Kumpulan Cerita Silat

14/08/2008

Kisah Membunuh Naga (34)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:57 am

Kisah Membunuh Naga (34)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Hanko dan Thor)

“Setiap laba-laba ini,” menyahut si nona, “mestinya tubuhnya dari belang menjadi hitam, dari hitam menjadi putih. Dengan begitu habislah racunnya dan mati dengan sendirinya. Racunnya masuk dalam telunjukku. Untuk menjadi sempurna, aku mesti menghabiskan seribu laba laba. Untuk mencapai puncak kesempurnaan, aku harus menghabiskan lima ribu sampai selaksa ekor masih belum cukup.”

Boe Kie heran, hatinya jeri.

“Dari mana didapatkan begitu banyak laba-laba belang?” tanyanya.

“Di satu pihak dia mesti dipelihara, supaya dia dapat beternak,” menyahut Coe Jie, “Di lain pihak dia mesti dicari di temapt kehidupannya.”

Boe Kie menghela nafas. “Di kolong langit terdapat banyak sekali ilmu kepandaian, mengapa mesti menyakinkan yang begitu beracun?” katanya.

Si nona tertawa dingin, “Memang amat banyak ilmu kepandaian di kolong langit ini, tetapi tidak ada satu yang dapat melawan Ciat hoe cioe ini.” katanya. “Kau jangan anggap tenaga dalammu sudah mahir, jikalau nanti aku telah berhasil melatih, tidak nanti kau dapat bertahan, untuk satu tusukan saja telunjukku ini!”

Sambil berkata, si nona menusuk batang pohon di dekatnya. Sebab dia belum mahir dengan ilmunya itu, jarinya hanya masuk setengah dim.

“Kenapa ibumu mengajar ilmu ini?” Boe Kie tanya pula. Ia heran, “Apakah ibumupun mempelajarinya juga?”

Mendengar disebut ibunya, mata Coe Jie tiba-tiba bersorot tajam dan bengis, bagaikan seekor raja hutan hendak menerkam manusia, ia lantas berkata nyaring. “Siapa mempelajari Cian coe Ciat hoe cioe ini, setelah ia menghabiskan delapan ratus ekor, hingga tubuhnya sudah penuh dengan racun, romannya berubah, dan setelah seribu ekor, romannya akan bertambah jelek. Ibuku telah menghabiskan hampir lima ratus ekor ketika ia bertemu ayahku. Ia kuatir ayah tak menyukainya karena romannya sangat jelek, ia terpaksa menghentikan latihannya. Kesudahannya ia menjadi wanita tanpa tenaga, tenaganya lenyap, umpama kata, ia tak sanggup menyembelih seekor ayam. Benar ia menjadi cantik tapi iapun lantas dihinakan madunya serta kakakku. Ia tak dapat melawan, hingga akhirnya ia membuang jiwanya. Maka hm! Apa gunanya paras elok” Ibuku seorang wanita sangat cantik dan halus, tapi sebab tak mendapat anak laki laki, ayahku menikah pula”.”

Sinar mata Boe Kie menyapu wajah nona itu. “Jadinya kau…kau mempelajari ilmu”.” Katanya perlahan.

“Benar!” si nona menyahut cepat. “Karena belajar ilmu ini, romanku jadi jelek begini, hingga laki laki tak berbudi itu tidak memperdulikan lagi padaku. Jikalau nanti pelajaranku selesai, akan kucari padanya. Bila disisinya tidak ada lain wanita, ya sudah saja”.”

“Kau toh belum menikah dengannya?” tanya Boe Kie. “Bukankah di antara kamu pun tidak ada janji ikatan jodoh? Hanya…hanya?”

“Omonglah terus terang!” kata si nona. “Takut apa” Bukankah kau hendak membilang bahwa aku menyintai dia sepihak saja, ialah hanya pihakku sendiri? Apa salahnya? Aku telah menyintai dia, maka aku larang dia mempunyai lain pacar! Dia tak berbudi, biarlah dia nanti merasai telunjukku ini, telunjuk Cian Coe Ciat-hoe cioe!”

Boe Kie tersenyum. Ia tidak mau mengadu omong pula. Di dalam hatinya, ia merasa, bahwa Coe Jie bertabiat luar biasa sekali. Baik, ia sangat baik, tapi selagi gusar ia sangat galak dan tidak mengenal aturan lagi. Ia menjadi ingat pula kata-kata guru besarnya, paman gurunya yang kesatu dan kedua, bahwa di dalam rimba persilatan ada perbedaan antara yang sesat dan yang lurus, maka ia percaya Cian Coe Ciat hoe cioe ini ialah pelajaran sesat, bahwa ibunya Coe Jie mungkin seorang sebangsa siluman. Karena ini, tanpa berasa, ia menjadi rada jeri terhadap si nona.

Coe Jie tak mendapat tahu apa yang orang pikir, ia berlari-lari ke luar dan ke dalam, mondar mandir, memetik berbagai macam bunga, maka di lain saat gubuk mereka telah terpajang rapih, menarik hati untuk dipandang.

“Coe Jie” kata Boe Kie, “Setelah sakit kakiku sembuh, aku nanti pergi mencari daun obat-obatan untuk mengobati bengkak mukamu yang beracun itu.”

Mendengar itu, si nona nampaknya ketakutan.

“Tidak, tidak!” katanya “Aku telah menyiksa diri sekian lama, baru kuperoleh kepandaian seperti ini! Apakah kau hendak memusnahkan kepandaianku?”

“Bukan!” katanya cepat. “Mungkin kita dapat memikir semacam obat. Memakai mana kepandaianmu boleh tak usah lenyap, asal keracunan di muka saja yang hilang tak berbekas”.

“Tidak dapat!” si nona berkata pula. “Bila ada semacam obat atau cara, mustahil ibuku tak mendapat tahu? Kepandaian ini adalah kepandaian turunan. Kupikir, yang bisa berbuat itu mungkin cuma Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe yang lihai ilmu pengobatannya, hanya sayang banyak tahun dia telah meninggal dunia”.

“Kau kenal Ouw Ceng Goe?” tanya Boe Kie.

Coe Jie mementang matanya, ia kelihatannya heran. “Apa?” katanya. “Adakah aneh untuk mengetahui dia? Nama Tiap Kok Ie Sian toh memenuhi seluruh negara! Siapakah yang tidak tahu?” ia menghela nafas, dan ia berkata pula. “Taruh kata dia masih hidup, apakah gunanya itu? Dialah yang dijuluki “Melihat kematian tak menolong”!”

Boe Kie tidak membilang apa-apa, akan tetapi di dalam hatinya, ia berkata “Nona ini sangat baik terhadapku, mesti aku balas kebaikkannya ini. Dia tidak tahu semua kepandaian Tiap kok iIe sian telah diwariskan kepadaku. Baiklah, sekarang aku jangan membilang apa-apa padanya, hanya di belakang hari nanti, aku dayakan untuk mengobati mukanya ini, supaya dia kaget dan girang!”.

Selama itu, langit sudah gelap, maka keduanya lantas rebah bersandar di batu gunung untuk tidur. Boe Kie dapat pulas, hanya tengah malam, ia mendusin dengan tiba tiba, telinganya mendengar tagisan isak-isak tertahan. Ketika ia membuka matanya, kawannya lagi menangis sedih. Ia mengulur tangannya meraba pundak nona itu, menepuk dua kali.

“Jangan nangis, Coe Jie” ia menghibur. “Jangan bersusah hati”.”

Tapi justru karena ditegur, Coe Jie tidak dapat menahan lagi kedukaannya. Dengan menyenderkan kepalanya di pundak orang ia menangis menjadi-jadi.

“Kau kenapa Coe Jie?” Boe Kie tanya perlahan. “Ada apa” Apakah kau ingat ibumu? Benarkah?”

Coe Jie menggangguk perlahan.

“Ibu telah menutup mata.” Katanya. “Aku jadi sebatang kara. Siapa juga tidak menyukai aku… Siapa juga tidak mau baik denganku!”

Boe Kie menggunakan tangan bajunya untuk mengelap air mata nona itu.

“Aku menyukai kau, aku dapat berlaku baik terhadapmu,” sahut Coe Jie. “Orang yang kucintai tidak perdulikan aku, ia memukul aku, ia pun mau menggigit aku.”

“Lupakan laki-laki tidak berbudi itu,” kata Boe Kie “Aku akan menikah dengan kau, seumurku nanti akan perlakukan kau dengan baik.”

“Tidak! Tidak!” Coe Jie berseru. “Tidak dapat aku melupakan dia! Jikalau lagi sekali kau menganjurkan aku melupakan dia, untuk selamanya aku tidak akan peduli padamu!”.

Boe Kie heran, malu dan jengah. Syukur cuaca gelap, jika tidak, akan terlihat mukanya yang merah.

Keduanya berdiam.

“A Goe koko, apakah kau gusar padaku?” kemudian nona itu bertanya.

“Aku tidak gusar, aku hanya menyesalkan diriku sendiri.” Jawabnya. “Tidak selayaknya aku bicara seperti barusan padamu”.

“Tidak, tidak demikian. Kau bilang kau suka menikah denganku, bahwa seumurmu kau hendak perlakukan baik padaku. Senang aku mendengar kata-katamu itu. Coba kau mengulangi sekali lagi.”

Tapi Boe Kie menjadi tidak senang. “Kau tidak dapat melupakan orangmu itu, perlu apa aku bicara lagi?” katanya.

Coe Jie mencekal tangannya Boe Kie dan berkata dengan suara lemah-lembut. “A goe koko, jangan kau gusar. Aku mengaku bersalah. Kalau kau benar-benar menikah denganku, ku bisa membutakan kedua matamu dan mungkin juga, aku akan mengambil jiwamu”.

Boe Kie kaget. “Apa kau kata?” ia menegas.

“Sesudah kedua matamu buta, kau tak akan bisa melihat lagi romanku yang jelek” katanya perlahan “Kau tak akan bisa lagi memandang lagi wajah nona Cioe dari Goe Bie pay yang cantik manis. Andaikata, sesudah buta, kau masih juga belum dapat melupakan dia. Aku akan membinasakan kau dan kemudian mengambil jiwa sendiri.” Ia memberi jawaban yang hebat itu dengan suara tenang-tenang saja, seolah-olah apa yang dikatakannya adalah hal yang wajar.

Waktu mendengar “nona Cioe dari Goe Bie pay” jantung Boe Kie memukul terlebih keras.

Mendadak, baru saja Coe Jie selesai bicara di kejauhan terdengar suara seorang tua. “Nona Cioe dari Goe Bie pay mempunyai hubungan apakah dengan kamu berdua?”

Coe Jie melompat bangun. “Biat Coat Soe thay!” bisiknya.

Tapi, biarpun ia hanya berbisik, perkataannya sudah didengar oleh orang itu yang lantas saja menjawab. “Benar, Biat Coat Soe thay” Waktu orang itu berbicara pertama kali, ia masih berada jauh tapi waktu bicara kedua kali, ia sudah berada di samping gubuk.

Coe Jie mengenal bahaya. Ia sebenarnya ingin kabur dengan mendukung Boe Kie, tapi sudah tidak keburu lagi.

Sesaat kemudian, orang itu membentak dengan suara dingin. “Keluar! Apa kamu mau bersembunyi seumur hidup?”

Sambil memapah dan menyekel tangan Boe Kie, Coe Jie menyingkap tirai rumput dari gubuknya dan bertindak keluar.

Dalam jarak kira-kira setombak dari gubuknya, berdiri seorang pendeta tua yang rambutnya putih dan ia itu memang bukan lain daripada Ciang boen jin Goe bie pay Biat coat Soethay. Dari sebelah kejauhan mendatangi dua belas orang yang kemudian berdiri berjejer di kedua samping pendeta wanita itu. Mereka itu adalah murid-murid Goe bie pay empat nie kouw (pendeta wanita) empat orang wanita biasa dan empat laki-laki yang berdiri di barisan belakang dan di antaranya mereka terdapat Teng Bin Koen dan Cioe Cie Jiak.

Dalam kalangan Goe bie pay selama beberapa turunan, yang memegang tampuk pimpinan selalu wanita dan murid lelaki tidak pernah diberikan pelajaran ilmu silat yang paling tinggi, sehingga oleh karenanya, kedudukan murid lelaki lebih rendah daripada murid wanita.

Dengan sorot mata dingin, tanpa mengeluarkan sepatah kata, Biat Coat Soethay mengawasi Coe Jie.

Mengingat kebinasaan Kie Siauw Hoe, Boe Kie sangat berkuatir. Sambil menyandarkan diri di punggung Coe Jie, diam-diam dia mengambil keputusan, bahwa jika si pendeta wanita menyerang, mestipun mesti binasa, ia akan mengadu jiwa.

Beberapa saat kemudian, seraya mengeluarkan suara di hidung, Biat Coat menengok ke arah Tian Bin Koen dan bertanya “Apa budak kecil itu?”

“Benar!” jawabnya.

Tiba-tiba, “Krak!…krak!…” Coe Jie mengeluarkan suara kesakitan, tulang kedua pergelangan tangannya patah, dan ia rebah dalam keadaan pingsan.

Boe Kie sendiri terpaku dan ternganga. Ia hanya melihat berkelebatnya bayangan warna abu-abu dan Coe Jie sudah terguling. Dengan kecepatan luar biasa ia menyerang, dan dengan kecepatan luar biasa pula, ia balik ke tempatnya yang semula, di mana ia kembali berdiri tegak bagaikan satu pohon tua di tengah malam yang sunyi itu. Gerakan yang secepat itu sudah mengaburkan mata Boe Kie yang jadi terkesima dan hanya bisa mengawasi tanpa berdaya.

Sesudah memperlihatkan kepandaiannya, denga sorot mata bengis Biat Coat mengawasi Boe Kie. “Pergi!” bentaknya.

Cioe Ci Jiak maju setindak dan berkata seraya membungkuk. “Soehoe ia tidak dapat berjalan, mungkin kedua tulang betisnya patah.”

“Buatlah dua buah soat kio untuk membawa mereka”, memerintah sang guru (Soat kio semacam kereta salju tidak beroda).

Murid-murid itu mengiakan dan kecuali Teng Bin Koen yang belum sembuh dari lukanya, mereka segera melakukan apa yang diperintah. Sesudah selesai, dua orang murid wanita lalu mengangkat Coe Jie dan lalu menaruhnya di kereta yang satu, sedang dua orang murid pria menaruh Boe Kie di kereta yang lain. Sambil menyeret kedua kereta itu, mereka mengikuti Biat Coat ke arah barat.

Dengan penuh kekuatiran, Boe Kie memasang kuping untuk mendengari gerak gerik Coe Jie. Sesudah melalui belasan li, barulah ia mendengar rintihan si nona. “Coe Jie bagaimana keadaanmu?” tanyanya dengan suara nyaring. “Apakah kau mendapat luka didalam?”.

“Dia mematahkan pergelangan tanganku. Tapi aku tidak mendapat luka di dalam” jawabnya.

“Bagus” kata Boe Kie, “Gunakanlah sikut kiri untuk membentur lengan kananmu, tiga coen lima hoen di bawah tekukan lengan. Sesudah itu, gunakanlah skut kananmu untuk membentur lengan kiri, tiga coen lima hoen di bawah tekukan lengan. Dengan berbuat begitu, rasa sakit akan berkurang”.

Sebelum Coe Jie menjawab, Biat Coat sudah mengeluarkan suara “Ih!” dan mengawasi Boe Kie dengan mata mendelik, “Bocah! Kau mengerti ilmu ketabiban.” Katanya, “Siapa namamu?”

“Aku she Can, namaku A Goe” jawabnya.

“Siapa gurumu?” tanya pula si nenek.

“Guruku adalah tabib kampungan,” menerangkan si Boe Kie. “Biarpun kuberitahukan namanya, Soethay pasti takkan mengenal namanya”.

Biat Coat mengeluarkan suara di hidung dan tidak mendesak lagi.

Sampai fajar menyingsing barulah rombongan itu mengaso dan makan makanan kering, Cioe Jiak membawa beberapa bakpauw dan memberikannya kepada Boe Kie serta Coe Jie. Melihat Boe Kie yang sesudah dicukur, barulah menjadi pemuda tampan, diam-diam ia merasa heran dan kagum.

Sesudah mengaso kurang lebih dua jam, mereka meneruskan perjalanan ke arah barat. Sesudah berjalan tiga hari, Boe Kie menarik kesimpulan, bahwa dalam perjalanan itu, rombongan Goe Bie Pay mempnyai tugas yang sangat penting. Baik waktu berjalan, maupun waktu mengaso, kecuali sangat perlu semua orang menutup mulut rapat-rapat seolah-olah mereka manusia gagu. Tapi tugas apakah yang mau ditunaikan mereka? Boe Kie tak dapat menjawab.

Selama beberapa hari itu tulang betis Boe Kie yang patah sudah bersambung pula seperti sedia kala dan ia sebenarnya sudah dapat berjalan lagi.

Tapi ia saja tidak memperlihatkan kesembuhannya itu, malah ia sering merintih untuk mengelabui Biat Coat. Ia ingin menunggu kesempatan baik untuk kabur bersama-sama Coe Jie.

Kesempatan itu belum datang, sebab mereka masih berjalan di tanah datar. Sehingga kalau kabur belum jauh ia tentu sudah dibekuk lagi. Maka itu, ia bersabar terus. Pada waktu mengaso ia mengobati luka Coe Jie dan Biat Coatpun tidak menghalang-halanginya.

Sesudah selang dua hari lagi pada suatu lohor, rombong Biat Coat tiba di gurun pasir. Selagi enak berjalan, sekonyong-konyong terdengar suara tindakan kuda yang mendatangi dari sebelah barat. Biat Coat segera memberi perintah dengan gerakan tangan dan semua murid lalu menyembunyikan diri di belakang bukit pasir. Dua di antaranya menghunus pedang pendek dan mengarahkan ujungnya ke arah punggung Boe Kie dan Coe Jie. Sudah terang mereka mau menyerang musuh dan kalau dua tawanan berani berteriak, kedua pedang pendek itu pasti digunakan.

Tak lama kemudian, kuda-kuda itu sudah mendekati. Melihat tapak-tapak kaki, para penunggang kuda menahan tunggangannya.

Tiba-tiba Ceng she Soethay mengangkat hud im (kebutan yang dapat digunakan sebagai senjata) dan dengan serentak sebelas murid Goe Bie pay melompat keluar dari belakang bukit pasir.

Boe Kie mengawasi dan melihat empat penunggang kuda yang semuanya mengenakan jubah warna putih. Sambil membentak keras, keempat orang itu lalu mencabut senjata dan pertempuran lantas saja terjadi.

“Semua siluman dari Mo Kauw! Satupun tak boleh dikasih lolos!” teriak Ceng she.

Walaupun dikepung musuh yang berjumlah lebih besar, keempat orang itu melawan dengan gagahnya. Tapi kedua belas murid Goe Bie pay yang kali ini mengikut Biat Coat ke See hek adalah murid-murid pilihan.

Baru bertempur tujuh delapan jurus, tiga anggota Mo kouw sudah roboh dari tunggangannya, sedang yang ke empat, sesudah melukai seorang murid Goe Bie, coba melarikan diri. Tapi baru saja kabur beberapa tombak, ia telah kena dicandak Ceng hian.

“Turun kau!” bentak si nie kouw seraya mengebut betis kiri orang itu dengan hud timnya. Dia coba menangkis dengan goloknya. Bagaikan kilat Ceng hian mengubah pukulannya dan mengebut kepala musuh. Pukulan yang hebat itu hampir tepat pada sasarannya dan orang itu terguling dari kudanya.

Tapi orang itu a ot dan nekat. Dalam keadaan terluka berat, ia masih bisa balas menyerang dengan tujuan untuk mati bersama-sama musuhnya. Sambil mementang kedua tangannya ia menubruk. Untung saja Ceng hian keburu berkelit dan mengebut dadanya.

Pada saat itulah, tiga ekor merpati putih terbang dari sangkarnya yang tergantung di leher kuda.

“Jangan main gila!” bentak Ceng Hian seraya mengibas lengan jubahnya dan tiga butir thie lian coe (biji teratai besi) menyambar ke arah tiga burung itu. Dua diantaranya jatuh, tapi yang satu dapat terbang terus sebab si jubah putih berhasil memukul sebutir thie lian coe dengan busur besinya. Semua murid Goe bie menimpuk dengan senjata rahasia mereka, tapi burung itu sudah terbang jauh.

Ceng Hie mengibas tangan kirinya dan empat murid lelaki lalu menyeret keempat musuh yang roboh itu, tapi kemudian berdiri tegak di hadapan kakak seperguruannya.

Selama pertempuran, Biat Coat hanya mengawasi sebagai penonton, iapun tak bergerak waktu murid-muridnya menimpuk burung dengan senjata rahasia.

“Terhadap Coe jie dia turun tangan sendiri, suatu tanda bahwa ia memandang tinggi terhadap Coe Jie”, kata Boe Kie didalam hati.

Mungkin sekali karena patahnya tulang pergelangan tangan Teng Bin Koen. “Kalau mau, dengan mudah ia akan bisa membinasakan merpati yang ketiga, mengapa dia diam saja?”.

Mana waktu itu Ceng hie, Ceng Hian dan murid-murid utama lainnya sudah mendapat nama besar dalam rimba persilatan. Satu saja sudah cukup untuk menghadapi gelombang besar. Maka itulah dalam menghadapi beberapa murid Mo kouw, Biat Coat tidak perlu turun tangan sendiri. Bahwa Ceng hie dan Ceng hien sudah turun ke dalam gelanggang, pada hakekatnya berarti memandang tinggi kepada beberapa musuh itu.

Sementara itu, seorang murid wanita sudah menjemput kedua bangkai merpati itu dan mencopot sebuah bumbung kecil yang melekat pada kaki seekor burung. Ia mengeluarkan segulung kertas dari bumbung dan menyerahkannya kepada Ceng hie yang lalu membuka dan membacanya. “Soehoe”, kata Ceng hie. “Mo kauw sudah tahu rencana untuk mengepung dan membasmi Kong ben teng, surat ini adalah untuk meminta bantuan dari Peh bie kauw.”

Sebahis berkata begitu, ia membaca lagi surat yang satunya. “Isinya sama jua” katanya. “Sungguh sayang yang seekor dapat meloloskan diri.”

“Sayang apa?” kata sang guru dengan suara dingin. “Makin banyak mereka berkumpul, makin baik lagi. Tak usah berabe mencari cari mereka di berbagai tempat”.

Mendengar disebutkannya nama “Peh bie kauw” Boe Kie terkejut. “Kouw coe Peh bie kauw adalah kakek luarku.” Pikirnya. “Hm!….Sombong sungguh nenek bangkotan itu belum tentu ia dapat melawan gwakong.”

Semula ia menunggu-nunggu kesempatan untuk kabur bersama-sama Coe Jie. Tapi sekarang ia membatalkan niatnya itu sebab ingin menyaksikan keramaian yang bakal terjadi.

“Siapa lagi yang diundang kamu?” Ceng hie bertanya kepada keempat tawanannya dengan suara bengis. “Mengapa kamu tahu bahwa enam partai akan membasmi Mo Kauw?”

Sekonyong-konyong keempat orang itu tertawa terbahak-bahak dengan muka menyeramkan. Sehabis tertawa, dia roboh serentak dan tidak berkutik lagi. Semua murid Goe bie terkejut, dua diantaranya membungkuk untuk menyelidiki, “Soe cie!” teriak mereka. “Semua mati!”.

Sambil mengawasi muka keempat mayat itu, Ceng hian berkata dengan nada gusar. “Mereka makan racun. Racun itu sangat hebat”.

“Geledah badannya!” memerintah Ceng hie.

Empat murid lelaki segera membungkuk dan menggerakkan tangan untuk merogoh saku mayat.

“Hati-hati!” kata Coe Cie Jiak. “Di dalam saku mungkin tersembunyi benda beracun”.

Keempat lelaki itu terkejut. Mereka segera merobek saku mayat-mayat dengan menggunakan golok dan benar saja, dalam setiap saku terdapat seekor ular kecil yang sangat beracun. Tanpa peringatan nona Cioe, mereka tentu sudah binasa.

“Hari ini untuk pertama kali kamu berurusan dengan orang-orang agama siluman” kata Biat Coat dengan suara dingin. “Mereka berempat hanyalah orang-orang yang tidak ternama tapi sudah begitu beracun. Kalau bertemu dengan jago-jago Mo kauw apakah kamu masih bisa pulang ke Go bie dengan masih bernafas?” ia mengeluarkan suara di hidung dan berkata pula “Ceng hie kau sudah cukup tua, tapi kau masih tetap sembrono. Kau masih kalah dari Cioe Jiak”.

Paras muka murid itu berubah merah dan ia membungkuk untuk menerima teguran sang guru.

Malam itu mereka bermalam di gurun pasir dengan menyalakan sebuah perapian yang cukup besar.
Dengan bergilir mereka membuat penjagaan karena mereka tahu, bahwa daerah itu adalah tempat keluar masuknya orang-orang Mo kauw.

Kira-kira tengah malam dari kejauhan tiba-tiba terdengar keleneng unta yang mendatangi ke arah mereka. Semua orang tersadar dan bersiap sedia. Suara keleneng itu semula mendatangi dari arah barat daya, tapi sesaat kemudian suaranya berpindah ke barat laut. Beberapa saat kemudian, sura itu muncul di sebelah timur laut. Semua murid Goe bie heran tak kepalang. Bagaimana bisa begitu? Biar bagaimanapun jua, seekor unta takkan bisa lari secepat itu, sebentar ke barat, sebentar ke timur dan sebagainya.

Suara keleneng makin nyaring, suatu tanda unta itu sudah mendekati. Mendadak suara itu terdengar gencar sekali, seperti juga binatang itu kabur dengan kecepatan luar biasa.

Orang-orang Goe bie yang baru pernah menjelajah lautan pasir, jadi bingung dan berkuatir. “Sahabat! Perlihatkan dirimu!” teriak Biat Coat. “Permainan gilamu bukan perbuatan seorang berilmu.” Suara yang disertai Lweekang itu menempuh jarak beberapa li dan benar saja, sesudah si nenek berteriak suara keleneng tidak terdengar lagi.

Sampai pagi tidak terjadi sesuatu yang luar biasa. Malamnya kira-kira tengah malam, suara keleneng terdengar pula, sebentar jauh sebentar dekat, sebentar di sana, sebentar di sini. Biat coat berteriak lagi. Tapi kali ini teriakannya tidak mempan lagi. Suara keleneng tidak menghiraukannya. Selang beberapa lama, sesudah puas mengganggu, suara itu menghilang dengan tiba-tiba.

Boe Kie dan Coe Jie saling mengawasi sambil tersenyum. Biarpun tak dapat memecahkan keanehan suara itu, mereka tahu, bahwa itu semua adalah perbuatan orang pentolan Mo kauw. Bahwa orang-orang Goe bie jadi kebingungan sangat menyenangkan hati mereka.

Dengan rasa mendongkol Biat Coat mengibaskan diri untuk mengaso. Tak lama kemudian suara keleneng terdengar lagi, tapi orang-orang Goe bie tidak memperdulikannya. Selang beberapa lama suara itu menuju ke utara dan lalu menghilang. Si unta rupanya tahu, bahwa gangguannya tidak digubris lagi.

Pada keesokan paginya semua orang berkemas untuk berangkat. Sekonyong-konyong Boe Kie dan Coe Jie mengeluarkan suara tertahan sebab didekat mereka kelihatan berbaring seorang tak dikenal yang sedang menggeras. Tubuh orang itu, dari kepala sampai di kaki, tertutup dengan selimut seolah-olah sesosok mayat.

Semua murid Goe bie terkesinap. Guru mereka memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Setiap desiran angin, bahkan jatuhnya selembar daun, tak akan lolos dari pendengarannya. Mana bisa seorang manusia menyatroni tanpa diketahui?

Di lain saat, dua murid Goe bie sudah menghunus pedang dan mendekati orang itu.

“Siapa kau?” bentaknya.

Tapi orang itu terus mendekur. Dengan ujung pedang, salah seorang menyontek selimut dan yang sedang tidur pulas ternyata seorang pria yang menggenakan jubah panjang.

Ceng hie mengerti, bahwa seorang yang mempunyai nyali begitu besar tentulah bukan sembarangan orang. Ia maju setindak dan bertanya, “Siapa tuan? Perlu apa tuan datang kes ini?”

Tapi ia tetap tak memperdulikan suara menggarosnya semakin keras.

Melihat lagak orang itu yang dianggap sangat kurang ajar, Ceng hian naik darahnya. Dengan gusar ia mengangkat hudtim dan menghantam pinggangnya.

“Hurrrrr?”

Semua orang terkesinap dan mendongak ke atas.

Apa yang sudah terjadi?

Entah bagaimana, hudtim Ceng hian suthay terbang ke atas, terbang lurus sampai tingginya belasan tombak.

Tiba-tiba terdengar teriakan Biat Coat. “Ceng hian, awas!”

Hampir berbareng dengan teriakan itu, tubuh si jubah panjang sudah melesat beberapa tombak jauhnya dan apa yang hebat, Ceng hian telah tertawan! Sambil mendukung tawanannya, lelaki itu lari bagaikan terbang.

Ceng hie dan seorang saudari seperguruannya yang bernama Souw Bong Ceng, segera menghunus senjata dan terus mengkejar. Tapi gerakan orang itu cepat luar biasa dan dalam sekejap, dia sudah lari jauh. Seraya mengeluarkan siulan nyaring, Biat coat turut mengkejar sambil mencekal Ie Thian Kiam.

Kepandaian Ciang boenjin dari Goe bie pay tentu saja lain dari pada yang lain. Dalam beberapa saat saja, Biat coat sudah melewati kedua muridnya dan di lain detik, sinar hijau dari Ie hian kiam menyambar punggung si jubah panjang. Tapi orang itu mempunyai kegesitan yang menakjubkan. Bagaikan kilat, ia berhasil menyelamatkan diri dari tikaman yang dahsyat itu.

Biarpun sedang mendukung Ceng hian, kecepatan lari si jubah panjang ternyata tidak kalah dari pengejarnya. Bukan saja begitu, ia bahkan juga seakan-akan seperti mau memperlihatkan kepandaiannya, karena sebaliknya daripada kabur terus, ia lari berputaran, memutari murid-murid Go bie pay yang menonton dengan mulut ternganga. Beberpa kali Biat coat menikam, tetapi tikamannya selalu jatuh di tempat kosong.

Sesudah main kejar-kejaran, barulah hudtim Ceng hian jatuh ke tanah.

Sesaat itu, Ceng hie dan Souw Bong Ceng sudah berhenti mengkejar dan bersama saudari saudara seperguruannya, mereka mengawasi kejar-kejaran itu sambil menahan nafas.

Kedua tokoh itu berlari-lari bagaikan terbang dengan menggunakan ilmu ringan badan. Betapa tinggi ilmu mereka dapat membayangkan dengan melihat kenyataan, bahwa debu dan pasir tidak beterbangan akibat injakan kaki mereka. Dengan hati berdebar-debar, murid-murid Go bie mengawasi Ceng hian yang dibawa lari tanpa berkutik.

Semua orang tahu, bahwa kakak seperguruan itu berkepandaian tinggi dan sudah mewarisi sebagian besar ilmu guru mereka. Cara bagaimana ia bisa dibekuk secara begitu mudah dan sudah ditawan, sedikitpun tidak berdaya lagi?

Sebenarnya mereka ingin sekali mencegat musuh yang tengah dikejar itu. Tapi mereka tidak berani berbuat begitu, karena kuatir digusari sang guru, sebab bantuan tersebut berarti merosotnya nama besar Biat coat suthay. Maka itulah mereka hanya menonton dengan mata terbelalak.

Dalam sekejap si jubah panjang dan Biat coat sudah membuat tiga putaran.

Meskipun si nenek sudah mengeluarkan seantero kepandaiannya, ia tetap tidak dapat menyusul musuh. Jarak antara mereka tidak berubah. Biat Coat masih ketinggalan beberapa kaki di belakang si jubah panjang. Dengan mengingat, bahwa orang itu berlari-lari sambil mendukung Ceng hian yang beratnya kira-kira seratus kati, maka dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa dalam ilmu ringan badan, ia lebih unggul setingkat daripada si nenek kouw tua.

Sesudah menonton beberapa lama, Boe Kie menarik ujung baju Cio Jie seraya berbisik “Mari kita kabur”.

“Tidak, keramaian ini tidak bisa tidak ditonton sampai habis” jawab si nona.

Pada waktu mereka lari pada putaran keempat, orang itu tiba-tiba memutar badan dan melemparkan Ceng hian ke arah gurunya. Karena merasa sambaran angin yang sangat dahsyat, buru-buru Biat coat menghentikan tindakannya dan mengarahkan tenaga Cian kin (Tenaga seribu kati). Akan kemudian, sambil mengarahkan Lweekang, ia menyambuti tubuh muridnya.

Orang itu tertawa terbahak-bahak, “Enam partai besar mau mengepung dan membasmi Kong beng teng!” katanya “Ha…ha…ha…Mungkin tak begitu gampang!” Sehabis berkata begitu, lari ke jurusan utara.

Waktu kejar-kejaran debu dan pasir sama sekali tak bergerak. Tapi sekarang, di jalanan yang dilaluinya pasir kuning mengepul ke atas, seolah-olah seekor naga kuning yang menutupi bayangnya.

Semua murid Goe bie segera menghampiri dan berdiri di sekitar guru mereka. Paras muka Biat Coat merah padam. Ia berdiri tegak sambil mendukung Ceng hian tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“Ceng hian Soecie!….” mendadak Souw Bong Ceng berseru.

Ternyata Ceng hian sudah tak bernyawa lagi, mukanya kuning dan pada tenggorokannya terdapat luka.

Semua murid wanita lantas saja menangis keras.

“Nangis apa?” bentak sang guru. “Kubur dia!”

Semua orang segera berhenti menangis dan lalu mengubur jenasah Ceng Hian. Sesudah penguburan selesai, sambil membungkuk Ceng Hie berkata, “Soehoe, siapa manusia siluman itu? Kami harus mengenal dia untuk membalas sakit hatinya Ceng Hian Soemoay.”

“Kalau tak salah, dia adalah Ceng Ek Hok Ong, yaitu salah seorang raja (Ong) dari Mo Kauw,” Jawabnya dengan suara dingin. “Sudah lama kudengar, bahwa ilmu ringan badan orang itu tiada bandingannya di dunia. Nama besarnya ternyata bukan omong kosong. Kepandaiannya banyak lebih tinggi daripada aku.”

(Ceng Ek Hok Ong = raja kelelawar bersayap hijau)

Semenjak menyaksikan kekejaman Hiat Coat Soethay, Boe Kie membenci nikouw tua itu. Tapi sekarang ia merasa kagum dan mengakui, bahwa ia masih kalah jauh dari si nenek. Dalam menghadapi kecelakaan, nenek itu masih bisa berlaku begitu tenang dan masih bisa memuji kepandaian musuhnya. Sikap itu adalah sesuai dengan kedudukannya sebagai pemimpin tertinggi dari sebuah partai persilatan yang besar.

“Hm!… dia sama sekali tak berani beradu tangan dengan Soehoe dan terus lari ngiprit,” kata Tang Bin Kun dengan suara marah yang dibuat-buat. “Enghiong apa dia?”

(Enghiong = orang gagah)

Sang guru mengeluarkan suara di hidung. Mendadak tangannya melayang dan menggaplok mulut si perempuan she Teng.

“Aku tak dapat menyusul dia dan tak dapat menolong jiwa Ceng Hian,” kata Biat Coat. “Dialah yang menang. Siapa menang siapa kalah semuanya orang tahu. Nama enghiong diberikan oleh orang lain. Apakah kita bisa memberi julukan Enghiong pada diri sendiri?”

Selembar muka Teng Bun kemerah-merahan, bahana malunya. Ia membungkuk seraya berkata, “Murid salah, murid tahu kesalahan sendiri.”

“Soehoe, siapa itu Ceng Ek Hok Ong?” Tanya Ceng Hie. “Bolehkah Soehoe memberi penjelasan kepada kami?”

Biat coat tak menjawab. Ia mengibaskan tangannya sebagai perintah supaya rombongannya meneruskan perjalanan. Sesudah toasuci mereka membentur tembok, murid-murid yang lain tentu saja tak berani banyak bicara. Mereka segera berjalan dengan hati duka.

Malam itu mereka menginap di samping sebuah bukit pasir dan membuat sebuah perapian yang besar. Bagaikan patung, Biat Coat mengawasi tumpukan api yang berkobar-kobar. Boe Kie mengerti bahwa nenek itu bersusah hati.

Go Bie Pay adalah sebuah partai persilatan yang namanya tersohor di kolong langit. Kali ini dengan membawa jago-jago partai tersebut Biat coat menjelajahi wilayah barat (See Ek). Tapi sebelum bertempur, salah seorang muridnya yang berkepandaian tinggi sudah mesti mengorbankan jiwa. Bukankah kejadian itu menyedihkan dan memalukan?

Melihat guru mereka belum tidur, semua murid juga tidak berani tidur. Kurang lebih mereka satu jam tanpa mengeluarkan sepatah kata. Tiba-tiba Biat Coat mendorong dengan kedua tangannya dan ” “Breettt?” api yang berkobar-kobar itu menjadi padam.

Boe Kie terkejut. “Tenaga dalam Loo Nie itu sungguh hebat,” pikirnya.

Mereka sekarang berada dalam kegelapan, tapi tak satupun berani bergerak.

Gurun pasir itu sunyi bagaikan kuburan, sedang sinar rembulan yang remang-remang memberikan pemandangan yang mendukakan hati. Melihat keadaan begitu, dalam hati Boe Kie muncul rasa kasihan. “Apakah Go Bie Pay akan hancur namanya di wilayah barat?” tanyanya dalam hati.

“Apakah rombongan jago-jago ini akan terbasmi musnah seanteronya?”

Mendadak Biat coat membentak, “Padamlah api siluman! Musnahlah api iblis!” sesudah berdiam sejenak, ia berkata pula dengan suara perlahan. “Mo Kauw (agama iblis) memandang api sebagai nabi dan memuja api sebagai malaikat sesudah Yo Po Thian, Beng Coen Kauwcoe atau pemimpin agama meninggal dunia. Mo Kauw tak mempunyai lagi Kauw Coe. Kedua Kong Beng Soe Cia, keempat Hoe Kauw Hoat Ongdan kelima Ciang Kie Soe yaitu Kim, Bok, Soei, Hwee, dan Touw semua ingin merebut kedudukan pemimpin dan mereka jadi bermusuhan saling membunuh. Oleh karena adanya kejadian itu, Mo Kauw jadi lemah. Mungkin memang sudah ditakdirkan, bahwa partai yang lurus bersih akan menjadi makmur sedang kaum siluman dan kaum sesat akan musnah. Kalau di dalam Mo Kauw tidak terjadi perpecahan tak gampang orang bisa menggempurnya.

(Beng Coen Kauwcoe pemimpin agama, Kong Beng Soe Cia berarti utusan terang benderang, Hoa Kauw Hoat Ong adalah Raja Pelindung Agama, Ciang Kie Soe utusan yang memegang bendera, bendera itu berjumlah lima, yaitu Kim, Bok, Soei, Hwe, dan Touw. Nama-nama itu adalah pangkat-pangkat dalam Beng Kauw atau agama terang.)

Semenjak Boe Kie kecil, setiap kali ia menanyakan kedua orang tuanya selalu mengaget dan memperlihatkan rasa tidak senang. Ayah angkatnya pun tidak memberi keterangan. Maka itu sampai sekarang ia masih belum tahu apa sebenarnya Mo Kauw.

Waktu ia mengikuti Thay Soehoe Thio Sam Hong, orang itu juga sangat membenci Mo Kauw. Saban-saban nama “agama” itu disebutkannya si kakek selalu memberi nasihat dan peringatan keras bahwa ia tidak boleh dekat-dekat dengan orang Mo Kauw. Belakang ia bertemu dengan Ouw Ceng Goe, Ong Lan Kouw, Siang Gie Coen, Cie Tat, Coe Goan Ciang dan yang lain dan mereka itu adalah anggota-anggota Mo Kauw. Ia mendapat kenyataan, bahwa mereka oleh karenanya mau tidak mau ia harus menarik kesimpulan, bahwa lagak lagu orang-orang itu agak aneh dan sukar dimengerti oleh orang luar. Sekarang, demi mendengar peraturan Biat Coat semangatnya lantas saja terbangun dan dia segera memasang kuping dengan sepenuh perhatian.

Biat Coat meneruskan penuturannya. “Dari satu ke lain keturunan, seorang Beng Coen Kauwcoe memegang serupa benda yang merupakan semacam tanda kekuasaan. Benda itu dinamakan Seng Hwee Leng (tanda kekuasaan Api Nabi). Tapi pada waktu Kauw Coe turun ke tiga puluh satu memegang pimpinan, entah bagaimana Seng Hwee Leng itu hilang. Maka itu Kauw Coe-Kauw Coe yang belakangan sudah tak punya tanda kekuasaan , walaupun ia memiliki kekuasaan sebagai pimpinan tertinggi. Yo Po Thian mati mendadak, entah diracuni, entah dibunuh orang. Tak seorangpun yang tahu jelas. Dalam kalangan Mo kauw lantas saja terjadi kekalutan. Sebab mati mendadak, Yo Po Thian tidak menunjuk ahli warisnya. Dalam Mo Kauw terdapat banyak sekali orang pandai, sehingga yang pantas menjadi Kauw Coe, sedikitnya ada lima atau empat, satu namanya Wi It Siauw bergelar Ceng Ek Hong Ong.”

Murid-murid Go Bie saling mengawasi. Nama Ceng Ek Hok Ong Wi It Siauw belum pernah didengar mereka.

Sesudah berdiam sejenak, Biat Coat berkata pula, “Orang itu belum pernah datang ke Tiong goan. Sepak terjang orang-orang Mo Kauw aneh dan sembunyi-sembunyi sehingga walaupun kepandaiannya sangat tinggi, namanya tidak dikenal di daerah Tiong goan. Tapi Peh Bie Eng Ong In Tian Ceng dan Kim Mo Say Ong Cia Soen sudah dikenal kamu, bukan?”

Boe Kie terkejut sedang Cu Ji mengeluarkan seruan tertahan. Biat Coat melirik mereka dengan sorot mata tajam.

“Soehoe apakah kedua orang itu anggota Mo Kauw?” Tanya Ceng Hie dengan suara heran.

“Keempat raja (ong) dari Mo Kauw adalah Cie, Peh, Kim dan Ceng (Ungu, putih, kuning emas, dan hijau),” menerangkan sang guru. “Peh Bie seorang raja dan Ceng Ek pun seorang raja. Ceng Ek berkedudukan paling rendah, tapi kepandaiannya sudah disaksikan. Maka itu betapa tinggi kepandaian Peh Bie dan Kim Mo dapatlah ditaksir-taksir.”

“Karena sakit hati, Kim Mo Say Ong jadi seperti orang gila dan melakukan perbuatan-perbuatan durhaka. Pada dua puluh tahun berselang, dengan mendadak ia membunuh orang tidak berdosa. Sekarang orang tidak tahu kemana dia pergi dan menjadi sebuah teka-teki dalam rimba persilatan. Mengenai In Thian Ceng, sesudah gagal dalam merebut pimpinan dalam Mo Kauw, dalam gusarnya ia mendirikan Peh Bie Kauw. Dia sakit penyakit ingin menjadi pemimpin agama. Semula kita menduga bahwa sesudah meninggalkan Mo Kauw, In Thian Ceng sudah putus hubungan dengan Kong Beng Teng. Tak dinyana, waktu menghadapi bahaya, Kong Beng Teng masih sudi meminta pertolongan Peh Bie Kauw.”

Mendengar itu, Boe Kie jadi bingung dan berduka. Ia tahu, bahwa sepak terjang ayah angkatnya dan kakek luarnya aneh-aneh dan sesat sehingga mereka dibenci oleh orang-orang dari partai lurus bersih. Tapi ia sama sekali belum pernah menduga bahwa kedua orang tua itu adalah Hoe Kauw Hoat Ong dari Mo Kauw.

Sementara itu Biat Coat Soethay sudah melanjutkan penuturannya. “Menurut perhitungan, usaha enam partai untuk membasmi Kong Beng Teng pasti akan berhasil. Biarpun semua siluman bersatu padu, kita tak usah merasa khawatir. Tapi dalam pertempuran, pihak kita tentu akan menderita juga kerusakan besar. Maka itu aku berharap supaya kamu semua mempunyai tekad yang teguh untuk berkelahi mati-matian. Sedikitpun kamu tidak boleh mempunyai rasa takut, sehingga waktu menghadapi musuh, kamu menurunkan keangkeran Go Bie Pay.”

Semua murid Go Bie lantas saja bangun berdiri dan membungkuk, sebagai tanda bahwa mereka berjanji akan mamenuhi harapan sang guru.

“Tinggi rendahnya ilmu silat seseorang tergantung kepada bakatnya dan segala apa tidak dapat dipaksakan,” kata Biat Coat. “Bahwa sebelum bertempur Ceng Hian sudah binasa dalam tangannya siluman itu, tidak boleh ditertawai oleh kamu. Apakah tujuannya belajar ilmu silat? Tujuannya adalah untuk membasmi yang jahat dan menolong yang lemah. Bukankah begitu? Sekarang enam buah partai besar, yaitu Siauw Lim, Bu Tong, Go Bie, Kun Lun, Khong Tong, dan Hwa San, berusaha untuk memupus Mo Kauw. Apa kita akan hidup atau mati, sudah tidak dihiraukan lagi oleh Go Bie Pay. Ceng Hian berangkat paling dulu. Mungkin sekali korban kedua adalah gurumu sendiri…”

Semua murid Go Bie membungkuk. Di bawah sorotan sinar rembulan yang remang-remang muka setiap orang kelihatan pucat pasi.

Biat Coat menghela napas dan kemudian berkata lagi dalam dunia ini siapakah bisa hidup abadi” Manusia mana yang bisa hidup terus menerus? Apa yang diharapkan ialah biarlah sesudah mati, kita masih mempunyai turunan, anak cucu kita masih hidup terus. Maka itu, kekuatiran kamu semua mati dan hanya aku si tua yang hidup terus, hidup sebatang kara, hidup kesepian dalam dunia ini “Huh-huh!… Tapi kalau sampai terjadi begitu akupun harus menerimanya dengan rela. Bukankah pada seratus tahun yang lalu, di dalam dunia tidak terdapat partai yang dinamakan Go Bie Pay” Asal saja kita berkelahi secara gagah, biarpun mesti terbasmi seanteronya, kita tidak usah merasa menyesal.”

Mendengar perkataan sang guru, darah semua murid Go Bie bergolak-golak. Dengan serentak mereka menghunus senjata dan berteriak, “Kami bersumpah akan berkelahi mati-matian!”

Biat Coat tertawa tawar, “Bagus! Kamu mengasolah,” katanya.

Mendengar itu semua Boe Kie merasa kagum. Sebagian besar murid Go Bie Pay adalah wanita, tapi dalam menghadapi bahaya, mereka tidak menunjukkan rasa keder sedikitpun jua. Didengar dari pembicaraan Biat Coat Soethay, kekuatan Mo Kauw bukan main besarnya. Perkataan itu sebenarnya sudah harus diucapkan si Ni Kouw tua pada waktu mereka mau berangkat ke See Hek. Akan tetapi, pada waktu itu, mungkin ia tidak menduga, bahwa sesudah terbit perpecahan, dalam menghadapi musuh dari luar, Mo Kauw masih bisa bersatu padu. Munculnya Ceng Ek Hok Ong telah membuktikan adanya kerja sama dalam kalangan Mo Kauw.

Sesudah berdiam beberapa saat, Biat Coat berkata pula, “kalau Ceng Ek Hok Ong datang, Peh Bie Eng Ong, dan Kim Mo Say Ong dan mungkin akan datang juga. Cie San Liong Ong dan kelima Ciang Kie Soe pun bisa turut datang. Menurut rencana semula, paling dulu keenam partai besar akan membinasakan Kong Beng Soe Cia Yo Siauw dan susudah itu, barulah kita membasmi siluman-siluman lainnya. Tak dinyana, hitung-hitungan Sin Kie Sianseng dari Hwa San Pay kali ini melesat jauh. Haha!… Semua salah.”

(Cie San Liong Ong Rajawali baju ungu)

“Apakah Cie San Liong Ong siluman jahat?” Tanya Ceng Hie.

Sang guru menggelengkan kepala. “Entahlah, akupun hanya mengenal nama,” jawabnya. “Sepanjang keterangan, sesudah gagal menduduki kursi Kauw Coe, dia pergi ke luar lautan dan memetuskannya hubungan dengan Mo Kauw. Alangkah baiknya bagi pihak kita, bila dia masih mempertahankan sikapnya itu. Di antara keempat raja dalam kalangan Mo Kauw, ia menduduki tempat yang paling tinggi, sehingga dengan sendirinya, dia merupakan musuh yang berat. Dalam Mo Kauw terdapat dua orang Kong Beng Soe Cia, di samping Yo Siauw masih ada seorang Su Cia lainnya. Semenjak dahulu, ada Kong Beng Soe Cia kiri dan Kong Beng Soe Cia kanan dan kedudukan kedua orang lebih tinggi daripada keempat Hu Kauw Hoat Ong. Yo Siauw adalah Kong Beng Coe Soe (Kong Beng Soe Cia kiri) tapi she dan nama Kong Beng Yo Soe (Kong Beng Soe Cia kanan) tak pernah dilihat siapa jua. Kong Bun dari Siauw Lim Pay dan Song Wan Kiauw Song Tayhiap adalah orang-orang yang berpengelaman sangat luas. Tapi merekapun tak tahu siapa adanya Kong Beng Yo Soe itu. Sekarang tujuan kita adalah menyerang Yo Siauw. Dalam pertempuran berhadapan, sepala apa akan diputuskan oleh kepandaian ilmu silat dari kedua belah pihak. Yang sangat dikuatirkan olehku ialah waktu kita menghajar Yo Siauw, diam-diam Kong Beng Yo Soe melepaskan anak panah gelap.”

Murid-murid Go Bie mendengar penjelasan itu dengan hati berdebar-debar, bahkan beberapa diantaranya menengok ke belakang, seolah-olah mereka kuatir Cie San Liong Ong dan Kong Beng Yo Soe menyerang dengan mendadak.

“Yo Siauw telah mencelakakan Ki Siauw Hu, Wi It Siauw telah membinasakan Ceng Hian,” kata pula Biat Coat dengan suara menyeramkan.

“Permusuhan antara Go Bie Pay dan Mo Kauw adalah permusuhan yang sangat mendalam. Go Bie dan Mo Kauw tidak dapat berdiri bersama-sama dalam dunia ini. Murid mana yang akan menjadi ahli waris Go Bie Pay akan diputuskan dalam pertempuran yang akan datang. Andaikata ada seorang murid lelaki yang tanpa menghiraukan keselamatan jiwa sendiri, secara kebetulan bisa membinasakan salah satu Hu Kauw Hoat Ong, maka aku aku bersedia untuk melanggar kebiasaan kita yang sudah berjalan hampir seratus tahun lamanya”

Kedua mata Biat Coat mengawasi ke tempat jauh. “Semenjak Kwee Couwsu yang mendirikan partai kita. Ciang Boin dari Go Bie Pay selalu dipegang oleh seorang wanita.” Katanya pula dengan suara perlahan. “Jangankan laki-laki, sedang wanita yang sudah menikahpun tidak dapat menjadi Ciang Cun Jin. Akan tetapi, pada waktu partai menghadapi bahaya besar, aku tidak dapat mengkukuhi lagi kebiasaan lama. Sekarang siapa saja, tak perduli lelaki atau perempuan, yang berjalan besar akan menjadi ahli waris partai kita.”

Semua murid Go Bie menundukkan kepala. Tak seorangpun membuka mulut. Di dalam hati mereka merasa sangat tidak enak, karena sang guru memberi pesan untuk di hari kemudian sehingga seolah-olah guru itu mendapat firasat, bahwa ia takkan kembali ke Tionggoan dengan bernyawa.

Tiba-tiba Biat Coat tertawa terbahak-bahak, suaranya yang nyaring menempuh jarak jauh di gurun pasir yang sunyi itu. Semua murid Go Bie bangun bulu romanya, mereka kaget bercampur heran.

“Tidurlah!” bentak Biat Coat seraya mengibas tangan jubahnya.

Seperti biasa, Ceng Hie segera mengatur penjaga malam.

“Tak usah,” kata sang guru.

Ceng Hie terkejut, tapi ia tidak berani membantah. Mentang-mentang, juga jaga malam tiada gunanya. Kalau Ceng Ek Hok Ong atau orang yang sepantasnya datang menyatroni, jaga malam atau tidak jaga malam tidak berdaya.

Malam itu lewat tanpa sesuatu yang luar biasa dan pada keesokan paginya, rombongan Go Bie meneruskan perjalanan. Kira-kira tengah hari mereka sudah melalui seratus li lebih.

Langit cerah dan matahari memancarkan sinarnya yang gilang gemilang sehingga biarpun waktu itu sudah musim dingin, orang-orang Go Bie merasakan hawa yang hangat.

Selagi enak berjalan, di jalan barat laut tiba-tiba terdengar suara bentrokan senjata. Tanpa menunggu perintah Ceng Hie, semua orang segera mempercepat tindakan, menuju ke arah suara itu.

Tak lama kemudian, lapat-lapat mereka melihat bayangan beberapa orang yang sedang bertempur. Sesudah datang lebih dekat, mereka mendapat kenyataan, bahwa tiga orang Toojin (imam) yang memegang senjata-senjata aneh tengah mengepung seorang lelaki setengah tua.

Ketiga Toojin itu mengenakan jubah panjang warna putih dan pada tangan jubah sebelah kiri terdapat sulaman obor yang berwarna merah sehingga dengan demikian, dia adalah orang Mo Kauw. Lelaki sedang dikepung bersenjatakan pedang panjang dan meskipun satu melawan tiga, dia tak jatuh di bawah angin.

Waktu itu Boe Kie sudah sembuh, tapi dia tetap berlagak belum bisa jalan dan terus duduk di kereta salju. Dengan rasa kagum, ia mengawasi. Sambil membentak keras, orang itu memutar badan dan pedangnya menyambar tepat di dada salah seorang Toojin. Para murid Go Bie bersorak sorai.

Di antara sorakan, Boe Kie pun mengeluarkan seruan tertahan, sebab ia mengenali, bahwa tikaman itu adalah Sun Siu Tiu Couw (dengan menuruti aliran sungai mendorong perahu), suatu pukulan dahsyat dari Bu Tong Kiam Hoat, dan bahwa lelaki setengah tua itu bukan lain daripada Bu Tong Liok Hiap In Lie Heng.

Rombongan Boe Kie terus menonton tanpa memberi bantuan. Melihat datangnya bantuan dan sesudah seorang kawannya roboh, kedua Toojin yang masih mengepung jadi ciut nyalinya.

Sesudah bertempur beberapa jurus lagi, sambil berteriak keras mereka lari berpencaran. Satu ke selatan dan satu ke utara. In Lie Heng menguber musuh yang lari ke selatan dan sebab ia larinya lebih cepat, dalam sekejab ia sudah bisa menyusul dan menghantam punggung Toojin itu dengan telapak tangannya. Si Toojin memutar badan dan melawan dengan nekat. Dilihat cara berkelahinya yang tak memperdulikan keselamatan diri sendiri, ia nampaknya bertujuan binasa bersama-sama.

Sementara itu, toojin yang kabur ke jurusan utara makin lama jadi makin jauh. Untuk merobohkan musuhnya yang berkelahi bagaikan harimau edan, In Lie Heng masih memerlukan waktu, sehingga biar bagaimanapun jua, ia takkan bisa menyusul toojin yang lari ke utara itu.

Murid-murid Go Bie yang sangat membenci orang-orang Mo Kauw, mengawasi Ceng Hie dengan harapan kakak seperguruan itu akan memberi perigatan supaya mereka memberi bantuan. Beberapa murid wanita yang bersahabat dengan Ki Siauw Hu mengetahui, bahwa In Lie Heng bekas tunangan Nona Ki. Setelah Ki Siauw Hu binasa karena gara-gara perebutan Kong Beng Soe Cia Yo Siauw, mereka lebih bersimpati kepada Bu Tong Liok Hiap.

Tapi Ceng Hie bersangsi. Dalam rimba persilatan Bu Tong Liok Hiap mempunyai kedudukan tinggi. Setiap bantuan yang diberikan kepadanya tanpa diminta, berarti melanggar tata kehormatan. Maka itu, setelah memikir sejenak, ia mengambil keputusan untuk tidak membantu. Ia lebih suka siluman itu meloloskan diri daripada melakukan perbuatan tidak pantas terhadap In Liok Hiap.

Sesaat itu, sekonyong-konyong di angkasa berkelabat sehelai sinar hijau, sinar pedang yang terbang dari tangan In Lie Heng. Dengan kecepatan yang tak mungkin dilukiskan, senjata itu menyambar punggung Toojin yang sedang kabur.

Si toojin sendiri bukan tidak tahu, bahwa punggungnya tengah disambar pedang, tapi sebab cepatnya senjata itu, ia tidak keburu berkelit, sehingga dilain detik, ulu hatinya sudah menjadi toblos. Tapi dia masih lari terus dan sesudah lari lagi sejauh dua tombak, barulah ia roboh binasa. Dan pedang itu sendiri, sesudah menembus ulu hati si Toojin, masih terbang kurang lebih tiga tombak, kemudian menancap di pasir!

Demikian lihainya Bu Tong Liok Hiap In Lie Heng.

Semua murid Go Bie mengawasi kejadian itu dengan mata membelalak dan mulut ternganga. Mereka tak dapat mengeluarkan suara.

Waktu semua mata ditujukan lagi ke galanggang pertempuran, Toojin yang barusan berkelahi nekat-nekatan sekarang bergoyang-goyang badannya, seperti orang mabuk. In Lie Heng tidak memperdulikannya lagi dan dengan tenang berjalan ke arah rombongan Go Bie. Baru ia berjalan beberapa tindak, Toojin bekas lawannya sudah roboh binasa.

Sekarang barulah murid-murid Go Bie bersorak-sorai, bahkan Biat Coat Seothay sendiri manggut-manggutkan kepalanya sebagai tanda memberi pujian. Di lain saat paras muka si nenek kelihatan berduka dan ia menghela nafas. Ia mengiri bahwa Bu Tong mempunyai murid-murid yang berkepandaian tinggi, sedang dalam Go Bie Pay, tak satupun yang memuaskan hati. Sesaat itu, ia ingat Ki Siauw Hu yang bernasib malang dan tidak bisa menikah dengan pria yang segagah Lie Heng.

Mengingat murid itu, ia jadi lebih sakit hati terhadap Mo Kauw yang sudah mencelakai Noan Ki. (Dalam alam pikir Biat Coat, Ki Siauw Hu dibinasakan oleh Yo Siauw dan bukan olehnya sendiri).

Bibir Boe Kie sudah bergerak untuk memanggil “Liok Susiok”, tapi bibir itu rapat kembali.

D iantara paman-pamannya, In Lie Heng-lah yang paling erat hubungannya dengan mendiang ayahnya dan selama ia berada di Bu Tong San, paman keenam itu selalu memperlakuinya dengan penuh kecintaan. Dengan hati berdebar-debar, ia mengawasi paman itu yang tak pernah dilihatnya selama delapan tahun. Ia mendapat kenyataan, bahwa Lie Heng sudah kelihatan banyak lebih tua, sedang rambut di kedua pelipisnya sudah dauk. Mungkin sekali kebinasaan Ki Siauw Hu sudah memberi pukulan hebat kepadanya.

Di dalam hati, Boe Kie ingin sekali melompat dan memeluk orang yang dicintainya itu. Akan tetapi sebisa-bisa ia menahan hati, karena ia merasa bahwa jika ia berbuat begitu, ia bakal menghadapi banyak kejadian yang tidak enak.

Sementara itu In Lie Heng sudah menghampiri Biat Coat Seothay dan seraya memberi hormat, ia berkata, “Dengan memimpin saudara-saudara seperguruan dan murid-murid turunan ketiga, yang semuanya berjumlah tiga puluh dua orang, Toa Suheng boanpwee sudah tiba di tepi It Sian Hiap. Atas titah Toasuheng Boanpwee datang kemari untuk menyambut kalian.”

“Bagus!” kata Biat Coat. “Ternyata rombongan Bu Tong Pay yang datang lebih dulu. Apakah kalian sudah bertempur dengan pihak siluman?”

“Sudah tiga kali kami kebentrok dengan rombongan dua bendera. Bendera Bok dan Bendera Hwee,” jawabnya. “Kami berhasil membinasakan beberapa siluman, tapi Citsutee Boh Seng Kok juga terluka.”

Biat Coat mengangguk, ia mengerti, bahwa meskipun Lie Heng menjawab dengan tenang, ketiga pertempuran itu tentulah pertempuran sangat hebat. Ia pun mendapat kenyataan, bahwa pihak musuh lihai sekali. Lima pendekar Bu Tong yang berkepandaian tinggi ternyata masih belum bisa mengambil jiwanya Ciang Kie Soe dan malah Cit Hiap Boh Seng Kok mendapat luka.

“Apakah kalian pernah menyelidiki kekuatan Kong Beng Teng?” tanya pula Biat Coat

“Sepanjang pendengaran, Peh Bie Kauw, Kiu Tok Hwee dan lain-lain cabang Mo Kauw datang membantu,” jawabnya. “Kata orang, Cie San Liong Ong dan Ceng Ek Hok Ong juga datang kemari.”

Biat Coat terkejut, “Cie San Liong Ong juga datang?” ia menegas. Sambil bicara, mereka berjalan dengan perlahan, diikuti dari kejauhan oleh murid-murid Go Bie.

Sesudah beromong-omong kira-kira setengah jam, Lie Heng mengangkat kedua tangannya untuk berpamitan dengan mengatakan bahwa ia harus berhubungan dengan Hwa San Pay.

“In Liok Hiap,” kata Ceng Hie, “Sesudah berjalan jauh, kau mestinya sudah lapar. Lebih baik makan dulu.”

In Lie Heng tidak berlaku sungkan. “Terima kasih, baiklah.” Katanya sambil mengangguk.

Murid-murid wanita Go Bie lantas saja mengeluarkan makanan kering. Beberapa diantaranya membuat dapur, menyalakan api, dan memasak air. Makanan mereka sendiri sangat sederhana, tetapi kepada In Lie Heng, mereka ingin menyediakan santapan yang sebaik-baiknya. Semua kecintaan itu telah diunjuk sebab mereka ingat Ki Siauw Hu yang telah tiada lagi di alam dunia.

In Lie Heng pun mengerti apa yang dipikir oleh mereka. Dengan mata merah dan suara terharu, ia berkata, “Terima kasih atas kebaikan Suci dan Soemoay.”

Sekonyong-konyong Coe Jie berkata, “In Liok Hiap, aku ingin mencari keterangan mengenai seseorang. Apa boleh?”

Dengan tangan memegang semangkok mie kuah, In Lie Heng menengok ke arah si nona dan berkata dengan suara manis. “Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama yang mulia dari Siauw Soemoay? Hal apa yang mau ditanyakannya” Asal saja aku tahu, aku tentu akan memberitahukan.”

“Aku bukan orang Go Bie Pay,” Jawabnya. “Aku malah lawan mereka dan telah ditangkap oleh mereka. Sekarang aku menjadi tawanan Nikouw tua itu.”

Mendengar jawaban itu, In Lie Heng yang semula menduga bahwa si nona adalah murid Go Bie Pay, jadi tercengang. Tapi karena nona itu sangat polos dan berterus terang, ia jadi merasa suka kepadanya. “Apa kau anggota Mo Kauw?” tanyanya.

“Juga bukan!” jawab Coe Jie. “Aku malah musuh Mo Kauw.”

In Lie Heng jadi bingung, tapi ia tak punya tempo untuk bicara panjang-panjang. Sebagai penghargaan terhadap pihak tuan rumah, ia mengawasi Ceng Hie dengan sorot mata menanya.

“Keterangan apa yang kau ingin dapat dari In Liok Hiap?” kata Ceng Hie.

“Pertanyaanku adalah ini: Apakah suhengmu Thio Cui San Thio NgoHiap juga datang di It Sian Hiap?” kata Coe Jie.

“Perlu apa kau menanya begitu?” menegas In Lie Heng.

Paras muka Coe Jie bersemu merah. “Aku ingin mencari tahu, apakah putera Thio Ngohiap yang bernama Boe Kie juga datang kemari,” katanya dengan suara perlahan.

Boe Kie terkejut, “Apa Coe Jie sudah tahu siapa adanya aku?” tanyanya di dalam hati.

“Apa kau bicara sungguh-sungguh?” Tanya pula In Lie Heng.

“Sungguh-sungguh,” jawabnya.

“Aku tidak berani main-main terhadap In Liok Hiap.”

“Sudah sepuluh tahun NgoKo meninggal dunia,” kata Lie Heng dengan suara perlahan. “Apa benar nona tak tahu?”

Coe Jie melompat bangun. “Ah!” serunya. “Thio Ngohiap sudah meninggal dunia?! Kalau begitu, dia sudah yatim piatu.”

“Apakah nona mengenal keponakanku Boe Kie?” Tanya In Lie Heng.”

“Lima tahun berselang, di rumah Tiap Kok Ie Sian Ouw Ceng Goe, aku pernah bertemu dengannya,” jawab si nona. “Tapi sekarang aku tak tahu di mana ia berada.”

“Atas titah Soehoe, akupun pernah datang di Ouw Tiap Kok untuk menemui Boe Kie.” Kata pula In Lie Heng. “Akan tetapi, suami isteri Ouw Ceng Goe telah dibinasakan orang dan Boe Kie tak ketahuan kemana perginya. Lama juga aku menyelidiki tanpa berhasil. Belakangan hai! Tak dinyana…tak dinyana.. Ia tak dapat meneruskan perkataannya, sedang paras mukanya berubah sedih.

“Ada apa?” Tanya si nona tergesa-gesa. “Apa yang didengar olehmu?”

Dengan rasa heran, In Liok Hiap menatap wajah Coe Jie. “Nona,” katanya. “Mengapa kau menaruh perhatian begitu besar?” Apakah keponakanmu sahabat atau musuhmu?”

Coe Jie mengawasi ke tempat jauh. Beberapa saat kemudian, barulah ia berkata dengan suara perlahan. “Aku telah mengajak dia pergi ke pulau Leng Coa To…”

“Leng Coa To?” memutus Lie Heng. “Pernah apa nona kepada Gin Yap Sianseng dan Kim Hoa Popo?”

Si nona tidak menjawab. Ia terus melamun dan bagaikan seorang linglung, ia berkata pula pada dirinya sendiri. “Dia bukan saja menolak, tapi juga memukul, mencaci dan bahkan menggigit tanganku, hingga darahku mengucur…” Seraya berkata begitu, “telapak tangan kirinya mengusap-usap belakang tangan kanannya tapi…tapi…ku tetap tak dapat melupakannya. Aku bukan mau mencelakai dia, aku ingin bisa mengajak dia ke Leng Coa To supaya dia bisa menerima pelajaran ilmu silat yang tinggi dari Popo. Aku ingin berusaha untuk mengusir racun dingin Hian Beng Sin Ciang yang mengeram dalam tubuhnya. Tapi dia garang luar biasa. Dia menganggap maksudku yang begini baik sebagai niatan jahat.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: