delapan kali Boe Kie memunahkan serangan itu, delapan kali ia melolos dari lubang jarum. Baik serangan, maupun pembelaan diri, sama-sama mencapai puncak kehebatan, puncak keindahan. Semua orang menahan napas. Mereka hampir tak percaya, bahwa apa yang dilihat mereka adalah suatu kenyataan.

Sesudah lewat sekian lama barulah terdengar sorak-sorai gegap-gempita.

Bagaikan patung Boe Kie berdiri sambil memegang pedang buntung. Ia merasa sudah jatuh di bawah angin. Ia tak tahu, bahwa Ie thian kiam disentil, lengan si nenek kesemutan dan kalau ia menyerang terus, ia sudah mendapat kemenangan. Memang Boe Kie kurang pengalaman.

Walaupun beradat tinggi, Biat coat sekarang mengakui kelihaian pemuda itu. “Tukar senjatamu dan mari kita bertempur lagi,” katanya.

Dengan rasa menyesal Boe Kie mengawasi pedang buntung itu. Di dalam hati ia berkata, “Gwakong menghadiahkan pedang mustika ini kepadaku dan aku sudah merusakkannya. Sungguh tak enak? Senjata apalagi yang bisa melawan Ie thian kiam?”

Selagi bersangsi, tiba-tiba Cioe-Tian berteriak. “Aku punya sebuah golok mustika. Kau ambillah!”

“Ie thian kiam terlalu hebat, sahut Boe Kie. “Boanpwee kuatir senjata Cianpwee akan menjadi rusak.”

“Biar dirusak”, kata Cioe-Tian. “Kalau kau kalah, kami semua mati. Perlu apa golok mustika itu?”

Boe Kie anggap perkataan itu memang tak salah, maka tanpa berkata apa-apa lagi ia menghampiri Cioe Tian untuk mengambil goloknya.

“Thio Kongcoe, kau harus menyerang, tak boleh hanya membela diri,” bisik Yo Siauw ketika Boe Kie lewat di depannya.

Mendengar panggilan “Thio Kongcoe” Boe Kie kaget, tapi ia segera mengetahui mengapa Yo Siauw menggunakan istilah itu. Yo Poet Hwie sudah mengenali dirinya dan memberitahukan kepada ayahandanya. Terima kasih atas petunjuk Cianpwee,” jawabnya.

Waktu lewat di samping Wie It Siauw, Ceng ek Hok ong juga berbisik, “Gunakanlah ilmu peringan badan terus-menerus.”

Boe Kie girang. “Terima kasih” jawabnya.

Kong beng Soe cia Yo Siauw adalah ahli-ahli silat kelas utama dan mereka belum tentu kalah dari Biat coat Soethay. Hanya sayang, sebelum bertempur mereka dibokong Goan tin sehingga badan mereka menjadi lumpuh. Tapi kecerdasan otak dan ketajaman mata mereka tidak pernah sama sekali berubah dan bisik-bisikan itu memang siasat tepat untuk menghadapi Biat coat.

Berat golok mustika itu yang sudah dipegang Boe Kie kira-kira empat puluh kati. Warnanya hitam, bentuknya aneh dan tidak usah dikatakan lagi, senjata itu barang pusaka yang sudah berusia tua sekali. Di dalam hati ia masih merasa menyesal, bahwa pedang kakeknya sudah rusak dalam tangannya. Tapi pedang itu sudah dihadiahkan kepadanya. Golok ini masih menjadi milik Cioe Tian yang meminjamkannya. “Golok mustika ini tidak boleh dirusak,” pikirnya.

Ia maju mendekati lawan dan sesudah menarik napas dalam-dalam, ia berkata. “Soethay, boanpwee mulai!” Bagaikan asap, badannya melayang ke belakang Biat coat dan mengirim bacokan pertama.

Sebelum si nenek itu memutar badan, ia sudah melompat ke samping dan mengirim bacokan kedua. Badannya lantas berkelebat-kelebat, goloknya menyambar-nyambar tak henti-hentinya.

Yang sekarang digunakan Boe Kie adalah ilmu ringan badan tercepat yang pernah dikenal dalam rimba persilatan. Ilmu ringan badan itu adalah hasil dari pengerahan Kioen yan Sin kang dan Kian koen Tay lo ie Sin kang. Ilmu ringan badan Ceng ek Hok ong masih kalah jauh.

Sesudah lari beberapa puluh putaran, Kioe yang Sin kang mengamuk makin hebat dalam tubuhnya dan ia sekarang seolah-olah terbang di atas bumi.

Melihat begitu, murid-murid Go bie pay jadi bingung. Mereka tahu guru mereka bakal kalah.

Sekonyong-konyong Teng Bin Koen berteriak. “Hari ini tujuan kita adalah membasmi Mo kauw. Kita datang bukan untuk pie bu. Saudara-saudara, mari kita gempur bocah itu!” Ia menghunus senjata dan melompat ke dalam gelanggang. Seluruh murid Go bie lantas saja mengikuti dan segera mengambil kedudukan di delapan penjuru. Cioe Cie Jiak berdiri di sudut barat daya. “Cioe soe moay, kau turut serta atau tidak terserah kepadamu,” ejek perempuan she Teng itu.

Cie Jiak gusar bercampur malu. “Perlu apa kau berkata begitu?” tanyanya.

Mendadak Boe Kie melompat ke hadapan Teng Bin Koen yang segera menikam. Dengan sekali menggerakkan tangan kirinya, pemuda itu sudah merampas pedang lawan yang lalu ditimpukkan kepada Biat coat. Si nenek membabat dan memutuskan pedang itu, tapi tangannya kesemutan sebab Boe Kie menimpuk dengan lweekang yang hebat.

Pemuda itu bekerja cepat. Badannya berkelebat-kelebat, tangannya menyambar-nyambar merampas pedang-pedang para murid Go bie yang dengan beruntun-runtun ditimpukkan kepada Biat coat.

Murid-murid Go bie rata-rata berkepandaian tinggi, tapi berhadapan dengan Boe Kie, mereka tidak berdaya.

Puluhan pedang terbang menyambar Biat coat bagaikan hujan gerimis. Dengan paras muka pucat pasi si nenek memutar Ie thian kiam dan memutuskan pedang-pedang itu. Tak lama kemudian sebab pegal lengan kanannya tak bisa digunakan lagi dan ia lalu memutar senjata dengan tangan kiri. Semua barisan mundur ke belakang karena potongan-potongan pedang menyambar kian kemari.

Tak lama kemudian, semua murid Go bie kecuali Cioe Cie Jiak seorang sudah bertangan kosong.

Boe Kie ingin membalas budi si nona, tapi dengan demikian perbedaan itu jadi sangat menyolok. Cie Jiak tahu hal ini bakal berekor. Ia melompat untuk menyerang, tapi pemuda itu selalu menyingkirkan diri.

“Cioe soemoay, benar saja ia memperlakukan kau secara istimewa sekali” ejek Teng Bin Koen.

Paras muka nona Cioe lantas saja berubah merah. Dengan jengah, ia berdiri terpaku.

“Cioe soemoay, Soehoe sedang diserang musuh, mengapa kau berdiri seperti patung?” kata pula perempuan she Teng itu. “Mungkin sekali di dalam hati kau mengharap bocah itu mendapat kemenangan.”

Biarpun sedang kebingungan, setiap perbuatan Teng Bin Koen didengar tegas oleh si nenek. Tiba-tiba dalam otaknya berkelebat satu ingatan, “Cie Jiak!” bentaknya. “Apa benar kau mau menghina guru?” Seraya membentak, ia menikam dada si nona!

Hati nona Cioe mencelos. Tentu saja ia tidak berani menangkis. “Soehoe!…” teriaknya. Ia tidak dapat meneruskan perkataannya sebab hampir menyentuh dada!

Boe Kie tak tahu, dalam tikaman itu Biat Coat hanya mau menjajal. Pada detik terakhir, si nenek menarik pulang senjatanya. Karena tak bisa menebak jalan pikiran orang yang juga sebab sudah menyaksikan kekejaman Biat coat terhadap Kie Siauw Hoe, tanpa memikir panjang lagi ia melompat, memeluk pinggang Cie Jiak dan melompat ke tempat yang lebih selamat.

Kedudukan Biat coat segera berubah dari pihak yang diserang, ia sekarang bisa menyerang. Ia segera menikam punggung Boe Kie. Sebab lagi menolong orang, gerakan Boe Kie agak terlambat dan terpaksa ia menangkis dengan goloknya. “Tang!” golok mustika itu putus. Biat coat mengudak dan menikam pula. Boe Kie menimpuk dengan golok buntung, kali ini dengan menggunakan seantero lweekang. Hampir berbareng dada si nenek menyesak karena tekanan angin timpukan. Ia tidak berani menyambut dengan pedangnya dan secepat kilat ia membanting diri di tanah. Tapi biarpun begitu, ratusan lembar rambutnya terpapas putus!

Melihat kesempatan baik, tanpa melepaskan Cie Jiak, Boe Kie melompat dan menghantam dengan telapak tangannya. Karena darahnya meluap, ia menghantam dengan sepenuh tenaga. Sambil berlutut, Biat coat coba membabat pergelangan tangan Boe Kie. Pemuda itu segera mengubah gerakan tangannya, dari menepuk jadi mencengkeram dan tahu-tahu tangannya sudah mencekal Ie thian kiam!

Cengkeraman itu yang dilakukan dengan Sin kang Kian koen Tay lo ie tingkat ketujuh, tak dapat dilawan oleh Biat coat.

Walaupun sudah menang, Boe Kie tidak berani berlaku sembrono. Seraya menudingkan ujung Ie thian kiam ke tenggorokan si nenek, perlahan-lahan ia mundur dua tindak.

“Lepaskan aku!” teriak Cie Jiak sambil memberontak.

“Ah! Ya”!” katanya. Dengan paras muka merah, ia melepaskan nona Cioe. Ia mengendus bebauan wangi yang sangat halus dan waktu melepaskan, beberapa lembar rambut si nona menyentuh pipinya. Tanpa terasa ia melirik. Muka Cie Jiak bersemu dadu. Meskipun parasnya mengunjukkan perasaan takut, sinar matanya memperlihatkan rasa bahagia.

Perlahan-lahan Biat coat berbangkit. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia mengawasi Boe Kie. Mukanya sangat menyeramkan.

Seraya mengangsurkan gagang pedang, Boe Kie berkata, “Cioe Kauw-nio, tolong serahkan pedang ini kepada gurumu.”

Cie Jiak berdiri bengong. Macam-macam pikiran berkelabat dalam otaknya. Sesudah terjadi apa yang sudah terjadi, ia merasa pasti dirinya akan dipandang sebagai pengkhianat partai, seorang yang menghina guru sendiri. Apakah ia benar-benar harus berkhianat kepada gurunya sendiri? Boe Kie memperlakukannya secara baik sekali. Tapi, biar bagaimanapun juga, ia seorang anggota Mo kauw, anggota dari agama siluman.

Sekonyong-konyong kupingnya mendengar bentakan gurunya, “Cie Jiak, bunuh dia!”

Tahun itu, sesudah mengajak Cie Jiak pulang ke Boe tong san, Thio Sam Hong lalu menyerahkan muridnya, yaitu Cie Jiak kepada Biat coat Soethay sebab di dalam kuil Siauw Lim Sie tak pernah bernaung murid wanita.

Nona Cioe berbakat baik. Dengan mengingat dirinya seorang yatim piatu, ia belajar giat-giat dan kemajuannya pesat sekali. Biat coat sangat menyayangnya dan selama delapan tahun, belum pernah ia berpisahan dengan gurunya itu. Di mata Cie Jiak, Biat coat bagaikan seorang ratu. Perkataannya merupakan undang-undang yang tak pernah dibantah.

Kini mendengar bentakan sang guru yang angker dan berpengaruh, tanpa merasa dalam bingungnya, ia mengangkat Ie thian kiam dan menikan dada Boe Kie.

Karena tak menduga bakal diserang, pemuda itu tidak berwaspada. Tiba-tiba pedang menyambar. Ia terkesiap tapi sudah tidak keburu menangkis atau berkelit lagi. Untung juga waktu menikam tangan Cie Jiak bergemetaran, sehingga ujung pedang mencong ke samping dan amblas di dada sebelah kanan.

Dengan berteriak, si nona menarik pulang Ie thian kiam. Pedang berlepotan darah dan darah mengucur dari dada Boe Kie. Hal itu mengejutkan semua orang. Keadaan berobah kalut, di empat penjuru terdengar teriakan.

Boe Kie mendekap dada dengan tangannya. Tubuhnya bergoyang-goyang sedaun paras mukanya mengunjuk perasaan gegetun, menyesal dan heran seakan ia mau bertanya. “Apa sungguh-sungguh kau mau mengambil jiwaku?”

Cie Jiak sendiri mengawasi hasil perbuatannya dengan mata membelalak dan mulut ternganga. Dengan suara parau ia berkata, “Aku?” Di dalam hati ia ingin menubruk Boe Kie, tapi ia tidak berani. Sesaat kemudian, sambil menutup muka dengan kedua tangannya, ia memutar badan dan lari balik ke barisannya.

Peristiwa itu tak pernah diduga oleh siapapun jua.

Dengan paras muka pucat pasi, Siauw Ciauw memapah Boe Kie. “Thio Kongcoe kau?” katanya terputus-putus. Luka pemuda itu amat berat, tapi untung, sebab moncong ujung pedang tidak melanggar jantung.

Dengan mengawasi Siauw Ciauw, Boe Kie berkata, “Mengapa kau menikam aku.” Ia tidak bisa meneruskan perkataannya, napasnya tersengal-sengal dan seraya membungkuk ia batuk-batuk.

Matanya berkunang-kunang, kepalanya pusing, sehingga ia tak dapat membedakan Siauw Ciauw dari Cie Jiak. Darah mengucur terus dan pakaian si nona turut basah.

Sesaat kemudian, sesudah teriakan mereda, lapangan yang penuh manusia itu berubah sunyi senyap. Tak seorangpun baik anggota 6 partai, maupun anggota Beng kauw atau Peh bie kauw mengeluarkan sepatah katapun.

Apa yang tadi dilakukan oleh pemuda itu kelihaiannya dalam menjatuhkan sejumlah tokoh ternama dan cara caranya yang mengunjuk perasaan kemanusiaan sudah membangkitkan rasa kagum dan hormat dalam hatinya semua orang. Maka itu, baik kawan maupun lawan berduka atas kejadian itu. Di dalam hati, mereka mengharapkan keselamatannya.

Dengan dipeluk Siauw Ciauw, perlahan-lahan Boe Kie duduk di tanah. “Siapa yang punya obat luka yang paling manjur?” seru si nona.

Kong seng segera mendekati dan mengeluarkan sebungkus obat bubuk dari sakunya. “Giok leng san kami sangat manjur,” katanya seraya membuka baju Boe Kie. Luka itu beberapa dim dalamnya.

Ia segera memborehi bubuk obat di lubang luka, tapi sebab darah mengucur, obat itu tidak bisa menempel dan turun ke bawah tersiram darah. Kong seng jadi bingung. “Hai! Bagaimana baiknya”… bagaimana baiknya?” katanya.

Yang paling bingung adalah suami isteri Ho Thay Ciong. Mereka menganggap bahwa mereka telah menelan ulat sutera emas. Kalau pemuda itu mati, jiwanya pun takkan tertolong. Dengan hati berdebar-debar Ho Ciong boen berjongkok di samping Boe Kie dan bertanya, “Bagaimana mengobati orang kena Kiam cam Kouw tok bagaimana? Hayo, lekas terangkan!”

“Pergi!” bentak Siauw Ciauw sambil menangis. “Kalau Thio Kongcoe mati, kita mampus bersama-sama!”

Di waktu biasa, mana mau Ho Thay Ciong dibentak-bentak oleh seorang wanita macam Siauw Ciauw. Tapi keadaan kini bukan keadaan biasa. Tanpa memperdulikan si nona, ia bertanya lagi. “Bagaimana mengobati Kiam cam Kouw tok? Hayo! Bagaimana?”

Kong seng meluap darahnya, “Thie-khim Sian seng!” bentaknya, “Jika kau tak minggir, loolap takkan berlaku sungkan-sungkan lagi terhadapmu.”

Tiba-tiba Boe Kie membuka matanya dan mengawasi semua orang yang berdiri di sekitarnya. Kemudian, ia mengangkat tangan kirinya dan menotok tujuh delapan “hiat” di seputar luka.

Sesaat kemudian, mengalirnya darah jadi terlebih perlahan, Kong-seng girang. Buru-buru pendeta suci itu memborehi Giok leng san di dada yang terluka. Siauw Ciauw segera merobek tangan bajunya yang lalu digunakan untuk membalut luka. Muka Boe Kie pucat seperti kertas. Ia terlalu banyak mengeluarkan darah.

Perlahan-lahan otak Boe Kie menjadi terang lagi. Ia segera mengerahkan tenaga dalam dan lantas saja merasa bahwa hawa tak bisa jalan di dada sebelah kanan. Dalam keadaan setengah mati, tekadnya tetap tak berubah. “Sebegitu lama masih bernapas, aku takkan mengizinkan enam partai membasmi semua anggota Beng-kauw,” katanya di dalam hati. Sambil meramkan kedua matanya, mengerahkan Cin-khie yang lalu dialirkan beberapa kali di seputar dada bagian kiri.

Sesudah itu, perlahan-lahan ia berbangkit dan berdiri. Dengan matanya, ia menyapu seluruh lapangan dan berkata dengan suara perlahan. “Kalau dalam Go bie dan Boe tong pay masih ada orang yang tidak setuju dengan permintaanku, ia boleh segera keluar untuk bertanding.”

Perkataan itu disambut dengan rasa heran juga kagum yang sukar dilukiskan. Semua orang lihat, bahwa pemuda itu terluka berat. Tapi, baru saja darahnya berhenti mengalir, ia sudah bisa berdiri dan menantang pula. Apa ia manusia? Manusia biasa tak akan bisa berbuat begitu.

“Go bie pay sudah kalah,” kata Biat coat dengan suara dingin. “Jika kau tidak mati, di belakang hari kita bisa perhitungkan lagi. Kini hanya ketinggalan Boe tong pay. Kalah menang harus diputuskan oleh Boe tong pay.”

Maksud Biat coat Soethay dimengerti oleh tokoh-tokoh semua partai.

Dalam usaha untuk mengepung Kong beng teng, jago-jago Siauw lim, Khong tong, Koen loen, Hwa san dan Go bie sudah dirobohkan Boe Kie. Hanya Boe tong pay yang belum bergebrak dengan pemuda itu.

Tapi sekarang Boe Kie terluka berat. Jangankan pendekar Boe tong, sedang seorang biasapun sudah cukup untuk menjatuhkannya. Mungkin sekali, tanpa bertempur, Boe Kie akan mati sendiri. Setiap pendekar Boe tong bisa segera membinasakannya dan sesudah ia binasa, keenam partai bisa mewujudkan keputusan untuk membunuh semua anggota Beng kauw.

Tapi Boe tong pay sangat mengutamakan “Hiap sie”. Menyerang seorang yang terluka berat memang bukan perbuatan bagus, sehingga mungkin sekali kelima pendekar Boe tong merasa keberatan untuk turun tangan. Tapi kalau Boe tong pay berpeluk tangan, apakah keenam partai harus pulang dengan tangan hampa, dengan kegagalan. Membasmi Beng kauw adalah usaha besar yang sudah menggetarkan seluruh rimba persilatan. Kalau mereka gagal, apakah mereka masih ada muka untuk tampil lagi dalam kalangan Kang ouw? Serba susah maju salah, mundur salah.

(Hiap gie ” kesatriaan)

Maksud perkataan Biat coat ialah dipertahankan atau tidaknya kehormatan keenam partai terserah atas keputusan Boe tong pay.

Jalan mana yang akan ditempuh partai itu?

Song Wan Kiauw, Jie Lian Cioe, Thio Siong Kie, In Lie Heng dan Boh Seng Kok saling mengawasi. Mereka tak bisa segera mengambil keputusan. Tiba-tiba Song Ceng Soe, putera Song Wan Kiauw, berkata, “Thia-thia, Soe wie Siok-siok, biarlah anak saja yang membereskan dia.”

“Tak bisa,” kata Jie Lian Cioe. “Kau turun tangan tiada bedanya dengan kami yang turun tangan.”

“Menurut pendapat Siauw tee, kepentingan umum adalah lebih penting daripada kepentingan pribadi dari pada soal nama kita,” kata Thio Siong Kee.

“Nama adalah sesuatu yang berada di luar badan manusia,” Boh Seng Kok menjawab. “Biar bagaimanapun jua siauw tee merasa berat untuk mencelakai seorang manusia yang sudah terluka berat.”

Keempat pendekar mengawasi Song Wan Kiauw. Sebagai kakak seperguruan yang paling tua, ialah yang harus mengambil keputusan terakhir.

Song Tay hiap melirik In Lie Heng. Adiknya itu tak mengeluarkan sepatah kata, tapi mukanya mengunjukkan sinar kegusaran. Ia mengerti, bahwa si adik ingat nasib tunangannya, Kie Siauw Hoe yang telah dinodai Yo Siauw dan akhirnya binasa karena gara-gara perbuatan Kong ben Soe cia itu. Ia tahu bahwa si adik menaruh dendam yang sangat mendalam. Jika sakit hati itu tidak terbalas, jika Beng kauw tidak dimusnahkan rasa penasaran In Lie Heng takkan hilang. Maka itu, ia lantas saja berkata dengan suara perlahan. “Mo kauw kedosaannya. Memerangi yang jahat adalah kewajiban orang-orang sebangsa kita. Dalam dunia ini tiada yang sempurna. Orang tak bisa mendapat semuanya. Kita harus memilih yang paling penting, Ceng Soe, dan berarti hati-hatilah.”

“Baiklah!” kata si anak seraya membungkuk dan lalu menghampiri Boe Kie.

“Can Siauwhiap,” katanya dengan suara nyaring, “jika kau bukan anggota Beng kauw, kau boleh segera turun gunung dan mengobati lukamu. Usaha enam partai untuk menumpas kejahatan tiada sangkut pautnya denganmu.”

Dengan satu tangan memegang dada, Boe Kie menjawab, “Dalam usaha menolong sesama manusia, sebegitu lama ia masih bernyawa, seorang lelaki harus berjuang terus. Terima kasih atas maksud Song-heng yang sangat baik. Tapi aku sudah mengambil keputusan untuk hidup atau mati bersama-sama Beng kauw!”

Para anggota Beng kauw dan Peh bie kauw merasa sangat terharu. Banyak di antaranya berteriak-teriak, mencegah Boe Kie berkelahi terus.

Dengan tindakan limbung, In Thian Ceng maju mendekati. “Orang she Song, ” katanya, “biarlah loohoe yang meladeni kau.” Tapi baru ia mengerahkan lweekang, kedua lututnya lemas dan ia kembali roboh di tanah.

Ceng Soe mengawasi Boe Kie. “Can-heng, kalau begitu demi kepentingan umum, aku terpaksa berbuat kedosaan terhadapmu,” katanya.

Siauw Ciauw melompat dan menghadang di depan Boe Kie. “Lebih dahulu kau harus membunuh aku!” teriaknya.

“Siauw Ciauw, kau tak usah kuatir,” kata Boe Kie dengan suara perlahan. “Kepandaian pemuda itu biasa saja. Untuk melayani dia tenagaku masih lebih daripada cukup.”

“Thio Kongcoe, tapi kau…kau terluka berat!” kata si nona.

Boe Kie tersenyum. “Tak usah takut,” katanya.

Mendengar perkataan itu, Ceng Soe naik darah. “Bagus!” bentaknya, “Kepandaianku memang biasa saja. Aku minta pelajaran darimu yang mempunyai tenaga lebih daripada cukup.”

“Siauw Ciauw, mengapa kau begitu baik terhadapku?” tanya Boe Kie dengan suara terharu.

Si nona tahu, bahwa ia tak dapat berbuat apa-apa lagi untuk mencegah pertempuran. “Aku tak bisa hidup sendirian,” katanya dengan suara duka dan putus harapan.

Dengan sorot mata mencinta, Boe Kie mengawasi nona itu. Dalam menghadapi kebinasaan, ia dapat terhibur karena ia tahu, bahwa di dalam dunia sedikitnya ada seorang yang mencintanya setulus hati.

“Minggir kau!” bentak Ceng Soe dengan mata melotot.

“Mengapa kau begitu kasar terhadap seorang wanita?” tanya Boe Kie.

Tapi Ceng Soe tidak meladeni teguran itu. Ia bahkan mendorong pundak Siauw Ciauw, sehingga si nona terhuyung beberapa tindak. “Di antara lelaki dan perempuan siluman, mana ada manusia baik?” katanya dengan kaku. “Bangun kau! Sambutlah seranganku!”

Boe Kie menghela napas. “Ayahmu adalah seorang ksatria”, katanya, “Mengapa kau begitu kasar! Untuk melayani kau, tak perlu aku bangun berdiri.” Di mulut ia berkata begitu, tapi sebenar-benarnya ia tak kuat berdiri lagi.

Keadaan Boe Kie yang sudah payah dapat dilihat orang banyak, antaranya oleh Song Ceng Soe sendiri. “Ceng Soe, kau totok saja jalan darahnya supaya ia tidak bisa bergerak,” teriak Jie Lian Coe. “Tak usah membinasakan dia”.

“Baiklah,” jawabnya seraya menotok pundak Boe Kie dengan jari tangan kanannya.

Boe Kie tidak bergerak, tapi pada detik jari tangan lawan hampir menyentuh Kian tin hiat ia mengibas dengan tangannya dan Ceng Soe menotok angin. Sebab kejadian itu di luar dugaan, Ceng Soe sempoyongan, hampir-hampir menubruk Boe Kie.

Sesudah kagetnya hilang, ia menendang dada Boe Kie dengan menggunakan tujuh bagian tenaga. Jie Lian Coe telah memesan supaya ia tidak berlaku kejam, tapi mengapa ia mengirim tendangan yang berat itu? Apa lantaran Boe Kie mengatakan kepandaiannya biasa saja?

Bukan, sebab musababnya terletak di lain bagian. Ceng Soe membenci Boe Kie dan ia membenci karena soal cinta.

Begitu melihat wajah Cioe Cie Jiak, begitu ia jatuh cinta. Tak henti-hentinya ia melirik atau mengawasi si nona. Sebagai puteranya seorang pendekar Boe tong, ia merasa tak pantas mengincar si nona terus-menerus, tapi ia tak bisa melawan hatinya.

Setiap gerakan, setiap senyuman, setiap kerutan alis Cie Jiak tidak terlepas dari matanya. Apa celaka, Cie Jiak mengunjuk rasa cintanya kepada Boe Kie. Sorot mata nona itu selalu diperhatikan Ceng Soe. Atas perintah Biat coat, Cie Jiak menikam Boe Kie. Tapi sesudah menikam, si nona memperlihatkan rasa duka dan menyesal yang tiada terbatas.

Song Ceng Soe mengerti, bahwa sesudah terjadi penikaman itu, tak perduli Boe Kie mati atau hidup, si nona tentu takkan melupakan perbuatannya itu. Iapun tahu, apabila ia membunuh pemuda itu, Cie Jiak pasti merasa sangat sakit hati, akan membencinya.

Tapi oleh sebab dibakar rasa jelus dan rasa iri hati, ia sungkan melepaskan kesempatan untuk membinasakan seorang yang tak berdosa yang menjadi saingannya. Ceng Soe sebenarnya pemuda boen boe song coan (pandai ilmu surat dan ilmu silat), salah seorang terpandai di antara murid-murid turunan yang ketiga dari Boe tong pay dan pada hakekatnya ia seorang baik. Akan tetapi, begitu terbentur dengan soal cinta, ia tak bisa membedakan lagi apa yang benar, apa yang salah.

Melihat tendangan itu, semua orang terkejut. Untuk menyelamatkan jiwa Boe Kie mesti melompat atau menangkis. Pada saat ujung kaki mampir di dadanya, ia angkat tangan kiri dan mengibas. Di luar dugaan, kibasan itu sudah menolak tenaga dari tendangan kaki Ceng Soe lewat dalam jarak tiga dim dari badannya.

Karena ia menendang dengan bernafsu, Ceng Soe tidak menarik pulang kakinya dan lalu melompat sambil menendang ke belakang, menendang punggung Boe Kie dengan tumit kaki kiri. Tendangan itu hebat dan tidak mengira, tapi untuk kedua kalinya Boe Kie berhasil menyelamatkan jiwanya dengan hanya mengibaskan lima jari tangannya.

Melihat begitu, semua orang terheran-heran.

“Ceng Soe, dia sudah tak punya tenaga dalam lagi,” seru sang ayah. “Itulah ilmu Sie nio po cian kin”

(Sie nio po cian kian = Empat tahil menghantam seribu kati)

Song Wan Kiauw memang lihai dan berpengalaman. Ia bisa lihat bahwa Boe Kie sudah habis tenaganya dan ilmu yang digunakannya, biarpun dinamakan Kian koen Tay lo ie pada hakekatnya tidak berbeda dengan Sin nio po koan kin, atau ilmu “Meminjam tenaga untuk memukul tenaga” dari rimba persilatan Tiong goan.

Mendengar petunjuk ayahnya, Ceng Soe tersadar dan ia segera mengubah cara bersilatnya. Kedua tangannya bergerak seperti orang menari-nari dan pukul-pukulannya kelihatan aneh, seperti disertai dengan lweekang, seperti juga tidak disertai lweekang. Itulah Bian ciang (ilmu pukul kipas), salah satu ilmu silat terlihai dari Boe tong pay.

Ilmu “Meminjam tenaga untuk memukul tenaga” merupakan dasar dari ilmu silat Boe tong pay. Untuk menggunakan Sie nio po cian kin, pihak lawan harus menggunakan tenaga yang besar, tenaga ribuan kati, supaya tenaga itu bisa dipinjam. Tapi sekarang Song Ceng Soe menggunakan Bian ciang, maka tenaganya keluar di antara ada dan tidak ada. Dengan demikian, Boe Kie tak akan bisa meminjam tenaga itu.

Tapi tiada yang tahu, bahwa dalam Kian koen Tay lo ie, Boe Kie sudah mencapai tingkat tertinggi, yaitu sudah berlatih sampai pada tingkat ketujuh. Jangankan pukulan Bian ciang yang masih berbentuk, sedang benda yang tak ada bentuknya pun, seperti hawa racun atau suara aneh, masih dapat dipunahkan olehnya.

Begitu diserang, ia meramkan kedua matanya dan tersenyum, sedang lima jari tangan kirinya bergerak-gerak seperti sedang memetik khim. Dalam sekejap, Bian ciang yang terdiri dari tiga puluh enam jurus sudah punah semuanya.

Song Ceng Soe tercengang. Dalam bingungnya ia menyapu seluruh lapangan dengan matanya dan secara kebetulan matanya kebentrok dengan mata Cioe Cie Jiak. Tiba-tiba saja darahnya meluap. Ia bergusar dan berduka karena paras muka si nona mengunjuk rasa kuatir. Ia tahu, bahwa Cie Jiak bukan memikiri keselamatannya.

Dalam marahnya, ia lantas saja menarik napas dala- dalam, tangan kirinya menghantam pipi kanan Boe Kie, telunjuk tangan kanannya menotok Pot hoe hiat di bagian pundak. Jurus itu dinamakan Hoa kay Peng tee (Kembang mekar). Namanya bagus, hebatnya bukan main.

Dua pukulan tadi disusul dengan dua pukulan lagi, tangan kanan menggaplok pipi kiri, telunjuk tangan kiri menotok Hong hoe hiat. Dengan demikian, jurus Hoa kay Peng tee berisi empat pukulan yang turun bagaikan hujan angin, dengan kecepatan kilat.

Semua orang terkesiap, banyak diantaranya mengeluarkan seruan tertahan.

Tiba-tiba terdengar suara “Plaak! Plaak!” yang sangat nyaring. Tangan kiri Song Ceng Soe menggaplok pipi kirinya, tangan kanan menggaplok pipi kanan dan berbareng satu telunjuk menotok Pok hoe hiat, lain telunjuk menotok Hong hoe hiatnya sendiri. Ternyata, dengan menggunakan Kian koen Tay lo ie yang paling tinggi, Boe Kie sudah berhasil memindah keempat pukulan itu ke tubuh si pemukul.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: