Kumpulan Cerita Silat

12/08/2008

Kisah Membunuh Naga (32)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:57 am

Kisah Membunuh Naga (32)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, wibowoindra dan Thor)

“Sebab takut dipukul olehmu,” jawabnya.

Mendadak Coe Tiang Leng menyambar pundak Boe Kie dengan gerakan Kin na cioe. “Sekarang kau tak takut lagi?” bentaknya. Tiba-tiba ia merasa telapak tangannya panas, lengannya bergemetar dan ia terpaksa melepaskan cengkramannya. Tapi walaupun begitu, dadanya sakit dan menyesak. Ia mundur beberapa tindak dan berkata dengan suara parau. “Kau…ilmu apa itu?”

Sesudah memiliki Kioe yang sin kang, inilah untuk pertama kalinya Boe Kie menjajalnya. Ia sendiri baru tahu hebatnya ilmu tersebut. Dengan hanya menggunakan dua bagian tenaga, Coe Tiang Leng seorang ahli silat kelas satu sudah dapat dijatuhkan. Kalau ia mengerahkan seluruh tenaga mungkin sekali lengan orang tua itu sudah menjadi patah. Ia girang bukan main dan sambil mengawasi muka si tua, bertanya seraya tersenyum, “Coe Pehpeh, bagaimana pendapatmu? Apa ilmuku cukup lihay?”

“Ilmu apa itu?” Coe Tiang Leng mengulangi pertanyaannya.

“Akupun tak tahu, mungkin Kioe yang Sin kang,” jawabnya.

Coe Tiang Leng terkesiap. “Bagaimana kau bisa mendapat ilmu itu?” tanyanya pula.

Boe Kie berterus terang. Ia segera menceritakan cara bagaimana ia mendapat kitab luar biasa itu dari perut seekor kera dan cara bagaimana ia kemudian mempelajarinya dan melatih diri.

Penuturan itu sudah membangkitkan rasa cemburu dan gusar dalam hati si tua. “Empat tahun lebih aku menderita hebat di puncak ini, tapi setan kecil itu sudah dapat mempelajari sinkang yang tiada tandingannya di dunia,” pikirnya. Dia sama sekali tak ingat bahwa segala penderitaannya itu adalah akibat dari perbuatannya sendiri. Tapi sebagai manusia palsu ia bukan saja dapat menindih amarahnya, tapi juga bisa melihatkan muka berseri-seri. “Di mana adanya kitab itu?” tanyanya sambil bersenyum. “Apa boleh kulihat?”

“Boleh,” jawabnya. Ia menganggap bahwa biarpun bisa melihat, si tua takkan bisa menghafal isi kitab dalam tempo cepat. “Tapi aku sudah memendamnya di dalam lubang, besok saja aku membawanya kemari.”

“Kau sudah begini besar, bagaimana kau bisa keluar dari lubang yang sempit itu?” tanya pula Coe Tiang Leng.

“Lubang itu sebenarnya tak terlalu sempit,” kata Boe Kie. “Dengan mengerutkan badan dan menggunakan sedikit tenaga aku bisa lewat.”

“Apa akupun dapat lewat di situ?” tanya si tua dengan mata menyala. “Bagaimana pendapatmu? Apa bisa”

Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. “Kurasa dapat” jawabnya. “Besok boleh mencoba. Sesudah melewati terowongan terdapat sebuah lembah yang besar dan indah dengan bebuahan yang dapat menangsal perut”. Ia tahu bahwa dengan tenaga sendiri, Coe Tiang Leng tak akan bisa lewat di terowongan itu. Tapi melihat sikap si tua yang sangat manis dan penuh dengan rasa menyesal ia jadi kasihan lantas saja ambil keputusan untuk memberi bantuan. Ia merasa, bahwa dengan menggunakan sinkang akan dapat menggencet tulang pundak dada dan pinggul si tua supaya bisa lewat di terowongan yang sempit.

“Saudara kecil, kau sungguh baik,” kata si tua. “Seorang koencoe memang tidak menaruh dendam. Aku pernah melakukan perbuatan yang sangat tidak pantas terhadapmu dan kuharap kau suka memaafkan”. Seraya berkata begitu, ia menyoja seraya membungkuk.

Buru-buru Boe Kie membalas hormat. “Coe pehpeh jangan kau memakai terlalu banyak peradatan,” katanya. “Besok kita bersama-sama mencari daya upaya untuk keluar dari kurungan ini.”

Coe Tiang Leng jadi sangat girang. “Apakah masih ada jalan untuk keluar dari sini?” tanyanya.

“Kawanan kera bisa keluar masuk dan kita pun pasti bisa” jawabnya.

Untuk beberapa saat Coe Tiang Leng mengawasi Boe Kie. “Tapi? Tapi mengapa kau tidak coba meloloskan diri terlebih siang-siang dan menunggu sampai sekarang?” tanyanya.

Boe Kie bersenyum, “Sebegitu jauh aku tidak berani coba keluar dari sini karena kuatir dihina orang lagi,” jawabnya. “Tapi sekarang mungkin aku tak perlu berkuatir lagi. Di samping itu akupun ingin menengok Thaysoehoe, para Soepeh dan Soesiok.

Si tua berkakakan dan sambil menepuk-nepuk tangannya. “Bagus! Bagus!” Sambil menunjuk kegirangannya ia mundur satu dua tindak. Mendadak kakinya menginjak tempat kosong. Tubuhnya limbung dan…jatuh ke bawah!

Boe Kie mencelos hatinya. Ia melompat ke pinggir tebing dan berteriak, “Coe pehpeh! Coe pehpeh…!”

Dari bawah terdengar suara rintihan perlahan. Boe Kie girang. Ia mendapat kenyataan bahwa Coe Tiang Leng jatuh di atas sebuah pohon Siong yang terpisah hanya beberapa tombak dari atas tebing. Si tua rupanya mendapat luka yang agak berat, karena badannya rebah di cabang tanpa bergerak.

Dengan kepandaian yang sekarang dimilikinya, ia dapat menolong orang tua itu. Dengan mudah ia bisa melompat turun dan kemudian melompat naik dengan mendukung tubuh si tua. Demikianlah, sambil menyedot napas panjang-panjang, ia melompat turun ke arah cabang yang sebesar lengan.

Tak dinyana, pada waktu telapak kakinya hanya terpisah kira-kira setengah kaki, cabang itu mendadak jatuh ke bawah! Meskipun memiliki Sin-kang yang luar biasa, Boe Kie adalah seorang manusia biasa dan bukan seekor burung yang bisa terbang kian kemari di tengah udara. Ia terkesiap dan badannya terus meluncur ke bawah…!

Di lain detik, selagi tubuhnya melayang jatuh, ia tersadar. “Celaka sungguh! Sekali lagi aku diakali oleh bangsat tua Coe Tiang Leng! Cabang itu dipegang olehnya dan pada saat aku hampir hinggap di atasnya, ia lalu melepaskannya”. Tapi sadarnya sudah terlambat.

Memang benar jatuhnya Boe Kie adalah akibat permainan gila dari si tua. Sesudah berdiam empat tahun lebih di atas “panggung” itu, dia mengenal setiap pohon, setiap rumput dan setiap batu di sekitar tempat itu. Dengan berlagak jatuh dan berlagak terluka, ia sudah menghitung pasti bahwa Boe Kie yang hatinya lemah akan coba menolong dan benar saja akal busuknya telah berhasil.

Ia tertawa terbahak-bahak dengan girangnya dan kemudian lalu naik ke atas dengan memanjat sebatang akar yang terdapat pada siong itu. “Dahulu aku gagal untuk menembus terowongan itu,” katanya dalam hati. “Mungkin tulangku patah karena aku terburu nafsu dan menggunakan tenaga terlalu besar. Badan setan kecil itu banyak lebih besar daripada tubuhku, tapi ia bisa keluar masuk. Kalau dia besar akupun bisa. Sesudah mengambil Kioe-yang Cin keng aku bisa mencari jalan pulang dari lembah itu. Perlahan-lahan aku akan mempelajari isi kitab dan melatih diri, sehingga aku menjadi seorang ahli silat yang tiada tandingannya dalam dunia ini. Ha…Ha…Ha ha ha”!

Makin dipikir, ia jadi makin girang dan dengan bibir tersungging senyuman, ia masuk di terowongan itu. Sesudah merangkak beberapa lama, ia tiba di bagian terowongan di mana pada empat tahun berselang, tulangnya patah. Dalam usahanya untuk menerobos terowongan itu, dalam pikiran Coe Tiang Leng hanya dikuasai oleh suatu pendapat yaitu; Boe Kie bertubuh lebih besar daripadanya, sehingga kalau Boe Kie bisa, iapun bisa. Pendapat itu pada hakekatnya tidak salah. Tapi ada sesuatu yang tidak diketahui olehnya. Ia tak tahu bahwa sesudah menyelami Kioe yang Cin keng, Boe Kie mempunyai serupa ilmu luar biasa, yaitu Siok koet kang, yang dapat mengkerutkan tulang-tulang.

Sambil mengerahkan jalan pernafasannya, sejengkal demi sejengkal ia merangkak maju. Dengan tidak banyak susah, ia bisa maju kira-kira setombak lebih jauh daripada tempat terdahulu. Tapi sampai di situ, ia mandek. Sesudah mengeluarkan banyak tenaga, ia tetap tidak bisa maju.

Ia mengerti, bahwa jika menggunakan tenaga Lweekang, hasilnya akan bersamaan dengan kejadian pada empat tahun berselang dan tulangnya bakalan patah lagi. Maka itu, sesudah mengasah otak, ia segera melepaskan sisa hawa yang terdapat di dalam dadanya. Benar saja badannya lebih kecil dua dim dan ia bisa maju kira kira tiga kaki. Sampai di situ, ia mandek lagi karena lubang yang terbuka masih terlalu kecil untuk tubuhnya yang sudah sangat diperkecil. Lebih celaka lagi, karena di dalam dada sudah ada hawa udara, ia merasa sesak nafas dan jantungnya berdebar keras. Di lain saat, kedua matanya berkunang-kunang.

Ia mengenal bahaya. Ia segera mengambil keputusan untuk mundur. Tapi ia ternyata tak bisa mundur lagi!

Waktu maju ia bisa menggunakan tenaga dengan bantuan kedua kakinya yang menendang dinding batu yang tidak rata. Tapi dalam usahanya untuk mundur kembali, ia tak punya pegangan yang dapat digunakan untuk meminjam tenaga. Kedua tangannya yang diluncurkan ke depan hampir tergencet di antara dinding terowongan sehingga tidak bisa memberi bantuan apa jua.

Sekarang, barulah si tua ketakutan. Ia tahu bahwa ia akan mati konyol. Keringat dingin membasahi pakaiannya. Ia bingung bercampur heran bercampur takut. “Mana bisa begini?” tanyanya di dalam hati. “Badan bocah itu lebih besar daripada badanku. Mengapa dia bisa aku tidak bisa” Mana bisa begitu?”

Ya! Dalam dunia ini memang banyak hal yang aneh-aneh.

Demikianlah, Coe Tiang Leng yang pintar dan Boen boe song coan (pandai ilmu surat dan ilmu silat) tergencet di lubang, maju tak dapat, mundurpun tak bisa.

Di lain pihak, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, Boe Kie terus melayang ke bawah. “Boe Kie”! Boe Kie”!” ia mengeluh. “Kau sungguh tolol. Kau sudah tahu Coe Tiang Leng manusia licik, tapi toh kau masih juga kena diperdayai. Boe Kie…! kau memang pantas mampus diakali orang!”

Sambil menyesali diri sendiri, ia berusaha untuk menolong jiwanya. Ia menggerakkan tenaga dan melompat ke atas untuk memperlambat kecepatan jatuhnya. Tapi mana ia bisa berhasil. Dengan tubuh di tengah udara, tanpa sesuatu yang dapat digunakan untuk landasan, badannya terus meluncur ke bawah dengan dahsyatnya. Di lain saat ia merasa matanya sakit karena tertumbuk dengan sinar salju di atas bumi.

Bagi Boe Kie detik itu adalah detik yang memutuskan detik antara mati dan hidup. Pada detik itu ia melihat gundukan salju. Tanpa memikir panjang panjang lagi, tanpa menghiraukan benda apa yang diliputi salju itu, ia segera mengerahkan Lweekang dan menjungkir balik ke arah tumpukan salju. “Blus!” kedua kakinya menjeblos dan dengan berbareng ia mengerahkan Kioe yang Sin kang untuk melompat ke atas dengan meminjam tenaga berbalik dari tumpukan salju itu. Tapi tenaga jatuhnya dari tempat yang begitu tinggi dahsyat bukan main, lebih dahsyat dari tenaga yang dikerahkannya. Ia merasakan kesakitan hebat karena kedua tulang betisnya telah patah dengan berbareng.

Walaupun terluka hebat, otaknya masih terang. Ia mendapat kenyataan bahwa ia jatuh di tumpukan rumput dan kayu bakar. “Sungguh berbahaya!” pikirnya. “Kalau lapisan salju terdapat batu-batu besar, jiwaku tidak bisa tertolong lagi.

Dengan menggunakan kedua tangan, perlahan-lahan ia merangkak keluar dari tumpukan rumput itu dan merebahkan diri di atas tanah yang tertutup salju. Sesudah memeriksa lukanya, ia menarik nafas panjang-panjang dan lalu menyambung tulangnya yang patah.

“Tanpa bergerak, paling sedikit aku memerlukan tempo sebulan untuk bisa berjalan lagi, katanya dalam hati. “Tapi selama itu, dari mana aku bisa mendapat makanan untuk menangsal perut?” Ia tahu, bahwa tumpukan rumput itu adalah miliknya seorang petani sehingga tempat itu mesti terdapat rumah orang. Semula ia ingin berteriak untuk meminta pertolongan. Tapi ia mengurungkan niatnya karena mengingat, bahwa di dalam dunia terdapat banyak manusia jahat, sehingga jika teriakannya memancing kedatangan seorang jahat ia bisa jadi lebih celaka lagi. Memikir begitu, ia segera mengambil keputusan untuk rebah terus di situ sambil menunggu tersembuhnya pula tulang-tulang yang patah.

Tiga hari telah lewat. Makin lama rasa lapar menerjang kian hebat. Tapi ia tetap tidak berani bergerak, sebab sekali bergerak ia bisa jadi seorang pincang seumur hidupnya. Maka itulah, ia terpaksa menelan salju untuk menangsal perutnya yang keroncongan. Selama tiga hari itu, berulang-ulang ia berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati, supaya tidak sampai kena diakali oleh orang jahat.

Pada hari keempat, di waktu malam selagi ia melatih diri dengan mengerahkan Kioe yang sin kang, kupingnya tiba-tiba menangkap suara menyalaknya anjing. Makin lama suara itu jadi makin dekat dan didengar dari suaranya, mungkin sekali beberapa ekor anjing tengah menguber binatang buas.

“Apakah anjing-anjing itu miliknya Kioe Tien cie?” tanyanya dalam hati. “Semua anjing Tin cie sudah dibinasakan oleh Coe pehpeh, tapi sesudah berselang beberapa tahun, ia bisa mendidik anjing-anjing baru.”

Ia memasang kuping dan mengawasi ke arah suara itu. Tak lama kemudian ia lihat bayangan seorang yang lari bagaikan terbang dengan diuber oleh tiga ekor anjing. Orang itu kelihatannya sudah lelah sekali, tindakannya limbung, tapi dalam ketakutan, ia lari terus dengan mati-matian. Boe Kie bergidik karena ia ingat pengalamannya pada beberapa tahun yang lalu.

Ia ingin sekali memberi pertolongan, tetapi tak dapat sebab tulang betisnya belum tersambung. Di lain saat, ia mendengar teriakan menyayat hati dari orang itu yang roboh di tanah dan diterkam oleh pengejar-pengejarnya.

“Anjing bangsat! Kemari kamu!” teriak Boe Kie dengan gusar.

Anjing-anjing itu ternyata mengerti omongan manusia. Dengan serentak mereka tinggalkan si korban dan menghampiri Boe Kie. Begitu mengetahui bahwa pemuda itu adalah seorang yang tidak dikenal, mereka segera menyalak dan menubruk. Buru-buru Boe Kie mengerahkan Sin kang yang memang ingin dijajalnya. Dengan telunjuk, bagaikan kilat ia menotok hidung ketiga binatang itu, yang tanpa bersuara lagi roboh binasa. Boe Kie kaget sebab baru sekarang ia menginsyafi lihaynya Kioe-yang Sin kang. Mendengar rintihan perlahan dari orang yang barusan digigit anjing, Boe Kie segera bertanya, “Saudara, apa kau terluka berat?”

“Aku? Aku tak bisa ditolong lagi?” jawabnya.

“Tulang betisku patah, aku tak dapat mendekati kau,” kata Boe Kie. “Coba kau kemari, aku mau periksa lukamu.”

Dengan nafas tersengal-sengal orang itu merangkak ke arah Boe Kie. Tapi baru maju beberapa langkah, ia roboh dan tak bisa bergerak lagi.

“Toako, di bagian mana kau terluka?” tanya Boe Kie.

“Di dada dan di perut” jawabnya dengan suara lemah.

Boe Kie kaget, sebab didengar dari suaranya orang itu tidak akan bisa mempertahankan diri lagi. “Mengapa Toako diserang kawanan anjing bangsat itu?” tanyanya pula.

“Malam ini aku…aku keluar untuk memburu babi hutan yang sering mengganggu tanamanku,” ia menerangkan. “Secara kebetulan aku bertemu dengan seorang wanita dan seorang pria yang sedang beromong-omong di bawah pohon. “Hai?” ia tidak bisa meneruskan perkataannya lagi, tubuhnya tidak berkutik lagi.

Boe Kie lantas saja menduga, bahwa wanita dan pria itu adalah Coe Kioe Tin dan Wie Pek yang mengadakan pertemuan rahasia di tengah malam buta. Mengingat kekejaman wanita itu, darahnya lantas saja meluap.

Kesunyian malam kembali meliputi lembah yang dingin itu.

Sekonyong-konyong di sebelah kejauhan terdengar suara tindakan kuda, disusul dengan teriakan memanggil-manggil dari seorang wanita. Jantung Boe Kie memukul keras, karena ia segera mengenali suara Kioe Tin yang sedang memanggil-manggil anjing-anjingnya. Boe Kie segera bersiap sedia sebab suara tindakan kuda itu mendatangi ke arahnya. Tak lama kemudian, dua penunggang kuda, satu wanita dan satu pria, sudah tiba di situ. Dugaan Boe Kie ternyata tepat, mereka itu adalah Coe Kioe Tin dan Wie Pek.

“Ih! Mengapa ketiga Peng see Ciangkoen binasa semua?” kata si nona dengan suara heran.

Wie Pek melompat turun dari tunggangannya. “Ada dua orang mati di sini!” katanya heran.

Boe Kie siap sedia. “Kalau dia bergerak, aku turun tangan lebih dahulu,” pikirnya.

Melihat korban itu yang mendapat luka-luka berat dan Boe Kie yang pakaiannya compang camping dan rebah tanpa berkutik, Kioe Tin segera menarik kesimpulan bahwa mereka kedua-duanya sudah binasa digigit anjing. Ia mengadakan pertemuan itu untuk bersuka-sukaan dengan Wie Pek dan ia tak mau berdiam lama-lama di tempat yang dapat merusak suasana. Maka itu, ia lantas saja berkata, “Piawko, hayolah! Sebelum mati, mereka melawan mati-matian dan sudah membinasakan ketiga anjing itu.” Seraya berkata begitu, ia mengedut les kuda yang dikaburkan ke jurusan barat.

Wie Pek sebenarnya merasa sangat heran dan menyelidiki lebih jauh. Tapi karena kecintaannya sudah berlalu, maka buru-buru ia melompat ke atas punggung tunggangannya untuk menyusul si cantik.

Sayup-sayup Boe Kie mendengar suara tertawanya Kioe Tin. Tiba-tiba ia dihinggapi perasaan muak dan gusar terhadap nona itu. Ia sendiri merasa heran. Empat tahun yang lalu, ia memuja Coe Kioe Tin seperti memuja seorang dewi. Andaikata ia diperintah memanjat gunung golok atau masuk ke dalam kuali minyak mendidih, ia pasti akan menurut tanpa bersangsi. Tapi sekarang, entah mengapa pengaruh si nona atas dirinya tiada bekas-bekasnya lagi.

Di dalam hati kecilnya ia menduga-duga bahwa perubahan itu sudah terjadi berkat latihan Kioe yang kang.

Ia tak tahu, bahwa hal itu adalah kejadian lumrah bagi seorang lelaki yang baru berangkat besar. Pada masa akil balig, rasa cinta dari seorang lelaki terhadap orang perempuan cepat panasnya dan cepat pula dinginnya. Sesudah lewat beberapa lama pikirannya berubah sering-sering mentertawai dirinya sendiri, mengapa dulu ia begitu gila. Kejadiannya ini sedikit banyak sudah dialami oleh setiap orang lelaki.

Pada keesokan harinya, seekor elang yang melihat mayat manusia dan bangkai binatang, terbang berputaran di angkasa. Beberapa saat kemudian, dia menyambar ke bawah untuk mematok makanannya. Tapi elang itu bernasib sial. Bukan mayat yang disambar, tapi Boe Kie yang dikira mayat. Dengan sekali menggerakkan tangan Boe Kie sudah mencekal leher elang itu yang lalu dibinasakan. Langit menaruh belas kasihan dan sudah mengantarkan sarapan pagi, pikirnya dengan rasa girang. Ia lalu mencabut bulu burung itu dan makan dagingnya. Biarpun mentah, ia memakannya dengan bernafsu, karena sudah berhari-hari perutnya menahan lapar.

Belum habis daging elang yang pertama, elang kedua sudah menyatroni. Dengan begitu, ia tidak kekurangan makanan untuk menangsal perut. Hari lewat hari ia rebah disitu sambil menunggu bersambungnya tulang. Untung juga karena hawa yang sangat dingin, mayat dan bangkai manusia yang mengawaninya tak menjadi rusak. Karena sudah biasa hidup menyendiri maka hari-hari itu telah dilewatkannya tanpa terlalu penderitaan.

Pada suatu lohor, sesudah melatih Lweekang ia melihat dua ekor elang yang terbang berputaran terus menerus di angkasa tanpa berani turun. Tiba-tiba salah seekor menyambar ke bawah menyambar ke arahnya. Tapi dia tak menyambar terus. Waktu terpisah kira-kira tiga kaki dengan Boe Kie, elang itu mendadak berbelok dan terbang ke atas lagi dengan suatu gerakan yang lincah dan indah sekali.

“Aha, gerakan itu dapat dipergunakan dalam ilmu silat,” kata Boe Kie dalam hatinya. “Serangan cepat sehingga lawan sukar dapat menangkisnya dan kalau serangan itu gagal, gerakan mundurnya pun tak kurang cepatnya sehingga musuh takkan bisa mengejar.”

Sebagaimana diketahui, Kioe yang cin keng adalah kitab yang mengutamakan pelajaran latihan tenaga dalam. Dalam kitab itu tidak terdapat pelajaran jurus-jurus dan tipu-tipu silat. Maka itulah, biarpun sudah berlatih Kioe yang Cin keng, waktu diserang Kak wan tak tahu cara membela diri.

Perlawanan Thio Koen Po (belakangan dikenal sebagai Thio Sam Hong) terhadap In Kek See juga berkat empat jurus silat yang didapatnya dari Sin Tiauw Tayhiap Yo Ko.

Tapi Boe Kie agak berlainan daripada Kak wan dan Thio Sam Hong. Sedari kecil, ia sudah belajar ilmu silat. Akan tetapi jika ia ingin melebur Lweekang tertinggi yang telah dimilikinya dalam ilmu-ilmu silat, ia tak akan bisa melakukannya di dalam waktu yang pendek. Maka setiap kali melihat jatuhnya bunga, menjulangnya cabang pohon ke angkasa, gerak-gerik binatang atau burung, ataupun perubahan angin, ia lantas ingat jurus-jurus silat yang dapat digubah dari contoh-contoh itu.

Ia terus mengawasi kedua elang itu dan mengharap-harap agar mereka menyambar lagi seperti tadi.

Tiba-tiba kupingnya menangkap suara tindakan manusia di atas salju. Tindakan itu enteng dan lincah, seperti tindakan wanita. Ia memutar kepala dan mengawasi ke arah suara itu. Benar saja yang sedang mendatangi adalah seorang wanita yang tangannya menenteng sebuah keranjang kecil.

Melihat mayat dan bangkai binantang, wanita itu merandek dan mulutnya mengeluarkan seruan kaget. Ia seorang wanita muda yang kira-kira tujuh belas atau delapan belas tahun. Dilihat pakaiannya yang terbuat dari kain kasar, ia seorang gadis dusun yang miskin. Ia pun bukan gadis cantik, bahkan dapat dikatakan beroman jelek karena rambutnya kering, kulitnya hitam, otot-otot pada mukanya banyak melesak atau menonjol keluar, sedangkan kedua ujung mulutnya agak turun ke bawah. Bagian yang menyedapkan dari wanita itu adalah kedua matanya yang jeli dan bersinar tajam serta tubuhnya yang ramping dan gemulai.

Ia mendekati dan waktu kedua matanya kebentrok dengan sorot mata Boe Kie, ia kaget dan bertanya dengan suara terputus-putus. “Kau? kau tidak mati?”

“Tidak,” jawabnya.

Pertanyaan yang pendek itu dijawab dengan pendek pula.

Di lain saat, mereka tertawa bersama. “Kalau kau belum mati, perlu apa kau rebah di situ?” tanya pula si nona.

“Aku jatuh dari atas gunung, tulang betisku patah.” Boe Kie menerangkan.

“Apa dia kawanmu?” tanya wanita itu seraya menunjuk mayat. “Mengapa tiga anjing itu mati?”

“Tiga binatang itu telah menggigit dan membinasakan saudara itu,” jawabnya.

“Bagaimana keadaanmu? Apa kau tidak lapar?”

“Tentu saja lapar. Tapi aku tidak dapat bergerak dan menyerahkan segala apa pada nasib.”

Wanita itu tersenyum. Ia merogoh keranjangnya dan mengeluarkan dua potong kue phia lalu diberikan kepada Boe Kie.

“Terima kasih,” kata Boe Kie seraya menyambutinya, tapi ia tidak lantas memakannya.

“Mengapa kau tidak makan? Apa kau takut ada racunnya?” tanya si nona.

Sudah 4 tahun lebih, kecuali dengan Coe Tiang Leng, Boe Kie tidak pernah bicara dengan lain manusia. Maka itu, pertemuannya dengan gadis itu menggirangkan hatinya, karena biarpun si nona berparas jelek, omongan-omongannya sangat menarik. Ia tertawa dan menjawab, “Bukan, bukan begitu. Sebabnya adalah karena phia ini diberikan oleh nona, maka aku merasa sayang untuk segera memakannya.”

Jawaban itu, yang sebenarnya hanya guyon-guyon dapat diartikan sebagai ejekan. Boe Kie adalah seorang yang sifatnya sungguh-sungguh dan ia jarang sekali bicara main-main. Tapi sekarang, dalam berhadapan dengan gadis jelek itu, hatinya bebas tanpa merasa ia sudah mengeluarkan kata-kata itu.

Di luar dugaan, paras muka si nona lantas saja berubah gusar dan ia mengeluarkan suara di hidung sehingga Boe Kie merasa sangat menyesal dan buru-buru ia memasukkan kue ke dalam mulutnya. Karena terburu-buru, kue itu menyangkut di tenggorokannya dan ia batuk-batuk.

Muka si nona berubah lagi, dari marah menjadi girang. “Terima kasih Langit, terima kasih Bumi. Tioe Pat Koay (si muka jelek) bukan manusia baik, katanya. “Bapak Langit menjatuhkan hukuman kepadamu. Mengapa orang lain tidak dipatahkan tulangnya, hanya kau seorang yang dipatahkan tulang betismu?”

“Sesudah empat tahun tak pernah mencukur rambut dan muka, tentu saja mukaku kelihatannya jelek,” kata Boe Kie dalam hati. “Tapi kaupun tidak cantik. Kita berdua setali tiga uang.” Tapi tentu saja ia tak berani mengutarakan berterus terang apa yang dipikir dalam hatinya. Ia tersenyum dan berkata, “Sudah 9 hari aku menggeletak di sini. Sungguh untung, nona kebetulan lewat di sini dan nona sudah memberikan kue kepadaku. Terima kasih banyak untuk kebaikanmu itu.”

Si nona tertawa. “Jangan kau bicara menyimpang,” katanya. “Aku tanya mengapa hanya seorang yang patah tulang” Kalau kau tidak menjawab, aku akan mengambil pulang kueku itu.”

Jantung Boe Kie memukul keras sebab selagi bicara sambil tertawa di mata gadis itu terdapat sinar kenakalan yang menyerupai sinar mata yang dimiliki oleh ibunya sendiri. “Mengapa sinar matanya mirip dengan sinar mata ibu?” tanyanya di dalam hati. “Sebelum meninggal dunia, waktu ibu memperdayai pendeta Siauw lim sie, pada kedua matanya terlihat sinar yang seperti itu.” Mengingat ibunya, hatinya merasa pilu dan air matanya lantas saja mengucur.

“Fuih!” kata si nona sambil tertawa nyaring. “Tidak, aku tidak akan merampas kue itu. Sudah! Jangan nangis. Hai! Kalau begitu, kau hanya satu manusia dungu.”

“Huh! Kau kira kuemu terlalu enak?” kata Boe Kie. “Aku menangis karena ingat sesuatu bukan sebab kuemu.”

“Ingat apa?” tanya si nona.

Boe Kie menghela nafas. “Aku ingat ibu. Ibuku yang sudah meninggal dunia,” jawabnya.

Si nona tertawa nyaring. “Ibumu sering memberi phia kepadamu, bukan?” tanyanya.

“Benar, ibuku memang sering memberi kue kepadaku,” jawabnya. “Tap aku ingat kepadanya bukan sebab itu. Aku ingat ibu sebab tertawamu sangat mirip dengan tertawa ibu.”

“Setan!” bentak si nona dengan suara gusar, “Aku sudah tua ya” Sama seperti ibumu, ya?” Ia mengambil cabang kering dan menyabet Boe Kie dua kali.

Kalau mau, dengan mudah Boe Kie bisa merampas cabang kering itu. Tapi ia berkata dalam hatinya, “Ia tidak tahu bagaimana cantiknya ibuku. Ia rupanya menganggap roman ibu sejelek romanku dan ia merasa tersinggung. Dilihat dari sudut ini, ia memang pantas bergusar.” Sesudah disabet, ia berkata, “Ibuku sangat cantik!”

Muka si nona tetap muram. “Kau mentertawai aku karena romanku jelek?” bentaknya pula. “Benar-benar kau sudah bosan hidup, biar aku tarik kakimu.” Seraya mengancam, ia membungkuk dan bergerak untuk menarik kaki pemuda itu.

Boe Kie kaget. Tulang betisnya baru menyambung, sehingga kalau ditarik ia bakal menderita lebih berat. Buru-buru ia meraup salju, begitu kakinya tersentuh ia akan menimpuk Bie sim hiat si nona supaya ia pingsan. Untung juga ancaman itu tidak dibuktikan.

Melihat perubahan pada paras muka Boe Kie nona itu berkata, “Mengapa kau begitu ketakutan” Nyalimu seperti nyali tikus, siapa suruh kau mentertawai aku?”

“Sedikitpun aku tak punya niat untuk menggoda nona,” kata Boe Kie dengan suara sungguh-sungguh. “Jika di dalam hati aku berniat mentertawai nona, biarlah sesudah sembuh, aku jatuh lagi tiga kali dan seumur hidup aku menjadi seorang pincang.”

Mendengar sumpah itu, ia tertawa geli dan lalu duduk di samping. “Kalau ibumu seorang wanita cantik, mengapa kau membandingkan aku dengan dia?” tanyanya dengan suara perlahan. “Apa akupun cantik?”

Boe Kie tergugu. Sesaat kemudian barulah ia bisa menjawab. “Entahlah, aku pun tak tahu sebabnya. Aku hanya merasa, bahwa kau mirip dengan ibuku. Biarpun kau tidak secantik ibu, tapi aku merasa sayang jika memandang parasmu.”

Si nona tersenyum, ia mencolek pipi Boe Kie dengan jarinya dan berkata sambil tertawa, “Anak baik, nah kalau begitu kau panggil saja ibu kepadaku?” Ia tidak meneruskan perkataannya dan dengan sikap kemalu-maluan, dia memutar kepala ke jurusan lain, karena ia merasa bahwa perkataannya itu tidak pantas dikeluarkan. Tapi sesudah memutar kepala, ia tak dapat menahan rasa gelinya dan lalu tertawa pula.

Melihat begitu, Boe Kie lantas saja ingat kejadian-kejadian di pulau Peng hwee to, yaitu pada saat kedua orang tuanya bersenda gurau. Ia ingat bahwa dalam guyon-guyon, sikap mendiang ibunya sangat menyerupai sikap si wanita jelek saat ini. Tiba-tiba ia merasa bahwa nona itu tidak jelek. “Dia cantik, dia ayu” ia mengawasi seperti orang kesengsem.

Tiba-tiba si nona memutar lagi kepalanya dan melihat Boe Kie mengawasinya seperti orang linglung. Ia tertawa dan bertanya, “Mengapa kau senang melihat aku? Coba beritahukan kepadaku sebab musababnya.”

Boe Kie tidak lantas menjawab. Sesudah geleng-gelengkan kepalanya ia baru berkata, “Aku tak dapat mengatakan secara tepat. Aku hanya merasa bahwa kalau memandang wajahmu, hatiku tenang dan aman. Aku merasa bahwa kau akan hanya berbuat baik terhadapku, bahwa kau tidak akan mencelakai aku.”

Si nona tertawa nyaring, “Haa..ha..! Kau salah! Aku adalah manusia yang paling suka mencelakai orang,” katanya.

Sekonyong-konyong ia mengangkat cabang kayu yang dipegangnya dan menyabet betis Boe Kie dua kali. Sesudah itu ia berjalan pergi. Sabetan itu yang dijatuhkan secara di luar dugaan, kena tepat pada tulang yang patah, sehingga Boe Kie kesakitan dan berteriak, “Aduh!” Teriakan Boe Kie disambut dengan tertawa geli.

Dengan mendongkol Boe Kie mengawasi bayangan wanita itu yang makin lama jadi makin jauh. “Kurang ajar!” ia mengomel. “Yang cantik suka melukai orang, yang jelekpun begitu juga”.

Malam itu Boe Kie banyak bermimpi. Ia bermimpi bertemu dengan wanita itu, bertemu pula dengan mendiang ibunya dan bertemu pula dengan seorang wanita yang tidak terang wujudnya. Mungkin ibunya dan mungkin juga wanita jelek itu. Ia bermimpi sang ibu mempermainkannya menjatuhkannya dan sesudah ia menangis barulah ibunya memeluknya, menciumnya dan berkata, “Anak baik jangan menangis, sayang…sayang…ibu menyayang kau.”

Waktu terdengar dalam otaknya mendadak berkelebat serupa ingatan yang baru pernah diingatnya sekarang. “Mengapa ibu begitu suka mencelakakan manusia?” tanyanya di dalam hati. “Kedua mata Giehoe dibutakan oleh ibu. Jie Sam soepeh cacat karena ibu. Seluruh keluarga Liong boen Piauw kiok binasa dalam tangan ibu. Apa ia orang baik?” Sambil bertanya begitu, ia mengawasi bintang-bintang di langit dan menghela nafas berulang-ulang. “Tak peduli baik atau jahat, ia tetap ibuku,” pikirnya. “Kalau ibu masih hidup, aku pasti akan menyintanya dengan segenap jiwa dan raga.”

Di lain saat ia ingat gadis dusun itu. Mengapa si jelek memukul kakinya. “Aku tidak bersalah mengapa dia memukul aku?” tanyanya di dalam hati. “Sesudah aku berteriak kesakitan, ia tertawa kegirangan. Apakah ia manusia yang senang mencelakakan sesama manusia?”

Ia mengharapkan nona itu datang lagi, tapi iapun kuatir akan dipukul lagi. Otaknya bekerja terus, sebentar ia ingat mendiang ibunya, sebentar ia ingat gadis dusun itu dan sebentar ia ingat lain-lain hal.

Dua hari telah lewat dan nona itu tidak pernah muncul. Boe Kie menganggap dia tak akan datang lagi untuk selama-lamanya. Di luar dugaan, pada hari ketiga, kira-kira lohor, gadis dusun itu menyatroni lagi sambil menenteng keranjangnya.

“Tio pat koay,” tegurnya seraya tertawa. “Kau belum mati kelaparan?”.

“Sudah hampir,” jawabnya. “Sebagian besar mampus, sebagian kecil masih hidup”.

Nona itu tertawa, lalu duduk di samping Boe Kie. Mendadak memandang betis pemuda itu. “Apa bagian itu masih hidup?” tanyanya.

“Aduh!” teriak Boe Kie. “Kau sungguh manusia yang tak punya liangsim!”

(Liangsim—perasaan hati).

“Tak punya liangsim?” menegas si nona. “Kebaikan apa yang sudah ditunjuk olehmu terhadap diriku?”

Boe Kie terkejut. “Kemarin dulu kau telah memukul aku, tapi aku tidak menaruh dendam,” katanya. “Selama dua hari, aku selalu mengingat kau”.

Paras muka si nona lantas saja berubah merah, seperti orang bergusar, tapi ia menekan nafsu amarahnya. “Apa yang dipikir olehmu kebanyakan bukan hal yang baik,” katanya. “Aku berani memastikan, didalam hati kau mencaciku sebagai perempuan jelek perempuan jahat”.

“Romanmu tidak jelek,” kata Boe Kie. “Tapi mengapa kau baru merasa senang bila sudah mencelakai manusia?”

Si nona tertawa geli. “Bagaimana kudapat memperlihatkan rasa senangku, jika aku tak bisa menyaksikan penderitaan orang?” katanya dengan suara adem.

Sehabis berkata begitu, ia mengawasi Boe Kie yang pasa mukanya menunjuk perasaan tidak puas dan tidak setuju. Melihat pemuda itu masih mencekal sepotong kue yang belum dimakan tiga hari, ia tersenyum lalu berkata.

“Phia itu sudah tiga hari, apa masih enak dimakan?”

“Aku merasa sayang untuk makan kue ini yang dihadiahkan olehmu,” jawabnya.

Bila pada tiga hari berselang ia mengatakan begitu untuk berguyon, kini suaranya bernada sungguh-sungguh. Nona itu juga merasa, bahwa kali ini Boe Kie tidak bicara main-main dan paras mukanya lantas saja bersemu merah.

“Aku membawa kue-kue yang baru,” katanya sambil merogoh keranjang dan mengeluarkan beberapa macam makanan, di samping kue, terdapat juga ayam panggang dan kaki kambing panggang yang baunya wangi.

Boe Kie girang bukan main. Selama tiga tahun lebih, ia hanya mengenal daging kodok dan bebuahan dan baru sekarang ia dapat mencicipi lagi makanan enak. Tanpa sungkan-sungkan, dia lalu memasukkan sepotong daging ayam ke dalam mulutnya.

Sambil memeluk lutut dan mengawasi cara makannya Boe Kie yang sangat bernafsu, si nona duduk di samping pemuda itu.

“Siluman muka jelek (Tioe pat koay), kau makan enak sekali,” katanya. “Kusenang melihat cara makanmu. Kau agak berlainan dengan manusia lain. Tanpa mencelakai kau, aku sudah merasa senang.”

“Rasa senang yang sejati adalah rasa senang yang didapat karena melihat orang lain merasa senang.” Kata Boe Kie.

Nona itu tertawa dingin. “Huh!” ia mengeluarkan suara di hidung. “Biarlah aku berterus terang terhadapmu. Hari ini hatiku senang dan aku tidak mencelakai kau. Tapi di lain hari, bila aku tak senang, mungin sekali aku akan menghajar kau, sehingga kau hidup tidak, matipun tidak. Kalau terjadi kejadian itu, jangan kau menyalahkan aku”.

Boe Kie menggeleng kepalanya. “Kau takkan mampu menghajar aku,” katanya.

“Mengapa begitu?” tanya si nona.

“Sedari kecil aku sudah biasa dihajar oleh manusia jahat,” jawabnya. “Aku dihajar hingga besar. Makin dihajar, aku maikn alot”.

“Lihat saja buktinya nanti,” kata nona itu.

Boe Kie tersenyum dan berkata pula. “Sesudah lukaku sembuh, aku akan menyingkir jauh-jauh. Kau takkan bisa menganiaya aku lagi”.

“Kalau begitu, lebih dahulu aku akan putuskan betismu sehingga kau seumur hidup takkan bisa berpisahan lagi denganku,” kata si nona.

Mendengar suara dingin bagaikan es, Boe Kie bergidik. Ia mersa, bahwa perkataan itu bukan diucapkan seenaknya saja dan bahwa apa yang dikatakannya dapat dilakukan oleh wanita itu.

Sementara itu, setelah mengawasi Boe Kie beberapa saat, si nona menghela nafas. Sekonyong-konyong paras mukanya berubah. “Tioe pat koay” bentaknya. “Apakah betis anjingmu tak pantas dibacok putus olehku?”

Mendadak ia berbangkit, merampas potongan daging ayam, kaki kambing dan kue phia yang belum dimakan dan melemparkannya jauh-jauh. Sesudah itu dengan penuh amarah, ia meludahi muka Boe Kie.

Boe Kie menatap wajah si nona. Ia merasa, bahwa gadis itu bukan sengaja benar-benar bergusar dan juga tak sengaja mau menghina dirinya, karena pada paras mukanya terlihat sinar kedukaan yang sangat besar. Boe Kie adalah seorang yang mempunyai perasaan halus dan bisa turut merasakan penderitaan orang lain. Ia ingin sekali menghibur, tapi untuk sementara ia tak tahu apa yang harus dikatakannya.

Melihat sikap Boe Kie, nona itu berhenti meludah. “Tioe pat koay!” bentaknya. “Apa yang sedang dipikir olehmu?”

“Nona, mengapa kau kelihatannya begitu menderita?” Boe Kie balas menanya. “Beritahukanlah kepadaku”.

Karena ditanya dengan perkatann lemah lembut, gadis itu tak dapat jalan untuk mengumbar nafsunya lagi. Sekonyong-konyong ia duduk pula di samping Boe Kie dan menangis sedu-sedan sambil memeluk kepalanya.

Boe Kie mengawasinya dengan belas kasihan. “Nona,” katanya dengan suara perlahan. “Siapa yang sudah menghina kau? Tunggulah, sesudah kakiku sembuh aku akan membalas sakit hatimu.”

Nona itu terus menangis. Selang beberapa lama, barulah ia berkata. “Tidak ada orang yang menghinaku. Penderitaanku karena nasibku yang buruk, karena salahku sendiri. Aku memikiri orang yang tak dapat melupakannya”.

Boe Kie mangut-manggutkan kepala. “Orang laki2 bukan?” tanyanya pula. “Dia jahat terhadapmu bukan ?”

“Benar!” jawabnya. “Dia sangat tampan, tapi sombong luar biasa. Aku ingin dia mengikuti aku seumur hidup, tapi dia tak mau. Itu masih tidak apa. Celakanya, dia bukan saja mencaci tapi juga sudah menganiaya aku, sehingga darah berlumuran.”

“Kurang ajar sungguh dia!” teriak Boe Kie dengan gusar. “Nona kau jangan perdulikan dia lagi.”

Air mata si nona kembali mengucur “Tapi…aku tak dapat melupakannya”, katanya. “Dia pergi jauh-jauh untuk menyingkirkan diri dan aku sudah mencarinya kesana kemari!”

Mendengar begitu, walaupun merasa, bahwa nona itu beradat aneh, rasa kasihan Boe Kie jadi makin besar. “Di dunia terdapat banyak sekali lelaki yang baik. Perlu apa kau memikiri manusia yang tak berbudi itu ?”

Si nona menghela nafas panjang, matanya mengawasi ke tempat jauh.

Boe Kie tahu, bahwa ia tak dapat menghilangkan bayangan lelaki itu dari alam pikirannya. Untuk mencoba lagi ia berkata pula, “Lelaki itu hanya memukulmu satu kali. Tapi penderitaanku sepuluh kali lebih hebat daripada kau”.

“Apa kau ditipu wanita cantik ?” tanya nona itu.

“Dia bukan sengaja ingin menipu aku”, jawabnya. “Aku sendirilah yang salah. Melihat kecantikkannya aku jadi seperti orang edan. Tentu saja aku bukan pasangannya dan akupun tidak mengharapkan yang tidak-tidak. Belakangan ayahnya wanita itu telah menjalankan siasat busuk terhadap diriku sehingga aku sangat menderita”. Seraya berkata begitu, ia menggulung tangan bajunya dan sambil menunjuk tanda-tanda bekas luka, ia berkata pula. “Lihatlah! Ini tanda bekas gigitan anjing2nya yang jahat”.

Paras muka nona itu lantas berubah gusar. “Apa kau maksudkan Coe Kioe tia ?” tanyanya.

“Bagaima kau tahu?” Boe Kie balas menanya dengan suara heran.

“Budak hina itu suka sekali memelihara anjing yang sering untuk mencelakakan manusia”, jawabnya. “Dalam jarak ratusan li di sekitar tempat ini, tak seorangpun yang tidak tahu”.

Boe Kie mengangguk “Benar”, katanya. “Lukaku sudah sembuh dan akupun masih hidup, akupun tak mau membenci dia lagi”.

Mereka saling memandang tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Selang beberapa saat nona itu bertanya. “Siapa namamu? Mengapa kau berada di sini?”

Mendengar pertanyaan itu Boe Kie segera ingat bahwa waktu berada di Tiong goan banyak sekali orang coba mengorek keterangan tentang ayah angkatnya dan karena urusan itu, ia telah mendapat banyak kesengsaraan.

“Mulai dari sekarang Thio Boe Kie sudah meninggal dunia dan di dalam dunia tak ada manusia lagi yang tahu tempat bersembunyinya Kim Mo Say Ang Cia Soen”, katanya di dalam hati. “Di kemudian hari biarpun aku bertemu dengan manusia yang sepuluh kali lihai daripada Coe Tiang Leng, aku tak bisa diakui lagi”. Memikiri begitu, ia lantas menjawab. “Namaku Ah Goe”.

“Shemu?” tanya pula si nona.

“Aku..aku si Ca”, jawabnya. “Dan Kau?”

“Aku tak punya She”, jawabnya. Sesaat kemudian ia berkata lagi dengan suara perlahan. “Ayah kandungku membenci aku. Kalau ia bertemu denganku ia pasti akan membunuhku. Bagaimana aku bisa menggunakan shenya? Ibuku sendiri meninggal dunia sebab gara-garaku. Akupun tidak bisa menggunakan she ibu. Romanku sangat jelek (toe), maka itu biarlah, kau memanggil aku dengan panggilan Tioe Kouwnia (nona muka jelek saja)”.

Boe Kie terkejut. “Kau?…kau telah mencelakakan ibumu sendiri?” tanyanya dengan suara terputus-putus. “Bagaimana bisa begitu?”

Gadis itu menghela nafas. “Kalau mau dituturkan panjang sekali”, jawabnya. “Aku mempunyai dua orang ibu. Ibu kandungku adalah istri pertama dari ayahku. Karena lama tidak punya anak ayah mengambil istri kedua. Ibu tiriku (Jienio) telah melahirkan dua kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan, sehingga ayah sangat menyayangnya. Belakangan ibu melahirkan aku. Sebab disayang dan juga sebab keluarganya berpengaruh, Jienio sangat sewenang-wenang terhadap ibuku yang hanya bisa menangis, ketiga kakak juga sangat jahat dan mereka membantu ibu mereka untuk menindas ibuku. Tioe Pat Koay, coba kau pikir, apakah yang harus diperbuat olehku?”

“Dalam hal ini ayahmu harus berlaku adil”, kata Boe Kie.

“Tapi ayah sangat memilih kasih dan ia selalu membenarkan Jienio” kata si nona. “Karena tak dapat menahan sabar akhirnya aku bacok mampus ibu tiriku itu”.

“Ah”, tanpa merasa Boe Kie mengeluarkan suara kaget. Ia adalah seorang dari rimba persilatan yang sudah biasa melihat pertempuran dan pembunuhan. Tapi gadis itu yang kelihatannya lemah bisa membunuh orang adalah kejadian yang sangat diluar dugaannya. Tapi nona itu sebaliknya tenang-tenang saja dan dengan suara perlahan ia melanjutkan penuturannya. “Ibu jadi ketakutan dan menyuruh aku melarikan diri. Ketika kakakku mau mengejar untuk menangkap aku, ibu mencoba mencegah mereka, tapi tidak berhasil. Untuk menolong jiwaku, ibu segera menggantung diri sehingga mati. Coba kau pikir. Bukankah aku yang sudah mencelakai ibuku sendiri” Kalau ayah bertemu denganku bukankah ia bisa membunuh aku?”

Boe Kie mendengarkan cerita itu dengan jantung memukul keras. “Walaupun kedua orang tuaku sudah meninggal dunia secara menggenaskan, mereka sedikitnya mencintai satu sama lain”, katanya di dalam hati. “Ayah dan ibu juga sangat mencintai aku. Ya! Kalau dibanding-bandingkan, penderitaan nona itu memang ribuan kali lebih hebat daripada pengalamanku”.

Mengingat begitu, rasa kasihannya jadi terlebih besar. “Apa sudah lama kau meninggalkan rumah?” tanyanya “Apa mulai dari waktu itu kau terus terlunta-lunta sebatang kara?”

Si nona manggut-manggutkan kepalanya.

“Sekarang, kemana kau mau pergi?” tanya pula Boe Kie.

“Entahlah”, jawabnya. “Dunia sangat lebar dan aku bisa pergi kemanapun juga. Asal tidak berpapasan dengan ayah dan kakakku, aku boleh tak usah berkuatir”.

Darah Boe Kie bergolak dalam dadanya. Di samping rasa kasihan, ia merasa senasib dengan gadis dusun itu, sebab ia pun sebatang kara dan hidup bergelandang di dunia yang lebar ini.

“Biarlah kau tunggu sampai lukaku sembuh”, katanya kemudian. “sesudah sembuh, kita akan cari toako pemuda itu. Aku mau tanya, bagaimana sikapnya yang sebenarnya terhadapmu?”

“Bagaimana kalau ia memukul aku?” tanya si nona.

“Hm!” Boe Kie mengeluarkan suara di hidung. “Kalau dia berani menyentuh selembar rambutmu saja, aku pasti tak akan mengampuninya”.

“Tapi bagaimana jika ia hanya mengambil sikap tidak memperdulikan?” mendesak si nona.

Boe Kie membungkam. Ia mengerti, bahwa ia tak dapat memaksakan cinta. Sesudah termenung beberapa saat, ia berkata. “Aku akan berusaha sedapat mungkin”.

Sekonyong-konyonf nona itu tertawa terbahak-bahak, tertawa geli, seolah-olah di dalam dunia tak ada lain hal yang lebih menggelikan daripada pernyataan Boe Kie.

“Mengapa kau tertawa?” tanya Boe Kie dengan heran.

“Tioe pat koey”, jawabnya. “Manusia apa kau” Apa kau kira orang akan mengindahkan segala kemauanmu” Aku sudah mencari-cari dia ke segala pelosok, tapi tak bisa menemukannya. Apakah dia masih hidup? Apakah sudah mati? Entahlah kau mau berusaha sedapat mungkin. Apa kemampuanmu? Ha ha ha!……ha ha”.”.

Boe Kie sebenarnya mau mengatakan sesuatu akan tetapi, mendengar perkataan itu, mulutnya yang sudah terbuka tertutup kembali. Dengan paras muka merah dan mulut ternganga, ia mengawasi gadis dusun itu.

“Kau mau bicara apa?” tanya si nona.

“Sesudah kau mentertawai aku, tak perlu aku bicara lagi”.

“Hm!……Paling banyak aku tertawa lagi. Dengan ditertawai olehku, kau toh tak akan mati”.

“Nona, aku bicara dengan setulus hati. Tak pantas kau mentertawai aku”.

“Sudahlah. Sekarang jawablah pertanyaanku. Apa yang mau dikatakan olehmu?”

“Baiklah”, kata Boe Kie. “Karena melihat kau sebatang kara dan nasibmu agak bersamaan dengan nasibku sendiri, yang sudah tak punya orang tua atau saudara, maka tadi aku ingin mengatakan. Jika pemuda itu tetap tak mau memperdulikan kau, biarlah aku saja yang mengawani kau. Biar bagaimanapun jua, aku bisa menjadi kawan beromong-omong, guna menghibur kau. Tapi jika kau menganggap, bahwa diriku tidak sesuai untuk berbuar begitu, terserahlah kepadamu”.

“Tidak sesuai!…….Memang tidak sesuai”, kata si nona. “Orang jahat itu seratus kali lipat lebih tampan daripada mukamu. Celaka sungguh! Aku membuang-buang tempo di sini dengan pembicaraan yang tidak ada faedahnya”. Sesudah menendang daging ayam dan kaki kambing yang dilontarkannya ke tanah, ia segera berlalu dengan cepat.

Boe Kie menghela nafas. “Nona itu sungguh harus dikasihani”. Pikirnya dengan perasaan duka. “Ia sangat menderita dan segala sepak terjangnya yang sangat aneh harus dimaafkan.”

Sekonyong-konyong terdengar suara tindakan dan gadis dusun itu kembali lagi. “Tioe pat koey!”, bentaknya dengan garang. “Kau tentu merasa sangat penasaran di dalam hati, kau pasti merasa sangat mendongkol bahwa seorang wanita yang sejelek aku masih berani menghina dirimu. Benarkah begitu?”

Boe Kie meggelengkan kepala. “Tidak, tidak begitu”, katanya. “Karena kau tidak begitu cantik, maka begitu bertemu, aku lantas saja merasa cocok denganmu. Kalau mukamu tidak berubah jelek dan masih seperti pada waktu pertemuan pertama kali…?”

“Apa?” memutus si nona. “Bagaimana kau tahu bahwa dahulu aku tidak seperti sekarang?”

“Dalam pertemuan ini, bengkak matamu lebih hebat dan warna kulitmu lebih hitam daripada dalam pertemuan pertama kali”, kata Boe Kie. “Roman muka yang didapat semenjak dilahirkan tidak bisa berubah-ubah.”

“Nona itu kelihatan kaget sekali. “Aku…Aku dalam beberapa hari ini, aku tidak berani berkaca,” katanya “Apakah romanku makin lama jadi makin jelek?”

“Aku memandang manusia bukan melihat romannya,” kata Boe Kie menghibur. “Dalam manusia, yang terutama adalah hati harus baik, rupa adalah soal kedua. Ibuku pernah mengatakan bahwa makin cantik seorang wanita mungkin makin busuk hatinya, makin suka menipu orang dan ibu menasehati aku supaya aku berwaspada terhadap wanita cantik”.

Tapi gadis itu tentu saja tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh ibunya Boe Kie. Yang penting baginya adalah soal dirinya sendiri. Cepat-cepat ia berkata “Kau jawablah pertanyaanku. Dalam pertemuan kita pertama kali, apa romanku belum sejelek sekarang ?”

Boe Kie mengerti, bahwa jika ia menjawab “Ya”, gadis itu tentu akan tersinggung. Maka itu, ia tidak menjawab dan hanya mengawasi si nona dengan hati sangsi.

Tapi nona itu ternyata cukup cerdas otaknya. Melihat kesangsian orang, ia bisa menebak apa yang dipikir oleh pemuda itu. Tiba-tiba ia menangis “Tioe pat koey! Aku benci kau!…benci kau”.” Teriaknya. Ia segera berlalu dan kali ini tidak kembali lagi.

Dua hari telah lewat.

Malam itu, seekor srigala berkeliaran mencari makanan. Sambil mengendus-endus dia mendekati Boe Kie. Dengan sekali meninju, Boe Kie berhasil membinasakannya sehingga binatang itu yang mau cari makan, malah kena dimakan.

Beberapa hari lewat lagi tanpa terjadi sesuatu yang penting. Kedua tulang betis Boe Kie yang patah sudah menyambung pula dan tujuh delapan hari lagi, ia akan bisa jalan seperti sedia kala. Selama beberapa hari itu, ia selalu memikirkan si gadis dusun. Ia merasa menyesal, bahwa ia masih belum tahu nama si nona. Di samping itu, iapun merasa heran mengapa muka nona itu bisa berubah menjadi lebih jelek. Ia mengasah otak untuk memecahkan teka-teki itu, tapi sampai kepalanya puyeng, ia masih belum juga berhasil. Karena capai, tak lama kemudian ia pulas nyenyak.

Kira kira tengah malam ia tersadar karena suara tindakan beberapa orang di tempat jauh. Sesudah melatih Kioe Yang Sin Kang di dalam dirinya telah mendapat semacam kewaspadaan yang wajar. Biarpun sedang pulas, setiap suara dalam puluhan tombak tidak terlepas dari pendengarannya.

Waktu itu biarpun kakinya masih belum bisa digunakan, ia sudah bisa duduk. Dengan cepat ia duduk dan mengawasi ke arah suara itu. Dengan bantuan sinar bulan sisir yang remang-remang, ia melihat tujuh orang sedang mendatangi.

Yang berjalan paling dulu adalah seorang wanita bertubuh langsing dan gerak geriknya gemulai. Sesaat kemudian ia terkejut sebab wanita itu bukan lain daripada si wanita dusun yang aneh. Dibelakangnya mengikuti enam orang yang berjalan dengan berbareng dam bentuk kipas, seolah-olah mau menjaga supaya nona itu jangan sampai melarikan diri. “Apakah ia sudah ditangkap oleh ayah dan kakak-kakaknya?” tanyanya di dalam hati. “Mengapa mereka datang ke sini?”

Makin lama mereka makin mendekati.

Tiba tiba Boe Kie terkesiap. Keenam orang itu sudah dikenal olehnya. Yang berjalan di sebelah kiri adalah Boe Ceng Eng bersama ayahnya, Boe Liat, dan Wie Pek. Sedang yang di sebelah kanan adalah Ciang Boen Jin Koen Loen Pay Ho Thay Ciong bersama istrinya, Pan Siok Ham, dan yang satunya lagi, seorang wanita berusia pertengahan, juga seorang kenalan lama, yaitu Teng Bin Koen, murid Goe Bi Pay.

Itulah kejadian yang sungguh di luar dugaan!

“Bagaimana ia bisa mengenal orang-orang itu?” tanya Boe Kie di dalam hati. “Apakah ia juga seorang rimba persilatan yang sudah mengenali siapa adanya aku dan kemudian memberitahukan kawan-kawannya untuk memaksa aku buka rahasia Gioehoe?”. Dengan adanya dugaan itu darahnya lantas meluap. “Perempuan jelek!” cacinya “Aku dan kau tidak mempunyai permusuhan. Mengapa kau mencelakai aku?”

Denga cepat ia memikir daya upaya untuk menolong diri. “Kedua kakiku belum bisa bergerak dan keenam orang itu lihai semuanya,” katanya di dalam hati. “Mungkin sekali si perempuan dusun pun mempunyai kepandaian tinggi. Biarlah untuk sementara aku berlagal menunduk dan pura-pura meluluskan kemauan mereka dalam hal mencari GieHoe. Sesudah sembuh, aku bisa membuat perhitungan dengan mereka”.

Jika kejadian itu terjadi pada empat rahun berselang, Boe Kie tentu akan berlaku nekat, karena baginya, tiada jalan lain daripada mati. Ia tentu akan menolak segala paksaan dan menutup mulutnya rapat-rapat. Tapi sekarang, sesudah memiliki Kioe yang Sin kang, ia jadi mantap dan percaya dirinya sendiri. Maka itu, sesudah hilang kagetnya, ia tertawa dalam hatinya dan sedikitpun ia tidak merasa takut. Ia hanya merasa mendongkol dan menyesal, karena tak pernah menduga, bahwa gadis dusun itu akan mengkhianati dirinya.

Beberapa saat kemudian, nona itu sudah berdiri di dekat Boe Kie. Untuk beberapa lama, ia mengawasi pemuda itu dan kemudian perlahan lahan memutar badan.

Waktu ia memutar badan, Boe Kie mendengar hela nafas perlahan yang penuh dengan perasaan sedih. “Kau boleh turun tangan sesuka hati”, kata pemuda itu di dalam hati. “Perlu apa berlagak sedih?”

Tiba tiba Wie Pek mengibas pedangnya dan berkata dengan suara dingin. “Kau mengatakan bahwa sebelum mati, kau ingin bertemu lagi dengan dia untuk penghabisan kali. Semula kukira ia tampan laksana Phoa An, tak tahunya manusia beroman hantu. “Ha…ha…ha…Sungguh menggelikan. Kau dan dia sungguh pasangan setimpal”.

Gadis itu sama sekali tidak menjadi gusar. “Benar”, jawabnya dengan tawar. “Sebelum mati, aku ingin bertemu lagi dengan dia, sebab aku mau mengajukan sebuah pertanyaan. Sesudah mendengar jawabannya, barulah aku bisa mati dengan mata meram.”

Boe Kie heran tak kepalang. Didengar dari omongan kedua orang itu, mereka berenam kelihatannya mau membinasakan si gadis dusun dan nona tersebut sudah mengajukan sebuah permintaan terakhir, yaitu minta menemui dirinya sendiri untuk menanyakan sesuatu. Memikir begitu, ia lantas saja bertanya, “Nona ada urusan apakah kau datang kemari bersama orang-orang itu?”

“Aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu dan kau harus menjawabnya dengan setulus hati”, katanya.

“Kalau pertanyaanmu mengenai diriku pribadi aku tentu menjawab dengan seterang-terangnya dan setulus-tulusnya”, kata Boe Kie. “Tapi jika kau mengajukan pertanyaan yang mengenai diri orang lain, maaf, biarpun aku dibunuh mati, aku tak akan membuka mulut”. Ia menjawab begitu sebab menduga, bahwa pertanyaan yang akan diajukan adalah halnya Cia Soen.

“Perlu apa kau mencampuri urusan orang lain”, kata si nona dengan suara dingin. “Pertanyaan yang kuinginkan adalah ini. pada hari itu kau mengatakan kepadaku, bahwa kita berdua adalah orang-orang yang hidup sebatang kara dan tak punya tempat meneduh. Oleh karena itu, kau bersedia untuk mengawani aku. Sekarang aku mau tanya. Apakah pernyataanmu itu keluar dari hati yang tulus bersih?”

Boe Kie segera berduduk. Melihat sinar mata nona itu yang penuh kedukaan, ia lantas saja menjawab. “Aku bicara sesungguhnya.”

“Kalu begitu, bukankah kau tak mencela romanku yang jelek dan bersedia untuk hidup bersama-sama aku seumur hidup?” tanya pula si nona.

Boe Kie terkesiap. Sedikitpun tak menduga bahwa ia bakal dihadapi pertanyaan begitu. Tapi karena sungkan melukai hati orang, ia segera menjawab, “Soal jelek atau cantik tak pernah dihiraukan olehku. Manakala kau ingin aku mengawaninmu untuk beromong-omong tentu saja aku merasa senang untuk mengiring keinginanmu itu”.

“Kalau begitu…kau…kau bersedia untuk mengambil aku sebagai istrimu, bukan ?” tanya nona itu dengan suara gemetar dan terputus-putus.

Boe Kie kaget tak kepalang, hingga badannya mengigil dan untuk beberapa saat ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata. Sesudah dapat menentramkan hatinya yang berdebar-debar. Ia menjawab juga dengan suara terputus-putus. “Aku…aku tak pernah…tak pernah memikir untuk menikah.”

“Lihatlah!” kata Wie Pek dengan suara mengejek. “Lelaki dusun yang tua dan jelek seperti dia masih tak mau menikah denganmu. Andai kata kami tak mengambil jiwamu, kau hidup teruspun tak ada artinya. Sebelum kami turun tangan, lebih baik kau membenturkan kepalamu sendiri di batu besar itu.”

Dengan penuh rasa kasihan, Boe Kie mengawasi nona itu mengucurkan air mata sambil menundukkan kepalanya. Ia tak tahu, apa si nona menangis karena takut mati, apa karena memikir romannya yang jelek atau karena perkataan Wie Pek yang tajam bagai pisau.

Melihat begitu, darah Boe Kie bergolak. Ia lantas saja ingat, bahwa sesudah kedua orang tuanya meninggal dunia, ia telah menerima macam-macam hinaan. Gadis itu, yang berusia lebih muda daripadanya, mempunyai riwayat hidup yang lebih tak beruntung daripada riwayat hidupnya sendiri. Maka itu bagaimana ia tega untuk menambah penderitaan si nona yang sudah cukup hebat. Di samping itu, pertanyaan yang diajukan merupakan suatu pengabdian dari seorang wanita yang bersedia untuk menjadi istrinya.

“Selama hidupku, selain ayah, ibu, ayah angkat, Thay soehoe dan para paman, siapa lagi yang pernah mencintai aku dengan setulus hati?” katanya dalam hati. “Jika di kemudian hari dia bisa memperlakukan aku secara pantas, aku dan dia masih bisa hidup beruntung.”

Sesaat itu dengan badan gemetaran, si nona sudah bergerak untuk berlalu. Dengan cepat Boe Kie mengangsurkan tangan kirinya dan mencekal lengan kanan nona itu. “Nona,” katanya dengan suara nyaring. “Dengan setulus hati, aku bersedia untuk menikah dengan kau. Aku hanya mengharap kau tak mengatakan bahwa aku tak setimpal dengan dirimu.”

Demi mendengar perkataan Boe Kie, dari kedua mata gadis itu mengeluarkan sinar terang sinar kemenangan. “Ah Goe Koko,” katanya dengan suara perlahan. “Apakah tak mendustaiku?”

“Tidak! Aku tak mendustai kau,” jawabnya. “Mulai dari detik ini, aku akan mencintai, akan melindungi kau dengan segenap jiwa dan raga. Tak peduli ada berapa banyak orang yang akan mencelakaimu, tak peduli ada berapa banyak jago yang mau menghina kau, aku pasti melindungimu. Aku bersedia untuk mengorbankan jiwa demi kepentinganmu. Aku ingin kau bahagia dan melupakan segala penderitaanmu yang dulu-dulu.”

Si nona lantas saja berduduk di tanah dan menyandarkan tubuhnya di badan Boe Kie. Sambil mencekal tangan pemuda itu yang satunya lagi, ia berkata dengan suara lemah lembut. “Aku sungguh merasa sangat berterima kasih.” Ia meramkan kedua matanya dan berbisik, “Ah Goe Koko, cobalah katakan lagi apa yang tadi, dikatakan olehmu, supaya setiap perkataan bisa diingat di dalam lubuk hatiku, cobalah!”

Mwlihat kebahagiaan nona itu, Boe Kie pun merasa bahagia. Sambil memegang keras2 kedua tangan si gadis yang empuk bagaikan kapas, ia mengulani perkataannya. “Aku ingin berusaha supaya kau bisa hidup beruntung, supaya kau melupakan segala penderitaanmu yang dulu-dulu. Tak peduli ada berapa banyak orang yang mau menghina kau, yang mau mencelakakan kau. Aku bersedia untuk mengorbankan jiwa demi keselamatanmu”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: