Kumpulan Cerita Silat

11/08/2008

Kisah Membunuh Naga (31)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:40 am

Kisah Membunuh Naga (31)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Hanko dan Thor)

Tiba-tiba ia mengeluh karena di jalanan yang barusan dilewatinya, yang tertutup dengan salju, terdapat tapak-tapak kakinya sendiri. Daerah barat (See hek) adalah daerah yang hawanya sangat dingin dan biarpun waktu itu sudah masuk musim semi, salju di gunung-gunung masih belum lumer. Semalam, dalam ketakutannya, ia tak berani jalan di tanah datar dan sudah mendaki puncak itu. Tapi dengan berbuat begitu, ia malah sudah membuka rahasia sendiri.

Pada saat itu, dari sebelah kejauhan sekonyong-konyong terdengar geram kawanan serigala yang menakutkan. Boe Kie berdiri di atas batu karang yang sangat curam. Mendengar suara itu, ia mengawasi ke bawah. Ternyata, di dasar lembah terdapat tujuh-delapan serigala yang sedang meronyang-ronyang ke arahnya dan menyalak tak henti-hentinya. Kawanan binatang itu kelihatannya kelaparan dan ingin menubruk dirinya untuk mengganjal perut. Tapi ia berdiri di tempat aman yang terpisah jauh dari mereka.

Ia memutar kepala dan mengawasi keberapa jurusan. Mendadak sekali ia terkesiap. Matanya yang jeli melihat bergeraknya lima bayangan manusia di sebuah tanjakan. Ia tahu, bahwa mereka rombongan Coe Tiang Leng yang sedang mengejar dirinya. Dari jauh mereka kelihatannya berjalan sangat perlahan, tapi ia mengerti, bahwa dalam tempo satu jam, mereka akan tiba di tempat dimana ia sekarang berdiri.

Sesudah menentramkan hatinya, Boe Kie segera mengambil satu keputusan, “lebih baik aku mati dimakan serigala daripada jatuh ke dalam tangan mereka,” katanya dalam hati.

Untuk sejenak ia berdiri bengong. Ia ingat bahwa dengan setulus hati ia mencintai Kioe Tin sebagai seorang adik mencintai kakak sendiri. Sungguh tak dinyana wanita yang begitu cantik mempunyai hati yang begitu kejam.

Ingat begitu, ia malu campur duka. Cepat-cepat ia melompat dan masuk ke dalam hutan dengan berlari. Karena hutan terdapat rumput-rumput tinggi, maka meskipun masih ada salju, tapak-tapak kakinya sukar terlihat. Sesudah lari beberapa lama, mendadak racun dingin dalam tubuhnya mengamuk lagi. Ia tidak kuat berjalan terus. Rasa lelah dicampur dengan kesakitan hebat.

Apa boleh buat, ia merangkak masuk ke dalam gerombolan alang-alang dan menjumput sebutir batu tajam dari atas tanah. Ia sudah mengambil keputusan bahwa Coe Tiang Leng mengejar sampai di situ dan cepat menemukan tempat persembunyiannya, ia akan membunuh diri dengan menghantam Tay Yang Hiatnya dengan batu itu.

Sesudah mengambil keputusan itu, hatinya jadi lebih tenteram. Di depan matanya lantas saja terbayang kehidupan bahagia selama 2 bulan lebih dalam rumah Tiang Leng dan peringatan yang sedap itu telah mendatangkan kedukaan terlebih besar dalam hatinya.

“Pendeta Siau Lim Sie mencelakakan aku, tapi hal itu tidak usah dibuat heran.” Pikirnya. “Orang-orang Kong Tong Pay, Hwa San Pay dan Kun Lun Pay telah membalas budi dengan kejahatan, tapi itupun tak perlu dihiraukan. Tapi Tin Cie? Aku mencintainya dengan sepenuh hati!…ah! Bukankah ibu pernah memesan aku pada waktu ia mau menghembuskan napas yang penghabisan. Mengapa aku melupakan pesan itu?”

Sebagaimana diketahui, sebelum mati In So So telah memesan Boe Kie supaya anak itu berhati-hati terhadap perempuan. Menurut So So, makin cantik wanita, makin pandai menipu orang.

Dengan air mata berlinang-linang, anak itu berkata dalam hatinya. “Waktu mengucapkan pesan itu, pisau sudah menancap di dada ibu. Dengan menahan sakit, ibu sudah memesan aku, tapi aku sendiri sedikitpun tidak memperdulikan pesan itu. Kalau aku tidak mengerti ilmu membuka jalan darah, tipu busuk Coe Tiang Leng dan kawan-kawannya sudah pasti tidak akan diketahui olehku dan aku menuntun mereka ke Peng Hwee To untuk mencelakakan Gie Hu.”

Sesudah hatinya lebih tenteram, ia bisa memikir secara lebih terang. Ia segera dapat melihat latar belakang dari tindakan-tindakan Coe Tiang Leng.

Sesudah menduga, bahwa ia adalah putera Thio Coei San, si orang she Coe lalu membinasakan kawanan anjing, sebagai tindakan pertama untuk mendapat kepercayaan. Sesudah itu, dia berlaku manis-manis sampai akhirnya membakar gedung sendiri. Biarpun termusnahnya rumah-rumah itu harus disayangkan, akan tetapi harta benda tersebut tidak berarti banyak jika dibanding dengan To Liong To, senjata mustika yang dapat membuat pemiliknya menjadi seorang termulia dalam rimba persilatan.

Waktu masih berada di pulau, aku sering melihat Gie Hu duduk bengong sambil memeluk golok itu,” kata Boe Kie dalam hati. “Tapi selama sepuluh tahun, ia masih juga belum bisa menembus rahasia golok itu. Coe Tiang Leng adalah seorang yang pintar luar biasa dan kecerdasan otaknya lebih lihai daripada Gie Hu. Jika To Liong To sampai jatuh ke tangannya, apa yang tak dapat ditembus Gie Hu, mungkin sekali dapat dipecahkan olehnya.”

Sesaat itu, suara tindakan kaki sudah terdengar tegas, sebagai tanda bahwa rombongan pengejar sudah masuk ke dalam hutan.

“Bocah itu pasti bersembunyi di hutan ini,” bisik Boe Liat. “Tak mungkin dia kabur ke tempat lain””

“Ssst!” Tiang Leng memutuskan perkataannya. Sesaat kemudian ia berkata pula dengan suara keras. “Hai! Entah apa kesalahan Tin Jie”. Aku sungguh sangat kuatir. Ia masih begitu kecil dan kalau sampai terjadis sesuatu atas dirinya, biarpun badanku hancur luluh, aku masih belum bisa menebus dosa.” Suara itu dikeluarkan dengan nada parau, seperti juga benar-benar
ia bersusah hati.

Akan tetapi, bagi Boe Kie perkataan-perkataan itu membangunkan bulu roma.

Di lain saat, Boe Kie mendengar suara beberapa orang memukul alang-alang dengan tongkat. Ia rebah sambil menahan nafas dan tidak berani berkutik. Untung juga, hutan sangat luas dan mereka tidak dapat ke tempat persembunyian si bocah.

Sesudah berusaha beberapa lama tanpa berhasil, tiba-tiba Coe Tiang Leng membentak keras-keras, “Tin Ji, apakah yang sudah dperbuat olehmu sehingga saudara kecil kabur di tengah malam buta””

Kioe Tin kaget, tapi ayahnya segera memberi isyarat dengan kedipan mata. Dari tempat sembunyinya, Boe Kie melihat kedipan itu.

“Aku hanya berguyon dan sudah menotok jalan darahnya,” jawab si nona.

“Tidak dinyana, adik Boe Kie menganggap salah.” Sehabis berkata begitu, ia berteriak, “Adik Boe Kie! Di mana kau? Lekas keluar! Tin Cie ingin menghaturkan maaf kepadamu.”

Tapi tentu saja teriakan itu tidak mendapatkan jawaban. Tiba-tiba terdengar suara tangisannya, “Thia, jangan! Jangan pukul aku”” ratapnya. “Aku tidak sengaja. Tidak sengaja.”

Coe Tiang Leng mencaci-caci sedang puterinya menangis keras sambil meratap, seperti juga sedang dihajar keras. Melihat sandiwara itu Boe Kie menghela nafas panjang. “Jika aku belum mendapat bukti dari kepalsuannya, sudah pasti aku akan melompat ke luar,” pikirnya.

Karena yakin bahwa Boe Kie bersembunyi dalam hutan itu, mereka bersandiwara terus, yang satu memaki dengan kata-kata hebat, yang lain mengeluarkan teriakan-teriakan menyayat hati.

Dengan kedua tangan, Boe Kie menutup kupingnya, tapi suara sesambat si nona masih tetap terdengar. Sebisa mungkin ia coba mengeraskan hati, tapi akhirnya ia tak dapat bertahan lagi. Sesudah mengambil keputusan nekat, tiba-tiba ia melompat keluar dan berteriak. “Tak usah kamu melangsungkan permainan gila itu! Apa kamu kira aku tak tahu segala tipu busukmu””

Melihat munculnya Boe Kie, Coe Tiang Leng beramai jadi girang, “Aha! Ini dia!” seru mereka.

Di lain pihak sesudah mencaci, Boe Kie segera berlari bagaikan kalap. Coe Tiang Liat lantas saja mengejar. Sebelum melompat keluar, si bocah sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan dunia yang kejam ini. Seperti seekor kijang, ia kabur ke arah tebing dengan melompat ke jurang yang dalam. Tapi Coe Tiang Leng memiliki ilmu ringan badan yang banyak lebih tinggi daripadanya. Maka itu, baru saja ia tiba di atas tebing, si orang she Coe sudah menyandaknya lalu menjambret belakang bajunya.

Pada detik itu, kaki kanannya sudah menginjak tempat kosong dan separuh badannya sudah berada di atas jurang. Begitu Coe Tiang Leng menjambret punggungnya, kaki kirinya melompat dan badannya menubruk ke depan. Coe Tiang Leng tak pernah menduga bahwa bocah itu sedemikian nekat. Karena Boe Kie melompat dengan sepenuh tenaga, ia turut terbetot. Sebagai seorang yang berkepandaian tinggi, jika pada saat itu ia melepaskan cekalannya, dengan mudah ia akan dapat menolong diri. Akan tetapi ia mengerti, bahwa melepaskan anak itu berarti sama dengan melepaskan To Liong To. Selama kurang lebih dua bulan dengan susah payah ia sudah menjalankan tipunya, bahkan ia sampai mengorbankan gedung dan harta bendanya. Apakah ia harus melepaskan golok mustika yang sudah berada di depan mata”

Seluruh tubuh Boe Kie sekarang berada di atas jurang, di tengah udara!

“Celaka!” Coe Tiang Leng mengeluh dengan hati mencelos. Tangan kirinya menyambar ke belakang dengan harapan bisa mencekal tangan Boe Liat yang turut mengejar tapi pada detik itu tangan Boe Liat masih terpisah kira-kira satu kaki.

Ternyata tenaga penarik To Liong To lebih dahsyat daripada ancaman bencana. Coe Tiang Leng tetap mencekal baju si bocah itu dan mereka berdua tergelincir ke dalam jurang yang di dalamnya berlaksa tombak!

Sayup-sayup terdengar teriakan Kioe Tin dan Boe Liat. Sesaat kemudian segala apa tidak terdengar lagi, kecuali menderunya angin.

Coe Tiang Leng mengerti bahwa kalau jatuh di dasar, badan akan hancur lebur. Ia adalah seorang yang sudah kenyang mengalami topan dan gelombang. Maka dalam menghadapi kebinasaan ia tak jadi bingung.

Badan mereka melayang ke bawah dengan cepatnya.

Jarak antara kedua dinding jurang tidak begitu lebar dan selagi melayang jatuh beberapa kali, Coe Tiang Leng melihat pohon-pohon yang tumbuh di dinding dan cabang-cabang melonjor ke luar. Beberapa kali ia menjambret tapi selalu gagal. Paling belakang, jambretannya kena, tapi sebab tenaga jatuhnya mereka terlampau hebat maka, dengan mengeluarkan suara “krekek,” cabang siong itu yang sebesar lengan patah dari pohonnya.

Walaupun begitu, kejadian ini merupakan pertolongan. Biarpun cabang itu patah, jatuhnya mereka jadi tertahan dan Coe Tiang Leng tentu saja sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Dengan meminjam tenaga, ia mengangkat kedua kakinya dengan gerakan Ouw Liong Jiauw Cu (Naga Hitam Melibat Tiang), ia memeluk dahan dengan kedua betisnya. Dilain saat ia sudah mengangkat tubuh Boe Kie dan mendudukkannya di atas sebuah cabang, tapi tangannya tetap mencekal baju si bocah, sebab ia kuatir anak itu akan melompat lagi.

Melihat ia bakal mati dan tetap tak bisa terlolos dari tangan si orang she Coe. Boe Kie berduka bukan main dan berkata dengan suara membenci, “Coe PehPeh, biar bagaimana hebat kau menyiksa aku, jangan harap aku akan menuntun kau ke tampat persembunyian Gie Hu.”

Ketika itu Coe Tiang Leng sendiri sudah duduk di atas satu cabang. Ia mendongak ke atas. Mereka ternyata sudah jatuh terlalu dalam. Apa yang dilihatnya hanyalah langit. Sedang Boe Liat dan yang lain sudah tak kelihatan bayangannya. Walaupun bernyali besar, ia menggigil dan dahinya mengeluarkan keringat dingin.

Sesudah menentramkan hatinya, ia tertawa dan berkata, “Saudara kecil, apa katamu? Aku tidak mengerti, janganlah kau memikir yang tidak-tidak.”

“Segala tipu busukmu sudah kuketahui.” Jawabnya mendongkol. “Sekarang segala tipumu sudah tidak berguna lagi. Andaikata kau memaksa aku untuk mengantar kau ke Peng Hwee To, aku bisa menunjuk jalan dengan sembarangan supaya kita sama-sama mampus d imakan lautan. Apa kau kira aku takut berbuat begitu?”

Coe Tiang Leng mengerti, bahwa ancaman itu bukan omong kosong. Ia tahu, bahwa terhadap Boe Kie yang nekat, ia tidak bisa menggunakan kekerasan.

Orang satu-satunya yang bisa menaklukkan si bocah adalah puterinya sendiri. Memikir begitu, ia lantas saja mengerahkan Lweekang dan berteriak, “Kami selamat! Jangan khawatir!”

Teriakan itu menggetarkan seluruh lembah.

“Kami selamat!…Kami selamat!…Jangan khawatir!…”

Tiba-tiba Coe Tiang Leng ingat sesuatu, “Celaka!” ia mengeluh, “Aku tidak boleh berteriak begini di gunung salju.”

Hampir berbareng, gumpalan-gumpalan salju putih meluruk turun dari dinding jurang. Untung juga salju tidak begitu tebal. Sehingga tidak membahayakan. Tapi Coe Tiang Leng tidak berani berteriak lagi. Ia menghela nafas dan sambil mengawasi keempat penjuru, ia mengasah otak untuk mencari jalan keluar. Ke bawah, jurang itu belum kelihatan dasarnya dan andaikata mereka bisa turun sampai ke dasar jurang, di situ belum tentu ada jalan keluar. Untuk memanjat ke atas dari dinding yang satu, sukar dapat dilakukan, karena dinding batu itu bukan saja sangat curam tapi juga ditutup salju licin. Maka itu, jalan satu-satunya adalah coba memanjat ke atas dari tebing-tebing yang lain, yang tidak begitu terjal.

Memikir begitu, ia lantas saja berkata dengan suara membujuk, “Saudara kecil, jangan kau mencurigai aku secara membuta tuli. Biar bagaimanapun jua, aku tidak akan memaksa kau untuk mencari Cia Sun. Kalau aku menggunakan kekerasan, biarlah aku mati terpanah laksaan anak panah dan mati tanpa mempunyai kuburan.”

Sumpah yang begitu berat itu bukan sumpah kosong. Ia tahu, bahwa ia memang tidak bisa memaksa anak yang kepala batu itu. Kemungkinan satu-satunya hanyalah membujuk atau menipu supaya si bocah mau membantunya dengan suka rela.

Di lain pihak, mendengar sumpah itu, hati Boe Kie jadi lebih lega.

“Sekarang kita harus berusaha untuk menyelamatkan diri dengan memanjat tebing.” Kata Coe Tiang Leng pula. “Tapi kau tidak boleh melompat ke bawah lagi. Kau mengerti””

“Kalau tidak memaksa aku, akupun tak perlu mencari mati.” jawabnya.

Coe Tiang Leng mengangguk dan mengeluarkan pisau yang lalu digunakan untuk mengeset kulit pohon. Dengan kulit pohon itu, ia membuat tambang yang kedua ujungnya lalu diikatkan ke pinggang sendiri dan ke pinggang Boe Kie. Sesudah itu, perlahan-lahan dan hati-hati mereka memanjat ke atas, ke arah sinar matahari.

Usaha mereka itu diliputi dengan tanda tanya. Bagaimana kesudahannya? Apakah mereka akan menemui keselamatan atau kecelakaan? Entahlah, apa yabg dapat diperbuat hanyalah maju selama masih bisa maju.

Tebing itu sendiri sukar dipanjat. Ditambah dengan salju yang sudah membeku menjadi es, licinnya luar biasa, sehingga setiap tindakan diliputi dengan bahaya besar. Dua kali Boe Kie terpeleset dan ia tentu sudah tergelincir ke bawah, kalau tidak ditolong Coe Tiang Leng.

Sebaliknya daripada berterima kasih, ia jadi mendongkok dan mengejek dalam hatinya. “Tua bangka! Kalau kau tidak mengiler pada To Liong To, tak nanti kau baik hati.”

Sesudah memanjat setengah hari, mereka bukan saja lelah, tapi capai. Tapi sikut, lutut, dan kaki merekapun berlumuran darah, akibat goresan es yang tajam. Perlahan-lahan curamnya tanjakan berkurang. Mereka tidak perlu merangkak lagi. Setindak demi setindak, mereka maju dengan nafas tersengal-sengal. Tak lama kemudian, mereka sudah berada di atas tanjakan yang berdiri bagaikan sebuah sekosol besar.

Tiba-tiba Coe Tiang Leng mengeluh! Dengan mata membelalak dan mulut ternganga, ia mengawasi ke depan, ke lautan awan. Ternyata, mereka berdiri di atas tanah datar yang seperti panggung dan tiga penjuru panggung itu berbatasan dengan kekosongan. Luasnya tanah datar itu ratusan ombak persegi, tapi ke atas tak ada jalan, ke bawahpun begitu juga. Mereka terjebak di kotak buntu. Apa yang lebih celaka lagi, di tanah datar itu hanya terdapat salju, salju yang putih bagaikan kapas tanpa pepohonan. Tanpa makhluk hidup yang dapat digunakan untuk menangsal perut.

Tapi Boe Kie sendiri berbalik girang. Ia tertawa dan berkata. “Coe PehPeh, kau sudah mengeluarkan banyak tenaga, tapi hasilnya kita tiba di tempat ini. Kalau sekarang orang memberikan To Liong To kepadamu, apakah golok itu dapat menolong Kau””

“Jangan rewel!” Bentak Coe Tiang Leng dengan gusar.

Ia segera menjumput salju yang lalu ditelannya untuk menghilangkan rasa haus dan kemudian bersila untuk mengaso. “Biarpun letih, sekarang tenagaku masih cukup,” pikirnya. “Kalau menunggu sampai besok, mungkin aku tak bisa keluar lagi dari kurungan ini.” Berpikir begitu, ia lantas saja bangkit dan berkat, “Tidak guna kita berdiam lama-lama di sini. Kita harus kembali ke jalanan tadi dan coba mencari jalan keluar lain.

“Tapi aku sendiri merasa senang untuk berdiam terus di sini.” Kata si bocah sambil menyeringai.

“Kau gila,” bentak Coe Tiang Leng. “Di sini tak ada makanan apapun jua. Apa kau mau mati kelaparan””

Si bocah tertawa geli. “Bukankah bagus sekali jika kita tak makan makanan manusia”” katanya. “Dengan begitu, kita bisa mensucikan diri dan mungkin sekali bisa menjadi dewa yang suci!”

Bukan main gusarnya Coe Tiang Leng, tapi sebisa mungkin ia menahan nafsu amarahnya, sebab ia khawatir anak kepala batu itu akan jatuh ke bawah.

“Baiklah,” katanya, “Kau mengaso di sini dan aku akan coba mencari jalan keluar. Tapi ingat! Kau tak boleh mendekati tebing. Sekali jatuh, kau mampus.”

“Tak perlu kau memikirkan soal mati hidupku,” kata Boe Kie seraya tertawa. “Hm!…sampai sekarang kau masih mimpi, bahwa aku sudi mengantar kau ke pulau Peng Hwee To. Terang-terangan aku menasihati kau, jangan kau mimpi terlalu muluk.”

Coe Tiang Leng merasa dadanya seolah-olah mau meledak, tapi ia tak mau menjawab ejekan itu.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, segera turun ke bawah lagi dan setibanya di pohon siong yang tadi, ia lalu merambat ke dinding jurang di seberang. Dinding itu lebih curam dan lebih berbahaya, tapi tanpa Boe Kie, ia malah bisa memanjat lebih cepat. Kurang lebih setengah jam kemudian, ia mencapai di puncak dan ia mengeluh karena puncak itu merupakan puncak yang buntu.

Sekali lagi ia berdiri di atas tebing yang berbatasan denan kekosongan. Lama ia berdiri di situ sambil menghela nafas berulang-ulang dan kemudan dengan putus harapan ia balik ke tanah datar yang seperti panggung di mana Boe Kie sedang menunggu.

Begitu melihat paras mukanya, tanpa bertanya Boe Kie tahu, bahwa orang tua itu gagal dalam usahanya. “Sesudah kena Hian Beng Sin Ciang, aku sendiri akan segera mati,” katanya dalam hati. “Mati di sini atau di tempat lain tak banyak bedanya. Tapi Coe PehPeh sebenarnya seorang kaya raya yang hidup beruntung. Hanya karena ia temahak akan To Liong To, sekarang ia harus menemani aku mati di sini. Sungguh kasihan.”

Semula ia sangat membenci orang tua itu yang telah menjalankan tipu busuk terhadap dirinya. Dalam menghadapi kebinasaan, ia malah sudah mengejeknya dengan perkataan-perkataan menusuk. Tapi sekarang, sesudah mendapat kepastian bahwa di sekitar jurang itu tidak terdapat jalan keluar dan setelah melihat kedukaan Coe Tiang Leng, ia berbalik merasa kasihan.

“Coe PehPeh,” katanya dengan suara halus. “Kau sudah berusia lanjut dan kau sudah mencicipi kebahagiaan hidup. Andaikata kau mati sekarang, kau tidak pantas merasa menyesal. Sudahlah, tak guna kau menyesal.”

Mendengar bujukan itu, dengan sorot mata berapi orang tua itu melirik si bocah. Ia berlaku sangat manis terhadap Boe Kie hanya karena mempunyai harapan, bahwa anak itu akan mengantarkannya ke pulau Peng Hwee To. Tapi sekarang, sesudah ternyata bahwa ia tidak akan bisa meloloskan diri lagi dan yang menjadi gara-gara adalah si bocah sendiri, darahnya lantas saja meluap. Dengan sorot mata bersinar pembunuhan, ia menatap wajah Boe Kie dengan sikap seperti binatang buas.

Melihat begitu, si bocah jadi ketakutan. Sambil berteriak, ia bangkit dan terus kabur.

“Biantang! Mau lari ke mana kau”” bentak Coe Tiang Leng sambil menubruk. Ia bertekat untuk membekuk Boe Kie dan sesudah menyiksanya sepuas hati, barulah mau membinasakannya.

Tanpa menghiraukan bahaya Boe Kie menyerosot ke bawah. Tiba-tiba ia melihat lubang besar yang gelap, seperti gua atau terowongan. Tanpa memikir panjang, ia segera masuk ke dalam lubang itu. “Breeet!” kaki celananya kena dijambret Coe Tiang Leng dan robek sebagian. Dengan cekat ia terus berlari. Saban Coe Tiang Leng mendekati, ia berbalik dan menghantam dengan pukulan Sin-Leng, ilmu silat si bocah itu masih kacek terlalu jauh.

Tapi Sin Liong Pa Bwee bukan pukulan biasa, sehingga walaupun berkepandaian tinggi, Coe Tiang Leng tidak berani terlalu mendesak secara ceroboh. Sambil membungkuk, ia terus mengejar dengan hati-hati.

Dengan tindakan limbung dan tersandung berulang-ulang, Boe Kie terus kabur di terowongan yang gelap itu. Tiba-tiba kepalanya membentur dinding batu, sehingga matanya berkunang-kunang. Ia mengerti, bahwa sesudah tidak mengharapkan apa-apa lagi dari dirinya, orang tua itu, yang sudah kalap, bisa melakukan perbuatan sangat kejam. Ia bukan takut disiksa mati, tapi ia tidak mau mati disiksa. Maka itu ia terus lari. Untung juga terowongan tersebut makin jauh makin sempit, sehingga sesudah merangkak puluhan
tombak, lubang itu hanya sebesar tubuhnya yang kecil dan Coe Tiang Leng tidak bisa masuk sampai di situ.

Sesudah merangkak lagi beberapa tombak, sekonyong-konyong Boe Kie melihat sinar terang, ia girang bukan main dan sambil menempos semangat, ia maju dengan sekuat tenaga.

Coe Tiang Leng bingung bercampur gusar. “Saudara kecil, sudahlah! Aku tak akan mencelakakan kau,” serunya.

Tapi si bocah tentu saja tidak menghiraukannya. Dalam gusarnya, Coe Tiang Leng mengerahkan Lweekang dan menghantam dinding dengan kedua tangannya. Tapi batu itu keras luar biasa sehingga bukan saja kedua tangannya sakit, tapi nafsunya pun agak menyesak. Ia mencabut pisau dan coba mencakil batu, tapi baru beberapa goresan, pisau itu patah. Bagaikan kalap, ia mengerahkan tenaga dalam ke kedua pundaknya dan lalu memasukkan tubuhnya ke dalam lubang. Tapi inipun tidak menolong, bahkan dadanya sakit bukan main.

Dengan nafas tersengal-sengal, ia coba menggeser mundur tubuhnya.Di luar dugaan, badannya terjepit keras. Maju tak dapat, mundurpun tak bisa. Semangat Coe Tiang Leng terbang. Dengan mengerahkan seantero tenaganya, ia menggeser tubuh dan kali ini berhasil. Tapi dadanya sakit bukan main dan ternyata salah sebuah tulang rusuknya patah.

Sementara itu, Boe Kie terus merangkak maju. Makin jauh, sinar di depan kedua matanya silau karena tertumbuk sinar matahari. Ia meramkan kedua matanya dan menenteramkan jantungnya yang memukul keras. Perlahan-lahan ia membuka lagi kedua matanya dan ia melihat sebuah lembah yang indah luar biasa, dengan pohon-pohon bunga yang beraneka warna.

Boe Kie bersorak karena girangnya. Dengan cepat ia merangkak keluar dari terowongan itu. Lubang terowonga terpisah kira-kira setombak dari bumi dan dengan sekali melompat, kakinya sudah hinggap di atas rumput yang empuk. Hampir berbareng, hidungnya mengendus harumnya bunga-bunga, matanya melihat buah-buah masak yang tergantung di pohon-pohon, sedang kupingnya mendengar kicaunya sejumlah burung.

Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa di ujung terowongan itu terdapat dunia yang bagaikan surga. Tanpa memperdulikan luka-lukanya, ia berlari-lari untuk menyelidiki keadaan lembah itu. Sesudah melalui dua li lebih, ia berhadapan dengan puncak gunung yang menghadang di tengah jalan.

Ternyata lembah itu dikitari dengan lereng-lereng gunung yang sangat curam dan
rupanya tempat seindah itu belum pernah diinjak manusia lain. Dengan hati berdebar-debar, Boe Kie memandang ke seputarnya. Ternyata lereng-lereng yang curam itu tak mungkin dipanjat manusia. Sekali lagi ia berada dalam kurungan.

Tapi si bocah tidak menghiraukan itu semua. Ia merasa beruntung kalau ia bisa mati di tempat yang seindah itu. Ia mengawasi tujuh-delapan kambing hutan yang tidak takut manusia sedang makan rumput dengan sikap tenang. Di atas pohon-pohon terdapat sejumlah kera kecil yang bermain dengan penuh kegembiraan. Ia mendapat kenyataan, bahwa di tempat itu tidak terdapat binatang buas. Mungkin sekali binatang-binatang seperti harimau yang badannya berat tidak bisa melewati puncak-puncak yang terjal.

“Langit menaruh belas kasihan atas diriku,” kata Boe Kie dalam hati. “Langit sudah menyediakan tempat yang seperti surga ini untuk dijadikan kuburanku,” perlahan-lahan ia kembali ke mulut terowongan.

“Saudara kecil… saudara kecil”” demikian terdengar seruan Coe Tiang Leng. “Keluar! Keluarlah! Kau bisa mati di dalam lubang.”

Boe Kie tertawa terbahak-bahak. “Coe PehPeh, kau salah!” teriaknya. “Tempat ini seperti surga indahnya.” Ia lalu memanjat pohon dan memetik beberapa buah yang tidak dikenal. Ia mencium-cium buah itu yang harum baunya, kemudian menggigitnya. Aduh, luar biasa! Garingnya melebihi buah Tho, wanginya melebihi buah apel, sedang manisnya lebih menang dari bauh Leci. Sambil melontarkan salah sebuah ke dalam lubang, Ia berteriak, “Coe PehPeh, sambut! Makanan enak datang!”

Karena terbentur-bentur batu, waktu tiba di depan Coe Tiang Leng, buah itu sudah bonyok. Ia menjemputnya dan lalu memasukkannya ke dalam mulut. Benar-benar enak! Tapi ia lebih menderita, buah itu malah membangunkan nafsu makannya. “Saudara kecil, tolong berikan beberapa biji lagi,” ia memohon.

Si bocah tertawa besar. “Kau harus menerima nasib,” ejeknya. “Tapi manusia yang sejahatmu memang pantas mati kelaparan. Kalau kau mau makan lebih banyak, ambillah sendiri.”

“Badanku terlalu besar, tak bisa masuk,” kata Coe Tiang Leng.

“Belah badannya menjadi dua potong!” ejek pula si bocah.

Coe Tiang Leng menghela nafas. Ia tak nyana bahwa bukan saja rencana hancur, tapi ia sendiri mesti mati di tempat itu. Ia tak mau memohon lagi dan dengan darah yang meluap-luap, ia mencaci, “Binatang! Meskipun dalam gua itu terdapat buah, tapi apa buah-buahan itu bisa mencukupi keperluan untuk seumur hidupmu” Aku mati di sini, tapi kau juga akan mampus dalam
beberapa hari. Hm!…Aku mati kaupun mampus.”

Boe Kie tak menghiraukannya. Sesudah makan belasan buah, perutnya kenyang dan ia lalu merebahkan diri di atas rumput untuk mengaso.

Selang beberapa lama, tiba-tiba si bocah melihat keluarnya asap dari lubang terowongan. Ia mengerti, bahwa itulah perbuatan Coe Tiang Leng yang coba mencelakakannya dengan membakar ranting-ranting pohon siong. Ia ketawa geli dan berlagak batuk-batuk.

“Saudara kecil!” teriak Coe Tiang Leng. “Keluarlah! Aku bersumpah tak akan mengganggu kau.”

Si bocah pura-pura teriak keras, seperti orang mau pingsan. Sesudah itu, ia pergi ke tempat lain tanpa memperdulikan lagi si orang she Coe.

Dengan hati riang, ia berjalan ke jurusan barat. Sesudah melalui dua li lebih, ia melihat sebuah air tumpah yang turun ke bawah dari dinding batu ke sebuah kolam. Air itu adalah salju yang melumer dan di bawah sorotan matahari kelihatannya indah sekali seolah-olah seekor naga giok. Dengan rasa kagum, ia mengawasi kolam itu, yang biarpun terus menerima air dari
atas, tidak menjadi luber. Ia tahu, bahwa di bawah kolam itu terdapat selokan yang mengalirkan air ke tempat lain.

Sesudah menikmati pemandangan itu beberapa lama, ia menunduk dan melihat kaki tangannya yang kotor lantaran kena lumpur di terowongan.

Ia segera pergi ke pinggir kolam, membukakan sepatu dan kaos kaki dan lalu memasukkan kedua kakinya ke dalam air. Mendadak seraya berteriak “Aduh,” ia melompat bangun. Mengapa? Karena air itu dingin luar biasa. Begitu menyentuh air, kakinya sakit, dan lebih sakit daripada disiram air mendidih. Ketika diperiksa, kedua kakinya ternyata sudah merah bengkak.

Ia mengawasi sambil meleletkan lidah. “Heran! Sungguh mengherankan!” katanya di dalam hati. Diwaktu kecil selama beberapa tauhun di pulau Peng Hwee To dan sudah biasa dengan hawa dingin tapi belum pernah bertemu dengan air yang sedingin itu. Yang lebih luar biasa adalah, walaupun dingin, air itu tetap tidak membeku.

Ia mengerti, bahwa di dalam air itu mengandung sesuatu yang aneh. Ia mundur beberapa tindak dan mengawasinya sambil mengasah otak. Sekonyong-konyong terdengar suara “Krok-krok!” dan dari dalam kolam melompat keluar tiga kodok warna merah. Kodok itu kodok raksasa, badannya kira-kira empat kali lipat lebih besar dari kodok biasa. Begitu berada di daratan, dari badan mereka mengepul uap putih, seperti uap yang keluar dari es.

Melihat keanehan binatang itu, sifat kekanak-kanakan Boe Kie lantas saja timbul. Ia ingin menangkap salah seekor untuk dibuat main. Perlahan-lahan ia mendekati, menubruk, dan menekap yang satu dengan tangannya, tiba-tiba ia terkejut. Begitu telapak tangannya menyentuh kulit yang licin, ia merasa semacam hawa hangat menembus kulit dan terus naik ke lengannya.

Diluar dugaan, binatang itu galak dan bertenaga besar. Dia memberontak dan begitu melepaskan diri dari cekalan, dia menggigit lengan kanan Boe Kie sekeras-kerasnya.

Si bocah terkesiap. Cepat-cepat ia menyekal badan kodok itu dengan tangan kirinya dan membetotnya. Tapi tak dinyana, binatang itu mempunyai gigi yang sangat tajam, sehingga kalau dibetot terus, bagian daging lengannya akan turut copot.

Sesaat itu, kedua kodok yang lain menyambar bagaikan kilat dan menggigit kedua kaki Boe Kie. Seumur hidup, ia belum pernah bertemu dengan kodok yang seganas itu. Dalam kagetnya, ia mengerahkan Lweekang dan menepuk kodok yang menggigit lengannya. Perut binatang itu pecah dan tangannya belepotan darah yang berhawa panas.

Ia membungkuk dan lalu membinasakan kedua kodok yang menggigit kakinya. Perlahan-lahan ia membuka mulut binatang itu dan melemparkannya di tanah. Tapi kaki dan lengannya sudah luka dan memperlihatkan tapak-tapak gigi. Dengan hati mendongkol, ia mengawasi ketiga kodok itu.

“Binatang!” cacinya. “Semua makhluk anjing menggigit aku dan sekarang kamu. Kebetulan perutku lapar, biarlah aku gegares dagingmu. Aku mau lihat, apa sesudah berdiam di dalam perutku, kamu masih bisa menghina aku.”

Sehabis mengomel, ia segera mencari cabang-cabang kayu kering dan lalu menyalakan api. Ketiga kodok itu lalu dikeset kulitnya dan dipanggang di atas perapian. Tak lama kemudian hidungnya mendengus daging yang sangat wangi. Tanpa memperdulikan segala apa, ia segera memasukkan sepotong betis kodok ke dalam mulutnya. Ia tersenyum sambil menarik nafas
panjang-panjang. Daging itu ternyata sangat lezat, lebih lezat daripada daging apapun juga. Dalam sekejab, ketiga kodok itu sudah ketinggalan tulangnya saja.

Berselang kira-kira samakanan nasi, semacam hawa panas mendadak naik ke atas dari dalam perut si bocah. Ia merasa nyaman bukan main, seolah-olah badannya di dalam kolam air hangat.

Ia tak tahu, bahwa kodok itu adalah semacam binatang aneh di dalam dunia. Dia hidup di tempat yang sangat dingin, tapi sifatnya adalah panas. Tanpa sifat yang aneh itu, tak mungkin ia hidup di dalam kolam dingin. Kalau dagingnya dimakan orang biasa, orang itu akan segera mati dengan mengeluarkan darah dari hidung, mulut dan kupingnya. Tapi Boe Kie bukan orang biasa karena di dalam tubuhnya mengeram racun dingin dari Hian Beng Sin Ciang. Racun dingin itu kebentrok dengan racun panas dari sang kodok dan racun panas buyar, racun dinginpun ikut mereda.

Tapi Boe kie sendiri tak tahu terjadinya kejadian yang sangat kebetulan itu. Ia merasa sekujur tubuhnya lelah dan letih, rasa mengantuk menguasai dirinya. Tapi ia tidak berani tidur di situ sebab kuatir diserang kodok lain. Maka itu sambil menguatkan badan dan hati ia meninggalkan tempat itu. Baru berjalan kira-kira satu li, ia tidak dapat mempertahankan diri lagi dan lalu rebah pulas di atas tanah.

Ketika ia sadar, rembulan sudah berada ditengah tengah angkasa. Ia merasa bahwa di dalam perutnya terdapat semacam bola hangat yang bergerak-gerak dan menggelinding kian kemari. Ia mengerti, bahwa daging kodok itu mempunyai zat-zat luar biasa untuk menambah tenaga. Ia merasa semangatnya bertambah dan tenaga dalamnya jadi lebih besar. Ia segera duduk bersila dan mengerahkan Lweekang, dengan niatan mendorong hawa hangat itu ke dalam pembuluh-pembuluh darahnya. Tapi sesudah berusaha beberapa kali, ia tidak berhasil bahkan kepalanya puyeng dan ulu hatinya tidak enak.

Ia menghela nafas dan berkata dalam hatinya. “Tak mungkin aku bernasib begitu baik. Kalau hawa hangat itu bisa menembus masuk berbagai pembuluh darah, bukankah itu berarti bahwa racun Hian Beng sin ciang sudah dapat dipunahkan”.

Baik juga, sebab ia tidak terlalu berharap hidup, ia tidak merasa kecewa. Pada keesokan tengah hari, ia merasa perutnya lapar. Ia lalu mengambil sebatang ranting pohon yang kemudian digunakan untuk mengaduk air di kolam dingin. Beberapa saat kemudian, ranting itu sudah digigit tiga empat kodok. Perlahan-lahan ia mengangkatnya k eatas dan lalu membinasakan binatang-binatang itu dengan menggunakan batu. Sekali lagi ia membuat perapian dan membakar daging kodok yang lalu digunakan untuk menangsal perut.

Karena merasa bahwa ia akan bisa hidup beberapa lama lagi, maka ia lalu membuat semacam dapur dan menaruh cabang-cabang kering di dalamnya, supaya ia tidak saban-saban harus membuat api.

Sebagai seorang yang pernah hidup di pulau Peng Hwee To, Boe Kie sudah bisa menolong diri sendiri. Maka itu, hidup sebatang kara ditempat tersebut tidak menjadi susah baginya. Ia mengambil tanah liat dan membuat paso tanah, kemudian menganyam rumput untuk membuat tikar. Ia bekerja sampai kira-kira magrib dan tiba-tiba ia ingat Coe Tiang Leng yang sekarang mestinya sudah kelaparan setengah mati. Maka itu, ia memetik satu buah dan melemparkannya ke dalam lobang terowongan.

Ia tidak memberi daging kodok panggang sebab kuatir Coe Tiang Leng bertambah tenaga dan bisa menggempur dinding terowongan. Kekuatiran si bocah ternyata sudah menyelamatkan jiwa orang she Coe. Kalau Boe Kie memberikan kodok itu, ia sudah pasti sudah melayang jiwanya.

Beberapa hari sudah lewat tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Hari itu, selagi Boe Kie membuat sebuah dapur tanah, tiba-tiba ia mendengar pekik seekor kera yang menggenaskan hati. Cepat-cepat ia memburu ke arah suara itu. Ternyata seekor kera kecil sedang melompat-lompat sambil memekik-mekik dengan tiga ekor kodok merah mengigit punggungnya, sedang dua ekor yang lain sudah melompat keluar dari dalam air. Si kera bergulingan di tanah dan membanting-banting dirinya, tapi kodok-kodok itu terus menggigit erat-erat dan menghisap darah yang menjadi makanannya. Boe Kie melompat dan mencekal lengan kiri kera itu yang lalu dibawa ke tempat lain yang jauh dari kolam dingin itu. Sesudah berada di tempat yang lebih aman, batulah ia membinasakan ketiga kodok itu. Jiwa kera itu tertolong, tapi tulang lengan kanannya patah.

“Aku sangat kesepian, ada baiknya jika bisa mendapat kawan seekor kera”, katanya di dalam hati. Memikir begitu, ia segera mengambil dua potong ranting pohon dan sesudah menyambung tulang yang patah, ia segera menjepitnya dengan kedua ranting itu. Kemudian ia memetik beberapa macam daun obat yang lalu ditumbuk dan ditorehkan pada tulang yang patah itu. Biarpun ia tidak mendapat daun-daun obat yang mujarab, tapi berkat kepandaiannya dalam ilmu menyambung tulang, maka dalam tempo kira-kira seminggu, tulang itu sudah menyambung pula.

Kera kecil itu mengenal budi. Pada keesokan harinya, ia membawa banyak bebuahan dan memberikannya pada Boe Kie. Belum cukup sepuluh hari, lengan yang patah itu sudah sembuh seanteronya.

Kejadian itu telah mengubah cara hidup Boe Kie. Sesudah disembuhkan, si kera rupanya memberitahukan kepada kawan-kawannya dan tak lama kemudian, Boe Kie sudah menjadi tabib dari kawanan binatang di lembah tersebut. Macam-macam binatang datang minta pertolongannya tapi yang paling banyak adalah sebangsa kera.

Si bocah melakukan tugas baru itu dengan segala senang hati. Sesudah mendapat pengalaman pahit getir, ia mendapat kenyataan bahwa di antara binatang ada yang lebih mengenal budi daripada manusia.

Satu bulan telah berlalu. Setiap hari ia makan daging kodok dan ia merasa sangat girang bahwa serangan-serangan racun dingin yang datang pada waktu-waktu tertentu, makin lama jadi semakin enteng.

Pada suatu pagi, ia tersadar karena mukanya diraba oleh tangan berbulu. Dengan kaget ia melompat bangun. Ternyata, tangan itu tangan seekor kera putih besar yang mendukung seekor kera kecil dan tengah berlutut di sampingnya. Kera kecil itu adalah kera yang tulangnya pernah disambung olehnya. Kera kecil berbunyi “cit-cit cat-cat” sambil menunjuk-nunjuk perut kera putih itu yang mengeluarkan bau tak sedap.

Ia mengawasi dan ternyata, bahwa di perut kera itu terdapat borok yang bernanah. Ia tertawa dan manggut-manggutkan kepala. “Baik, baik!” katanya. “Aku akan menolong”.

Si kera putih mengangsurkan tangan kirinya yang mencekal buah tho dan dengan hormat memberikannya kepada Boe Kie. Buah itu besar luar biasa. Kira-kira sebesar tinju.

Boe Kie merasa kagum, karena belum pernah ia melihat buah tho sebesar itu. “Ibu pernah bercerita bahwa di gunung Koen Loen terdapat dewa See Ong Bo yang sering mengadakan pesta buah tho dengan mengundang para dewa dan dewi,” pikirnya. “Cerita tentang See Ong Bo mungkin cerita bohong, tapi bahwa Koen Loen san memiliki Siantho (buah tho dewa) adalah suatu kenyataan.”

Seraya tersenyum ia menerima hadiah itu. “Aku biasanya tidak menerima bayaran, ” katanya. “Biarpun kau tidak membawa siantho, aku pasti akan menolong.” Sehabis berkata begitu,ia mengangsurkan tangannya dan menyentuh borok itu. Tiba-tiba ia terkejut.

Mangapa?

Borok itu sendiri yang berbentuk bundar, hanya bergaris kira-kira setengah cun. Apa yang hebat ialah daging di sekitarnya keras bagaikan batu dan bagian yang keras puluhan kali lipat lebih besar daripada boroknya sendiri.

Dari kitab-kitab ketabiban, Boe Kie belum pernah membaca borok yang seperti itu. Ia merasa, bahwa jika bagian yang keras menjadi busuk dan bernanah, binatang itu tak akan dapat disembuhkan lagi. Tapi waktu memegang nadi si kera, ia menjadi lebih heran lagi, karena denyutan nadi tidak menunjukan adanya bahaya. Ia segera menyingkap bulu yang panjang di perut binatang itu untuk diperiksa lebih teliti. Begitu melihat ia terkesinap, sebab bagian yang keras itu berbentuk empat persegi dan dipinggirannya terlihat bekas jaitan benang.

Tak dapat disangkal lagi bahwa jahitan itu adalah perbuatan manusia. Walaupun pintar, binatang kera tak bisa menjahit.

Sesudah memeriksa, Boe Kie mengerti, bahwa borok itu disebabkan oleh benda keras itu. Benda itu menonjol keluar dan menggencet pembuluh darah. Sehingga darah tak bisa mengalir leluasa, otot-otot menjadi rusak dan mengakibatkan borok yang tidak bisa sembuh. Maka itu, untuk menyembuhkannya, ia harus mengeluarkan benda itu dari perut si kera.

Soal membedah tidak jadi soal, sebab berkat ajaran Ouw Ceng Goe, ia sudah mahir dalam ilmu itu. Yang menjadi soal ialah tak punya pisau dan obat obatan. Sesudah mengasah otak beberapa lama, ia mencari sepotong batu tipis dan lalu menggosoknya sampai tajam. Sesudah itu, dengan menggunakan pisau tersebut, perlahan ia memotong perut si kera, di bagian bekas jahitan.

Kera itu yang sudah berusia sangat tua, ternyata mengerti maksud pembedahan itu. Meski merasakan kesakitan hebat, ia tidak bergerak sedikitpun jua dan menahan sakit sambil mengeluarkan rintihan tak lama kemudian, Boe Kie sudah memotong bagian atas dan bawah bekas jahitan itu. Dengan hati hati ia lalu membuka kulit perut yang sudah dipotong dan…loh! Di dalamnya terdapat bungkusan kain minyak.

Dengan rasa heran yang sangat besar, ia mencabut dan menaruh bungkusan itu ke tanah dan buru buru menutup lagi kulit yang terbuka untuk dijahit. Baru sekarang ia ingat bahwa ia tak punya jarum dan benang. Tapi si bocah tidak kekurangan akal. Ia segera mengambil gigi kodok merah yang tajam dan membuat lubang-lubang di pinggiran kulit. Sesudah itu dengan menggunakan serat kulit kayu ia membuat benang dan dengan demikian, biarpun tidak sempurna ia berhasil menjahit perut si kera, yang rubuh pingsan karena mengeluarkan terlalu banyak darah.

Selesai membedah, Boe Kie segera mencuci bungkusan kain minyak yang berlepotan darah dan membukanya. Ternyata didalam bungkusan terdapat empat jilid kitap yang sangat tipis. Karena terbungkus rapat, maka biarpun sudah beberapa lama di dalam perut kera, kitap-kitap itu masih utuh. Di atas kertas terdapat huruf-huruf yang tidak dikenal Boe Kie. Ia lalu membalik-balik lembaran dan ternyata, bahwa di antara barisan-barisan huruf yang tidak dikenal terdapat juga huruf-huruf Tionghoa.

Dengan hati berdebar-debar, Boe Kie lalu membacanya. Ia mendapat kenyataan, bahwa isi kitab adalah pelajaran untuk melatih pernafasan dan tenaga dalam. Tiba-tiba jantungnya melonjak.

Ia membaca tiga baris huruf yang sudah dikenalnya. Ia segera ingat bahwa huruf-huruf itu terdapat dalam pelajaran Siauw-lim Kioe yang kang, yang pernah dipelajarinya dalam kuil Siauw Liem Sie. Tapi waktu ia membaca terus, lanjutannya berbeda dengan pelajaran itu. Ia membuka lagi dan membaca beberapa halaman secara sepintas lalu. Sekali ia terkesiap, sebab, ia kembali menemukan tiga baris huruf yang sudah dihafalnya, yaitu pelajaran Boe Tong Lweekang Sim hoat yang diturunkan oleh mendiang ayahnya sendiri.

Jantung Boe Kie memukul keras. “Kitab apa ini”” tanyanya dalam hati. “Mengapa ada Siauw lim Kioe yang kang dan ada juga Boe Tong Lweekang Sim hoat?”

Tiba-tiba ia ingat cerita yang diturunkan oleh Taysoehoe (Thio Sam Hong) pada waktu orang tua itu mau mengajaknya pergi ke Siauw lim sie. Cara bagaimana pada sebelum meninggal dunia. Kak Wan taysoe telah menghafal Kioe Yang cin keng dengan didengari oleh Thaysoehoe, Kwee siang Kwee Liehiap dan Boe Sek taysoe yang masing-masing mendapat sebagian dari pada kitab itu, sehingga di kemudian hari Boe Tong, Goe Bie dan Siauw Lim pay bisa menjagoi dalam rimba persilatan.

“Apakah kitab ini Kioe Yang Cin Keng yang dahulu dicuri orang”” pikirnya. “Benar! Tak salah taysoehoe pernah mengatakan bahwa Kioe Yang Cin Keng ditulis di antara barisan-barisan huruf dari kitab Leng Keh Keng, huruf-huruf yang tidak karuan itu tentulah juga sansekerta.

Tapi?…Tapi mengapa kitab itu berada dalam perut kera?

—–

Kitab itu memang juga Kioe yang Cin keng, tapi pada zaman itu, tak seorangpun tahu cara bagaimana bisa menyasar kedalam perut seekor kera.

Pada sembilan puluh tahun lebih yang lalu, Siauw Siang Coe dan In Kek See telah mencuri kitab itu dari Cong Kek Sek di kuil Siauw Lim Si. Mereka dikejar oleh Kak Wan taysoe, seorang pendeta yang bertugas menjaga kamar perpustakaan itu dan waktu kabur sampai di gunung Hwa San mereka tidak dapat meloloskan diri lagi. Secara kebetulan, mereka mempunyai seekor kera dan dalam keadaan terdesak, mereka mendapat akal. Mereka membedah perut binatang itu dan menyembunyikan ke empat jilid Leng Keh Keng di dalam perut si kera. Belakangan Kak Wan, Yo Ko dan yang lain lain menggeledah badan mereka tapi kitab itu saja tidak bisa didapatkan. Akhirnya mereka dilepaskan dan diperbolehkan berlalu bersama-sama kera itu.

(Mengenai hal ini, harap baca Sin Tiauw Hiap Lu).

Demikianlah selama hampir satu abad, tak seorangpun tahu di mana adanya Kioe Yang Cin Keng. Hal ini sudah merupakan sebuah teka-teki besar dalam rimba persilatan.

Dari Hwa San, bersama-sama kera itu, Siauw Siang Coe dan In Kek See kabur ke wilayah See hek. Karena saling mencurigai sebab masing-masing kuatir dirinya akan dibinasakan kalau yang lain sudah lebih dahulu memahamkan isi kitab itu, maka baik Siauw Siang Coe, maupun In Kek See tidak berani bertindak lebih dahulu untuk mengambil kitab itu dari perut kera.

Waktu tiba di puncak Keng Sin Hong, gunung Koen Loen, mereka “saling makan” dan akhirnya kedua-duanya binasa. Mulai dari waktu itu, rahasia Kioe Yang Cin Keng tidak diketahui lagi oleh manusia manapun jua.

Ilmu silat Siauw Siang Coe sebenarnya lebih tinggi setingkat dari In Kek See. Tapi sesudah terluka di puncak Hwa San, tenaganya banyak berkurang dan waktu bertempur dengan In Kek See, ia mati lebih dulu.

Waktu mau melepaskan napasnya yang penghabisan, In Kek See telah bertemu dengan Koen Loen Sam seng Ho Ciok Too. Pada saat itu ia merasa agak menyesal akan perbuatannya dan ia meminta supaya Ho Ciok Too pergi ke Siauw Lim Sie dan memberitahukan Kak Wan bahwa kitab Leng Keh Keng berada di dalam perut seekor kera. Tapi dalam keadaan lupa ingat karena terluka berat suaranya tidak terang sehingga perkataan “keng cay kauw tiong” (kitab berada dalam kera) didengar Ho Ciok Too sebagai “kim cay yoe tiong” (emas berada dalam minyak).

Untuk menepati janji, Ho Ciok Too pergi ke Tiong goan untuk menyampaikan perkataan In Kek See kepada Kak Wan, yang tentu saja tidak mengerti apa maksudnya. Kunjungan Ho Ciok To ke Siauw Lim Si itu telah menimbulkan gelombang hebat, yang akhirnya mengakibatkan berdirinya Boe Tong Pay dan Go Bie Pay.

Kera itu ternyata bernasib baik, dengan memakan buah siantho yang luar biasa dan mendapat hawa murni dari langit dan bumi, biarpun sudah berumur hampir seabad kecuali bulunya yang berubah jadi putih, dia masih tetap kuat dan sehat. Hanya karena ada ganjelan besar perutnya kadang-kadang sakit pada tempat menyimpan kitab. Borok yang tak bisa hilang akhirnya, secara luar biasa, dia bertemu dengan Boe Kie. Bagi si kera pertemuan itu berarti hilangnya penyakit diperut, bagi Boe Kie suatu berkah.

—–

Latar belakang peristiwa itu tentu saja tak bisa ditembus Boe Kie. Sesudah mengasah otak beberapa lama tanpa berhasil, ia segera menjemput buah tho hadiah si kera dan memasukkannya ke dalam mulut. Buah itu harum dan manis luar biasa, melebihi buah apapun jua yang pernah dimakannya dilembah itu.

Setelah perutnya kenyang, di dalam hati si bocah berpikir. “Thaysoehoe pernah mengatakan, bahwa jika aku dapat memiliki Kioe Yang Sin Kang dari Siauw Lim, Boe Tong dan Goe Bie, racun dingin dalam tubuhku mungkin bisa diusir keluar. Akan tetapi, Sin Kang dalam ketiga partai itu hanya dapatkan dari kitab Kioe Yang Cin Keng. Manakala benar kitab ini kitab Kioe Yang Cin Keng dan aku mempelajari seluruhnya, maka sin kang yang dimiliki olehku akan melebihi sin kang dari ketiga partai itu. Tapi sudahlah! Perlu apa kita memikir panjang panjang. Di sini aku tak punya pekerjaan, biarlah aku mempelajarinya. Andaikata kitab itu tak berguna, atau berbahaya, paling banyak aku mati”.

Memikir begitu, ia lantas saja memasukkan jilid pertama dalam sakunya dan menaruh ketiga jilid lainnya di tanah yang kering dan kemudian menindihnya dengan batu yang besar. Ia berbuat begitu, sebab kuatir kitab-kitab itu dicuri dan di robek si kera yang nakal.

Paling dahulu, ia menghafal isi kitab dan kemudian setindak demi setindak ia berlatih menurut pelajaran itu. Selama belajar ia masih ingat, bahwa andaikata pelajaran itu bisa menghilangkan racun dalam tubuhnya, ia akan tetap terkurung di dalam lembah seumur hidup. Maka itu, ia belajar dan berlatih dengan pikiran tenang dan tak tergesa-gesa.

Berhasil hari ini baik, berhasil besokpun baik juga. Tapi, justru karena ketenangan itulah, ia mendapat kemajuan yang sangat pesat. Belum cukup empat bulan, ia sudah dapat melayani ilmu-ilmu yang tertulis dalam jilid pertama.

Dahulu pada waktu Tat Mo Couw See mengubah Kioe Im dan Kiu Yang Cin Keng, ia sengaja mengubahnya sedemikian rupa, sehingga nilai kedua kitab itu sama tinggi dan yang satu menutup dari kekurangan dari yang lain. Kiu Yang mengutamakan melatih ilmu pernafasan dan cara-cara memperpanjang umur, sedang Kiu Im mementingkan ilmu-ilmu silat yang merobohkan lawan. Mengenai Lweekang, Kioe Yang lebih unggul, tapi dalam jurus-jurus silat yang aneh dan luar biasa, Kioe Im-lah yang lebih lihai!

Dahulu, waktu Tau Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong mencuri jilid kedua dari Kioe Im Cin Keng, mereka telah berhasil mempelajari ilmu-ilmu silat yang luar biasa, yang tak terdapat pada Kioe Yang Cin Keng. Akan tetapi seseorang yang menyelami Kioe Yang Cin Keng dan sudah melatih diri menurut pelajaran itu sampai puncak yang tinggi, maka orang itu takkan dapat ditaklukkan dengan pukulan atau ilmu silat yang manapun jua.

Sementara itu, setelah menyelesaikan latihan jilid yang pertama. Boe Kie mendapat kenyataan, bahwa ia sudah dapat hidup lebih lama daripada batas waktu yang disebut oleh Ouw Ceng Goe. Sebaliknya daripada binasa, bukan saja ia tetap sehat, jangka waktu antara serangan racun dingin juga makin panjang dan penderitaannya selama serangan makin lama makin berkurang.

Ia mendapat kenyataan, bahwa hawa dalam tubuhnya dapat mengalir dengan leluasa. Sekarang ia hampir tak bersangsi lagi, bahwa kitab itu benar Kioe Yang Cin Keng adanya. Jikalau bukan, tapi tetap tidak dapat disangkal, bahwa pelajaran kitab itu mempunyai khasiat yang besar untuk kesehatan badan.

Sesudah jilid pertama, ia mulai mempelajari jilid kedua.

Karena saban-saban makan daging kodok merah dan buah tho luar biasa yang dibawa oleh si kera putih, maka baru saja ia mempelajari sebagian kecil dari jilid kedua, racun dingin didalam tubuhnya sudah terusir seanteronya. Menurut pantas, sesudah racun dingin menghilang, dimakannya terus daging kodok merah akan mengakibatkan lain keracunan. Tapi syukur berkat latihan Kioe Yang Cin Keng yang sudah agak maju, dan berkat buah tho yang mempunyai khasiat menolak racun, maka racun “panas” dari daging kodok bukan saja tidak membahayakan, tapi malah membantunya dalam mempercepat dimilikinya Sin kang.

Setiap hari, disamping belajar dan berlatih serta bermain-main dengan kawanan kera, Boe Kie memetik buah-buahan untuk menangsal perut dan saban kali mau makan, ia selalu membagi separuhnya kepada Coe Tiang Leng yang berdiam di luar terowongan.

Ia hidup bebas dan riang gembira dan penuh kepuasan, tapi Coe Tiang Leng sendiri mengalami kesengsaraan yang tidak enteng. Dengan hidup atas belas kasihan Boe Kie, siang malam orang tua itu berdiam di atas “panggung” yang tertutup salju dan saban bertemu dengan musim dingin, hebatnya penderitaan sukar dilukiskan dengan kata.

Sesudah berlatih dengan pelajaran jilid ketiga Boe Kie sudah tak takut lagi dengan hawa dingin. Kalau lagi gembira, ia menerjun dan mandi di dalam kolam dingin. Dengan mengalirnya hawa “tulen” di seluruh tubuh, begitu lekas kulitnya tersentuh air dingin, secara wajar tubuhnya lalu mengeluarkan tenaga menolak. Gigi kodok merah memang sangat tajam, tapi pada waktu itu, tajamnya gigi tak bisa melukai lagi badannya.

Tapi, makin tinggi pelajaran Kioe Yang Cin Keng jadi makin sulit dan kemajuannyapun jadi makin perlahan. Untuk menyelami jilid ke tiga, ia harus menggunakan tempo kurang lebih setahun. Sedang jilid yang terakhir, yaitu jilid ke empat, memerlukan waktu dua tahun lebih.

Pada suatu malam Boe Kie membuka halaman terakhir dari jilid terakhir. Ia girang bercampur terharu. Sudah empat tahun lebih ia berdiam di lembah itu, dari bocah, ia sudah menjadi pemuda yang bertubuh jangkung. Selama itu, mungkin sekali di dalam dunia sudah terjadi perubahan-perubahan besar yang tidak diketahui olehnya.

Dengan banyaknya memperoleh pengalaman pahit getir selama yang dirasakannya, maka penghidupan di lembah lebih nyaman bagi Boe Kie. Tidak ada hasrat untuk terjun ke dalam pergaulan, di mana Boe Kie menganggap banyak manusia yang pandai berpura-pura dan ia lebih senang bergaul dengan kera-kera yang umumnya mempunyai sifat yang polos, yang menyenangkan dan dapat diajak bermain sebagai kawan sejati.

Dengan Lweekang yang sangat dalam, Boe kie telah hidup dalam dunianya sendiri. Banyak masalah dan persoalan yang sesungguhnya mengganggu hatinya, sering Boe Kie terangsang oleh keinginan-keinginan untuk terjun dalam dunia persilatan lagi, dalam dunia pergaulan, namun perasaan-perasaan seperti itu ditindasnya. Dan banyak pula orang-orang yang berkenan di hatinya yang memiliki budi kebaikan terhadap dirinya, tapi sayang sekali perasaan takut terhadap lingkungan pergaulan di antara manusia-manusia yang pandai berpura-pura itulah yang menyebabkan Boe Kie akhirnya memutuskan untuk berdiam selamanya di dalam lembah itu.

Manusia memang sering mengalami peristiwa-peristiwa yang berlawanan dengan kehendak hatinya, berlawanan dengan keinginannya, bertentangan dengan kemauannya. Dan peristiwa-peristiwa yang terjadi itu memang sering kali terjadi di luar jangkauan dan kehendak manusia, sebab akhirnya harus diakui yang menentukan adalah Thian (Tuhan) yang maha kuasa.

Demikian juga yang terjadi di diri Boe Kie. Walaupun dia sesungguhnya bermaksud untuk hidup tenang tentram di lembah itu, hidup dengan penug bahagia, jauh dari sifat-sifat buruk dan berpura-pura dari manusia-manusia yang pandai sekali bersandiwara dalam hidup ini, tetapi rupanya Thian menghendaki lain, sehingga akhirnya Boe Kie akan terlibat dalam beberapa peristiwa yang hebat, yang akhirnya memaksa Boe Kie harus menyerah terhadap keadaan. Yang akhirnya akan memaksa Boe Kie harus mengakui bahwa manusia hidup di dunia ini memang harus bermasyarakat.

Seperti di ketahui, Boe Kie berada di lembah yang menyenangkan bagi hatinya, ditemani oleh kawanan kera-kera. kawanan kera itu merupakan sahabat yang menyenangkan, disamping itu merupakan kawan\-kawan yang memiliki sifat-sifat yang masih murni dan polos, bebeda dengan manusia-manusia yang pernah dikenal oleh Boe Kie, yang pandai sekali berpura-pura.

Dalam setengah tahun ini, kalau hatinya senang, Boe Kie sering mengikuti kawanan kera memanjat lereng gunung yang curam dan bermain-main di situ sambil memandang lembah-lembah yang berada jauh di bawah.

Dengan memiliki kepandaian yang sekarang dimiliki, kalau mau dengan mudah ia akan dapat keluar dari kurungan itu. Ia dapat memanjat tebing-tebing yang tidak dapat dipanjat oleh manusia lains. Tapi ia justru tidak mau.

Sesudah mendapat banyak pengalaman pahit getir dan bertemu dengan banyak manusia yang pandai berpura-pura, hatinya jadi dingin. “Perlu apa aku masuk lagi ke dalam dunia pergaulan untuk mencari kepusingan”” pikirnya. “Aku sudah merasa puas dengan hidup d isini sampai hari tua.”

Hari itu dengan Lweekangnya yang sangat kuat, ia mengorek sebuah lubang yang dalamnya kurang lebih 3 kali di batu karang di samping mulut terowongan. Sesudah itu, ia membungkus keempat jilid Kioe Yang Sin Kang, In Keng dari Ouw Ceng Goe dan Tok Keng dari Ong Lan Kouw dengan menggunakan kain minyak yang dikeluarkan dari perut kera putih. Ia masukkan bungkusan kitab-kotab itu dalam lubang yang lalu ditutupnya dengan batu-batu dan tanah.

“Karena jodoh yang sangat luar biasa, aku mendapatkan kitab itu dari perut seekor kera, ” katanya dalam hati. “Entah kapan dan entah siapa yang akan datang di sini lagi dan menggali keluar kitab-kitab yang ditanam olehku.” Sambil mengerahkan Lweekang, ia segera menulis enam huruf di atas batu dengan jerijinya. “Tempat Thio Boe Kie menyimpan kitab.”

Selama belajar dan berlatih, karena repotnya ia sama sekali tidak merasa kesepian. Tapi pada malam itu, sesudah menyelesaikan pelajaran dengan hasil yang gilang-gemilang, ia merasa suatu kekosongan dalam hatinya dan ingin sekali bertemu dengan seorang manusia lain untuk beromong-omomg.

“Di sini, aku tak usah takuti Coe Peh peh,” pikirnya. “Biar sekarang aku coba menemui dia.”
Memikir begitu, ia lantas saja melompat naik ke lubang terowongan dan berlutut untuk mencoba merangkak masuk. Tapi lubang itu ternyata terlalu kecil untuk badannya.

Pada empat tahun yang lalu, ia baru berusia lima belas tahun dan tubuhnya masih kurus kecil. Tapi sekarang dalam usia 19 tahun, ia telah menjadi seorang dewasa dan badannya sudah berubah banyak. Tapi Boe Kie, sesudah mendalami Kioe Yang Cin Keng, dapat diatasi olehnya. Ia segera menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan ilmu Siok Koet Kang (ilmu mengerutkan tulang-tulang). Dengan ilmu itu, daging dan otot-otot antara tulang-tulang mengerut sehingga tulang-tulangnya dapat dikatakan berkumpul menjadi satu. Dengan demikian, dia dapat masuk ke dalam terowongan.

Waktu ia tiba di mulut terowongan, Coe Tiang Leng sedang tidur pulas sambil bersandar di sebuah batu besar. Ia menepuk pundak orang tua itu lantas saja tersadar. Bukan main kagetnya Coe Tiang Leng. Ia melompat bangun dan sambil mengawasi Boe Kie dengan mata membelalak, ia berkata dengan suara terputus putus. “Kau…kau”.

“Coe Peh Peh,” kata Boe Kie seraya tersenyum. “Benar, aku Boe Kie”.

Coe Taing Leng kaget tercampur girang, mendongkol tercampur benci. Sesudah mengawasinya beberapa lama, barulah ia berkata pula, “Kau sudah besar sekali…Hm”. Mengapa selama bertahun-tahun, kau tak pernah keluar biarpun aku memohon berulang-ulang?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: