Kumpulan Cerita Silat

10/08/2008

Kisah Membunuh Naga (30)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:01 am

Kisah Membunuh Naga (30)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Eeyore dan Yinyeksin)

Menurut peraturan keluarga Coe, pagi belajar silat, sore belajar surat. Ilmu silat keluarga tersebut mempunyai sangkut paut yang sangan erat denga Soe hoat (seni menulis surat indah). Mungkin tinggal seorang memiliki Soe Hoat, makin tinggi pula ilmu silatnya.

Untuk mempelajari ilmu surat, Coe Kioe Tin mempunyai sebuat kamar tulis yang kecil, dengan hiasan idah. Di tembok sebelah timur tergantung selembar tulisan sajak, buah kalam penyair Touw Bok, sedang tembok sebelah utara di antara dua lukisan san soei (pemandangan alam) terdapat tulisan Si Hie tiap, karya Hway-so Hweeshio.

Setiap kali berlatih menulis huruf-huruf indah Kiao Tin selalu mengajak Boe Kie dan memberi petunjuk-petunjuk. Dengan duduk berhadapan, mereka belajar bersama-sama. Kalau capek, mereka berhenti menulis dan beromong-omong sambil tertawa-tawa.

Dalam latihan ilmu silatpun, keluarga Coe memperlakukan bocah itu sebagai seorang anggota keluarga. Coe Tiang Leng memperbolehkan Boe Kie turut serta dalam ruangan latihan dan tempo-temp menyuruh anak itu berlatih bersama-sama putrinya. Ilmu silat keluarga Coe dan silat yang dikenal Boe Kie agak berbeda. Akan tetapi, pada hakekatnya ilmu silat di seluruh dunia bersumber satu, maka sesudah memperhatikan beberapa kali, Boe Kie dapat mengikuti latihan tanpa banyak kesukaran. Toang Leng dan putrinya tidak berlaku pelit mereka mengajar si bocah dengan sungguh hati.

Semenjak meninggalkan pulau Peng Hwee To, Boe Kie selalu hidup dalam penderitaan. Baru sekarang ia dapat mencicipi penghidupan tenteram yang bahagia.

Tanpa merasa satu bulan setengah sudah lewat. Hari itu pada pertengahan Jie-gwee selagi Kioe Tin dan Boe Kie berlatih menulis huruf-huruf indah tiba-tiba Siauw Hong masuk seraya berkata, “Siocia, Yauw Jie-ya sudah kembali dari Tiong goan.”

(Jie-ya = Tuan kedua)

Si nona kegirangan. Sambil melempar pit, ia berteriak. “Bagus! Aku sudah menunggu setengah tahun lebih.” Ia menarik tangan Boe Kie, “Mari kita menemui Yauw Jie-siok, aku tak tahu, apa ia membeli barang-barang yang kupesan.”

(Jie-siok = Paman kedua).

Dengan berlari mereka pergi ke kota thia (ruangan tengah).

“Siapa Yauw Jie-siok?” tanya si bocah.

“Ia adalah saudara thia thia,” jawabnya “Namanya Yauw Ceng Coen, bergelar Cian Lie Toei hong (Dalam seribu lie mengejar angin). Tahun yang lalu ayah telah meminta padanya pergi ke Tiong goan untuk mengantarkan beberapa rupa barang. Aku memesan supaya ia membeli yan cie dan puput dari Hang cie, jarum sulam, benang dan gambar-gambar lukisan dari Souw cioe, pit bak, contoh-contoh huruf dan buku-buku. Aku tak tahu, apa ia perhatikan pesanku itu.”

Coe-kee-choeng (Perkumpulan keluarga Coe) terletak di See hek (Wilayah barat) dalam lingkungan gunung Koe Loen san. Alat-alat kecantikan, buku-buku, perabot tulis dan sebagainya yang diperlukan oleh nona Coe tak bisa didapat dalam jarak ribuan lie. Tempat itu terpisah berlaksa lie dari daerah Tiong goan, sedang sekali pulang perlu memerlukan tempo dua tiga tahun. Maka itulah, saban ada orang yang mau pergi ke Tiong goan, Coe Kioe Tin selalu memesan ini atau itu dalam jumlah yang besar.

Tapi, begitu tiba di ambang pintu, mereka terkejut karena mendengar suara tangisan. Dengan hati berdebar-debar mereka bertindak masuk. Hati mereka mencelos sebab melihat Coe Tiang Leng sedang berlutut di lantai sambil berpelukan dan menangis dengan seorang lelaki kurus jangkung yang mengenakan pakai berkabung.

“Yauw Jie-siok!” teriak Kioe Tin seraya menubruk.

Sang ayah menyapu air matanya dan berkata dengan suara parau. “Ah Tin jie! Toa in jien (tuan penolong besar) kita Nyonya…Thio Ngo…ya…telah meninggal dunia!”

“Tapi…tapi bagaimana bisa begitu?” tanya si nona dengan mata memdelik. “Bukanlah, sesudah menghilang sepuluh tahun In kong (paduka penolong) sudah kembali?”

Lelaki setengah tua yang mengenakan pakaian berkabung itu Coan-lie Toei hong Yauw Ceng Coan menengok seraya berkata dengan suara terputus-putus. “Kita yang berdiam di tempat jauh…sukar mendapat warta. Sesudah aku tiba di Tiong goan baru ku tahu, bahwa…bahwa Tio Iajin bersama Thio Hoejin sudah meninggal dunia pada kita-kita empat tahun berselang dengan…Dengan membunuh diri sendiri! Aku mendapat warta itu sebelum mendaki Boe tong san. Atku tidak percaya. Belakangan sudah tiba di boe tong san dan bertemu dengan Song Toa hiap Jie hiap barulah kutahu bahwa warta itu bukan cerita kosong…Hai!”

Betapa besar rasa kaget Boe Kie dapatlah dibayangkan. Sesudah mendengar keterangan itu ia tidak bersangsi lagi, bahwa yang dinamakan sebagai “Toa-injin Thio Ngoya” adalah ayahandanya sendiri. Melihat kesedihan Coe Tiang Leng, Yau Ceng Coan dan Coe Kioe Tie, yang juga turut mengucurkan air mata hampir-hampir, ia melompat menubruk dan memperkenalkan diri sendiri. Tapi ia segera mengurungkan niatannya sebab kuatir tidak dipercaya dan orang bahkan bisa menduga jelek atas dirinya.

Beberapa saat kemudian Coe Hoejin muncul dengan dipapah oleh seorang budak dan sambil menangis ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Yauw Ceng Coan. Karena sedang ditindih dengan kedukaan, Yauw Ceng Coen sampai lupa untuk menjalankan peradatan kepada gie-so nya (istri dari saudara angkat). Ia segera menuturkan cara bagimana Thio Coei San bersama istrinya telah binasa dengan membunuh diri.

Sambil seraya menggigit gigi, sebisanya Boe Kie menahan rasa sedihnya. Tapi biarpun begitu, ia tidak dapat mencegah mengucurnya air mata. Hanya karena semua orang bersedih hati mereka tidak memperhatikan tangisan si bocah.

Sekonyong-konyong tangan Coe Tiang Leng berkelebat dan…”prak!”…sebuah meja delapan persegi somplak. “Jie-tee!” katanya dengan suara keras. “Dengan tegas dan dengan jelas, aku minta kau memberitahukan namanya orang-orang yang telah naik ke Boe tong dan mendesak begitu rupa sehingga In Kong terpaksa membunuh diri.”

“Sesudah mendapat tahu tentang kebinasaan In Kong, sebenarnya aku harus buru-buru pulang untuk memberi laporan kepada Taoko,” kata Yauw Ceng Coan. “Tapi sebab ingin mengetahui nama musuh-musuh itu, maka aku lalu menyelidiki. Belakangan ku dengar, bahwa di samping tiga pendeta suci dari Siauw Lim Pay, jumlah musuh bukan sedikit. Perlahan-lahan aku mengumpulkan keterangan sehingga oleh karenanya aku pulang sangat terlambat.” Sesudah itu ia segera menyebutkan nama-nama semua orang yang turut hadir dalam peristiwa berdarah di Boe tong san.

“Jie-tee,” kata Coe Tiang Leng dengan sukar duka, “Mereka itu adalah jago-jago terutama dalam rimba persilatan dan satupun tak akan dapat ditandingi oleh kita. Tapi budi Thio Ngoya berat seperti gunung, sehingga biarpun badan kita menjadi tepung, kita mesti juga coba membalas sakit hati Nyonya”.

“Tak salah apa yang dikatakan Taoko,” kata Yauw Ceng Coan. “Jiwa kita telah dihidupkan pula oleh Thio Ngoya dan sesudah itu kita bisa menyambung umur selama belasan tahun, adalah sepantasnya saja kalau sekarang kita membuang jiwa demi kepentingan Ngoya. Siauw-tee hanya merasa menyesal, bahwa siaw-tee tidak dapat mencari putera Ngoya. Alangkah baiknya jika kita berhasl mencarinya dan mengajak ia ke sini supaya kita dapat merawatnya seumur hidup.”

Mendengar itu, Coe Hoejin segera minta penjelasan lebih lanjut mengenai putranya Coei San. Yauw Ceng Coan menyatakan, bahwa sebegitu jahu diketahuinya, putera tuan penolong itu, telah mendapat luka berat dan pergi ke suatu tempat untuk berobat. Bahwa sepanjang keterangan, anak itu baru berusia kira-kira sembilan tahun dan bahwa Thio Sam Hong berniat untuk mengangkat dia sebagai Ciang boenjin Boe tong pay di belakang hari.

Coe Tiang Leng dan istrinya merasa sangat girang dan mereka segera berlutut untuk menghaturkan terima kasih kepada Langit dan bumi atas belas kasihan yang sudah dilimpahkan kepada suami istri Thio Coei San, yang biar bagaimanapun juga, ternyata sudah mempunyai turunan.

“Taoko jinson yang usianya ribuan tahun benar, soat-lian dari gunung Thian san, emas hitam pisau dan lain-lain barang yang dititipkan Toako sudah aku serahkan kepada Thio Kongcu,” kata pula Yauw Ceng Coan.

Sang kakak mengangguk dan berkata. “Kau benar, aku setuju dengan tindakanmu itu.”

“Tin jie,” kata Coe Tiang Leng berpaling kepada puterinya, “kau boleh menceritakan kepada saudara Thio, cara bagaimana keluarga kita telah ditolong oleh Thio Ngoya”.

Kioe Tin segera menuntun tangan Boe Kie dan mengajaknya pergi ke kamar ayahnya. “Itulah dia!” kata si nona sambil menunjuk sebuah lukisan yang di gantung di tengah-tengah tembok. Di samping gambar itu terdapat tulisan yang berbunyi seperti berikut. “Gambar peringatan mengenai pertolongan yang diberikan oleh Tuan penolong Thio Coei San.”

Membaca nama mendiang ayahnya, air mata Boe Kie lantas saja berlinang-linang.

Lukisan itu memperlihatkan sebidang lapangan rumput di pedusunan, di mana terdapat seorang pemuda gagah dengan tangan kiri memegang gaetan perak dan tangan kanan bersenjata Poan koan-pit yang sedang pertempuran melawan lima musuh. Boe Kie lantas saja mengenali, bahwa pemuda itu adalah mendiang ayahnya sendiri. Di atas tanah tergeletak dua orang yang terluka berat, satu Coe Tiang Leng dan satu lagi Yauw Ceng Coan. Di dekat mereka terdapat dua orang lain yang sudah binasa. Di sudut sebelah kiri kelihatan berdiri seorang wanit muda yang dengan paras muka ketakutan, sedang memeluk satu bayi perempuan. Wanita muda itu adalah Coe Heojin.

Boe Kie mengawasi si bayi yang pada pojok mulutnya terdapat setitik tahi lalat dan lantas tahu, bahwa bayi itu bukan lain daripada Coe Kioe Tin sendiri. Kertas dari lukisan itu sudah kuning dan sudah usia sedikit belasan tahun.

Kioe Tin lantas saja menceritakan sejarah lukisan itu. Tak lama sesudah ia terlahir, ayahnya melarikan diri ke daerah sebelah barat untuk menyingkir dari seorang musuh yang sangat lihai. Tapi di tengah jalan, mereka dihadang oleh rombongan musuh. Dua orang adik seperguruan ayahnya binasa dalam pertempuran, sedang orang tua itu sendiri dan Yauw Ceng Coan sudah roboh dengan luka berat. Pada detik-detik yang sangat berbahaya, secara kebetulan Thio Coei San lewat di situ dan segera memberi pertolongan dengan memukul mundur musuh-musuh itu.

Menurut perhitungan, kejadian itu telah terjadi pada waktu sebelum Coei San menghilang selama sepuluh tahun.

Sesudah selesai menutur, si nona berkata pula dengan paras muka berduka. “Karena berada di tempat jauh, warta tentang kembalinya Thio In Kong baru didapat kami pada tahun-tahun yang lalu. Sebab sudah bersumpah untuk tidak menginjak lagi wilayah Tiong goan, ayah terpaksa meminta antar dengan membawa beberapa rupa barang antaran. Siapa nyana…” Bicara sampai di situ seorang kacung masuk dan memberitahukan bahwa si nona harus segera pergi ke ruang sembahyang.

Cepat-cepat Kioe Tin menukar pakai putih dan bersama Boe Kie ia segera pergi ke ruang belakang, di mana sudah diatur sebuah meja sembahyang dengan lengpay yang tertulis seperti berikut “Kedudukan roh yang angker dari Tuan Penolong Thio Thayhiap Coei San dan Thio Hoejin.”

Begitu mereka masuk, Coe Tiang Leng bersama istrinya dan Yauw Ceng Coan sudah berlutut di depan meja sembahyang sambil menangis sedih dan mereka pun lantas saja berlutut di belakang ketiga orang tua itu.

Sambil mengusap-usap kepala Boe Kie, Coe Tiang Leng berkata dengan suara terharu. “Saudara kecil, bagus…Thio Thayhiap adalah seorang kesatria, seorang laki-laki jarang tandingan dalam dunia yang lebar ini. Walupun kau tidak mengenalnya, bukan sanak dan bukan kadang, tapi memang pantas sekali jika kau mengunjuk hormat kepadanya.”

Boe Kie menunduk, supaya orang tua itu tidak melihat matanya yang mengembang air. Ia merasa, bahwa sekarang ia lebih-lebih tidak dapat mengakui, bahwa ia adalah putera Thio Coei San, Yauw Ceng Coan mendapat keterangan yang tidak begitu tepat dan mengatakan bahwa ia baru berusia kira-kira sembilan tahun. Jika ia membuka rahasianya sebagai putera Thio Coei San, merekapun belum tentu akan percaya.

“Toako,” kata Yauw Ceng Coan denga suara perlahan, “bagaimana dengan Cia-ya…?”

Coe Tiang Leng batuk-batuk dan meliriknya. Yauw Ceng Coan mengerti maksud kakaknya, ia mengangguk sedikit dan berkata pula, “Bagaimana dengan cia-gie? Apa Toako mau mengumumkan perkabungannya?”

“Kau putuskan saja sendiri.” Jawabnya.

Boe Kie jadi heran, “Tadi terang-terang kudengar Cia-ya,” katanya dalam hati. “Mengapa sekarang jadi cia-gie? Apa Cia-ya dimaksudkan sebagai ayah angkatku?” (Cia ya bearti tuan Cia sedang cia-gie adalah pemberitahuan tentang perkabungan).

Malam itu Boe Kie tak bisa tidur. Di depan matanya kembali terbayang kejadian-kejadian di masa silam, pada waktu ia masih berada di pulau Peng hwee-to bersama kedua orangtuanya dan ayah angkatnya. Keesokan paginya, berbareng dengan suara tindakan, hidungnya mengendus bebauan harum dan sesaat kemudian, Coe Kioe Tin masuk dengan membawa paso air cuci muka.

Boe Kie terkejut. Ia melompat bangun seraya berkata. “Tin cie…mengapa…mengapa kau…”

“Semua pelayan dan budak sudah pergi,” jawabnya “Apa halangannya jika aku melayani kau sekali dua kali?”

Bukan main rasa herannya si bocah. “Tapi, mengapa…?” tanyanya.

“Sudah lama Thia-thia menyuruh mereka pergi,” kata si nona. “Setiap orang diberikan uang dan disuruh pulang, karena …karena rumah ini sangat berbahaya.” Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pua, “Sesudah kau cuci muka, ayah ingin bertemu dengamu.”

Dengan hati tak enak, buru-buru Boe Kie mencuci muka dan sesudah itu, ia menyisir rambut dengan dibantu oleh si nona, yang kemudian mengajaknya pergi ke kamar buku Coe Tiang Leng. Dalam gedung itu terdapat seratus lebih pelayan dan budak, tapi sekarang, satupun tak kelihatan mata hidungnya.

Begitu lekas mereka masuk ke dalam kamar buku, Coe Tiang Leng segera berkata. “Saudara Thio aku menghargai kau sebagai seorang laki-laki sejati dan sebenarnya aku ingin menahan engkau berdiam di sini sampai sembilan atau sepuluh tahun. Tapi karena terjadinya satu perubahan luar biasa, maka kita terpaksa harus segera berpisah. Saudara Thio, kumohon kau tidak menjadi kecil hati.” Sambil mengangkat dulang yang berisi dua belas potong emas, dua belas potong perak dan sebilah pedang pendek, ia berkata pula, “Inilah sedikit tanda mata dari kamu bertiga suami-istri dan anakku. Kamu harap saudara Thio suka menerimanya. Kalau loohoe masih bisa hidup terus, di belakang hari kita akan bisa bertemu pula…” Karena terharu, ia tidak dapat meneruskan perkataannya.

Boe Kie mundur setindak dan seraya membungkuk, ia berkata dengan suara nyaring. “Coe pehpeh, biarpun masih kecil dan tak punya guna, siauwtit bukan manusia yang takut mati. Pada saat keluarga Coe Pehpeh menghadapi marabahaya; biar bagaimanapun jug siauwtit tak akan menyingkir seorang diri. Walaupun siauwtit tak bisa membantu Pehpeh dan Ciecie, tapi siauwtit ingin hidup atau mati bersama-sama kalian.”

Coe Tiang Leng coba membujuk berulang-ulang, tapi si bocah tetap pada pendiriannya.

Akhirnya sesudah kewalahan, orang tua itu menghela napas seraya berkata. “Hai! Anak kecil memang tidak tahu bahaya. Sekarang aku terpaksa menceritakan persoalannya kepadamu. Tetapi kalau lebih dahulu harus bersumpah, bahwa kau tak akan membocorkan rahasia ini dan juga kau tidak akan mengajukan pertanyaan apapun jua.”

Boe Kie segera berlutut dan mengucapkan sumpahnya. “Langit menjadi saksi, bahwa aku tidak akan membocorkan atau mengajukan pertanyaan mengenai keterangan yang akan diberikan oleh Pehpeh. Jika aku melanggar janji ini biarlah aku binasa dengan badan dicincang laksaan golok, badanku hancur dan namaku busuk.”

Dengan terharu Coe Tiang Leng membangunkan Boe Kie. Ia melongok keluar jendela dan kemudian melompat ke atas genting untuk menyelidiki kalau-kalau ada musuh yang bersembunyi. Sesudah itu, barulah ia kembali ke kamar buku dan bicara bisik-bisik. “Kau hanya boleh mendengar apa yang dikatakan olehku, tapi tidak boleh mengajukan pertanyaan, sebab tembok ada kupingnya.”

Boe Kie mengangguk.

“Kemarin Yauw Jie-tee pulang dengan membawa seorang lain,” bisik orang tua itu. “Orang itu she Cia bernama Soen, bergelar Kim-mo Say ong””

Boe Kie terkesiap, badannya bergemetaran.

“Cia tayhiap itu adalah saudara angkat Thio In-kong,” Coe Tiang Leng melanjutkan penuturannya. “Ia bermusuhan hebat dengan banyak partai dan tokoh rimba persilatan. Bahwa Tho Inkong suami-istri sampai membunuh diri adalah karena tidak mau memberitahukan di mana tempat bersembunyinya saudara angkat itu. Aku sendiri tak tahu, cara bagaimana Cia thayhiap akhirnya bisa pulang ke Tionggoan dan begitu kembali, ia segera mengamuk dan membinasakan banyak orang untuk membalas sakit hatinya Thio Inkong. Tapi biar bagaimanapun gagah pun jua, satu orang tak akan bisa melawan musuh yang berjumlah besar, sehingga akhirnya ia mendapat luka berat.”

“Yauw Jie-tee adalah seorang yang pintar dan berhati-hati. Ia berhasil menolong Cia Thayhiap dan membawanya kemari. Rombongan musuh terus mengejar dan menurut dugaan, tak lama lagi mereka akan datang ke sini. Kami sudah pasti tak akan bisa melawan mereka. Tapi aku sudah mengambil keputusan untuk membalas budi dan bersedia untuk binasa dalam melindungi Cia Tayhiap. Tapi kau sendiri tak punya sangkut-paut dengan urusan ini. Maka dari itu, perlu apa kau turut membuang jiwa? Saudara Thio hanya ini saja yang dapat kukatakan. Sekarang masih ada tempo, kau pergilah lekas-lekas! Begitu lekas rombongan musuh tiba, batu giok akan hancur dan kau tak akan keburu menyingkir lagi.”

Boe Kie mendengar itu dengan jantung memukul keras. Ia kaget bercampur girang. Mimpi pun ia tak pernah mimpi, bahwa ayah angkatnya bisa datang di situ. Tanpa merasa ia berkata. “Di mana?”

Coe Tiang Leng memekap mulutnya seraya berbisik. “Sut! Musuh lihai luar biasa. Sedikit saja tidak hati-hati, jiwa Cia Tayhiap bisa melayang. Apa kau lupa sumpahmu?”

Si bocah manggutkan kepalanya.

“Saudara Thio,” kata pula orang tua itu, “aku sudah bicara seterang-terangnya. Aku menganggap kau sebagai sahabat dan aku telah membuka rahasia hatiku. Sekarang, kau berangkatlah.”

“Sesudah mendengar penuturan Coe pehpeh aku lebih-lebih tak akan menyingkirkan diri,” kata si bocah dengan suara tetap.

Coe Tiang Leng menghela napas, “Ayolah! Kita harus bertindak sekarang juga,” katanya. Ia segera bertindak keluar pintu dengan diikuti oleh Kioe Tin dan Boe Kie.

Coe Hoejin dan Yauw nCeng Coan sudah di luar pintu dan di samping mereka terdapat beberapa bulatan besar, seperti orang mau merantau ke tempat jauh. Boe Kie menengok ke sana-sini tapi ia tak melihat ayah angkatnya.

Coe Tiang Leng segera mengeluarkan bahan api dan menyalakan obor yang lalu digunakan untuk menyulut pintu tengah. Dalam sekejap, api merembet ke atas. Ternyata gedung yang besar itu sudah disiram dengan minyak tanah.

Semenjak dahulu diwilayah See-hek, di daerah pegunungan Thuansan dan Koen Loen, terdapat sumber sumber minyak tanah yang sering mengalir keluar bagian air mancur. Perkampungan Coe kee chung hampir satu li panjangnya yang terdiri dari rumah-rumah besar. Tapi dengan menggunakan minyak, dalam sekejap mata, seluruh perkampungan sudah berubah menjadi lautan api.

Boe Kie mengawasi berkobarnya api dengan perasaan terharu. “Harta yang dikumpulkan Coe Pehpeh dengan susah-payah selama bertahun-tahun dalam sekejap menjadi tumpukan puing,” katanya di dalam hati. “Dan itu semua demi kepentingan ayah angkat. Laki-laki gagah seperti Coe pehpeh sungguh sukar dicari tandingannya di dalam dunia.”

Malam itu Coe Tiang Leng dan istrinya, Koe Tin dan Boe Kie mengendap di dalam sebuah gua. Dengan senjata terhunus, lima orang murid yang dipercaya menjaga di luar gua, di bawah pimpinan Yauw Ceng Coan.

Pada hari ketiga, api kebakaran baru menjadi padam. Untung juga musuh belum tiba.

Malam itu, Coe Tiang Leng mengajak semua orang meninggalkan gua dan masuk ke dalam sebuah terowongan di bawah tanah yang sangat panjang. Sesudah berjalan beberapa lama, mereka bertemu dengan beberapa kamar batu di mana terdapat makanan, air dan sebagainya. Tapi hawa di situ sangat panas.

Melihat Boe Kie menyusut keringat tak henti hentinya, Kioe Tin tertawa dan bertanya. “Adik Boe Kie, adalah kau tahu, mengapa hawa di sini terlalu panas? Dapatkah kau menebak, di mana berada kita sekarang?”

Tiba-tiba bocah mengendus bau asap dan ia lantas saja tersadar, “Ah!” katanya. “Kita berada di bawah Coe-kee-chung”.

“Kau sungguh pintar,” memuji si nona sambil tertawa.

Boe Kie merasa sangat kagum. Dengan siasat bumi hangus, musuh pasti tidak akan menduga bahwa Cia Soen sebenarnya bersembunyi di bawah tempat kebakaran dan musuh tentu akan mengejar ke tempat lain.

Di antara kamar-kamar batu itu ada sebuah yang pintu-pintunya besi dan ditutup rapat. Boe Kie menduga, bahwa ayah angkatnya berada dalam kamar tersebut. Tapi, biarpun sangat ingin bertemu dengan orang tua itu, ia tidak berani menanyakan atau bertindak sembarangan. Ia mengerti, bahwa setiap tindakan yang ceroboh dapat berakibat hebat.

Setelah berdiam di situ kira-kira setengah hari, hawa panas perlahan-lahan mulai mereda. Baru saja Coe Tiang Leng dan yang lain-lain menggelar selimut untuk mengaso, sekonyong-konyong terdengar suara tindakan kuda mendatangi dari sebelah kejauhan. Tak lama kemudian, kuda-kuda itu sudah berada di atas tempat persembunyian mereka.

“Api sudah padam lama, bangsat Coe Tiang Leng pasti sudah kabur ke tempat lain dengan membawa Cia Soen,” demikian terdengar suara seorang. “Ayolah, kejar!” Sesaat kemudian, terdengar suara kaki kuda yang makin lama jadi makin jauh. Ternyata, terowongan tersebut dan Coe kee-ching dihubungkan dengan sebatang pipa besi, sehingga setiap suara di muka bumi bisa didengar jelas dalam lorong di bawah tanah.

Pada malam itu, lima rombongan musuh lewat di atas. Rombongan Koen loen-pay, kie-keng pang dan dua rombongan terdiri dari tujuh delapan sampai belasan orang dan mereka semua mencari Cia Soen dengan menggunakan perkataan perkataan yang hebat-hebat.

“Kalau Giehoe belum buta dan tidak terluka bangsat cecurut itu tidak dipandang sebelah mata olehnya,” kata Boe-Kie di dalam hati.

Sesudah kelima rombongan itu lewat, Yauw Ceng Coau segara menyumbat lubang pipa dengan sepotong kayu, supaya suara dalam terowongan tidak sampai terdengar Di atas. Sesudah itu, ia berkata dengan suara perlahan. “Aku ingin menengok Cia Tay-hiap.”

Coe Tiang Leng mengangguk dan Yauw Ceng Coan segera memutar alat rahasia di pinggir pintu besi yang perlahan-lahan lantas terbuka. Dengan membawa lampu minyak tanah, ia masuk ke dalam kamar itu.

Sesaat itu, Boe Kie tidak dapat menahan sabar lagi, ia berbangkit, menghampiri pintu dan mengawasi ke dalam. Ia melihat seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar sedang tidur meringkuk dan muka menghadap ke dalam. Air mata si bocah lantas saja berlinang-linang.

“Cia Tayhiap,” bisik Yauw Ceng Coan, apa kau merasa enakan? Mau minum””

Mendadak angin menyambar dan lampu padam. Hampir berbareng terdengar suara “buk!” tubuh Yauw Ceng Coan terpental keluar dan jatuh di lantai.

“Manusia-manusia dari Siauw Lim pay, Koen loen pay, Khong tong pay!” demikian terdengar Cia Soan. “Mari! Mari! Apa kamu kira Kim-mo Say-eng Cie Soen takut kepadamu?”

“Celaka!” seru Coe Tiang Leng. “Cit Tayhiap.” Ia mendekati seraya berkata, “Cia Tay hiap, kami adalah sahabat-sahabat, bukan musuh”.

Cia Soen tertawa terbahak-bahak, “Sahabat-sahabat?” ia menegas. “Apa kau mau menipu aku dengan omongan manis-manis”” Ia berjalan keluar dengan tindakan lebar dan sekonyong-konyong menghantam dada Coe Tiang Leng telapak tangannya. Pukulan itu disertai lweekang hebat luar biasa, sehingga lampu minyak tanah yang ditaruh di tengah-tengah terowongan berkedip-kedip.

Coe Tiang Leng tidak menangkis. Ia mengegos dan melompat mundur. Setelah pukulannya melesat, Cia Soen melompat dan meninju Coe Hoejiu. Nyonya itu tidak mengerti ilmu silat, hingga, kalau kena, jiwa pasti melayang. Pada saat yang sangat berbahaya, Coe Tiang Leng dan putrinya melompat dan menangkis pukulan itu.

Melihat kejadian yang tidak diduga duga, Boe Kie berdiri terpaku dan mengawasi dengan mata membelalak.

Sementara itu, sambil menggeram bagaikan binatang terluka, Cia Soen menyerang dengan kedua tanganya, tapi Coe Tiang Leng tidak berani balas menyerang dan hanya berusaha untuk menyelamatkan diri dengan berkelit ke sana-sini. Satu waktu, karena egosan Coe Tiang Leng, pukulan Kim-mo Say ong, menghantam dinding terowongan yang dibuat daripada batu. Begitu kena, batu besar itu hancur dan muncrat berhamburan. Semua orang terkesiap, mereka tak duga Cia Soen memiliki lweekang yang begitu dahsyat. Kalau pukulan itu mampir di tubuh manusia, biarpun tidak mati, orang itu pasti terluka berat.

Dengan rambut terurai, sinar mata berkilat-kilat dan muka berlepotan darah, Cia Soen terus menyerang seperti harimau edan dan mulutnya mengeluarkan suara ha-ha ho-ho yang membangunkan bulu roma. Makin lama ia mengamuk makin hebat,, sehingga semua orang merasa sangat berkuatir, sedang Coe Hoejin sendiri berdiri di satu sudut dengan dilindungi oleh putrinya.

Satu ketika, karena terdesak, Coe Tiang Leng mendorong sebuah meja untuk menahan terjangan si kalap. Bagaikan kilat Cia Soen menghantam dengan kedua tinjunya. “Prak!” meja itu hancur luluh.

Boe Kie bingung bukan main. Ia berdiri di pinggir dinding dan mengawasi kejadian itu dengan mulut ternganga. Ia kaget tercampur heran karena orang itu ternyata bukan ayah angkatnya, Kim-mo San-ong Cia Soen. Kedua mata ayah angkatnya buta, tapi orang itu tidak kurang suatu apa.

Sekonyong-konyong, ketika Coe Tiang Leng berdiri membelakangi dinding, si kalap menghantam. Ia tidak bisa berkelit lagi, tapi ia tetap tidak mau menangkis. “Cia Tayhiap!” teriaknya. “Aku bukan musuh, aku tak akan membalas seranganmu.”

Orang itu tidak menghiraukan telapak tangannya terus menyambar ke dada Coe Tiang Leng “Buk!”

Badan Coe Tiang Leng bergoyang-goyang dan paras mukanya berubah pucat. “Cia Tayhiap apa sekarang kau sudah percaya?” tanyanya.

“Anjing! Sambut pukulanku!” caci si kalap.

Ia meninju, “Uah!” Coe Tiang Leng muntahan darah. “Kau adalah gie heng (saudara angkat) dari Thio Inkong,” katanya dengan suara parau. “Biarpun mati, aku tak akan balas menyerang.”

Orang itu tertawa terbahak2, “Bagus!…bagus!” teriaknya bagaikan orang gila. “Kau tidak membalas artinya ajalmu sudah sampai.” Suaranya berkata begitu kedua tangannya menyambar-nyambar dan mengenai dada serta perut Coe Tiang Leng.

Sesaat kemudian, sambil mengeluarkan teriakan menyayat hati, Coe Tiang Leng roboh terkulai. Tapi si kalap masih belum puas. Ia menubruk sambil mengayun tinjunya.

Pada detik yang sangat berbahaya, Boe Kie melompat dan dengan mati-matian menangkis pukulan itu. Begitu lengannya kebentrok dengan tinju si kalap, ia merasa dadanya menyesak. Tapi, tanpa mempedulikan bencana, ia menuding dan berteriak. “Kau! Kau bukan Cia Soen! Kau bukan!”

Orang itu gusar. “Tahu apa kau, setan kecil”” bentaknya sambil menendang.

Boe Kie mengegos dan berteriak pula. “Kau bukan Cia Soen! ” kau menyamar sebagai Cia Soen.”

Mendengar teriakan Boe Kie, perlahan-lahan Cie Tiang Leng merangkak bagus. “Kau, kau bukan Cia Soen”” serunya dengan suara parau. “Kau menipu aku.” Tiba-tiba badannya bergoyang-goyang “Uah!” mulutnya menyemburkan darah yang secara kebetulan menyambar tepat pada muka orang itu.

Hampir berbaring, tubuhnya jatuh ngusruk ke depan dan dengan menggunakan kesempatan itu, tangannya bergerak dan jerijinya menotok Sin hong hi at, di bawah tetek si kalap.

Sesudah terluka berat, Coe Tiang Leng bukan tandingannya orang itu. Tapi ia berhasil menotok jalan darah si kalap karena totokan it yang cie itu dikirim secara di luar dugaan.

Dalam bidang ilmu totok, It yang cie tiada keduanya. Biarpun berkepandaian tinggi, orang itu tidak berdaya lagi. Sambil menggeram, ia tergulin.g Coe Tiang Leng segera mengirim dua totokan susulan, tapi sesudah itu, ia sendiri roboh tanpa ingat orang lagi. Coe Kioe Tin dan Boe Kie buru-buru mendekati dan mengangkat tubuh orang tua itu.

Selang beberapa saat, perlahan-lahan Coe Tiang Leng tersadar. Ia mengawasi Boe Kie dan berkata dengan suara terputus-putus. “Apa..apa benar dia…dia bukan Cia Soen?”

“Coe Pehpeh, sekarang aku mesti berterus-terang,” kata si bocah. “Orang yang dinamakan Inkong olehmu adalah ayahku sendiri, sedang Kim-mo Say-ong Cia Soen adalah ayah angkatku. Tidak! Aku tidak bisa salah mengenali.”

Coe Tiang Leng menggeleng-geleng kepalanya.

“Kedua mata Giehoe buta, tapi mata orang itu melek,” menerangkan Boe Kie. “Mata Gie hoe buta sebelum mendarat Peng hwee to jadi kejadian itu tidak diketahui oleh siapapun dua. Orang itu menyamar sebagai Giehu, tapi ia tak tahu kenyataan tersebut.”

Cie Kie Tin menarik tangannya. “Adik Boe Kie, apa benar kau puteranya tuan penolong kami?” tanyanya dengan suara terharu. “Bagus! Sungguh bagus!”

Tapi orang tua itu masih tetap tidak percaya.

Karena terpaksa, Boe Kie segera menceritakan mengapa ia sampai datang di gunung Koen Loen. Yauw Ceng Coan menanyakan hal ilhwal kejadian di Boe tong yang berbuntut dengan kebinasaan kedua orang tuanya dan pertanyaan-pertanyaan itu telah dijawab dengan ringkas dan terang oleh Boe Kie.

Semua orang, kecuali Coe Tiang Leng, tidak bersangsi lagi. Hanya orang tua itu yang masih menggoyang-goyangkan kepalanya dan mengawasi muka si bocah dengan sorot mata pertanyaan. “Kalau dia berdusta, kita akan berdosa terhadap Cia tayhiap,” katanya dengan suara perlahan.

Tiba-tiba Yauw Ceng Coan mencabut pisau belatinya dan sambil menuding mata kanan orang itu, ia membentak, “Sahabat! Kim mo Say ong Cia Soan buta kedua matanya. Kalu kau mau menyamar sebagai dia, penyamaran itu harus mirip betul. Biarlah hari ini, aku tolong membutakan kedua matamu. Sahabat! Aku, si orang she Yauw, telah ditipu olehmu. Kalau saudara kecil itu tidak berada disini, bukankah secara tolol Coe Taoko akan mengantarkan jiwa”” sehabis berkata begitu, ia menggerakkan tangannya, sehingga ujung pisau hampir menempel dengan mata si penipu.

Orang itu tertawa terbahak-bahak. “Jika kau mempunyai nyali, bunuhlah aku,” tantangnya. “Apa kau kira Kay pay-chioe Ouw Pa manusia pengecut””

(Kay pay chioe = si tangan yang bisa membelah tugu batu)

“Oh!” kata Coe Tiang Leng dengan suara kaget. “Kay-pay chiu Ouw Pa! Hm!…Kalau begitu kau anggota Khong tong-pay.”

“Benar!” teriak Ouw Pa. “Semua partai dalam dunia persilatan sudah tahu, bahwa Coe Tiang Leng mau membalas sakit hatinya Thio Coei San. Siapa yang turun tangan lebih dulu, dia yang menang.”

“Kau sungguh jahat!” bentak Yauw Ceng Coan. Ia mengangkat pisaunya dan lalu menikam ulu hati orang itu.

“Jie-tee, tahan!” cegah Coe Tiang Leng seraya mencekal tangan adiknya. “Kalau dia benar Cia Tayhiap, biarpun mati kita berdua masih tidak dapat menebus dosa.”

“Bukankah saudara kecil ini sudah memberi keterangan yang cukup jelas”” kata Yauw Ceng Coan, “Toako, jika kau terus ragu, kita tak akan bisa menghindar lagi dari bencana besar.”

Tapi sang kakak menggelengkan kepalanya. “Aku lebih suka mati dicincang ribuan golok daripada mengganggu selembar rambut saudara angkatnya Thio In Kong,” katanya.

“Coe Pehpeh, orang itu sudah pasti bukan ayah angkatku,” kata Boe Kie. “Sebagai seorang yang bergelar Kim-mo Say-ong (Raja singa bulu emas), rambut Giehoe berwarna kuning. Tapi orang itu berambut hitam.”

Sesudah berpikir beberapa saat, Coe Tiang Leng manggutkan kepalanya. Ia menuntun tangan Boe Kie seraya berkata, “Saudara kecil, ikut aku.” Mereka keluar dari kamar batu, keluar dari terowongan dan kemudian pergi ke bawah sebuah tebing, di belakang tanjakan. Dengan duduk di samping Boe Kie di atas sebuah batu besar, Coe Tiang Leng berkata, “Saudara kecil, kalau orang itu bukan Cia Tayhiap, kita mesti segera membinasakan dia. Tapi sebelum turun tangan, perasaan raguku harus dihilangkan lebih dulu. Bagaimana pendapatmu? Apakah pendirianku benar atau salah.”

“Sikap itu adalah karena Coe Pehpeh menghormati ayah dan Giehoe,” kata Boe Kie. “Tapi orang itu sudah pasti bukan Giehoe. Coe Pehpeh, kau boleh tidak ragu lagi.”

Orang tua itu menghela napas. “Naik,” katanya, “Di waktu masih muda, aku seringkali diperdayai orang. Hari ini aku tidak mau balas menyerang sehingga aku mendapat luka berat. Hal itu terjadi sebab aku salah menilai orang. Salah boleh sekali, tetapi tidak boleh sampai dua kali. Urusan ini adalah urusan besar. Soal mati atau hidupku tak menjadi soal. Biar bagaimanapun juga, aku harus melindungi keselamatanmu dan keselamatan Cia Tayhiap, supaya hatiku lega. Akan tetapi, aku tak berani membuka mulut.”

Bukan main terharunya Boe Kie. “Coe Pehpeh, demi kepentingan ayah dan Giehoe, kau sudah membakar rumah dan harta benda sendiri,” katanya. “Bukan saja begitu, tapi Coe Pehpeh sendiripun sampai mendapat luka berat. Apakah aku masih harus meragukan kejujuranmu. Mengenai keadaan Giehoe, biarpun Pehpeh tak menanyakan aku sendiri memang ingin memberitahukan bagaimana kedua orang tuaku bersama Cia Soen telah diombang-ambingkan ombak sehingga mendarat di pulau Peng hwee-to, bagaimana mereka berdiam di pulau itu selama sepuluh tahun dan bagaimana kedua orang tuaku dan Cia Soen mengangkat saudara. Tentu saja sebagian kejadian itu tidak dialami olehku sendiri dan aku mendengarnya dari kedua orang tuaku.”

Coe Tiang Leng adalah seorang yang berpengalaman dan berhati-hati. Ia tidak mudah percaya cerita orang. Tapi sesudah mendengar penuturan Boe Kie, ia tidak ragu lagi. Sesudah membuang napas lega, ia mendongak dan berkata dengan suara bersyukur, “Inkong! Inkong! Sebagai roh yang angker, kau tentu mengetahui semua perasaanku. Selama aku, Coe Tiang Leng, masih hidup, aku pasti akan memelihara dan mendidik saudara Boe Kie sampai menjadi orang. Tapi musuh terlalu banyak. Maka itu, aku mohon Inkong melindungi.” Setelah berkata begitu, ia berlutut dan manggutkan kepala berulang-ulang. Bukan main sedihnya Boe Kie, ia bersedih dan berterima kasih dan segera berlutut di samping orang tua itu.

Sesudah bangkit, Coe Tiang Leng berkata,” Sekarang aku tak ragu lagi. Hai! Koen loen pay!…Siauw lim pay!…semua berjumlah besar. Saudara kecil, sebenarnya aku ingin mempertaruhkan jiwaku untuk memberikan perlawanan guna membinasakan musuh-musuh itu untuk membalas budinya Inkong. Tapi sekarang keadaan berubah. Menurut pendapatku, tugas untuk memelihara anak yatim piatu adalah lebih penting daripada membalas sakit hati. Hal yang sekarang dipikirkan olehku adalah mencari tempat untuk menyembunyikan diri. Tempat ini sudah cukup jauh dari dunia pergaulan tapi musuh-musuh kita masih bisa datang sampai ke sini. Di mana…di manakah kita bisa mencari tempat yang lebih aman?” Ia diam sejenak dan kemudian berkata pula, “Cia Tayhiap berdiam seorang diri di pulau Peng hwee-to. Selama beberapa tahun ia tentu merasa sangat kesepian. Hai! Cia Tayhiap begitu menyintai Inkong. Aku hanya berharap, bahwa suatu waktu aku akan bisa bertemu muka dengan dia. Kalau harapan ini bisa terwujud biarpun mati, aku akan mati dengan rela.”

Boe Kie, jadi lebih berduka. Tiba-tiba dalam otaknya terlintas ingatan dan ia segera berkata, “Coe Pehpeh, apakah tidak baik kita beramai-ramai pergi ke Peng hwee-to. Selama di pulau itu, aku hidup bahagia. Tapi begitu pulang ke Tiong goan, semua lantas saja berubah. Apa yang disaksikan dan dialami olehku adalah pembunuhan-pembunuhan dan peristiwa-peristiwa berdarah.”

Coe Tiang Leng menatap wajah si bocah. “Saudara kecil, apa benar kau ingin kembali ke Peng hwee-to”” tanyanya.

Ditanya begitu Boe Kie tidak segera menjawab, karena tiba-tiba saja ia ragu. Ia ingat bahwa ia bakal mati dalam waktu yang tak terlalu lama. Ia ingat pula, bahwa perjalanan ke Peng hwee-to penuh bahaya sehingga belum tentu mereka bisa mencapai jarak tersebut. “Tidak pantas aku menyeret-nyeret seluruh keluarga Coe Pehpeh ke jalanan yang penuh bahaya,” pikirnya.

Melihat keraguan itu, Coe Tiang Leng segera saja berkata seraya mengusap-usap kepala Boe Kie, “Saudara kecil, kau dan aku bukan orang luar. Kau harus memberitahukan apa yang dipikir olehmu sejujur-jujurnya. Apakah kau berniat kembali ke Peng hwee-to?” Ia berkata begitu dengan suara sungguh-sungguh, dengan nada memohon.

Karena pengalaman pahit getir, di dalam hatinya, Boe Kie sudah merasa sangat sebal untuk berkelana lebih lama dalam dunia Kang-ouw yang kejam dan berbahaya. Kalau sebelum mati ia bisa bertemu muka lagi dengan ayah angkatnya, kalau ia bisa mati dalam pelukan Giehoe itu, ia sungguh merasa sangat beruntung. Berpikir begitu, perlahan-lahan ia manggutkan kepalanya.

Coe Tiang Leng tidak bicara lagi dan dengan menuntun tangan si bocah, ia kembali ke kamar batu. Begitu bertemu dengan Yauw Ceng Coan, ia berkata, “Sekarang tidak usah diragukan lagi bahwa orang itu manusia jahat.”

Yauw Ceng Coan mengangguk dan dengan memegang pisau, ia segera masuk ke dalam kamar rahasia.

Sesaat kemudian, dalam kamar terdengar teriakan yang menyayat hati dan waktu Yauw Ceng Coan keluar lagi, pisau yang dipegangnya berlumuran darah.

“Tempat persembunyian kita ini sudah diketahui musuh dan kita tak dapat tinggal lebih lama lagi,” kata Coe Tiang Leng.

Semua orang segera meninggalkan terowongan dan sesudah berjalan duapuluh li lebih, sesudah melewati dua puncak gunung, tibalah mereka di sebuah lembah. Sesudah berjalan lagi beberapa lama, mereka bertemu sebuah pohon kwi yang sangat besar dan di bawah pohon berdiri empat lima rumah kecil.

Waktu itu fajar sudah mulai menyingsing. Semua orang lantas saja masuk ke dalam sebuah rumah di mana terdapat cangkul, luku golok dan alat-alat pertanian lain. Di samping itu, di dalam rumah tersebut juga terdapat dapur dengan perabot masak yang serba lengkap serta bahan makanan yang tidak sedikit. Boe Kie segera mengerti, bahwa untuk menjaga kedatangan musuh-musuhnya Coe Tiang Leng sudah membuat dan melengkapi rumah itu, sebagai persiapan kalau-kalau ia perlu menyingkirkan diri.

Begitu tiba, orang tua itu yang mendapat luka berat segera rebah di ranjang untuk mengaso, sedang Coe Hoe Jin mengeluarkan pakaian sepatu dan ikat kepala petani dari dalam peti pakaian lalu membagikannya kepada semua orang. Dalam sekejap anggota-anggota keluarga yang kaya raya itu sudah mengenakan pakaian petani yang kasar.

Setelah berdiam beberapa hari berkat obat turunan yang sangat mujarab, kesehatan Coe Tiang Leng mendapat kemajuan yang sangat pesat. Untung musuh tidak mengejar sampai di situ, sehingga mereka bisa hidup dengan tenteram. Mereka mempersiapkan barang-barang untuk melakukan perjalanan jauh. Boe Kie mengerti bahwa persiapan itu adalah untuk pergi ke pulau Peng hwee-to guna membalas budi.

Malam itu ia tak bisa tidur, pikirannya melamun, membayangkan hal-hal yang akan terjadi di pulau itu nanti. Ia akan bisa berkumpul dengan Coe Kiu Tin, Coe Pehpeh, Yauw Jie Siok dan ayah angkatnya dengan kehidupan yang bahagia, tanpa penindasan dari penjajah Goan.

Mengingat itu semua, hatinya jadi gembira. Sampai tengah malam, ia masih bolak-balik di atas pembaringan. Tiba-tiba ia mencium bau wangi dan satu bayangan manusia kelihatan berkelabat, ternyata bayangan itu adalah Coe Kiu Tin, mendadak wajah Boe Kie berubah merah.

Perlahan-lahan si nona mendekati pembaringan dan berbisik, “Adik Boe Kie, apa kau sudah tidur””

Sesaat kemudian ia merasa mukanya diraba-raba oleh si nona yang rupanya mau menyelidiki apa ia benar-benar sudah tidur.

Boe Kie kaget bercampur girang, malu bercampur takut, tapi ia tetap pejamkan mata dan berpura-pura tidur, dan mengharap supaya Kiu Tin buru-buru keluar. Semenjak baru bertemu, ia memuja si nona bagaikan seorang Dewi, ia sudah merasa beruntung kalau setiap hari bisa bertemu dengan gadis cantik itu. Dalam jiwanya yang masih bersih, pemujaan itu bebas dari segala pikiran yang bukan-bukan. Ia bahkan tidak pernah membayangkan atau memikirkan untuk mengambil nona Coe sebagai istrinya. Maka itulah, kedatangan Kiu Tin di tengah malam buta sangat membingungkan hatinya.

“Apakah Tin-jie ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting denganku”” tanyanya dalam hati.
Baru saja berpikir begitu, mendadak ia merasa dadanya kesemutan karena di bagian Tiat tiong hiat telah ditotok. Hampir berbarengan, jalan darah yang lain pada Kian tin, Sin cong, Kie tie serta Hoan tiauw hiat juga tertotok.

Itu kejadian yang sungguh di luar dugaan! Siapa sangka si nona menyatroni untuk menotok jalan darahnya” Tapi dilain saat, ia mendapat satu ingatan lain. “Aha! Tin-jie tentu ingin menjajal kewaspadaan di waktu tidur,” pikirnya. “Besok, waktu akan membuka jalan darahku, ia tentu mentertawai aku. Hmm, kalau aku tahu begitu, tentu melompat bangun untuk mengagetkannya.”

Di lain pihak, sesudah menotok jalan darah Boe Kie, perlahan-lahan Kiu Tin membuka jendela dan melompat ke atas genteng.

“Paling baik aku membuka jalan darahku dan menakut-nakuti dengan menyamar sebagai setan,” pikir Boe Kie. Seraya tertawa geli, ia segera mengerahkan Lweekang dan coba membuka jalan darah yang tertotok dengan menggunakan ilmunya Cia Soen. Tapi totokan si nona adalah totokan It-yang-cie yang sangat hebat dan sesudah berdeging kira-kira setengah jam, barulah ia berhasil membuka jalan darahnya.

Berhasilnya Boe Kie adalah karena pertama Lweekang nona Coe masih sangat rendah dan kedua, Kiu Tin memang hanya ingin menotok perlahan sebab sungkan melukai si bocah. Kalau totokan It-yang-cie diberikan seorang ahli berkepandaian tinggi, biarpun Boe Kie sepuluh kali lipat lebih hebat, ia tak akan dapat membuka jalan darahnya.

Begitu terbebas, cepat-cepat Boe Kie memakai pakaian luar dan melompat ke atas genting dari jendela. Sambil berlari-lari ia menyusul ke arah jalanan yang tadi diambil oleh si nona. Tapi apa yang ditemukan hanya gunung kosong yang sunyi senyap, dengan pohon-pohon yang kadang-kadang mengeluarkan suara kresekan karena ditiup angin.

Sesudah mengejar beberapa lama dengan rasa kecewa, ia menghentikan langkahnya. Tapi di lain saat ia berpikir lain, “Perlu apa aku membalas. Sekarang Tin-jie sangat menyayangi aku, tapi kalau malam ini aku membalasnya, mungkin sekali ia akan berbalik membenci aku.” Berpikir begitu, hatinya jadi tenang kembali.

Waktu itu adalah permulaan musim semi. Bunga di lembah itu sudah mulai mekar dan menyiarkan bebauan yang sangat harum. Kesunyian malam dan pemandangan di sekitar gunung itu mendatangkan banyak kenangan dari masa lampau. Karena memang tak bisa tidur, Boe Kie tidak segera kembali, perlahan-lahan ia berjalan di sepanjang pinggiran sebuah selokan. Salju di tanjakan sudah mulai melumut dan air yang mengalir di selokan bercampur kepingan-kepingan es.

Sesudah berjalan beberapa lama, sekonyong-konyong di dalam hutan sebelah kiri terdengar suara tawa seorang wanita. Boe Kie terkesiap sebab suara itu adalah suara Kiu Tin.

“Apakah Tin-jie sudah melihat aku”” tanyanya dalam hati.

Tiba-tiba terdengar bentakan si nona. “Piauw ko, jangan rewel kau! Apa kau minta dihajar”” bentakan itu disusul dengan tawa seorang lelaki yang bukan lain adalah Wie Pek.

Boe Kie terkejut, jantungnya memukul keras dan kepalanya seperti diguyur dengan air es. Sekarang ia mengerti. Ia mengerti, bahwa Kiu Tin menotok jalan darahnya bukan untuk bercanda, tapi untuk mencegah terbukanya rahasia pertemuan itu. Ia menghela napas dan berkata dalam hatinya. “Ya! Aku mesti tahu diri. Aku tak lebih dan tak kurang daripada seorang bocah miskin yang tak punya tempat berteduh. Baik dalam ilmu silat, aku berada jauh di bawah Wie Siang Kong. Di samping itu mereka adalah saudara sepupu dan merupakan pasangan yang cocok, yang satu cantik yang satu tampan.” Mengingat begitu, hatinya menjadi lebih tenteram dan sambil menghela napas, ia segera bertindak untuk berlalu.

Mendadak, di sebelah belakang terdengar suara langkah kaki. Hampir berbarengan dengan bergandengan tangan, Wie Pek dan Kiu Tin muncul dari dalam hutan. Karena sungkan bertemu dengan dia, buru-buru Boe Kie bersembunyi di belakang satu pohon besar. Pada saat itu, langkah kaki yang mendatangi dari sebelah belakang sudah mendekati.

“Thia”,” seru Kiu Tin, suaranya gemetar seperti orang ketakutan.

Orang itu ternyata Coe Tiang Leng. Ia rupanya gusar dan sambil mengeluarkan suara di hidung ia membentak, “Bikin apa kau di sini””

Kiu Tin mencoba menekan rasa takutnya dan dengan tawa yang dipaksakan ia menjawab, “Sudah lama kami tidak pernah bertemu dan malam ini, kebetulan Piauw ko datang, anak datang menyusul kemari untuk mengobrol.”

“Kau terlalu berani mati,” kata sang ayah dengan suara yang mendongkol. “Kalau Boe Kie tahu.”

“Anak sudah menotok lima jalan darahnya dan sekarang ia sedang tidur nyenyak,” kata si nona.

“Coe Pehpeh juga sudah tahu, bahwa aku menyayangi Tin-cie,” kata Boe Kie dalam hati, “Kuatir aku berduka. Ia tak tahu, bahwa biarpun sayang, aku tak punya maksud yang lain. Hai!…Coe Pehpeh kau sungguh baik terhadapku.” Tapi, perkataan Coe Tiang Leng yang selanjutnya menerbitkan rasa heran dalam hati Boe Kie.

“Meskipun begitu, kita harus berhati-hati supaya ia tak lihat sesuatu yang mencurigakan,” kata orang itu.

Kiu Tin tertawa. “Ah! Anak kecil tahu apa,” katanya.

“Tin-moay,” kata Wie Pek, “Aku mau pulang, aku kuatir suhu menunggu-nunggu aku.”

Si nona kelihatannya merasa berat untuk segera berpisah. “Biar ku antar pulang,” katanya.

“Mari kita pergi bersama-sama,” kata sang ayah. “Aku ingin bicara dengan gurumu untuk pergi ke Peng hwee-to, kita harus membuat persiapan yang seksama.”

Sehabis Coe Tiang Leng berkata begitu, dia segera menuju ke arah barat.

Boe Kie jadi makin heran. Ia tahu, bahwa guru Wie Pek adalah Boe Liat, ayahnya Boe Ceng Eng. Didengar dari perkataan Coe Tiang Leng, sepertinya Boe Liat bersama putrinya dan Wie Pek bakal turut pergi ke Peng hwee-to. Mengapa hal itu belum pernah didengar olehnya. Ia kuatir, sebab bila soal Cia Soen diketahui terlalu banyak orang kemungkinan bocornya rahasia akan menjadi sangat besar. Sesudah berpikir sejenak, tiba-tiba ia ingat perkataan Coe Tiang Leng yang mengatakan “kita harus berhati-hati supaya ia tak lihat sesuatu yang mencurigakan”.

Ia curiga dan di lain saat, ia ingat pula hal lain yang lebih mencurigakan. Ia ingat, bahwa gambar mendiang ayahnya yang digantung di rumah keluarga Coe. Ayahnya dilukiskan sebagai seorang yang bermuka panjang, sedangkan muka ayah sebenarnya bundar telur.

Paras muka Boe Kie mirip dengan Coei San, tapi potongan muka mereka sangat berlainan. Muka si anak persegi panjang, muka sang ayah bundar telur, dengan lancip di bagian janggutnya. Coe Tiang Leng mengatakan bahwa gambar itu telah dilukis olehnya sendiri pada belasan tahun yang lalu. Walaupun begitu dan andaikata orang tua itu tidak pandai melukis, tidak mungkin ia membuat kesalahan dalam melukis potongan muka tuan penolongnya. Apa yang dilukis Coe Tiang Leng pada hakekatnya Boe Kie dalam usia dewasa.

“Aha! Ada lagi yang mengherankan,” kata si bocah dalam hatinya. “Bentuk Poan koan-pit yang bisa digunakan Tia tia mirip dengan pit dan gagangnya, sangat pendek. Tapi Poan koan-pit dalam lukisan itu adalah Poan koan-pit biasa. Sebagai seorang ahli Poan koan-pit, bagaimana Coe Pehpeh bisa melukis salah””

Mengingat itu semua, Boe Kie menjadi bingung dan ketakutan. Di dalam hati kecilnya sudah menduga-duga sebab musebab keanehan-keanehan itu. Akan tetapi, dugaan itu terlalu hebat, sehingga ia tidak bisa meneruskan taksirannya itu. “Ah! Tak boleh aku berpikir yang gila-gila,” ia menghibur dirinya sendiri. “Coe Pehpeh begitu sayang aku dan aku tak pantas menduga yang tidak-tidak. Paling baik aku pulang dan tidur. Kalau dia tahu bahwa aku menguntit dia, bisa-bisa jiwaku melayang.”

Mengingat jiwa melayang, tiba-tiba ia menggigil. Ia sendiri tak tahu, mengapa ia menjadi begitu ketakutan.

Sesudah berdiri terpaku beberapa lama tanpa terasa ia melangkah ke arah jalanan yang dilalui oleh Coe Tiang Leng bertiga. Sekonyong-konyong di sebuah hutan yang agak jauh ia melihat sinar api yang berkelap-kelip, sebagai tanda, bahwa di dalam hutan itu terdapat sebuah rumah orang. Dengan jantung berdebar keras, ia menuju ke arah sinar api dengan langkah ringan.

Setibanya di belakang rumah itu, sesudah menentramkan hati, ia mengendap-endap menghampiri jendela dan melongok ke dalam. Ternyata memang benar Coe Tiang Leng bertiga berada dalam ruangan itu. Mereka duduk menghadap jendela dan sedang bicara dengan dua orang yang duduk membelakangi jendela sehingga muka mereka tak dapat dilihat oleh Boe Kie. Tapi yang satu seorang wanita, mungkin sekali Boe Ceng Eng, sedang yang satunya lagi adalah seorang pria bertubuh tinggi besar. Dengan penuh perhatian, sambil manggut-manggut lelaki itu tengah mendengar penuturan Coe Tiang Leng tentang bagaimana mereka harus menyamar sebagai pedagang kemudian berlayar dari pantai Shoatang.

“Aku benar tolol,” kata Boe Kie dalam hatinya, “Orang itu mungkin sekali Boe Chung Coe. Sebagai seorang sahabat Coe Pehpeh, ini adalah kejadian lumrah di antara sahabat karib. Mengapa aku jadi begitu ketakutan?”

“Thia, bagaimana kalau kita tidak bisa cari pulau itu dan juga tidak bisa pulang kembali”” tanya wanita itu yang ternyata memang Boe Ceng Eng.

Sekarang Boe Kie mendapat kepastian, bahwa lelaki itu adalah Boe Liat.

“Kalau takut, kau boleh tak usah ikut,” jawab sang ayah. “Di dalam dunia ini, tanpa berani menempuh kesukaran, manusia takkan bisa memperoleh sesuatu yang berharga.”

“Ayahku sering pergi ke Tiong goan dan ia pasti tahu racun yang baik,” kata pemuda itu. “Kita bisa minta bantuan ayah.”

Sesaat Boe Liat bangkit seraya menepuk pundak Kiu Tin, ia berkata, “Tin-jie.” Tiba-tiba ia menengok dan Boe Kie melihat tegas mukanya. Ia terkesiap, karena orang itu adalah manusia yang sudah menyamar sebagai ayah angkatnya.

Sekarang semua menjadi jelas. Dipukulnya Coe Tiang Leng hingga muntah darah, teriaknya yang menyayat hati dan sebagainya hanyalah sandiwara belaka. Agar sandiwara itu kelihatan sungguh-sungguh, mereka harus menggunakan Boe Liat yang memiliki kepandaian tinggi.

“Tin-jie, kau sendiri harus menjalankan perananmu baik-baik,” kata Boe Liat sambil tertawa, “Selama dalam perjalanan, kau harus baik terhadap setan kecil itu. Kau harus menjaga supaya ia tidak tersadar.”

“Thia, kau harus meluluskan satu permintaanku,” kata Kiu Tin.

“Permintaan apa”” tanya sang ayah.

“Kau menyuruhku melayani setan kecil itu dan kau tak tahu, betapa besar penderitaanku,” jawabnya. “Dari sini ke Peng hwee-to masih jauh sekali. Selama itu, entah berapa besar kedongkolan yang harus ditelan olehku. Maka itu aku minta supaya sesudah kau dapat merebut To liong-to kau ijinkan aku untuk membacok mampus setan kecil itu!”

Mendengar kata-kata yang sekejam itu, mata Boe Kie gelap hampir ia roboh. Lapat-lapat ia mendengar suara Coe Tiang Leng, “Sebenar-benarnya kita tak pantas menjalankan tipuan ini terhadap dia. Di samping itu dia juga bukan orang jahat. Kurasa membinasakan Cia Soen dan merampas To liong-to, cukuplah kalau kita membutakan kedua matanya dan meninggalkan dia di pulau itu.”

“Coe Toako adalah seorang yang welas asih dan perkataanmu itu membuktikan bahwa kau memang seorang ksatria,” puji Boe Liat.

Coe Tiang Leng menghela napas. “Kita terpaksa menjalankan tipuan ini karena tak ada lagi jalan yang lebih baik,” katanya. “Boe Jie tee, sesudah berlayar, perahumu harus berada agak jauh dari perahuku. Kalau terlalu dekat, anak itu bisa curiga. Tapi kalau terlalu jauh, hubungan kita bisa terputus. Maka itu kau harus memilih anak buah dan pengemudi yang pandai.”

Boe Kie merasa kepalanya pusing. Ia mengasah otak untuk memecahkan banyak pertanyaan. “Aku belum pernah memperkenalkan diri, tapi bagaimana mereka bisa menebak asal-usulku”” tanyanya dalam hati. “Hm”mungkin sekali karena aku sudah menggunakan ilmu Boe tong-pay dan Hang lion Sip pat ciang waktu melawan Wie Pek dan kedua perempuan itu. Coe Pehpeh seorang cerdas dan berpengalaman luas. Rupanya, begitu melihat ilmu silatku, ia sudah bisa menebak asal-usulku.”

Beberapa saat kemudian, ia berkata pula dalam hatinya. “Ia tahu, bahwa kedua orang tuaku lebih suka mati daripada membuka rahasia. Ia menaksir bahwa jika menggunakan kekerasan, ia tak akan bisa mengorek dari mulutku. Maka itu, ia menggunakan siasat membakar rumah sendiri dan menjalankan tipu Kouw-jiok-kee (menyakiti diri sendiri), sehingga tanpa meminta, aku sudah membuka rahasia Peng hwee-to. Ah!…Coe Tiang Leng! Coe Tiang Leng! Tipumu sungguh beracun!”

Sementara itu, Coe Tiang dan Boe Liat sudah mulai membicarakan rencana pelayaran, Boe Kie tak berani mendengar lebih jauh dan dengan sangat hati-hati, ia lalu meninggalkan rumah itu. Sambil memasang kuping, ia berjalan selangkah demi selangkah. Ia tahu, bahwa kedua orang tua itu memiliki kepandaian yang sanggat tinggi, sehingga sedikit saja ia bertindak salah, mereka segera bisa mendengarnya. Sesudah terpisah belasan tombak, barulah ia berani berjalan lebih cepat. Dalam ketakutan, ia tak memilih jalan. Ia terus mendaki tanjakan dan menuju ke sebuah hutan lebat. Selama kurang lebih satu jam ia berlari-lari seperti orang kalap, tanpa berani mengaso.

Waktu fajar menyingsing, ia berada di dalam hutan dari sebuah puncak yang tertutup salju. Dengan napas tersengal-sengal ia menghentikan langkah dan menengok untuk melihat kalau-kalau ada yang mengejar.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: