Kumpulan Cerita Silat

21/08/2008

Kisah Membunuh Naga (41)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:04 am

Kisah Membunuh Naga (41)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

“Dengan demikian, aku justru terjerumus ke dalam jebakan yang dipasang oleh binatang Seng Koen. Sudahlah! Aku harus menelan semua hinaan. Hanya dengan begitu barulah aku bisa membalas sakit hati kedua orang tuaku dan Gie-hoe.”

Sesudah melepaskan Goan im, ia berkata dengan suara perlahan, “Matamu bukan dibutakan oleh Thio Ngo Hiap. Janganlah mendendam begitu hebat. Apalagi sesudah Thio Ngo Hiap bunuh diri, semua sakit hati sebenarnya sudah harus habis. Taysoe adalah seorang pertapa yang tentu tahu, bahwa dunia ini penuh dengan kekosongan. Perlu apa Taysoe begitu sakit hati?”

Sesudah lolos dari lubang jarum, Goan im berdiri terpaku dan mengawasi Boe Kie dengan mata membelalak tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun. Melihat pemuda itu mengangsurkan sianthungnya seperti orang linglung ia menyambut dan sesaat kemudian ia mengundurkan diri dengan menundukkan kepala.

Melihat hebatnya Boe Kie, Cong Wie Hiap kaget bercampur heran. Tapi sebab ia sudah turun ke dalam gelanggang, tak dapat ia memperlihatkan kelemahannya. “Orang she Can!” teriaknya. “Siapa sebenarnya yang sudah menyuruh kau berbuat begini?”

“Aku bukan suruhan orang,” jawabnya. “Aku bertindak demi keadilan dengan harapan agar enam partai dan Beng Kauw bisa berdamai.”

Cong Wie Hiap mengeluarkan suara di hidung, “Tak mungkin aku berdamai dengan Beng Kauw,” katanya dengan kaku. “Bangsat tua she In itu hutang tiga pukulan Cit siang koen. Sesudah aku menghajar dia, kita boleh bicara lagi.” Seraya berkata begitu ia menggulung tangan bajunya.

“Cong Cianpwee tak henti-hentinya menyebut Cit siang koen,” kata Boe Kie. “Tapi menurut penglihatan boanpwee, latihan Cianpwee dalam ilmu itu masih jauh dari cukup. Dalam tubuh manusia terdapat Ngo heng. Jantung berarti “Api”, paru-paru berarti “Emas”, ginjal berarti “Air”, nyali berarti “Tanah” dan hati berarti “Kayu”. Di samping itu terdapat dua macam Khie (hawa), yaitu Im dan Yang (negative dan positif) sehingga semuanya berjumlah tujuh unsur. Begitu seseorang terburu-buru melatih diri dalam ilmu Cit siang koen maka ketujuh unsur itu akan terluka semua. Makin tinggi latihannya makin hebat luka di dalam badannya. Sebelum ilmu itu dapat melukai musuh, ilmu tersebut lebih dulu melukai diri sendiri. Untung juga latihan Cianpwee masih belum tinggi sehingga luka Cianpwee masih dapat diobati.”

(Cit siang koen berarti ilmu pukulan tujuh luka)

Cong Wie Hiap terkejut. Keterangan pemuda itu sesuai dengan apa yang tertulis di dalam kitab Cit siang koen! Di dalam kitab itu diperingatkan keras bahwa seseorang yang mau melatih Cit siang koen harus mempunyai Lweekang yang sangat tinggi harus mencapai di mana Khie (hawa) yang dikerahkan bisa menerobos masuk ke dalam semua jalan darah yang terdapat di dalam tubuh manusia. Siapa yang belum mencapai tingkat setinggi itu dilarang mempelajarinya. Tapi Cong Wie Hiap tak menggubris. Begitu ia merasa tenaga dalamnya sudah cukup kuat, ia segera melakukan latihan Cit siang koen. Latihan itu benar saja banyak menambah tenaganya, karena belum merasakan bahaya, ia lupa daratan. Sekarang mendadak ia mendengar perkataan Boe Kie dan lantas saja ia jadi kaget. “Mengapa kau tahu?” tanyanya tanpa sadar.

Sebaliknya dari menjawab pertanyaan itu, Boe Kie berkata, “Cong Cianpwee, bukankah kau sering merasa sakit pada In boen hiat di pundakmu? In boen hiat berhubungan dengan paru-paru. Itu berarti paru-paru Cianpwee sudah terluka. Bukankah Ceng leng hiat Cianpwee di lengan terasa gatal-gatal? Ceng leng hiat berhubungan langsung dengan jantung dan itu berarti bahwa jantung Cianpwee telah terluka. Setiap hawa lembab dan turun hujan, betis Cianpwee di bagian Ngo lie hiat terasa lemas. Bukankah begitu? Ngo lie hiat berhubungan dengan hati dan aku berani mengatakan bahwa hati Cianpwee juga ikut terluka. Makin lama Cianpwee berlatih, tanda-tanda itu akan makin terasa. Kalau Cianpwee berlatih terus enam tujuh tahun lagi, maka sekujur tubuh Cianpwee akan menjadi lumpuh.”

Cong Wie Hiap mendengar keterangan itu dengan keringat dingin turun menetes dari dahinya.

Boe Kie mengerti seluk beluk Cit siang koen sebab ia pernah mendapat teorinya dari Cia Soen. Belakangan, sesudah mahir dalam ilmu ketabiban, ia mengerti juga bahaya-bahaya dari ilmu pukulan itu, hingga demikian ia dapat menyebutkan tanda-tandanya secara tepat sekali.

Di lain pihak, selama beberapa tahun Cong Wie Hiap pun sudah merasa bahwa ada sesuatu yang kurang beres dalam tubuhnya. Tapi lantaran penyakit itu enteng rasanya dan juga seperti lumrahnya manusia kebanyakan, ia takut menghadapi tabib maka sejauh ini ia belum pernah berusaha mengobati ketidak beresan itu. Sekarang ia takut setengah mati dan parasnya berubah pucat. Ia mengawasi Boe Kie dengan mata terbuka lebar dan beberapa saat barulah ia bisa membuka mulut, “Kau…bagaimana kau tahu?”

Pemuda itu tertawa tawar. “Boanpwee mengenal ilmu ketabiban,” sahutnya. “Jika Cianpwee percaya, sesudah urusan ini beres, boanpwee bersedia mengobati. Tapi bagi Cianpwee Cit siang koen banyak bahayanya dan tiada gunanya. Sebaiknya Cianpwee tidak berlatih ilmu itu lagi.”

Si tua coba ngotot terus. “Cit siang koen adalah ilmu terhebat dari Khong tong-pay sehingga bagaimana bisa kau katakan bahwa ilmu itu banyak bahaya dan tiada gunanya?” tanyanya. “Dahulu Ciang boen Soe cow kami, yaitu Bok Leng Coe telah mengguncang seluruh rimba persilatan. Nama harumnya dikenal di empat penjuru dan ia berusia sampai sembilan puluh satu tahun. Inilah bukti bahwa Cit siang koen tidak mencelakai orang yang mempelajarinya. Bocah! Kau jangan bicara sembarangan!”

“Kalau begitu, bisalah dipastikan bahwa Lweekang Bok Leng Coe cianpwee sudah mencapai taraf yang cukup,” kata Boe Kie. “Seseorang yang tenaga dalamnya cukup tentu saja boleh berlatih ilmu tersebut. Ia bukan saja tidak akan mendapat bahaya malah akan memperoleh keuntungan besar karena Cit siang koen dapat memperkuat isi perut manusia. Kalau Cianpwee tidak percaya omonganku, terserahlah. Tapi boanpwee tetap berpendapat bahwa Lweekang Cianpwee belum cukup tinggi untuk berlatih Cit siang koen.”

Cong Wie Hiap adalah salah seorang tetua Khong tong-pay dan jago ternama dalam rimba persilatan. Tapi sekarang, di hadapan tokoh-tokoh berbagai partai, ia didesak oleh seorang pemuda yang tidak dikenal. Bukan saja terdesak, tapi ilmu terhebat partainya dikatakan sebagai ilmu tak berguna. Dapatlah dimengerti kalau darahnya langsung mendidih.

“Bocah!” bentaknya dengan mata melotot. “Kalau kau bilang Cit siang koen tidak berguna, cobalah jajal!”

Boe Kie kembali tertawa tawar. “Cit siang koen memang ilmu yang hebat,” katanya. “Aku tidak mengatakan bahwa ilmu itu tak berguna. Maksudku hanya bahwa jika Lweekang seseorang belum cukup tinggi, biarpun dia berlatih lama, latihan itu tiada gunanya.”

Dengan berdiri di belakang para soecinya, Cioe Cie Jiak mengawasi pemuda itu. Di dalam hati ia merasa geli. Paras muka Boe Kie masih agak kekanak-kanakan tapi dengan sikap seperti orang tua yang berpengalaman, ia memberi nasehat pada salah seorang tetua dari Khong tong-pay dan hal itu seolah-olah gurauan.

Murid-murid Khong tong-pay yang berusia muda merasa gusar dan ingin sekali menghajar Boe Kie. Tapi karena melihat Cong Wie Hiap mendengarkan setiap perkataan pemuda itu dengan penuh perhatian, mereka tidak berani bertindak sembrono.

“Apakah kau berpendapat bahwa Lweekangku belum cukup?” tanya Cong Wie Hiap.

“Cukup atau tak cukup, aku tak tahu,” jawabnya. “Tapi menurut penglihatanku, waktu berlatih Cit siang koen, Cianpwee telah terluka sehingga sebaiknya latihan itu tidak diteruskan”.”

“Jiako tak usah meladeni semua omong kosong!” tiba-tiba terdengar suara bentakan seseorang di belakangnya. “Dia menghina Cit siang koen kita, biarlah dia rasakan pukulanku.” Hampir berbarengan, satu pukulan yang hebat menyambar Leng tay hiat di punggung Boe Kie. Leng tay hiat adalah salah satu “hiat” penting yang membinasakan. Jangankan Cit siang koen, pukulan yang biasa sekalipun bisa membinasakan jika kena tepat di bagian itu.

Dalam tekadnya untuk menaklukan keenam partai dengan Kioe yang Sin kang, biarpun tahu sedang dibokong orang, Boe Kie tidak memutar badan dan membalas, ia berkata pula kepada Cong Wie Hiap, “Cong Cianpwee”.”

Mendadak terdengar kerincingan rantai disusul dengan bentakan, “Tua bangka! Jangan bokong orang!” Itulah bentakan Siauw Ciauw yang segera meninju kepala si pembokong. Orang itu menangkis dengan tangan kirinya sedang tinju kanannya sudah mampir tepat di Leng tay hiat Boe Kie. Semua orang terkesiap tapi pemuda itu sendiri tidak bergeming. Ia mengambil sikap acuh tak acuh bahkan tidak mengerahkan tenaga dalam untuk menolak tenaga pukulan itu. “Siauw Ciauw,” katanya seraya tertawa. “Kau tak usah khawatir. Pukulan Cit siang koen itu sedikitpun tiada gunanya.”

Muka si nona yang putih lantas saja bersemu merah. Dengan jengah ia berkata, “Aku lupa…aku lupa kau sudah belajar.” Ia tidak meneruskan perkataannya dan buru-buru meloncat mundur sambil menyeret rantai.

Boe Kie memutar tubuh dan melihat si pembokong adalah seorang kakek yang batok kepalanya besar dan tubuhnya kurus. Dia adalah tetua keempat dari Khong tong-pay namanya Siang Keng Cie. Mukanya sudah berubah pucat dan ia berkata dengan suara tergugu. “Kau memiliki Kim kong Poet-hoay tee Sin-kang? Apa kau murid Siauw lim sie?”

Sambil tersenyum pemuda itu menjawab, “Aku bukan murid Siauw lim sie tapi benar aku pernah belajar ilmu di kuil Siauw lim sie.”

“Buk!” Selagi ia bicara, tinju Siang Keng Cie mampir tepat di dadanya. Sepanjang pengetahuan tetua Khong tong itu, Kim kong Poet hoay tee hanya dapat dipertahankan sambil menahan nafas.

Boe Kie tertawa dan berkata, “Kalau seseorang sudah melatih diri dalam Kim kong Poet hoay tee sampai pada puncak kesempurnaan, ia tak akan bisa diserang walaupun ia sedang bicara. Tanpa menggunakan Lweekang, tubuhnya tidak bisa kena segala pukulan. Jika kau tidak percaya, kau boleh memukul lagi.”

Bagaikan kilat Siang Keng Cie mengirimkan empat tinju geledek. Pemuda itu menerima dengan paras muka berseri-seri.

Siang Keng Cie dijuluki It-koen Toan gak (satu tinju mematahkan gunung). Meskipun julukan itu terlalu mencolok tapi orang-orang yang berusia agak lanjut mengetahui bahwa tetua Khong tong itu memang mempunyai pukulan dahsyat. Bahwa Boe Kie bisa menerima keempat pukulan itu sambil tersenyum-senyum telah mengejutkan semua orang.

Sesudah lama Koen loen dan Khong tong-pay tak begitu akur dan meskipun sekarang mereka bersatu untuk membasmi Beng-kauw, tapi di dalam hati, banyak anggota kedua partai itu masih mengambil sikap bermusuhan. Maka itu, dari barisan Koen loen-pay segera saja terdengar beberapa ejekan.

“Lihat, sungguh tinju It-koen Toan gak!”

“Apakah yang telah dipatahkan Sie koen (empat tinju).”

Untung juga Siang Keng Cie berkulit hitam sehingga warna merah pada mukanya tak begitu menyolok.

Di lain pihak, anggota-anggota Siauw lim-pay merasa heran dan banyak pertanyaan muncul dalam hati mereka.

“Pemuda itu mengatakan bahwa dia sudah pernah belajar ilmu Siauw lim sie. Siapa dia?”

“Kim kong Poet hoay tee tak pernah diturunkan kepada orang luar. Di samping itu, Kong kian Taysoe dalam partai kita, tiada orang lain memiliki ilmu tersebut. Pemuda itu masih begitu muda. Mana bisa dia mempunya ilmu yang harus dilatih selama empat puluh tahun.”

“Sungguh mengherankan. Siapa dia?”

“Siapa dia?”

Di lain saat, Cong Wie Hiap mengangkat tangannya dan berkata dengan suara menyeramkan, “Can heng, aku merasa sangat kagum akan Sin-kangmu. Apa boleh aku menerima pelajaran darimu dalam tiga jurus?” Ia menantang karena tahu bahwa tenaga Cit siang koen yang dimilikinya lebih kuat banyak daripada Siang Keng Cie sehingga mungkin sekali ia akan berhasil merobohkan pemuda itu.

“Jika nanti Cianpwee sudah berhasil, boanpwee pasti akan menolak,” jawabnya. “Tapi sekarang, bolehlah boanpwee menerima pukulan Cianpwee.”

Dengan gusar Cong Wie Hiap mengerahkan Cin-khie sehingga tulang-tulangnya di dalam tubuh berkerotokan. Ia maju selangkah dan menghantam dada Boe Kie sekuat tenaga.

Begitu tinju menyentuh dada, ia terkesiap sebab tersedot dengan semacam tenaga dan tak mampu menarik kembali tangannya. Di lain saat, dari tinjunya masuk semacam hawa hangat yang terus menerobos ke dalam isi perutnya. Waktu menarik kembali tangannya ia merasa semangatnya terbangun dan sekujur badannya nyaman luar biasa. Ia tertegun sejenak dan lalu mengirimkan tinju kedua ke Boe Kie. Kali ini pemuda itu mengerahkan sedikit Lweekang sehingga ia terhuyung beberapa langkah.

Melihat paras muka kawannya yang sebentar pucat dan sebentar merah. Siang Keng Cie yang berdiri di samping Boe Kie menduga bahwa kawan itu terluka berat. Maka itu waktu Cong Wie Hiap mengirimkan tinju ketiga, iapun menghantam dari belakang sehingga dengan bersamaan dua tinju mampir telak di tubuh Boe Kie, satu di dada satu di punggung.

Semua orang melihat bahwa dua pukulan itu disertai dengan Lweekang yang sangat tinggi. Tapi begitu menyentuh tubuh si pemuda, semua tenaga dalam amblas bagaikan batu yang masuk ke dalam lautan.

Siang Keng Cie tahu bahwa dengan kedudukannya yang tinggi, dalam pembokongannya yang pertama saja, ia sudah melakukan perbuatan tak pantas. Tapi bokongan pertama itu bisa dimengerti dan dimaafkan. Orang bisa menganggap ia berbuat begitu sebab terlalu gusar karena partainya dihina orang. Tapi pembokongan yang kedua merupakan perbuatan hina dan yang tak bisa dibela dengan cara apapun juga.

Waktu memukul ia percaya bahwa Boe Kie akan binasa dengan pukulan itu. Kalau pemuda itu dapat dibinasakan maka menurut jalan pemikirannya ia telah berjasa terhadap keenam partai dalam menyingkirkan seorang pengacau. Mungkin orang akan mencela dia tapi dia bisa menebus ketidak layakan itu dengan jasanya.

Betapa kagetnya karena bokongannya tidak berhasil, dapatlah dibayangkan sendiri.

“Bagaimana rasanya badan Cianpwee?” tanya Boe Kie kepada Cong Wie Hiap.

Si tua kelihatan terkejut. Sesaat kemudian ia mengangkat tangannya dan berkata dengan suara jengah. “Terima kasih atas budi Can-heng yang sudah membalas kejahatan dengan kebaikan, sungguh-sungguh aku merasa malu dan berterima kasih tidak habisnya.”

Pengakuan itu mengejutkan semua orang.

Ternyata waktu menerima tiga pukulan, Boe Kie telah mengirim Kioe-yang Cin-khie disalurkan ke dalam tubuh si tua. Meskipun pengiriman “hawa tulen” itu hanya dilakukan dalam waktu sedetik tapi karena Kioe-yang Cin-khie bertenaga dahsyat maka Cong Wie Hiap sudah mendapat keuntungan yang tidak kecil. Jika dalam pukulan ketiga Siang Keng Cie tidak mengadu tinju maka keuntungan yang didapat olehnya akan lebih besar lagi.

“Pujian Cianpwee yang begitu tinggi tak dapat diterima olehku,” kata pemuda itu dengan suara merendah. “Barusan Kie keng Pat meh (pembuluh darah) Cianpwee telah mendapat sedikit bantuan dan sebaiknya Cianpwee mengaso sambil mengerahkan hawa. Dengan demikian racun yang berkumpul dalam tubuh sebagai akibat latihan Cit siang koen akan dapat disingkirkan dalam waktu dua atau tiga tahun.”

Cong Wie Hiap yang tahu penyakitnya sendiri buru-buru menyoja dan berkata, “Terima kasih, banyak-banyak terima kasih.”

Boe Kie berjongkok dan menyambung tulang Tong Boen Liang. Seraya menengok ke Siang Keng Cie, ia berkata, “Berikanlah koyo Hwee-yang Giok-liong kepadaku.”

Siang Keng Cie segera menyerahkan apa yang dipintanya.

“Cobalah Cianpwee minta Sam hong Po la wan dari Boe tong-pay dan bubuk Giok Cin-san dari Hwa san-pay,” kata Boe Kie pula.

Permintaan itu lantas dituruti.

“Dengan menggunakan rumput Co o koyo Hwee-yang Giok-liong dari partai Cianpwee, sangat mujarab,” kata pemuda itu.

“Dalam Sam hong Po la wan dari Boe tong-pay terdapat Thiun tiok-hong, Hiong hong dan Tang hong. Ditambah dengan Giok Cin-san maka dalam waktu dua bulan saja kesehatan Tong Cianpwee akan pulih seperti biasa lagi.” Seraya berkata begitu dengan cepat ia membalut tulang-tulang Tong Boen Liang yang sudah disambung dan dalam sekejap pekerjaan itu sudah selesai.

Perbuatan Boe Kie kian lama kian mengherankan. Kepandaiannya dalam menyambung tulang tidak akan dapat ditandingi oleh tabib manapun juga. Di samping itu, iapun tahu obat-obat istimewa yang dipunyai oleh setiap partai.

Dengan rasa malu Siang Keng Cie mendukung Tong Boen Liang dan mundur dari gelanggang. Mendadak Tong Boen Liang berteriak, “Orang she Can! Bahwa kau telah menyambung tulangku, aku merasa sangat berterima kasih dan di kemudian hari nanti, aku pasti akan membalas budimu. Tapi permusuhan antara Khong tong-pay dan Mo-kauw sedalam lautan. Tak bisa kami sudahi karena budimu. Jika kau anggap melupakan budi, kau boleh mematahkan lagi tulang kaki tanganku.”

Mendengar pernyataan itu, hati semua orang timbul perasaan hormat terhadap Tong Boen Liang yang bersifat lebih ksatria daripada Siang Keng Cie.

“Cara bagaimanakah baru Cianpwee bisa merasa puas dan sudi menyudahi permusuhan ini?” tanya Boe Kie.

“Cobalah kau perlihatkan ilmu silatmu,” jawabnya. “Jika Khong tong-pay merasa tak bisa menandingi, barulah kami tak bisa berkata apa-apa lagi.”

“Dalam Khong tong-pay terdapat banyak sekali orang pandai sehingga biar bagaimanapun juga boanpwee takkan bisa menandingi,” sahut Boe Kie sambil tertawa. “Tapi karena telah terlanjur, biarlah boanpwee memperlihatkan kebodohannya.” Seraya berkata begitu, matanya mengawasi seluruh lapangan.

Di sebelah timur terdapat pohon siong yang tingginya tiga tombak lebih dan rindang daunnya. Perlahan-lahan ia mendekati pohon itu dan berkata dengan suara nyaring, “Boanpwee pernah belajar Cit siang koen dan kini boanpwee ingin memperlihatkan kebodohan sendiri. Boanpwee mohon para Cianpwee supaya tidak menertawai.”

Semua orang merasa heran. “Dari mana bocah itu belajar Cit siang koen?” tanyanya di dalam hati.

Sesudah berdiam sejenak, tiba-tiba Boe Kie menghafalkan sesuatu yang menyerupai sajak:

“Hawa Ngo-heng dicampur Im-yang,
Merusak jantung, melukai paru-paru, hati dan usus,
Tenaga hilang, pikiran kalang kabut,
Semangat terbang!”

Tak kepalang kagetnya kelima ketua Khong tong-pay! Mengapa? Karena apa yang dihafal pemuda itu adalah bagian terakhir dari kitab Cit siang koen, suatu rahasia yang belum pernah diturunkan ke orang luar. Dalam kagetnya, mereka tentu saja belum bisa menduga bahwa pelajaran itu telah diturunkan oleh Cia Soen yang telah merampas kitab tersebut kepada Boe Kie.

Sementara itu, setelah mengerahkan tenaga dalam, bagaikan kilat Boe Kie meninju pokok pohon.

“Krreek!….” Sebatas pokok yang ditinju, pohon itu terbang dan “dubrak!” Roboh dalam jarak dua tombak lebih! Di atas tanah, hanya berdiri pohon yang tingginya kira-kira empat kaki.

“Pukulan…pukulan itu…bukan Cit siang koen,” kata Siang Keng Cie dengan suara tak puas.

Cit siang koen adalah semacam pukulan yang di dalam kekerasannya terdapat kelembekan dan di dalam kelembekannya terdapat kekerasan. Pukulan Boe Kie itu biarpun dahsyat luar biasa hanyalah pukulan yang menggunakan tenaga “keras”

Tapi waktu Siang Keng Cie menghampiri pangkal pohon yang masih berdiri dan memeriksanya, ia terpaku dan mengawasi dengan mulut ternganga. Ia lihat bahwa urat-urat pohon yang terpukul hancur semuanya! Itulah Cit siang koen yang sudah mencapai puncak kesempurnaan!

Ternyata dalam pukulannya itu, Boe Kie telah menggunakan dua macam tenaga. Untuk mencapai maksudnya, mereka harus memperlihatkan hasil dengan segera. Jika ia hanya menggunakan Cit siang koen maka sesudah berselang sepuluh hari atau setengah bulan, barulah pohon itu mati berdiri. Maka itu ia meninju dengan tenaga Cit siang koen yang disertai dengan Yang-kang (tenaga “keras”) sehingga batangnya patah dan terbang.

Kehebatan Boe Kie disambut dengan sorak-sorai gegap-gempita.

“Bagus!” seru Tong Boen Liang. “Itulah Cit siang koen yang tertinggi. Aku merasa takluk! Tapi bolehkah aku bertanya, dari mana Can Siauw hiap belajar ilmu itu?”

Boe Kie tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

Tiba-tiba si tua berteriak, “Di mana adanya Kim mo Say-ong Cia Soen! Beritahukanlah!”

Pemuda itu terkejut. “Celaka!” ia mengeluh di dalam hati. “Dengan memperlihatkan Cit siang koen, aku menyeret Gie-hoe. Jika aku bicara terus terang, peranan damai tidak dapat dipegang lagi olehku.”

Sesudah berpikir sejenak, ia bertanya dengan suara lantang, “Apakah Cianpwee menganggap kitab Cit siang koen dirampas oleh Kim mo Say-ong’ Ha-ha! Cianpwee salah, salah besar! Kitab itu dicuri oleh Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen. Malam itu, ketika terjadi pertempuran di kuil Ceng yang koen, gunung Khong tong san bukankah ada dua orang yang kena pukulan Hoen goan kang? Katakanlah, boanpwee benar atau salah.”

Ternyata pada waktu Cia Soen bertempur di Khong tong san dalam usahanya merampas kitab Cit siang koen, Seng Koen yang ingin memperhebat kekacauan dalam Rimba Persilatan, diam-diam memberi bantuan. Ia melukai Tong Boen Liang dan Siang Keng Cie dengan pukulan Hoen goan kang. Waktu itu Cia Soen sendiri masih belum tahu. Belakangan, atas petunjuk Kong kian Taysoe, barulah ia tahu adanya bantuan itu.

Mengingat kejahatan Seng Koen, tanpa ragu lagi Boe Kie sudah menimpakan kesalahan padanya. Apalagi, pada hakekatnya Boe Kie tidak berdusta seluruhnya sebab memang benar Seng Koen sudah membokong kedua tetua Khong tong dengan maksud tidak baik.

Selama dua puluh tahun lebih Tong Boen Liang dan Siang Keng Cie dihinggapi perasaan ragu.

Mendengar keterangan Boe Kie, mereka saling melirik tapi tidak mengatakan apapun juga. “Apakah Can Siauw hiap tahu di mana adanya Seng Koen sekarang?” tanya Cong Wie Hiap.

“Dengan menggunakan semua kepandaiannya Seng Koen mengadu domba enam partai besar dan Beng-kauw,” terang Boe Kie. “Belakangan ia menjadi murid Siauw lin dan sebagai seorang pertapa ia memakai nama Goan-tin. Di kuil Siauw lim sie, dia pernah mengajar ilmu silat kepada boanpwee. Jika dusta, boanpwee rela menerima hukuman seberat-beratnya di akhirat dan biarlah boanpwee tidak bisa lahir lagi di dunia.”

Barisan Siauw lim-pay lantas saja gempar. Goan-tin adalah murid Kong kiang Seng Ceng dan sesuai dengan peraturan yang sangat keras, kecuali di kuil ini, pendeta-pendeta Siauw lim belum pernah keluar dari pintu kuil. Keterangan Boe Kie bahwa Goan-tin adalah Seng Koen sedikit pun tidak dipercaya oleh mereka.

Tiba-tiba terdengar pujian kepada Sang Buddha dan seorang pendeta yang mengenakan jubah pertapa warna abu-abu berjalan keluar dari barisan Siauw lim. Pendeta itu berparas angker dan tangan kirinya mencengkram tasbih, tidak lain daripada Kong seng, salah seorang dari ketiga pendeta suci. “Can Sie-coe, bagaimana kau bernai menuduh murid Siauw lim sie secara sembarangan?” tanyanya. “Kapan kau belajar silat di kuil kami” Di hadapan orang-orang gagah di seluruh rimba persilatan, aku tak bisa membiarkan kau menodai nama harumnya Siauw lim.”

Boe Kie membungkuk seraya berkata, “Taysoe, janganlah kau gusar. Jika Taysoe bisa memanggil Goan-tin. Taysoe akan segera tahu duduk persoalannya.”

Paras muka Kong seng lantas saja berubah menyeramkan. “Can Sie-coe, sekali lagi kau menyebut nama soetitku,” katanya dengan suara kaku. “Kau masih begitu muda, mengapa hatimu begitu kejam?”

“Mengapa Taysoe mengatakan hatiku kejam?” tanya Boe Kie. “Aku minta Goan-tin Hweeshio keluar hanya untuk menjelaskan persoalan ini di hadapan para orang gagah.”

“Goan-tin soetit telah berpulang ke alam baka,” kata Kong seng dengan suara perlahan. “Ia mengorbankan jiwa untuk partai kami. Sesudah meninggal dunia, nama baiknya tak dapat”.” Begitu mendengar perkataan “Goan tin soetit sekarang sudah berpulang ke alam baka” kepala Boe Kie pusing dan paras mukanya berubah pucat.

Perkataan Kong seng yang selanjutnya tak dapat ditangkap lagi olehnya. “Apa…apa benar dia mati?” tanyanya dengan suara terputus-putus. “Tidak…tak mungkin.”

Kong seng menunjuk sesosok tubuh yang tergeletak di sebelah barat dan berkata dengan suara keras, “Kau lihat sendiri.”

Boe Kie mendekati. Mayat itu mukanya melesak dan matanya terbuka lebar ternyata memang mayat Goan-tin atau Hoen-goan Pek lek chioe Seng Koen. Ia membungkuk dan meraba dada mayat yang dingin itu, suatu tanda bahwa Goan-tin sudah mati lama juga.

Boe Kie berduka campur girang. Ia tak menyangka bahwa musuh besar ayah angkatnya binasa di tempat itu. Biarpun bukan ia sendiri yang membinasakannya, sakit hati sudah terbalas. Darahnya bergolak-golak dan sambil mendongak, ia tertawa terbahak-bahak.

“Bangsat! Oh, bangsat terkutuk!” teriaknya. “Selama hidup kau melakukan berbagai kejahatan tapi kau mendapat juga bagianmu di hari ini!” Suara tawanya yang dahsyat seolah-olah menggetarkan seluruh lembah. Sesudah berteriak, ia menengok ke arah Kong seng dan bertanya, “Siapa yang membinasakan Goan-tin?”

Kong seng tidka menyahut. Ia melirik pemuda itu dengan mata menyala dan mukanya bersinar dingin bagaikan es.

Yang menjawab Boe Kie adalah In Thian Ceng, “Dia telah bertempur dengan anakku, Ya Ong,” katanya. “Dia mati, anakku terluka.”

Boe Kie membungkuk. Di dalam hati ia berkata, “Sesudah kena pukulan Han-peng Bian-ciang dari Ceng-ek Hok ong, Goan-tin terluka berat. Karena itu, paman berhasil membinasakannya. Sungguh menyenangkan bahwa paman sudah berhasil membalas sakit hati ini.” Ia menghampiri In Ya Ong dan memegang nadinya. Hatinya lega sebab ia tahu bahwa luka sang paman tidak berbahaya bagi jiwanya.

Makin lama Kong seng jadi makin gusar. Tiba-tiba ia berteriak, “Bocah! Kemari kau untuk menerima kebinasaan!”

Boe Kie terkejut, ia menengok dan menegaskan, “Apa?”

“Jelas-jelas kau tahu bahwa Goan-tin soetit sudah binasa tapi kau masih juga berusaha untuk menimpakan segala dosa di atas pundaknya,” kata Kong seng. “Kau terlalu jahat, dan aku tidak dapat mengampuni kau. Hari ini aku terpaksa membuka larangan membunuh. Pilihlah, kau mati bunuh diri atau dibinasakan olehku.”

Pemuda itu jadi bingung. “Kebinasaan Goan-tin merupakan ganjaran setimpal bagi dirinya dan kejadian ini sangat menggirangkan,” pikirnya. “Tapi dengan binasanya pendeta itu, aku tak punya saksi lagi dan urusan jadi makin susah dipecahkan. Bagaimana baiknya?”

Selagi ia mengasah otak, Kong seng sudah menerjang. Tangan kanannya menyambar ke leher dengan jari-jari yang dipentang lurus.

“Hati-hati! Itu Liong Jiauw chioe!” seru In Thian Ceng. (Liong Jiauw chioe ilmu pukulan cakar naga)

Dengan sekali berkelit Boe Kie menyelamatkan dirinya, tapi Kong seng adalah salah seorang dari tiga pendeta suci Siauw lim sie dan Liong Jiauw chioe merupakan salah satu pukulan terhebat dari Siauw lim-pay. Baru saja cengkraman pertama gagal, cengkraman kedua yang lebih cepat dan lebih dahsyat sudah menyusul. Boe Kie melompat ke samping. Cengkraman ketiga, keempat, kelima menyambar-nyambar bagaikan hujan dan angin dalam sekejap, pendeta itu seolah-olah seekor naga yang terbang di angkasa sambil mementangkan cakarnya sehingga semua gerakan Boe Kie di bawah kekuasaannya.

Mendadak berbarengan dengan mengapungnya tubuh Boe Kie terdengar suara “brett!” Di lain saat barulah orang tahu bahwa tangan baju pemuda itu robek dan lengan kanannya tercakar sehingga mengucurkan darah. Di antara sorak-sorai orang Siauw lim-pay terdengar teriakan kaget dari seorang wanita, Boe Kie melirik dan melihat Siauw Ciauw tengah mengawasinya dengan paras muka ketakutan. “Thio Kongcoe, hati-hati!” teriak si nona.

“Sungguh baik nona kecil itu,” piker Boe Kie sambil melompat ke belakang karena dengan kecepatan luar biasa Kong seng sudah menubruk lagi.

Begitu cengkraman pertama gagal, cengkraman kedua menyusul dan Boe Kie kembali melompat ke belakang. Selagi yang satu menubruk dan yang satu melompat, mereka tetap berhadapan satu sama lain. Sesudah menubruk delapan sembilan kali, Kong seng masih juga belum berhasil. Jarak antara mereka tetap tidak berubah, yaitu dua kaki lebih. Maka dengan demikian, meskipun Boe Kie masih belum balas menyerang, tinggi rendahnya ilmu ringan badan antara kedua lawan itu sudah bisa dilihat nyata.

Kita tahu bahwa Kong seng menubruk ke depan sedang Boe Kie melompat ke belakang. Tidak dapat disangkal lagi bahwa menubruk ke depan lebih mudah daripada melompat ke belakang. Meskipun begitu Kong seng masih tidak bisa menyentuh badan pemuda itu. Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa dalam ilmu meringankan badan, pendeta itu sudah kalah setingkat. Kalau mau, dengan mudah Boe Kie bisa menyingkir jauh-jauh dari Kong seng.

Mengapa Boe Kie tetap mempertahankan jarak dua tiga kaki dari pendeta itu? Karena ia ingin mempelajari rahasia pukulan Liong Jiauw chioe. Ia menyadari bahwa sesudah mengeluarkan tiga puluh enam macam pukulan, si pendeta menyerang pula dengan pukulan ke delapan yaitu Na na sit (Gerakan mencengkram) yang tadi sudah digunakan. Sesudah itu kedua tangan Kogn seng menyambar dari atas ke bawah. Itulah Chio coe sit (Gerakan merebut mutiara), pukulan kedua belas. Melihat itu, Boe Kie segera mengetahui bahwa Liong Jiauw chioe hanya terdiri dari tiga puluh enam pukulan atau gerakan.

Selama hidup, Kong seng jarang sekali bertempur melawan musuh. Waktu mencapai usia setengah tua, walaupun musuh beberapa kali ia pernah bertemu dengan lawan berat, tapi begitu mengeluarkan Liong Jiauw chioe, pihak lawan segera keteteran. Sejauh itu, ia belum pernah bertempur dengan lawan yang bisa bertahan lebih dari dua belas pukulan. Maka itu, pukulan ketiga belas sampai ketiga puluh enam belum pernah digunakan untuk menghadapi musuh. Sungguh tak disangka, sesudah mengeluarkan tiga puluh enam pukulan, ia masih juga belum bisa merobohkan Boe Kie. Mau tak mau ia terpaksa mengulangi pukulan-pukulan yang tadi sudah digunakan. “Ilmu ringan badan bocah ini memang sangat hebat,” pikirnya. “Dengan mengandalkan kegesitannya, ia berhasil menyelamatkan diri dari pukulan-pukulan. Tapi kalau bertempur sungguhan, belum tentu ia bisa melayani dua belas pukulan Liong Jiauw chioe.”

Sementara itu, Boe Kie sudah dapat menyelami kehebatan Liong Jiauw chioe. Memang Jiauw hoat (Ilmu mencengkram) yang terdiri dari tiga puluh enam gerakan itu tidak ada cacatnya. Akan tetapi, sesudah memiliki Kian koen Tay lo ie Sin-kang, dengan mengandalkan Sin-kang tersebut, pemuda itu dapat memecahkan pukulan apapun juga. Sekarang juga ia bisa menghancurkan Liong Jiauw chioe. Tapi ia ragu dan berkata dalam hati, “Tidak sukar bagiku mengambil jiwanya, tapi Siauw lim-pay mempunyai nama besar sedangkan Kong seng Taysoe adalah salah seorang dari ketiga pendeta suci. Apabila dengan gegabah lalu aku merobohkannya di hadapan orang banyak, di mana Siauw lim-pay mau menaruh muka? Tapi bila tidak dirobohkan, dia pasti tak akan mau mundur.” Ia jadi serba salah.

Tiba-tiba Kong seng membentak, “Bocah! Kau kabur bukan Pie Boe!”

Boe Kie menjawab, “Mau Pie Boe?.” Dengan menggunakan kesempatan selagi pemuda itu bicara, Kong seng mengirim dua pukulan berantai.

Di luar dugaan, seraya melompat Boe Kie terus bicara dengan suara tenang. “Pie Boe juga boleh. Tapi bagaimana kalau aku menang?” Suaranya bukan saja tenang, tapi juga tak terputus. Kalau seseorang memeramkan kedua matanya, ia tak akan menduga bahwa selama mengucapkan perkataan-perkataan itu, Boe Kie sudah menyelamatkan diri dari tiga serangan Kong seng yang cepat dan dahsyat.

“Ilmu ringan badanmu benar-benar hebat,” puji si pendeta itu. “Tapi kamu jangan harap bisa menandingi aku dalam suatu pertempuran yang sungguh-sungguh.”

“Dalam Pie Boe, tak seorangpun bisa meramalkan siapa bakal menang, siapa bakal kalah,” kata Boe Kie. “Usia boanpwee lebih muda daripada Taysoe. Tapi biarpun kalah ilmu, boanpwee mungkin menang tenaga.”

“Kalau aku kalah, kau boleh bunuh aku!” bentak Kong seng dengan gusar.

“Hal ini tak akan berani boanpwee lakukan,” kata pemuda itu. “Apabila boanpwee kalah, Taysoe boleh berbuat sesuka hati. Tapi jika secara kebetulan boanpwee menang sejurus atau setengah jurus maka boanpwee hanya berharap supaya Siauw lim-pay mundur dari Kong Beng-teng.”

“Urusan Siauw lim-pay harus diputuskan oleh Soehengku,” kata Kong seng. “Aku hanya bicara secara pribadi. Aku tak percaya Liong Jiauw chioe tak bisa membereskan kau.”

Sebuah gagasan lewat di otak Boe Kie dan ia segera mengambil keputusan, “Liong Jiauw chioe dari Siauw lim-pay memang tiada cacatnya,” katanya. “Ilmu itu adalah Kim na Chioe hoat (Ilmu mencengkram) yang tiada duanya dalam dunia. Hanya sayang latihan Taysoe belum sempurna.”

“Baiklah!” kata Kong seng dengan gusar. “Jika kau dapat memecahkan Liong Jiauw chioe-ku, aku akan segera pulang ke Siauw lim sie dan seumur hidup aku tidak akan keluar dari pintu kuil lagi!”

“Itu boleh tidak usah!” kata Boe Kie.

Selagi mereka bertanya jawab, sorak-sorai di seputar lapangan tak henti-hentinya. Semua orang merasa kagum sebab ketika mulut mereka bicara, kaki dan tangan bekerja terus. Waktu mengatakan “ilmu ringan badanmu benar-benar hebat” Kong seng mengirimkan dua serangan beruntun dan selagi mengatakan “tapi kau jangan harap bisa menandingi aku dalam suatu pertempuran yang sungguh-sungguh” ia sudah mengirimkan tiga serangan lain. Di antara sorak-sorai yang riuh rendah, setiap perkataan mereka terdengar nyata sekali.

Mendadak sesudah berkata “itu boleh tidak usah”, tubuh Boe Kie mencelat ke atas, berputar empat kali dan pada setiap putaran badannya mengapung makin tinggi dan kemudian bagaikan daun kering ia melayang-layang ke bawah dan kedua kakinya hinggap di bumi dalam jarak beberapa tombak jauhnya dari tempat semula.

Semua orang mengawasi dengan mata membelalak dan sesaat kemudian, tampik sorak gegap-gempita memecah angkasa. Belum pernah jago-jago itu melihat ilmu ringan badan yang setinggi itu.

Hampir bersamaan dengan hinggapnya Boe Kie, Kong seng sudah berada di hadapannya. “Apa kita sekarang boleh mulai Pie Boe?” tanyanya.

“Baiklah. Taysoe boleh menyerang,” jawab Boe Kie.

“Apakah kau akan menggunakan lagi siasat kabur?” tanya Kong seng pula.

Pemuda itu tersenyum, “Jika boanpwee mundur setengah langkah saja, boanpwee sudah boleh dihitung kalah,” jawabnya.

Walaupun badannya tidak dapat bergerak, Yo Siauw, Leng Kiam, Cioe Tian, Swee Poet Tek dan yang lain-lain bisa melihat dan mendengar. Perkataan Boe Kie yang terakhir itu mengejutkan mereka.

Mereka berpengalaman luas, setiap pukulan Kong seng hebat luar biasa dan untuk menyambut satu pukulan saja sudah bukan urusan gampang. Menurut pendapat mereka, walaupun hebat tapi kalau mau mengharap menang, Boe Kie setidaknya harus bertempur dalam seratus jurus. Selama pertempuran itu, mana bisa ia tidak mundur setengah langkah”

“Boleh tak usah begitu,” kata Kong seng. “Yang menang, biarlah menang secara adil. Yang kalah, biarlah kalah dengan tidak merasa penasaran.” Ia terdiam sejenak dan kemudian membentak, “Sambutlah!” Tangan kirinya mengirimkan pukulan gertakan disusul dengan sambaran tangan kanan yang meluncur ke arah Koat poen hiat di pundak Boe Kie. Itulah pukulan Na in sit. (Gerakan menjambret awan)

Begitu tangan kiri Kong seng bergerak, Boe Kie sudah tahu pukulan apa yang bakal dikeluarkan. Iapun segera membuat serangan gertakan dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menyambar ke Koat poen hiat di pundak Kong seng.

Kedua lawan itu menyerang dengan pukulan yang bersamaan. Tapi dalam persamaan itu ada juga bedanya. Bedanya Boe Kie menyerang belakangan tapi tangannya sampai lebih dahulu. Pada detik jari tangan Kong seng masih terpisah dua dim dari pundak Boe Kie, jari tangan pemuda itu sudah mencengkram Koat poen hiat Kong seng yang segera saja merasa jalan darahnya kesemutan dan tangan kanannya tidak bertenaga lagi, tapi Boe Kie segera menarik kembali tangannya.

Untuk sejenak kemudian Kong seng jadi terpaku. Tiba-tiba kedua tangannya menyambar ke Tay yang hiat kiri dan kanan dengan gerakan Chio coe sit. Kejadian tadi terulang lagi, Boe Kie pun menyerang sepasang Tay yang hiat Kong seng dengan Chio coe sit dan seperti tadi biarpun ia menyerang belakangan, kedua tangannya sampai lebih dulu. Tay yang hiat adalah “hiat” besar yang bila terpukul segera mati. Dengan perlahan Boe Kie mengebut kedua Tay yang hiat lawan dan kemudian dengan sekali berbalik tangan, ia menyentuh Hong hoe hiat di belakang kepala Kong seng dengan gerakan Lo goat sit (Gerakan menjemput rembulan), yaitu pukulan ketujuh belas dari Liong Jiauw chioe.

Begitu Tay yang hiat-nya dikebut, hati Kong seng mencelos dan melihat gerakan Lo goat sit itu ia kaget tak kepalang. “Kau…kau mencuri Liong Jiauw chioe Siauw lim-pay!” teriaknya.

Boe Kie tersenyum, “Semua ilmu silat dalam dunia ini diubah oleh manusia,” katanya. “Belum tentu Liong Jiauw chioe hanya dimiliki oleh Siauw lim-pay.”

Kong seng mengawasi pemuda itu dengan mata membelalak. Ia bingung bukan main. Dalam ilmu Liong Jiauw chioe, kepandaiannya lebih tinggi daripada Kong boen dan Kong tie. Bagaimana caranya pemuda itu bisa memiliki salah satu ilmu terhebat dari Siauw lim-pay? Bukan saja memiliki, ia bahkan lebih unggul daripada dirinya sendiri. Bagaimana bisa begitu? Untuk sejenak ia berdiri terpaku tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata.

Dengan hari berdebar-debar, ratusan orang mengawasi kedua lawan itu. Mereka merasa heran karena baru saja dua gerakan, kedua lawan itu sudah berhenti. Kecuali beberapa tokoh yang berkepandaian sangat tinggi, yang lain tak tahu siapa menang, siapa kalah. Tapi dengan melihat sikap Boe Kie yang tenang-tenang saja dan alis Kong seng yang berkerut, mereka menarik kesimpulan bahwa pendeta itulah yang jatuh di bawah angin.

Selama ratusan tahun, Liong Jiauw chioe sudah menjadi ilmu silat Siauw lim-pay yang tidak terkalahkan. Jika Boe Kie menggunakan ilmu lain, tak gampang ia memperoleh kemenangan.

Mendadak Kong seng membentak keras sambil melompat dan kedua tangannya menyambar bagaikan hujan dan angin. Dengan beruntun bagaikan kilat cepatnya ia menyerang dengan delapan pukulan yaitu Po hong sit, To eng sit, Boe khim sit, Kouw sek sit, Pi kong sit, To hie sit, Po cam sit dan Sioe koat sit. Boe Kie mengempos semangat dan menyambut dengan delapan pukulan yang sama.

Delapan pukulan berantai yang dikirim Kong seng sedemikian cepatnya sehingga seolah-olah merupakan satu pukulan tunggal yang berisi delapan perubahan. Tapi kalau Kong seng cepat, Boe Kie lebih cepat. Apa yang paling menakjubkan adalah biarpun pemuda itu bergerak belakangan, setiap pukulannya tiba lebih dulu sehingga setiap kali memukul Kong seng harus mundur selangkah.

Dalam sekejap, sambil melangkah mundur untuk ketujuh kalinya, Kong seng mengirimkan Po cam sit dan Sioe koat sit, yaitu pukulan ketiga puluh lima dan ketiga puluh enam. Dilihat dari luar, Po cam sit dan Sioe koat sit banyak cacatnya, tapi sebenarnya kedua pukulan itu adalah yang terhebat dalam Liong Jiauw chioe. Dalam cacatnya tersembunyi jebakan yang membinasakan. Pada hakikatnya Liong Jiauw chioe adalah ilmu silat “keras”, akan tetapi dalam kedua pukulan yang terakhir itu, di dalam “kekerasan” tersembunyi Im jioe. (“Kelembekan”)

Sambil membentak keras Boe Kie maju selangkah dan menyambut dengan Po cam sit dan Sioe koat sit juga, tapi mendadak ia mengubah gerakannya menjadi gerakan Na in sit dan tangannya menerobos masuk ke dalam garis pertahanan Kong seng.

Kong seng girang. “Lihat kehebatanku,” katanya dalam hati. Saat itu, lengan kanan Boe Kie sudah masuk ke dalam garis pertahanan Kong seng dan ia tidak bisa segera mundur kembali. Bagaikan kilat, si pendeta mengangkat kedua tangannya dan menghantam lengan pemuda itu.

Kong seng adalah seorang taat yang punya perikemanusiaan. Melihat Boe Kie mahir dalam ilmu Liong Jiauw chioe, ia kuatir pemuda itu mempunyai sangkut paut dengan Siauw lim sie. Di samping itu, dalam gerakan-gerakan yang lalu, beberapa kali jalan darahnya sudah tercengkram tapi Boe Kie sengaja melepaskan. Maka itu, dalam pukulan ini iapun tidak turunkan tangan jahat. Ia hanya ingin mematahkan lengan pemuda itu.

Tapi di luar dugaan, begitu lekas kedua telapak tangannya menyentuh lengan Boe Kie, ia merasakan dorongan semacam tenaga yang halus tapi dahsyat yang dengan mudah dapat menolak tenaga pukulannya. Hampir bersamaan, kelima jari tangan pemuda itu sudah menempel di dadanya di bagian Tan tiong hiat.

Kong seng runtuh semangatnya, ia merasa bahwa latihannya selama berpuluh tahun sedikitpun tiada gunanya. Ia manggut-manggut dan berkata dengan suara perlahan, “Can Sie-coe berkepandaian lebih tinggi daripada Loo-lap.” Seraya berkata begitu, lima jari tangan kirinya mencengkeram lima jari tangan kanannya. Tapi sebelum ia keburu mengerahkan Lweekang untuk mematahkan jari tangan sendiri, mendadak pergelangan tangan kirinya kesemutan dan tenaganya habis. Ternyata jalan darahnya telah dikebut Boe Kie.

“Dengan menggunakan Liong Jiauw chioe dari Siauw lim-pay, boanpwee telah mengalahkan Taysoe,” kata Boe Kie dengan suara nyaring. “Kerugian apakah yang diderita oleh Siauw lim-pay? Jika boanpwee tidak menggunakan Liong Jiauw chioe, ilmu dari Siauw lim-pay sendiri, dalam dunia yang lebar ini tidak ada ilmu lain yang akan dapat menjatuhkan Taysoe.”

Tadi karena gusar dan malu, Kong seng ingin mematahkan jari tangannya sendiri supaya seumur hidup ia tidak bisa bersilat lagi. Sekarang, sesudah mendengar perkataan Boe Kie, hatinya jadi lega. Di lain saat ia mengaku bahwa sepak terjang pemuda itu selalu mencoba melindungi nama baik Siauw lim-pay. Memang benar, kalau Boe Kie tidak menggunakan Liong Jiauw chioe maka nama baik Siauw lim sie akan jatuh di dalam tangannya dan ia akan menjadi orang yang berdosa. Mengingat begitu, ia merasa berterima kasih dan terharu. Sejenak kemudian dengan air mata berlinang ia merangkap kedua tangannya dan berkata, “Can Sie-coe mempunyai budi yang sangat tinggi, Loo-lap merasa berterima kasih dan takluk.”

Buru-buru Boe Kie membalas hormat sambil membungkuk. “Janganlah Taysoe memuji begitu tinggi,” katanya. “Boanpwee berharap supaya Taysoe suka mengampuni segala kekurang ajaran boanpwee.”

Kong seng tersenyum. “Waktu digunakan oleh Sie-coe, Liong Jiauw chioe dahsyat luar biasa,” katanya. “Loo-lap belum pernah bermimpi bahwa ilmu silat itu sedemikian hebatnya. Jika di lain hari nanti Sie-coe mempunyai waktu luang, Loo-lap harap Sie-coe suka mampir di kuil kami, Loo-lap ingin menjadi tuan rumah dan meminta pengajaran dari Sie-coe.”

Menurut kebiasaan di dalam rimba persilatan, kata-kata “meminta pengajaran” mengandung maksud mengajukan tantangan. Tapi kali ini, perkataan itu jujur. Dengan sejujurnya Kong seng ingin meminta pengajaran dari Boe Kie.

Cepat-cepat Boe Kie menyoja dan berkata dengan suara merendah, “Tidak! Boanpwee tidak berani menerima perkataan Taysoe.”

Dalam Siauw lim-pay, Kong seng mempunyai kedudukan yang sangat tinggi. Biarpun karena tak bisa memimpin, ia tidak memegang tugas penting tapi sebab berwatak mulia dan berkepandaian tinggi, ia dihormati segenap pendeta Siauw lim sie. Sekarang, sesudah pertandingan antara Kong seng dan Boe Kie berakhir, semua anggota Siauw lim-pay merasa bahwa partai mereka tak bisa menantang pemuda itu lagi.

Dalam usaha membasmi Beng-kauw, Kong tie telah diangkat sebagai pemimpin. Maka dapatlah dimengerti jika perkembangan yang tak diduga-duga itu sangat membingungkan hatinya. Urusan membasmi Mo-kauw telah dirintangi dan dikacau oleh seorang pemuda yang tak bernama. Bagaimana jika ditertawai oleh segenap orang gagah dalam rimba persilatan”

Ia ragu dan tak dapat mengambil keputusan. Dalam kebingungannya, ia melirik Sin soan-coe (si Malaikat tukang hitung) Sian Ie Thong, Cian boen jin dari Hwa san-pay. Sian Ie Thong dikenal sebagai seorang yang mempunyai banyak tipu daya dan dalam usaha membasmi Beng-kauw ia memegang peranan sebagai Koen-soe (penasehat). Begitu dilirik Kong tie, ia segera bertindak masuk ke tengah lapangan sambil menggoyang-goyangkan kipasnya.

Melihat yang maju seorang sastrawan tampan yang berusia empat puluh tahun lebih, Boe Kie mendapat kesan yang baik. Ia menyoja dan berkata, “Pelajaran apakah yang hendak diberikan oleh Cianpwee?”

Sebelum Sian Ie Thong menjawab, In Thian Ceng sudah mendahului, “Dia bernama Sian Ie Thong, Cian boen jin Hwa san-pay. Ilmu silat tidak tinggi tapi banyak akal bulusnya.”

Mendengar “Sian Ie Thong”, Boe Kie kaget. Nama itu sepertinya tidak asing baginya. Tapi di mana ia pernah mendengar nama itu”

Dalam jarak setombak lebih, Sian Ie Thong menghentikan langkahnya dan sambil menyoja ia berkata, “Can Siauw-hiap selamat bertemu!”

Boe Kie membalas hormat. “Siang Ji Ciang boen, selamat bertemu,” sahutnya.

“Can Siauw-hiap mempunyai Sin-kang yang sangat tinggi,” kata Sian Ie Thong.

“Kau sudah mengalahkan tetua dari Khong tong-pay dan bahkan Siauw lim Seng Ceng pun jatuh di bawah angin. Aku sungguh merasa sangat kagum, tapi apakah aku boleh mengetahui, Cianpwee manakah yang mempunyai seorang murid begitu gagah seperti Can Siauw-hiap?”

Boe Kie yang sedang mengingat-ingat nama Sian Ie Thong, tidak menjawab. Ia pernah mendengar nama itu, tapi di mana? Di mana?

Tiba-tiba Sian Ie Thong mendongak dan tertawa terbahak-bahak. “Mengapa Can Siauw-hiap sungkan memberitahukan nama gurumu?” tanyanya dengan suara nyaring. “Orang jaman dulu sering berkata begini, Kian-hian soe-cee?” (Melihat orang pandai teringat negeri Cee)

Mendengar “Kian-hian soe-cee” Boe Kie terkesiap dan lantas saja teringat “Kian-sie Poet-kioe” (Melihat kebinasaan tetap sungkan menolong, yaitu gelaran Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe)

Ia lantas saja ingat kejadian di Ouw tiap kok pada waktu lima tahun berselang. Waktu itu Ouw Ceng Goe pernah memberitahukan bahwa Sian Ie Thong dari Hwa san-pay adalah manusia yang sudah menyebabkan kebinasaan adik perempuannya.

Di kala itu, ia masih kecil tapi di dalam hati ia sudah memastikan bahwa Sian Ie Thong akan mendapatkan pembalasan yang setimpal karena Tuhan adil. Saat itu, perkataan Ouw Ceng Goe seolah-olah terdengar pula di kupingnya, “Aku pernah menolong seseorang yang mendapat tujuh belas lubang luka bacokan. Ia sebenarnya sudah mesti mati. Tiga hari tiga malam aku tidak tidur dan dengan segenap kepandaian aku bisa menyembuhkannya. Belakangan aku mengangkat saudara dengannya. Tak disangka ia akhirnya membinasakan adik perempuanku, adik kandungku”.”

Waktu berkata begitu, air mata Ouw Ceng Goe mengucur deras sehingga iapun sangat berduka. Belakangan istri Ouw Ceng Goe yaitu Tok sian Ong Lan Kauw, meracuni Sian Ie Thong dengan racun yang sangat hebat. Tapi manusia terkutuk itu ditolong oleh Ouw Ceng Goe sendiri, kedua suami istri jadi bertengkar dan pertengkaran itu telah mengakibatkan banyak penderitaan. Pada akhirnya, suami istri Ouw Ceng Goe binasa secara tidak wajar. Biarpun bukan dibunuh oleh Sian Ie Thong, kebinasaan itu adalah karenanya.

Mengingat sampai di situ, Boe Kie mendekati. Dengan sinar mata berapi, ia menyapu muka Sian Ie Thong. Ia juga ingat satu manusia lain yang bernama Sie Kong Wan, murid Sian Ie Thong. Sesudah dilukai oleh Kim hoa Po po, jiwa Sie Kong Wan ditolong olehnya. Tak disangka, manusia itu belakangan mau mencoba mengiris dagingnya!

Paras muka Boe Kie merah padam. Guru dan murid itu adalah manusia yang membalas kebaikan dengan kejahatan. Sie Kong Wan sudah mampus, tapi Sian Ie Thong masih malang-melintang di dunia dengan berkedudukan tinggi. “Manusia ini harus diberi hajaran keras,” pikirnya.

Sesudah mengambil keputusan apa yang akan diperbuatnya, ia tersenyum dan berkata, “Di badanku tidak ada 17 luka dan akupun belum pernah mencelakai jiwa adik angkatku. Aku tak punya rahasia apapun jua yang harus disembunyikan.”

Sungguh tajam kata-kata itu!

Sian Ie Thong menggigil! Keringat dingin mengucur dari punggungnya.

Banyak tahun berselang, sesudah jiwanya ditolong oleh Ouw Ceng Goe, Sian Ie Thong dicintai oleh Ouw Cen Yo, adik perempuan Ouw Ceng Goe. Nona Ouw menyerahkan kehormatannya sehingga ia hamil. Tapi Sian Ie Thong yang ingin menduduki kursi Ciang boen jin dari Hwa san-pay sudah menyia-nyiakan nona itu, ia kabur dan menikah dengan putrid tunggal dari Ciang boen jin Hwa san-pay pada masa itu. Karena malu dan gusar, nona Ouw bunuh diri, sehingga dua jiwa yaitu jiwa ibu dan anak menjadi korban. Karena urusan memalukan itu, Ouw Ceng Goe tidak pernah memberitahukan kepada orang luar. Sian Ie Thong sendiri tentu saja menutup mulut rapat-rapat. Siapa sangka, sesudah berselang belasan tahun rahasianya dibuka Boe Kie. Bagaimana ia tidak kaget?

Saat itu juga dia mengambil keputusan untuk mengambil jiwa pemuda itu. “Kalau Can Siauw-hiap tidak sudi memberitahukan nama gurumu, maka aku mengambil keberanian untuk meminta pengajaran dengan menggunakan ilmu silat Hwa san-pay yang sangat cetek,” katanya. “Sedang Kong seng ceng saja masih belum dapat menandingi Can Siauw-hiap maka ilmu silatku tentu tidak masuk hitungan. Biarlah pertandingan ini dibatasi sampai salah satu pihak ada yang kena sentuh. Aku mengharap dalam pertempuran Can Siauw-hiap suka menaruh belas kasihan.” Sehabis berkata begitu tangan kirinya menghantam pundak Boe Kie. Ia tidak mau memberi kesempatan untuk pemuda itu bicara.

Boe Kie mengerti maksudnya. Sambil menangkis ia berkata, “Ilmu silat Hwa san-pay sangat tinggi dan tidak perlu meminta pelajaran dari orang luar. Yang menjadi soal adalah ilmu Sian Ie Ciang boen sendiri yang sukar dicari duanya dalam dunia ini. Ilmu itu bernama ilmu melupakan budi, ilmu membalas kebaikan dengan kejahatan”.”

Bagaikan kalap Sian Ie Thong menyerang untuk menutup mulut pemuda itu. Ia menyerang dengan silat Eng coa Sang sie pek (Pertempuran mati hidup antara burung elang dan ular), salah satu ilmu silat terhebat dari Hwa san-pay yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Ia menutup kipas dan mencekalnya dalam tangan kanan sehingga gagang kipas yang menonjol keluar merupakan kepala ular yang digunakan untuk menotok dan menikam. Lima jari tangan kirinya yang dipentang lebar seolah-olah cakar elang yang menyambar-nyambar untuk mencoba mencengkram Boe Kie.

Eng coa Sang sie pek adalah ilmu simpanan dari Hwa san-pay. Pada seratus tahun yang lampau, waktu berada di gunung Hok goe-san seorang pendekar Hwa san-pay yang bernama In Pek Thian telah menyaksikan pertempuran hidup mati antara seekor elang dan seekor ular. Ia mendapat ilham dan belakangan mengubah ilmu tersebut.

Elang berkelahi dengan ular sebenarnya bukan kejadian langka. Semenjak dulu banyak ahli sudah mengubah ilmu-ilmu baru berdasarkan pertempuran antara binatang dan binatang. Tapi Eng coa Sang sie pek agak beda dari yang lain. Perbedaannya adalah ilmu itu gerakan elang dan ular dikeluarkan bersama-sama dengan kecepatan luar biasa. Terhadap orang biasa, ilmu ini sangat membingungkan karena serangan menyambar dari kiri ke kanan dalam gerakan yang berbeda-beda maka jika seseorang menjaga di bagian kiri, ia tak akan bisa menjaga di bagian kanan.

Baru beberapa gebrakan Boe Kie sudah tahu, biarpun mahir dalam ilmu itu, tenaga Sian Ie Thong masih jauh dari cukup. Sesudah lewat beberapa jurus, ia berkata, “Sian Ie Ciang boen, ada satu hal yang kurang dimengerti olehku dan aku ingin meminta penjelasan. Dulu kau mendapat tujuh belas luka dan keadaanmu lebih baik mati daripada hidup. Ada orang yang tanpa tidur tiga hari tiga malam sudah menolongmu dan mengobati kau hingga kau sembuh. Ia mengangkat saudara denganmu dan memperlakukanmu seperti saudara kandungnya sendiri. Tapi mengapa kau begitu jahat sehingga kau membinasakan adik perempuan orang itu?”

Sian Ie Thong gusar bukan kepalang dan berteriak, “Ouw”.” Ia sebenarnya ingin mengatakan “Ouw swee Pat-to” (omong kosong) dan berniat menjatuhkan tuduhan yang tidak-tidak terhadap Boe Kie supaya pemuda itu gusar dan konsentrasi pikirannya terpecah sehingga dengan mudah ia bisa melaksanakan niat jahatnya.

Di luar dugaan, baru saja ia berkata “Ouw”, semacam tenaga yang lembek dahsyat menindih dadanya yang lantas saja sesak sehingga ia tak bisa meneruskan perkataannya. Mati-matian ia mengerahkan Lweekang untuk melawan tenaga itu.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: