Kumpulan Cerita Silat

08/08/2008

Kisah Membunuh Naga [28]

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:53 am

Kisah Membunuh Naga [28]
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Thor)

Kedua ular itu saling mendekati dan mengeluarkan lidah mereka, yang bertopi emas menjilat punggung ular yang bertopi perak, sedang yang bertopi perakpun menjilat punggung yang bertopi emas. Sambil menunjukkan sikap saling mencintai itu. Perlahan-lahan mereka saling mendekati lingkaran. Buru-buru Boe Kie memasang kedua bumbung bambu di lubang lingkaran dan dengan tongkat bambu, ia menggebrak buntut Gin-koan Hiat-coa. Sekali berkelebat ular itu sudah masuk ke dalam bumbung. Kim-koan Hiat-coa masuk ikut masuk, tapi karena bumbung itu kecil, dan hanya memuat seekor ular dia tidak berhasil. Tiba-tiba ia mengeluarkan suara nyaring luar biasa. Boe Kie segera mencekal bumbung yang lain dan menggebrak pula buntut si topi emas yang sekali lompat, sudah masuk ke dalam bumbung. Si bocah lalu mengambil sumbat kayu dan menyumbat lubang bumbung.

Sedari Kim-gin Hiat-coa keluar, semua orang mengamati dengan menahan nafas dan jantung berdebar. Sesudah Boe Kie menutup bumbung, barulah barulah mereka bernafas lega.

“Coba masak air dan cuci lantai sampai bersih, supaya racun Leng cie lan tidak ketinggalan” kata si bocah. Enam murid perempuan lantas mengiakan dan tak lama kemudian lantai sudah di cuci dengan air panas.

Sesudah itu, Boe Kie minta supaya semua jendela dan pintu ditutup rapat dan ia minta pula Toet hong, Beng pan, Thay Hong, Kam co dan beberapa bahan obat lain yang harus digiling halus dan dicampur kapur.

Campuran ini lalu dimasukkan ke dalam bumbung Gin-koan Hiat-coa. Ular itu lantas saja mengeluarkan suara nyaring, disambut oleh si topi emas. Boe Kie lalu mencabut sumbat bumbung Kim-koa Hiat-coa yang lantas saja keluar dan jalan memutari bumbung si topi perak. Dari gerak-geriknya, ia kelihatan dalam kebingungan, tiba-tiba ia naik ke atas ranjang dan menyelinap ke dalam selimut Ngo kouw.

Ho Thay Ciong terkesiap, hampir saja berteriak, tapi Boe Kie keburu mengoyang-goyangkan tangannya. Sambil tersenyum, si bocah menyingkap selimut dan ternyata ular itu sudah menggigit ujung jeriji kaki Ngo kouw. “Dia akan menghisap racun dalam tubuh Hoejin,” katanya dengan paras muka girang.

Makin lama ular itu makin besar dan kira-kira semakanan nasi, dia sudah lebih besar berlipat ganda, sedang topinya bersinar terang. Tak lama kemudian dia turun dari ranjang, dan Boe Kie lalu mencabut sumbat bumbung Gin-koan Hiat-coa. Si topi emas lantas saja memuntahkan darah beracun ke dalam topi perak.

“Cukuplah!” kata si bocah. “Setiap hari mereka menghisap dua kali. Sesudah itu akan menulis surat obat untuk menghilangkan bengkak dan menguatkan badan. Dalam sepuluh hari Hoejin akan sembuh seanteronya.”

Tak kepalang girangnya Hoe Thay Ciong yang lalu mengajak Boe Kie ke kamar buku. “Saudara kecil kau mempunyai kepandaian seperti malaikat.” Katanya. “Tapi apakah aku boleh tahu latar belakang dari kejadian ini?”.

“Menurut Kitab Tok Boet Tay Coan, dalam urutan racun, Kim-gin Hiat-coa jatuh nomor tiga puluh tujuh,” menerangkan si bocah. “Biarpun mereka bukan termasuk binatang beracun terlihai, tapi mereka mempunyai satu keistimewaan, ialah mereka suka sekali makan racun. Leng cie lan yang ditanam di luar jendela kamar Hoejin, yang mengandung racun sangat hebat, dan sudah mengundang kedua ular itu.”

Ho Thay Ciong manggutkan kepalanya.

“Kim-gin Hiat-coa adalah sepasang, yang satu lelaki, yang satu perempuan.” Kata si bocah.

“Tapi dengan menggunakan Tay Hong, Kam Coe dan lain-lain, aku membakar Gin-koan Hiat-coa. Untuk menolong kawan hidupnya, Kim-koan Hiat-coa mesti menghisap racun dalam tubuh Hoejin. Sebentar, sesudah berselang tiga jam, aku akan membakar ular lelaki, yaitu Kim-koan Hiat-coa, dan ular perempuan pasti akan menghisap darah beracun dalam tubuh Hoejin untuk menolong yang lelaki. Dan begitu seterusnya sehingga darah beracun habis dihisap.”

Malam itu, dengan penuh kegembiraan Ho Thay Ciong menjamu Boe Kie dan Poet Hwie.

Selang beberapa hari, bengkak dimuka Ngo kouw mulai kempes. Semangatnya pulih dan sedikit sedikit ia sudah bisa makan dan minum. Sesudah lewat sepuluh hari, ia sembuh seluruhnya.

Hari itu Ngo kouw menjamu Boe Kie untuk menghaturkan rasa terima kasih dan mengundang juga Ciam Coen. Mukanya masih pucat, tapi kecantikkannya tidak berkurang. Ho Thay Ciong menemui dengan hati berbunga. Dengan menggunakan kesempatan itu, nona Ciam suka memohon kepada gurunya menerima Souw Hie Cie sebagai muridnya.

Si tua tertawa terbahak-bahak. “Coen jie” katanya, “siasat menyentak kayu bakar dari bawah kuali sungguh bagus. Kalau aku menerima bocah she Souw itu sebagai murid, di belakang hari kubakal turun kanilmu pedang Liong Heng It Pit Kiam kepadanya. Dengan demikian kedosaannya mencuri Kim-hoat tiada artinya lagi”.

Nona Ciam tertawa lalu berkata, “Soehoe, kalau bocah she Souw itu tidak mencuri kiam-hoat, teecoe tentu diperintah mencari dia dan tak akan bertemu dengan Thio Sieheng. Soehoe dan Ngo kouw mempunyai rejeki yang sangat besar. Tapi kalo dihitung-hitung, bocah she Souw itu juga turut berjasa”.

“Kau mempunyai begitu banyak murid. Tapi di waktu perlu, hampir semua tak ada gunanya” menyambuti Ngo kouw. “Kalau Cim Kouwnio penuju bocah itu terimalah. Di belakang hari, mungkin sekali akan menjadi muridmu yang paling boleh diandalkan”.

Ho Thay Ciong yang belum pernah membantah kemauan gundik itu, lantas mengangguk dan berkata. “Baiklah aku terima, tapi ada syaratnya”.

“Syaratnya apa?” tanya gundik.

“Sesudah menjadi muridku, dia harus belajar sunguh-sungguh,” kata si tua. “Syaratnya yaitu, dia tidak boleh memikir yang gila-gila menikah dengan Coen Jie”.

Paras nona Ciam lantas saja berubah merah dan ia lalu menunduk. Ngo Kouw tertawa cekikikan. “Aduh sebenarnya kau harus mengaca,” katanya. “kau sendiri mempunyai beberapa istri dan gundik, tapi kau melarang muridmu menikah”.

Si tua yang hanya ingin mengoda Ciam Coen lantas saja tertawa terbahak-bahak. “Minum, minumlah!” katanya.

Selagi bermakan minum sambil beromong-omong. Seorang pelayan kecil datang membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat sebuah poci arak. Ia segera menuangkan arak itu ke semua cawan. “Saudara Thio” kata si tua, “arak ini keluaran istimewa dari Koen Loen San, dibuat dari bit lay (buah lay muda) dan dinamakan Houw-pek Bit lay cioe. Hayolah kau harus minum beberapa cangkir”. Arak itu berwarna kuning emas dan harum baunya.

Boe Kie sebenarnya tidak suka minum arak tapi karena mengendus bau yang sangat harum. Ia jadi tertarik lalu mencekal cawan. Tapi, sebelum menceguknya, Kim-gin Hiat-coa yang berada dalam sakunya tiba-tiba bersuara dan meronta-ronta di dalam bumbung. “Tahan! Jangan minum arak itu!” kata Boe Kie.

Semua orang kaget dan serentak menaruh cawan dimeja. Si bocah segera mengeluarkan bumbung Kim-koan Hiat-coa dan mencabut sumbatnya. Ular itu lalu berjalan mengitari cawan arak dan kemudian minum isinya. Dengan beruntun ia minum tiga cangkir.

Setelah mengembalikan si topi emas kedalam bumbung. Boe Kie lalu mengeluarkan si topi perak yang minum tiga cawan. Kedua ular itu saling mencintai, sehingga kalau hanya satu yang dilepaskan, yang satu takkan lari. Selain itu ia sangat menurut kemauan majikan. Tapi bila dilepas kedua-keduanya, dia bukan saja akan kabur, tapi malah mungkin menyerang manusia.

“Saudara Kecil,” kata Ngo kouw sambil tertawa, “ular itu suka minum arak sungguh menarik”.

“Coba suruh orang tangkap anjing atau kucing lalu suruh bawa kemari.” Kata Boe Kie.

“Baiklah” kata si pelayan.

“Ciecie berdiam saja di ini,” cegah si bocah. “Biar orang lain saja yang menangkapnya”.

Tak lama kemudian seorang pelayan lain datang dengan membawa anjing. Boe Kie lalu mengambil arak dan menuangkannya ke mulut anjing itu. Berapa saat kemudian sesudah menyalak beberapa kalibinatang itu seketika roboh mati dengan mengeluarkan darah dari mulut, kuping dan hidungnya.

Ngo kouw menggigil. “Arak? Arak itu beracun…” katanya terputus-putus. “Siapa yang coba membinasakan kita? Saudara Thio bagaimana kau tahu?”

“Kim-gin Hoat-coa suka makan racun dan begitu mengendus bau racun, mereka bersuara dan meronta ronta,” menerangkan Boe Kie.

Paras muka Ho Thay Ciong pucat bagaikan kertas. Sambil mencekal pelayan kecil itu, ia bertanya dengan suara perlahan, “Siapa yang menyuruh kau membawa arak itu?”

Si pelayan ketakutan setengah mati.dengan suara gemetar dia menjawab “Aku…aku tak tahu….arak itu beracun. Aku…mengambil dari dapur.”

“Waktu kau datang kemari dari dapur, apa kau bertemu dengan orang lain?” tanya pula si tua.

“Ya, di lorong aku bertemu dengan Heng Hong.”jawabnya. “Ia menarik tanganku dan mengajakku omong-omong. Sesudah itu ia membuka tutup poci dan mencium-cium arak itu.”

Ho Thay Ciong. Ngo kouw dan Ciam Coen saling mengawasi. Heng Hong adalah seorang pelayan kepercayaan istri pertama dari si tua.

“Ho sianseng,” kata Boe Kie, “dalam hal penyakitnya Hoejin ada sesuatu yang sangat mengherankan dan tak dapat dipecahkan olehku. Baru sekarang aku melihat latar belakangnya. Coba pikir, mengapa kedua ular itu menggigit kaki Hoejin? Sekarang aku mendapatkan jawabannya. Sebabnya ialah dalam tubuh Hoejin memang sudah ada racun, dan racun itu mengundang Kim-gin Hiat-coa. Menurut pendapatku, orang yang meracuni Hoejin adalah orang yang menaruh racun di dalam poci arak.”

Sebelum si tua menjawab, sekonyong-konyong tirai pintu tersingkap dan satu bayangan manusia berkelebat. Hampir berbareng Boe Kie merasa bahwa teteknya sakit bukan main. Jalan darahnya sudah ditotok orang.

“Benar! Aku meracuni!” demikian terdengar suara yang sangat nyaring. Orang yang berkata, badannya jangkung, matanya berpengaruh dan pada paras mukanya terlihat sinar pembunuhan. Sambil menengok pada Hong Thay Ciong ia berkata “Akulah yang sudah menaruh ular kelabang ke dalam arak. Mau apa kau?”.

Dengan mata membelalak Ngo kouw mengawasi wanita itu. Perlahan-lahan ia bangkit dan berkata sambil membungkuk. “Tai tai!” (tai tai, nyonya besar).

Wanita itu adalah istri pertama dari Hong Thay Ciong, namanya Pan Siok Ham. Ia memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, lebih tinggi dari suaminya yang sangat takut terhadapnya. Takut memang takut, tapi si tua tetap mengambil gundik dan setiap kali mengambil gundik baru, rasa takutnya setiap kali bertambah.

Melihat kedatangan si harimau betina, si tua tak berani mengeluarkan suara.

“Eh aku bertanya, aku yang menaruh racun, mau apa kau?” bentak sang istri.

“Biarpun kau membenci pemuda itu, sepak terjangmu keterlaluan,” kata Hong Thay Ciong.

“Kalau aku tidak keburu mengetahuinya, bukankah sekarang sudah mati?”

“Semua lai-laki bukan manusia baik-baik, aku memang ingin kamu mampus semua,” kata nyonya galak itu. Ia menggoyang-goyang poci arak yang ternyata masih banyak isinya.

Ia segera menuang secawan penuh dan menaruh di depan si tua. “Sebenarnya aku ingin mampuskan kamu berlima,” katanya. “tapi setan kecil itu keburu mengendus rahasia. Sekarang aku bersedia mengampuni empat orang. Tapi arak itu harus diminum oleh salah seorang. Aku tak peduli siapa yang mau meminumnya. Terserah pada kau setan tua!” seraya berkata itu, ia menghunus pedang.

Pan Siok Ham adalah seorang murid terlihai dari Koen Loen Pay. Ia berusia lebih tua daripada Ho Thay Ciong dan lebih dulu belajar di Koen Loen San. Di waktu muda, Ho Thay Ciong berparas tampan dan sangat dicintai oleh soecienya. Karena kebentrok dengan seorang cianpwee dari Beng Kauw, guru mereka mati mendadak, sebelum keburu memberi pesanan kepada murid2nya. Oleh karena begitu murid itu segera berebut kedudukan Ciang boejin. Masing-masing sungkan mengalah. Pan Siok Ham tampil kemuka dan membela Ho Thay Ciong, sehingga pada akhirnya, si tua berhasil merebut tampuk pimpinan.

Sebab merasa berhutang budi, ia segera menikah dengan soecienya itu. Diwaktu muda segala apa masih berjalan licin. Tapi sesudah sang istri berusia lanjut, dengan menggunakan alasan tidak mempunyai keturunan, ia mengambil gundik. Satu demi satu. Tapi makin banyak gundiknya, makin takut terhadap istrinya yang galak itu.

Melihat arak racun itu, sedikitpun ia tak dapat ingatan untuk membantah. “Aku sendiri tentu tidak boleh meminumnya.” Katanya di dalam hati. “Ngo kouw dan Coen jie juga tak boleh. Boe Kie tidak boleh. Boe Kie seorang tuan penolong. Hanya perempuan kecil saja yang tiada sangkut pautnya denganku,” Memikir begitu, ia segera bangkit dan menaruh cawan arak di depan Yo Poet Hoei. “Anak kau minumlah,” katanya.

Si nona cilik ketakutan. Ia sudah menyaksikan dengan mata sendiri kebinasaannya seekor anjing. Ia menangis dan berkata. “Tak mau! Arak itu ada racunnya”.

Si tua segera mencengkram dada Poet Hoei tapi sebelum ia bisa menuang arak itu kedalam mulut si nona, Boe Kie sudah berkata dengan suara dingin. “Biar aku yang minum”.

Si tua bersangsi, biarpun tak tahu malu ia merasa tak tega.

Pan Siok Ham yang sangat membenci Boe Kie lantas saja berkata. “Seta cilik itu sangat licik, mungkin sekali ia sudah menyediakan obat pemunah. Kalau ia yang minum, secawan tak cukup. Dia harus minum kering sisa arak yang ada dalam poci.”

Si bocah mengawasi Ho Thay Ciong dengan harapan ia akan coba membujuk istrinya. Tapi dia menutup mulut. Ciam Coen dan Ngo kouw tidak berani mengeluarkan sepatah kata. Mereka khawatir, kalau banyak bicara, harimau betina itu akan menjadi gusar dan menumplak hawa amarah Di atas kepala mereka.

Hati Boe Kie dingin bagaikan es. “Jiwa beberapa orang itu ditolong olehku.” Pikirnya. “Tapi waktu jiwaku sendiri terancam, mereka berpeluk tangan. Jangankan menolong, bicara saja mereka tak berani.” Memikir begitu ia menghela nafas. “Ciam Kouw nio,” katanya. “Sesudah aku mati aku minta pertolonganmu untuk mengantar adik kecil ini kepada ayahnya di puncak Co Bo Hong. Apakah kau sudi melakukan itu?”.

Ciam Coen melirik gurunya yang lalu manggut-manggutkan kepala. “Baiklah,” kata nona Ciam.

Boe Kie tahu bahwa wanita itu tidak bersungguh-sungguh tapi ia mengerti, terhadap manusia yang tidak berbudi, tak guna ia bicara banyak-banyak. Ia tertawa dingin dan berkata dengan suara yang dingin pula. “Koen Loen Pay dikenal sebagai partai yang lurus bersih. Aku tak nyana Koen Loen Pay berbuat sedemikian. Ho sianseng mari poci itu”.

Mendengar ejekan yang sangat menusuk, si tua merasa sangat gusar. “Lebih cepat ia mampus, lebih baik lagi,” pikirnya. Ia segera mengangkat poci arak dan menuang semua isinya kedalam mulut Boe Kie. Sambil menangis, Poet Hoei memeluk kakaknya.

“Biarpun ilmu ketabibanmu sangat tinggi, aku bisa mencegahmu menolong jiwamu,” kata Pan Siok Ham yang lalu mengirim beberapa totokan ke jalan darah Boe Kie. Sesudah itu, dengan menggunakan gagang pedang, ia juga menotok jalan darah Ho Thay Ciong, Ngo kouw, dan Ciam Coen. “Sesudah dua jam barulah aku melepaskan kamu,” katanya.

Waktu ditotok, Ho Thay Ciong bertiga sama sekali tidak berani bergerak.

“Semua keluar,” bentak si harimau betina. Dan semua pelayan buru-buru keluar. Pan Siok Ham keluar paling belakang dan mengunci pintu.

Beberapa saat kemudian Boe Kie merasa perutnya sakit bukan main. Melihat nyonya itu sudah berlalu dan mengunci pintu, hatinya jadi lebih lega. Sambil menahan sakit, ia mengerahkan Lweekang dan dengan ilmu yang didapat dari Cia Soen ia membuka semua jalan darah yang ditotok. Sesudah kaki tangannya merdeka, ia segera mencabut beberapa lembar rambut yang lalu digunakan untuk menggilik tenggorokannya. Ia muntah-muntah dan sebagian besar arak beracun itu sudah dimuntahkannya.

Melihat si bocah bisa membuka jalan darahnya sendiri, Ho Thay Ciong bertiga merasa sangat kagum. Si tua sebenarnya ingin menghalangi Boe Kie, tapi ia tidak bisa bergerak. Racun dalam perut Boe Kie belum keluar semua tapi ia tidak bisa muntah lagi. “Paling dulu aku harus menyingkir,” pikirnya. Ia menghampiri Poet Hoei dan mencoba membuka jalan darah si nona, tapi tidak berhasil, karena totokan Pan Siok Ham lain daripada ilmu yang lain. Maka ia segera membuka jendela dan setelah melihat tidak ada orang, ia lalu mendukung Poet Hoei dan menurunkannya dikuar jendela.

Jika menggunakan Lweekang, dalam tempo kira-kira setengah jam Ho Thay Ciong akan bisa membuka jalan darahnya sendiri. Tapi Boe Kie sudah siap untuk melarikan diri, dan jika istrinya menanyakan, satu gelombang hebat akan terjadi pula.

Di samping itu, jika seorang bocah Boe Tong Pay bisa kabur dengan tangan kosong dari Sam Seng Tong dan kemudian memberitakan kebusukannya sebagai manusia yang tak mengenal budi, sebagai seorang pemimpin partai besar, di mana ia harus menaruh muka? Maka itu, biar bagaimanapun juga, kaburnya bocah itu harus dicegah.

Memikir begitu ia lantas saja menarik nafas dalam-dalam untuk berteriak memanggil istrinya. Tapi Boe Kie sudah lantas bisa menebak niatnya. Ia mengeluarkan sebuah pil berwarna hitam yang lalu dimasukan ke dalam mulut Ngo kouw. “Pil ini racun Kioe Pie Wan,” katanya. “Berselang dua belas jam, orang yang memakannya akan mati dengan usus putus dan jantung hancur. Aku akan menaruh obat pemunah di satu pohon yang jauhnya tiga puluh li dari sini. Pohon itu akan diberi tanda dan tiga jam kemudian Ho sianseng boleh menyuruh orang untuk mengambilnya. Bilamana aku tertangkap dan mati, aku bukan mati sendirian.”

Kejadian itu tidak disangka-sangka oleh Ho Thay Ciong. Sesudah memikir sejenak, ia berkata dengan suara perlahan. “Biarpun Sang Seng Tong bukan kobokan naga atau sarang harimau, kurasa seorang yang sepertimu takkan bisa keluar dari tempat ini.”

Boe Kie tahu bahwa dengan berkata begitu, si tua buka omong besar. Tapi ia bersikap acuh tak acuh dan berkata dengan suara tawar, “Menurut pendapatku, kecuali dengan obatku sendiri, racun Kioe Pie Wan tak akan bisa dipunahkan dengan apapun juga.”

Ho Thay Ciong mengerutkan alis, “Baiklah” katanya. “Bukalah jalan darahku, aku akan mengantarmu keluar dari tempat ini.”

Jalan darah si tua yang tertotok adalah Hong Tie dan Keng Boen. Boe segera mengurut jalan darah Thian Coe, Hoan Siauw, Toa Wie, dan Siang Kie. Tapi sudah berusaha beberapa lama ia masih juga belum berhasil.

Hal itu sudah mengejutkan mereka berdua. Boe Kie kaget, karena sudah menggunakan tujuh macam cara untuk membuka jalan darah, yang didapat oleh Ouw Ceng Goe, ia masih belum berhasil.

Si tua terkejut, sebab ia mendapat kenyataan, bahwa si bocah memiliki rupa-rupa ilmu membuka jalan darah dan tenaga dalamnyapun sudah cukup tinggi. “Anak ini benar lihai,” katanya dalam hati, “Siok Ham menotok tujuh delapan jalan darahnya, tapi ia tidak bergeming. Boe Tong Pay sungguh tidak boleh dibuat gegabah. Untung juga, waktu itu berada di Boe Tong san aku tidak turun tangan, kalau tanganku iseng, bisa jadi aku celaka. Murid Boe Tong yang begitu kecil sudah begitu lihai. Apalagi yang sudah dewasa,” ia tak tahu bahwa “kekebalan” Boe Kie terhadap Tiam Poat didapatkan dari Cia Soen, sedang rupa-rupa ilmu membuka jalan darah didapat dari Ouw Ceng Goe, sehingga tidak ada sangkut paut dengan Boe Tong Pay.

Mendadak Ho Thay Ciong mendapat serupa ingatan dan ia lantas saja berkata. “Bawa kemari poci teh dan tuang tehnya ke mulutku”.

Boe Kie merasa curiga, tapi mengingat, demi keselamatan gundiknya, si tua pasti tidak berani main gila terhadapnya, maka ia lantas saja mengangkat poci teh itu dan menuangkan isinya kedalam mulut Ho Thay Ciong.

Si tua tidak menelan air teh itu. tiba-tiba sambil menggerakan Lweekang, ia menyembur dan bagaikan sebatang anak panah, air itu menyambar tekukan sikutnya di bagian Ceng Leng Yao. Hampir berbareng, lengannya dapat digerakkan pula.

Sedari datang ke Sam seng tong, Boe Kie memandang rendah Ho Thay Ciong karena lagal lagunya seperti takut bini menyayang gundik, licik dan sebagainya tidak mendatangkan keindahan. Tapi sekarang, ia kaget melihat kepandaian si tua. Ia lantas bisa mati seketika.

Sesudah lengan kanannya merdeka, ia segera membuka jalan darah di betisnya. “sesudah kau menyerahkan obat pemunah, aku akan mengantar kau keluar dari selat ini.” katanya.

Si bocah tidak menyahut, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Si tua bingung, “Aku adalah Ci boen jin dari Koen Loen Pay,” katanya. “Tak bisa jadi aku mendustai anak kecil seperti kau bukan”?Kalau terlambat dan racun itu keburu mengamuk, jiwanya tidak bisa tertolong.”

“Racun itu tidak akan menggamuk sebegitu cepat,” kata si bocah.

Thie-khim Sianseng menyerah kalah. Sambil menghela nafas ia berkata. “Baiklah mari aku antar kamu.”

Sesudah melompat dari jendela, Ho Thay Ciong segera menyentuh punggung Poet Hoei dengan jerijinya dan jalan darah si nona yang tertotok lantas saja terbuka. Gerakan tangannya indah dan sangat cepat, bagaikan mengalirnya air, sehingga Boe Kie merasa sangat kagum dan sinar matanya mengeluarkan sinar memuja. Sedari bertemu dengan si tua, belum pernah ia memperlihatkan sikap begitu. Ho Thay Ciong mengerti perasaan si bocah dan ia tersenyum simpul.

Sambil menuntun tangan kedua anak itu, ia lalu mengajak pergi ke taman bunga dan keluar dari pintu samping. Dari depan sampai belakang, Sam Seng Tong terdiri dari delapan bangunan dan setelah keluar dari pintu samping, mereka berjalan di suatu jalan kecil yang berliku-liku.

Sesudah itu mereka masuk pula ke beberapa bangunan dan melewati lagi banyak ruangan. Tanpa pengantar, andaikata mereka tidak didengar murid Koen Loen, belum tentu mereka bisa keluar dari Sam Seng Tong. Dengan demikian rasa hormat dalam hati Boe Kie jadi bertambah besar.

Sekeluarnya dari Sam Seng Tong, dengan lengan kanan mendukung Poet Hoei dan tangan kiri menuntun Boe Kie, Ho Thay Ciong segera berlari-lari ke jurusan barat laut dengan ilmu ringan badan.

Dengan badannya separoh diangkat, Boe Kie merasa seperti terbang melayang-layang di tengah udara. Setiap lompatan si tua berjarak kira-kira setombak begitu lekas ujung kakinya menotol tanah, badannya sudah mengapung dan melesat lagi kedepan. Dalam sekejap mereka sudah dua puluh li lebih.

Selagi enak melayang-layang di sebelang belakang sekonyong-konyong terdengar teriakan. “Ho Thay Ciong!…Ho Thay Ciong!…tahan.” Suara itu bukan lain suara Pan Siok Ham.

Ho Thay Ciong segera menghentikan tindakannya. Sambil menghela nafas ia berkata. “Saudara kecil, kamu larilah. Istriku mengubar, aku tidak bisa mengantarmu lebih jauh”.

“Perlakuannya terhadapku tidak bisa dikatakan terlalu jelek” pikir Boe Kie yang lantas saja berkata, “Ho Sianseng, kau pulanglah. Pil yang ditelan oleh Hoejin bukannya racun. Pil itu hanya San pwee wan, obat untuk melicinkan tenggorokan dan menghentikan batuk. Beberapa hari berselang Poet Hoei moay batuk-batuk dan aku membuat pil itu untuk mengobatinya. Sisanya masih ada beberapa butir dan aku merasa menyesal bahwa aku telah mengangetkanmu”.

Si tua kaget dan gusar, “Apa benar bukan racun?” bentaknya.

“Jiwa Ngo Hoejin telah ditolong olehku,” jawabnya, “Mana tega aku mencelakakannya lagi?”

Sementara itu suara teriakan Pan Siok Ham sudah semakin dekat.

Bahwa Ho Thay Ciong sudah membawa lari kedua anak itu adalah karena rasa cintanya terhadap Ngo kouw. Mendengar keterangan Boe Kie darahnya lantas saja meluap. “Plak!…Plak”.”, ia menggaplok empat kali beruntun, sehingga kedua pipi si bocah merah bengkak dan mulutnya mengeluarkan darah.

Waktu si tua mengangkat tangan pula untuk mengirim gaplokan kelima, buru-buru Boe Kie menangkis dengan jurus Kang Liong Yoe Hwie, satu jurus dari Hang Liong Sip Pat Cang. Kalau sudah mahir dan ditambah dengan Lweekang tinggi jurus itu dahsyat bukan main. Tapi sibocah baru kenal kulit-kulitnya saja, sedang tenaga dalamnyapun sangat cetek. Mana bisa melawan Ciang boenjin dari Koen Loen Pay?

Melihat gerakan yang luar biasa, Ho Thay Ciong mengerti bahwa ia tengah menghadapi ilmu yang sangat tinggi. Sambil mengeluarkan seruan “Ih” ia menggegos dan menghantam mata kanan Boe Kie, yang lantas saja biru bengkak.

Sesudah gagal dalam perlawanannya, Boe Kie mengerti bahwa kepandaiannya masih kalah terlalu jauh. Maka itu ia lantas saja berdiri tegak dan membiarkan dirinya dihajar kalang kabutan. Dalam memberi hajaran, si tua tidak menggunakan Lweekang, yang jika digunakan, bocah itu tentu sudah tewas jiwanya. Tapi walaupun begitu, setiap kali digapelok, mata Boe Kie berkunang-kunang dan rasa sakit sampai ke tulang-tulang.

Selagi enak menganiaya, Pan Siok Ham bersama dua orang muridnya sudah tiba di situ. Ia menonton, tapi melihat yang dipukul tidak melawan, kegembiraannya jadi berkurang. “Coba kau hajar anak perempuan itu,” katanya.

Ho Thay Ciong memutar tubuh dan menggampar kuping Poet Hoei yang lantas saja menangis keras.

“Tua bangka,” teriak Boe Kie dengan gusar “Apa belum cukup kau menghajar aku seorang? Perlu apa kau menghina seorang anak masih begitu kecil?”

Tapi si tua tidak menggubris, tangannya melayang lagi. Boe Kie jadi kalap, sambil melompat bagaikan kerbau edan, ia menyeruduk perut Ho Thay Ciong.

Pan Siok Ham tertawa dingin. “Lihatlah, anak begitu kecil masih punya kecintaan dan budi.” Katanya. “Bukan seperti manusia yang semacam kau yang sedikitpun tak mengenal rasa cinta.”

Diejek begitu, selebar muka situa jadi merah. Dalam matanya, ia jadi gusar dan kegusaran itu ditumplekan di atas kepala Boe Kie. Ia menjambret leher baju si bocah dan melemparkannya sambil membentak, “Binatang kecil! Lebih baik ikut ayah dan ibumu!”

Kali ini, karena melemparkannya dengan menggunakan Lweekang, badan bocah itu terlempar jatuh dan kepalanya menyambar ke arah satu batu gunung yang besar. Begitu terbentur, batok kepalanya pasti akan remuk!…………

Pada detik yang sangat berbahaya, semacam tenaga tiba-tiba mendorong Boe Kie, sehingga arahnya berubah dan ia jatuh di samping batu. Sebelum semangatnya pulih, dengan matanya yang bengkak, ia melihat seorang sastrawan setengah tua yang mengenakan jubah panjang warna putih, berdiri dalam jarak kira-kira lima kaki dari dirinya.

Dengan rasa kaget dan heran. Si tua dengan istrinya saling mengawasi. Lagi kapan? Dan darimana orang itu datang? Andaikata ia lebih dulu bersembunyi di belakang batu, orang-orang yang berkepandaian tinggi seperti mereka berdua sudah pasti akan mengetahuinya, selain itu tenaga yang digunakan Ho Thay Ciong untuk melemparkan Boe Kie, paling tidak ada lima ratus kati. Tapi sastrawan itu, dengan kibasan tangan baju sudah berhasil menolak tenaga tersebut dan melemparkan si bocah di samping batu. Itu semua membuktikan, bahwa ia memiliki kepandaian yang sukar diukur berapa tingginya.

Orang itu berusia kira-kira empat puluh tahun, mukanya tampan hanya alisnya agak turun ke bawah dan mulutnya terdapat beberapa garis yang dalam sehingga ia kelihatannya banyak lebih tua dan seperti seorang yang sudah mengalami banyak kedukaan. Tanpa mengeluarkan sepata kata, ia berdiri bengong, seolah-olah tengah memikiri kejadian-kejadian di masa lampau.

Sesudah batuk beberapa kali, Ho Thay Ciong bertanya. “Siapa tuan? Mengapa tuan mencampuri urusan Koen Loen Pay?”.

Sastrawan itu menyoja dan menjawab. “Ah! Kalau begitu Cianpwee adalah Thie Khim Sianseng Ho Cianpwee. Sudah lama kudengar namanya yang besar. Dan akupun sedang berhadapan dengan Ho Hoejin, bukan? Boanpwee bernama Yo Siauw.”

Perkataan “Yo Siauw” disambut dengan seruan kaget oleh Ho Thay Ciong, Pan Siok Ham dan Boe Kie.

sSeruan si bocah bercampur dengan nada girang, sedang seruan kedua suami istri bercampur dengan nada gusar.

“Sret!sret” kedua murid Koen Loen menghunus pedang yang lalu dibalik dan gagangnya diangsurkan kepada soehoe mereka. Ho Thay Ciong melintangkan senjatanya di depan dada dan bersiap sedia dengan pukulan Soat-yong kiauw (Salju menutupi jempatan biru), sedang Pan Siok Ham menudingkan pedangnya ke tanah dalam gerakan Bok-yap siauw (Daun daun berkeresekan). Kedua pukulan itu adalah pukulan-pukulan yang paling lihai dari Koen Loen Kiam Hoat. Kuda-kudanya kelihatan sangat sederhana, tapi di dalamnya bersembunyi tujuh-delapan gerakan susulan yang luar biasa. Asal tangan mereka, kedua pedang itu lantas menyambar tujuh-delapan bagian tubuh lawan yang berbahaya.

Tapi Yo Siauw tenang-tenang saja. Ia mengawasi Boe Kie dengan perasaan heran karena dalam teriakan itu terdapat nada kegirangan.

Muka Boe Kie matanya biru, bengkak-bengkak dan berlepotan darah, tapi sinarnya menunjuk rasa syukur dan bahagia. “Kau…kau…” katanya terputus-putus, “apakah kau Kong Beng Soe Cie dari Beng kauw, Yo siauw, Yo Pehpeh?”.

Yo Siauw manggut-manggutkan kepalanya. “Bagaimana kau tahu she dan namaku, anak?” tanyanya.

Sambil menunjuk Poet Hoei, Boe Kie berkata, “Adik ini adalah putrimu!” Ia menuntun tangan si gadis cilik dan berkata pula, “Poet Hoei moay moay, inilah ayahmu. Ah! Akhirnya kita berhasil mencarinya.”

Poet Hoei mengawasi Yo Siauw dengan matanya yang bundar cilik. “Apa kau ayahku?” tanyanya. “Mana ibu? Aku lagi mencari ibu.” Ia berkata begitu, karena untuk membujuknya, di sepanjang jalan boekie selalu mengatakan, bahwa mereka melakoni perjalanan jauh itu untuk mencari Kie Siauw Hoe.

Jantung Yo Siauw memukul keras dan sambil mencekal pundak si bocah, ia berkata, “Anak bicara lebih terang. Putri siapa dia? Siapa ibunya?” ia mencengkeram keras, sehingga Boe Kie menggeluarkan teriakan “aduh!”

“Dia putrimu,” jawab si bocah. “Ibunya ialah Liehiang Kie Siauw Hoe dario Go Bie Pay.”

Muka Yo Siauw yang memang sudah pucat menjadi pucat lagi. “Dia..dia mendapat anak?” tanyanya dengan gemetar. “Di mana?…di mana dia sekarang?” Seraya berkata begitu ia memeluk dan mengangkat Poet Hoei.

Kedua pipi anak itu bengkak sebab pukulan Ho Thay Ciong, tapi pada paras mukanya masih bisa dilihat sesuatu yang sangat mirip dengan kecantikan Kie Siauw Hoe. Tiba-tiba ia mengeluarkan selembar tali yang tergantung di leher Poet Hoei dan ia lalu menariknya, ternyata pada tali itu dilekatkan selembar Tiat-pay dengan ukiran memedi yang sedang menyeringai dan mementang cakar.

Sekarang ia tidak bersangsi lagi. Tiat-pay itu adalah “Tiat-pay-leng” dari Beng Kauw yang sudah diberikan kepada Kie Siauw Hoe. Sambil memeluk putrinya erat-erat, ia bertanya berulang-ulang, “Mana ibumu? Mana ibumu?…”

“Ibu hilang. Aku sedang mencarinya. Apa kau bertemu dengannya?” jawab anak itu.

Yo Siauw mengawasi Boe Kie dan lalu menanyakan di mana adanya Kie Siauw Hoe.

Si bocah menghela nafas dan berkata, “Yo Pehpeh. Jika aku beritahukan, kau jangan terlalu berduka. Kie Kouw kouw telah dipukul mati oleh gurunya!…dan waktu meningggal dia….”

“Dusta! dusta!” Teriak Yo Siauw, sambil memijit pundak Boe Kie. “Kreek !” tulang pundak itu remuk dan…

“Bruk!” Yo Siauw dan Boe Kie terguling di tanah dengan berbareng, dengan tangan Yo Siauw masih memeluk putrinya.

Yo Siauw pingsan karena mendengar terbinasanya Kie Siauw Hoe, sedang Boe Kie roboh sebab tulang pundaknya remuk.

Ho Thay Ciong dan istrinya saling melirik dan segera menghunus pedang, yang satu ditudingkan ke dahi antara dua alis, yang lain ditujukan ke tenggorokan Yo Siauw.

Sebagai salah seorang tokoh penting dalam Beng Kauw, Yo Siauw mempunyai permusuhan hebat dengan Koen Loen Pay. Karena kalah pie boe(adu silat), Yoe Liong Coe, seorang cianpwee partai tersebut, telah mati sebab kejengkelan. Pek Loe Coe, gurunya Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham, juga binasa dalam tangannya seorang anggota Beng Kauw. Siapa yang membinasakan tidak diketahui jelas. Tapi mungkin sekali Yo Siauw juga.

Suami istri Ho tahu, bahwa orang itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi, sehingga bila kebetulan berpapasan di tengah jalan, belum tentu mereka berani menyerang. Tak dinyana, orang yang ditakuti itu tiba-tiba pingsan dan tentu saja mereka sungkan menyia-nyiaskan kesempatan yang sangat baik.

“Putuskan dulu lengannya” kata Pan Siok Ham.

“Baiklah,” kata sang suami sambil mengangguk.

Sesaat itu Yo Siauw belum tersadar, tapi Boe Kie walaupun merasakan kesakitan hebat, tidak sampai pingsan. Melihat bahaya yang mengancam, sebagai seorang yang sangat mudah memaafkan, tanpa mengingat lagi rasa sakitnya, dengan kaki buru-buru ia menyentuh jalan darah Pek Hwee hiat, di ubun-ubun Yo Siauw.

Begitu tersentuh Pek Hwee Hiat-nya yang mempunyai hubungan dengan otak, Yo Siauw tersadar. Tiba-tiba ia merasakan hawa dingin dan begitu membuka mata, ia melihat ujung pedang yang menempel pada alisnya dan hampir berbareng, ia merasakan sambaran senjata ke arah lengannya.

Dengan pedang menempel pada bagian kematiannya dan satu pedang lagi membabat, ia tak bisa berkelit atau berkutik lagi. Tapi, pada detik yang sangat berbahaya, ia masih mengerahkan Lweekang ke lengan kirinya. Waktu Ho Thay Ciong membabat lengan itu, ia merasa seperti membacok semacam benda yang alot licin, sehingga mata pedangnya terpeleset. Tapi biarpun begitu Yo Siauw terluka juga dan tangan bajunya basah dengan darah.

Pada detik itulah, mendadak saja dengan terus menempel di tanah, tubuh Yo Siauw menyeluruk ke depan setombak lebih, seolah-olah lehernya diikat dengan tambang dan ditarik dengan kecepatan luar biasa.

Dengan melorotnya tubuh itu, maka ujung pedang Pan Siok Ham yang menempel di antara kedua alis mengores alis, hidung, mulut dan dada Yo Siauw kira-kira setengah dim dalamnya. Kalau ujung pedang masuk lebih dalam setengah dim lagi, ia tentu binasa dengan dada dan perut terbelah.

Sehabis menyelusur, tanpa menekuk lutut atau membongkokan pinggang, tubuh Yo Siauw mendadak berdiri tegak, seperti juga diangkat berdirinya sesosok mayat yang sudah kaku. Dan begitu lekas berdiri tegak, kedua kakinya menjejak.

“Krek!Krek!” Pedang suami-istri Ho patah dengan berbareng.

Semua kejadian itu yang harus dilukiskan panjang lebar, terjadi dalam tempo sekejapan saja.

Dengan memiliki Kiam Hoat yang sangat tinggi, pedang Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham sebenarnya tak akan dipatahkan, secara begitu mudah. Mereka mendapat kekalahan memalukan karena lengah, sebagai akibat dari kekagetan dalam melihat cara si orang she Yo yang sangat luar biasa.

Apa yang lebih aneh lagi, dua potongan pedang itu dengan berbareng menyambar Ho Thay Ciong dan istrinya. Buru-buru mereka menangkis dengan pedang buntung dan meskipun berhasil, telapak tangan mereka sakit sekali dan separuh badan mereka panas.

Dengan cepat mereka melompat, yang satu lalu berdiri di sebelah barat laut yang lain di tenggara, dengan Yang Kiam (pedang lelaki) menuding ke langit, Im Kiam (pedang perempuan) ditunjukkan ke bumi.

Itulah kuda-kuda dari ilmu pedang Liang Gie Kiam Hoat yang sangat tersohor dari Koen Loen Pay. Walaupun pedang mereka sudah buntung, sikap mereka angker dan anggun sesuai dengan sikap ahli-ahli silat kelas utama dalam rimba persilatan.

Liang Gie Kiam Hoat yang sudah mendapat nama selama ratusan tahun adalah salah satu ilmu pedang terlihai di kolong langiot. Di samping itu, suami istri Ho telah berlatih bersama-sama, sehingga mereka sudah paham betul dan dapat bekerja sama seerat-eratnya. Dengan demikian pengaruh Kiam Hoat jadi bertambah berlipat ganda.

Sebagai seorang yang sudah sering bertempur dengan jago-jago Koen Loen, Yo Siauw mengenal dengan baik kelihaian Liang Gie Kiamhoat. Meskipun tak takut, ia tahu bahwa untuk menjatuhkan suami istri itu, paling sedikit ia harus bertempur lima ratus jurus. Tapi sekarang ia tidak mempunyai kegembiraan untuk berkelahi, sebab musabab dari kebinasaan Kie Siauw Hoe.

Di samping itu, sesudah lengan dan badannya terluka, ia tidak boleh melakukan pertempuran lama. Kalau darah keluar terlalu banyak, ia bisa celaka. Maka itu, ia lantas saja berkata dengan suara dingin, “Makin lama orang-orang Koen Loen Pay jadi makin tolol. Hari ini biarlah kita menunda perkelahian. Di lain hari aku akan mencari kamu berdua untuk membuat perhitungan.”

Sehabis berkata begitu dengan lengan mendukung Poet Hoei dan satu tangan menuntun Boe Kie, tiba-tiba tubuhnya meleset ke belakang setombak lebih dan sesudah memutar badan, ia meninggalkan tempat itu dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham mengawasi dengan rasa gusar dan kagum dan tentu saja, iapun tidak berani mengejar.

Sesudah melalui beberapa li, Yo Siauw tiba-tiba menghentikan tindakannya dan menanya Boe Kie, “Apakah yang sebenarnya telah terjadi pada diri Kie Siauw Hoe?”.

“Kie Kouw-Kouw sudah meninggal dunia,” jawabnya, “Terserah padamu apakah kau percaya atau tidak. Perlu apa kau mematahkan tulangku?”.

Pada paras muka Yo Siauw terlihat perasaan menyesal. “Cara bagaimana ia meninggal?” tanyanya pula.

Sesudah minum arak racunnya Pan Siok Ham, biarpun sudah muntah dan makan obat pemunah, racun itu belum hilang semuanya. Ketika itu, ia merasa perutnya sangat sakit. Boe Kie lalu mengeluarkan ular Kim Koan Hiat Coa dan membiarkan binatang itu menggigit telunjuk jari tangan kirinya supaya sisa racun dihisap.

Perlahan-lahan ia mengurutkan segala kejadian yang bersangkut-paut dengan Kie Siauw Hoe, bagaimana ia telah mengobati luka sang bibi, bagaimana bibi itu bertemu dengan Biat Coat soethay yang kemudian membinasakannya.

Yo Siauw juga menanyakan apa yang dikatakan Kie Siauw Hoe waktu ia mau melepaskan nafas yang penghabisan dan kemudian, dengan air mata bercucuran, ia berkata “Biat Coat soethay memaksa supaya ia mencelakakan aku. Kalau ia meluluskan, ia membuat jasa besar kepada Go Bie Pay dan akan diangkat menjadi Ciang Boenjin. Hai! Kau lebih suka mati daripada berjanji untuk menurut perintah itu. Sebenarnya kalau kau tak usah mati dalam tangan Biat Coat dan kitapun bisa bertemu pula”.

“Kie Kouw kouw adalah seorang mulia yang jujur” kata Boe Kie. “Ia sungkan mencelakakan kau, tapi iapun tak mau mendustai guru sendiri”.

Yo Siauw tertawa getir. “Ya,” katanya, “Kau mengenal Siauw Hoe…”

“Pada waktu Kie Kouw kouw melepas nafas yang penghabisan, aku telah berjanji untuk menghantar Poet Hoei Moay moay kepadamu”. Kata Boe Kie.

Yo Siauw menggigil. “Poet Hoei Moay Moay?” Ia menegaskan. Ia berpaling pada putrinya dan bertanya. “Kau She apa, nak” Siapa namamu?”

“Aku she Yo” jawabnyta. “Namaku Poet Hoei”.

Tiba-tiba Yo siauw mendongak dan keluarkan teriakan nyaring panjang, sehingga pohon-pohon bergoyang goyang dan daun-daun jatuh rontok.

“Kau…” Katanya, “Poet Hoei…Poet Hoei…bagus! Siauw Hoe, meskipun aku menodai kehormatanmu, kau tidak menyesal…”

(Poet Hoei berarti tidak menyesal).

Sesudah bertemu Boe Kie mendapat kenyataan, bahwa meskipun usianya tidak muda lagi, Yo Siauw bukan saja berparas tampan, tapi juga mempunyai cara-cara untuk menarik hati. Sehingga ia merasa, jika dibandingkan dengan In Lie Heng yang masih kekanak-kanakan, memang Yo Siauw masih banyak lebih menarik bagi seorang wanita daripada pamannya itu. Maka Siauw Hoe tidak dapat melupakan Yo Siauw meskipun kehormatannya dinodai. Ia tidak boleh disalahkan.

Makin lama tulang pundak Boe Kie yang patah makin sakit. Di sekitar itu tidak ada rumput obat yang bisa menyambung tulang dan menredakan rasa sakit. Ia hanya dapat mencari daun yang bisa menghilangkan bengkak, sesudah memetiknya dan mematahkan dua ranting pohon, ia lalu membereskan tulang pundaknya, menjepit tulang itu dengan dua ranting pohon, menaruh daun obat dan lalu mengikatnya dengan tali yang dibuat daripada kulit pohon. Itu semua dikerjakannya secara ahli dan cepat sekali, sehingga Yo Siauw merasa sangat kagum.

Sesudah beres membalut tulang, Boe Kie Berkata, “Yo Peh-peh, aku sudah memenuhi janji dan sekarang Poet Hoei Moay-moay sudah berada dalam tanganmu. Di sini saja kita berpisah.”

“Tidak!”, kata Yo Siauw, “Dari tempat yang jauhnya berlaksa li kau datang kemari untuk mengantarkan anakku, tak dapat aku membiarkan kau pergi, tanpa memberikan sesuatu padamu. Apa yang dikehendaki olehmu? Katakan saja. Dalam dunia ini, tidak banyak yang tidak bisa didapatkan olehku.”

Boe Kie tertawa terbahak-bahak. “Yo Peh-peh” katanya,s “Kau memandang Kie Kouw-kouw terlalu rendah. Sungguh percuma Kie Kouw-kouw mengorbankan jiwa untukmu.”

Paras muka Yo Siauw lantas saja berubah, “Apa?” ia menegas.

“Kie Kouw-kouw tidak memandang rendah kepadaku, baru ia meminta pertolonganku untuk mengantarkan putrinya kepadamu” jawabnya. “Jika aku memenuhi permintaan itu dengan niat mendapatkan sesuatu, apakah aku berharga untuk menerima pesanan Kie Kouw kouw?” Waktu berkata begitu ia ingat pengalaman pengalamannya yang hebat-hebat. Beberapa kali ia hampir mengorbankan jiwa guna melindungi Poet Hoei. Tapi karena ia bukan orang yang menonjolkan jasa dan mengagulkan diri, maka tanpa berkata suatu apa lagi, ia menyoja, memutar tubuh lalu berjalan pergi.

“Tahan!” kata Yo Siauw, “Kau sudah membuang budi yang sangat besar kepadaku, Yo Siauw adalah manusia yang selalu membalas budi dan sakit hati. Ikutlah aku. Dalam tempo setahun, aku akan turunkan kepadamu beberapa ilmu yang jarang tandingannya di dunia ini”.

Sesudah menyaksikan kepandaian Yo Siauw, Boe Kie mengerti, bahwa jika ia menurut, ia akan memperoleh banyak keuntungan. Tapi ia tidak bisa melupakan pesanan Thio Sam Hong yang melarang ia bergaul dengan orang-orang dari agama sesat. Apapula ia hanya bisa hidup setengah tahun lagi. Sehingga ilmu silat yang tinggi tidak banyak artinya. Memikir begitu ia lantas berkata, “Terima kasih atas kecintaan Yo Peh-peh, tapi aku adalah murid Boe Tong dan aku tidak berani menerima pelajaran dari orang lain”.

“Oh!” Yo Siauw mengeluarkan seruan kaget, “Kalau begitu, kau murid Boe Tong”. Dan In Lie Heng In Liok Hiap…”

“Ia pamanku,” kata Boe Kie. “Semenjak ayah meninggal dunia. In Lioksiok selalu memperlakukan aku seperti keponakan sendiri. Bahwa aku telah melakukan permintaan Kie Kouw untuk mengantarkan Poet Hoei Moay-moay kepadamu, di dalam hati…aku merasa….merasa malu terhadap In Lioksiok”.

Ketika itu sinar mata Yo Siauw kebentrok dengan sinar mata Boe Kie dan ia kelihatannya merasa jengah. Sambil mengibas tangan, ia kemudian berkata, “Kalu begitu, sampai bertemu lagi”, badannya berkelebat dan melesat beberapa tombak jauhnya.

“Boe Kie koko! Boe Kie koko!” teriak Poet Hoei.

Tapi ilmu ringan badan Yo Siauw tak kepalang cepatnya. Suara “Boe Kie koko” makin jauh kedengarannya dan kemudian menghilang dari pendengaran.

Boe Kie berdiri terpaku. Sesudah melakukan perjalanan berlaksa li bersama-sama dan sekarang secara mendadak ia harus berpisahan dengan adik kecil itu, di dalam hatinya tentu muncul perasaan duka.

Sementara itu, luka di pundaknya jadi makin sakit. Ia segera menuju ke sebuah lereng gunung yang sepi dengan niatan mencari daun obat. Tapi pohon-pohon dan rumput-rumput yang tumbuh di Koen Loen San berbeda dengan yang tumbuh di wilayah Tiong goan. Sehingga daun-daun obat yang tertulis dalam buku Ouw Cong Gie tidak terdapat di sekitar tempat itu.

Sesudah berjalan dua puluh li lebih, rasa sakit makin menghebat dan ia lalu duduk Di atas satu batu besar untuk mengaso. tiba-tiba terdengar menyalaknya anjing, makin lama makin dekat, seperti juga ada sesuatu yang sedang diburu.

Beberapa saat kemudian, dri sebelah kejauhan kelihatan mendatangi seekor kera kecil yang pantatnya tertancap sebatang anak panah pendek. Waktu berada kira-kira sepuluh tombak dari Boe Kie, binatang itu tiba-tiba bergulingan dan tidak bisa bangun lagi. Boe Kie mendekati dan melihat sinar mata kera yang penuh rasa sakit. Rasa kasihan lantas saja timbul dari hatinya. Ia ingat nasibnya sendiri waktu dikejar-kejar oleh orang Koen Loen Pay dan ia ingat pula kera piaraannya di pulau Peng Hwee To.

Ia segera mengangkat binatang itu, mencabut anak panah dan menaruh obat luka di lukanya. Sementara itu suara menyalaknya anjing sudah semakin dekat. Buru-buru ia menyingkap bajunya dan menyembunyikan kera itu. Sesat kemudian belasan ekor anjing sudah tiba di situ dan karena mengendus bau kera, mereka lantas saja mengurung Boe Kie sambil menyalak hebat dan memperlihatkan sikap menakuti. Melihat galaknya kawanan anjing itu, Boe Kie agak keder. Ia mengerti, bahwa begitu lekas ia melemparkan si kera, ia akan terbebas dari ancaman.

Tapi berkat didikan mendingan ayahnya, sedari kecil ia sudah mempunyai jiwa ksatria. Sehingga biarpun terhadap seekor binatang, ia sungkan memperlihatkan jiwa yang kecil. Sesudah menarik nafas dalam-dalam, ia melompat dan terus kabur, dengan diubar oleh kawanan anjing itu.

Kawanan binatang itu anjing-anjing pemburu. Lari dengan kecepatan luar biasa dan baru saja kabur belasan tombak, ia sudah disusul.

Tiba-tiba ia merasa betisnya sakit digigit keras oleh seekor anjing. Ia memutar dan menghantam kepala binatang itu yang lalu lantas saja roboh tanpa berkutik lagi. Tapi yang lainnya tidak menjadi takut dan dengan serentak mereka menubruk.

Ia melawan dengan nekat, tapi karena tulang pundaknya patah dan lengan kirinya tidak daoat digerakan, tangan kirinya segera kena digigit. Hampir berbaring, kawanan anjing itu menubruk dan menggigit kaki, tangan, kepala, punggung, sekujur badannya.

Dalam keadaan setengah pingsan, sayup-sayup ia mendengar suara bentakan yang nyaring dari seorang wanita dan sekejap kemudian matanya gelap.

Entah berapa lama ia berada dalam mimpi. Ia mimpi dikerubuti anjing-anjing galak, ia membuka mulut untuk berteriak, tapi suaranya tidak bisa keluar.

Dalam keadaan lupa-ingat, ia merasa anjing-anjing itu mundur teratur.

Tiba-tiba ia mendengar suara manusia. “Panasnya mulai teduh. Mungkin ia ketolongan”.

Perlahan-lahan ia membuka kedua matanya dan melihat, bahwa ia sedang rebah di atas ranjang dalam sebuah kamar yang diterangi lampu kecil dan di depan ranjang berdiri seorang lelaki setengah tua.

Dengan rasa heran ia berkata “Toa siok….mengapa…aku…”ia tak dapat meneruskan perkataannya karena sekujur badannya sakit bukan main dan badannya panas membara. Sekarang ia ingat, bahwa ia telah diserang kawanan anjing.

“Anak, umurmu panjang” kata orang itu, “Apa kau lapar?”

“di mana..aku…”katanya. Sekali lagi ia tak dapat meneruskan perkataannya, karena kedua matanya keburu gelap.

Waktu ia sadar pula, orang itu sudah pergi, “Sedang aku tak akan hidup lebih lama lagi, mengapa aku mesti mengalami begitu banyak penderitaan?” katanya dalam hati. Ia mendapat kenyataan, bahwa leher, kepala, bahu, tangan, paha, betis, dan dadanya semua dibalut dengan kain dan bau daun obat menusuk hidung.

Dari bau obat ia tahu, bahwa orang yang mengobatinya tidak begitu paham ilmu pengobatan. Ia mengendus bau Heng Jin, Ma-cia-coe, Hong ho, Lum Chee dan kain-kain obat yang biasa digunakan untuk mengobati luka bekas gigitan anjing gila. Tapi ia bukan digigit anjing gila.

Yang perlu disembuhkan adalah daging dan otot-ototnya yang rusak. Dengan diberikannya obat yang tidak cocok, lukanya jadi makin sakit. Tapi ia tak berdaya. Ia tak bisa bangun waktu fajar menyingsing, lelaki setengah tua itu datang menengok lagi.

“Toa siok, terima kasih banyak untuk segala pertolonganmu,” kata Boe Kie.

“Terima kasih apa?” kata orang itu “Bukan aku yang menolong kau”.

“Di mana aku berada” Siapa yang sudah menolong aku?” tanya pula Boe Kie.

“Kau berada di Bwee-hoa San-Chung (gedung bunga Bwee),” jawabnya “Yang menolong kau adalah siocia (nona) kami. Apa kau lapar? Sebaiknya kau makan bubur panas.” Sambil berkata begitu, ia bertindak keluar dan balik dengan membawa semangkok bubur daging. Baru saja Boe Kie makan beberapa sendok, ia merasa nek dan tidak bisa makan lebih banyak.

Sesudah rebah delapan hari, barulah Boe Kie bisa bangun perlahan-lahan. Ia tak bertenaga dan kalau berdiri, kedua kakinya gemetaran. Ia tahu kelemahan itu adalah akibat terlalu banyak mengeluarkan darah dan kekuatannya tidak bisa pulih dalam tempo cepat. Lelaki setengah tua setiap hari merawatnya dan membawa bubur, sehingga walaupun sikapnya agak kurang enak, Boe Kie merasa sangat berterima kasih. Orang tua itu tidak suka banyak omong dan biarpun Boe Kie ingin sekali mengajukan banyak pertanyaan ia “tidak berani” membuka mulut.

Hari itu, lelaki setengah tua itu kembali membawa obat-obatan yang sama, campuran Hong hong, Lam-chee dan lain-lain. Tanpa merasa Boe Kie berkata “Toasiaok, obat itu tidak begitu cocok untuk mengobati lukaku ini. Bolehkah memohon pertolongan supaya toasioak suka menukarnya?”

Dia kelihatan mendongkol dan mengawasi Boe Kie dari kepala sampai ke kaki “Surat obat Looya mana bisa salah?” katanya. “Kau kata tak cocok. Tapi dengan obat itu, kau telah dihidupkan kembali. Bocah, jangan kau ngaco-belo. Looya seorang mulia, sehingga meskipun ia dengar perkataanmu, ia tentu tak menjadi gusar. Tapi kau sendiri harus mengenal kira-kira jangan asal menggoyangkan lidah.” sehabis berkata ia segera menempelkan obat itu si luka Boe Kie dan lalu membalutnya.

Sesudah selesai ia berkata. “Saudara kecil, kulihat kau sudah mulai sembuh. Adalah pantas jika sekarang kau menghaturkan terima kasih kepada Looya, Tai tai dan Siocia yang sudah menolong jiwamu”

“Tentu saja” kata Boe Kie “Toasiok, kalau dapat, sekarang saja aku mohon kau mengantarkan aku pada mereka”.

Dengan ditemani orang itu sebagai penunjuk jalan, Boe Kie melalui lorong yang sangat panjang dan sudah melewati dua ruangan. Mereka masuk ke sebuah ruangan yang sangat indah. Waktu sudah musim dingin dan dan hawa di seluruh daerah gunung Koen Loen dingin bukan main, tapi ruangan itu hangat bagaikan di musim semi dan anehnya Boe Kie sama sekali tidak melihat perapian.

Dengan rasa kagum ia mengawasi sebuah vas indah di atas meja dengan beberapa batang bunga bwee merah, di depan dialaskan dengan seprei sulam dan kursi-kursi dengan bantal sulam yang terbuat dari sutra.

Seumur hidupnya, ia belum melihat ruangan yang seindah itu. Tiba-tiba ia ingat pakaiannya yang compang camping, sehingga ia merasa mukanya panas.

Di situ tidak terdapat manusia. Dengan sikap hormat dan sambil membungkuk pengantarnya berkata, “Bocah yang digigit anjing sudah sembuh dan ia datang untuk menghaturkan terima kasih kepada Looya dan Tai tai”.

Beberapa saat kemudian, dari belakang sekosol muncul seorang gadis kecil yang baru berumur kira-kira lima belas tahun. Sesudah melirik Boe Kie, ia berkata “Kiauw Hok, terlalu kau! Mengapa kau bawa ia kemari? Kutu busuk dipakaiannya bisa berlompatan di sini”

“Ya…ya” kata Kiauw Hok

Mendengar perkataan itu Boe Kie memang sudah merasa jengah, jadi lebih malu lagi, sehingga selebar mukanya lantas saja berubah merah. Memang benar, sebab tak punya tukaran, pakaian yang comang camping sudah banyak tumanya.

Diam-diam ia melirik da melihat bahwa gadis itu berparas cantik dengan muka potongan telor dan mengenakan pakaian semacam sutra yang berkilauan, sedang pergelangannya sangat halus.

“Waktu diserang anjing, kudengar suara bentakan seorang wanita” katanya dalam hati. “Kiauw Toasioak juga mengatakan bahwa orang yang menolong aku adalah siocianya. Kalau begitu dialah siocia yang dimaksudkan. Aku harus menghaturkan terima kasih dengan berlutut”. Memikir begitu ia lantas saja menekuk kedua lututnya seraya berkata.

“Terima kasih atas pertolongan siocia. Selama hidup Thio Boe Kie takkan melupan budi yang sangat besar”

Gadis itu kelihatan kaget dan sejenak kemudian, ia tertawa cekikikan. “Aduh! Kiauw Hok mengapa kau mempermainkan bocah tolol itu?” katanya.

Kiauw Hok turut tertawa geli. “Siauw Hong Ciecie,” katanya, “apa salahnya jika bocah tolol itu berlutut di hadapanmu” Dia belum pernah melihat luasnya dunia dan meihat kau, dia menduga kau adalah siocia”.

Boe Kie bersikap buru-buru ia bangun berdiri. Celaka! Seorang budak dianggapnya seorang majikan! Sungguh hebat rasa malunya, mukanya sebentar merah, sebentar pucat.

Sambil menahan tawanya Siauw Hong mengawasi Boe Kie, dari kepala sampai di kaki. Noda darah di muka dan di badan si bocah masih belum hilang. Di sana-sini masih terdapat perban pada luka yang belum sembuh. Muka Boe Kie sebentar pucat sebentar merah, kalau bisa siang-siang ia sudah menyelam di tanah.

“Looya dan Tai tai ada urusan, kau tak usah menemui beliau” kata Siauw Hong. “Mari menemui Siocia saja.” Sehabis berkata begitu, ia memutar badan dan berjalan dulu cepat-cepat, seperti juga ia takut terkena kutu dari baju si bocah.

Boe Kie mengikuti di belakang Siauw Hong dan Kiauw Hok, pelayan-pelayan perempuan dan lelaki yang ditemui mereka semua berpakaian mewah, sedang ruanga-ruangan2 yang dilewati semua indah dengan perabotan lengkap.

Semenjak dilahirkan sampai berusia sepuluh tahun Boe Kie berdiam di pulau Peng Hwee To dan sesudah itu beberapa tahun ia berdiam di Boe Tong San dan beberapa tahun lagi di Ouw Tiap Kok. Selama belasan tahun, ia selalu hidup sederhana dan ia tak pernah mimpi, bahwa di dalam dunia terdapat kemewahan yang begitu rupa.

Sesudah berjalan beberapa lama, mereka tiba di depan sebuah toa tia (ruangan besar)yang Di atasnya tergantung selembar pian dengan tulisan “Han Kong Kie” (rumah anjing).

Siauw Hong masuk dan beberapa saat kemudian, ia keluar dan menanggapi, Kiauw Hok segera mengajak Boe Kie masuk ke dalam.

Begitu masuk si bocah terkesiap, karena dalam ruangan itu terdapat kurang lebih tiga puluh ekor anjing yang bertubuh besar dan galak kelihatannya. Semua mendekam di lantai dalam tiga baris. Di atas sebuah kursi yang dialaskan kulit harimau berduduk seorang wanita muda yang mengenakan baju bulu-bulu rase putih dan memegang pecut.

“Tenggorokan!” tiba-tiba nona itu membentak.

Hampir berbarengan, seekor anjing melompat dan menyambar ke arah leher seorang yang berdiri di pinggir tembok.

“Celaka!…” Boe Kie mengeluarkan teriakan tertahan.

Di lain saat, ia melihat anjing itu sudah menggigit sepotong daging yang lalu dimakannya sambil mendekam. Sekarang ia baru tahu, bahwa “manusia” yang barusan disambar hanyalah orang-orangan yang terbuat dari kulit dan pada bagian-bagian badannya yang berbahaya dicantelkan potongan-potongan daging.

“Kepungan!” bentak pula si nona.

Anjing kedua melompat dan menggigit kepungan orang-orangan itu. Serangan kedua anjing itu cepat dan tepat. Sekarang Boe Kie ingat, bahwa yang menyerangnya pada hari itu adalah anjing-anjing tersebut dan lapat-lapat ia juga teringat bahwa suara bentakan wanita yang didengarnya sebelum ia pingsan adalah wanita yang sekarang ada di hadapannya.

Kedatangan Boe Kie sebenarnya untuk menghaturkan terima kasih pada penolongnya. Tapi sekarang ia tahu, bahwa anjing-anjing yang sudah menggigitnya adalah binatang piaraan nona itu. Tiba-tiba saja darahnya meluap, “Tak sudilah!” pikirnya. “Dengan dilindungi oleh binatang-binatang itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya. Kalau aku tahu bahwa semua penderitaanku adalah karena gara-garanya, aku lebih suka mampus daripada menerima pertolongannya”. Memikir begitu dengan gregetan ia membuka semua perban yang masih menempel pada dirinya dan melemparkannya ke atas lantai. Sesudah itu ia memutar badan dan berjalan pergi.

Kiauw Hok kaget “Hei!” teriaknya. “Mengapa kau pergi? Inilah siocia kami. Lekas berlutut!”.

“Berlutut?” mengulangi Boe Kie dengan suara gusar. “Bukankah anjing-anjing yang menggigit aku miliknya sendiri?”.

Melihat kegusaran si bocah, nona itu tersenyum. “Saudara kecil,” ia menanggapi. “Mari sini”.

Boe Kie memutar badan dan segera berhadapan dengan nona rumah. Entah mengapa, mendadak jantungnya memukul keras, nona itu yang berusia tujuh belas tahun atatu delapan belas tahun, ternyata cantik luar biasa. Sudah sering ia melihat wanita cantik, tapi seumur hidup belum pernah melihat yang secantik si nona. Mukanya yang mula-mula pucat berubah menjadi merah.

“Kemari!” panggil nona itu.

Boe Kie mengangkat kepala dan matanya kebentrok dengan sepasang mata yang bersorot halus, tapi berpengaruh, sehingga tanpa merasa, ia bertindak maju. Nona itu bangkit dan mencekal kedua tangan Boe Kie yang badannya jadi bergemetaran. Tangan itu halus dan empuk. Si bocah malu dan bingung, ia ingin menarik tangannya, tapi tak rela ia berbuat begitu.

“Saudara kecil apa kau gusar terhadapku?” tanya si nona.

Sesudah menderita begitu hebat dari kawanan anjing itu, bagaimana ia tak gusar? Tapi sekarang dengan tangan dicekal dan dengan berdiri dalam jarak yang begitu dekat dengan si cantik, sehingga ia dapat menggendus bau yang sangat harum, mana bisa ia mengaku “gusar”. Ia menggelengkan kepala dan menjawab, “Tidak”.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: