Kumpulan Cerita Silat

09/08/2008

Kisah Membunuh Naga (29)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:54 am

Kisah Membunuh Naga (29)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell dan hanko)

“Aku she Coe, namaku Kioe Tin.” Si nona memperkenalkan dirinya. “Dan kau?”

“Namaku Thio Boe Kie,” jawabnya.

“Hm. Bagus sekali namamu. Saudara kecil kurasa kau putra dari keluarga sastrawan. Duduklah di sini.” Seraya berkata begitu, ia menunjuk sebuah kursi di sampingnya.

Semenjak dilahirkan, inilah untuk pertama kali Boe Kie merasakan pengaruh seorang wanita. Kalau waktu itu Kioe Tin memerintahkan ia melompat ke dalam api, ia pasti akan melompat. Dengan hati berdebar-debar ia lalu duduk di kursi yang ditunjuk.

Melihat perlakuan nona mereka yang begitu ramah-tamah terhadap bocah kotor dan bau itu, bukan main rasa herannya Siauw Hong dan Kiauw Hok.

Tiba-tiba Kioe Tin membentak. “Jantung!”

Seekor anjing lantas saja melompat dan menerjang. Tapi daging yang tergantung di bagian jantung dari orang yang sudah tidak ada lagi, sudah dimakan oleh anjing lain dan anjing itu lantas menggigit potongan daging yang digantung di bawah ketiak.

“Binatang!” bentak si nona. “Kau berani melawan!”

“Tarrrr!…tarrr…,” ia menyabet dua kali. Pada pecut itu dipasang duri-duri halus, sehingga di badan anjing yang dihajar lantas saja terlihat dua garis yang bersemu darah. Tapi anjing itu, yang rupanya sudah lapar, masih tidak melepaskan daging yang digigitnya. Bukan saja begitu, dia bahkan menggeram.

Nona Coe jadi gusar. “E..eh! Benar-Benar kau melawan!” bentaknya dan pecutnya lantas saja menyambar-nyambar bagaikan kilat. Ia memukul dengan gerakan lincah dan meskipun anjing itu bergulingan di lantai, setiap sabetannya selalu mengenai sasaran, sehingga akhirnya, binatang itu tidak berani bergerak lagi dan mendekam sambil mengeluarkan suara minta diampuni. Tapi Kioe Tin masih memukul dan baru berhenti setelah binatang itu tidak bias berkutik lagi dan napasnya tinggal sekali-sekali. “Kiauw Hok, bawa dia keluar dan obati lukanya.”

“Baiklah,” jawabnya dan ia lalu memondong anjing itu.

Melihat contoh yang hebat itu, anjing-anjing lain mendekam tak berani berkutik.

Sesudah itu, dengan beruntun-runtun Kioe Tin mengeluarkan perintah. “Betis kiri! Bahu kanan! Mata!”

Tiga ekor anjing dengan beruntun melompat dan menggigit menurut perintah.

“Saudara kecil, lihatlah!” kata si nona sambil tersenyum. “Kalau tidak dihajar, mana mereka mau dengar kata?”

Walaupun telah menderita karena serangan kawanan anjing, tapi melihat hajaran hebat yang diberikan oleh nona Coe, Boe Kie merasa kasihan dan tidak dapat membenarkan tindakan nona yang dianggap kejam olehnya.

Melihat Boe Kie membungkam, si nona tertawa dan berkata pula. “Tadi kau mengatakan tak gusar. Tapi mengapa kau tak mau bicara” Bagaimana kau bisa berada di wilayah See Hek, di wilayah barat ini. Di mana ayah dan ibumu?”

Sebelum menjawab, si bocah memikirkan sejenak. Ia merasa, bahwa dalam keadaan yang seperti ini, jika menyebutkan nama Tay Soehoe atau kedua orang tuanya merendahkan derajat orang tua itu. Maka ia lantas saja berkata ayah dan ibunya sudah meninggal dunia karena di Tiong goan sukar mencari makan, maka aku terlunta-lunta sampai di sini.

“Mengapa kau menyembunyikan kera yang telah k upanah”” Tanya pula nona Coe. “Apa kau kelaparan” Mau makan daging kera, bukan? Hmm…Hampir-hampir kau dirobek oleh anjing-anjingku.”

Muka si bocah lantas saja berubah merah. Sambil menggeleng-gelengkan kepala ia berkata. “Bukan, aku bukan mau makan daging kera.”

Kioe Tin menepuk pundak Boe Kie dan berkata seraya tersenyum. “Lebih baik kau jangan berdusta.” Ia berdiam sejenak dan berkata pula. “Ilmu silat apa yang pernah kau pelajari”” Dengan sekali memukul, kau telah meremukkan batok kepalan Co Ciangkoen. Tenagamu boleh juga.”

(Ciangkoen = Jenderal)

“Co Ciangkoen”” Boe Kie menegas dengan heran.

Si nona tak menjawab, ia hanya tersenyum. Tiba-Tiba ia membentak, “Cian Ciangkoen!”

Seekor anjing lantas saja keluar dari barisannya lalu mendekam di tengah ruangan.

“Ki-Ki Ciangkoen!” si nona membentak pula dan hampir berbareng, seekor anjing lain keluar dari barisan. Ternyata setiap anjing diberi nama “Jenderal” dan Coe Kioe Tin sendiri berlaku sebagai panglima besar.

“Karena bingung, mungkin sekali aku sudah mengeluarkan tenaga habis-habisan,” jawab Boe Kie. “di waktu kecil, dua tiga tahun aku belajar sejurus dua jurus dari mendiang ayahku. Tak dapat dikatakan, bahwa aku tahu ilmu silat.”

Kioe Tin mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat kemudian, ia menengok ke arah Siauw Hong dan berkata, “Antar dia ke kamar mandi dan berikan pakaian baru.”

“Baik,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Boe Kie merasa berat untuk meninggalkan ruangan itu. Waktu tiba di ambang pintu, tanpa sadar ia merasa menengok ke belakang dan melirik Kioe Tin. Apa mau, pada detik itu, si nona pun sedang mengawasi dia, sehingga tanpa tercegah lagi, dua pasang mata segera beradu.

Si nona tertawa dan rasa jengahnya Boe Kie tak dapat dilukiskan lagi. Semangatnya terbang, kakinya tersandung balok yang melintang di tengah pintu dan roboh terguling. Karena lukanya belum sembuh, bukan main sakitnya. Tapi, tanpa mengeluarkan suara, buru-buru ia bangun dan berdiri, Siauw Hong tertawa geli. “Hm, siapapun yang melihat Siocia, dia pasti roboh,” katanya. Tapi, kau? Kecil-kecil matamu sudah seperti mata culik.

Boe Kie jadi makin malu. Ia berjalan secepat mungkin. Sesudah berjalan beberapa lama, sekonyong-konyong Siauw Hong berkata.

“Eh, mau ke mana kau? Apakah kau mau pergi ke kamar Tai Tai””

Si bocah menghentikan tindakannya. Di sebelah depan ia melihat sebuah kamar dengan tirai jendela sulam. Sekarang ia mengerti, bahwa karena bingung dan terburu-buru, ia sudah mengambil jalanan yang salah. Siauw Hong sangat jahil, sesudah si bocah berada di depan kamar buku nyonya majikan, barulah ia mengejek.

Boe Kie menunduk tanpa mengeluarka sepatah kata. Ia malu dan mendongkol.

“Aku akan mengantarkan kau jika kau berkata. Siauw Hong cici, tolonglah aku,” kata si jahil.

Mau tak mau Boe Kie berkata, “Siauw Hong cici?”

“Ada apa?” Tanya Siauw Hong.

“Tolonglah aku, antarlah aku keluar dari jalanan yang salah ini.” Jawabnya.

“Nah! Benar begitu!” kata si jahil sambil tertawa.

Tak lama kemudian, mereka tiba di depan kamar si bocah.

“Siocia memberi perintah, supaya bocah ini mandi, kau berikan pakaian baru kepadanya,” kata Siauw Hong kepada Kiauw Hok.

“Baik, baik!” jawabnya dengan sikap hormat.

Melihat sikap Kiauw Hok, Boe Kie menduga bahwa Siauw Hong bukan dayang biasa, sedikitnya ia mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pelayan atau dayang biasa.

Di saat lain, lima enam pelayan lelaki menghampiri dan merebut mengajak omong dengan menggunakan panggilan “Siauw Hong cici.” Tapi dia tidak meladeni.

Tiba-tiba Siauw Hong merangkap kedua tangannya dan menjura kepada Boe Kie.

Si bocah kaget. “E-eh, mengapa?…” tanyanya.

“Tadi kau berlutut di hadapanku dan sekarang membalas hormat,” jawabnya sambil memutar badan dan terus berjalan pergi.

Kepada kawan-kawannya, Kiauw Hok segera menceritakan bagaimana Boe Kie berlutut di hadapan Siauw Hong yang dianggapnya Coe Kioe Tin. Cerita itu ditambah bumbu sedap, sehingga semua orang tertawa terpingkal-pingkal.

Tapi Boe Kie tak jadi gusar. Di dalam hatinya, ia telah mengingat wajah nona Coe, gerak-geriknya, dan perkataan-perkataannya.

Sesudah mandi, Kiauw Hok menyerahkan satu stel pakaian kain hijau padanya, yaitu pakaian pelayan. Sambil bengong, ia mengawasi pakaian itu.

“Sungguh celaka!” katanya di dalam hati. “Aku belum jadi pelayan, bagaimana aku bisa pakai pakaian begitu?” jika menuruti adat ia tentu sudah menolak. Tapi di lain saat ia mendapat lain pikiran, “kalau Siocia memanggil aku dan melihat aku masih mengenakan pakaian rombeng. Ia tentu akan jadi gusar.” Pikirnya, “Apa salahnya andai kata aku benar jadi pelayannya”” Memikir begitu, jadi tenang dan tanpa berkata suatu apa, ia segera memakai pakaian itu.

Tapi panggilan si nona yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Jangankan Kioe Tin, Siauw Hong pun tak kelihatan mata hidungnya. Boe Kie hanya dapat membayang-bayangkan wajah nona Coe. Ia merasa, bahwa di dalam dunia yang lebar ini, tak ada wanita yang secantik dia.

Ia ingin sekali pergi ke bagian gedung itu untuk melihat si nona atau mendengar suaranya yang merdu dari kejauhan. Tapi ia tidak berani, karena sudah beberapa kali Kiauw Hok memesan, supaya, kalau tidak dipanggil, tidak boleh masuk ke ruang belakang, karena bisa diserang kawanan anjing.

Dengan cepat satu bulan sudah berlalu. Luka-luka Boe Kie sudah sembuh seluruhnya. Hanya pada muka dan tangannya terdapat bekas-bekas gigitan yang tak bisa hilang. Tapi ia tak jadi jengkel. Sebaliknya daripada jengkel setiap kali melihatnya, ia ingat bahwa luka itu adalah akibat gigitan anjing si nona. Hatinya merasa senang.

Sementara itu, racun dingin yang masih mengeram dalam badannya mengamuk dalam setiap waktu tertentu, yaitu sekali setiap tujuh hari, yang satu lebih hebat dari yang lain. Hari itu, racun dingin menyerang pula. Ia rebah di ranjang dengan selimut, badannya menggigil, giginya gemetaran.

Waktu Kiauw Hok masuk dan melihat si bocah berada dalam keadaan begitu, ia tidak jadi heran. “Sebentar, kalau sudah mendingan, kau bangun dan makan semangkok bubur panas.” Katanya. “Nih, ini pakaian baru hadiah dari Tai Tai untuk melewati tahun baru. Sesudah berkata begitu, ia menaruh satu bungkusan di atas meja.

Kira-kira tengah malam barulah serangan racun mulai mereda. Ia bangun dan membuka bungkusan itu yang berisi baju kulit kambing baru. Ia girang, tapi iapun tahu, bahwa baju itu adalah baju untuk pelayan, sehingga, dengan demikian ia sudah dianggap sebagai pelayan dari keluarga Coe.

Pada hakikatnya Boe Kie beradat kasar dan kenyataan itu tidak dianggap sebagai hinaan olehnya. “Tak dinyana aku berdiam di sini sampai sebulan lebih dan sekarang tahun baru kembali berada di depan mata,” katanya di dalam hati. “Ouw Shinshe mengatakan bahwa aku tak bisa hidup lebih daripada satu tahun lagi. Inilah tahun baru penghabisan yang dapat dilewati olehku.

Seperti umumnya terjadi pada setiap keluarga hartawan. Dalam menghadapi tahun baru, Keluarga Coe pun repot bukan main. Pelayan-pelayan membersihkan dan mencat rumah dan perabotan. Beberapa hari sebelum tiba tanggal satu, mereka sudah memotong babi, kembing, dan ayam untuk merayakan tahun yang baru.

Boe Kie membantu apa yang bisa dibantunya. Ia mengharap harian tahun baru lekas-lekas datang. Pada hari itu, semua orang akan menghaturkan selamat tahun baru kepada Laoya dan Tai Tai dan ia merasa pasti, ia akan bisa bertemu lagi dengan nona Coe. Ia mengambil keputusan, bahwa melihat lagi wajah Coe Kioe Tin, ia akan berlalu dengan diam-diam dan menyembunyikan diri di gunung yang sepi supaya ia bisa mati tanpa diketahui manusia.

Dengan sambutan petasan, tibalah harian Go Antan (tanggal 1 bulan 1 menurut penanggalan imlek). Dengan dipimpin CongKoan (pengurus Rumah Tangga) semua pelayan lelaki, berikut Boe Kie, pergi ke Toa Thia untuk memberi selamat tahun bau kepada tuan dan nyonya rumah.

Di tengah-tengah ruangan itu duduk sepasang suami isteri setengah tua dan kira-kira 80 pelayan serentak berlutut di hadapan mereka. Suami isteri itu tertawa girang. “Bangunlah, kamu sudah banyak capai.” kata mereka yang lalu memerintahkan dua pembantu pengurus rumah memberi hadiah. Boe Kie juga mendapat bagiannya, satu bungkusan merah yang bersih empat tail perak. Tapi bukan itu yang diharap-harapkan. Ia merasa menyesal bukan main, karena nona Coe tidak kelihatan mata hidungnya. Sambil mencekal bungkusan uang, ia berdiri bengong.

Tiba-tiba di luar terdengar suara yang nyaring dan merdu. “Piauw Ko, tahun ini siang-siang ini kau sudah datang.” Suara itu adalah suara Coe Kioe Tin (Piauw Ko Kakak sepupu)

“Untuk memberi selamat tahun baru kepada Koe Koe dan Koe Bo, bagaimana aku berani datang terlambat?” Kata seorang lelaki sambil tertawa.

(Koe Koe Paman = saudara lelaki dari ibu, Koe Bo bibi isteri Koe Koe)

Boe Kie merasa mukanya panas. Jantungnya melonjak-lonjak, tangannya mengeluarkan keringat. Sesudah mengharap-harap selama dua bulan, baru sekarang ia mendengar suara si nona. Semangatnya terbang dan ia berdiri terpaku.

Di lain saat terdengar suara seorang wanita lain, “Memang suko terburu datang kemari, aku tak tahu entah ia datang untuk memberi selamat kepada kedua orang itu, entah untuk memberi selamat kepada Piauw Moay.” Sehabis berkata begitu, wanita itu tertawa geli.

(Soeko = kakak seperguruan. Piauw Moay adik perempuan sepupu)

Hampir berbareng, tiga orang muda berjalan masuk dan semua pelayan-pelayan buru-buru menyingkir untuk membuka jalan. Hanya Boe Kie yang masih terus berdiri seperti orang hilang ingatan dan kakinya baru bergerak sesudah tangannya diseret Kiauw Hok.

Dari ketiga orang muda itu, yang berjalan di tengah adalah seorang pemuda. Sedang Coe Kioe Tin berjalan di sebelah kiri. Ia mengenakan baju bulu yang berwarna merah sehingga kecantikannya jadi lebih mencolok. Di sebelah kanan pemuda itu berjalan seorang wanita lain. Usia mereka kira-kira sebaya, semuanya belum mencapai dua puluh tahun.

Begitu mereka masuk, mata Boe Kie terus mengincar Nona Coe. Tidak memperdulikan yang lain. Ia seperti juga tidak melihat dua orang muda yang lain, tidak melihat cara bagaimana memberi selamat tahun baru dan tak mendengar apa yang dikatakan mereka. Di matanya hanya kelihatan seorang, yaitu Nona Coe Kioe Tin.

Dalam usia yang masih muda, masih kekanak-kanakan Boe Kie sebenarnya masih belum tentu apa artinya cinta antara lelaki dan perempuan. Iapun bukan manusia yang kemaruk akan paras cantik. Tapi dalam hidupnya seorang manusia tertarik yang pertama kali terhadap kecantikan seorang wanita selalu memberi akibat yang hebat. Sebagai manusia, Boe Kie pun tidak kecuali.

Di samping itu pada hakekatnya, Boe Kie mempunyai perasaan halus dan mempunyai rasa cinta yang sangat besar terhadap sesama manusia, tak perduli lelaki atau perempuan, tua atau muda. Maka itu dapatlah dimengerti begitu bertemu dengan Coe Kioe Tin yang sangat cantik dan mempunyai pengaruh luar biasa atas dirinya, Boe Kie jadi seperti hilang ingatan. Di dalam hatinya sama sekali tidak terdapat pikiran yang tidak-tidak. Tidak! Sedikitpun tidak! Ia hanya merasa beruntung jika bisa melihat wajah si nona, mendengar suara si nona yang sangat merdu.

Sesudah mendapat hadiah, pelayan-pelayan yang lain lantas saja bubar.

Sesudah berbincang-bincang beberapa lama Coe Kioe Tin berkata, “Ayah, ibu, aku ingin jalan-jalan bersama Piauw Ko dan Ceng Moay.”

Kedua orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan ketiga orang muda tersebut lantas saja bertindak ke luar dan pergi ke halaman belakang.

Tanpa merasa Boe Kie mengikuti dari jauh. Pada hari raya yang penting itu, tak ada orang yang memperhatikannya. Semua pelayan bersuka ria, berjudi, dan sebagainya.

Sekarang baru Boe Kie melihat nyata, bahwa pemuda itu berparas sangat tampan dan dalam hawa udara yang sangat dingin, ia hanya mengenakan jubah panjang warna kuning dari sutra tipis. Sehingga dapatlah diketahui bahwa ia memiliki Lweekang yang tinggi. Wanita yang satunya mengenakan baju bulu warna hitam, badannya langsing, gerak-geriknya memikat, suaranya lemah lembut dan cara-caranya halus. Mengenai kecantikan, ia tak kalah dari Coe Kioe Tin. Tapi di mata Boe Kie, tiada manusia yang dapat menandingi nona Coe yang dipandangnya seakan-akan seorang Dewi.

Mereka berjalan sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa. “Tin Ci,” kata wanita itu, “kau pasti sudah memperolah banyak ilmu It Yang Ci. Bolehkah kau memperlihatkan kepada adikmu?”

(It Yang Ci semacam ilmu menotok dengan jari tangan dari It Teng Taysu)

“Ah! Jangan kau menggoda aku,” kata Kioe Tin. “Biar aku berlatih sepuluh tahun lagi, mana bisa aku menandingi Lan Hoea Hoed Hiat Chioe dari keluarga Boe.”

(Lan Hoea Hoed Hiat Chioe ilmu menotok jalan darah dengan lima jari tangan yang dipentang seperti Lan Hoa atau bunga anggrek)

Pemuda itu tertawa, “Sudahlah! Kalian tak usah saling merendahkan diri,” katanya. “Siapakah yang tidak mengenal Soat Leng Siang Moay yang sangat lihai?”

(Soat Leng Siang Moay Sepasang saudara perempuan dari bukit salju)

“Aku belajar dan berlatih sendirian saja.” kata Kioe Tin. ” Mana bisa aku menyusul kemajuan kalian dua saudara seperguruan yang setiap detik bisa saling berdamai dan berlatih bersama-sama.”

Wanita muda itu tidak menjawab, ia hanya bisa tersenyum sambil monyongkan mulutnya, seperti juga ia mengakui kebenarannya nona Coe.

Sebab kuatir Kioe Tin jadi gusar, pemuda itu buru-buru berkata, “ah, sebenarnya tidak begitu. Kau mempunyai dua orang guru Koe Koe dan Koe Bo. Di bawah pimpinan kedua orang tua, itu keaadaanmu banyak lebih baik daripada kami berdua.”

“Kami!…kami!…” nona Coe menggerutu. “Kecintaan antara saudara seperguruan memang lebih hebat daripada kecintaan antara saudara sepupu. Baru saja aku bergurau dengan Ceng Moay, kau sudah membantunya dengan mati-matian.” Sehabis berkata begitu ia memutar badan.

Pemuda itu tertawa, “Piauw Moay disayang, Soe Moay juga disayang,” katanya. “aku tidak memilih kasih.”

Nona Coe memutar pula badannya dan berkata, “Piauw Ko ku dengar gurumu menerima lagi seorang murid perempuan. Apa benar?”

“Benar,” jawabnya.

Wanita yang dipanggil “Ceng Moay” rupanya masih ingin menggoda nona Coe. Ia tersenyum seraya berkata. “Tin Ci, Soemoay kecil itu sangat cantik parasnya. Bukan saja cantik, dia pandai bicara dan sangat menarik hati. Setiap hari dia mengikat Soe Ko dengan macam-macam permintaan. Minta diajar ini, diajar itu, kalau nanti kau bertemu dengannya, kau sendiri tentu akan mencintai dia…”

“Apa”” menegas Kioe Tin dengan suara dingin. “Apa dia lebih cantik dari Ceng Moay””

“Mana bisa aku menandingi Siauw Soe Moay itu,” jawabnya. “Hanya Tin Ci yang dapat ditandingi dengannya.”

“Aku bukan lelaki tampan yang kemaruk akan paras cantik,” kata nona Coe. “Bagaimana kau bisa mengatakan aku akan mencintai Siauw Soe Moay itu””

Mendengar perkataan yang menghantam dirinya, pemuda itu lantas saja tertawa dan berkata, “Piauw Moay, bolehkan kau mengajak kami melihat jenderal penjaga pintu? Makin lama mereka pasti makin lihai.”

Coe Kioe Tin lantas jadi girang. “Baiklah!” jawabnya. Ia segera berjalan ke arah Han Kong Ki, Boe Kie tetap mengikuti dari kejauhan.

Begitu tiba, nona Coe segera memerintahkan pelayan perawat anjing untuk melepaskan semua binatang itu. Melihat kawanan anjing yang galak angker, pemuda tersebut memuji tak henti-hentinya sehingga Kioe Tin jadi lebih bunga hatinya.

Ceng Moay tertawa geli sambil menutup mulutnya dengan tangan. “Soe Ko,” katanya “pangkat apa yang dikehendaki olehmu, Koan Koen atau Piauw Ki””

Pemuda itu terkejut. “Apa katamu?” tanyannya.

“Kau begitu memperhatikan kata Tin Ci,” jawabnya. “Apakah tak layak jika Tin Ci memberi pangkat Koan Kun, Ciang Koen atau Piauw Ki Ciangkoen kepadamu? Hanya kau harus berhati-hati jangan sampai dicambuk.

Sebagaimana diketahui, Kioe Tin memberi nama-nama pangkat jenderal kepada anjing-anjingnya. Sehingga dengan begitu si nona mengejek Soe Ko-nya dan mempersamakannya dengan seekor anjing.

Paras muka pemuda itu lantas saja berubah merah. “Jangan ngaco belo!” bentaknya dengan suara mendongkol. “Kau mencaci aku sebagai anjing, bukan?”

Ceng Moay tersenyum. “Jenderal-jenderal itu selalu berdampingan dengan wanita cantik, mereka menggoyang-goyang buntutnya, mengambil hati dan mereka merasa beruntung,” katanya. “Apa tak enak hidup begitu?”

Paras muka Kioe Tin lantas saja berubah.

“Ceng Moay, kurasa aku tak berdosa terhadapmu,” katanya dengan suara dongkol, “mengapa pada hari tahun baru ini, kau menghinaku””

Ceng Moay memperlihatkan paras muka heran “E-eh!” katanya. “Aku datang kemari untuk memberi selamat tahun baru. Mngapa kau mengatakan aku menghina kau?”

Nona Coe mengeluarkan suara di hidung. Mengingat persahabatan yang sangat erat antara leluhur kedua keluarga, biarpun darahnya meluap, ia sebisa-bisanya menahan sabar. Ia menengok kepada pemuda itu dan berkata, “Piauw Ko, kuminta kau suka jadi juru penimbang. Apakah aku yang berbuat kesalahan terhadap Boe Sio Cia, atau Boe Sio Cia yang sengaja cari-caru urusan, cari-cari ribut denganku.”

Pemuda itu jadi serba salah. Ia tahu, ia tak boleh membantu piauw Moay dan juga tak boleh menyokong Coe Moay. Mereka berdua adalah anak-anak yang biasa dimanja-manjakan. Gadis-gadis yang sempit pemandangannya. Tak perduli pihak manapun yang dibenarkan olehnya, ia bakal jadi berabe sekali.

Maka itu, jalan yang paling selamat adalah berkelit, ia ketawa dan berkata, “Piauw Moay, sudah lama kita tak ketemu. Perlua apa tarik urat? Eh, ilmu silat apa yang kau paling belakang dapat dari Koe Koe. Bolehkah kau memperlihatkan kepada kami?”

“Berapa hari yang lalu Thia-thia telah mengajariku semacam Pit Hoat,” katanya. “Aku masih belum paham dan kuharap Ceng Moay dan Piauw Ko suka memberi petunjuk.

(Pit Hoat = gaya menulis huruf Tiongkok)

Ceng Moay dan pemuda itu menepuk-nepuk tangan.

“Bagus!” kata Ceng Moay. “Tin Ci jangan kau terlalu merendahkan diri. Ayolah supaya kami bisa menambah pengalaman.”

Nona menggapai dan pelayan perawat anjing segera mengambil sepasang Poan Koan Pit yang tergantung di tembok.

Boe Kie melihat bahwa di tembok itu tergantung rupa-rupa senjata, tapi yang paling banyak adalah Poan Koan Pit. Seperti juga sebuah petunjuk bahwa Coe Sio Cia biasa menggunakan senjata itu.

Ayah Boe Kie, Thio Coei San, bergelar Gin Kauw Tiat Hoa dan ia seorang ahli dalam menggunakan Poan Koan Pit. Dulu, kalau membicarakan ilmu silat dengan puteranya, ia banyak sekali merundingkan hal-hal yang mengenai gaetan (kauw) dan Poan Koan Pit. Oleh karena itu, Boe Kie mempunyai pengetahuan yang agak mendalam tentang kedua senjata itu.

“Ayah pernah mengatakan bahwa dalam rimba persilatan, jarang sekali ada wanita yang mampu menggunakan Poan Koan Pit,” pikirnya. “Dilihat begini, ilmu silat Coe Sio Cia sudah sampai tingkatan tinggi,” kalau tadi ia kesengsem karena kecantikan si nona, sekarang ia kagum dan takluk karena Kioe Tin dapat menggunakan senjata istimewa yang biasa digunakan oleh mendiang ayahnya.

Sambil mengibas Poan Koan Pit yang dicekal dalam tangan kirinya, Kioe Tin berkata, “Ceng Moay mari temani aku. Pit Hoat ini tidak dapat dilatih oleh seorang saja.”

Ceng Moay tahu bahwa nona Coe mempunyai maksud tidak baik. Ia menggelengkan kepala seraya berkata, “Kepandaianku masih terlalu rendah. Mana biasa aku melayani Tin Ci””

Nona Coe mendesak berulang-ulang, tapi dia tetap menolak.

Melihat begitu, si pemuda perlahan-lahan menghampiri dan sambil mengangkat kedua tangannya ia berkata, “Piauw Moay, biar aku saja yang menemani kau. Aku hanya mengharap kau menaruh belas kasihan. Kalau ujung Pit nyasar ke jalan darah Tian Tiong atau Pak Hwee. Tahun ini, Wie Pek tak bisa minum arak tahun baru.

(Tian Tiong dan Pak Hwee adalah jalan-jalan darah yang sangat penting. Sekali tertotok, orang bisa binasa)

Mendengar perkataan yang mengandung pujian itu, hati nona Coe jadi senang sekali. Sambil tertawa ia membentak, “Jangan rewel! Jagalah!”

Pit kiri menyambar ke bawah, pit kanan ke atas. Benar-benar ia menghantam Pak Hwee Hiat di embun-embunan dan Tian Tiong Hiat di dada pemuda itu.

Wie Pek tidak bergerak, seolah-olah ia tahu, bahwa si nona tidak bakal menotok sungguhan. Tapi kedua senjata it terus menyambar bagaikan kilat dan di lain detik ujung senjata hanya terpisah satu dim dari dua jalan darah tersebut.

Pada detik yang sangat berbahaya, mendadak terdengar suara “trang!” dan kedua pit terpental balik. Kecepatan bergeraknya Wie Pek sungguh luar biasa bagaimana ia menghunus pedang dan bagaimana ia menangkis tak bisa dilihatnya.

“Bagus!” teriak nona Coe sambil melintangkan kedua senjatanya yang segera menyambar bagaikan dua helai sinar putih.

Boe Kie menonton dengan penuh perhatian. Ia ingat, bahwa mendiang ayahnya pernah mengatakan Poan Koan Pit adalah senjata untuk menotok jalan darah. Tapi karena bentuknya menyerupai Pit, maka dalam senjata itu mengandung sifat-sifat Boen (ilmu surat). Keunggulannya ialah mudah digunakan dan indah gerakannya. Tapi di dalam pertempuran mati-matian, manfaatnya masih kalah setingkat dengan senjata lain, misalnya golok atau tombak.

Sesudah memperhatikan beberapa lama, ia mendapat kenyataan bahwa nona Coe benar-benar mahir dalam menggunakan Poan Koan Pit yang menyambar-nyambar ke delapan penjuru dalam gerakan-gerakan yang sangat indah. Tiba-tiba hatinya berdebar-debar. “Ah! Pit Hoat itu menyerupai dengan In Thian To Liong Kang dari ayahku,” katanya dalam hati. “Ilmu silat nona Coe juga berdasarkan Soe Hoat

(Soe Hoat = seni menulis huruf-huruf bagus)

Di lain pihak, ilmu pedang Wie Pek tidak juga cukup lihai. Tapi karena Boe Kie tidak mengerti Kiam Hoat, maka dia tak dapat melihat kebagusannya ilmu pedang itu. Ia hanya tahu bahwa makin lama pemuda itu jadi makin terdesak.

Sesudah bertempur sekian jurus, pit kiri Nona Coe tiba-tiba menyambar dari kanan ke kiri, sedangkan pit kanan menyabet dari atas ke bawah.

“Celaka!” seru Wie Pek sambil melompat mundur. Kioe Tin sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik. Ia melompat pit kanan menyambar mata. Itulah pukulan yang lihai dan sukar dielakkan.

“Tahan!…” teriak Wie Pek, “Aku menyerah kalah! Harap Sio Cia sudi mengampuni jiwaku””

Bukan main girangnya si nona. Ia tertawa seraya berkata, “Piauw Ko kau bukan kalah sungguhan. Kau hanya mengalah..,” sehabis berkata begitu, ia mengangkat kedua senjatanya yang lalu dilemparkan ke tembok. “Blas!” kedua Pit itu amblas di tembok, hanya beberapa dim yang berada di luar tembok.

Boe Kie terkesiap. Ia tak nyana, bahwa wanita yang kelihatannya lemah memiliki Lweekang yang begitu tinggi dan tenaga yang begitu besar. “Bagus!” Ia berteriak tanpa merasa.

Sudah lama ia berdiri di situ, tapi ketiga orang muda itu tidak memperhatikannya. Sekarang, begitu bersorak, mereka menengok dan mengawasinya. Melihat, bahwa yang sorak hanya seorang pelayan, Kioe Tin tidak memperdulikan.

Ia rupanya sudah melupakan Boe Kie. Sambil menengok kepada Wie Pek, ia berkata, “Piauw Ko, pit hoat tadi banyak sekali kekurangannya. Kumohon Siauw Ko sudi memberi petunjuk.”

Wie Pek tertawa, “Piauw Moay, ilmu silatmu bukan saja hebat, tapi juga sangat indah gerakannya, apa namanya””

“Coba Kau tebak,” kata nona sambil tolak pinggang.

Wie Pek menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gata. “Koe Koe adalah turunan asli Soe Hoat,” katanya. “Menurut pendapatku ilmu silat itu berdasarkan Soe Hoat.”

“Benar!” seru Nona Coe sambil menepuk-nepuk tangan. “Pintar juga kau Piauw Ko. Tapi Soe Hoat apakah itu””

“Piauw Moay yang baik, jangan kau coba-coba menguji aku,” kata Wie Pek. “Tidak, aku tak tahu.”

Melihat sikap si nona terhadap Wie Pek, Boe Kie merasa sangat berduka. Ia merasa dirinya kecil. Ia merasa bersaing dengan pemuda tampan itu. Sungguh beruntung jika ia bisa mendapatkan kesempatan untuk menindih saingan itu. Maka itulah, begitu mendengar pengakuan Wie Pek darahnya lantas saja bergolak dan tanpa merasa ia berteriak, “Tay Kang Tong Ki Hoat!”

Coe Kioe Tin adalah turunan Coe Coe Liu. Nona si Boe itu, yang dipanggil Ceng Moay oleh nona Coe, adalah turunan Boe Sam Tong, namanya Boe Ceng Eng. Ia adalah turunan Boe Siu Boen, salah seorang putra Boe Sam Tong.

Boe Sam Tong dan Coe Coe Liu ialah menteri merangkap murid It Teng Taysoe, sehingga ilmu silat mereka berasal dari satu sumber. Akan tetapi, sesudah lewat seratus tahun lebih, ilmu silat antara kedua keluarga itu agak berbeda.

Misalnya Boe Toen Ji dan Boe Sioe Boen telah mengangkat Kwee Ceng, Kwee Tayhiap sebagai guru. Maka itu, biarpun mereka juga paham akan ilmu totok It Yang Ci, tapi ilmu totok itu agak menyerupai cara-cara yang keras untuk dari ilmu silat Kioe Ci Sin Kay Ang Cit Kong.

Wie Pek ialah saudara sepupu Coe Kioe Tin. Pemuda itu berguru kepada ayah Boe Ceng Eng. Ia seorang pemuda yang berparas tampan, beradat baik dalam lemah lembut cara-caranya, sehingga ia dicintai oleh kedua gadis cantik itu.

Usia nona Coe dan nona Boe kira-kira sebaya, sama-sama cantik, sama-sama pintar dan ilmu silat merekapun kira-kira standing. Maka itu, orang rimba persilatan di sekitar Koen Loen San memberi gelar Soat Leng Siang Moay (Sepasang Saudara perempuan dari Bukit Salju) kepada mereka.

Dalam mencintai Wie Pek, Coe Kioe Tin lebih berani mengutarakan rasa cintanya. Tapi Boe Ceng Eng yang pemalu bisa menarik keuntungan, yaitu karena belajar bersama-sama, makanya bisa lebih banyak bergaul dengan pemuda itu daripada nona Coe.

Mendengar seruan “Tay Kang Tong Ki Hoat,” ketiga orang muda itu terkejut. Sebagai orang-orang yang Boen Boe Song Coan (mengerti ilmu surat dan ilmu silat) Wie Pek dan Ceng Eng bukan tak tahu, bahwa ilmu silat nona Coe berdasarkan Tay Kang Tong Ki Hoat. Mereka hanya tidak mau menyebutkannya, supaya nona itu jadi lebih senang hatinya.

Pada waktu itu, Boe Kie baru berusia kira-kira lima belas tahun. Tanpa sesuatu yang luar biasa, baik dari muka, maupun dari potongan badannya. Maka itu, Wie Pek dan Boe Ceng Eng segera menduga, bahwa ia adalah pelayan di lapangan berlatih silat dan sudah mendengar nama ilmu pukulan itu.

Tapi Coe Kioe Tin sendiri tahu, bahwa hal iti tak akan bisa kejadian. Oleh karena, setiap kali mengajar ilmu silat, ayahnya tak pernah mengijinkan hadirnya siapapun jua dalam lapangan berlatih. “Apakah ia mencuri belajar?”tanyanya di dalam hati.

Memikir begitu, ia lantas saja membentak, “Hei! Siapa namamu” Bagaimana kau tahu ilmu silatku dinamakan Tay Kant Tong Ki Hoat””

Mendengar si nona menanyakan namanya, Boe Kie merasa sangat berduka.

“Bukankah aku sudah memberitahukan kau”” pikirnya. “Kalau begitu, kau sedikitpun tak memperhatikan aku,” ia lantas menjawab, “Namaku Thio Boe Kie, aku hanya bicara secara sembarangan.”

“Oh,…sekarang aku ingat,” kata Kioe Tin.

“Kau adalah bocah yang pernah digigit oleh anjing-anjingku,” ia lebih jadi bercuriga, sebab ia lantas saja ingat bahwa dengan sekali pukulan saja, anak itu telah menghancurkan kepala “Co Ciangkun” sehingga dia pasti memiliki ilmu silat yang tidak boleh dipandang enteng.

“Apakah dia seorang mata-mata yang dikirim oleh musuh ayahku?” tanyanya di dalam hati. “Tanpa mencuri, anak yang begitu kecil tak mungkin mengenal ilmu silat yang paling diandalkan oleh ayahku.”

Tapi, baru saja ia berniat untuk menyelidiki lebih lanjut, tiba-tiba ia melihat Wie Pek dan Boe Ceng Eng sedang bicara bisik-bisik sambil duduk berendeng. Rasa cemburu lantas saja timbul dalam hatinya dan ia tidak memperdulikan Boe Kie lagi.

“Ceng Moay!” teriaknya. “aku dan Piauw Ko sudah memperlihatkan keburukan kami. Kuharap kaupun suka mempertunjukkan ilmu silatmu yang tinggi.”

Entah disengaja, entah tidak, Wie Pek dan Boe Ceng Eng tidak meladeni teriakan itu.

Kioe Tin naik darah, “Biarpun Pit Hoatku sangat sederhana, tapi belum tentu ilmu silat keluarga Boe bisa melawannya,” katanya dengan suara dingin.

Nona Boe mengangkat kepalanya dan membalas dengan suara yang sama dinginnya. “Soe Ko-koe tahu, bahwa kau seorang yang mau menang sendiri sehingga ia sengaja mengalah terhadapmu, Hm!…Tapi kau tergirang-girang.”

“Siapa mau dia mengalah?” bentak Kioe Tin dengan keras. “Dapatkah dia memecahkan pukulan Siang Koat Kwi Goan?”

(Siang Koat Kwi Goan = Dua Ranggon terangkap menjadi satu. Jurus terakhir Kioe Tin yang menyebabkan menyerahnya Wie Pek)

“Kau kira kami berdua manusia-manusia tolol yang tidak mengenal syair?” Syair-syair Tay Kang Tong Ki dari Souw Pong To?” Tanya Ceng Eng. “Kalau Soe Ko tidak mengenal ilmu silatmu, mengapa ia justru menyerah kalah pada akhiran sebaris syair? Ia menyerah pada detik kau mengakhiri huruf “goat” (rembulan) dari baris syair yang berbunyi “It Coen Hoan Cioe Kang Goat”. mengertikah kau sekarang?”

(It Coen Hoan Cioe Kang Goat = mempersembahkan secawan arak kepada rembulan)

Coe Kioe Tin tertegun. Pertanyaan Boe Ceng Eng tak dapat dibantah. Memang Wie Pek menyerah waktu mengakhiri tulisan huruf “goat” dengan jurus Siang Koat Kwi Goan. Kalau benar begitu, ia sendiri yang jadi manusia tolol!

Ia merasa malu bukan main dan dari malu ia menjadi gusar. “Kenal memang mungkin kau kenal, tapi apa kau bisa memecahkannya?” tanyanya dengan suara keras. “Bisa jadi Piauw Ko sengaja mengalah terhadapku. Hm!..memang tak sukar menggoyangkan lidah. Lihatlah! Pelayan dalam rumahku pun mengenal pukulan itu.”

Muka Boe Ceng Eng merah padam, bahwa gusarnya. “Soe Ko aku pulang saja!” katanya dengan suara gemetar. “Orang sudah mempersamakan aku dengan pelayan. Perlu apa kau berdiam lama di rumah ini?”

Wie Pek tertawa dan berkata, “Soe Moay, Piauw Moay hanya berguyon, jangan kau menganggap bersungguh-sungguh. Di rumahmu, pelayan kotor seperti dia tak terhitung berapa banyaknya.”

Mendengar perkataan yang menghina itu, Boe Kie panas hatinya.

“Bagus! Kau menghina pelayanku”” kata Kioe Tin. “Ceng Moay, biarpun kau berkepandaian tinggi, belum tentu kau bisa menjatuhkan dia dalam tiga jurus.”

“Hm! Apa kau kira pelayan baumu mempunyai harga untuk melayaniku”” nona Boe menjawab. “Tin Ci kau terlalu menghinaku.”

Sampai di situ Boe Kie tak dapat menahan sabar lagi. “Boe Kouwnio!” teriaknya. “Apa kau bukan manusia? Boe Kouwnio, janganlah kau menganggap dirimu sebagai manusia yang terlalu mahal!”

Walaupun darahnya meluap, untuk menghina si bocah, Ceng Eng melirikpun tidak. Ia berpaling kepada Wie Pek dan berkata, “Soe Ko, kau lihatlah kurang ajarnya pelayan bau itu. Apa kau masih tetap berpeluk angin””

Melihat sikap mohon dikasihani dari si nona, hati pemuda itu lantas saja lemas. Antara kedua gadis itu, ia sebenarnya tidak memilih kasih. Akan tetapi, di dalam hati kecilnya, ia mempunyai perhitungan sendiri.

Gurunya, yaitu ayah Boe Ceng Eng, mempunyai kepandaian yang tinggi. Ia merasa, bahwa apa yang akan didapatkannya, takkan lebih daripada sebagian atau dua bagian kepandaian sang guru. Maka itu, apabila ia ingin memiliki kepandaian istimewa, tidak bisa ia harus mengambil hati nona Boe.

Maka itulah, dia seraya tersenyum lantas saja berkata, “Piauw Moay, apa benar pelayanmu mempunyai kepandaian tinggi? Bolehkah aku mengujinya””

Kioe Tin mengerti, bahwa kakak itu coba membela Ceng Eng. Ia mau menolak tapi dalam otaknya mendadak berkelabat serupa ingatan.

“Aku memang ingin tahu asal usul bocah itu,” pikirnya. “Biarlah Piauw Ko yang paksa dia membuka rahasianya,” berpikir begitu, ia lantas berkata, “Baiklah, sebenarnya aku sendiri tak tahu murid siapa dan dari partai mana.”

“Apakah pelajaran bocah itu bukan didapat dari sini?” Tanya Wie Pek dengan perasaan heran.

Kioe Tin menengok ke arah Boe Kie dan berkata, “Eh, coba beritahukan Siauw Ya, nama guru dan partaimu.”

Mendengar perkataan si nona, Boe Kie lantas saja berpikir. “Kamu begitu menghina aku, mana bisa aku memberitahukan nama kedua orang tua ku dan Thay Soehoe? Selain begitu, akupun belum pernah mempelajari ilmu silat Boe Kie Pay secara sungguh-sungguh.”

Dengan adanya itu, ia menjawab, “Semenjak kecil, kedua orang tuaku sudah meninggal dunia dan aku bergelandangan dalam dunia Kang Ouw. Aku belum pernah belajar ilmu silat, hanya ayah angkatku yang pernah memberi satu dua petunjuk kepadaku. Mata Gi Hoe buta, sehingga iapun tak tahu, apa latihanku benar atau salah.”

“Siapa nama ayah angkatmu? Dari partai mana dia?” Tanya Kioe Tin.

Boe Kie menggelengkan kepala. “Aku tak bisa memberitahukan,” jawabnya.

Wie Pek tertawa nyaring. “Masakah kita bertiga tidak bisa mengorek rahasianya?” katanya sambil menghampiri Boe Kie dan berkata pula.

“Bocah coba kau sambut tiga pukulan,” seraya berkata begitu, ia melirik nona Boe sambil tersenyum, seolah-olah ia mau mengatakan bahwa ia akan memberi pelajaran keras kepada bocah itu untuk melampiaskan rasa dongkolnya si nona.

Dalam soal cinta, seseorang yang sedang mabuk cinta selalu memperhatikan gerak-gerik dari orang yang dicintai. Lirikan dan senyuman Wie Pek tidak terlepas dari mata Coe Kioe Tin yang lantas timbul rasa cemburunya.

Melihat Boe Kie bersangsi untuk menyambut tantangan itu. Ia menggapai dan setelah anak itu mendekati, ia berkata dengan suara perlahan, “Sebagaimana kau sudah melihat Piauw Ko memiliki kepandaian tinggi, kau tentu tak bisa menang. Tapi, asal kau bisa menyambut tiga pukulannya, kau membikin mukaku jadi terang,” sehabis berkata begitu, ia menepuk-nepuk pundak si bocah untuk memberi semangat.

Boe Kie juga tahu, bahwa ia bukan tandingan pemuda itu. Ia mengerti bahwa jika ia turun ke gelanggang, ia hanya akan menjadi korban. Jadi semacam lelucon untuk menggembirakan hati. Tapi begitu lekas ia berdiri di hadapan si cantik, pikirannya kalut. Sesudah diajak bicara dengan suara lemah lembut dan ditepuk-tepuk apa pula sesudah mengendus bau yang sangat harum, otaknya butak dan ia tak dapat berpikir lagi. “Sio Cia memerintahkan supaya aku membikin terang mukanya dan aku tak toleh mengecewakannya,” katanya di dalam hati dan seperti orang linglung, ia segera mendekati Wie Pek.

“Bocah, sambutlah!” kata pemuda itu sambil menampar. Pukulan itu cepat luar biasa dan muka Boe Kie lantas saja terpeta lima jari tangan yang berwarna merah. Sesudah tahu, bahwa anak itu bukan mendapat pelajaran dari keluarga Coe, sehingga ia tidak bisa dianggap menghina pamannya sendiri. Ia sudah turun tangan tanpa sungkan-sungkan. Meskipun tidak mengerahkan Lweekang, ia menampar dengan sepenuh tenaga.

“Boe Kie, lawan!” teriak Nona Coe.

Semangat si bocah terbangun, dengan cepat ia meninju Wie Pek mengegos sambil berseru. “Bagus! Masih ada dua jurus,” dengan sekali melompat, ia sudah berada di belakang Boe Kied an sebelum si bocah keburu memutar badan, leher bajunya sudah kena dicengkeram. Sambil mengangkat badan Boe Kie tinggi-tinggi Wie Pek tertawa terbahak-bahak dan kemudian membantingnya keras-keras di lantai.

Kasihan Boe Kie! Janggut dan hidungnya lantas saja mengucurkan darah.

Seraya menepuk-nepuk tangan, Boe Ceng Eng tertawa cekikikan. “Tin Ci,” katanya, “Bagaimana” Apakah ilmu silat keluarga Boe masih boleh dilihat””

Paras muka Kioe Tin merah padam. Ia malu bercampur gusar. Ia tak bisa membantah pertanyaan saingannya, sebab jika ia mencela ilmu silat keluarga Boe, ia sudah menyinggung perasaan Wie Pek.

Sementara itu, Boe Kie sudah merangkak bangun dan dengan jantung berdebar-debar, ia melirik Kioe Tin. Melihat paras muka si cantik, ia lantas saja berkata dalam hatinya. “Sudahlah! Biarpun hilang jiwa, aku mesti menolong Sio Cia.”

“Piauw Moay,” kata Wie Pek sambil tertawa. “Silat kucing pincang bocah itu masih tak punya, mana bisa kau bicara tentang partainya””

Tiba-tiba Boe Kie menerjang dan menendang kempungannya.

“Aduh! Gagah benar kau?” ejek Wie Pek sambil mengelak dan menangkap kaki kanan Boe Kie yang lalu dilontarkan dengan menggunakan tiga bagian Lweekang. Bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, badan si bocah melesat ke arah tembok. Untung juga, selagi masih berada di tengah udara, dengan menggunakan seluruh tenaganya ia masih keburu memutar tubuh sehingga hanya punggungnya yang terbentur tembok. Tapi biarpun begitu, ia merasa sakit bukan main dan roboh di kaki tembok tanpa bisa lantas bangun.

Dalam kesakitan hebat, hatinya masih memikirkan muka Coe Kioe Tin yang harus ditolong. Tiba-tiba ia mendengar suara si nona, “Sudahlah! Ayo kita pergi ke taman bunga!” di kuping Boe Kie suara itu penuh rasa malu dan jengkel.

Entah darimana datangnya, mendadak Boe Kie merasa tenaganya pulih. Ia melompat bangu dan bagaikan kalap, ia menubruk dan menghantam Wie Pek dengan telapak tangannya.

Kali ini ia memukul dengan jurus Kang Liong Yu Hwi (Penyesalan Sang Naga) dari Hang Liong Sip Pat Ciang (delapan belas jurus ilmu silat menaklukkan naga), semacam Ciang Hoat (ilmu silat dengan menggunakan telapak tangan) yang paling lihai di seluruh rimba persilatan.

Dahulu dengan mengandalkan ilmu tersebut, Ang Cit Kong dan Kwee Ceng telah menjagoi di kolong langit. Hanya sayang apa yang didapat Cia Soen hanya kulitnya saja, sedang yang diperoleh Boe Kie lebih-lebih tak karuan macam pengaruh pukulan itu belum ada sepersepuluh dari Kang Liong Yu Hwi yang asli. Tapi walaupun begitu pukulan itu mengeluarkan sambaran angin yang luar biasa dan begitu tangan Wie Pek terbentur tangan Boe Kie, badannya bergoyang-goyang dan ia terpaksa mundur setindak. Ia kaget, sedangkan Boe Ceng Eng mengeluarkan seruan tertahan.

Pada seratus tahun lebih lalu, leluhur Boe Ceng Eng, yaitu Boe Sioe Boen, telah berguru kepada Kwee Ceng, tapi sesudah belajar banyak tahun, ia masih belum juga dapat menyelami intisari dari pada Hang Liong Sip Pat Ciang.

Boe Liat, ayah Boe Ceng Eng, masih dapat menjalankan jurus-jurus dari ilmu silat itu, tapi seperti anak cucu Boe Sioe Boen yang lainnya, iapun tidak berhasil mengeluarkan pengaruh dahsyat Hang Liong Sip Pat Ciang.

Selama belasan tahun, nona Boe sering melihat ayahnya berlatih sendirian sambil mengasah otak. Tapi sebegitu jauh, orang tua itu masih juga belum berhasil. Dari zaman Boe Sioe Boen sampai Boe Ceng Eng sudah ada lima turunan. Pada setiap turunan, anggota-anggota keluarga Boe berusaha keras untuk menyelami intisari ilmu itu, tapi semua usaha mengalami kegagalan.

Kegagalan itu bukan karena tumpulnya otak keluarga Boe. Apa seorang dapat menyelami Hang Liong Sip Pat Ciang atau tidak, tiada sangkut paut dengan kecerdasan otak. Bukan saja begitu, bahkan ada petunjuk, bahwa makin cerdas otak seseorang, makin sukar ia memiliki ilmu itu. Contohnya, Kwee Ceng tumpul dan Oey Yong pintar luar biasa. Tapi yang berhasil adalah Kwee Ceng, sedang Oey Yong tetap gagal.

Dalam mengajar orang-orang muda, Kwee Ceng tidak menyembunyikan apapun jua. Tapi kaitannya adalah, di antara orang-orang tingkatannya lebih muda seperti Yo Ko, Yeh Loe Ci, Kwee Hoe, Kwee Siang, Kwee Loh Po, Boe Sioe Boen dan Boe Toen Jie, tak satupun yang bisa berhasil dengan sempurna. Bahwa pada zaman belakang Hang Liong Sip Pat Ciang sudah tidak dikenal lagi dalam rimba persilatan, mungkin adalah karena sebab-sebab itu.

Wie Pek yang tak kenal jurus itu sudah menangkis dengan tangannya dan begitu lekas tangannya beradu dengan tangan Boe Kie, ia merasakan lengannya kesemutan dan dadanya menyesak. Cepat-cepat ia mundur setindak kemudian ia melompat maju sambil menghantam punggung Boe Kie dengan tinjunya.

Tanpa memutar tubuh, si bocah mengibaskan tangannya ke belakang dengan menggunakan jurus Sin Liong Pa Bwee (Naga Malaikat menyabetkan ekor.) Melihat sambaran tangan yang luar biasa, Wie Pek berkelit, tapi tak urung pundaknya kena di sapu juga dengan tiga jari tangan. Meskipun pukulan itu tidak hebat, tapi Coe Kioe Tin dan Boe Ceng Eng sudah melihat, bahwa dalam jurus itu, Wie Pek sekali lagi kena dikalahkan.

Mana dia rela menerima hinaan itu di hadapan wanita-wanita cantik? Waktu menantang Boe Kie, seorang anak tanggung yang sama sekali bukan tandingannya, pemuda itu hanya ingin mempermainkan si bocah untuk menyenangkan hati Boe Ceng Eng. Maka itu, ia hanya menggunakan dua atau tiga bagian. Tapi di luar dugaan, dua kali beruntun ia jatuh di bawah angin, darahnya lantas saja naik dan ia membentak, “Setan kecil! Apa kau tidak takut mati?” seraya membentak, ia meninju dengan jurus Tiang Kang Sam Tiap Long (tiga gelombang sungai Tiang Kang).

Sesuai dengan namanya, jurus itu mengandung tiga gelombang tenaga. Apabila lawan menangkis gelombang pertama dengan sepenuh tenaga, maka ia akan binasa, atau sedikitnya terluka berat dengan gelombang tenaga kedua dan ketiga akan menyerang tanpa diduga-duga.

Waktu memukul, Wie Pek telah menggunakan seluruh tenaga Lweekangnya. Tapi, karena pada hakikatnya ia memang bukan seorang jahat yang berhati kejam. Maka biarpun sedang gusar, ia menahan gelombang tenaga yang ketiga.

Di lain pihak, begitu melihat serangan dahsyat, Boe Kie segera menghempas semangat dan menangkis dengan pukulan terhebat yang dimilikinya yaitu Kiam Liong Boet Yong (naga yang bersembunyi jangan digunakan).

Sambil miringkan tangan kirinya, ia menyambut dengan Lweekang yang aneh, yaitu setengah berkumpul, setengah buyar, separuh bersembunyi, separuh keluar. Wie Pek terkesiap, gelombang pukulannya yang pertama amblas seperti batu amblas di dalam laut. Hampir berbareng dengan suara “Krek!” Tulang lengan kanannya patah. Untung juga karena menaruh belas kasihan ia menahan tenaga gelombang ketiga. Jika tidak, mereka berdua sama-sama terluka berat.

Coe Kioe Tin dan Ceng Eng mengeluarkan teriakan kaget dan serentak mengeluarkan teriakan kaget dan serentak lagi menghampiri Wie Pek. “Tak apa-apa,” katanya sambil meringis.

Dengan berbaring, kedua nona itu menumpahkan kegusaran di atas kepala Boe Kie. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, mereka memukul badan dan menghantam dada si bocah. Boe Kie yang belum hilang kagetnya sebab melihat akibat pukulannya, tidak bergerak dan tinju kedua gadis itu tepat mengenai dadanya, “Uh!” dengan badan bergoyang-goyang ia muntahkan darah!

Dada si bocah sakit, tapi hatinya lebih sakit. “Dengan mati-matian aku berkelahi untuk membuat mukamu terang,” katanya di dalam hati. “Tapi waktu aku menang, kau berbalik memukul aku.”

“Tahan!” teriak Wie Pek.

Kedua gadis itu tidak memukul lagi.

Dengan paras muka pucat. Wie Pek mengayun tangan kirinya dan menghantam Boe Kie. Boe Kie yang dengan melompat jauh berhasil menyelamatkan dirinya.

“Piauw Ko,” kata nona Coe, “kau sudah terluka, perlu apa kau meladeni anak yang kurang ajar itu? Aku yang salah. Sebenarnya tak boleh aku mengadu kau dengannya.”

Dia seorang gadis yang beradat tinggi. Kalau bukan melihat akibat dari perbuatannya, tak gampang-gampang ia mau mengaku bersalah.

Tapi di luar dugaan, Wie Pek jadi makin gusar. Ia tertawa dingin seraya berkata, “Piauw Moay, pelayanmu benar-benar lihai. Kau sendiri mana bersalah? Tapi aku masih merasa penasaran.” Ia mendorong Kioe Tin dan lalu menerjang Boe Kie.

Si bocah mau melompat mundur, tapi Boe Ceng Eng yang berdiri di belakangnya segera mendorong punggungnya sehingga tinju Wie Pek mampir tepat di hidungnya yang lantas saja bocor.

Dalam sekejab Boe Kie sudah dikepung oleh tiga orang dan tujuh delapan pukulan dengan beruntun jatuh di badannya. Beberapa kali ia muntah darah, tapi sebagai manusia kepala batu, dengan nekat ia melawan terus. Ia menggunakan segala macam ilmu silat yang dimilikinya.

Silat Cia Soen, ilmu kedua orang tuanya, pukulan-pukulan Boe Tong Pay dan berkelahi bagaikan harimau edan. Walaupun Lweekangnya masih sangat cetek, tapi karena kenekatannya ditambah dengan pukulan-pukulan dari ilmu-ilmu silat yang sangat tinggi, seperti Hang Liong Sip Pat Ciang, maka untuk sementara waktu ia masih dapat mempertahankan diri.

“Bocah Bau!” caci Coe Kioe Tin. Binatang dari mana kau? Sungguh berani kau mengacau di tempat ini. Apa kau sudah bosan hidup?”

Sementara Wie Pek yang tangannya makin lama makin sakit sungkan berkelahi lebih lama lagi. Sambil mengerahkan seluruh Lweekang di tangan kiri, ia menghantam bagaikan kilat. Melihat pukulan yang dahsyat itu, Boe Kie yang terlalu lelah jadi putus harapan. Ia mengeluh dan memejamkan kedua matanya untuk menunggu kebinasaan.

Tapi sebelum tangan Wie Pek turun di badannya, tiba-tiba terdengar bentakan menggeledek.

“Tahan!” satu bayangan kuning berkelabat dan menangkis tangan pemuda itu yang sedang menyambar. Begitu tangannya tertangkis, Wie Pek terhuyung beberapa tindak dan kemudian terjengkang. Tapi gerakan orang itu yang mengenakan jubah kuning cepat luar biasa. Dengan sekali meloncat, ia menjaga punggung pemuda itu yang lantas saja bisa berdiri tegak.

“Ayah!” teriak Kioe Tin.

“Coe Peh Peh!” seru nona Boe.

“Koe Koe!” kata Wie Pek dengan napas tersengal-sengal.

Orang yang menolong Boe Kie bukan lain Coe Tiang Leng, ayah Coe Kioe Tin. Begitu lekas tulang lengan Wie Pek patah, seorang perawat anjing buru-buru melaporkan kepada sang majikan yang lantas saja datang ke tempat pertempuran.

Untuk beberapa saat, Coe Tiang Leng menyaksikan “kegagahan” putrinya dan dua orang muda itu dan pada detik yang berbahaya ia memberi pertolongan.

Melihat keberanian dan kegigihan Boe Kie, orang tua itu merasa kagum.

Dengan paras muka merah padam dan mata mendelik, ia mengawasi putrinya, Wie Pek, dan Boe Ceng Eng. Mendadak tangannya melayang, menampar muka putrinya. “Bagus!” katanya dengan suara menyeramkan. “Makin lama anak cucu keluarga Coe jadi makin tak karuan macam! Dengan mempunyai anak semacam kau, bagaimana aku ada muka untuk bertemu dengan leluhurku di dunia baka””

Coe Kioe Tin adalah anak biasa dimanja. Jangankan digebuk, dicacipun belum pernah. Tapi sekarang ia ditampar di depan banyak orang, bahkan di depan kecintaannya. Tamparan itu cukup keras untuk membuat kepalanya pusing. Sesudah pusing hilang, “Uh!” ia menangis keras.

“Diam!” bentak sang ayah. Bentakan itu disertai Lweekang sudah menggetarkan seluruh ruangan, sehingga debu pada jatuh dari atas balok. Si nona takut bukan main dan ia tak berani menangis terus.

“Semenjak dahulu, keluarga Coe hidup bagaikan kesatria,” kata sang ayah. “Leluhurmu, Coe Lioe Kong, mengabdi kepada It Teng Taysoe dan jadi perdana menteri dari negeri Tayli Kok. Belakangan beliauw bantu melindungi kota Siang Yang dan namanya menggetarkan seluruh dunia. Lihatlah! Betapa gagahnya leluhurmu itu! Tak nyana anak cucunya tidak karuan macam. Sampai kepada aku, Coe Tiang Leng, aku punya anak seperti cecongormu! Tiga orang dewasa mengerubuti seorang anak kecil! Bukan saja begitu, kamu bahkan coba mengambil juga jiwa anak itu! Malu tidak kau?” ia bicara dengan suara berapi-api dengan nada menyeramkan.

Walaupun cacian ditunjukkan kepada Kioe Tin, Wie Pek dan Ceng Eng pun kena terseret, sehingga dengan muka kemerah-merahan, mereka tak berani mengangkat kepala.

Mendengar dan melihat semua itu, Boe Kie merasa takluk dan kagum terhadap orang tua itu.

Coe Tiang Leng benar-benar marah besar. Dari pucat mukanya berubah merah, dari merah berubah kuning, sedang badannya gemetaran. Tak satupun antara ketiga orang pemuda itu yang berani bersuara atau berkisar. Sambil menundukkan kepala, mereka berdiri bagaikan patung.

Melihat bengkaknya pipi nona Coe Kioe Tin dan sikapnya yang penuh ketakutan, Boe Kie merasa sangat tak tega dan ia segera berkata, “Looya, dalam hal ini Sio Cia sama sekali tak bersalah.” Tiba-tiba ia terkejut karena suaranya hampir tak kedengaran, akibat dari pukulan Wie Pek pada tenggorokannya.

“Saudara kecil, kau mengenal Hang Liong Sip Pat Ciang,” kata Coe Tiang Leng. “Apakah kau murid Kay Pang?” (Kay Pang Partai pengemis)

Boe Kie yang sungkan memberitahukan asal-usulnya lantas saja mengangguk.

Sambil mengawasi puterinya dengan sorot mata gusar. Orang tua itu berkata pula, “ilmu pukulan itu diturunkan oleh Kioe Ci Sin Kay Ang Cit Kong yang pada zaman itu telah menggetarkan seluruh rimba persilatan di sebelah selatan dan utara sungai besar. Dengan keluarga kita, keluarga Coe dan Boe, beliau mempunyai hubungan yang sangat erat,” ia menengok kepada Boe Ceng Eng dan berkata pula, “Kwee Ceng, Kwee Tayhiap, adalah guru leluhurmu Sioe Boe Kong. Sesudah mengenali bahwa pukulan yang dikeluarkan oleh saudara kecil itu ialah Hang Liong Sip Pat Ciang, mengapa kau masih juga turun tangan!” ia bicara dengan suara keras dan tidak sungkan-sungkan lagi sehingga Boe Kie sendiri jadi merasa sangat tidak enak.

Sesudah menyuruh seorang pelayan mengambil obat luka, orang itu menanyakan hal ihwal kedatangan Boe Kie dan cara bagaimana ia sampai mendapat kedudukan seorang pelayan di dalam gedungnya. Coe Kioe Tin tak berani berdusta dan lalu menceritakan cara bagaimana Boe Kie digigit anjing sebab coba menyembunyikan seekor kera kecil dan cara bagaimana ia sudah menolongnya.

Darah sang ayah meluap lagi. Begitu lekas si nona selesai menutur, ia membentak dengan suara menggeledek. “Bagus! Saudara kecil itu adalah sahabat dari Kay Pang dan kau sudah berani mati untuk memberi kedudukan pelayan kepadanya. Huh-Huh! Kalau hal ini sampai terdengar di luaran, apa yang akan dikatakan oleh orang-orang gagah dalam kalangan Kang Ouw? Mereka pasti akan mengatakan bahwa Kian Koen It Pit Coe Tiang Leng adalah manusia yang tidak mengenal pribadi. Aku membiarkan kau memelihara anjing-anjing itu dengan anggapan, bahwa kau memeliharanya hanya untuk main-main. Tapi siapa nyana, kau sudah mengumbar binatang-binatang itu untuk mencelakakan orang. Budak kecil! Jika untuk mengambil jiwa kecilmu, mana aku ada muka untuk bertemu pula dengan orang-orang gagah dalam rimba persilatan?” Ia mencaci dengan mata berapi-api dan nona Coe mengerti, bahwa sang ayah dapat membuktikan ancamannya.

Dengan muka pucat dan badan gemetaran, buru-buru ia menekuk lutut seraya berkata dengan suara parau. “Thia-thia, anak… anak tidak berani berbuat itu lagi””.”

Melihat bahaya, Wie Pek dan Ceng Eng pun segera berlutut dan memohon supaya orang tua itu sudi mengampuni puterinya.

Boe Kie segera maju mendekati seraya berkata, “Looya..”

“Saudara kecil, jangan kau memanggil Looya kepadaku,” kata Tiang Leng dengan suara lebih sabar. “Aku hanya lebih tua sekian tahun daripadamu dan paling banyak kau boleh memanggil Cianpwee kepadaku.”

(Looya Tuan Besar, panggilan untuk majikan atau orang berpangkat. Cianpwee orang yang tingkatannya, atau usianya lebih tinggi)

“Baiklah,” kata si bocah. “Coe Cianpwee, dalam hal ini tak dapat kita menyalahkan Sio Cia. Dengan sebenar-benarnya, Sio Cia tak tahu menahu waktu aku digigit anjing.”

“Kau lihatlah,” kata Coe Tiang Leng. “Dia masih begitu kecil, tapi sudah begitu lapang dada. Kalian bertiga masih tak dapat menandingi seorang bocah seperti dia. Pada Hari Tahun baru, lebih pula karena Boe Kouwnio tamu kami, menurut adat aku tak boleh mengunjuk kegusaran. Akan tetapi, aku tidak bisa berpeluk tangan, sebab perbuatanmu terlalu gila dan tiada berbeda dengan perbuatan manusia hina. Sekarang, sesudah saudara kecil ini memintakan ampun, kamu bangunlah.”

Dengan kemalu-maluan, Wie Pek bertiga lantas bangkit.

“Lepaskan semua anjing jahat itu!” bentak Coe Tiang Leng sambil menengok kepada tiga perawat anjing yang berdiri di satu sudut. Mereka mengiyakan dan buru-buru menjalankan perintah.

Melihat paras muka ayahnya yang menyeramkan dan k rena tak tahu apa yang akan diperbuat oleh orang tua itu, nona Coe jadi lebih ketakutan. “Thia!” serunya dengan suara parau.

Sang ayah tertawa dingin. “Kau memelihara anjing-anjing jahat untuk mencelakai manusia,” katanya. “Baiklah, sekarang perintahkan anjing-anjingmu untuk menggigit aku.”

Si nona menangis, “Thia, anak sudah tahu kesalahan sendiri,” ratapnya.

Orang tua itu hanya mengeluarkan suara di hidung. Mendadak ia melompat ke gerombolan anjing itu sambil mengayunkan kedua tangannya. “Plaak…Plaak…Plaak…Plaak…” empat ekor anjing roboh dengan kepala remuk.

Semua orang terkesiap, mereka mengawasi dengan mulut ternganga.

Kaki tangan Coe Tiang Leng menyambar-nyambar dan badannya bergerak bagaikan kilat. Dalam sekejab mata, tiga puluh ekor anjing sudah rebah di lantai tanpa bernyawa lagi. Jangankan melawan, laripun mereka tak keburu lagi.

Wie Pek dan Boe Ceng Eng kaget bercampur kagum. Walaupun tahu, bahwa orang tua itu berkepandaian tinggi, mereka tak nyana kepandaiannya setinggi itu.

Sesudah melampiaskan kegusarannya, Coe Tiang Leng lalu mendukung Boe Kie yang dibawa ke kamarnya sendiri. Tak lama kemudian Coe Hujin (nyonya Coe) dan Kioe Tin datang menengok dengan membawa semangkok obat.

Sebagai akibat gigitan anjing karena mengeluarkan terlalu banyak darah. Biarpun lukanya sudah sembuh, badan Boe Kie sebenarnya masih sangat lemah. Maka itu, luka-luka hebat yang dideritanya sekarang sudah membuat ia pingsan berulang-ulang dan selama beberapa hari ia berada dalam keadaan pingsan.

Berkat rawatan yang teliti, akhirnya ia tersadar. Begitu lekas sebagian tenaganya pulih, ia sendiri segera menulis surat obat dan menyerahkannya pada pelayan dan meminta supaya ia diberi obat menurut resep itu. Obat itu ternyata sangat mujarab dan kesehatannya kembali dengan cepat sekali. Melihat kepandaian si bocah dalam ilmu pengobatan, penghargaan Coe Tiang Leng jadi lebih besar.

Sementara itu, Coe Kioe Tin kelihatannya sudah sadar akan kesalahannya dan untuk menebus dosa ia merawat Boe Kie seperti kakak merawat adik kandung sendiri. Selama dua puluh hari lebih, seringkali ia menemani si bocah di samping pembaringan sambil bercakap-cakap, meniup seruling, atau menyanyi.

Sesudah Boe Kie bisa berjalan, pergaulannya dengan si nona jadi makin akrab.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: