Kumpulan Cerita Silat

18/08/2008

Kisah Membunuh Naga [38]

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:01 am

Kisah Membunuh Naga [38]
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Sesudah menganggap, bahwa mereka takkan bisa lolos dari kebinasaan, sekarang mereka mengharap supaya tenaga Goan tin lekas-lekas pulih. Mereka merasa lebih lekas mati lebih baik, jangan disiksa lebih lama. Antara mereka itu, hanya Swee Poet Tek dan pheng Hweeshio yang masih merasa penasaran. Mereka adalah pendeta, tapi dalam hati merekalah yang mempunyai cita-cita paling besar, cita-cita untuk melakukan sesuatu yang menggemparkan dunia.

“Pheng Hweeshio,” kata Swee Poet Tek. “Banyak tahun kita tercapai lelah dalam usaha untuk mengusir orang-orang Mongol dari negara kita. Tak dinyana, semua usaha berpikir dengan kegagalan. Hai! Mungkin sekali beribu-ribu dan berlaksa-laksa rakyat memang harus menderita lebih lama.”

Sesaat itu, Boe Kie sedang mengerahkan hawa panas dalam tubuhnya untuk melawan hawa dingin dari It im cie, tapi setiap perkataan Swee Poet Tek tidak terlolos dari pendengarannya.

“Dia mau mengusir bangsa Mongol?” tanyanya didalam hati, dengan rasa heran. “Apakah Mo Kauw yang nmanya begitu busuk bertujuan untuk menolong rakyat?”

“Swee Poet Tek,” demikian terdengar suara Pheng Hweesio, “Siang-siang aku sudah mengatakan, bahwa dengan sendirian saja, Beng Kauw takkan bisa mengusir bangsa Mongol. Kalau mau berhasil kita harus bisa berserikat dengan orang-orang gagah di kolong langit dan bergerak dengan serempak. Soehengmu dan soeteeku, Cioe Coe Ong, telah coba memberontak, tapi akhirnya mereka terbasmi”..”

Boe Kie terkejut. “Cioe Coe Ong?” tanyanya didalam hati. “Apakah Cioe Coe Ong bukan ayah nona Coe Cie Jiak?” dalam kagetnya, perkataan Peng Hweesio yang selanjutnya tidak didengar lagi olehnya.

“Jangan ribut!” tiba2 terdengar bentakan Cioe Tian. “Sedang kebinasaan sudah didepan mata, perlu apa kamu rewel-rewel? Semua omong kosong! Siapa yang salah? Kita sendiri. Beng Kauw sendiri yang terpecah-belah. Pheng Hweesio kau sungguh gila! Kau mengatakan ingin berserikat dengan orang-orang gagah di kolong langit, artinya dengan partai-partai yang dinamakan lurus bersih. Huh!…sekarang mereka justru mau membasmi kita. Kau mau berserikat dengan mereka?”

“Kalo Yo Kauwcoe masih hidup, dengan mudah kita bisa menaklukkan enam partai yang menyerang kita,” Tiat Koan menyela.

Cioe Tian tertawa terbahak-bahak. “Hidung kerbau! Kau lebih gila lagi,” bentaknya. “Kalu Yo Kauwcoe masih hidup, segala apa tentu berjalan licin. Perlu apa disebutkan lagi?….Aduh. Ia tak bisa meneruskan perkataannya karena hawa It im cie menerjang ke dalam isi perutnya.

“Diam!” teriak Leng Kiam mendongkol. Bentakan itu sangat berpengaruh dan semua orang segera menutup mulut.

Sementara itu Boe Kie jadi bingung dan bersangsi. Di dalam hatinya timbul banyak pertanyaan. Kalau didengar, Beng Kauw bukan semata-mata terdiri dari segundukan manusia yang biasa melakukan perbuatan tidak baik. Maka itu ia lantas saja bertanya “Swee Poet Tek taysoe, apakah aku boleh mendapat tahu tujuan yang sebenarnya dari agama kalian?”

“Ah! Kau belum tahu?” jawabnya. “Jika kau mesti hilang jiwa karena gara-gara agama kami, kami sesungguhnya merasa tak enak hati. Kau sekarang hanya bisa hidup beberapa jam lagi, biarlah sebelum mati, kau mendengar rahasia agama kami. Leng Sian Sianseng, apa boleh aku menceritakan?”

“Ceritakanlah!” jawabnya.

“Saudara kecil,” ia mulai, “Beng Kauw dimulai di negeri Tay Sit Kok dan pada zaman kerajaan Tong barulah masuk ke Tionggoan. Pada masa itu, kaisar Tong telah mendirikan kuil-kuil untuk agama kami. Beng Kauw mwnyamaratakan semua pengikutnya dan mereka itu jika berharta diharuskan menolong rakyat miskin. Kamipun tidak diperbolehkan makan makanan berjiwa atau arak. Oleh karena selama beberapa turunan agama kami selalu digencet oleh pembesar-pembesa rakus, maka kerap kali saudara-saudar kami memberontak. Misalnya saja sedari zaman Phoe Lap, Phoei kauwcoe di masa Pak Song (Song utara), entah sudah berapa kali pemberontakkan Beng Kauw.”

Mendengar samapi disitu, Boe Kie ingat, kalau Phoei merupakan salah seorang dari emapt pemberontakan besar di zaman Pak Song dnb namanya berendeng dengan orang-orang seperti Song Kang dan Tian Kouw.

“Kalau begitu Phoei Lap adalah kauwcoe agamamu?” tanyanya.

“Benar,” jawabnya. “Dalam tahun Kian Yam di zaman Lam Song (Song selatan), Ong Cong Sek kauwcoe memberontak di Sin cioe, sedang dalam tahun Siauw hin, Ie Ngo Po memberontak di Kioe Cioe. Sesudah itu, dalam tahun Siauw Teng, pada zaman kaisar Lee Cong, Thio Sam Ciang kauwcoe memberontak di daerah Kangsay dan Kwitang. Sebab Bengkauw sering sekali bermusuhan dengan pembesar negeri dan menimbulkan pemberontakan-pemberontakan, maka kalangan pembesar negeri menamakan agama kami sebagai Mo kauw dan melarangnya.”

“Untuk mempertahankan kehidupan, maka kami terpaksa bekerja dengan bersembunyi. Kamipun bermusuhan dengan partai-partai lurus bersih dan permusuhan kian lama kian menghebat sehingga mereka dan kami seakan-akan api dan air.”

“Tentu saja di antara anggota-anggota Beng kauw terdapat juga manusia-manusia yang rendah martabatnya. Mereka itu sering digunakan oleh partai-partai lurus bersih sebagai bukti bahwa agama kami adalah agama yang sesat. Dengan demikian, nama Beng kauw jadi makin merosot.”

“Swee Poet Tek, apakah kau maksudkan aku?” memutus Yo Siauw.

“Namaku Swee Poet Tek dan sesuatu yang tak boleh dikatakan aku tentu takkan mengatakannya” jawabnya. “Siapa kepotong, dia perih. Siapa berdosa, dia tahu dalam hatinya.”

Yo Siauw mengeluarkan suara di hidung dan tidak bicara lagi.

Tiba-tiba Boe Kie kaget sebab badannya sudah tak dingin. Tadi waktu baru kena It im cie rasa dingin meresap ke tulang-tulang, tapi sekarang serangan itu sudah menghilang.

Sebagaimana diketahui, waktu masih kecil sekali ia kena racun dingin dari pukulan Hian beng Sin ciang dan sesudah mencapai usia 17 tahun, barulah semua racun terusir dari badannya. Selama kurang lebih 7 tahun siang malam tubuhnya bertempur melawan hawa dingin sehingga perlawanan tubuhnya terhadap setiap serangan hawa dingin sudah terjadi secara wajar.

Di samping itu, iapun telah makan kodok merah dan telah melatih diri dengan ilmu Kioe Yang Sin Keng. Oleh karena adanya beberapa sebab itu maka hawa “yang” (hawa panas) di dalam tubuhnya hebat luar biasa. Sehingga racun It im cie sudah terusir keluar, tanpa ia mesti mengeluarkan banyak tenaga.

Sementara itu Swee Poet Tek melanjutkan penuturannya. “Sedari kerajaan Song direbut oleh bangsa Mongol, permusuhan antara Beng kauw dan kerajaan makin menghebat. Selama beberapa keturunan, pemimpin-pemimpin agama kami telah menugaskan diri sendiri untuk mengusir kaum penjajah dengan mempersatukan semua orang gagah di seluruh negeri. Sayang sungguh, dalam tahun-tahun yang belakangan Beng kauw tidak mempunyai pemimpin dan sebab memperebutkan kedudukan sebagai Kauwcoe, tokoh-tokoh Beng kauw jadi saling bunuh. Antara pentolan-pentolan kami ada yang mengasingkan diri dan ada pula yang mendirikan agama lain dan mengangkat diri sebagai Kauwcoe. Sesudah Beng kauw berantakan, permusuhan dengan partai-partai lurus bersih makin besar dan sebagai akibatnya kau bisa lihat sendiri. Kami sekarang sedang menghadapi bencana. Goan tin Hweeshio, bagaimana pendapatmu? Apakah aku berdusta?”

Goan tin mengeluarkan suara di hidung. “Tidak kau tak berdusta,” jawabnya. “Sesudah berada begini dekat dengan kebinasaan, perlu apa kau berdusta?” seraya berkata begitu, perlahan-lahan ia berdiri dan melangkah setindak.

“Ah!….”seru Yo Siauw dan yang lain-lain. biarpun sudah menduga, bahwa tenaga Goan tin akan pulih terlebih dahulu mereka sama sekali tidak menaksir, bahwa pendeta itu memiliki Lweekang yang begitu tinggi dan tenaganya pulih secara begitu cepat.

Di lain saat, dengan badan tetap, Goan tin telah melangkah lagi setindak.

Yo Siauw tertawa dingin. “Murid Kong kian taysoe benar-benar hebat,” katanya. “Eh! Aku telah mengajukan satu pertanyaan yang belum dijawab olehmu. Apakah jawabannya memalukan kau, sehingga kau tak berani membuka mulut?”

Goan tin tertawa terbahak bahak dan maju lagi setindak. “Aku tahu…aku tahu, bahwa sebelum aku menjawab, kau tak bisa mati dengan mata meram,” katanya. “Kau tanya, mengapa aku tahu jalanan-jalanan rahasia dari Kong Beng Teng. Mengapa aku bisa sampai disini tanpa diketahui oleh siapapun jua. Baiklah aku akan menjawab dengan sejujur-jujurnya. Jawabanku ialah Yo Po Thian kauwcoe, pemimpin agamamu sendiri berdua istri yang pernah membawaku kemari.”

Yo Siauw terkesiap. Sebagai seorang yang berkedudukan dan berkepandaian tinggi, pendeta itu pasti tak berdusta. Tapi mana bisa kejadian yang seperti itu?

“Keledai gundul! Jangan dusta kau!” caci Cioe Tian. “Jalanan rahasia Kong beng teng adalah sebuah rahasia besar. Tempat itu adalah tempat suci dari agama kami. Biarpun Yo cosoe seorang Kong beng Soe cia, walaupun Wie toako berkedudukan sebagai Hoe kauw Hoat tong. Mereka belum pernah menggunakan jalanan itu. Hanyalah kauwcoe seorang yang boleh menggunakannya. Mana bisa jadi Yo kauwcoe mengajak kau seorang luar berjalan-jalan itu?”

Goan tin menghela nafas dan untuk beberapa saat, kedua matanya mengawasi ke tempat yang jauh, “Jika kau mendesak juga, aku harus menceritakan peristiwa yang terjadi pada 25 tahun berselang,” katanya dengan suara berduka. “Baiklah. Biar bagaimanapun juga, kamu takkan bisa turun dari gunung ini dengan masih bernyawa. Kamu takkan bisa membocorkan rahasia. Hai! Cioe Tian, tak salah apa yang dikatakan olehmu. Jalanan rahasia itu adalah tempat suci dari agamamu. Memang, hanya kauwcoe yang boleh masuk ke situ. Siapa yang melanggar dosa besar. Tapi orangnya Yo Po Thian telah masuk ke situ. Yo Po Thian telah melanggar peraturan agama. Secara diam-diam dia membawa Yo hoejin masuk ke situ.”

“Dusta! Dusta besar.” Teriak Cioe Tian.

“Cioe Tian, diam kau!” bentak Pheng hweshio.

Goan tin melanjutkan perkataannya. “Bukan saja begitu, Yo hoejin telah membawaku masuk ke situ.”.

“Bangsat! Bangsat besar! Dusta!” caci Cioe Tian.

“…Aku bukan anggota Beng kauw. Biarpun masuk di jalanan itu, aku tidak melanggar peraturan agama.” Kata Goan tin dengan sedih.

“Mengapa Yo Hoejin mengajak kau masuk di jalanan itu?” tanya Tiat koan Tojin.

“Hmmm! Itulah kejadian yang terjadi sudah lama sekali.” Jawabnya. “Sekarang loolap sudah berusia 70 tahun lebih. Di waktu masih muda…Baiklah, loolap akan menceritakan rahasianya.”

“Apa kalian tahu siapa adanya loolap? Yo Po Thian adalah Soehengku, Yo Hoejin adalah Soemoyku. Pada sebelum menjadi pendeta, loolap she Seng bernama Koen, bergelar Hoen goan Pek Leng chiu.”

Mendengar keterangan itu, bukan main kagetnya Yo Siauw dan yang lain-lain, sedang Boe Kie hampir berteriak. Pemuda itu lantas saja ingat penuturan ayah angkatnya pada suatu malam di pulau Peng Hwee to. Pada waktu itu Cia Soen menceritakan cara bagaimana gurunya telah membunuh semua anggota keluarganya, cara bagaimana untuk memaksa keluarnya guru itu, ia telah membunuh banyak orang gagah dalam Rimba persilatan dan cara bagaimana sesudah ia melukai pendeta suci Kong kian. Seng koen tidak menepati janji untuk munculkan diri.

Tiba-tiba Boe Kie tersadar dan berkata di dalam hatinya. “Tak bisa salah lagi, pada waktu itu bangsat tua Seng Koen telah mengangkat Kong kian Seng ceng (pendeta suci kian) sebagai guru. Untuk menghilangkan permusuhan itu, pendeta suci itu rela menerima 13 pukulan Cit Siang koen dari Giehoe. Siapa nyana Seng Koen malah sudah mendustai gurunya sendiri, sehingga Kong kian Taysu meninggal dunia dengan penasaran.”

Mengingat sampai disitu, Boe Kie lantas saja iangat perkataannya sendiri yang diucapkan pada malam itu. “Giehoe, orang yang membinasakan seantero keluargamu bernama Hoen goan Pek lek chioe, bukan? Baiklah, Boe Kie akan mengingat nama itu. Dibelakang hari, anak tentu akan mewakili ayah untuk membalas sakit hati.”

Dengan gusar, ia kemudian berkata di dalam hati. “Kalapnya Giehoe sehingga ia sering membunuh orang yang tidak berdosa, kedatangan dan desakan berbagai partai di Boe Tong san sehingga kedua orang tuaku terpaksa membunuh diri semua adalah gara-gara bangsat tua Seng Koen.”

Makin diingat, darah pemuda itu makin meluap. Tiba-tiba ia merasa sekujur badannya panas, seperti dibakar. Karung Kian Koen It Khie tay dari Swee Poet Tek tertutup rapat dan hawa udara tidak bisa keluar masuk. Menurut pantas, sesudah berdiam dalam karung begitu lama, Boe Kie sebenarnya sudah mesti mati. Tapi ia karena memiliki lweekang yang sangat tinggi dan hawa yang dikeluarkan dari pernafasan sangat sedikit, maka ia masih dapat mempertahankan diri. Tapi sekarang, dalam gusarnya, Cioe yang Cin khie (hawa tulen Kioe Yang) tak dapat dikuasai lagi dan lalu mengamuk hebat. Beberapa saat kemudian, ia merasa badannya seperti masuk dalam perapian, sehingga ia mengeluarkan teriakan keras.

“Saudara kecil!” bentak Cioe Tian, “Kita semua tengah menghadapi kebinasaan dan sama-sama menanggung penderitaan hebat. Tapi seorang yang gagah tidak boleh memperlihatkan kelemahannya dan berteriak-teriak seperti kau”.

“Benar!” kata Boe Kie yang lalu menentramkan jalan pernafasannya dengan ilmu yang terdapat dalam Kioe yang cin keng. Biasanya ilmu itu bermanfaat sekali. Tapi kini, usahanya gagal. Tulang-tulangnya sakit dan jalan darah diseluruh tubuhnya seperti juga ditusuk dengan jarum-jarum ribuan yang panas.

Mengapa bisa begitu”

Biarpun telah melatih diri selama beberapa tahun dan biarpun Kioe yang cin keng merupakan salah satu kitab silat terlihai di kolong langit, tapi dalam mempelajari kitab tersebut, Boe Kie tidak mendapat bimbingan guru yang pandai. Ia belajar hanya dengan meraba-raba. Maka itu, Kioe yang cin khie yang makin lama makin bertambah di dalam badannya, tidak dapat disalurkan olehnya, karena ia berada di dalam karung.

Di samping itu, totokan It im cie merupakan salah satu ilmu yang paling beracun dalam rimba persilatan. Bagi Boe Kie, totokan itu seakan-akan setengah obat pasang yang disulut sumbunya. Celakanya, sebab berada di dalam karung, hawa cin kie yang keluar dari pernafasannya tak bisa buyar dan balik menghantam dirinya sendiri. Dengan demikian, Boe Kie kini tengah menghadapi saat yang sangat penting (jiwanya tergantung atas selembar rambut).

Hal ini tentu tak diketahui oleh Cioe Tian dan yang lain-lain.

Sementara itu, biarpun sedang melawan hawa panas dengan mati-matian, Boe Kie tetap dapat menangkap setiap perkataan Goan Tin yang telah melanjutkan penuturannya.

“Keluarga soemay-ku dan keluargaku mempunyai hubungan yang rapat,” kata pendeta itu. “Sedari kecil kita telah ditunangkan. Siapa tahu, diam-diam Yo Po Thian juga mencintai soemoy-ku itu. Belakangan dia menjadi kauwcoe dari Beng kauw dan pengaruhnya besar sekali. Ayah dan ibunya soemoy adalah manusia-manusia yang kemaruk akan pengaruh, sedang soemoy sendiri tidak mempunyai pendirian yang teguh. Akhirnya soemoy menikah dengan Yo Po Thian. Tapi sesudah menikah, ia merasa tidak beruntung dan kadang-kadang membuat pertemuan denganku. Supaya pertemuan tidak terganggu, ia ingin sekali mencari tempat yang aman dan nyaman.”

“Yo Po Thian sangat mencintai soemoy-ku dan ia tidak pernah membantah kehendak sang istri. Waktu soemoy menyatakan keinginannya untuk melihat-lihat jalanan rahasia Kong beng teng, biarpun merasa sangat berat, ia sudah meluluskan juga. Demikianlah, jalanan rahasia itu yang selama ratusan tahun dipandang sebagai temnpat suci dari Beng kauw, menjadi tempat pertemuanku dengan nyonya Kauwcoe.”

“Ha…ha…ha…ha! Puluhan kali aku mondar mandir di jalanan itu. Apa heran jika hari ini aku bisa mendaki Kong beng teng tak kesukaran apapun jua?”

Yo Siauw dan kawan-kawannya merasa dada mereka seperti mau meledak, tapi mereka tak bisa mengucapkan sepatah kata. Cioe Tian yang biasa mencaci-maki juga tidak dapat mengeluarkan caciannya.

Kejadian itu merupakan hinaan yang besar bagi Beng kauw dan bencana yang dihadapi oleh Beng kauw juga karena gara-gara terbukanya rahasia jalanan itu. Mata Yo Siauw dan yang lain-lain seperti mau menyemburkan api, tapi merekapun tahu, bahwa Goan Tin tidak berbicara dusta.

“Kamu marah?” tanya Goan tin. “Pernikahanku telah digagalkan oleh Yo Po Thian. Dia terang-terang mencintai istriku. Setelah menjadi pemimpin Mo Kauw, Yo Po Thian merampas istriku yang tercinta. Permusuhanku dengan Mo kauw adalah permusuhan yang tidak bisa berdiri di kolong langit bersama-sama. Pada hari pernikahan Yo Po Thian dengan soemoy-ku, aku datang memberi selamat dan turut minum arak kegirangan. Tapi di dalam hati, diam-diam aku bersumpah, bahwa sebegitu lama Seng Koen masih bernafas, aku pasti akan membunuh Yo Po Thian, aku pasti akan membasmi Mo kauw. Sudah 50 tahun aku bersumpah, baru kini aku berhasil.”

“Haa…haa…Aku puas!” Seng koen akan mati dengan mata meram.

“Terima kasih atas keteranganmu,” kata Yo Siauw dengan suara dingin. “Kini baru kutahu sebab musabab dari kematian Yo Siauw coe.”

“Kalau begitu, ia mati di dalam tanganmu”

“Ilmu Yo soeheng banyak lebih tinggi daripadaku,” kata Goan Tin. “Kami adalah saudara seperguruan. Masing-masing tahu kepandaiannya.”

“Lantaran begitu kau sudah membokong,” memutus Cioe Tian. “Kalau bukan menggunakan racun, kau tentulah sudah menyerang secara gelap, seperti perbuatanmu hari ini.”

Goan tin menghela nafas dan menggelengkan kepala. “Tidak!” katanya. “Sebab kuatir aku mencelakai dia secara menggelap, berulang kali soemoyku memperingatiku. Ia mengatakan bahwa jika aku membinasakan Yo Po Thian, ia takkan mengampuniku. Ia mengatakan, bahwa dengan mengadakan pertemuan gelap saja, ia telah berdosa besar terhadap suaminya. Bila Yo Po Thian dibinasakan, maka perbuatan itu dianggapnya sebagai perbuatan terkutuk yang pasti akan dihukum oleh langit.”

“Hai…Yo Soeheng…Dia…mati sendiri.”

Yo Siauw dan lain-lain terkesiap.

Kata Goan Tin pula, “Kalau benar Yo Po Thian binasa dalam tanganku, aku tentu sudah mengampuni Beng kauw”.” Suaranya berubah perlahan. Seperti juga ia ingat pula peristiwa yang terjadi pada banyak tahun berselang.

Sesudah berhenti sejenak, ia berkata lagi dengan suara perlahan. “Malam itu aku bertemu lagi dengan suomoy-ku di jalanan rahasia itu. Sekonyong-konyong kami mendengar suara nafas yang datang dari jurusan kiri. Itulah kejadian yang belum pernah terjadi. Orang luar takkan bisa masuk ke jalanan itu, sedang anggota Beng kauw takkan berani masuk. Kami kaget dan lalu menyelidiki. Ternyata suara nafas itu suara nafasnya Yo Soeheng yang sedang berduduk dalam sebuah kamar. Ia memegang selembar kulit kambing dalam tangannya dan selebar mukanya berwarna merah. Ia sudah mengetahui rahasia kami. ‘Bagus sungguh perbuatan kamu berdua!’ katanya. Sesudah berkata begitu paras mukanya berubah biru. Sesaat kemudian, warna biru berubah merah lagi. Perubahan ini silih berganti sampai 3 kali. Yo Cosoe, apa kau tahu sebab musababnya?”

“Kejadian itu sudah terjadi karena Yo kauwcoe sedang melatih diri dalam ilmu Kiun koen tay lo ie,” jawabnya.

“Yo Siauw bukankah kau sudah mahir dalam ilmu itu?” tanya Coe Tian.

“Kau tidak dapat menggunakan perkataan mahir,” jawabya. “Waktu masih hidup, karena menghargai aku, Yo kauwcoe telah mengajar aku pokok-pokok dari Kian koen Tay lo ie Sin kang. Sesudah berlatih belasan tahun, aku hanya mencapai tingkat dua. Dalam latihan selanjutnya. Hawa tulen dalam badanku mengamuk dan coba menerjang keluar dengan memecahkan batok kepalaku. Biar bagaimanapun juga aku tidak bisa menguasai hawa itu. Perubahan 3 kali pada paras muka Yo Kauwcoe merupakan tanda, bahwa ia sudah mencapai tingkat kelima dari ilmu tersebut. Ia pernah memberitahu aku, bahwa di antara kauwcoe agama kita, Ciong kauwcoelah, dari keturunan kedelapan yang memiliki kepandaian paling tinggi dan sudah mencapai tingkat keenam dari Kian koen tay lo ie.”

Pada suatu hari, waktu sedang melatih diri, ilmu itu telah membakar Ciong kauwcoe, sehingga binasa. Mulai dari waktu, belum ada orang yang bisa mencapai tingkat kelima.”

“Begitu sukar?” kata Cioe Tian.

“Kalau tidak sukar, ilmu itu tentu tidak dianggap sebagai ilmu pelindung agama kita,” kata Tiat koen Toojin.

Jago-jago Beng kauw itu sudah lama mendengar halnya Kiankoen tay loe ie Sinkang. Maka itu begitu nama itu disebutkan, biarpun sedang menghadapi bahaya, mereka tak tahan untuk membicarakannya.

“Yo Cosoe,” kata Pheng Eng Giok, “Mengapa terjadi perubahan pada paras muka Yo kauwcoe?”

Pheng Hweesio adalah seorang yang sangat pintar. Dengan mengajukan pertanyaan itu ia mempunyai maksud tertentu. Kalau Goan Tin maju beberapa tindak lagi, habislah nyawa mereka. Maka itu sedapat mungkin ia ingin memperpanjang pembicaraan untuk mendapat lebih banyak waktu. Asal saja ketujuh jago Beng kauw dapat bergerak, maka dengan bersatu padu, mereka akan bisa melawan serangan Goan Tin, biarpun hanya untuk sementara waktu. Andai kata pada akhirnya lebih baik daripada tanpa melawan.

Sebagai seorang yang sangat cerdas Yo Siauwpun mengerti maksud Pheng Eng Giok. Maka itu perlahan-lahan ia memberi keterangan. “Tujuan dari Kian koen tay lo ie Sinkang ialah menjungkir-balikkan dua rupa hawa, yaitu hawa “keras” dan hawa “lembek”, hawa Im dan hawa Yang. Perubahan pada paras muka sudah terjadi pada waktu darah di dalam tubuh turun ke bawah, yaitu pada waktu berubahnya Cin kie. Sepanjang keterangan, waktu mencapai tingkat keenam, kulit di sekujur badan bisa berubah-ubah warnanya, sebentar merah sebentar biru. Tapi kalo seseorang sudah mencapai tingkat ke tujuh, perubahan hawa Im dan Yang akan terjadi tanpa memperlihatkan perubahan dalam warna kulit.”

(Im dan Yang = Negatif dan Positif).

Sebab kuatir Goan tin tak sabaran, Pheng Eng Giok lalu menanya pendeta itu. “Goan tin taysu apakah kau boleh memberitahu kami, cara bagaimana Yo Kauwcoe sudah berpulang ke alam baka?”

Goan tin tertawa dingin. “Sesudah kamu kena It Im cie, dalam dunia ini hanya ada empat golongan manusia yang bisa menolong,” katanya. “Kamu hanya bisa ditolong dengan Kioe yang sin kang dari Boe Tong, Siauw Lim, Go Bie dan It Yang Cie dari It Teng Taysoe. Kalu ditolong dengan salah satu ilmu itu kamu akan bisa bergerak untuk sementara waktu. Janganlah mimpi, bahwa kamu bisa menolong diri sendiri dengan mengerahkan lweekang dan dengan memperpanjang waktu. Aku bicara terang-terang. itu semua tiada gunanya. Sebagai ahli-ahli kelas utama dalam rimba persilatan, kamu tentu tahu, bahwa biar mendapat luka yang lebih berat lagi, sesudah menjalankan pernafasan begitu lama, sedikit banyak kamu sudah mendapat kemajuan. Tapi sekarang? Bukannkah, sebaliknya daripada mendingan badanmu jadi makin kaku?”

Yo Siauw dan yang lain-lain sudah merasai kenyataan itu. Tapi sebagai manusia sebegitu lama masih bernafas, mereka masih mempunyai harapan.

Sementara itu Goan tin melanjutkan penuturannya. “Melihat perubahan paras muka Yo Soe Heng, aku kaget. Soemoyku tahu bahwa ia berkepandaian sangat tinggi dan dengan sekali menghantam, ia bisa membinasakan aku. ‘Toosoeko, katanya, dalam hal ini akulah yang bersalah. Lepaskan Seng soeko dan aku rela menerima segala hukuman.’ Mendengar perkataannya, Yo Soe heng berkata dengan suara parau. ‘Aku hanya bisa menikah dengan badanmu, tidak bisa menikah dengan hatimu. Sehabis berkata begitu, kedua matanya terbuka lebar, seperti sedang mangamati sesuatu di tempat jauh dan sesaat kemudian, dari kedua mata itu keluar darah yang mengalir turun dengan perlahan. Tubuhnya kelihatan kaku dan ia tidak bergerak lagi. Soemoyku terkejut dan berteriak. ‘Toa soeko!…Toa soeko!…Po Thian!…Po Thian!…Mengapa kau’. Ia berteriak berulang-ulang.”

Goan Tin meniru teriakan Soemoynya dengan suara perlahan, tapi nadanya menyeramkan, sehingga semua orang jadi bergidik.

Sesudah berdiam sejenak. Ia berkata pula, “Sebab Yo Soeheng tidak juga bergerak, dengan membaringkan hati soemoyku menarik tangannya dan lantas saja ternyata, bahwa tangan itu tangannya mayat. Soemoy meraba dadanya. Ia memang sudah mati. Kutahu hatinya tidak enak dan ia merasa menyesal. Maka itu, aku segera coba membujuknya dengan berkata, ‘Soemoy, menurut penglihatanku Toasoeko telah membuat kesalahan pasa waktu melatih diri dalam serupa ilmu yang tinggi. Mengalirnya hawa tulen terbalik dan ia tidak dapat ditolong lagi. Soemoyku mengangguk, ‘benar’ katanya. ‘Ia tangah melatih ilmu Kian Koen tay lo ie yang sangat luar biasa. Pada detik latihan yang sangat penting ia mendapat tahu rahasia pertemuan kita. Biarpun bukan binasa dalam tanganku, tapi ia binasa karena gara-garaku.’ Baru saja aku ingin membujuk lagi, tiba-tiba ia menuding ke jurusan belakangku sambil membentak, ‘Siapa itu?” Aku memutar badan, tapi tak lihat apapu juga. Waktu aku memutar badan lagi, pada dadanya sudah tertancap sebilah pisau. Ia sudah membunuh diri sendiri!”

“Huh..Huh!…Yo Po Thian mengatakan bahwa ia menikah dengan orangnya, tapi tidak menikah dengan hatinya. Aku sendiri…Aku berhasil merebut hatinya soemoy, tapi tidak bisa mendapatkan menusianya. Dalam seluruh penghidupanku, ia adalah seorang yang paling dihormati dan paling dicintai olehku. Kalau bukan gara-gara Yo Po Thian, kami berdua tentu sudah terangkap menjadi suami-istri yang bahagia. Kalau bukan Yo Po Thian menjadi kauwcoe dari Mo kauw, maka soemoyku tentu takkan menikah dengan manusia itu yang usianya lebih tua dua puluh tahun lebih daripadanya. Yo Po Thian telah mati. Aku tidak bisa berbuat sesuatu lagi kepadanya. Tapi Mo kauw masih malang-melintang di dalam dunia. Waktu itu sambil menuding jenazah soeheng dan soemoyku, aku berkata, ,Aku Seng Koen, bersumpah untuk menggunakan segala rupa kepandaianku guna membasmi Beng kauw. Sesudah berhasil, aku akan datang kemari lagi dan di sini untuk menggorok leher sendiri di hadapanmu berdua sebagai penebus dosa. Ha…ha…ha…Yo Siauw!…Wie It Siauw!kamu semua akan segera binasa. Seng koenpun tak akan hidup lebih lama lagi. Maksudku sudah tercapai dan dengan segala senang hati, aku akan menggorok leher sendiri untuk mengawani kamu semua ke alam baka.”

Ia menghela nafas dan berkata pula. “Selama beberapa tahun setiap saat aku memikiri daya upaya untuk menghancurkan Mo kauw. Hei..Aku sungguh beruntung, istriku direbut orang. Muridku satu-satunya menganggapku sebagai musuh besarnya?””

Mendengar disebutnya Cia Soen, jantung Boe Kie memukul keras dan ia memusatkan segala perhatiannya untuk mendengari Seng Koen. Tapi dengan pemusatan perhatian itu, Kioe Yang Cin Khie yang berkumpul di tubuhnya jadi bertambah. Tak lama kemudian, ia merasa tulang-tulangnya seperti berkembang, seolah-olah mau meledak, sedang lubang-lubang rambutnya seakan-akan menjadi beberapa kali lipat lebih besar.

Goan Tin melanjutkan ceritanya. “Sesudah turun dari Kong beng teng, aku pulang ke Tiong goan dan mencari muridku Cia Soen yang sudah lama tak bertemu. Di luar dugaan, begitu bertemu aku diberitahukan, bahwa ia sudah menjadi salah satu Hoa kauw Hoat ong dari Mo kauw.”

“Ia malah coba membujukku supaya aku turut menyeburkan diri ke dalam agama siluman itu. Ia mengatakan bahwa Mo kauw bertujuan untuk mengusir kaum penjajah. Aku gusar tak kepalang. Tapi aku segera menekan kegusaranku, karena kuingat, bahwa Mo kauw sudah berakar dalam dan mempunyai banyak orang pandai, sehingga dengan sendirian, aku pasti tak bisa berbuat banyak. Jangankan aku seorang diri, sedangkan sebuah perserikatan dari orang-orang gagah seluruh rimba persilatan belum tentu bisa menghancurkannya. Aku menarik kesimpulan jalan satu-satunya ialah menjalankan tipu supaya Mo kauw terpecah belah dan anggota-anggotanya saling bunuh-membunuh. Hanyalah dengan cara itu, Mo kauw bisa dihancurkan”

Yo Siauw dan yang lain-lain memasang kuping dengan hati berdebar-debar. Mereka merasa, bahwa dalam banyak tahun mereka seperti berada dalam pulas yang nyenyak, tanpa mengetahui, bahwa seorang musuh besar tengah menjalankan siasat untuk membinasakan Beng kauw.

Diam-diam mereka mengakui kegoblokannya mereka. Bahwa dalam banyak tahun ini, apa yang diperbuat mereka hanyalah berkelahi dengan kawan sendiri untuk merebut kursi Kauwcoe. Cerita Goan tin itu bagaikan bunyi genta yang telah menyadarkan mereka.

“Pada waktu itu, paras tak berubah, aku hanya mengatakan bahwa urusan itu urusab besar yang harus dipikir masak-masak,” kata pula Goan tin. “Beberapa hari berselang aku berlagal mabuk arak dan coba mencemarkan kehormatan istri muridku. Dengan menggunakan kesempatan itu, aku membunuh ayah, ibu, istri dan anaknya Cia Soen. Aku mengerti, bahwa dengan berbuat begitu. Ia akan marah besar dan coba mencari aku untuk membalas sakit hatinya. Kalau dia tidak berhasil mencari aku, maka menurut dugaanku, ia akan melakukan perbuatan yang gila-gila. Ha…ha….! Kata orang, mengenal anak tidak seperti ayahnya, mengenal murid tidak seperti gurunya. Aku mengenal watak muridku itu. Dia anak sangat baik, tapi seorang pemarah yang mudah menjadi gelap. Ia tidak bisa memikir panjang-panjang, ia tidak bisa meneliti siasat orang.”

Mendengar sampai di situ Boe Kie merasa kepalanya puyeng. Ia gusar bukan main, dadanya seperti mau meledak. “Kalau begitu semua penderitaan Gie Hoe adalah akibat dari tipu busuknya bangsat tua itu.” katanya dalam hati.

Dengan suara bangga Goan tin berkata pula “Dengan menggunakan namaku Cia Soen telah membinasakan orang-orang gagah dalam kalangan Kangouw. Tujuannya ialah untuk memaksa aku keluar untuk menemui dia. Ha…ha…! Mana bisa aku menuruti kemauannya, rahasia tentu saja tak bisa ditutup. Biarpun dia menggunakan namaku, tapi orang tahu bahwa pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan olehnya. Dia menanam banyak sekali permusuhan. Hutang-hutang darah itu semua masuk kedalam buku hutang Beng kauw”..”

Ia berhenti sejenak, kemudia lanjutnya. “Di luar banyak musuh, di dalam Beng Kauw berantakan. Kamu semua tidak terlepas dari tipu dayaku. Aku merasa menyesal dia batal membunuh Song Wan Kiauw. Tapi cukuplah, dia sudah membunuh Kong kian Taysoe, melukai lima tetua Kho tong, membinasakan jago-jago lima partai di pulau Ong poan san, bahkan orang-orang Peh bie kauw tak terluput dari tangannya. Ha…ha…ha…! Murid baik, murid manis. Ha…ha…ha…” dia tertawa bagaikan orang edan.

Tiba-tiba Boe Kie merasa kupingnya “menguing” dan ia pingsan. Tapi beberapa saat kemudian, ia sudah tersadar lagi. Semenjak kecil, ia sendiri pernah menerima macam-macam hinaan. Tapi apa yang diderita ayah angkatnya, ratusan kali lipat lebih hebat.

Karena tipu busuknya Seng Koen, ayah angkat itu, seorang yang keras seperti besi, musnah rumah tangganya. Rusak namanya, matanya buta keduanya, dan sekarang hidup sebatang kara di pulau terpencil. Aduh! Itulah sakit hati yang tidak bisa tidak harus dibalas.

Bahana gusarnya, dadanya menyesak. Dan karena gusar, Kioe yang Cin Khie dalam tubuhnya mengamuk hebat. Nafasnya tersengal-sengal membuang “hawa tulen” yang seperti juga meledak keluar dari dalam tubuhnya. Tapi ia berada di dalam karung. Hawa yang keluar dari hidung dan mulutnya tak bisa buyar, sehingga sebagai akibatnya, perlahan-lahan karung Kian Koen it khie tay melembung.

Tapi semua orang yang tengah mendengari cerita Goan tin tidak memperhatikan melambungnya karung itu.

Goan tin berkata pula. “Yo Siauw, Cioe Tian, Wie It Siauw dan yang lain-lain, apa kamu mau bicara?”

Yo Siauw menghela nafas, “Sesudah keadaan jadi begini, apa lagi yang mau dikatakan?” katanya, “Goan tin taysu, apakah kau bisa mengampuni jiwa anakku. Ibunya ialah Kie Siauw Hoe dari Go Bie Pay. Ia belum masuk ke dalam Beng Kauw.”

“Membabat rumput harus membabat sampai diakarnya, aku tak mau memelihara harimau kecil untuk jadi biang penyakit,” jawabnya. Ia berjalan pelan-pelan dan lalu mengangkat tangannya untuk menepuk batok kepala Yo Siauw.

Boe Kie terkesiap. Tanpa menghiraukan hawa panas yang seperti dibakar, ia melompat ke hadapan Goan tin, mengangkat tangan kirinya dan menangkis pukulan pendeta itu. Begitu tertangkis, tangan Goan tin terpental. Sesudah terkena pukulan Han beng Bian ciang, pendeta itu terluka berat dan sekarang, tenaganya baru pulih sebagian, sehingga tangkisan Boe Kie telah menggoncang tubuhnya dan mau tidak mau, ia mundur setindak dengan badan limbung. “Bocah!” bentaknya. “Kau…kau…”

Boe Kie merasa mulut dan lidahnya kering serta panas. Hawa cin khie mengamuk makin hebat.

Sesudah menetapkan semangat, Goan tin memukul karung itu dengan telapak tangannya. Tapi pukulan itu, yang tidak kena dibadan Boe Kie, sudah terpukul balik dengan tenaga membal dari karung tersebut, sehingga sekali ia terhuyung. Ia kaget bukan main dan tak tahu sebab musababnya. Dia sama sekali tidak pernah bermimpi, bahwa manusia yang berada dalam karung itu mempunyai tenaga Kioe yang Sin keng.

Sementara itu, Kioe yang Cin khie yang mengamuk di dalam tubuh Boe Kie sudah mendekati titik peledakan. Jika Kian koen It kie tay keburu meledak, maka ia terlolos dari kebinasaan, kalau tidak, Cin khie itu akan segera meledak dan membakar seluruh tubuhnya.

Di lain saat Goan tin telah maju 2 tindak dan kembali menghantam karung dengan telapak tangannya. Seperti tadi, ia terhuyung pula, tapi karungnya pun, yang didorong keras, berguling-guling seperti bola raksasa. Dada Boe Kie semakin menyesak. Ia sukar mengeluarkan lagi hawa dari badannya, sebab karung itu sudah terlalu penuh. Dengan beruntun Goan tin memukul 3 kali dan menendang 2 kali dan tiap kali menyerang, setiap kali terhuyung sebab terpukul balik dengan tenaga membal karung tersebut.

Masih untung pukulan dan tendangannya tidak meyentuh pada Boe Kie. Bila menyentuh tubuh yang penuh dengan Kioe yang Sin kang ia pasti terluka berat.

Yo Siauw, Pheng Eng Giok dan Swee Poet Tek mengawasi kejadian aneh itu dengan mata membelalak. Kian koen It khie tay adalah milik Swee Poet Tek, tapi iapun tak tahu, mengapa karung bisa melembung seperti bola. Ia juga tak tahu apa Boe Kie masih hidup atau sudah mati.

Dengan gregetan Goan tin mencabut pisau dari pinggangnya dan dengan sekuat tenaga, ia menikam. Tapi karung itu hanya mendesak, tidak pecah. Ia terkesiap. Ia tak tahu, bahwa karung itu terbuat daripada semacam bahan yang aneh. Dengan menggunakan pisau biasa, karung mustika itu tentu saja tidak bisa dirobek.

Sesudah gagal dalam beberapa serangan, Goan tin berkata dalam hatinya. “Perlu apa aku meladeni manusia dalam karung itu?” ia menendang dan karung itu terbang keluar.

Apa mau dikata, karung itu terbentur pintu dan terpental balik, menyambar Goan tin. Melihat sambaran itu, dia mengangkat kedua tangannya dan menghantam sekuat tenaga.

“Dar!” peledakan dahsyat yang menyerupai geledek menggetarkan seluruh ruangan dan ribuan kepingan kain terbang berhamburan. Kian Koen It khie tay hancur! Goan tin, Yo Siauw, Cioe tian dan yang lain-lain merasa seperti disambar semacam hawa yang sangat panas, sedang Boe Kie sendiri berdiri terpaku bagaikan patung dengan paras muka seperti orang linglung, sebab ia sendiri tak tahu apa yang telah terjadi.

Ia sendiri tak tahu, bahwa pada detik itu, ia sudah mencapai hasil lengkap dalam memiliki Kioe yang Sin kang yang murni. Pada detik itu, naga seolah-olah bertemu dengan harimau, langit bersatu padu dengan bumi. Tadi waktu ia masih berada di dalam karung yang penuh dengan Kioe yang Cin khie, ratusan jalan darahnya seperti diurut oleh ratusan ahli silat kelas utama yang dengan berbareng mengeluarkan hawa tulen mereka. Jodoh yang luar biasa itu belum pernah dialami oleh siapapun juga. Dan pada saat meledaknya karung, cin khie di dalam dan di luar badannya mengalami suatu kegoncangan hebat.

Di dalam semua pembuluh darahnya seperti juga mengalir semacam air perak dan sekujur badannya nyaman luar biasa.

Dalam seluruh rimba persilatan, kejadian seaneh itu baru saja terjadi.

Goan tin adalah manusia jahat yang licik dan cerdas otaknya. Melihat pemuda itu masih dalam keadaan bingung. Ia tahu, bahwa sekarang adalah kesempatan satu-satunya untuk menyerang. Bila kesempatan yang baik itu telah lewat dan Boe Kie keburu turun tangan terlebih dahulu, ia bakal binasa. Maka itu ia lantas saja maju dan menotok Tian tiong hiat, di dada pemuda itu.

Dengan cepat Boe Kie menangkis dengan tangannya.

Dalam ilmu silat, kepintaran Boe Kie masih sangat cetek. Waktu berada di pulau Peng hwee to, ia pernah belajar silat dari Cia Soen dan kedua orang tuanya. Tapi apa yang telah dipelajarinya adalah ilmu-ilmu biasa. Maka itu, ia takkan bisa menandingi seorang lawan seperti Goan tin. Pada waktu mengkis pukulan si pendeta, Yang tie hiat di pergelangan tangannya, telah kena ditotok dengan It im cie, sehingga ia menggigil dan mundur setindak dengan terhuyung.

Tapi badan pemuda itu penuh dengan Kioe yang Cin khie dan hawa tersebut menerobos masuk ke dalam tubuh Goan tin dari jari tangannya. Hampir berbareng dengan terhuyungnya Boe Kie, “yang” (panas) dari Kioe yang Sin kang bertempur dengan hawa “im” (dingin) dalam tubuhnya Goan tin. Biarpun lihai si pendeta yang telah terluka, mana bisa melawan Kioe yang cin khie. Ia bergidik dan merasa seantero tenaga dalamnya membuyar. Hatinya mencelos. Ia tahu, bahwa ia tengah menghadapi kebinasaan. Buru-buru ia memutar badan lalu kabur.

“Seng koen!” teriak Boe Kie dengan gusar.

“Tinggalkan jiwamu di sini!” sesaat itu Goan tin sudah lari masuk meninggalkan pintu. Boe Kie melompat untuk mengejar, tapi, “Bruk!.” Ia menubruk pinggir pintu, pipinya yang terbentur dirasa sakit sekali.

Mengapa begitu?

Sesudah berhasil di dalam Kioe yang Sin kang, setiap gerakan Boe Kie berlipat kali lebih besar tenaganya daripada biasanya. Maka itu, waktu melompat, jarak lompatan itu jauh luar biasa, sehingga ia kehilangan keseimbangan dan menubruk pintu. Ia tak tahu mengapa ia bisa melompat begitu jauh. Tapi ia tak bisa memikir panjang-panjang dan lalu turut masuk ke dalam pintu samping itu.

Ia sekarang berada dalam ruangan kecil. Dalam tekadnya untuk membalas sakit hati ayah angkatnya, tanpa menghiraukan kemungkinan dibokong, ia mengejar terus.

Setelah melalui ruangan itu, ia tiba dalam sebuah halaman terbuka. Ia mengendus bau wangi, wanginya bunga yang ditanam di halaman itu.

Tiba-tiba ia lihat sinar lampu yang keluar dari sebuah kamar di sebelah barat. Ioa memburu ke kamar itu dan menolak pintu. Satu bayangan abu-abu berkelebat, Goan tin menyingkap sebuah tirai sulam dan masuk k edalamnya, Boe Kie mengejar iapun menyingkap tirai itu dan ikut masuk. Tapi orang yang dikejar tidak terlihat batang hidungnya.

Ia mengawasi keseputarannya dan ia heran, sebab ia ternyata berada dalam kamarnya seorang gadis dari keluarga hartawan. Di pinggir dinding terdapat tempat untuk berhias dan di atas meja berhias berdiri sebuah ciaktay dengan lilinnya yang memancarkan sinar terang dalam kamar itu.

Dalam pandangan sekilas mata, ia merasa bahwa kamar itu lebih indah daripada kamarnya Cioe Kioe tin. Di seberang meka hias terdapat sebuah ranjang tertutup oleh tirai, sedang di sepanjang ranjang terlihat sepasang kasur sulam, sebagai tanda, bahwa seorang wanita sedang tidur di ranjang itu.

Boe Kie berdiri dengan penuh rasa heran.

Kamar itu hanya dengan sebuah pintu, dan semua jendela tertutup rapat. Barusan, terang-terangan lihat Goan tin masuk, tapi pendeta itu tidak terlihat bayang-bayangnya lagi!

Apakah ia sembunyi dalam ranjang? Apakah yang harus diperbuat olehnya? Apakah ia boleh menyingkap tirai ranjang itu?

Selagi bersangsi, tiba-tiba ia mendengar tindakan kaki yang sangat enteng. Ia melompat dan sembunyi di belakang rak, tempat menggantungkan selimut, yang terletak didinding sebelah barat.

Sesaat kemudian, seorang wanita terdengaran batuk-bautk. Boe Kie dan melihat masuknya 2 orang wanita muda, yang satu berusia kira-kira enambelas tahun, terus batuk-batuk dan berjalan dengan dipayang oleh yang lain, yang berusia lebih muda. Dilihat dari dandananny, nona cilik itu adalah pelayan dari nona yang dipayang itu.

“Siocia, kau mengasolah,” katanya dengan suara membujuk. “Jangan jengkel dan jangan bingung.”

Siocia itu batuk-batuk lagi. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya dan menggaplok pipi pelayannya. Tamparan itu hebat, sehingga si pelayan terhuyung. Sebab sebelah tangannya memegang pundak pelayan itu, maka waktu si pelayan terhuyung, badannya turut bersempoyongan dan berputar menghadap Boe Kie. Dengan bantuan sinar lilin, pemuda itu melihat wajah yang tidak asing lagi, mata besar, biji mata hitam, muka potongan telur, muka dari Yo Poet Hwie! Tubuh si nona sudah banyak lebih jangkung dan lebih besar, tapi sikapnya dan gerak geriknya masih seperti dulu.

Dengan nafas tersengal-sengal, Poet Hwie berkata. “Kau suruh aku jangan bingung?Hhm…Kau sendiri tentu saja tidak bingung. Bagimu, paling baik bila ayahku dibinasakan orang, supaya kau bisa mencelakai aku. Kalau aku telah mati, kau bisa berkuasa di sini,” pepayang Poet Hwie ke sebuah kursi.

“Ambil pedangku!” memerintah si nona sudah berduduk.

Si pelayan segera mengambil sebuah pedang yang tergantung di dinding.

Boe Kie mengawasi dan mendapat kenyataan, bahwa pada kedua kaki pelayan itu terikat selembar rantai besi yang halus, sedang pada kedua pergelangan tangannyapun terikat dengan rantai yang sama. Kaki kirinya pincang dan badannya bongkok, seperti busur yang melengkung. Waktu ia memutar badan sesudah mengambil pedang, Boe Kie melihat mukanya dan pemuda itu terkejut, sebab muka itu jelek luar biasa. Mata kanannya kecil, mata kirinya besar, hidung melesak, mulutnya mengok dan dalam keseluruhan muka itu sangat menakutkan.

“Mukanya lebih jelek daripada Coe Jie,” katanya dalam hati. “Kejelekan Coe Jie karena racun dan masih dapat dirubah. Tapi kejelekan nona cilik itu adalah dari pembawaannya dan tak dapat diperbaikki lagi.”

Seraya menyambuti senjata itu dari tangan pelayanannya, Poet Hwie batuk-batuk lagi beberapa kali. Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah peles dan menuang 2 butir yowan, yang lalu ditelannya.

“Kalau begitu Poet Hwie berbekal obat, sehingga biarpun terkena It Im cie, ia masih bisa bergerak,” kata Boe Kie dalam hati. “Tak bisa salah lagi, obat itu panas sifatnya,”

Benar saja, beberapa saat kemudian. Paras nona Yo bersemu merah dan pada kedua pipinya terlihat sinar dari hawa panas. Perlahan-lahan ia bangkit dan berkata. “Aku mau tengok ayah.”

“Mungkin sekali musuh masih belum pergi,” kata si pelayan. “Sebaiknya aku yang pergi menyelidiki terlebih dahulu. Kalau sudah tak ada bahaya barulah siocia keluar.” Ia bicara dengan suara yang sangat tak sedap kedengarannya, seperti suara dari seorang lelaki setengah tua.

“Tak perlu berlagak baik hati!” bentak Poet Hwie. “Lepaskan aku.”

Dengan apa boleh buat, si pelayan mengangsurkan tangan kanannya. Sebab kedua pergelangan tangannya terantai maka waktu mengangsurkan tangan kanan, tangan kirinya turut diangsurkan. Tiba-tiba tangan kiri Poet Hwie menyambar dan mencengkeram pergelangan tangan kanan pelayannya, jari-jari tangannya mencengkeram Hwee cong, Yang tie dan Gwa koan hiat.

Badan pelayan itu lantas saja kesemutan dan tak bisa bergerak lagi. “Siocia?” katanya. “Kau?…kau?”

Poet Hwie tertawa dingin. “Kami, ayah dan anak, telah dibokong musuh dan kami tengah menghadapi kebinasaan,” katanya dengan suara menyeramkan. “Apakah kau takkan menggunakan kesempatan ini untuk membalas sakit hati. Tak sudi kami disiksa olehmu! Jalan yang paling baik adalah membunuh kau terlebih dahulu.” Seraya berkata begitu, ia mengayun pedang yang lalu ditebas ke leher pelayannya.

Boe Kie terkesiap. Melihat keadaan si pelayan, ia merasa sangat kasihan. Pada detik berbahaya, ia melompat dan mementil badan pedang yang lantas saja terpental dan jatuh di lantai. Di lain pihak, walaupun terluka, gerakan nona Yo cepat luar biasa. Hampir berbareng dengan terlepasnya pedang, dua jari tangannya terpentang dan menyambar ke mata Boe Kie. Totokan itu hanyalah Siang liong Chio coe (dua naga berebut mutiara), serupa pukulan biasa. Tapi sesudah dilatih oleh ayahnya beberapa tahun, pukulan yang sederhana itu mempunyai tenaga yang sangat besar.

Dengan kaget Boe Kie melompat ke belakang, “Poet Hwie Moay moay, aku!” teriaknya.

Mendengar perkataan “Poet Hwie Moay moay” yang tak asing lagi, nona Yo terkesiap dan berteriak, “Apa Boe Kie koko?” biarpun belum lihat muka, ia mengenal suara itu.

Boe Kie merasa menyesal, bahwa ia memperkenalkan dirinya. “Poet Hwie Moay moay bagaimana keadaanmu selama beberapa tahun ini?”

Si nona mengawasi. Ia bersangsi, karena dihadapannya berdiri seorang pria yang pakaiannya compang camping dan mukanya kotor. “Kau?…kau? Apa benar kau Boe Kie koko?” tanyanya. “Bagaimana? Kau bisa datang di sini?”

“Swee Poet Tek yang membawa aku,” sahutnya. “Tadi Goan tin Hweeshio masuk ke sini, tiba-tiba ia menghilang. Apa dalam kamar ini ada jalan lain?”

“Goan tin hweeshio kabur?” menegas si nona.

“Sesudah kena pukulan Ceng ek Hong ong, ia terluka berat,” menerangkan Boe Kie. “Barusan ia kabur dan aku menejarnya. Ia masuk ke kamar ini da lantas menghilang. Dia adalah musuh besarku, aku mesti cari dia.”

“Dalam kamar ini tiada jalan lain,” kata si nona. “Bagaimana dengan ayahku? Aku mau tengok padanya.” Seraya berkata begitu, ia menepak batok kepala pelayannya.

“Jangan!…” teriak Boe Kie sambil mendorong pundak si nona, sehingga tepukannya jatuh di tempat kosong.

Sesudah percobaan membunuh pelayannya 2 kali dihalang-halangi, Poet Hwie jadi gusar. “Boe Kie koko!” bentaknya. “Apakah kau kawannya budak kecil itu?”

“Baru hari ini aku bertemu dengannya” jawab pemuda itu.

“kalau kau tak tahu duduknya persoalan, janganlah campur-campur urusanku,” kata pula nona Yo. “Dia adalah musuh besar dari keluargaku, karena kuatir dia mencelakaiku maka ayah sudah merantai kaki tangannya. Sekarang kami berdua ayah dan anak, kena It im cie. Dia pasti akan menggunakan kesempatan yang baik ini untuk membalas sakit hati. Jika kami jatuh dalam tangannya, celakalah!”

Tapi Boe Kie masih tetap yakin, bahwa nona kecil itu bukan manusia jahat. Maka itu, ia lalu berkata. “Nona, apakah kau akan berusaha membalas sakit hati dengan menggunakan kesempatan baik itu?”

Si nona menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak!” jawabnya.

“Poet Hwie moay moay, dengarlah!” kata Boe Kie. “Ia sudah berjanji. Ampunilah dia!”

“Baiklah,” kata nona Yo. “Aku tak dapat menolak permintaanmu.

“Aduh?” tiba-tiba tubuhnya tergoyang-goyang seperti mau jatuh.

Boe Kie mengerti, bahwa si nona sudah tak dapat mempertahankan dirinya lagi, sebab lukanya yang sangat berat. Buru-buru ia mendekati untuk memegangnya. Mendadak ia merasakan kesakitan hebat pada Hian kie dan Tiong kie hiat, dibagian pinggangnya dan ia roboh tanpa berdaya.

Ternyata, ia sudah dibokong nona itu. Jari tangan Poet Hwie menyambar ke arah Tay yang hiat dari pelayannya. Tapi sebelum totokan itu hampir pada sasarannya ia menggigil. Sekujur badannya kesemutan. Cekalannya pada pergelangan tangan si pelayan terlepas, kedua lututnya lemas dan ia jatuh duduk di kursi.

Poet Hwie memang sudah terluka berat dan bahwa ia tadi dapat mempertahankan diri adalah karena khasiat obat yang telah ditelannya. Sesudah menotok Boe Kie tenaganya habis dan tak kuat menyerang lagi.

Sambil menjemput pedang yang masih menggeletak dilantai, si pelayan berkata, “Siocia, kau selalu bercuriga, bahwa aku akan membunuh kau. Kalau mau dengan mudah aku sekarang bisa berbuat begitu. Tapi aku tak punya maksud jahat.” Ia segera memasukkan pedang itu ke dalam sarungnya, dan lalu menggantungnya ke dinding.

Sekonyong-konyong Boe Kie bangun berdiri. “Poet Hwie moay moay, kau lihatlah!” katanya. “Dia memang tidak mengandung niatan yang kurang baik.”

Dengan rasa kagum nona Yo mengawasi pemuda itu yang dengan mudah dapat membuka sendiri “hiat” yang ditotoknya.

Sambil menyoja, Boe Kie berkata pada nona cilik itu. “Nona, aku ingin sekali mengejar pendeta itu. Apakah di sini tak ada lagi jalan lain?”

“Apakah kau tak bisa membatalkan niatmu?” si nona balas tanya.

“Manusia itu telah melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk,” menerangkan Boe Kie. “Biarpun mesti mengejar ke ujung langit, aku tak bisa mengampuni dia.”

Si pelayan menggigit bibirnya. Sesudah berpikir sejenak, ia manggut-manggut. Ia meniup lilin, mengeluarkan saputangan yang di taruh di atas muka Poet Hwie. Sesudah itu ia mencekal tangan Boe Kie dan menuntunnya di dalam kegelapan.

Karena yakin orang tidak berniat jahat, Boe Kie segera mengikutinya. Ia di tuntun ke depan ranjang. Si nona membuka kelambu dan naik ke ranjang sambil menarik tangan Boe Kie. Pemuda itu kaget bukan main. Biarpun nona itu masih kekanak-kanakan dan beroman jelek, ia tetap seorang wanita. Ia segera menarik tangannya.

“Jalanan berada di pembaringan,” bisik si nona.

Boe Kie percaya dan semangatnya lantas saja terbangun. Tanpa bersangsi lagi, ia turut naik ke pembaringan. Dengan cepat, si nona merebahkan dirinya dan Boe Kie turut rebah di sampingnya. Entah alat apa yang ditarik si nona, papan ranjang tiba2 menjeblak dan mereka berdua jatuh ke bawah.

Dari atas ke dasar lubang ada beberapa tombak jauhnya. Untung juga, dasar lubang itu ditutup dengan rumput kering yang tebal, sehingga mereka tidak merasa sakit. Tiba-tiba terdengar suara menjeblak dan papan ranjang sudah kembal ke tempat asalnya.

“Sungguh lihai alat rahasia itu!” memuji Boe Kie di dalam hati.

Tanpa diberitahukan, tiada manusia yang bisa menduga, bahwa di dalam ranjang terdapat jalanan rahasia.

Sambil menyekel tangan si nona, ia segera berjalan ke jurusan depan. Mendengar suara berkerincingnya rantai, mendadak ia ingat sesuatu. “Nona ini pincang dan kakinya diikat dengan rantai, bagaimana ia bisa lari begitu cepat?” tanyanya dalam hati.

Si nona yang rupanya bisa menebak apa yang dipikirkan Boe Kie, sekonyong-konyong berkata sambil tertawa, “Pincangku, pincang buatan, untuk mengelabui Looya dan Siocia,”

Dalam kegelapan Boe Kie tak bisa melihat wajah nona itu, tapi dalam hati ia berkata. “Tak heran jika ibuku mengatakan, bahwa wanita pandai sekali menipu orang. Hari ini, bahkan Poet Hwie moay moay merasa tak halangan untuk membokong aku.”

Sesudah berjalan beberapa puluh tombak, dengan mengikuti terowongan yang berliku-liku mereka tiba di ujung jalanan, tapi Goan tin masih tetap tak kelihatan bayangannya.

“Sudah sering sekali aku datang ke sini,” kata si nona. “Kupercaya ada lain jalanan, hanya ku tak tahu di mana alat untuk membuka pintunya.”

Dengan kedua tangannya Boe Kie meraba-raba dinding, tapi tak bisa mendapatkan apapun juga. “Aku sudah mencoba puluhan kali, tanpa berhasil,” kata pula si nona. “Sungguh mengherankan. Aku bahkan pernah membawa obor untuk menyelidikinya, tapi tetap tak bisa mendapatkan alatnya.”

Tiba-tiba dalam otak Boe Kie berkelebat suatu ingatan. “Mungkin sekali memang tidak ada alat rahasia untuk membuka pintu,” pikirnya. Ia segera menyerahkan Chin kie pada kedua lengannya dan mendorong dinding sebelah kiri dengan sekuat tenaga. Dinding itu tidak bergerak. Sekali lagi ia mengerahkan tenaga dan mendorong dinding kanan. Tiba-tiba dinding itu bergoyang sedikit!

Ia girang tak kepalang. Ia menarik nafas dalam-dalam dan mendorong sekeras-kerasnya. Dengan perlahan dinding itu bergeser ke belakang. Ternyata dinding itru terbuat daripada sebuah batu yang sangat tebak dan besar.

Jalanan rahasia Kong beng teng memang sangat menakjubkan. Ada bagian-bagian yang diperlengkapi dengan alat-alat rahasia yang disembunyikan, tapi ada juga yang tidak, seperti pintu itu yang hanya bisa dibuka oleh seseorang yang mempunyai tenaga luar biasa. Hal ini adalah untuk menjaga kalau-kalau rahasia diketahui oleh orang luar. Misalnya seperti nona kecil itu, yang andaikata tahu rahasianya, masih tetap tak bisa membuka pintu karena tenaganya tak cukup.

Tapi Boe Kie yang memiliki Kioe yang sin kang bukan manusia biasa dan ia berhasil. Sesudah pintu terbuka kira-kira 3 kaki, ia mengirim pukulan dengan telapak tangannya, karena ia khawatir Goan tin bersembunyi di belakang pintu dan membokongnya. Berbareng dengan pukulannya ia melompat masuk.

Mereka masuk dengan selamat dan berada di terowongan yang sangat panjang. Dengan hati-hati, mereka bertindak maju. Jalanan menurun ke bawah. Makin jauh makin rendah. Sesudah melalui seratus tombak lebih, mereka bertemu dengan jalanan yang bercagak tujuh. Boe Kie bersangsi, jalanan mana yang harus diambil? Mendadak di sebelah kiri terdengar tegas sekali.

“Ambil jalan ini!” bisik Boe Kie sambil berlari-lari di jalan yang paling kiri. Jalanan itu tidak rata dan sukar dilalui, tapi dalam kegusarannya Boe Kie berjalan terus tanpa menghiraukan bahaya.

Si nona mengikuti dari belakang dengan suara rantai yang berkerincingan tidak henti-hentinya.

Boe Kie menengok ke belakang seraya berkata. “Musuh berada di depan, keadaan sangat berbahaya. Sebaiknya kau mengikuti saja dari sebelah jauh.”

“Takut apa? Kesukaran harus dipikul bersama,” jawabnya dengan suara tetap.

Selang beberapa saat, jalanan bukan saja menurun, tapi juga terus membelok ke sebelah kiri seperti keong, dan makin lama makin sempit, sehingga akhirnya terowongan itu hanya bisa memuat badannya satu orang.

Selagi enak berjalan, mendadak saja Boe Kie merasakan sambaran angin yang sangat dahsyat. Ia terkesiap dan tangannya menyambar pinggang si nona dan kemudia melompat ke depan.

“Dukkkk!” batu halus dan pasir muncrat ke atas.

Sesudah menentramkan hati, si nona berseru. “Celaka! Kepala gundul itu bersembunyi dan mendorong batu untuk membinasakan kita.”

Sambil mengangkat kedua tangannya di atas kepala, Boe Kie mendaki jalan itu. Baru beberapa tindak, kedua tangannya sudah menyentuh batu yang sangat kasar permukaannya.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: