Kumpulan Cerita Silat

14/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 44

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:34 am

Memanah Burung Rajawali – 44
Bab 44. Ilmu yang Sejati dan yang Palsu
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Batang pohon cemara tua dan besar itu bagaikan dilindas balok-balok itu, yang berputar di sekitarnya berputar tak hentinya. Dengan babakan runtuh, batang itu menjadi terlebih licin dan berputarnya balok-balok tak seberat semula.

Auwyang Hong tidak percaya Thian, malaikat atau iblis, tetapi sekarang diam-diam ia memuji supaya mereka diberikan tambahan tenaga, supaya batu raksasa itu dapat terangkat cukup tinggi hingga kedua kaki keponakannya tak tertindih lebih lama lagi. Asal batu itu dapat terangkat, Auwyang Kongcu bisa diangkat untuk disingkirkan.

Tengah mereka mendorong mendadak terdengar satu suara keras dan nyaring, hingga ketiganya kaget dan lompat minggir. Nyata dadung di tengah terputus, maka dengan sendirinya batu besar itu balik pada kedudukannya yang lama. Mereka sendiri, apabila mereka tidak berlompat pasti terkena balok-balok itu.

Auwyang Hong menjadi sangat lesu, air mukanya tak enak dilihat.

Oey Yong pun masgul bukan main. Inilah ia tak sangka.

“Marilah kita membikin lagi dadung yang terlebih kasar,” kata Kwee Ceng kemudian. Ia tidak melihat lain jalan. “Kita memakai dua rangkap.”

Auwyang Hong menggeleng kepala.

“Sulit,” katanya. “Kita bertiga tidak berdaya….”

“Kalau saja ada yang membantui….” Kwee Ceng berkata sambil ngelamun.

Mendengar itu, Oey Yong melengak, lalu mendadak ia berjingkrak seraya menepuk-nepuk tangan.

“Akur! Akur!” serunya. “Ada orang yang membantu….!”

Kwee Ceng heran, ia girang.

“Yong-jie,” katanya, “Benarkah ada orang yang membantui?”

“Ah, sayang engko Auwyang mesti menderita lagi satu hari…” berkata si nona. “Ia mesti menanti sampai besok diwaktu air pasang barulah ia lolos dari penderitaannya ini….”

Auwyang Hong heran begitu pun Kwee Ceng. Keduanya mengawasi nona itu. Mereka berpikir hingga di dalam hatinya mereka menanya: “Mustahilkah besok di waktu air pasang ada orang yang datang membantu?”

Oey Yong tidak memperdulikan mereka itu.

“Setelah bekerja keras seharian, aku lapar!” katanya, tertawa. “Mari kita mencari makanan dulu baru kita bicara pula.”

“Nona,” akhirnya Auwyang Hong menanya, ” Kau bilang besok bakal ada orang datang membantu, apakah artinya pembilanganmu itu?”

“Besok pada waktu begini, batu yang menindih tubuh saudara Auwyang bakal disingkirkan,” menyahut si nona. “Inilah ada rahasia alam, tak dapat aku membocorkannya….”

Melihat orang bicara secara demikian sungguh-sungguh, Auwyang Hong menjadi separuh percaya dan separuh tidak. Pula, ia tidak mempercayai, ia pun tidak mempunyai daya lain. Maka terpaksa ia berdiam saja menemani keponakannya itu.

Oey Yong bersama Kwee Ceng sudah lantas pergi memburu beberapa ekor kelinci, yang seekor mereka matangi, untuk dibagi kepada Auwyang Hong dan keponakannya itu.

Mereka sendiri berdahar bertiga bersama Ang Cit Kong di dalam gua. Sembari berdahar mereka dapat ketika pasang omong tentang segala kejadian sejak mereka berpisahan. Si pemuda girang sekali mendapat penjelasan bahwa Auwyang Kongcu roboh karena jebakan si nona.

Kemudian malam itu ketiganya tidur nyenyak. Mereka percaya Auwyang Hong tidak bakal datang mengganggu sebab See Tok mengharap-harapkan sangat bantuan mereka guna menolongi keponakannya itu. Mereka menyalakan api ungun di mulut gua untuk mencegah masuknya binatang liar.

Besoknya fajar, baru Kwee Ceng membuka matanya, ia dapat melihat satu bayangan orang berkelebat di muka gua. Ketika ia berlompat bangun, ia mendapatkan Auwyang Hong.

“Apakah nona Oey sudah bangun?” menanya Auwyang Hong perlahan.

Oey Yong mendusin, selagi Kwee Ceng berlompat bangun, kapan ia dengar suaranya musuh ia pejamkan pula matanya dan menperdengarkan gerosan napasnya untuk berpura-pura tidur nyenyak.

“Belum,” Kwee Ceng menyahut, perlahan. “Ada apa?”

“Kalau sebentar dia sudah bangun, minta dia datang untuk menolongi orang,” menyahuti See tOk.

“Baik,” menjawab Kwee Ceng.

Dari dalam, Cit Kong menyambar: “Aku telah kasih dia minum arak yang wangi bernama Mabok Seratus Hari di dalam tempo tiga bulan mungkin dia tak akan mendusin…!”

Auwyang Hong melengak justru mana Pak Kay tertawa terbahak-bahak, maka taulah bahwa ia tengah digoda. Ia mendongkol bukan main tetapi ia ngeloyor pergi.

Oey Yong melompat bangun, ia pun tertawa.

“Kalau bukan sekarang kita goda dia, kita hendak tunggu kapan lagi?” katanya.

Dengann ayal-ayalan nona itu menyisir rambutnya dan merapikan pakaiannya, habis mana ia membawa joran untuk pergi memancing ikan, untuk memburu kelinci, yang semuanya dimatangi untuk mereka sarapan pagi.

Selama itu Auwyang Hong telah datang tujuh atau depalan kali, ia bergelisah seperti semut di atas kuali panas.

“Yong-jie,” menanya Kwee Ceng, “Benarkah sebentar diwaktu air pasang bakal datang orang membantui kita?”

“Kau percayakah bakal datang pembantu?” si nona balik menanya, tertawa.

“Aku tidak percaya.” sahut si anak muda.

“Aku juga tidak percaya!” Dan si nona tertawan pula.

Kwee Ceng tercengang.

“Jadinya kau sengaja mempermainkan si tua bangka berbisa itu?”

“Bukan seluruhnya aku mendustai dia,” sahut si nona. “Diwaktu air pasang, aku ada mempunyai daya untuk menolongi keponakannya itu.”

Kwee Ceng tahu kekasihnya cerdik sekali, ia tidak menanya lebih jauh.

Oey Yong lantas ajak pemuda itu pergi ke pinggir laut untuk encari pelbagai macam batok kerang.

Nona Oey tidak mempunyai kawan semenjak kecil, ia biasa main-main seorang diri, sekarang ia mendapat Kwee Ceng sebagai teman, ia gembira bukan main. Begitulah diajakinya pemuda itu berlomba mendapati banyak lokan dan ynag bagus-bagus juga. Dalam tempo yang pendek, mereka mendapatkan banyak, saking gembira, saban-saban terdengar suara tertawa mereka. Sesaat itu mereka seperti lupa bahwa mereka berada di pulau kosong di mana jiwa mereka terancam bahaya maut………

“Eh, engko Ceng, rambutmu kusut, mari aku tolong sisirkan,” kata si nona kemudian.

Kwee Ceng menurut, maka itu mereka duduk berduaan. Dari sakunya, Oey Yong mengeluarkan sisirnya yang terbuat dari batu giok bersalut emas. Ia membuka rambut orang dan menyisirnya dengan perlahan-lahan.

“Bagaimana dayanya untuk mengusir See Tok dan keponakannya itu?” ia bertanya sambil tangannya bekerja. “Kalau mereka itu sudah tidak ada, kita bertiga dapat berdiam dengan aman di sini. Tidakkah itu bagus?”

“Tapi aku memikirkan ibuku serta enam guruku,” menyahut Kwee Ceng.

“Ah, ya, masih ada ayahku juga…” menambah si nona. Ia berhenti sebentar, lalu ia berkata pula: “Entah bagaimana dengan enci Bok sekarang….. Suhu telah menyuruh aku menjadi Pangcu dari Kay Pang, karena itu aku pun jadi memikirkan itu kawanan pengemis………….”

Kwee Ceng tertawa.

“Maka itu aku pikir lebih baik kita pikirkan daya untuk berlalu dari sini….” katanya.

Oey Yong sudah selesai menyisiri, lalu ia mengondekan rambut pemuda itu.

“Yong-jie, kau menyisiri rambutku, kau mirip ibuku,” kata Kwee Ceng.

“Kalau begitu, panggilah aku ibu!” Oey Yong tertawa.

Si anak muda diam saja, lantas si nona mengitik dia.

“Kau memanggil atau tidak?” nona itu pun menanya.

Kwee Ceng kaget kegelian, ia berjingkrak bangun, maka kacaulah pula kondenya.

“Kau tidak mau memanggil, ya sudah saja!” berkata Oey Yong tertawa. “Memang siapa yang sangat menginginkan itu? Kau tahu, di belakang hari tentu bakal ada orang yang memanggil ibu kepadaku. Nah, kau duduklah!”

Kwee Cengb erduduk pula, untuk si nona mengondekan pula rambutnya.

“Engko Ceng,” si nona menanya pula, “Bagaimana tentang melahirkan anak. Tahukah kau?”

“Tahu.”

“Coba bilang.”

“Orang menikah menjadi suami istri, itu artinya mendapat anak.”

“Hal itu pun aku tahu. Hanya bagaimana sebenarnya?”

“Sampai sebegitu jauh, aku tidak tahu. Cobalah kau bilang.”

“Aku juga tidak tahu. Pernah aku tanya ayah, ayah bilang….”

Kwee Ceng hendak menanya jelas ketika mereka mendadak mendengar suara seperti cecer pecah di belakang mereka: “Urusan mendapat anak itu nanti juga kamu mendapat tahu sendiri! Sekarang air pasang mau naik pula!”

Keduanya terkejut. Mereka tidak menyangka Auwyang Hong – orang yang membuka suara nyaring itu – telah tahu-tahu berada di antara mereka. Muka Oey Yong pun menjadi merah. Kwee Ceng menyusul kawannya itu.

Auwyang Kongcu tertindih batu sehari semalam, ia payah bukan main.

“Nona Oey,!” berkata Auwyang Hong, suaranya keren. Ia pun menyusul mereka ini. “Kau yang bilang diwaktu air pasang bakal ada orang datang membantu kita. Urusan ini mengenai jiwa manusia, bukannya urusan main-main!”

“Ayahku pandai ilmu meramalkan, putrinya pasti mengerti juga ilmu itu tiga bagian,” menyahut si nona. “Apakah artinya baru ilmu meramalkan?”

Auwyang Hong memang ketahui baik kepandaiannya Oey Yok Su.

“Jadinya ayahmu yang bakal datang?” dia menegaskan. “Bagus!”

“Hm!” si nona mendengarkan suara tawar. “Untuk urusan remeh ini kenapa aku mesti sampai mengganggu ayahku? Laginya, jikalau ayah dapat melihatmu, mana dia sudi mengasih ampun? Apakah yang kau buat girang?”

Disenggapi begitu, Auwyang Hong bungkam.

“Engko Ceng,” berkata si nona, tanpa menggubris pula See Tok, “Coba kau tolong mencari bongkot pohon, semakin banyak semakin bagus. Pula pilihlah yang besar-besar.”

Si anak muda bersedia untuk bekerja, ia lantas pergi. Oey Yong lantas bekerja, melara dadung dan menyambung yang putus kemarin.

Auwyang Hong tidak dapat berdiri diam saja, ia tanya nona itu apa benar Oey Yok Su bakal datang. Sia-sia belaka ia menanya sampai beberapa kali, Oey Yong ganda ia dengan bernyanyi-nyanyi perlahan, tangannya terus bekerja. Karenanya ia terpaksa ngeloyor pergi, untuk membantui Kwee Ceng mencari balok. Ia dapat melihat Kwee Ceng merobohkan pohon dengan serangan Hang Liong Sip-pat Ciang, dengan dua kali hajaran saja dia dapat mematahkan batang sebesar mangkok.

“Hebat bocah ini,” memikir See Tok. “Dia pun hapal Kiu Im Cin-keng, kalau dia terus dikasih tinggal hidup, di belakang hari dia bakal menjadi bahaya untuk pihakku…” Maka berpikirlah ia, keponakannya ketolongan atau tidak, pemuda ini harus disingkirkan. Habis itu ia bekerja, ia membuatnya Kwee Ceng heran dan kagum. Ia berdiri di antara dua pohon, begitu ia menggeraki tangannya kedua pihak, dua-dua pohon itu roboh patah dengan berbareng.

“Paman Auwyang,” Kwee Ceng menanya, “Sampai kapan aku dapat mencapai ilmu seperti ynag dipunyakan kau ini?”

Wajah Auwyang Hong bermuram durja, di dalam hatinya, ia kata: “Tunggu sampai kau menitis pula…” Ia tidak memberikan jawaban pada pemuda itu.

Setelah memperoleh belasan potong balok, Kwee Ceng dan See Tok membawa itu semua kepada Oey Yongn. Matanya See Tok kemudian diarahkan ke tengah laut. Ia mau melihat ada perahu datang atau tidak. Ketika itu air mulai naik. Terang sekali ia sudah tidak sabaran sekali, maka juga ia mengajak si nona dan pemuda lekas bekerja.

Kali ini Oey Yong mengikat potongan-potongan balok itu kepada batu. Ia pakai balok-balok itu untuk meminjam tenaga mengambangnya. Setelah itu, dengan dadung yang terikat rapi pula pada pohon besar, mereka mulai lagi dengan usahanya mendorong mutar ujung-ujung balok yang diikat pada pohon itu.

Percobaan si nona ini memberi hasil yang menyenangkan, dengan dibantu tenaga mengambangnya balok-balok itu, batu besar itu dapat terangkat hanya dengan beberapa putaran.

Auwyang Hong menyuruh muda-mudi itu menahan kuat-kuat, ia sendiri lari ke batu. Air telah pasang dalam, maka untuk menolongi keponakannya, ia mesti menahan napas untuk selulup. Tidak sukar untuknya memondong Auwyang Kongcu, buat dibawa ke darat.

Kegirangannya Kwee Ceng tidak terhingga besarnya yang pertolongan mereka itu telah berhasil, tanpa merasa ia bersorak-sorai, kemudian ia tarik tangannya Oey Yong, untuk diseret berlari-lari ke gua mereka tanpa memperdulikan pula itu paman dan keponakannya.

“Adik Yong, pantas atau tidak aku bersorak?” tanya Kwee Ceng. “Hatimu lega atau tidak?”

“Aku hanya lagi memikirkan tiga soal yang aku merasakan kesulitannya,” menyahut si nona.

“Kau sangat cerdas, kau pasti mempunyai dayanya,” berkata pula Kwee Ceng. “Soal-soal apakah itu?”

Oey Yong menyebut-nyebut kesulitan tetapi ditanya begitu, ia bersenyum. Hanya, belum lagi ia memberikan jawabannya atau kedua alisnya telah dikerutkan.

“Soal yang pertama tidak apa,” berkata Ang Cit Kong yang semenjak tadi berdiam saja. “Yang kedua dan yang ketiga memang sulit sekali, sungguh itu dapat membuat orang tidak berdaya…….”

Kwee Ceng menjadi heran.

“Eh, mengapakah suhu mendapat tahu?” katanya. “Apakah itu?”

“Aku dapat menerka pikirannya Yong-jie,” menyahut sang guru. “Yang pertama-tama yaitu dengan cara bagaimana dia dapat mengobati lukaku. Di sini tak ada tabib, tak ada obat, aku si pengemis tua menyerah saja kepada takdir. Lihat saja, aku bakal mati atau bisa hidup terus… Yang kedua itu ialah bagaimana caranya untuk melawan Auwyang Hong si licin dan berbisa itu. Dia suka berbalik pikir, maka dia tak lah dapat dipercaya habis segala pembilangannya. Dia sangat lihay, kamu berdua tidak nanti bisa menempur padanya. Yang ketiga ialah soal bagaimana kita bisa dapat pulang ke daratan. Benar bukan, Yong-jie?”

Nona itu mengangguk.

“Benar!” sahutnya. “Inilah soal sangat penting untuk kita, soal bagaikan bencana di depan mata. Aku memikir jalan untuk dapat mengendalikan si tua bangka berbisa itu, walaupun tidak sempurna, asal dia dapat dibikin tidak berani memandang sebelah mata kepada kita.”

“Melihat keadaan, sekarang ini kita mesti melawan si bisa bangkotan itu dengan otak bukannya dengan tenaga,” berkata Ang Cit Kong. “Hanya dia sangat cerdik dan licin, inilah kesulitannya. Sukar dia dapat diperdayakan…”

Oey Yong berdiam, ia berpikir. Kwee Ceng pun tidak berdaya.

Ang Cit Kong berpikir keras sekali, ia merasakan dadanya sakit, karen aitu ia lalu batuk-batuk.

Nona Oey kaget, lekas-lekas ia pegangi guru itu, untuk dikasih rebah.

Disaat itu, mendadak gua menjadi gelap, ada bayangan hitam yang mengalinginya. Si nonalah yang paling dulu mengangkat kepalanya. Ia melihat Auwyang Hng berdiri tegar seraya memondong keponakannya. Dengan suara serak tetapi bengis, See Tok membentak: “Kamu semua keluar! Serahkan gua ini padaku untuk aku merawat keponakanku!”

Kwee Ceng gusar hingga ia berlompat bangun.

“Di sini ada guruku!” ia berseru.

Auwyang Hong mengasih dengar suara dingin: “Sekalipun Giok Hong Taytee yang tinggal disini, dia juga mesti keluar!”

Kwee Ceng bertambah gusar, tetapi Oey Yong lekas menarik tangan bajunya, kemudian si nona memondong tubuh gurunya, untuk dibawa keluar dari gua itu.

Selagi lewat di samping Auwyang Hong, Cit Kong menyeringai.

“Sungguh gagah, sungguh angker!” ia menyindir.

Matanya Auwyang Hong mencilak. Kalau ia menyerang, segera Ang Cit Kong akan terbinasa, entah kenapa ia merasakan suatu pengaruh aneh, maka lekas-lekas ia berpaling ke arah lain, untuk menyingkir dari mata tajam si pengemis. Walaupun begitu, mulutnya membilang: “Sebentar kamu membawakan barang makanan untuk kami berdua. Dan kau, dua makhluk cilik, jikalau kamu main gila dengan barang makanan itu, hati-hati jiwamu bertiga!”

Ketiganya berjalan terus, hati mereka panas. Kwee Ceng sangat mendongkol, ia mengutuk tak hentinya. Pak Kay dapat menutup mulut, demikian juga Oey Yong. Hanya nona ini bekerja otaknya.

“Kamu tunggu sebentar di sini, akan aku mencari tempat yang baru,” kata Kwee Ceng kemudian.

Oey Yong menurut, ia berhenti di bawah sebuah pohon yang teduh.

Di atas pohon itu ada dua ekor bajing tengah berlari-lari di cabang-cabang, lari turun naik, matanya mengawasi kepada ketiga orang itu. Berani mereka itu, mereka berani datang dekat kira-kira tiga kaki.

Oey Yong tertarik kepada kedua bajing itu.

Seekor bajing berani sekali, dia datang dekat dan mencium-cium nona itu. Kawannya lebih berani pula, dia turun dan merayap di ujung bajunya Ang Cit Kong!

Oey Yong menghela napas, ia berkata: “Terang sudah di sini tak pernah ada manusia. Lihat, binatang ini tidak takut orang.”

Mendengar suara orang, bajing itu lari naik ke atas.

Oey Yong mengawasi, maka ia dapat melihat banyak cabang-cabang pohon yang besar, yang terlibat-libat oyot otan. Daun pohon itu pun lebat sekali.

“Sudah engko Ceng, tak usah kau pergi mencari tempat lagi,” berkata nona ini. “Mari kita naik saja ke atas pohon ini.”

Kwee Ceng sudah ebrtindak ketika ia mendengar suara si nona. Ia mengangkat kepalanya, untuk melihat ke atas. Benar-benar ia mendapatkan sebuah tempat perlindungan.

Sampai disitu keduanya naik ke atas pohon itu. Mereka menekan cabang-cabang, mereka pun membuat palangan, hingga di situ terdapat ruangan seperti lauwteng, di mana orang bisa duduk atau rebah. Setelah selesai, mereka turun untuk mengangkat Ang Cit Kong naik ke atas. Mereka tak usah manjat lagi, cukup dengan mereka mendukung guru itu di kiri dan kanan, dengan berbareng mereka mengenjot tubuh untuk berlompat ke atas. Maka dilain saat, Pak Kay sudah dapat dipernahkan dengan baik.

“Untuk sementara kita berdiam di atas pohon ini bagaikan burung!” berkata si nona tertawa. “Biarlah mereka itu berdiam di dalam gua bagai binatang-binatang berkaki empat!”

“Bilang Yong-jie, kau hendak memberikan makanan atau tidak kepada mereka?” Kwee Ceng tanya.

“Sekarang ini kita belum mendapat jalan, kita pun tidak dapat melawan pada si tua bangka berbisa itu,” menyahut si nona, “Maka untuk sementara baik kita menurut saja…”

Kwee Ceng berdiam. Ia mendongkol berbareng masgul sekali.

Oey Yong mengajaki pemuda itu pergi ke belakang bukit, untuk berburu. Mereka berhasil merobohkan seekor kambing gunung, yang mereka terus sembelih, dijadikan dua potong. Mereka menyalakan api untuk membakarnya.

Setelah dibakar matang, Oey Yong lemparkan yang separuh ke tanah.

“Kau kencingin!” ia kata pada Kwee Ceng.

Si anak muda tertawa.

“Ah, dia tentu mendapat tahu nanti…”

“Jangan kau pedulikan! Kau kencinginlah!” berkata si nona.

Mukanya Kwee Ceng menjadi merah.

“Aku tidak bisa….” sahutnya.

“Kenapakah?”

“Sekarang aku belim ingin membuang air kecil…”

Mendengar itu si nona tertawa terpingkal-pingkal.

Tiba-tiba terdengar suaranya Ang Cit Kong di atas pohon.

“Kau lemparkan ke atas, nanti aku yang kerjakan!” kata si tua bangkotan yang jenaka itu.

Kwee Ceng tertawa, ia berlompat naik dengan daging kambing itu.

Pak Kay sudah lantas membuktikan perkataannya itu.

Sembari tertawa Kwee Ceng lompat turun pula, terus ia bertindak ke arah gua.

“Tunggu dulu!” Oey Yong mencegah. “Mari itu yang sepotong lagi!”

“Apa? Yang bersih?” tanya si anak muda. Ia menggaruk-garuk kepalanya saking heran.

“Benar!” menyahut si nona. “Kita berikan si tua bangka yang bersih…”

Walaupun ia ada sangat tidak mengerti, Kwee Ceng toh berbuat seperti katanya si nona yang ia sangat percayai itu. Ia menukar daging bersih dengan daging yang telah diberi air kencing itu.

Oey Yong memanggang pula daging yang kotor itu, kemudian ia pergi mencari bebuahan.

Juga Ang Cit Kong tidak mengerti perbuatannya si murid, ia menjadi heran berbareng masgul.

Oey Yong memanggang daging hingga menyiarkan baunya yang lezat, yang membangkitkan nafsu berdahar. Demikian Auwyang Hong di dalam guanya, hidungnya dapat mencium bau itu, lekas-lekas ia keluar, setibanya di mulut gua, tidak menanti Kwee Ceng – yang membawakan daging – dekat padanya, ia sudah memburu untuk menyambuti separuh dirampas.

Hebat nafsu dahar dari See Tok ini tetapi mendadak air mukanya berubah.

“Mana yang sebelah lagi?” mendadak ia bertanya.

Si anak muda tidak menjawab dengan mulutnya, ia cuma menunjuk ke belakang.

Tanpa membilang suatu apa, Auwyang Hong bertindak cepat ke bawah pohon di sana ia sambar daging kambing yang sebelahnya itu, sedang yang berada di tangannya ia lemparkan ke tanah. Tetap dengan tidak membilang suatu apa, kecuali ketawa dingin, ia memutar tubuhnya akan kembali ke guanya.

Kwee Ceng cepat-cepat berpaling ke arah lain, kalau tidak, pastilah akan terlihat wajahnya yang menahan tertawa. Ia anggap lucu sekali perbuatannya Auwyang Hong itu, yang telah terjebak Oey Yong. Baru setelah orang pergi jauh, ia lari kepada Oey Yong, wajahnya tersungging senyum.

“Yong-jie!” katanya tertawa, “Kenapa kau ketahui dia bakal menurkarnya?”

Si nona itu pun tertawa.

“Bukannya ilmu perang ada membilang,” menyahut si noa, “Bahwa yang kosong itu berisi, dan yang berisi ialah kosong? Si tua bangka berbisa itu pasti menduga kita menaruhkan racun di daging yang kita berikan padanya, dia tak sudi kena diakali, tetapi aku, aku justru menghendaki dia terpedaya!”

“Hebat!” memuji si anak muda, yang terus membeset daging itu, untuk dibawa naik ke ranggon pohonnya yang istimewa, untuk menyuguhkan kepada gurunya, kemudian bersama si nona ia pun turut dahar.

Auwyang Hong dan keponakannya dahar daging panggang itu dengan bernafsu. See Tok merasakan bau engas, ia menyangka daging itu memang demikian bau asalnya, ia menangsal terus.

Bertiga Oey Yong berhadar dengan hati mereka riang gembira.

“Yong-jie,” berkata Kwee Ceng kemudian. “Akalmu ini bagus tetapi berbahaya…”

“Mengapa?” tanya si nona.

“Umpama kata si tua bangka berbisa tidak menukar, bukankah kita bakal makan daging yang kotor dan bau itu?”

Oey Yong tertawa terpingkal-pingkal, hingga tubuhnya miring dan jatuh ke tanah, tetapi ia dapat jatuh berdiri, maka dilain detik ia sudah berada di atas pula.

“Benar, benar, memang berbahaya sekali!” katanya.

Ang Cit Kong bersenyum, tetapi ia menghela napas ketika ia berkata: “Anak-anak yang tolol, kalau benar dia tidak menukarnya, apakah kamu tidak dapat makan daging bau pesing itu?”

Kwee Ceng melengak, lalu ia tertawa hingga ia pun terguling-guling dari tempat duduknya, jatuh ke tanah seperti si nona tadi.

Setelah sang gelap petang datang, Auwyang Kongcu merintih karena rasa nyerinya, sedang Auwyang Hong pergi ke bawah pohon.

“Budak kecil, kau turun!” ia memanggil Oey Yong, suaranya bengis.

Si nona terkejut. Ia tidak menyangka orang datang demikian lekas.

“Mau apa?!” ia terpaksa menyahuti.

“Keponakanku menghendaki air the, pergi kau melayani dia!” menitah See Tok.

Kaget ketiga orang di atas pohon itu, berbareng dengan itu, panas hari mereka.

“Lekas!” terdengar pula suara Auwyang Hong. “Kau mau tunggu apa lagi?!”

“Mari kita mengadu jiwa dengannya!” berkata Kwee Ceng perlahan.

“Lebih baik kamu berdua kabur ke belakang gunung,” Ang Cit Kong bilang. “Jangan kau pedulikan aku lagi…”

Dua-dua jalan itu, mengadu jiwa dan merat, telah dipikirkan Oey Yong. Dua-dua jalan itu pasti akan mengakibatkan kebinasaannya Ang Cit Kkong. Inilah ia tidak menginginkannya. Maka akhirnya ia pikir baik mereka mengalah saja. demikian ia lompat turun.

“Baiklah, nanti aku lihat lukanya!” ia kata.

“Hm!” See Tok mengasih dengar suaranya yang dingin. “Eh, bocah she Kwee, kau juga turun!” ia menambahkan, membentak. “Apakah kau ingin enak-enak tidur nyenyak?! Bagus betul!”

Dengan menahan sabar sebisanya, Kwee Ceng berloncat turun.

“Malam ini kau mesti menyediakan untukku seratus potong balok yang besar,” menitah si Bisa dari Barat, “Kalau kurang sepotong saja, kakikmu sebelah akan kuhajar patah! Kalau kurang dua, dua-duanya kakimu patah semua!”

“Buat apa balok itu?!” Oey Yng tanya. “Laginya malam gelap buta rata seperti ini, cara bagaimana orang mencarinya dan mengerjakannya?!”

“Budak cilik, kau banyak bacot! Lekas kau rawati keponakanku! Ada apa hubungannya kau dengan urusan si bocah cilik ini? Pergi kau, kalau kau main gila, siksaan akan menjadi bagianmu!” Ia mengancam pada Kwee Ceng.

Oey Yong memberi tanda kepada si anak muda untuk bersabar, lantas ia bertindak pergi, diikuti si Bisa dari Barat.

Kwee Ceng mengawasi sampai orang tak terlihat lagi, ia lantas menjatuhkan diri, berduduk dengan memegangi kepalanya. Ia berpikir keras, gusarnya dan mendongkol dan berduka juga, hampir air matanya turun mengucur.

Tiba-tiba terdengar suaranya Ang Cit Kong: “Kakekku, ayahku, juga aku semasa kecilku, kita menderita sangat dari bangsa Kim, kita menjadi budak, maka itu apakah artinya kesengsaraan seperti ini?”

Kwee Ceng terkejut, ia mendusin.

“Kiranya dulu suhu pernah menjadi budak…” hatinya bekerja. “Siapa sangka kemudian suhu menjadi stau ahli silat kenamaan dan ketua dari Partai Pengemis! Kalau sekarang aku bersabar, boleh apakah?”

Karena ini, si anak muda mengambil ketetapannya. Dengan membawa obor kayu cemara, ia pergi ke gunung belakang. Ia bekerja dengan menggunai pukulan Hang Liong Sip-pat Ciang, merobohkan pohon-pohon sebesar mulut mangkok yamng besar. Ia berbesar hati, ia berlaku ulet. Ia percaya betul Oey Yong bakal dapat meloloskan diri, sebagaimana dulu si nona lolos dari istana Chao Wang.

Ilmu silat Hap Liong Sip-pat Ciang itu memerlukan tenaga besar dan keuletan, inilah berat untuk Kwee Ceng yang masih muda, yang tenaga dalamnya masih meminta latihan. Belum sejam lamanya, ia sudah berhasil merobohkan duapuluh satu pohon, ketika ia menghajar pohon yang keduapuluh dua, ia merasakan tangannya sakit, maka itu pohon tidak roboh, sebaliknya dadanya sakit pula. Ia terkejut, lekas-lekas ia duduk bersila, untuk memusatkan semangatnya, untuk meluruskan nafasnya.

Setelah satu jam lamanya ia beristirahat seperti itu, ia berbangkit untuk memulai dengan pekerjaannya. Pohon itu dapat juga dirobohkan. Tetapi, ketika ia hendak mulai lagi kali ini ia merasa lemas sekali. Ia mengerti bahwa ia tidak bisa memaksakan diri, atau ia bakal terluka di dalam. Hanya ia menjadi bingung. Di pulau kosong ini di mana ia bisa dapat golok atau kampak! Dengan tangan kosong, bagaimana ia dapat bekerja terus? Ia jadi berkhawatir seklai untuk kedua kakinya. Ia masih membutuhkan hampir delapanpuluh batang lagi.

“Keponakannya telah patah kedua kakinya,” kemudian ia berpikir lebih jauh, “Karena itu tentulah dia sangat membenci sekali padaku, kalau malam ini aku bisa menyediakan seratus batang, mungkin lain malam ia akan meminta seribu batang lagi. Kapan habisnya pekerjaan ini? Dia pun tidak dapat dilawan. Di sini pasti tidak bakal ada penolong untuk kita…”

Pemuda ini menghela napas, ia berputus asa.

“Taruh kata tempat ini bukan pulau kosong, siapa yang dapat menolongi kita?” ia ngelamun pula. “Suhu telah runtuh ilmu silatnya, nasibnya belum ketahuan bagaimana. Ada ayahnya Yong-jie tetapi ia pun sangat membenci padaku. Coan Cit Cit Cu dan keenam guruku dari Kanglam juga bukan tandingannya See Tok ini. Tinggallah kakak angkatku, Ciu Pek Thong, tetapi ia pun sudah terjun ke laut di mana dia membunuh diri…”

Mengingat Ciu Pek Thong, Kwee Ceng jadi bertambah benci dan murka kepada Auwyang Hong. Ia merasa berkasihan kepada kakak angkatnya itu, yang paham Kiu Im Cin-keng tetapi yang tidak hendak menggunainya. Kakak itu pun pandai ilmu silat memecah diri menjadi sebagai dua orang – dua pikirannya. Sayang kepandaian itu menjadi tidak ada gunanya.

“Ah, Kiu Im Cin-keng! Kepandaian dua tangan kiri dan kanan saling berkelahi sendiri….”

Berpikir sampai di situ, Kwee Ceng seperti melihat bintang terang di langit yang gelap.

“Memang sekarang aku tidak dapat melawan See Tok,” demikian ia mendapat pikiran baru, “Tetapi Kiu Im Cin-keng ada pelajaran istimewa seperti istimewanya cara berkelahi dengan dua tangan itu. Kenapa aku tidak hendak menyakinkan itu bersama Yong-jie, menyakinkan terus bersama-sama siang dan malam, sampai tiba saatnya mengadu jiwa dengan si tua bangka berbisa itu?”

Keras Kwee Ceng berpikir, ia tidak memperoleh kesudahan yang memuaskan.

“Ah, mengapa aku tidak mau menanyakan pikirannya suhu?” kemudian ia ingat lagi. “Suhu kehilangan kepandaiannya tetapi tidak ingatannya, ia dapat memberi petunjuk padaku…”

Tidak ayal lagi, Kwee Ceng pulang. Di atas pohon, ia utarakan apa yang ia pikir barusan terhadap gurunya.

Agaknya Ang Cit Kong setujui pikirannya muridnya ini.

“Sekarang coba kau membaca perlaha-lahan bunyinya Kiu Im Cin-keng,” berkata sang guru ini, “Nanti aku lihat ada daya apa yang dapat mempercepat pernyakinanmu…..”

Kwee Ceng menurut, ia mulai membaca.

Tempo si anak muda membaca bagian “Orang tahu dengan duduk berdiam dia akan memperoleh kemajuan, tetapi dia tahu untuk mencapai kemahiran dibutuhkan keinsyafan, ketenangan dan kecerdasan, tubuh dan pikiran harus bekerja berbareng. Kita harus bergerak seperti berdiam, walaupun kita dibentur, kita tetap tenang,” mendadak Cit Kong berlompat bangun seraya mulutnya berseru: “Oh…!”

“Kenapa, suhu?” tanya Kwee Ceng heran.

Pak Kay tidak menyahuti, ia hanya terus berpikir. Ia memahamkan artinya kata-kata dari Kiu Im Cin-keng itu.

“Coba kau mengulangi satu kali lagi,” katanya kemudian.

Kwee Ceng girang, ia percaya gurunya ini sudah memperoleh sesuatu ingzan, maka ia membaca lagi.

“Benar,” Cit Kong berkata sambil mengangguk-angguk. “Kau melanjuti terus….”

Kwee Ceng menurut, ia menghapal terus-terusan, di dekat akhirnya, ia membaca: “Mokansukojie pintek kim-coat-ouwsongsu kosannie…”

“Apa kau bilang?” tanya Cit Kong heran. Dia memotong.

“Aku pun tidak tahu artinya,” sahut Kwee Ceng. “Ciu Toako tidak menjelaskannya.”

“Nah, kau bacalah terus.”

Kwee Ceng membaca pula, “Kiatjie-hoatsu katlo…” demikian seterusnya, untuk itu ia mengeluarkan suara gigi dan lidah.

“Oh, kiranya kitab itu pun memuat mantera menangkap iblis…” berkata Cit Kong kemudian. Hampir ia meneruskan mengatakannya, “Kiranya si imam busuk gemar main gila untuk memperdayakan orang…” tetapi ia dapat membatalkan itu. Ia mengerti Kiu Im Cin-keng mestinya istimewa sekali.

“Anak Ceng,” katanya selang sesaat, “Kitab Kiu Im Cin-keng memuat ilmu yang lihay luar biasa, tak dapat itu dipahamkan hanya semalam dan seharian…”

Kwee Ceng menyesal, ia putus asa.

“Sekarang pergilah lekas kau membuatnya duapuluh batang pohon itu menjadi sebuah getek,” kata Cit Kong. “Daya yang paling utama untukmu ialah menyingkirkan diri. Aku akan berdiam bersama Yong-jie di sini, aku akan melihat selatan.”

“Tidak suhu!” berkata Kwee Ceng. “Mana dapat aku meninggalkan kau…”

“See Tok jeri terhadap Oey Lao Shia, tidak nanti dia mencelakai Yong.jie,” Cit Kong memberi penjelasan. “Aku sendiri, aku sudha tidak berguna lagi….”

Kwee Ceng menjadi panas hatinya dan mendongkol, saking penasaran ia melampiaskannya dengan menghajar batang pohon di depannya. Hebat serangannya itu, suaranya sampai terdengar jauh dan berkumandang.

“Eh, anak Ceng,” tanya Cit Kong heran. “Barusan kau memukul dengan tipu silat apa itu?”

“Kenapa, suhu?”

“Kau menghajar hebat tetapi batang pohon itu tak bergeming…”

Si anak muda menjadi merah mukanya. Ia mengaku karena kehabisan tenaga, ia tidak dapat memakai tenaga lagi.

“Bukan, bukannya begitu,” kata guru itu. “Pukulan itu ada sedikit aneh. Coba kau mengulanginya sekali lagi!”

Kwee Ceng tetap heran tetapi ia menurut. Ia menghajar pula. Hebat suara hajaran itu tetapi tetap pohon itu tidak gempur. Sekarang ia sadar sendirinya. Maka ia lantas berkata: “Sebenarnya inilah pukulan Kong-beng-kun yang terdiri dari tujuhpuluh dua jurus yang diajarkan oleh Ciu Toako.”

“Kong-beng-kun?” tanya Cit Kong. “Belum pernah aku dengar itu…”

“Kong-beng-kun” ialah pukulan Tangan Kosong. Arti sebenarnya yaitu “kosong terang”.

“Selama Ciu Toako dikurung di Tho Hoa To,” Kwee Ceng memberi keterangan, “Dia menganggur tiap hari. Lantas ia menciptakan ilmu pukulannya itu. Dia mengajarkan aku enambelas huruf yang menjadi rahasia tipu silatnya itu, ialah ‘Berhasil besar seperti pecah, kegunaannya tak buruk, terlalu penuh seperti meletus, kegunaannya tak habisnya.’ Baiklah kalau sekarang muridmu menjalankannya untuk suhu lihat?”

“Sekarang ini malam gelap, tidak dapat aku melihatnya,” menyahut sang guru. “Lagi pula inilah ilmu silat mahir, tidak usah dijalankan lagi. Kau menuturkan saja untuk aku mendengarnya.”

“Kwee Ceng lantas menutur, mulai dari jurus pertama “Mangkok kosong diisi nasi”, jurus kedua “Rumah kosong ditinggali orang”, demikian seterusnya. Ia pun menjelaskan maknanya setiap huruf.

Ciu Pek Thong berandalan dan jenaka, maka jenaka juga namanya semua jurusnya itu.

Ang Cit Kong cerdas sekali, setelah mendengar sampai di jurus kedelapanbelas ia memegat: “Sudah cukup tidak usah kau menuturkan terlebih jauh. Sekarang kita dapat menempur See Tok!”

“Dengan menggunai Kong-beng-kun ini?” tanya Kwee Ceng heran. “Aku khawatir aku belum berlatih mahir.”

“Aku ketahui ini tetapi kita mesti mencari kehidupan di antara kematian, kita harus mencoba menempur bahaya. Bukankah kau membawa pisau belati pengasihnya Khu Cie Kee?”

Kwee Ceng menghunus pisaunya itu, yang di dalam gelap masih berkelebat sinarnya.

“Sekarang kau pergi menebang pohon dengan memakai pisau ini dengan menggunakan ilmu silat Kong-beng-kun itu,” menitah Cit Kong.

Kwee Ceng bersangsi. Pisauny aitu panangnya cuma sekaki lebih dan bagian tajamnya pun tipis.

“Aku mengajarkan kau Hang Liong Sip-pat Ciang,” berkata gurunya. “Itulah ilmu silat pihak Luar, Gwa-kee. Kong-beng-kun sebaliknya ilmu silat pihak Dalam, Lay-kee. Maka kalau kau gunai kedua ilmu silat itu dengan dirangkap, piasu ini tajam sehingga dapat memotong emas dan kumala! Apakah artinya baru pohon? Ingat, asal diwaktu menggunai tenaga kau mengutamakan itu huruf rahasia ‘kosong’.”

Kwee Ceng lantas saja mengerti, maka lantas ia lompat turun. Ia mencari sebuah pohon yang besar. Untuk menghajar, ia menggunai tenaga dari Kong-beng-kun, tenaga yang ringan, seperti acuh tak acuh. Ia hanya mengurat bongkot pohon, menggurat ke sekitarnya, tetapi kesudahannya, pohon itu roboh. Bukan main girangnya ia. Ia mencoba terus, sebentar saja ia sudah dapat belasan pohon. Dengan begitu, tak usah sampai terang tanah, ia sudah berhasil menyediakan seratus pohon yang dimintai itu.

“Anak Ceng, mari naik!” tiba-tiba Cit Kong memanggil.

Murid itu melompat naik.

“Benar berhasil, suhu!” ia berseru. “Sedikit pun aku tak usah menggunai tenaga besar.”

“Dengan menggunai tenaga besar artinya tak berhasil, bukan?”

“Benar, suhu.”

“Untuk menebang pohon, tenagamu berlebihan,” berkata sang guru. “Untuk melawan See Tok, masih kurang. Maka itu kau mesti meyakinkan dulu Kiu Im Cin-keng, baru ada ketikanya untuk menangi dia. Mari kita memikirkan daya untuk melawannya…”

Bicara dari hal berpikir, atau mencari akal, Kwee Ceng tidak dapat ebrbuat apa-apa, maka itu, ia berdiam saja.

“Aku juga belum dapat memikir,” kata Cit Kong selang sekian lama. “Kita tunggu saja besok, biar Yong-jie yang memikirkannya. Anak Ceng, mendengar kau membaca Kiu Im Cin-keng aku ingat suatu apa, setelah aku memikirkannya, rasanya aku tidak memikir salah. Sekarang mari kau pegangi aku, hendak aku turun untuk bersilat…..”

Kwee Ceng terkejut.

“Jangan, suhu!” ia mencegah. “Lukamu masih belum sembuh! Mana bisa suhu berlatih?”

“Tetapi kitab toh menyebutnya, ‘…tubuh dan pikiran harus bergerak berbareng, bergerak tapi seperti diam, walaupun dibentur, kita tetap tegar’. Maka marilah kita turun.”

Kwee Ceng masih tetap tidak mengerti tetapi dia toh memondong gurunya itu.

Ang Cit Kng berdiri sambil memusatkan pikirannya, sesudah itu ia memasang kuda-kudanya. Ketika ia meninju, dengan samar-samar Kwee Ceng melihat tubuh gurunya terhuyung, ia segera maju untuk menolongi, tetapi begitu lekas juga, guru itu sudah berdiri tetap pula, hanya napasnya sedikit memburu.

“Tidak mengapa,” berkata sang guru itu.

Dilain saat, Cit Kong meninju dengan tangan kirinya. Kwee Ceng melihat kembali guru itu terhuyung, kali ini dia diam saja, ia mengawasi terus.

Cit Kong meninju pula, berulang-ulang dari perlahan hingga sedikit cepat. Nyatanya makin lama dia semakin tetap. Mulanya ia bernapas keras, kemudian napasnya lurus. Diwaktu memutar tubuh, kuda-kudanya pun tetap.

Bersilat terus, Ang Cit Kong bisa menjalankan habis Hang Liong Sip-pat Ciang, karena ia merasa masih kuat, ia meneruskan dengan Hok Houw Kun, ilmu silat Menaklukkan Harimau.

Begitu lekas gurunya sudah berhenti bersilat, karena girangnya Kwee Ceng berseru, “Kau telah sembuh, suhu!” Ia girang bukan kepalang.

“Pondong aku naik!” Ang Cit Kong meminta.

Kwee Ceng menurut, ia bawa gurunya berlompat ke atas.

“Bagus, suhu, bagus!” ia memuji.

“Bagus apa!” kata guru itu, menghela napas. “Apa yang aku jalankan barusan cuma bagus dipandang, gunanya tak ada…”

Kwee Ceng heran.

“Setelah terluka, aku cuma beristirahat saja,” menerangkan gurunya itu, “Tidak tahunya sebenarnya semakin berlatih dan banyak bergerak, semakin baik. Sekarang ini sudah terlambat, walaupun jiwaku ketolongan, kepandaianku tidak bakal pulih kembali.”

Kwee Ceng hendak bicara, tak tahu ia harus bicara apa, maka kemudian ia bilang saja. “Sekarang hendak aku memotong kayu pula.”

Murid ini belum berlompat turun ketika gurunya berkata: “Anak Ceng, sekarang aku dapat akal untu menggertak si tua bangka berbisa itu. Coba kau lihat, akalku bakal berjalan atau tidak?”

Guru ini terus menuturkan akalnya itu.

“Bagus, suhu!” Kwee Ceng berseru. “Ini tentu berhasil!”

Smapai di situ, murid ini pergi turun pula, untuk bekerja, untuk bersiap.

Besok paginya, Auwyang ong muncul untuk memeriksa jumlah pohon, ia mendapatkan cuma sembilanpuluh, masih kurang sepuluh lagi. Ia tertawa dingin, terus ia berteriak: “He, anak campur aduk, lekas kau mengelinding keluar! Mana yang sepuluh pohon lagi?!”

Perih rasa hati Oey Yong mendengar perkataan orang yang kotor itu. Semenjak sore ia mendampingi Auwyang Kongcu, untuk merawatnya dengan terpaksa. Kapan ia mendengar rintihan pemuda itu, hatinya menjadi lemah. Sebaliknya, mengingat kecewirisan orang, ia jemu. Ketika pagi itu Auwyang Hong keluar, diam-diam ia keluar juga, maka itu, ia dapat dengar suara yang kasar dari See Tok.

Atas pertanyaanya Auwyang Hong tidak ada jawaban. Di atas pohon sepi saja. Maka See Tok lantas mengawasi ke atas, kupingnya pun dipasang. Tiba-tiba ia mendengar suara desiran angin dari gunung belakang, suara angin dari orang yang tengah bertempur. Ia menjadi heran, lekas-lekas ia lari untuk melihat. begitu lekas ia menampaknya, ia menjadi kaget.

Di sana Ang Cit Kong lagi bertempur sama Kwee Ceng, hebat gerakan tangan dan kaki keduanya.

Oey Yong pun menyaksikan, ia juga heran bukan main. Ia hanya heran bercampur girang. Rupanya tenaga gurunya itu sudah pulih kembali, maka juga ia bisa bersilat dan dapat berlatih kembali dengan Kwee Ceng.

“Anak Ceng, hati-hatilah kau dengan jurus ini!” terdengar pemberian ingat dari Pak Kay ketika ia hendak menyerang. Ia terus saja menolak.

Kwee Ceng menggeraki tangannya, untuk menangkis, hanya belum lagi tangan mereka beradu, ia sudah mencelat mundur seperti yang tertolak denagn keras, bahkan tubuhnya itu membentur sebuah pohon di belakangnya.

“Bruk!” demikian satu suara keras. Pohon itu roboh dan tubuh si anak muda terpelanting.

Pohon itu tidak terlalu besar, kira-kira sebesar mulut mangkok, tetapi toh heran telah roboh terbentur tubuh Kwee Ceng.

Menyaksikan itu, Auwyang Hong berdiri tercengang, mulutnya menganga.

“Suhu!” Oey Yong berteriak. “Pukulan lihay dari Pek-kong-ciang!”

Ang Cit Kong tidak menjawab murid ini, hanya ia serukan Kwee Ceng: “Anak Ceng, luruskan napasmu, untuk menjaga kau tidak sampai terluka di dalam!”

“Teecu tahu, suhu!” menyahut Kwee Ceng, yang sementara itu sudah maju pula, untuk melanjuti pertempuran. Hanya beberapa jurus, kembali ia terhajar terpelanting mundur, bahkan kembali membentur pohon hingga pohon itu roboh seperti yang semula tadi.

Auwyang Hong terus berdiri diam. Ia mengawasi latihannya guru dan murid itu. Hebatnya saban-saban Kwee Ceng kena dihajar mental mundur, saban mental dia membentur pohon, pohonnya roboh seketika. Dari itu, cepat sekali, sepuluh pohon sudah rebah di tanah.

Oey Yong menghitung.

“Sepuluh pohon!” dia berseru.

Kwee Ceng bernapas sengal-sengal, agaknya ia letih sekali.

“Teecu tidak kuat berlatih lebih lama lagi…” katanya susah.

Ang Cit Kong tertawa, ia berkata: “Ilmu silat Kiu Im Cin-keng ini benar-benar luar biasa! Aku tengah terluka parah,tetapi pagi ini, sekali saja berlatih, aku berhasil!”

Auwyang Hong heran dan bercuriga, maka ia dekati pohon-pohon yang roboh itu, untuk memeriksa. Ia mendapatkan, bagian yang patah itu meninggalkan bekas yang licin seperti bekas dipotong atau digergaji.

“Benarkah kitab ini begini lihay?” ia berpikir. “Kelihatannya si pengemis bangkotan ini menjadi terlebih lihay daripada yang sudah-sudah…. Kalau mereka bergabung menjadi satu, mana sanggup aku melawan mereka? Tidak boleh ayal lagi, aku pun mesti lekas berlatih!”

Ia melirik kepada tiga orang itu, terus ia memutar tubuhnya untuk lari ke gua. Setibanya, ia keluarkan bungkusannya dalam mana terisi naskah kitab Kiu Im Cin-keng, yang ditulis Kwee Ceng, ia buka untuk dibaca, untuk memahaminya, untuk nanti melatih diri.

Cit Kong dan Kwee Ceng menanti sampai See Tok sudah lenyap dari pandangan mata mereka, lantas mereka tertawa terbahak-bahak.

Oey Yong menghampirkan mereka.

“Suhu, inilah hebat!” pujinya. “Luar biasa isi kitab itu!”

Cit Kong tengah tertawa tak sempat ia menyahuti muridnya itu.

“Kami sedang bersandiwara!” Kwee Ceng memberitahu.

Si nona heran, ia mengawasi.

Si pemuda tidak menanti lama untuk membeberkan rahasianya. Ialah mereka berlatih kosong, sedang semua pohon itu, lebih dulu sudah dipotong, ditinggalkan sedikit bagian tengahnya agar tidak roboh, maka dengan ditabrak Kwee Ceng, robohlah semua dengan segera. Kwee Ceng pun terpental bukan karena serangan, hanya berbareng diserang, ia mencelat mundur seperti terpelanting, sengaja ia membentur setiap pohon itu. Auwyang Hong tidak tahu rahasianya itu, tentu ia kena diakali.

Mendengar itu, kalau tadinya ia tertawa, Oey Yong menjadi berdiam, sepasang alisnya pun dikerutkan.

Ang Cit Kong tertawa, ia berkata: “Aku si tua bangka bisa menggeraki pula tangan dan kakiku, untuk berjalan, ini pun sudah membuatnya aku beruntung. Sekarang ini aku tidak memikirkan itulah ilmu silat yang tulen atau yang palsu! Yong-jie, adakah kau berkhawatir kemudian See Tok bakal mengetahui rahasia kita ini?”

Oey Yong mengangguk. Jitu terkaan gurunya itu.

“See Tok sangat bermata tajam dan cerdas, memang tak selayaknya dia dapat diakali. Tapi, segala apa sukar diduga-duga, maka sekarang ini tak usahlah kita berkhawatir. Aku sekarang ingat Kwee Ceng, di situ ada bahagian pelajaran ‘ menukar urat menguatkan tulang’ itulah luar biasa, aku pikir, selagi kita luang tempo, baik kita sama-sama menyakinkannya.”

Sabar bicaranya sang guru, tetapi Oey Yong menginsyafi artinya.

“Baik, suhu,” katanya. “Mari kita mulai!”

Cit Kong menitahkan Kwee Ceng membaca di luar kepala hingga dua kali bagian itu yang berfasal “Ie Kin Toan Kut Pian”, lalu ia memberikan penjelasan, terus ia suruh kedua muridnya berlatih, sesudah itu, ia pergi untuk memancing ikan, untuk kemudian menyalakan api dan mematangai ikannya. Ia melarang kedua muridnya membantunya, ia mewajibkan kedua muridnya berlatih terus.

Dengan lekas tujuh hari sudah berlalu, Oey Yong dan Kwee Ceng telah memperoleh kemajuan. Berbareng dengan mereka, Auwyang Hong pun berbuat keras dengan kitab Kiu Im Cin-keng yang palsu buatan Kwee Ceng itu.

Hari kedelapan, sambil tertawa Ang Cit Kong menanya Oey Yong, “Yong-jie, bagaimana rasanya daging kambing panggangan gurumu?”

Oey Yong tertawa sambil mainkan mulutnya, menggeleng-geleng kepala.

“Ya, aku juga memakannya tak turun…” Cit Kong berkata pula, tetapi sambil tertawa. Kemudian ia menambahkan: “Pelajaranmu babak pertama sudah selesai, sekarang kamu mesti beristirahat, jikalau tidak, pernapasanmu bisa tertutup dan akan merusak kesehatanmu. Sekarang begini: Yong-jie, pergi kau memasak, aku bersama Ceng-jie akan pergi membikin getek.”

“Membikin getek?” tanya Kwee Ceng dan Oey Yong berbareng.

“Memang!” menjawab sang guru.”Apakah kamu pikir kita dapat berdiam terus di pulau kosong ini sambil menemani si bisa bangkotan itu? Tidak!”

Dua-dua muda-mudi itu menjadi sangat girang.

“Bagus!” seru mereka.

Kedua pihak lantas berpisahan.

Kwee Ceng pergi ke tumpukan pohonnya yang seratus buah itu. Dadungnya pun sudah tersedia, bekas menolongi Auwyang Kongcu. Ia lantas bekerja mengikat batang-batang pohon itu. Ketika ia menarik dadung, tiba-tiba dadung itu terputus. Ia mengulangi lagi, lagi dadung putus. Ia menjadi heran. Ia merasa tidak menggunai tenaga terlalu besar. Mungkinkah dadungnya yang tak kuat? Saking heran, ia menjadi berdiam saja.

Sementara itu Oey Yong mendatangi sambil berlari-lari, tangannya membawa seekor kambing. Si noa pergi berburu, ia bertemu sama kambing itu. Ia menyediakan beberapa butir batu, untuk dipakai menimpuk batok kepala kambing itu. Ketika ia berlari untuk mengubar, rasanya baru beberapa tindak, tahu-tahu ia telah datang dekat sang kambing, maka batal menimpuk, ia berlompat menyambar. Hanya dengan sekali saja ia dapat mencekuknya. Inilah diluar dugaannya, maka ia girang berbareng heran dan segera lari pulang untuk memberitahukan pengalamannya itu.

Mendengar itu, Ang Cit Kong tertawa.

“Jikalau begitu adanya, terang sudah Kiu Im Cin-keng bukannya untuk main-main saja,” bilangnya. “Pula tidaklah penasaran itu beberapa orang kosen yang telah berkorban jiwa untuk kitab ini…”

“Suhu,” menanya Oey Yong girang, “Apakah sekarang kita bisa menghajar si tua bangka berbisa itu?”

“Masih jauh, anak,” menyahut Cit Kong menggoyang kepala. “Kau masih memerlukan tempo pernyakinan tiga sampai lima tahun lagi. Kau harus ketahui hebatnya Kuntauw Kodok dari si bangkotan itu. Kecuali It-yang-cie dari Ong Tiong Yang, tidak ada lain ilmu yang dapat memecahkannya…”

Si nona membikin moyong mulutnya.

“Kalau begitu percuma kita belajar lagi lima tahun, kita toh tak dapat mengalahkan dia!” katanya mendelu.

“Tentang itu tak dapat dikatakan pasti,” Cit Kong membilang. “ada kemungkinan yang isinya kitab ada jauh terlebih lihay daripada dugaanku.”

“Sudah, Yong-jie, jangan kau terburu nafsu,” Kwee Ceng campur bicara. “Tidak ada salahnya jikalau kita menyakinkan terus.”

Lagi tujuh hari telah lewat, sekarang kedua murid itu sudah selesai dengan babak yang kedua. Pula telah selesai pembuatan geteknya Kwee Ceng. Untuk mendapatkan layar, mereka membuat bahannya dari babakan pohon. Bahkan air minum serta lainnya makanan sudah disiapkan juga.

Selama itu Auwyang Hong mengawasi saja orang bekerja dan bersiap-siap itu. Ia tidak membilang suatu apa, malah mengawasinya pun secara acuh tak acuh, membiarkan orang repot bekerja.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: