Kumpulan Cerita Silat

08/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 38

Filed under: Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 12:19 am

Memanah Burung Rajawali – 38
Bab 38. Memilih Baba Mantu
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)
Auwyang Hong melihat Cit Kong tidak segera menjawab, ia mendahului: “Baiklah begini keputusan kita! Sebenarnya saudara Yok sudah menerima naik keponakanku tetapi karena memandang mukanya saudara Cit, biarlah kedua bocah itu diuji pula! Aku lihat cara ini tidak sampai merenggangkan kerukunan.” Ia lantas berpaling kepada keponakannya, akan membilang: “Sebentar, apabila kau tidak sanggup melawan Kwee Sieheng, itu tandanya kau sendiri yang tidak punya guna, kau tidak dapat menyesalkan lain orang, kita semua mesti dengan gembira meminum arak kegirangannya Kwee Sieheng itu! Jikalau kau memikir lainnya, hingga timbul lain kesulitan, bukan saja kedua locianpwee bakal tidak menerima kau, aku sendiri pun tidak gampang-gampang memberi ampun padamu!”

Ang Cit Kong tertawa berlenggak.

“Makhluk berbisa bangkotan, teranglah sudah kau merasa sangat pasti untuk kemenangan pihakmu ini!” ia berkata. “Kata-katamu ini sengaja kau perdengarkan untuk kami mendengarnya, supaya kami tidak usah mengadu kepandaian lagi dan lantas saja menyerah kalah!”

Auwyang Hong tertawa pula.

“Jikalau kau ketahui itu, bagus! Saudara Yok, silahkan kau menyebutkan syarat atau cara ujianmu itu!”

Oey Yok Su sudah berkeputusan akan menyerahkan gadisnya kepada Auwyang Kongcu, ia telah mengambil putusan akan mengajukan tiga soal yang mesti dapat dimenangkan calon baba mantunya. Tetapi, sedang ia memikir untuk membuka mulutnya, Ang Cit Kong dului ia.

“Main ujian? Itu pun baik!” kata Pak Kay. “Kita ada bangsa memainkan pukulan dan tendangan, maka itu saudara Yok, jikalau kau mengajukan syarat, mestilah itu mengenai ilmu silat. Umpama kata kau mengajukan urusan syair dan nyanyian, atau soal mantera dan melukis gambar dan lainnya, maka kami berdua terang-terang akan mengaku kalah saja, kami akan menepuk-nepuk kempolan kami dan mengangkat kaki, tak usah lagi mempertontonkan keburukan kami di depan kamu!”

“Itulah pasti!” Oey Yok Su memberikan kepastiannya. “Yang pertama-tama ialah mengadu silat…”

“Itulah tak dapat!” Auwyang Hong menyelak. “Sekarang ini keponakanku tengah terluka.”

“Inilah aku ketahui,” kata Oey Yok Su tertawa. “Aku juga tidak nanti membiarkan kedua sieheng mengadu kepandaian si Tho Hoa To ini, sebab itu dapat merenggangkan kerukunan kedua pihak.”

“Jadi bukannya mereka berdua mengadu silat?” Auwyang Hong menegaskan.

“Tidak salah!” sahut Oey Yok Su.

Auwyang Hong girang, ia tertawa.

“Benar!” katanya. “Apakah kepala penguji hendak memperlihatkan beberapa jurus untuk setiap orang mencoba-coba jurus itu?”

“Itu juga bukan,” Oey Yok Su menggeleng kepalanya. “Dengan cara itu sudah dipertanggungjawabkan yang aku nanti tidak berlaku berat sebelah. Bukankah diwaktu menggeraki tangan dapat orang membikin enteng atau berat sesuka hati? Saudara Hong, kepandaianmu dan sudara Cit sudah sampai dipuncaknya kemahiran dan barusan pun, sampai seribu jurus lebih, kamu masih sama tangguhnya. Sekarang baiklah kau mencoba Kwee Sieheng dan saudara Cit mencoba Auwyang Sieheng.”

Mendengar itu Ang Cit Kong tertawa.

“Cara ini tidak jelek!” bilangnya. “Mari, mari kita coba-coba!” sembari berkata, ia terus menggapaikan Auwyang Kongcu.

“Tunggu dulu!” berkata Oey Yok Su cepat. “Kita harus mengadakan aturannya. Pertama-tama; Auwyang Sieheng lagi terluka, tidak dapat ia mengempos semangatnya dan berkeras menggunkana tenaganya, dari itu kita harus menguji kepandaiannya tetapi bukan tenaganya. Kedua; kamu berempat harus bertempur di atas bambu, siapa yang terlebih dulu jatuh ke tanah, dialah yang kalah. Dan yang ketiga; Siapa yang melukai pihak anak muda, dialah yang kalah.”

Ang Cit Kong heran.

“Melukai anak muda dihitung kalah?” dia bertanya.

“Demikian selayaknya!” menjawab Oey Yok Su. “Kamu berdua sangat lihai, jikalau tidak diadakan aturan semacam ini, sekali kamu turun tangan, apakah kedua sieheng masih ada nyawanya? Saudara Cit, asal kau membikin lecet saja kulitnya Auwyang Sieheng, kau teranggap kalah! Demikian juga dengan saudara Hong!”

Pak Kay menggaruk-garuk kepalanya. Tapi ia tertawa.

“Oey Lao Shia si Sesat bangkotan benar-benar sangat ajaib bin aneh, bukan percuma namanya disohorkan!” katanya. “Pikir saja, siapa yang melukai musuh dia justru yang kalah! Aturan ini adalah aturan paling aneh sejak jaman purbakala! Tapi baiklah, mari kita bertindak menurut aturan ini!”

Oey Yok Su memberi tanda dengan kipasan tangannya, keempat orang itu sudah lantas berlompat naik ke atas pohon, merupakan dua rombongan; Ang Cit Kong bersama Auwyang Kongcu di kanan, dan Auwyang Hong bersama Kwee Ceng di kiri.

Oey Yok Su masgul. Ia ketahui baik, Auwyang Kongcu terlebih llihai daripada Kwee Ceng, benar pemuda itu terluka tetapi dengan mengadu ringan tubuh, dia masih terlebih unggul.

Oey Yok Su sudha lantas berseru; “Asal aku menghitung habis satu, dua dan tiga, kamu semua boleh mulai bertempur! Auwyang Sieheng dan Kwee Sieheng, siapa saja di antara kamu yang jatuh lebih dulu, dialah yang kalah!”

Mendengar begitu, Oey Yong berpikir keras, memikirkan daya untuk membantu Kwee Ceng. Ia bingung, Auwyang Hong sangat lihai, bagaimanaia dapat menyelak di antara mereka itu?

Segera Oey Yok Su menghitung: “Satu! Dua…! Tiga!”

Maka bergeraklah keempat orang di atas tiang bambu itu, bergerak-gerak bagaikan bayangan.

Oey Yong mengkhawatirkan Kwee Ceng, ia memasang mata. Ia melihat, cepat sekali sudah lewat belasan jurus. Ia menjadi heran, tidak kecuali Oey Yok Su, yang tidak menyangka pemuda itu demikian pesat kemajuannya.

“Aneh, mengapa dia masih belum kalah?” pikir Tong Sia si Sesat dari Timur.

Auwyang Hong sendiri berduka sangat, ia menjadi bergelisah sendirinya, dengan sendirinya ia mulai gunai tenaganya, untuk mendesak. Ia heran untuk lihainya si bocah. Dipihak lain, tidak dapat ia melukakan si bocah itu. Tapi ia berpikir keras, maka lekas juga ia mendapat jalan. Dengan tiba-tiba saja ia menyapu dengan kedua kakinya untuk membikin lawannya roboh, begitu lekas serangan pertama gagal, ia mengulanginya saling susul, bertubi-tubi.

Diserang secara hebat berantai begitu, Kwee Ceng membuat perlawanan dengan Hang Liong Sip-pat Ciang jurus “Naga Terbang di Langit”, tubuhnya beruulang-ulang berlompat, membal ke atas, sedang kedua tangannya, yang dibuka dan nampaknya tajam seperti golok atau gunting, senantiasa dipakai membabat ke arah kaki lawannya yang lihai itu. Ia jadi selalu berkelit sambil menyerang.

Hatinya Oey Yong berdebaran menyaksikan pertempuran dahsyat itu. Ketika ia melirik kepada Ang Cit Kong dan Auwyang Kongcu, ia mendapatkan cara mereka bertempur pun beda.

Auwyang Kongcu memperlihatkan kepandaian enteng tubuhnya, ia berlari-lari ke Timur dan Barat, sama sekali ia tidak sudi berhadapan sama Ang Cit Kong untuk bertempur sekalipun satu jurus. Kalau Ang Cit Kong merangsak, ia lekas-lekas menyingkir.

“Binatang ini main menyingkir saja, ia memperlambat tempo,” pikir Cit Kong. “Kwee Ceng sebaliknya tolol, dia melayani Auwyang Hong emngadu tenaga dan kepandaian, pasti dia bakal jatuh lebih dulu…”

Pengemis dari Utara ini segera berpikir. “Hm!” ia perdengarkan suara di hitungnya, lalu tiba-tiba saja ia lompat mencela tinggi, menubruk kepada si anak muda, kedua tangannya diulur dengan sembilan jarinya dibuka merupakan cengkeraman ceker baja.

Menampak demikian, Auwyang Kongcu terkejut. Segera ia menjejak dengan kaki kirinya, berkelit berlompat ke kanan.

Ang Cit Kong menubruk tempat kosong tetapi ia sudah dapat menduga orang bakal menyingkir ke kanan itu, maka juga dengan menjumpalitkan tubuhnya, ia mendahului lompat ke kanan, di sana segera ia bersiap dengan kedua tangan sambil ia berseru: “Biarlah aku kalah asal kau mampus lebih dulu!”

Auwyang Kongcu kaget bukan main, kaget karena gerakan orang yang sebat, yang seperti memegat jalannya, dan kaget untuk ancaman. Tidak berani ia menangkis serangan itu untuk membela dirinya. Di luar keinginannya, belum sempat ia memikirkan daya, kakinya sudah menginjak tempat kosong, maka terus saja ia jatuh. Ia telah memikir, kalahkah ia dalam pertandingan ini? Hanya ketika itu, Kwee Ceng pun jatuh di sampingnya!

Auwyang Hong telah berpikir keras karena sudah sekian lama ia tidak dapat merobohkan bocah lawannya. Kejadian ini membuatnya bergelisah. ia telah berpikir: “Jikalau aku mesti melayani dia sampai lebih daripada limapuluh jurus, ke mana perginya pamornya See Tok?” Karena ini ia mendesak, bagaikan kilat tangan kirinya menyambar ke belakang lehernya Kwee Ceng. Ia pun berseru: “Kau turunlah!”

Pemuda itu berkelit sambil mendak, tangan kirinya diulur, niatnya untuk menangkis, disaat mana, mendadak Auwyang Hong mengerahkan tenaganya. Ia menjadi kaget hingga ia menegur; “Kau…kau….” Ia hendak menanya: “Kenapa kau tidak menaati peraturan?” dan ia mengerahkan tenaganya. Atau mendadak Auwyang Hong tertawa dan menanya: “Aku kenapa?” Dengan mendadak juga ia membatalkan pengerahan tenaganya itu.

Kwee Ceng mengatur tenaganya, untuk melawan. Ia berkhawatir jago tua itu nanti menggunai kuntauw kodoknya, ia takut nanti terluka di dalam. Siapa sangka tengah ia berkuat-kuat, tiba-tiba saja penyerangnya itu lenyap dari hadapannya. Di dalam latihan dan pengalaman, sudha tentu ia kalah jauh dibandingkan dengan See Tok, maka syukur untuknya, dari Ciu Pek Thong ia telah memperoleh ilmu silat “Kong Beng Kun” yang terdiri dari tujuhpuluh dua jurus itu, yang sifatnya dalam “keras ada kelembekannya”, kalau tidak pastilah akan terjadi seperti di Kwie-in-chung tempo melayani Oey Yok Su, tangannya salah urat. Meski demikian, ia toh terjerumuk, kakinya limbung, tidak ampun lagi ia jatuh kepala di bawah, kaki di atas!

Kalau Auwyang Kongcu jatuh lurus, berdiri, Kwee Ceng menjadi terbalik. Keduanya jatuh berbareng. Tubuh mereka pun berada berdekatan. Auwyang Kongcu melihat tegas saingannya itu, mendadak saja timbul pikirannya yang sesat. Mendadak ia majukan kedua tangannya, untuk menekan kedua kakinya Kwee Ceng itu, berbareng dengan mana, meminjam kaki orang, ia apungi tubuhnya naik. Dengan demikian, selagi ia mumbul, Kwee Ceng sendiri turun semakin cepat.

Oey Yong kaget tidak terkira. Itulah artinya Kwee Ceng pemuda pujaannya bakal kalah. Tanpa merasa, ia menjerit; “Ayo!”

Hampir berbareng dengan jeritan itu, terlebihlah tubuh Kwee Ceng berbalik mencelat ke atas, di lain pihak, tubuhnya Auwyang Kongcu turun pula, bahkan terus jatuh ke tanah. Di lain pihak lagi, Kwee Ceng telah tiba di atas pohon, berdiri di sebatang cabang, lalu dengan meminjam tenaga cabang itu ia mendekam!

Menyaksikan kejadian itu dari kaget bukan main, Oey Yong menjadi girang bukan kepalang. Sungguh-sungguh ia tidak mengerti kenapa bisa terjadi demikian rupa sedang pada Kwee Ceng ia tidak nampak sesuatu aksi. Bukankah pemuda itu terpisah hanya lagi beberapa kaki dari tanah?

Auwyang Hong dan Ang Cit Kong pun sudah sama-sama berlompat turun, Ang Cit Kong tertawa terbahak-bahak, berulang-ulang ia berseru: “Sungguh indah! Bagus!”

Parasnya See Tok, sebaliknya muram.

“Saudara Cit, muridmu yang lihai ini campur aduk sekali ilmu kepandaiannya!” ia berkata, “Dia pun sampai dapat mempelajari ilmu gulat dari bangsa Mongolia!”

Ang Cit Kong tertawa.

“Tetapi aku sendiri tidak becus ilmu gulat itu!” katanya, mengaku terus-terang. “Bukanlah aku yang mengajarkan dia, maka itu janganlah kau main gila denganku!”

Sebenarnya Kwee Ceng kaget sekali yang Auwyang Kongcu sudah menekan kakinya itu berbareng si kongcu sendiri mengapungkan diri. Dia mengerti, hebat kalau dia jatuh, sedang si kongcu itu bakal berada di atasannya. Itulah artinya ia kalah dan bercelaka. Disaat segenting itu, ia tidak menjadi gugup. Ia melihat kaki orang di depan mukanya, hebat luar biasa, ia menyambar dengan kedua tangannya, menarik dengan keras seraya tubuhnya pun diapungkan ke atas. Memang itulah ilmu gulat orang Mongolia, supaya sesudah roboh dapat berlompat. Itulah ilmu gulat yang tak ada bandingannya turun temurun. Kwee Ceng menjadi besar di gurun pasir, sebelum ia berguru dengan Kanglam Cit Koay, ia sudah bergaul erat dengan Tuli dan lainnya bocah bangsa Mongolia itu, dengan sendirinya sering mereka adu gulat. Sekarang ia menghadapi bahaya, hampir tanpa berpikir, ia menggunai ilmu kepandaiannya itu. Ia pun meminjam tenaga lawan sama seperti Auwyang Kongcu meminjam tenaganya. Dan ia memperoleh kemenangan!

“Kali ini Kwee Sieheng yang menang!” Oey Yok Su sudah lantas mengasih dengar putusannya. “Kau jangan bersusah hati, saudara Hong, jangan panas. Auwyang Sieheng lebih lihai, siapa tahu pertandingan kedua dan ketiga dia nanti yang menang?”

“Kalau begitu, silahkan saudara Yok menyebutkan acara pertandingan yang kedua itu,” meminta Auwyang Hong.

“Pertandingan yang nomor dua dan nomor tiga ini adalah pertandingan sacara bun,” berkata Oey Yok Su. Cara “bun” ialah cara halus, tanpa kekerasan.

Mendengar ayahnya itu, Oey Yong menjerit.

“Ayah, terang-terangan kau berat sebelah!” katanya. “Kenapa kau menggunai cara bun? Ah, engko Ceng, sudahlah kau jangan mau bertanding pula!”

“Kau tahu apa?!” berkata sang ayah. “Dalam ilmu silat, kalau telah dicapai puncaknya kemahiran, apa orang akan terus main keras-kerasan saja? Acaraku yang kedua ini, kau tahu, adalah untuk meminta kedua sieheng mengenal sebuah lagu serulingku….”

Girang Auwyang Kongcu mendengar halnya acara itu. Katanya dalam hatinya: “Si tolol ini, apakah tahunya tentang ilmu tetabuhan? Kali ini pastilah aku ynag bakal menang…”

Auwyang Hong tapinya berkata; “Anak-anak muda masih lemah sekali latihannya bersemedhi menenangkan hati, aku khawatir tidak dapat mereka bertahan dari lagumu, saudara Yok.”

“Laguku lagu biasa saja, saudara Hong, jangan kau khawatir,” Oey Yok Su menghibur. Lalu ia menghadapai Auwyang Kongcu dan Kwee Ceng, untuk berkata: “Kedua sieheng, silahkan kau masing-masing mematahkan secabang pohon, kapan nanti kamu mendengar suara laguku, lantas kamu menimpali dengan mengetok-ngetok batang pohon itu. Siapa yang dapat menimpali paling tepat, paling bagus, dialah yang menang.”

Kwee Ceng maju menghampirkan tuan rumah, ia menjura.

“Oey tocu,” katanya hormat. “Teecu ini sangat tolol, tentang ilmu tetabuhan teecu tidak vtahu satu nol puntul, maka itu dalam pertandingan yang kedua ini teecu menyerah kalah saja….”

“Jangan kesusu, jangan kesusu!” Ang Cit Kong mencegah. “Biar bakal kalah, apakah halangannya untuk mencoba dulu? Apakah kau khawatir nanti ditertawakan orang? Jangan takut!”

Mendengar perkataan gutu itu, pikiran Kwee Ceng berubah. Ia pun melihat Auwyang Kongcu sudah lantas mematahkan sebatang cabang, maka ia lantas mencari secabang yang lain.

Oey Yok Su tertawa, ia berkata, “Saudara Cit berada disini, sungguh siauwtee membuatnya kau nanti menertawainya!”

Pemilik Tho Hoa To ini sudah lantas membawa seruling ke bibirnya, maka sedetiknya kemudian, ia sudah mulai meniup.

Auwyang Kongcu memasang kuping mendengar irama, cuma sebentar, ia lantas menabuh cabang pohonnya itu, memperdengarkan suara seperti timpalan kecrek. Ia mengerti lagu, dapat ia menimpali dengan baik.

Sebaliknya Kwee Ceng agaknya bingung, ia angkat bambunya tetapi ia tidak mengetok itu, maka juga ketika serulingnya Oey Yok Su sudah berbunyi lamanya sehirupan teh, ia masih belum menimpali sekali juga….

Melihat itu Auwyang Hong dan keponakannya menjadi girang sekali. Mereka merasa pasti, kali ini mereka bakal menang. Bukankah acara yang ketiga pun acara bun? Mereka percaya, mereka pun bakal menangi acara yang ketiga itu….

Oey Yong adalah sebaliknya dari itu paman dan keponakan. Ia bergelisah sangat. Ia berkhawatir sekali Kwee Ceng kalah. Maka dengan jari tangannya yang kanan, ia menepuk-nepuk lengannya yang kiri. Ia mengharap-harapi si anak muda melihatnya dan nanti menelad caranya itu. Untuk kecelenya, ia mendapat Kwee Ceng dongak mengawasi langit, berdiam saja, tak ia melihat pertandaannya itu….

Oey Yok Su masih meniup terus lagunya.

Sejenak kemudian, mendadak Kwee Ceng menepuk batang bambunya itu. Ia menepuk di tengah-tengah antara bagian dua tepukan.

Auwyang Kongcu tertawa terkekeh.

“Baru mengetok, dia sudah kalah!” pikirnya pemuda ini.

Kwee Ceng kembali menepuk pula, kembali di bagian tengah seperti tadi. Ketika ia mengulangi sampai empat kali, semuanya itu tidak tepat.

Oey Yong menggeleng-geleng kepala.

“Aku punya engko tolol ini tidak mengerti ilmu tetabuhan, tidak selayaknya ayah justru menguji ia dengan lagu!” katanya dalam hatinya. Sembari berpikir begitu, ia menoleh kepada ayahnya. Untuk herannya, ia menampak air muka ayahnya yang berubah. Ayah itu agaknya merasa aneh.

Kwee Ceng masih memperdengarkan pula kecrek bambunya itu, atas mana lau terdengar irama seruling seperti rancu, hanya sebentar kemudian, irama itu balik kembali dengan rapi menuruti lagunya.

Masih saja Kwee Ceng menepuk, tetap ia sama caranya itu, di tengah-tengah di antara dua bagian kecrekan, hanya caranya sebentar cepat sebentar perlahan, sebentar mendahului, sebentar ketinggalan. Cara ini hampir-hampir mengacaukan lagunya Oey Yok Su.

Kejadian ini bukan cuma mengherankan pemilik pulau Tho Hoa To itu, yang perhatiannya menjadi tertarik sekali, juga Auwyang Hong dan Ang Cit Kong tidak mengerti. Mereka turut menjadi heran.

Tadi Kwee Ceng telah mendengarnya suara pertempuran di antara seruling, ceng dan siulan, tanpa merasa ia menginsyafinya irama pertempuran istimewa itu, sekarang mendengar lagunya Oey Yok Su, mulanya ia memasang kuping dengan melongo, lalu akhirnya ia mengasih dengar suara bambunya untuk mengacau itu. Ia mengetok dengan keras, suaranya “Bung! Bung! Bung!”

Tidak peduli telah mahir ilmu menetapkan atau menenangkan hati dari Oey Yok Su, ia pun tergempur suara bambu orang itu, beberapa kali hampir ia membuatnya lagunya berbalik mengikuti ini suara kecrek istimewa dari Kwee Ceng: “Bung! Bung!”

Lantas Oey Yok Su mengasih bangun semangatnya.

“Hebat kau, bocah!” pikirnya. Ia meniup pula serulingnya, sekarang dengan irama perlahan tetapi banyak perubahannya, selalu berganti tekukannya.

Auwyang Kongcu memasang kupingnya, untuk menangkap lagu itu, baru sesaat, tanpa merasa ia mengangkat bambunya, sendirinya terus ia bergerak-gerak menari!

Auwyang Hong terkejut, ia menghela napas. Segera ia maju, untuk mencekal lengan keponakannya itu, menekan nadinya. Menyusuli itu, ia mengelarkan sapu tangan sutera, untuk menyumbat kuping orang, supaya Auwyang Kongcu tidak dapat mendengar lagu itu. Ketika kemudian si keponakan mulai tetap hatinya, baru ia lepaskan cekalan dan tekanannya itu.

Oey Yong sendiri tidak terganggu seruling ayahnya itu. Seperti sang ayah, ia sudah biasa mendengar itu lagu “Thia Mo Bu” atau “Tarian Hantu Langit”. Ia hanya berkhawatir untuk Kwee Ceng, takut si anak muda tak dapat menenangi diri, menetapi hati, untuk mempertahankan diri…………..

Kwee Ceng sudah lantas duduk bersila di tanah, ia menenangkan diri dengan latihan tenaga dalam Coan Cin Kauw, dengan begitu ia menentang rayuan atau bujukannya irama seruling yang menggoncangkan hati itu. Berbareng dengan itu, tak hentinya ia memperdengarkan kecrek bambunya, untuk mengacau lagu itu.

Tadi Oey Yok Su bertiga Ang Cit Kong dan Auwyang Hong, dengan lagu-lagu mereka telah mengadu irama, mereka dapat saling menyerang, saling membela diri, mereka tidak saja tak kena terbujuk atau terserang, sebaliknya mereka dapat menyerang. Sekarang Kwee Ceng kalah latihan tenaga dalam, ia tidak dapat menyerang, ia cuma bisa membela diri, malah rapat penjagaannya itu. Benar ia tidak bisa melakukan penyerangan membalas tetapi juga benar oey Yok Su tidak dapat menaklukinya.

Selang sesaat kemudian, suara seruling semakin lama jadi makin perlahan dan halus, sampai sukar terdengarnya. mendengar itu, Kwee Ceng berhenti dengan ketokan bambunya, ia memasang kupingnya.

Justru inilah lihainya Oek Yok Su. Makin perlahan suara serulingnya, makin besar tenaga menariknya. Begitu Kwee Ceng diam mendengari, bekerjalah pengaruh menarik itu. Irama seruling dan irama bambu bergabung menjadi satu, mestinya pemusatan pikiran si anak muda kena terbetot.

Tetapi Kwee Ceng bukannya lain orang. Coba lain orang, mestinya ia sudah runtuh, tak dapat ia meloloskan diri. Ia pernah menyakinkan ilmu saling serang dengan tangan sendiri, sebagimana ia telah lama berlatih dengan Ciu Pek Thong, maka itu, hatinya satu tetapi ia dapat memecahnya menjadi dua. Maka begitu ia mendengar suara aneh itu, yang membetot keras hatinya, ia memecah hatinya menjadi dua. Ia insyaf akan bahaya yang mengancam. Dengan demikian, sambil menetapi hati, menenangi diri, ia memperdengarkan pula suara sebatang bambunya yang ia pegang dengan tangan kirinya, maka mendengung pulalah suara bung-bung.

Oey Yok Su menjadi terperanjat saking herannya.

“Bocah ini mempunyai kepandaian luar biasa, tidak dapat ia dipandang enteng,” pikirnya. Tapi ia penasaran, ia mencoba pula. Tidak lagi ia berdiri diam, dengan mengangkat kakinya, ia bertindak dalam penjuru patkwa, delapan persegi, sembari jalan ia meniup terus serulingnya.

Kwee Ceng masih menepuk terus, kedua tangannya mengasih dengar tepukan yang berbeda, dengan begitu ia bagaikan dua orang yang menentang Oey Yok Su satu orang. Tenaganya pun bertambha sendirinya.

Oey Yocu bukan sembarang orang, makin ditentang ia jadi makin gagah, lalu nada serulingnya menjadi tinggi dan rendah, makin luar biasa terdengarnya iramanya itu.

Kwee Ceng terus melawan, tetap ia mempertahankan diri, sampai mendadak ia dapat merasakan dari suara seruling itu seperti ada hawa dingin yang menyambar kepadanya, bagaikan hawa dingin dari es membungkus dirinya. Tanpa merasa, ia mengigil.

Biasanya suara seruling halus dan lemah mengalun, panjang kali ini perubahannya ialah menjadi keras, bagaikan penyerangan dahsyat, maka itu Kwee Ceng merasakan hawa dingin meresap ke tulang-tulangnya. lekas-lekas ia memusatkan pikirannya lagi, ia memecah dua pula. Ia mengingat kepada matahari panas terik tergnatung di udara, di waktu musim panas memukul besi, atau dengan tangan memegang obor besar memasuki dapur ynag apinya marong dan panas sekali. Pemusatan perumpamaan ini berhasil mengurangi serangannya hawa dingin itu.

Kembali Oey Yok Su menjadi heran. Ia melihatnya ditubuh sebelah kiri Kwee Ceng ada sifat dingin, sebaliknya di tubuh sebelah kanan tertampak keringat keluar tanda dari hawa panas. Ia lantas merubha pula irama lagunya. Ia melenyapkan hawa dinginnya, ia mengganti itu dengan hawa panas dari musim panas.

Kwee Ceng terkejut karena perubahan itu, disaat ia hendak menentang lagi, suara batang bambunya sudah menjadi kacau sendirinya.

Oey Yok Su menyaksikan itu, katanya dalam hatinya: “Kalau ia memaksa melawan, ia masih dapat bertahan sekian lama, hanya kalau ia tetap terserang terus hawa panas dan dingin bergantian, kesudahannya ia bakal dapat sakit berat.” Karena memikir demikian, ia berhenti meniup serulingnya, maka sedetik saja, iramanya seperti lenyap di rimba. Maka berhentilah lagu seruling itu.

Kwee Ceng segera mengerti orang telah mengalah terhadapnya, ia lantas berlompat bangun, untuk memberi hormat kepada Oey Yok Su seraya menghanturkan terima kasih untuk kebaikan hati orang, yang ia bahsakan “Oey Tocu.”

Oey Yok Su heran hingga ia mau menduga; “Bocah ini masih sangat muda usianya, siapa tahu ilmu dalamnya begini bagus. Mustahilkah sengaja ia memperlihatkan sikap ketolol-tololan sedang sebenarnya ia cerdas luar biasa? Jikalau tapat dugaanku ini, anakku mesti dijodohkan dengannya. Baiklah aku mencoba pula!”

Begitulah ia tersenyum.

“Kau baik sekali!” katanya manis. “Kau masih memanggil Oey Tocu kepadaku?”

Dengan pertanyaannya itu Oey Yok Su hendak memberi tanda, “Dari tiga ujian, kau sudah lulus yang dua, karenanya sudah boleh kau mengubah panggilan menjadi gakhu tayjin.”

Arti “gakhu tayjin” ialah ayah mertua yang terhormat.

Kwee Ceng ada seorang yang jujur dan polos, ia tidak mengerti yang kata-kata orang mengandung dua maksud, maka ia menjadi gugup.

“Aku…aku…” katanya, lalu ia tak dapat meneruskannya. Lalu matanya mengawasi kepada Oey Yong, untuk memohon bantuan dari si nona…..

Oey Yong girang bukan main. Ia lantas menekuk-nekuk jempol kanannya. Itu berarti anjuran untuk Kwee Ceng bertekuk lutut kepada Oey Yok Su.

Kebetulan Kwee Ceng mengerti tanda itu, tanpa bersangsi lagi ia menjatuhkan diri di depan tuan rumah sambil mengangguk sampai empat kali. Meski ia memberi hormat secara begitu, tetapi mulutnya tetap bungkam.

“Kau memberi hormat kepadaku, kenapa?” tanya Oey Yok Su tertawa.

“Yong-jie yang menyuruh aku,” sahut si tolol.

“Ah, dasar tolol, tetap tolol!” pikir Oey Yok Su. Ia lantas mengulur tangannya kepada Auwyang Kongcu, guna menyingkirkan sumbatan di kuping anak muda itu sembari ia berkata; “Bicara dari hal tenaga dalam, Kwee Sieheng yang terlebih mahir, akan tetapi ketika aku menguji dengan lagu, kaulah, Auwyang Sieheng, ynag lebih mengerti….Begini saja, acara nomor dua ini aku anggap seri. Sekarang hendak aku memulai dengan acara yang ketiga, supaya dengan ini didapat keputusan siapa di antara kedua sieheng, siapa yang menang dan siapa yang kalah.”

“Aku, akur!” Auwyang Hong cepat-cepat memberi persetujuannya. Ia tahu keponakannya sudah kalah, ia tidak menyangka yang Oey Yok Su si juru pemisah sudah berbuat berat sebelah.

Ang Cit Kong menyaksikan itu semua, ia cuma tersenyum, tidak ia memperdengarkan suaranya. Melainkan di dalam hatinya ia bilang: “Si Sesat bangkotan, anak ialah anakmu, jikalau kau suka menikahkan dia sama pemuda doyang berfoya-foya, lain orang tidak dapat mencampur tahu! Tetapi aku si pengemis tua, aku ingin sekali menempur padamu. Sekarang aku berada bersendirian saja, dua tanganku tidak nanti sanggup melayani empat buah tangan, biarlah, nanti aku mencari dulu Toan Hongya, untuk ia membantu aku. Sampai itu waktu nanti jelaslah segala apa!”

Itu wkatu Oey Yok Su sudah merogoh sakunya untuk mengeluarkan sejilid buku yang bagian mukanya dilapisi cita merah, sembari berbuat begitu, ia berkata: “Bersama istriku aku mempunyai cuma ini seorang anak perempuan, tidak beruntung istriku itu, ia menutup mata habis melahirkan anaknya ini, sekarang aku merasa beruntung yang saudara Cit dan saudara Hong memandang mata kepadaku, bersama-sama kamu melamar gadisku ini. Jikalau istriku masih hidup, tentu ia girang sekali………..”

Merah matanya Oey Yong mendengar ayahnya menyebut-nyebut almarhum ibunya.

“Buku ini ialah buku yang ditulis sendiri oleh istriku semasa hidupnya istriku itu,” Oey Yok Su berkata pula. “Jadi inilah warisan dari hati dan darahnya… Sekarang aku minta kedua sieheng membaca buku ini, setelah selesai kau mesti membaca pula di luar kepala, siapa yang dapat menghapalnya lebih banyak kali dan tidak bersalah, akan aku serahkan anakku ini kepadanya…”

Ia berhenti sebentar. Ia menoleh kepada Ang Cit Kong, ia mendapatkan Pak Kay tersenyum. Lalu ia meneruskan; “Menurut aturan, Kwee Sieheng sudah menang satu pertandingan, tetapi kitab ini ada sangkut pautnya dengan kehidupanku, dan istriku pun meninggal dunia karena kitab ini, maka itu sekarang hendak aku memuji di dalam hatiku supaya ialah sendiri yang nanti memilih baba mantunya, biar ia memayungi salah satu sieheng ini.”

Sampai di situ habis sudah sabarnya Ang Cit Kong. Tadi ia masih dapat menguasai diri, dia hanya bersenyum. Sekarang tidak.

“Oey si bangkotan sesat!” ia berkata nyaring. “Siapa kesudian mendengari obrolan setanmu panjang-panjang? Terang kau mengetahui muridku tolol, dia tidak mengerti ilmu surat dan syair, sekarang kau suruh ia membaca dan menghapalnya di luar kepala, lalu kau menggertak dengan istrimu ynag sudha mati! Sungguh kau tidak tahu malu!”

Habis berkata, si pengemis mengibas tangannya, terus ia memutar tubuhnya untuk bertindak pergi.

Oey Yok Su tertawa dingin.

“Saudara Cit!” ia berkata, “Jikalau kau datang ke Tho hoa To ini untuk banyak tingkah, mestinya kau belajar pula ilmu silatmu untuk lagi beberapa tahun!”

Ang Cit Kong membalik pula tubuhnya, sepasang alisnya berbangkit.

“Apa?!” tanyanya bengis.

“Kau tidak mengerti ilmu Kie-bun Ngo-heng, jikalau kau tidak dapat perkenan dari aku, jangan kau harap nanti dapat keluar dari pulau ini!” menjawab si tuan rumah.

“Akan aku melepaskan api membakar ludas semua bunga dan pohonmu ynag bau!” Cit Kong berkata keras.

“Jikalau kau ada mempunyai kepandaianmu, cobalah kau bakar!” Oey Yok Su menentang.

Melihat kedua orang tua itu hendak berkelahi, Kwee Ceng maju sama tengah.

“Oey Tocu! Ang Locianpwee!” ia berkata. “Biarlah nanti teecu mencoba bersama Auwyang toako membaca buku itu dan menghapalnya di luar kepala. Teecu memang bebal, umpama teecu kalah, itulah sudah selayaknya…”

Oey Yok Su mendelik kepada si anak muda.

“Kau memanggil apa kepada gurumu?!” ia menegur.

“Teecu baru saja mengangkat guru, oleh karena teecu masih belum memberitahukan itu kepada enam guruku, sekarang ini belum berani teecu merubah panggilan,” Kwee Ceng memberi keterangan.

“Hah! Di mana sih ada sekian banyak kerewelan!” katanya Tong Shia sebal.

Luas pengetahuannya Oey Yok Su tetapi sepak terjangnya biasa menyalahi aturan atau kebiasaan, maka itu tidaklah ia puas mendapatkan pemuda itu demikian menjunjung ada peradatan.

“Bagus!” berseru Ang Cit Kong. “Aku masih belum terhitung gurumu! Kau sudi mendapat malu, terserah padamu! Silahkan, silahkan!”

Oey Yok Su tidak membilang suatu apa, hanya berpaling kepada anaknya.

“Kau duduklah baik-baik, jangan kau main gila!” katanya. Ia memesan demikian, karena ia khawatir anak itu membantu pula Kwee Ceng.

Oey Yong tersenyum, ia tidak menyahuti. Tapi ia berdiam dengan hatinya bekerja. Ia tahu kali ini pastilah Kwee Ceng bakal kalah, maka ia mengasah otaknya mencari jalan keluar untuk nanti buron bersama-sama pemuda itu….

Oey Yok Su lantas menitahkan Kwee Ceng dan Auwyang Kongcu duduk berendeng di sebuah batu besar, ia berdiri di depan mereka, ia memegangi kitabnya, yang ia ansurkan untuk mereka itu melihatnya, sebab mereka mesti membaca dengan berbareng.

Judul kitab ada “Kiu Im Cin-keng” Bagian Bawah, model hurufnya model Toan-jie. Begitu melihat itu, Auwyang Kongcu girang luar biasa. Ia berkata dalam hatinya: “Dengan segala macam akal aku memaksa Bwee Tiauw Hong menyerahkan kitab ini, siapa tahu sekarang mertuaku ini hendak berbuat baik kepadaku, ia membiarkan aku membaca kitab luar biasa ini!”

Kwee Ceng melihat enam huruf itu, tak sehuruf juga yang ia kenal. Ia berpikir: “Dia sengaja hendak membikin susah padaku! Surat yang berlugat-legot bagaikan cacing ini mana aku kenal? Biarlah, aku menyerah kalah…”

Ketika itu Oey Yok Su sudah mulai membalik kulitnya buku itu. Nyata huruf-huruf di dalamnya mermodel huruf Kay-jie, ialah huruf biasa dan huruf-hurufnya tertulis bagus sekali. Teranglah itu tulisannya seorang wanita. Ketika ia sudah membaca baris pertama, hatinya goncang. Baris itu berbunyi: “Aturan dari langit, rusak itu berlebihan, tambalan tak kecukupan, maka itu kosong lebih menang daripada luber, tak cukup menang menang…. Semuanya itu sudah pernah ia mendengarnya dari Ciu Pek Thong, yang pernah ia sudah menghapalnya. Maka ia lantas melihat lebih jauh. Untuk kegirangannya, semua itu adalah huruf-huruf yang ia sudah hapal benar.

Oey Yok Su menunggu sampai ia merasa orang sudah membaca habis, ia membalik pula halaman lainnya. Hal ini dilakukan terus selang sesaat. Hanya huruf-huruf itu makin lama makin tak lengkap susunannya, di bagian belakang menjadi kacau, sedang tulisannya sendiri makin lemah, seperti ditulis dengan kehabisan tenaga.

Terkesiap hati Kwee Ceng, karena sekarang ia ingat keterangannya Ciu Pek Thong halnya Oey Hujin, yaitu istrinya Oey Yok Su, yang sudah menuliskan isi kitab secara dipaksakan, kerana tubuhnya menjadi lemah, hingga diwaktu melahirkan Oey Yong, tenaganya habis dan menjadi meninggal dunia. Inilah kitab yang ditulis disaat-saat kematiannya nyonya itu.

“Mungkinkah yang Ciu Toako menitahkan aku menghapalkannya adalah isi kitab ini?” Kwee Ceng berpikir pula. “Adakah ini Kiu Im Cin-keng? Tidak, tidak bisa jadi! Kitab itu bagian bawahnya sudah dibikin lenyap oleh Bwee Tiauw Hong, bagaimana sekarang bisa berada di tangannya Oey Yok Su ini?”

Oey Yok Su melihat orang bengong, ia menduga mestinya kepala pemuda ini sudah pusing. Ia tidak mengambil mumat, ia terus membalik-balik pelbagai halaman setelah temponya, ia merasa, orang sudah membaca habis.

Mulanya Auwyang Kongcu dapat membaca dengan baik, kemudian toba kepada penjelasan cara melatihnya ilmu silat itu, ia bingung karena kata-katanya seperti terputar balik. Kemudian lagi, hatinya mencelos akan mendapatkan ada huruf-huruf yang berlompatan, hingga karangan tak lagi lancar. Di dalam hatinya ia menghela napas dan berkata: “Kiranya dia masih tidak hendak memperlihatkan kitab yang tulen…” Tapi ia dapat memikir sebaliknya; “Benar aku tidak dapat melihat isi kitab yang lengkap, tetapi toh aku jauh lebih banyak dapat mengingatnya daripada si tolol ini, mak adalam ujian ini pastilah aku yang bakal menang. Oh, si nona yang sangat cantik manis yang bagaikan putri kayangan ini, akhirnya toh bakal menjadi orangku juga…!”

Kwee Ceng juga melihat dan membaca setiap halaman yang dibalik terus oleh Oey Yok Su itu, ia mendapat kenyataan semua isinya itu sama seperti yang ia diajarkan Ciu Pek Thong, cuma bagian-bagian yang lompat saja yang tak terbaca tetapi ia ketahui itu, sebab ia masih hapal semua ajaran kakak angkatnya si orang tua yang jenaka dan berandalan itu. Ia mengangkat kepalanya, memandang ke arah pohon, ia tidak dapat menduga apa hubungannya ajaran Ciu Pek Thong itu dengan kitab ini.

Tidak lama, setelah membalik halaman terakhir, Oey Yok Su emngawasi kedua pemuda itu.

“Nah, siapa yang hendak membaca terlebih dulu di luar kepala?” dia menanya.

Sebelum menjawab, Auwyang Kongcu sudah berpikir untuk jawaban itu. Pikirnya: “Isi kitab kacau sekali, sangat sukar untuk dihapalkannya, maka baiklah aku menggunakan ketika aku baru saja habis membaca akan menghapalnya, dengan begitu pastilah aku akan dapat membaca lebih banyak…” Ia mau mengartikan, kesalahannya apstilah lebih sedikit. Karenanya, segera ia menyahuti: “Aku yang menghapal lebih dulu!”

Oey Yok Su mengangguk.

“Kau pergi ke ujung rimba ini, jangan kau mendengari dia lagi menghapal,” ia menitahkan Kwee Ceng kepada siapa ia berpalinng.

Kwee Ceng menurut, ia pergi jauhnya beberapa puluh tindak.

Oey Yong menjadi girang sekali. Ia pikir inilah ketikanya yang paling baik. Bukankah dengan begitu ia bisa mengajak si anak muda kabur bersama? Maka ia lantas angkat kakinya, hendak ia bertindak perlahan-lahan menghampirkan pemuda itu. Atau mendadak:

“Yong-jie, mari!” memanggil Oey Yok Su. “Kau juga mendengarinya mereka membaca diluar kepala, supaya kau jangan nanti mengatakannya aku berat sebelah!”

Mencelos hatinya si nona. Katanya ayah itu adil, tetapi kenyataannya sangat berat sebelah untuknya. Bukankah ia jadinya dicegah mendekati Kwee Ceng? maka itu ia berkata: “Ayah yang berat sebelah, tak usah ayah menyebutkannya orang lain!”

Oey Yok Su tidak gusar, bahkan ia tertawa.

“Tidak tahu aturan! Mari!” dia memanggil pula.

“Aku tidak mau datang!” sahut si anak, membelar. Di mulut ia mengucap demikian, tapi kakinya bertindak menghampirkan. Ia cerdik sekali, ia pun tahu tabiat ayahnya itu, kalau si ayah berjaga-jaga, sulit untuk ia kabur pula. Maka juga ia hendak memikir perlaha-lahan, untuk mencari akal. Ketika ia sudah datang dekat, ia memandang Auwyang Kongcu sambil tertawa manis.

“Auwyang Toako, ada apakah sih bagusnya aku?” ia bertanya. “Kenapa kau begini sangat menyukai aku?”

Bukan main girangnya Auwyang Kongcu. Manis sekali si nona. Hingga hatinya berdenyutan. Inilah ia tidak sangka.

“Adik, kau….” katanya kegirangan sangat, hingga ia seperti lupa ingatan, hingga tak dapat ia meneruskan kata-katanya.

“Toako, janganlah kau terburu-buru hendak pulang ke See Hek,” berkata pula Oey Yong, tetap dengan manis budi. “Kau diamlah di Tho Hoa To ini untuk beberapa hari lagi. Di See Hek itu sangat dingin, bukankah?”

“See Hek itu luas sekali wilayahnya,” menyahut Auwyang Kongcu. “Memang di sana ada banyak daerahnya yang dingin tetapi pun ada yang hangat dan nyaman seperri Kanglam.”

“Ah, aku tidak percaya!” berkata lagi si nona, yang membawa aksinya yang menggiurkan. Ia tertawa. “Kau memang paling suka memperdayakan orang!”

Auwyang Kongcu masih hendak melayani bicara, untuk membantah si nona itu, atau segera ia dihalangi oleh Auwyang Hong. See Tok sudah lantas dapat membade maksud Oey Yong si cerdik ini, bahwa sikap manisnya itu adalah daya belaka untuk mengacau otaknya Auwyang Kongcu, supaya pikirannya disesatkan ke lain soal, si keponakan jadi lupa kepada isinya kitab Kiu Im Cin-keng.

“Eh, anak!” demikian menegurnya. “Omongan yang tak perlunya baiklah kau bicarakan perlahan-lahan nanti, mari belum kasep. Sekarang lekas kau membaca di luar kepala!”

Auwyang Kongcu terkejut. Memang, karena perhatiannya ditarik Oey Yong, ia dapat melupakan apa yang barusan dihapalnya. Dan benar-benar ada yang ia lupa. Maka lekas-lekas ia memusatkan pikirannya. Sesudah itu, barulah dengan perlahan-lahan ia mulai membaca. Ia berhasil membaca permulaannya, ia lantas melanjuti. Tentu saja ia lupa di bagian-bagian yang penjelasan ilmu silatnya sulit, seperti Oey Hujin sendiri tidak ingat seanteronya.

Oey Yok Su tertawa kapan pemuda yang dipenujunya itu selesai membaca.

“Kau telah mendapat membaca banyak, bagus!” katanya. “Kwee sieheng, mari, sekarang giliranmu!”

Kwee Ceng bertindak menghampirkan. Ia melihat Auwyang Kongcu kegirangan, ia kagum, di dalam hatinya ia kata:” Anak ini benar-benar lihai, sekali membaca saja ia sudah dapat menghapal di luar kepala sedang tulisan itu kacau balau. Benar-benar aku tidak sanggup, maka sekarang baiklah aku emngahapal seperti yang Ciu Toako ajari aku.”

Ang Cit Kong melihat sikap muridnya itu, ia tertawa.

“Anak tolol, mereka itu sengaja hendak membikin kita bagus ditonton!” Ia berkata. “Baiklah kita mengaku kalah saja!”

“Memang aku pun sebenarnya tak dapat melawan Auwyang Toako,” Kwee Ceng membilang.

Mendadak Oey Yong berlompat ke ke atas payon paseban, yang telah roboh sebagian, di sana ia berdiri seraya menghunus pisau belati, yang ia letaki di depan dadanya. Ia berseru; “Ayah! Jikalau kau memaksa aku ikut si manusia busuk itu pergi ke See Hek, hari ini anakmu akan binasa untuk kau lihat!”

Oey Yok Su kenal baik tabiat anaknya itu.

“Letaki senjatamu!” ia berkata, “Kita dapat berbicara dengan perlahan-lahan.”

Sementara Auwyang Hong telah bekerja. Mendadak ia menekan tongkatnya ke tanah, segera terdengar satu suara aneh, terus dari tongkat itu melesat serupa senjata gelap yang luar biasa, menyambar ke arah Oey Yong.

Hebat melesatnya senjata rahasia ini, belum Oey Yong menginsyafinya, pisau belati di tangannya sudah kena terhajar hingga terlepas dan jatuh ke tanah. Dilain pihak tubuh Oey Yok Su pun berkelebat, sedetik saja ia sudah sampai di atas pesaben, dimana ia mengulur tangan merangkul pinggang putrinya.

“Benar-benarkah kau tidak sudi menikah?” katanya, perlahan. “Baiklah! Mari kau berdiam di Tho Hoa To menemani ayahmu seumur hidupmu!”

Oey Yong meronta-ronta, ia menangis.

“Ayah, kau tidak sayang Yong-jie, kau tidak sayang Yong-jie…!” katanya.

Menyaksikan itu, Ang Cit Kong tertawa berkakak. Ia tidak nyana Oey Yok Su, yang hatinya keras dan telangas, kewalahan melayani putrinya itu.

Selagi Ang Cit Kong berkpikir begitu, Auwyang Hong berpikir lain. Ia ini kata di dalam hatinya; “Baik aku menanti hingga sudah ada keputusan ujian ini, setelah itu hendak aku membikin habis pengemis tua serta si bocah she Kwee ini. Urusan lainnya pasti gampang diurus belakangan. Anak itu manja sekali, apa aku peduli?”

Karena ini, ia berkata: “Kwee Sieheng lihai sekali, kau sungguh satu pemuda gagah, maka itu di dalam ilmu surat kau tentu pandai juga. Saudara Yok, silahkan minta Kwee Sieheng mulai menghapal!”

Itulah kata-kata baik tetapi itu sebenarnya adalah desakan.

“Baiklah,” menyahut Oey Yok Su. “Yong-jie, kalau kau mengacau lagi, nanti kacau juga pikirannya Kwee Sieheng.”

Mendengar itu, benar-benar Oey Yong lantas menutup mulutnya.

Auwyang Hong ingin sekali si anak muda mendapat malu, ia mendesak; “Kwee Sieheng, silahkan mulai! Kami ramai-ramai akan mendengar dengan perhatian pembacaanmu di luar kepala.”

Mukanya Kwee Ceng merah seluruhnya.

“Mana dapat aku menghapal?” pikirnya pula. “Baik aku membaca ajarannya Ciu Toako…” Dan lantas ia membaca. Sebenarnya sudah beratus kali ia menghapal “Kiu Im Cin-keng”, karena Ciu Pek Tong tak bosannya mengajari ia, dari itu, ia masih ingat dengan baik itu semua. Demikian kali ini, mulai dengan perlahan, ia menghapal terus, makin lama makin lancar, selama itu tak sepatah kata yang salah atau berlompatan.

Orang semua tercengang. Bukankah bocah ini baru melihat hanya satu kali kitab yang dijadikan ujian itu? Maka kesannya ialah: “Bocah ini cerdas sekali tetapi ia nampaknya tolol. Kiranya dia sebenarnya berotak sangat terang!”

Oey Yok Su heran, apa pula setelah Kwee ceng sudah habis menghapal halaman keempat. Ia dapat kenyataan, kata-katanya si anak muda lebih rapi daripada kitabnya, seperti ditambahkan sepuluh lipat. Dan itulah memang bunyinya atau isi aslinya “Kiu Im Cin-keng” itu. Karena ini, tanpa merasa ia mengeluarkan peluh dingin.

“Mustahilkah istriku yang telah menutup mata itu demikian cerdas hingga di alam baka dia dapat mengingat kitab yang asli dan dia telah mengajarinya semuanya kepada pemuda ini?” ia bertanya dalam hatinya. Selagi ia berpikir, kupingnya mendengar terus suara yang lancar dan terang dari Kwee Ceng, yang menghapal terus-terusan. Maka ia mau percaya benar-benar istrinya sudah mewariskannya kepada si anak muda. Ia lantas mengangkat kepalanya, mendongak ke langit, dari mulutnya terdengar suara tak tedas: “A Heng, A Heng, sungguh kau sangat mencinta kepadaku, hingga kau pinjam mulutnya pemuda ini untuk mengajari aku Kiu Im Cin-keng…… Kenapa kau membiarkan aku tak dapat melihat pula wajahmu barang satu kali lagi? Setiap malam aku meniup serulingku, kau dengarkah itu?”

“A Heng” itu ialah nama kecil dari Oey Hujin, istri yang Oey Yok Su sangat mencintainya. Nama itu, sekalipun Oey Yong gadisnya, tidak mendapat tahu.

Orang banyak heran melihat sikapnya tocu dari Tho Hoa To ini, air mukanya berubah, air matanya mengembang, dan entah apa yang diucapkannya itu.

Cuma sebentar Oey Yok Su berada dalam keadaan yang luar biasa itu, mendadak ia kembali pada dirinya sendiri. Sekarang ia seperti bermuram durja. Ia mengibaskan tangannya, terus ia menanya Kwee Ceng dengan suara keras, sikapnya bengis: “Apakah kitab Kiu Im Cin-keng yang lenyap di tangannya Bwee Taiuw Hong terjatuh ke dalam tanganmu?!”

Kwee Ceng terkejut, hatinya pun ciut.

“Tee…teecu tidak mengetahui kitabnya Bwee Cianpwee itu terlenyap di mana….” sahutnya guup, suaranya tak lancar. “Jikalau aku mendapat tahu, pasti sekali aku suka membantu mencarinya, untuk dibayar pulang kepada tocu…”

Oey Yok Su mengawasi wajah orang dengan tajam, pada itu ia tidak nampak kepalsuan, maka itu maulah ia percaya orang tidak berdusta. Karenanya ia jadi mau percaya juga yang istrinya, dari dalam alam baka, sudah mewariskannya kepada pemuda ini.

“Baiklah, saudara Cit dan saudara Hong!” katanya kemudian, suaranya terang, “Inilah baba mantu pilihannya istriku almarhum, maka itu sekarang aku tidak dapat membilang apa-apa lagi. Anak, aku menjodohkan Yong-jie kepadamu, kau haruslah memperlakukan dia baik-baik. Yonng-jie telah termanjakan olehku, dari itu haruslah kau suka mengalah tiga bagian….”

Oey Yong girang bukan kepalang. Ia lantas saja tertawa. Sama sekali ia tidak menjadi likat karena keputusan itu.

“Ayah, bukankah aku satu anak baik?” ia berkata. “Siapa yang bilang aku telah termanjakan olehmu?”

Kwee Ceng benar tolol tetapi kali ini, tanpa menanti tanda pengajaran dari Oey Yong, sudah lantas ia menekuk lutut di hadapannya Oey Yok Su, untuk paykui empat kali seraya ia memanggil: “Gakhu Tayjin!” Tapi, belum sempat ia berbangkit, tiba-tiba Auwyang Kongcu membentak: “Tahan dulu!”

Ang Cit Kong girang bukan main, ia sampai ternganga, tetapi ketika ia mendengar suaranya Auwyang Kongcu, ia dapat berbicara.

“Apa?!” dia tanya. “Apakah kau belum juga menyerah?”

“Apa yang dibacakan saudara Kwee barusan jauh terlebih banyak daripada isinya kitab ini,” berkata Auwyang Kongcu. Ia pun rupanya menginsyafi itu. “Mestinya ia telah mendapatkan Kiu Im Cin-keng yang asli! Aku yang muda hendak membesarkan nyali, hendak aku menggeledah tubuhnya!”

“Oey Tocu sudah selesai menjodohkan putrinya, perlu apa kau menimbulkan kerewelan baru?!” Ang Cit Kong menegur. “Kau dengar apa kata pamanmu barusan?”

Matanya Auwyang Hong terbalik.

“Aku Auwyang Hong, mana dapat aku diakali orang?” dia berkata dengan nyaring. Ia mau percaya tuduhan keponakannya dan merasa pasti di tubuhnya Kwee Ceng ada kitab “Kiu Im Cin-keng” yang asli, bahkan sekejap itu ingin ia merampas kitab itu, hingga ia melupakan yang Oey Yok Su sudah memutuskan pilihan baba mantunya itu.

Kwee Ceng tidak takut digeledah, mana dia lantas meloloskan ikat pinggangnya.

“Auwyang Cianpwee, silahkan kau periksa!” ia menantang, ia berserah diri. Ia pun terus mengasih keluar segala isi sakunya, yang mana ia letaki di atas batu.

Auwyang Hong mellihat semua barang itu adalah uang perak, sapu tangan, batu api dan lainnya, tidak ada kitab, maka ia mengulurkan tangannya ke tubuh si anak muda.

Oey Yok Su kenal baik si See Tok yang sangat licik dan telangas, yang di dalam murkanya yang sangat dapat menurunkan tangan jahat. Kalau si Bisa dari Barat ini keburu menurunkan tangan, walaupun ia lihai, tidak nanti ia dapat mengobati menantunya itu. Maka hendak ia mencegah. Sambil batuk-batuk ia lonjorkan tangannya yang kiri, diletaki di tulang punggung Auwyang Kongcu. Itulah tulang paling penting pada tubuh manusia, asal Tong Shia menurunkan tangannya yang lihai, habis sudah tulang itu, terbinasalah Auwyang Kongcu di situ juga.

Ang Cit Kong dapat melihat sepak terjangnya Oey Yok Su, ia dapat menduga maksud orang, ia tertawa di dalam hatinya. Pikirnya: “Oey Lao Shia benar-benar sangat memihak! Sekarang ia menyayangi baba mantunya, dia lantas melindungi muridku yang tolol ini….”

Sebenarnya juga Auwyang Hong berniat menggunai pukulan kodoknya akan menghajar dengan meraba perutnya Kwee Ceng. Asal ia dapat menekan perut itu, selang tiga tahun, Kwee Ceng bakal dapat sakit dan akan mati karenanya. Tapi ia bermata awas, ia dapat melihat penjagaannya Oey Yok Su itu, lantas ia membatalkan niatnya itu. Ia menggeledah tubuh Kwee Ceng, ia tidak mendapatkan lainnya barang. Ia berdiam sesaat. Ia tidak mempercayai almarhum Oey Hujin benar-benar mewariskan kitab itu dari alam baka, untuk memilih menantunya. Setelah itu, ia dapat memikir lainnya lagi.

“Anak ini tolol, memang tak mungkin ia mendusta. Kalau aku menanya padany, mungkin sekali ia akan memberikan keterangannya yang sebenarnya…”

Maka ia gerakilah tongkat ularnya, hingga gelang emasnya berbunyi berkontrang, hingga dua ekor ularnya melilit-lilit.

Menampak itu, Kwee Ceng dan Oey Yong mundur bersama.

“Kwee Sieheng,” Auwyang Hong menanya, suaranya tajam, “Dari manakah kau mempelajarinya isi kitab Kiu Im Cin-keng ini?”

“Aku ketahui tentang sejilid kitab Kiu Im Cin-keng akan tetapi belum pernah aku melihatnya,” menyahut Kwee Ceng, jujur. “Kitab bagian atas ada pada Toako Ciu Pek Thong…”

Ang Cit Kong heran hingga ia menyelak.

“Eh, eh, mengapa kau panggil toako kepada Pek Thong?” ia menanya.

“Ciu Toako telah mengangkat saudara dengan teecu,” Kwee Ceng menyahut, kembali dengan sejujurnya.

“Yang satu tua bangka, yang lain muda belia, sungguh edan!” tertawa Ang Cit Kong. “Kacaulah aturan peradatan!”

“Kitab bagian bawah?” Auwyang Hong tanya pula.

“Kitab itu telah dibikin lenyap di telaga Thay Ouw, oleh Suci Bwee Tiauw Hong,” Kwee Ceng menyahut pula. “Sekarang Bwee Suci sedang dititahkan gakhu untuk mencari kitab itu. Aku telah memikir, setelah memberitahukan kepada gakhu, ingin aku pergi untuk membantu mencari.”

Dengan keponakannya, Auwyang Hong saling memandang.

“Kau belum pernah melihat Kiu Im Cin-keng, cara bagaimana kau dapat membacanya di luar kepala?” tanya pula Auwyang Hong, kali ini dengan bengis.

“Apakah yang aku baca barusan itu Kiu Im Cin-keng?” Kwee Ceng balik menanya. “Tidak, tidak bisa jadi! Itulah Ciu Toako yang mengajari aku menghapalnya!”

Diam-diam Oey Yok Su menghela napas, kelihatannya ia putus asa.

“Inilah seperti bicaranya hantu atau malaikat, sungguh sangat samar,” pikirnya. “Rupanya benar anakku berjodoh dengan bocah ini, maka segala-galanya terjadi secara kebetulan sekali.”

Selagi Tong Shia heran, Auwyang Hong menlanjuti pertanyaannya.

“Sekarang ini di mana adanya Ciu Pek Thong?” demikian tanyanya.

Kwee Ceng hendak memberikan penyahutannya, ketika mertuanya memotong: “Anak Ceng, tidak usah kau banyak omong.” Kemudian si Sesat dari Timur ini berpaling kepada Auwyang Hong untuk mengatakan “Inilah urusan tidak berarti, buat apa dibicarakan panjang-panjang? Saudara Hong, saudara Cit, kita sudah duapuluh tahun tidak bertemu, marilah di pulauku ini kita minum puas-puas selama tiga hari!”

Oey Yong pun segera berkata: “Cit Kong-kong, nanti aku memasaki kau beberapa rupa sayuran! Bunga teratai di sini bagus sekali, jikalau lembaran bunga itu dimasak ayam tim campur lengkak segar dan daun teratai, pastilah rasanya lezat sekali! Dan kau tentulah akan sangat menyukainya!”

Ang Cit Kong tertawa lebar.

“Sekarang telah tercapailah maksud hatimu!” katanya. “Lihat, bagaimana girangmu!”

Digoda begitu, Oey Yong tertawa.

“Cit Kong-kong, Auwyang Pepe, dan kau Auwyang Sieheng, silahkan!” ia lantas mengundang. Ia membawa sikap manis terhadap mereka semua, tak terkecuali Auwyang Kongcu.

Auwyang Hong menjura terhadap Oey Yok Su.

“Saudara Yok, aku menerima baik kebaikan hati kau ini,” ia berkata. “Saudara, di sini saja kita berpisahan….”

“Saudara Hong,” menyahut si tuan rumah, “Kau datang dari tempat yang jauh dan aku belum lagi melakukan kewajibanku sebagai sahabat, mana bisa enak hatiku?”

Sama sekali tidak ada niatnya Auwyang Hong, berdiam lebih lama lagi, karena ia telah putus asa. Sebenarnya ia datang bukan melulu untuk jodoh keponakannya itu, lebih daripada itu, hendak ia sesudah pernikahannya sang keponakan, bekerja sama Oey Yok Su mencari Kiu Im Cin-keng, kitab ajaib itu. Tidak demikian, sebagai ketua suatu partai, mana sudi ia sembarang menaruh kaki di Tionggoan? Pernikahan sudah gagal, ia pun lenyap harapannya, ia menjadi sangat tawar hatinya. Tetapi Auwyang Kongcu, si keponakan berpikir lain.

“Paman,” katanya Auwyang Kongcu, “Keponakanmu tidak punya guna, ia membikin kau malu, tetapi Oey Peehu telah menjanjikannya hendak mengajari keponakanmu semacam ilmu kepandaian….”

Auwyang Hong mengasih dengar suara “Hm!” Ia ketahui dengan baik belumlah padam cintanya si keponakan ini terhadap Oey Yong, maka juga si keponakan masih hendak mencari ketika untuk bisa terus berdekatan dengan nona itu. Alasan belajar ini adalah alasan yang paling baik. Si keponakan menjadi mungkin mendapat ketika akan merayu-rayu hati Oey Yong hingga si nona akhirnya terjatuh juga ke dalam pelukannya….”

Oey Yok Su dilain pihak jug atidak puas hatinya. Ia telah memberikan janjinya itu karena ia percaya pasti Auwyang Kongcu bakal lulus, maka hendak ia menurunkan semacam pelajaran kepada Kwee Ceng, siapa tahu kesudahannya adalah kebalikannya dugaannya itu, ialah Auwyang Kongcu yang jatuh.

“Auwyang Sieheng,” ia lantas berkata, “Kepandaian pamanmu adalah yang terlihai di kolong langit ini, tidak ada lain orang yang dapat menandanginya, karena ini adalah warisan keluargamu sebenarnya tak usah kau mencari dari lain kaum. Hanya apa yang dinamakan Co-to Pang-bun, yaitu ilmu golongan kiri atau sampingan, aku si tua masih juga mempunyakannya sedikit, maka jikalau sieheng tidak mencelanya, yang mana saja yang aku mengerti, suka aku mengajarkannya padamu.”

Auwyang Kongcu sudah lantas berpikir; “Hendak aku memilih yang paling lama dipelajarinya, yang paling meminta waktu. Tocu ini kabarnya mengerti ilmu Ngo-heng Ki-bun, baiklah aku minta ilmu itu yang tak keduanya dikolong langit ini, yang tentunya tak habis dipelajari dalam sehari semalam….” Maka ia lantas menjura dan berkata: “Keponakanmu mengagumi ilmu Ngo-heng Ki-bun dari peehu, maka itu aku mohon kebaikan budi peehu untuk mengajari saja aku ilmu itu.”

Oey Yok Su berdiam, tidak lantas ia menjawab. Ia merasa sulit. Ngo-heng Ki-bun itulah kepandaiannya yang paling utama, sekalipun kepada putrinya belum ia mewariskannya, maka itu cara bagaimana dapat ia menurunkannya kepada orang luar? Tetapia ia sudah mengeluarkan kata-katanya, tak dapat ia menyesal atau menarik pulang. Maka kemudian menyahutlah ia: “Ilmu Ki-bun itu menggenggam banyak sekali, kau hendak mempelajari yang mana satu?”

Auwyang Kongcu cuma mengutamakan dapat tinggal selama mungkin di pulau Tho Hoa To ini, maka itu ia menjawab; “Keponakanmu melihat jalanan di Tho Hoa To ini sangat berliku-liku, pepohonannya pun lebat sekali, aku menjadi sangat menganguminya, maka itu aku mohon peehu sukalah memperkenankan aku tinggal di sini untuk beberapa bulan. Dengan begitu maka keponakanmu jadi dapat ketika untuk belajar dengan sabar.”

Mendengar itu, air mukanya Oey Yok Su berubah. Ia segera melirik kepada Auwyang Hong. Di dalam hatinya, ia berpikir; “Jadinya kau hendak menyelidiki rahasianya pulauku ini! Sebenarnya, apakah maksud kamu?”

Auwyang Hong sangat cerdik, mengertilah ia sudah akan keragu-raguannya tuan rumah itu. Maka lantas ia menegur keponakannya: “Kau sungguh tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi! Tho Hoa To ini tercipta setelah peehumu menghabiskan hati dan darahnya, pulau ini teratur begini sempurna, bahwa orang luar tidak berani menyerbunya semua mengandal kepada lihainya ini, dari itu mana dapat peehumu membebernya kepada kau?”

Oey Yok Su tahu orang menyindir, dengan dingin ia berkata: “Walaupun Tho Hoa To ada hanya sebuah bukit yang gundul, orang di kolong langit ini belum tentu ada yang sanggup mendatanginya untuk membikin celaka pada aku Oey Yok Su!”

Auwyang Hong tertawa.

“Aku kesalahan omong, saudara Yok, maaf!” ia memohon.

“Hai, saudara Racun, saudara Racun!” Ang Cit Kong tertawa dan turut berbicara. “Akalmu ini akal memancing kemarahan orang, kau menggunainya dengan caramu yang kurang jujur!”

Oey Yok Su seperti habis akal, ia selipkan seruling kumalanya di leher bajunya.

“Tuan-tuan, silahkan turut aku!” ia mengundang.

Maka itu berhentulah pembicaraan mereka.

Auwyang Kongcu ketahui tuan rumah murka, ia melirik kepada pamannya.

Auwyang Hong mengangguk, lalu ia bertindak mengikuti tuan rumah. Yang lain-lainnya pun turut mengikutinya.

Jalanan berliku-liku, sekeluarnya dari rimba bambu itu, di depannya mereka terlihat sebuah pengempang teratai yang besar, yang bunga teratainya sedang mekar banyak, hingga di situ tersebarlah bau harum semerbak yang halus dari bunga yang indah dan bersih itu. Daun-daun teratai pun terampas luas dan lebar. Di tengah-tengah pengempang ada sebuah jalanan yang memotong untuk tiba di lain tepi, hingga dengan begitu pengempang itu menjadi terbelah dua.

Oey Yok Su berjalan di jalanan di tengah pengempang itu, ia memimpinnya orang banyak ke sebuah rumah yang nampak terawat rapi sekali, yang tiang-tiangnya terbuat dari batang-batang atau bongkol pohon cemara yang tak dibuangi babakannya hingga nampak jadi wajar. Di luar itu pun merambat pohon-pohon rotan yang beroyot. ketika itu ada di musim panas tetapi berada di dalam rumah itu, semua orang mersakan adem.

Oey Yok Su mempersilahkan lebih jauh keempat tetamunya masuk ke dalam kamar tulis dimana bujangnya yang gagu segera menyuguhkan the, yang airnya berwarna hijau, tetapi setelah dihirup, teh itu dingin bagaikan salju, meresap hingga ke ulu hati.

Ang Cit Kong tertawa, ia berkata: “Orang bilang, sesudah tiga tahun menjadi pengemis, berpangkat pun dia tak sudi, tetapi, saudara Yok, jikalau aku dapat tinggal tiga tahun di dalam duniamu yang begini adem nyaman, menjadi pengemis pun tak sudilah aku!”

“Saudara Cit,” menyahut Oey Yok Su, “Jikalau benar kau sudi tinggal untuk suatu waktu denganku di sini, supaya kita kakak beradik dapat minum arak dan mengobrol, itulah sungguh hal yang aku memintanya pun tidak dapat.”

Ketarik hatinya Ang Cit Kong mendengar suara orang yang sungguh-sungguh itu.

Tetapi Auwyang Hong segera berkata; “Kamu kedua tuan, jikalau kau sampai tidak berkelahi, tak usah sampai dua bulan lamanya, pastilah kau berhasil menciptakan semacam ilmu pedang yang luar biasa gaib!”

“Ha, kau mengiri?” tanya Ang Cit Kong tertawa.

“Tapi aku bicara dari hal yang benar!” menyahut Auwyang Hong.

Kembali Ang Cit Kong tertawa.

“Ini pun kata-katamu yang di hati lain di mulut lain!” bilangnya.

Dua orang ini tidak bermusuh besar tetapi mereka saling mendendam, di antaranya Auwyang Hong yang memikir dalam dan licik serta licik. Ang Cit Kong yang polos dan mulutnya terbuka, kalau Cit Kong tidak memikir sesuatu, See Tok sebaliknya menyimpan maksud, sebelum Ang Cit Kong mampus di tangannya, tak mau ia sudah. Hanya ia, karena liciknya, wajahnya ia tidak kentarakan sesuatu. Demikian kali ini, apapun yang Cit Kong bilang, ia mengganda tertawa.

Oey Yok Su sudah menekan pada suatu bagian dari mejanya itu, lalu terlihat di tembok sebelah barat ada sebuah gambar san-sui atau panorama gunung dan air yang bergerak naik sendirinya, setelah mana di situ lalu tertampak sebuah pintu rahasia. Ia mengulurkan tangannya ke dalam pintu itu, untuk menarik keluar segulung kertas. Ia mengusap-usap itu beberapa kali, kemudian ia memandang Auwyang Kongcu seraya berkata: “Inilah peta lengkap dari Tho Hoa To. Di pulau ini ada jalanan rahasia, jalan keder menuruti jurus patkwa, dan semua itu tercatat di dalam peta ini, sekarang kau ambillah ini, untuk kau mempelajarinya dengan seksama.”

Mendenagr itu, pemuda itu hilang harapannya. Yang ia harap adalah dapat tinggal lebih lama di Tho Hoa To, siapa tahu ia hanya diberikan sehelai peta pular. Ia merasa bahwa ia gagal, tetapi meski demikian, ia menjura untuk menyambuti peta itu.

Oey Yok Su tidak segera menyerahkan petanya itu.

“Tunggu dulu!” katanya.

Auwyang Kongcu melengak, ia menarik pulang tangannya yang sudah diulur itu.

“Setelah kau mendapatkan peta ini,” berkata Oey Yok Su, “Kau mesti pergi ke Lim-an, dimana kau mesti cari sebuah rumah penginapan atau kelenteng dimana kau dapat tinggal menumpang. Selang tiga bulan, aku nanti perintah orang untuk mengambil pulang. Peta ini cuma diingat dalam hati, aku larang kau membuat salinannya!”

Mendengar itu, di dalam hatinya, si pemuda berkata: “Kau tidak mengijinkan aku tinggal di pulaumu ini, siapa sudi memperdulikan segala ilmu sesatmu itu? Bagaimana dalam tempo tiga bulan aku dapat menolongi kau menjagai kitabmu itu? Jikalau ada kerusakan atau kehilangan, siapa yang dapat bertanggungjawab. Lebih baik aku tidak mengerjalannya!” Hampir ia menampik, ketika mendadak sebuah pikiran lain masuk ke dalam otaknya: “Dia kata hendak memerintah orang datang mengambilnya nantin, tentulah ia bakal mengutus gadisnya ini. Ini pun ada suatu ketika baik untuk berada dekat si nona….” Maka ia lantas mengubah pula pikirannya, terus ia mengulur pula tangannya, menyambuti peta itu, yang ia masuki ke dalam sakunya.

Auwyang Hong segera mengangkat kedua tangannya, untuk pamitan.

Oey Yok Su tidak menahan lagi, malah ia segera mengantarkannya hingga di muka pintu.

“Saudara Berbisa,” berkata Ang Cit Kong. “Lain tahun di akhir tahun kembali tiba saatnya perundingan ilmu pedang di gunung Hoa San, maka itu baik-baik saja kau memelihara dirimu, supaya nanti kita dapat bertempur secara hebat!”

Auwyang Hong menyahuti dengan tawar. Katanya: “Menurut aku baiklah kita tidak usah saling berebut lagi! Sekarang ini pun sudah ada ketentuannya siapa yang bakal menjadi orang yang ilmu silatnya paling lihai di kolong langit ini!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: