Kumpulan Cerita Silat

13/08/2008

Kisah Membunuh Naga (33)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:50 am

Kisah Membunuh Naga (33)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Eeyore dan Yin)

Si nona bersenyum-senyum yang penuh dengan rasa beruntung. Sambil bersandar pada dada pemuda it, ia berkata, “Dulu, waktu aku minta kau mengikuti aku, kau bukan saja sudah menolak, tapi juga memukul aku, mencaci. Aku merasa sangat beruntung, bahwa sekarang kau bisa mengatakan begitu.”

Perkataan si nona seolah-olah air dingin yang menyiram kepala pemuda itu. Ia mendapat kenyataan, bahwa dengan mendengar perkataannya sambil memeramkan mata, nona itu membayang bayangkan, bahwa perkataan itu dikeluarkan oleh pemuda yang dipujanya, tapi yang sudah menyakiti hatinya.

Tiba-tiba gadis itu menggigil dan ia membuka kedua matanya. Pada paras mukanya terlihat sinar kegusaran, tercampur dengan perasaan kecewa, tapi dalam sinar kekecewaan itu terbayang juga sedikit rasa bahagia. Selang beberapa saat ia berkata, “Ah Goe Koko, aku merasa sangat berterima kasih, bahwa engkau bersedia untuk mengambil aku sebagai istrimu. Kau tidak mencela aku, seorang wanita yang beroman jelek. Hanya sayang, semenjak bebeapa tahun berselang aku sudah memberikan hatiku kepada seorang lain. Dahulu saja, ia sudah tidak memperdulikan aku. Kalau dia melihat keadaaku yang sekarang lebih2 dia tak akan menghiraukan aku Ah! Setan kecil yang berhati kejam” nadanya masih menunjuk perasaan cinta.

“Apa sekarang kau sudah boleh berbangkit?” tanya Boe Ceng Eng sambil mengawasi gadis dusun itu, “Dia sudah menyatakan bersedia untuk menikah denganmu dan kamu berdua sudah cukup lama membicarakan soal cinta?”

Perlahan lahan nona itu bangkit, katanya, “Ah Goe Koko,” katanya sambil mengawasi Boe Kie “Aku akan segera menemui ajalku. Andaikata tidak mati, akupun tidak bisa menikah denganmu. Tapi biar bagaimana kata-katamu yang diucapkan tadi, sesudah aku mati janganlah kau membenci aku. Kalau ada tempo luang, boleh juga kau mengingat aku.” Ia bicara dengan suara meminta, sehingga Boe Kie merasa sangat terharu.

“Sudahlah! Jangan terlalu rewel!” bentak Pan Siok Ham, “Kami sudah meluluskan permintaanmu dan kau sudah bertemu dengan dia. Sekarang kau harus menepati janji dan memberitahukan di mana adanya orang itu.”

“Baiklah,” kata si nona. “Sepanjang pengetahuanku, orang itu pernah berdiam dirumahnya” ia berkata begitu sambil menuding Boe Liat.

Paras muka Boe Liat berubah. Sambil mengeluarkan suara di hidung, ia membentak. “Jangan omong yang gila-gila!”

“Jawab pertanyaanku!” Wie Pek turut membentak, “Siapa yang menyuruh kau membunuh Coe Kioe Tin Piauwmoay?”

Kagetnya Boe Kie bagaikan disambar halilinta. “Membunuh…membunuh Coe Kioe Tin Kauwnio?” ia menegas.

Dengan mata mendelik Wie Pek menatap wajah Boe Kie, “Kau kenal Coe Kioe Tin Kauwnio?” tanyanya dengan suara gusar.

“Siapa yang tidak pernah mendengar nama Soet-leng Siang moay yang tersohor?” kata Boe Kie.

Bibir Boe Ceng Eng bergerak, seperti orang bersenyum. “Hei, jawablah! Siapa yang menyuruh kau?” teriaknya.

“Kalau kau mau tahu juga, baiklah, aku akam memberitahukan terang-terangan,” kata si gadis dusun. “Yang menyuruh aku membunuh Coe Kioe Tin adalah Ho Thay Ciong dari Koen Loen pay dan Biat coat Soethay dari Go bie pay.”

“Gila!” teriak Boe Liat. “Binatang! Jangan kau harap bisa menyebar racun dan merenggangkan persahabatan kami.” Seraya mencaci ia menghantam dengan telapak tangannya, tapi dengan gerakan yang sangat gesit, nona itu berhasil menyelamatkan diri.

Boe Kie jadi bingung bukan main. “Kalau begitu dia benar-benar seorang dari rimba persilatan,” pikirnya. “Tak bisa salah lagi, dia membunuh Coe Kauwnio untuk membalas sakit hatiku, sebab aku memberitahukan bahwa aku sudah ditipu oleh nona Coe dan digigit oleh anjing-anjingnya nona itu. Celaka sungguh! Aku sama sekali tidak menyuruh ia membinasakan Coe Kioe Tin. Aku semula hanya mengganggap dia manusia aneh karena romannya jelek dan nasibnya buruk. Tak tahunya ia bisa membunuh manusia secara serampangan.”

Sementara itu, dengan bersenjata pedang Wie Pek dan Hoe Ceng Eng sudah bantu menyerang dari kiri dan kanan. Dengan penuh kewaspadaan Boe Kie memperhatikan jalan pertempuran. Dengan menggunakan kegesitan, dengan melompat kian kemari, gadis dusun itu mengelakkan serangan Boe Liat yang bertubi-tubi.

Dari gerak geriknya, ia kelihatannya tidak memandang sebelah mata kepada Wie Pek dan Boe Ceng Eng. Sesudah bertempur belasan jurus, bagaikan kilat ia melompat ke samping Boe Ceng Eng dan “plok!” ia menggaplok pipi Nona Boe. Berbareng dengan gaplokan itu, tangan kirinya turut menyambar dan di lain saat pedang Boe Ceng Eng sudah berpindah ke dalam tangannya. Boe Liat dan Wie Pek terkejut. Degan berbareng mereka menerjang untuk menolong nona Boe yang berada dalam bahaya.

“Kena!” gadis dusun itu berteriak dan pedang ya menggores muka Boe Ceng Eng! Ternyata dalam gusarnya sebab nona Boe sudah mengejek romannya yang jelek. Tanpa memperdulikan bahaya yang datang dari Boe Liat dan Wie Pek ia melompakt dan menggoreskan ujung pedang di muka nona Boe.

Seraya mengeluarkan teriak keras, Boe Ceng Eng jatuh terjengkang. Sebenarnya, lukanya sendiri sangat enteng. Ia jatuh lantaran kaget, sebab ia tahu bahwa mukannya yang cantik manis sudah digores pedang.

Dengan mata merah Boe Liat menerjang dan si gadis dusun melompat ke samping. Mendadak terdengar “trang!” suara bentrokan antara pedang si nona dan pedang Wie Pek yang terbang ke tengah angkasa.

Hampir pada detik yang bersamaan, telunjuk tangan kanan Boe Liat berhasil menotok Hok touw hiat dan Hong Sau Hiat, di betis si nona. Totokan ini adalah It Yang Cie yang sangat lihai.

Sambil mengeluarkan rintihan perlahan, gadis itu roboh terguling, jatuh di atas Boe Kie. Ia merasa sekujur badannya nyaman dan hangat tapi tidak bertenaga sedikitpun jua, bahkan tak kuat menggerakkan jari tangannya. Ia merasa diikat dengan semacam tenaga yang kekuatannya ribuan kati tapi badannya bebas dari perasaan sakit. Biarpun Boe Liat sendiri bukan seorang yang sepak terjangnya boleh dipuji, tapi ilmu It Yang Cie adalah warisan dari seorang ksatria. Maka itu meskipun dapat menjatuhkan lawan, ilmu tersebut tidak mengakibatkan penderitaan.

Boe Ceng Eng menjemput pedang Wie Pek dan bekata dengan suara yang membenci “Perempuan bau! Sekarang tamatlah riwayatmu. Tapi aku tak mau menghadiahkan kebinasaan yang enak kepadamu. Aku hanya mau memutuskan kedua tangan dan kedua betisnya, supaya hidup-hidup kau digegares kawanan serigala.” Seraya mencaci, ia mengayun pedang untuk membabat lengan kanan si gadis dusun.

“Tahan!” mencegah Beo Liat sambil mencekal pergelangan tangan putrinya. Ia mengawasi gadis dusun itu dengan berkata pula. “Jika kau memberitahukan siapa yang menyuruh, aku akan membinasakan kau tanpa siksaan. Tapi jika kau membandel? huh-huh. aku akan memutuskan kaki tanganmu.”

Nona itu ternyata mempunya nyali yang sangat besar. Mendengar ancaman yang hebat itu, ia tersenym dan berkata dengan suara tenang. “Kalau kau kepingin tahu juga aku terpaksa bicara terus terang. Nona Coe Kie Tin mencintai seorang pemuda dan seorang nona lain juga mencintai pemuda itu. Yang menyuruh aku membinasakan nona Coe Kieo tin adalah nona yang lalu itu. Aku sebenarnya sungkan membuka rahasia.” Belum habis ia bicara, Boe Ceng Eng sudah jadi kalap dan menikam dan menggunakan seantero tenaganya.

Ternyata, si gadis dusun sudah dapat menduga adanya percintaan antara Wie Pek coe Kioe tin dan Boe Ceng Eng. Ia sudah sengaja mengatakan begitu untuk membangkitkan amarahnya nona Boe, supaya ia bisa mati tapi disiksa.

Sinar pedang Boe Ceng Eng berkelebat bagaikan kilat. Pada detik ujung pedang hampir menyentuh ulu hati, mendadak serupa benda yang tak bersuara menyambar dan membentur pedang itu. Tiba tiba saja Boe Ceng Eng merasakan telapak tangannya seperti di beset dan tanpa apapun lagi, senjatanya tebang ke atas. Tenaga benturan itu hebat luar biasa dan pedang nona Boe jatuh di tempat yang jauhnya lebih dari dua puluh kaki.

Di tengah malam yang gelap, tak seorangpun lihat mengapa pedang itu terpental dari tangan Boe Ceng Eng. Apa yang mereka tahu hanyalah bahwa tenaga yang membenturnya sangat menakjubkan, sehingga menduga si gadis dusun mendapat bantuan dari seorang yang bersembunyi. Dengan kaget keenam orang itu mundur beberapa tindak dan mengawasi kesekitarnya. Tempat itu adalah tanah lapang yang luas tanpa pohon yang dapat digunakan untuk menyembunyikan diri. Sesudah mengawasi kesana sini beberapa lama mereka tak melihat bayangan siapapun jua. Dengan rasa heran dan bercuriga, mereka saling memandang tanpa mengeluarkan suara.

Beberapa saat kemudian, Boe Liat berkata dengan suara perlahan. “Ceng Jie, apa yang sudah terjadi?”

“Pedangku seperti dipukul dengan semacam senjata rahasia yang sangat lihai,” jawabnya.

Boe Liat mengawasi ke sekitarnya, tapi ia tetap tidak melihat lain manusia. Ia heran bukan main dan berkata dalam hatinya. “Terus terang dia sudah kena ditotok olehku dengan It Yang Cie. Bagaimana ia masih mempunyai tenaga yang begitu besar” Apa perempuan ini mempunyai ilmu siluman?” Ia maju mendekati dan menepuk pundak nona itu. Dengan tepukan yang disertai Lweekang dahsyat, ia bermaksud menghancurkan tulang pundak si nona supaya kepandaiannya musnah dan dapat dipermainkan oleh puterinya.

Pada saat telapak tangan Boe Liat hampir menyentuh pundak, tiba-tiba gadis dusun itu mengangkat tangan kirinya dan menangkis. Begitu kedua tangan kebentrok, Boe Liat merasa daatnya panas, seolah-olah didorong dengan tenaga topan atau gelombang laut yang mahadahsyat.

Sambil mengeluarkan teriakan “ah!” tubuhnya mengapung ke atas dan jatuh ke tempat yang jauhnya melebihi tiga tombak. Untung juga, ia memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, sehingga begitu lekas punggungnya ambruk di tanah, begitu lekas pula ia dapat melompat bangun. Tapi biarpun begitu ia masih merasakan sakit di dadanya dan darahnya bergolak, sehingga kepalanya pusing. Baru saja ia berdiri tegak dan mau mengatur pernapasannya, tiba-tiba matanya berkunang-kunang, badannya bergoyang-goyang dan sekali lagi ia jatuh terguling.

Boe Ceng Eng mencelos hatinya, buru-buru ia menubruk dan membangunkan ayahnya.

“Biarkan ia rebah lebih lama!” tiba-tiba Ho Thay Ciong berkata.

Nona Boe menengok dan membentak dengan gusar. “Apa kau kata!” Ia menganggap bahwa dengan berkata begitu, Ho Thay Ciong mengejek ayahnya.

“Darahnya bergolak dan ia harus mengaso dengan merebahkan diri,” jawabnya.

Wie Pek lantas saja tersadar. “Benar,” katanya. Ia segera memeluk tubuh gurunya dan merebahkan kembali di atas tanah.

Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham saling mengawasi dengan perasaan sangat heran. Mereka sudah pernah bertempur dengan gadis dusun itu dan mereka tahu bahwa meskipun begitu ilmu silat si nona cukup tinggi. Lweekangnya belum mencapai tingkatan atas. Tapi tenaga yang barusan merobohkan Boe Liat adalah lweekang yang sungguh-sungguh jarang terdapat dalam dunia ini.

Kalau mereka heran, si gadis dusun pun lebih heran lagi. Sesudah kena ditotok ia roboh dalam pangkuan Boe Kie tanpa bisa bergerak. Waktu pedang Boe Ceng Eng hampir mampir di ulu hatinya, tiba-tiba menyambar serupa benda yang membentur senjata itu, sehingga terlepas dari tangan nona Boe. Ia sendiri tidak tahu apa adanya benda itu. Sesaat kemudian, tiba-tiba ia merasakan masuknya hawa panas di Ciok sam lie dan Yang leng coan, yaitu dua hiat di betisnya.

Hawa panas itu terus menerjang ke How touw hiat dan Hong hiat sehingga jalan darah yang ditotok lantas saja terbuka kembali.

Begitu terbuka jalan darahnya, ia bergidik. Ia mengawasi kakinya dan melihat kedua tangan Boe Kie sedang mencekal kedua tumit kakinya dan semacam hawa hangat masuk ke dalam badannya dari kedua kakinya itu.

Sesaat itu Boe Liat telah menghantam dengan telapak tangannya. Dengan nekad ia mengangkat tangannya dan menangkis. Ia merasa, bahwa hancurnya tulang lengan lebih baik dari pada hancurnya tulang pundak. Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwas tangkisannya itu sudah membuat terpentalnya tubuh Boe Liat sampai beberapa tombak. Ia terkesiap dan berkata dalam hatinya, “Apakah aku mendapat bantuan dari Tioe pat-koay” Apakah Tioe-pat koay seorang tokoh rimba persilatan ini berkepandaian luar biasa tinggi?”

Sesudah menyaksikan lihainya nona itu, Ho Thay Ciong tak berani mengadu tenaga. Sambil menghunus pedang itu berkata, “Aku ingin meminta pelajaran kiamhoat dari nona.”

“Aku tak punya pedang,” kata si nona sambil tertawa.

Dengan kakinya Ho Tay Ciong menyontek pedang Boe Ceng Eng yang lantas terbang ke arah si nona yang lalu menyubitnya. Sebagai seorang Ciang Boen Jin dari sebuah partai besar, dalam menghadapi seorang yang tingkatnya lebih muda, Ho Thay Ciong sungkan bergerah lebih dahulu.

“Kau mulailah,” ia mengundang. “Kau boleh menyerang lebih dulu dalam tiga jurus dan sesudah itu, barulah aku membalas.”

Tanpa sungkan-sungkan lagi si nona lalu menikam dan Ho Thay Ciong menangkis. “Trang!” kedua pedang itu patah bersama-sama.

Paras muka Ho Thay Ciong pucat pasi. Ia melompat mundur beberapa tindak. “Sayang! Sungguh saying!” kata si nona. Ia mengerti, bahwa Boe Kie sudah memasukkan semacam tenaga luar biasa (yaitu tenaga Kioe yang Sin kang) ke dalam tubuhnya, tapi karena ia masih belum bisa menggunakannya, maka pedangnya sendiripun turut menjadi patah. Bila ia telah dapat menggunakan Kioe yang Sin kang, senjatanya pasti akan tinggal utuh.

Pan Siok Ham heran tak kepalang. “Bagaimana bisa begitu?” tanyanya dengan suara perlahan.

“Ilmu silatmu!” jawabnya sang suami.

Dengan rasa penasaran nyonya itu lalu menghunus pedang. “Akupun ingin meminta pelajaran,” katanya dengan suara menyeramkan.

Si nona mengangkat kedua tangannya untuk mengunjuk, bahwa ia tak punya senjata lagi.

“Kau boleh menggunakan pedang itu,” kata Pan Siok Ham sambil menuding pedang Wie Pek yang menggeletak di tempat yang agak jauh.

Nona itu tahu, bahwa jika berpisahan dengan Boe Kie, ia takkan mempunyai lweekang yang begitu tinggi lagi. Maka itu, seraya bersenyum ia berkata. “Biarlah aku menggunakan pedang buntung itu saja.”

Pan Siok Ham meluap darahnya. Jawabnya nona itu dianggap sebagai penghinaan baginya. Dalam gusarnya, ia tak berbuat seperti suaminya dan tak menghiraukan lagi kedudukannya sebgai seorang cianpwee (orang yang tingkatnya lebih tinggi).

Dengan mendadak ia menikam leher si nona, yang lantas saja menangkis. Nyonya itu mempunyai kegesitan luar biasa. Baru saja tikamannya yang pertama ditangkis, tikaman kedua, yang menyambar kearah pundak sudah menyusul. Si nona baru-baru mengebas pedang buntungnya untuk melindungi pundak kiri, tapi hampir berbareng, pedang musuh sudah menyambar pundak kanan. Dalam sekejap, Pan Siok Ham sudah mengirim delapan tinju kilat yang susul-menyusul dalam serangan-serangannya itu, ia selalu menjaga supaya senjatanya tak terbentuk dengan senjata si nona. Sebelum menyerang dia telah mengambil keputusan untuk menggunakan kegesitan guna mengimbangi Lwee kang si nona.

Benar saja, makin lama si nona makin repot. Dalam hal ilmu pedang, biarpun dia tidak bisa menandingi Pan Siok Ham, gadis dusun itu sebenarnya masih bisa bertahan dalam sedikitnya seratus jurus. Apa mau, ia bukan saja menggunakan pedang buntung, ia juga tidak berani berpisahan sama Boe Kie, sehingga dalam pertempuran itu, ia hanya membela diri dan tidak bisa balas menyerang. Mendadak pedang Pan Siok Ham berkelebat bagaikan kilat dan “sret!” lengan kirinaya sudah kena di gores. Nyonya itu jadi girang dan terus mengirim serangan-serangan berantai. Sesaat kemudian si nona mengeluarkan teriakan “aduh!” dan sekali ini, pundaknya tertikam pedang.

“Hai! Apa kau tidak mau membantu aku lagi?” teriak si nona.

Dengan kaget Pang Sik Ham melompat mundur dan lalu mengawasi kesekitarnya. Tapi di seputar itu tidak terdapat bayangan manusia lain.

Sambil tersenyum, ia segera menyerang lagi dengan hebatnya.

Walaupun sudah terluka, gadis dusun itu terus melawan dengan nekad. Satu kali dengan kecepatan luar biasa, ia bisa mengelakkan serangan Pan Siok Ham. “Perempuan bangsat, tanganmu cepat juga,” memuji nyonya itu.

“Nenek bangsat! Tanganmu pun tidak terlalu lambat,” jawab si nona yang tidak mau kalah.

Di luar dugaan, jawabnya itu membawa akibat buruk. Sebagai seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi, biarpun mulutnya berbicara tangan Pan Siok Ham bekerja terus seperti biasa. Di lain pihak begitu ia bicara pemusatan, perhatian si nona segera jadi terpecah dan gerakannya berubah lambat. Pan Siok Ham tentu saja sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Dengan sekali menikam, pedangnya tepat menancap di pergelangan tangannya nona itu, sehingga pedang yang sedang dicekalnya lantas saja terbang.

“Celaka!” si nona mengeluarkan seruan kaget dan hampir berbareng ujung pedang Pan Siok Ham sudah meluncur ke bawah ketiaknya.

Sesudah orang hampir roboh, tentang Bin Koe yang sedari tadi terus menonton tanpa bergerak, sekarang turun tangan. Tanpa menghunus pedang, dengan jurus Toe Chung bong Goat (mendorong jendela melihat rembulan), kedua telapak tangannya menghantam punggung gadis dusun. Boe Ceng Eng juga tidak mau ketinggalan. Ia melompat dan menendang pinggang musuhnya.

Hati si gadis dusun mencelos. Ia merasa ajalnya sudah tiba.

Mendadak mendadak saja, ia merasa sekujur badannya panas luar biasa, seolah-olah dibakar. Waktu pedang Pan Siok Ham menyambar tanpa merasa ia mengangkat tangannya dan menyentil badan pedang dengan jarinya. Pada detik yang bersamaan punggungnya kena pulukan Teng Bin Koen dan pinggangnya kena tendangan Boe Ceng Eng.

“Tring…” “Aduh!…” “Aduh!….”

Tiga suara itu terdengar dengan berbareng. Apa yang sudah terjadi? Pedang Pan Siok Ham patah, tubuh Teng Bin Koen dan Boe Ceng Eng jatuh terpelanting.

Ternyata pada detik yang sangat berbahaya, Boe Kie telah mengempos semangatnya dan memasukkan seantero “hawa murni” ke dalam tubuh si nona. Pada waktu itu, ia sudah berhasil mendapatkan dua bagian dari tenaga Kioe yang Sing kang dan bagian ini sudah hebat bukan main. Sebagai akibatnya, pedang Pan Siok Ham patah, kedua tulang lengan Teng Bin Koen hancur dan tulang kaki Boe Ceng Eng pun remuk.

Ho Thay Ciong, Boe Liat dan Wie Pek mengawasi dengan mata membelak dan mulut ternganga.

Pan Siok Ham melemparkan pedang buntungnya di tanah “Hayo kita pergi!” katanya pada sang suami, “Apa kau belum cukup mendapat malu?”

“Baiklah,” jawabnya. Dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan, mereka belalu tanpa berpamitan lagi. Sambil menuntun tangan guru dan memapah adik seperguruannya, Wie Pek pun segera meninggalkan tempat itu. Karena tulang kaki Boe Ceng Eng hancur, mereka terpaksa jalan perlahan-lahan. Hati mereka berdebar-debar dan saban-saban menengok kebelakang karena kuatir dikejar oleh gadis dusun itu. Teng Bin Koen juga tidak dapat berbuat lain daripada menyingkir dengan rasa gusar dan sakit hati yang sangat besar.

Sesudah semua berlalu, si nona tertawa terbahak bahak. “Tioe Pat Koay!” teriaknya. “Kalau begitu kau?” Ia tidak dapat meneruskan perkataannya sebab kedua matanya mendadak berkunang-kunang dan ia segera roboh dalam keadaan pingsan.

Ternyata sesudah musuh kabur, Boe Kie segera melepaskan kedua kaki si nona dari cekalannya dan dengan berbareng, semua hawa Kioe yang keluar dari tubuhnya. Dengan demikian tubuh itu menjadi “kosong” secara mendadak tenaganya habis dan ia tak dapat mempertahankan diri lagi.

Boe Kie lantas saja mengerti sebab musabah pingsannya si nona. Buru-buru menekan Sie Tiok Kong di ujung alis nona itu dan mengerahkan sin kang. Selang beberapa saat, si nona tersadar dan perlahan-lahan ia membuka matanya.

Melihat dirinya sedang rebah di pangkuan Boe Kie, paras mukanya lantas saja berubah merah dan cepat-cepat melompat bangun.

Sekonyong-konyong ia membetot kumis Boe Kie dan berteriak, “Tioe pat koay! Kau menipu aku! Kau mempunyai kepandaian yang sangat lihai, tapi kau sengaja tidak mau memberitahukan kepadaku.”

“Aduh…aduh…lepas!” teriak Boe Kie.

“Siapa suruh kau mendustai aku?” kata si nona seraya tertawa.

“Lagi kapan aku mendustai kau?” Boe Kie balas menanya. “Kau tidak pernah memberitahukan kepadaku, bahwa kau mengerti ilmu silat. Akupun begitu juga.”

“Baiklah, sekali aku suka mengampuni kau,” kata si nona. “Biar bagaimanapun jua, tadi kau sudah bisa jalan?”

“Belum bisa,” jawabnya.

Si nona menghela napas, “Benar juga kata orang siapa yang berbuat baik akan mendapat pemabalasan baik,” katanya. “Jika aku tidak memikiri kau dan tidak datang lagi ke sini, kau tentu tidak bisa menolong jiwaku.” Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula, “Kalau aku tahu bahwa kau berkepandaian lebih tinggi dari aku, aku tentu tidak merasa perlu untuk membinasakan perempuan she-Coe itu.”

Paras muka Boe Kie lantas saja berubah gusar. “Aku sama sekali belum pernah meminta kau untuk membunuh nona Coe,” katanya dengan suara mendongkol.

“Aduh! Kau ternyata belum dapat melupakan nona manis itu!” kata si nona dengan suara mengejek. “Akulah yang bersalah. Aku sudah mencelakakan kecintaanmu.”

“Nona Coe bukan kecintaanku,” kata Boe Kie. “Dia dan aku tidak ada sangkut pautnya.”

“Ah, heran sekali!” kata si nona. “Dia sudah mencelakakan kau dan aku membinasakannya untuk membalas sakit hatimu. Apa dengan bertnidak begitu aku bersalah?”

“Orang yang mencelakai aku banyak jumlahnya,” kata Boe Kie tawar. “Jikalau mereka satu demi satu harus dihukum mati, mereka tidak bakal terbunuh habis. Pula ada orang-orang yang berniat mencelakai aku, tetapi di pandangan mataku, mereka itu harus di kasihani. Seperti nona Coe, dia setiap hari dirundung kekuatiran, hatinya terus berdenyutan, dia kuatir kakak misannya tidak mau baik dengannya, dia kuatir kakak misan itu menikahi nona Boe. Orang semacam dia, ada apakah senangnya?”

Mendengar itu si gadis desa murah wajahnya.

“Apakah kau menyindir aku?” tanyanya gusar.

Boe Kie melengak. Ia tidak menyangka lantaran menyebut-nyebut Coe Kioe Tin, ia membangkitkan cemburunya nona dihadapannya ini.

“Bukan, bukan”,” katanya cepat. “Aku mau bilang sesuatu orang ada nasibnya masing-maisng. Umpama kata ada orang berbuat tidak benar terhadapmu lantas kau bunuh dia, itulah tidak baik.”

Gadis desa itu tertawa dingin. “Jikalau kau mempelajari ilmu silat bukan untuk membunuh orang, habis untuk apakah?” dia tanya.

“Jikalau kita telah mempelajari ilmu silat,” sahut Boe Kie, dalam suaranya, “Jikalau ada orang jahat terhadap kita, kita lawan dia.”

“Kagum aku, kagum terhadapmu,” berkata si nona. “Kiranya kau seorang, kuncu sejati, seorang yang sangat baik hatinya!”

Boe Kie tunduk, ia mengawasi nona itu. Ia merasa si nona aneh sekali, ia merasakan sikap orang yang sangat erat hubungannya dengan ia, agaknya ia mengenalnya dengan baik.

“Kau mengawasi apa?” tanya si nona matanya memain.

“Aku ingat ibuku,” menyahut Boe Kie. “Ibu sering menertawakan ayahku, yang dikatakan sebagai orang yang sangat baik hatinya, yang menjadi seorang pelajar yang harus dikasihani sebab hatinya sangat lemah. Selagi itu bicara itu, gerak geriknya, lagu suaranya, mirip dengan mu.”

Mukanya si nona menjadi merah.

“Hai kau menggoda aku!” tegurnya. “Kau bilang aku mirip ibumu, jadi kau mirip ayahmu”

Meski ia menegur, toh sinar matanya, sinar mata yang manis!!…

“Oh, oh…” Kata Boe Kie cepat. “Langit ada di atas. Jikalau aku menggoda kau, biarlah langit membunuhku dan bumi memusnahku!”

Nona itu mendadak tertawa. “Kau bicara gampang saja!” katanya. “Kenapa mesti main sumpah-sumpah?”

Tepat si nona baru habis mengatakan demikian, dari arah timur utara terdengar siutan yang nyaring dan panjang. Itulah suaranya seorang wanita. Lantas jawaban serupa, yang datangnya dari kejauhan. Itulah jawabannya Teng Bin Koen, yang belum pergi jauh.

Air mukanya si nona lantas saja berubah.

“Kembali ada datang orang dari Go Bie Pay,” katanya perlahan.

Gadis desa ini dan Boe Kie merasakan suara jawaban itu membuktikan orang lebih lihai tenaga dalamnya daripada Teng Bin Koen sebab suara itu terang dan jernih sekali. Toh orang berada lebih jauh daripada si nona Teng.

Ketika ia mendengar jawaban itu Teng Bin Koe menghentikan tindakannya.

Boe Kie dan si gadis dusun memandang ke arah timur utara itu.

Cuaca sudah mulai terang, maka disana terlihat bayangan seorang dengan pakaian hijaunya. Berjalan di atas salju, orang itu bagaikan melayang laying. Dia mendekati Teng Bin Koen, untuk terus bicara satu pada lain, kemudian dia memandang kepada Boe Kie dan si nona terus dia menghampiri. Dia bertindak dengan tindakan ringan dan jarak tindakannya itupun tidak lebar.

Ketika ia sudah mendatangi kira-kira empat atau lima tomabk, terlihat tegas wajahnya yangn cantik sekali dan bersih, dan usianya belum lewat tujuh atau delapan belas tahun.

Dalam herannya Boe Kie berpikir, mendengar suara siulannya tadi dan menyaksikan ringannya tubuhini, dia sebenarnya lebih tua dari Teng Bia Keon, tidak tahunya dia justru lebih muda bahkan rupanya lebih muda dari ia sendiri.

Nona itu membawa pedang di pinggangnya, senjata itu tapi tidak dihunus. Dia bertindak mendekati dengan tangan kosong.

“Cioe Soe moay, hati-hati!” Teng Bie Koen berkata memperingati. “Budak setan itu bekepandaian rada sesat!”

Nona itu mengangguk.

“Jiwi, kamu she apa dan nama siapa?” ia menanya halus. Ia memanggil jiwi berdua nona atau tuan, kepada Boe Kie dan gadis desa. “Kenapa jiwi melukai siecoeku itu?”

Selagi orang mendekat Boek Kie mengawasi terus. Ia lantas merasa bahwa ia pernah kenal nona itu. Ketika ia mendengar suara si nona, lantas ia ingat, maka katanya didalam hati, “Ah kiranya dia Coe Cie Jiak yang aku pernah ketemukan di sungai Han Soei! Tay soehoe membawa dia ke Boe Tong san, kenapa dia sekarang masuk dalam partai Gio Bie Pay!”

Karena memikir begini Boe lantas ingat juga Thio Sam Hong. Ia lantas merasakan dadanya panas. Hanya sejenak ia lantas berpikir pula, “Thio Boe Kie telah mati! Sekarang ini akulah seorang dusun, si Can A Goe yang sangat jelek rupanya! Asal aku tidak bisa menyamarkan diri mungkin aku bakal menghadapkan malapetaka yang tak ada habisnya! Tidak, di depan siapa pun, tidak dapat aku memperlihatkan diriku yang asli, supaya ayah dan ibuku jangan berpenasaran terus di dunia baka!”

Sekejap ia menjadi ingat pula ayah angkatnya berdiam diri di pulau mencil yang tak dikenal dan tentang ayah dan ibunya yang sudah binasa penasaran.

Selagi Boe Kie berpikir itu, si gadis desa menyahuti dengan suara dingin. Sembari berkata itu dia tertawa. “Soecie kau itu sudah menghajar punggungku dengan kedua tangannya dengan pukulan Toe Chung Bong Hoa,” ia kata. “Dia memukul aku, lantas tangannya patah sendirinya. Apakah waktu itu aku pasti disesalkan dan dipersalahkan. Coba kau tanya soecie mu apakah pernah aku membalas memukul dia sekalipun satu kali saja?”

Cio Cie Jiak berpaling kepada kakak seperguruannya itu, romannya menanya.

Teng Bin Koen tidak memberi jawaban, hanya dengan gusar dia kata, “Kau bawalah dia berdua kepada suhu, supaya suhu yang memberi hukuman kepadanya!”

Mendengar itu Cie Jiak berkata, “Jika mereka ini bertindak keliru bukan dengan sengaja, menurut pandanganku baiklah urusan dihabiskan saja. Lebih baik kita menjadi sahabat-sahabat”.

Teng Bin Koen gusar. “Apa?” dia berteriak. “Apakah kau berbalik untuk membantu orang luar?”

Melihat romannya Teng Bin Koen itu, Boe Kie ingat peristiwa itu malam ketika Pheng Eng Giok Hweeshio kena dikeroyok di dalam rimba, karena mana Kie Siauw Hoe menjadi bentrok sama Teng Bin Koen ini. Sekarang rupanya peristiwa ini mengulangi diri, Teng Bin Koen kembali mendesak, memaksa adik seperguruannya ini, untuk bertindak sewenang-sewenang dan kejam. Karena ini, ia menjadi berkuatir untuk Cie Jiak.

Agaknya nona Cioe sangat menurut kepada sucinya itu, ia sangat menghormati. Sembari menjura ia berkata, “Baiklah siaomoi menurut kata suci, tidka berani siaomoi membantahnya.”

“Bagus!” kata Bin Koen. “Sekarang kau boleh bekuk budak itu, kau patahkan kedua tangannya!”

“Baik!” menyahut adik seperguruan itu. “Tolong suci berjaga-jaga” Ia lantas berpaling kepada gadis dusun, untuk berkata, “Maaf, siaomoi berlaku kurang aja, ingin ku menerima beberapa jurus.”

Gadis desa itu tertawa dingin. “Tak usah banyak pernik!” katanya. Dengan sebat sekali, ia lantas menyerang, beruntun 3 kali. Sebab serangannya yang pertama dan kedua tidak memberikan hasil.

Cie Jiak main mundur, tangan kanannya menangkis, tangan kirinya mencoba menangkap. Itulah pembelaan diri sambil menyerang. Dia bergerak lincah sekali.

Boe Kie menonton, ia menjadi kagum. Di ilmu dalam, ia sudha mencapai puncak kemahiran, tetapi di dalam hal ilmu silat, ia masih ketinggalan. Sekarang ia melihat kedua nona itu bertempur cepat dan hebat. Lihati tangan Bian Ciang dari Cie Jiak, tetapi aneh gerak-gerik si gadis desa. Ia kagum berbareng berkuatir. Sebenarnya ia tidak mengharap siapa juga yang menang, ia hanya ingin dua-duanya tidak sampai terluka”

Dengan lekas orang sudah bertarung lebih dari dua puluh jurus, sekarang mereka itu sama-sama memasuki babak yang berbahaya. Mendadak si gadis desa berseru. “Kena!” benar saja ia dapat menghajar pundak Cie Jiak. Sebaliknya si nona Cioe dapat menjambret baju orang hingga robek. Setelah itu, keduanya sama-sama melompat mundur, muka merekapun sama-sama merah.

“Sungguh suatu ilmu menangkap yang hebat!” si gadis desa berseru. Sebenarnya ia hendak maju pula, tapi ia lantas melihat lawannya mengerutkan alis, tangannya meraba dadanya, tubuhnyapun terhuyung dua kali, hampir roboh.

Boe Kie kaget hingga ia berteriak, “Kau…kau…” Nyata sekali besar perhatiannya terhadap nona marga Cioe itu.

Cie Jiak heran melihat pria itu, yang rambut dan kumisnya panjang, menaruh perhatian sedemikian rupa terhadapnya.

“Soe-moay, kau kenapa?” Bin Koen bertanya heran.

Dengan tangan kirinya, Cie Jiak memegang pundak sang Soe-cie, kepalanya digeleng.

Bin Koen heran kemudian ia menjadi kaget. Tadi ia dikalahkan si gadis desa, ia penasaran ingin menuntut balas, maka senang hatinya sang Soe-moay itu, adik seperguruan, sudah datang kepadanya. Ia percaya Soe-moay ini bakal berhasil melampiaskan sakit hatinya itu. Ia pernah mendengar guru mereka memuji sang Soe-moay sebagai murid yang cerdas, yang majunya pesat, sehingga “Cioe Cie Jiak- diharap nanti dapat mengangkat pamor rumah perguruan mereka, maka itu sekarang, ia memaksa sang Soe-moay menempur si gadis desa. Ia berlega hati melihat Cie Jiak dapat berkelahi hingga dua puluh jurus lebih. Itu tanda Soe-moay itu sudah lebih menang darinya, maka ia heran melihat akhir pertandingan itu, bahkan ia terkejut waktu ia merasa cekalan tangan Soe-moay di pundaknya. Tangan itu seperti tidak ada tenaganya. Itulah tanda bahwa sang Soe-moay telah terluka. Dari kaget ia menjadi takut, takut si gadis desa nanti merangsak untuk menyerang pula.

“Mari kita pergi!” katanya cepat. Ia membawa Soe-moay itu, untuk berlalu dengan cepat ke arah timur laut tadi.

Si gadis desa mengawasi kepergian lawannya lantas ia menoleh kepada Boe Kie. Ia tertawa dingin. “Hai, si muka jelek tidak keruan!” katanya mengejek, “Melihat nona cantik, semangatmu terbang hingga keluar langit!”

Boe Kie berniat membantah ketika ia lantas berpikir. “Jikalau aku tidak memperlihatkan jati diriku, urusan sukar dibuat jelas. Tapi baiklah aku tetap jangan bicara!” Maka ia menjawab, “Perduli apa dia cantik atau tidak? Apa kaitannya dengan aku? Aku justru menguatirkan kau, aku takut kau nanti terluka.”

Mendengar itu, si nona menjadi girang. Perubahan sikapnya cepat. “Omonganmu ini benar-benar atau dusta?” dia bertanya.

“Sebenarnya aku menguatirkan kalian berdua,” piker Boe Kie, tapi ia menjawab, “Untuk apa aku mendustai kau? Aku hanya tidak menyangka dalam Go Bie-pay ada nona demikian muda tapi ilmu silatnya sudah mahir sekali.”

“Hebat, ya hebat!” kata si gadis desa.

Boe Kie mengawasi ke arah Cie Jiak. Tadi nona itu datang dengan lincah, tapi sekarang pergi dengan langkah terseok-seok. Ia lantas ingat bagaimana dulu, di dalam perahu di sungai Han Soet, si nona menyuapi ia, meminumkan air, bagaimana ia diberikan sapu tangan untuk menyusut air matanya. Itulah budi si nona. Maka mengingat begitu, ia berdoa agar luka si nona tidak berbahaya.

Tiba-tiba gadis desa tertawa dingin.

“Tak usah kau menguatirkan dia!” katanya nyaring. “Dia tidak terluka sama sekali! Bahkan aku bilang dia hebat! Bukan ilmunya yang aku maksud, tapi kecerdikannya, selagi ia masih berusia demikian muda!”

Boe Kie heran.

“Apakah dia tidak terluka?” ia tanya.

“Memang tidak! Ketika tanganku mengenai pundaknya, dari pundak itu menolak keluar aliran tenaga dalam yang membuat tanganku mental kembali. Jelaslah dia telah mempelajari ilmu Kioe Yang Kang dari Go Bie-pay. Dan membuat tanganku gemetaran dan kesemutan! Dia mana terluka?”

Boe Kie menjadi girang. Ia berkata dalam hatinya, “Kalau begitu, Biat Ciat Soe-thay menghargai nona itu. Dia rela menurunkan ilmu Kioe Yang Kang dari Go Bie-pay, sedangkan ilmu itu adalah ilmu pelindung untuk partainya.

Tengah ia berpikir, Boe Kie merasa kupingnya sakit. Tanpa setahunya, telinganya itu telah ditampar si nona, pipinya juga kena, sehingga kuping dan pipinya menjadi merah dan bengap.

“Kau…kau bikin apa?” tegurnya gusar.

Nona itu mendongkol, katanya sengit. “Melihat orang demikian cantik semangatmu terbang naik keluar langit! Aku bilang dia tidak terluka, lantas kau jadi kegirangan! Kenapa?”

“Jika benar aku girang untuknya, apa kaitannya dengamu?” Boe Kie balik bertanya.

Tangan si nona melayang pula, tapi Boe Kie dapat berkelit mundur.

Nona itu menjadi gusar dan berseru, “Kau telah bilang bahwa kau telah bakal menikahi aku! Belum setengah hari lewat, pikiranmu sudah berubah! Kau sudah kepincut nona lain!”

“Toh kau sendiri yang bilang aku tidak cocok untukmu?” balas Boe Kie. “Kau pun bilang bahwa di dalam hatimu ada seorang kekasih lainnya, kau tak dapat menikah denganku!”

“Itu benar! Tapi kau telah berjanji padaku bahwa seumur hidupmu kau akan setia padaku,” kata si nona pula.

“Tentu sekali, apa yang telah aku bilang akan kupegang,” kata Boe Kie pula.

“Kalau begitu?” kata si nona gusar, “Kenapa setelah melihat nona cantik kau tak ada semangat seperti ini. Melihat lagakmu ini bagaimana orang tidak mendongkol?”

Mau tidak mau, Boe Kie tertawa. “Semangatku tidak hilang!” katanya.

Si nona masih berkata sengit, “Aku larang kau menyukai dia! Aku larang kau memikirkan dia!”

“Aku tidak bilang bahwa aku menyukai dia,” kata Boe Kie. “Tapi kau, di dalam hatimu mengapa kau senantiasa mengingat seseorang lain. Kau mengingatnya hingga kau tidak melupakannya?”

“Sebab aku kenal orang itu lebih dulu daripada aku kenal kau. Coba aku mengenal kau terlebih dahulu, pasti seumur hidupku, aku selalu baik terhadap kau seorang, tidak akan mencintai orang lain lagi. Ini dia yang dibilang, ikut satu orang hingga akhir hayatnya. Jikalau satu orang mempunyai dua atau tiga pikiran, Tuhan juga tidak dapat menerimanya?”

“Aku kenal nona Cioe jauh lebih lama daripada aku kenal kau,” kata Boe Kie di dalam hati. Ia tidak dapat mengatakan itu, maka ia bilang, “Jikalau kau baik denganku seorang, aku juga akan baik dengan kau seorang, tetapi jikalau di dalam hatimu memikirkan orang lain, aku pun dapat memikirkan orang lain!”

Nona itu terdiam, beberapa kali ia hendak membuka mulutnya, tiba-tiba batal. Mendadak kedua matanya mengalirkan air, lantas ia berpaling ke arah lain. Tanpa sepengetahuan Boe Kie, ia menghapus air matanya itu.

Boe Kie menjadi kasihan. Ia mencekal tangannya.

“Kita bicara tidak keru-keruan begini, untuk apa?” ia bilang. “Beberapa hari lagi kakiku sembuh, kita berdua boleh pergi pesiar memandangi keindahan sang alam. Tidak baguskah itu?”

Nona itu menoleh, wajahnya berduka. “Goe koko, aku mau minta sesuatu,” katanya sabar. “Aku minta kau jangan gusar.”

“Apakah itu?” balik tanya Boe Kie. “Asal yang aku sanggup, tentu aku akan melakukannya untuk kau.”

“Jikalau kau berjanji tidak akan gusari aku, baru aku mau bicara.”

“Baik, aku tidak akan gusar.”

Nona itu ragu-ragu. Katanya sesaat kemudian. “Kau bilang di hatimu tidak gusar, kalau di mulut bilang tak gusar?”

“Baiklah, di dalam hatiku juga aku tidak gusar.”

Nona itu lantas menggenggam keras. “Goe koko!” Ia berkata sungguh-sungguh. “Aku datang dari Tionggoan yang berlaksa li sampai di wilayah Barat ini, maksudku ialah untuk mencari dia. Mulanya aku masih dapat mendengar sedikit kabar tentangnya, lalu setibanya di sini ia bagaikan sebuah batu yang tenggelam dalam lautan besar, sedikitpun tak kudengar lagi kabarnya. Maka itu, kalau nanti kakimu sudah sembuh aku minta kau membantuku mencari dia, sesudah itu baru aku menemani kau pesiar ke gunung dan sungai! Tidakkah ini bagus?”

Boe Kie tidak dapat menahan rasa tidak senangnya, hingga ia mengeluarkan suara di hidung. “Hmm”.”

“Kau sudah menerima baik, kau sudah berjanji tidak akan gusar,” kata si nona. “Apakah ini bukan tandanya gusar?”

“Baiklah, aku nanti membantu kau mencari dia!” kata Boe Kie.

Kembali si nona girang secara mendadak. “Goe koko, kau baik sekali,” dia berseru. Lantas ia memandang jauh ke depan, ke arah di mana langit dan bumi bertemu, hatinya bergetar. Dengan perlahan dia berkata, “Jikalau nanti kita dapat menemukan dia, dia akan berpikir bahwa aku telah mencari dia lama sekali, dia tidak akan mengusir aku. Apa yang dia bilang, aku akan melakukannya. Pendek kata, aku akan turut segala perkataannya!”

“Sebenarnya kekasihmu itu ada kebaikkan apa?” tanya Boe Kie. “Kenapa kau sampai selalu memikirkannya saja?”

Ditanya begitu, si nona tertawa. “Apa kebaikkannya?” katanya. “Mana dapat aku menerangkan? Goe koko, aku tanya apakah kita dapat mencari dia? Umpama kata kita dapat mencari, apakah dia bakal mencaci dan memukulku?”

Tidak senang Boe Kie melihat orang demikian tergila-gila, akan tetapi ia pun tidak mau membuatnya tidak bergembira, maka ia berkata perlahan, seperti bersenandung. “Asal hati manusia keras bagaikan emas, di atas langit atau di dalam dunia pasti orang dapat saling bertemu!”

Mulut mungil si nona bergerak perlahan, air matanya berlinang. Ia mengulangi dengan perlahan. “Asal hati manusia keras bagaikan emas, di atas langit atau di dalam dunia pasti orang dapat saling bertemu”.”

Boe Kie mendengar suara si nona, katanya di dalam hati. “Nona ini demikian tergila-gila terhadap kekasihnya, jikalau di dalam dunia ini ada seorang yang demikian memikirkan aku, biar dalam hidupku lebih menderita lagi aku rela”.”

Ia memandang ke arah timur laut, di atas salju ia melihat tapak kakinya Cie Jiak dan Bin Koen, ia melamun pula. “Jikalau tapak kakinya Bin Koen itu tapak kakiku, dapat berjalan bersama nona Cioe”.”

Ia terbangun dari lamunannya dengan kaget. Mendadak ia mendengar suara keras dari si nona. “Hayo! Lekas! Mari kita pergi. Kalau terlambat, nanti tak keburu!”

“Apa?” tanya Boe Kie masih gelagapan.

“Nona muda dari Go Bie-pay itu tidak mau bertempur sama aku,” kata si nona. “Ia berpura-pura terluka, tetapi lain dengan Teng Bin Koen, dia bilang dia mau menangkap kita untuk dibawa kepada gurunya. Itu berbahaya. Mestinya Biat Coat Soe-thay berada di dekat sini. Pendeta wanita bangsat yang tua itu paling mau menang sendiri, mana bisa dia tidak datang kemari?”

Boe Kie terkejut, ia pun kuatir. Ia ingat kekejamannya Biat Coat Soe-thay ketika ia menghajar mati Kie Siauw Hoe dengan sebelah tangannya.

“Memang dia sangat hebat, kita tidak dapat melawannya,” katanya.

“Apakah kau pernah bertemu dengan dia?”

“Bertemu, itulah belum, tapi dia ketua Go Bie-pay, dia bukan sembarangan orang.”

Nona itu mengerutkan alis. Hanya sebentar, ia lantas bekerja. Ia mengumpuli beberapa kayu yang kuat, ia ikat itu dengan tali babakan pohon. Segera setelah selesai, membuat semacam kursi bagaikan kereta. Tanpa bilang apa-apa ia lantas menggendong Boe Kie, untuk duduk di dalam kursi itu, yang ujungnya diikatkan tali panjang, sesudah itu ia terus tarik bawa pergi berlari-lari. Kencang larinya!.

Sambil duduk di kereta salju, Boe Kie mengawasi gadis desa yang tabiatnya aneh itu. Dia lari dengan lincah. Dia lari terus-menerus, tak hentinya sampai kira-kira empat puluh li. Sama sekali tidak terdengar nafasnya menghela. Ia kagum akan kemahiran ilmu ringan tubuh si nona itu. Tapi ia merasa tidak enak hati.

“Eh, berhenti dulu!” katanya, “Kau beristirahatlah!”

Nona itu tertawa, ia menyahuti, “Siapa eh, eh? Apakah aku tidak punya nama?”

“Kau tidak mau memberitahukan namamu, apa yang aku bisa? Kau menghendaki memanggilmu si nona jelek, tapi aku merasa kau bagus dilihat”.”

Nona itu tertawa, lalu berhenti berlari. Dia menyingkap rambutnya. “Baiklah, sekarang aku memberitahukan kepadamu!” katanya. “Tak apa aku bilang padamu. Aku dipanggil Coe Jie.”

“Coe Jie! Coe Jie!” kata Boe Kie. “Sungguh benar satu anak mustika!”

“Fui!” nona itu meludah. “Namaku bukannya Coe dari Tin Coe yang berarti mutiara, hanya Coe dari Tin-coe, yaitu laba-laba!”

Boe Kie tercengang. “Mana ada orang yang pakai huruf Coe untuk namanya?” katanya. Ia heran nona itu memakai nama Coe itu, hingga ia menjadi Coe Jie (anak Coe atau si Coe).

“Itu justru namaku!” kata si nona. “Umpama kata kau takut, nah, tak usahlah kau memanggilnya!”

“Apakah itu nama pemberian ayahmu?” Boe Kie bertanya.

“Jikalau ayahku yang memberikannya, kau pikir, apakah kau kira aku suka menerimanya?” si nona membalas, “Ibuku yang memberikannya. Ibu mengajarkan ilmu silat Cian Coe Cit-hoe choe, maka ia bilang, aku baiknya memakai nama ini.”

Terkesiap Boe Kie mendengar disebutnya ilmu silat Cian Coe Ciat-hoe choe itu.

“Aku mempelajari itu dari kecil,” si nona menjelaskan tanpa diminta, “Sampai sekarang aku belum dapat menyempurnakan. Jikalau aku sudah mahir maka tak usahlah kita takut pula pada Coat Soe-thay si pendeta wanita bangsat itu. Maukah kau melihatnya?”

Sembari berkata begitu, Coe Jie merogoh ke dalam sakunya, untuk menarik keluar sebuah kotak dari emas, yang ia terus buka tutupnya dan di dalam itu lantas terlihat dua ekor laba-laba, yang tubuhnya berkotak-kotak. Punggung laba-laba itu bertitik-titik belang, bertotolan seperti bunga sulaman. Yang aneh pula kalau biasanya berkaki delapan, kedua binatang ini berkaki masing-masing dua belas.

Boe Kie terkejut. Mendadak ia ingat Tok Kang, Kitab Racun karangannya Ong Lan Kouw. Di dalam kitab itu antaranya ada di tulis. “Laba-laba itu ada yang belang. Itulah yang beracun sekali. Laba-laba dengan sepuluh kaki ialah yang paling beracun tak ada bandingan, siapa kena digigit dia tak akan ketolongan lagi.” Kali ini laba-laba berkaki dua belas pasti mereka lebih beracun daripada yang kakinya sepuluh. Sebab di dalam kitab tersebut tidak ada disebut-sebut.

Si nona ketawa melihat kawannya ketakutan.

“Kau ahli, kau tahu kegunaannya laba-laba mustika ini!” ia berkata, “Kau tunggu sebentar!”

Ia simpan kotaknya itu lantas ia lari menghampiri sebuah pohon besar, untuk lompat naik ke atasnya. Di situ ia berdiam lama di cabang yang tertinggi, untuk memandang sekitarnya. Ia seperti melihat atau mencari sesuatu. Setelah itu ia lompat turun lagi.

“Mari kita pergi pula barang selintasan,” ia berkata. “Perlahan-lahan saja kita bicara tentang laba-laba. “Ia lantas menarik pula kereta saljunya bermuatan manusia. dia berlari-lari kira-kira tujuh atau delapan li, hingga mereka tiba di sebuah lembah. Di sini ia turunkan Boe Kie dari kereta istimewanya itu, sebagai gantinya, dia memuat beberapa buah batu besar. Lantas ia menarik pula, berlari-lari. Akhirnya ia lari ke tepi jurang, di situ ia berhenti dengan tiba-tiba, keretanya dilepaskan, maka kereta itu bersama batunya terjun ke dalam jurang yang dalam, terdengar suara berisik dari jatuhnya kereta.

Boe Kie heran, ia mengawasi kelakuan nona itu. Ketika ia melihat ke salju, tempat yang tadi menjadi jalanan mereka, ia mendapatkan dua baris tapak kereta salju itu. Ia cerdas dan ia lantas mengerti. Maka di dalam hatinya ia berkata, “Nona ini sangat cerdik. Jikalau Biat Coat Soe-thay menyusul kita, setibanya di sini, tentu dia bakal menyangka bahwa kita jatuh mati ke dalam jurang itu.”

Coe Jie lantas kembali.

“Mari naik ke atas punggungku!” ia berkata kepada kawannya, di depannya ia berjongkok.

“Kau hendak menggendong aku?” tanya Boe Kie, “Tubuhku berat, kau bakal sangat letih.”

Nona itu mengawasi, matanya melotot. “Kalau aku letih aku pasti bisa tahu?” ujarnya.

Boe Kie terdiam, ia naik ke punggung nona itu, kedua tangannya merangkul leher si nona perlahan-lahan tanpa bertenaga.

“Apa kau takut merangkul aku keras-keras hingga mati tercekik?” kata nona itu tertawa. “Kau merangkul begini pelan dan kakimu menjepit orang enteng sekali, kau membuat leherku geli saja!”

Boe Kie yang polos, melihat kepolosan si nona ia menjadi girang. Ia lantas merangkul erat-erat dan kedua kakinya menjepit keras.

Mendadak saja si nona bergerak, untuk melompat naik ke atas pohon.

Pohon itu mengarah ke arah barat, di sana terdapat barisan pohon lainnya. Bagaikan kera gesit, dengan cepat nona itu berlompatan dari pohon yang satu ke pohon yang lain, untuk jauh meninggalkan tempat di mana barusan singgah.

Boe Kie kagum bukan main. Nona itu bertubuh kecil, tapi nyata dia kuat sekali. Tubuhnya dapat dibawa berlompatan dan berlari-lari dengan ringan. Setelah melewati kira-kira delapan puluh pohon, hingga mereka sudah pergi jauh. Baru nona itu melompat turun, hingga sekarang mereka berada di pinggiran sebuah gunung. Di situ Boe Kie diturunkan dengan hati-hati.

“Di sini kita membangun gubuk kerbau!” kata nona itu tertawa, “Tempat ini baik!”

“Gubuk kerbau?” Boe Kie heran, “Untuk apakah gubuk kerbau?”

Si nona tertawa. “Memang gubuk kerbau!” katanya. “Gubuk untuk menempatkan seekor kerbau yang besar! Bukankah kau bernama A Goe, si kerbau?”

Boe Kie tersentak, lantas ia pun tertawa. Nona itu sedang bergurau. Memang namanya A Goe, berarti kerbau. “Bila begitu, tak usahlah,” ia berkata. “Empat atau lima hari lagi, kakiku tentu sudah sembuh banyak, aku dapat berjalan meskipun dipaksakan”.”

“Hm, dipaksakan!” kata si nona, tersenyum. “Kau sudah jadi si jelek tidak karuan, kalau nanti kaki kerbaumu pincang, apa itu bagus dilihat?”

Habis berkata, si nona kembali bekerja. Dengan cabang pohon yang berdaun, ia menyapu salju di batu gunung.

Mengertilah Boe Kie bahwa si nona sangat memperhatikannya. Itulah bukti dari kata-katanya: “kalau nanti kaki kerbaumu pincang, apa itu bagus dilihat?” Tanpa terasa hatinya jadi tergerak.

Iapun lantas mendengar nona itu beryanyi perlahan, beryanyi sambil bekerja. Dia tidak usah membuang waktu lama akan dapat membangun gubuk yang beratap alang-alang. Gubuk itu cukup besar untuk mereka berdua bernaung di dalamnya.

Tapi Coe Jie masih bekerja terus. Sekarang ia mengangkut salju tak hentinya. Ia menutup gubuk dari atas atap, lalu ke bawah di sekitarnya. Di lain saat, dari tempat jauh gubuk itu tidak kelihatan lagi, kecuali sebagai gundukan salju.

Kembali Boe Kie menjadi kagum.

Habis bekerja, Coe Jie mengeluarkan sapu tangan untuk menyusut keringatnya. Setelah bekerja begitu berat, tubuhnya kepanasan hingga ia mengeluarkan peluh. Namun ia tidak duduk beristirahat.

“Kau tunggu di sini!” katanya. “Aku hendak pergi mencari makanan!”

“Kau beristirahat dulu,” Boe Kie berkata. “Aku belum lapar, kau boleh menunggu sebentar lagi. Kau terlalu letih.”

Nona itu mengawasi. “Jikalau kau hendak memperlakukanku dengan baik kau harus sungguh-sungguh baik,” dia berkata. “Manis di mulut saja buat apa?” Lantas ia pergi berlari memasuki hutan.

Boe Kie terpaksa berdiam. Ia merebahkan dirinya di batu gunung, yang terkurung gubuknya itu. Ia sekarang mempunyai kesempatan untuk memikirkan kelakuan si nona yang polos itu, yang suaranya halus, yang gerak-geriknya genit. Saking polosnya nona itu gampang gusar. Mestinya gerak-gerik itu dipunyai seorang nona cantik, tetapi dia berwajah jelek sekali. Tapi ia lantas ingat kata-kata ibunya di saat hendak menghembuskan nafas terakhir. Kata ibu, “Wanita itu, makin cantik makin pandai dia menipu orang maka terhadap wanita cantik kau harus semakin berhati-hati menjaga diri!”

“Coe Jie jelek, tapi dia baik sekali,” pikirnya. “Aku mempunyai niat mengambil dia sebagai kawan hidupku, tapi dia mempunyai pacar sendiri jadi tidak menaruh hati padaku”.”

Tanpa terasa, lama juga Boe Kie berpikir, lantas ia melihat si nona kembali dengan tangannya menenteng dua ekor ayam hutan. Tanpa bicara nona itu bekerja menyalakan api, membakar ayam itu, hingga mereka mencium bau yang wangi, yang membangkitkan selera makan.

“Mari makan!” kata si nona akhirnya. Ia memberikan seekor pada kawannya.

Tanpa sungkan Boe Kie makan ayam itu. Ia pun makan dengan cepat.

“Ini masih ada,” kata si nona sambil tertawa. Ia melemparkan sisa dua potong kaki ayam.
Boe Kie malu hati, hendak ia menolak.

Tapi si nona gusar. “Kalau mau makan, makanlah!” katanya ketus. “Siapa berpura-pura baik terhadapku, mulutnya lain hatinya lain, nanti kita tikam tubuhnya hingga berlubang!”

Tanpa banyak bicara Boe Kie makan ayam itu. Kemudian, untuk mencuci mulutnya, ia pakai salju tebal sebagai air. Lengan tangan bajunya menyusut kering mulutnya berikut mukanya.

Kebetulan Coe Jie berpaling ketika ia melihat muka orang, dia tersentak kemudian mengawasi, Boe Kie heran, ia menjadi curiga.

“Kenapa?” ia bertanya.

“Usiamu berapa?” tanya si nona tanpa menjawab.

“Baru dua puluh tahun tepat.”

“Ah, kau lebih tua dua tahun daripada aku. Mengapa kumismu sudah tumbuh begitu panjang?”

Boe Kie tertawa. “Dari kecil aku hidup sendirian di gunung,” sahutnya, “Belum pernah aku ketemu orang, maka itu aku tidak berpikir untuk cukur.”

Coe Jie merogoh sakunya untuk mengeluarkan sebilah pisau kecil yang bergagang emas.

“Mari!” katanya. Lantas dengan memegangi muka orang, ia mulai mencukur.

Boe Kie diam saja. Ia merasa pisau yang tajam itu mencukur kumisnya. Ia merasakan juga tangan yagn halus dan lemas dari si nona. Tanpa terasa, hatinya dag dig dug.

Habis mencukur kumis dan janggut, Coe Jie mencukur terus tenggorokan. Tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Asal aku menggunakan sedikit saja tenaga, aku bisa memotong lehermu ini, maka terbanglah jiwamu! Kau takut tidak?”

“Mati atau hidup, aku terserah pada kau, nona,” sahut Boe Kie. “Mati di tanganmu, menjadi setanpun aku senang!”

Coe Jie membalik pisaunya, dan menekan keras ke leher. Mendadak ia membentak, “Nih, jadilah kau setan yang senang!”

Boe Kie kaget, tak sempat ia melawan. Tapi ia tak merasakan sakit, maka ia tersenyum.

“Senangkah kau?” tanya si nona tertawa.

Pemuda itu tertawa, ia mengangguk. Baru ia tahu bahwa ia dipermainkan.

Habis mencukuri muka orang, Coe Jie mengawasi. Ia bengong saja. Beberapa lama, lalu terdengar helaan nafasnya.

“Eh, kau kenapa?” tanya Boe Kie heran.

Nona itu tak menyahuti, ia lantas memotong rambut orang, untuk dibikin sedikit pendek, setelah itu ia membuat konde. Sebagai tusuk kondenya, ia meraut cabang pohon. Diriasi begitu, walaupun pakaiannya butut, Boe Kie tampak cakap dan gagah.

Lagi-lagi si nona menghela nafas. “Goe koko,” katanya perlahan, kagum. “Aku tidak sangka, kau sebenarnya berwajah begini tampan”.”

Boe Kie cepat menyahut, nona itu tentu menyesali wajahnya sendiri, maka ia berkata, “Di dalam dunia ini, apa yang bagus, di dalamnya suka mengeram apa yang jelek. Burung merak begitu indah bulunya tapi nyalinya beracun. Jengger burung boo yan merahpun bagus sekali tapi racunnya bukan main. Demikian binatang lainnya, seperti ular, bagus dilihatnya tapi jahatnya berlebihan. Wajah tampan apa faedahnya? Yang penting hatinya baik.”

Mendengar itu si nona tertawa dingin. “Hati baik apa faedahnya?” ia tanya. “Coba kau jelaskan!”

Ditanya begitu, Thio Boe Kie tidak segera dapat menjawab. Dia tersentak sejenak. “Siapa berhati baik, dia tak dapat melukai orang,” katanya kemudian.

“Tidak mencelakai orang apakah kebaikannya?” tanya Coe Jie.

“Jikalau kau tidak membunuh orang maka hatimu menjadi tenang,” Boe Kie menjelaskan.

“Jika aku tidak mencelakai orang, hatiku justru tidak tenang,” kata si nona. “Kalau aku mencelakai orang hingga hebatnya bukan kepalang hatiku barulah tenang dan girang.”

Boe Kie menggelengkan kepala. “Itu artinya kau merampas peri keadilan!” katanya.

Si nona ketawa dingin. “Kalau bukan mencelakai orang, apa gunanya aku belajar ilmu Cian Coe Ciat-hoe coe?” katanya. “Kenapa aku mesti menyiksa diri, hingga menderita tak habisnya? Apa itu untuk main-main saja!”. Habis berkata ia mengeluarkan kotak kemalanya, membuka tutupnya dan memasukkan kedua telunjuknya ke dalam kotak tersebut.

Sepasang laba-laba belang dalam kotak bergerak perlahan-lahan, lantas mereka menggigit kedua telunjuk itu. Si nona menarik nafas dalam-dalam, kedua lengannya gemetaran, tandanya ia mengerahkan tenaga dalamnya melawan isapan laba-laba itu. Kalau si laba-laba mengisap darah si nona, maka si nona menyedot masuk racun kedua binatang itu ke dalam darahnya.

Boe Kie mengawasi saja. Ia melihat wajah si nona bersungguh-sungguh, di kedua pelipisnya muncul warna hitam, lantas nona itu mengertak gigi, tandanya ia menahan sakit. Selama sejenak, dari hidungnya keluar keringat menetes.

Sekian lama Coe Jie melatih ilmu itu. Sesudah kedua laba-laba mengisap puas darahnya, keduanya lantas melepaskan gigitannya, merebahkan dirinya untuk terus tidur pulas.

Cahaya hitam di pelipis Coe Jie lenyap dengan cepat, kulitnya menjadi segar kembali. Dia menghela nafas, Boe Kie merasakan hawa nafas itu berbau harum, hanya berbeda, ia merasa kepalanya pusing mau pingsan. Itulah tandanya hawa itu beracun hebat.

Coe Jie yang meram sejak mula, membuka kedua matanya. Ia tersenyum.

“Sampai bagaimana latihan itu baru sempurna?” tanya Boe Kie.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: