Kumpulan Cerita Silat

17/08/2008

Kisah Membunuh Naga (37)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:00 am

Kisah Membunuh Naga (37)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

“Perbuatan baik apakah yang dilakukan saudara Wie?” tanya Swee Poet Tek.

“Sesudah menggunakan Lweekang, racun dingin dalam tubuhnya mengamuk hebat dan menurut kebiasaan, dia bisa menolong diri sendiri dengan mengisap darah manusia,” terang Cioe Tian. “Ketika itu di sampingnya terdapat seorang gadis. Tapi dia lebih suka mati daripada menghisap darah nona itu. Melihat itu, aku berkata, ‘si Kelelawar berlaku aneh, aku pun mau berlaku aneh.’ Baiklah, Cioe Tian coba tolong dia. Aku lantas saja bekerja dan beginilah hasilnya.”

Boe Kie kegirangan, tanpa merasa tubuhnya bergerak.

“Siapa wanita itu?” tanya Swee Poet Tek sambil menepuk karungnya. “Ke mana dia sekarang?”

“Akupun bertanya begitu kepada si Kelelawar,” sahutnya. “Ia mengatakan bahwa nona itu bernama In Lee, cucu perempuannya si tua bangka Peh Bie. Karena sudah menerima si nona sebagai muridnya, maka si Kelelawar tidak bisa lagi menghisap darahnya.”

Swee Poet Tek dan Tiat Koan Toojin menepuk tangan. “Perbuatan Wie heng (saudara Wie) yang mulia itu mungkin akan merupakan titik kebangkitan kembali dari agama kita,” kata Swee Poet Tek. “Kelelawar hijau dan Eng (burung Eng) putih bisa bergandengan tangan, kekuatan Beng-kauw akan bertambah banyak,” seraya berkata begitu, ia menyambut tubuh Wie It Siauw dari tangan Cioe Tian.

“Badannya sudah dingin seperti es,” katanya dengan suara kaget. “Bagaimana baiknya?”

“Itu sebabnya mengapa aku minta kau datang lebih cepat,” kata Cioe Tian. “Dalam sepuluh bagian, si Kelelawar sudah mati sembilan bagian. Kalau bangkai Kelelawar bergandengan tangan dengan Peh Bie Eng-ong, bagi Beng-kauw tak ada kebaikannya sedikitpun juga.”

“Kalian tunggulah di sini,” kata Tiat Koan. “Aku akan turun gunung untuk membekuk seorang manusia hidup guna dijadikan minuman bagi Wie heng,” seraya berkata begitu, ia mengayunkan tubuh untuk melompat ke bawah.

“Tahan!” teriak Cioe Tian. “Tua bangka, kau sungguh tak punya otak! Gunung ini sangat sepi, hampir tak ada manusianya. Kalau mesti menunggu kau, Wie It Siauw (Wie sekali tertawa) sudah menjadi Wie Poet Siauw (Wie tidak tertawa). Swee Poet Tek, paling baik kau keluarkan bocah yang berada dalam karungmu untuk menolong saudara Wie.”

Mendengar itu, Boe Kie ketakutan setengah mati.

“Tak bisa,” kata Swee Poet Tek. “Dia telah berbudi sangat besar kepada agama kita. Jika Wie heng membinasakan dia, Ngo Beng-kie (Lima Bendera) sudah pasti tak mau.” Sehabis berkata begitu, dengan cepat ia segera menuturkan bagaimana pemuda itu sudah menolong jiwa berpuluh-puluh anggota dari pasukan Swie Kim-kie. “Waktu itu aku menyusup di dalam pasukan Peh Bie-kauw dan dengan mataku sendiri, aku menyaksikan semuanya,” katanya. “Dengan berhutang budi yang begitu besar, Ngo Beng-kie pasti akan membela dia mati-matian.”

“Apakah kau ingin menggunakan bocah itu untuk menaklukkan Ngo Beng-kie?” tanya Tiat Koan.

“Tidak bisa diberitahukan! Tidak bisa diberitahukan!” jawabnya. “Bagaimanapun juga, ini kenyataaan bahwa sekarang di dalam Beng-kauw sudah terjadi keretakan hebat. Pada saat menghadapi bencana, Peh Bie-kauw telah bentrok dengan Ngo Beng-kie. Untuk menyelamatkan diri dari kemusnahan, jalan satu-satunya adalah bersatu padu. Bocah yang berada dalam karungku mempunyai arti penting dalam usaha mendamaikan orang-orang kita.”

Sehabis berkata begitu, ia mengangsurkan tangan kanannya dan menempelkan Leng Tay-hiat di punggung Wie It Siauw. Kemudian ia mengerahkan hawa murni untuk membantu menindih racun dingin yang sedang mengamuk dalam tubuh Wie It Siauw.

Cioe Tian menghela nafas, “Swee Poet Tek, aku tentu tidak bisa mengatakan apapun juga, jika kau rela menjual jiwa demi kepentingan seorang sahabat,” katanya.

“Biar kubantu kau,” kata Tiat Koan Toojin sambil menempelkan telapak tangan kanannya pada telapak tangan kiri Swee Poet Tek. Disaat itu, bagaikan gelombang, dua hawa murni menerjang masuk ke dalam tubuh Wie It Siauw.

Kira-kira semakanan nasi, Wie It Siauw merintih dengan perlahan dan sesaat kemudian ia tersadar, tapi giginya masih gemeletukan. Ia membuka kedua matanya dan berkata, “Cioe Tian, Tiat Koan Tooheng terima kasih atas pertolongan kalian.” Ia tidak menghaturkan terima kasih kepada Swee Poet Tek sebab mereka berdua mempunyai hubungan yang sangat erat, sehingga pernyataan terima kasih memang tidak perlu. Tiat Koan dan Swee Poet Tek yang sedang mengeluarkan tenaga untuk melawan racun dingin tidak bisa lantas memberi jawaban.

Tiba-tiba di puncak gunung sebelah timur sayup-sayup terdengar suara Khim.

“Leng Bian Sianseng dan Pheng Hweeshio sudah tiba,” kata Cioe Tian yang lalu mendongak dan berteriak sekeras-kerasnya. “Leng Bian Sianseng! Pheng Hweeshio! Ada seorang terluka. Kemari!”

Suara Khim berhenti dengan mendadak, suatu tanda teriakan itu sudah didengar.

“Siapa yang terluka?” demikian terdengar teriak Pheng Hweeshio.

“Setan tak sabaran!” caci Cioe Tian dengan suara perlahan. “Sedikitpun ia tidak bisa menunggu.”

Sementara itu Pheng Hweeshio terus memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang saling susul. “Siapa yang terluka?…Apa Swee Poet Tek? Apa Tiat Koen heng?….” Hampir berbareng dengan selesainya pertanyaan-pertanyaan itu ia tiba di hadapan rombongan Cioe Tian.

“Aduh!” serunya. “Kalau begitu Wie It Siauw yang terluka.”

“Perlu apa kau begitu tergesa-gesa?” kata Cioe Tian, “Saudara Leng Kiam, mengapa kau membungkam saja?”

Leng Kiam hanya menyahut, “Hmm.” Ia sungkan membuang tenaga sia-sia.

Biarlah Pheng Hweeshio yang minta keterangan. Benar saja pendeta itu segera menghujani Cioe Tian dengan berbagai pertanyaan dan pada waktu Cioe Tian selesai memberi penjelasan, Swee Poet Tek dan Tiat Koan pun sudah selesai memasukkan hawa murni ke dalam tubuh Wie It Siauw.

“Aku datang dari timur laut,” kata Pheng Hweeshio. “Kudengar Cian Boenjin Siauw Lim-pay, Kong Boen Taysoe bersama soeteenya, Kong Tie Taysoe dan seratus lebih murid-muridnya sedang menerjang ke Kong Beng-teng.”

“Di sebelah timur Boe Tong Ngo hiap!” kata Leng Kiam yang paling tidak suka bicara panjang-panjang.

Enam partai sudah mulai mengurung dan Ngo Beng-kie yang sudah bertarung dengan mereka beberapa kali selalu mendapat pukulan,” kata Pheng Hweeshio pula. “Menurut pendapatku, kita harus pergi ke Kong Beng-teng secepat mungkin.”

“Omong kosong!” bentak Cioe Tian, “Bocah Yo Siauw tidak mengundang kita, apakah Beng-kauw Ngo Sian-jin harus menyembah dia?”

“Cioe Tian, sekarang Beng-kauw sedang menghadapi bencana,” kata Pheng Hweeshio dengan suara membujuk. “Jika mereka berhasil menghancurkan Kong Beng-teng dan memadamkan api suci, apakah kita masih bisa menjadi manusia? Memang benar Yo Siauw telah berbuat tidak pantas terhadap Ngo Sian-jin, tapi bantuan kita adalah untuk Beng-kauw dan bukan untuk kepentingan Yo Siauw.”

“Aku menyetujui pendapat Pheng Hweeshio,” sambung Swee Poet Tek. “Biarpun Yo Siauw sangat kurang ajar, kita harus ingat kepentingan agama kita yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.”

“Omong kosong!” teriak Cioe Tian. “Dua keledai gundul sama-sama omong kosong! Tiat Koan Toojin, Yo Siauw pernah menghancurkan pundak kirimu, apa kau masih ingat?”

Tiat Koan tidak menyahut. Lewat beberapa saat barulah ia berkata, “Melindungi agama kita dan memundurkan musuh adalah hal yang sangat penting. Perhitungan dengan Yo Siauw dapat dibereskan sesudah musuh dipukul mundur. Dengan Ngo Sian-jin bersatu padu, tak usah kuatir bocah itu tidak tunduk.”

Cioe Tian mendengus, “Leng Kiam, bagaimana pendapatmu?” tanyanya.

“Kaupun rela bertekuk lutut di hadapan Yo Siauw?” tegas Cioe Tian. “Dahulu kita pernah bersumpah bahwa Ngo Sian-jin tak akan memperdulikan lagi urusan Beng-kauw. Apakah sumpah itu hanya omong kosong?”

“Semua omong kosong!” kata Leng Kiam.

Cioe Tian gusar tak kepalang, ia melompat bangun dan berteriak, “Kamu semua manusia berotak miring!”

“Kita harus bertindak cepat,” kata Tiat Koan tanpa menghiraukan kegusaran kawannya. “Mari kita berangkat.”

“Cioe heng,” bujuk Pheng Hweeshio, “Dahulu kita bermusuhan karena tak mendapat kecocokan dalam urusan memilih Kauwcoe. Memang benar Yo Siauw berpandangan sempit. Tapi bila dipikir-pikir, Ngo Sian-jin pun ada salahnya”.”

“Dusta!” teriak Cioe Tian, “Kita berlima tak sudi menjadi Kauwcoe. Salah apa?”

“Biarpun kita bertengkar setahun, kita tak dapat membereskan soal siapa salah siapa benar,” kata Swee Poet Tek. “Cioe Tian, kau jawablah pertanyaanku. Apakah kau bukan murid Beng Coen Thian-seng?” (Beng Coen Thian-seng pemimpin Beng-kauw)

“Benar, aku muridnya Beng Coen Thian-seng,” jawabnya.

“Pada saat ini agama kita tengah menghadapi bencana dan bila kita terus berpangku tangan, apakah dalam baka kita ada muka untuk bertemu dengan Beng Coen Thian-seng?” tanya Swee Poet Tek. “Jika kau takut, biarlah kami berempat yang pergi ke Kong Beng-teng. Setelah kami binasa, kau boleh mengubur mayatku.”

Cioe Tian jadi kalap. Seraya melompat, ia mengayunkan tangan. “Plok!” tangannya memukul.

Swee Poet Tek tidak bergerak dan juga tak mengeluarkan sepatah kata. Perlahan-lahan ia membuka mulut dan menyemburkan belasan gigi yang rontok akibat pukulan itu. Sebelah pipinya berubah merah dan bengkak.

Pheng Hweeshio dan yang lain terkejut, sedang Cioe Tian sendiri mengawasi hasil pukulannya dengan mata membelalak. Ilmu silat Swee Poet Tek dan Cioe Tian kira-kira sebanding. Jika Swee Poet Tek berkelit atau menangkis, pukulan itu pasti takkan melukainya. Diluar dugaan, ia diam dipukul.

Cioe Tian merasa sangat tak enak. “Swee Poet Tek, pukullah aku!” teriaknya, “Bila kau tidak mau, kau bukan manusia.”

Swee Poet Tek tersenyum tawar. “Tenagaku hanya digunakan terhadap musuh dan takkan dipakai terhadap orang sendiri,” sahutnya.

Cioe Tian gusar bercampur malu. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya dan menghantam pipinya sendiri. Sesaat kemudian, iapun menyemburkan belasan gigi dari mulutnya.

“Cioe Tian, mengapa kau berbuat begitu?” tanya Pheng Hweeshio dengan suara kaget.

“Tak pantas aku memukul Swee Poet Tek,” jawabnya. “Aku suruh dia membalas, dia tidak mau. Tak bisa lain, aku harus turun tangan sendiri.”

“Cioe Tian, hubungan antara kita seperti antara saudara kandung,” kata Swee Poet Tek. “Kami berempat sudah mengambil keputusan untuk mengorbankan jiwa di atas Kong Beng-teng. Kita akan berpisah untuk selama-lamanya. Apa ada masalah jika memukul aku sekali dua kali?”

Bukan main rasa terharunya Cioe Tian dan ia lantas saja mengucurkan air mata. “Sudahlah!” katanya, “Akupun akan ikut. Biarlah perhitungan dengan Yo Siauw dibereskan belakangan.”

Pheng Hweeshio dan yang lain jadi girang sekali.

Mendengar pembicaraan itu, Boe Kie berkata dalam hatinya, “Mereka berlima bukan saja berkepandaian tinggi tapi juga mempunyai budi pekerti yang sangat luhur. Apakah orang-orang seperti itu sesat semua?”

Sesaat kemudian ia merasa karung diangkat dan semua orang mulai berangkat ke Kong Beng-teng. Setelah mengetahui bahwa Coe Jie tak kurang suatupun, hati pemuda itu memikirkan soal pertarungan antara enam partai Tiong-goan dan Beng-kauw. Siapa yang akan menang? Di lain saat, ia ingat bahwa setibanya di Kong Beng-teng, ia akan bertemu dengan Yo Poet Hwie. Apakah si nona masih mengenali dirinya”

Setelah berjalan sehari semalam, tiba-tiba Boe Kie merasa karung itu menyentuh-nyentuh tanah. Semula ia tak mengerti sebab musebabnya. Belakangan, waktu ia mengangkat kepala, kepalanya terbentur batu yang menyerupai dinding. Sekarang ia baru tahu bahwa ia sedang berada di dalam terowongan, di bawah tanah, yang hawanya sangat dingin.

Berselang kira-kira satu jam barulah mereka keluar dari terowongan. Mereka terus naik ke atas dan tak lama kemudian masuk ke dalam terowongan lain. Sesudah keluar-masuk lima terowongan, tiba-tiba terdengar teriakan Cioe Tian, “Yo Siauw, si Kelelawar dan Ngo Sian-jin datang untuk menemuimu!”

Lewat beberapa saat barulah terdengar jawaban. “Aku sungguh tak menyangka Hok-ong dan Ngo Sian-jin sudi datang berkunjung. Yo Siauw tak bisa menyambut dari tempat jauh dan harap kalian sudi memaafkan.”

“Jangan berlagak bicara manis-manis,” kata Cioe Tian. “Di dalam hati, kau tentu mencaci kami. Kau tentu mencaci kami sebagai badut yang sudah bersumpah tak mau naik lagi ke Kong Beng-teng dan tak mau ikut campur lagi urusan Beng-kauw, sekarang datang tanpa diundang.”

“Tidak, tidak begitu,” kata Yo Siauw. “Siauw tee justru sedang kebingungan. Enam partai besar telah mengurung Kong Beng-teng dan Siauw tee seorang diri. Dengan memandang muka Coen Thian-seng, Hok-ong dan Ngo Sian-jin datang berkunjung untuk memberi bantuan. Ini benar-benar rejekinya Beng-kauw.”

“Bagus kalau kau tahu,” kata Cioe Tian.

Yo Siauw segera mengajak tamu-tamunya masuk ke dalam dan seorang pelayan menyuguhkan teh.

Tiba-tiba si pelayan mengeluarkan teriakan menyayat hati. Boe Kie tak tahu sebabnya, tapi teriakan itu membangunkan bulu romanya.

Beberapa saat kemudian, Wie It Siauw tertawa dan berkata, “Co soe cia, kau telah membinasakan pelayanmu. Aku pasti akan membalas budimu itu.” Ia mengucapkan kata-kata itu dengan suara lantang dan bersemangat. Boe Kie terkejut, sekarang ia tahu bahwa si Kelelawar telah membunuh dan menghisap darah pelayan itu.

“Di antara kita tak ada soal budi,” kata Yo Siauw dengan tawar. “Bahwa Hok-ong sudi datang ke sini merupakan bukti bahwa ia menghargai aku.”

Ketujuh orang itu adalah jago utama dari Beng-kauw. Walaupun di antara mereka terdapat perselisihan tapi pertemuan yang terjadi pada saat Beng-kauw menghadapi musuh-musuh berat telah membangunkan semangat. Sehabis makan kue-kue mereka segera merundingkan usaha untuk melawan musuh.

Swee Poet Tek menaruh karung di samping kakinya. Boe Kie lapar dan haus tapi ia tak berani bersuara atau bergerak. Yang hadir berjumlah tujuh orang tapi seperti enam karena Leng Kiam tak pernah membuka mulut.

Sesudah berunding beberapa lama, Pheng Hweeshio berkata, “Cie san Liong-ong dan Kim mo Say-ong tak ketahuan ke mana perginya, sedang mati hidupnya Kong beng Yoe-soe juga belum dapat dipastikan. Mereka bertiga tak usah dimasukkan ke dalam perhitungan. Di pihak kita, bentrokan antara Ngo Beng-kie dan Peh Bie-kauw yang makin lama makin hebat dan kedua belah pihak menderita kerusakan besar. Andaikata mereka bisa berdamai dan bisa datang ke sini, jangankan hanya enam, dua belas atau delapan belas partaipun pasti akan dapat dipukul mundur.”

Seraya menyentuh karung dengan ujung kaki, Swee Poet Tek berkata, “Bocah ini berada di dalam Peh Bie-kauw dan iapun telah berbudi besar kepada Ngo Beng-kie. Mungkin sekali di kemudian hari ia akan memainkan peranan penting dalam usaha mendamaikan permusuhan di antara kita.”

Wie It Siauw tertawa dingin. “Sebelum Kauwcoe dipilih, perselisihan dalam kalangan agama kita pasti tak akan bisa dibereskan,” katanya.

“Manusia yang paling tinggi kepandaiannya tak akan berhasil mendamaikan kita. Co-soe cia, aku yang rendah ingin mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu. Sesudah musuh dipukul mundur, siapakah yang akan didukung olehmu untuk menjadi Kauwcoe?”

“Siapa yang bisa mendapatkan Seng Hwee-leng dialah yang jadi Kauwcoe,” jawabnya tawar. “Ini adalah peraturan agama kita. Perlu apa kau bertanya lagi?”

Wie It Siauw tertawa nyaring. “Seng Hwee-leng sudah hilang kira-kira seratus tahun,” katanya.
“Apakah sebegitu lama Seng Hwee-leng tidak muncul, sebegitu lama juga Beng-kauw tidak mempunyai Kauwcoe? Bahwa enam partai persilatan sudah berani menyerang adalah karena mereka tahu terjadinya perpecahan di dalam Beng-kauw.”

“Wie heng, kau benar,” kata Swee Poet Tek. “Po-tay Hweeshio tidak miring ke manapun juga. Aku bukan orang partai In, juga bukan dari partai Wie. Siapapun juga menjadi Kauwcoe disetujui olehku. Yang penting, kita harus mempunyai Kauwcoe. Andaikata belum ada Kauwcoe, untuk sementara waktu, boleh juga diangkat seorang wakil Kauwcoe. Kalau tak ada orang yang memegang tampuk pimpinan, bagaimana kita bisa melawan musuh secara teratur?”

“Aku menyetujui pendapat Swee Poet Tek,” kata Tiat Koan Toojin.

Paras muka Yo Siauw lantas saja berubah, “Apa maksud sebenarnya kedatangan kalian?” tanyanya. “Apa kalian mau membantu atau mau menyusahkan aku?”

Cioe Tian tertawa terbahak-bahak. “Yo Siauw,” katanya. “Apa kau rasa aku tak tahu maksudmu mengapa kau tetap tak mau memilih seorang Kauw coe? Sebegitu lama Beng-kauw belum punya Kauwcoe, begitu juga kau sebagai Kong Beng Co-soe, yang mempunyai kedudukan paling tinggi. Huh-huh!…bukankah benar begitu? Tapi meskipun kau menduduki kursi tertinggi, tak seorangpun mau mendengar segala perintahmu. Apa gunanya? Apa kau bisa memerintah Ngo Beng-kie? Apa kau mampu menyuruh keempat Hoe kauw Hoat-ong? Kami, kelima Ngo Sian-jin hidup bagaikan awan bebas dan burung ho liar. Bagi kami, Kong Beng Co-soe tidak berarti apapun.”

Mendadak Yo Siauw bangkit. “Dalam menghadapi musuh dari luar, Yo Siauw tidak mempunyai waktu bersilat lidah dengan kalian,” katanya dingin. “Apabila kalian rela mengawasi hidup matinya Beng-kauw dan berpangku tangan, silakan kalian turun dari Kong Beng-teng! Kalau Yo Siauw masih bernafas, di kemudian hari ia akan melayani kalian satu demi satu.”

“Yo Co-soe, kau jangan marah,” bujuk Pheng Hweeshio. “Serangan enam partai kepada Beng-kauw mengenai setiap murid dari agama kita. Urusan ini bukan urusan kau seorang.”

“Tapi mungkin dalam agama kita ada orang-orang yang mengharapkan matinya aku,” sindir Yo Siauw. “Matinya Yo Siauw berarti tercabutnya paku biji mata mereka.”

“Siapa orang itu?” bentak Cioe Tian.

“Siapa kepotong, dia merasa perih,” jawabnya. “Tak perlu aku menyebutkan namanya.”

“Kau maksudkan aku?” teriak Cioe Tian dengan gusar.

Yo Siauw tidak menghiraukannya. Ia memandang ke arah lain.

Melihat kegusaran kawannya, Pheng Hweeshio buru-buru membujuk. “Kata orang, saudara berkelahi, yang lain tertawa. Meski kita cekcok dan berkelahi seperti langit roboh dan bumi terbalik, kita tetap merupakan saudara sendiri. Menurut pendapatku, sementara waktu kita tunda saja soal pemilihan Kauwcoe. Sekarang ini kita harus merundingkan siasat untuk melawan musuh.”

“Eng Giok Taysoe memang tahu urusan,” puji Yo Siauw. “Pendapatnya tepat sekali.”

“Bagus!” teriak Cioe Tian. “Kepala gundul she Pheng tahu urusan, Cioe Tian tidak tahu urusan!” Ia sudah kalap dan tanpa memperdulikan apapun ia berteriak pula. “Kauwcoe kita harus dipilih hari ini juga! Aku mengusulkan Wie It Siauw. Si Kelelawar berkepandaian tinggi dan banyak tipu dayanya. Dalam Beng-kauw, siapa yang bisa menandingi dia?” Sebenarnya antara Cioe Tian dan Wie It Siauw tidak ada hubungan erat. Tapi sekarang, dalam gusarnya ia mengusulkan Ceng ek Hok-ong sebagai Kauwcoe untuk mengganggu Yo Siauw.

Yo Siauw tertawa terbahak-bahak, “Menurut pendapatku, paling baik kita angkat Cioe Tian sebagai Kauwcoe,” katanya. “Sekarang Beng-kauw sudah berantakan dan kalau dijungkir balikkan oleh Kauwcoe besar Cioe Tian, agama kita akan lebih sedap dipandangnya.” (Perkataan “Tian” dari Cioe Tian bisa berarti juga “kacau” atau “gila”)

Bukan main gusarnya Cioe Tian. “Bangsat!” ia membentak sambil menghantam Yo Siauw.

Pada belasan tahun berselang, pertengkaran dalam urusan pemilihan Kauwcoe, Ngo Sian-jin telah bersumpah untuk tidak menginjak Kong Beng-teng. Secara mendadak mereka datang pula. Sedari tadi, Yo Siauw memang sudah curiga dan selalu waspada. Begitu Cioe Tian memukul, ia segera menarik kesimpulan bahwa dengan mengajak Wie It Siauw, Ngo Sian-jin memang sengaja ingin mengepung dia. Maka itu, dengan penuh kegusaran ia segera menangkis dengan tangan kanannya.

Melihat tangkisan itu, Wie It Siauw terkejut, sebab pada telapak tangan Yo Siauw terlihat sinar hijau, yaitu serupa pukulan yang dinamakan Ceng Tiok-cioe (pukulan bamboo hijau). Ia tahu bahwa sesudah menolong dirinya, tenaga dalam Cioe Tian belum pulih kembali sehingga kawannya itu pasti tidak akan bisa menyambut pukulan tersebut. Maka itu, bagaikan kilat ia mendahului menangkis. Kedua tangan bentrok tanpa mengeluarkan suara dan segera menempel keras satu sama lain.

Ternyata, biarpun sedang gusar, tapi mengingat bahwa Cioe Tian adalah saudara seagama maka waktu memukul Yo Siauw tidak menggunakan segenap tenaga. Tapi dilain pihak pukulan Han peng Bian-ciang (pukulan kapas yang dingin bagaikan es) dari Wie It Siauw bukan main dahsyatnya.

Begitu bentrok, Yo Siauw merasa tangannya gemetar dan semacam hawa yang sangat dingin menerobos masuk ke dalam dagingnya. Ia kaget dan buru-buru mengerahkan Lweekang yang lebih besar sehingga kedua lawan itu lantas saja mengadu tenaga dalam.

“Orang she Yo!” bentak Cioe Tian. “Sambutlah lagi pukulanku!” sambil membentak tangannya menghantam dada Yo Siauw.

“Cioe Tian, tahan!” teriak Swee Poet Tek.

“Yo Co-soe! Wie Hok-ong! Berhentilah! Kalian tidak boleh berkelahi dengan kawan sendiri,” sambung Pheng Eng Giok sambil mengangkat tangannya utnuk menyambut pukulan Cioe Tian.

Tapi Yo Siauw sudah lebih dulu miringkan badannya dan mengangsurkan lengannya dan telapak tangan kirinya lantas saja menempel dengan telapak tangan kanan Cioe Tian.

“Cioe Tian, dua lawan satu bukan perbuatan seorang gagah,” kata Swee Poet Tek. Ia meraih pundak Cioe Tian untuk ditarik mundur. Tapi sebelum tangannya menyentuh pundak, mendadak ia melihat badan kawannya gemetaran. Ia kaget tak kepalang. Ia tahu bahwa di dalam kalangan Beng-kauw, Yo Siauw memiliki kepandaian yang tinggi. Apakah dengan hanya sekali beradu tangan, Cioe Tian sudah terluka berat?

“Cioe Tian, di antara saudara sendiri perlu apa mengadu jiwa?” katanya sambil menarik pundak sang kawan. “Yo Co-soe, harap kau menaruh belas kasihan,” katanya lagi. Ia berkata begitu sebab kuatir Yo Siauw mengirim serangan susulan.

Diluar dugaan, begitu ditarik badan Cioe Tian bergoyang-goyang tapi tangannya tidak bisa lepas dari Yo Siauw. Hampir berbarengan, Swee Poet Tek merasakan serangan semacam hawa dingin yang menerobos masuk dari telapak tangan terus ke ulu hati. Ia terkesiap. Ia tahu bahwa Wie It Siauw mempunyai pukulan Han peng Bian-ciang yang tersohor di kolong langit. Apakah Yo Siauw juga memiliki pukulan itu? Buru-buru ia mengerahkan Lweekang untuk melawan hawa dingin itu. Tapi serangan hawa dingin itu makin lama jadi makin hebat dan lewat beberapa saat, giginya sudah gemeletukan.

Mau tak mau, Tiat Koan Toojin dan Pheng Eng Giok maju juga, yang satu membantu Cioe Tian, yang lain menolong Swee Poet Tek. Dengan mempersatukan Lweekang keempat Sian-jin barulah hawa dingin bisa ditahan.

Tenaga yang keluar dari telapak tangan Yo Siauw seakan-akan bergelombang pasang surut, sebentar enteng sebentar berat. Keempat orang itu tidak berani melepaskan tangannya sebab mereka kuatir Yo Siauw akan menyerang pada detik mereka melepaskan tangan. Kalau sampai terjadi begitu, andaikan tidak mati mereka sedikitnya akan mendapat luka berat.

Sesudah bertahan beberapa lama, Swee Poet Tek berkata, “Yo Tay hiap, terhadap kau kami?” perkataannya putus di tengah jalan karena mendadak ia merasa darahnya seperti mau membeku. Ternyata waktu bicara tenaga dalamnya tidak dapat lagi menahan serangan hawa dingin. Cepat-cepat ia memperbaiki keadaannya.

Kira-kira semakanan nasi, Wie It Siauw dan keempat Sian-jin sudah payah sekali tapi Yo Siauw masih tenang-tenang saja. Leng Kiam yang masih tetap menonton makin lama jadi makin heran. “Meskipun berkepandaian tinggi, kepandaian Yo Siauw hanya kira-kira sebanding dengan kepandaian Wie It Siauw,” pikirnya. “Sepantasnya Wie It Siauw dan empat kawanku pasti akan dapat merobohkannya. Tapi mengapa dia yang lebih unggul?” Benar-benar heran. Ia seorang yang sangat cerdas tapi sesudah mengasah otak beberapa lama, belum juga ia dapat memecahkan teka-teki itu.

“Setan…maka…dingin…pukul….punggungnya,” kata Cioe Tian terputus-putus.

Tapi Leng Kiam yang belum dapat menebak sebab dari keanehan itu masih tak mau turun tangan. Antara Ngo Sian-jin, hanya ia seorang yang belum turut bertanding dan hanya ia seorang pula yang dapat menyingkirkan malapetaka. Jika ia turut mengerubuti sebelum dapat memecahkan teka-teki itu, belum tentu pihaknya mendapat kemenangan.

Lewat beberapa saat, muka Cioe Tian dan Pheng Eng Giok sudah berubah biru dan mereka tak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Leng Kiam tahu, kalau racun dingin masuk ke dalam isi perut mereka bisa celaka, ia segera merogoh saku dan mengeluarkan lima batang pit (pena Tionghoa) kecil yang terbuat dari perak murni.

“Lima pit ini akan menghantam Kim tie, Kie koet, Yang kee, Ngo lie dan Tiong touw hiatmu,” katanya. Kelima “hiat” itu terletak di tangan dan kaki dan bukan “hiat” yang membinasakan. Ia sengaja mengatakan begitu supaya Yo Siauw tahu bahwa maksudnya hanya untuk menghentikan pertandingan.

Yo Siauw hanya tersenyum, ia tidak memperdulikan.

“Maaf!” teriak Leng Kiam seraya mengayunkan kedua tangannya dan dengan berbaring, lima sinar putih menyambar.

Mendadak Yo Siauw menekuk lengan kirinya dan Cioe Tian berempat lantas saja tertarik ke depannya. Hampir berbarengan, Pheng Hweeshio dan Cioe Tian mengeluarkan teriakan kesakitan karena lima batang pit itu mampir tepat di badan mereka, dua di badan Cioe Tian dan tiga di badan Pheng Eng Giok. Untung juga Leng Kiam memang tidak bermaksud untuk mencelakai orang. Ia melempar tanpa mengeluarkan banyak tenaga dan lemparan itu tidak ditujukan ke arah jalan darah yang berbahaya sehingga luka kedua orang itu tidak membahayakan jiwa.

“Kiam koen Tay lo-ie!” bisik Pheng Eng Giok

(Kiam koen Tay lo-ie = memindahkan langit dan bumi).

Mendengar perkataan itu Leng Kiam tersadar.

Di dalam sejarah Beng-kauw, Kiam koen Tay lo-ie adalah ilmu yang terhebat, dasarnya ilmu itu sederhana saja, yaitu berdasarkan ilmu “meminjam tenaga untuk memukul tenaga” dan ilmu “empat tahil memukul ribuan hati”. Tak usah dikatakan lagi, dalam dalil yang sangat sederhana itu terdapat perubahan-perubahan yang menakjubkan dan tidak bisa ditaksir oleh manusia biasa. Selama banyak tahun dalam kalangan Beng-kauw ilmu itu belum pernah disebut-sebut orang, maka tidaklah mengherankan jika Ngo Sian-jin dan Wie It Siauw tidak segera mengenalinya.

Dengan Kiam koen Tay lo-ie, Yo Siauw menggunakan Han peng Bian ciang dari Wie It Siauw untuk menyerang keempat Sian-jin dan tenaga keempat Sian-jin untuk menghantam Wie It Siauw. Ia sendiri di tengah-tengah dan tanpa mengeluarkan tenaga, mengadu domba kedua tenaga dari lawannya.

“Kiong hie!” kata Leng Kiam. “Kami tidak bermaksud jahat. Hentikanlah pertandingan.”

Leng Bian Sianseng adalah orang yang selalu bicara sedikit mungkin. “Kiong hie” berarti itu memberi selamat yang sudah tidak dikenal selama kurang lebih seabad kepada Yo Siauw, di samping sungkan bicara banyak-banyak, Leng Kiam pun orang jujur sehingga jika ia mengatakan “tidak bermaksud jahat”, mereka tentu tidak bermaksud jahat. Sebagai bukti lima pit perak itu hanya digunakan untuk menghentikan pertandingan dan bukan digunakan untuk mencelakai orang.

Mengingat itu, Yo Siauw lantas saja tertawa terbahak-bahak. “Wie heng, Soe wie Sian-jin,” katanya, “Sesudah aku menghitung satu, dua, tiga, kalian tarik pulang tenaga dengan berbarengan supaya tak sampai terluka.”

Wie It Siauw dan keempat Sian-jin lantas saja menganggukkan kepala.

Yo Siauw tersenyum dan menghitung, “Satu!…Dua!…Tiga!”

Berbarengan dengan perkataan tiga ia menarik pulang Kiam koen Tay lo-ie Sin-kang. Mendadak saja ia merasa punggungnya dingin dan semacam totokan hampir tepat di Sim to hiat punggungnya.

Yo Siauw mencelos hatinya. Ia menduga Wie It Siauw yang main gila. Baru saja mau membalas tiba-tiba badan Ceng ek Hok-ong terkulai dan terus jatuh terguling. Tak salah lagi, Wie It Siauw pun dibokong orang! Selama hidupnya Yo Siauw sudah kenyang mengalami gelombang hebat. Maka itu, meskipun sudah terpukul, ia tak jadi bingung. Bagaikan kilat ia melompat ke depan dan lalu memutar tubuh. Ia mendapati kenyataan bahwa Cioe Tian, Pheng Eng Giok, Tiat Koan Toojin dan Swee Poet Tek juga sudah roboh, sedangkan Leng Kiam tengah menyerang seseorang yang mengenakan jubah warna abu-abu. Orang itu menangkis dan Leng Bian Sianseng mengeluarkan suara “heh” seperti orang kesakitan.

Buru-buru Yo Siauw menarik nafas dalam-dalam dan lalu melompat untuk membantu Leng Kiam. Sekonyong-konyong merasakan serangan semacam hawa dingin yang naik dari Sim to hiat dan terus menerjang ke Sin cu, To to, Toa toei Hong hoe dan lain-lain “hiat” di seluruh tubuh.

Yo Siauw tahu ia sedang menghadapi bencana. Orang itu bukan saja berkepandaian tinggi tapi juga sangat licik dan beracun yang membokong pada detik Wie It Siauw, keempat Sian-jin dan ia sendiri menarik pulang tenaga Lweekang. Sekarang ia tak bisa berbuat lain daripada segera mengerahkan hawa dingin itu. Ia merasa hawa dingin itu berlainan dengan hawa Han peng Bian-ciang dari Wie It Siauw. Hawa itu lebih halus, tapi jalan darah yang diserang lantas saja kesemutan. Dalam keadaan waspada dan dengan tenaga dalam yang melindungi dirinya, Yo Siauw takkan bisa diserang dengan totokan apapun juga. Tapi sekarang ia sudah dibokong. Melihat Leng Kiam dalam bahaya, ia segera mengambil keputusan untuk menolong dengan menahan sakit.

Tapi baru saja bertindak dan menggerakkan tangan, ia sudah menggigil dan tenaganya menghilang.

Waktu itu Leng Kiam sudah bertempur dua puluh jurus lebih dan ia sudah tak dapat mempertahankan diri lagi. Yo Siauw bingung. Dilain saat Leng Kiam tertendang. Musuh melompat dan menotok lengan Leng Kiam yang lantas saja jatuh terjengkang. Yo Siauw kaget bercampur gusar. Ia menganggap bahwa karena Leng Kiam bisa meladeni musuh dalam dua puluh jurus lebih. Maka kepandaian musuh itu belum tentu lebih tinggi daripada kepandaiannya. Tapi celakanya, ia sudah dibokong dan tak berdaya.

Boe Kie yang berada di dalam karung sudah mendengar semua kejadian itu. Waktu Yo Siauw dan keempat Sian-jin, ia kuatir kedua belah pihak terluka berat. Ia ingin sekali menyaksikan pertandingan itu tapi dalam karung gelap gulita. Ia girang waktu Leng Kiam berhasil menghentikan pertandingan. Tak disangka datang musuh yang membokong. Ia tahu Yo Siauw masih berdiri tegak tapi mendengar gemeletukan gigi dan beratnya nafas, iapun mengerti bahwa jago itu sudah tak bertenaga lagi.

Untuk beberapa detik, keadaan sunyi senyap.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari dalam berlari-lari keluar.

“Thia! Siapa yang datang? Mengapa kau tak memperkenalkan mereka kepadaku?” Itu suara seorang wanita. Jantung Boe Kie memukul keras.

“Adik Poet Hwie!” katanya dalam hati.

“Pergi…pergi…Lebih jauh lebih baik”,” seru Yo Siauw dengan nafas tersengal-sengal.

Melihat keadaan dalam ruangan itu, Poet Hwie terkejut. “Thia? Apa kau terluka?” tanyanya. Ia berpaling kepada si jubah abu-abu dan bertanya, “Apa kau yang melukai ayahku?”

Orang itu tidak menyahut, ia hanya tertawa dingin.

“Poet Hwie!” teriak Yo Siauw. “Turutilah perintah ayah! Ayo pergi!”

Poet Hwie sebenarnya ingin menyerang si jubah abu-abu, tapi ia ragu dan kemudian ia mendekati dan memeluk ayahnya.

“Bocah, pergi!” bentak si jubah abu-abu dengan suara menyeramkan.

Si nona tidak menghiraukannya, “Thia,” katanya. “Mari kita istirahat.”

Yo Siauw tertawa getir. “Kau pergilah lebih dahulu,” jawabnya. Ia mengerti bahwa ia tidak akan bisa meloloskan diri dengan begitu mudah.

Poet Hwie mengawasi si jubah abu-abu seraya berkata, “Hweeshio, mengapa kau membokong ayahku?”

Orang itu tertawa tawar. “Bagus!” katanya. “Matamu sangat tajam. Kau bisa mengenali bahwa aku seorang hweeshio. Hm…aku tak bisa mengampuni kau lagi!” Ia mengibaskan tangannya dan lalu menotok Peng hong hiat si nona.

Hati Yo Siauw mencelos. Jika kena, putrinya pasti akan binasa. Pada detik berbahaya, walaupun Lweekangnya belum pulih, dengan nekat ia menyikut dada si hweeshio.

Jari tangan kiri orang itu menyambar dan menotok Siauw hau hiat, di bawah siku Yo Siauw tapi karena serangan itu, sambaran jari tangan kanannya agak mirip dan tidak kena pada jalan darah yang membinasakan si nona.

Sebagai seorang ayah yang sangat menyintai putrinya, sambil menahan dingin, Yo Siauw menendang hingga tubuh si nona terbang keluar dari ruangan itu kemudian ia berdiri di tengah-tengah pintu supaya si pendeta tidak bisa mengejar.

“Bocah itu sudah kena It im cieke,” katanya dengan suara dingin. “Belum tentu dia bisa hidup tiga hari tiga malam lagi.” Ia mengawasi Yo Siauw dan berkata pula, “Nama besar dari Kong Beng Soecia memang bukan nama kosong. Sudah kena dua totokan, kau masih bisa berdiri.”

“Kong Kian Taysoe, pendeta suci dari Siauw Lim adalah seorang yang welas asih dan mulia hatinya,” kata Yo Siauw. “Sungguh tak disangka ia mempunyai seorang murid yang terkutuk seperti kau. Kau tentulah seorang murid dari deretan Goan. Goan apa namamu?”

Si jubah abu-abu terkejut. “Hebat! Sungguh hebat!” ia memuji. “Matamu benar hebat. Kau sudah bisa melihat asal usulku. Pinceng bernama Goan-tin.”

(Pinceng – Aku si pendeta yang miskin)

Boe Kie kaget tak kepalang. “Orang itu telah menghajar Siauw Lim Kioe-yang kang kepadaku,” pikirnya. “Dia tahu bahwa dalam tubuhku mengeram racun Hian beng Sin-ciang tapi dia sengaja membuka pembuluh darahku sehingga racun dingin itu sukar diusir dari dalam badanku. Dilihat begini, dia bukan saja berilmu tinggi tapi juga sangat jahat. Dalam enam partai persilatan, mungkin sekali dia yang paling hebat. Hm…kali ini Beng-kauw harus menerima nasib.”

Sementara itu Yo Siauw sudah berkata pula, “Dalam permusuhan antara enam partai dan beng-kauw, sebagai laki-laki sejati kita harus bertempur dengan senjata secara berhadap-hadapan tapi kau”,” ia tidak bisa meneruskan perkataannya, kedua lututnya lemas dan ia jatuh duduk di lantai.

Goan-tin tertawa terbahak-bahak, “Semenjak jaman purba, di dalam peperangan orang menarik keuntungan dengan siasat luar biasa dan dalam memimpin tentara orang memang biasa menggunakan tipu daya,” katanya. “Aku Goan-tin seorang sudah bisa merobohkan tujuh jago utama dari Beng-kauw. Apakah kamu masih penasaran?”

“Bagaimana kau bisa mencuri masuk di Kong Beng-teng?” tanya Yo Siauw. “Bagaimana kau bisa mengenal jalan-jalan rahasia di gunung ini? Jika kau mau memberitahukan, biarpun mati Yo Siauw akan mati dengan mata meram.”

Berhasilnya Goan-tin dalam serangan ini tentu saja disebabkan oleh kepandaiannya yang tinggi. Tapi di samping itu masih ada sebab lain yang lebih penting, yaitu pengetahuannya mengenai jalan-jalan rahasia sehingga ia bisa meloloskan diri dari pengawasan belasan rombongan penjaga dan akhirnya berhasil membokong ketujuh jago itu.

Goan-tin tertawa dan menjawab, “Orang-orang Mo-kauw menganggap bahwa Kong Beng-teng yang mempunyai tujuh puncak dan tiga belas tebing sebagai tempat yang tak akan bisa dilewati manusia. Tapi di mata pendeta Siauw Lim, tempat itu hanyalah jalanan raja yang tidak ada rintangannya. Kamu semua sudah kena totokan It im cie. Dalam tempo tiga hari, semua akan berpulang ke alam baka. Sesudah itu aku akan mendaki puncak Co Bong-hong dan menanam beberapa belas kati obat pasang kemudian pinceng akan mencoba memadamkan api siluman dari Mo-kauw. Peh Bie-kauw, Ngo Beng-kie dan lain-lain akan mencoba menolong, “Belendung”, obat pasang itu meledak dan seluruh Mo-kauw musnah tiada bekas! Inilah yang dinamakan dengan seorang diri pendeta Siauw Lim memusnahkan Beng-kauw, tujuh siluman Kong Beng-teng bersama-sama pulang ke See thian.”

(See thian Langit Barat berarti alam baka)

Mendengar itu, Yo Siauw bingung tak kepalang. Ia mengerti bahwa ancaman itu bukan gertak sambal. Bahwa ia akan mati adalah urusan kecil, tapi apakah Beng-kauw yang mempunyai sejarah selama tiga puluh turunan akan musnah dalam tangan seorang pendeta Siauw Lim?

Sesudah berdiam sejenak, sambil tersenyum-senyum Goan-tin berkata pula, “Di dalam Beng-kauw terdapat banyak sekali orang pandai. Jika kalian tidak saling bunuh, tidak saling makan, Beng-kauw takkan menghadapi bencana seperti hari ini. Lihatlah kejadian yang sekarang. Karena kalian bertujuh berkelahi maka dengan mudah pinceng bisa naik sampai di sini. Kalau bukan lantaran begitu, mana bisa pinceng berhasil dengan begitu gampang? Ha-ha-ha!…Tak disangka Beng-kauw yang dulu begitu hebat, sesudah matinya Yo Po Thian lantas menjadi runtuh.”

Yo Siauw dan yang lainnya tertegun. Mereka lantas ingat kejadian-kejadian semenjak kurang lebih dua puluh tahun. Semua merasa menyesal. Dalam hati kecil mereka mengakui bahwa apa yang dikatakan Goan-tin memang tak salah.

“Yo Siauw!” teriak Cioe Tian, “Aku benar-benar pantas mati! Aku telah melakukan banyak perbuatan tidak pantas terhadapmu. Walaupun kau tidak terlalu baik tapi kalau kau menjadi Kauwcoe, keadaan kita akan lebih baik daripada tidak punya Kauwcoe sama sekali.”

Yo Siauw tertawa getir. “Apa kemampuanku sehingga aku berani menjadi Kauwcoe?” katanya. “Dalam urusan ini, kita semua bersalah. Kita salah membuat keadaan menjadi sedemikian kacau dan agama kita akhirnya akan musnah sehingga di alam baka, kita takkan punya muka untuk menemui para Beng coen Kauwcoe.”

“Kamu menyesalpun sudah tak berguna,” kata Goan-tin sambil tertawa. “Pada waktu Yo Po Thian mengepalai Mo-kauw, keangkerannya meluap-luap. Hanya sayang, dia mati terlalu cepat sehingga ia tak bisa menyaksikan kehancuran Mo-kauw.”

“Bangsat!” caci Cioe Tian. “Tutup mulutmu! Jika Yo Kauwcoe masih hidup, kami semua akan menaati segala perintahnya. Kepala gundul macam kau mana bisa membokong kami?”

Goan-tin tertawa dingin dan berkata dengan suara mengejek, “Tak perduli Yo Po Thian mati atau hidup aku tetap mempunyai cara untuk menghancurkan Mo-kauw.”

Mendadak terdengar suara “Plak!” dan Goan-tin mengeluarkan suara kesakitan sebab punggungnya kena dipukul Wie It Siauw. Hampir berbarengan Wie It Siauw pun kena ditotok Goan-tin pada Tian tiong hiatnya, di bagian dada. Mereka mundur sedikit dan kemudian roboh bersamaan.

Wie It Siauw adalah orang yang berakal budi. Sesudah kena totokan pertama, biarpun luka berat, berkat Lweekangnya yang sangat tinggi ia sebenarnya masih dapat melawan. Tapi ia berlagak dan pada waktu Goan-tin sedang girang dan tidak berjaga-jaga ia menyerang dengan segenap tenaganya.

Untuk menolong Beng-kauw, ia bertekad untuk mati bersama-sama musuh. Ceng ek Hok-ong adalah salah seorang dari keempat Hoat-ong dalam kalangan Beng-kauw dan kepandaiannya sebanding dengan In Thian Ceng atau Cia Soen. Maka itu, meskipun hebat, Goan-tin tak dapat mempertahankan diri terhadap pukulan yang dikirim secara nekat.

Demikianlah begitu kena, tenaga Han peng Bian-ciang segera menerobos masuk ke dalam tubuhnya dan ia merasa dadanya sesak. Beberapa kali ia mengerahkan Lweekang tapi sebaliknya daripada berhasil, kepalanya pusing. Kemudian ia menjatuhkan diri dan bersila untuk mengerahkan hawa murni untuk menolak hawa dingin dari Han peng Bian-ciang.

Dilain pihak, sesudah tertotok dua kali oleh It in cie, Wie It Siauw tergeletak tanpa bisa bergerak dan nafasnya tersengal-sengal.

Ruangan itu berubah sunyi. Delapan jago terluka berat tapi yang terluka paling berat adalah Yo Poet Hwie yang roboh di luar ruangan itu. Goan-tin dan tujuh tokoh Beng-kauw sama-sama menjalankan pernafasan dan mengerahkan Lweekang. Mereka tahu bahwa siapa yang tenaganya pulih lebih dulu, dialah yang akan memperoleh kemenangan terakhir. Andaikata Goan-tin yang bisa bergerak lebih dulu, dengan menggunakan pedang ia bisa membunuh ketujuh musuhnya dan bisa mengobati lukanya belakangan. Sebaliknya kalau Beng-kauw ada yang lebih dulu pulih tenaganya maka dengan mudah ia akan bisa membunuh Goan-tin. Mengingat jumlahnya, ketujuh tokoh Beng-kauw itu kelihatannya mempunyai harapan yang lebih besar. Akan tetapi, tenaga dalam Ngo Sian-jin agak cetek dan sesudah kena It im cie, tenaganya musnah semua. Yo Siauw dan Wie It Siauw yang Lweekangnya lebih tinggi masing-masing sudah kena dua totokan. Pada hakekatnya kehebatan Hen peng Bian-ciang dan It im cie kira-kira sebanding. Tapi Wie It Siauw memukul setelah terluka sehingga tenaganya lebih kurang daripada Goan-tin yang belum terluka. Maka itu, ditinjau dari sini kelihatannya Goan-tin yang bisa bergerak lebih dahulu.

Yo Siauw dan yang lainnya menjadi bingung, tapi dalam menjalankan pernafasan dan mengerahkan tenaga dalam untuk mengobati luka, seseorang tak bisa memaksakan diri. Makin dia bingung, makin mudah celaka. Sebagi ahli Lweekee, Yo Siauw dan kawan-kawannya tentu mengerti kenyataan itu.

Sesudah beberapa kali berusaha, Leng Kiam tahu bahwa ia takkan bisa mendahului Goan-tin. Harapan satu-satunya adalah masuknya salah seorang anggota Beng-kauw ke dalam ruangan itu. Orang itu tak usah memiliki ilmu silat yang tinggi bahkan ia tak perlu mengerti ilmu silat. Dengan sepotong kayu, ia bisa membinasakan Goan-tin yang sudah tak berdaya.

Tapi sesudah menunggu lama, di luar ruangan tak terdengar suara apapun juga. Waktu itu sudah tengah malam dan para anggota Beng-kauw telah pada tidur sedang mereka yang bertugas hanya menjaga di tempat-tempat penjagaan tertentu. Tanpa dipanggil, mana berani masuk ke dalam ruangan Gie soe teng (ruangan rapat) Yo Siauw mempunyai beberapa pelayan pribadi, tapi setelah yang satu diisap darahnya oleh Wie It Siauw, yang lainnya lantas menyingkir jauh-jauh. Jangankan tak dipanggil sedangkan dipanggilpun belum tentu dia berani menghampiri.

Boe Kie yang berada di dalam karung juga mengerti bila kesunyian itu kesunyian yang sangat tegang. Selang beberapa lama, tiba-tiba Swee Poet Tek berkata, “Sahabat yang berada dalam karung harus menolong kami.”

“Bagaimana menolongnya?” tanya Boe Kie.

Pada detik itu, hawa murni Goan-tin justru telah mulai mengalir bebas di bagian tantiannya. Mendengar pembicaraan itu, ia kaget bukan main dan hawa murni itu berbalik lagi sehingga ia kembali menggigil keras. Dalam tekadnya dan kesibukannya untuk membasmi jago-jago Beng-kauw mimpipun ia tak pernah bahwa di dalam karung ada manusianya. “Habislah jiwaku,” ia mengeluh di dalam hati.

“Mulut karung dijerat mati dan kecuali olehku sendiri, siapapun juga tak akan bisa membukanya,” terang Swee Poet Tek. “Tapi kau bisa berdiri di dalam karung.”

“Baiklah,” kata Boe Kie yang segera bangkit dan berdiri di dalam karung.

“Saudara kecil!” kata Swee Poet Tek, “tanpa memperdulikan keselamatan jiwa, kau sudah menolong beberapa puluh saudara dari Swie Kim-kie. Kesatriaanmu dikagumi oleh semua orang. Sekarang, kamipun mengandalkan bantuanmu. Pergilah ke tempat pendeta bangsat itu dan hantam dia sampai mati.”

Boe Kie berpikir keras, ia tidak segera menjawab.

“Cara yang licik, pendeta jahat itu membokong orang,” kata Swee Poet Tek. “Cara bangsat itu telah didengar oleh kau sendiri. Kalau kau tidak membinasakan ia, maka berlaksa-laksa anggota Beng-kauw akan musnah dalam tangannya. Jika membunuh dia, kau melakukan perbuatan yang sangat mulia.”

Pemuda itu tetap ragu.

“Aku sudah tidak bisa bergerak lagi,” kata Goan-tin. “Apabila kau mengambil nyawaku dalam keadaan begitu, kau akan ditertawai oleh seluruh orang gagah di kolong langit.”

“Kepala gundul, tutup mulutmu!” bentak Cioe Tian. “Siauw Lim-pay menyebut diri sebagai partai yang lurus bersih. Tapi kau, diam-diam telah membokong orang. Apakah perbuatan itu semua tak ditertawai semua orang gagah di kolong langit?”

Boe Kie maju selangkah tapi segera berhenti lagi. “Swee Poet Tek Taysoe,” katanya, “Aku sama sekali tak tahu sebab dari permusuhan agamamu dengan enam partai persilatan. Aku sangat ingin membantu kalian tetapi akupun tak mau mencelakai pendeta Siauw Lim-pay itu.”

“Saudara kecil, ada satu hal belum dipikirkan kami tapi akan mengambil nyawamu juga.”

Goan-tin tertawa, “Dengan saudara kecil itu aku tidak bermusuhan,” katanya. “Di samping itu, iapun bukan anggota Mo-kauw, tak bisa salah lagi, ia ditangkap Po-tay Hweeshio dengan maksud jahat. Memang, orang-orang Mo-kauw memang biasa berlaku kejam dan melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk.”

Boe Kie jadi serba salah. Ia tahu bahwa Goan-tin bukan manusia baik tapi ia tak ingin membinasakan orang. Selain itu, bila ia turun tangan maka dengan sendirinya ia berdiri di pihak Mo-kauw. Dengan sendirinya, ia bermusuhan dengan keenam partai persilatan, bermusuhan dengan Thaysoehoe (Thio Sam Hong), Boe Tong, Liok hiap, Cioe Jiak dan yang lainnya. Di mata orang-orang rimba persilatan, Mo-kauw dianggap sebagai agama sesat, semacam agama siluman. Perbuatan Wie It Siauw yang suka mengisap darah manusia dan perbuatan ayah angkatnya yang sering membunuh sesama manusia secara sembarangan merupakan bukti-bukti dari perbuatan-perbuatan yang tak pantas.

Thaysoehoe pernah berpesan bahwa biar bagaimanapun juga ia tak boleh bergaul atau berhubungan dengan orang-orang Mo-kauw supaya dia tidak usah menghadapi bencana yang tak perlu. Dia ingat juga pengalaman mendiang ayahnya. Karena sang ayah menikah dengan ibunya yang Mo-kauw, maka ayahnya mati bunuh diri. Ia ingat pula bahwa Goan-tin adalah murid Kong Kian Taysoe. Dalam usaha untuk menuntun ayah angkatnya ke jalan lurus, pendeta suci itu telah rela menerima tiga belas pukulan Cit siang-koen sehingga akhirnya mengorbankan nyawanya. Itulah pengorbanan yang sangat mulia yang jarang terjadi dalam dunia luas ini.

Apakah ia bisa membunuh murid seorang yang begitu mulia? Selain itu, iapun ingat bahwa sesudah menerima ajaran Siauw Lim Kioe-yang kang dari Goan-tin, hubungan mereka adalah murid dan guru. Memang benar dengan membuka pembuluh darahnya pendeta itu mengandung maksud kurang baik. “Tapi biar bagaimanapun juga aku toh tak jadi mati,” katanya di dalam hati.

Boe Kie adalah seorang manusia yang tidak bisa melupakan kebaikan orang. Jika seseorang menyakiti dirinya, sesudah lewat beberapa lama ia selalu mencari-cari alasan untuk mengentengkan arti jahat dari perbuatan itu. Misalnya perbuatan Ho Thay Ciong Coe Tiang Leng dan Cioe Tin adalah perbuatan-perbuatan yang sangat kurang ajar tapi tanpa diminta di dalam hatinya ia sudah memaafkan orang-orang itu. Terhadap Goan-tin pun ia tak punya dendam lagi.

Berulang kali Sweet Poet Tek mendesaknya tapi ia tetap tak bergerak. Akhirnya ia berkata, “Swee Poet Tek Taysoe, cobalah kau mencari suatu cara supaya aku tak usah membinasakannya dan ia pun tak bisa mencelakai kalian.”

Swee Poet Tek tak menyahut.

Mana ada cara yang begitu?

Beberapa saat kemudian, Pheng Eng Gioklah yang membuka mulut, “Saudara kecil, kau seorang yang sangat mulia dan kami semua merasa sangat kagum. Sekarang begini saja, tolong kau totok Giok tong hiat di dada Goan-tin. Totokan ini takkan membahayakan dirinya. Ia hanya tak bisa mengerahkan Lweekang untuk beberapa jam. Aku akan memerintahkan orang untuk mengantarnya turun dari Kong Beng-teng dan kami berjanji bahwa kami takkan mengganggu selembar rambutnya.”

Sebagai orang yang ahli ilmu pengobatan, Boe Kie mengerti bahwa totokan pada Giok tong hiat hanya mencegah naiknya hawa murni dari bagian tian dan takkan mencelakai jiwa orang yang ditotok.”

“Siauw sie coe, jangan kena diakali oleh mereka,” kata Goan-tin. “Totokan pada Giok tong hiat memang tak membahayakan jiwaku tapi begitu tenaga mereka pulih, mereka pasti akan membinasakan aku. Bagaimana kau bisa cegah mereka?”

“Tutup mulutmu!” teriak Cioe Tian. “Kami sudah berjanji untuk tak mencelakai kau. Apakah perkataan Ngo Sian-jin dari Beng-kauw tidak dapat dipercaya?”

Boe Kie menganggap bahwa Yo Siauw dan Ngo Sian-jin adalah orang-orang berkedudukan tinggi yang kejujurannya tak diragukan lagu. Hanya Wie It Siauw seorang yang masih diragukannya. Maka itu ia lantas saja bertanya, “Wie Cianpwee, bagaimana dengan kau?”

“Kali ini akupun tak akan menyerang dia,” jawabnya dengan suara gemetar. “Tapi kalau bertemu di lain kali, kami pasti akan mengadu jiwa dengannya.”

“Baiklah,” kata Boe Kie. “Kong Beng Soecia, Ceng ek Hok-ong dan Ngo Sian-jin adalah orang-orang gagah pada jaman ini dan mereka tentu tak akan menjilat lagi ludah yang sudah dibuang. Goan-tin Taysoe, maafkan boanpwee terpaksa berbuat begini terhadapmu.”

Sesudah belasan langkah barulah ia berhadapan dengan pendeta Siauw Lim itu.

Giok tiong hiat terletak di bagian dada manusia satu coen enam hoen di bawah Cie kiong hiat atau satu coen enam hoen di atas Tian tiang hiat.

Pada hakekatnya “hiat” itu bukan “hiat” yang dapat membinasakan jiwa manusia tapi karena kedudukannya berada di jalan darah yang harus dilewati oleh hawa di dalam tubuh, maka kalau “hiat” tersebut tertotok aliran hawa murni di dalam tubuh segera terhenti.

Dengan mendengar suara nafas, Boe Kie tahu bahwa ia sudah berada dalam jarak kurang lebih dua kaki dari pendeta itu. “Goan-tin Taysoe,” katanya, “Untuk kebaikan kedua belah pihak, boanpwee terpaksa harus bertindak begini. Mohon Taysoe tidak menjadi gusar.” Seraya berkata begitu, perlahan-lahan ia mengangkat tangannya.

Goan-tin tertawa getir, “Badanku tidak bisa bergerak, rasakanlah,” katanya.

Semenjak binasanya Tiap-kok Ie-sian Ouw-Cena Goe, kepandaian Boe Kie mengenai jalan darah dapat dikatakan tidak ada duanya dalam dunia. Walaupun ia berada di dalam karung tidak dapat melihat sasarannya, jari tangannya menuju tepat kepada Giok tiong hiat.

“Celaka!” mendadak terdengar suara Yo Siauw, Leng Kiam dan Swee Poet Tek.

Hampir bersamaan pemuda itu merasa semacam hawa yang sangat dingin menerobos masuk ke dalam dirinya dari telunjuk yang digunakan untuk menotok Giok tiong hiat. Sambil mengigil ia mendengar cacian Cioe Tian dan Tiat Koan Toojin kepada Goan-tin. Ia lantas mengerti bahwa meskipun tubuhnya tidak bisa bergerak Goan-tin masih mempunyai sedikit tanaga yang dipusatkan pada jari tangannya. Waktu ia menotok, pendeta itu menaruh jari tangannya di Giok tiong hiat dan karena tidak melihat ia sudah menotok terus. Sebagai akibatnya begitu kedua jari tangan terbentur, tenaga It im cie menerjang masuk ke dalam badannya.

Boe Kie terluka tapi Goan-tin pun mendapat pukulan keras. Barusan ia memusatkan segenap sisa tenaganya pada jari tangannya. Dengan digunakannya tenaga itu, sekujur tubuhnya segera bergemetar keras, mukanya pucat pasi dan badannya kaku seperti mayat.

Cioe Tian yang paling berangasan terus mencaci maki tapi Yo Siauw dan yang lainnya menganggap bahwa perbuatan Goan-tin itu sudah sepantasnya. Ia berhak penuh untuk membela diri.

Di lain pihak walaupun terpukul keras, diam-diam Goan-tin merasa girang. Ia menganggap bahwa sebagai orang yang masih muda, Lweekang Boe Kie tidak seberapa tinggi dan sesudah kena It im cie pemuda itu pasti akan binasa dalam waktu cepat. Ia tahu bahwa dalam waktu satu jam, hawanya yang buyar akan berkumpul kembali dan sesudah tenaganya pulih, ia akan bisa membinasakan musuh-musuh itu.

Dengan sembilan orang terluka semua, ruangan itu kembali sunyi. Berselang kira-kira setengah jam, api empat batang lilin padam hampir bersamaan. Dalam gelap gulita Yo Siauw mendengar jalan pernafasan Goan-tin yang tersengal-sengal sudah berubah tenang. Ia mengerti bahwa hawa murni dalam tubuh pendeta itu sudah berkumpul kembali. Berulang kali ia sendiri mengerahkan Lweekang tapi dalam setiap usaha, hawa dingin dari It im cie selalu menerjang ke tantian-nya dan tanpa dapat dicegah ia menggigil. Ia menghela dan harapannya sirna. Rasa putus asa itu juga dirasakan oleh kawannya yang lain.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: