Kumpulan Cerita Silat

19/08/2008

Kisah Membunuh Naga (39)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:02 am

Kisah Membunuh Naga (39)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Tiba-tiba dari belakang batu terdengar suara Goan-tin. “Bangsat kecil! Hari ini aku mengubur engkau di dalam. Tapi untungnya masih bagus, kau mampus dengan ditemani seorang wanita. Biarpun kau bertenaga besar, aku mau lihat apa kau mampu menyingkirkan batu ini. Kalau satu tak cukup, aku akan menambah dengan satu lagi.”

Hampir berbarengan terdengar suara diangkatnya batu dengan semacam alat besi diikuti dengan bunyi yang sangat hebat. Goan-tin ternyata sudah melepaskan sebuah batu lagi yang jatuh di atas batu pertama.

Dengan gusar dan bingung Boe Kie meraba batu itu. Walaupun jalanan tak tertutup rapat tapi celah-celah di antara dinding dan batu raksasa itu paling besar hanya bisa masuk lengan. Badan manusia sudah pasti tak bisa lewat.

Sambil memompa semangat, ia mendorong sekuat-kuatnya, tapi batu itu sedikitpun tak bergeming. Kedua batu yang tersusun tindih itu beratnya berlaksa kati, tak bisa digeser oleh manusia manapun juga. Bahkan gajah takkan kuat untuk mendorongnya. Boe Kie berdiri terpaku, ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Di belakang batu terdengar suara nafas Goan-tin yang tersengal-sengal. Dalam keadaan terluka berat, sesudah menggerakkan kedua batu itu tenaganya habis. Selang beberapa saat, ia bertanya, “Bocah…Siapa…siapa namamu?.” Ia tak dapat meneruskan perkataannya.

“Andaikata ia sekarang berubah pikiran dan ingin menolong kami berdua, ia sudah tak bisa berbuat begitu,” kata Boe Kie dalam hati. “Sudahlah, buat apa aku meladeni dia. Paling baik aku cari jalan lain.” Berpikir begitu, ia memutar badan dan turun ke bawah mendekati nona.

“Aku punya bahan api, tapi tak punya lilin,” kata si pelayan kecil, “Kalau dinyalakan sebentar tentu sudah padam kembali.”

“Tunggu dulu,” kata Boe Kie sambil berjalan maju dengan perlahan. Sesudah berjalan beberapa puluh langkah, mereka tiba di ujung terowongan. Mereka meraba-raba, mendadak tangan Boe Kie menyentuh tahang kayu. “Ada jalan,” katanya dengan girang dan memukul hancur tahang itu dengan kedua tangannya.

Isi tahang yang menyerupai tepung, jatuh berhamburan. Ia mengambil sepotong papan dan berkata, “Coba nyalakan api.”

Nona kecil itu lalu mengeluarkan baja pencetus api, batu api dan sumbu. Dengan cepat ia membuat api dan menyulut potongan kayu itu. Mendadak api itu menyala di potongan kayu yang lantas saja terbakar, sedang hidung mereka mengendus bau belerang. Mereka terkejut.

“Bahan peledak!” seru si nona seraya mengangkat tinggi-tinggi potongan kayu yang sudah menyala itu. Mereka lantas saja mendapati kenyataan bahwa isi tahang itu ternyata bahan peledak yang berwarna hitam. Si nona tertawa dan berkata dengan suara pelan. “Bila barusan letusan api menyambar ke tumpukan bahan peledak itu, hwee-shio jahat yang berada di luar akan turut binasa bersama-sama kita.” Seraya berkata begitu, ia menengok ke arah Boe Kie yang tengah mengawasinya dengan mata membelalak.

“Mengapa?” tanyanya tertawa.

“Ah…Kalau begitu, kau…kau…sangat cantik,” kata Boe Kie.

Si nona tertawa geli sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan. “Karena kaget aku melupakan samaranku,” katanya. Ia meluruskan pinggangnya dan ternyata bahwa ia bukan saja tak bongkok tapi juga tak pincang.

Dengan sinar mata yang terang, alis yang kecil bengkok, hidung mancung dan lekuk pada pipinya, ia seorang wanita yang sangat ayu. Hanya sebab masih berusia muda dan tubuhnya belum cukup besar maka kecantikannya itu, ia kelihatannya masih kekanak-kanakan.

“Memang kau menyamar begitu?” kata Boe Kie.

“Siocia sangat membenci aku,” jawabnya. “Dengan melihat romanku jelek, ia merasa senang. Tanpa menyamar, aku tentu sudah mati.”

“Mengapa ia mau nyawamu?” tanya pemuda itu pula.

“Sebab ia selalu curiga,” sahutnya. “Ia kuatir aku akan membunuh ia dan Looya.”

“Gila!” kata Boe Kie, “Tadi waktu ia sudah tidak bisa bergerak, kau mencekal pedang tapi kau tidak mencelakai dia. Mulai dari sekarang ia pasti tak akan curiga lagi.”

Si nona tertawa kecil. “Dengan membawa kau kemari, Siocia tentu akan lebih curiga lagi,” katanya. “Tapi sudahlah! Perduli apa dia curiga atau tidak. Masih belum tentu, apa kita bisa keluar dari tempat ini.”

Dengan bantuan sinar obor, mereka ternyata berada di tempat yang menyerupai kamar batu di mana terdapat alat-alat senjata, busur dan anak panah yang sudah berkarat. Senjata-senjata itu rupanya disediakan untuk melawan musuh. Dinding di sekitar ruangan itu tertutup rapat. Sekarang mereka tahu bahwa Goan-tin sudah sengaja batuk-batuk untuk memancing mereka ke jalan buntu.

“Kongcoe, namaku Siauw Ciauw,” kata si nona memperkenalkan diri. “Kudengar Siocia memanggil Boe Kie Koko kepadamu. Kalau tak salah, namamu Boe Kie. Benarkah begitu?”

“Benar,” jawabnya. “Aku she Thio”.” Mendadak ia mengingat sesuatu. Ia mengambil sebatang tombak yang beratnya kira-kira empat puluh kati. “Bahan peledak ini mungkin bisa menolong kita,” katanya, “Bukan mustahil kita akan bisa menghancurkan batu besar itu.”

“Bagus, bagus!” seru Siauw Ciauw seraya menepuk-nepuk kedua tangannya. Tepukan tangan itu diiringi dengan suara kerincingan rantai.

“Rantai ini mengganggu gerakan tangan dan kakimu,” kata Boe Kie. “Sebaiknya diputuskan saja.”

“Jangan!” cegah si nona. “Looya bisa marah besar.”

“Aku tak takut. Katakan saja akulah yang memutuskannya,” kata Boe Kie. Sehabis berkata begitu sambil mengerahkan Lweekang, ia membetot rantai yang mengikat pergelangan tangan Siauw Ciauw. Rantai hanya sebesar batang sumpit dan tenaga betotan tak kurang dari tiga ratus kati. Tapi sungguh heran, rantai itu tidak bergeming dan hanya mengeluarkan suara “ngung” saja.

Boe Kie heran. Ia membetot lagi dengan menambah tenaga, tapi tetap tidak berhasil.

“Rantai ini memang sangat aneh, tak dapat diputuskan walaupun dengan menggunakan senjata mustika,” kata Siauw Ciauw. “Anak kuncinya berada dalam tangan Siocia.”

Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. “Kalau kita bisa keluar, aku akan minta anak kunci itu,” katanya.

“Ia tak akan memberikannya,” kata si nona.

“Tapi aku percaya, ia akan meluluskan permintaanku,” kata Boe Kie. “Hubunganku dengannya bukan hubungan biasa.” Sehabis berkata begitu, dengan membawa tombak ia pergi ke bawah batu besar. Untuk beberapa saat ia berdiri dan memasang kuping, suara nafas Goan-tin sudah tidak terdengar lagi, rupanya ia sudah pergi jauh.

“Mungkin kita tak bisa menghancurkan batu ini dengan satu ledakan,” kata Boe Kie yang dengan menggunakan ujung tombak lantas saja mulai membuat lubang di celah antara batu besar dan lantai terowongan. Ia kemudian mengisi lubang itu dengan bahan peledak dan memukul-mukulnya dengan kepala tombak supaya menjadi padat. Sesudah itu, ia menabur segaris bahan peledak dari lubang terus ke ruangan bawah. Garis bahan peledak itu hendak dijadikan semacam sumbu untuk peledakan.

Sesudah beres, Boe Kie lalu mengambil obor dari tangan si nona yang buru-buru menekap kuping dengan kedua tangannya. Dengan berdiri menghadang di depan Siauw Ciauw, Boe Kie segera menyulut “sumbu” itu.

Api menyala dan bagaikan kilat menyambar ke lubang yang berisi bahan peledak.
Dunggg!…Hawa panas menyambar, ruangan itu bergoncang! Boe Kie terhuyung dua langkah sedang Siauw Ciauw jatuh terjengkang. Obor padam dan asap memenuhi ruangan itu. Sambil membangunkan si nona, Boe Kie bertanya, “Siauw Ciauw, apa kau terluka?”

“Aku…aku…tak apa-apa,” jawabnya. Mendengar suara yang terputus-putus seperti orang bersedih, Boe Kie merasa heran. Waktu obor sudah dinyalakan lagi, ia melihat mata si nona mengembang air.

“Kau kenapa?” tanyanya.

“Thio Kongcoe,” sahutnya, “Kau belum pernah mengenal aku, tapi…tapi mengapa kau begitu baik terhadapku?”

“Apa?” tanya Boe Kie dengan rasa heran.

“Mengapa kau menghalangi aku?” kata Siauw Ciauw. “Aku adalah seorang budak yang kedudukannya sangat rendah. Kau…kau seorang yang mulia. Mengapa kau melindungi aku dengan menghadang di depanku?”

Pemuda itu tersenyum. “Kau seorang wanita dan adalah sepantasnya saja jika aku berusaha untuk melindungi keselamatanmu,” katanya.

Melihat asap sudah mulai menghilang, ia naik lagi ke atas untuk memeriksa hasil ledakan. Ternyata batu raksasa itu tidak bergeming dan hanya somplak di satu sudut. Dengan perasaan gelisah ia berkata, “Untuk membuat lubang yang cukup besar guna merangkak keluar, batu ini mungkin harus diledakkan tujuh atau delapan kali. Tapi sisa bahan peledak hanya cukup untuk kira-kira dua kali ledakan.” Seraya berkata begitu, ia mengangkat tombak dan mulai membuat sebuah lubang lain di celah antara dinding terowongan dan batu raksasa.

Mendadak pada waktu ujung tombak menyodok dinding, sepotong batu jatuh ke bawah dan terlihatlah lubang di dinding itu. Boe Kie kaget bercampur girang. Ia memasukkan sebelah tangan dan menggoyang-goyangkannya. Dinding itu bergerak sedikit. Ia menggerakkan tenaga dalam dan membetot. Ia berhasil membuat sepotong batu copot. Sesudah tiga potong batu copot, lubangnya sudah cukup besar untuk memuat badan manusia. ternyata di situ terdapat sebuah terowongan lain. Walaupun tidak dapat menghancurkan batu raksasa, ledakan tadi sudah melepaskan batu-batu dinding terowongan.

Dengan mencekal obor, Boe Kie masuk lebih dulu ke terowongan yang kedua dan kemudian menggapai Siauw Ciauw supaya si nona mengikuti masuk. Seperti yang pertama, jalanan ini berputar-putar bagaikan keong dan menurun ke bawah. Kali ini Boe Kie bertindak lebih hati-hati. Ia mencekal tombak erat-erat, siap sedia untuk menangkis bokongan Goan-tin.

Sesudah melalui kira-kira delapan puluh tombak mereka tiba di depan sebuah pintu batu. Boe Kie segera menyerahkan obor dan tombak kepada Siauw Ciauw dan sambil mengerahkan Lweekang, ia mendorong pintu yang segera saja terbuka.

Pintu itu adalah pintu sebuah kamar batu yang sangat besar. Boe Kie bertindak masuk dan mendadak ia melihat dua kerangka manusia. Pakaian kedua kerangka itu masih belum hancur, sehingga dapat diketahui bahwa mereka adalah seorang pria dan seorang wanita.

Siauw Ciauw agak takut dan ia mendekati kawannya.

Boe Kie mengangkat obor tinggi-tinggi dan meneliti keadaan di dalam kamar. “Mungkin kita berada di bagian paling ujung dari jalan rahasia ini,” katanya. “Apa masih ada jalan keluar?”

Dengan tombak ia mengetuk-ngetuk seluruh dinding tapi suara semuanya padat, tak ada yang kosong. Ia mendekati kedua kerangka itu, tangan kanan yang wanita mencekal sebatang pisau berkilauan yang menancap di dadanya.

Ia terkejut dan lantas teringat pengakuan Goan-tin yang mengatakan bahwa pada waktu ia mengadakan pertemuan rahasia dengan Yo Hoe-jin, pertemuan itu telah dipergoki oleh Yo Po Thian yang binasa karena gusar dan Yo Hoe-jin sendiri kemudian bunuh diri.

“Apakah kedua kerangka inii suami istri Yo Po Thian?” tanyanya dalam hati.

Ia mendekati kerangka lelaki, di samping kerangka tergeletak selembar kulit kambing yang lalu diambilnya dan diteliti. Di satu muka kulit itu berbulu, di lain muka licin dan mengkilat.

Siauw Ciauw turut mengawasi. Tiba-tiba dengan paras berseri-seri ia mengambil kulit itu dari tangan Boe Kie. “Selamat, Kongcoe!” katanya dengan suara girang. “Ini adalah ilmu silat tertinggi dari Beng-kauw.”

Sehabis berkata begitu ia menggoreskan jari tangannya di mata pisau yang menancap di dada Yo Hoe-jin dan kemudian mengoles darahnya di bagian kulit yang licin. Perlahan-lahan di atas kulit yang kena darah timbul huruf-huruf seperti berikut, “Beng-kauw Seng-hwee Sim-hoat Kian-koon Tay lo ie.” (Kian koen Tay lo ie, ilmu api suci dari agama Beng-kauw)

Tapi Boe Kie tak terlalu girang. “Di jalan rahasia ini tiada air dan tiada beras,” pikirnya. “Kalau tak bisa keluar, paling lama tujuh delapan hari, aku dan Siauw Ciauw akan mati kelaparan. Ilmu yang bagaimana tinggipun tiada gunanya.”

Ia melirik kedua kerangka itu dan bertanya pula dalam hatinya, “Mengapa Goan-tin tak mengambil kulit kambing itu. Mungkin sekali sesudah melakukan perbuatan terkutuk ia tak berani datang lagi. Ah! Ia tentu tak tahu bahwa Kian koen Tay lo ie Sim hoat tertulis di kulit itu. Kalau ia tahu, jangakan Yo Po Thian dan istrinya sudah meninggal dunia, sekalipun mereka masih hidup ia pasti akan datang mencurinya.”

“Siauw Ciauw, bagaimana kau tahu rahasia kulit kambing itu?”

“Aku mencuri dengar waktu Looya bicara dengan Siocia,” jawabnya. “Mereka berdua adalah murid-murid Beng-kauw dan mereka tak berani masuk ke sini untuk mengambilnya. Seperti Kongcoe ketahui, hanya seorang Kauwcoe yang boleh masuk ke jalan rahasia ini.”

Dengan rasa haru Boe Kie mengawasi kedua kerangka itu. “Sebaiknya kita menguburkan mereka,” katanya.

Bersama si nona, ia segera mengumpulkan batu-batu kecil dan pasir yang rontok karena ledakan tadi dan kemudian mendampingkan kedua kerangka itu. Mendadak Siauw Ciauw mengambil sesuatu dari kerangka Yo Po Thian. “Thio Kongcoe, sepucuk surat,” katanya.

Boe Kie membacanya, di atas sampul tertulis, “Dipersembahkan kepada istriku.” Karena sudah lama, sampul itu agak rusak sedangkan huruf-hurufnya pun sukar dibaca tapi dari coretannya yang telah buram, dapat dilihat bahwa huruf-huruf itu indah dan angker. Sampul masih utuh, belum tersobek.

“Sebelum membaca, Yo Hoe-jin telah bunuh diri,” kata Boe Kie. Dengan sikap hormat, lalu menaruh surat itu di atas kerangka.

Baru saja ia mau mengubur dengan pasir dan batu, Siauw Ciauw berkata, “Apakah tak baik bila kita membaca surat itu? Mungkin sekali Yo Kauwcoe meninggalkan pesan?”

“Kurasa kurang pantas,” kata Boe Kie.

“Mungkin Kongcoe keliru,” bantah si nona. “Andaikata ada sesuatu yang diinginkan Yo Kauwcoe dan belum terpenuhi, alangkah baiknya jika diketahui kita supaya kita bisa menyampaikan langsung kepada Looya dan Siocia.”

Boe Kie mengangguk lalu menyobek sampul. Ia mencabut sehelai sutera putih yang tertulis sebagai berikut:

“Hoe-jin bacalah ini, semenjak menikah denganku siang malam Hoe-jin berduka. Aku adalah seorang yang tak mempunyai budi sehingga aku tak bisa menyenangkan hatimu dan untuk kekurangan itu aku merasa menyesal tak habisnya, kini kita akan berpisah untuk selama-lamanya. Kuharap Hoe-jin sudi memaafkanku.

Cioe Kauwcoe dari turunan ketiga puluh dua telah memerintahkan supaya setelah selesai dalam latihan Kian koen Tay lo ie Sin-kang, aku segera pergi ke Congto dari Kay pang (markas besar Partai Pengemis) untuk mengambil kembali barang-barang peninggalan Cioe Kauwcoe dari turunan ketiga puluh satu.

Aku baru saja menyelesaikan latihan Sin-kang tingkat kelima. Apa daya, aku tahu urusan Seng Soe-tee. Darah dan hawa bergolak-golak dan aku tak dapat menguasai diriku lagi. Tenagaku akan buyar dan aku menghadapi kematian. Inilah takdir. Tiada manusia dapat melawan takdir.”

Membaca sampai di situ Boe Kie menghela nafas, “Kalau begitu, sebelum menulis surat, Yo Kauwcoe telah tahu adanya pertemuan antara Seng Koen dan istrinya di jalan rahasia ini,” katanya.

Siauw Ciauw mengawasi pemuda itu dengan sorot matanya tapi ia tak berani membuka mulut. Maka itu secara singkat Boe Kie lalu menceritakan tentang Seng Koen dan Yo Hoe-jin.

“Menurut pendapatku, Yo Hoe-jin lah yang bersalah,” kata si nona. “Jika ia tetap mencintai Seng Koen, seharusnya ia tak boleh menikah dengan Yo Kauwcoe. Setelah menikah dengan Yo Kauwcoe, ia tak boleh membuat pertemuan rahasia lagi dengan Seng Koen.”

Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. Di dalam hati ia memuji nona cilik yang sudah bisa membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Sesudah berdiam sejenak, ia membaca lagi:

“Cioe Kauwcoe adalah seorang gagah dan berakal budi. Sungguh sayang, ia mati dalam tangan Soe Tiang-loo (empat tetua) dari Kay pang. Sebegitu lama barang peninggalan Cioe Kauwcoe belum dapat diambil kembali. Sebegitu lama juga di mana adanya Seng hwee-leng belum bisa diketahui. Sekarang aku menghadapi kematian dan aku telah menyia-nyiakan pesan Cioe Kauwcoe. Aku adalah orang berdosa dalam agama kita.

Kuharap dengan mengggunakan surat ini Hoe-jin sudi mengumpulkan kedua Kong-beng Soe-cia, keempat Hoe-kauw Hoat-ong, kelima Ngo-beng Khie-see dan Ngo Sian-jin. Beritahukanlah kepada mereka bahwa aku memerintahkan seperti berikut: “Siapapun jua yang bisa mengambil barang peninggalan Cioe Kauwcoe dan Seng hwee-leng, dialah yang akan menjadi Kauwcoee turunan ketiga puluh empat dari agama kita. Siapa yang membantah boleh segera dibinasakan! Akupun memerintahkan supaya untuk sementara waktu Cia Soen bertindak sebagai Hoe Kauwcoe (wakil pemimpin agama) untuk mengurus berbagai urusan dari agama kita.”

Hati Boe Kie berdebar-debar, kini baru ia tahu bahwa ayah angkatnya telah ditunjuk oleh Yo Po Thian sebagai Hoe Kauwcoe. Hanya sayang, Yo Hoe-jin sudah bunuh diri. Bila tidak, orang-orang Beng-kauw tentu tak sampai saling bermusuhan dan saling bunuh. Di dalam hati kecilnya diam-diam ia merasa bangga bahwa Yo Po Thian sudah menghargai ayah angkatnya.

Ia membaca lagi:

“Untuk sementara waktu, ilmu Kian koen Tay lo ie harus diserahkan kepada Cia Soen. Nanti, sesudah ada kauwcoe baru, barulah Sim-hoat itu diserahkan kepadanya. Kauwcoe baru bertugas untuk memperbesar agama kita, mengusir kaum penjajah, melakukan perbuatan-perbuatan mulia, menumpas kejahatan, meluruskan yang bengkok dan membasmi segala kebusukan.”

Boe Kie berhenti lagi. Ia bingung dan berkata dalam hatinya, “Dilihat begini, Beng-kauw mempunyai tujuan yang sangat mulia. Berbagai partai persilatan yang memusuhi agama itu adalah perbuatan yang tidak pantas.”

Ia menghela nafas dan melanjutkan:

“Dengan menggunakan Sin-kang yang masih berada dalam tubuhku, aku akan menutup pintu batu supaya aku bisa berada bersama-sama Seng Soe-tee. Untuk selama-lamanya aku tak akan berpisah lagi dengan dia. Hoe-jin sendiri bisa meloloskan diri dengan melihat peta jalan rahasia. Pada jaman ini, tiada orang lain yang bisa menggerakkan pintu batu Boe Ong-wie. Andaikata di kemudian hari ada seorang gagah yang bisa membuka pintu itu, aku dan Seng Soe-tee sudah jadi kerangka belaka. Hormat dari suamimu, Po Thian.”

Di belakang surat itu terdapat sebuah peta yang melukiskan semua jalan dan pintu-pintu dari jalan rahasia itu.

Boe Kie girang tak kepalang. “Yo Kauwcoe ternyata memang ingin mengurung Seng Koen dalam jalan rahasia ini dan rela mati bersama-sama,” katanya. “Sayang sekali ia tak dapat mempertahankan diri dan sudah mati terlebih dulu sedang manusia busuk itu masih bisa malang-melintang hingga sekarang. Bagus juga kita mendapat peta ini dan kita akan bisa keluar.”

Sehabis berkata begitu, ia meneliti peta tersebut dan mencari tempat di peta di mana mereka berada sekarang. Tiba-tiba ia seperti diguyur air dingin. Mengapa? Karena jalan keluar yang satu-satunya adalah jalan yang sudah ditutup dengan batu raksasa oleh Seng Koen. Peta berada di tangan, tapi tidak berguna!

“Kongcoe, jangan terlalu bingung,” hibur Siauw Ciauw. “Mungkin sekali kita bisa cari jalan lain.” Ia mengambil peta itu dari tangan Boe Kie dan lalu memperhatikannya. Tapi sesudah melihat sampai matanya berkunang-kunang ia tak bisa mendapatkan jalan lain. Jalan yang tertutup batu itu adalah jalan satu-satunya.

Melihat paras si nona yang putus harapan, Boe Kie tertawa getir. “Menurut surat Yo Kauwcoe, seseorang yang sudah berhasil dalam Kian koen Tay lo ie Sin-kang bisa mendorong pintu batu itu,” katanya. “Di saat ini, hanya Yo Siauw Sianseng yang pernah berlatih ilmu itu tapi kepandaiannya masih cetek sehingga andaikata ia berada di sini, belum tentu ia bisa berhasil. Di samping itu, kitapun tak tahu di mana tempat kedudukan Boe Ong-wie. Tidak tertulis di atas peta, di mana kita harus mencarinya?”

“Boe Ong-wie?” tegas Siauw Ciauw. Boe Ong-wie adalah salah satu “wie” (kedudukan) dari enam kedudukan yang terdapat dalam Lak-cap Sie-kwa (ilmu pentang-pentangan) dari Hok-hie. Boe Ong-wie terletak di antara Beng Ie-wie dan Swee-wie. Seraya berkata begitu ia berjalan sesuai dengan kedudukan dari ilmu pentang-pentangan itu. Sesudah berada di sudut barat laut dari ruangan itu, ia berkata, “Kalau tak salah di sini.”

Semangat Boe Kie terbangun, “Apa benar?” tanyanya.

Ia berlari-lari ke tempat senjata dan mengambil sebuah kampak. Dengan alat itu, ia membersihkan tanah dan pasir yang melekat di dinding. Benar saja ia segera mendapatkan garis-garis yang menunjukkan adanya sebuah pintu. Ia girang dan berkata dalam hati, “Meskipun tak mengenal Kian koen Tay lo ie Sin-kang, aku sudah memiliki Kioe yang Sin-kang. Mungkin dapat digunakan.”

Ia segera mengumpulkan hawa di bagian pusar, mengerahkan tenaga dalam kedua lengannya, memasang kuda-kuda dan kemudian mendorong pintu. Pintu itu tidak bergeming. Ia mencoba berulang-ulang dengan segenap tenaganya. Tetap tidak berhasil. Ia mendorong lagi sehingga tulang-tulangnya berkelotokan dan kedua lengannya lemas. Pintu tetap tidak bergerak.

“Thio Kongcoe, sudahlah!” kata Siauw Ciauw. “Sebaiknya kita gunakan bahan peledak.”

“Baiklah, aku lupa kita masih punya bahan peledak,” kata pemuda itu.

Mereka segera mengambil sisa bahan peledak dan meledakkannya di bawah pintu. Batu somplak tapi pintunya tetap tidak bergerak.

Dengan rasa menyesal dan terharu, Boe Kie menarik tangan si nona dan berkata dengan suara halus, “Siauw Ciauw, akulah yang bersalah, aku mengajak kau kemari sehingga kau tidak bisa keluar lagi.”

Si nona mengawasi muka Boe Kie dengan matanya yang bening. “Thio Kongcoe, sebenarnya kau yang harus menyalahkan aku,” katanya. “Jika aku tidak membawa kau kemari…kau…tidak…” Ia tidak dapat meneruskan perkataannya dan lalu menyeka air mata dengan lengan bajunya.

Untuk beberapa saat, mereka membungkam. Tiba-tiba si nona tertawa. “Sudahlah!” katanya. “Kita tidak bisa keluar, jengkelpun tak berguna. Sebaiknya aku menyanyi. Apa kau setuju?”

Boe Kie sebenarnya tak punya kegembiraan untuk mendengarkan nyanyian, tapi supaya tidak mengecewakan si nona, ia mengangguk. “Bagus!” katanya sambil tertawa.

Siauw Ciauw segera duduk di samping pemuda itu. Sesudah mendehem beberapa kali, ia mulai:

“Bersandar di guba,
Membuat gubuk,
Biarpun melarat, tetap bahagia,
Di tepi sungai berbicara dengan si pencari kayu,
Di gunung mencari sahabat lama,
Di angkasa berkawan dengan burung Hong,
Dia berhasil,
Dia menertawai kita!
Dia gagal,
Kita menertawai dia!”

Waktu si nona menyanyi, Boe Kie tak begitu memperhatikan. Tapi sesudah mendengar “dia berhasil, dia menertawai kita, dia gagal, kita menertawai dia” hatinya tertarik dan ditambah dengan suara si nona yang sangat merdu, rasa jengkelnya segera menghilang.

Sementara itu, si nona melanjutkan nyanyiannya:

“Syair menghilangkan kedukaan,
Pedang penuh keangkeran,
Seorang Enghiong tak perdulikan kemiskinan atau kekayaan,
Di sungai membunuh Kauw,
Dikira memanah Tiauw,
Di daerah perbatasan memutar golok,
Dia berhasil,
Dia menertawai kita,
Dia gagal,
Kita menertawai dia.”

Waktu menyanyi dibagian itu, suara si nona nyaring dan bernada gagah.

“Siauw Ciauw, sungguh merdu suaramu!” Boe Kie memuji. “Siapa yang menggubah lagu itu?”

Si nona tertawa. “Kau bohong! Suaraku tak keruan begitu,” katanya. “Aku meniru nyanyian orang lain. Tak tahu siapa yang menggubahnya.”

Sesudah berdiam sejenak, ia berkata pula. “Apa benar kau senang mendengarnya? Tidak bohong?”

Boe Kie tertawa nyaring, “Mana bisa aku berbohong di hadapanmu,” katanya. “Tidak! Memang benar suaramu merdu dan sajak lagu itu indah sekali. Sungguh!”

“Baiklah, kalau begitu aku mau menyanyi lagi,” kata si nona. “Sayang sekali tidak ada pie-pee (semacam gitar).” Sambil menepuk-nepuk batu dengan lima jarinya, ia segera menyanyi pula.

“Perubahan di dunia silih berganti,
Manusia harus menyesuaikan diri,
Nasib memutuskan kemakmuran atau keruntuhan,
Dalam kebahagiaan bersembunyi malapetaka,
Dalam malapetaka bersembunyi kebahagiaan,
Mana ada kekayaan abadi”
Dari angkasa, sang surya kelam ke barat,
Dari bundar sang rembulan somplak sebelah,
Di langit dan di bumi tak ada yang sempurna,
Hilangkan kerutan alis,
Hentikan permusuhan remeh,
Paras muka di hari ini,
Lebih tua daripada kemarin,
Yang lama pergi yang baru datang,
Semua tak luput,
Yang pintar, yang bodoh,
Yang miskin, yang kaya,
Pada akhirnya manusia,
Tidak bisa lari dari hari itu,
Hari ini ada kesenangan,
Nikmatilah kesenangan,
Siang dan malam seratus tahun,
Yang berusia tujuh puluh tahun jarang ada,
Sang waktu mengalir bagaikan air,
Gelombang demi gelombang.”

Sajak itu adalah pengutaraan isi hati dari seseorang yang sudah kenyang makan asam garamnya dunia dan yang sudah bisa melihat tidak kekalnya segala keduniawian. Bahwa sajak itu diucapkan oleh seseorang muda belia seperti Siauw Ciauw, kelihatannya sangat tidak sesuai. Mungkin sekali ia tak tahu artinya. Ia hanya mendengar nyanyian orang lain dan lalu meniru.

Tapi Boe Kie lain, ia masih muda, tapi selama sepuluh tahun, ia telah merasakan bermacam-macam kegetiran dan mendapat berbagai pengalaman luar biasa. Sekarang ia terkurung di perut gunung dan di hadapannya tidak ada jalan hidup. Tapi sesudah mendengar nyanyian Siauw Ciauw, ia merasa dadanya lega. Ia merasa kuat, terutama karena dua kalimat yang berbunyi “pada akhirnya manusia, tidak bisa lari dari hari itu.”

“Hari itu! Hari itu!” yang mesti di alami setiap manusia, setiap makhluk berjiwa. “Hari” pulang ke alam baka.

Sebagai manusia, Boe KIe yang masih muda sudah beberapa kali mengalami detik-detik mati atau hidup. Pada masa lampau, mati atau hidupnya tidak bersangkutan dengan siapapun juga. Tapi sekarang, keadaan agak berlainan. Kematiannya bukan saja menyeret Siauw Ciauw, tapi juga mempunyai hubungan dengan mati hidupnya Beng-kauw, selamat celakanya Yo Siauw dan yang lain-lain, permusuhan antara Goan-tin dengan ayah angkatnya. Ia tidak takut mati, terlebih sesudah mendengar nyanyian si nona. Tapi kalau boleh, ia tidak mau mati sekarang karena ia merasa memikul tugas-tugas yang belum diselesaikan.

Ia lalu bangkit dan mendorong pula pintu batu itu. Ia merasakan mengalirnya Cin-khie di seluruh tubuhnya, sepertinya ia mempunyai tenaga yang besarnya tidak terbatas, tapi tidak dapat dikeluarkan. Tenaga itu seperti gelombang air bah yang tertahan oleh gili-gili. Tiga kali ia mencoba, tiga kali ia gagal.

Sementara itu Siauw Ciauw sudah melukai lagi jari tangannya dan mengoleskan darahnya di kulit kambing, “Thio Kongcoe,” katanya. “Apakah tidak baik jika kau melatih Sin-kang dari Kian koen Tay lo ie? Kau sangat cerdas dan mungkin sekali segera berhasil.”

Boe Kie tertawa. “Para Kauwcoe dari Beng-kauw telah berlatih seumur hidup, tapi hanya beberapa orang saja yang bisa dikatakan berhasil,” jawabnya. “Sebagai Kauwcoe mereka pasti bukan orang sembarangan. Mereka semua mempunyai kecerdasan dan kepandaian yang sangat tinggi. Bagaimana caranya aku bisa mengharap bahwa dalam waktu singkat aku bisa berhasil dalam suatu latihan yang sukar, yang tidak dapat dilakukan oleh para mendiang Kauwcoe itu?”

Si nona tak menyahut. Ia menunduk dan menyanyi dengan perlahan:

“Hari ini ada kesenangan,
Nikmatilah kesenangan itu,
Hari ini bisa berlatih,
Berlatihlah hari ini.”

Sambil tersenyum Boe Kie lalu mengambil kulit kambing itu dari tangan Siauw Ciauw dan lalu membacanya. Ia mendapati kenyataan bahwa apa yang tertulis adalah ilmu untuk menjalankan pernafasan dan menggunakan tenaga dalam. Ia lalu mencoba-coba dan dengan mudah ia berhasil. Di kulit itu terdapat juga tulisan yang berbunyi sebagai berikut:

“Inilah Sin-kang tingkat pertama. Orang yang cerdas dan berbakat bisa berhasil dalam waktu tujuh tahun. Orang biasa harus menggunakan waktu empat belas tahun.”

Boe Kie heran tak kepalang. Ia berhasil dalam sekejap mata. Mengapa dalam kulit kambing tertulis harus menggunakan sedikitnya tujuh tahun?

Ia segera membaca ilmu tingkat kedua dan terus berlatih. Kali inipun ia berhasil dengan mudah. Ia merasa semacam hawa dingin yang halus seperti benang seakan-akan menyambar keluar dari sepuluh jari tangannya. Di bawah ilmu itu terdapat penjelasan sebagai berikut:

“Inilah Sin-kang tingkat kedua. Orang cerdas dan berbakat bisa berhasil dalam waktu tujuh tahun. Orang biasa harus menggunakan waktu sedikitnya empat belas tahun. Manakala sesudah berlatih dua puluh satu tahun masih belum mendapat kemajuan, orang itu dilarang maju pada tingkat ketiga, untuk mencegah kecelakaan yang tidak dapat ditolong lagi.”

(Menurut kepercayaan, jika seseorang melatih Lweekang tinggi secara salah atau secara memaksakan diri, maka ilmu itu bisa membinasakan orang yang berlatih seperti “golok makan tuan”)

Boe Kie kaget bercampur girang. Dengan bernafsu ia segera membaca ilmu ketiga. Ketika itu, huruf-huruf di atas kulit kambing telah mulai buram, tapi baru saja ia mau mencabut pisau untuk menggores jari tangannya, Siauw Ciauw sudah mendahului dan mengoles kulit kambing dengan darahnya.

Ia berhasil dalam ilmu ketiga dan keempat sama mudahnya seperti orang membelah bambu. Dengan rasa takut Siauw Ciauw mengawasi muka pemuda itu yang berwarna aneh, sebelah hijau. Tapi hatinya segera tentram kembali karena paras Boe Kie tetap tenang dan hanya kedua matanya berkilat-kilat.

Waktu Boe Kie melatih diri dalam Sin-kang tingkat kelima, suatu perubahan terjadi pada dirinya.
Mukanya sebentar biru sebentar merah, waktu mukanya biru badannya agak gemetaran dan berhawa dingin seperti gundukan es, sedang waktu mukanya merah keringat menetes turun seperti hujan gerimis dari kedua pipinya.

Siauw Ciauw mengeluarkan sapu tangan dan mengangsurkan tangan untuk menyeka keringat di muka pemuda itu. Tapi baru saja sapu tangan menyentuh dagu, lengannya mendadak bergetar dan hampir-hampir ia jatuh terjengkang. Boe Kie bangkit dan menyapu keringat dengan lengan bajunya. Ia tak mengerti mengapa Siauw Ciauw terhuyung. Ia tak mengerti bahwa ia sudah berhasil dalam latihan Sin-kang tingkat kelima.

Kian koen Tay lo ie Sin-kang adalah suatu ilmu menakjubkan untuk mengerahkan dan menggunakan tenaga. Pada hakekatnya, ilmu tersebut adalah untuk mengeluarkan tenaga luar biasa yang tersembunyi dalam tubuh setiap manusia. Dalam keadaan biasa tenaga yang bersembunyi itu tak dapat dikeluarkan. Hanya pada detik-detik berbahaya, misalnya pada waktu kebakaran barulah tenaga itu keluar. Sering kita mendengar cerita bahwa dalam menghadapi bencana, seseorang yang lemah dapat melakukan perbuatan yang luar biasa seperti mengangkat barang ratusan atau ribuan kati beratnya yang tak akan dapat dilakukannya dalam keadaan biasa.

Sesudah berhasil dalam Kioe yang Sin-kang, tenaga yang bersembunyi dalam tubuh Boe Kie tidak dapat tertandingi oleh siapapun juga dalam dunia ini. Tapi karena belum mendapat petunjuk dari seorang guru yang pandai, ia masih belum bisa menggunakan tenaga yang bersembunyi itu.

Sekarang, sesudah mempelajari Kian koen Tay lo ie Sin-kang dan melatih diri dalam ilmu itu, maka tenaganya yang tersembunyi membanjir keluar bagaikan air bah yang tak dapat ditahan lagi.

Bagi manusia biasa, Kian koen Tay lo ie Sin-kang adalah ilmu yang sukar dipelajari dan salah sedikit saja dalam latihannya, ilmu itu bisa “makan tuan” bisa membinasakan si pelajar sendiri.

Mengapa begitu? Karena ilmu untuk mengerahkan tenaga dalam sangat berbelit-belit, sedang si pelajar sendiri tidak mempunyai tenaga dalam yang cukup kuat untuk mengimbanginya. Sebagai contoh, kalau seorang bocah yang baru berusia tujuh delapan tahun bersilat dengan menggunakan martil yang beratnya ratusan kati, maka makin sulit ilmu silat yang dijalankannya, makin gampang kepalanya terpukul martil. Tapi hal ini tak mungkin terjadi jika yang bersilat dengan martil itu seorang dewasa yang bertenaga besar.

Dalam waktu yang lalu, orang-orang melatih diri dalam Kian koen Tay lo ie Sin-kang semuanya tidak mempunyai cukup tenaga dan memaksa diri belajar. Sebagaimana diketahui, seorang ahli silat yang sedang mengejar serupa ilmu, biasanya tidak bisa merasa puas dan rela mengundurkan diri di tengah jalan. Maka itu banyak yang sudah menjadi korban dari latihan yang dipaksakan.

Mengapa Boe Kie berhasil sedangkan tokoh-tokoh yang lebih hebat gagal? Jawabnya sangat sederhana. Karena Boe Kie memiliki cukup tenaga yang didapat dari latihan Kioe yang Sin-kang.

Sesudah menyelesaikan latihan tingkat kelima, pemuda itu merasa semangatnya bergelora dan tenaga dalamnya dapat dikeluarkan atau ditarik pulang sesuka hati. Di samping itu, iapun merasakan kesegaran luar biasa pada sekujur badannya. Kini ia melupakan hal untuk mendorong pintu batu dan terus mempelajari ilmu tingkat keenam. Berselang kurang lebih satu jam ia telah mulai dengan ilmu tingkat ketujuh.

Inilah yang paling sukar, beberapa lipat ganda lebih sukar daripada pelajaran tingkat keenam. Untung juga, ia mahir dalam ilmu pengobatan dan “hiat-to”. Dengan pengetahuan itu, ia selalu dapat memecahkan bagian-bagian yang sulit dan kurang terang.

Setelah berhasil sebagian besar dari ilmu tingkat ketujuh itu, tiba-tiba ia bertemu dengan satu bagian ilmu yang dilukiskan dengan beberapa baris huruf. Sesudah membaca dengan teliti, ia lalu mulai berlatih menurut petunjuk itu. Mendadak ia merasa hawa yang rasanya bergejolak sedang jantungnya memukul keras. Ia segera menghentikan latihan dan menentramkan semangatnya. Beberapa saat kemudian, ia berlatih lagi, tapi hasilnya tak berbeda.

Ia melompati kalimat pertama dan berlatih dengan kalimat kedua. Latihan itu berjalan lancar, tapi waktu tiba pada kalimat ketiga, ia kembali mengalami kesukaran. Makin lama, kesulitan makin besar. Setelah ia mempelajari seluruh Kian koen Tay lo ie Sin-kang, ada tiga belas kalimat yang tak berhasil dilatih olehnya.

Sesudah berpikir beberapa saat, ia menaruh kulit kambing itu di atas batu dan kemudian ia berlutut beberapa kali. Dengan suara perlahan ia berkata, “Secara tak sengaja, teecoe Thio Boe Kie telah mendapatkan ilmu Sin-kang dari Beng-kauw. Dalam mempelajari ilmu tersebut tujuan teecoe adalah untuk menolong jiwa sendiri dan bukan semata-mata ingin mencuri ilmu Beng-kauw. Jika teecoe bisa lolos dari tempat berbahaya ini, maka dengan menggunakan Sin-kang teecoe akan berusaha sekeras-kerasnya guna kepentingan Beng-kauw. Teecoe pasti takkan melupakan budi para Kauwcoe yang sudah menolong jiwa teecoe.”

Siauw Ciauw pun berlutut dan sesudah manggutkan kepalanya beberapa kali, ia berdoa dengan suara perlahan, “Teecoe memohon supaya para leluhur melindungi Thio Kongcoe dalam usaha menegakkan kembali agama kita dan memulihkan keangkeran para leluhur.”

Boe Kie bangkit seraya berkata, “Aku bukan murid Beng-kauw dan dengan mengingat ajaran Thay soehoe, akupun takkan masuk ke dalam kalangan Beng-kauw. Tapi sesudah membaca surat wasiat Yo Kauwcoe, aku yakin bahwa tujuan Beng-kauw adalah luhur dan lurus. Dengan demikian aku bertekad untuk menggunakan segenap tenagaku guna menyingkirkan salah pengertian berbagai partai dan mendamaikan permusuhan kedua belah pihak.”

“Thio Kongcoe, kau mengatakan bahwa kau gagal dalam tiga belas kalimat,” kata Siauw Ciauw. “Mengapa kau tak mau mengaso dan sesudah segar baru mencoba lagi?”

“Biar bagaimanapun juga, hari ini aku sudah berhasil dalam Sin-kang tingkat ketujuh,” kata Boe Kie. “Memang benar ada tiga belas kalimat yang dilompati dan dalam keseluruhannya masih terdapat suatu kekurangan. Tapi sebagaimana dikatakan dalam nyanyianmu sendiri, dalam dunia ini tak ada sesuatu yang sempurna. Mengapa aku ini tak bisa merasa puas? Apakah jasa dan kemuliaannya Thio Boe Kie sehingga ia mesti memiliki seluruh ilmu dari Beng-kauw? Aku menganggap pantas sekali, jika aku tak berhasil dalam tiga belas kalimat itu.”

“Benar kata Kongcoe,” jawab si nona yang lalu mengambil kulit kambing itu dari tangan Boe Kie dan minta diberitahukan kalimat-kalimat mana yang dimaksudkan itu. Diam-diam ia membaca ketiga belas kalimat itu beberapa kali.

“Perlu apa kau menghafal?” tanya Boe Kie sambil tersenyum.

Paras si nona berubah merah. “Tak apa-apa,” jawabnya dengan jengah. “Aku hanya ingin tahu kalimat apa yang sedemikian sukar sehingga tak dapat dipecahkan olehmu sendiri.”

Tapi di dalam hatinya, Siauw Ciauw mempunyai maksud lain. Ia tahu bahwa pemuda itu seorang yang jujur dan jika mereka bisa keluar dari tempat itu, ia tentu akan menyerahkan kulit kambing itu kepada Yo Siauw. Ia menghafal tiga belas kalimat itu supaya kalau dikemudian hari Boe Kie mau mencoba lagi, ia bisa membantu biarpun kulit kambingnya sudah berada di tangan orang lain.

Dengan mengenal batas, tanpa diketahui olehnya sendiri, Boe Kie telah menyelamatkan diri dari suatu bahaya.

Dulu, tokoh yang membuat ilmu Kian koen Tay lo ie adalah seseorang yang memiliki tenaga dalam sangat tinggi tapi tenaga dalamnya belum mencapai tingkat Kioe yang Sin-kang. Ia mengubah Sin-kang ketujuh tapi ia sendiri belum berhasil melatih seluruhnya. Ada beberapa bagian yang ditulis bukan berdasarkan kenyataan tapi khayalan yang keluar dari otaknya yang sangat cerdas.

Tiga belas kalimat yang tidak dapat ditembus Boe Kie adalah bagian khayalan itu. Manakala Boe Kie tidak mengenal batas dan bertekad untuk memiliki seluruh ilmu, maka ia akan menyimpang ke jalan yang salah sehingga pada akhirnya ilmu itu akan “makan tuan”, ia bisa jadi gila atau binasa.

Sesudah mengaso beberapa saat, Boe Kie dan Siauw Ciauw lalu mengubur kerangka Yo Po Thian dan istrinya dengan pasir dan batu-batu kecil. Sesudah itu mereka menghampiri pintu batu.

Boe Kie menempelkan tangan kanannya pada pintu itu dan mendorong dengan menggunakan Kian koen Tay lo ie Sin-kang. Begitu didorong, pintu itu bergerak. Ia menambah tenaga dan pintu lantas saja terbuka dengan perlahan.

Siauw Ciauw kegirangan. Ia melompat-lompat sambil menepuk-nepuk tangan. Mendengar suara kerincingan rantai, Boe Kie berkata, “Coba aku berusaha memutuskan rantai itu. Kali ini kau pasti berhasil,” kata si nona.

Seraya mengerahkan Lweekang, Boe Kie membetot, tapi rantai itu hanya mulur dan tak putus. “Celaka! Makin panjang akan makin sukar,” kata Siauw Ciauw.

Boe Kie menggelengkan kepala. “Aneh benar.”

Mengapa rantai itu begitu alot?

Rantai tersebut terbuat dari sebuah batu meteor yang jatuh dari langit. Batu itu mengandung semacam logam yang sifatnya sangat berbeda dengan logam apapun jua yang ada di dunia. Secara kebetulan batu itu dipatahkan salah seorang Kauwcoe dari Beng-kauw dan secara kebetulan pula pada jaman itu hidup seorang pandai besi yang luar biasa. Dengan menggunakan api si pandai besi melebur batu itu dan kemudian membuat rantai yang sekarang terikat pada kaki tangan Siauw Ciauw. Bahwa Boe Kie bisa menariknya sehingga mulur sudah merupakan suatu perbuatan yang tidak dapat ditiru oleh siapapun jua.

Siauw Ciauw menunduk dan menghela nafas. “Jangan jengkel, serahkan saja padaku,” hibur Boe Kie. “Aku akan berusaha untuk membuka rantai itu. Kita telah terkurung dalam perut gunung tapi aku masih bisa keluar. Aku tidak percaya kita tidak berdaya terhadap rantai yang begitu kecil.”

Si nona mendongak dan berkata seraya tertawa. “Thio Kongcoe, sesudah berjanji kuharap kau tidak mungkir lagi.”

“Aku akan minta supaya Poet Hwie Moay-moay membuka rantai itu,” kata Boe Kie. “Ia pasti tak akan menolak permintaanku.”

Dalam tekadnya untuk mencari Goan-tin, Boe Kie segera mendorong lagi kedua batu raksasa yang beratnya berlaksa kati. Tapi walaupun ia memiliki Sin-kang, tenaga manusia selalu terbatas. Kedua batu itu hanya bergoyang-goyang sedikit dan tidak dapat digeser. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan bersama Siauw Ciauw lalu keluar dari pintu batu yang terbuka.

Sesudah berada di luar, ia memutar badan untuk menutupnya pula. Tapi ternyata yang merupakan daun pintu adalah batu raksasa, Boe Kie menghela nafas. Untuk membuat terowongan di bawah tanah itu, entah berapa banyak tenaga dan pikiran yang sudah digunakan orang-orang Beng-kauw.

Dengan tangan mencekal peta jalan rahasia, Boe Kie mengajak Siauw Ciauw mencari jalan keluar. Terowongan banyak cabangnya, tapi dengan pertolongan peta, dengan tak banyak kesulitan mereka bisa keluar.

Begitu berada di alam bebas, mereka memejamkan mata karena tak tahan dengan sinar terang yang menyilaukan. Selang beberapa lama, perlahan-lahan mereka membuka mata lagi.

Mereka ternyata berada di atas bumi yang tertutup salju. Mata mereka silau oleh sebuah sinar salju yang disoroti matahari.

Sementara itu, Siauw Ciauw meniup api obor, membuat sebuah lubang di salju dan kemudian menguburkan potongan kayu yang tadi dijadikan obor di dalam lubang itu. “Kayu, oh kayu!” katanya dengan suara perlahan. “Terima kasih banyak untuk pertolonganmu. Kamu telah memberikan sinar terang sehingga Thio Kongcoe dan aku bisa keluar dari gua. Tanpa pertolonganmu kami tentu akan binasa.”

Boe Kie tertawa terbahak-bahak, hatinya senang sekali. “Di dalam dunia banyak sekali manusia yang tak mengenal budi,” pikirnya. “Dengan berbuat begini, Siauw Ciauw menunjukkan bahwa ia seorang yang luhur budinya.” Ia merasa kagum, ia mengawasi kulit muka yang putih bagaikan batu pualam. Tanpa sadar ia memuji, “Siauw Ciauw, kau sungguh cantik.”

“Thio Kongcoe, apa kau membohongi aku?” tanya si nona dengan girang.

“Sekarang kau ayu sekali,” jawabnya. “Tapi kau tak boleh berlagak bongkok dan pincang lagi.”

“Baiklah,” kata Siauw Ciauw. “Jika kau berkata begitu, biarpun Siocia, aku tentu takkan menyamar lagi.”

“Gila! Perlu apa dia bunuh kau,” bentak Boe Kie.

Mereka segera pergi ke pinggir tebing dan memperhatikan keadaan di sekitarnya. Mereka ternyata berada di lereng sebuah puncak.

Waktu datang di Kong beng-teng, Boe Kie berada dalam karungnya Swee Poet Tek sehingga ia sama sekali tidak tahu keadaan bumi di gunung ini. Sekarangpun ia masih belum tahu di mana mereka berada. Sambil menudung mata dengan tangannya ia memandang ke tempat jauh. Tiba-tiba ia lihat beberapa sosok tubuh manusia yang tergeletak di sebelah barat laut.

“Coba kita lihat,” katanya sambil mencekal tangan Siauw Ciauw dan lalu menuju ke tanjakan itu dengan berlari-lari. Sesudah memiliki Kioe yang dan Kian koen Tay lo ie Sin-kang, setiap gerakan Boe Kie hebat luar biasa. Maka itu, meskipun membawa Siauw Ciauw, larinya cepat bagaikan walet terbang, dalam sekejap mereka sudah tiba ke tempat yang dituju.

Empat mayat rebah di situ, semua berlumuran darah. Tiga di antaranya mengenakan seragam Beng-kauw sedang yang seorang pendeta, mungkin sekali murid Siauw Lim sie.

“Celaka!” seru Boe Kie di dalam tenggorakan. “Selagi kita berada di perut gunung, keenam partai sudah berada di sini.” Ia meraba dada keempat mayat itu. Semuanya dingin.

Ia segera menarik tangan Siauw Ciauw dan mendaki puncak dengan mengikuti tapak kaki. Sesudah melalui beberapa puluh tombak, mereka kembali bertemu dengan tujuh mayat yang rupanya sangat menakutkan.

Boe Kie bingung, “Bagaimana dengan Yo Siauw Sianseng, Poet Hwie Moay-moay?” katanya. Ia berlari-lari makin cepat sehingga Siauw Ciauw seolah-olah sedang terbang dengan ditenteng pemuda itu.

Setelah membelok di sebuah tikungan, mereka bertemu dengan lima mayat murid Beng-kauw, semuanya tergantung di pohon dengan kepala di bawah kaki di atas dan muka seperti dicakar dengan cakar yang sangat tajam.

“Ah! Itu cakar Houw-jiauw chioe dari Hwa San-pay,” kata Siauw Ciauw.

(Houw-jiauw chioe = Cakar Harimau)

“Siauw Ciauw, bagaimana kau tahu?” tanya Boe Kie dengan heran. “Siapa yang memberitahukannya kepadamu?”

Tapi, karena memikirkan keselamatan kedua belah pihak yang sedang bermusuhan, tanpa menunggu jawaban ia terus berlari-lari. Di sepanjang jalan dia bertemu dengan mayat-mayat, sebagian besar mayat murid Beng-kauw, tapi mayat murid keenam partai pun tak sedikit jumlahnya.

Boe Kie menduga bahwa selama ia terkurung di perut gunung sehari semalam, keenam partai telah melakukan serangan besar-besaran. Sebab Yo Siauw, Wie It Siauw dan yang lain-lain terluka berat maka murid-murid Beng-kauw tak punya pemimpin sehingga dalam pertempuran itu mereka jatuh di bawah angin. Tapi, meskipun begitu dia melawan dengan nekad dan mendapatkan kerusakan besar.

Waktu hampir tiba di puncak gunung, Boe Kie mendengar suara bentrokan senjata yang sangat hebat. Hatinya agak lega. “Pertempuran belum berhenti, keenam partai rupanya belum masuk di toa thia,” pikirnya. Ia mempercepat langkahnya.

Mendadak dua batang piauw menyambar.

“Siapa kau? Berhenti!” bentak seseorang.

Sambil menghentikan langkah, Boe Kie mengibaskan tangan dan kedua piauw itu terbang kembali.

“Aduh!” seseorang berteriak dan terus roboh.

Boe Kie kaget, yang roboh seorang pendeta. Kedua piauw itu menembus pundaknya dan kemudian menancap di salju. Ia tertegun, ia mengibas dengan pelan hanya untuk memukul jatuh senjata rahasia itu. Tak disangka, kibasan itu bertenaga sedemikian besar. Buru-buru ia membangunkan si pendeta dan berkata, “Aku bersalah telah melukai Taysoe, mohon Taysoe sudi memaafkan.”

Darah berlumuran dari lukanya tapi pendeta itu sangat tegap dan gagah. Tiba-tiba ia menendang dan kakinya mampir tepat di lambung Boe Kie yang tak menduga akan diserang dengan cara begitu. Tapi hampir bersamaan dengan tendangan kaki kanannya itu, tubuh si pendeta terpental dan menghantam satu pohon sehingga tulang kaki kanannya patah dan mulutnya mengeluarkan darah.

Boe Kie sendiri tidak tahu bahwa sesudah mempunyai dua macam Sin-kang, di dalam tubuhnya terdapat semacam tenaga dahsyat yang bisa melawan setiap pukulan secara wajar.

Melihat pendeta itu terluka berat, hati Boe Kie makin tidak enak. Ia membangunkannya berulang-ulang dan memohon maaf. Pendeta itu mengawasinya dengan mata melotot. Ia heran bercampur gusar.

Mendadak dalam pekarangan yang terkurung tembok terdengar tiga kali teriakan kesakitan. Boe Kie tidak dapat memperhatikan pendeta itu lagi. Sambil menarik tangan Siauw Ciauw, ia masuk dengan berlari-lari. Sesudah melewati dua ruangan, mereka tiba di sebuah lapangan terbuka yang penuh manusia. Rombongan yang berkumpul di sebelah barat jumlahnya lebih kecil, sebagian besar sudah terluka dengan pakaian berlumuran darah. Rombongan itu adalah rombongan Beng-kauw. Jumlah rombongan yang di sebelah timur beberapa kali lipat lebih besar dan terbagi jadi enam barisan kecil. Mereka itu adalah keenam partai.

Boe Kie segera saja melihat bahwa Yo Siauw, Yo Poet Hwie, Wie It Siauw, Swee Poet Tek dan yang lain-lain berada di tengah-tengah rombongan Beng-kauw. Mereka belum bisa bergerak. Di tengah gelanggang terdapat dua orang yang sedang bertempur hebat. Karena semua mata menuju ke arah pertandingan itu, maka masuknya Boe Kie dan Siauw Ciauw tidak diperhatikan oleh siapapun juga.

Perlahan-lahan Boe Kie mendekati. Kedua orang itu berkelahi dengan tangan kosong. Sambaran-sambaran angin dahsyat yang keluar dari pukulan-pukulan mereka menandakan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat kelas utama. Mereka bertempur dengan kecepatan kilat dan setiap pukulan istimewa selalu disambut dengan sorak sorai.

Boe Kie mengawasi dengan hati berdebar-debar. Ia mengenali bahwa yang satu, yang bertubuh kecil adalah Boe tong Sie-hiap Thio Siong Kee, sedang lawannya adalah seorang tua yang berbadan tinggi besar, beralis putih dan berhidung bengkok seperti patok burung.

“Siapa kakek itu?” tanyanya di dalam hati.

Mendadak dari rombongan Hwa San-pay terdengar teriakan seseorang. “Tua bangka Peh Bie! Lebih baik kau menyerah kalah! Kau bukan tandingan Boe tong Sie-hiap.”

Jantung Boe Kie memukul keras. Kalau begitu orang tua itu kakek luarnya. Peh Bie Eng-ong In Thian Ceng. Ingin sekali menubruk dan memeluk orang tua itu tapi ia tak bisa berbuat begitu.

Semua orang memperhatikan jalannya pertandingan sambil menahan nafas.

Di atas kepala Thio Siong Kee dan In Thian Ceng terlihat uap putih, suatu tanda mereka sedang mengeluarkan Lweekang yang paling tinggi dalam suatu pertempuran mati atau hidup. Kedua lawan sama-sama mempunyai nama besar, yang satu Peh Bie Kauwcoe dan Hoe Kauw Hoatong dari Beng-kauw, yang lain murid Thio Sam Hong dan anggota Boe Tong Cit-hiap yang menggetarkan dunia persilatan.

Pertempuran ini adalah pertempuran yang akan memutuskan keunggulan antara Boe Tong-pay dan Peh Bie-kauw. Dengan mata berkilat-kilat, In Thian Ceng menyerang bagaikan angin dan hujan sedangkan Thio Siong Kee terus mempertahankan diri sesuai dengan dasar ilmu silat Boe Tong yang menguasai serangan dengan ketenangan. Siong Kee tahu bahwa lawannya yang lebih tua dua puluh tahun lebih mempunyai Lweekang yang lebih dalam. Akan tetapi, sebagai imbangan ia berusia lebih muda mempunyai keuletan yang lebih besar sehingga dalam suatu pertempuran yang lama, ia pasti akan memperoleh kemenangan.

Tapi di luar dugaan, In Thian Ceng adalah seorang yang luar biasa yang jarang terdapat di dalam dunia. Meskipun sudah berusia lanjut, tenaganya tidak kalah dari orang muda. Bagaikan ombak air pasang, gelombang demi gelombang Lweekang menghantam Siong Kee.

Melihat pertempuran yang hebat itu, Boe Kie semula girang karena ketemu dengan kakek dan pamannya, berbalik jadi bingung. In Thian Ceng adalah gwa kong (kakek luar) yang mempunyai hubungan darah dengan dirinya. Thio Siong Kee adalah seorang paman yang mencintainya seperti anak sendiri.

Dulu waktu ia kena pukulan Hiang beng Sin ciang, tanpa memperdulikan bahaya, paman itu sudah turut berusaha untuk mengobati dengan menggunakan Lweekang. Maka itu kalau sampai salah satu pihak ada yang luka atau binasa, ia akan merasa menyesal tiada habisnya.

Baru saja ia berpikir untuk mencoba mendamaikan, tiba-tiba kedua lawan itu membentak keras dan melompat mundur dengan serentak.

“In Locianpwee memiliki Sin-kang yang sangat tinggi,” kata Siong Kee. “Aku merasa takluk.”

“Thio heng sendiri mempunyai Lweekang yang sangat kuat dan aku tidak akan dapat menandingi,” kata si kakek. “Thio heng adalah saudara seperguruan dari menantuku. Apakah hari ini kalian bertekad untuk menguji kepandaian?”

Mendengar mendiang ayahnya disebut, mata Boe Kie berubah merah. Ia merasa sangat berduka dan berdoa supaya pertempuran itu tidak dilangsungkan.

“Boanpwee mundur lebih jauh daripada Locianpwee dan sudah kalah setengah jurus,” kata Siong Kee seraya mengangkat kedua tangannya. Sesudah mengatur jalannya pernafasan, sambil membungkuk ia mengundurkan diri.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: