Kumpulan Cerita Silat

13/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 43

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:19 am

Memanah Burung Rajawali – 43
Bab 43. Melawan Batu Besar
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Walaupun ia telah berkeputusan demikian, Auwyang Kongcu tidak segera turun tangan untuk mewujudkan itu. Ia masih sangat lelah maka ia beristirahat terus. Ia menjalankan napasnya, untuk meluruskan pernapasannya.

Sesudah berselang lama, baru ia berbangkit bangun, akan mencari sebatang pohon yang kuat, yang ia patahkan, untuk dipakai sebagai senjata, untuk menotok jalan darah. Tiba di dekat gua, ia bertindak dengan hati-hati. Biar bagaimana, ia masih jeri terhadap pengemis tua itu. Di mulut gua ia memasang kupingnya. Ia tidak dapat mendengar suara apa juga. Ia masih menanti beberapa saat, baru ia bertindak masuk. Tidak berani ia masuk langsung, ia mepet-mepet di pinggiran, majunya setindak demi setindak. Sekarang ia bisa melihat Pak Kay lagi duduk bersila menghadap matahari, orang tua itu lagi berlatih dengan ilmu dalamnya, dilihat dari air mukanya yang segar, ia seperti tidak tengah menderita luka parah.

“Baiklah aku mencoba dulu, untuk mengetahui dia dapat berjalan atau tidak,” berpikir si anak muda, yang sangat berhati-hati. Setelah diperdayakan Oey Yong, ia menjadi semakin cerdik.

“Paman Ang!” ia berseru. “Celaka! celaka…!”

Ang Cit Kong dapat mendengar teriakan itu, ia sudah lantas membuka matanya.

“Ada apa?” ia menanya.

“Adik Oey mengejar kelinci, dia terjatuh ke dalam jurang…!” ia menyahut, suaranya dibikin tak lancar. “Dia terluka parah, sampai ia tak dapat bangun!”

Nampaknya Ang Cit Kong kaget.

“Lekas tolongi dia!” dia berseru.

Mendengar perkataan orang itu, girangnya Auwyang Kongcu bukan kepalang. Ia mengerti, kalau bukannya pengemis tua itu tidak dapat berjalan, mestinya ia sendiri sudah berlompat bangun dan berlari pergi, guna menolong nona itu. Maka ia bertindak maju di mulut gua seraya sembari tertawa lebar ia berkata: “Dia telah menggunakan seribu satu akal untuk mencelakai aku, mana sudi aku menolongi dia? Pergi kau sendiri yang menolonginya?!”

Ang Cit Kong terperanjat. Kata-katanya si anak muda dan sikapnya itu menandakan bahwa orang tak jeri lagi kepadanya.

“Rupanya ia telah mendapat ketahui kepandaianku sudah musnah,” pikirnya. “Inilah tandanya telah habis lelakon hidupku…!”

Tapi Pak Kay tidak hendak menyerah dengan begitu saja, maka ia bersiap sedia untuk mati bersama. Diam-diam ia mencoba mengumpul tenaganya di tangan, untuk menghajar dengan sekali pukul. Kesudahannya ia kaget sekali. Begitu bertenaga, ia merasakan luka si punggungnya sakit, semua tulang-tulangnya seperti hendak buyar belarakan. Sementara itu ia melihat mendatangi sambil memperlihatkan muka menyeringai. Tanpa merasa ia menghela napas panjang, lantas ia meramkan kedua matanya untuk menantikan kebinasaannya….

Ketika itu Oey Yong di dalam air telah berpikir, menduga bahwa selanjutnya makin sukar melayani Auwyang Kongcu, yang mestinya jadi semakin licin. Ia selulup beberapa tombak jauhnya, baru ia muncul di muka air. Ketika ia melihat daratan, itulah bukan tempat dimana tadi ia telah bergulat sama Auwyang Kongcu. Di sini pepohonannya lebih lebat. Tiba-tiba saja ia dapat ingat pulaunya sendiri, maka ia berpikir: “Alangkah baiknya kalau aku dapat cari suatu tempat bersembunyi, untuk aku berdiam bersama suhu sambil merawati suhu, tentulah si bangsat tidak gampang-gampang dapat mencari kita…”

Habis berpikir, si nona mendarat. Ia tidak berani lantas jalan begitu saja, ia berjalan di sepanjang tepian. Ia khawatir nanti ketemu sama keponakannya Auwyang Hong itu.

“Coba dulu aku tidak terlalu gemar memain dan aku pelajari ilmu Kie-bun Ngo-heng, sekarang tentulah dapat aku melayani bangsat itu,” pikirnya pula. Ia seperti ngelamun. “Ah, sayang ayah telah menyerahkan peta Tho Hoa To kepadanya! Jahanam itu sangat cerdas, tentulah ia pun dapat memahamkan peta itu…

Berjalan seperti melamun, Oey Yong kurang memperhatikan jalanan yang dilalui. Tiba-tiba ia keserimpat oyot rotan dan terhuyung karenanya. Berbareng dengan itu di kepalanya terdengar bunyi apa-apa yang disusul sama meluruk jatuhnya butir-butir tanah keras seperti batu. Segera ia lompat nyamping, terus ia angkat kepalanya, memandang ke atas. Apa yang ia saksikan membuatnya kaget sekali, hingga jantungnya berdenyutan.

Di atas itu, yang merupakan lamping, ada sebuah batu besar. Batu itu seperti merongkong sebelah, nampaknya seperti bergoyangan, hingga sembarang waktu bisa jatuh ke bawah. Pelurukan batu barusan datangnya dari bawah batu besar itu. Di batu itu pun ada melibat banyak pohon rotan, satu di antaranya ialah yang meroyot ke bawah, yang barusan kena ia injak sehingga ia keserimpat. Hancur remuk tubuhnya, andaikata batu itu jatuh dan menimpa padanya….

Masih Oey Yong dongak mengawasi, sampai kagetnya lenyap. Ia heran atas keletakannya batu itu. Itulah pengaruh sang alam. Hanya dengan disentil sekali saja mungkin batu itu jatuh ambruk. Entah sudah berapa puluh tahun batu itu bercokol di tepi jurang itu.

Sampai di situ, batal Oey Yong maju terus. Ia sekarang berjalan kembali. Ingin ia melihat gurunya. Ia belum berjalan jauh ketika mendadak ia mendapat satu pikiran.

“Yang Maha Kuasa hendak membinasakan jahanam itu maka juga telah diciptakan ini batu luar biasa,” demikian pikirnya. “Kenapa aku jadi setolol ini?”

Girang luar biasa nona ini hingga ia berjingkrakan jungkir balik dua kali. Ia lantas lari kembali ke tempat batu tadi, ia memasang mata untuk memperhatikan keletakannya. Di samping itu ada banyak pohon yang besar dan tinggi. Kalau orang berlompat menyingkir, paling jauh juga orang dapat berlompat empat atau lima kaki. Kalau batu jatuh, burung sekalipun tak keburu terbang menyingkir….

Segera nona ini mengeluarkan pisau belatinya, yang panjang empat dim kira-kira. Itulah pisau peranti menyembelih ayam atau memotong daging. Ia cekal itu di tangan kanan, lantas ia bertindak turun ke lembah. Ia perdatakan tujuh atau delapan oyot rotan yang melibat batu besar itu, ia tidak mengganggunya, hanya ia memotong putus beberapa puluh oyot lainnya. Ia bekerja cepat, saban-saban ia menahan napas dan menghela. Ia pun berlaku hati-hati, supaya ia tidak usah membikin batu itu kena tertarik. Karena ia mesti mengutungi puluhan oyot, ia menjadi mandi keringat. Kemudian, setelah mengumpulkan semua oyot itu, agak tak kentara sudah diputuskan, baru ia bertindak pergi. Ia mencoba mengingati baik-baik tempat ini. Ia berjalan sambil bernyanyi dengan perlahan, suatu tanda ia merasa puas sekali.

Selagi mendekati gua, si nona tidak melihat Auwyang Kongcu. Ia berjalan terus. Sekonyong-konyong ia mendengar suara tertawa panjang dan nyaring yang keluar dari dalam gua. Ia kenali suaranya si anak muda, yang mana disusul sama kata-katanya yang nyaring: “Kau sombongkan kepandaianmu yang lihay, sekarang kau roboh di tangan kongcumu? Kau takluk tidak? Baiklah, karena aku berkasihan untuk usiamu yang sudah lanjut, aku menyerah untuk kau menyerang dulu tiga kali! Bagaimana?”

Takutnya Oey Yong bukan main. Ia insyaf bahaya yang mengancam gurunya itu. Ia tapinya cerdik luar biasa. Disaat berbahya seperti itu, ia mendapat akal.

“Ayah, ayah!” ia berteriak-teriak. “Kenapa kau datang ke mari? Eh, kau juga Auwyang Peehu? Kenapa kau pun datang?”

Nyaring suaranya si nona, suara itu terdengar sampai di dalam gua.

Auwyang Kongcu tengah mempermainkan Ang Cit Kong, yang ia hendak membinasakannya, dia menjadi kaget sekali mendengar suara si nona.

“Ah, kenapa pamanku bisa datang bersama-sama Oey Lao Shia?” pikirnya. Ia sangat bersangsi, hingga ia memikir pula: “Jangan ini pun main gilanya si budak cilik. Ia hendak menolongi pengemis bangkotan ini, dia menipu aku supaya aku keluar…. Tapi tak apa, baik aku melihat dulu, pengemis ini toh tak bakal lolos dari tanganku!”

Maka ia bertindak keluar dari gua.

Oey Yong berada di tepian, di pasir.

“Ayah! Ayah!” suaranya terdengar, tangannya di ulap-ulapkan.

Auwyang Kongcu memandang jauh, di sekitarnya juga. Ia tidak melihat siapa juga di antara mereka apa pula Oey Yok Su atau pamannya. Maka ia tertawa terbahak-bahak.

“Adikku, kau memancing aku supaya aku menemani kau?” katanya. “Kau lihat, bukankah aku sudah keluar?”

Si nona menoleh, ia tertawa, matanya pun memain.

“Siapa kesudian mendustai kau?” katanya manis. Dan ia lari di sepanjang pasir.

Auwyang Kongcu tertawa.

“Kali ini aku telah bersiaga,” katanya. “Jikalau kau memikir untuk menyeret pula aku ke laut, marilah kita mencoba-coba!”

Sembari berkata, pemuda ini lari untuk mengejar. Hebat ilmunya ringan tubuh, sebentar saja dia sudah datang dekati si nona.

“Celaka…” mengeluh Oey Yong. “Kalau aku tidak keburu sampai di batu itu, pasti dia bakal dapat menawan aku…” Maka ia lari terus sekuatnya.

Lagi beberapa puluh tombak, Auwyang Kongcu telah datang semakin dekat.

Oey Yong lari ke kiri, mendekati laut, tinggal lagi beberapa kaki.

Benar-benar Auwyang Kongcu telah menjadi cerdik, tidak mau ia mendekati.

“Baiklah, mari kita main perak umpat!” katanya tertawa. Ia maju pula, ia terus waspada.

Oey Yong menghentikan tindakannya, ia juga tertawa.

“Di depan sana ada seekor harimau galak,” katanya, “Jikalau kau tetap menyusul aku, kau nanti diterkam dan digegares olehnya!”

“Aku sendiri pun harimau!” tertawa si anak muda. Ia tidak percaya perkataan orang. “Aku pun hendak mencplok padamu!”

Oey Yong tertawa, tanpa menyahuti ia lari pula.

Demikian mereka main lari-larian atau kejar-kejaran hingga mereka datang dekat ke batu separuh tergantung itu. Di sini Oey Yong lari makin keras. Ia harus menang tempo.

“Mari!” ia menantang. Dan ia berlompat pesat ke arah depan batu.

Hanya sekelebatan, ia merasa melihat bayangan orang di pesisir. Tapi ia lagi menghadapi saat tegang itu, biar pun ia heran,ia tidak sempat mencari tahu. Ia lari terus sampai di tempat oyot rotan tadi. Dengan tiga kali lompatan, tibalah ia di lembah.

“Mana si harimau?” tanya Auwyang Kongcu mengejek. Ia pun menambah pesatnya larinya, sehingga ia juga tiba di depan lembah.

Sekonyong-konyong pemuda ini mendengar suara berkeresek di atasan kepalanya, suaranya itu disusul sama sambaran angin. Ia lantas menagangkat kepalanya, dongak untuk melihat. Bukan main kagetnya ia. Ia menampak sebuah batu besar justru jatuh ke arahnya. Tidak ada jalan lain. Ia berlompat ke samping. Ia lompat tanpa melihat lagi arahnya. Ia terkejut ketika ia merasakan tubuhnya membentur sebuah pohon, yang terus patah dan bagian patahannya melukai punggungnya. Lupa ia pada rasa sakit, ia cuma ingat menyingkir, menyingkir…. Ia mencoba berlompat pula….

Disaat seperti itu, Auwyang Kongcu sudah seperti pingsan, tetapi ia masih merasakan ada tangan yang kuat yang menyambar menjambak batang lehernya, terus ia ditarik. Meski begitu, jatuhnya batu cepat luar biasa, ia masih ketimpa juga, maka robohlah ia dibarengi jeritannya yang hebat sekali, debu dan batu pun muncrat! Debu itu mengepul bagaikan uap.

Oey Yong melihat jebakannya telah memberi hasil, ia girang berbareng kaget. Ia tidak menyangka bahwa jatuhnya batu demikian hebat. Ia menjatuhkan diri ke tanah, untuk duduk menumprah seraya meletaki kedua tangannya di atasan kepalanya. Ia baru mengangkat kepala dan membuka matanya ketika ia mendengar sirapnya suara nyaring dan berisik. Samar-samar ia menampak dua tubuh orang berdiri di sisi batu besar itu. Seperti orang lagi bermimpi, ia mengucak-ucak kedua matanya. Lalu ia mengawasi pula, dengan perhatian dipusatkan. Tidak salah, di situ ada dua orang lain, bahkan orang itu ialah Auwyang Hong dan Kwee Ceng! Si anak muda yang ia seperti tidak tak dapat melupakannya….

“Engko Ceng!” akhirnya ia berseru seraya ia berlompat bangun.

Kwee Ceng juga tidak menyangka di tempat itu dapat menemui kekasihnya itu, ia juga berlompat menubruk, untuk merangkul erat-erat si nona. Hingga keduanya lupa bahwa di samping mereka berada musuh besar mereka!

*
* *

Auwyang Hong dan Kwee Ceng tenggelam terbawa perahu mereka yang masuk ke dasar laut terbawa oleh usar-usaran air. Memangnya perahu itu, yang tinggal sebelah, telah kemasukan banyak air. Segera juga mulult dan hidung mereka menyedot air asin, hingga keduanya menjadi kaget. Mereka menginsyafi bahaya. Karena itu mereka tidak berkutat terlebih jauh, sama-sama mereka melepaskan tangan mereka, untuk sebaliknya dipakai menekap hidung dan kuping. Mereka pun terbawa arus hingga jauh. Ketika Kwee Ceng timbul di muka air, untuk bernapas, ia melihat jagat gelap, perahu kecil entah pergi ke mana. Ia menjerit-jerit, tidak ada yang menyahuti, meskipun sebenarnya Oey Yong tengah mencari-cari padanya. Damparan gelombangan sangat berisik, angin juga tak kurang ributnya.

Selagi Kwee Ceng berteriak-teriak pula, ia merasa ada yang menarik kakinya yang kiri, atau dilain saat muncullah Auwyang Hong di sisinya. Dia ini tidak pandai berenang, maka itu, kecebur di laut, ia habis daya. Syukur dia dapat mencekal kakinya si anak muda, dia terus tidak mau melepaskannya, bahkan ia memegang juga kaki yang kanan. Sia-sia Kwee Ceng meronta-ronta.

Mereka berkutat pula, hingga mereka tenggelam kembali. Tak lama, keduanya mengambang lagi.

“Lepaskan tanganmu!” Kwee Ceng berseru. “Aku tidak akan tinggalkan kau!”

Auwyang Hong tidak mau melepaskannya, baru sesaat kemudian, ia melepaskan kaki yang sebelah. Rupanya ia ingat, dengan bergulat terus, mereka bakal mati bersama.

Kwee Ceng lantas berenang, sembari berenang ia mengangkat sedikit rusuk jago tua itu. Untung untuk mereka, tidak lama mereka membentur sepotong balok, maka si anak muda berpegang pada balok itu. Dengan begitu tak usah ia memakai banyak tenaga lagi.

“Lekas peluki balok ini!” ia berteriak. “Jangan lepas!”

Auwyang Hong menurut.

Bukan main girangnya pemuda ini.

Mereka terombang-ambing di laut sehingga sang fajar datang. Sekarang ternyata balok itu ada patahan tiang layar mereka. Hanya melihat kelilingan, mereka tak nampak perahu.

Auwyang Hong sangat berduka. Tongkatnya pun sudah lenyap, hingga ia menjadi sangat berkhawatir.

“Kalau ada ikan cucut di sini, mana bisa aku melawan seperti Ciu Pek Thong…?” pikirnya. “Ketika itu ada aku yang menolongi dia, tetapi sekarang, siapa yang menolongi aku…?”

Mereka lapar dan berdahaga. Syukur, untuk dahar mereka bisa mengunyah ikan mentah. Kalau ada ikan yang lewat disampingnya, Kwee Ceng menikam dengan piasu belatinya, dan Auwyang Hong menhajar dengan tangannya. Hebat rasanya untuk menggerogoti ikan mentah itu.

Sekarangb mereka tidak bergulat lagi. Maka itu hari, sampailah mereka di tepian pulau di mana Cit Kong, Oey Yong dan Auwyang Kongcu telah tiba. Mereka mendarat untuk beristirahat. Tiba-tiba mereka mendengar suara orang berbicara sambil tertawa-tawa. Keduanya heran, Auwyang Hong yang berlompat paling dulu untuk melihat orangnya. Tepat ia melihat batu lagi jatuh turun dan keponakannya lagi terancam, maka ia melesat akan menyambar keponakannya itu. Ia masih terlambat, sebab kesudahannya kedua kaki Auwyang Kongcu kena tertindih juga batu raksasa itu, anak muda itu menjerit untuk terus pingsan.

Untuk sejenak Auwyang Hong memandang keliligan, setelah merasa pasti tidak ada ancaman bahaya lainnya, ia menghampirkan keponakannya itu. Ia mendapat kenyataan sang keponakan cuma pingsan, maka hatinya menjadi sedikit lega. Ketika mencoba mendorong batu, ia tidak berhasil, tidak peduli tenaganya besar luar biasa.

“Paman…” memanggil keponakan itu perlahan, setelah ia sadar, sedang pamannya lagi membungkuk.

“Tahan sakit,” menyahut paman itu. Ia lalu memeluk, untuk menarik.

Auwyang Kongcu menjerit, kembali pingsan. Hebat tarikan itu sedang kaki tidak bergeming.

Paman itu menjublak.

“Mana suhu?” tanya Kwee Ceng, yang menarik tangan Oey Yong. Ia seperti tidak ingat itu paman dan keponakannya.

“Di sana,” sahut si nona, tangannya menunjuk.

Lega hatinya si anak muda. Selagi ia mau minta si nona mengajak dia pergi kepada gurunya, justru ia mendengar jeritannya Auwyang Kongcu itu. Dasar hatinya mulia, ia menjadi tidak tega.

“Mari aku bantu padamu!” ia berkata kepada Auwyang Hong.

Oey Yong menarik tangan pemuda itu.

“Mari kita lihat suhu!” ia mengajak. “Kita jangan pedulikan manusia jahat!”

Auwyang Hong tidak tahu bahwa batu besar itu jatuh karena ulahnya si nona, meski begitu ia gusar mendengar perkataan orang itu. Ia pun mengingat suatu apa akan mendengar Ang Cit Kong masih hidup serta berada di tempat itu. Ia membiarkan orang pergi, kepada keponakannya, ia berbisik. “Kau tahan sabar, aku nanti cari akal untuk menolongmu.” Ia berlompat naik ke atas pohon, mengawasi ke arah mana muda-mudi itu pergi. Panas hatinya menyaksikan orang jalan rapat asyik sekali.

“Jikalau aku tidak dapat menyiksa kamu berdua bangsat cilik hingga kau mati tidak hiudp juga tidak, percuma aku disebut See Tok!” katanya dalam hatinya dengan sengit sekali. Habis itu ia lomat turun dari pohon, untuk menguntit.

Kwee Ceng berdua bersama Oey Yong berjalan terus sampai di mulut gua. Mereka tidak tahu bahwa mereka ada yang membayangi.

“Suhu!” memanggil si anak muda memasuknya ia di dalam gua.

Cit Kong kelihatan lagi menyender di batu, matanya tertutup rapat, mukanya sangat pucat. Karena di ganggu Auwyang Kongcu, penyakitnya yang baru baikan kumat pula. Karena itu ia berdiam saja mendengar panggilan muridnya.

Dua-duanya Kwee Ceng dan Oey Yong menghampirkan, yang satunya membukai kancing bajunya, yang lainnya menguruti tangan dan kakinya.

Akhirnya Ang Cit Kong membuka matanya. Melihat Kwee Ceng, yang ia segera mengenalinya, ia girang. Ia tersenyum.

“Anak Ceng, kau pun datang!” katanya lemah.

Kwee Ceng hendak menyahuti gurunya itu tatkala ia terkejut mendengar suara nyaring dibelakangnya: “Pengemis tua, aku juga datang!”

Itulah suaranya Auwyang Hong, yang telah menguntit sampai di luar gua.

Kwee Ceng bangun untuk memutar tubuh dan berlompat maju, ia menghalang di pintu dengan sikapnya “Sin liong pa bwee” atau “Naga sakti menggoyang ekornya”. Oey Yong sendiri menyambar tongkat gurunya terus ia berlompat ke samping pemudanya.

Auwyang Hong tertawa

“Pengemis bangkotan, keluar!” katanya nyaring. “Jikalau kau tidak keluar, nanti aku yang masuk ke dalam!”

Kwee Ceng menoleh kepada Oey Yong dan mengedipi mata, maksudnya memberitahu, apa juga bakal terjadi, hendak ia membela gurunya.

Auwyang Hong tidak memperoleh jawaban, ia tertawa lalu ia mju. Atas itu tanpa bersangsi lagi, Kwee Ceng menyerang. Inilah See Tok telah duga, malah ia menerka juga orang akan menggunai Hang Liong Sip-pat Ciang, dari itu ia sudah bersiaga untuk itu. Ia berkelit dengan berlompat ke kanan. Tapi di sini ia dipapaki tongkat, kelihatannya tongkat menyontek ke atas, tidak tahunya menyapu ke bawah berulang-ulang, hingga ia tidak dapat menduga tepat arah serangan orang. Diam-diam hatinya terkesiap. Ia lantas melindungi dirinya, untuk mencegah serangan apa juga.

Tapi hebat tongkat itu, ialah tongkatnya Oey Yong. paling akhir ujung tongkat mencari jalan darah di pinggang.

Saking kaget, Auwyang Hong berlompat mundur, segera ia melirik. Ia tidak menyangka si nona menjadi begini lihay.

Oey Yong mendapat hati melihat musuh mundur.. Ia telah menggunai tipu-tipu dari Pa-kauw-pang, yang ia belum dapat menguasai dengan mahir. Sebaliknya See Tok belum pernah melihat ilmu silat itu.

“Hm!” berseru si Bisa dari Barat sambil ia berlompat maju, tangannya diulur untuk merampas tongkat si nona.

Oey Yong dapat berkelit, ketika ia dirangsak, masih ia bisa menyingkir dari pelbagai serangan.

Kwee Ceng girang berbareng heran menyaksikan ilmu silat kawannya itu. Ia tidak menonton lebih lama, ia lantas maju, untuk menyerang dari samping.

Auwyang Hong menjadi sangat gusar, ia berlompat mundur, lalu ia berdongko, menyusul itu kedua tangannya menyerang dengan berbareng hingga anginnya berdesir.

Hebat serangan itu, ialah serangan menurut Kuntauw Kodok. Debu pun sampai kena dibikin terbang.

Kwee Ceng melihat ancaman bahaya, dengan cepat ia menolak pundaknya Oey Yong – orang yang diserang itu – hingga si nona terhuyung, tetapi dengan begitu ia terhindar dari bahaya.

Auwyang Hong penasaran, ia maju dua tindak, kembali ia menolak dengan sepasang tangannya.

Memang hebat Kuntauw Kodok dari See Tok ini, sebagaimana ternyata, Ang Cit Kong yang begitu lihay cuma bisa bertarung seri dengannya.

Segera juga Kwee Ceng dan Oey Yong kena didesak mundur, sebab mereka main berkelit saja. Auwyang Hong dapat memasuki gua. Ketika ia menyerang gagal ke kiri, ia menghantam pinggiran gua hingga batu dan tanahnya gugur. Setelah itu ia menyerang dengan tangan kanannya ke arah Ang Cit Kong.

Pak Kay sedang menutup mata ketika ia mendengar desiran angin dari pukulan-pukulan yang dahsyat itu, lantas ia membuka matanya.

“Ilmu silat yang bagus sekali!” pujinya. “Tangan yang hebat!”

Mukanya Auwyang Hong menjadi merah, ia merasa diejek. Bukankah ia sedang melayani segala bocah? Maka tangannya itu tak dapat diteruskan.

“Guruku menolongi jiwamu, kau sekarang hendak mencelakai guruku? Oey Yong berteriak. “Sungguh kau tidak mempunyai muka?!”

Batal menyerang, Auwyang Hong menolak dengan perlahan tubuhnya si Pengemis dari Utara. Ia merasakan dada dan daging yang lembek, hingga dada itukentop. Biasanya, ditekan begitu, tubuh seorang ahli silat mesti membal untuk melawan, tapi ini sebaliknya, maka tahulah See Tok bahwa kepandaian orang telah lenyap. Ia lantas membungkuk, berniat mengangkat tubuhnya si pengemis.

“Kamu membantui aku menolongi keponakanku, nanti aku beri ampun jiwanya ini penegemis tua!” ia berkata bengis. Ia mengancam si pemuda dan pemudi.

“Thian yang menurunkan batu itu menindih dia, kau melihatnya dengan matamu sendiri!” berkata Oey Yong, menyahuti. “Siapa sanggup menolongi dia? Jikalau kau berbuat jahat, nanti Thian pun melemparkan batu besar itu untuk menindih padamu sampai mampus!”

Auwyang Hong angkat tubuhnya Ang Cit Kong tinggi-tinggi, ia mengancam hendak melemparkannya.

Kwee Ceng sangat mulia hatinya, ia tidak tahu bahwa orang lagi menggertak.

“Lekas turunkan guruku!” ia berseru. “Nanti kita bantui kau!”

Sebenarnya Auwyang Hong ingin lekas-lekas menolongi keponakannya itu, tetapi ia tidak sudi kentarakan itu, ia justru membawa aksi. Kemudian ia menurunkan tubuh Cit Kong dan meletakinya dengan baik.

“Untuk membantui kau menolongi dia tidaklah sukar!” berkata Oey Yong. Ia masih penasaran, ia menyebutnya Auwyang Kongcu dengan “dia”. Tetapi kita harus membuat dulu tiga perjanjian!”

“Eh, budak perempuan, kesulitan apa lagi kau hendak mengajukannya?!” See Tok mendongkol.

“Sesudah kami membantu kau menolongi keponakanmu itu, kita tinggal bersama-sama di pulau ini,” menjawab Oey Yong. “Selama itu kau tidak boleh mengganggu pula kami guu dan murid bertiga!”

Auwyang Hong terus mengangguk, karena ia sudah lantas ingat dia dan keponakannya tidak bisa berenang, untuk dapat pulang ke daratan, mereka mengandal bantuannya tiga orang itu.

“Baik!” ia memberikan janjinya. “Selama berada di pulau ini, aku pasti tidak akan turun tangan terhadap kamu, tetapi nanti di daratn, itulah sukar untuk atau membilangnya…”

“Sampai itu waktu, biarnya kau tidak turun tangan, kami yang bakal turun tangan terhadapmu!” kata Oey Yong menantang. “Sekarang yang kedua. Ayahku telah menjodohkan aku dengan dia, kau melihatnya sendiri, kau mendengarnya sendiri juga, maka itu kalau di belakang hari keponakanmu itu menggerembengi pula padaku, ia lah binatang yang tak mirip-miripnya sekalipun dengan anjing babi!”

“Hm!” terdengar suara tawar dari See Tok. “Baiklah, tetapi ini pun terbatas selama kita berada di pulau ini, seberlalunya kita dari sini, kita lihat saja nanti!”

Oey Yong tersenyum.

“Sekarang syarat yang ketiga!” ia berkata pula. “Kami akan membantu kau dengan sungguh-sungguh akan tetapi umpama kata Thian hendak mengantarkan jiwa keponakanmu itu pulang ke alam baka, itulah bukannya tenaga manusia yang dapat mencegahnya, maka itu kau tidak boleh menimbulkan lain urusan lagi!”

Kedua mata Auwyang Hong mendelik dan berputar.

“Jikalau keponakanku sampai mati, si pengemis tua jangan harap dapat hidup lebih lama!” katanya bengis. “Budak cilik, jangan kau ngaco belo lebih lama! lekas kau tolongi keponakanku itu!”

Habis berkata, jago dari Barat ini lantas lompat keluar dari gua, untuk berlari-lari keras ke arah lembah.

Kwee Ceng hendak lompat menyusul tetapi si nona tarik tangannya.

“Engko Ceng,” ia berkata, memesan, “Kalau sebentar See Tok membantu mendorong batu besar itu, kau gunai ketikamu untuk membokong dia untuk membikin habis jiwanya!”

“Cara membokong itu bukan cara terhormat,” berkata Kwee Ceng.

“Dia bikin celaka suhu, adalah itu caranya terhormat?” tanya si nona. Agaknya ia mendelu.

“Tetapi kita telah mengeluarkan kata-kata, harus kita pegang itu,” Kwee Ceng mengasih mengerti. “Sekarang kita tolongi dulu keponakannya itu, nanti di belakang hari kita mencari jalan untuk membuat pembalasan.”

Mendengar itu, si nona tertawa.

“Baiklah,” katanya. “Kau seorang nabi, suka aku mendengar katamu!”

Setelah memesan gurunya untuk menanti, kedua muda-mudi ini lari ke lembah. Di sana mereka mendengar Auwyang Kongcu merintih, suaranya sangat mengenaskan, menandakan ia menderita sangat.

“Lekas, lekas!” Auwyang Hong memanggil seraya membentak.

Kwee Ceng dan Oey Yong lantas mendekati batu, untuk memasang kuda-kuda. Auwyang Hong sendiri sudah bersiap terlebih dulu. Dengan satu tanda, dengan berbareng enam buah tangan memegang batu dan menolaknya. Auwyang Hong adalah yang berseru; “Angkat!”

Ditolak oleh enam tangan yang kuat, batu itu tergerak, tetapi cuma sebentar, sehabisnya tenaga orang, batu itu jatuh pula, pulang ke tempat asalnya.

“Aduh!” menjerit Auwyang Kongcu yang tak sempat menarik kedua kakinya. Ia ketimpa pula, lantas ia pingsan kembali.

Auwyang Hong kaget, ia berdongkol melihat keponakannya itu, napas siapa empas-empis selekasnya dia sadar pula, dia menahan sakit hingga ia menggigit keras bibirnya, sampai bibirnya mengeluarkan darah.

See Tok menjadi sangat bingung. Terang sudah tenaga mereka betiga tidak cukup kuat untuk mengangkat batu raksasa itu. Lama-lama keponakannya bisa mati karena sakitnya itu. Ia menjadi lebih bingung lagi ketika ia merasakan kakinya dingin, apabila ia mengangkat sebelah kakinya, nyata sepatunya sudah basah, tanah pasir yang ia injaknya itu kerendam air. Itulah air laut pasang, yang naik sampai ke lembah itu.

“He, budak cilik!” See Tok membentak Nona Oey. “Jikalau kau hendak menolongi jiwa gurumu, lekas kau tolongi keponakanku ini!”

Oey Yong lagi berpikir keras ketika ia ditegur itu. Batu begitu berat, di pulau ini tidak ada orang lain, yang dapat membantu. Bagaimana? Ia mendongkol atas teguran itu.

“Coba kalau guruku tidak terluka, pasti dia dapat membantu!” katanya. “Ilmu luar dari guruku lihay sekali, tenaganya besar luar biasa, dengan kita berempat bekerja sama, mestinya batu ini dapat digeser. Sekarang…”

Ia angkat kedua tangannya, ia menggoyang-goyangkannya, tandanya ia putus asa.

Auwyang Hong tidak senang mendengar itu tetapi itulah kenyataan, ia tidak bisa bilang suatu apa. Ia pikir, memang benar kalau Ang Cit Kong tidak terluka, pengemis itu pasti dapat membantu mereka. Maka maulah ia memikir itu adalah takdir, kebetulan keponakannya bercelaka, kebetulan Pak Kay terluka…

“Paman,” terdengar suaranya Auwyang Kongcu perlahan. “Kau hajar saja aku supaya aku lantas mati…”

“Aku….aku tidak dapat bertahan lagi….”

Auwyang Hong mengawasi, lantas ia mencabut pisau belatinya.

“Kau tahan sakit sedikit,” katanya seraya terus menggigit gigi. “Tanpa sepasang kakimu, kau masih dapat hidup…!”

Ia maju mendekati, hendak ia menguntungi kedua kaki orang.

“Paman, paman!” berteriak-teriak si keponakan. “Jangan, jangan! Lebih baik kau tolong aku dengan membunuh aku saja…!”

Marah paman itu.

“Percuma aku mendidik kau banyak tahun, kenapa kau tidak mempunyai semangat laki-laki?!” bentaknya.

Keponakan itu menutup mulutnya, dengan kedua tangannya ia mendekap dadanya. Dengan begitu ia mencoba menahan sakitnya.

Menyaksikan itu, hatinya Oey Yong lemas juga. Ia lantas berpikir pula, hingga ia ingat caranya ayahnya bekerja di Tho Hoa To waktu ayahnya itu mengangkat batu dan balok.

“Tunggu!” ia berkata kepada Auwyang Hong. “Kalau kau kutungi kedua kakinya, apakah itu bukan berari kau mengantarkan jiwanya? Aku ada mempunyai satu daya, entah berhasil atau tidak, mari kita coba dulu.”

“Lekas bilang, lekas bilang, apa itu?” See Tok lantas mendesak. “Nona yang baik, kali ini tentulah kau berhasil…”

“Hm,” pikir Oey Yong. “Kau sangat ingin menolongi keponakanmu, sekarang kau tidak mencaci dan membentak-bentak aku pula, bahkan memanggil aku nona yang baik.” Ia lantas tersenyum, terus ia berkata: “Baiklah! Sekarang kau mesti dengar titahku. Lekas kau keset pohon itu, kau membuatnya dadung yang panjang untuk menarik batu besar itu…”

“Siapakah yang menariknya?” Auwyang Hong memotong. Ia heran. Bukankah mendorong dan menarik sama saja sebab mereka tetap bertiga?

“Kita bekerja seperti dari atas perahu kita mengangkat jangkar,” Oey Yong bilang.

Auwyang Hong mengerti, tiba-tiba ia jadi mendapat harapan.

“Cocok, cocok!” katanya. “Kita menarik sambil berputaran!”

Kwee Ceng tidak tahu caranya Oey Yong akan bekerja, begitu mendengar si nona minta babakan pohon untuk diambil tali seratnya, ia lantas saja mengeluarkan pisaunya, terus ia bekerja memotong babakan pohon.

Auwyang Hong dan Oey Yong juga turut bekerja.

Tidak lama mereka sudah mendapatkan beberapa puluh lembar babakan yang panjang.

Auwyang Hong bekerja sambil mengawasi keponakannya, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata dengan putus asa: “Sudahlah, tak usah kita memotong lebih jauh….”

“Kenapa?” tanya Oey Yong heran. “Kenapa tidak jadi?”

See Tok menunjuk ke arah keponakannya.

Oey Yong dan Kwee Ceng mengawasi. Mereka melihat air pasang telah naik hingga tubuh Auwyang Kongcu sudah kerendam separuhnya. Maka jangan kata untuk membikin tambang, memotong babakan saja sudah tidak keburu….

Auwyang Kongcu sendiri berdiam, ia tidak bergerak, tidak bersuara.

“Jangan putus asa!” kata nona Oey kemudian. “Lekas potong terus!”

Auwyang Hong si iblis yang biasanya malang-melintang, mendengar suaranya si nona, sudah lantas bekerja pula. Ia bekerja dengan cepat sekali. Oey Yong sendiri lompat dari atas pohon, ia lari kepada Auwyang Kongcu. Ia angkat tubuh orang, ia mengganjalnya dengan satu batu besar. Secara begini, pemuda itu tidak kerendam mukanya, maka dapatlah ia bernapas terus.

“Adik yang baik, terima kasih banyak-banyak untuk pertolonganmu,” berkata Auwyang Kongcu dengan perlahan. “Aku tidak bakal hidup lebih lama pula, akan tetapi melihat kau begini sungguh-sungguh menolongi aku, kalau aku nanti mati, aku mati senang….”

“Jangan mengucap terima kasih padaku,” kata Oey Yong yang karena jujurnya merasa jengah sendirinya. “Kau terjebak karena akulah yang mengaturnya, kau tahu?”

“Hus, jangan omong keras-keras!” mencegah Auwyang Kongcu. “Kalau pamanku mendapat dengar, tidak nanti dia melepaskanmu! Sudah sedari siang-siang aku dapat mengetahui perbuatanmu ini, tetapi terbinasa di tanganmu, sedikit juga aku tidak menyesal….”

Oey Yong menghela napas, hatinya berpikir; “Meski orang ini menjemukan tetapi terhadapku dia tidak buruk…” Ia lantas kembali ke bawah pohon, untuk mulai bekerja. Ia melara, membuatnya sebuah dadung kasar. Ini rupanya belum cukup kuat, maka empat helai itu ia melaranya pula menjadi satu helai yang besar.

Auwyang Hong bersama Kwee Ceng tidak hentinya memotong babakan pohon, untuk diambil seratnya, dan si nona pun tak henti-hentinya melara. Semua bekerja cepat dan sungguh-sungguh. Mereka mesti berlomba sama sair pasang. Air baru saja naik, tak gampang-gampang lekas surut.

Belum Oey Yong dapat melara kira-kira setombak panjangnya, air sudah naik hingga dipinggirnya mulutnya Auwyang Kongcu, setelah ia dapat lagi beberapa kaki, air itu sampai di pinggiran bibir, ya, ke bibir, hingga dilain saat terlihat saja liang hidungnya si anak muda.

Menampak itu Auwyang Hong lompat turun dari atas pohon.

“Menyingkirlah kamu!” katanya pada Kwee Ceng dan Oey Yong. “Aku hendak bicara sama keponakanku. Kamu sudah berbuat apa yang kamu bisa, aku mengerti kebaikanmu ini.”

Kwee Ceng pun merasa bahwa harapan sudah lenyap, ia lompat turun, dengan jalan berendeng sama si nona, ia bertindak pergi jauhnya lebih dari sepuluh tombak.

“Mari kita pergi ke belakang batu besar itu, kita mencuri dengar perkataannya,” bisik Oey Yong si cerdik.

“Urusan toh tidak mengenai kita?” berkata si anak muda. “Laginya si tua bnagka yang lihay itu tentunya mengetahuinya….”

“Semampusnya keponakannya itu, mungkin dia akan mengganggu suhu,” kata Oey Yong. “Kalau kita ketahui niatnya, dapat kita bersiaga. Umpama kata si tua bangka beracun itu memergoki kita, kita bilang saja kita kembali untuk mengambil selamat berpisah dari keponakannya itu…”

Kwee Ceng mengangguk. Ia anggap alasan itu tepat. Bersama-sama mereka lantas jalan terus, untuk memutar dengan diam-diam, selekasnya mereka tak nampak lagi oleh Auwyang Hong, lekas-lekas mereka menghampirkan ke arah batu. Tentu sekali mereka tak sudi memperdengarkan tindakan kaki mereka.

Tepat mereka sampai, mereka dapat mendengar kata-katanya Auwyang Hong: “Kau pergilah dengan baik, aku mengerti maksud hatimu. Kau berkeinginan mesti nikahi putrinya Oey Lao Shia sebagai istrimu, pasti aku akan membikin keinginanmu itu terkabul.”

Kedua muda-mudi di belakang batu itu heran bukan main.

“Dia bakal segera mampus, cara bagaimana keinginan itu dapat dikabulkan?” mereka berpikir. “Apakah artinya kata-kata si tua bangka berbisa ini?”

Mereka memasang kuping terlebih jauh, setelah mana mereka jadi kaget dan gusar, punggung mereka dialirkan peluh dingin. Auwyang Hong itu berkata: “Akan aku bunuh putrinya Oey Lao Shia ini, nanti aku masuki tubuhnya dalam satu liang kubur bersamamu! Bukankah semua orang mesti mati? Kau dan dia tak dapat hidup bersama, tetapi mati dapat dikubur menjadi satu, kau tentu merasa puas juga…”

Mulutnya Auwyang Kongcu telah kerendam air, tidak dapat ia menjawab.

Oey Yong memencet tangannya Kwee Ceng, yang ia tarik, dengan perlahan ia bertindak. Maka bersama-sama mereka menyingkir dari situ.

Auwyang Hong tengah berduka sangat, ia tidak mendengar suara apa juga.

Tiba di tempat dimana mereka sudah berpisah cukup jauh, Kwee Ceng berkata dengan sengit. “Yong-jie, lebih baik kita hampirkan si bisa bangkotan itu untuk mengadu jiwa dengannya!”

“Bertempur sama dia, kita melawan dengan kecerdikan, tidak dengan tenaga,” menyahut si nona tenang.

“Bagaimana caranya itu?”

“Aku lagi memikirkannya.”

Mereka jalan terus, sampai di tikungan. Di situ si nona melihat gombolan pohon gelaga.

“Jikalau dia tidak jahat dan kejam, aku dapat jalan untuk menolongi keponakannya itu,” berkata Oey Yong.

Kwee Ceng heran.

“Bagaimana itu?” dia tanya.

Oey Yong menghampirkan gombolan gelaga itu, ia memotong sebatang, di antaranya lalu ia angkat itu, dimasuki ke dalam mulutnya, untuk menyedot dan bernapas.

“Bagus!” Kwee Ceng bertepuk tangan. “Oh, Yong-jie yang baik bagaimana kau dapat memikirkan ini? Bagaimana sekarang, kita menolongi atau jangan?”

Oey Yong memainkan bibirnya.

“Tentu aku tidak sudi menolongi dia!” sahutnya. “Si tua bangka berbisa itu hendak membunuh aku, biarlah dia coba membunuhnya! Aku tidak takut!”

Kwee Ceng heran, ia berdiam diri.

Si nona mengawasi, lalu ia tarik tangan orang.

“Engko Ceng,” katanya halus, “Mustahilkah kau menghendaki aku menolongi manusia jahat itu? Adakah kau berkhawatir untuk keselamatanku? Jikalau kita menolongi dia, belum tentu dua manusia jahat itu dapat berbauta baik kepada kita…”

“Memang kau benar,” berkata Kwee Ceng. “Memang aku memikirkan kau dan suhu. Aku pikir si tua bangka berbisa ada satu pemimpin partai, mestinya perkataannya dapat dipercaya juga…”

Oey Yong mengambil keputusan dengan cepat.

“Baik, marilah kita menolongi dia!” katanya. “Habis itu, kita lihat saja nanti. Kita boleh jalan setindak demi setindak.”

Keduanya lantas jalan balik, mereka putarkan batu raksasa itu.

Sekarang Auwyang Hong berdiri di dalam air, sebelah tangannya memegangi keponakannya. Ia melihat dua orang muda itu menghampirkan, matanya lantas bersinar, sikapnya mengancam.

“Aku menyuruh kamu pergi, buat apa kamu kembali?!” tanyanya bengis.

Oey Yong menghampirkan sepotong batu, di situ ia berduduk.

“Aku datang untuk melihat dia sudah mampus atau belum?” ia menyahut sembari tertawa geli.

“Habis kalau mati bagaimana, kalau hidup bagaimana?!” tanya See Tok, tetap bengis, panas hatinya.

Si nona menghela napas.

“Kalau ia sudah mati, sayang, tidak ada daya lagi…” sahutnya.

Auwyang Hong heran, hingga ia berjingkrak.

“Oh, nona yang baik,” serunya. “Dia…dia masih belum mati! Benarkah kau ada punyai daya? Lekas bicara!”

Oey Yong menyodorkan batang gelaganya.

“Kau masuki ini ke dalam mulutnya, dia tentu tidak mati,” sahutnya enteng.

Auwyang Hong girang, ia menyambuti, ia lompat pula kepada keponakannya. Dengan cepat ia masuki batang gelaga itu ke dalam mulut keponakannya itu, hingga batang itu merupakan semacam pipa.

Keadaannya Auwyang Kongcu sedang hebatnya, tetapi ia masih dapat mendengar pembicaraan di antara si nona dan pamannya itu, begitu pipa dimasuki ke dalam mulutnya, ia telan air yang terakhir di mulutnya itu, lalu ia dapat bernapas seperti biasa. Ia girang hingga sesaat ia melupakan kakinya yang sakit.

“Lekas!” berseru Auwyang Hong. “Lekas kita melanjuti membuat dadung itu!”

“Paman Auwyang,” berkata si nona, sebelum ia menyambut ajakan itu, bukankah kau memikir untuk membunuh aku untuk dikorbankan untuk keponakanmu itu?”

See Tok melengak. “Kenapa ia dengar pembicaraanku barusan?” pikirnya.

Oey Yong masih tertawa, ia berkata pula: “Kau hendak membunuh aku, kalau maksudmu kesampaian, habis itu Thian sangat membenci kejahatanmu itu, kepada kau diturunkan sesuatu malapetaka, siapakah nanti yang menolongi kamu?”

Auwyang Hong sangat membutuhkan bantuan orang, ia tidak mengambil peduli gangguan itu, dengan berlagak tuli dengkak, ia lari ke darat, ke bawah pohon untuk mulai lagi memotongi babakan pohon.

Si nona tidak mengganggu terlebih jauh, ia pun mengajak Kwee Ceng untuk bekerja pula. Mereka sama-sama melara setelah babakan didapat cukup banyak.

Masih kira-kira satu jam melara beberapa kali, ia menghampirkan dadung, baru mereka berhasil merampungkan sehelai dadung yang panjangnya tiga puluh tombak lebih. Sementara itu kepalanya Auwyang Kongcu sudah mulai kerendam air, hingga tampak tinggal pipa gelaga itu.

Auwyang Hong berkhawatir, beberapa kali ia menyam pirkan, untuk memeriksa nadi keponakannya itu. Untuk kelegaan hatinya, nadi itu tetap berjalan baik. Ia pun menjadi terlebih lega telah sesaat kemudian ternyata, air pasang sudah tiba saatnya untuk surut pula, maka dilain detik, kepalanya si anak muda mulai tertampak pula.

“Cukuplah sudah!” terdengar suaranya Oey Yong keras habis ia mengulur-ulur dadung buatannya itu. “Sekarang aku membutuhkan tiga batang kayu besar untuk dipakai sebagai alat putaran.”

Auwyang Hong bersangsi. Mereka tidak mempunyai kampak atau golok, bagaimana mereka bisa mendapatkan potongan-potongan kayu yang dibutuhkan itu?

“Bagaimana itu harus dibuatnya?” ia menanya.

“Kau tak usah ambil tahu caranya, kau cari kayunya saja!” membentak si nona.

See Tok berkhawatir juga nona itu benar-benar murka dan nantinya tidak sudi membantu terlebih jauh, lantas ia pergi menghampirkan pepohonan. Ia pilih yang batangnya tidak terlalu besar, ia berjongkok di situ, ia pegang pohon dengan kedua tangannya, lalu sambil mengerahkan tenaga dari Kuntauw Kodok, ia coba mendorong pohon itu. Nyata ia berhasil! Maka ia lantas bekerja terus, merobohkan semuanya tiga buah pohon.

Kwee Ceng dan Oey Yong mengulurkan lidahnya menyaksikan tenaga orang yang besar itu.

Auwyang Hong masih bekerja. Ia mencari sebuah batu besar dan lancip, ia menggunainya untuk membabat berulang-ulang, memutuskan semua cabang kecil dari ketiga batang pohon itu, setelah semuanya merupakan sebagai potongan balok, terus ia menyerahkan itu kepada si nona.

Oey Yong dan Kwee Ceng menyambuti.

“Begini,” kata si nona kepada kawannya. Ia pun lantas bekerja.

Kwee Ceng membantui tanpa banyak omong.

Oey Yong mengikat ketiga batang balok itu satu kepada lain, ia mengikat erat-erat, ia meninggalkan tiga ujung yang panjang. Kemudian selebihnya dadung ia bawa ke batu besar itu, untuk melibatnya dibagian tengahnya, lalu ujung itu diikat kepada balok-balok yang sudah dipasang dan terikat rapi itu.

Ketiga potong balok itu diikat di seputarnya sebuah pohon cemara tua yang besar sekali, yang tumbuh di sebelah kanan batu raksasa itu. Besarnya pohon mungkin tak terpeluk lima atau enam orang.

“Bukankah pohon cemara tua ini dapat melayani batu besar itu?” kemudian si nona tanya si Bisa dari Barat.

Auwyang Hong mengangguk. Sekarang ia mengerti sudah maksudnya nona itu.
Tapi Oey Yong masih kurang puas, ia menyuruh si tua bangka berbisa membuat lagi dadung yang terlebih kecil, untuk dipakai itu mengikat lebih jauh ketiga potongan balok itu, supaya kekuatannya bertambah.

“Nona yang baik, kau sungguh cerdik!” akhirnya See Tok memuji. “Inilah yang dibilang keluarga pintar luar biasa, – ada ayahnya, ada putrinya!”

“Tapi mana aku dapat menandingi keponakanmu itu?” berkata Oey Yong tertawa. “ah, marilah kita mulai menarik memutar!”

Auwyang Hong menurut, begitu juga dengan Kwee Ceng, maka setelah memegang masing-masing ujungnya ketiga balok itu, mereka lantas saja menolak dengan mengeluarkan tenaga mereka. Perlahan tetapi tentu, batu itu bergerak berkisar sedikit.

Sementara itu dengan lewatnya sang waktu – matahari sudah doyong ke darat – air pun telah surut habis, hingga sekarang Auwyang Kongcu terlihat duduk mendeprok di tanah yang merupakan lumpur berpasir. Ia mendelong mengawasi batu besar itu, yang bergeraknya sangat ayal, nampaknya ia bergelisah dan bergirang…

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: