Kumpulan Cerita Silat

11/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 41

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:14 am

Memanah Burung Rajawali – 41
Bab 41. Pergulatan di Tengah Laut
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Belum ada satu jam sejak berlalunya kedua ekor rajawali, Auwyang Hong kembali mengatur meja perjamuan makan di muka perahu di bawah tiang layar. Untuk ke sekian kalinya ia memancing supaya Ang Cit Kong dan Kwee Ceng tidak dapat menahan lapar dan nanti terpaksa turun untuk dahar pula.

Menyaksikan lagak orang itu, Cit Kong tertawa.

“Di antara empat yaitu arak, paras elok, harta dan napsu, aku si pengemis tua cuma menyukai satu ialah arak!” ia berkata. “Dan kau justru menguji aku dengan arak! Di dalam hal ini, latihanku menenangkan diri ada sedikit kelemahannya…. Anak Ceng, mari kita turun untuk menghajar mereka kalang kabutan. Setujukah kau?”

“Baiklah sabar, suhu,” Kwee Ceng menyahuti. “Burung rajawali sudah membawa surat kita, sebentar mesti ada kabarnya, sebentar pasti bakal terjadi suatu perubahan.”

Cit Kong tertawa. Ia nyata suka bersabar.

“Eh, anak Ceng!” ia berkata, “Di kolong langit ini ada suatu barang yang sari atau rasanya paling tidak enak, kau tahu apakah itu?”

“Aku tidak tahu, suhu. Apakah itu?” sahut sang murid sambil balik menanya.

“Satu kali aku pergi ke Utara,” berkata sang guru, memberi keterangan, “Di sana di antara hujan salju besar, aku kelaparan hingga delapan hari. Jangan kata bajing, sekalipun babakan kayu, tak aku dapatkan di sana. Dengan terpaksa aku menggali sana dan menggali sini di dalam salju, akhirnya aku dapat menggali juga lima makhluk berjiwa. Syukur aku si pengemis tua berhasil mendapatkan makhluk itu, dengan begitu jadi ketolongan untuk satu hari itu. Di hari kedua, aku beruntung mendapatkan seekor serigala hingga aku dapat gegares kenyang.”

“Apakah lima makhluk bernyawa itu, suhu?”

“Itulah cianglong dan gemuk-gemuk pula!”

Mendengar disebutkannya nama binatang itu, Kwee Ceng belenak sendirinya, hingga hendak ia muntah-muntah. Cit Kong sebaliknya tertawa terbahak-bahak. Karena sengaja ia menyebutkan binatang paling kotor dan paling bau itu untuk melawan napsu dahar yang merangsak-rangsak mereka yang disebabkan harum wangi arak dan lezat yang tersajikan di kaki tiang layar itu.

“Anak Ceng,” berkata pula Cit Kong, “Kalau sekarang ada cianglong di sini, hendak aku memakannya pula. Cuma ada serupa barang yang paling kotor dan paling bau hingga aku segan memakannya, aku si pengemis tua lebih suka makan kaki sendiri daripada memakan itu! Tahukah kau, barang apa itu?”

Kwee Ceng menggeleng-geleng kepalanya, atau mendadak ia tertawa dan menyahuti: “aku tahu sekarang! Itulah najis!”

Tetapi sang guru menggoyangkan kepalanya.

“Ada lagi yang terlebih bau!” katanya.

Kwee Ceng mengawasi. Ia menyebut beberapa rupa barang, ia masih salah menerka.

Akhirnya Ang Cit Kong tertawa.

“Nanti aku memberitahukan kepadamu!” katanya keras-keras. “Barang yang paling kotor dan bau di kolong langit ini ialah See Tok Auwyang Hong!”

Mengertilah Kwee Ceng maka ia pun tertawa berkakakan.

“Akur! Akur!” serunya berulang-ulang.

Maka cocok benarlah guru dan murid itu, hingga mereka membuatnya See Tok menjadi sangat mengeluh.

Ketika itu hawa udara kebetulan memepatkan pikiran, di empat penjuru angin meniup perlahan. Memangny aperahu menggeleser perlahan, dengan berhentinya sang angin, akhirnya kendaraan air itu menjadi berhenti sendirinya. Semua orang di atas perahu pada mengeluarkan peluh. Di muka air pun kadang-kadang tertampak ikan meletik naik, suatu tanda air laut juga panas. hawanya.

Cit Kong memandang ke sekelilingnya. Ia tidak menampak awan, langit bagaikan kosong. Maka heranlah ia. Ia menggeleng kepala.

“Suasana aneh sekali,” katanya perlahan.

Berselang sekian lama, ketika Cit Kong tengah memandang ke arah tenggara, ia menampak ada mega hitam yang mendatangi dengan sangat cepat. Melihat itu, ia menjadi keget hingga ia mengeluarkan seruan tertahan.

“Ada apakah, suhu?” tanya Kwee Ceng terperanjat.

“Ada angin aneh!” menyahut Cit Kong. “Tidak aman kita berdiam di tiang ini… Di bawah ada demikian banyak ular….Bagaimana sekarang?” Ia menjadi seperti menggerutu ketika ia berkata lebih jauh perlahan sekali: “Biar umpama kata kita bekerja sama mati-matian, masih belum tentu kita bisa lolos dari ancaman ini, apapula jikalau kita melanjuti pertempuran…”

Ketika itu ada angin yang menyambar ke muka. Cit Kong lantas merasa segar. Ia pun merasa dadung layar bergerak sedikit.

“Anak Ceng,” ia lalu berkata, “Kalau sebentar tiang patah, kau merosotlah turun. Jaga supaya kau tidak terjatuh ke laut…”

Kwee Ceng heran. Di matanya, cuaca sekarang bagus, mustahil bencana bakal datang? Tetapi ia biasa sangat mempercayai gurunya itu, ia mengangguk.

Belum lama, mendadak terlihat mega hitam bergumpal bagaikan tembok tebal melayang menghamprkan, datangnya dari arah tenggara itu, bergerak sangat cepat. Sebab segera juga mereka terdampar, di antara satu suara nyaring, tiang layar benar-benar patah pinggang, karena mana, tubuh perahu bergerak bagaikan terbalik.

Kwee Ceng memeluk erat-erat kepala tiang, ia menahan napas. Tanpa berbuat begitu, angin dapat membawa ia terbang entah ke mana. Ketika kemudian ia membuka matanya, sekarang ia melihat air bergerak bagaikan tembok, air muncrat tinggi sekali.

“Anak Ceng, merosot turun!” terdengar teriakannya Cit Kong.

Kwee Ceng menurut, dengan mengendorkan pelukannya, tubuhnya lansung merosot turun. Ia menahan diri setelah merosot kira-kira dua tombak. Ia mendapat kenyataan, layar berikut tiangnya sebelah atas, yang patah, setahu dibawa kemana oleh sang gelombang. Di lantai tidak terlihat lagi ular, rupanya semua binatang berbisa itu telah disapu sang badai dan gelombang. Si tukang kemudi rebah dengan kepala pecah, jiwanya sudah melayang pergi. Perahu sendiri terputar-putar di tengah laut itu, miring ke kiri dan ke kanan bergantian. Lainnya barang di muka perahu pun tersapu habis ke laut.

“Anak Ceng, kendalikan perahu!” kembali terdengar suaranya sang guru.

Memang kenderaan itu terancam untuk terbalik dan karam.

Kwee Ceng lompat turun ke buntut perahu, untuk memegang kemudi. Ia disambar sepotong kayu yang terbawa angin, ia berkelit. Untuk mempertahankan diri, ia lantas menyambar rantai. Ia orang Utara, belum pernah ia mengemudikan perahu, tetapi karena ia bertenaga besar, bisa juga ia menguasai perahu itu, untuk mencegah bergoncang keras. Ia mendengar suara angin dahsyat, ia melihat perahunya berlayar pesat atas dorongan sang angin.

Tiang layar bagian atas telah patah, ada layar yang diterbangkan angin dahsyat itu, tetapi di antaranya, masih ada layar yang utuh. Cit Kong berdaya untuk menurunkan layar itu. Sudah ada dadung yang ia berhasil memutuskannya. Tengah ia berkutat, tiba-tiba kupingnya mendengar suara menantang: “Saudara Cit, mari Pak Kay dan See Tok sama-sama mengeluarkan kepandaiannya!”

Di sebelah sana Auwyang Hong mencekali keras ujung ynag lain dari layar itu.

“Turun!” Cit Kong berseru sambil ia mengerahkan tenaganya, ia menarik dengan keras.

Di pihak Auwyang Hong, See Tok pun menggunai tenaganya.

Hebat tenaganya kedua jago itu, layar kena ditarik roboh. Dengan begitu, sampokan angin menjadi berkurang, tubuh perahu tidak lagi bergoncang keras seperti tadi, hingga lenyaplah ancaman bahaya perahu itu karam.

Sebagai ganti badai, sekarang turun hujan lebat, butir-butirnya besar, menimpa muka, rasanya sakit. Hanya syukur, mendekati cuaca gelap, angin dan hujan itu mulai reda.

“Saudara Cit!” berkata pula Auwyang Hong tertawa. “Jikalau tidak ada muridmu yang lihay itu, pastilah kita sudah mati masuk ke dalam perut ikan! Maka itu marilah kita sama-sama mengeringkan satu cawan, guna melepaskan hawa dingin! Jangan kau takut, jikalau aku hendak meracunimu, biarlah aku Auwyang Hong menjadi buyutmu turunan ke delapanbelas!”

Ang Cit Kong turut tertawa. Kali ini mau percaya See Tok sebab sebagai ketua sebuah partai besar di jamannya nitu, satu kali dia mengeluarkan kata-kata, dia mesti pegang itu.

“Mari!” ia berkata kepada Kwee Ceng, yang ia suruh digantikan seorang anak buah guna mengendalikan kemudi.

Dengan begitu mereka masuk ke dalam gubuk perahu untuk dahar dan minum.

Pak Kay minum dan dahar sampai kenyang, habis itu ia dan muridnya kembali ke kamar mereka untuk tidur. Tapi tengah malam ia mendusin. Ia mendengar suara ular sar-ser tak hentinya.

“Celaka!” ia berseu.

Kwee Ceng pun sudah lantas sadar. Maka keduanya berlompat bangun, sama-sama mereka membuka pintu untuk melihat ke luar. Sekarang perahu itu sudah terjaga rapi oleh rombangan-rombongan ular, yang memenuhi bagian depan dan belakang. Auwyang Kongcu, dengan kipas di tangan, berdiri di tengah-tengah ularnya itu. Ia memperlihatkan wajah tersungging senyuman.

“Paman Ang, saudara Kwee!” ia berkata. “Pamanku cuma hendak meminjam lihat Kiu Im Cin-keng sekali saja, ia tidak mengharap yang lainnya!”

“Dasar bangsat, dia tidak mengandung maksud baik!” mendamprat Cit Kong, perlahan. Tiba-tiba ia mendapat suatu pikiran, tetapi pada parasnya ia tidak kentarakan sesuatu perasaan.

“Hai, bangsat cilik!” ia mengasih dengar suaranya, “Nyata aku si tua kena diperdayakan akal busuk paman anjingmu itu. Baiklah, sekarang aku mengaku kalah. Lekas kau siapkan dulu barang hidangan dan arak, untuk kami dahar dulu, urusan boleh dibicarakan besok pagi!”

Nampaknya Auwyang Kongcu girang, ia tertawa, sesudah mana ia benar-benar menyuruh orang menyajikan barang hidangan, yang emsti dibawakan kepada kedua musuhnya itu.

Cit Kong mengunci pintu, ia terus dahar dan minum. Ia menggerogoti paha ayam.

“Apakah kali ini pun tidak ada racunnya?” Kwee Ceng menanya berbisik.

“Anak tolol!” sang guru menyahuti. “Jahanam itu hendak menitahkan kau menulis kitab, mana bisa mereka mencelakai jiwamu? Mari dahar sampai kenyang, nanti kita memikirkan daya upaya pula!”

Kwee Ceng percaya gurunya benar, ia pun lantas bersantap dengan bernapsu. Ia menghabiskan empat mangkok nasi.

Ang Cit Kong menyusuti bibirnya yang minyakan, lalu ia berbisik di kuping muridnya.

“Si bisa bangkotan menghendaki ynag tulen, kau tulis yang palsu,” demikian ajarannya.

“Yang palsu?” murid itu menegasi, heran.

“Ya, yang palsu! Di jaman ini melainkan kau seorang yang ketahui kitab yang tulen, dari itu apa pun yang kau kehendaki, kau boleh tulis! Siapa yang akan ketahui itulah kitab yang tulen atau yang palsu? Kau menulis jungkir balik bunyinya kitab, biar ia mempelajarinya menurut bunyi kitab yang palsu itu, dengan begitu kendati pun sampai seratus tahun, ia tak akan berhasil menyakinkan sekalipun satu jarus….!”

Girang Kwee Ceng mendengar ajaran itu.

“Kali ini benar-benar si bisa bangkotan kena batunya!” pikirnya. Tapi sesaat kemudian ia berkata: “Auwyang Hong sangat mahir ilmu suratnya, kalau teecu menulis sembarangan, lantas ia ketahui, bagimana nantinya?”

“Kau harus menggunai siasat halus,” Cit Kong mengajari. “Tulis tiga baris yang benar lalu selipkan sebaris yang ngaco. Di bagian latihannya, kau boleh tambahkan dan kurangi, umpama kitab menyebut delapanbelas kali, kau tulis duabelas kali atau duapuluh empat kali, biarnya si bisa bangkotan sangat cerdik, tidak nanti ia dapat melihatnya. Biarnya aku tidak gegares dan minum tujuh hari tujuh malam, suka aku menonton si bisa bankotan itu mempelajari kitab palsu itu!”

Habis berkata, Cit Kong tertawa sendirinya, hingga muridnya turut tertawa juga.

“Jikalau ia menyakinkan kitab yang palsu,” kata Kwee Ceng kemudian, “Bukan saja dia akan menyia-nyiakan ketika akan bercapai lelah tidak puasnya, ada kemungkinan dia nanti mendapat celaka karenanya.”

Cit Kong tertawa pula.

“Sekarang bersiaplah kau untuk memikirannya!” ia menganjurkan. “Kalau sampai ia bercuriga, itulah gagal artinya….”

Kwee Ceng menurut, ia lantas kerjakan otaknya. Ia menghapal Kiu Im Cin-keng, ia pikirkan tambalannya untuk menghambat dan mengacau. Ketika ia sudah memikir puas, ia menghela napas sendirinya.

“Inilah cara mempermainkan orang, Yong-jie dan Ciu Toako paling menggemarinya,” pikirnya. “Sayang yang satu berpisah hidup, yang lainnya berpisah mati…. Kapan aku bisa bertemu pula dengan mereka, supaya aku bisa menuturkan bagaimana aku mempermainkan si bisa bangkotan ini…?”

Besoknya pagi-pagi, begitu ia mendusin Ang Cit Kong pantang bacotnya kepada Auwyang Kongcu. Katanya: “Aku si pengemis tua, ilmu silatku telah menjadi satu partai tersendiri, maka juga tidak aku termahai Kiu Im Cin-keng, umpama kata kitab itu dibeber di depan mukaku, tak nanti aku meliriknya! Cuma mereka yang tidak punya guna, yang ilmu silatnya sendiri tidak karuan, dia ingin sekali mencurinya! Sekarang kau kasih tahu paman anjingmu, Kiu Im Cin.keng bakal ditulis untuknya, biar ia menutup pintu, mengeram diri, untuk memahamlannya! Nanti, sepuluh tahun kemudian, biar ia muncul pula untuk mencoba menempur pula aku si pengemis tua! Kitab itu memang kitab bagus tetapi aku si pengemis tidak menghiraukannya! Lihat saja sesudah dia mendapatkan kitab itu, apa dia bisa bikin terhadap aku si pengemis tua!”

Auwyang Hong berdiri diam di samping pintu, ia dengar semua ocehannya si pengemis. Ia menjadi girang sekali. Pikirnya: “Kiranya si pengemis bangkotan sangat jumawa, dia sangat mengandalkan kepandaiannya, hingga ia suka menyerahkan kitab padaku, kalau tidak, ia tidak dapat dipaksa…”

Akan tetapi Auwyang Kongcu menyangkal.

“Paman Ang, kata-katamu barusan keliru sekali!” demikian bantahnya. “Ilmu kepandaian pamanku sudah sampai dipuncaknya kemahiran! Paman boleh pandai tetapi paman tidak nanti nempil dengannya! Perlu apakah dia mempelajari Kiu Im Cin-keng? Sering pamanku itu mengatakan kepadaku, ia percaya Kui Im Cin-keng kitab kosong belaka, melulu untuk mendustakan orang, maka hendak ia melihatnya, untuk ditunjuki bagian yang ngaco belo itu, supaya semua ahli silat di kolong langit ini dapat mengetahui kekosongannya! Tidakkah pembeberan itu ada faedahnya untuk kaum Rimba Persilatan?”

Ang Cit Kong menyambutnya dengan tertawa terbahak.

“Ha, kau tengah meniup kulit kerbau apa?” senggapnya. “Anak Ceng, kau tulislah Kiu Im Cin-keng dan kau serahkan pada mereka ini! Jikalau si bisa bangkotan dapat menemui kekeliruan-kekeliruan dari kitab itu, nanti aku si pengemis tua berlutut dan mengangguk-angguk di depannya!”

Kwee Ceng menyahuti sambil ia muncul, maka Auwyang Kongcu lantas ajak ia ke dalam gubuk besar, kemudian ia mengeluarkan pit dan kertas, bahkan dia sendiri yang menggosok bak, untuk membikin siap sedia segala apa untuk penulisan kitab mujizat itu.

Kwee Ceng belajar surat tak banyak tahun, tulisannya sangat jelek, sekarang pun ia mesti mengubah bunyinya kitab asli, menulisnya jadi sangat perlahan. Ada kalanya ia pun tidak dapat menulis sebuah huruf, ia minta Auwyang Kongcu yang menuliskannya. Sampai tengah hari, tempo bersantap, kitab bagian atas baru tercatat separuhnya. Selama itu Auwyang Hong sendiri tidak pernah muncul untuk menyaksikan orang bekerja, hanya setaip lembar yang telah ditulis rampung, Auwyang Kongcu lantas membawanya itu kepadanya di lain ruang dari perahu mereka itu.

Saban ia menerima sehelai tulisan, Auwyang Hong memeriksanya dengan seksama. Ia tidak dapat membaca mengerti, tetapi memperhatikan bunyinya, ia tidak bercuriga. Ia bahkan menduga, itulah huruf-huruf yang dalam artinya. Maka ia telah berpikir, nanti sekembalinya ke See Hek, handak ia memahamkannya dengan ketekunan. Ia percaya akan otaknya yang cerdas akan dapat menguasai isi kitab itu, hingga akan terwujudlah cita-citanya beberapa puluh tahun akan mendapatkan pelajaran Kiu Im Cin-keng itu. Ia tidak mengambil mumat tulisan Kwee Ceng yang tidak karuan macam itu, ia hanya menerka orang tidak dapat menulis dengan bagus, sama sekali tidak pernah ia menyangka, Kwee Ceng tengah menjalankan ajaran gurunya untuk membikin kitab Kiu Im Cin-keng jungkir balik….!

Kwee Ceng menulis terus dengan keuletannya, maka ketika cuaca mulai gelap, ia berhasil menulis hingga separuhnya lebih bagian bawah dari Kiu Im Cin-keng itu.

Auwyang Hong tidak menghendaki anak muda itu balik ke gubuk perahunya akan berkumpul sama Ang Cit Kong, dia khawatir si pengemis merubah ingatannya dan menyulitkan padanya. Masih ada kira separuh kitab berarti ia masih dapat dipersukar. Maka ia lantas perintah orangnya menyajikan barang hidangan untuk si anak muda, agar ia berdiam terus tanpa bersantap bersama gurunya.

Ang Cit Kong menanti sampai jam sepuluh, ia mendapatkan muridnya belum kembali, ia merasakan hatinya tak tentram. Ia pun berkhawatir muridnya itu mendapat susah apabila Auwyang Hong bercuriga. Maka diam-diam ia keluar dari gubuknya. Ia dapat keluar karena sekarang tidak ada lagi penjagaan ular. Hanya tak jauh dari pintu ada dua orang berpakaian serba putih tengah berjaga sebagai penunggu pintu. Tidak sulit baginya untuk melewati dua orang itu. Dengan tangan kiri ia menyerang ke arah layar, layar itu menerbitkan suara hingga mereka itu berpaling, di waktu mana ia melompat ke arah kanan, maka lewatlah dia.

Dari jendela perahu terlihat molosnya sinar terang, Cit Kong menghampirkan jendela itu, untuk mengintai ke dalam. Ia melihat Kwee Ceng asyik duduk menulis. Dua nona dengan pakaian putih berdiri di sampingnya, untuk melayani memasang dupa, menuangi air teh serta menggosok bak. Jadi muridnya itu dilayani dengan baik. Hal ini membuat hatinya lega.

Tiba-tiba pengemis ini merasakan hidungnya disampk bau arak yang harum sekali. Ia lantas mengawasi. Ia mendapatkan arak ditaruh di depan muridnya.

“Si bisa bangkotan sangat pandai menjilat!” pikirnya. “Muridku menulis kitab untuknya, ia menyuguhkan arak jempolan, tetapi untuk aku si pengemis tua, ia menyediakan arak yang tawar seperti air!” Ia jadi ingin mendapatkan arak itu. Ia berpikir pula: “Mestinya si bisa bangkotan menyimpan araknya di dasar perahu, baik aku meminumnya hingga puas, habis itu tahangnya aku isi dengan air kencingku, biar nanti ia mencicipinya!”

Pengemis tua ini tersenyum. Ia merasa puas. Untuk pekerjaan mencuri arak, ia ada sangat pandai. Dulu hari pun di Lim-an, di dalam dapur istana kaisar, ia dapat menyekap diri hingga tiga bulan, semua arak dan batang santapan untuk kaisar ia dapat mencicipinya terlebih dahulu! Penjagaan di istana rapat sekali tetapi ia dapat berdiam di situ dengan leluasa, ia dapat datang dan pergi dengan merdeka.

Demikian denga berindap-indap ia pergi ke belakang. Ia tidak melihat siapa juga di situ. Dengan hati-hati ia membongkar papan lantai. Dengan menggunai hidungnya yang tajam, tahulah ia di mana arak disimpan.

Ruang perahu itu gelap petang tetapi tidak menghalangi pengemis yang lihay ini. Hidungnya dapat membaui barang masakan dan arak. Ia bertindak dengan berhati-hati. Untuk melihat tegas, ia menyalakan api tekesannya. Di pojok ia melihat tujuh tahang arak, girangnya bukan kepalang. Segera ia mencari sebuah mangkok sempoak. Ia padamkan apinya, ia simpan itu di dalam sakunya, terus ia menghampirkan tahang.

Dengan menggoyang tahang, ia mendapat tahu tahang yang pertama kosong. Yang kedua ialah ada isinya. Ketika ia mengulur tangan kirinya, untuk membuka tutup tahang, mendadak ia mendengar tindakan kaki dari dua orang. Enteng sekali tindakan itu, hingga ia menduga kepada Auwyang Hong dan keponakannya. Ia lantas menduga mungkin paman dan keponakan itu hendak melalukan sesuatu yang licik. Kalau tidak, perlu apa malam-malam mereka pergi ke belakang? Maka ia lantas bersembunyi di belakang tahang.

Kapan pintu gubuk telah dibuka, terlihatlah sinar api. Dua orang tadi pun bertindak masuk, berdiri di depan tahang. Cit Kong tidak dapat melihat akan tetapi kupingnya dapat mendengar. Kembali ia menduga-duga: “Mungkinkah mereka hendak minum arak? Tapi kenapa mereka tidak menitahkan orangnya?”

Lalu terdengar suaranya Auwyang Hong; “Apakah semua minyak dan belerang di semua ruang perahu ini sudah siap sedia?”

Atas itu terdengar tertawanya Auwyang Kongcu, yang terus menjawab: “Semua sudah siap! Asal api dipakai menyulut, kapal besar ini akan segera menjadi abu, hingga si pengemis tua bangka itu pun bakal mampus ketambus!”

Cit Kong kaget. “Ah, mereka hendak membakar perahu?” katanya dalam hatinya.

Lalu terdengar pula suaranya Auwyang Hong: “Pergi kau kumpuli semua gundik yang paling disayangi di dalam ruang. Sebentar kalo si bocah Kwee sudah tidur pulas, kau ajak semua ke perahu kecil, aku sendiri yang nanti pergi kemari untuk menyalakan api.”

“Ular kita dan mereka yang merawatnya bagaimana?” Auwyang Kongcu menanya.

Auwyang Hong menjawab dengan dingin: “Si pengemis busuk ada jago silat kenamaan, kepala dari suatu partai, pantas ada orang-orang yang berkorban untuknya….”

Habis itu keduanya bekerja membuka sumpalan tahang, atas mana Ang Cit Kong dapat mencium bau minyak. Dari dalam peti-peti kayu, paman dan keponakan itu mengeluarkan banyak bungkusan terisi belerang. Ketika minyak telah dituang melulahan, tatal atau hancuran kayu disebar di atasnya. Di atas itu ada palangan-palangan peranti meletaki bungkusan belerang. Selesai kerja, keduanya pergi ke luar.

Masih Cit Kong mendengar suaranya Auwyang Kongcu, yang berbicara sambil tertawa: “Paman, lagi satu jam maka bocah she Kwee itu bakal dikubur di dasar laut, setelah mana di dalam dunia ini tinggallah kau seorang yang mengetahui isinya kitab Kiu Im Cin-keng!”

“Tidak, ada dua!” sahut sang paman. “Mustahilkah aku tidak mewariskannya kepadamu?”

Auwyang Kongcu girang dan tangannya menutup pintu.

Ang Cit Kong gusar berbareng kaget.

“Kalau tidak malaikat menyuruh aku mencuri arak, mana aku ketahui aka keji dua orang ini?” pikirnya. “Kalau api dilepas, bagaimana kami bisa menyingkir?”

Ia menanti sampai tindakan kaki kedua orang itu sudah jauh, diam-diam ia keluar dari tempatnya bersembunyi. Ia lantas kembali ke gubuk perahunya, di mana ia mendapatkan Kwee Ceng sudah tidur pulas. Hendak ia mengasih bangun muridnya itu tatkala ia mendengar satu suara di luar pintu. Ia menduga Auwyang Hong tengah mengawasi, lantas ia bersuara nyaring berulang-ulang: “Arak yang wangi, arak yang wangi! Mari lagi sepuluh poci!”

Auwyang Hong, orang di luar kamar itu, tercengang.

“Ah, dia masih saja minum!” pikirnya.

Lalu ia mendengar pula suaranya si pengemis; “Tua bangka yang berbisa, mari kita bertempur pula sampai seribu jurus, untuk memastikan siapa tinggi, siapa rendah! Oh, oh, bocah yang baik, akur, akur!”

Mendengar sampai di situ, Auwyang Hong ketahui orang sebenarnya lagi mengigau atau ngelindur di dalam tidurnya.

“Lihat si pengemis bau, tinggal mampusnya saja masih dia ngaco belo!” katanya.

Cit Kong pura-pura ngigau tetapi kupingnya dipasang. Auwyang Hong boleh lihay ringan tubuhnya tetapi tindakan kakinya yang sangat perlahan masih terdengar si raja pengemis, yang mengetahui orang pergi ke kiri. Lekas-lekas ia menghampirkan muridnya, akan pasang mulutnya di kuping orang, yang pun ia bentur pundaknya dengan perlahan. Terus ia memanggil: “Anak Ceng!”

Kwee Ceng mendusin seketika, agaknya ia terkejut.

“Kau bertindak menuruti aku!” Cit Kong berbisik singkat. “Jangan menanyakan sebabnya! Jalan dengan hati-hati, supaya jangan ada yang dapat melihat!”

Kwee Ceng merayap bangun, sedangn gurunya menolak pintu, lalu menarik tangan bajunya. Mereka menuju ke kanan. Mereka pun berjalan sambil melapai. Auwyang Hong lihay, mereka khawatir mereka nanti terdengar si racun dari Barat itu.

Kwee Ceng heran tetapi ia mengikuti tanpa membuka mulutnya. Lekas juga mereka berada di luar.

Ang Cit Kong menggunai kepandaiannya “Cecak memain di tembok”, untuk bergerak turun, matanya mengwasi muridnya. Ia berkhawatir juga sebab papan perahu licin. Kalau tangan mereka terlepas, pasti mereka bakal tercebur ke laut dan mengasih dengar suara berisik.

Ilmu “Cecak memain di tembok” itu mungkin tepat di tembok kasar, tetapi dinding perahu ini dicat mengkilap dan licin, basah pula, maka tak gampang untuk merayap di situ, apapula perahu tengah dipermainkan ombak. Syukur untuk Kwee Ceng, Ma Giok telah melatih sempurna padanya selama mereka berada di gurun di mana dia diwajibkan naik turun jurang.

Ang Cit Kong merayap terus, separuh tubuhnya berada di dalam air. Muridnya itu tetap mengikutinya.

Tiba di belakang, di tempat kemudi, Cit Kong melihat di situ ada ditambah sebuah perahu kecil. Ia menjadi girang sekali.

“Mari kita naiki perahu itu!” ia mengajak muridnya, segera bertindak. Ia mengenjot tubuhnya, untuk menyambar perahu kecil itu, ketika ia dapat memegang pinggarannya, ia jumpalitan untuk naik ke dalamnya. Ia tidak mengasih dengar suara apa juga.

Begitupun Kwee Ceng, yang menyusul gurunya.

“Lekas putuskan dadungnya!” Ang Cit Kong menitah.

Kwee Ceng menurut, dengan cepat ia menggunai pisau belatinya. Maka dilain saat, perahu kecil itu sudah terombang-ambing dipermainkan sang ombak.

Cit Kong menggunai pengayuhnya untuk membikin perahu tak goncang hebat.

Dengan lewatnya sang tempo, perahu besar lenyap dari pandangan mata. Hanya dilain saat, di sana terlihat api lentera yang dicekal Auwyang Hong, bahkan See Tok terus menjerit keras sebab ia mendapatkan perahu kecilnya lenyap. Kemudian jeritan itu disusuli dengan kutukan, tanda dari kemurkaan hebat.

Ang Cit Kong mengumpulkan tenaga dalamnya, lalu ia tertawa keras dan panjang.

Mendadak itu waktu, di arah kanan ada sebuah perahu enteng menerjang gelombang, menuju cepat ke arah perahu besar.

Heran Ang Cit Kong, hingga ia menanya dirinya sendiri: “Eh, perahu apakah itu?”

Hampir itu waktu terlihat berkelebatnya dua burung rajawali putih, yang terbang berputaran di atasan layar besar. Dari dalam perahu itu pun berlompat satu tubuh dengan pakaian putih mulus, berlompat ke perahu besar itu. Samar-samar terlihat berkilauannya gelang rambut emas di kepala orang itu.

“Yong-jie!” Kwee Ceng berseru perlahan.

Memang orang itu Oey Yong adanya. Ketika ia melihat kuda merah, ia ingat sepasang rajawali. Di laut kuda tidak diperlukan, lain dengan burung. Maka ia lantas bersuit keras memanggil dua burung piaran Kwee Ceng itu. Bersama burung itu, ia layarkan perahunya. Kalau burung itu, yang matanya tajam, sudah lantas melihat perahu besar, maka keduanya lantas terbang pergi. Dengan begitu bertemulah mereka dengan tuan mereka, hingga Kwee Ceng bisa mengirim warta kepada si nona, untuk mengabarkan mereka berada dalam bahaya. Oey Yong lantas melayarkan perahunya dengan cepat sekali. Akan tetapi ia masih terlambat, Cit Kong dan Kwee Ceng keburu naik perahu kecil kepunyaannya Auwyang Hong itu.

Keras Oey Yong mengingat keselamatan Kwee Ceng, maka itu begitu lekas ia melihat burungnya terbang berputaran di atas layar, ia lantas lompat dari perahunya itu naik ke perahu besar. Ia telah menyiapkan jarum dan tempulingnya ketika ia berlompat itu.

Justru itu di perahunya, Auwyang Kongcu lagi kelabakan seperti semut di atas kuali panas.

“Mana Kwee Sieheng?!” tanya si nona. “Aku bikin apa terhadapnya?”

Auwyang ong sendiri tengah mengeluh. Dia telah membawa api, menyulut minyak, tatkala ia mengetahui lenyapnya perahu kecilnya, perahu yang hendak ia pakai untuk menyingkirkan diri. Dalam keadaannya seperti itu, kupingnya mendapat dengar tertawanya Ang Cit Kong dari tengah laut. Maka mengertilah ia bahwa dia telah gagal mencelakai orang dan berbalik mencelakai diri sendiri. Tentu sekali ia menjadi sangat menyesal dan bingung, mendongkol dan berkhawatir. Tapi justru itu, dia melihat datangnya Oey Yong. Sekejab itu juga timbul harapannya – di otaknya muncul pikiran yang sesat. Dia berlompat sambil berseru: “Lekas naik ke perahu itu!” Dia maksudkan perahunya Oey Yong.

Akan tetapi perahu itu ada perahu yang dikemudikan oleh anak buah yang gagu. Dia itu tidak dapat bicara tetapi dapat berpikir. Pula dia memang ada bangsa licik. Selama berada dengan Oey Yong, dia takut, dia menurut saj atitah si nona. Begitu lekas nona itu lompat ke perahu besar, ia memutar perahunya, untuk dikayuh dengan segera, untuk dipasang layarnya. Maka dilain saat, dia sudah terpisah jauh dari perahu besar itu.

Cit Kong dan Kwee Ceng dapat melihat Oey Yong berlompat ke perahu besar, diwaktu mana dari arah belakang perahu terlihat asap mengepul naik disusul sama berkobarnya api. Mereka kaget karena mereka insyaf bahwa Auwyang Hong sudah bekerja.

“Api! Api!” berteriak-teriak anak muda ini dalam kagetnya.

“Si bisa bangkotan sudah membakar perahunya!” Ang Cit Kong pun berteriak. “Dengan caranya itu ia hendak membakar kita!”

“Lekas tolongi Oey Yong!” Kwee Ceng berteriak pula.

“Dekati perahu!” Cit Kong menyuruh.

Kwee Ceng menggunai tenaganya, untuk mengayuh. Perahu besar kecil itu pun bergerak menyusul perahu besar, untuk mendekati. Di atas perahu besar sendiri keadaan kacau disebabkan semua pengikutnya Auwyang Hong – laki-laki dan perempuan lari serabutan karena takut api, suara teriakan atau jeritan mereka riuh sekali.

“Yong-jie!” terdengar teriakannya Cit Kong. “Bersama Ceng-jie aku berada di sini! Mari lekas berenang! Lekas berenang ke mari!”

Langit gelap, laut pun bergelombang, tetapi Cit Kong perdengarkan teriakannya itu oleh karena ia ketahui baik si nona pandai berenang. Pula di saat sepereti itu tidak dapat mereka tidak berlaku nekat untuk menolong diri.

Oey Yong dapat mendengar suara gurunya itu, ia girang. Tentu saja tidak sudi ia memperdulikan pula Auwyang ong dan keponakannya itu, bahkan tanpa bersangsi lagi ia bertindak ke tepi perahu, untuk segera mengenjot tubuhnya guna terjun ke laut!

Sekonyong-konyong nona Oey merasakan lengannya ada yang cekal dengan keras sekali. Tubuhnya sudah mencelat tapi karena cekalan itu, ia tidak dapat terjun terus, ia kena ditarik kembali ke perahu. Ia terkejut sekali ketika ia menoleh akan mendapatkan, orang yang mencekal padanya adalah Auwyang Hong, si Bisa dari Barat yang lihay dan ganas itu.

“Lepas!” ia berteriak seraya dengan tangan kirinya ia meninju.

Hebat sekali Auwyang Hong, tangannya bergerak bagaikan kilat, maka tahu-tahu si nona telah tercekal pula tangan kirinya.

Sementara itu See Tok melihat perahu kecil sudah pergi jauh hingga tidak ada lagi harapan untuk menyusulnya. Sebaliknya perahunya sendiri mulai terbakar hebat. Api telah melulahan menyambar tiang layar yang lantas patah karenanya. Di muka perahu, kekacauan berjalan terus. Agaknya perahu bakal segera karam, maka pertolongan untuk mereka tinggallah perahu yang diduduki Kwee Ceng dan Cit Kong itu.

“Pengemis busuk, Nona Oey ada di sini!” See Tok berseru. “Kau lihat tidak?!”

Ia mengerahkan tenaganya, kedua tangannya di angkat naik, dengan begitu tubuh Oey Yong pun turut terangkat tinggi. Dengan begitu ia hendak mengasih lihat tubuh nona itu.

Ketika itu api telah berkobar besar dan mendatangkan sinar terang maka Ang Cit Kong dan Kwee Ceng dapat melihat tegas Oey Yong berada di tangannya si Bisa dari Barat yang jahat itu.

Ang Cit Kong menjadi gusar sekali.

“Dengan menggunai Oey Yong, dia hendak memaksa kita!” katanya sengit. “Dia ingin naik ke perahu kita! Nanti aku merampas Yong-jie!”

“Aku turut, suhu!” berkata Kwee Ceng, Ia berkhawatir melihat api.

“Tidak!” mencegah si guru. “Kau melindungi perahu ini supaya tidak sampai kena dirampas si tua bangka yang berbisa itu!”

“Baiklah,” sahut Kwee Ceng, yang terus mengayuh pula, untuk mendekati perahu besar itu, yang sekarang sudah tidak bergerak lagi.

Lekas juga perahu kecil itu mendekati perahu besar, begitu lekas Ang Cit Kong merasa ia dapat melompatinya, ia lantas menggeraki tubuhnya untuk berlompat sambil mengapungkan diri. Ia berlompat seperti tengkurap, maka tempo ia tiba di perahu, tangannya yang sampai terlebih dulu. Ia menggunai tangan kiri dengan kelima jarinya yang kuat, untuk dipakai mencengkeram tepian perahu, habis mana, dengan mengerahkan tenaga di tangannya itu, ia membuatnya tubuhnya tiba di atas perahu itu.

Auwyang Hong masih mencekali Oey Yong. Ia menyeringai.

“Pengemis bangkotan busuk, kau hendak apa!” dia menanya, menantang.

“Mari,mari!” Cit Kong juga menantang. “Mari kita bertempur pula seribu jurus!”

Jawaban itu dibarengi sama serangan kedua tangan saling susul.

Auwyang Hong berlaku licik, bukannya ia berkelit, ia menangkis dengan mengajukan tubuh Oey Yong sebagai tameng. mau tidak mau, Cit Kong mesti batalkan penyerangannya itu.

Ketika itu dipakai oleh Auwyang Hong untuk segera menotok jalan darah si nona, maka sesaat itu juga, lemaslah tubuh Oey Yong, tak dapat ia berkutik.

“Letaki dia di perahu!” Cit Kong menantang pula. “Marilah kita bertempur untuk memastikan menang atau kalah!”

Auwyang Hong ada terlalu licik untuk meletaki tubuh nona itu. Ia pun melihat keponakannya lagi didesak sambaran-sambaran api hingga ia mesti main mundur. Tiba-tiba ia mendapat akal. Mendadak ia lemparkan Oey Yong kepada keponakannya itu.

“Pergi kamu lebih dulu ke perahu kecil!” memerintahnya.

Auwyang Kongcu menyambuti tubuh yang tak dapat bergerak itu. Ia melihat Kwee Ceng di perahu kecil. Ia mengerti, kalau ia melompat bersama si nona, mungkin perahu kecil itu akan karam karenanya. Maka ia menarik sehelai dadung, ia ikat itu di kaki tiang layar, habis itu dengan tangann kiri memeluki Oey Yong, dengan tangan kanan ia menarik dadung itu, untuk meluncur ke perahu kecil itu. Maka terayunlah tubuh mereka, turun menghampirkan perahu.

Kwee Ceng melihat Oey Yong tiba di perahunya, ia girang bukan main. Tentu sekali ia tidak mengetahui yang kekasihnya itu sudah kena orang totok hingga menjadi tidak berdaya. Ia lebih memerlukan mengawasi gurunya yang lagi bertempur sama Auwyang Hong. Biar bagaimana, ia bergelisah untuk gurunya itu.

Dengan api berkobar-kobar, tertampak nyata kedua jago tua itu lagi mengadu jiwa.

Mendadak saja terdengar suara nyaring seperti guntur, lalu tertampak perahu besar terbelah dua, sebab tulang punggungnya dimakan api dan pecah karenanya. Menyusul itu kelihatan bagian perahu yang belakang mulai tenggelam, perlahan-lahan karam ke dalam air.

Ang Cit Kong dan Auwyang Hong bertempur terus. Kadang-kadang mereka mesti berkelit dari runtuhannya tulang layar atau dadungnya, yang jatuh termakan api.

Dalam pertempuran sengit ini, Ang Cit Kong lebih menang sedikit, dalam arti kata ia tidak merasakan hawa panas seperti lawannya. Itulah sebab pakaiannya basah bekas tadi merendam di air. Karena ini juga, dapat ia mendesak See Tok, yang sebaliknya mesti berkelahi sambil mundur perlahan-lahan.

Pernah Auwyang Hong memikir untuk terjun ke laut, ia hanya menyesal, pikirannya itu tidak dapat ia segera mewujudkannya. Ia didesak terlalu hebat, kalau ia memaksa terjun, itu artinya ia tidak dapat membela diri, mungkin nanti ia kena diserang lawannya yang lihay itu. Ada kemungkinan juga ia nanti terluka parah. Saking terpaksa, ia melayani terus dengan otaknya dikasih bekerja tak hentrinya untuk mencari jalan lolos….

Ang Cit Kong menyerang dengan hatinya terasakan puas. Bukankah ia terus mendesak? Tengah ia merangsak, tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Kalau aku desak dia hingga dia terbakar, kalau ia sampai mengantar jiwanya, itu tak menarik hati,” demikian pikirannya yang menyandinginya itu. “Dia telah mendapatkan salinan kitab dari Ceng-jie, jikalau dia tidak mendapat kesempatan untuk mempelajarinya, bila nanti ia mampus, pastilah ia mampus tak puas! Tidak dapat tidak, dia mestinya dibikin kena batunya…!”

Karena ini Pak Kay lantas tertawa terbahak-bahak. “Bisa bangkotan, hari ini aku memberi ampun padamu!” ia berseru. “Kau naiklah ke perahu kecil itu!”

Kedua matanya Auwyang Hong mencelik, lantas ia terjun ke laut. Cit Kong hendak menyusul tatkala ia dengar teriakannya See Tok.

“Tahan dulu!” demikian si Bisa dari Barat itu berteriak. “Sekarang tubuhku pun basah, maka marilah kita berdua bertempur pula. Sekarang barulah adil, sama rata sama rasa!”

Suara itu disusul sama berkelebatnya satu tubuh, maka di lain detik, Auwyang Hong telah berdiri pula di atas perahu besar, di depan lawannya.

Sekejap Ang Cit Kong melengak, lalu ia tertawa lebar.

“Bagus, bagus!” serunya. “Seumur hidupnya si pengemis bangkotan, ini hari barulah ia bertempur paling memuaskan!”

Kembali dua orang itu bertarung dengan hebat. Dengan tubuh basah kuyup, agaknya See Tok menjadi segar sekali.

“Yong-jie,” berkata Kwee Ceng kepada kekasihnya. “Kau lihat See Tok ganas sekali!”

Oey Yong tengah ditotok, ia tak dapat bersuara.

“Apakah tidak baik aku minta suhu turun ke mari?” Kwee Ceng berkata pula menanyai si nona. “Perahu besar itu bakal lekas tenggelam….”

Oey Yong tetap tidak menyahuti.

Kwee Ceng heran, maka lekas ia berpaling. Semenjak tadi ia terus mengawasi ke gelanggang pertarungan. Maka gusarlah ia untuk menyaksikan Auwyang Kongcu lagi meringkus kedua tangan orang.

“Lepas!” ia lantas berteriak.

Auwyang Kongcu tertawa.

“Jangan kau bergerak!” dia berseru. “Asal kau bergerak, satu kali saja, akan aku hajar hancur kepalanya!” Dan dia mengancam.

Kwee Ceng tidak menggubris ancaman itu, bahkan seperti tanpa berpikir sejenak juga, ia menyerang.

Auwyang Kongcu berlaku sebat, ia berkelit sambil mendak.

Kwee Ceng penasaran, ia menyerang pula ke muka orang. Ia seperti merabu tanpa jurus tipu silat.

Auwyang Kongcu bingung juga. Perahu kecil, tidak merdeka untuk ia terus main berkelit. Tapi ia mesti melawan. Maka ia membalas menyerang.

Kwee Ceng menangkis, dengan begitu kedua tangan bentrok. Auwyang Kongcu licik, sambil menyerang ia terus memutar kepalannya, menyerang pula, maka “Plak!” pipinya si anak muda kena terhajar.

Serangan itu keras, mata Kwee Ceng berkunang-kunang. Tapi ia mengerti bahaya, ia membuka matanya. Justru itu datang serangan yang kedua kali. Kembali ia menangkis.

Auwyang Kongcu menggunai tipu silat seperti tadi. Ia memutar balik kepalannya, untuk mengulangi serangan susulan. Tapi kali ini Kwee Ceng melenggaki kepalanya, tangan kanannya berbareng dipakai menolak ke depan.

Menurut aturan, sambil berlenggak tidak dapat orang pun menyerang. Tapi Kwee Ceng adalah lain daripada yang lain. Ia sudah dapat mewariskan kepandaiannya Ciu Pek Tong, ia bisa berkelahi dengan dua tangannya seperti tangan dua orang, kedua tangannya dapat digeraki menurut rasa hatinya. Maka itu celakalah keponakannya Auwyang Hong, yang tidak mengetahui kebiasaan orang itu. Tangan kanannya itu, yang dipakai menyerang ke muka, kena ditangkis hebat, sedetik itu juga tangan itu patah!

Dalam ilmu silat, Auwyang Kongcu tidak ada dibawahan Ma Giok, Ong Cie It atau See Thong Thian atau lainnya lagi, maka itu dibandingkan sama Kwee Ceng, ia menang segala-galanya, hanya kali ini ia kebentur sama ilmu silat yang istimewa, yang asing untuknya, dari itu robohlah dia!

Selagi lawannya itu roboh, hingga Oey Yong terlepas dari pelukan tangan kirinya, Kwee Ceng pun tidak menggubris, pemuda ini lebih memerlukan berlompat kepada pacarnya, yang rebah tak bergeming. Sekarang ia mengerti si nona kena tertotok, lantas saja ia menotok untuk membebaskannya.

Syukur Auwyang Kongcu menggunai totokan yang umum, dengan begitu Kwee Ceng dapat menyadarkan nona itu.

“Lekas bantu suhu!” berteriak Oey Yong yang sesadarnya dia.

Kwee Ceng sudah lantas berpaling kepada gurunya. Ia melihat gurunya itu dan Auwyang Hong tengah berkelahi mati-matian. Suara beletak-beletok dari bekerjanya api seperti menambah serunya pertarungan itu.

Yang hebat ialah terlihatnya badan perahu mulai karam.

Maka itu juga Kwee Ceng menyambar pengayuh, untuk memajukan perahunya datang dekat ke perahu besar itu.

Di dalam pertempuran itu, suasana menjadi terbalik. Sudah lama sejak Ang Cit Kong kerendam air, sekarang pakaiannya sudah kering semua, pakaian itu gampang tersambar api dan terbakar, hawa api pun membikin tubuh panas. Di pihak lain, tubuhnya Auwyang Hong basah kuyup, ia tidak takut api, bahkan bekas nyebur, ia menjadi seperti mendapat tambahan tenaga dan semangat. Tapi hebat si Pak Kay, Pengemis dari Utara itu, walaupun ia terdesak, ia memaksakan diri untuk bertahan.

Mendadak sebatang tiang layar jatuh dengan apinya yang berkobar, jatuh di tengah-tengah kedua jago itu. Mau atau tidak, mereka itu sama-sama berlompat mundur, hingga selanjutnya mereka terpisahkan kayu menyala-nyala itu.

Auwyang Hong penasaran, dengan tongkat ular-ularannya dia menyerang pula.

Ang Cit Kong tidak diam saja, ia mencabut tongkatnya dari pinggangnya, guna menangkis.

Kalau tadi mereka bertarung dengan tangan kosong, sekarang mereka menggunai genggaman. Tentu sekali, sekarang ini mereka berkelahi semakin hebat.

Kwee Ceng terus mengayuh perahunya. Ia terus bergelisah untuk gurunya. Hanya ketika ia menyaksikan pertempuran dua orang itu, perhatiannya jadi tertarik, ia menghela napas saking kagumnya.

Di dalam kalangan persilatan ada kata-kata, “Belajar golok seratus hari, belajar tombak seratus hari, belajar pedang selaksa hari”. Itulah bukti yang ilmu silat pedang paling sukar dipelajarinya. Demikian pada duapuluh tahun yang lalu, dalam pertempuran di Hoa San terlihat nyata sempurnanya tetapi pun sulitnya ilmu pedang, maka juga dua-dua Ang Cit Kong dan Auwyang Hong masih menukar senjata mereka. Ang Cit Kong memakai tongkatnya yang ia senantiasa bawa-bawa, ialah tongkat warisan Kay Pang atau tanda tertua dari Partai Pengemis itu. Tongkat itu lebih panjang satu kaki daripada pedang sebatang dan sifatnya lemas, tetapi di tangan Cit Kong, satu ahli luar, gwa kee, tongkat itu menjadi tegar sekali.

Tongkat ular-ularan dari Auwyang Hong pun suatu senjata istimewa. Dan See Tok menggunainya itu dengan campuran gerak-gerik toya dan tongkat. Di ujung kepala tongkat ada ukiran kepala orang yang mulutnya terbuka tertawa, yang kedua baris giginya terpentang dengan semua giginya tajam serta gigi itu dipakaikan racun ular, maka diwaktu dipakai bersilat, kepala orang-orangan itu bergerak-gerak bagaikan hantu mengangga. Pula, asal pesawat rahasianya dikasih bergerak, dari dalam mulut itu bakal tersemburkan senjata rahasia yang beracun juga. Yang lebih lihay lagi ialah itu dua ekor ular yang melilit di batang tongkat, yang bisa memagut orang secara tiba-tiba….

Hebat pertempuran ini karena mereka sama-sama lihaynya. Tongkat Auwyang Hong terlebih unggul, tetapi Cit Kong adalah kepala Pengemis di seluruh Tionggoan dan sebagai kepala pengemis, dialah penakluk ular yang nomor satu. Demikian tongkatnya bergerak-gerak, bukan cuma menyerang lawan tetapi juga menghamtam kedua ular berbisa itu. Hanya dengan kelicikannya, Auwyang Hong saban-saban dapat menolongi ularnya itu. Ia menjadi sengit, diam-diam ia mengutuk pangcu dari Kay Pang itu, yang kelihayannya mesti ia akui.

Kwee Ceng menonton dengan pikirannya bingung. Mau ia membantu gurunya tetapi ia tidak mempunyakan kesanggupannya. Bukankah musuh itu sangat lihay? Mana dapat ia menyelak di antara mereka berdua.

Tapi juga Auwyang Hong insyaf untuk bahaya yang mengancam. Perlahan-lahan ia merasakan tubuhnya berhawa panas. Yang hebat hanya ia merasakan badan perahu, yang tinggal sebelah itu, mulai tenggelam. Penyerangan lawan dahsyat sekali, kalau ia tidak keluarkan kepandaiannya, bisa-bia ia terbinasa di tangan si pengemis tua ini. Maka ia lantas menukar siasat. Tangan kanannya, yang memegang tongkat, ia tarik, dann tangan kirinya dipakai menyapu.

Dengan tongkatnya Ang Cit Kong mengejar tongkat lawan, dengan tangan kirinya ia menangkis sapuan tangan kiri lawannya itu. Atau mendadak tangan kiri Auwyang Hong dikelitkan, diputar, untuk secepat kilat dipakai menyerang pula ke arah pelipis kanan dari musuhnya!

See Tok menggunai tipu silat Kim Coa Kun atau Kuntauw Ular Emas. Itulah siasat ilmu silatnya yang istimewa. Bahkan ia hendak mengandalkan ini ilmu pada pertemuan yang kedua kali nanti di Hoa San, untuk menunduki semua lawannya. Keistimewaannya ialah selagi dipakai menyerang, tangannya dapat diputar balik, untuk dipakai menyerang pula secara dahsyat diluar dugaan lawan. Begitulah, ia menggunai tipu silatnya ini terhadap Pak Kay. Ia percaya si pengemis tidak kenal ilmu silatnya itu.

Memang, mulanya Ang Cit Kong tidak kenal Kim Coa Kun, ia pun melihatnya secara kebetulan, yaitu di Poo-eng, Auwyang Kongcu menggunai itu terhadap Kwee Ceng. Sebabnya Cit Kong tidak menghadari pestanya Lee Seng beramai itulah karena ia lagi memikir keras tipu silat untuk memecahkan ilmu Kim Coa Kun itu. Maka, kali ini, melihat Auwyang Hong menggunai tipu ilmu silat ini lagi, Cit Kong sudah siap sedia. Dengan menggunai tipu silat Kim-na-ciu, menangkap tangan, ia mengulur tangannya untuk menjambret.

Inilah Auwyang Hong tidak sangka, ia terkejut sambil berlompat mundur. Justru itu ada jatuh segumpal api, yang menyambar kepadanya.

Cit Kong juga terkejut, dia terus melompat mundur. Sekarang dia dapat melihat tegas, yang jatuh itu adalah kain layar yang termakan api.

Di dalam keadaan biasa, tidak nanti Auwyang Hong kena ketungkup, tetapi barusan ia sedang kaget dan heran sebab ilmu silatnya kena dipecahkan lawan, ia juga baru menaruh kaki, sedang jatuhnya layar secara tiba-tiba, maka tidak berdayalah ia untuk menyingkir.

Dalam kagetnya itu, Auwyang Hong tidak menjadi gugup atau bingung. Ia lantas menggunai tongkatnya, akan menyingkap kain layar itu. Lacur untuknya, tongkatnya itu terhalang tiang layar, tidak dapat ia geraki. Baru setelah itu ia menghela napas dan mengeluh: “Habis sudah, hari ini aku mesti pulang ke langit…”

Sekonyong-konyong ia menampak sinar terang. Tadinya ia berada dalam gelap gulita. Ketika ia awasi, ia melihat Ang Cit Kong tengah menggunai tongkatbya menyontek menyingkap layar.

Pak Kay adalah seorang yang berperangai halus dan murah hati, walaupun ia sangat benci See Tok untuk kelicikan dan keganasannya, ia masih tidak tega menonton orang mampus terbakar. Maka tanpa banyak pikir, ia memberikan pertolongan itu.

Auwyang Hong telah terbakar pakaiannya, rambutnya dan alisnya. Ia berlompat, terus ia menjatuhkan diri, bergulingan di lantai perahu. Dengan caranya ini ia hendak membikin api padam. Selagi ia bergulingan itu, mendadak perahu miring, lalu rantai jankar jatuh menimpa ke arahnya.

Cit Kong kaget hingga ia menjerit, terus ia berlompat akan menyambar jangkar itu. Celaka untuknya, jangkar itu merah marong bekas terbakar, ketika kena terpegang, kontan tangannya terbakar hangus dengan mengeluarkan suara terbakarnya, tetapi ia masih sempat melemparkannya ke laut. Hanya, selagi menolong ini dan hendak lompat ke laut, mendadak ia merasakan punggungnya berikut pundaknya menjadi kaku. Untuk sesaat ia melengak, tak tahu ia apa sebabnya itu. Atau tiba-tiba ia ingat suatu apa, yang berkelebat di otaknya. Segera ia menoleh ke belakang. Di dalam hatinya ia berkata: “Aku telah tolongi See Tok, mustahilkah ia menggunai tongkat ularnya mencelakai aku?” Ia berpaling, justru tongkat bambu berkelebat di depan matanya, kedua mulutnya ular penuh darah hidup, kepalanya sedang digoyang-goyang. Bukan main murkanya Ang Cit Kong, kedua tangannya segera melayang ke arah Auwyang Hong.

See Tok dapat berkelit, maka itu, sebatang tiang layar dibelakangnya terhajar keras, menjadi patah dan roboh karenanya.

Cit Kong tidak berhenti sampai di situ, ia menyerang terus.

Auwyang Hong melihat orang seperti kalap, ia tidak mau melawan berkelahi, ia lebih banyak berkelit sambil berlompatan.

“Suhu! Suhu!” Kwee Ceng berteriak-teriak melihat kelakuan gurunya itu. Ia pun merayap naik ke perahu besar.

Adalah di saat itu, Ang Cit Kong terhuyung-huyung. Ia merasakan kepalanya pusing, hingga ia tak ingat suatu apa.

Auwyang Hong berlompat maju, dengan sebelah tangannya ia menghajar punggung si raja pengemis. Hebat serangannya ini.

Dalam keadaanya seperti itu, Ang Cit Kong tidak bisa mempertahankan dirinya. Ia lantas saja roboh sambil muntahkan darah hidup.

Kiu Cie Sin Kay Ang Cit Kong sangat kesohor kegagahannya, Auwyang Hong ketahui dengan baik, hajarannya ini tidak dapat segera menghabiskan jiwa orang, dan ia ketahui juga, kalau nanti Ang Cit Kong sembuh dari lukanya ini, pembalasannya tak akan ada habisnya, maka itu, sudah kepalang, ia mengambil sikap: “Berkasihan tidak menurunkan tangan, menurunkan tangan tidak berkasihan”. Ia lantas berlompat maju, dengan kakinya ia menjejak punggung orang!

Kwee Ceng baru saja naik dari perahunya ketika ia menyaksikan keganasan See Tok terhadap gurunya itu, tidak sempat ia maju lebih jauh untuk menolongi, karena tidak ada jalan lain, ia menyerang dengan kedua tangannya dengan pukulan “Sepasang naga mengambil air”. Ia menyerang ke punggung bagian pinggang.

Auwyang Hong tahu si bocah lihay, ia tidak memandang hebat. Ia geraki tangan kiri untuk menangkis, dengan tangan kanannya ia membalas menyerang. Di sebelah itu, kakinya terus menginjak Ang Cit Kong!

Kwee Ceng kaget hingga ia melupakan segala apa, ia berlompat menubruk Auwyang Hong, batang leher siapa ia rangkul. Tapi justru ini, ia membuat dirinya kosong, maka enak saja rusuknya kena dihajar si Bisa dari Barat.

Dalam keadaan rapat seperti ini, tidak leluasa Auwyang Hong menyerang, tetapi dasar ia lihay, serangan itu hebat, hanya syukur untuk Kwee Ceng, tenaga dalamnya telah mempunyakan dasar, maka ia tidak segera roboh, dia cuma merasakan sakit sekali dan separuh tubuhnya hampir kaku. Karena ini dia menjadi nekat, ia perkeras rangkulannya, untuk mencekik leher orang.

Oleh karena perlawannan Kwee Ceng ini, tendangan Auwyang Hong kepada Ang Cit Kong menjadi batal, sebab untuk membela diri, ia mesti segera menarik pulang kakinya itu. Tapi ia tidak sanggup menggunakan kuntauw Kodok atau Ular Emas, untuk itu mereka ada terlalu rapat, maka ia cuma dapat menyerang muka orang. Kwee Ceng berkelit setiap kali ia dipukul. Untuk menangkis, ia tidak mampu, lantaran kedua tangannya lagi digunakan dengan sekuat tenaganya. Ia bisa berkelit di atas kepalanya – tidak bisa ia dibawah – yaitu rusuknya. Maka lagi-lagi See Tok menyikut.

Kwee Ceng mesti berkelit ke kanan, dengan begitu ia terpaksa melepaskan tangan kirinya, tetapi ia tidak berhenti berdaya, dengan lekas ia menggunai ilmu gulat bangsa Mongolia. Tangannya itu ditelesupkan ke antara iga dan lengan musuh, diulur untuk membangkol batang leher.

Auwyang Hong lihay tetapi sekarang ia pun merasakan sakit. Ia mengerti si anak muda menggunai tiou silat apa, hanya celakanya untuk dia, ia tidak mengerti caranya untuk menolongi diri, dari itu ia cuma bisa menggunai kepalan tangannya meninju ke belakang.

Melihat ini Kwee Ceng menjadi sangat girang. Segera ia melepaskan cekikannya, dengan tangan kanan itu, tangan ditelesupkan seperti tangan kiri taidi – kalau tadi di sebelah kiri, sekarang di sebelah kanan. Kembali ia membangko leher orang, berbareng dengan mana ia berseru mengerahkan tenaganya. Dengan menggunai dua tangan berbareng, ia menjadi berbahaya sekali. Ini dia yang dinamakan tipu “Menjirat mematahkan gunung”. Dalam halnya Auwyang Hong, dia terancam patah leher….

Cerdik sekali Auwyang Hong. Ia pun bertindak dengan sebat. Ia mengasih turun kepalanya, untuk nelusup ke selangkangan si anak muda sembari berbuat begitu ia juga meninju dengan kepalan kiri. Ia tidak mau mengasih ketika orang sempat mengerahkan tenaganya.

Sebelum ia kena ditinju, Kwee Ceng telah menyambar tangan kiri si jago yang berbisa itu. Ia tetap merapatkan tubuhnya kepada tubuh musuh, ia mencoba terus menggunai ilmu gulatnya. Ia menginsyafi, satu kali mereka renggang, ia bisa susah. Pula, dengan berkelahi rapat, ia dapat mencegah musuh mencelaki gurunya.

Oey Yong bingung sekali. Di satu pihak ia tampak Ang Cit Kong rebah di pinggir perahu, separuh tubuhnya berada di luar perahu, di lain pihak terlihat Kwee Ceng lagi bergulat mati-matian terhadap Auwyang Hong, keduanya bergulingan, tubuh mereka sudah tererap api. Karena ini dengan pengayuh ia mengahajar Auwyang Kongcu.

Walaupun dia telah terluka tangan kirinya, pemuda she Auwyang ini tetap kosen. Ia berkelit ke kiri, sambil berkelit, tangannya menyambar lengan si nona.

Oey Yong berkelit sambil menekan perahu, hingga perahu itu menjadi miring.

Auwyang Kongcu tidak bisa berenang, miringnya perahu membikin tubuhnya terhuyung. Untuk menetapkan diri, ia batal menyerang terus kepada si nona.

Menggunai saat perahu miring itu, Oey Yong terjun ke air. Ia pandai berenang, ia tidak takut. Hanya dengan beberapa kali menggunakan tangannya, tubuhnya sudah nyelosor ke perahu besar. Perahu itu tinggal separuh, sekarang separuh tubuh itu sudah kelam separuhnya lagi. Dengan gampang si nona naik ke parhu besar itu. Di situ ada sebuah tempuling, ia sambar itu hendak ia membantu Kwee Ceng.

Auwyang Hong dan si anak muda masih berkutat bergulingan, bergantian di bawah dan di atas, akan kemudian, karena ia terlebih hilay, Auwyang Hong terus berada di sebelah atas. Dalam keadaan seperti itu, Kwee Ceng terus mengendalikan kedua tangan musuh, supaya musuh tidak dapat menyerang kepadanya.

Adalah di saat itu, Oey Yong berlompat maju sambil menikam.

Hebat Auwyang Hong. Ia mendapat tahu ada serangan di belakangnya, ia berkelit seraya mengerahkan tenaganya mengangkat tinggi tubuh Kwee Ceng, memakai si anak muda sebagai tameng.

Oey Yong mengubah serangannya, kali ini kepala See Tok.

Jago tua itu bisa berkelit, bahkan terus-terusan ia mengegos ke kiri dan ke kanan, menyingkir dari ujung tempuling.

Tiga kali oey Yong menikam dengan sia-sia, yang keempat kalinya, tempulingnya nancap di lantai perahu, hingga abunya mengepul naik mengenai matanya, hingga ia kelilipan dan matanya mengeluarkan air. Ia mengucak matanya itu. Justru itu ia merasakan kakinya sakit, tubuhnya limbung, malah terus ia roboh. Sebab Auwyang Hong telah sapu kakinya selagi ia tidak melihat.

Si nona roboh untuk terus menggulingkan diri, buat berlompat bangun. Karena robohnya itu, rambutnya kena kesambar api. Ia maju pula, untuk mengulangi serangannya. Atau mendadak Kwee Ceng berseru-seru: “Tolongi suhu dulu! Tolongi suhu dulu!”

Oey Yong mengerti tugasnya, ia lantas lari kepada Ang Cit Kong, ia tubruk tubuh orang, untuk dipeluk, setelah mana ia terjun ke air. Dengan menyeburkan diri, ia lantas merasakan tubuhnya adem, tak sepanasnya lagi seperti tadi. Ia berenang sambil menggendong gurunya, ia menuju ke perahu kecil.

Auwyang Kongcu berdiri di atas perahu kecil itu, sebelah tangannya mengangkat pengayuh.

“Lepaskan si pengemis tua! Cuma kau sendiri yang boleh naik!” demikian teriaknya dengan mengancam.

Sebelah tangan Oey Yong masih memegangi tempulingnya.

“Baiklah, mari kita bertempur di dalam air!” ia pun berseru, menjawab ancaman itu. Ia menyambar pinggiran perahu, ia menggoyangnya.

Auwyang Kongcu kaget dan ketakutan melihat perahu tergoncang keras. Kalau perahu itu terbalik dan karam, celakalah dia.

“Jangan, jangann goncang!” ia berteriak-teriak seraya keras memegangi perahu. “Nanti perahu ini karam…”

Oey Yong tertawa.

“Lekas tarik guruku naik!” ia menitah. “Hati-hati! Jikalau kau main gila, aku nanti lelapkan kau di dalam air selama tiga jam!”

Auwyang Kongcu tidak berdaya, terpaksa ia memegang bebokongnya Ang Cit Kong, untuk mengangkatnya naik ke perahu.

“Nah, beginilah baru anak manis!” berkata Oey Yong tertawa.

Sebenarnya Oey Yong hendak kembali ke perahu besar, untuk menolongi Kwee Ceng, atau mendadak ia mendengar satu suara nyaring sekali, lalu melihat gelombang besar dan tinggi medampar ke arahnya. Ia lantas memutar tubuhnya, habis itu ia berbalik pula, rambutnya di depan mukanya tersingkap ke belakang. Ia berdiri tercengang kapan ia sudah memandang ke depan.

Gelombang barusan berputar seperti usar-usaran air, di situ tidak terlihat lgi perahu besar yang tinggal separuh tadi, dengan begitu, lenyap juga Kwee Ceng dan Auwyang Hong yang tengah bergulat itu.

Oey Yong baru sadar ketika air asin menyambar masuk ke dalam mulutnya. Tadinya ia seperti lupa akan dirinya sebab hatinya mencelos mendapatkan pemuda pujaannya lenyap, lenyap dibawa air. Ia lantas melihat ke sekelilingnya. Di situ ia tidak nampak apa juga kecuali si perahu kecil. Rupanya semuanya sudah ditelan sang laut…

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: