Kumpulan Cerita Silat

20/08/2008

Kisah Membunuh Naga (40)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:03 am

Kisah Membunuh Naga (40)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Tiba tiba dari barisan Boe Tong pay melompat keluar seorang pria yang membentak sambil menuding Ian Thian Ceng. “In Loojie. Jika kau tak menyebut Thio Ngoko tak menjadi soal. Sesudah disebutkan, sakit sekali hatiku. Jie Samko dan Thio ngoko kedua-duanya celaka dalam tangan Peh Bie Kauw. Jika sakit hati ini tak dibalas, cuma-cuma saja Boh Seng Kok menjadi anggota dari Boe Tong Cit Hiap.” Seraya berkata begitu, ia menghunus pedang dan memasang kuda-kuda dalam gerakan Bangak Tiaow Cong (Laksana gunung memberi hormat), serupa pukulan yang biasa di keluarkan jika seorang murid Boe Tong berhadapan dengan lawan yang tingkatanya lebih tinggi.

Boa Cit hiap sedang bergusar, tapi setiap gerak geriknya sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang tokoh terkemuka dalam rimba persilatan.

Si kakek kelihatan berduka. “Semenjak anakku meninggal dunia loohoe sebenarnya tak ingin menggunakan senjata lagi,” katanya dendean suara perlahan. “Akan tetapi kalau aku tetap melayani dengan tangan kosong, aku berlaku kurang hormat terhadap para pendekar Boe Tong.” Ia menengok dan menggapai seorang murid Beng Kauw yang memegang sebatang toya besi.

“Coba kupinjam toyamu,” katanya.

Dengan kedua tangan, murid itu menyerahkan senjatanya kepada In Thian Ceng. Begitu menyambuti, si kakek mengerahkan tenaganya.

“Tak!”, toya besi itu patah menjadi dua potong! Semua orang mengeluarkan seruan tertahan. Mereka tidak menduga, bahwa In Thian Ceng yang sudah begitu tua masih mempunyai tenaga yan sedemikian hebat.

Boh Seng Kok tahu, bahwa lawannya pasti takkan menyerang lebih dulu. Maka itu, tanpa sungkan-sungkan lagi, ia segera membuka serangan dengan pukulan Pekuiauw Tiauw hong (Ratusan burung menghadap kepada burung Hong). Dengan tergetarnya ujung pedang, seolah-olah puluhan batang pedang menyambar dengan beberapa pukulan ini masih tetap merupakan kiam hoat kehormatan terhadap seorang yang tertua.

Sambil menangkis dengan toya buntung yang dicekal dalam tangan kirinya. In Thian Ceng berkata, “Bocah Cit hiap tak usah berlaku sungkan”. Setelah lewat gebrakan pertama, pertempuran lantas saja berlangsung dengan hebatnya.

Dengan senjata yang lebih berat, gerakan-gerakan In Thian Ceng kelihatan kaku dan perlahan. Akan tetapi orang-orang yang berkepandaian tinggi mengetahui, bahwa si kakek melayani lawanya dengan pukulan-pukulan yang disertai Lweekang yang sangat tinggi. Di lain pihak, Boh Seng Kok menyerang bagaikan harimau edan dalam sekejap ia telah mengirim enam puluh lebih serangan yang membinasakan.

Makin lama Boh Seng Kok menyerang makin cepat, sehingga belakangan orang hanya bisa melihat sinar berkelebatnya pedang dan tak bisa mengenali lagi gerakan pukulan-pukulannya.

Koen-loen dan Go-bie adalah partai-partai yang terkenal dalam ilmu pedangnya. Tapi biarpun begitu, orang-orang kedua partai tersebut masih merasa sangat kagum akan lihainya Boh Cit Hiap. Mereka harus mengakui, bahwa tersohornya Boe tong Kiam hoat bukan nama kosong belaka.

Akan tetapi, biapun sudah menyerang bagaikan topan, pedang Boh Seng Kok masih tetap tak bisa menembus garis pertahanan si kakek itu.

“Si tua telah merobohkan sorang tokoh Hwa san pay dan tiga jago Siauw Lim,” pikir Boh Seng Kok.
“Dia juga sudah bertempur melawan Sio Ko dan aku adalah lawannya yang kelima. Jika aku tidak memperoleh kemenangan, di mana aku harus menaruh muka Boe Tong pay?” Memikir begitu, seraya membentak keras, ia mengubah Kiam hoatnya. Dengan mendadak, pedang yang kaku menjadi lemas, seperti ikatan pinggang. Itulah Jiauw cie Jioe Kiam dari Boe Tong pay itu yang semuanya memuat tujuh puluh dua jurus (Jiauw cie Jioe Kiam ” ilmu pedang lembek memutari jati tangan).

Tanpa tertahan lagi, para penonton bersorak sorak.

Mau tak mau, In Thian Ceng terpaksa mengubah cara bersilatnya. Sekarang ia menggunakan ilmu ringan badan dan melawan dengan kecepatan pula.

Sekonyong-konyong Boh Seng Kok membentak dan pedangnya menyambar dada lawan. Tapi sebelum menyentuh dada, ujung pedang mendadak membengkok dan menyambar pundak kanan si kakek. Dalam menggunakan Jiauw Jie Jioe Kiam, orang harus mempunyai Lweekang yang sangat tinggi untuk mengubah sifatnya pedang dari kaku menjadi lemas. Dapat dimengerti, bahwa serangan pedang yang lemas seperti ikatan pinggang sangat sukar ditangkis. Walaupun berpengalaman, In Thian Ceng belum pernah bertemu dengan kiam hoat yang seaneh itu.

Demikianlah, melihat sambaran pedang dipundaknya, ia mengengos sebab sudah tidak keburu untuk menangkis lagi.

Mendadak terdengar suara “cring!” ujung pedang membal dan menikam lengan kirinya!

Hampir berbareng dengan tikamana yang tepat itu, In Thian Ceng mengulur tangan kanannya entah bagaimana tangan itu mulur setengah kaki dan menyapu pergelangan Boh Seng Kok! Sambaran kilat itu berhasil merampas pedang Boh Cit hiap! Lebih celaka lagi, tangan kanan si kakek sudah menempel di Kian tin hiat, di pundak Boh Seng Kok.

Eng Jiauw Kim na chioe (cengkeraman ceker burung elang) dari Peh bie Eng ong adalah suatu ilmu yang sangan tersohor dalam rimba persilatan. Pada jaman itu, tidak ada manusia yang dapat menandinginya.

Sekali ia mencengkram dengan menggunakan Lweekang, tulang pundak Boh Cit hiap akan hancur seumur hidup dan ia akan menjadi seorang yang bercacad.

Para pendekar Boe tong kaget tak kepalang. Tapi baru saja ia melompat niat untuk memberi pertolongan si kakek menghela napas dan berkata dengan suara duka:

“Satu saja sudah lebih daripada cukup, perlu apa terulang lagi?” Ia melepaskan cengkeramannya dan tangan kanannya menarik pedang yang dirampas. Begitu pedang tercabut, darah mengucur dari lengan kirinya.

Seraya mengawasi pedang itu, ia berkata pula. “Selama puluhan tahun, loohoe belum pernah dikalahkan, Thio Sam Hong. Kau benar-benar lihai?”

Boh Seng Kok berdiri terpaku dan mengawasi dengan mulut ternganga. Lewat beberapa saat, barulah ia bisa membuka mulut. “Terima kasih atas budi loocian pwee yang sudah menaruh belas kasihan.”

Tanpa menjawab, In Thian Ceng mengangsurkan pedang yang telah dirampasnya. Tapi Beh Cit hiap merasa malu dan segera mengundurkan diri tanpa menerima senjatanya.

Boe Kie segera merobek tangan bajunya, tapi baru saja ia mau maju untuk membalut luka kakek luarnya, dari barisan Boe teng sudah keluar seorang pria yang jenggotnya, yang berwarna hitam, melambai sampai di dada dan mengenakan pakaian imam. Orang itu bukan lain dari pada Seng Wan Kiauw, kepala Boe tong Cit hiap. “Permisikanlah aku membalut luka Loocianpwee.” Katanya dengan suara manis. Tanpa menunggu jawaban, ia mengeluarkan obat, melaburnya di luka si kakek dan membalutnya dengan sapu tangan.

Melihat keangkeran dan keagungan Song Wan Kiauw, orang-orang He Bie Kauw, maupun Beng Kauw, tidak merasa curiga.

“Terima kasih,” kata In thian Ceng.

Boe Kie girang. “Mungkin karena merasa berterima kasih, Song Soepeh sudah membalut luka Gwa kong,” pikirnya. “Biarlah permusuhan bisa habis sampai di sini.”

Tapi diluar dugaan, sesudah selesai membalut, Song Wan Kiauw mundur setindak dan berkata seraya mengibas tangannya. “Aku yang rendah ingin minta pengajaran dari Loocianpwee!”

Boe Kie terkesiap. Tanpa merasa, ia berteriak. “Tidak adil! Melawan seorang tua dengan bergiliran adalah perbuatan tak adil!”

Semua orang menengok dan mengawasi pemuda yang berpakaian compang-camping itu kecuali orang Goe Bie Pay, Song Ceng Soe, In Lie Heng, Swee Poet Tek dan beberapa orang lain, tak ada yang tahu siapa adanya Boe Kie.

“Tak salah perkataan sahabat kecil itu,” kata Song Wan Kiauw. “Hari ini kita menunda permusuhan antara Boe Tong dan pek bie kauw. Sekarang ini adalah saat yang memutuskan dalam pergulatan antara enam partai dan Beng Kauw. Maka itu, kami dari Boe tong pay menantang pihak Beng Kauw.”

Dengan matanya yang sangat tajam, perlahan lahan In Thian Ceng menyapu seluruh lapangan. Yo Siauw, Wie It Siauw dan lain-lain pemimpin belum bisa bergerak. Jago-jago Ngo heng Kie sudah roboh semua kalau tidak binasa, luka berat. Puteranya sendiri, In Ya Ong, menggeletak dalam keadaan pingsan. Dalam kalangan beng kauw hanyalah ia seorang yang masih dapat menandingi Song Wan Kiauw. Tapi sesudah melawan lima jago, ia mulai merasa lelash dan di samping itu, iapun sudah terluka.

Selagi si kakek mengasah otak untuk mencari jalan keluar, seorang tua yang bertubuh kecil dari rombongan Kong tong pay itu tiba-tiba berteriak. “Tenaga Mo Kauw telah memusnah. Kalau sekarang kamu tidak mau menakluk, mau tunggu sampai kapan lagi?”

“Kong tie Taysoe! Marilah kita hancurkan sin wie (tempat pemujaan) dari tiga puluh tiga Kauwcoe Mo Kauw!”

Dalam gerakan membasmi Beng Kauw, Hong thio (kepala gereja) Siauw Lim sie, yaitu Kong bonq Taysoe, tidak turut serta, karena ia harus tetap menjaga kuil Siauw Lim sie, karena ia harus tetap menjaga kuil Siauw Lim sie di Siong san. Maka itu, murid-murid Siauw Lim sie dipimpin oleh Kong tie taysoe. Sebab Siauw lim sie mempunyai kedudukan sangan tinggi dalam Rimba persilatan, maka partai-partai yang mengikat dalam gerakan ini dengan suara bulat telah mengangkat Kong tie taysoe sebagai pemimpin.

Sebelum Kong tie menjawab, seorang dari Haw san pay sudah mendahului. “Apa? Menakluk? Hari ini, tak satupun dari kawanan Mo Kauw yang boleh dibiarkan hidup terus. Kita harus membasmi sampai di akar-akarnya. Kalau masih ada yang ketinggalan dikemudian hari dunia kang ouw bisa dikacaukan lagi. Hei kawanan Mo kaow! Lebih baik kamu menggorok leher sendiri, supaya tuan besarmu tak usah berabe!”

Diam-diam In Thian Ceng menggerakkan lwee kang. Ia merasa lengan kirinya tertusuk pedang sampai di tulang dan pada waktu menggerahkan tenaga dalam, ia merasa sangat sakit. Ia tahu bahwa sebagai murid kepala Thio Sam Hong, Song Wan Kiauw telah mendapat seluruh kepandaian guru besar itu. Dalam keadaan segar, belum tentu ia bisa memperoleh kemenangan. Apalagi sekarang setelah ia lelah dan terluka.

Tapi sebab lain-lain jago Beng Kauw sudah binasa atau terluka berat, maka baginya, tidak ada pilihan lagi dari pada hanya mengadau, jiwa. Ia tidak takut mati ia hanya merasa sayang bahwa nama besarnya yang sduah dijaga seumur hidup bakal segera menjadi hancur.

“In Loocianpwee,” kata Song Wan Kiauw, “Antara Boe tong pay dan peh bie kauw terdapat permusuhan yang dalam bagaikan lautan. Tapi kami tidak ingin menggunakan kesempatan pada waktu musuh sedang menghadapi bahaya. Maka itu, persoalan ini dapat ditunda dan diperhitungkan di kemudian hari. Tujuan dari enam partai adalah untuk menyerang Beng Kauw, Peh Bie Kauw sudah memisahkan diri dari Beng Kauw dan kenyataan ini sudah diketahui oleh semua orang. Perlu apa In Loocianpwee turut menceburkan diri? Kuharap Loocianpwee suka mengajak semua anggota Peh bie kauw dan turun dari gunung ini.”

Semua orang tahu, bahawa karena urusan Jie Thay Giam, Boe tong pay telah bermusuhan hebat dengan Peh bie Kauw. Maka itu, perkataan Song Wan Kauw yang membuka jalanan hidup bagi Peh bie kauw, sudah membangkitkan rasa heran dan kagun dalam hatinya semua orang.

In Thian Ceng tertawa terbahak-bahak.

“Song Tayhiap, banyak berterima kasik untuk maksudmu yang sangat baik,” katanya. “Tapi biar bagaimanapun juga loohoe adalah salah seorang dari keempat Hoe Kauw Hoat Ong. Meskipun benar loohoe sudah mendirikan agama lain, tapi jika Beng Kauw berada dalam keadaan bahaya, loohoe pasti tidak bisa berpeluk tangan di luar gelanggang. Hari ini loohoe rela mengorbankan jiwa. Song tayhiap, kau mulailah!” Seraya berkata begitu, ia maju setindak dan memasung kuda-kuda.

“Baiklah!” kata Song Wan Kiauw. Ia mengangkat telapak tangan kirinya dan menempelkan tinju kanan pada telapak kanan itu.

Itulah Ceng chioe sit, suatu gerakan yang memberi hormat kepada seorang yang tingkatannya lebih tinggi.

Boe tong pay adalah partai yang belum lama didirikan dan dalam mengubah ilmu silat Boe tong, Thio Sam Hong menggunakan cara-cara tersendiri, lain dari pada yang lain. Maka itu, gerakan Song Wan Kiauw tak dikenal In Thian Ceng. Tapi melihat lawannya agak membungkuk, ia tahu, bahwa Wan Kiauw memberi hormat, sehingga oleh karenanya, ia berkata, “Song Taihap, jangan berlaku sungkan.”

Sambil berkata begitu, ia mengangkat kedua tangannya kedada untuk membalas hormat.

Menurut kebiasaan, Wan Kiauw harus maju dan menyerang. Tapi berbeda dengan kebiasaan Song Tayhiap, mengirim pukulan tanpa bertindak maju. Pukulan itu dikirim dari jarak setombak lebih.

In Thian Ceng terkejut. Apakah ilmu silat Boe tong sudah begitu lihai, sehingga memiliki Sin kang Khek san Pah goe? Tanyanya dalam hati. Buru-buru ia mengerahkan tenaga dalam dan mengibaskan tangan kanannya untuk menangkis.

(Khek san Pah goe = dengan terliang gunung pemukul kerbau, semacam ilmu yang dapat merobohkan lawan dari jarak jauh dengan angin pukulan yang disertai lweekang tertinggi).

Tapi sekali lagi, ia kaget karena sampokannya tidak terbentur dengan tenaga lawan. Dalam kagetnya ia pun merasa heran.

“Sudah lama aku mengagumi ilmu loocianpwe dan guruku pun sering menyebutkan kepandaian loocianpwee yang sangat tinggi,” kata Song Wan Kiauw. “Tapi sekarang loocianpwee sudah bertanding dengan beberapa orang, sedang boanpwee masih segar, sehingga kalau kita mengadu kepandaian menurut cara yang biasa, pertandingan itu sangat tak adil. Sekarang begini saja, kita hanya mengadu jurus tak mengadu tenaga.”

Seraya berkata begitu, dari jarak setombak lebih ia menendang. Tendangan itu cepat bagaikan kilat yang dikirim dari arah yang tak diduga-duga, suka dielakan dan dalam pertempuran biasa, pasti akan dapat merobohkan seorang ahli silat yang ternama.

“Sungguh indah tendangan itu!” memuji In Thian Ceng seraya meninju. Dengan tinju itu yaitu siasat membela diri dengan menyerang, si kakek berhasil memunahkan tendangan Wan Kiauw, yang lantas saja membalas pukulan telapak tangan.

Demikianlah, dari jarak jauh, mereka mulai serang-menyerang.

Makin lama, silat mereka makin cepat. Walau pun mereka bertempur dari jarak jauh, tetapi semua pukulan tidak disertai tenaga dalam dan tidak menyentuh badan, tapi mereka adalah ahli-ahli silat kelas utama, maka masing-masing tahu-kalah menangnya. Andaikata pukulan yang satu tidak dapat dipunahkan pihak yang lain, maka pihak yang kalah takkan bisa tidak mengakui akan kekalahannya. Bukan saja dia, tapi lain-ahli ahli silat yang berkepandaian tingipun bisa mengikut jalannya pertempuran luar biasa itu.

Mereka bertanding hebat sekali tidak kalah hebatnya seperti dalam pertandingan sungguhan. Sesuai dengan azas ilmu silat Boe Tong, Wan Kiauw menggunakan ilmu “lembek” untuk menindih “kekerasan” lawan, sedang Thian Ceng mengutamakan “kekerasan” untuk menghancurkan “kelembekan” orang.

Waktu In Thian Ceng melawan Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok, Boe Kie tidak dapat memperhatikan dari semua jurus-jurus mereka, karena dalam kebingungan dan berkuatir akan keselamatan mereka. Tapi sekarang, karena mengetahui bahwa pertandingan itu hanya memutuskan kalah dan menang dan tidak membahayakan jiwa, maka dengan lega hati ia bisa memusatkan seantero perhatiannya kepada jalan pertempuran.

Makin lama ia menonton, makin besar rasa tak mengertinya. “Gwa-kong dan Song Toa soepeh adalah ahli-ahli utama dalam rimba persilatan, tapi mengapa ilmu silat mereka begitu banyak cacatnya?”, tanyanya di dalam hati. “Bila lengan Gwa-kong ke kiri setengah kaki, tinjunya yang tadi pasti akan mampir tepat di dada Toa soepeh. Bila sambaran tangan Toasoepeh terlambat sedetik, cengkeramannya ke arah pundak Gwa Kong tentu berhasil. Apakah mereka sengaja saling mengalah? Di tinjau dari jalannya pertempuran, kelihatannya bukan begitu.”

Memang dalam pertandingan jarak jauh itu, baik In Thian Ceng maupun Song Wao Kiauw tak saling mengalah. Adalah tidak benar jika dikatakan, bahwa kepandaian kedua jago itu banyak cacatnya.

Sebab musabab dari masuknya jalan pikiran tadi kedalam otak Boe Kie ialah karena, sesudah memiliki Kioe yang dan Kian koe Tay lo ie Sin kang, dalam ilmu silat, pemuda itu sudah lebih unggul setingkat daripada In Thian Ceng dan Son Wan Kiauw. Pukulan-pukulan yang dapat dibayangkan dan dapat pula dilakukan oleh Boe Kie, tidak akan dapat dilakukan oleh In Thian Ceng dan Song Wan Kiauw, maupun oleh jago-jago lain.

Sebagai contoh, jika seekor burung yang terbang di angkasa melihat caranya berkelahinya dua harimau, dia bisa bertanya di dalam hatinya. “Mengapa harimau itu tak mau terbang menubruk musuhnya? Apabila si harimau akan berbuat begitu, bukankah dia akan mendapat kemenangan?” si burung tak tahu, bahwa harimau tidak mampu terbang.

Karena belum cukup berpengalaman, sebab musabab itu belum dapat dipikir Boe Kie.

Sesudah bertanding lagi beberapa lama, tiba-tiba Song Wan Kiauw mengubah cara bersilatnya. Kedua tangannya seperti menari-nari dan gerak geriknnya lemas bagaikan kapas. Itulah Bian Ciang (ilmu pukulan kapas) dari Boe Tong pay. In Thiang Ceng membenak keras dan memperhebat serangan-serangannya dalam ilmu silat keras untuk melawan pukulan-pukulan “lemek” dari lawannya.

Lewat beberapa saat, sekonyong-konyong telapak tangan kiri Song Wan Kiauw menyambar, disusul dengan pukulan telapak tangan kana yang biarpun dikirim belakangan tiba terlebih dahulu. Hampir berbareng, telapan tangan kirinya miring dan menyusul pula dari belakang. Melihat seluruh tubunya sudah ditutup dengan pukulan lawan, seraya berteriak In Thian Ceng mengeluarkan kedua tinjunya. Semua orang terkejut. Dua telapak tangan dan dua tinju menempel satu sama lain di tengah udara!

Sesudah mengeluarkan seantero kepandaian dan sesudah mencapai gebrakan yang memutuskan, kedua jago itu tidak bisa berbuat lain daripada mengadu tenaga lawan.

Tiba-tiba Song Wan Kiauw bersenyum dan menarik pulang kedua tangannya. “Ilmu silat Locianpwee tinggi luar biasa dan boanpwee merasa takluk,” katanya seraya membungkuk.

In Thian Ceng pun segera menarik pulang tinjunya dan berkata dengan suara manis. “Sekarang loohoe mengakui, bahwa semenjak dahulu Ciang Hoat (Ilmu pukulan dengan tangan kosong) dari Boe tong pay tiada tandingannya di dalam dunia.”

Karena sudah berjanji untuk tidak bertanding dengan menggunakan tenaga dalam, maka pertandingan itu tidak dapat dilangsungkan lagi.

Di pihak Boe tong pay masih ada Jie Lian Cioe dan In Lie Heng yang belum turun ke dalam gelanggang. Ketika itu, muka In Thian Ceng berwarna merah dan di atas kepalanya keluar uap dari hawa panas. Biarpun dalam pertandingan tadi ia tdiak menggunakan tenaga dalam, tapi karena lawannya terlalu kuat dan ia bersilat dengan menggunakan seantero kepandaian, maka sekarang tenaganya sudah habis sama sekali. Maka itu, jika turun kedalam gelanggang, Jie Lian Cioe atau In Lie Heng dengan mudah bisa merobohkannya dan mendapat nama besar sebagai jago yang telah menjatuhkan Peh bie Eng ong.

Kedua pendekar Boe tong itu mengawasi dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka sungkan menggunakan kesempatan selagi lawan habis tenaganya. Mereka yakin, bahwa mereka akan menang, tapi kemenangan itu, bukan kemenangan yang boleh dibanggakan.

Tapi kalau tokoh-tokoh Boe tong memikir begitu, orang lain tidak demikian. Dari barisan Khong tong pay mendadak melompat keluar seorang tua yang bertubuh kate kecil. Ia adalah orang yang menyarankan untuk membakar tempat pemujaan para kauwcoe Beng-kauw.

Begitu berhadapan dengan In Thian Ceng ia berkata, “Aku si orang she tong ingin bermain-main sedikit dengan In Loojie.” Tantangan itu ia keluarkan dengan suara yang sangat memandang rendah.

Peh Bie Eng ong melirik dan mengeluarkan suara di hidung. “Dalam waktu biasa, Khong Teng Ngo loe tidak masuk dalam perhitungan,” pikirnya. “Celaka sungguh! Benar juga kata orang harimau yang kesasar di tanah datar akan dihinakan oleh kawanan anjing. Jika roboh dalam tangan Boe tong Cit hiap, aku rela. Terhadap Tong Boen Liang, tak nanti aku mengalah.”

Waktu ia merasa sekujur badannya lemas dan keinginan satu-satunya merebahkan diri di pembaringan. Tapi mendengar tantangan Boen Liang darahnya meluap dan alisnya yang putih berdiri. Sambil mengepos sisa tenaganya yang penghabisan, ia membentak, “Bocah! Kau mulailah!”

Tetua Khong Ting itu mengerti, bahwa sesungguhnya kehabisan tenaga, dalam beberapa jurus saja In Thian Ceng akan roboh sendiri. Maka itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, ia segera melompat kebelakang musuhnya dan mengirim tinju kepunggung Peh bie Eng ong. In Thian Ceng mengengos dan menangkis, tapi Tong Boen Liang sudah melompat k esamping dengan gerakan yang sangat gesit.

Benar saja, baru beberapa gebrakan mata In Thian Ceng gelap dan memuntahkan darah dari mulutnya. Badannya tergoyang-goyang tanpa tercegah lagi, ia jatuh duduk.

Tong Boen Liang girang, “In Thian Ceng! Hari ini kau mampus dalam tanganku!” teriaknya seraya melompat keatas.

Melihat Tong Boen Liang melompat tinggi dan dari atas menghantam kebawah, Boe Kie terkesiap dan mengambil keputusan untuk menolong kakeknya. Tapi sebelum ia bergerak, In Thian Liang sudah mengangkat tangan kanannya dalam suatu gerakan menyeramkan untuk menyambut musuhnya. Tong Boen Liang sudah tak dapat mengelakan sambutan itu.

“Krek!….krek!” kedua tangan jago Khong tong itu patah karena pukulan Eng Jiauw Kim nao hioe. Sekali lagi terdengar “krek-krek” dan tulang kedua betisnya pun turut patah. Ia jatuh ambruk tanpa bisa bergerak lagi.

Semua orang mengawasi dengan mata membelak. Mereka tak pernah menduga, bahwa sesudah terluka berat, In Thian Ceng masih bisa berbuat begitu.

Dengan robohnya tetua mereka yang ketiga, orang-orang Khong tong tentu saja merasa malu. Karena Khong Tong Boen Liang menggeletak di dekat Peh bie Eng ong, tiada seorang pun yang berani maju menolong.

Sesudah berselang beberapa saat dari barisan Khong tong barulah keluar seorang tua bongkok yang bertubuh tinggi besar. Sambil menendang sebutir batu ke arah In Thian Ceng ia membentak, “Peh Bie Lonh Jie! Biarlah aku si orang she Cong membereskan perhitungan lama denganmu.”

Orang itu she Cong bernama Wie Hiap, tetua kedua dari Khong tong Ngoloo. Dengan menyebutkan “perhitungan lama”, dapatlah diketahui bahwa dahulu ia sudah pernah dirobohkan oleh In Thian Ceng.

“Tak!” batu yang di tendang Cong Wie Hiap mampir tepat di dagu In Thian Ceng yang lantas saja mengucur darah. Semua orang terkejut, terhitung Cong Wie Hiap sendiri, yang sama sekali tidak menduga, bahwa batu itu bisa melukakan musuhnya.

Sekarang ia tahu, bahwa In Thian Ceng tidak berdaya lagi, dan satu pukulan saja sudah cukup untuk membinasakannya. Ia maju seraya mengangkat tangannya.

Tiba-tiba dari barisan Boe tong pay melompat keluar seorang yang menghadang di hadapannya. Orang itu yang berparas angker dan mengenakan jubah panjang yang terbuat dari kain kasar, bukan lain daripada Boe tong Jie hiap Jie Lian Cioe.

Sambil menjura Jie hiap berkata, “Cong Heng In Kauwcoe terluka berat, sehingga biarpun kau menang, kemenangan itu bukan kemenangan gemilang. Dengan partai kami, In Kauw Coe ia mempunyai perhitungan-perhitungan yang belum dibereskan. Maka itu, siauwtee harap Cong heng suka menyerahkannya kepada siauwtee.”

Cong Wie Hiap mengeluarkan suara di hidung. “Terluka berat?” ia menegas. “Huh-huh! Dia berlagak mampus. Kalau tadi dia tidak berpura-pura, Tong Sam Tee tentu tidak sampai celaka. Jie Jie Hiap, kau mengatakan partaimu memiliki perhitungan dengan dia. Akupun mempunyai perhitungan dengan dia. Aku akan menyerahkan dia kepadamu, sesudah menghajarnya tiga kali…”

Jie Lian Cioe yang ingin menolong In Thiang Ceng, lantas saja berkata. “Cit siang koen dari Cong Heng tersohor dalam rimba persilatan. Dalam keadaan begini, mana bisa In Kauw Coe menerima tiga pukulanmu?”

Paras muka jago Khong tong itu lantas saja berubah. “Kalau begitu, begini saja,” katanya dengan suara mendongkol. “Dia telah mematahkan kaki tangan Tong Sam Tee. Aku akan mematahkan juga kaki tangannya. Ini yang dinamakan pembayaran tunai.”

Jie Lian Cioe kelihatan bersangsi.

“Jie Jie hiap!” bentak Cong Wie Hiap. “Sebelum berangkat ke See heek, enam partai telah membuat perserikatan dengan sumpah yang berat. Mengapa kau sekarang ingin melindungi si tua bangka dari Mo Kauw itu?”

Jie hiap menghela napas. “Baiklah, sekarang kau boleh berbuat sesukamu,” katanya. “Sesudah kembali di Tiong goan, aku akan minta pengajaran dari Cit Siang Koen mu.”

Cong Wie Hiap kaget. Ia tak mengerti mengapa Jie Lian Cioe coba menolong In Thian Ceng. Ia merasa jeri terhadap Boe tong pay, tapi di hadapan banyak orang, ia tak mau memperlihatkan kelemahannya. Seraya tertawa dingin, dia berkata. “Di dalam dunia, orang tidak boleh melampui kepantasan. Biarpun Boe tong pay lebih kuat daripada sekarang, ia tidak boleh berbuat sewenang-wenang.”

Perkataan itu sangat kejam, secara langsung menyeret nama partai dan secara tidak langsung menyentuh sama Thio Sam Hong sendiri. Song Wan Kiauw mendongkol. “Jie tee!” seruanya. “Biarkan dia berbuat sesukanya!”

“Baiklah,” jawab si adik. “Sungguh seorang gagah sejati! Sungguh seorang gagah sejati!”

Perkataan itu seperti juga mau memuji In Thian Ceng dan mengejek Cong Wie Hiap. Tetapi karena tidak mau bermusuhan dengan Boe Tong Pay, tetua Khong tong itu berlagak tidak mengerti. Begitu lekas Jie Lian Cioe mundur, ia segera maju mendekati korbannya.

Sementara itu, Kong tie Taysoe mengeluarkan perintah dengan suara yang sangat lantang. “Aku minta Hwa san pay dan Khong tong pay membinasakan sisa kawanan Mo kauw yang berada di lapangan ini. Boe tong pay menggeledah di sebelah barat dan Go Bie Pay menggeledah di sebelah timur. Seorangpun tidak boleh terlolos. Koen Loen Pay menyediakan bahan-bahan api untuk membakar sarang Mo-Kauw.”

Sesudah membagi tugas kepada lima partai, ia merangkap kedua tangannya, seraya berkata, “Aku minta murid2 Siauw Lim Sie menyediakan alat-alat sembahyang dan membaca kitab suci, supaya para enghiong dari enam partai dan para pengikut Mo Kauw yang sudah meninggal dunia, bisa mendapat temapt yang lapang dialam baqa dan supaya hutang piutang ini bisa berakhir sampai disini.

Selagi Kong tie mengeluarkan perintah, Cong Wie Hiap menghentikan tindakannya dan turut mendengari. Sesaat kemudian, ia maju lagi. Semua orang menahan napas. Begitu lekas pukulan dikirim, In Thian Ceng akan binasa dan usaha membasmi Mo Kauw turut selesai.

Pada detik menghadapi kemusnahan, kecuali yang terluka berat dan tidak bisa bergerak lagi, semua anggauta Beng kauw segera bersila di lantai dengan kedua tangan yang sepuluh jarinya terpentang itu merupakan simbol dari api yang berkobar-kobar.

Sambil memeramkan mata, mereka mengikuti yo Siauw mendia menurut cara Beng Kauw:

“Membakar ragaku,
Api nan suci,
Hidup, apa senangnya,
Mati, apa susahnya”
Untuk kebaikan menyingkirkan kejahatan,
Guna kegemilangan Beng Kauw,
Kesenangan dan kedukaan,
Semua berpulang kedalam tanah,
Kasihan manusia dalam dunia,
Banyak yang menderita!
Kasihan manusia dalam dunia,
Banyak yang menderita!”

Dalam mengucapkan doa itu, dari Yo Siauw yang berkedudukan paling tinggi sampai pada pegawai daput yang berkedudukan paling rendah sedikitpun tidak mengujuk rasa takut, suara mereka lantang dan sikap merekapun angker.

Jie Lian Cioe mendengari dengan hati berduka. Ia merasa bahwa mereka yang bisa bersikap tabah dalam menghadapi kebinasaan dan bahkan masih bisa berkasihan terhadap manusia yang hidup menderita, adalah orang-orang gagah yang mulia.

“Pendiri Beng Kauw seorang mulia, hanya sayang pengikut-pengikut nya yang belakangan menyeleweng dari jalan yang benar!” katanya didalam hati

Sementara Boe Kie yang semula merasa keder sebab menghadapi begitu banyak orang, sekarang menjadi nekad. Ia nekad karena Cong Wie Hiap sudah mendekati kakeknya dan Kong tie sudah mengeluarkan perintah untuk membunuh sisa anggota Beng Kauw.

Dengan sekali melompat ia sudah menghadang di depang Cong Wie Hiap. “Tahan!” bentaknya. “Kau ingin membunuh seorang yang sudah terluka berat apa kau tidak takut ditertawai?” Ia membentak dengan bernafsu, sehinga suara menggeledek dan menggetarkan seluruh lapangan. Semua orang yang sudah bergerak untuk menjalankan perintah Kong Tie, serentak menghentikan serangannya dan mengawasi pemuda itu.

Melihat, bahwa yang mencegatnya tak lebih daripada seorang pemuda yang berpakaian compang-camping, Cong Wie Hiap bersenyum tawar dan segera mendorong Boe Kie, yang lantas mengengos seraya menyampok dengan tangannya.

“Plak!”

Cong Wie Hiap terhuyung tiga tindak. Secepat kilat ia mengerahkan tenaga kedua kakinya supya bisa berdiri tetap. Tapi di luar dugaan, gelombang tenaga Boe Kie terus mendorongnya sehingga tubuhnya terjengkang. Sebagai seorang ahli silat, dalam bahaya, buru-buru ia menotol tanah dnegan kaki kanannya dan badannya lantas saja melesak ke belakang setombak lebih. Tapi, waktu kedua kakinya hinggak di tanah, gelombang tenaga itu masih belum mereda, sehingga ia kembali terhuyung tujuh delapan tindak!

Itulah kejadian yang betul-betul diluar dugaan. Semua orang tidak mengerti sebab musababnya. Mereka mengira Cong Wie Hiap sengaja main gila atau berguyon. Cong Wie Hiap sendiri tak pernah mimpi, pemuda situ bertenaga sedemikian besar.

Sesudah mengumpukan semangatnya, Cong Wie Hiap mengawasi Jie Lian Cioe dengan mata melotot. “Lelaki harus berterang!” teriaknya. “Tak boleh menyerang orang dengan panah gelap!” Ia menaksir, bahwa tadi Jie Lian Cioe memberi bantuan secara menggelap atau mungkin sekali bantuan itu diberikan oleh kelima pendeta Boe tong dengan serentak. Sebab tak bisa jadi seorang manusia mempunyai tenaga yang begitu besar.

Jie Lian Cioe bingung, tapi karena tak merasa bersalah, ia tak mempedulikan dan hanya balas melotot, “Gila betul!” katanya dalam hati.

Sementara Cong Wie Hiap sudah maju mendekati Boe Kie dan membentak seraya menuding, “Bocah siapa kau?”

“Aku Can A Goe,” jawabnya seraya mengangsurkan tangan dan menempelkannya di leng tay hiat di punggung In Thian Ceng. Gelombang tenaga yang berhawa panas lantas saja menerobos masuk ke dalam tubuh si kakek. Jago tua itu membuka kedua matanya yang mengawasi Boe Kie yang membalas dengan senyuman sambil menambah tenaganya. In Thian Ceng heran tak kepalang. Tenaga itu sangat menakjubkan. Sebelum Cong Wie Hiap tiba dihadapkannya, dada dan tantiannya yang menyesak sudah lega kembali. “Terima kasih sahabat kecil,” bisiknya.

Dengan gagah ia melompat bangun dan berkata dengan suara lantang. “Orang she Cong! Apa jempolnya Cit Siang Koen dari Khong tong pay? Aku bersedia untuk menerima tiga serangmu.”

Ceng Wie Hiap bangun. Ia tak nyana lawannya bisa segera berangkat dengan semangat penuh. Bagaimana bisa jadi begitu? Hatinya lantas saja merasa jeri, terutama terhadap Eng Jiauw Kim Na Chioe yang sangat lihai.

“Memang Cit siang koen tak dapat dikatakan jempol!” katanya. “Baik. Kau terimalah tiga tinjuku, ” dalam hati ia mengambil keputusan untuk mengadu Lweekang, supaya pertandingan yang lama, tenaganya yang masih segar akan dapat mengalahkan lawan yang sudah payah.

Mendenger disebutkannya Cit Siangkoen, di depan mata Boe Kie segera terbayang kejadian pada malam itu di pulau Peng hweeto, di mana ayah angkatnya telah menceritakan peristiwa kebinasaan Kong Kian Tayeoe akibat pukulan Cit Siangkoen. Belakangan ia sendiri disuruh menghafal teori Cit Siangkoen dan pernah digaplok beberapa kali oleh ayah angkat itu sebab tidak bisa menghafal lancar. Ia ingat pula teori ilmu pukulan tersebut dan… ia sekarang mengerti artinya teori itu. Ia heran tak kepalang. Mengapa ia jadi begitu cerdas!

Ia tak tahu, bahwa sebab-musababnya terletak pada kenyataan, bahwa ia sudah mahir dalam Kioe yang dan Kim koen Tay lo ie Sing kang. Kioe yang meliputi segala rupa lweekang yang terdapat di seluruh rimba persilatan, sedang Kiam koen tay lo ie ialah ilmu untuk mengerahkan tenaga dalam dan menggunakannya. Dengan demikian, sesudah dapat memahami kedua Sing kang yang tertinggi itu, lain-lain ilmu silat sudah tak jadi soal baginya.

“Jangankan tiga, tiga puluh tinjupun akan kuterima,” kata In Thian Ceng. Ia berpaling pda Kong tie dan berkata dengan suara lantang, “Kong Tie Taysoe, sebelum mati, aku belum menyerah kalah! Apakah kau mau berbuat sewenang-wenang dengan mengunakan jumlah yang besar?”

Ternyata pada waktu tiba di Kong Beng Teng melihat Yo Siauw dan beberapa tokoh lain sudah terluka, dengan menggunakan kata-kataa tajam In Thian Ceng berhasil mencegah pengeroyokan kepada pihaknya. Sesuai dengan kebiasaan dalam rimba persilatan, Kung tie Taysoe telah menyetujui untuk mengadu kekuatan dengan satu melawan satu. Tapi pada akhirnya jago-jago Peh Bie Kauw dan Ngo heng Kie roboh semua, kalau tidak mati terluka hebat, dan yang ketinggalan hanyalah si kakek sendiri. Tapi sebegitu lama In Thian Ceng masih belum menyerah, Kong tie memang tidak boleh memerintahkan pembasmian.

Boe Kie tahu, bahwa biarpun keadaannya sudah banyak mendingan, kakeknya tidak boleh menggunakan terlalu banyak tenaga. Kegagahan orang tua itu terhadap Cong Wie hiap telah didorong oleh tekad untuk berkelahi sampai binasa. Maka itu, ia segera berbisik, “In locianpwee, biarlah aku yang maju lebih dahulu. Jika aku kalah, barulah locianpwee maju.”

Si kakek yakin, bahwa lweekang pemuda itu, tinggi luar biasa dan dalam keadaan segar, ia tidak akan bisa menandinginya. Akan tetapi merasa bahwa ia berkewajiban untuk membela Beng kau dengan jiwanya, sedang pemuda itu yang mungkin tak punya sangkut-paut dengan Beng Kauw tidak pantas untuk berkorban. Ia tahu bahwa biarpun lihai, Boe Kie tak akan bisa melayani lawan yang berjumlah begitu besar. Mana bisa ia membiarkan seorang pemuda yang begitu mulia membuang jiwa secara cuma-cuma di atas Keng beng Teng?

Memikir begitu, ia lantas saja bertanya, “Sahabat kecil, bolehkah aku tahu partai atau rumah perguruanmu? Kau kelihatannya bukan anggota agama kami. Benarkah begitu?”

“Boanpwee memang bukan anggota Beng Kauw,” jawabnya. “Tapi sudah lama boanpwee mengagumi loocianpwee dan hari ini kita berdua akan melawan musuh bersama-sama.”

In Thian Ceng heran tak kepalang, tapi sebelum ia keburu menanya lagi, Cong Wie Hiap sudah maju sambil berteriak, “Orang she In, sambutlah tinju pertama!”

“Tahan!” bentak Boe Kie, “In Loocianpwee mengatakan, bahwa kedudukanmu belum cukup tinggi untuk bertanding dengannya. Kalau kau bisa menangkan aku, barulah ia akan melayani kau.”

“Siapa kau!” bentak Cong Wie Hiap dengan gusar. “Bocah, kau sungguh tak menggenal mampus! Apa kau mau berkenalan dengan kelihaian Cit Siang Koe dari Khong tong pay?”

Tiba-tiba serupa pikiran berkelebat dalam otaknya Boe Kie. “Untuk mendamaikan kedua belah pihak, jalan satu-satunya ialah membuka rahasia kebusukan Goan Tin,” pikirnya. “Kalau menggunakan kekerasan, mana dapat aku melawan jago-jago dari enam partai. Apapula para pamanku juga berada di sini. Mana bisa aku berhadapan dengan mereka sebagai musuh?”

Sesudah memikir sejenak, ia segera berkata dengan suara nyaring. “Kelihaian Cit Siang koang dari Khong tong pay sudah diketahui olehku lama sekali. Bukankah pendeta suci Siauw Lim Pay, Kong Kian Tay soe, juga binasa karena pukulan itu?”

Pernyataan itu menggemparkan barisan Siauw Lim Pay. Sepanjang pengetahuan mereka, Kong Kian Tay soe binasa dalam tangan Cia Soen. Turut sertanya Siauw Lim Pay dalam gerakan membasmi Beng Kauw juga bertujuan untuk membalas sakit hati ini. Tapi dalam pemeriksaan jenazah Kong Kian yang bebas dari tanda-tanda luka, urat-uratnya terputus dan tulang-tulangnya patah, seperti dipukul Cit siang koen dari Khong tong pay.

Waktu itu, selama beberapa hari Kong Beon, Kong Tie dan Kong Seng mengadakan perdamaian rahasia. Mereka menganggap bahwa Khong tong pay tidak mempunyai jago yang berkepandaian begitu tinggi, sehingga dapat membinasakan Kong kian yang sudah berhasil dalam latihan Kim Kong Poet hoay tei Sin Kang.

Maka itu, biarpun ada tanda-tanda sangat mencurigakan, mereka merasa bahwa pendeta suci itu bukan dibinasakan oleh orang Khong tong pay. Belakangan dengan membawa murid-muridnya Kong Seng membuat penyelidikan. Dari penyelidikan itu, mereka mendapat kepastian, bahwa waktu Kong kian meninggal dunia di Lok Yang, Khong tong Ngo Loo berada di dearah barat daya, sehingga pembunuhan itu sudah tentu bukan dilakukan oleh kelima tetua tersebut. Sebab dalam Khong tong pay, hanya Ngo Loo yang sekiranya bisa melukakan Kong Kian, maka kecurigaan Siam Lim pay lantas saja hilang.

Di samping itu, pada tembok rumah pengindapan di Lok Yang juga terdapat tulisan di tembok yang berbunyi “Seng Koen membinasakan Kong Kian Taysoe.” Belakangan Siauw lim pay tahu, bahwa orang yang menggunakan nama Seng Koen adalah Cia Soen.

Sesudah lewat banyak tahun, tiba-tiba Boe Kie menyebutkan lagi kejadian itu, sehingga dapatlah dimengerti jika orang-orang Siauw Lim Pay menjadi kaget.

“Kong kian Taysoe telah dibunuh oleh bangsat Cia Soen dan kenyataan ini diketahui di seluruh kalangan kang ouw,” kata Cong Wie Hiap dengan gusar. “Dengan Khong tong pay, kejadian itu tiada sangkut pautnya.”

“Apakah kau menyaksikan dengan mata sendiri pada waktu Cia Cianpwee membinasakan Kong kian Seng ceng?” tanya Boe Kie. “Apakah kau berada di tempat itu?”

Mendengar pertanyaan itu, Cong Wie lantas saja menduga, bahwa Boe Kie disuruh Boe Tong pay untuk merenggangkan perhubungan antar Khong tong dan Siauw lim pay. Karena itu, ia lantas saja berhati-hati.

“Waktu Kong tian Seng Ceng meninggal dunia, Lok yang Khong thong Ngo Loo berada di Inlam, sebagai tamu Lioe Tayhiap dari Tiam Cong pay,” jawabnya dengan sungguh-sungguh. “Cara bagaimana bisa berada di tempat pembunuhan?”

“Maka itu,” teriak Boe Kie, “Kalau benar waktu itu kau berada di In lam, cara bagaimana kau bisa mengatakan dengan pasti, bahwa Kong kian Seng Ceng dibunuh Cia Cianpwee? Adalah sebuat kenyataan yang tidak bisa dibantah lagi, bahwa Kong kian Taysu binasa karena pukulan Cit siang koen. Cia Cianpwee bukan orang Khong tong pay. Mana boleh kau menuduh orang secara serampangan?”

Cong Wie Hiap merasa dadanya seolah olah mau meledak. “Tutup mulut!” bentaknya. “Sesudah membunuh Kong Kian taysoe, di atas tembok binatang Cia Soen menulis huruf-huruf seperti berikut: ‘Seng Koen membinasakan Kong kian Taysoe’. Huruf-huruf itu ditulis dengan darah. Sesudah diketahui umum, bahwa dengan menggunakan nama gurunya, Cia Soen sudah melakukan pembunuhan di berbagai tempat.”

Boe Kie terkejut karena ia tak tahu bahwa sesudah membunuh Kong kian, ayah angkatnya menulis kata-kata itu di tembok. Tapi ia lantas saja mendongak dan tertawa terbahak bahak, “perkataan itu bisa ditulis oleh siapapun jua,” katanya.

“Siapa yang lihat bahwa huruf-huruf itu ditulis oleh Cia Cianpwee? Aku pun bisa mengatakan bahwa huruf-huruf itu ditulis oleh orang Khong tong pay. Tapi belajar Cit siang koan tidak semudah menulis.”

Ia menengok ke arah Kong tie and berkata pula, “Kong tie taysoe, bukankah soohengmu binasa karena pukulan Cit siang koen? Apakah tidak benar jika aku mengatakan, bahwa Cit Siang koen serupa ilmu yang tidak pernah diturunkan oleh orang partai Kong tong pay?”

Sebelum Kong tie menjawab seorang pendeta yang bertubuh besar tinggi dan mengenakan jubah warna merah tiba-tiba melompat keluar dari barisan Siauw Lim Pay. Seraya memukulkan sianthungnya (tongkat pertapaan) yang bersinar keemas-emasan di bumi, ia membentak, “Bocah suruhan siapa kau? Apakah manusia serendah kau mau coba mengadu lidah dengan guruku?”

Boe Kie mengawasi dan segera mengenali, bahwa pendeta itu adalah salah seorang dari delapan belas loo han yang bernama Goan Im. Dahulu, pada waktu Siauw Lim pay turut datang di Boe Tong untuk mendesak orang tuanya, pendeta itulah yang sudah memberi kesaksian, bahwa beberapa murid Siauw lim sie telah dibinasakan oleh mendiang ayahnya.

Waktu itu, dalam kedukaan yang sangat besar, ia memperhatikan muka setiap orang dan menyimpan di dalam otaknya. Sekarang begitu melihat Goan Im darahnya bergolak-golak, paras mukanya merah padam dan badannya gemetaran. Sekuat tenaga ia menindih kegusarannya yang sudah mendekat kekalapan.

“Boe Kie! Boe Kie!” serunya di dalam hati. “Tugasmu di hari ini adalah mendamaikan permusuhan di antara enam partai dan Beng Kauw. Kau tak boleh merusak segala apa karena kepentingan pribadi. Sakit hati terhadap Siauw Lim pay dapat dibereskan di hari kemudian.”

Karena pertanyaannya tidak segera dijawab, Goan Im membentak pula. “Bocah! Jika kau kaki tangan Mo Kauw, panjangkan lehermu untuk menerima kebinasaan! Tapi kalau kau tiada sangkut-pautnya dengan agama siluman itu, menyingkirlah dari gunung ini secepat mungkin. Sebagai orang pertapaan, kami takkan mencelakai kau.” Ia berkata begitu sebab melihat Boe Kie tak mengenakan seragam Beng Kauw dan juga karena pemuda itu bergemetaran badannya yang ditafsirkan olehnya sebagai rasa ketakutan.

“Bukankah kau Goan Im Taysoe?” tanya Boe Kie. “Dalam partaimu terdapat seorang yang dikenal sebagai Goan Tin Taysoe. Cobalah minta keluar. Aku ingin ajukan beberapa pertanyaan.”

“Goan tin Soeheng tidak turut datang ke sini” jawabnya. “Jika kau ingin bicara lekaslah. Kami tak punya banyak waktu untuk mendengari segala obrolanmu. Siapakah gurumu?” Ia menanya begitu karena turut menyaksikan terhuyungnya Cong Wie Hiap karena sampokan Boe Kie. Ia tahu, bahwa guru pemuda itu bukan sembarangan orang. Kalau bukan memikir begitu, ia tentu tak sudi rewel-rewel pada saat berhasilnya usaha keenam partai.

“Aku bukan mengikuti Beng kauw dan juga bukan murid dari sesuatu partai di daerah Tiong goan,” kata Boe Kie. “Akan tetapi, aku mempunyai sangkut paut dengan Beng Kauw, Boe Tong, Siauw Lim, Go Bie, Koen Loen dan Hwa san pay. Untuk bicara terus terang, gerakan enam partai untuk membalas Beng Kauw adalah karena perbuatan seorang jahat. Di dalam itu terselip suatu salah mengerti yang sangat hebat. Biarpun masih berusia muda, aku tahu seluk beluk persoalannya. Maka itu, dengan memberanikan hati aku minta kedua belah pihak menghentikan pertempuran, menyelidiki soal ini sampai ke dasar-dasarnya, supaya siapa yang salah, siapa yang benar menjadi terang, dan kemudian membereskan permusuhan ini seadil-adilnya.”

Pernyataan Boe Kie itu disambut dengan gelak tertahan, ejekan dan jengekan. “Ha…ha…ha… He…he…he…he… Hi…hi…hi…” mereka tertawa terbahak-bahak, dan ejekan-ejekan berkumandang di seluruh lapangan.

“Bocah itu tentunya sudah gila!”

“Otaknya miring! Dia rupanya mengganggap dirinya seperti Thio Cinjin dari Boe Tong pay atau Kong Beon Seng ceng dari Siauw Lim Pay!”

“Dia mimpi memperoleh To Ling To dan menjadi yang termulia dalam rimba persilatan!”

“Ha…ha…ha…! Dia anggap kita seperti anak kecil. Aduh! Aku tertawa sampai perutku sakit.”

“Ho…ho…ho…Hi…hi…hi…!”

Dalam Go Bie Pay hanya seorang, yaitu Cioe Cie Jiak, yang tidak membuka mulut. Dengan rasa duka, ia mengerutkan alis. Semenjak bertemu dengan Boe Kie di gurun pasir, ia merasa rapat hati dengan pemuda itu. Mendengar ejekan-ejekan itu, ia turut merasa malu. Tapi waktu ia melirik, pemuda itu berdiri tegak sambil mengangkat kepala. Sikapnya angker dan tenang.

Tiba-tiba Boe Kie berkata dengan suara nyaring. “Asal Goan Tin Taysoe dari Siauw Lim pay mau munculkan diri dan bicara beberapa patah kata denganku, segala tipu jahatnya segera akan bisa diketahui oleh kalian.” Ia berkata sepatah demi sepatah dan meskipun suara tertawa dan ejekan masih belum mereda, setiap perkatannya dapat didengar jelas sekali oleh setiap orang yang di lapangan yang luas itu. Semua orang terkejut dan suara ramai lantas saja mereda. Mereka tak nyana bahwa pemuda itu mempunyai Lweekang yang begitu tinggi.

“Bocah, kau sungguh licin!” bentak Goan Im. “Kau tahu, bahwa Goan tin Soeheng tidak berada di sini dan kau sengaja menyeretnya. Mengapa kau tidak mengambil Thio Coei San dari Boetong untuk dijadikan pesakitan?”

Ejekan menusuk itu disambut dengan segalak tertawa oleh orang banyak, sedang murid-murid Boe tong serentak saja berubah paras mukanya.

“Goan Im, hati-hati bila bicara!” bentak Kong tie.

Mengapa Goan Im mengejek Thio Coei San? Karena ia merasa sakit hati terhadap Thio Ngo hiap. Ia menganggap Thio Ngo hiap yang sudah membutakan mata kanannya dengan senjata rahasia di pinggir telaga, padahal perbuatan itu dilakukan oleh In So So.

Mendengar cacian terhadap mendiang ayahnya, tak kepalang gusarnya Boe Kie.

“Apa kau dapat menodai nama baiknya Thio Ngo Hiap?” bentaknya. “Kau…kau…”

Goan Im tertawa dingin. “Thio Coei San cari penyakit sendiri dan dibikin mabuk oleh perempuan siluman,” katanya. “Dia mendapat pembalasan setimpal karena paras cantik…”

Itulah melampai batas!

Sekuat tenaga Boe Kie menindih amarahnya. Berulang kali ia berkata di dalam hati. “Boe Kie! Boe Kie! Ingatlah tugasmu yang suci!”

Tapi ia gagal (matanya berkunang kunang dan ia kalap)

Dengan sekali melompat, tangan kanannya sudah mencengkram pinggang si pendeta yang lalu diangkat ke atas, sedang tangan kirinya merampas sian thung! Menghadapi Boe Kie, Goan Im seolah-olah anak itik menghadapi elang. Sedikitpun ia tak bisa melawan.

Hampir berbareng, dua pendeta melompat dari barisan Siauw Lim Pay dan menyabet Boe Kie dari kiri kanan dengan sin thung mereka. Itulah cara terbaik untuk menolong orang, serupa siasat yang dikenal sebagai, “Menyerang Goei untuk menolong Toi”. Dengan siasat itu, musuh yang diserang harus menolong diri dan sebab musuh harus menolong diri, maka kawan yang menghadapi bencana dengan sendirinya dapat ditolong. Kedua pendeta itu adalah Goan tin dan Goan hiap.

Tapi Boe Kie lihai luar biasa. Begitu merasai kesiuran angin, dengan tangan kiri ia menenteng Goan Im dan tangan kanan mencekal sin thung, ia melompat tinggi dan menotol sin thung Goan tin dan Goan hiap dengan kedua ujung kakinya.

Sungguh dahsyat totolan itu! Goan Tin dan Goan Hiap serentak jatuh terjengkal! Untung juga tongkatnya tak menghantam kepala sendiri.

Semua orang mengeluarkan teriakan tertahan!

Di lain saat, bagaikan daun kering yang melayang, Boe Kie hinggap di muka bumi.

“Tee in ciong dari Boe tong pay!” seru beberapa orang.

(Tee in cion = Lompatan Tenaga Awan)

Memang benar lompatan Boe Kie adalah Tee In Ciong yang tersohor dalam rimba persilatan. Diw aktu kecil, Boe Kie mengikuti ayah, Thay soehoe dan para pamannya.

Sehingga biarpun belum pernah belajar ilmu silat Boe tong secara resmi, ia sudah banyak mendengar dan melihat. Sesudah memiliki Kian koen tay lo ie sin kang, dengan mudah ia mengolah segala rupa ilmu silat. Tadi, secara mendadak ia ingat lompatan Tee in ciong dan waktu menjajalnya, ia berhasil secara wajar.

Pendekar-pendekar Boe Tong, seperti Jie Liao Cioe, Boh Seng Kok dan yang lain-lain, tentu saja mahir dalam ilmu ringan badan itu. Mereka bisa melayang-layang di tengah udara, bagaikan burung. Tapi melakukan lompatan Tee in ciong sambil menenteng seorang dewasa yang bertubuh besar berat, adalah di luar kemampuan mereka.

Sementara itu, sambil menahan napas orang-orang Siauw Lim Pay mengawasi Goan Im yang berada dalam tangan Boe Kie. Dengan sekali mengemplang, pemuda itu bisa menghancurkan kepala si pendeta. Mereka tidak akan keburu menolong sebab Goan Im berada dalam jarak tujuh delapan tombak.

Jalan satu-satunnya ialah menimpuk dengan senjata rahasia. Tetapi jalan itupun tak mungkin digunakan, sebab Boe Kie bisa menggunakan tubuh Goan Im sebagai tameng, sehingga senjata rahasia akan berbalik mencelakai pendeta itu sendiri. Demikianlah, meskipun di dalam barisan Siauw Lim terdapat Kong tie dan Kong Seng yang berkepandaian tinggi, mereka tidak berdaya.

Dengan mata menyala dan menggertak gigi Boe Kie menggangkat Sian Thung. Hati semua murid Siauw Lim mencelos, beberapa diantaranya meramkan mata karena tak tega menyaksikan kebinasaan Goan Im.

Di luar dugaan, tangan yang sudah terangkat berhenti di tengah udara. Untuk beberapa saat, Boe Kie mengawasi korbannya dengan paras muka yang sukar dilukiskan. Perlahan-lahan kegusarannya mereda dan perlahan-lahan pula ia melepaskan Goan Im dari cekalannya.

Ternyata, pada detik yang sangat genting tiba-tiba pemuda itu dapat menguasai dirinya. “Begitu lekas aku bunuh salah seorang dari rombongan enam partai itu, aku bermusuhan dengan mereka semua dan aku tak dapa memainkan peranan sebagai pendamai lagi.” Pikirnya. “Jika aku gagal, permusuhan hebat ini tidak akan bisa dibereskan lagi.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: