Kumpulan Cerita Silat

22/08/2008

Kisah Membunuh Naga (42)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:05 am

Kisah Membunuh Naga (42)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Sementara itu, Boe Kie sudah berkata pula dengan suara nyaring. “Benar! Kau rupanya masih ingat orang she Ouw itu. Mengapa kau tidak bicara terus? Sungguh mengenaskan matinya nona Ouw. Apakah di dalam hatimu kau tidak pernah merasa malu?”

Dengan napas mengap-mengap Sian Ie Thong menyerang bagaikan kalap. Boe Kie sengaja mengendurkan tekanan tenaganya dan Sian Ie Thong lantas saja merasakan seakan-akan dadanya lega. Ia menarik napas dan membentak. “Kau?” ia tidak dapat bicara lagi sebab Boe Kie mendadak menekan lagi dengan lweekangnya.

Pemuda itu mengeluarkan suara di hidung. “Laki-laki berani berbuat harus berani menanggung akibatnya,” katanya dengan nada mengejek. “Ya bilang ya, tidak bilang tidak. Mengapa kau tak berani buka suara? Bukankah Tiap Kok Ie Sian Ouw Ceng Goe Sinshe binasa dalam tanganmu, benarkah begitu? Jawab!” Boe Kie sebenarnya tidak tahu cara bagaimana adik Ouw Ceng Goe menemui ajalnya. Maka itu, ia tidak bisa mengatakan secara jelas.

Tapi dalam bingungnya, Sian Ie Thong menganggap pemuda itu sudah tahu rahasianya. Mukanya pucat pasi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Orang-orang yang mengenal Sian Ie Thong tahu, bahwa dia sangat pandai bicara. Maka itu, melihat dari paras mukanya, sikap dan terkancingnya mulut pemimpin Hwa San Pay itu, mau tak mau dia percaya apa yang dikatakan Boe Kie. Bahwa pemuda itu sudah menindih jalan pernapasan Sian Ie Thong dengan lweekang yang sangat tinggi, tidak diketahui oleh siapapun jua kecuali mereka berdua.

Yang paling malu adalah orang-orang Hwa San Pay. Pemimpin mereka dicaci oleh seorang pemuda tanpa mampu membela diri. Di mana muka mereka harus ditaruh? Tapi ada juga sejumlah orang yang berpendapat lain. Mereka mengenal Sian Ie Thong sebagai manusia yang banyak akalnya. Mungkin sikapnya itu hanya satu siasat yang berisi tipu untuk membalas sehebat-hebatnya.

Sementara itu, Boe Kie sudah memaki lagi. “Menurut kebiasaan, orang-orang rimba persilatan membalas budi dengan budi, kejahatan dengan kejahatan. Tiap Kok Ie Sian anggota Beng Kauw. Kau adalah seorang yang berhutang budi terhadap Beng Kauw. Tapi lihatlah! Hari ini kau mengajak orang-orang partaimu untuk menyerang Beng Kauw. Orang menolong jiwamu, kau berbalik mencelakai adik orang itu. Manusia rendah! Kau lebih rendah dari pada binatang! Mukamu tebal, begitu punya tebal hingga kau masih ada muka untuk menjadi Ciang Bun Jin dari sebuah partai besar.”
Boe Kie mencaci sesuka hati, tanpa dibalas. “Kalau Ouw Shinshe masih hidup dan berada di sini, ia pasti akan merasa puas,” pikirnya.

Sesudah memaki beberapa lama lagi, ia berkata di dalam hati. “Sekarang cukuplah. Hari ini aku mengampuni jiwanya. Biarlah dilain hari aku berhitungan lagi dengan dia.” Memikir begitu, ia lantas saja menarik pulang tenaga telapak tangannya yang digunakan untuk menekan Sian Ie Thong. “Binatang! Hari ini aku menitipkan kepalamu di atas lehermu untuk sementara waktu!”

Hampir berbareng dada Sian Ie Thong lega. “Bangsat kecil! Rasakan ini!” teriaknya seraya menotok Boe Kie dengan gagang kipas, sambil melompat ke samping.

Mendadak Boe Kie mengendus bebauan. Kepalanya tiba-tiba pusing, kakinya lemas dan ia terhuyung-huyung. Ia merasa matanya berkunang-kunang dan dunia seolah-olah terbalik.

“Bangsat kecil!” caci Sian Ie Thong. “Sekarang kau boleh belajar kenal dengan lihainya Eng Coa Seng Sie Pek!” ia melompat dan lima jari tangan kirinya sudah mencengkram Yan Ie Hiat, di bawah ketiak Boe Kie. Tapi ia terkejut karena tangannya seolah-olah mencengkram ikan yang licin dan ia tak bisa menggunakan lweekangnya.

Melihat pimpinan mereka berada di atas angin, orang-orang Hwa San Pay bersorak-sorai dan teriak-teriak.

“Lihatlah lihainya Eng Coa Seng Sie Pek!”

“Sian Ie Ciang Bun, hajar!”

“Bangsat kecil! Akhirnya kau roboh juga!”

Di antara tampik sorak, tiba-tiba Boe Kie tersenyum dan meniup muka Sian Ie Thong. Hampir berbareng Sian Ie Thong mengendus bebauan wangi amis dan kepalanya puyeng. Hatinya mencelos kagetnya seperti disambar geledek. Baru saja ia mau berteriak, Boe Kie sudah mengebut kedua lututnya dengan tangan baju sehingga dia roboh berlutut di hadapan pemuda itu.

Kejadian ini di luar dugaan semua orang. Terang-terang mereka lihat Boe Kie terluka berat dan badannya bergoyang-goyang. Mengapa terjadi perubahan itu? Apakah pemuda itu mempunyai ilmu siluman?

Sementara itu sesudah mengambil kipas dari tangan Sian Ie Thong. Boe Kie tertawa terbahak-bahak. “Kalian lihatlah!” teriaknya sambil mengacungkan kipas itu. “Hwa San Pay menamakan diri sebagai partai yang lurus bersih. Siapa nyana pmemimpin partai itu memiliki ilmu penyebar racun?”

Dengan sebelah tangan ia membuka kipas itu yang di atasnya terdapat lukisan puncak gunung Hwa San dengan beberapa baris sajak yang indah bunyinya dan indah pula huruf-hurufnya.

“Tak seorangpun akan menduga, bahwa dalam kipas yang seindah ini bersembunyi alat rahasia untuk melepaskan racun yang hebat,” katanya seraya menghampiri sebuah pohon bunga dan menotok batangnya dengan gagang kipas. Dalam sekejab semua bunga layu dan rontok, sedang warna daunnya pun segera berubah kuning.

Semua orang kaget, di dalam hati mereka bertanya-tanya, “Racun apa yang disimpan di kipas itu”

Dengan mendekam di muka bumi, Sian Ie Thong menjerit-jerit seperti babi dipotong. “Ah!….. ah,”.” Suaranya menyayat hati.

Menurut pantas, biarpun dipotong sungguhan seorang yang berkedudukan seperti dia harus bisa menahan sakit. Tak boleh ia menjerit-jerit di hadapan banyak orang. Setiap jeritan berarti digaploknya muka orang-orang Hwa San Pay.

“Lekas…lekas bunuh aku!” teriaknya. “Lekas!…lekas!…”

“Aku bisa menghilangkan rasa sakitmu,” kata Boe Kie. “Tapi sebelum tahu racun apa yang digunakan olehmu, aku tidak berdaya.”

“Racun…racun Kim Cam Kouw Tok! aduh! Bunuhlah aku! lekas!” ia sesambat.

Kata-kata “Kim Cam Kouw Tok” tidak mempengaruhi orang-orang muda, tapi orang-orang yang lebih tua lantas berubah paras mukanya. Mereka yang mempunyai rasa keadilan lantas mencaci.

Kim Cam Kouw Tok, keluaran propinsi Kwi Cioe, adalah salah satu racun terhebat di dunia. Penderitaan orang yang kena racun itu tak mungkin dilukiskan, sekujur badannya seperti digigit oleh berlaksa kutu beracun. Racun itu memuakkan orang-orang rimba persilatan yang baik-baik.

Karena sukar didapat, banyak orang hanya pernah mendengar namanya. Sekarang, dengan menyaksikan penderitaan Sian Ie Thong, mereka baru tahu lihainya Kim Cam Kouw Tok.

“Apa kau tahu cara bagaimana racunmu berbalik makan tuan?” Tanya Boe Kie.

“Bunuh aku! Bunuhlah”! Aku tak tahu,” teriaknya sambil bergulingan.

“Kau melepaskan racun itu kepadaku, tapi aku berhasil menolaknya dengan menggunakan lweekang dan lalu balas menghantam kau,” kata Boe Kie. “Sekarang apa lagi yang mau dikatakan olehmu?”

“Ya! Pembalasan! Pembalasan”!” jeritnya seraya mencengkram tenggorokannya untuk mencoba bunuh diri. Tapi tenaganya habis. Sekuat tenaganya ia coba membenturkan kepala di tanah, tapi ia gagal lagi. Disinilah lihainya Kim Cam Kouw Tok. Pancaindera si korban makin tajam, tapi tenaganya habis, sehingga mau hidup tidak bisa, mau matipun tidak mungkin.

Darimana Sian Ie Thong mendapat racun itu?

Pada waktu mau menghembuskan napasnya yang penghabisan, karena cintanya yang tiada terbatas, Ouw Ceng Yo telah memohon kepada Ouw Ceng Goe, supaya kakak itu suka melindungi Sian Ie Thong.

Karena terpaksa, sang kakak memberi janjinya. Isteri Ouw Ceng Goe, Ouw Lan Kouw, gusar dan diam-diam meracuni Sian Ie Thong dengan Kim Cam Kouw Tok. Belakangan, sebab sudah berjanji, Ouw Ceng Goe menolong juga manusia itu. Sian Ie Thong ternyata licik luar biasa. Waktu berobat di rumah Tiap Kok Ie Sian, selagi orang meleng, ia mencuri dua pasang ulat sutera emas yang lalu dipiara menurut peraturan dan dibuat menjadi bubuk racun. Kemudian ia memasang alat rahasia di kipasnya untuk menyimpan racun itu, yang bisa disembur keluar dengan bantuan tenaga dalamnya.

Tadi, karena ditindih dengan lweekang Boe Kie, ia tak bisa bergerak. Tapi begitu lekas pemuda itu menarik pulang tekanannya, ia segera saja melepaskan racun. Untung besar Boe Kiememiliki lweekang yang sangat kuat. Pada detik yang berbahaya, mereka menahan napas, mengerahkan semua hawa tulen dan bahkan bisa menyembur balik racun itu ke badan Sian Ie Thong. Kalau badannya kurang kuat, maka yang akan menjerit-jerit bukannya Sian Ie Thong, tapi ia sendiri.

Sesudah mempelajari Tok Kang dari Ong Lan Kouw, Boe Kie tahu lihainya Kim Cam Kouw Tok. Diam-diam ia mengalirkan hawa tulen di seluruh badannya dan setelah merasakan sesuatu yang luar biasa, barulah hatinya lega. Melihat penderitaan Sian Ie Thong, di dalam hatinya merasa kasihan.

“Menolong, aku akan menolong, tapi dia harus lebih dahulu mengakui segala kedosaannya,” pikirnya. Maka itu ia lantas saja berkata, “Aku tahu cara mengobati orang yang kena racun Kim Cam Kouw Tok. Tapi sebelum ditolong, kau harus menjawab sejujurnya setiap pertanyaanku. Jika kau berdusta aku takkan memperdulikan kau lagi. Kau akan menderita tujuh hari tujuh malam, sehingga dagingmu rusak dan tulang-tulangmu kelihatan.”

Walaupun terpaksa, otak Sian Ie Thong tetap tenang. “Dahulu Ong Lan Kouw pernah mengatakan dagingku akan rusak dan tulang-tulangku kelihatan, sesudah aku menderita tujuh hari tujuh malam,” katanya di dalam hati. “Bagaimana bocah itu bisa tahu?” Tapi ia tak percaya Boe Kie mempunyai kepandaian yang menyamai kepandaian Ouw Ceng Goe. “Kau…kau… , takkan bisa menolongku,” katanya terputus-putus.

Boe Kietersenyum. Dengan gagang kipas, ia menotok Sian Ie Thong. “Aku akan membuat lubang di sini dan akan memasukkan obat ke dalam lobang,” katanya.

“Benar! Kau benar!” teriak Sian Ie Thong.

“Nah! Kalau kau mau hidup, lekaslah ceritakan segala kedosaanmu,” kata Boe Kie.

Sambil menggigit bibir, Sian Ie Thong mengawasi pemuda itu. “Ti…dak!” katanya dengan suara gemetar.

“Baiklah,” kata Boe Kie seraya mengibas tangannya. “Kau rebahkan di sini tujuh hari tujuh malam.”

“Ya! Ya! Aku…aku cerita…,” sesambat Sian Ie Thong. Tapi, mulutnya tetap terkancing. Biar bagaimanapun jua, terutama mengingat kedudukannya sebagai Ciang Bun Jin dari sebuah partai besar, ia merasa tak sanggup untuk menceritakan perbuatan-perbuatannya yang terkutuk di hadapan ratusan tokoh rimba persilatan.

Tiba-tiba, berbareng dengan siulan nyaring, dua orang, satu jangkung dan satu kate, melompat keluar dari barisan Hwa San Pay dan berdua di depan Boe Kie. Mereka berusia lima puluh tahun lebih dan masing-masing mencekal sebatang golok.

“Orang she Can,” kata si kate, “orang Hwa San Pay boleh dibunuh, tidak boleh dihina. Perbuatanmu terhadap Ciang Bun Jin kami bukan perbuatan seorang gagah.”

Boe Kie merangkap kedua tangannya dan bertanya, “Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama besar kedua Cianpwee?”

“Derajatmu masih belum cukup untuk mengetahui nama kami berdua,” kata si kate seraya membungkuk untuk mendukung Sian Ie Thong.

Boe Kie mendorong si kate dan si kate terhuyung, “Hati-hati kau!” katanya. “Badannya penuh racun dan kalau kena sedikit saja, kau akan menderita seperti dia.”

Si kate terkejut dan berdiri terpaku.

“Tolong!…Tolong aku!” jerit Sian Ie Thong. “Pek Goan, Pek Soeko! Hanya Pek Soeko yang dibinasakan olehku dengan Kim Cam Kauw Tok! Tidak ada orang lain lagi. Tidak ada…”

“Pek Goan dibinasakan olehmu?” menegas si kate. “Apa benar,” tapi mengapa kau mengatakan bahwa ia mati dalam tangan orang-orang Beng Kauw?”

“Pek Soeko!… ampun” ” jerit Sian Ie Thong sambil manggut-manggutkan kepalanya. “Pek Soeko.. kau mati secara mengenaskan. Tapi siapa suruh kau memaksa aku untuk mengakui urusan nona Ouw? Suhu pasti tak akan mengampuni aku, tiada jalan lain…aku…aku terpaksa.. Pek Suheng! Ampun!…. ” ia mencengkram ternggorokannya, tapi tenaganya habis.

Dengan napas tersengal-sengal, ia berkata pula, “Sesudah mencelakai kau, jalan satu-satunya untukku adalah menumplak kedosaan di atas pundak Beng Kauw. Tapi…tapi.. aku sudah membakar banyak uang-uangan untuk rohmu…aku sudah membikin sembahyangan besar.. aku terus menunjang penghidupan anak isterimu. Mengapa kau masih minta ganti jiwa? Ampun!…”

Ketika itu langit cerah dan matahari memancarkan sinarnya yang gilang gemilang. Tapi mendengar jerit-jeritan Sian Ie Thong, banyak orang menggigil seperti kedinginan. Roh Pek Goan seolah-olah berada di tempat itu.

Pengakuan yang tak diduga-duga itu sudah keluar dari mulut Sian Ie Thong sebab dalam penderitaannya, ia ingat penderitaan Pek Goan. Biarpun Ouw Ceng Yo mati, nona itu bukan mati dalam tangannya, ia mati bunuh diri. Tapi Pek Goan binasa karena diracuni olehnya sendiri. Maka itu ia merasa tak ada kedosaannya terhadap Nona Yo. Dalam penderitaannya yang maha hebat itu di dalam otaknya hanya teringat “Pek Goan” dan roh Suheng itu seolah-olah berdiri di depannya untuk menagih utang.

Boe Kie tak mengenal Pek Goan. Tapi dari pengakuan Sian Ie Thong, ia tahu bahwa segala kedosaan telah ditimpakan ke pundak Beng Kauw. Mungkin sekali turut sertanya Hwa San Pay dalam gerakan membasmi Beng Kauw adalah untuk balas sakit hatinya Pek Goan. Memikir begitu, ia lantas berkata dengan suara nyaring. “Para Cianpwee dari Hwa San Pay, dengarlah! Pek Goan Suhu bukan dicekali oleh orang Beng Kauw kalau sudah salah mereka orang.”

Tiba-tiba bagaikan kilat orang tua yang bertubuh jangkung mengangkat goloknya dan membacok leher Sian Ie Thong. Tapi Boe Kie mendahului, dengan gagang kipas ia menotol badan golok yang lantas saja terpental dan menancap di tanah.

“Perlu apa kau campur tangan?” bentak si jangkung dengan gusar. “Dia pengkhianat partai. Siapapun juga boleh membinasakannya.”

“Aku sudah berjanji untuk mengobati dia,” kata Boe Kie. “Perkataan yang sudah diucapkan tidak bisa diabaikan dengan begitu saja. Urusan dalam partai bisa dibereskan sesudah kalian pulang ke Hwa San.”

“Soetee, perkataan dia ada benarnya juga,” kata si kate sambil menendang punggung Sian Ie Thong. Tendangan yang sangat keras itu bukan saja mampir tepat di Toa Toei Hiat, tapi juga telah melontarkan tubuh Sian Ie Thong yang kemudian ambruk di depan barisan Hwa San Pay. Pukulan pada Toa Toei Hiat sakit bukan main, tapi Sian Ie Thong sudah tidak bisa berteriak lagi. Ia berguling-guling sambil menahan sakit, tapi tak seorangpun berani menolong, sebab mereka takut ketularan racun.

“Kami berdua adalah paman guru Sian Ie Thong,” kata si kate kepada Bu Ki. “Bahwa kau sudah membikin terang satu perkara besar dalam partai kami, sehingga sakit hatinya Pek Goan Soetit bisa terbalas, aku merasa sangat berterima kasih,” sehabis berkata begitu, ia menyoja sambil membungkuk. Si jangkung buru-buru ikut menyoja.

Mendadak si kate mengibas goloknya dan berkata, “tapi, sebab kau sudah merusak nama harumnya Hwa San Pay, maka tak ada jalan lain bagi kami berdua daripada mengadu jiwa dengan kau.”

“…yang bersih tetap bersih, yang kotor tinggal kotor. Kalau dalam sebuah partai muncul seorang jahat, nama partai tersebut tidak rusak karena adanya orang jahat itu. Mengapa kalian berpandangan begitu sempit?”

“Bagaimana pendapatmu? Apakah kejadian itu tidak menodai nama Hwa San Pay?” tanya si jangkung.

“Tidak, tentu saja tidak,” jawabnya.

“Soeko,” kata si jangkung. “Bocah itu mengatakan tidak menodai partai kita.” Kurasa lebih baik kita bikin habis urusan ini.

Si jangkung adalah seorang jujur terhadap Boe Kie, ia agak jeri.

“Tidak! Tidak!” bentak si kate. “lebih dahulu singkirkan hinaan dari luar, kemudian barulah menyapu bersih pintu kita. Kalau hari ini, Hwa San Pay tidak berhasil menjatuhkan bocah itu, kita tidak bisa berdiri lagi dalam rimba persilatan.”

“Baiklah,” kata si jangkung. “Eh, bocah! Kami berdua mau mengerubuti kau. Jika kau rasa tidak cukup adil, paling benar siang-siang kau mengaku kalah.”

Si kate mengerutkan alisnya dan membentak, “Soetee!…”

Si jangkung girang tak kepalang, “Kalau kami mengerubuti kau, kau pasti tak bisa hidup lagi,” teriaknya.

Katanya, “kami berdua mempunyai ilmu golok yang dinamakan Liang Gie To Hoat. Kau pasti kalah. Aku harap kau tidak menyesal.”

“Aku hanya mengharap kedua cianpwee suka menaruh belas kasihan.”

“Golok tidak mengenal belas kasihan,” kata si jangkung. “Begitu bertempur golok kami tak mau main sungkan-sungkan lagi. Kulihat kau seorang yang baik. Aku tidak sampai hati jika pasti membacok kau?”

“Soetee, jangan rewel!” bentak si kate.

“Aku hanya minta supaya ia berhati-hati,” kata si jangkung. “Liang Gie To Hoat kita lain dari yang lain” ”

“Tutup mulut!” bentak si kate. Ia berpaling kepada Boe Kie dan berteriak. “Sambutlah!” Hampir berbareng, goloknya menyambar.

Boe Kie mengangkat kipas Sian Ie Thong dan mendorong belakang golok.

“Tidak bisa!” teriak si jangkung. “Kalau begini, aku lebih suka tidak bertempur.”

“Mengapa?” tanya Boe Kie.

“Kipas itu ada racunnya, bisa-bisa kita celaka semua,” jawabnya.

“Benar,” kata Boe Kie. “Benda yang begini beracun tidak boleh dibiarkan lama-lama di dunia.” Ia menjepit kipas itu dengan telunjuk dan jari tengah menimpuk ke bawah. “Blas!” kipas amblas ke dalam tanah dan apa yang terlihat hanyalah lubang kecil. Sin kang sehebat itu tak akan dapat dilakukan oleh siapapun jua yang berada di lapangan itu. Tanpa merasa semua orang bersorak-sorai.

Sambil menjepit golok di bawah ketiaknya si jangkung menepuk tangan. “Ambillah senjata,” katanya.

Boe Kie berwatak sederhana dan ia sebenarnya tak ingin menonjol-nonjolkan kebenarannya di hadapan orang. Tapi keadaan sekarang sangat luar biasa. Jika ia tak memperlihatkan Sin Kang dan menaklukkan semua orang, ia takkan bisa mencapai tujuannya untuk menghentikan permusuhan. “Senjata apa yang cianpwee anggap pantas digunakan olehku?” tanyanya.

Si jangkung menepuk pundak Boe Kie dua kali. “Bocah, kau mempunyai sifat yang menarik,” katanya sambil tertawa, “Kau boleh menggunakan senjata apapun jua, perlu apa kau tanya aku.”

Boe Kie tahu, bahwa tepukan itu tak bermaksud jahat, tapi orang yang menonton kaget bukan main, sebab kalau si jangkung menggunakan tenaga dalam, pemuda itu bisa terluka berat. Mereka tak tahu, bahwa Boe Kie sudah melindungi sekujur tubuhnya dengan Sin Kang, sehingga andaikata si jangkung berlaku curang, ia takkan berhasil.

Karena pemuda itu tak lantas menjawab, kakek itu berkata pula. “Apakah kau akan turut perkataanku, jika aku menyebut senjata.”

“Ya,” jawabnya sambil tersenyum.

“Bocah, kau memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan kau tentu mahir dalam delapan belas senjata,” kata si jangkung. “Tapi sangat keterlaluan jika kau meladeni kami berdua dengan tangan kosong.”

“Tangan kosong juga boleh,” kata Boe Kie.

Si jangkung menyapu seluruh lapangan matanya. Ia ingin cari senjata yang aneh. Tiba-tiba ia lihat beberapa buah batu besar di sudut sebelah kiri, berat setiap batu kira-kira dua ratus atau tiga ratus kati. “Aku bersedia untuk mengalah terhadapmu dan kau boleh menggunakan senjata yang sangat berat itu,” katanya seraya menuding beberapa batu itu. Sehabis berkata begitu, ia mendongak dan tertawa terbahak-bahak. Ia hanya berguyon. Batu-batu itu bukan saja sangat berat dan takkan bisa diangkat oleh manusia biasa, tapi juga tak ada pegangannya, tidak bergagang seperti senjata biasa, sehingga sangat mustahil bisa digunakan sebagai senjata.

Tapi di luar dugaan sambil tersenyum Boe Kie berkata, “Senjata itu agak luar biasa, Loocianpwee kelihatannya ingin menjajal kepandaianku.” Seraya berkata begitu, ia menghampiri batu itu.

Si jangkung menggoyang-goyangkan tangannya, “Aku hanya main-main!” teriaknya. “Ambillah pedang untuk melayani kami!”

Pemuda itu tak menjawab dan berjalan terus. Sekali menggerakkan tangan kirinya, ia menyangga sebuah batu yang paling besar dan sesudah memutar badan, ia berseru. “Jie Wie, ayolah!” Ia melompat tinggi dan dilain saat sudah berhadapan dengan kedua kakek itu.

Semua orang mengawasi dengan mulut ternganga. Mereka begitu kaget sehingga mereka lupa untuk menepuk tangan.

“Hebat! Sungguh hebat,” kata si jangkung seraya mengurut jenggotnya.

Si kate tahu bahwa hari ini mereka bertemu dengan lawan terberat. Apa nama besar mereka berdua akan dapat dipertahankan masih merupakan satu pertanyaan. Sesudah menarik napas dalam-dalam, ia maju, “sambutlah!” katanya seraya membacok dengan golok yang bersinar putih.

“Soeko, apa benar-benar kita berkelahi?” tanya si jangkung.

“Kau kira main-main?” si kate balas menanya. Bacokannya yang pertama dengan mudah sudah dikelit Boe Kie.

Mendengar jawaban soekonya, si jangkung segera menyabet dengan golok Ceng Kong To yang bersinar hijau.

“Bagus!” seru Boe Kie sambil memapaki dengan batunya.

“Trang!” Letupan api berhamburan. Hampir berbaring, Boe Kie mendorong batu ke depan.

“Soen Soei Toei Couw!” teriak si jangkung. “Bocah, senjata batu juga ada jurus-jurusnya?” (Soen Soei Toei couw dengan mengikuti aliran air mendorong perahu)

“Soetee, Hoen Toen It Po!” bentak si kate seraya membuat setengah lingkaran dengan goloknya dan membabat Boe Kie.

“Tay it Seng Beng. Liang Gie Hop Tek?” menyambung si jangkung sambil mengirim beberapa serangan.

“Jit Goat Hoei Beng,” menyambut si kate. Dengan saling sahut menyebutkan namanya pukulan, mereka menyerang.

Sambil mengerahkan Kioe Yang Sin Kang. Boe Kie memutar-mutar batu itu seperti sebutir peluru. Tenaga serangan Liang Gie To Hoat sangat besar, tapi walaupun tenaga pemuda itu lebih besar lagi. Dengan melompat kian kemari, ia menyambut setiap serangan dean tiap bacokan menghantam batu sehingga letupan api berhamburan tak henti-hentinya.

Sesudah bertempur beberapa lama, mendadak Boe Kie melontarkan batu itu ke tengah-tengah udara dan kedua tangannya menyambar leher si kate dan si jangkung. Sesudah mencengkram jalan darah kedua kakek itu sehingga mereka tak bisa bergerak lagi, ia melompat ke belakang. Di lain saat batu yang beratnya kira-kira tiga ratus kati itu meluncur ke bawah, ke arah kepala kedua jago Hwa San Pay.

Semua orang terkesiap.

Pada detik berbahaya, Boe Kie melompat maju dan menepuk batu itu yang lantas saja terpental dan jatuh amblas di dalam tanah. Ia tertawa dan sambil menepuk pundak kedua kakek itu, ia berkata, “Jie Wie Loo Cianpwee jangan bingung, Boanpwee hanya main-main.”

Paras muka si kate pucat bagaikan kertas. “Sudahlah!” katanya dengan suara parau.

Tapi si jangkung menggelengkan kepalanya. “Tidak, ini tidak masuk hitungan.” Katanya.

“Mengapa tidak masuk hitungan?” tanya Boe Kie. ”

Kau mengalahkan kami dengan mengandalkan tenagamu yang besar,” jawabnya. “Kau bukan menjatuhkan kami dengan menggunakan ilmu silat.”

“Kalau begitu kita boleh bertanding pula.” Kata Boe Kie.

“Boleh,” kata si jangkung, “tapi kita harus menggunakan satu cara baru. Kalau kau menang karena tenagamu yang besar, biarpun kalah, kami kalah dengan penasaran. Bukankah demikian?”

Pemuda itu mengangguk, “benar,” katanya.

Tiba-tiba si nona berantai berteriak, “Malu! Benar-benar malu! Kakek jenggotan yang main padan berbalik mengatakan orang lain curang.”

Si jangkung tertawa terbahak-bahak. “Bocah,” katanya menoleh. “Orang sering kata: yang rugi ialah yang untung. Garam yang ditelan olehku lebih banyak daripada beras yang ditelan olehmu. Jembatan yang dilewati olehku lebih panjang daripada jalanan yang pernah dilalui olehmu. Bocah, tahu apa kau?!”

Ia menengok kepada Boe Kie dan berkata pula, “Kalau kau tidak setuju, kita boleh tidak usah bertanding lagi. Dalam pertandingan tadi, kau tak kalah dan kamipun tak menang. Seri saja! Tigapuluh tahun kemudian, kita boleh berjumpa kembali.”

Mendengar perkataan Soeteenya yang makin lama jadi makin gila, si kate buru-buru membentak. “Orang she Can! Kami mengaku kalah, kau boleh berbuat sesuka hati terhadap kami.”

“Boanpwee sama sekali tidak mengandung niat kurang baik,” kata Boe Kie. “Dengan memberanikan hati boanpwee hanya ingin mendamaikan permusuhan antara partai cianpwee dengan Beng Kauw.”

“Tak bisa!” teriak si jangkung. “Aku belum ajukan usulku. Mengapa kau lantas mundur?”

Si kate mengerutkan alisnya, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia tahu, bahwa biarpun gial-gilaan, dengan mengandalkan ketebalan mukanya dan lidahnya, soetee itu sering membuat musuh menjadi pusing dan mengubah kekalahan menjadi kemenangan. Hari ini, di hadapan tokoh-tokoh rimba persilatan, cara-cara itu memang tidak bagus. Tapi jika ia dapat menjatuhkan Boe Kie, maka kemenangan itu sekiranya dapat juga digunakan untuk menebus dosa.

“Bagaimana usul cianpwee?” tanya Boe Kie.

“Ilmu golok yang terlihai dari Hwa San Pay dinamakan Hoan Liang Gie To Hoat,” jawabnya. “Lihainya To Hoat itu sudah dirasai olehmu. Tapi kau tak tahu, bahwa Koen Loen Pay mempunyai ilmu pedang yang dinamakan Ceng Liang Gie Kiam Hoat. Kelihaian ilmu ini dikatakan berendeng dengan To Hoat dari Hwa San Pay. Masing-masing mempunyai keunggulan sendiri-sendiri. Manakala dua golok dan dua pedang dipersatukan menjadi satu, maka im (negatip) akan mendapat imbangan dari yang (positip) dan air akan membantu api. Hai!….” berkata sampai di sini, ia menggoyangkan kepalanya dan kemudian menambah dengan perlahan. “Hebat! Terlalu hebat!… kau tak akan bisa melawan.”

Mendengar begitu, Boe Kie lantas saja menengok ke barisan Koen Loen Pay dan berkata, “Apakah cianpwee dari Koen Loen Pay sudi memberi pelajaran kepadaku?”

“Dalam Koen Loen Pay kecuali Thie Khim Sian Seng suami isteri, tak ada lain orang yang bisa bekerja sama dengan kami berdua,” kata si jangkung. “Ku tak tahu apakah Ho Ciang Boen bernyali cukup besar atau tidak.”

Seorang yang ingin menonton keramaian jadi girang sekali. Dalam omongannya yang gila-gilaan, si jangkung ternyata bukan manusia tolol.

Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham mengawasi si jangkung. Mereka tak kenal dua kakek itu. Sebagai paman guru Sian Ie Thong, kedua orang tua itu mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dan sudah tentu jarang berkelana dalam dunia Kang Ouw See Hek yang jauh, meka tidaklah heran jika mereka belum pernah bertemu dengan kedua kakek itu.

Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham sangat bersangsi. Mereka tahu, bahwa kedua kakek itu mau menyeret mereka ke dalam gelanggang. Kalau menang, muka si jangkung dan si kate akan terang kembali. Tapi kalau kalah” Huh! Tak mungkin. Mana bisa Liang Gie Kim Hoat dari Koen Loen Pay kalah dari pemuda yang tak dikenal itu?”

Melihat suami isteri Ho Thay Ciong tidak lantas bergerak, si jangkung lantas saja berteriak. “Oooh! Suami isteri Ho dari Koen Loen Pay tidak berani bertempur dengan kau. Kau tak usah heran. Biarpun boleh juga, Ceng Liang Gie Kam Hoat masih banyak cacatnya. Dibandingkan dengan ilmu golok kami Hoan Liang Gie To Hoat masih lebih unggul setingkat dua tingkat.”

Pan Siok Ham gusat tak kepalang. Dengan sekali melompat, ia sudah berada di tengah gelanggang. “Siapa she dan nama tuan yang besar?” tanyanya seraya menuding si jangkung.

“Akupun she Ho,” jawabnya. “Ho Hoe jin silahkan.”

Perkataan itu disambut dengan gelak tertawa ejek sejumlah penonton.

Pan Siok Ham dikenal sebagai “tay Siang Ciang Boen Jin” dari Koen Loen Pay. Selama puluhan tahun di daerah yang luasnya beberapa ratus li persegi ia berkuasa bagaikan ratu. Maka itu, mana bisa ia menerima ejekan di hadapan orang banyak.

“Sreet!” bagaikan kilat ia menikam sijangkung.

Di detik ini masih bertangan kosong, di lain detik pedangnya sudah menyambar dan ujung pedang hanya terpisah setengah kaki dari pundak lawan.

Si jangkung terkesiap dan menyampok dengan goloknya. “Trang!” pada saat terakhir berhasil memapaki bacokan jago betina itu. Pan Siok Ham menyerang dengan pukulan Kim ciam Touw Ciat (jarum emas melewati merah bahaya) sedangkan si jangkung menyambut dengan Ban Ciat Pot Hok (laksana merah bahaya tidak datang lagi) Kedua pukulan itu yang satu “Ceng” yang lain “hoan” merupakan ilmu silat Liang Gie yang indah luar biasa. Kalau tadi dalam menghadapi Kiu Yang Sin Kang, si kakek tidak berdaya sekarang ia memperlihatkan kepandaiannya yang sangat tinggi, sebab pada hakekatnya, ia memang merupakan seorang ahli silat dari kelas utama.

Sesudah gebrakan pertama, masing-masing mundur setindak. Mereka terkejut dan merasa kagum. Mereka berlainan partai, berlainan ilmu dan belum pernah bertemu muka. Tapi sesudah gebrakan itu, masing-masing yakin bahwa jika Liang Gie To Hoat bekerja sama, maka kerja sama itu akan menciptakan serupa ilmu silat yang tiada bandingannya dalam dunia. Ketika itu, Pan Siok Ham merasa seperti juga seorang yang selama hidupnya hidup kesepian, tiba-tiba bertemu dengan sahabat akrab. Ia menengok kepada suaminya dan berkata, “Eh, kemana kau!”

Ho Thay Ciong adalah seorang suami yang selalu menurut perintah sang isteri. Tapi di hadapan orang banyak ia merasa jengah juga dan berusaha untuk menolong muka dengan memperlihatkan keangkerannya sebagai seorang Ciang Boen Jin. Sambil mengeluarkan suara di hidung, perlahan-lahan ia menghampiri sang isteri dengan didahului oleh empat kacung. Satu membawa pedang, satu menyangga khim besi dan dua orang memegang hudtim (kebutan) Begitu tiba di tengah gelanggang, keempat kacung itu membungkuk dan mundur, akan kemudian berdiri di belakang Ho Thay Ciong.

Pan Siok Ham melirik suaminya dan berkata, “kita berempat coba main-main dengan bocah itu supaya dia mengenal lihainya ilmu silat Hwa San dan Koen Loen.” Ia menengok dan mendadak mengeluarkan seruan tertahan. Sambil mengawasi Boe Kie dengan mata membelalak, ia berkata, “kau…kau… ”

Sebagaimana diketahui, pada empat tahun berselang, ia pernah bertemu dengan Boe Kie. Walaupun sekarang dari kanak-kanak Boe Kie sudah menjadi seorang pemuda, badannya sudah berubah dan di atas bibirnya sudah tumbuh sedikit kumis, ia masih mengenali pemuda itu.

“Apa tak baik jika kita melupakan kejadian yang dulu?” kata Boe Kie. “Aku Can A Goe.”

Pan Siok Ham mengerti maksud pemuda yang tidak mau memperkenalkan namanya yang sejati. Ia mengerti, bahwa jika ia membuka rahasia, Boe Kie pun akan melucuti kedoknya akan mengumumkan cara bagaimana ia dan suaminya sudah membalas kebaikan dengan kejahatan. Maka itu, seraya mengangkat pedang, ia berkata, “Can Siauw Hiap telah mendapat kemajuan pesat sekali. Dengan jalan ini, aku memberi selamat, aku ingin minta pengajaranmu.”

Boe Kie tersenyum. “Sudah lama kudengar Kiam Hoat kalian berdua yang sangat lihai,” katanya. “Boanpwee hanya mengharap cianpwee suka menaruh belas kasihan.”

Sementara itu, Ho Thay Ciong sudah mengambil pedang yang dipegang kacungnya. “Senjata apa yang ingin digunakan Can siauw Hiap?” tanyanya.

Melihat Ho Thay Ciong, Boe Kie lantas saja ingat kejadian-kejadian pada empat tahun berselang. Ia ingat Kim Koan dan Cin Koan yang bisa mengisap racun dan yang kemudian mati sebab tiada makanan. Hal ini sangat disayangkanolehnya. Iapun ingat, bahwa Ho Thay Ciong dan isterinya pernah naik ke Boe tong untuk mendesak kedua orang tuanya, sehingga ayah dan ibu itu mati bunuh diri. Ia ingat pula, bahwa ia pernah dipaksa minum arak beracun, dipukul sampai babak belur dan dilemparkan ke batu gunung. Kalau tidak ditolong Yo Siauw, jiwanya pasti sudah melayang.

Mengingat itu darah Boe Kie meluap. “Ho Thay Ciong, Ho Thay Ciong!” katanya di dalam hati. “Hari itu kau menghajar aku sepuas hati, hari ini meskipun tidak mengambil jiwamu, aku akan memberi pelajaran setimpal kepadamu.

Ketika itu kedua pemimpin Koen Loen dan kedua ratus Hwa San Pay sudah berdiri di empat sudut sambil mencekal senjata mereka yang berkeredepan. Sekonyong-konyong Boe Kie bersiul dan bagaikan sebatang pit badannya meluncur ke atas, akan kemudian, dengan tiba-tiba mengubah arah ke jurusan sebuah pohon bwee. Dengan sekali menggerakkan tangan, ia sudah mematahkan sebatang ranting yang penuh bunga dan sesudah itu, barulah badannya melayang kembali ke bumi.

Ilmu ringan badan Boe Kie sudah dilihat orang. Tapi gerakannya dalam memetik ranting bwee itu indah luar biasa, sehingga semua orang menggeleng-gelengkan kepala, bahkan kagumnya.

Sementara itu, Boe Kie sudah bertindak ke tengah gelanggang dan sambil mengangkat ranting pohon itu. Ia berkata, “biarlah dengan menggunakan ini, boanpwee menerima pelajaran dari Hwa San Koen Loen.”

Semua orang kaget. Cara bagaimana pemuda itu melawan keempat ahli silat dengan menggunakan ranting pohon yang dihias dengan kurang lebih sepuluh kuntum bunga? Biarpun memiliki lweekang yang sangat tinggi, cabang kayu itu takkan bisa melawan golok dan pedang.

Pan Siok Ham tertawa dingin, “Bagus,” katanya. “Bocah! Kau sedikitpun tidak memandang sebelah mata kepada ilmu silat Hwa San dan Koen Loen.”

Boe Kie tersenyum dan menjawab, “Boanpwee pernah dengar cerita seorang Sian Hoe (mendiang ayah) bahwa seorang cianpwee dari Koen Loen Pay yaitu, Ho Ciok To Sian Seng, mempunyai kepandaian luar biasa dalam ilmu memetik khim, bersilat dengan pedang dan main catur, sehingga beliau dikenal sebagai Koen Loen Sam Seng. Hanya sayang kita terlahir terlalu lambat dan tak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan orang tua itu.”

Semua orang mengerti maksud pemuda itu, dengan memuju Ho Ciok Too, Boe Kie menghargai Koen Loen Pay yang mempunyai leluhur jempolan, tapi ia memang tak memandang sebelah mata kepada Cian Boen Jin yang sekarang bersama isterinya.

Sekonyong-konyong dalam barisan Koen Loen Pay terdengar bentakan menggeledek. “Anak haram! Betapa tingginya kepandaianmu sehingga kau begitu kurang ajar terhadap guruku?” cacian itu disusul dengan melompatnya seorang pria brewokan yang mengenakan jubah imam warna kuning. Berbareng lompatan itu, pedangnya menikam punggung Boe Kie, biarpun sebelum menyerang ia mancaci tapi sebab gerakannya cepat luar biasa, maka serangan itu tiada bedanya seperti bokongan.

Pada detik ujung pedang hampir menyentuh punggungnya, tanpa memutar badan, kaki kiri Boe Kie menyambar ke belakang dan dengan gerakan yang tak dapat dilihat orang, kakinya sudah menginjak pedang itu di atas tanah. Dengan menggunakan seantero tenaganya, si imam membetot pedang itu, tapi sedikitpun tidak bergeming.

Perlahan-lahan Boe Kie menengok dan ia segera mengenali, bahwa penyerang itu bukan lain daripada See Hoa Coe yang pernah ditemui di tengah lautan. Imam itu yang sangat berangasan pernah mengeluarkan perkataan kurang ajar terhadap mendiang ibunya In So So. Mengingat itu Boe Kie berduka dan lalu bertanya, “Apakah kau See Hoa Coe Tootiang?”

See Hoa Coe tidak menyahut. Dengan muka kemerah-merahan, ia terus membetot pedangnya dengan sekuat tenaga.

Tiba-tiba sesudah menotol badan pedang dengan tumit sepatu. Boe Kie mengangkat kakinya. Sebab tidak menduga, si imam terhuyung setindak, tapi berkat kepandaiannya yang tinggi, dengan mengerahkan lweekang, ia segera dapat mempertahankan diri. Tapi, baru saja menggunakan Cian Kin Toei (ilmu memberatkan badan supaya bisa berdiri tetap) semacam tenaga yang datang dari badan pedang mendorongnya. Tenaga itu adalah begitu hebat, hingga tanpa berdaya ia jatuh duduk. Hampir berbareng, terdengar suara “tang!” dan pedang patah dan ia hanya mencekal gagangnya saja.

Bukan main malunya See Hoa Coe, Sang Soe Nio (isteri guru) mengawasinya mencorong dengan sorot mata yang gusar dan ia tahu bahwa ia akan mendapat hukuman. Dengan bingung dan ketakutan, buru-buru ia berbangkit, “anak haram!…” bentaknya.

Sebenarnya Boe Kie sudah merasa cukup, tapi begitu mendengar cacian “anak haram” yang mencaci juga kedua orang tuanya, darahnya lantas saja meluap. Bagaikan kilat, ia mengibas ranting bwee dan tiga “hiat” di dada See Hoa Coe sudah tertotok. Tapi dengan berlagak pilon ia segera berkata kepada empat lawannya, “para cianpwee boleh lantas mulai!”

“Minggir kau!” bentak Pan Siok Ham.

“Apa belum cukup?”

“Baik,” jawab See Hoa Coe, tapi badannya tak bergerak.

Pan Siok Ham jadi makin gusar, “Aku suruh kau minggir, apa kau tak dengar!” teriaknya.

“Baik…baik…soe nio…baik” jawabnya terputus-putus. Tapi ia tetap berdiri tegak.

Tak kepalang marahnya si jago betina. Dia sungguh tak mengerti, mengapa murid itu sungguh kurang ajar. Ia belum tahu, bahwa beberapa jalan darah See Hoa Coe sudah ditotok Boe Kie. Dengan mata mendelik, ia mendorong keras murid yang dianggapnya bandel itu.

Badan si imam terdorong beberapa kaki, tapi badan dan kaki tangannya tetap tidak berubah.

Sekarang barulah Pan Siok Ham berdua suami tahu sebab musababnya. Mereka heran bercampur kagum. Mereka tak mengerti, bagaimana Boe Kie bisa menotok jalan darah tanpa diketahui mereka. Buru-buru Ho Thay Ciong menotok beberapa hiat di pinggang muridnya untuk membuka jalan darah yang tertutup. Diluar dugaan, See Hoa Coe masih tetap tidak bisa bergerak.

Sambil menunjuk tubuh PH yang bersandar pada YS, Boe Kie berkata, “Beberapa tahun yang lalu, nona kecil itu sudah pernah ditutup jalan darahnya dan mereka dipaksa untuk minum arak beracun, sedang aku sendiri tidak berdaya untuk membuka hiat to yang tertotok. Sekarang muridmu pun mendapat pengalaman yang sama. Kau tak usah heran, ilmu Tiam Hiat kita berdua memang berlainan.

Melihat berubahnya paras muka para hadirin, Pan Siok Ham merasa jengah dan untuk menutup rasa malunya, tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia segera menikam alis Boe Kie. Hampir berbareng, pedang Ho Thay Ciong menyambar punggung pemuda itu, dan kedua kakek Hwa San Pay-pun lantas mulai menyerang.

Dengan sekali melompat Boe Kie menyelamatkan diri dari empat senjata. Ho Thay Ciong segera mengirim tikaman ke kedua pinggang Boe Kie untuk memaksa pemuda itu menangkis dengan ranting bwee. Sambil mementil golok si kate dengan telunjuk kiri, Boe Kie menotol badan pedang Ho Thay Ciong memutar senjatanya dan memapas cabang yang kecil itu. Ia berpendapat, bahwa biarpun lawan memiliki kepandaian tinggi, ranting itu takkan bisa melawan tajam dan kerasnya pedang. Di luar dugaan, Boe Kie pun memutar rantingnya dan memukul badan pedang. Tiba-tiba Ho Thay Ciong merasa dorongan dari semacam tenaga lembek sehingga pedangnya terpental dan menghantam golok si jangkung.

“Aha, Ho Thay Ciong!” seru kakek itu. “Mengapa kau membantu lawan?”

Paras muka Ho Ciang Boen berubah merah, tapi ia tentu saja tidak mau mengaku bahwa pedangnya telah dipukul terpental oleh pemuda itu.

“Omong kosong!” bentaknya seraya menikam Boe Kie.

Pertempuran lantas berubah dengan hebatnya.

Bagaikan hujan gerimis, Ho Thay Ciong mengirim tikaman-tikaman berantai, sedang isterinya yang bergerak di belakang Boe Kie berusaha menutup jalan mundur pemuda itu. Dari kedua samping kedua kakek Hwa San Pay mencecer dengan pukulan-pukulan terhebat dari Liang Gie To Hoat.

Kedua macam ilmu silat itu yang satu “ceng” yang lain “hoan” berasal dari pat kwa dan pulang ke pat kwa. Dengan lain perkataan, karena sumbernya sama maka meskipun jurus-jurusnya berlainan pada hakekatnya kedua ilmu silat itu bersatu padu. Makin lama keempat tokoh makin saling mengerti dan kerja sama juga jadi makin erat.

Sebelum bergebrak, Boe Kie pun tahu, bahwa keempat lawannya tak boleh dibuat gegabah. Ia hanya tidak menduga, bahwa kerja sama antara Hoan Liang Gie To Hoat dan Ceng Liang Gie Kim Hoat bisa sedemikian hebat dan berkat bantuan antara “yang” dan “Im” kerjasama itu dikatakan tiada cacatnya. Tak ada bagian yang lemah, baik dalam serangan maupun dalam pembelaannya. Kalau menggunakan senjata biasa, ia masih bisa mendapat bantuan dari senjata itu. Apa mau secara sembarang, ia memilih ranting bwee dan sekarang ia menghadapi bahaya besar.

Sesudah bertempur lagi beberapa lama, si kakek kate mendadak menyerang kaki Boe Kie dengan menggulingkan badan di tanah. Boe Kie berkelit ke samping, ia dipapaki Pan Siok Ham, “kena!” bentak jago betina itu dan paha Boe Kie sudah tertikam!

Baru saja ia mementil senjata lawan, pedang Ho Thay Ciong sudah menyambar dan golok kedua kakek itu membabat kakinya. D ilain detik, Pan Siok Ham sudah lantas saja menikam pula dengan serentak. Keadaan Boe Kie terdesak.

Dalam bahaya, mendadak ia mendapat serupa ingatan. Laksana kilat ia melompat dan bersembunyi di belakang See Hoa Coe. Pan Siok Ham menikam dengan tujuan membinasakan dan bukan hanya untuk menjajal kepandaian. Ujung pedang yang menyambar dengan disertai lweekang, hampir amblas di badan muridnya. Untung juga ia keburu menarik pulang senjatanya, tapi See Hoa Coe sudah berteriak dan mengeluarkan keringat dingin.

Boe Kie jengkel dan bingung. Sesudah bertempur beberapa lama, ia masih juga belum bisa menangkap intisari daripada kedua ilmu silat itu. Sebelum dapat menyelam isinya, ia tak akan bisa memecahkannya. Maka itu, jalan satu-satunya ialah berkelit kian kemari dengan menggunakan See Hoa Coe sebagai tameng. Sambil menggunakan siasat main petak ini, pemuda itu mengeluh, “Boe Kie! Boe Kie! Kau terlalu memandang enteng kepada orang gagah di kolong langit. Sekarang kau menghadapi bencana. Jika bisa keluar dengan selamat, kau harus ingat baik-baik pelajaran yang pahit ini. Benar juga kata orang, di luar langit masih ada langit, di atas manusia masih ada manusia.”

Pan Siok Ham merasa dadanya seperti mau meledak. Kalau tidak dihadang See Hoa Coe, beberapa kali ia bisa menikam pemuda itu. Kalau menuruti napsu, ia ingin membuat putus badan si imam, tapi dengan adanya kecintaan antara guru dan murid, ia tentu saja tidak tega turunkan tangan jahat.

“Ho Hoe jin!” teriak si jangkung. “Kalau kau tidak mau turun tangan terhadap orangmu, biarlah aku yang turun tangan.”

“Sesudahmu!” bentaknya dengan gusar.

Si jangkung lantas saja mengangkat goloknya dan menyabet pinggang See Hoa Coe.

Boe Kie terkejut. Jika kakek itu benar-benar membunuhi imam, maka bukan saja ia sendiri terancam kebinasaan, tapi dalam persoalan ini juga akan timbul sengketa baru. Maka itu, dengan menggunakan sinkang, ia mengebut dengan tangan bajunya dan golok si jangkung terpental.

Hampir berbareng si kate membacok. Boe Kie berkelit ke kanan, tapi ia tidak mengubah arah goloknya yang terus menyambar ke pundak See Hoa Coe. Ia membuat gerakannya sedemikian rupa, sehingga seolah-olah tidak keburu mengubah arah atau menarik pulang senjatanya. Tapi di mulut ia berteriak, “See Hoa Coe Tooheng, hati-hati!”

Dengan berbuat begitu, si kate coba menyebar bibit penyakit kepada Boe Kie. Ia mengerti, bahwa jika ia membinasakan See Hoa Coe, ia akan bermusuhan dengan Koen Loen Pay. Tapi dengan pura-pura tidak keburu menarik pulang senjata, ia bisa memindahkan kedosaan ke atas pundak Boe Kie.

Boe Kie memutar badan dan mendorong dada si kate dengan telapak tangannya. Napas kakek itu menyesak. Buru-buru ia menyambut dengan tangan kiri, tapi goloknya menyambar terus. Untung sungguh, sebelum golok mampir di pundak See Hoa Coe, kedua tangan itu kebentrok dan si kate terhuyung ke belakang, sehingga goloknya pun membacok angin.

Sesudah jiwanya ditolong dua kali, si imam merasa sangat berterima kasih kepada Boe Kie dan berbalik membenci kedua kakek itu. “Kalau bisa hidup terus, aku pasti akan berhitungan dengan bangsat kate dan jangkung itu.” katanya di dalam hati.

Di lain pihak, melihat pemuda itu melindungi muridnya. Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham merasa girang. Mereka bergirang sebab dalam usahanya melindungi See Hoa Coe, Boe Kie jadi lebih sukar untuk membela diri. Mereka sedikitpun tidak merasa berterima kasih terhadap lawan yang sudah menolong muridnya dan mereka menyerang makin hebat.

Melihat begitu, tokoh-tokoh Siauw Lim, Boe Tong, dan Go Bie menggeleng-gelengkan kepala dan di dalam hati kecil, mereka merasa malu. Kalau pemuda itu binasa, sedikit banyak mereka turut berdosa.

Kedua kakek Hwa San Pay terus menyerang dengan hebatnya, sebentar membabat Boe Kie, sebentar membacok See Hoa Coe. Makin lama Boe Kie makin terdesak. “Tak apa jika aku sendiri yang binasa,” pikirnya. “Tapi sangat tidak pantas kalau aku menyeret juga imam ini.” Memikir begitu, sambil menghantam si jangkung ia mengibas ranting bwee dan dengan kibasan itu, ia membuka jalan darah See Hoa Coe.

Sesaat itu, si kate membabat kaki See Hoa Coe dan Boe Kie menendang pergelangan tangannya. Dengan cepat kakek itu menarik pulang tangannya. Mendadak si imam yang sudah merdeka mengirim tinju yang tepat mampir di batang hidung si kate, yang lantas saja mengucurkan darah. Kepandaian jago Hwa San Pay itu banyak lebih tinggi daripada si imam. Tapi sebab diserang sedari tidak diduga-duga, ia tidak keburu berkelit lagi.

Kejadian yang lucu itu disambut dengan gelak tertawa.

“See Hoa Coe, mundur kau!” bentak Pan Siok Ham sambil menahan tertawa.

“Baiklah,” jawabnya, “Bangsat jangkung itu masih hutang satu tinju,” tiba-tiba si kate menyapu kaki See Hoa Coe, membacok dan menyikut. “Duk!” sikut kirinya mampir di dada si imam. Tiga gerakan berantai itu adalah salah satu jurus terlihai dari Hwa San Pay. Tubuh See Hoa Coe bergoyang-goyang dan tanpa tercegah lagi, ia muntah darah.

Bagaikan kilat, Ho Thay Ciong menempelkan telapak tangan kirinya di pinggang si murid dan dengan sekali mendorong, tubuh yang tinggi besar itu sudah terpental beberapa tombak jauhnya. “Sungguh indah pukulan itu!” Katanya, seraya mendongak si kate dan “sret!” pedangnya menikam Boe Kie merupakan bukti bahwa Ciang Boen Jin Koen Loen Pay memang bukan sembarang orang.

Sesudah penghalang menyingkir, keempat jago itu menyerang makin hebat. Dua golok dan pedang berkelabat-kelebat bagaikan titiran dan Boe Kie seolah-olah dikurung dengan sinar senjata. Dengan tenaga dalam yang sangat kuat, ia tidak merasa lelah. Tapi serangan-serangan itu dengan perubahan-perubahannya yang aneh-aneh dengan sesungguhnya terlampau hebat. Ia mengerti bahwa dalam dua ratus atau tiga jurus lagi, ia akan binasa.

Kio Yang Sin KangG yang dimiliki Boe Kie didapat dari Kioe Yang Cin Kang gubahan Tat Mo Couw Soe dari India, sedang Kian Koen Tay Lo Ie berasal dari Iran. Kedua ilmu ini boleh dikatakan puncaknya kepandaian manusia.

Di lain pihak, kedua ilmu silat Liang Gie itu digubah dari macam-macam ilmu Tiongkok asli yang dicampur dengan kedudukan-kedudukan Pat Kwa dari Boe Ong. Jika seseorang sudah melatih diri sampai pada tingkat tertinggi dari ilmu tersebu maka ia akan banyak lebih lihai daripada orang yang mempunyai Kian Koen Tay Lo I Sin Kan. Tapi sebab Kitab Yan Keng (kitab tentang Pat Kwa) sangat sukar dipelajari, maka keempat jago itu baru mengenal kulitnya saja. Kalau bukan begitu, siang-siang Boe Kie sudah binasa.

Sambil bertempur, pemuda itu terus mengasah otak. Kalau mau dengan menggunakan ilmu pengenteng badan dengan mudah ia bisa meloloskan diri dari kepungan. Keempat tokoh itu tak akan mampu mengejarnya. Akan tetapi jika ia lari, tujuannya yaitu mendamaikan permusuhan antara enam partai dan Beng Kauw akan gagal sama sekali. Sesudah memikirkan bolak-balik, ia mengambil keputusan untuk bertahan terus dan baru menyerang sesudah keempat lawannya lelah. Tapi diluar dugaan, keempat orang tua itu memiliki tenaga dalam yang sangat kuat dan aneh sampai kapan baru menjadi letih.

Biarpun sudah berada di atas angin, di dalam hati keempat jago itu merasa sangat tidak enak. Mereka merasa malu pada diri sendiri. Dengan mengingat kedudukan dan nama mereka, jangankan empat lawan satu, sedang satu lawan satupun sudah sangat hilang muka. Lebih daripada itu, sesudah bertempur tiga empat ratus jurus, mereka belum juga bisa merobohkan Boe Kie. Untung juga, pemuda itu sudah lebih dahulu menjatuhkan pendeta suci Kong Seng. Sehingga kalau malu, malu beramai-ramai.

Makin lama Boe Kie makin terdesak, tapi tak gampang-gampang ia bisa dilukai. Pada detik-detik yang berbahaya ia selalu dapat menyelamatkan diri dengan berkelit atau menangkis dengan ranting bwee yang disertai sin kang.

Di lain pihak, ke empat tokoh itu mempunyai pengalaman luas dan kenyang menghadapi lawan berat. Makin lama bertempur, mereka makin tidak berani berlaku sembrono. Seraya mengempos semangat, mereka mendesak setingkat demi setingkat.

Para tetua keempat partai mengikuti jalan pertandingan dengan penuh perhatian dan saban-saban memberi penjelasan serta petunjuk kepada murid-murid mereka yang berdiri di sekitar lapangan.

“Lihatlah kamu semua,” kata Biat coat Soethay kepada murid-muridnya. “Ilmu silat pemuda itu sangat luar biasa. Tapi keempat pemimpin dari Koen Loen Pay dan Hwa San Pay sudah menjepitnya, sehingga ia tidak bisa bergerak lagi. Ilmu silat dari Tiong goan tak akan bisa ditandingi oleh segalma ilmu siluman dari See Hek. Liang Gie berubah menjadi Soe siang dan Soe siang berubah menjadi Pat Kwa. Dalam ilmu silat itu terdapat 8 kali delapan 64 kie pian (perubahan yang luar biasa) dan kali empat puluh empat teng pian (perubahan yang sudah tetap) enam puluh empat dikali dengan enam puluh empat sehingga sama sekali ada empat ribu sembilan puluh enam perubahan. Di antara macam-macam ilmu silat di kolong langit, ilmu silat Liang Gie lah yang mempunyai banyak perubahan.”

Sedari Boe Kie turun ke gelanggang, Cioe Coe Jiak sangat berkhawatir akan keselamatannya. Karena sangat disayang oleh sang guru, nona itu sudah diberi pelajaran kitab Yan keng. Sekarang dengan mengggunakan kesempatan baik, ia segera berkata dengan suara nyaring. “Soe hoe, menurut pendapat teecoe, biarpun jurus-juruanya sangat beraneka warna, intisari dari Cong Han Siang Gie ialah Thay Kek menjadi Im Yang Liang Gie. Yang terdiri dair Thay Yang dan Siauw Im. Inilah yang dinamakan Siauw Yang dan Thay Im. Inilah yang dinamakan Soe Sian. Kalau tidak salah meskipun pukulan-pukulan keempat cianpwee itu hebat luar biasa, tetapi yang paling lihai adalah po hoatnya (tindakannya).” Karena ia menggunakan bicara dengan menggunakan tenaga dalam tanpa merasa semua orang menengok kepadanya.

Meskipun sedang bertempur mati-matian, kuping dan mata Boe Kie tetap berwaspada terhadap keadaan di luar gelanggang dan setiap perkataan nona Cioe didengar tegas olehnya. “mengapa ia bicara begitu keras?” tanyanya di dalam hati. “Apakah ia sengaja ingin memberi petunjuk kepadaku?”

“Penglihatanmu sedikitpun tak salah,” kata Biat coat Soethay. “Aku merasa girang, bahwa kau bisa menangkap intisari dari ilmu silat para cianpwee.”

“Ya,” kata pula si nona pada diri sendiri. “Kian di selatan, koen di utara, loodi di timur, kan di barat, cin di timur laut, twie di tenggara, soen di barat daya, gin di barat laut. Dari cin sampai Kian dinamakan soen (menurut) dari soen sampai koen dinamakan gek (melawan).” Sesudah berdiam sejenak, ia berkata lagi dengan suara lebih keras. “Soehoe, tak salah, tepat seperti yang diajar olehmu, Ceng Liang Gie Kiam Hoat dari Koen Loen Pay adalah Soen yang meliputi kedudukan dari Cin sampai pada Kian. Hoan Liang Gie To Hoat dari Hwa San Pay ialah Gek yang meliputi kedudukan dari Soen sampai papa Koen. Soehoe, bukankah begitu?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: