Kumpulan Cerita Silat

14/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 44

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:34 am

Memanah Burung Rajawali – 44
Bab 44. Ilmu yang Sejati dan yang Palsu
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Batang pohon cemara tua dan besar itu bagaikan dilindas balok-balok itu, yang berputar di sekitarnya berputar tak hentinya. Dengan babakan runtuh, batang itu menjadi terlebih licin dan berputarnya balok-balok tak seberat semula.

Auwyang Hong tidak percaya Thian, malaikat atau iblis, tetapi sekarang diam-diam ia memuji supaya mereka diberikan tambahan tenaga, supaya batu raksasa itu dapat terangkat cukup tinggi hingga kedua kaki keponakannya tak tertindih lebih lama lagi. Asal batu itu dapat terangkat, Auwyang Kongcu bisa diangkat untuk disingkirkan.
(more…)

Kisah Membunuh Naga (34)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:57 am

Kisah Membunuh Naga (34)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Hanko dan Thor)

“Setiap laba-laba ini,” menyahut si nona, “mestinya tubuhnya dari belang menjadi hitam, dari hitam menjadi putih. Dengan begitu habislah racunnya dan mati dengan sendirinya. Racunnya masuk dalam telunjukku. Untuk menjadi sempurna, aku mesti menghabiskan seribu laba laba. Untuk mencapai puncak kesempurnaan, aku harus menghabiskan lima ribu sampai selaksa ekor masih belum cukup.”

Boe Kie heran, hatinya jeri.
(more…)

Hina Kelana: Bab 130. Gi-lim Membeberkan Isi Hatinya

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — ceritasilat @ 12:53 am

Hina Kelana
Bab 130. Gi-lim Membeberkan Isi Hatinya
Oleh Jin Yong

Baru sekarang Lenghou Tiong tahu duduknya perkara, pantas Gi-ho, Gi-jing, dan lain-lain begitu giat mengawasi latihan Gi-lim sebagaimana pernah dilihatnya itu, kiranya mereka berharap kelak Gi-lim yang akan mewarisi jabatan ketua Hing-san-pay. Sungguh jerih payah mereka itu harus dipuji dan juga suatu tanda penghormatan mereka terhadap diriku. Demikian pikirnya.

Dengan perasaan hambar Gi-lim lalu berkata pula, “Nenek bisu, sering kukatakan padamu bahwa aku senantiasa terkenang kepada Lenghou-toako, siang terkenang, malam terkenang, mimpi juga selalu mengimpikan dia. Teringat olehku waktu dia menolong diriku tanpa menghiraukan bahaya akan jiwa sendiri. Sesudah dia terluka, kupondong dia melarikan diri. Teringat olehku dia minta aku mendongeng baginya, lebih-lebih sering teringat olehku ketika aku dan dia ti… tidur bersama di suatu ranjang di rumah apa itu di Kota Heng-san, satu selimut kami pakai bersama. Nenek bisu, kutahu engkau tak bisa mendengar, maka aku takkan malu mengatakan hal-hal itu padamu. Jika tak kukatakan, rasanya aku bisa gila. Kubicara denganmu, kupanggil nama Lenghou-toako, maka untuk beberapa hari hatiku akan merasa tenteram.”
(more…)

Blog at WordPress.com.