Kumpulan Cerita Silat

16/08/2008

Kisah Membunuh Naga (36)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:58 am

Kisah Membunuh Naga (36)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

“Mana berani aku bertanding dengan Soethay?” kata Boe Kie, “Aku hanya mengharap supaya Soethay suka menaruh belas kasihan.”

“Can Siangkong, tak usah banyak bicara dengan bangsat tua itu!” teriak Gouw Kin Co. “Kami lebih suka mampus daripada menerima belas kasihannya yang diliputi kepalsuan.”

Biatcoat mengawasi Bie Kie dengan soroo mata tajam. “Siapa gurumu?” tanyanya.

Goe Kie berpikir sejenak. “Ayah dan ayah angkatku pernah mengajar ilmu silat kepadaku tapi mereka bukan guruku,” katanya didalam hati. Maka itu, ia lantas saja menjawab, “Aku tidak punya guru.”

Jawaban itu mengejutkan semua orang. Dalam rimba persilatan, seorang guru sangat dihormati. Adalah lumrah jika seorang murid tidak mau menyebutkan nama gurunya, tapi tak mungkin terjadi bahwa seorang yang mempunyni guru mmengatakan tak punya guru. Maka itu kalau Boe Kie mengatakan tak punya guru, ia pasti tak punya guru.

Sekarang Biatcoat tak mau banyak omong lagi. “Sambutlah!” katanya seraya menepuk dengan tangannya.

Boe Kie tidak bisa tidak melawan. Sambil mengerahkan Lweekang, ia mendorong dengan kedua tangannya untuk menyambut pukulan si nenek. Mendadak Biatcoat menundukkan tangannya dan bagaikan seorang ikan kecil, tangan itu melejit dari sambutan Boe Koe. Akan kemudian bagaikan kilat, menyambar ke dada pemuda itu.

Dalam kagetnya, tenaga Kioe-yang Sin kang dalam tubung Boe Kie keluar secara wajar. Pada detik kedua tenaga hampir beradu, tenaga pukulan Biatcoat mendadak menghilang. Dengan tercengang, Boe Kie mengawasi si nenek. Pada saat itulah, mendadak ia merasa dadanya seperti dipukul martil, kakinya bergoyang dan ia berjumpalitan beberapa kali. “Uah!” ia memuntahkan darah dan roboh.

Tenaga pukulan Biatcoat yang sebentar ada dan sebentar hilang, sungguh-sungguh merupakan ilmu yag sudah mencapai puncak kesempurnaan. Tanpa merasa, dengan serentak semua orang bersorak sorai.

Sambil mengeluarkan teriakan menyayat hati Coe Jie melompat dan berlari-lari menghampiri “AGoe Koko, kau…kau…” katanya seraya coba membangunkannya.

Boe Kie merasa dadanya menyesak. Ia menggoyang-goyangkann tangannya dan kemudian berkata dengan suara perlahan, “Jangan kuatir, aku tak mati.” Perlahan-lahan ia merangkak bangun.

Biatcoat menengok pada tiga murid perempuannya dan berkata, “Putuskan lengan kanan semua siluman itu!”

“Baik,” jawab mereka seraya bertindak ke arah orang-orang Swie Kim Kie.

“Biatcoat Soethay,” kata Boe Kie tergesa. “Kau mengatakan, jika aku bisa menerima tiga pukulanmu, kau akan melepaskan mereka. Aku sudah menerima pukulan pertama, masih ada dua.”

Sesudah mengirim pukulan yang barusan, si nenek mengetahui, bahwa Lweekang Boe Kie bukan saja bukan Lweekang dari golongan Mo kauw, malah hampir sama dengan Lweekangnya sendiri. Ia juga tahu, bahwa biarpun ia mencoba melindungi orang-orang Mo Kauw, Boe Kie bukan anggota agama itu. Maka itu, ia lantas saja berkata, “Anak muda! Jangan kau coba mengurus urusan orang lain. Lurus dan sesat harus dibedakan sejelas-jelasnya. Barusan aku hanya menggunakan sepertiga bagian tenagaku. Apa kau tahu?”

Boe Kie yakin, bahwa sebagai Ciangboenjin Biat Coat tentu tidak berdusta. Tapi ia sudah mengambil keputusan, bahwa biarpun mesti mati, ia tak bias mengawasi penyembelihan terhadap orang-orang Mo Kaouw sambil berpeluk tangan. “Dengan tidak mengimbangi tenaga sendiri, biarlah aku menerima dua pukulan lagi,” katanya.

Boe Kie tidak menghiraukan dan segera berkata pula, “Biatcoat Soethay.” Tapi ia hanya dapat mengeluarkan empat perkataan itu, karena mendadak ia memuntahkan darah lagi.

Coe Jie bingung bukan main. Tiba-tiba ia bangun berdiri dan coba memapah pemuda itu. Tapi di lain saat, kedua ulunya lemas kembali dan ia jatuh pula di pasir. Ternyata, walaupun “hiat” yang ditotok oleh Biatcoat sudah dibuka Boe Kie, tapi darahnya belum mengalir biasa. Sekarang melihat pemuda itu terluka, dalam kagetnya ia dapat berdiri dan bergerak. Kejadian itu bersamaan sebab musababnya dengan seorang lumpuh, yang dalam kebakaran mendadak bias lari cepat. Tapi semangat dan tenaga Coe Jie yang luar biasa hanya keluar untuk sementara waktu.

Dengan rasa mendongkol Biat coat menghampiri si nona yang dianggapnya rewel. Ia mengimbas tangan jubahnya dan tubuh Coe Jie terapung ke belakang. Cioe Cie Jiak yang berdiri di sebelah belakang buru-buru menyangga badan si nona dengan kedua tangannya dan kemudian, perlahan-lahan menaruhnya di atas pasir.

“Ceoi cie cie,” kata Coe Jie, “cobalah bujuk supaya dia jangan menerima kedua pukulan lagi. Ia akan menurut apa yang kau katakan.”

“Bagaimana kau tahu dia akan menurut?”” tanyanya nona Cioe dengan heran.

“Dia suka kepadamu,” jawabnya. “Apakah kau tak tahu?”

Paras muka Cie Jiak lantas saja bersemu dadu.

“Mana bisa jadi!” katanya, kemalu-maluan.

Sementara itu sudah terdengar suara Biao coat yang menyeramkan. “Kau sendiri yang cari mati dan kau tak boleh menyalahkan aku”. Seraya berkata begitu, ia mengangkat tangan kanannya dan menghantam dada Boe Kie.

Pemuda itu tak berani menangkis. Bagaikan kilat ia mengengos. Si nenek tiba-tiba menekuk sedikit sikunya dan dari sudut yang tidak diduga-duga, telapak tangannya menyambar punggung Boe Kie.

“Plak!”.

Boe Kie roboh tanpa berkutik lagi, seolah-olah ia sudah putus jiwa. Pukulan Biatcoat sebenarnya pukulan yang lihai luar biasa dan menurut kawan-kawannya dari lain-lian partai harus bersorak sorai untuk memujinya. Tetapi semua orang berdiam seperti patung, karena di dalam hati, mereka merasa kasihan dan kagum terhadap pemuda itu yang telah mengunjuk perbuatan seorang kesatria.

“Coe ciecie,” kata Coe Jie dengan suara parau, “Aku memohon…memohon…lihat…lihat… lukanya!”

Jantung nona Cioe memukul keras. Permintaan itu diajukan dengan meratap dan di dalam hati, ia ingin sekali memenuhinya. Akan tetapi mana ia berani? Kalau ia menolong Boe Kie, berarti ia tidak mengindahkan guru sendiri. Kakinya sudah melangkah, tetapi ditarik lagi.

Beberapa saat kemudian, perlahan lahan tubuh pemuda itu bergerak dan kemudian, ia mencoba untuk berduduk. Tapi setelah beberapa detik mengandalkan sikutnya di pasir kuning, tenaganya habis dan ia terus roboh kembali.

Ketika itu, matahari sudah memancarkan sinarnya yang gilang-gemilang dan semua orang bisa melihat bahwa Boe Kie seolah tidur di linangan darah.

Pemuda itu berada dalam keadaan lupa ingat. Tanpa bergerak, ia rebah dan ingin sekali bisa rebah di situ untuk selama-lamanya. Tapi sayup-sayup ia ingat, bahwa untuk menolong orang-orang Swie Kim Kie, ia masih harus menerima satu pukulan lagi. Sesaat kemudian, ia menarik napas dalam-dalam dan dengan dorongan tenaga kemauan yang tiada taranya tiba-tiba ia terduduk! Tapi badannya lantas saja bergemetaran dan setiap detik, ia bisa roboh kembali.

Semua orang mengawasi dengan mata membelak.

Di sekitar itu terdapat ratusan manusia. Tapi keadaan sunyi senyap bagaikan kuburan dan andaikata sebatang jarum di tanah, suaranya munkgin dapat didengar orang.

Dalam susunan itulah dalam otak Boe Kie mendadak berkelebat beberapa baris perkataan dalam Kioe yang Cing Keng yang berbunyi begini:

“Dia kuat, biarlah dia kuat,
Angin sejuk meniup bukit,
Dia ganas, biarlah dia ganas,
Bulan terang menyoroti sungai.”

Sebegitu jauh, semenjak meninggalkan lembah itu ia belum pernah bisa menangkap artinya perkataan-perkataan itu. Sekarang, dalam menghadapi kekuatan dan keganasan Biat coat yang sama sekali bukan tandingannya, sekonyong-konyong otaknya seperti dapat menangkap arti daripada perkataan-perkataan itu, yang seperti juga ingin mengunjuk, bahwa tak perduli bagaimana kuat dan ganasnya musuh, kita selalu dapat menganggapnya seperti angin yang meniup bukit atau rembulan yang memancarkan sinarnya diatas sungai. Angin dan rembulan itu takkan bisa mencelakai kita.

Tapi bagaimana? Bagaimana kita harus berhubungan sehingga kekuatan dan keganasan itu tidak menolakan kita?

Perkataan selanjutnya dalam Kioe yang Cia Keng adalah seperti berikut:

Biar dia ganas
Biar dia jahat
Bagiku cukuplah jika aku sekali menyedot hawa tulen!
Hawa tulen!

Sekarang Boe Kie tersadar. Baru-baru ia bersila dan sesuai dengan ajaran kitab itu, ia menjalankan pernapasan dan mengalirkan hawa “tulen” seluruh tubuhnya.

Dalam sekejap, ia merasa semacam hawa panas muncul di bagian tian-tian (pusar) dan hawa tulen mengalir terputar putar di seluruh tubuhnya, terus sampai ketangan dan kaki. Ia kagum bukan main. Baru sekarang ia tahu hebatnya ajaran Kioe yang Cin Keng. Ia mendapat luka berat, tapi tanaga dalam dan hawa “tulen” yang berada dalam tubuhnya sedikitpun tak berubah.

Biat coat terus memperhatikan gerak-gerik pemuda itu dengan perasaan heran. Ia mengerti, bahwa Boe Kie benar-benar kuat dan alot. Pukulannya yang pertama adalah salah satu pukulan dari Piauw soat Coan in ciang (pukulan salju melayang menembus awan). Pukulan kedua lebih lihai lagi yaitu Ciat chioe Kioe-sit dan yang telah digunakan olehnya adalah jurus ketiga. Kedua pukulan itu adalah pukulan-pukulan terhebat dari ilmu silat Go Bie pay.

Dalam pukulan pertama ia hanya menggunakan tiga barisan tenaga. Menurut perhitungannya, biarpun tidak mati, Boe Kie akan terluka berat dan patah tulang. Tapi tak dinyana, sesudah rebah beberapa saat, ia bisa duduk lagi (Ciat Chioe Kio sit).

Pukulan yang memutuskan terdiri dari sembilan jurus.

Menurut perhitungan pie boe (adu silat) dalam rimba persilatan, Biat coat sebenarnya boleh tidak usah menunggu sampai Boe Kie menjalankan pernapasannya untuk mengobati luka. Tapi sebagai orang tua yang berdudukan tinggi, ia merasa malu untuk turun tangan selagi lawan nya yang masih muda belia berada dalam bahaya.

Tapi Teng Bie Koen merasa tidak sabaran lantas saja berteriak, “Hai orang she Can! Jika kau tak berani menerima pukulan ketiga dari guruku, lebih baik kau lekas lekas berlalu dari sini. Apakah karat mesti menunggu kau seumur hidup di sini?”

“Teng Soe cie, biarlah ia mengaso lebih lama sedikit,” kata Cioe Cie Jiak dengan suara pelan.

Si perempuan she Tang lantas saja jadi gusar. “E!” bentaknya “Apa? Apa kau mau melindungi orang luar? Apa karena melihat bocah itu?” Ia sebenarnya ingin mengatakan, “apa karena melihat bocah itu tampan mukanya kau jadi menuju padanya,” tapi mendadak ia ingat bahwa di hadapan begitu banyak orang dari berbagai partai, tidaklah pantas ia mengeluarkan kata-kata sekasar itu. Maka itu, perkataannya putus di tengah jalan. Tapi tentu saja semua orang mengerti, apa yang ia mau mengatakan.

Cioe Cie Jiak malu bercampur gusar, sehingga mukanya berubah pucat, “Siaowmoay berata begitu karena mengingat keangkeran partai dan guru kita,” katanya dengan tawar. “Siauwmoay tak mau orang luar berbicara yang tidak-tidak.”

“Tidak-tidak apa?” bentak sang kakak.

“Ilmu silat partai kita tersohor di kolong langit dan guru kita seorang cian pwee yang berkedudukan sangat tinggi,” jawabnya dengan bernapsu. “Maka itu, guru kita pasti tidak boleh mempunyai pandangan yangn bersamaan dengan seorang bocah. Hanyalah karena dia sangat kurang ajar, maka guru kita sudah memberi ajaran kepadanya. Apa Soecie menduga SoeHoe benar-benar mau mengambil jiwa bocah itu? Selama kurang lebih seratus tahun, partai kita dikenal sebagai partai dari para ksatria. Guru kita dikagumi orang berkata kesatriaannya dan kemudian hatinya yang selamanya bersedia untuk memolong sesama manusia. Bocah itu adalah seperti api lilin, sehingga cara bagaimana dia dapat menandingi matahari dan rembulan. Biarpun dia berlatih seabad lagi, dia masih belum tentu bisa menandingi guru kita. Maka itu, apa jahatnya jika kita membiarkan dia mengaso terlebih lama?”

Sungguh indah pembelaan nona Cioe!

Semua orang manggut-manggut, sedang orang yang plg bergirang adalah Biat Coat sendiri. Ia merasa, bahwa murid yang kecil itu sudah mengangkat baik nama Go bie pay di hadapan orang banyak.

Sesudah hawa “tulen” mengalir di sekujur badannya, tenaga Boe Kie pulih kembali, semangatnya terbangun dan otaknya terang lagi. Setiap perkataan nona Cioe didengar jelas olehnya dan ia merasa sangat berterima kasih, karena tahu bahwa dengan berkata begitu, si nona coba menyelamatkan jiwanya. Beberapa saat kemudian ia bangun berdiri seraya berkata, “Soethay biarlah boanpwe membuang jiwa dalam menerima pukulan terakhir.”

Tak kepalang herannya si nenek. Ia sungguh tidka mengerti, cara bagaimana, dengan hanya bersila beberapa saat tenaga pemuda itu sudah pulih kembali. Apa dia mempunyai ilmu siluman?

Sambil menatap wajah Boe Kie, ia berkata, “Sekarang kau boleh menyerang aku. Mengapa kau tidak mau membalas?”

Boe Kie bersenyum getir. “Dengan kepandaian yang tidak artinya, jubah Soethay saja boanpwee tak akan dapat menyentuh,” jawabnya. “Bagaimana boanpwee bisa menyerang?”

“Kalau kau tahu, pergilah lekas-lekas,” kata si nenek dengan suara lebih sabar. “Pemuda yang seperti kau memang suka dicari tandingannya. Biat coat Soethay sebenarnya tidak pernah mengampuni orang tapi hari ini aku melanggar kebiasaan itu.”

Boe Kie membungkuk seaya berkata, “Terima kasih atas kasihan Cianpwee. Cianpwee mengampuni juga saudara-saudara dari Swie Kim Kie?”

Kedua alis nenek turun dan ia tertawa dingin. “Kau tahu apa Hoat Bengku?” tanyanya.

(Hoat Beng nama seorang pendeta).

“Nama Ciapwee yang mulia ialah Biat dan Coat,” jawabnya.

(Biat berarti memusnahkan sedang Coat bearti menumpas atau membinasakan).

“Bagus,” kata si nenek. “Aku bertekad untuk memusnahkan dan menumpas semua kawanan Mokauw. Apa kau kira “Biat coat” suatu nama kosong?”

“Kalau begitu biarlah Cianpwee mengirim pukulan yang ketiga,” kata Boe Kie.

Si nenek tercengang. Seumur hidup ia belum pernah bertemu dengan manusia yang begitu nekad dan keras kepala. Ia sebenarnya seorang berhati dingin. Tapi sekarang tiba-tiba ia merasa sayang kalau pemuda gagah seperti Boe Kie harus mati konyol. Sesudah memikir sejenak ia segera mengambil keputusan untuk memukul saja di bagian tan tian supaya pemuda itu pingsan untuk sementara waktu dan kemudian, sesudah membinasakan orang orang Swe Kim Kie, ia dapat menolongnya lagi. Memikir begitu ia segera mengibas tangan kirinya dan bergerak untuk mengirim pukulan ketiga.

Sekonyong-konyong dari tempat jauh terdengar teriakan, “Biat Coat Soethay, tahan!” suara itu keras luar biasa dan telinga semua orang merasa tak enak.

Di lain saat seraya menggoyang goyangkan kipas seorang pria sudah berdiri di hadapan si nenek. Orang itu mengenakan baju warna putih dna pada tangan baju sebelah kiri tersulam sebuah hiat-chioe (tangan berlumuran darah). Waktu berjalan tak sebutir pasirpun naik ke atas dan semua orang lantas saja mengerti, bahwa ia adalah seorang yang berkedudukan tinggi dalam Peh bie Kauw.

Seragam resmi Peh Bie kauw, sama dengan seragam Mo Kauw yaitu pakaian warna putih. Perbedaannya ialah kalau di tangan baju anggauta Mo-kaow terdapat sulaman obor, anggauta Peh bie kauw menggunakan tanda hiat chioe.

Sambil menyoja orang itu tertawa dan berkata, “Soethay selamat bertemu. Pukulan ketiga biarlah diterima olehku.”

“Siapa kau?” tanya Biat Coat.

“Aku she In namaku yang rendah Ya Ong,” jawabnya.

Mendengar nama “In Ya Ong” semua orang terkejut. Selama kira-kira duapuluh tahun, nama itu menggetarkan dunia Kang ouw. Ayahnya yaitu Peh bie Eng ong In Thian Cong memusatkan seantero perhatiannya dalam pelajaran ilmu silat dan menyerahkan semua urusan Pe bie kauw kepadanya, secara resmi. In Ya Ong hanya hiocoe, Thian wie tong, tapi sebenarnya ia seorang wakil Kauw coe.

Dengan mata tajam Biat coat mengawasi jago Peh Bie Kauw itu baru berusia kira-kira empatpuluh tahun. Tapi bermata sangat tajam, seolah-olah sinar kilat yang dingin. “Pernah apakah bocah itu kepadamu?” tanyanya dengan suara dingin.

Jantung Boe Kie memukul keras. Hampir-hampir ia berteriak. “In Koekoe-ke!”

(Koe Koe = paman, saudara lelaki dari ibu).

In Ya Ong tertawa besar, “Aku belum pernah mengenal dia,” jawabnya. “Tapi karena melihat jiwanya yang luhur, yang berbeda dengan manusia-manusia palsu dalam rimba persilatan, maka aku merasa sayang dan di dalam hatiku lantas saja timbul niatan untuk menjajal tenaga Soethay.” Perkataannya yang paling belakang tidak sungkan-sungkan, seolah-olah ia tidak memandang mata kepada si nenek.

Tapi Hiat coat tidak menjadi gusar. “Bocah,” katanya kepada Boe Kie. “Kalau kau ingin hidup lebih lama, kau masih mempunyai kesempatan.”

“Untuk menyelamatkan jiwa sendiri, boanpwee tidak berani melupakan budi orang”, jawabnya.

Si nenek mengangguk dan lantas saja berkata kepada In Ya Ong, “Anak ini masih hutang satu pukulan. Perhitungan harus dibereskan satu persatu. Sebentar, sesudah beres yang satu, aku pasti tidak akan mengecewakan tuan.”

In Ya Ong tertawa terbahak-bahak. “Biat coat Soe Thay!” bentaknya. “Kalau kau mempunyai nyali binasakanlah anak itu! Jika dia binasa, kamu semua, tak seorangpun yang bakal terluputkan mampus tanpa kuburan!” seraya berkata begitu bagaikan melayang diudara, ia berlalu dari hadapan si nenek.

“Keluar semua!” teriaknya.

Hampir berbareng, di seputar rombongan Biat coat dan kawan-kawannya, muncul sejumlah besar orang yang membekal tameng dan kedua tangannya mementang busur, dengan semua anak panah ditujukan ke arah rombongan Biat Coat.

Ternyata selagi Biat Coat berurusan dengan Boe Kie, kawanan Peh Bie Kauw telah membuat parit di pesisir dan sudah mengurung rombongan musuhnya. Perkerjaan itu dilakukan tanpa di ketahui oleh siapapun jua, karena perhatian semua orang ditujukan kepada Biat Coat dan Boe Kie.

Paras muka semua orang lantas saja berubah pucat. Dengan melihat mata anak panah yang berwarna biru, mereka tahu, bahwa senjata itu mengandung racun. Sekali In Ya Ong memberi perintah, kecuali beberapa orang yang berkepandaian tinggi, mereka semua akan binasa.

Di antara orang-orang lima partai yang berada disitu, Biat Coatlah yang berkedudukan paling tinggi. Maka itu semua oran mengawasinya dan menunggu keputusannya.

Si nenek adalah manusia keras kepala. Biarpun ia menarik, bahwa pihaknya telah menghadapi bencana, sikapnya tetap tidak berobah. “Bocah kau tidak boleh menyalahkan orang lain untuk nasibmu,” katanya kepada Boe Kie. “Di lain saat tulang-tulang dalam tubuhmu berkerotokan seperti kacang di goreng,” dan kemudian dengan telapak tangan menepuk dada Boe Kie.

(kerotok = jatuh)

Pukulan itu pukulan terlihat Go Bie Pay dan dikenal sebagai Hoedkong Po-tiaw (Sinar Budha menyorot di selebar dunia). Menurut kebiasaan ilmu silat, setiap pukulan berisi sejumlah jurus yang saling susul seperti mata-mata rantai dan saban jurus mengandung pula perubahan-perubahan yang tidak sedikit jumlahnya. Tapi Hoedkong Po-tiauw hanya sejurus dan jurus itu tidak ada perubahannya. Biarpun begitu jurus tunggal itu lihai bukan main. Tak nanti ada manusia yang dapat mengelakkannya. Tenaga dahsyat terdapat di dalamnya adalah Go Bie Kioe yang kang. Pada jaman itu dalam kalangan Go Bie Pay hanya Biat Coat serang yang dapat menggunakan pukulan tersebut.

Semula si nenek hanya ingin memukul tantian Boe Kie, supaya ia pingsan untuk sementara waktu. Tapi sesudah munculnya In Ya Ong, ia mengambil keputusan untuk tidak malu kasihan lagi. Menurut anggapannya, jika ia menaruh belas kasihan kepada Boe Kie it artinya takut menghadapi In Ya Ong. Demikianlah ia mengirim Hoedkon Po Tiauw dengan seantero tenaga Go Bie Kioe yang kang.

Mendengar suara berkerotoknya tulang-tulang si nenek, Boe Kie mengerti, bahwa ia akan di serang dengan pukulan membinasakan. Ia tahu jiwanya tergantung atas selembar rambut. Pada detik itu untuk menolong jiwa, ia hanya mempunyai satu pegangan, yaitu perkataan yang terdapat dalam Kioe yang cie keng. “Biar dia jahat, biar dia ganas, bagiku, cukuplah jika aku sekali menyedot hawa tulen.”

Maka itulah tanpa menghiraukan segala apa ia segera mengerahkan pernapasannya dan mengumpulkan hawa tulen didadanya.

“Plak!” telapak tangan Biat coat mampir tepat di dada Boe Kie!

Semua orang terkesikap, beberapa antaranya mengeluarkan seruan tertahan. Mereka menduga tulang-tulang pemuda itu akan hancur. Tapi muka Boe Kie kelihatan seperti orang kaget. Tapi ia tetap berdiri tegak di atas pasir, sedang paras Biat Coat pucat pasi bagaikan mayat, tanggannya yang barusan memukul bergetar.

Apa yang sudah terjadi?

Tenaga pukulan Hoed kong Po tiauw adalah Go bie Kioe yang kang. Yang digunakan Boe Kie tenaga Kioe yang sin kang, Go Bie Kioe yang kang digubah Kwee Siang sesudah mendengari Kak Wan Tay Soe menghafal Kioe yan Cin Keng. Karena hanya mendengar satu kali, maka dapatlah dimengerti, jika Kwee Siang tidak dapat menangkap isi kitab itu. Maka itu, Go Bie Kioe yang kang tidak dapat dibandingkan dengan Kioe yang Sin kang dari Boe Jie yang mendapatkannya dengan membaca kitabnya sendiri. Dengan lain perkataan Kioe yang Sin kang Boe Kie yang lebih tulen dan lebih murni terlebih kuat daripada Go Bie Kioe yang kang yang di miliki Biat Coat. Sebagai akibatnya, begitu lekas kedua tenaga kebentrok, Go Bie Kioe yang kang hilang bagaikan batu jatuh di laut.

Untuk sedetik Boe Kie merasa dadanya tergetar, tapi di lain saat, seluruh tubunya berubah nyaman dan semangatnya bertambah besar.

Mengapa?

Karena Go Bie Kioe yang kang dihisap Kioe yang sin kang dan tenaga Go Bie Kioe yang kang berbalik menambah tenaga Boe Kie. Pemuda itu tak sengaja menghisap tenaga si nenek. Itu semua sudah terjadi secara wajar, sebab kedua rupa tenaga bersamaan sifatnya, sehingga yang lebih kuat menyedot yang lebih lemah.

Dalam pukulan pertama kedua Biat coat tak menggunakan Go Bie yang kang dan Boe Kie sudah terluka.

Sebab musabab dari ini semua tak di ketahui oleh siapapun jua. Semua orang rimba persilatan sudah mendengar bahwa di dalam dunia terdapat Kioe Im Cin Keng. Tapi semenjak kerajaan Lam Song, Kioe Im menghilang dari rimba persilatan, di samping Kioe Im, ada Kioe Yang cin kang. Tapi kecuali kak wan tay soe, belum pernah ada manusia yang dapat melihatnya, sehingga secara aneh dan kebetulan, Boe Kie mendapatkannya dari perut seekor kera. Maka itu kenyataan Go Bie Kioe yang sin kang tidak diketahui oleh siapapun jua, bahkan tak diketahui pula oleh Biat Ciat sendiri yang hanya menggangap bahwa pemuda itu memiliki Lweekang yang sungguh-sungguh luar biasa.

Sebab mempunyai Lweekwang yang sangat tinggi biarpun dalam bentrokan itu tenaga Go Bie Kie yang kang telah terhisap, lweekang Biat Coat tidak menjadi rusak dan ia sama sekali tak mengunjuk tanda yang jelek. Maka itu, ratusan orang yang menyaksikan peristiwa itu memberi tafsiran yang beraneka warna. Ada yang menduga si nenek menaruh belas kasihan, ada yang menduga dia tak mau mencelakai jiwa ratusan lawan dan ada juga yang menduga beryali kecil dan takut akan ancaman In Ya Ong.

Sementara itu Boe Kie menyoja sambil membungkuk. “Terima kasih atas belas kasihan Soe thay,” katanya.

Biat Coat mengeluarkan suara di hidung. Ia malu bercampur gusar. Ia sekarang serba salah, kalau memukul lagi, sebagai seorang cianpwee ia tak menepati janji. Kalau menyudahi saja, ia seperti juga menekuk lutut di bawah ancaman Peh Bie Kauw.

In Ya Ong tertawa terbahak-bahak, “Orang yang bisa melihat selatan adalah seorang gagah katanya. Tak malu Biat Coat menjadi sorang yang berkedudukan tinggi pada jaman ini.” Ia mengibas tangannya dan membentak “Mundur semua!”

Dengan serentak dan rapi, pasukan anak panah Peh Bie Kauw menghilang dalam parit.

Biat Coat malu besar, tapi orang tentu tidak mau percaya, jika ia mengatakan, bahwa barusan ia memukul sungguh-sungguh. Orang tentu menggangap, bahwa ia takut akan ancaman In Ya Ong. Maka itu ia hanya mengawasi Boe Kie dengan sorot mata gusar. Sesaat kemudian, ia berseru, “In Ya Ong! Jika kau ingin menjadi pukulanku, marilah!”

“Sesudah hari ini menerima budi Soethay, aku tak berani membuat kedosaan lagi,” jawabnya. “Di hari kemudian masih ada kesempatan untuk bertemu pula.”

Si nenek mengibas tangannya dan tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, ia mengajak murid-muridnya pergi ke arah barat. Rombongan Koen Loen Hwasan dan Kongtong bersama In lie Heng dan Song Ceng Soe lantas berangkat.

Coe Jie yang masih belum bisa jalan lantas saja berteriak “A Go koko! Bawalah aku pergi dari sini!”

“Tunggu sebentar,” kata Boe Kie yang inign bicara dengan In Ya Ong. Ia mendekati dan berkata, “Terima kasih atas budi cianpwee, Boanpwee takkan dapat melupakannya.”

Sambil mencekal tangan pemuda itu dan mengawasi mukanya dengan mata tajam. In Ya Ong bertanya. “Apa benar kau she Can?”

Di dalam hati Boe Kie ingin sekali menubruk dan memeluk pamannya, tapi sebisa bisa ia mempertahankan diri. Bahwa terharu, kedua matanya mengembang air.

Kata orang, “Melihat paman seperti melihat ibu sendiri.” Sesudah kedua orang tuanya meninggal dunia, selama belasan tahun, baru sekarang Boe Kie berjumpa dengan keluarga sendiri sehingga dapatlah di mengerti, jika ia merasa sangat terharu.

Di lain pihak, In Ya Ong hanya menafsirkan menangisnya pemuda itu sebagai suatu tanda berterima kasih. Tiba-tiba ia melihat Coe Jie yang rebah di tanah dan ia terus saja tertawa dingin. “A lee,” tegurnya. “Apa kamu sudah tidak mengenal aku?”

Paras si nona lantas saja berubah. “Thi!” katanya dengan suara bergemetar.

Boe Kie terkejut dan berbareng ia melihat segala apa yang semula gelap baginya. “Ah! Kalau begitu ia putrinya Koekoe dan saudari sepupuku,” pikirnya. “Ia telah membunuh ibu tirinya, menyebabkan meninggalnya ibu kandungnya sendiri dan ia mengatakan, bila bertemu ayahnya, akan membunuh dirinya…. Ah! Ia membinasakan In Boe Lok dengan Cian coe Ciat hoe cioe. Mungkin sekali ketiga orang itu pernah menyakiti hatinya. Biarpun membenci, In Boe Hok dan In Boe Sioe tidak berani melawan dia dan lari dengan membawa mayat Boe Lok…” Ia mengawasi si nona dan berkata pula dalam hatinya. “Tak heran ia agak mirip dengan ibu. Tak dinyana, ibuku adalah bibinya sendiri.”

Sementara itu, seraya tertawa dingin In Ya Ong berkata. “Hm!… kau masih memanggil aku ‘thi’. Kukira sesudah mengikuti Kim hoa Popo, kau tak memandang sebelah mata lagi kepada Peh Bie kauw. Kau tiada bedanya denagn ibumu. Hm!… mempelajari Ciaon coe ciat hoe cioe. Ambillah kaca pandang mukamu yang tak keruan macam. Apakah di dalam keluarga In ada manusia yang beroman seperti hantu?”

Coe Jie ketakutan dan menggigil. Tiba-tiba ia mendongak dan menatap wajah ayahnya. “Thia” katanya dengan nyaring. “Jika kau tak menyebutkan kejadian dahulu hari, akupun takkan menggusik usiknya. Tapi sesudah kau menyebutkan itu, kini aku ingin menanya. Ibu telah menikah denganmu dan telah merawat engkau sebagai mana mesti. Tapi kenapa kau mengambil istri kedua?”

“Kurang ajar kau!” bentak sang ayah. “Orang lelaki manakah yang tak mempunyai beberapa istri dan gundik. Kau berdosa besar…tak guna kau coba membela diri dengan pertanyaan-pertanyaan kurang ajar…hm…Kim hoa Popo…Gin hip Sian Seng…sedikit pun kau tak memandang mata kepada Peh bie kauw”. Sambil menengok kepada In Boe Hok dan In Boe Sioe, ia berkata, “Bawa budak ini!”

“Tahan!” kata Boe Kie. “In…Cian pwee, perlu apa kau membawa dia?”

“Budak ini adalah anakku sendiri,” jawabnya dengan mendongkol. “Dia meracuni ibu tirinya sehingga mati dan diapun menyebabkan matinya ibu kandungnya sendiri. Perlu apa manusia binatang itu dibiarkan hidup di dalam dunia?”

“Waktu itu In Kouwnio masih sangat muda dan sebab jengkel melihat ibunya dihina orang, ia sudah melakukan perbuatan yang tak pantas,” kata pula Boe Kie. “Dengan mengingat kecintaan antara ayah dan anak, aku mengharap Cianpwee suka mengampuninya.”

In ya Ong tertawa terbahak-bahak, “Bocah! Siapa sebenarnya kau, sehingga kau berani campur-campur urusan rumah tanggaku? Apakah kau seorang Boe Lim Cie Coen?”

Di dalam hati Boe Kie ingin menjawab, “Aku bukan orang luar, aku keponakanmu,” tapi perkataan itu yang sudah hampir keluar ditelan lagi.

Sesudah berdiam sejenak, In Ya Ong berkata pula, “Bocah secara mujur, hari ini jiwamu ketolongan. Tapi jika kau tidak mengubah adat, jika kau terus coba-coba campur urusan orang, biarpun kau mempunyai sepuluh jiwa juga tak cukup.” Ia mengibas tangannya dan In Boe Hok serta In Boe Siong segera mengangkat Coe Jie dan menaruhnya di belakang In Ya Ong.

Boe Kie mengerti, bahwa begitu lekas si nona dibawa oleh ayahnya, jiwanya pasti akan melayang. Dalam bingungnya, ia melompat merampasnya. Alis In Ya Ong berkerut. Bagaikan kilat tangannya menyambar dan mencengkram dada Boe Kie yang lalu dilontarkan.

“Bruk!” ia ambruk di pasir kuning. Dengan Kie yang Sin Kang melindungi dirinya, ia tidak dapat mendapat luka, tapi muka dan pakaiannya gelepotan pasir. Dengan cepat ia merangkak bangun dan lekas mengulangi usaha untuk merampas Coe Jie.

“Bocah!” bentak In Ya Ong. “Barusan aku menaruh belas kasihan. Tapi sekali lagi aku tak akan menaruh sungkan.”

“In…cian pwee,” meratap Boe Kie. “Dia adalah anak kandungmu sendiri. Dahulu kau sedang mendukung dia…Kau pernah menyintainya…Dengan mengingat kecintaan itu, ampunilah dia…”

Mendengar ratapan itu, hati In Ya Ong tergerak juga. Ia mengawasi puterinya, tapi begitu melihat muka Coe Jie yang tak keruan macamnya, darahnya meluap lagi. “Minggir!” bentaknya.

Sebaliknya daripada menyingkir, Boe Kie melompat pula merebut si nona.

“A Goe Koko,” kat Coe Jie. “Kau tak usah mempedulikan aku! Aku takkan melupakan budimu. Pergilah! Kau bukan tandingan ayahku.”

Pada saat itulah mendadak muncul seorang pria yang mengenakan jubah berwarna hijau. Dengan kedua tangan ia mencekal belakang leher In Boe Hok dan In Boe Sioe dan lalu membentrokkan kepala kedua orang itu yang lantas saja menjadi pingsan. Hampir berbareng, dengan kecepatan kilat, ia mendukung tubuh Coe Jie dan segera kabur.

“Ceng ek Hong ong!” bentak In Ya Ong dengan gusar. “Kau juga mau campur-campur urusanku!”

Ceng ek Hok ong Wie It Siauw tertawa dan terus lari dengan secepat-cepatnya. Sesuai dengan namanya “It Siauw” (Sekali tertawa), tertawa-tawanya nyaring dan panjang luar biasa.

In Ya Ong dan Boe Kie lantas saja mengkejar. Kali ini Ceng ek Hok ong tak lari berputaran tapi terus menuju ke jurusan tenggara. Dia sungguh lihai. In Ya Ong adalah seorang ahli silat kelas utama yang mempunyai lweekang sangat tinggi, sedang Boe Kie memiliki Kioe yang sin kang. Tapi makin lama mereka mengejar, Wie It Siauw yang mendukung orang, mereka ketinggalan makin jauh, sehingga si Raja Kelelawar tidak kelihatan bayang-bayangnya lagi.

Bagaikan kalap, In Ya Ong mengkejar terus. Diam-diam dia merasa heran karena Boe Kie bisa terus merendenginya. Sesudah tak punya harapan menyusul musuh ia sekarang ingin menjajal kepandaian pemuda itu. Ia segera menggunakan seantero tenaga dalamnya dan lari bagaikan anak panah yang baru terlepas dari busurnya. Tapi pundak Boe Kie tetep berendeng dengan pundaknya. tiba-tiba pemuda itu berkata, “In cianpwee, meskipun Ceng ek Hong bisa lari sangat cepat, lweekang nya belum tentu seberapa tinggi. Cobalah kita mengejar terus untuk mencoba kekuatannya.”

In Ya Ong kaget bukan main. “Dengan lari secepat ini, aku telah menggunakan seantero tenaga dalamku,” pikirnya. “Jangankan berbicara, bernapas salahpun sudah tak boleh. Tapi anak ini bisa berbicara dengan kecepatan lari yang tidak berubah. Apa dia mempunyai ilmu siluman? Mendadak ia menghentikan tindakan dan dalam sedetik itu, tubuh Boe Kie sudah melesat belasan tombak jauhnya. Buru-buru pemuda itu berhenti dan menghampiri In Ya Ong.

“Saudara Can,” kata In Ya Ong, “Siapakah gurumu?”

“Tidak…tidak ada.” Kata Boe Kie tergugu. “In Cianpwee, janganlah kau memanggil aku dengan istilah saudara. Panggil saja namaku A Goe. Aku tak punya guru.”

Mendengar jawaban itu, serupa ingatan tidak baik mendadak muncul dalam hati In Ya Ong. “Bocah ini memiliki kepandaian yang sangat aneh,” pikirnya. “Kalau dia hidup terus, dia bisa jadi bibit penyakit. Sebaiknya sekarang saja aku mangambil jiwanya.”

Sekonyong-konyong di tempat jauh terdengar suara terompet yang terbuat daripada keong raksasa. Itulah tanda bahaya dari Peh bie kauw.

Alis In Ya Ong berkerut.

“Tak salah lagi Ang soei dan Liat Hwee yang cari lantaran,” pikirnya. “Mereka rupanya marah sebab aku tidak membantu Swie kim kie. Kalau sekarang aku menyerang dan tidak membinasakan bocah itu dengan satu kali pukul, aku mesti bertempur lama, sedang aku tak banyak waktunya. Aah.
Lebih baik aku meminjam tenaga orang, biarlah dia mampus dalam tangan Wie It Siauw.” Memikir begitu, ia lantas saja berkata, “Peh bie kauwsedang menghadapi musuh, dan aku harus segera kembali. Kau saja yang pergi mencari Wie It Siauw. Manusia itu sangat lihai dan jahat. Kalau bertemu, kau mesti turun tangan lebih dulu.”

“Kepandaianku sangat cetek, bagaimana aku bisa melawan dia?” kata Boe Kie “Musuh dari manakah yang menyerang pihakmu?”

Sesaat itu terdengar suara terompet keong.

“Benar-benar Ang soei, Liat Hwee dan Houw touw yang menyerang.” Kata In Ya Ong.

“Kalian semua adalah dari satu golongan Mo kauw, tapi mengapa kalian saling bunuh?” tanya Boe Kie.

Paras muka In Ya Ong berubah, “Tahu apa kau!” bentaknya seraya memutar tubuh dan lalu berlari lari ke arah datangnya suara terompet.

Sesudah berada sendirian, Boe Kie segera teringat keselamatan Coe Jie. “Kalau lehernya digigit dan darahnya dihisap, dia tentu lantas mati” pikirnya. Mengingat begitu, ia bingung dan segera mengerahkan Lweekang, ia mengkejar pula.

Untung juga, walaupun Wie It Siauw memiliki ilmu ringan badan yang sangat tinggi, tapi sebab mendukung orang, ia tidak bisa menghilangkan tapak kakinya di atas pasir. Dengan demikian, walaupun manusianya sudah tidak kelihatan, Boe Kie masih dapat mengikutinya. Ia mengambil keputusan untuk mengjar terus tanpa mengaso dan ia percaya dalam beberapa hari ia akan dapat menyusulnya.

Tapi mengkejar orang berhari-hari dibawah teriknya matahari bukan pekerjaan mudah. Sesudah mengejar samapi magrib, mulutnya kering dan keringat membasahi pakaiannya. Tapi sungguh heran, ia bukan saja tidak merasa lelah bahkan kekuatan kakinya tidak berubah. Tenaga Kioe Yang Sin Kang yang telah dilatihnya selama beberapa tahun, sekarang memperlihatkan manfaatnya yang tiada batasnya. Makin banyak tenaga digunakan semangatnya makin berkobar-kobar. Kalau haus, ia hanya meminum air dari kobakan yang terdapat di pinggir jalan dan sesudah minum ia mengejar lagi.

Waktu mengkejar sampai tengah malam, dengan hati berdebar2 ia mengawasi rembulan. Ia sangat berkuatir. Ia kuatir Coe Jie keburu dibinasakan.

Sekonyong-konyong ia mendengar suara tindakan di belakangnya, tapi waktu menengok, tak terlihat siapapun jua. Ia lari terus. Sesaat kemudian suara tindakan terdengar pula. Ia heran bukan main dan segera memutar tubuh. Tapi ia tetap tidak melihat bayangan manusia. Dengan matanya yang sangat tajam, ia mengawasi pasir. Di atas pasir terdapat tiga renteng tapak kaki, yang satu tapak Wie It Siauw, yang lain tapak kakinya sendiri, sedang yang ketiga tapak orang itu. Tapi siapakah dia? Ia memutar badan dan mengawasi ke sebelah depan. Did epan hanya terdapat serentetan tapak yaitu tapak kaki Wie It Siauw. Dengan lain perkataan, orang itu hanya mengikuti dari belakang. Siapa dia? Apa siluman? Apa dia seorang berilmu yang bisa menghilang?

Dengan rasa heran dan sangsi, ia mengkejar lagi. Lagi lagi di sebelah belakang terdengar suara tindakan!

“Siapa?” teriak Boe Kie.

“Siapa?” kata orang di belakangnya.

Boe Kie terkesiap. “Apa kau manusia atau setan?” tanya pemuda itu.

“Apa kau manusia atau setan?” mengulangi suara itu.

Bagaikan kilat Boe Kie memutar badan. Kali ini ia melihat berkelebatnya bayangan manusia. Sekarang ia tahu, bahwa seseorang yang gerakannya cepat luar biasa sedang mempermainkan dirinya.

“Perlu apa kau mengikuti aku?” teriaknya.

“Perlu apa kau mengikuti aku?” tanya orang itu.

Boe Kie tertawa. “Bagaimana kutahu,” katanya. “Aku justru mau menanya kau,”

“Bagaimana kutahu” Aku justru mau menanya kau,” mengulangi orang itu.

Boe Kie tahu orang itu tidak mengandung maksud jahat. Kalau mau dengan mudah dia bisa mengambil jiwanya. “Siapa namamu?” tanyanya pula.

“Tak bisa diberitahukan,” jawabnya.

“Mengapa tidak bisa diberitahukan?” mendesak pemuda itu.

“Tidak bisa diberitahukan, tidak bisa diberitahukan.” Jawabnya.

“Keterangan apa lagi yang bisa diberikan kepadamu”

“Eh siapa namamu?”

“Aku…aku Can A Goe,” jawab Boe Kie.

“Dusta!” bentak orang itu. “Dusta ya dusta” terusnya. “Eh sekarang aku yang mau menanya kau. Perlu apa kau berlari-lari seperti orang edan di tengah malam buta?”

Boe Kie mengerti, bahwa ia sedang manghadapi sesorang yang memiliki kepandaian sangat tinggi. Maka itu, ia lantas saja menjawab. “Salah seorang sahabatku telah ditawan oleh Ceng ek Hok ong dan aku mau coba menolongnya”

“Kau takkan mampu menolong sahabatmu” kata orang itu.

“Mengapa?” tanya Boe Kie.

“Ilmu silat Ceng ek Hok ong banyak lebih tinggi daripada kepandaianmu. Kau takkan dapat menandinginya”

“Biarpun kalah aku mesti tetap melawan dia”.

“Bagus! Semangatmu harus dipuji. Sahabatmu seorang wanita, bukan?”

“Benar. Bagaimana kau tahu?”

“Kalau bukan wanita, tak mungkin seorang pemuda rela mengorbankan jiwa untuk menolongnya. Apa dia cantik?”

“Sangat jelek.”

“Kau sendiri? Apa mukamu bagus?”

“Mari. Datanglah di hadapanku. Kau bisa lihat sendiri”

“Tak perlu kulihat mukamu. Apa nona itu mengerti ilmu silat.”

“Cukup pandai. Dia adalah putrinya In Ya Ong Cianpwee dari Peh Bie Kauw. Dia pernah berguru pada Kim Hoa popo dari Leng coa to.”

“Tak guna kau mengkejar. Wie It Siauw pasti tak akan melepaskan dia.”

“Mengapa?”

Orang itu mengeluarkan suara di hidung. “Kau sungguh tolol,” katanya. “Pernah apa In Ya Ong kepada In Thian Ceng?”

“Mereka adalah Ayah dan anak.”

“Antara Peh bie Eng ong dan Ceng ek Hok ong, siapa yang lebih tinggi ilmu silatnya?”

“Tak tahu. Bagaimana pendapat Cianpwee.”

“Akupun tak tahu. Antara mereka berdua pengaruh siapakah yang lebih besar?”

“Eng ong adalah Kauwcoe dari Peh bie kauw. Kurasa ia lebih berpengaruh.”

“Benar. Itulah sebabnya, mengapa Wie It Siauw sudah menawan cucu perempuannya In Thian Ceng. Ia ingin menggunakan nona itu sebagai semacam barang tanggungan untuk mendesak In Thian Ceng guna kepentingannya sendiri. Itulah sebabnya, mengapa menurut pendapatku Wie It Siauw tak akan melepaskan tawanannya.”

“Boe Kie menggeleng-gelengkan kepalanya. “Maksud itu tak akan tercapai.” Katanya. “Ian Ya Ong Cianpwee ingin sekali mebunuh putrinya itu.”

“Apa?” menegas orang itu dengan suara heran.

Boe Kie lantas saja menceritakan riwayatnya Coe Jie, cara bagaimana nona itu telah meracuni ibu tirinya, sehingga belakangan ibu kandungnya sendiri turut binasa.

“Tak dinyana! Tak dinyana! Sungguh-sungguh bakat yang baik!” memuji orang itu.

“Mengapa bakat yang baik?” tanya Boe Kie.

“Dia masih begitu muda, tapi dia sudah bisa meracuni ibu tirinya dan ibu kandungnya sendiri sampai turut binasa,”jawabnya “Di samping itu dia telah mendapat pelajaran dari Kim hoa popo. Aku sungguh menyayang nona yang jempolan itu. Sekarang kutahu, Wie It Siauw mau mengambilnya sebagai murid.”

Boe Kie kaget. “Bagaimana kau tahu?” tanyanya.

“Wie It Siauw adalah sahabatku,” jawabnya. “Aku mengenal adatnya”

Pemuda itu terkesinap. “Celaka!” teriaknya dan lari sekeras-kerasnya.

Orang itu tertawa dan mengikuti dari belakang.

Sambil berlari-lari Boe Kie bertanya. “Mengapa kau terus menguntit aku?”

“Aku ingin menonton keramaian,” jawabnya “Perlu apa kau mengkejar Wie It Siauw?”

“Coe Jie sudah berhawa sesat, aku tak akan mengijinkan dia berguru kepada Wie It Siauw.” Jawabnya dengan suara gusar. “Celaka sungguh kalau dia menjadi siluman yang menghisap darah manusia!”

“Apa kau menyukai dia?”

“Tidak…Hanya…hanya dia mirip dengan ibuku.”

“Kalau begitu, ibumu seorang wanita yang bermuka jelek.”

“Jangan ngaco! Ibuku sangat cantik.”

Orang itu tertawa. Sesaat kemudian, ia berkata sambil menghela nafas. “Sayang! Sayang sungguh!”

“Sayang apa?”

“Semangatmu cukup baik, nyalimu cukup besar. Hanya sayang, dalam sekejap kau akan menjadi mayat yang tidak ada darahnya lagi.”

Boe Kie kaget. Di dalam hati, ia membenarkan apa yang dikatakan orang itu. Andaikata Wie It Siauw dapat disusul, ia tetap tak akan dapat menolong Coe Jie. Bukan saja begitu, ia malah akan membuang jiwa secara cuma-cuma. Maka ia lantas memohon. “Cianpwee apa bisa kau bantu aku?”

“Tak bisa,” jawabnya. “Pertama, Wie It Siauw adalah sahabatku dan kedua, belum tentu aku bisa menandingi dia.”

“Wie It Siauw adalah manusia siluman yang suka menghisap darah manusia,” kata Boe Kie. “Kalau dia sahabatmu, mengapa kau tidak coba membujuknya, supaya dia tidak melakukan perbuatan yang terkutuk itu?”

Orang itu menghela nafas. “Tak guna aku membujuk dia,” katanya dengan suara duka. “Dia bukan kepingin menghisap darah secara suka-suka. Dia berbuat itu karena terpaksa. Kutahu, ia sendiri sangat menderita.”

“Karena terpaksa?” menegas Boe Kie dengan heran. “Apa ia?”

“Dahulu waktu berlatih Lweekang, ia telah berbuat kesalahan besar,” menerangkan orang. “Belakangan, setiap kali menggunakan Lweekang ia harus minum darah manusia, sebab, jika tidak, sekujur badannya kedinginan dan jika tidak tertolong, ia akan mati beku.”

Boe Kie berpikir sejenak dan kemudian berkata “Bukankah penyakit itu sudah terjadi karena ketidakberesan pada pembuluh darah Sam-in?”

“Ih! Bagaimana kau tahu?” tanya orang itu dengan heran.

“Aku hanya menebak-nebak,” jawabnya.

“Tiga kali aku mendaki gunung Tiang pek san untuk menangkap kodok api guna mengobati penyakitnya,” kata orang itu. Ia menghela nafas dan berkata pula. “Ketiga-tiga kalinya tidak berhasil. Dalam usaha yang pertama, aku bertemu seekor kodok api, tapi tidak berhasil menangkapnya. Dalam usaha yang kedua dan ketiga, kodok itu tidak terlihat bayangannya. Sesudah kesulitan yang serasa dapat diatasi, aku ingin pergi ke Tiang pek san lagi.”

“Apa boleh aku mengikuti?” tanya Boe Kie.

“Hm…Lwekangmu sudah boleh juga, tapi ilmu ringan badan masih belum cukup,” jawabnya “Nanti saja, kalau waktunya tiba, kita bicara lagi. Eh! Perlu apa kau mau membantuku?”

“Kalau berhasil, kita bukan saja akan bisa menolong Wie It Siauw, tapi juga bisa membantu lain-lain orang yang dihinggapi penyakit yang sama.” Jawabnya. “Cianpwee, dia sudah pergi begitu lama dan sudah menggunakan banyak tenaga dalam. Apakah mungkin, sebab terpaksa, ia menghisap darah Coe Jie?”

“Mungkin…memang sangat mungkin,” jawabnya.

Boe Kie sangat kuatir dan ia lari makin keras. Tiba-tiba orang itu berteriak. “Hei! Coba lihat, ada apa di belakangmu?”

Pemuda itu menengok ke belakang. Mendadak matanya gelap dan tubuhnya terangkat dari bumi. Ia merasa badannya masuk ke dalam karung yang kemudian diangkat dan digendong di punggung orang itu. Dengan hati mendongkol ia mencoba merobeknya. Ia kaget sebab tak berhasil. Karung itu terbuat dari semacam kain yang alot dan kuat luar biasa.

“Plak!” orang itu memukul pantat Boe Kie. Ia tertawa lantas berkata. “Bocah, jangan kau banyak lagak dalam karungku. Ku akan bawa kau ke suatu tempat yang menyenangkan. Kalau kau bersuara dan diketahui oleh lain orang, aku takkan bisa menolong jiwamu lagi”.

“Kemana kau akan membawaku?” tanya Boe Kie.

Orang itu tertawa. “Setelah kau masuk ke dalam karung Kian koen tay apa kau rasa bisa lari jika aku benar-benar maui jiwamu?” tanyanya. “Asal kau dengar kata, tidak bergerak dan tidak bersuara, kau akan mendapat keuntungan”.

Boe Kie merasa, bahwa orang itu bicara sebenarnya dan tidak bergerak lagi.

Sekonyong-konyong orang itu melontarkan karungnya di tanah dan tertawa terbahak-bahak.

“Bocah! Kalau kau bisa keluar, kau benar-benar lihai,” katanya.

Pemuda itu segera mengerahkan Lweekang dan kedua tangannya mendorong ke depan sekeras-kerasnya. Tapi karung itu alot dan tetap utuh. Ia menendang dan memukul kalang kabutan. Karung itu tetap tak bergeming.

Selang beberapa lama. Orang itu tertawa dan bertanya “Kau menyerah?”

“Menyerah.” Jawabnya.

“Bahwa kau bisa masuk ke dalam karungku adalah rejekimu yang besar,” kata orang itu seraya mengangkat tangannya, menggendong di punggung dan lalu berlari-lari.

“Bagaimana dengan Coe Jie?” tanya Boe Kie.

“Mana aku tahu?” jawabnya. “Bila rewel aku akan melemparkan kau keluar dari karungku”.

Boe Kie ingin sekali orang itu membuktikan ancamannya, tapi ia tak berani membuka mulut lagi.

Orang itu berlari-lari dengan kecepatan luar biasa. Selang beberapa jam, pemuda itu merasakan hawa yang hangat. Ia tahu matahari sudah keluar. Ia juga dapat merasakan, bahwa ia sedang dibawa ke atas gunung. Sesudah lewat kira-kira 2 jam lagi, hawa udara berubah dingin.

“Hm…Sudah tiba di puncak yang tertutup salju,” pikirnya. Mendadak, ia merasa kurang begitu mengapung ke atas dan tubuhnya seolah-olah terbang di angkasa. Ia terkesiap dan berteriak.

Di lain detik, orang itu sudah hinggap di tanah. Ia mengetahui, bahwa orang itu sedang melalui puncak yang berbahaya dan harus melompat kian kemari. Sekali meleset, habislah! Baru saja memikir begitu, karung sudah mengapung lagi keatas.

Ia memeramkan matanya dan menyerahkan segala apa kepada nasib.

Tiba-tiba di sebelah kejauhan terdengar teriakan orang. “Swee Poet Tek! Hey! Mengapa kau baru datang?”

“Di tengah jalan aku menemui sedikit urusan” jawab orang yang menggendong Boe Kie. “apa Wie It Siauw sudah datang?”

“Belum” jawab suara yang jauh itu. “Heran sungguh. Swee Poet Tek, apa kau bertemu dengan dia?” seraya menjawab orang itu datang.

Boe Kie tersadar. Sekarang ia tahu, orang itu bernama “Swee Poet Tek. “Tak heran, pada waktu ia menanyakan namanya, orang itu menjawab “Swee Poet Tek,” yang berarti “Tidak dapat diberitahukan”. Mengapa namanya begitu aneh”

“Tian koan Soeheng,” kata Swee Poet Tek.

“Mari kita cari saudara Wie. Kukuatir terjadi sesuatu yang hebat?” kata Tiat koan Toojin, “Ceng ek Hok ong seorang pintar dan berkepandaian tinggi,”

“Tapi aku tetap merasa tak enak” kata Poet Tek.

Sekonyong-konyong dari sebuah lembah di bawah puncak terdengar teriakan “Hweesio bau Swee Poet Tek! Tua bangka Tiat koan! Lekas kemari! Bantulah aku. Aduh celaka benar!”

“Cioe Tian!” teriak kedua orang itu, hampir berbareng.

“Dia seperti mendapat luka,” kata Swee Poet Tek. “Mengapa suaranya begitu lemah?” tanpa menunggu jawaban, ia segera melompat lompat ke bawah sambil menggendong karung.

“Ah!” Kata Tiat koan yang mengikuti di belakang, “Lihat! Siapa yang digendong Cioe Tian? Apa Wie It Siauw?”

“Cioe Tian jangan bingung!” teriak Swee Poet Tek. “Kami akan membantu kau”

Cioe Tian tertawa, “Kurang ajar,” bentaknya. “Bingung apa? Yang hampir mampus ialah si kelelawar penghisap darah!”

“Saudara Wie?” menegas Swee Poet Tek dengan kaget. “Mengapa dia?” Seraya bertanya, ia mempercepat tindakannya.

Boe Kie merasa dirinya seperti terbang ke angkasa jadi ketakutan dan berbisik. “Cianpwee lepaskan aku untuk sementara waktu. Yang penting adalah menolong orang.”

Swee Poet Tek tak menyambut. Tiba-tiba ia mengikat karungnya yang lalu diputar-putar beberapa kali.

Bukan main kagetnya Boe Kie. Kalau terlepas, jiwanya bisa melayang. “Bocah! Aku bicara terang-terangan kepadamu. Aku adalah Poet thay Hweesio Swee Poet Tek. Yang di belakangku Tiat Koan Toojin Thio Thiong. Orang yang berada di lembah itu bernama Cioe Tian. Kami bertiga dengan Leng bian Sianseng Leng Kiam dan Pheng Eng Giok Pheng Hweesio dikenal sebagai Bgo sian jin dari Mo Kouw. Apa kau tahu apa yang dinamakan Mo Kauw?”

“Tahu.” Jawabnya “Kalau begitu taysoe adalah anggota Mo kauw.”

“Aku dan Cioe Tian tidak suka membunuh orang.” Kata pula Swee Poet Tek. “Tapi Tit koan Toojin, Leng bian Sianseng dan Pheng Hweesio bisa mebunuh manusia tanpa berkedip. Kalau mereka tahu kau berada dalam karungku, sekali hajar saja, tubuh bisa hancur luluh,”

Kata Boe Kie. “Aku tak berdosa, mengapa?”

“Apa kau anggap Tiat koat Toojin membunuh orang dengan lebih dulu menanyakan kedosaannya?” memutus Swee Poet Tek. “Aah! Kalau kau masih ingin hidup, mulai dari sekarang tak dapat kau mengeluarkan sepatah katapun. Mengerti?”

Di dalam karung, Boe Kie manggut-manggutkan kepala.

“Eh! Mangapa kau tak menjawab?” tanya Swee Poet Tek.

“Bukankah kau melarang aku bicara?” Boe Kie balas menannya.

Swee Poet Tek tersenyum. “Bagus kalau kau tahu.” Katanya. “Hei! Bagaimana keadaan Wie?” perkataan yang belakangan itu ditujukan kepada Cioe Tian.

“Dia…dia…Celaka besar!…Celaka besar!” jawab Cioe Tian dengan suara terputus-putus.

“Hm? Saudara Wie masih bernafas, yang menolongnya?”

Sebelum Cioe Tian keburu menjawab, Tiat Koan Toojin mendahului “Cioe Tian, apa kau luka” Mengapa mukamu pucat?”

“Tadi aku ketemu si kelelawar yang menggeletak seperti mayat, nafasnya sudah hampir putus, menerangkan Cioe Tian. “Aku segera mengerahkan Lweekang untuk menolongnya. Di luar dugaan, racun dingun dalam tubuh si kelelawar benar-benar lihay. Begitulah duduk persoalannnya.”

“Cioe Tian kali ini kau telah melakukan auatu perbuatan mulia,” kata Swee Poet Tek.

Cioe Tian mengeluarkan suara di hidung. “Peduli apa mulia, atau jahat,” katanya “Si kelelawar sangat beracun dan aneh dari biasanya. Aku sangat membenci dia. Tapi kali ini dia melakukan perbuatan yang cocok dengan hatiku. Maka itu, aku coba menolongnya. Aku tak nyana, bukan saja aku tak berhasil, malah racun itu berbalik masuk ke dalam badanku. Celaka sungguh! Mungkin sekali jiwaku akan turut melayang.” Ia berdiam sejenak dan berkata pula. “Pembalasan!…Ini namanya pembalasan? Si kelelawar dan Cioe Tian seumur hidup belum pernah melakukan perbuatan baik. Sekali berbuat baik, bencana datang.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: