Kumpulan Cerita Silat

15/08/2008

Kisah Membunuh Naga (35)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:57 am

Kisah Membunuh Naga (35)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Budi Wibowo Indra dan Yin)

Boe Kie kaget tak kepalang. Baru sekarang ia tahu, bahwa Coe Jie adalah A-Iee yang pernah mencekal lengannya dalam pertemuan di Ouwtiap kok. Baru sekarang ia tahu bahwa kecintaan yang tidak dapat dilupakan oleh si nona adalah dirinya sendiri. Ia mengawasi muka Coe Jie. Pada roman yang jelek itu sudah tak ada bekas-bekas dari kecantikan yang dulu. Tapi waktu melihat sinar mata si nona, lapat-lapat ia ingat sinar mata A-Iee.

“Kalau begitu dia murid Kim hoa Popo”, kata Biat coat Soethay dengan suara dingin. “Kim hoa Popo pun bukan seorang dari partai lurus bersih. Tapi sekarang kita tak boleh menanam terlalu banyak permusuhan dan untuk sementara waktu, kita tahan saja padanya.

“Nona,” kata Lie Heng. “Terhadap keponakanku, kau ternyata mempunyai maksud baik. Hanya sayang dia tipis rejeki. Beberapa hari berselang, aku telah bertemu dengan Sianseng Ho Thay Ciong, Ciang boen jin dari Koen loen pay. Dari orang tua itu, aku mendapat tahu, bahwa pada empat tahun berselang, karena terpeleset Boe Kie telah jatuh ke jurang yang dalamnya berlaksa tombak. Hai”! Kecintaan antara aku dan mendiang ayahnya bagaikan kecintaan antara tangan dan kaki. Di luar dugaan, langit tidak melindungi orang yang baik?”

“Bruuk!” Coe Jie jatuh terjengkang.

Buru-buru Coe Cie Jiak membangunkannya dan sesudah mengurut dadanya beberapa saat, barulah si nona tersadar.

Bukan main sedihnya Boe Kie. In Lie Heng dan Cioe Jie sudah begitu berduka karena mencintainya, tapi ia sendiri harus berlaku begitu tega dan tidak mau memperkenalkan dirinya. Pada saat itu, tiba-tiba beberapa tetes air mata jatuh di belakang tangannya. Ia mengangkat kepala dan mendapat kenyataan, bahwa orang yang menangis adalah Cioe Cie Jiak. Dengan hati tersayat, ia ingat kejadian di tengah sungai Han-soei. “Dia rupanya belum melupakan pertemuan di sungai itu,” katanya di dalam hati.

Sementara itu sambil menggertak gigi Cioe Jie bertanya, “In Liok-hiap, apakah Boe Kie dicelakai oleh Ho Thay Ciong?”

“Bukan,” jawabnya. “Sepanjang keterangan Boe Liat dari Coe-boe Lian hoan-chung telah menyaksikan dengan mata sendiri terpelesetnya dan jatuhnya keponakanku. Coe Tiang Leng, seorang ternama dalam rimba persilatan, juga turut mati bersama-sama.”

Si nona menghela napas lalu berduduk.

“Nona, bolehkan aku mendapat tahu she dan namamu yang mulia?” tanya Boe-tong Liok Hiap.

Coe Jie menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba ia membanting diri di pasir dan menangis menggerung-gerung.

“Nona, tak usah kau begitu bersedih,” membujuk Lie Heng. “Andaikata keponakanku tidak mati di dalam jurang, ia juga tidak bisa terlolos dari kebinasaan karena racun dingin itu. Hai mati jatuh dengan badan remuk memang lebih baik daripada mati disiksa racun.”

“Lebih cepat anak itu mati memang lebih baik,” celah Biat-coat. “Kalau dia hidup terus, ia tak bisa menjadi lain daripada bibit penyakit.”

“Bangsat tua! Jangan kau bicara sembarangan!” bentak Coe Jie.

Mendengar guru mereka dicaci, murid-murid Go-bie tentu saja merasa gusar dan empat lima orang sudah segera menghunus pedang. Tapi tanpa menghiraukan ancaman itu, Coe Jie terus mencaci. “Bangsat tua! Ayah Boe Kie adalah soeheng dari In Liok hiap. Apakah ayahnya tidak cukup baik?”

Biat coat tidak menjawab, ia hanya tersenyum dingin.

“Ayahnya memang juga seorang dari partai yang lurus bersih,” kata Ceng hie. “Tapi bagaimana dengan ibunya? Turunan perempuan siluman dari Mo kauw memang tidak bisa menjadi lain daripada bibit penyakit.”

“Perempuan siluman dari Mo kauw?” menegas Coe Jie. “Siapa ibunya Boe Kie?”

Murid-murid Go bie tertawa geli.

Boe Kie merasa dadanya mau meledak. Kalau tekadnya untuk menyembunyikan diri kurang kuat, ia tentu sudah melompat dan mencaci orang-orang itu yang menghina mendiang ibunya. Selebar mukanya merah padam, air matanya berlinang-linang, tapi dengan sekuat tenaga ia mempertahankan diri.

Sebagai manusia yang tidak kejam, mendengar pertanyaan Coe Jie, dengan suara perlahan Ceng hie menjawab, “Isteri Thio Ngohiap adalah anaknya In Thian Ceng dari Peh bie kauw. Dia bernama In So So?”

“Ah!” teriak Coe Jie. Wajahnya lantas saja berubah pucat.

“Sebab menikah dengan perempuan siluman itu, nama Thio Ngohiap menjadi hancur, hingga pada akhirnya ia membunuh diri di Boe tong san,” menerangkan Ceng hie. “Kejadian itu diketahui oleh orang sedunia. Apakah nona tak tahu?”

“Tidak?” jawabnya dengan mata membelalak. “Aku berdiam di Leng coa to, ku tak tahu kejadian dalam rimba persilatan di wilayah Tiong goan. Tapi, di manakah adanya In So So sekarang?”

“Dia membunuh diri bersama-sama Thio Ngohiap.” jawabnya.

Coe Jie melompat bagaikan dipagut ular. “Jadi dia…dia sudah mati?” teriaknya.

“Kau mengenal In So So?” tanya Ceng hie dengan suara heran.

Sesaat itu, di sebelah timur laut sekonyong-konyong terlihat sinar api yang berwarna biru.

“Celaka!” seru In Lie Heng. “Keponakan Ceng Soe dikepung musuh.” Ia memutar badan dan memberi hormat kepada Biat coat dan yang lain lain, dan kemudian dengan tergesa-gesa lari ke jurusan sinar api itu.

Dengan sekali mengibas tangan, murid-murid Go bie segera mengikuti dari belakang In Liok hiap.

Waktu sudah datang dekat, mereka mendapat kenyataan bahwa seorang pemuda yang mengenakan pakaian sastrawan sedang dikepung oleh tiga orang. Ketiga orang itu, yang bersenjata golok, memakai tudung dan mengenakan pakaian kacung atau pesuruh. Sesudah menyaksikan beberapa gerakan, murid-murid Go bie merasa heran, sebab biarpun seperti pesuruh, mereka ternyata berkepandaian tinggi, lebih tinggi daripada toojin-toojin yang dirobohkan oleh In Lie Heng. Pemuda itu, yang bersenjata pedang panjang, sudah jatuh dibawah angin, tapi pembelaannya sangat kuat, sehingga sedikitnya untuk sementara ia masih dapat mempertahankan diri.

Tak jauh dari gelanggang pertempuran berdiri 6 orang yang mengenakan jubah panjang warna kuning dengan sulaman obor merah di tangan jubah. Itulah tanda, bahwa mereka anggota Mo kauw.

Melihat kedatangan In Lie Heng dan rombongan Go bie, seorang kate gemuk dari antara keenam penonton itu berteriak, “In Lie Heng tee (persaudaraan), kalian gagal! Larilah! Kami akan melindungi dari belakang.”

“Hau-touw kie (Bendera darah tebal) memang paling sombong!” teriak salah seorang dari ketiga pesuruh itu. “Orang she Gan! Kau saja yang kabur lebih dulu.”

Ceng hie mengeluarkan suara di hidung. “Kebinasaan sudah berada di atas kepalamu, tapi kau masih bertengkar dengan kawan sendiri,” katanya.

“Soecie, siapa mereka?” tanya Coe Cie Jiak.

“Yang mengenakan pakaian pesuruh adalah budak-budaknya In Thian Ceng,” jawabnya. “Mereka bernama In Boe Hok, In Boe Lok dan In Boe Sioe.”

“Budak?” menegas nona Cioe dengan suara heran. “Tapi mengapa…mengapa?”

“Mereka bukan orang biasa, dulunya mereka perampok-perampok besar”, menerangkan sang kakak. “Keenam orang yang mengenakan jubah kuning adalah anggota-anggota Houw touw kie dari Mo kauw. Siluman kate gemuk itu mungkin sekali Gan Hoan, Ciang kie soe dari Houw touw kie. Menurut katanya Soehoe, kelima Ciang kie soe telah kebentrok dengan Kauwcoe Peh bie kauw sebab berebut kedudukan.”

Tiba-tiba terdengar suara “brett!” dan tangan baju pemuda yang terkepung robek karena bacokan In Boe Sioe.

Sambil bersiul nyaring In Lie Heng melompat pedangnya membabat golok In Boe Lok. “Trang!” golok itu melengkung. Dengan kaget In Boe Lok melompat mundur.

Mendadak, bagaikan kilat Coe Jie melompat dan dengan menunjuk tangan kanan, ia menotok punggung In Boe Lok. Hampir berbareng bagaikan kilat pula, ia melompat balik ke tempat semula.

In Boe Lok berkepandaian tinggi. Tapi sebab ia sedang kaget dan juga sebab gerakan si nona cepat luar biasa, maka totokan itu mampir tepat pada sasarannya. Di lain saat, badannya kaku dan mukanya semu hitam.

In Boe Hok dan In Boe Sioe terkesiap. Dengan serentak mereka mendekati Boe Lok. Sekonyong-konyong mereka mengawasi Coe Jie dengan mata membelalak. “Lee siocia!… teriaknya dengan suara tergugu.

“Hm! Kamu masih mengenali aku?” kata si nona.

Semua orang yang menyaksikan itu dengan hati yang berdebar-debar. Mereka menduga bahwa kedua orang itu akan segera menyerang Coe Jie. Tapi diluar sangkaan, tanpa mengeluarkan sepatah kata, mereka segera memondong mayat kawannya dan lari ke jurusan utara. Itulah perubahannya yang sungguh tak dinyana-nyana.

Dengan sekali mengibas, dalam tangan si kate gemuk sudah mencekal sehelai bendera besar yang berwarna kuning. Perbuatan itu diturut oleh kelima kawannya sambil memutar-mutar bendera-bendera itu, perlahan-lahan mereka mundur ke arah utara.

Semua murid Go bie mengawasi dengan perasaan heran. Mendadak dua murid lelaki melompat dan menguber dengan senjata terhunus. Tubuh In Lie Heng berkelebat dan dalam sekejap, ia sudah melewati kedua murid Go bie itu. Dengan sekali mendorong, kedua orang itu terhuyung ke belakang beberapa tindak dan muka mereka lantas saja berubah merah.

“Jiewie soetee, balik!” bentak Ceng hie. “In Liok hiap bermaksud baik, Houw touw kie tidak boleh dikejar.”

“Beberapa hari berselang, bersama Boh Cit tee aku menguber Liat-hwee-kie (Bendera api hebat),” menerangkan Lie Heng. “Hampir-hampir kami celaka. Sebagian rambut dan alis Boh Cit tee terbakar.” Seraya berkata begitu, ia menggulung tangan baju kiri dan pada lengannya terlihat bekas-bekas terbakar. Kedua murid Go-bie itu manggut-manggutkan kepala dengan perasaan jengah.

Sementara itu, sambil menatap wajah Coe Jie dengan sorot mata dingin, Biat coat Soethay bertanya, “Cian-cee Ciat-hoe-cioe, bukan?”

“Belum sempurna,” jawab si nona.

“Mengapa kau membunuh dia?” tanya pula si nenek.

“Bukan urusanmu,” kata si gadis dengan sikap acuh tak acuh. “Aku ingin membunuh, aku lantas membunuh.”

Biat coat menggerakkan tangannya dan hampir berbareng ia sudah menyambut pedang Ceng hie, “Cring!”, Coe Jie melompat ke belakang dengan paras muka pucat. Mengapa? Karena dengan kecepatan luar biasa, dengan Ceng hie, Biat coat membabat telunjuk kanan si nona, gerakannya adalah sedemikian cepat, sehingga tak dapat dilihat nyata oleh siapapun jua.

Di luar dugaan telunjuk si nona tertutup bida jari yang terbuat daripada baja murni dan karena pedang yang digunakan Biat coat bukan Le thian kam, maka senjata itu tidak dapat memutuskannya.

Dengan mendongkol si nenek melontarkan senjata itu kepada Keng hie dan sambil mengeluarkan suara di hidung ia berkata, “Kali ini kau masih mujur, di lain kali janganlah kau jatuh lagi ke dalam tanganku.” Sikap itu adalah sesuai dengan kedudukannya sebagai ciangboenjin dari sebuah partai. Sesudah gagal dalam serangannya terhadap seorang yang tingkatannya lebih rendah, ia sungkan menyerang untuk kedua kalinya.

Mengingat bantuan Coe Jie kepada pihaknya dan kecintaan nona itu kepada Boe Kie, In Lie Heng jadi merasa kasihan dan segera berkata, “Sosiok, dengan tak disengaja anak itu telah mempelajari ilmu yang sesat. Kita harus memberi kesempatan supaya dia belajar pada guru yang lurus bersih.

Hmm”, kurasa ada baiknya jika dia berguru kepada Thie-khim sianseng”. Ia menarik tangan pemuda yang tadi dikepung dan berkata pula, “Ceng Soe, lekaslah memberi hormat kepada Soethay dan para paman.”

Pemuda itu segera maju mendekati dan berlutut di hadapan Biat-coat, tapi pada waktu ia mau menjalankan peradatan besar di hadapan Ceng hie dan yang lain-lain, para murid Go bie itu menolak dan membalas hormat.

Pada waktu itu Thio Sam Hong sudah berusia lebih dari seratus tahun dan jika dihitung-hitung tingkatannya lebih tinggi beberapa tingkat daripada Biat-coat. Karena pernah bertunangan dengan Kie Siauw Hoe, maka kedudukan In Lie Heng jadi lebih rendah setingkat daripada Biat caot. Jika sebagai pendiri Boe-tong-pay, Thio Sam Hong direndengi dengan pendiri Go bie pay, Kwee Siang, maka menurut pantas Biat coat lah yang harus memanggil “Soesiok” kepada In Lie Heng. Tapi sebegitu jauh Boe Tong dan Go bie tidak berani menerima panggilan dengan melihat saja usia masing-masing. Tapi meskipun begitu, murid-murid Go bie tidak berani menerima panggilan “paman” dari sasterawan muda itu.

Sesudah menyaksikan kegagahan pemuda itu sekarang dengan perasaan kagum semua orang mengawasi paras mukanya yang tampan dan angker.

“Ceng Soe adalah putera tunggal dari Toasoeko,” In Liok-hiap memperkenalkan keponakannya.

“Aha!” seru Ceng hie. “Sejak beberapa lama aku memang sudah mendengar nama besarnya Giok bin Beng siang. Dalam kalangan Kangouw semua orang memuji Song Siauw-hiap sebagai seorang ksatria yang mulia hatinya. Aku merasa beruntung, bahwa di hari ini aku bisa bertemu dengannya”.

(Giok bin = muka yang putih seperti batu pualam. Beng siang koen = seorang ksatria yang pandai pada jaman Liat kok).

Semua orang mengawasi pemuda tampan itu, dengan perasaan terlebih kagum. Memang sudah lama mereka mendengar nama cemerlang dari Giok bin Beng Siang Ceng Soe.

Coe Jie yang berdiri di samping Boe Kie tiba-tiba berbisik, “A Goe dia lebih banyak tampan daripada kau”.

“Tentu saja perlu apa dikatakan lagi?” kata Boe Kie.

“A Goe”, kata pula si nona. “Coba kau lihat. Nona Cioe mu sedang memandang kau tak sudah-sudahnya”. Perkataan itu diucapkan sangat perlahan, tapi Cioe Cie Jiak rupanya sudah mendengar, karena ia sudah melengos.

Sementara itu sesudah beromong omong beberapa saat, In Lie Heng berkata, “Soe jie mari kita berangkat.”

“Menurut rencana hari ini, kira-kira tengah hari rombongan Khong tong-pay akan tiba di sekitar tempat ini,” kata Ceng-soe. “Tapi sampai sekarang mereka belum muncul. Aku kuatir terjadi sesuatu yang tidak enak.”

“Ya, akupun merasa kuatir,” kata sang paman. “Kita sekarang sudah berada di daerah musuh.”

“Menurut pendapatku, paling baik kita menuju ke barat bersama-sama rombongan Go bie-pay”, kata pula pemuda itu. Mungkin sekali dalam jarak kira-kira lima belas li kita akan menemui musuh.”

“Mengapa Song Siauw hiap bisa mengatakan begitu?” tanya Ceng hie dengan suara heran.

“Aku hanya menebak-nebak,” jawabnya.

Ceng hie mengetahui, bahwa ayah pemuda itu Song Wan Kiauw, bukan saja tinggi ilmu silatnya, tapi juga paham ilmu Kie boen dan ilmu perang, sehingga sebagai putra seorang berilmu pemuda itupun tentu bukan sembarangan orang. Memikir begitu, ia tidak menanya lagi.

“Baiklah,” kata In Lie Heng. “Memang paling baik jika kita jalan bersama-sama para cianpwee dari Go bie pay.”

Mendengar perkataan In Lie Heng, Biat coat Soethay berkata dalam hatinya. “Sudah kira-kira tigapuluh tahun Thio Sam Hong tidak menghiraukan lagi segala urusan dunia dan pada hakekatnya tugas Ciangboenjin Boe tong pay sudah dipikul seanteronya oleh Song Wan Kiauw. Lihat-lihat gelagatnya, kedudukan Ciangboenjin ketika dari Boe tong pay akan diduduki oleh Song Siauw hiap. Sekarang saja sang paman sudah menuruti kemauan si keponakan!”

Tapi sebenar-benarnya hal itu sudah menjadi sebab In Lie Heng bertabiat halus dan sedapat mungkin sungkan membantah kemauan orang lain.

Demikian kedua murid Boe tong lalu berjalan bersama-sama rombongan Go bie. Sesudah melalui kurang lebih lima belas li, di depan mereka memandang sebuah bukit pasir. Melihat Ceng Soe berlari-lari mendaki bukit itu, Ceng hie segera mengibas tangannya dan dua murid Go bie lantas saja menguber dari belakang, sehingga ketiga orang tiba di atas bukit hampir berbareng. Dan hampir berbareng dia mengeluarkan teriakan kaget, karena di sebelah barat itu kelihatan menggeletak belasan mayat.

Mendengar teriakan mereka, semua orang segera memburu ke atas. Mereka mendapat kenyataan, bahwa semua korban binasa sebab pukulan hebat, ada yang hancur batok kepalanya, ada yang melesak badannya dan sebagainya.

In Lie Heng yang mempunyai paling banyak pengalaman dalam dunia Kang-ouw lantas saja berkata, “Rombongan Po yang-pang dari propinsi Kang-say termusnah seanteronya. Mereka dihancurkan oleh Kie bok kie (Bendera balok besar) dari Mo kauw”.

Biat coat mengerutkan alis, “Mengapa Po yang-pang datang kesini?” tanyanya dengan suara kurang senang. “Apakah diundang oleh partaimu?” Si nenek mendongkol sebab partai lurus bersih biasanya memandang rendah kepada berbagai golongan/perkumpulan (pang hwee) dalam dunia Kang ouw dan ia segan untuk bercampur dengan “pang pang” itu.

“Tidak, kami tak mengundangnya”, jawab Lie Heng. “Tapi Lauw Pang coe dari Po yang-pang telah diakui sebagai murid Khong tong pay. Mereka rupanya ingin membantu rumah perguruan.”

Biat coat mengeluarkan suara di hidung dan tidak mengatakan apa-apa lagi.

Sesudah mayat-mayat dikuburkan, seorang murid lelaki Go bie pay, she Wie, yang merasa kagum akan jitunya tebakan Song Ceng Soe, bertanya, “Saudara Song, apakah kita bakal bertemu dengan musuh?”

Pemuda itu tidak lantas menjawab, sambil mengawasi kuburan-kuburan yang berderet-deret, ia mengasah otak. Sekonyong-konyong, kuburan yang paling barat membuka dan seorang lelaki melompat keluar. Bagaikan kilat dia menawan murid Go bie she Wie itu dan lalu kabur.

Semua orang terkesiap, beberapa murid wanita mengeluarkan teriakan kaget. Di lain detik, Biat coat dan Lie Heng, Song Ceng Soe dan Ceng hie sudah menguber dengan senjata terhunus. Selang beberapa saat, sesudah dapat menetapkan hatinya, barulah murid-murid Go bie mendusin, bahwa orang itu ialah Ceng ek Hok ong. Dengan mengenakan pakaian anggota Po yang-pang dia menambah napas dan berlagak mati. Murid-murid Go bie yang mengubur mayat, yang tidak memeriksa dengan teliti sudah kena dikubur. Setelah menahan korbannya, si Raja kelelawar kabur, tapi dia tak kabur terus seperti orang mengejek dia lari berputaran, membuat sebuah lingkaran.

Waktu baru mengundak, Biat Coat berempat lari dengan berendeng; tapi sesudah melalui terlihatlah tinggi rendah kepandaian mereka, dengan dua orang lebih dulu dan dua orang lebih belakang. Biat Coat dan In Lie Heng di sebelah depan. Ceng Hie dan Ceng Soe mengikuti dari belakang. Tapi sesudah dua putaran, Ceng Soe makin mendekati Biat Coat dan In Lie Heng, sedangkan Ceng hie ketinggalan makin jauh. Dari sini dapatlah dilihat, bahwa pemuda itu benar-benar lihai dan meskipun usianya masih muda, ia sudah memiliki lweekang yang tinggi. Tapi ilmu ringan Ceng ek Hok ong tiada bandingannya dalam rimba persilatan. Biarpun mendukung manusia, ia tetap belum dapat disusul.

Sesudah dua putara, tiba-tiba Ceng Soe berhenti mengundak dan berteriak, “Tio Leng Coe Soe siok, Oey Kio Boe Soe siok, pergilah kedudukan Lee-wie dan memotong larinya musuh! Soen Liang Tin Soesiok, Lie Beng Hee Soesiok, cegatlah musuh dari kedudukan Cina wie!…”

Bagaikan seorang panglima, ia berteriak-teriak memberi perintah kepada belasan murid Go bie untuk mencegat musuh dengan mengambil kedudukan Pat-kwa. Orang-orang Go bie yang kehilangan pimpinan, sudah menuruti semua perintah itu, yang dikeluarkan dengan suara angker.

Karena adanya pencegatan yang sangat rapat itu, Ceng ek Hok ong tidak bisa lari putaran lagi dengan leluasa. Seraya tertawa nyaring ia melemparkan tawanannya ke tengah udara dan kemudian kabur ke tempat lain. Biat coat melompat dan kedua tangannya menyangga tubuh muridnya yang melayang jatuh.

Di lain saat, sayup-sayup terdengar suara si Raja kelelawar, “Hah..hah!… Di antara orang muda banyak yang lihai, dengan mempunyai murid yang lihayiitu, Biat coat Loohie sungguh tidak boleh dibuat permainan.” Dengan berkata begitu, ia memuji kepandaian Song Ceng Soe.

Sementara itu Biat coat berdiri terpaku dengan muka pucat pasi. Sebab murid yang dipeluknya ternyata sudah binasa, dengan luka bekas gigitan di lehernya.

Dengan hati berduka, tanpa mengeluarkan sepatah kata semua orang berdiri di sekitar Biat coat.

Sesudah lewat beberapa lama, In Lie Heng berkata dengan suara perlahan, “Menurut katanya orang, Ceng ek Hok ong selalu menghisap darah manusia. Cerita itu ternyata bukan omongan kosong.”

Biat coat Soethay malu, marah dan sakit hatinya. Semenjak menjadi Ciangboenjin Go bie pay baru kali ini ia mendapat pukulan yang begitu hebat. Dua orang muridnya dengan beruntun telah dibinasakan musuh, tanpa bisa berbuat apapun jua.

Sesudah berdiri bengong beberapa lama, ia mengawasi Ceng Soe dan bertanya, “Bagaimana kau tahu nama murid-muridku itu?”

“Tadi Ceng hie Soesiok telah memperkenalkan mereka kepada teecoe,” jawabnya.

“Hm…mendengar dan tak lupa lagi!” kata si nenek dengan suara perlahan. “Go bie pay mana punya orang sepandai itu?”

Malam itu, waktu mengaso dengan sikap hormat Ceng Soe menghampiri Biat coat dan berkata sambil membungkuk, “Cianpwee, bolehkan boanpwee memohon sesuatu yang tidak pantas?”

“Kalau kau tahu tidak pantas, tak perlu kau membuka mulut,” kata si nenek dengan tawar.

“Ya,” kata pemuda itu sambil bertindak mundur dan kemudian duduk di samping In Lie Heng.

Murid-murid Go bie merasa sangat heran. Mereka tak tahu apa yang mau diminta pemuda itu. Sebagai seorang yang berwatak sangat tidak sabaran, Teng Bin Koen segera mendekati dan bertanya, “Saudara Song, apakah yang mau diminta olehmu?”

“Waktu mengajar ilmu pedang, ayahku pernah mengatakan bahwa pada jaman ini orang paling lihai kiam hoatnya di dalam dunia adalah Soecouw kami, sedang yang kedua ialah Biat coat Cianpwee. Kiamhoat Boe-tong dan Go bie masing-masing mempunyai keunggulan dan kekurangan. Misalnya saja, pukulan Chioe hwie Ngo hian (Tangan menyapu lima kali tetabuhan) dari Boe tong hampir bersamaan dengan Ceng lo Siauw-san (Kudung tipis dan kipas kecil) dari Go bie pay. Tapi jika Chioe hwie Ngo hian dikirim dengan menggunakan tenaga yang besar maka kelincahannnya jadi berkurang dan tidak dapat menyamai Ceng lo Siauw san yang tetap bisa mempertahankan kecepatannya.” Seraya berkata begitu, ia menghunus pedang dan menjalankan kedua jurus itu. Tapi waktu menjalankan Ceng lo Siauw san, gerakannya sangat tidak sempurna.

“Salah,” kata Teng Bin Koen sambil bersenyum dan mengambil pedang yang dicekal pemuda itu. “Pergelangan tanganmu masih sakit dan tidak bisa mengeluarkan banyak tenaga,” katanya. “Tapi kau lihatlah aku memberi contoh.”

Pemuda itu mengawasi dengan penuh perhatian. Sesudah Teng Bin Koen selesai dengan jurus itu, sambil menghela napas ia berkata, “Ayahku sering mengatakan bahwa ia merasa menyesal belum bisa menyaksikan ilmu pedang gurumu. Hari ini boanpwee merasa sangat beruntung bisa mendapat kesempatan untuk menyaksikan pukulan Ceng lo Siauw san dari Teng Soesiok. Sebenarnya boanpwee ingin memohon petunjuk-petunjuk Soethay mengenai beberapa hal dalam kiamhoat. Tapi karena boanpwee bukan murid Go bie, maka tak dapat boanpwee membuka mulut.

Biarpun berada di tempat yang agak jauh, Biat coat sudah mendengar pembicaraan itu. Bahwa ia dianggap sebagai jago pedang nomor dua dalam dunia, sudah menggirangkan hatinya. Pada jaman itu, Thio Sam Hong dipandang sebagai gunung Thay-san atau bintang Pak tauw dalam dunia persilatan dan ia dikagumi oleh semua orang. Biat coat sendiri belum pernah mengandung maksud untuk menandingi guru besar itu, sehingga pendapat kalangan Boe-tong bahwa ia adalah ahli pedang nomor dua sudah sangat memuaskan hatinya. Melihat jurus Ceng lo Siauw san yang barusan dijalankan oleh Teng Bin Koen ia merasa mendongkol sebab jurus itu masih jauh dari sempurna. Masakah Go bie kiam hoat hanya sebegitu?

Maka itu, ia segera menghampiri dan tanpa mengeluarkan sepatah kata ia mengambil pedang yang tengah dicekal Teng Bin Koen. Sesudah mengangkat pedang itu sampai merata dengan hidungnya, tangannya menggetar dan ujung pedang segera mengeluarkan suara “ngung ngung”. Dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan, sembilan kali ia membulang balingkan senjata itu dengan kecepatan luar biasa. Tapi biarpun cepat, gerakan pedang dilihat dengan nyata sekali.

Para murid Go bie mengawasi dengan mata membelalak.

“Sungguh indah”, teriak In Lie Heng.

Song Ceng Soe sendiri memperhatikan setiap gerakan sambil menahan napas. Ia kagum bercampur kaget. Tadi dengan memberi pujian, ia sebenarnya hanya ingin menyenangkan hati si nenek. Tapi di luar dugaannya, niekouw tua itu benar-benar lihai dan ia merasa takluk. Maka itu dengan setulus hati ia segera memohon beberapa petunjuk lain.

Sekarang Biat coat berlaku royal. Semua pertanyaan dijawab dan dijelaskan seterang-terangnya, sedang di mana perlu nenek itu bersilat untuk memberi contoh-contoh. Semua murid Go bie memperhatikan itu tanpa bersikap. Banyak di antaranya, bahkan ada yagn sudah mengikutu sang guru selama belasan tahun belum pernah melihat kiam hoat yang lihay itu dari gurunya.

Coe Jie dan Boe Kie berdiri di luar lingkaran penonton. Tiba-tiba si nona berkata, “A Goe Koko, kalau aku bisa mempunyai ilmu ringan badan setinggi Ceng-ek Hok ong biarpun mati aku merasa rela.”

“Guna apa memiliki ilmu yang sesat?” kata Boe Kie. “Menurut katanya In Liok-hiap, saban kali menggunakan ilmunya, Wie It Siauw harus membunuh manusia. Perlu apa mempunyai ilmu siluman?”

“Dalam pertempuran, manusia saling membunuh, kalau tidak membunuh tentu dibunuh,” kata Coe Jie. “Wie It Siauw lihai dan dia berhasil membunuh murid Go bie. Kalau dia kurang lihai, bukankan dia sendiri yang bakal dibunuh oleh si niekow tua” Dimataku, tak ada perbedaan antara partai lurus bersih dan golongan yang dikatakan sesat.”

Boe Kie tidak mengatakan suatu apa lagi.

Sekonyong-konyong sebatang pedang berkeredepan di angkasa. Pedang itu adalah senjata Song Ceng yang kena dilontarkan oleh Biat coat dengan pukulan Kiauw jiak yoe liong (Gesit bagaikan naga). Semua orang mendongak dan mengawasi senjata itu. Tiba-tiba mata mereka melihat sinar api yang berwarna kuning di sudut timur laut yang jauhnya kira-kira belasan li.

Dalam usaha untuk membasmi Mo-kauw keenam buah partai telah bersepakat untuk menggunakan anak panah api dari enam macam warna sebagai tanda mereka. Anak panah yang bersinar kuning itu adalah tanda Khong tong pay.

“Khong tong pay bertemu dengan musuh,” kata In Lie Heng. “Mari kita membantu.”

Mereka segera memburu ke jurusan itu. Tapi sesudah melalui belasan li, apa yang ditemukan hanyalah pasir kuning.

“Apa Oen Loocianpwee dari Khong tong pay?” teriak In Lie Heng. “Apa Kouw Loocianpwee?” Teriakan itu menempuh jarak yang jauh, tapi tak mendapat jawaban.

Sekonyong-konyong di sebelah barat muncul sinar kuning.

“Ah! Mereka pindah ke barat,” kata Ceng hie. Dengan tergesa-gesa mereka memburu ke jurusan barat.

Tapi sesudah berlari-lari beberapa lama, mereka tetap tidak menemui manusia. Di tempat itu mereka hanya mendapatkan potongan bambu dan kertas yang hancur terbakar, sehingga dapat diambil kesimpulan, bahwa anak panah api itu telah dilepaskan dari tempat tersebut.

Semua orang jadi bingung dan mencoba memecahkan teka-teki itu.

“Cian pwee, kita kena diakali,” tiba-tiba Song Ceng Soe berkata, “Lihatlah! Di atas pasir hanya terdapat tapak kaki seorang manusia. Kalau benar kawan-kawan Khong Tong-pay menemui musuh, yang kita lihat sedikitnya tapak empat atau lima orang.”

Mendadak Song Ceng Soe ingat sesuatu. “Celaka!” ia mengeluh, “Kong tong-pay benar diserang musuh. Ikutilah aku.” Sehabis berkata begitu ia segera berlari-lari ke arah barat daya.

“Bagaimana kau tahu bahwa Khong Tong-pay telah bertemu dengan musuh?” tanya In Lie Heng yang lari bersama dengan keponakannya.

“Anak panah api itu bukan palsu,” jawabnya. “Anak panah api yang digunakan oleh keenam partai hanya dapat dibuat oleh tukang-tukang yang pandai dari Tiong-goan. Anak panah begitu tak bisa dibuat oleh tukang-tukang daerah See hek.”

“Apakah kau ingin mengatakan bahwa seorang murid Kong tong kena tangkap dan anak panah api itu dirampas dari tangannya?” tanya sang paman pula.

“Benar,” jawabnya. “Sementara itu, pihak siluman telah memancing kita ke timur laut dan kemudian ke barat untuk membuat kita lelah. Menurut pendapatku, mereka berkumpul di sebelah barat daya.”

Biat Coat yang berada dalam jarak kita-kira dua langkah dari mereka, dapat menangkap pembicaraan mereka. Ia mengangguk seraya berkata, “Kurasa tebakanmu tidak meleset.”

Kecuali Biat Coat, In Sie Heng, Song Ceng Soe dan beberapa murid yang berkepandaian tinggi, murid-murid Go Bie yang lainnya sudah sangat letih. Setelah melalui sekian li, di atas sebuah bukit pasir yang menghadang di depan tiba-tiba kelihatan seorang yang sedang berdiri dan seorang yang rebah di pasir. Biat Coat mempercepat langkahnya dan setelah dekat, ia mendapati kenyataan bahwa kedua orang itu tidak lain dari Boe Kie dan Coe Jie.

Ternyata dalam keadaan sibuk, orang-orang Go Bie sudah tidak memperhatikan kedua tawanan itu lagi, yang entah bagaimana bisa berada di sebelah depan.

“Mengapa kau berada di sini?” tanya Biat Coat. Di dalam hati ia merasa sangat heran. Apakah kedua setan kecil itu bisa berjalan lebih cepat”

Coe Jie menyengir. “Anak panah api itu terang-terang telah digunakan memancing musuh,” jawabnya. “Kukira, bahwa biarpun orang-orang Go Bie tak sadar, bocah she Song itu pasti akan menebak juga. Aku menduga pada akhirnya kalian semua tentu akan ke sini. A Goe Koko, bukankah benar begitu?”

Boe Kie mengangguk. “Kami sudah berada di sini lama sekali,” katanya sambil tersenyum. “Kalian sangat capai bukan?”

“Setan kecil!” bentak Biat Coat. “Kalau kau sudah menduga begitu mengapa tidak cepat-cepat memberitahukan kepada kami?”

“E eh, mengapa kau marah?” kata si nona. “Mengapa kau tak minta pendapatku? Andaikata aku memberitahukan kepada kau, kau tentu tak akan percaya. Kau tentu lebih suka berlari-lari ke sana-sini.”

Biat Coat gusar, tapi ia tak bisa mengatakan apapun jua dan iapun tak bisa menghajar nona itu tanpa alasan.

Pada saat itulah, di sebelah barat daya seolah-olah terdengar suara bentrokan senjata yang sangat banyak. “Perlu apa kau bergusar terhadapku?” kata Coe Jie. “Kawan-kawanmu sedang menghadapi bahaya.”

Biat Coat dan yang lain tidak lagi memperdulikan Coe Jie yang berlidah tajam dan dengan tergesa-gesa mereka menuju ke arah barat daya.

Makin dekat suara pertempuran jadi makin hebat. Di antara bentrokan senjata terdengar juga teriak dari orang-orang yang terluka. Beberapa saat kemudian mereka terkesiap karena dari jauh mereka melihat suatu pertempuran besar-besaran. Masing-masing pihak mempunyai kekuatan beberapa ratus orang dan mereka sedang bertempur mati-matian.

“Pihak musuh terdiri dari bendera-bendera Swie Kim (Emas murni), Ang Soei (Air besar) dan Lian Hwee,” kata In Lie Heng. “Khong Tong-pay sudah berada di sini. Hwa San-pay dan Koen Loen-pay juga sudah tiba. Tiga bendera melawan tiga partai, Soe Jie mari kita turut menyerbu.” Sambil berkata begitu, ia mengibaskan pedangnya yang mengeluarkan suara mengaung.

“Tunggu dulu,” kata Ceng Soe. “Kita tunggu sampati datangnya para paman dari Go Bie-pay.”

Seumur hidup Boe Kie belum pernah menyaksikan pertempuran yang begitu besar dan begitu hebat. Dengan hati sedih ia mengawasi manusia yang saling membunuh itu. Di dalam hati kecilnya, ia tidak mengharapkan kemenangan pihak manapun juga, karena pihak yang satu adalah partai mendiang ayahnya sedang pihak yang lain adalah golongan mendiang ibunya.

Selagi menunggu murid-murid Go Bie yang ketinggalan di belakang, tiba-tiba Ceng Soe menuding ke arah timur. “Liok siok lihat!” katanya. “Di sebelah sana terdapat sejumlah besar musuh yang sedang menunggu untuk menerjang sewaktu-waktu.”

Boe Kie mengawasi ke arah yang ditunjuk Ceng Soe. Benar saja, pada jarak beberapa puluh tombak dari gelanggang pertempuran, terdapat tiga pasukan berkuda, setiap pasukan terdiri dari seratus orang lebih. Mereka semua berbaris dengan rapi, siap sedia untuk segera menerjang.

Pada saat itu kedua belah pihak tengah berperang dengan kekuatan yang hampir imbang. Kalau ketiga pasukan berkuda itu menyerbu, orang-orang Khong Tong, Hwa San dan Koen Loen pasti akan kewalahan. Tapi mengapa mereka tidak lantas menyerang?

Biat Coat dan Lie Heng heran bercampur kuatir. “Mengapa mereka belum juga bergerak?” tanya si nenek kepada Ceng Soe.

Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Entahlah,” jawabnya. “Aku tak dapat menebak.”

Mendadak Coe Jie tertawa geli. “Mengapa kau tak dapat menebak?” tanyanya, “Bukankah hal itu terang bagaikan siang?”

Paras muka Ceng Soe berubah merah tapi ia membungkam. Biat Coat sebenarnya ingin sekali meminta pendapat Coe Jie tapi ia merasa tak enak untuk membuka mulut.

Tapi In Lie Heng yang sabar dan luas pengalamannya berkata, “Aku mohon petunjuk nona.”

“Ketiga pasukan itu mestinya pasukan Peh Bie-kauw,” terang si nona. “Biarpun Peh Bie-kauw merupakan cabang dari Mo kauw, tapi pihak Peh Bie telah bentrok dengan Ciang Kie Soe dari lima bendera Mo kauw. Maka itu, andaikata kalian dapat membasmi musuh, diam-diam In Thian Ceng pasti akan merasa girang, sebab dengan demikian, ia mempunyai kesempatan untuk menduduki kursi Kauwcoe dari Mo kauw.”

Biat Coat dan Ceng Soe lantas saja tersadar.

“Terima kasih atas petunjuk nona,” kata Boe tong Liok hiap.

Ketika murid-murid Go Bie sudah menyusul dan mereka berdiri di belakang Biat Coat.

“Song Siauw hiap,” kata Ceng hie, “Dalam mengatur barisan, kami tidak menandingi kau. Sekarang kau harus memimpin kami dan kami akan menaati semua perintah. Demi kepentingan bersama, jangan kau berlaku sungkan.”

“Liok siok,” kata pemuda itu tergugu, “Mana siauwtit sanggup menerima kedudukan itu”.”

“Sudahlah!” kata Biat Coat. “Jangan rewel dengan segala adat istiadat kosong.”

Ceng Soe mengangguk dan dengan mata tajam ia memperhatikan jalannya pertempuran. Ketika itu Koen Loen-pay berada di atas angin. Pertempuran antara Hwa San-pay dan Ang Soei-kie kira-kira berimbang, sedang Khong Tong-pay makin lama jadi makin terdesak. Rombongan partai itu sudah terkurung oleh orang-orang Liat Hwee-kie yang mulai membasmi sepuas hati.

“Mari kita terjang Swie kim kie dari tiga arah,” kata Ceng Soe. “Dengan mengepalai beberapa paman, Soethay menyerang dari tenggara. Liok siok menyerbu dari barat, sedangkan Ceng hie Soe siok dan boanpwee sendiri akan menerjang dari barat daya”.”

“Tapi keadaan Koen Loen pay tidak perlu ditolong,” kata Ceng hie heran. “Yang sedang menghadapi bencana adalah Khong Tong-pay.”

“Koen loen-pay sudah berada di atas angin dan jika kita membantu, dalam sekejap kita akan dapat membasmi seluruh Swie Kim-kie,” terang Ceng Soe. “Sesudah Swie kim-kie dikalahkan kedua bendera yang lain pasti akan mundur sendirinya. Sebaliknya, kalau kita menolong Khong Tong, kita harus melakukan pertempuran yang hebat dan lama. Bagaimana kalau dengan kesempatan itu, Peh Bie-kauw menyerbu dan mengurung dari berbagai jurusan?”

“Song siauw hiap benar,” kata Ceng hie yang lantas saja membagi murid-murid Go Bie menjadi tiga rombongan.

Sambil menarik kereta salju Boe Kie, Coe Jie berkata, “Mari kita berangkat sekarang.”

Keberangkatan mereka dilihat Song Ceng Soe yang lantas saja mengejar. Sambil menghadang di tengah jalan dengan melintangkan pedangnya, ia membentak, “Nona, jangan pergi dulu!”

“Mengapa kau mencegat kami?” tanya si nona.

“Asal usulmu sangat mengherankan, kau tak bisa pergi begitu saja,” jawabnya.

“Ada sangkut pautkah asal usulku dengan pribadimu?” tanya Coe Jie dengan suara tawar.

Biat Coat yang ingin menerjang musuh selekas mungkin jadi sangat tidak sabaran dan dengan sekali sekelebat, ia sudah berhadapan dengan Coe Jie. Hampir berbareng ia menotok jalan darah si nona di bagian punggung, pinggang dan betis. Tanpa bisa melawan Coe Jie roboh di pasir.

Sesudah itu, seraya mengibas pedangnya si nenek berteriak, “Hari ini kita membuka larangan membunuh untuk membasmi bersih kawanan siluman!”

Bersama In Lie Heng dan Ceng hie yang masing-masing memimpin rombongan murid Go Bie, ia dalam pertempuran melawan Swie Kim-ke dibawah pimpinan Ho Thay Cong dan Pan Siok Ham, rombongan Koen Loen-pay sudah berada di atas angin. Maka itu penyerbuan Go Bie dan Boe Tong sudah segera menghancurkan garis pembelaan Swie Kim-kie.

Dengan kepandaiannya yang sangat tinggi, Biat Coat mengamuk bagaikan harimau gila. Tak seorangpun dapat melawan dalam tiga jurus. Ia menerjang berputar-putar, pedangnya berkelabat kian kemari dan dalam sekejap, tujuh anggota Mo kauw sudah binasa di bawah pedangnya.

Melihat kehebatan si nenek, Ciang Kie Soe dari Swie Kim-kie Chung Ceng namanya, segera menghampiri sambil memutar toya Long gee pang (toya bergigi serigala). Sekarang barulah Biat Coat tertahan. Sesudah bertanding belasan jurus seraya menggertak gigi, nenek itu segera mencecar musuhnya dengna jurus-jurus Go Bie Kiam hoat yang makin lama jadi makin gencar. Tapi Chung Ceng bukan orang sembarangan. Sedikitnya sementara waktu, ia masih dapat melayani pemimpin Go Bie-pay itu.

Banyak jago yang berkepandaian tinggi, tapi dalam menghadapi In Lie Heng, Ceng Hie, Song Ceng Soe, Ho Thay Ciong dan Pan Siok Hem yang ahli-ahli silat kelas utama, mereka tidak bisa berbuat banyak. Dalam beberapa saat saja, banyak anggota Mo kauw roboh tanpa bernafas.

Melihat kerusakan pada pihaknya bagaikan orang kalap, Chung Ceng mengirim tiga pukulan berantai sehingga mau tak mau Biat Coat terpaksa mundur selangkah. Chung Ceng mendesak dan mengirim pukulan ke-empat ke arah batok kepala si nenek Biat Coat seraya menotok toya musuh dengan jurus Soen-soei Toei couw (dengan mengikuti aliran air, mendorong perahu). Di luar dugaan, pemimpin Swie Kim-kie itu memiliki Lweekang dan Gwakang yang sangat tinggi. Melihat sambaran pedang musuh, sambil membentak keras ia melawan dengan toyanya.

“Prak!” pedang Biat Coat patah jadi tiga potong.

Meskipun kaget, selangkahpun si nenek tidak mundur. Tangan kanannya meraba ke belakang dan menghunus Ie Thian Kiam dan bukan saja membabat putus Long nge pang, tapi juga membabat somplak sebagian batok kepala Chung Ceng, yang segera roboh tanpa bersuara lagi.

Bukan main kagetnya para anggota Swie Kim-kie. Tapi di lain saat, segera bertindak keras, dia mengamuk. Biat Coat dan Ceng Soe semula menduga, bahwa begitu Chung Ceng dapat dirobohkan, pasukan Swie Kim-kie akan lari lintang pukang dan pasukan Ang Soei serta Liat Hwee pun akan mengundurkan diri. Tak disangka, sebaliknya daripada kabur, mereka sekarang berkelahi dengan nekat. Dalam sekejap murid-murid Koen Loen dan Go Bie sudah menjadi korban.

Tiba-tiba terdengar teriakan pasukan Ang Soei-kie, “Chung Kie soe telah berpulang ke alam baka. Swie Kim dan Liat Hwee mundur! Ang Soei-kie melindungi diri dari belakang!”

Hampir berbarengan dengan teriakan itu, pasukan Liat Hwee-kie mulai bergerak mundur ke arah barat, tapi orang-orang Swie Kim-kie masih terus bertempur.

Orang itu berteriak pula, “Ini adalah perintah dari Ang Soei-kie. Para anggota Swie Kim-kie mundurlah! Usaha membalas sakit hati Chung Kie soe dapat dilaksanakan di hari nanti.”

“Saudara-saudara Ang Soei-kie mundurlah!” seorang Swie Kim-kie balas berteriak. “Tolong balas sakit hati kami. Tapi kami ingin hidup dan mati bersama-sama Chung Kie soe.”

Mendadak dari pasukan Ang Soei-kie muncul sehelai bendera hitam dan seseorang berteriak dengan suara lantang, “Saudara-saudara Swie Kim-kie, Ang Soei-kie pasti akan membalas sakit hatimu.”

Waktu itu, sisa pasukan Swie Kim-kie hanya tinggal kira-kira tujuh puluh orang saja. Dengan serentak ia berteriak, “Thung Kie soe terima kasih!”

Bendera-bendera Ang Soei-kie segera bergerak dan pasukan itu mulai mundur ke arah barat, dengan dilindungi oleh kira-kira dua puluh orang yang memegang bumbung yang mengeluarkan cahaya keemasan. Melihat gerakan yang mundur rapi itu, orang-orang Hwa San dan Khong Tong tak berani mengkejar dan mereka lalu bantu mengepung sisa Swie Kim-kie.

Dengan dikurung oleh rombongan lima partai Koen Loen, Go Bie, Boe Tong, Hwa San dan Khong Tong, sisa pasukan itu tinggal menunggu ajalnya saja. Tapi demi persaudaraan, sedikitpun mereka tak gentar. Mereka terus melawan dengan tekad untuk binasa bersama-sama pemimpinnya.

Sesudah merobohkan beberapa musuh, In Lie Heng merasa sangat tidak tega. “Siluman-siluman Swie Kim-kie dengarlah!” teriaknya. “Jalan kamu hanya jalan mati. Lemparkanlah senjatamu! Kami akan mengampuni jiwamu.”

“Ciang kie Hoe soe (wakil pemimpin) Swie Kim-kie tertawa terbahak-bahak. “Ha…ha…ha….Kau terlalu memandang rendah Beng kauw,” katanya. “Sesudah Tong Chung Toako binasa, bagaimana kami bisa hidup terus?”

“Saudara-saudara Koen Loen, Go Bie, Hwa San dan Khong Tong, mundurlah sepuluh langkah!” teriak In Lie Heng lagi. “Berikan kesempatan supaya mereka bisa menyerah.”

Semua orang kecuali Biat Coat, segera saja mengundurkan diri. Si nenek yang sangat benci Mo kauw tidak meladeni dan terus membasmi sepuas hati. Di mana Ie Thian Kiam berkelabat, di situ tentu ada senjata putus atau manusia roboh. Melihat guru mereka menyerang terus, murid-murid Go Bie lantas saja maju kembali, sehingga dalam gelanggang pertempuran terjadi perubahan yaitu Go Bie-pay bertempur sendirian dengan Swie Kim-kie.

Kekuatan Swie Kim-kie masih ada enam puluh orang lebih dan jago-jago yang berkepandaian tinggi, sedikitnya masih ada dua puluh orang lebih, sehingga dengan begitu, di bawah pimpinan Ciang kie Hoe soe, Hoew Kin Coe, jumlah mereka masih lima kali lipat lebih banyak daripada belasan orang Go Bie-pay. Seharusnya dengan lima lawan satu, pihak Swie Kim-kie berada di atas angin. Tapi Biat Coat hebat luar biasa dan Ie Thian Kiam merupakan senjata terhebat pada jaman itu, maka dalam sekejap tujuh delapan anggota Swie Kim-kie sudah roboh lagi tanpa bernyawa.

Boe Kie merasa sangat tidak tega. Sambil berpaling ke Coe Jie, ia berkata, “Ayolah kita pergi.” Ia mengangsurkan tangannya untuk membuka jalan darah si nona yang ditotok Biat Coat. Tapi sesudah menotok beberapa kali, jalan darah Coe Jie masih belum juga terbuka. Ternyata Biat Coat memiliki ilmu Lweekang yang sangat tinggi, maka totokannya masuk sangat dalam sehingga meskipun usaha Boe Kie dilakukan menurut cara yang tepat, jalan darah Coe Jie tak bisa terbuka dengan segera.

Sambil menghela nafas Boe Kie mengawasi jalannya pertempuran. Ketika itu, sisa pasukan Swie Kim-kie yang berjumlah beberapa puluh orang sudah tak bersenjata lagi. Senjata mereka telah diputuskan si nenek. Tapi karena dikurung rapat oleh rombongan partai dan juga mereka tidak berniat untuk melarikan diri, maka dengan tangan kosong mereka meneruskan perlawanan terhadap murid-murid Go Bie.

Sebagai seorang yang berkedudukan sangat tinggi, Biat Coat sungkan menggunakan senjata terhadap musuh yang sudah tak bersenjata. Di lain saat, tubuhnya berkelabat dan jari tangannya menyambar-nyambar dan dalam sekejap lima puluh lebih anggota Swie Kim-kie sudah berdiri tegak seperti patung dengan jalan darah tertotok. Melihat kepandaian si nenek yang luar biasa semua orang bersorak-sorai.

Fajar menyingsing, tiba-tiba di sebelah tenggara dan barat laut terlihat bayangan-bayangan manusia yang bergerak mendekati. Mereka adalah orang-orang Peh Bie kauw. Selagi Go Bie bertempur dengan Swie Kim-kie, dengan rasa kuatir, Song Ceng Soe terus memperhatikan gerak-gerik Peh Bie kauw. Kini mereka mulai mendakati tapi dalam jarak kira-kira dua puluh tombak, mereka berhenti lagi.

“A Goe Koko, kita harus cepat pergi,” kata Coe Jie. “Celaka benar bila kita jatuh ke tangan Peh Bie kauw.”

Tapi, di dalam hati pemuda itu terdapat semacam perasaan yang tak bisa dilukiskan terhadap Peh Bie kauw. Pihak itu adalah pihak mendiang ibunya, tapi ia sendiri belum pernah bertemu dengan orang Peh Bie kauw. Setiap ingat mendiang ibunya, ia selalu berkata di dalam hati, “Aku tak bisa bertemu lagi dengan ibu. Kapankah aku bisa bertemu dengan kakek dan paman?” Dan kini mereka berada begitu dekat dengan dirinya. “Ah, biar bagaimanapun juga aku harus melihat, apakah kakek dan paman berada dalam pasukan itu,” katanya di dalam hati.

Sementara itu Song Ceng Soe mendekati Biat Coat. “Cian pwee,” katanya, “Cepatlah mengambil keputusan terhadap orang-orang Swie Kim-kie supaya kita bisa segera menghadapi Peh Bie kauw.”

Si nenek mengangguk. Waktu itu matahari pagi sudah mulai memancarkan sinarnya yang gilang gemilang. Bayangan Biat Coat yang tinggi besar yang terpeta di pasir kuning kelihatan angker sekali, tapi dalam keangkeran itu terasa sesuatu yang menyedihkan. Dalam kebenciannya terhadap Mo kauw, si nenek ingin sekali meruntuhkan semangat orang-orang itu. Maka itu, ia lantas saja membentak, “Hei, orang-orang Mo kauw! Kamu dengarlah. Siapa yang masih ingin hidup bisa mendapatkan pengampunan asal saja meminta ampun.”

Tapi pengumuman itu dijawab dengan gelak tawa.

“Tertawa apa kamu?” bentak Biat Coat dengan gusar.

“Dengan Chung Toako kami ingin hidup dan mati bersama-sama!” teriak Ciang kie Hoe soe, Gouw Kin Co. “Kau jangan banyak rewel, cepat ambil jiwa kami.”

Si nenek mengeluarkan suara di hidung, “Baikalh,” katanya. “Tapi kau jangan mimpi bahwa kau bisa mampus dengan enak.” Seraya berkata begitu ia membabat putus lengan orang itu.

Gouw Kin Co tertawa terbahak-bahak. “Beng kauw mewakili langit menjalankan keadilan, membereskan dunia menolong rakyat dan kami menganggap bahwa hidup atau mati tiada bedanya,” katanya dengan suara nyaring. “Bangsat tua, jika kau mengharap takluknya kami maka seperti mimpi di siang bolong!”

Biat Coat menjadi makin gusar. Ie Thian Kiam menyambar tiga kali dan tiga orang putus lengannya.
“Bagaimana kau?” tanyanya pada orang yang kelima. “Apa kau mau minta ampun?”

“Tutup mulutmu!” bentak orang itu sambil tertawa.

Kali ini sebelum gurunya bergerak, Ceng hie sudah melompat mendahului dan memutuskan lengan kanan orang itu dengan pedangnya. “Soehoe, biarlah teecoe saja yang menghukum siluman-siluman itu,” katanya. Dengan beruntun ia menanyai beberapa musuh tapi tak satupun yang sudi menyerah. Sesudah membabat putus lengan beberapa orang ia berpaling kepada gurunya seraya berkata, “Soehoe, mereka sangat keras kepala”.” Dengan berkata begitu, ia mengharapkan belas kasihan Biat Coat.

Tapi si nenek tidak memperdulikan suara memohon dari muridnya itu. “Putuskan lengan kanan semua siluman itu!” bentaknya. “Kalau mereka masih belum mengenal takut, putuskan lengan kirinya.”

Ceng hie tak berdaya. Ia kembali mengangkat pedang dan memutuskan pula beberapa lengan.

Sampai disitu Boe Kie tak dapat menahan dirinya lagi. Ia melompat dari kereta salju dan menghadang di depan Ceng hie. “Tahan!” bentaknya.

Semua orang terkejut begitu juga Ceng hie yang langsung mundur selangkah. “Apa kau tak malu sudah menyakiti sesama manusia secara begitu kejam?” teriak Boe Kie dengan suara terengah.

Semua orang kaget tetapi sesudah melihat pakaian Boe Kie yang compang-camping mereka tertawa.

Sesudah tertawa dengan nyaring, Ceng hie berkata, “Semua orang ingin membinasakan kawanan siluman yang sesat. Dalam hal ini tak ada soal kejam atau tidak kejam.”

“Para cian pwee dan toako ini adalah orang-orang yang berkepribadian luhur dan tidak takut mati,” kata Boe Kie. “Sikap mereka sikap ksatria tulen. Bagaimana kau bisa menganggap mereka sebagai kawanan siluman yang sesat?”

“Apa kawanan Mo kauw bukan siluman?” tanya Ceng hie dengan gusar. “Dengan matamu sendiri kau telah menyaksikan bagaimana Ceng-ek Hong-ong membunuh manusia dan menghisap darahnya. Dia sudah membunuh soate dan soemayku. Kalau itu bukan siluman apa yang bisa dinamakan siluman?”

“Ceng-ek Hok-ong hanya membunuh dua orang tapi kamu sudah membinasakan sepuluh kali dua orang,” kata Boe Kie. “Dia menggunakan gigi, gurumu menggunakan Ie Thian Kiam. Dia membunuh, gurumupun membunuh. Apa bedanya?”

Ceng hie emosi, “Bocah!” bentaknya. “Kau berani menyamakan guruku dengan siluman?” Seraya membentak ia memukul Boe Kie dengan telapak tangannya.

Dengan cepat pemuda itu berkelit. Tapi Ceng hie adalah murid kepala Go Bie-pay yang memiliki kepandaian yang tinggi. Pukulan yang ditujukan ke muka Boe Kie hanya pukulan gertakan dan begitu cepat pemuda itu berkelit, kaki kirinya sudah menendang dada.

“Duk” Sesosok tubuh terpental beberapa tombak jauhnya, tapi tubuh itu tubuh Ceng hie yang telah patah tulang betisnya.

Dalam ilmu silat Boe Kie memang kalah jauh dari Ceng hie. Tapi ia memiliki Kioe-yang Sin-kang yang keluar secara wajar, jika ia diserang orang. Makin berat serangan itu makin hebat tenaga menolak dari Kioe-yang Sin-kang.

Untung juga, waktu menendang Ceng hie tidak berniat mengambil jiwa Boe Kie dan hanya menggunakan separuh tenaganya. Maka itu walaupun tulangnya patah ia tidak mendapat luka berat.

Semua orang termasuk Biat Coat, terkesiap. “Siapa dia?” tanya si nenek di dalam hati. “Selama beberapa hari aku tidak memperhatikan dia dan tak disangka dia seorang yang berkepandaian tinggi. Aku sendiripun belum tentu bisa melemparkan Ceng hie dengan cara begitu. Dalam dunia mungkin Thio Sam Hong yang memiliki Lweekang sedemikian dahsyat.”

Biat Coat adalah manusia yang beradat aneh, keras dan kejam. Ia tidak berani memandang rendah kepada Boe Kie, tapi saat itu juga ia segera mengambil keputusan untuk mengadu jiwa dengan pemuda itu. Dengan sorot mata tajam ia mengawasi Boe Kie dari kepala sampai kaki.

Tapi pemuda itu tidak menghiraukan karena ia sedang repot menolong orang Swie Kim-kie. Dengan cepat ia menotok jalan darah mereka dan sesudah ditotok darah yang mengalir keluar dari lengan yang putus segera berkurang. Di antara orang-orang itu terdapat banyak ahli ilmu totok, tapi tak satupun mengenal ilmunya Boe Kie yang lain dari yang lain.

“Terima kasih atas pertolongan Siauw hiap,” kata Gauw Kin Co. “Bolehkah aku mengetahui she dan nama Siauw hiap yang mulia?”

“Aku she can namaku A Goe,” jawabnya.

“Bocah kemari,” bentak Biat Coat dengan suara dingin, “Sambutlah tiga seranganku.”

“Tunggu dulu,” kata Boe Kie seraya membalut luka korban yang terakhir. Sesudah selesai, barulah ia menghampiri si nenak dan berkata seraya merapatkan kedua tangannya, “Biat Coat Soethay, aku bukan tandinganmu. Aku sama sekali tak berniat untuk bertanding sama Loo jinke (panggilan menghormati untuk seorang yang tua). Aku hanya berharap supaya kedua belah pihak menghentikan pertempuran dan mengadakan perdamaian.”

Ia bicara sungguh-sungguh dengan nada memohon. Dalam hatinya ia mencintai kedua belah pihak itu, karena pihak yang satu adalah pihak mendiang ayahnya sedang pihak yang lain adalah golongan mendiang ibunya.

Biat Coat tertawa dingin, “Apakah kami harus menghentikan pertempuran atas perintahmu, bocah bau?” katanya. “Apakah kau seorang Boe-lim Cie-coen?” (Boe-lim Cie-coen adalah seorang yang termulia dalam dunia persilatan)

Boe Kie terkejut, “Apa artinya perkataan Soethay!” tanyanya.

“Andaikan dalam tanganmu memegang golok To Liong To, kau masih harus melawan Ie Thian Kiam-ku untuk menentukan siapa menang siapa kalah,” kata si nenek. “Sesudah kau menjadi Cie-coen dalam dunia persilatan, barulah kau boleh memerintah di kolong langit.”

Mendengar ejekan sang guru semua murid Go Bie tertawa geli.

Boe Kie kaget dan ia segera berpikir, “Apakah tujuan orang-orang dunia persilatan yang mencari ayah angkatku hanyalah untuk merampas To Liong To” Apakah mereka hanya bermaksud untuk menjadi yang termulia dalam dunia persilatan agar bisa memerintah di kolong langit?”

Selagi berpikir begitu, murid-murid Go Bie masih belum berhenti tertawa.

Sebagai seorang muda yang tak mempunyai nama, memang juga tak pantas Boe Kie mengatakan “mengharapkan kedua belah pihak menghentikan pertempuran”. Mendengar suara tawa orang, paras mukanya lantas saja berubah merah.

Ia menengok dan di antara murid-murid Go Bie, ia melihat Cioe Cie Jiak yang tengah mengawasinya dengan sorot mata kagum dan menganjurkan, sehingga semangatnya lantas saja bangkit, “Mengapa kau mau membunuh begitu banyak orang?” katanya.

“Setiap orang mempunyai ayah, ibu, istri dan anak. Jika kau membunuh mereka, anak-anak mereka akan jadi yatim piatu, yang tentu akan dihina orang. Kau adalah seorang pertapa yang menyucikan diri. Dengan melakukan pembunuhan itu, apakah di dalam hati kau bisa merasa tenteram?” Waktu mengatakan kata-kata itu, suaranya bersungguh-sungguh dan mengharukan karena ia ingat akan nasibnya sendiri yang sejak kecil sudah ditinggal oleh orang tua.

Paras muka nona Cioe berubah pucat dan kedua matanya mengambang air.

Tapi muka Biat Coat sekalipun tak berubah. Ia adalah seorang manusia yang tidak pernah atau sedikitpun jarang memperlihatkan perasaan hatinya pada paras mukanya. Waktu ia membuka mulut suaranya tetap dingin bagaikan es. “Bocah, apakah aku masih perlu dinasehati olehmu? Dengan mengandalkan tenaga dalammu yang kuat, kau membacot di sini. Baiklah, jika kau bisa menerima tiga pukulanku aku akan melepaskan manusia-manusia itu.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: