Kumpulan Cerita Silat

12/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 42

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:17 am

Memanah Burung Rajawali – 42
Bab 42. Di Pulau Terpencil
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Oey Yong selulup, ia berenang ke arah air berputar itu. Ia tidak jeri untuk tenaga besar dari usar-usaran air itu, ia dapat mempertahankan diri dari sedotan yang keras. Di situ ia selulup ubak-ubakan, untuk mencari Kwee Ceng. Lama ia berputaran, Kwee Ceng tidak nampak, Auwyang Hong pun tidak ada. Maka maulah ia menduga, kedua orang itu telah kena terbawa perahu sampai di dasar laut…

Lama-lama lelah juga Oey Yong. Tapi ia masih belum putus asa, ia bahkan penasaran. Maka ia mencari terus. Sangat ia mengharap-harapkan nanti dapat menemukan si anak muda. Diam-diam ia mengharapi bantuan Thian, mengasihani dia. Tapi masih sia-sia belaka usahanya itu. Saking letih, ia muncul ke muka air. Ia berenang ke perahu kecil. Di dalam hatinya ia berjanji, sebentar ia akan selulup pula, untuk mencari terlebih jauh.

Auwyang Kongcu melihat si nona menghampirkan, ia mengulur tangannya untuk membantui dia naik ke perahu. Ia pun sangat berkhawatir atas lenyapnya pamannya itu.

“Apakah kau melihat pamanku? Apakah kau melihat pamanku?” demikian pertanyaannya berulang-ulang.

Oey Yong tidak menyahuti, bahkan ia tak sadarkan diri sebab begitu lekas juga ia merasai matanya gelap….

Beberapa lama si nona pingsan, inilah ia tidak ketahui. Ketika ia mendusin, ia merasakan tubuhnya enteng, bagaikan melayang-layang di antara mega, kupingnya pun mendengar suara angin mendesir-desir. Lekas-lekas ia memusatkan pikirannya, kemudian ia menggeraki tubuhnya, untuk berduduk. Maka sekarang bisalah ia melihat ke sekitarnya.

Ia masih berada di atas perahu kecil, perahu itu hanyut mengikuti lairan gelombang. Auwyang Kongcu tidak mengerti urusan mengemudikan perahu, maka itu ia membiarkan perahunya berlayar sendirinya….

Pula, entah berapa jauh sudah terpisahnya perahu dengan tempat karamnya perahu besar itu.

Bukan main berduka dan sakitnya hati Oey Yong. Ia percaya ia tidak bakal bertemu pula dengan Kwee Ceng. Mendadak saja ia pingsan lagi.

Auwyang Kongcu duduk diam dengan sebelah tangannya keras-keras memegangi perahu, yang terombang-ambing itu.

Lewat sekian lama, Oey Yong sadar sendirinya. Ia benar-benar putus asa, hingga tawar untuk hidup lebih lama pula. Ketika ia menoleh kepada Auwyang Kongcu timbullah rasa muak dan bencinya. Pemuda itu lagi memperlihatkan roman ketakutan.

“Mana bisa aku mati bersama-sama binatang ini?” pikir si nona sesaat kemudian. Maka ia segera berlompat bangun.

“Lekas lompat ke laut!” ia membentak bengis.

Auwyang Kongcu kaget bukan main.

“Apa?!” dia menanya.

“Lompat ke laut!” sahut Oey Yong dengan bentakannya. “Kau tidak mau lompat? Baik! Akan aku terbaliki perahu ini!”

Lantas si nona lompat ke kanannya, maka kontan perahu itu miring ke kanan, dari situ ia lompat pula ke kiri, membuatnya perahu turut miring ke kiri itu, bahkan miringnya terlebih hebat.

Auwyang Kongcu ketakutan, ia menjerit keras.

Senang Oey Yong mendengar teriakan itu, sengaja ia menggoncang pula kenderaan itu lagi.

Dalam takutnya itu, Auwyang Kongcu masih dapat berpikir. Biar bagaimana, ia pun seorang lihay. Terpaksa ia mengambil tindakan. Setiap kali si nona lompat ke kanan, ia lompat ke kiri, demikian sebaliknya. Ia senantiasa mengimbangi nona itu.

Oey Yong kewalahan, tidak dapat ia menggoda terlebih jauh.

“Baik!” katanya kemudian. “Hendak aku membocorkan perahu, ingin aku lihat, kau bisa bikin apa!” Ia menghunus pisau belatinya, ia lompat ke tengah-tengah perahu itu.

Justru itu, Oey Yong melihat Ang Cit Kong lagi rebah tengkurup tanpa bergerak. Ia menjadi kaget sekali. Baru sekarang ia ingat pula akan gurunya itu. Segera ia mendekati, akan memasang kupingnya. Ia mendengar suara napas perlahan, hatinya menjadi sedikit lega. Ia lantas mengangkat bangun tubuh orang, untuk dibalik, hingga ia dapat melihat wajah gurunya itu.

Mukanya Cit Kong sangat pucat, dadanya bergerak turun naik perlahan-lahan, jantungnya berdenyutan perlahan juga, tanda dari kelemahannya.

Keras keinginan si nona untuk menolongi gurunya, ia tak pedulikan lagi Auwyang Kongcu. Ia lantas membukai baju gurunya, untuk memeriksa lukanya.

Tiba-tiba saja perahu itu bergerak keras.

“Tepian! Tepian!” Auwyang Kongcu pun berseru-seru kegirangan.

Oey Yong segera menoleh. Ia melihat pepohonan yang lebat. Perahunya sudah berhenti bergerak. Kenderaan air kandas di tepian pulau yang berpasir. Masih jauh akan tiba di darat, tetapi air ke arah sana dangkal sekali, dasarnya tampak. Mungkin dalamnya air tak sebatas dada.

Dalam girangnya Auwyang Kongcu lompat turun dari perahu. Ia lantas jalan beberapa tindak. Tiba-tiba ia berpaling kepada Oey Yong, terus ia berjalan kembali.

Oey Yong melihat pada tulang belikat kanan dari gurunya ada tapak tangan yang hitam, tapak itu dalam membekas di daging, seperti bekas dibakar. Di sekitar itu ada tanda hangus. Ia kaget sekali.

“Kenapa sehebat ini tangannya See Tok?” ia menanya di dalam hatinya.

Ia melihat punggung sebelah kanan dan leher, di sana ada dua lubang kecil sekali, hampir tak terlihat. Ia meraba dengan jari tangannya, ia merasakan sakit seperti terkena hawa panas, lekas-lekas ia menarik pulang tangannya itu.

“Suhu, bagaimana?” ia menanya.

Ang Cit Kong bersuara, “Hm!” perlahan, ia tidak menyahuti.

“Eh, mari keluarkan obat pemunahmu!” Oey Yong tegur Auwyang Kongcu.

Pemuda itu menggeraki kedua tangannya, tanda putus asa.

“Semua obat ada di tangan pamanku,” sahutnya.

“Aku tidak percaya!” berkata si noa.

“Kau geledah saja!” Auwyang Kongcu menyerah. Ia buka bajunya, ia keluarkan semua isi sakunya.

Oey Yong mengawasi dengan melongo.

“Nah, mari bantu aku mengangkat guruku ke darat!” ia berkata kemudian.

Auwyang Kongcu menurut. Maka Ang Cit Kong lantas dikasih bangun, untuk dapat didukung. Kedua muda-mudi itu memasang pundak masing-masing, untuk menahan si orang tua. Kemudian Oey Yong memegang tangan kirinya Auwyang Kongcu untuk tangan mereka saling disilang, hingga si orang tua dapat duduk di tangan mereka yang terpalang melintang.

Hati Oey Yong cemas sekali. Ia merasakan tubuh gurunya gemetar.

Auwyang Kongcu sebaliknya girang. Ia merasakan tangan yang halus dan empuk memegang erat-erat tangannya. Ini ada kejadian yang sekalipun di dalam mimpinya ia tidak berani mengharapkannya. Maka ia amat menyesal yang cepat sekali mereka sudah tiba di darat.

Sambil berdongko dan membungkuk, Oey Yong menurunkan gurunya.

“Lekas ambil papan perahu!” ia menitahkan Auwyang Kongcu. “Jaga jangan basah!”

Habis menurunkan Ang Cit Kong, Auwyang Kongcu membawa tangannya ke bibirnya, ia berdiri menjublak. Itulah bagian tangan yang sejak tadi dipegang erat-erat oleh tangan yang halus dan empuk dari si nona. Karena itu, ia seperti tidak mendengar perkataan si nona. Syukur untuknya, Oey Yong tidak menyangka jelek terhadapnya, cuma sambil mendelik si nona mengulangi perintahnya.

Dengan cepat Auwyang Kongcu mengambil papan. Itu waktu Oey Yong telah tengkurapkan tubuh gurunya di rumput yang empuk, ia mencoba akan meringankan sakitnya. Maka diam-diam pemuda ini dapat lari ke tanjakan yang tinggi. Sembari lari ia menanya dirinya sendiri: “Tempat apakah ini?” Ketika ia sudah melihat ke sekelilingnya, ia kaget berbareng girang. Itulah sebuah pulau kecil, yang lebat dengan pepohonan, hingga ia tidak tahu, pulau itu ada penghuninya atau tidak. Ia kaget kapan ia mengingat, kalau pulau itu kosong, darimana mereka dapat makanan dan pakaian, dimana mereka bisa bernaung? Ia girang tempo ia ingat bahwa ia berada berduaan sama si nona manis, sedang si pengemis tua, ia percaya sukar dapat ditolongi lagi.

“Sama si cantik aku berdiam di sini, pulau kosong pun bagaikan sorga!” pikirnya. “Kalau toh aku mesti mati dalam sehari atau semalam, aku puas…”

Seking girangnya, ia berjingkrakan seperti orang menari. Hanya ia kaget tatkala ia angkat tangan kanannya. Baru sekarang ia ingat lengannya itu telah patah. Karena ini lekas-lekas ia menggunai lengan kirinya mematahkan dua cabang pohon, ia pun merobek ujung bajunya. Maka dilain saat ia sudah dapat menggantung tangannya itu.

Oey Yong sendiri telah memencet keluar darah hitam dari luka gurunya. Itulah darah bercampur racun. Habis itu, ia tidak tahu harus berbuat apalagi. Di situ tidak ada obat. Ia cuma bisa pindahkan gurunya ke tempat di mana ada dua potong batu besar, untuk gurunya beristirahat.

“Coba kau lihat tempat ini tempat apa!” kemudian si nona teriaki Auwyang Kongcu. “Coba cari tahu kalau-kalau dekat sini ada rumah orang atau pondokan…”

“Inilah sebuah pulau,” menyahut Auwyang Kongcu sambil tertawa. “Terang sadah disini tidak ada pondokan. Tentang rumah orang, lihat saja peruntungan kita…”

Oey Yong terperanjat.

“Pergilah kau periksa!” ia menitah pula.

Senang si anak muda menerima titah si nona manis, ia lantas pergi. Ia masih dapat menggunai ilmunya ringan tubuh walaupun tangannya sakit. Mulanya ia lari ke timur di mana temapt lebat dengan pepohonan dan oyot berduri. Ia tidak mendapatkan apa-apa, maka ia putar ke utara. Di sini pun ia tidak melihat rumah orang atau gubuk, hanya dengan menggunai batu ia berhasil menimpuk roboh dua ekor kelinci, yang ia lantas bawa kembali.

“Benar-benar sebuah pulau kosong!” katanya.

Oey Yong melihat orang tersenyum, ia mendongkol.

“Pulau kosong? Habis, apanya yang lucu?!” ia menegur.

Pemuda itu mengulur lidahnya, ia tidak berani banyak omong, terus ia mengeset kulit kelinci, setelah mana, ia menyerahkannya kepada si nona.

Oey Yong merogoh sakunya, mengeluarkan terkesannya. Syukur ia menyimpannya dengan dibungkus dengan kertas minyak, alat penyala api itu tidak basah, maka dilain saat, ia sudah menyalakan api dengan apa dua ekor kelinci itu dipanggang. Sesudah matang, yang seekor ia lemparkan itu kepada si anak muda, yang seekor lagi ia beset sebelah pahanya, untuk diberikan kepada gurunya.

Ang Cit Kong terluka parah, ia masih belum sadar betul, tetapi begitu ia memcium bau daging, segera terbangun napsu daharnya. Memangnya ia penggemar gegares. Segera juga ia sudah mulai mengerogoti dan mengunyah daging kelinci itu. Habis sepaha, ia menunjuk sikap masih ingin pula, maka muridnya, yang hatinya girang, memberikan pula ia sepaha yang lain.

Setelah makan habis dua paha, Cit Kong menjadi lemah, malah dilain saat ia terus tidur pulas.

Oey Yong melihat cuaca mulai remang-remang, tandanya sang malam sudah tiba, dari itu lekas-lekas ia pergi mencari lubang gua, untuk memernahkan gurunya itu.

Auwyang Kongcu membantui tanpa diperintah atau diminta. Ia mencari rumput kering guna diampar sebagai kasur. Ia pun membantu memodong orang tua itu. Kemudian ia mencari rumput lagi, guna mengampar dua tempat, buat dia sendiri dan si nona.

Selama itu Oey Yong melainkan melirik saja, ia tidak ambil peduli pemuda itu, hanya disaat orang telah selesai bekerja dan lagi mengulet, untuk merebahkan diri, mendadak ia menghunus pisau belatinya.

“Pergi keluar!” ia mengusir.

Pemuda itu tertawa.

“Aku tidur disini toh tidak mengganggumu?” katanya. “Kenapa kau begini galak?”

“Kau pergi atau tidak?!” si nona menegaskan, alisnya bangkit.

“Akan aku tidur baik-baik, kau jangan takut,” berkata pula si anak muda tersenyum.

Oey Yong habis sabar, ia berbangkit untuk mengambil puntung api, ia bawa itu ke tempat si anak muda, ia bakar orang punya rumput amparan, maka sebentar saja habislah itu menjadi abu.

Auwyang Kongcu menyeringai, dengan terpaksa ia mengeloyor keluar dari gua itu. Di pulau seperti itu ia tidak takut ada binatang beracun atau buas, ia berlompat naik ke atas sebuah pohon di mana ia mencari cabang untuk memernahkan tubuhnya. Tapi tak gampang untuk tidur pulas, ia bergelisah, maka belasan kali ia naik turun, di pohon itu. Saban-saban ia menoleh ke arah gua di mana ada cahaya tabunan. Ia telah memikir untuk menyerbu ke dalam gua, senantiasa ia gagal, hingga ia mengatakan dirinya, kenapa ia demikian bernyali kecil. Biasanya pekerjaan mencuri, atau memaksa kesenangan seperti itu, sudah umum baginya, hanya terhadap nona ini, ia segan-segan. Sebenarnya, walaupun hanya dengan sebelah tangan, dapat ia melawan nona itu. Bukankah tak ada halangannya Ang Cit Kong berada bersama sebab si raja pengemis sudah tidak berdaya? Entah bagaimana, ia jerih sendirinya….

Dengan mata mendoleng, Auwyang Kongcu mengawasi Oey Yong merebahkan diri. Cahaya tabunan membuatnya ia dapat melihat. Ia cuma memandang, lain tidak.

Oey Yong sendiri rebah dengan mata meram tetapi tidak pernah ia pulas. Ia tidak mempercayai keponakannya Auwyang Hong itu, yang ia khawatir nanti menyerbu selagi ia tidur. Ia juga keras memikirkan lukanya Ang Cit Kong, yang belum tentu bisa diobati. Maka lega hatinya ketika sang pagi muncul. Baru sekarang ia berani tidur hingga lamanya satu jam. Ia mendusin ketika ia bermimpi gurunya itu merintih.

“Suhu, bagaimana?” ia menanya seraya ia melompat bangun, untuk berduduk.

Cit Kong mengangkat tangannya, menunjuki mulutnya, yang pun berkelemak-kelemik.

Si nona mengerti gurunya lapar, ia lantas memberika sisa daging semalam.

Habis dahar, agaknya Cit Kong memperoleh tenaga. Ia bisa bergerak untuk duduk, maka itu terus ia bersemadhi, akan membikin lurus jalan napasnya.

Oey Yong mengawasi. Ia tidak berani membuka mulut, khawatir mengganggu pemusatan pikiran gurunya itu. Beberapa kali ia melihat sinar dadu di muka yang pucat dari sang guru, lalu itu terganti dengan pucat pasi pula. Perubahan itu terjadi berulangkali. Itulah tandanya bekerjanya pemusatan pikiran. kemudian embun-embun si jago tua mengeluarkan hawa seperti asap, disusul sama mengucurnya peluh dingin di dahinya. Banyak peluh yang ekluar itu. Diakhirnya tubuh orang tua ini bergemetaran seperti menggigil.

Disaat itu di mulut gua terlihat berkelebatnya satu bayangan orang. Itulah Auwyang Kongcu, yang melongok untuk masuk ke dalam.

Oey Yong mengerti saat penting dari gurunya, kalau ia kena dibikin kaget, mungkin gagal pemusatan pikirannya itu, maka ia lantas membentak perlahan: “Lekas pergi!”

Pemuda itu tertawa.

“Aku ingin berdamai sama kau, bagaimana kita harus melewati hari di pulau kosong ini,” katanya. Ia tidak lantas menyingkir, hanya bertindak maju.

Ang Cit Kong membuka matanya. Ia rupanya dapat mendengar perkataan orang.

“Pulau kosong apa ini?” ia menanya.

“Kau berlatih terus, suhu!” Oey Yong memegat. “Jangan pedulikan dia!” Ia berpaling kepada si anak muda sambil ia berbangkit. “Mari turut aku, kita pergi keluar!” katanya.

Auwyang Kongcu menjadi girang, ia turut pergi.

Pagi itu cuaca terang sekali. Oey Yong memandang ke sekitarnya, ia mendapatkan laut biru, langit seperti nempel dengan air itu. Ia melihat beberapa gumpal awan putih bagaikan tergantung di udara. Sama sekali tak nampak daratan lainnya.

Ia bertindak ke tempat di mana kemarin mereka mendarat. Mendadak ia terjaga.

“Mana perahu kita?!” ia menanya sambil berseru.

“Ah ya, ke mana perginya, ya?” balik tanya si pemuda. “Ah, tentu juga kena didampar air pasang……….”

Oey Yong mengawasi muka orang, yang tak kaget dan merasa aneh seperti dia, maka maulah ia menduga, tentulah tadi malam pemuda ini yang emndorong perahu itu untuk dibikin hanya terbawa gelombang. Dengan begitu si anak muda hendak membikin mereka tidak dapat berlalu dari pulau kosong ini.

“Sungguh dia jahat!” katanya dalam hatinya. Ia menjadi tidak takut. Ia memang sudah memikir sulit untuk kembali dengan masih bernyawa. Laginya perahu kecil itu tak mungkin dapat membawa orang ke darat. Hanya sekarang ia memikirkan gurunya, yang tentunya pun tak dapat pulang lagi ke Tionggoan…

Kembali si nona mengawasi Auwyang Kongcu dengan bersikap tenang. Ia tidak mengentarakan sesuatu. Pemuda itu tidak berani bentrok sama sinar mata si nona, lekas-lekas ia tunduk.

Oey Yong lompat naik ke atas sebuah batu tinggi, di situ ia bercokol sambil memeluk dengkul, matanya memandang jauh ke depan.

Auwyang Kongcu mengawasi, hatinya bekerja.

“Kalau tidak sekarang aku mencoba membaiki dia, hendak aku menanti sampai kapan lagi?” pikirnya. Maka ia pun berlompat naik ke batu itu, untuk berduduk dekat si nona.

Oey Yong berdiam saja, ia tidak gusar, ia pun tidak menggeser tubuhnya.

Menampak demikian, si anak muda menjadi mendapat hati. Diam-diam ia memindahkan tubuhnya, untuk datang lebih dekat kepada si nona.

“Adikku,” katanya, perlahan. “Kita berdua bakal hidup bersama di sini hingga di hari tua, hidup sebagai dewa-dewi. Aku tidak tahu, di penitisan yang sudah, kebaikan apa itu yang telah aku lakukan…”

Oey Yong tidak gusar, sebaliknya, ia tertawa geli.

“Di pulau ini, bersama guruku kita cuma bertiga. Tidakkah itu sepi?”

Lega hatinya si anak muda melihat orang tertawa.

“Ada aku yang menemani kau, mana bisa sepi?” katanya. “Laginya, kalau kemudian kita mendapat anak, bukankah itu menjadi lebih-lebih tak sepi?”

“Siapa toh yang melahirkan anak?” si nona tanya, tertawa. “Aku sendiri tak bisa…”

Auwyang Kongcu tertawa.

“Nanti aku ajari kau!” katanya. Ia lantas mengulur tangannya yang kiri, untuk merangkul si nona.

Tiba-tiba ia merasakan hawa yang hangat di tangannya. Sebab, tahu-tahu si nona sudah menyodorkan tangannya sendiri, untuk mencekal tangannya itu. Tanpa merasa, hatinya jadi berlompatan. Inilah ia tak sangka, hingga ia lupa akan dirinya.

Oey Yong menyenderkan tubuhnya di dada orang, sembari berbuat begitu tangannya yang kiri berkisar ke nada orang itu.

“Ada yang bilang,” katanya perlahan, “Kehormatannya enci Bok Liam Cu dirusak kau, benarkah itu?”

Pemuda itu tertawa lebar.

“Perempuan she Bok itu tak tahu diri!” sahutnya. “Dia tidak sudi ikut padaku. Aku Auwyang Kongcu, kau tahu aku orang macam apa? Mustahil aku sudi memaksa dia?”

Si nona menghela napas.

“Kalau begitu, nyata orang keliru mempersalahkan kau,” katanya.

“Anak itu terlalu besar kepalanya, sayang, sayang!” Auwyang Kongcu bilang.

Mendadak Oey Yong berpaling ke laut, tangannya menunjuk.

“Eh, apakah itu?!” katanya, agak terperanjat.

Auwyang Kongcu memandang ke arah yang ditunjuk itu, ia tidak melihat apa juga, maka ia berpaling lagi, untuk menanya, atau mendadak ia rasakan tangannya tercekal keras dan sakit, sampai ia tidak dapat berkutik. Ia justru mengandalkan tangan kirinya itu.

Tangan Oey Yong yang sebelah lagi memegang tempuling, ia ayunkan itu ke belakang, untuk menikam perut si anak muda.

Mereka berada sangat dekat satu dengan lain, si anak muda pun tercengang, sedang tangan kanannya mati, tentu saja ia tidak dapat menangkis, bahkan untuk berkelitpun susah. Tapi ialah murid seorang pandai, tak percuma ia berlatih silat duapuluh tahun di Pek To San, maka di saat seujung rambut itu, ia masih ingat untuk membela diri. Bukan ia menangkis atua berkelit, justru dengan dadanya ia membentur punggungnya si nona.

Oey Yong tidak menyangka, maka begitu kena dibentur, tubuhnya terpelanting jatuh dari atas batu. Saking kagetnya, cekalan kepada tangan orang telah terlepas. Tikamannya juga melesat, cuma tidak sampai kosong. Sebagai ganti perutnya, tempuling nyempret di paha kanan si anak muda.

Auwyang Kongcu sudah lantas lompat turun juga dari batu itu, ketika menghadapi si nona, ia dapatkan nona itu lagi berdiri mengawasi ia sambil tertawa haha-hihi, tangannya tetap memegang tempulingnya. Ia pun lantas merasakan sakit pada dadanya yang dipakai membentur itu. Ia lantas mengerti, walaupun berusan ia lolos dari bahaya maut, ia tidak bebas dari durinya baju lapis joan-kwie-kah dari nona itu.

“Kau aneh!” nona itu menegur. “Selagi enak-enak kita bicara, kenapa kau membentur aku? Sudah masa bodoh!” Dan dia memutar tubuhnya untuk mengangkat kaki.

Auwyang Kongcu berdiri bengong. Ia mendongkol berbareng ketarik hatinya kepada si nona, ia kaget berbareng girang. Ia tidak dapat menyelami hati non aitu. Sampai sekian lama, masih ia menjublak saja.

Oey Yong balik ke gua, ia menyesal bukan main. Ia menyesal yang ilmu silatnya belum sempurna. Bukankah ia telah membikin hilang satu ketika yang sangat baik? Ia tiba di dalam akan mendapatkan gurunya lagi rebah dengan disampingnya melulahan darah bekas muntah. Ia menjadi sangat kaget.

“Suhu!” ia memanggil seraya ia berdongko. “Kau kenapa suhu? Apa kau merasa baikan?”

Guru itu menghela napas perlahan.

“Aku ingin minum arak…” sahutnya.

Sakit Oey Yong merasakan hatinya. Di mana bisa mendapatkan arak di pulau kosong ini? Terpaksa ia mesti menghibur gurunya itu. Maka ia menyahuti: “Nanti aku dayakan suhu. Bagaimana kau rasakan lukamu, apakah tidak ada halangannya?” Tanpa merasa ia mengucurkan air mata.

Menghadapi kemalangan lebih besar, belum pernah Oey Yong menangis, tetapi sekarang ia bersedih bukan main. Ia mendekam di dada gurunya itu, ia menangis menggerung-gerung.

Cit Kong mengusap-usap rambut orang serta punggungnya juga, I apun bingung. Ia lah seorang tua, sudah puluhan tahun ia malang melintang dalam dunia kangouw, segala macam bahaya pernah ia menempuhnya, tidak ia habis daya seperti sekarang menghadapo murid disayanginya ini.

“Jangan menangis, anak yang baik,” katanya. “Gurumu sangat menyayangi kau. Anak yang baik tidak menangis. Ya, gurumu tidak mau minum arak…”

Oey Yong tetap bersedih, ia menangis terus, tetap selang sesaat, tangisannya itu membuat hatinya lega. Ia angkat kepalanya. Ia lihat dada gurunya basah dengan air matanya. Tiba-tiba ia tertawa. Ia menyingkap rambut di mukanya.

“Tadi aku telah tikam itu jahanaman, sayang gagal,” katanya. Terus ia menuturkan apa yang ia barusan lakukan terhadap keponakannya Auwyang Hong itu.

Cit Kong tunduk, ia tidak membilang suatu apa.

“Gurumu sudah tidak berguna lagi,” katanya. “Bangsat jahat itu jauh lebih menang daripadaku. Untuk melawan dia tak dapat kita menggunai tenaga tetapi harus dengan kecerdikan…”

“Suhu,” berkata sang murid, yang hatinya cemas, “Baiklah suhu beristirahat beberapa hari, untuk memelihara dirimu. Kalau suhu sudah sehat, tidakkah baik apabila suhu menghajar dia satu kali saja, membikin dia habis?”

“Aku telah dipagut ular dua kali, aku juga terkena pukulan kuntauw Kodok dari See Tok,” katanya berduka, “Dengan menghabiskan seluruh tenaga dalamku, dapat aku mengusir racun itu, mana aku masih bisa menyambung jiwaku beberapa tahun lagi, hanya karena aku mesti mengerahkan semua tenagaku, musnahlah ilmu silatku dari beberapa puluh tahun, musnah dalam satu hari saja. Gurumu adalah seorang yang bercacad, telah habis semua kebisaannya…”

Oey Yong kaget dan bingung.

“Tidak, suhu, tidak!” serunya. “Itulah tidak bisa jadi!”

Cit Kong tertawa.

“Aku si pengemis tua benar bersemangat akan tetapi sekarang, setelah sampai di akhirnya, tidak dapat aku tidak melegakan hati,” katanya. Ia berhenti sebentar, lalu ia memperlihatkan roman sungguh-sungguh. Ia menambahkan: “Anak, gurumu terpaksa meminta kau melakukan sesuatu yang sulit sekali. Itulah permintaan yang bertentangan dengan rasa hatimu. Dapatkah kau melakukannya?”

“Dapat, dapat, Suhu!” si nona menjawab cepat. “Silahkan suhu sebutkan!”

Cit Kong menghela napas.

“Sayang berkumpulnya kita guru dan murid sangat pendek harinya,” berkata ia masgul. “Aku menyesal ynag aku tidak dapat memberikan pelajaran apa-apa kepadamu sedang sekarang aku hendak memaksakan hal yang sulit untumu, suatu tanggung jawab yang berat hendak aku bebankan di pundakmu. Sebenarnya di dalam hal ini hati gurumu tak tentram….”

Oey Yong heran untuk sikap ragu-ragu guru ini, sedang biasanya Pak Kay paling terbuka dan paling cepat mengambil keputusan. Maka maula ia percaya, tugas itu masti penting dan berat sekali. Tapi ia tidak jeri.

“Silahkan bilang, Suhu!” ia mendesak. “sekarang Suhu terluka pun disebabkan untukku karena kau mendatangi pulau Tho Hoa To, untuk budimu itu, meskipun tubuhku hancur lebur, belum dapat aku membalasnya. Hanya muridmu khawatir sekali, khawatir usianya yang masih muda, ia tidak sanggup menjalankan pesanmu ini.”

Mendengar begitu, Ang Cit Kong memperlihatkan roman girang.

“Dengan begitu kau jadinya telah menerima baik?” ia menegaskan.

Oey Yong mengangguk.

“Silahkan Suhu menitahkan,” sahutnya.

Dengan tiba-tiba Ang Cit Kong berbangkit bangun, untuk berdiri tegar. Ia rangkapkan kedua tangannya, bersilang di depan dadanya, lalu ia menjura dalam ke arah utara. Lantas ia berkata,” Cauwsu-ya, kau telah membangun Kay Pang hingga sekarang ini telah diwariskan kepada muridmu ini, sayang sekali muridmu tidak mempunyakan kemampuan hingga tak dapat ia membuatnya Partai kita jadi semakin besar dan bercahaya. Hari ini keadaan ada sangat mendesak, mau tidak mau, muridmu mesti melepaskan tanggungjawabnya, maka itu dengan berkah pelindungan Cauwsu-ya, muridmu mohon supaya anak ini dijagai hingga kalau toh ada bahaya bisalah ia terbebas dan memperoleh keselamatan karenanya, supaya selanjutnya ia dapat berbuat kebaikan untuk orang-orang Partai kita yang bersengsara.” Habis mengucap begitu, kembali ia menjura.

Selama mendengari, Oey Yong bengong saja, kemudian barulah ia tercengang.

“Anak, kau berlutut,” berkata Cit Kong kemudian.

Oey Yong menurut, ia menekuk lutut.

Ang Cit Kong mengambil tongkatnya, yang dinamakan Lek-tiok-thung, atau Tongkat Bambu Hijau, ia angkat itu tinggi melewati kepalanya, kedua tangannya dirangkap, lalu ia menyerahkan itu ke dalam tangannya si nona.

Oey Yong terbenam dalam keragu-raguan.

“Suhu, kau menyuruh aku menjadi…menjadi…” tanyanya gugup.

“Benar!” Cit Kong menjawab. “Aku angkat kau sebagai Pangcu, kepala dari Kay Pang, Partai Pengemis. Akulah Pangcu yang kedelapan belas, mak aturun kepada kau, kau menjadi Pangcu yang kesembilanbelas. Sekarang mari kita menghanturkan terima kasih kepada Couwsu-ya.”

Hati Oey Yong tidak tentram akan tetapi ia menyilangkan kedua tangannya, ia menelad Cit Kong untuk menjura ke arah utara.

Pak Kay menghela napas panjang, dari wajahnya nampak ia letih sekali, tetapi ia bersemangat, tanda dari riangnya hatinya.

Oey Yong mempepayang, untuk membantu gurunya itu merebahkan diri.

“Sekarang kau menjadi Pangcu, dengan begitu aku menjadi tianglo,” kata Cit Kong. “Tianglo masih dihormati oleh Pangcu tetapi di dalam urusan besar dan penting, tianglo tunduk kepada titah pangcu. Inilah aturan yang menjadi pesan Couwsu-ya, yang sekali-sekali tak dapat disangkal. Asal tongkat Lek-tiok-thung ini berada di tanganmu, begitu kau memberikan titahmu maka semua pengemis di dalam negeri kita ini mesti menerima dan menurut segala titah itu.”

Oey Yong masgul berbareng gugup, ia bingung. Apa artinya gurunya ini dengan tiba-tiba mewariskan kedudukan raja pengemis padanya? Mana ada alasannya? Tapi gurunya tengah terluka parah, ia pun sudah memberikan janjinya, tidak dapat ia menampik. Penampikan berarti menambah susah hati gurunya itu. Ia juga memikir: “Kita sekarang berada di pulau kosong ini…di bulan dan tahun kapan kita dapat kembali ke tanah Tionggoan? Laginya, engko Ceng sudah meninggal dunia, aku tidak ingin hidup lebih lama…Sekarang suhu menyuruh aku mengepalai pengemis dari seluruh negeri…” Maka ia menjadi berdiam saja.

Ang Cit Kong berkata pula; “Tahun ini tanggal limabelas bulan tujuh ada tanggal rapat besar setahun sekali yang bakal diadakan di kota Gakyang di tepinya telaga Tong Teng Ouw, di sana akan berkumpul semua kepala pengemis dari pelbagai tempat. Rapat itu diutamakan untuk semua pemimpin mendengar aku menunjuk bakal gnatiku sebagai Pangcu, siapa sangka sekarang aku terbengkalai di sini. Kau telah menjadi penggantiku, kau dapat pergi ke sana untuk memegang pemimpin. Dengan kau mencekal dan membawa tongkat ini, semua saudara akan segera mengerti maksudku. Di dalam urusan Kay Pang, keempat tianglo lainnya akan membantu padamu, maka tak usahlah aku memesan banyak. Hanya aku menyesal sekali, tanpa sebab dan secara begini mendadak aku memaksakan kau, satu nona yang manis, merendahkan diri masuk ke dalam kalangan bangsa pengemis….”

Walaupun ia mengucap demikian, Pak Kay toh tertawa girang. Tapi, karena tertawanya itu, ia merasakan lukanya nyeri, setelah meringis, ia batuk-batuk tak henti-hentinya.

Oey Yong mengusap-usap punggung gurunya itu.

“Aku si pengemis tua benar-benar sudah tak punya gua,” kata Cit Kong setelah berhenti batuk-batuk. “Karena aku tidak tahu kapan aku bakal berpulang ke alin dunia, mesti aku lekas-lekas menurunkan ilmu silat Pa-kauw-pang kepadamu…!”

Sudah puluhan macam ilmu silat didapat Oey Yong dari gurunya ini, belum pernah ia mendengar Pa-kauw-pang, yang berarti ilmu silat pentungan menghajar anjing. Ia memikir-mikir, kenapa tak enak sekali disebutnya nama ilmu silat itu – mementung anjing….

“Bagaimana galaknya seekor anjing, dia dapat dihajar mampus dengan sebuah kepalan,” ia berpikir pula, “Maka itu, untuk apa mesti mempelajari pula ilmu silat menemplang anjing? Tapi suhu bicara dengan sikap begini sungguh-sungguh, baiklah aku menurut…”

Maka mengangguklah ia, bersedia menerima warisan ilmu silat yang ia anggap aneh itu.

Ang Cit Kong mengawasi muridnya, ia tertawa.

“Meskipun kau menjadi Pangcu, kau tak usah mengubah macam atau dandanmu, tak usah mengubah tabiat atau sifatmu,” berkata ia, menjelaskan. “Kau doyan guyon bergurau, tetap kau boleh berpesta pora dengan kenakalanmu itu! Kami bangsa pengemis, kami justru paling kemaruk sama kemerdekaan dan kebebasan, sebab tanpa kebebasan, tak dapat kami menjadi pengemis. Kalau tidak demikian, kenapa kita tidak menjadi saja pembesar negeri atau seoarng hartawan? Nampaknya kau tidak puas dengan Pa-kauw-pang, benarkah? Kau bilanglah terus terang!”

Oey Yong tersenyum.

“Muridmu sebenarnya memikirkan berapa ketangguhannya seekor anjning..” ia menyahut. “Muridmu memikir untuk apa mesti diciptakan semacam ilmu silat..”

“Sekerang kau telah menjadi kepala pengemis, kau harus memikir sebagai pengemis juga!” katanya. “Tapi pakaianmu indah, romanmu mentereng sebagai satu nona hartawan, kalau ada anjing melihat padamu, mestinya anjing itu mengangguk-angguk dan menggoyang-goyang ekor terhadapmu. Dengan begitu, apa perlunya menghajar anjing itu? Tetapi kalau si pengemis tulen bertemu sama anjing, hebatlah akibatnya, sungguh menyedihkan! Bukankah pepatah kuno ada membilang, ‘Seorang miskin melarat tanpa pentungan dia diperhina oleh anjing’? Kau belum pernah menjadi seorang miskin, kau tidak mengerti kesengsaraannya si miskin.”

Mendengar itu Oey Yong tertawa seraya bertepuk tangan.

“Suhu, kali ini kau keliru!” katanya gembira.

Cit Kong heran, ia melengak.

“Kenapa keliru?” tanyanya.

“Ketika pada bulan ketiga yang baru lalu ini aku minggat dari Tho Hoa To dan aku pergi ke Utara, di sana aku telah menyamar sebagai pengemis!” sahut si nona. “Disepanjang jalan ada saja anjing yang menggonggong dan mengikuti aku, hendak menggigit, selalu aku hajar dia dengan dupakan, lantas dia lari sambil menggoyang-goyang ekornya!”

“Ya, itulah benar,” berkata Ang Cit Kong. “Hanya kalau anjing sangat galak hingga sukar ditendang, tidak dapat tidak, tongkat harus dipakai untuk mementungnya!”

Si nona menjadi berpikir.

“Di mana ada anjing demikian galak dan hebat?” Tapi hanya sejenak, lantas ia insyaf. Maka ia menambahkan: “Benar! Manusia jahat pun ada sama dengan anjing galak!”

Cit Kong tersenyum.

“Kau sungguh cerdas!” pujinya. “Jikalau….”

Ia sebenarnya hendak menyebutnya Kwee Ceng pasti tidak dapat menebak, tetapi ia berduka, ia batal melanjutinya. Ia bahkan terus berdiam.

Oey Yong dapat menerka hati orang, ia berpura-pura tidak tahu. ia pun sangat berduka.

“Pa-kauw-pang terdiri dari tigapuluh enam jurus,” kemudian Cit Kong berkata pula, memberi penjelasan. “Itulah ilmu silat yang diciptkan sendiri oleh Couwsa-ya. Sampai sebegitu jauh, menurut aturan dan kebiasaan, ilmu silat ini cuma diajari dan diwariskan kepada Pangcu, tidak kepada orang yang kedua. Katanya dulu Pangcu yang nomor sebelas, tempo ia berada di gunung Pak Kouw San, ia telah dikepung banyak orang kosen, dengan sepasang kepalannya, ia telah menghajar mati lima di antaranya. Ketika itu, ia menggunai ilmu silat Pa-kauw-pang.”

Oey Yong tertarik, tetapi ia menghela napas.

“Suhu,” tanyanya, “Ketika di perahu besar itu kau menempur See Tok Auwyang Hong, kenapa kau tidak menggunai ilmu silatmu itu?”

“Menggunai ilmu silat itu adalah urusan besar dari Partai kita,” menyahut sang guru. “Sekalipun aku tidak menggunai, tidak nanti See Tok dapat mengalahkan aku! Siapa sangka dia ada sangat hina dina, aku sudha tolongi dia, dia justru membokong menyerang punggungku…”

Diwaktu mengucap demikian, wajahnya Pak Kay muram. Oey Yong dapat menduga kemendongkolan dan kemasgulan gurunya itu, hendak ia menyimpang pembicaraan.

“Suhu,” ia berkata, “Sekarang kau ajarkanlah ilmu silat tongkat itu kepada Yong-jie, sesudah Yong-jie bisa, nanti Yong-jie pakai untuk membunuh See Tok guna membalaskan sakit hati suhu!”

Cit Kong tertawa secara tawar. Ia menumput sebatang cabang kering, setelah mana mulutnya membaca, tangannya digerak-geraki. Ia tetap rebah tetapi ia dapat menjalankan tigapuluh enam jurus dari Pa-kauw-pang itu. Yang mana kurang jelas, ia menambahkan dengan keterangannya. Dengan cara itu ia menurunkan ilmu silat peranti mementung anjing itu. Ia tahu Oey Yonng cerdas sekali, ia mengajari dengan sungguh-sungguh. Dilain pihak ia khawatir yang umurnya tidak panjang lagi…..

Nama ilmu silat pentungan itu tak sedap didengarnya, tetapi ilmu silatnya sendiri lihay, banyak perubahannya, kalau tidak, tidak nanti ilmu itu menjadi ilmu istimewa dalam Kay Pang dan diwariskan secara turun temurun. Maka itu, mesti Oey Yong cerdas luar biasa dan ia dapat menjalankan, tak semuanya segera ia dapat menangkap maksudnya.

Habis memberi pelajaran, Cit Kong menghela napas, ia bermandikan keringat.

“Aku mengajari kau terlalu singkat,” ia berkata, “Itulah tidak bagus. Sebenarnya, tidak dapat aku mengajari lebih jauh…” Mendadak ia menjerit, “Aduh!” dan tubuhnya roboh rebah.

Oey Yong kaget, ia berlompat menubruk.

“Suhu!” ia memanggil. Ia pun mengasih bangun.

Tangan dan kaki Cit Kong dingin, napasnya jalan sangat perlahan. Nampaknya ia tidak dapat ditolong pula…

Selama beberapa hari ini hebat penderitaannya si nona, maka itu ia mendekam di tubuh gurunya itu, ia menangis tanpa dapat mengeluarkan suara. Ia masih dapat mendengar denyutan jantung dari gurunya itu. Lantas ia menggunai kedua tangannya, ia memegang kedua bagian rusuk, untuk membantu sang guru bernapas. Adalah di itu saat genting untuk gurunya, ia mendengar satu suara perlahan di belakangnya. lantas sebuah tangan diangsurkan ke lengannya.

Dalam kedukaan dan kekhawatiran, Oey Yong cuma ingat menolongi gurunya, maka itu tahu ia kapannya Auwyang Kongcu masuk ke dalam gua, hingga ia seperti lupa yang di belakangnya ada seekor anjing yang galak.

“Berat sakitnya suhu, lekas kau pikirkan daya untuk menolongi,” ia berkata pada pemuda itu. Ia berpaling, mengawasi dengan air mata berlinang-linang.

Melihat roman orang yang sangat menyedihakan itu, Auwyang Kongcu merasa kasihan. Ia berjongkok untuk melihat Ang Cit Kong, kulit muka siapa pucat dan kedua matanya terbalik. Melihat keadaan orang itu, ia justru menjadi girang sekali. Ia berdampingan sama si noa, ia mendapat cium baru harum dari tubuh si nona itu, sedang mukanya kena kebentur rambut orang. Betapa menyenangkan itu?

Kembali pemuda ini tidak dapat mengendalikan diri. Kalau tadi ia cuma menyentuh lengan si nona, sekarang ia mengulur tangan kirinya untuk merangkul pinggang orang.

Oey Yong terkejut, ia menyikut dengan meninju, tempo si anak muda berkelit, ia berlompat bangun.

Auwyang Kongcu jeri kepada Ang Cit Kong, sekarang ia mendapatkan orang tengah rebah sebagai mayat, hatinya menjadi besar sekali. Kalau tadinya ia takut menggunai kekerasan terhadap Oey Yong, sekarang ia berani. Hendak ia memaksa. Maka ia berlompat ke mulut gua, untuk menghalang. Ia tertawa.

“Adik yang baik,” katanya manis, “Terhadap lain orang aku tak biasanya menggunai kekerasan, tetapi kau begini cantik manis, kau botoh sekali, tidak dapat aku menguati hati lagi. Marilah, adik, kau mengasihkan aku satu cium…”

Sembari mengucap demikian, pemuda itu mementang tangan kirinya, ia maju setindak demi setindak.

Hatinya Oey Yong bergoncang keras.

“Ancaman bencana atas diriku hari ini berlipat sepuluh kali daripada ancamana bahaya semasa aku berada di istana Chao Wang,” berpikir si nona ini. “Kalau tidak dapat membinasakan dia, aku mesti membunuh diri. Hanya, mana aku puas…?”

Hanya dengan satu kali menggeraki tangannya, Oey Yong sudah siap dengan tempuling dan jarumnya.

Auwyang Kongcu lantas tersenyum. Ia lantas meloloskan bajunya, untuk dipakai sebagai cambuk lemas. Kembali ia maju dua tindak.

Oey Yong berdiri diam, matanya mengawasi tajam. Ia menanti orang mengangkat kaki. Belum lagi kaki itu diturunkan ke tanah, tiba-tiba ia melompat ke kiri.

Menampak itu, Auwyang Kongcu meneruskan berlompat ke kiri juga, untuk merintangi si nona itu. Tapi justru itu Oey Yong mengayunkan tangannya. Lihay si anak muda, dia menggeraki sabuk bajunya, untuk menangkis serangan jarum itu. Tapi si nona pun lihay, ia memang menggunai siasat, maka tengah pemuda itu membeli diri, ia berlompat, melesat ke luar gua!

Auwyang Kongcu benar-benar lihay, walaupun dia repot, dia toh dapat berlaku gesit luar biasa. Dia berlompat untuk menyusul, maka itu tengah lari, Oey Yong mendengar desiran angin di belakangnya. Itulah desirannya pukulan ke arah punggung. Ia tidak takut, sebaliknya, ia menjadi girang. Bukankah ia memakai baju lapis berduri? Bukankah ia pun sudah nekat? Ia tidak takut mati, asal ia dapat melukai musuh. Maka itu, ia tidak mau menangkis, hanya ia memutar tubuhnya untuk membarengi menyerang!

Auwyang Kongcu tidak berniat membinasakan si nona, kalau ia menyerang, ia melainkan mengancam, ia hendak menggoda saja, maka ketika serangan itu datang, ia batal menyerang terus, ia menangkis serangan itu, lalu ia melompat lebih jauh, untuk mendahului tiba di mulut gua.

Oey Yong berkelehai seperti kalap. Ia menyerang tanpa mengingat pembelaan diri. Dengan begini, kegagahannya seperti tambah satu kali lipat.

Adalah maksudnya Auwyang Kongcu membuat si nona itu letih, tetapi sekarang ia mesti menghadapi serangan bertubi-tubi, terpaksa ia mesti melayani juga. Di dalam keadaan seperti itu, walaupun ia lebih kosen, ia toh kewalahan juga, kesatu ia memang tidak berniat mengambil nyawa si noa, kedua ia mesti berkelahi dengan sebelah tangan, sedang tangan yang lain lagi sakit.

Pertempuran telah berlangsung kira enampuluh jurus ketika mendadak Oey Yong menubruk, sambil menubruk, ia menimpuk dengan jarumnya.

Auwyang Kongcu repot menangkis jarum itu, untuk itu ia mesti mengebas dengan sabuk bajunya. Disamping itu, hebat tubrukkannya Oey Yong, yang menikam ke arah tangan kanannya yang sakit itu. Hendak ia menangkis pula dengan tangan kirinya tetapi sudah tidak keburu, ujung tempuling telah mengenai lukanya itu.

Tapi juga Oey Yong tidak dapat bergirang karena hasil tikamannya itu. Baru ia menikam atau ia merasakan tangannya kesemutan, terus senjatanya terlepas jatuh ke tanah. Sebab di luar sangkaannya, walaupun dia kena ditikam, Auwyang Kongcu mengubah tangkisannya menjadi totokan kepada lengan nona itu dan tepat totokannya itu.

Si nona kaget, ia berlari terus. Ia lari sembari membungkuk.

Auwyang Kongcu tidak hendak melepaskan bakal mangsanya ini. Ia berlompat dengan pesat, ia juga membungkuk, tangan kirinya dilonjorkan ke depan, untuk menotok kaki orang, yang lagi diangkat untuk berlari. Ia berhasil, dua kali ia dapat menotok jitu, mulanya di jalan darah koanciong-hiat di kaki kiri si nona, kemudian di jalan darah tiongtouw-hiat di kaki kanan. Maka tak tempo lagi, baru bertindak dua kali, nona itu sudah lantas terguling roboh!

Lagi sekali Auwyang Kongcu berlompat, bahkan dia mendahului, untuk membeber bajunya, hingga si nona terjatuh di atas hamparan baju itu. Pemuda itu pun menggoda, sembari tertawa ia berkata: “Ah, jangan sampai kau merasa nyeri!”

Oey Yong mendapat pelajaran langsung dari ayahnya, Auwyang Kongcu mewariskan kepandaian pamannya, yang menyayang ia sebagai anak sendiri, maka itu mereka sama-sama mempunyai kepandaian yang lihay. Oey Yok Su gagah, begitu juga dengan Auwyang Hong, bahkan mereka berdua ini berimbang. Dengan demikian, pemuda dan pemudi ini seharusnya sama kosennya juga. Tapi toh Oey Yong kalah! Kenapa? Pada itu ada terselip selisih usia mereka dan temponya latihan. Oey Yong baru berumur limabelas tahun, Auwyang Kongcu sudah lebih dari tigapuluh tahun, maka itu, perbedaan waktu belajar mereka ada kira-kira duapuluh tahun. Benar Oey Yong mendapat pelajaran juga dari Ang Cit Kong tetapi belum lama dan latihannya belum sempurna. Karenanya, walaupun si pemuda terluka tangannya, ia tetap lebih unggul.

Oey Yong kaget karena robohnya itu tetapi pikirannya tidak kacau. Begitu ia jatuh, begitu ia berbalik sambil menimpuk dengan jarumnya. Kemudian ia geraki tubuhnya untuk berlompat bangun. Tidak beruntung untuknya, kedua kakinya tidak mau menurut perintah, maka juga tidak dapat ia berlompat bangun untuk berlari. Ia baru bergerak sedikit atau ia terguling pula.

Ketika itu Auwyang Kongcu mengulur sebelah tangan dengan maksud mengasih bangun. Dalam murkanya, Oey Yong meninju dengan tangan kirinya. Tapi si anak muda dapat melihat serangan itu, dengan leluasa ia menyambuti dengan tangan kirinya, dengan totokan, maka matilah tangan kiri si nona, seperti tangan kanannya yang erus ditotok juga, hingga kaki tangannya tak dapat bergerak semua. Ia mirip orang yang dibelenggu kaki tangannya itu.

Bukan main panasnya hati nona ini, ia sangat menyesal yang barusan ia tidak membunuh diri saja, hingga sekarang ia jadi kena tertawan. Ia ada begitu murka dan mendongkol. Mendadak ia merasai matanya gelap dan kepalanya pusing, seketika itu juga ia rebah tak sadarkan dirinya.

“Jangan takut, jangan takut,” berkata Auwyang Kongcu sambil tertawa, suaranya halus. Ia bertindak seraya mengulur tangan, berniat memondong nona itu. Atau mendadak

“Kau mau hidup atau mati?!” demikian satu suara keras dan kejam, suara dingin yang disusul sama tertawa ejekan.

Pemuda itu terperanjat, dengan cepat ia menoleh. Untuk kagetnya, ia melihat Ang Cit Kong berdiri di mulut gua, tangannya memegang tongkat, matanya melirik tajam. Disaat itu pada otaknya berkelebat penuturannya pamannya dulu hari halnya Ong Tiong Yang berpura-pura mati untuk mengalahkan lawannya.

“Hai, kiranya si pengemis tua ini berpura-pura mampus!” pikirnya. “Ah, habislah aku hari ini!” Ia ketahui baik sekali kegagahannya Ang Cit Kong, ia putus asa. Tanpa berpikir lagi, ia menekuk kedua kakinya sambil berlutut ia berkata: “Aku cuma bermain-main saja sama adik Oey ini, tidak ada niatku untuk berbuat jahat terhadapnya….”

“Hm!” Pak Kay mengasih dengar suara bengis. “Bangsat bau, masih kau tidak hendak menotok bebas jalan darahnya? Apakah aku si orang tua harus turun tangan?”

Auwyang Kongcu jeri.

“Ya, ya,” ia menyahuti seraya terus menotok kaki tangannya si nonya.

“Lagi satu kali kau menginjak gua ini, jangan kau sesalkan aku!” Ang Cit Kong mengancam. “Lekas pergi!”

Sembari berkata begitu, jago tua itu bertindak ke samping.

Keponakan See Tok bagaikan menerima putusan pengampunan, cepat-cepat ia ngeloyor pergi.

Oey Yong tak tahu apa yang sudah terjadi, ketika ia sadar, ia sadar dengan perlahan-lahan. Ia membuka kedua matanya seraya merasa bagaikan tengah bermimpi.

Ang Cit kOng tidak dapat berdiri lama-lama, ia roboh sendirinya.

Melihat gurunya jatuh, Oey Yong kaget. Lupa ia pada tangan atau kakinya bekas ditotok, ia menekan tanah untuk berlompat bangun, guna menghampirkan gurunya, yang segera ia pegangi untuk dikasih bangun. Ia melihat mulut guru itu berlumuran darah, sebab ternyata tiga buah giginya sudah copot bekas kebentur tanah. Ia menjadi sangat berduka.

“Suhu!” ia memanggil.

Ang Cit Kong sadar, ia pegang ketiga buah giginya itu, terus ia tertawa.

“Gigiku, gigiku!” katanya. “Kau tidak mensia-siakan aku! Kau telah membuatnya aku si pengemis tua telah dapat mencicip segala macam barang hidangan paling lezat dan sedap di kolong langit ini! Sekarang aku si pengemis sudah sampai pada usiaku, kau telah mendahului meninggalkan aku…!”

Memang hebat sekali lukanya Pak Kay kali ini, cuma saking kuatnya tubuhnya, ia tidak mati lantas di bawah tangan jahat dari Auwyang Hong. Celaka untuk ia, ia tidak dapat obat untuk mengobati luka-lukanya itu, luka racun ular dan gempuran kuntauw Kodok yang dahsyat.

Cit Kong melihat kedukaan muridnya.

“Selama napasku masih ada, jahanam itu tidak nanti berani datang pula mengganggu padamu,” ia menghibur si nona.

Tapi Oey Yong memikir lain.

“Kita berada di dalam gua, memang jahanam itu tidak berani masuk ke mari,” demikian pikirnya. “Tetapi bagaimana dengan makan dan minum kita?”

Cit Kong pun sudah merasakan lapar. Ia melihat si nona tunduk saja.

“Bukankah kau sedang memikirkan daya mencari barang makanan?” ia menanya. Oey Yong tidak menjawab, ia melainkan mengangguk.

“Mari kau pepayang aku ke pesisir untuk menjemur di matahari,” menyuruh orang tua itu.

Oey Yong cerdik sekali, ia lantas dapat mengerti maksud orang.

“Bagus!” serunya kegirangan. Ia pun tertawa. “Kita menangkap ikan!”

Maka bukan lagi ia pepayang gurunya itu, ia hanya menggendong, cuma jalannya dengan perlahan-lahan.

Hari ini cuaca terang berderang, angin meniup halus. Begitu terjodoh sinar matahari, begitu Ang Cit Kong merasa segar, hingga semangatnya jadi terbangun. Ia pun melihat Auwyang Kongcu lagi berdiri di tempat jauh dari mereka, ketika pemuda itu mendapatkan mereka keluar dan mengawasi padanya, dia bertindak pergi lebih jauh sedikit. Rupanya ia jeri. Dari tempat jauh itu ia terus mengawasi.

Dua-dua Cit Kong dan Oey Yong berduka, hati mereka berpikir: “Jahanam itu sangat cerdas, lama-lama pasti dia dapat mengetahui keadaan kita yang tidak berdaya…” Karena itu, mereka pun membawa sikap tenang.

Auwyang Kongcu pun agaknya lega melihat ia tidak dihampirkan.

Oey Yong sudah lantas bekerja. Lebih dulu ia pernahkan Ang Cit Kong, supaya guru ini dapat duduk sambil menyender pada sebuah batu besar, kemudian ia mencari cabang pohon yang panjang untuk dijadikan joran panjang. Untuk talinya, ia mencari babakan pohon dan untuk panjangnya, ia menekuk sebatang jarumnya hingga ujungnya bengkok. Sebagai umpan, ia mencari udang di tepian. Maka tak lama kemudian, ia sudah mulai memancing.

Satu jam tempo dipakai untuk memancing itu, akhirnya si nona memperoleh tiga ekor ikan, yang mana cukuplah untuk mereka berdua menangsal perut. Ikan itu dipanggang seperti biasanya kaum pengemis memanggang ayam.

Setelah beristirahat sebentar, Cit Kong mengajari Pak-kauw-pang. Ia memberi petunjuk sambil ia duduk menyender terus cuma tangannya digerak-geraki. Tapi ini pun menolong banyak untuk si nona yang otaknya terang, hingga dia dapat mengerti lebih banyak. Demikian mendekati sore, Oey Yong telah dapat menjalankan ilmu tongkat itu dengan baik, hingga tinggal dia berlatih terus untuk memahirkan itu.

Sesudah hilang letihnya, Oey Yong membuka baju luarnya, terus ia nyebur ke laut untuk membersihkan tubuh. Ia berenang pergi datang hingga ia ingat suatu cerita dongeng jaman Tong katanya di dalam laut ada istana raja naga serta putrinya yang elok sekali.

“Mungkin engo Ceng telah pergi ke sana?” ia ngelamun.

Karena ini ia lantas menyelam. Tiba-tiba ia merasakan kakinya sakit, lekas-lekas ia menarik pulang. Ia mendapat kenyataan kakinya itu dijepit sesuatu. Ia tidak kaget, ia menduga kepada simpling atau kerang besar. Ia lantas membungkuk, untuk melihat. Baru sekarang ia terkejut juga. Kakinya dijempit simping yang besar sekali, yang beratnya mungkin duaratus kati. Sia-sia ia menarik akkinya, sia-sia ia mencoba memengkang membuka kedua batok simping itu. Bahkan kakinya dijepit semakin keras, sampai ia merasakan sakit sekali. Saking kerasnya ia berkutatan, dua kali ia kena menenggak air laut asin.

Tentu sekali nona ini menjadi sangat penasaran. Tidak ikhlas ia mati di tangannya binatang laut itu, walaupun sebenarnya ia bersedia mati-mati bersama gurunya andaikata tetap mereka tak berdaya untuk berlalu dari pulau kosong itu. Ia memikir akal. Ia mencoba memungut batu dengan apa ia ketoki batok simping itu. Ini pun tidak memberi hasil. Batoknya simping telalu keras dan batunya terlalu kecil.

Lagi sekali ia menenggak air. Baru sekarang ia ingat suatu akal. Maka ia lepaskan batunya, sebagai gantinya ia meraup pasir, yang mana ia kasih masuk di sela-sela mulut simping itu.

Nyata binatang laut itu takut sekali pasir, begitu dia merasakan pasir masuk ke dalam mulutnya, dia pentang mulutnya itu.

Begitu ia merasakan jepitan kendor, begitu lekas juga Oey Yong menarik keras kakinya. Kali ini bebaslah ia, maka terus saja ia berenang untuk muncul di muka air. Paling dulu, ia membuang napas, untuk melegakan diri.

Cit kong di darat berkhawatir melihat si nona menyelam demikian lama, ia menduga muridnya itu menghadapi bahaya. Ia menyesal yang ia sendiri tidak dapat bergerak hingga tak bisa ia menolongi. Ia melainkan bisa mengawasi ke laut dengan jantungnya berdenyutan.

Akhir-akhirnya muncul juga si nona, maka legalah hatinya guru ini, sampai ia bersorak.

Oey Yong tidak naik ke darat, sesudah mengulapkan tangan kepada gurunya itu, ia selulup pula. Ia telah mendapat satu pikiran. Ia pergi ke tempat tadi, tapi sekarang dengan sudah bersiap. Ia turun di dekat simping itu tanpa si simping dapat mencakop padanya. Nyata binatang itu nempel batoknya dengan batu karang, dia jadi tidak bisa berenang pergi. Si nona mencoba menggempur karang itu, setelah berhasil, ia memegang simping dari bawah, terus ia bawa naik ke atas. Ia menampah seraya kakinya menjejak dasar laut, terus ia berenang ke tempat yang dangkal. Di sini simping itu tak berdaya lagi. Hanya saking beratnya binatang laut itu, tidak kuat Oey Yong mengangkat buat dibawa ke gua, maka ia mengambil saja batu besar yang mana ia pakai mennghajar batoknya. Hanya dengan beberapa kali hajaran, remuklah batok simping itu.

Puas hatinya si nona, yang kakinya sakit bekas dijepit. Bahkan malam itu bersama gurunya ia bisa menangsal perut secara memuaskan karena adanya daging simping itu yang lezat sekali.

Besok paginya, begitu mendusin, Ang Cit Kong merasai sakit pada tubuhnya berkurang. Ia mencoba memainkan napasnya, ia merasakan lega. Tanpa merasa ia berseru bahna girangnya.

Oey Yong mendusin untuk segera bangun berduduk.

“Suhu, kenapa?” ia menanya, kaget.

“Setelah tidur semalaman, aku merasai lukaku mendingan,” sahut sang guru. “Sakitnya tidak sehebat kemarin.”

Oey Yong menjadi girang.

“Mungkin ini disebabkan guru makan daging simping!” katanya. Maka berlari-larilah ia keluar guanya, ke tepi laut, untuk memotong sisa daging simping itu. Saking kegirangan, ia sampai melupai Auwyang Kongcu. Ia baru memotong dua keping tatkala ia melihat bayangan orang mendekati perlahan-lahan ke arahnya. Ia kaget tetapi ia mengerti ancaman bahaya. Baru sekarang ia ingat keponakannya See Tok itu. Diam-diam ia memungut batok simping, lalu dengan sekonyong-konyong ia menimpuk ke belakang, tubuhnya sendiri terus berlompat setombak lebih hingga ia berada di pinggiran air.

Auwyang Kongcu dapat berkelit. Dia tidak gusar, sebaliknya ia tertawa.

Sekian lama pemuda ini tidak pergi jauh dari itu orang tua dan nona, terutama ia memperhatikan gerak-geriknya Ang Cit Kong, hingga timbullah kecurigaannya bahwa raja pengemis itu tidak berdaya, tak dapat berjalan karena lukanya yang hebat. Meski begitu, ia tidak mempunyai nyali yang cukup besar untuk menyerbu ke dalam gua. Maka ia terus memasang mata. Pagi itu ia melihat Oey Yong keluar sendirian, pergi ke pasir, ia mengikuti. Ia girang bukan main, ia anggap ia dkaruniai ektika yang baik sekali oleh Thian. Maka ia menghampirkan si nona sambil berindap-indap. Hanya sayang, bayangannya telah menggagalkan maksudnya.

“Adik yang baik, jangan pergi!” ia berkata dengan manis. “Aku hendak bicara denganmu!”

“Orang tidak menggubrismu, apa perlunya kau menggerembengi orang?” si nona menanya. “Apakah kau tidak tahu malu?”

Melihat orang tidak gusar, senang hatinya Auwyang Kongcu. Ia jadi semakin berani. Ia mendekati pula dua tindak. Lagi-lagi ia tertawa.

“Semuanya dasar kau!” katanya. “Siapa suruh kau ada begini cantik dan manis, hingga kau membikinnya hati orang terbetot keras?”

Oey Yong tertawa.

“Aku bilang tidak menggubrismu, tetp aku tidak mau memperdulikan!” kata ia. “Percuma saja kau mengambil-ambil hatiku, membaiki padaku!”

Pemuda itu maju ppula satu tindak.

“Ah, aku tidak percaya!” katanya, tertawa. “Hendak aku mencobanya!”

Tiba-tiba si nona memperlihatkan roman keren.

“Lagi satu tindak kau maju, akan aku minta suhu menghajar padamu!” ia mengancam.

“Sudahlah!” tertawa si anak muda, membelar. “Apakah si pengemis tua masih dapat berjalan? Apakah tidak baik jikalau aku menggendong dia?”

Oey Yong terkejut, hingga ia mundur dua tindak. Inilah yang ia khawatirkan. Ia takut kalau pemuda ceriwis ini mengetahui gurunya sudah tidak berdaya.

Auwyang Kongcu tertawa pula.

“Jikalau kau ingin terjun ke laut, nah terjunlah!” katanya. “Akan aku menunggui kau di darat! Marilah kita lihat, kau yang dapat berdiam lebih lama di dalam air atau aku yang di daratan.”

“Baiklah!” si nona berseru. “Kau menghina aku, untuk selamanya aku tidak sudi bergaul denganmu!”

Nona ini lantas menutar tubuhnya, untuk lari, atau baru tiga tindak, ia roboh terguling seraya menjerit “Aduh!” karena kakinya kena menginjak batu dan terpeleset.

Keponakan Auwyang Hong ini benar-benar licin. Ia khawatir si nona hanya menggunakan tipu untuk menyerangnya dengan jarumnya tatkala ia berlompat menubruk, maka juga sebelumnya maju ia membuka dulu baju luarnya, untuk dipakai sebagai senjata pelindung diri. Ia bertindak perlahan-lahan.

“Jangan datang mendekat!” membentak si nona. Ia bangun, untuk bertindak pula, atau baru satu tindak, ia roboh kembali. Bahkan kali ini ia terguling hingga separuh tubuhnya rebah di air, ia bagaikan pingsan. Tubuhnya itu tidak bergerak lagi.

“Budak, kau sangat licik tidak nanti aku kasih diriku diperdayakan!” kata Auwyang Kongcu dalam hatinya. Ia berdiri seraya mengawasi.

Ada seketika sehirupan the, masih si nona tidak berkutik, tubuhnya dari kepala sampai di dada masuk ke dalam air.

“Ah, dia benar-benar telah pingsan,” pikir si kongcu kemudian. “Jikalau aku tidak tolongi dia, mungkin dia mati kelelap, sayang begini cantik dan manis….”

Ia lantas bertindak maju, ia memegang kaki orang. Ia terperanjat ketika ia sudah menarik, sebab ia merasakan nona itu dingin sekali seperti membeku. Ia lekas-lekas membungkuk, untuk memeluk tubuh orang, niatnya untuk diangkat ke darat. Baru saja ia merangkul ketika kedua tangan si nona memeluk kedua kakinya seraya nona itu membentak, “Turunlah kau!”

Dalam keadaan seperti itu, Auwyang Kongcu tidak berdaya lagi, maka terceburlah ia ke laut bersama-sama si nona, yang berseru sambil membetot membuang dirinya ke laut.

Bukan kepalang kagetnya Auwyang Kongcu, hatinya terkesiap. Biarpun ia ada terlebih kosen daripada si nona, di dalam air, habislah dayanya. Ia menyesal yang walaupun ia sangat berhati-hati, masih ia kena diperdayakan si nona yang cerdik itu. Maka pikirnya: “Habislah aku kali ini…”

Oey Yong yang telah berhasil dengan tipu dayanya itu, dengan hati sangat bernafsu ia menarik orang ke tengah, ke tempat yang terlebih dalam. Percuma si anak muda mencoba berontak, ia kena teseret ke tengah. Ia telah dijambak pada kepalanya, kepala itu dibeleseki di dalam air.

Berulang-ulang pemuda itu menenggak air laut, mulanya masih terdengar suara gelogokan di tenggorokannya, habis itu ia mati daya, cuma tangan dan kakinya yang menjambret-jambret dan menendang-nendang, rupanya untuk menjambret atau menendang si nona tetapi ia tidak berhasil. Sebab Oey Yong tahu diri, dia sudah menjauhkan dirinya.

Selang sesaat, Auwyang Kongcu merasakan kakinya menginjak tanah. Ia sudah minum banyak air tetapi ia belum pingsan, ia masih ingat akan dirinya. Dasar ia lihay, pikirannya tidak menjadi kacau. Selama di tengah air, karena ia tidak bisa berenang ia tidak dapat berbuat apa-apa, akan tetapi selekasnya merasa menginjak dasar laut, mendadak ia membungkuk, untuk memegang dasar laut itu, sambil berbuat mana, ia menahan napas. Ia berhasil mengerahkan tenaga dalamnya. Ia lantas menduga-duga yang maa arah darat, tetapi di dalam air, ia tidak dapat mengenali timur atau barat, selatan atau utara. Ia mencoba berjalan juga, tangannya mencekal sebuah batu besar. Ia bertindak cepat ke arah dasar laut yang tinggi, yang menanjak.

Oey Yong melepaskan cekalannya sesudah orang kena dilelapkan dan kelabakan tidak karuan, ia muncul di muka air, akan tetapi menanti sekian lama ia tidak melihat orang timbul, ia menjadi heran. Lekas-lekas ia selulup pula.

Ia dapat menentang matanya di dalam iar, dari itu ia dapat melihat orang sedang bertindak ke arah darat. Ia terperanjat saking heran dan kagumnya. Tak ayal lagi ia berenang, menyusul. Ia menggerakkan tangan dan kakinya tanpa bersuara, setelah datang dekat, ia menikam dengan tempulingnya.

Kebetulan Auwyang Kongcu lagi mempercepat tindakannya, ia lolos dari tikaman itu. Sementara itu, ia sudah tiba di tempat yang dangkal, ia dapat berdiri dengan kepalanya di luar air. Ia melepaskan pegangannya, ia membuka kedua matanya, dan menghela napas, melegakan hatinya.

Oey Yong pun menghela napas. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap anak muda itu, terpaksa ia selulup pergi.

Auwyang Kongcu merayap naik ke darat, ia merasakan kupingnya pengang dan matanya kaburm, tetapi ia masih ingat untuk lekas rebah tengkurap di tanah, untuk mengundal ke luar air dari dalam perutnya. Habis itu ia merasakan lemah sekali, seperti juga ia baru sembuh dari semacam penyakit yang berat. Terus ia beristirahat. Tentu sekali, hatinya menjadi mendongkol dan panas, hingga muncullah niatnya yang kejam.

“Biar aku mampusi dulu si pengemis bangkotan!” demikian keputusannya. “Hendak aku lihat, budak itu nanti menurut padaku atau tidak!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: