Kumpulan Cerita Silat

07/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 37

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 2:18 am

Memanah Burung Rajawali – 37
Bab 37. Jago Lawan Jago
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Oey Yong memandang nona-nona itu. Mereka mempunyai kulit yang putih bersih, tubuh mereka tinggi dan besar. Wajah mereka berlainan, ada yang hidungnya mancung dan matanya dalam, sedang rambutnya kuning dan matanya biru. Mereka beda sekali dari nona-nona Tionggoan.

Auwyang Hong menepuk tangan tiga kali, lantas delapan nona-nona itu mengasih keluar alat-alat tetabuhan mereka, untuk sesaat kemudian mereka mulai memainkan lagu, diikut dengan tariannya sisanya duapuluh empat nona lainnya. Mereka itu berdiri lempang, lalu mendak, lalu berputar ke kiri dan kanan, gerak-gerik mereka halus dan lembut. Ada kalanya mereka berdiri berbaris seperti tubuhnya seekor ular panjang, lalu jari tangan mereka dikutik-kutik.

Oey Yong lantas ingat kepada ilmu silat “Kim Coa Kun” atau “Ular emas” dari Auwyang Kongcu, ia lantas melirik kepada pemuda itu. Justru itu ia mendapatkan orang tengah mengawasi dirinya. Ia menjadi sebal, maka ia lantas memikir jalan untuk menghajarnya pula. Ia menyesal sekali yang usahanya tadi sudah digagalkan ayahnya. Ia anggap lagak orang itu sangat menjemukan.

“Kalau aku berhasil membunuh dia, biar ayah maksa aku menikah, toh sudha tidak ada orangnya dengan siapa aku dapat menikah,” demikian ia pikir pula. Karena ini puas hatinya, sendirinya ia bersenyum.

Senang Auwyang Kongcu menampak senyuman si nona itu. Ia menduga hatinya si nona sudah berubah. Saking girangnya, sejenak itu ia melupakan rasa nyeri pada dadanya.

Nona-nona yang tengah menari itu, menarinya menjadi semakin cepat, tetapi tetap lembut gerak-geriknya. Dilain pihak orang-orang lelaki yang memegangi galah, ialah si penggembala-penggembala ular, semua sudah menutup rapat-rapat mata mereka. Mereka takut, dengan menyaksikan tarian itu, hati mereka tidak cukup kuat untuk bertahan dan nanti runtuh…..

Oey Yok Su sendirinya menonton dengan bersenyum berseri-seri, selang sekian lama barulah ia bawa serulingnya ke bibirnya, untuk meniup, untuk mengasih dengar lagunya. Baru beberapa kali ia meniup, tariannya si nona-nona tampaknya kacau. Dan tempo tuan rumah meniup terus, lantas mereka itu menari menuruti iramanya seruling.

Auwyang Kongcu kaget bukan main. Ia pernah merasakan hebatnya lagu seruling orang itu. Kalau seruling berlangsung terus, bukannya saja si nona-noa bakal menari terus-menerus hingga mati, dia sendiri juga tidak akan luput turut menjadi korban juga. Mau tidak mau, ia berseru: “Paman….!”

Justru itu Auwyang Hong menepuk tangan, atau mana seorang nona, dengan memegang tiat-ceng, atau alat tetabuhan yang bertali duabelas, maju menghampirkan.

Ketika itu hatinya Auwayang Kongcu sudah goncang keras, sedang pria si tukang angon ular sudah mulai berlari-lari atau berlompatan di antara barisan ularnya.

Auwyang Hong lantas mementil alat tetabuhannya itu, ia mengasih dengar suara umpama kata: “Tombak-tombak emas saling beradu dan besi kaki kuda berketoprakan” Hanya beberapa kali saja suara itu terulang, lantas nada halus dari seruling kena dibikin buyar bebarapa bagian.

Oey Yok Su tertawa.

“Mari, mari!” katanya. “Mari kita berdua bersama-sama memainkan lagu!”

Hebat kesudahan sambutannya Tong Shia si Sesat dari Timur. Mereka itu yang menari itu menjadi sangat kacau, gerak-geriknya seperti orang-orang edan.

“Semua menutup kuping!” berteriak Auwyang Hong menyaksikan kehebatan itu. “Nanti aku mainkan lagu bersama-sama Oey Tocu!”

Semua orang itu seperti kalap tetapi mereka mendengar suara majikan mereka, mereka mengerti ancaman bahaya yang bakal datang itu, mak adalam ketakutannya, mereka pada merobek ujung baju mereka untuk menggunai robekan itu menyumbat kuping mereka.

Auwyang Kongcu yang sudah cukup lihai turut juga menyumpal kupingnya.

Menyaksikan kelakuan mereka itu, Oey Yong tertawa. Ia sendiri tidak terpengaruh suara kedua seruling dan tiat-ceng itu. Ia berkata: “Lain orang memainkan lagu-lagu, justru dikhawatir orang tidak dapat mendengarnya, tetapi kamu sebaliknya, kamu semua justru menutupi kuping! Tidak, aku sendiri tidak sudi menyumbat kupingku!”

Oey Yok Su dapat mendengar perkataan putrinya itu, ia menegur: “Ilmu kepandaian mementil tiat-ceng dari pamanmu ini sangat kesohor di kolong langit ini, kau ada mempunyai kepandaian apa maka kau berani mendengarnya? Apakah kau kira kau dapat mencoba-coba?!”

Dari sakunya, ayah ini mengeluarkan sehelai sapu tangan, ia robek itu menjadi dua potong, terus ia pakai menyumpal kedua kuping anaknya itu.

Kwee Ceng menjadi heran sekali, hingga ia menjadi tertarik hatinya, ingin ia mendengar lagu tetabuhannya Auwyang Hong itu. Tanpa mengenal bahaya, ia justru maju beberapa tindak, supaya ia dapat mendengar dengan terlebih nyata…..

Oey Yok Su perpaling kepada tetamunya.

“Semua ularmu tentunya tidak dapat menutup kupingnya,” katanya. Ia menoleh kepada bujangnya yang gagu, ia mainkan kedua belah tangannya.

Bujang gagu itu mengerti, ia mengibas-ngibaskan tangannya kepada kawanan gembala ular itu, memberi tanda untuk mereka menyingkirkan diri. Mereka ini memang menghendaki itu. Tapi mereka mengawasi dulu majikan mereka, sampai Auwyang Hong memberi tanda sambil mengangguk, baru lekas-lekas mereka mengiring ular mereka menyingkir dari situ, mengikuti petunjuk si bujang gagu.

“Jikalau aku tidak sanggup, sukalah saudara Yok mengalah sedikit,” kata Auwyang Hong kemudian. Terus dengan kelima jari tangan kanannya, ia mulai mementil alat tetabuhannya.

Nyaring suaranya tiat-ceng itu. Kwee Ceng merasakan, setiap pentilan membuat hatinya goncang, dan selagi lagu bertambha cepat, goncangan hatinya itu bertambah cepat juga, dadanya bergerak-gerak, ia merasa tak enak sendirinya. Ia terkejut, segera ia menginsyafinya. Katanya dalam hati: “Kalau suara jadi hebat, tidakkah hatiku pun akan concang hingga aku mati?” Karena ini lekas-lekas ia menjatuhkan dirinya untuk duduk bersila, akan memusatkan pikirannya, akan mengempos tenaga dalamnya. Cuma sesaat saja, suara tiat-ceng itu tidak dapat lagi menggoncangkan hatinya.

Suara tiat-ceng itu benar-benar makin lama jadi makin keras, bagaikan tambur dan gembreng berbunyi berbareng, seperti laksaan ekor kuda bercongklang bersama. Atau dilain saat terdengar suaranya yang perlahan-lahan dan halus, ialah suara dari seruling yang seperti menembusi suara tiat-ceng itu.

Mendadak Kwee Ceng merasa hatinya goncang dan mukanya panas. Ia lekas-lekas memusatkan pula perhatiannya, hingga hatinya menjadi tenang pula. Ia sekarang mendapat kenyataan, walaupun hebat suaranya tiat-ceng, suara itu tidak dapat menindih melenyapkan seruling, yang perlahan tetapi tegas. Maka juga heran, dua suara terdengar berbareng. Kalau suara tiat-ceng ada bagaikan pekiknya kera diatas gunung atau mengalunnya hantu iblis di tengah malam buta rata, suara seruling ada laksana bunyinya burung hong atau kasak-kusuknya si nona manis di dalam kamarnya. Kedua suara itu tinggi dan rendah, keras dan perlahan, maju dan mundur, sama-sama tidak mau mengalah…..

Oey Yong ketarik hatinya, ia menonton sambil tertawa geli. Ia mengawasi orang memintil tiat-ceng dan meniup seruling. Lama-lama, ia pun merasa aneh. Lama-lama, wajahnya kedua orang yang tengah mengadu tetabuhan itu berubah menjadi bersungguh-sungguh, menjadi tegang. Ia lantas melihat ayahnya dari duduk menjadi bangun berdiri, meniup serulingnya sambil bertindak, bertindak ke delapan penjuru menuruti kedudukan pat-kwa, segi delapan. Ia tahu itulah dasar kedudukan ayahnya setiap waktu ayahnya melatih diri dalam ilmu dalam. Teranglah musuh itu lihai sekali maka ayahnya mengambil tindakan itu.

Kemudian si nona memandang ke arah Auwyang Hong. Juga jago dari Barat ini menunjuki wajah dan sikap bersungguh-sungguh. Dari kepalanya terlihat hawa mengepul naik seperti uap, itulah hawa panas mengkedus yang keluar naik. Dengan kedua tangannya dia menerus mementil alat tetabuhannya, sampai ujung bajunya menerbitkan suara angin. Nyata sekali dia tidak berani berlaku alpa.

Kwee Ceng di tempat persembunyiannya memasang kuping, ia tidak mengerti ada apa hubungannya di antara seruling dan tiat-ceng itu. Ia heran kenapa masing-masing suara alat tetabuhan itu dapat mempengaruhkan orang menjadi tidak tenang. Di dalam ketenangan, perlahan-lahan ia dapat membedakan juga. Kedua suara itu seperti lagi serang, keras lawan lemah, lemah melawan keras. Sebentar kemudian, lantas ia mengerti seluruhnya.

“Tidak salah lagi, Oey Tocu dan Auwyang Hong tengah mengadu ilmu dalam mereka,” pikirnya. Karena ini, ia lantas menutup rapat kedua matanya, ia mendengari terus dengan penuh perhatian.

Tadinya Kwee Ceng mesti mengeluarkan banyak tenaga melawan desakan tiat-ceng dan seruling, sekarang tidak demikian. Sekarang dengan tenang ia bisa mendengari kedua suara itu. Ia merasa bagaimana seruling seperti berkelit sana dan berkelit sini dari rangsakan tiat-ceng yang hebat, atau setiap kali ada lowongan, seruling lantas membalas menyerang. Satu kali ia mendengar, suara tiat-ceng menjadi lemah, sebaliknya seruling menjadi kuat.

Tiba-tiba Kwee Ceng ingat ajarannya Ciu Pek Thong “Keras tak dapat bertahan lama, lemah tak dapat menjaga terus.” Ia lantas menduga, tiat-ceng bakal membalas menyerang.

Benar-benar, berselang sesaat suara tiat-ceng menjadi keras pula.

Ketika Kwee Ceng menghapali ajarannya Ciu Pek Thong itu, ia tidak tahu bahwa itulah rahasia dari Kiu Im Cin-keng, dan ia pun tidak mengerti jelas maksudnya.

Baru sekarang ia merasakan ada hubungannya ajaran itu dengan pertarungannya Oey Yok Su dan Auwyang Hong ini. Karena insyaf ini, ia menjadi girang sekali. Hanya ia masih belum mengerti akan jalannya terus pertempuran itu. Ada kalanya seruling dapat menghajar, ketika baik itu dilewatkan dengan begitu saja, demikian juga sebaliknya. Toh itu tidak mirip-miripnya dengan orang yang bersikap saling mengalah.

Mendengari terlebih jauh, Kwee Ceng jadi menanya dirinya sendiri; “Mungkinkah pengajarannya Ciu Toako ada terlebih lihai daripada kepandaiannya Oey Tocu dan Auwyang Hong ini? Mungkinkah mereka ini tidak dapat melihat cacad masing-masing maka juga kelemahan itu mereka sama-sama tidak dapat menggunainya? Tapi heran! Kalau benar Ciu Toako telebih lihai, mestinya pada limabelas tahun yang lalu dia sudah dapat mencari Oey Tocu di sini untuk menghajarnya, tidak peduli pulau ini banyak terjaga dengan barisan sesat patkwa itu, tidak nanti ia membiarkan dirinya terkurung di dalam gua….”

Masih Kwee Ceng mendengari. Lagi-lagi ia mendapat kenyataan telah tiba saat yang sangat genting, hingga ada kemungkinan kali ini bakal datang keputusan siapa menang dan siapa kalah. Ia berkhawatir untuk Oey Tocu…

Justru itu waktu dari arah laut, dari tempat yang jauh, terdengar siulan panjang dan lama. Suara itu samar-samar tetapi toh dua-dua Oey Yok Su dan Auwyang Hong terkejut hingga sendirinya suara seruling dan tiat-ceng mereka berubah menjadi kendor. Siulan pun terdengar semakin nyata. Itu tandanya orang mendatangi dan orang itu berada semakin dekat.

Auwyang Hong mementil dua kali, keras sekali, suara tiat-ceng sampai terdengar seperti suara cita terobek. Habis itu, suara siulan terdengar bernada tinggi. Rupanya siulan dan tiat-ceng tengah kebentrok.

Tidak antara lama, suara seruling dari Oey Yok Su pun nyebur dalam bentrokan siulan dan tiat-ceng itu. Maka selanjutnya, sering terdengar, siualan bentrok tiat-ceng, siulan bentrok seruling, atau seruling bentrok tiat-ceng. Atua lagi, kedtiganya bentrok berbareng.

Sekarang Kwee Ceng menduga apsti ada seseorang yang lihai yang telah datang ke pulau Tho Hoa To ini. Ia biasa main-main bertarung sempat tangan dengan Ciu Pek Thong, karena itu ia dapat menbedakan suara bentrokannya ketiga lawan ini: seruling, tiat-ceng dan siulan….

Setelah memperhatikan terlebih jauh. Kwee Ceng merasa orang yang bersiul itu sudah tiba di dalam rimba di dekat itu. Ia mendengar lebih nyata siulan orang itu, yang tinggi dan rendah bergantian, yang selalu berlainan. Ketika ia merasa, bentrokan menjadi demikian hebat, saking kagumnya, tanpa ia merasa ia berseru: “Bagus!”. Kemudian ia terkejut sendirinya. Bukankah ia lagi bersembunyi? Ia lantas memikir untuk menyingkir. Tapi sudah kasep. Satu bayangan lantas berkelebat di depannya. Di situ berdiri Oey Yok Su.

“Anak yang baik, mari!” berkata Tocu dari Tho Hoa To itu.

Ketika itu semua tetabuhan sudah berhenti.

Dengan membesarkan hati, Kwee Ceng ikut Tong Shia pergi ke paseban.

Oey Yong tersumpal kupingnya, ia tidak mendengar seruannya si anak muda, maka heran ia menampak munculnya pemuda itu. Ia pun menjadi sangat girang, maka ia lari memapaki, untuk menyambar kedua tangan orang.

“Engko Ceng, akhirnya kau datang juga…!” serunya. Tapi ia girang bercampur sedih, tanpa merasa air matanya meleleh turun.

Melihat pemuda ini, panas hatinya Auwyang Kongcu. Maka itu, menyaksikan kelakuannya si nona, ia panas berbareng gusar sekali. Tidak dapat ia mengendalikan diri, sambil berlompat ia menghajar kepalanya si anak muda itu.

“He, bocah busuk, kau pun datang ke mari!” ia mendamprat.

Kwee Cneg melihat datangnya serangannya, dengan sebat ia berkelit. Sekarang ini ilmu silatnya sudah maju jauh, ia beda dengan waktu ia masih di rumah abu Keluarga Lauw di Poo-eng, dimana ia menempur pemuda she Auwyang itu. Ia tidak cuma berkelit, terus ia membalas menyerang. Dengan tangan kiri memainkan “Naga sakti menggoyang ekor”, dengan tangan kanan ia menggunai “Naga Menyesal”, dua-duanya merupakan jurus-jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang yang lihai. Sejurus saja sudah hebat, apapula dua jurus itu hampir berbareng.

Auwyang Kongcu terkejut merasakan tangan kiri orang tahu-tahu menekan iga kanannya. Ia mengerti lihainya Hang Liong Sip-pang Ciang, yang cuma dapat diegos, tidak ditangkis, dari itu lekas-lekas ia menyingkir ke kiri. Celaka untuknya, justru ia berkelit, justru tangan yang lain dari lawannya tiba. Tidak ampun lagi, dada kirinya kena terpukul, bahkan sebuah tulangnya patah sekali.

Sebenarnya Auwyang Kongcu sudah cukup lihai dan ia mengerti lihainya lawan, ketika serangan sampai, ia mencoba berkelit pula. Kali ini ia berkelit dengan mengapungi diri, untuk berlompat tinggi naik ke atas pohon bambu, habis itu baru ia lompat turun. Tapi ia tidak bisa membebaskan diri. Ia turun dengan muka merah bahna malu, dadanya juga dirasakan sakit. Ia bertindak dengan perlahan.

Menyaksikan perlawannya Kwee Ceng itu, dua-duanya Oey Yok Su dan Auwyang Hong heran berbareng murka. Oey Yong sebaliknya, nona ini bertepuk-tepuk tangan saking girangnya.

Sebenarnya, Kwee Ceng sendiri kurang mengerti. Inilah kemenangan di luar dugaannya. Ia bukan menginsyafi bahwa ia sudah maju jauh, ia mau menyangka si anak muda lawannya itu sudah beralpa atau kurang sebat bergeraknya hingga kena terhajar. Ia khawatir pemuda ini nanti menyerang pula secara kejam, ia mundur setindak smabil memasang mata, untuk bersiap-siap.

Auwyang Hong melirik pemuda itu dengan mata merah saking mendongkolnya. Kemudian ia dia berkata dengan nyaring: “Pengemis she Ang, aku beri selamat padamu yang sudah mendapatkan murid yang jempol!”

Oey Yong sudah membuka sumpalannya ketika ia mendengar suaranya Auwyang Hong itu, ia lantas mengetahui Ang Cit Kong telah tiba, maka itu, lupa segala apa ia lari ke arah rimba sambil memanggil-manggil: “Suhu! Suhu!” Ia kegirangan karena ia tahu bintang penolong sudah datang.

Mendengar suara putrinya itu, Oey Yok Su melengak.

“Eh, mengapa anakku memanggil guru kepada si pengemis tua?” pikirnya.

Itu waktu sudah lantas terlihat munculnya Ang Cit Kong si ketua pengemis. Di punggungnya ia menggondol cupu-cupunya merah, tangan kanannya memegang tongkatnya, tangan kirinya menuntuk Oey Yong. Ia berjalan sambil tertawa haha-hihi.

“Eh, Yong-jie, kau memanggil apa padanya?!” tanya Oey Yok Su gusar.

Bukannya ia lantas menjawab ayahnya itu, Oey Yong justu menuding Auwyang Kongcu dan berkata dengan sengit, “Ini manusia busuk sudah menghina aku, jikalau tidak ada lojinkee Ang Cit Kong ynag menolongi aku, sudah tentu sudah semenjak lama kau tidak melihat Yong-jie, Ayah!”

“Jangan ngaco belo!” membentak Oey Yok Su, walaupun sebenarnya ia heran. “Dia toh anak baik-baik, cara bagaimana dia menghina padamu!”

“Jikalau Ayah tidak percaya, nanti aku tanyakan dia!” berkata si nona. Ia lantas mengawasi pemuda she Auwyang itu. Ia kata dengan keras; “Kau mesti lebih dulu mengangkat sumpah! Jikalau dalam jawabanmu kepada ayahku berdusta, kau nanti digigit mampus ular-ular di ujung tombaknya pamanmu itu!”

Mendengar itu Auwyang Kongcu kaget hingga mukanya pucat. Auwyang Hong tidak kurang kaget dan herannya. Jago dari Wilayah Barat ini kaget sebab ia ketahui dengan baik, dua ekor ular pada tongkatnya itu adalah ular-ular piarannya selama sepuluh tahun, yang ia piara sedari baru diteteskan hasil dari kawinan beberapa macam ular yang paling berbisa. Kalau dia menghukum bawahannya yang berkhianat atau orang yang paling ia benci, ia bisa menghukum dengan menggunai kedua ularnya ini. Asal seorang digigit ularnya, lantas ia kegatalan luar biasa, dalam waktu yang pendek ia bakal mati, tidak ada pertolongan lagi sekalipun seandainya Auwyang Hong sendiri berbalik berkasihan dan hendak mengampunkannya. Oey Yong menyebut ular itu karena ia menduga saja, sebab kedua binatang itu lain daripada yang lain, tidak tahunya, ia menyebut tepat pantangannya See Tok si Racun dari Barat itu.

“Terhadap pertanyaanya gakhu tayjin, mana aku berani mendusta,” Auwyang Kongcu menjawab. Ia telah terdesak si nona, ia pun tidak berani menyangkal.

“Cis!” berseru Oey Yong. “Jikalau kau berani mengacu belo, lebih dahulu aku akan gaplok kupingmu beberapa kali! Sekarang dengar pertanyaanku! Kita pernah bertemu di istananya Chao Wang di Pak-khia, benar atau tidak?”

Auwyang Kongcu mengangguk. Tidak berani ia membuka suara. Hajarannya Kwee Ceng membikin ia merasakan sangat nyeri. Kalau ia membuka mulutnya untuk berbicara, rasa sakitnya itu menghebat. Ia pun memangnya berkepala besar. Kalau ia merasa sakit, kepalanya pusing dan mengeluarkan peluh. Dengan tidak bersuara, ia dapat menahan napas, ia bisa menguatkan diri.

Oey Yong menanya pula; “Ketika itu kau ada bersama See Thong Thian, Pheng Lian Hauw, Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin, bersama-sama kau mengepung aku satu orang. Benar atau tidak?”

Auwyang Kongcu berniat menyangkal ia bekerja sama dengan rombongannya See Thong Thian itu, bahwa bukan sengaja ia mengepung si nona, tetapi ketika ia paksa menyahut, lantas ia merasakan dadanya sakit, maka ia cuma bisa bilang; “Aku…aku tidak bekerja sama dengan mereka itu…”

“Baiklah, aku pun tidak memerlukan jawabanmu dengan mulutmu!” berkata Oey Yong. “Jikalau aku menanya kau, cukup asal kau mengangguk atau menggeleng kepala. Sekarang kau dengar pertanyaanku: ‘See Thong Thian bersama-sama Pheng Lian Houw, Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin toh memusuhkan aku. Benar tidak?'”

Auwyang Kongcu mengangguk. Ia menuruti kata-kata orang dan tidak berani membuka mulutnya.

“Mereka itu hendak membekuk aku tetapi mereka itu tidak berhasil,” berkata Oey Yong pula. “Kemudian kau muncul. Benar tidak?”

Itulah hal yang sebenarnya, Auwyang Kongcu mengangguk.

“Ketika itu aku berada di ruang besar dari istana Chao Wang. Di situ aku bersendirian saja, tidak ada siapa juga yang membantu aku, keadaanku sungguh menyedihkan. Ayahku pun tidak ketahui bahaya yang mengancam aku, ayah tidak dapat menolong aku. Benar tidak?”

Auwyang Kongcu mengangguk dengan terpaksa. Ia ketahui, pertanyaan kali ini dari si nona, yang membawa-bawa nama ayahnya, cuma untuk memancing kemurkaannya si ayahnya dia itu.

Setelah mendapat jawaban itu, Oey Yong tarik tangan ayahnya. Timbullah kemanjaannya.

“Ayah, kau lihat,” katanya. “Kau sedikit juga tidak menyayangi anakmu….Kalau ibu masih hidup, tidak nanti ia perlakukan aku begini rupa…”

Mendengar orang menyebut istrinya, yang ia cintai itu, pilu hatinya Oey Yok Su. Ia ulur tangan kirinya untuk merangkul putrinya itu.

Auwyang Hong sangat cerdas dan licin, ia melihat suasana buruk untuk pihaknya, maka belum lagi Oey Yong menanya pula, ia sudah mendahului.

“Nona Oey,” ia berkata, “Begitu banyak orang Rimba Persilatan yang kenamaan hendak membekuk kau, karena lihai ilmu silat keluargamu, mereka tidak dapat berbuat sesuatu terhadapmu, bukankah?”

Oey Yong tertawa, dia mengangguk.

Oey Yok Su pun tersenyum. Ia senang orang puji ilmu silatnya.

Auwyang Hong berpaling kepada tuan rumah, ia berkata: “Saudara Yok, keponakanku telah melihat putrimu demikian lihai, ia jadi sangat jatuh hati, inilah sebabnya kenapa sekarang kami datang kemari dengan tidak memperdulikan jalan jauh ribuan lie untuk meminangnya.

Oey Yok Su tertawa.

“Ya, sudahlah!” katanya.

Auwyang Hong menolah kepada Ang Cit Kong, ia berkata: “Saudara Cit, kami paman dan keponakan mengagumi orang-orang Tho Hoa To, kenapa kau sebaliknya lain pandanganmu? Kenapa kau berlaku sungguh-sungguh sama segala bocah? Coba bukannya keponakanku itu panjang umurnya, pastilah siang-siang dia telah mati di bawah hujan jarum emas yang menjadi kepandaianmu yang istimewa….”

Dengan kata-katanya ini Auwyang Hong hendak menimbulkan urusan ketika dulu hari Ang Cit Kong menolong Auwyang Kongcu dari serbuan jarum rahasia dari Oey Yong, hanya See Tok telah membalik duduk perkaranya mungkin itu disebabkan Auwyang Kongcu telah membaliknya waktu melaporkan hal ini kepada pamannya. Tapi Cit Kong adalah seorang polos dan sabar sekali, ia tidak mengambil mumat perkataan orang, bahkan tertawa lebar, malah dengan membuka tutup cupa-cupanya, ia menengak isinya.

Tidak demikian adanya Kwee Ceng yang jujur, yang benci kedustaan. Anak muda ini lantas menyampur bicara.

“Sebenarnya Cit Kong yang menolongi keponakanmu itu, kenapa sekarang kau bicara begini rupa?!” ia menegur.

Tapi Oey Yok Su membentak; “Kita lagi bicara, bagaimana kau bocah berani campur mulut?!”

Kwee Ceng penasaran, dengan nyaring ia kata kepada Oey Yong: “Yong-jie, kau beberlah urusannya Auwyang Kongcu merampas Nona Thia supaya ayahmu mendapat tahu!”

Oey Yong tidak meluluskan permintaan anak muda itu. Ia kenal baik sifat ayahnya. Ayahnya itu dijuluki Tong Shia si Sesat dari Timur, justru karena tabiatnya yang aneh itu. Ada kalanya Tong Shia membenarkan apa yang tidak benar dan sebaliknya. Maka ada kemungkinan, perbuatan ceriwis dan busuk dari Auwyang Kongcu dipandang sebagai perbuatan umum pemuda-pemuda doyan pelesiran. Ia pun ketahui baik ayahnya tak sukai pemuda pujiannya itu. Maka ia menggunai siasat. Ia lantas berpaling pula kepada Auwyang Kongcu.

“Bicaraku masih belum habis!” katanya. “Dulu hari itu di dalam istana Chao Wang, kau mengadu kepandaian dengan aku. Dengan sengaja kau menelikung kebelakang kedua tanganmu, kau bilang bahwa tanpa menggunai tangan, kau bisa mengalahkan. Benar bukan?”

Auwyang Kongcu mengangguk membenarkan pertanyaan itu.

“Kemudian aku telah mengangkat lojinkee Ang Cit Kong menjadi guruku,” berkata Oey Yong. “Lalu di Poo-eng kita mengadu silat untuk kedua kalinya. Itu waktu kau menyebutnya aku boleh menggunakan kepandaian yang diwariskan ayahku atau Ang Cit Kong, kau bilang aku boleh keluarkan berapa banyak juga, sebaliknya kau sendiri, kau cuma akan menggunakan semacam ilmu kepandaian warisan pamanmu dengan apa kau sanggup mengalahkan aku. Benar tidak?”

Mendengar itu Auwyang Kongcu berkata di dalam hatinya; “Semuanya itu ditetapkan olehmu sendiri, bukan ditetapkan olehku…”

Menampak orang bersangsi, Oey Yong mendesak. Ia kata: “Bukankah itu hari kita telah menetapkannya demikian baru kita bertempur?”

Mau tidak mau, Auwyang Kongcu mengangguk.

“Ayah, lihatlah!” berkata Oey Yong kepada ayahnya. “Dia tidak memandang mata kepada Cit Kong, dia juga tidak menghormati padamu! Dia mau bilang, Cit Kong dan ayah berdua kalah jauh dengan pamannya itu! Bukankah itu berarti, meski Cit Kong dan ayah berdua mengepung pamannya, pamannya itu masih tak dapat dikalahkan. Tapi ini aku tidak percaya!”

“Ah, budak cilik, jangan kau mainkan lidahmu!” berkata Oey Yok Su si ayah. “Diantara kaum persilatan di kolong langit ini, siapakah yang tidak kenal baik ilmu silatnya Tong Shia, See Tok, Lam Tee dan Pak Kay?”

Di mulutnya Oey Yok Su berkata demikian, di dalam hatinya ia mulai tidak puas terhadap Auwyang Kongcu, karena itu ia ingin hal pemuda itu jangan dibicarkan pula. Ia lantas menoleh kepada Ang Cit Kong.

“Saudara Cit, kau datang berkunjung ke Tho Hoa To, ada urusan apakah?” ia menanya.

“Aku datang untuk memohon sesuatu dari kau,” sahut Cit Kong singkat.

Cit Kong jenaka tetapi jujur dan polos dan benci sekali kejahatan, inilah Tong Shia ketahui baik. Karena ini, ia menghormati si raja pengemis ini. Ia pun ketahui, biasanya, kalau ada urusan, Cit Kong tentu mengerjakannya itu sendiri bersama-sama pengikut-pengikutnya dari Kay Pang, belum pernah ia memohon bantuan dari orang. Sekarang orang datang untuk memohon sesuatu, ia menjadi girang sekali. Lekas-lekas ia menjawab: “Persahabatan kita adalah persahabatan dari beberapa puluh tahun, saudara Cit, maka itu kalau ada titah dari kau, mana aku berani tidak menurutinya?”

“Ah, janganlah kau begitu menerima baik permohonanku itu,” berkata Cit Kong. “Aku khawatir permohonanku ini sulit untuk dilakukannya….”

Oey Yok Su tertawa, ia kata: “Kalau urusan gampang tidak nanti saudara Cit sampai memikir untuk meminta bantuanku!”

Cit Kong tertawa seraya menepuk-nepuk tangannya.

“Benar-benar!” katany. “Kau barulah saudara yang sejati! Jadi kau pasti menerima baik?”

“Sepatah kata-kataku menjadi kepastian!” sahut Oey Yok Su, kembali cepat dan singkat. “Lompat ke api, terjun ke air, sama saja!”

Mendengar itu Auwyang Hong melinttangi tongkat ularnya.

“Saudara Yok, tunggu dulu!” ia menyelak, “Perlu kita menanya dulu saudara Cit, urusan itu sebenarnya urusan apa?”

Ang Cit Kong tertawa. Ia berkata; “Racun tua bangka, inilah urusan tidak ada sangkut pautnya dengan kau, jangan kau ikut campur! Lebih baik kau sedia-sedia dengan ususmu yang kosong untuk nanti kau menenggak arak kegirangan!”

Auwyang Hong heran.

“Eh, minum arak kegirangan?” ia menanya.

“Tidak salah! Minum arak kegirangan!” memastikan Cit Kong. Dengan tangan kanannya ia menunjuk kepada Kwee Ceng dan Oey Yong bergantian. “Mereka berdua adalah murid-muridku, aku telah berikan janji kepada mereka untuk memohon kepada saudara Yok agar mereka dibiarkan menikah satu pada lain! Dan sekarang saudara Yok sudah menerima baik permohonanku itu!”

Kwee Ceng dan Oey Yong terperanjat bahna girang, keduanya lantas saling memandang. Sebaliknya Auwyang Hong dan keponakan serta Oey Yok Su menjadi terkejut sekali.

“Saudara Cit, kau keliru!” Auwyang Hong cepat berkata. “Putrinya saudara Yok sudah dijodohkan dengan keponakanku dan hari ini aku datang ke Tho Hoa TO ini untuk mengambil ketetapannya.”

“Saudara Yok, benarkah itu?” tanya Cit Kong.

“Benar,” menjawab Oey Yok Su. “Aku minta, saudara Cit jangan kau berkelakar denganku!”

Cit Kong memperlihatkan roman bersungguh-sungguh.

“Siapa yang main-main dengan kamu?” dia berkata. “Kau menjodohkan seorang putrimu kepada dua keluarga. Apakah artinya ini?” Ia lantas menoleh kepada Auwyang Hong. Ia kata: “Akulah orang perantaraan dari Keluarga Kwee! Kau sendiri, mana orang perantaanmu?”

Auwyang Hong tidak menyangka bakal ditanya begitu rupa, dia tidak dapat menjawab, ia tercengang. Baru kemudian ia berkata; “Suadara Yok sudah menerima baik, aku pun sudah akur, maka itu, perlu apa lagi orang perantaan?”

“Apakah kau ketahui masih ada satu orang yang tidak menerima baik?” Cit Kong tanya.

“Siapakah dia?!” Auwyang Hong menegaskan.

Ang Cit Kong menyahuti: “Maafkan aku, itulah aku si pengemis tua!”

Auwyang Hong berdiam. Ia mengerti, tidak dapat ia tidak menempur pengemis ini, maka itu ia lantas memikirkan daya perlawanan.

Ang Cit Kong tertawa, ia berkata pula: “Keponakanmu itu tidak bagus kelakuannya, mana dia cocok untuk dijodohkan dengan putri yang cantik manis dari saudara Yok ini? Umpama kata benar kamu berdua memaksa mereka menikah, habis bagaimana kalau mereka sendiri tidak akur, setiap hari mereka berkelahi saja? Apakah artinya itu?”

Tertarik hati Oey Yok Su mendengar perkataan pengemis itu, ia lantas melirik kepada putrinya. Ia mendapatkan Oey Yong, dengan sinar mata penuh kecintaan, lagi mengawasi Kwee Ceng. Sebaliknya melihat Kwee Ceng, timbul pula rasa jemunya.

Oey Yok Su ini ada seorang yang terang otaknya, pandai ilmu silat dan surat, pandai juga memainkan khim, menulis huruf-huruf dan melukis gambar. Sedari masih muda, semua sahabatnya ada orang-orang cerdik pandai. Pun istrinya serta putrinya ini, orang-orang pintar juga. Maka, mengingat anaknya yang cantik dan pintar itu mesti dipasangi dengan Kwee Ceng yang tolol-tololan itu, sungguh ia tidak mufakat. Dipadu dengan Auwyang Kongcu, Kwee Ceng kalah berlipat ganda. Maka itu, ia lebih penuju keponakannya See Tok itu. Tapi di situ ada Ang Cit Kong. Maka akhirnya, ia memikir satu jalan.

“Saudara Hong,” katanya kemudian, “Keponakanmu terluka, baik kau obati dulu padanya, urusan nanti kita damaikan pula.”

Inilah apa yang Auwyang Hong harap-harapkan, maka lantas ia menggapai pada keponakannya, lalu bersama-sama mereka masuk ke dalam hutan bambu. Lewat sesaat, mereka sudah kembali ke paseban. Auwyang Hong telah berhasil mengeluarkan jarum emas dan menyambung pula tangan keponakannya itu.

Oey Yok Su sudah lantas berbicara, katanya: “Anakku bertubuh lemah dan nakal, sebenarnya sulit untuk dia merawati seorang budiman, maka adalah diluar dugaanku, saudara Cit dan saudara Hong telah memandang mukaku dan sama-sama melamarnya. Hal ini adalah suatu kehormatan untukku. Sebenarnya anakku ini sudah dijodohkan dengan pihak Auwyang tetapi sekarang ada titahnya saudara Cit, sukar aku tolak. Kejadian ini menyulitkan aku. Sekarang, aku pikir, baik diatur begini saja. Coba kedua saudara lihat, pemecahan ini dapat dilakukan atau tidak?”

“Lekas bilang, lekas bilang!” berkata Ang Cit Kong. “Aku, si pengemis tua paling tidak suka omong pakai segala aturan!”

Oey Yok Su tersenyum, ia berkata pula: “Sebenarnya anakku tidak mengerti segala apa, akan tetapi meskipun demikian, aku masih mengharap dia nanti menikah dengan seorang suami yang baik-baik. Auwyang Sieheng ada keponakannya saudara Hong dan Kwee Sieheng ada murid pandai dari saudara Cit, kedua-duanya baik, sukar untuk aku memilihnya, tidak dapat aku membuang salah satunya, karena itu, aku pikir baiklah mereka diuji saja. Di sini aku ada mempunyai tiga macam syarat. Pendeknya siapa yang lulus, anakku akan dijodohkan dengannya, tidak nanti aku berlaku berat sebelah. Bagaimana, sahabat-sahabatku?”

Auwyang Hong sudah lantas bertepuk tangan.

“Bagus, bagus!” serunya. “Cuma sekarang keponakanku sedang terluka, kalau buat adu silat, aku minta supaya itu ditunda sampai ia sudah sembuh.”

Mendengar itu, Ang Cit Kong berpikir: “Kau, si Oey tersesat, kau banyak akalnya, jikalau kau majukan ilmu surat, syair atau nyanyi, tentulah muridku yang tolol gagal. Kau bilang kau tidak mau berat sebelah, sebenarnya pikiranmu sudah lain. Maka tidak ada lain jalan, baiklah aku ambil caraku!” Ia lantas tertawa sambil berlenggak, terus ia berkata: “Kita semua tukang silat, kalau kita tidak adu silat, apa kita mesti adu main gembul-gembulan? Keponakanmu terluka, kau sendiri tidak, marilah, mari kita berdua yang main-main lebih dulu!”

Begitu ia selesai bicara, tanpa menantikan jawaban, Ang Cit Kong sudah lantas menyerang ke bahu orang.

Auwyang Hong berkelit, ia mundur.

Ang Cit Kong meletaki tongkat bambunya di meja kecil di sampingnya.

“Kau membalaslah!” ia menantang. Ia menantang tetapi kembali ia menyerang, beruntun hingga tujuh jurus.

Auwyang Hong berkelit berulang-ulang, ke kiri dan ke kanan, habis tujuh serangan itu, dengan tangan kanannya ia menancap tongkatnya, sedang dengan tangan kirinya ia pun membalas tujuh kali.

Oey Yok Su menyaksikan itu, ia bersorak memuji. Ia tidak mau datang memisahkan, karena ingin ia melihat kemajuan orang sesudah berselang duapuluh tahun semejak mereka mengadu kepandaian.

Dua-dua Ang Cit Kong dan Auwyang Hong adalah ketua-ketua partai, pada duapuluh tahun dulu mereka sudah lihai, habis menguji kepandaian di Hoa San, mereka masing-masing menyakinkan lebih jauh kepandaian mereka, bisa di mengerti yang mereka telah maju banyak. Maka sekarang, bertarung di Tho Hoa To ini, mereka beda jauh daripada waktu di Hoa San. Mereka saling serang dengan cepat sekali tetapi semua itu adalah permulaan saja, untuk saling menggertak.

Kwee Ceng menonton dengan perhatian sepenuhnya. Ia melihat gerakan kedua pihak sangat lincah. Untuk kegirangannya, ia mengerti semua jurus itu. Ia telah hapal kitab Kiu Im Cin-keng, sekarang ia mendapat kenyataan, semua gerak-gerik mirip sama kitab itu. Untuk menyaksikan ini, ia mimpi pun tidak. Semua yang ia lihat ini termuat dalam kitab bagian atas. Semua itu ilmu silat yang lihai. Tanpa disadari, ia menjadi gatal sendirinya.

Dengan cepat kedua jago itu sudah bertempur hingga tigaratus jurus lebih.

Dua-dua Ang Cit Kong dan Auwyang Hong kagum sendirinya, mereka saling memuji secara diam-diam.

Oey Yok Su yang menonton pun kagum, ia menghela napas. Di dalam hatinya ia berkata: “Aku berdiam di Tho Hoa To ini dengan melatih diri sungguh-sungguh, aku percaya setelah Ong Tiong Yang meninggal dunia, aku bakal jadi orang gagah nomor satu di kolong langit ini, siapa tahu sekarang si pengemis tua bangka ini dan si biang racun tua telah mengambil jalannya masing-masing yang hebat sekali!”

Auwyang Kongcu dan Oey Yong sama-sama tegang hatinya, mereka mengahrapi kemenangan pihaknya masing-masing. Mereka mengerti silat tetapi mereka todak mengerti ilmu silatnya dua jago yang lagi bertarung itu. Sama-sama mereka terus mengawasi dengan perhatian penuh.

Satu kali Oey Yong melirik ke samping, lantas ia menjadi heran sendirinya. Ia melihat bayangan orang di sampingnya itu, bayangan yang lagi bergerak-gerak, terutama kaki tangannya, seperti orang menari. Ia lantas menoleh, maka itu ia kenali, itulah bayangannya Kwee Ceng. Wajah si pemuda tegang dan seperti menjadi korban kegirangan luar biasa.

“Engko Ceng!” ia memanggil perlahan. Ia heran dan menjadi berkhawatir karenanya, apapula panggilannya itu tidak disahuti si anak muda, yang terus masih bergerak tak hentinya. Nyata sekali lagi bersilat seoarng diri.

Mau tidak mau, Oey Yong mengawasi. Lama juga ia meminta tempo, baru ia mengerti. Terang sekarang, Kwee Ceng berlatih silat menuruti gerak-geriknya kedua jago tua itu.

Perubahan terjadi dalam cara bertempurnya kedua jago itu. Kalau tadinya mereka berperang sebat sekali, sekarang mereka manjadi lambat, ada kalanya mereka menyerang dulu dengan dipikirkan lebih dahulu. Bahkan anehnya, ada kalanya, habis bergebark, mereka sama-sama duduk bersila, untuk beristirahat, kemudian berbangkit pula, akan mulai bertempur lagi. Mereka bukan seperti mengadu silat, bahkan juga bukan juga kedua saudara seperguruan lagi berlatih. Toh wajah mereka menunjukkan ketegangan yang bertambah-tambah.

Oey Yong berpaling kepada ayahnya, ia mendapatkan ayahnya itu bengong mengawasi kedua jago itu. Ayah ini nampaknya tegang hatinya.

Ketika nona ini menoleh kepada Auwyang Kongcu, ia mendapat kenyataan pemuda itu tenang seperti biasa, kipasnya dipakai mengipas perlahan-lahan.

Kwee Ceng berhenti bersilat, ia mengawasi kedua orang itu, lalu seperti lupa pada dirinya sendiri, ia bersorak dengan pujiannya.

“He, bocah tolol, kau mengerti apa?!” Auwyang Kongcu menegur, murka. “Apa perlunya kau membikin banyak berisik?!”

“Apa perlunya kau banyak rewel?!” Oey Yong balas menegur. “Kau pun mengerti apa?!”

Ditegur begitu, pemuda ini tertawa.

“Bocah ini bergerak secara tolol!” dia berkata. “Dia masih sangat muda, mana dia ketahui kepandaian istimewa dari pamanku ini?”

“Kau toh bukannya dia, mana kau ketahui dia mengerti atau tidak?!” Oey Yong menegur pula.

Selagi muda-mudi ini berselisih mulut, Oey Yok Su tidak mengambil mumat, dia tetap mengawasi sepak terjangnya dua sahabatnya itu. Kwee Ceng pun memperhatikan dengan diam-diam saja.

Gerakkannya Ang Cit Kong dan Auwyang Hong menjadi terlebih lambat pula. Yang mengangkat tangan kirinya, dengan jari tengahnya dia menyentil perlahan batok kepalanya. Yang lainnya lagi, dengan kedua tangan di kuping, berjongkok di tanah dengan romannya lagi berpikir keras. Hanya sejenak kemudian, keduanya sama-sama berseru, terus mereka berlompat bangun untuk saling serang pula.

“Bagus! Bagus!” Kwee Ceng berseru-seru melihat serangan itu.

Habis itu, kedua lawan itu berpisah pula. Kembali mereka berpikir. Terang sudah, masing-masing seperti sudah mengetahui ilmu silat lawan, maka itu, perlu mereka memikirkan cara penyerangannya.

Duapuluh tahun sejak dua lawan ini berpisah sehabis bertempur di Hoa San, mereka masing-masing satu tinggal di Tionggan, satu yang lain di See Hek, Wilayah Barat. Sebegitu jauh tidak pernah mereka berhubungan satu dengan lain, sama-sama mereka menyakinkan lebih jauh ilmu silat mereka. Mereka pun tidak ketahui kemajuannya masing-masing. Sekarang ternyata, mereka sama gelapnya seperti duapuluh tahun dulu itu. Mereka mempunyai kepandaiannya, mereka pun sama-sama jeri. Dengan begitu, mereka membuang-buang tempo, sampai matahari sudah mulai menyingsing di arah Timur.

Yang beruntung adalah Kwee Ceng, yang dapat memberi perhatian seluruhnya. Adakalanya ia memikir, pihak sana tentu bakal menyerang begini, tetapi buktinya, dugaannya penyerangan pihak lain dan ada terlebih sempurna dari apa yang ia pikir. Karena ini, ia menjadi mendapat tambahan kepandaian. Kejadian ini terulang banyak kali. Ia dapat menyangkok ilmu silatnya dua-dua jago tua itu.

Oey Yong mengawasi pemudanya itu, ia bertambah heran.

“Baru belasan hari aku tidak lihat dia, mungkinkah dia telah dapat pelajaran silat dari malaikat?” berpikir nona ini. “Benarkah dia memperoleh kemajuan begini pesat? Kenapa ia agaknya girang sekali?” Ia baru berpikir begitu, atau ia menjadi berkhawatir. Katanya di dalam hatinya: “Apa mungkin engko Ceng ini mendadak pikirannya terganggu?”

Karena ini, ingin ia mendekati si anak muda, untuk menarik tangannya. Begitu berpikir, begitu ia bekerja.

Itu waktu, Kwee Ceng tengah meniru gerakkannya Auwyang Hong, yang menyerang sambil memutar tubuhnya. Kelihatannya serangan itu sangat umum akan tetapi tenaga yang dikerahkan tak terkira-kirakan. Maka itu tatkala tangannya si nona dapat memegang tangan si pemuda, mendadak ia merasa kena tertolak keras, dengan tiba-tiba saja ia mental tinggi seperti terbang. Melihat itu, Kwee Ceng terkejut hingga ia menjerit tetapi pun tubuhnya terus berlompat menyusul. Pinggang langsing dari Oey Yong dapat kena disambarnya, karena mana dapatlah ia menaruh kaki di atas wuwungan paseban dengan tidak kurang suatu apa, di situ terus ia berduduk.

Kwee Ceng sendiri, sebelum turut naik, telah menaruh tangannya di payon di mana ia menekan keras, hingga dilainnya saat dia jadi dapat duduk berendeng sama nona itu. Hingga dari situ, dengan memandang ke bawah, mereka dapat menonton pertaruhan.

Telah terjadi perubahan pula dalam caranya kedua jago itu bertempur. Sekarang terlihat Auwyang Hong bejongkok dengan kedua tangannya dikasih turun, hingga ia memperlihatkan sikapnya seekor kodok, sedang dari mulutnya kadang-kadang terdengar suara seperti suaranya kerbau. Lucu sikap itu hingga Oey Yong tertawa.

“Engko Ceng, dia bikin apakah itu?” dia menanya berbisik. Tertawanya pun perlahan sekali.

“Aku tidak tahu,” Kwee Ceng menyahuti. Ia baru menjadi demikian atau tiba-tiba ia ingat kata-katanya Ciu Pek Thong tengan Ong Tiong Yang dengan pukulan jeriji IT-yang-cie sudah memecahkan Kap-mo-kang atau Ilmu Kodok dari Auwyang Hong. Maka ia lekas menambahkan; “Inilah semacam ilmu silat yang lihai sekali, namanya Ilmu Kodok!”

Oey Yong meresa lucu hingga ia bertepuk tangan.

“Ya, sungguh mirip kodok buduk!” serunya.

Sementara itu Auwyang Kongcu telah melihat orang duduk berendeng dan bicara-bicara sambil tertawa dengan asyik, bukan main ia mendongkolnya. Ia menjadi sangat bercemburu. Menuruti hatinya, hendak ia melompat naik ke atas, untuk menggusur Kwee Ceng. Celaka untuknya, ia merasakan dadanya masih sakit, hingga tidak dapat ia mengeluarkan tenaga. Ia mendengar Oey Yong menyebut-nyebut kodok buduk, hatinya bertambah panas, ia menyangka ialah yang dikatakan si kodok buduk yang mengharap mencaplok daging angsa kayangan. Sekarang ia tidak dapat menguasai lagi dirinya, dengan tangan kanan menggenggam tiga biji torak Hui-yang Gin-so, ia bertindak perlahan-lahan mutar ke belakang paseban itu, lalu dengan diam-diam juga ia menyerang ke atas pesaben, kepada sepasang muda-mudi itu. Ia dapat berbuat demikian dengan leluasa karena lain-lain orang tengah menonton pertempuran yang nampaknya lucu itu. Ia mengarah punggungnya Kwee Ceng.

Pemuda she Kwee ini tidak curiga suatu apa. Ia lagi asyiknya mengawasi pertempuran yang justru tiba disaatnya Ang Cit Kong, gurunya hendak menggunakan Hang Liong Sip-pat Ciang akan melayani terus kepada Auwyang Hong.

Oey Yong tidak ketahui Pak Kay dan See Tok ini, dua orang paling kosen di jaman itu, tengah menghadapi pertempuran yang memutuskan, yang membahayakan salah satu diantaranya, karena itu ia masih dapat tertawa haha-hihi dan dengan tangannya tunjuk sana-sini. Secara kebetulan saja, ia melihat satu tubuh di luar paseban bambu. Dasar cerdik sekali, ia menyangka kalau-kalau Auwyang Kongcu main gila. Maka hendak ia memasang matanya. Justru itu waktu ia mendengar desiran angin dari senjata rahasia, yang melesat ke arah punggungnya Kwee Ceng, sedang Kwee Ceng sendiri tidak mengetahui itu. Tidak sempat lagi ia menangkis, segera ia bergerak menubruk diri ke punggungnya si anak muda, dengan begitu tubuhnya mewakilkan anak muda itu menyambuti serangan tiga biji Hui-ya Gin-so yang tepat mengenai punggungnya sendiri.

Nona ini mengenakan baju lapis joan-wie-kah, ia tidak terluka, cuma saking kerasnya serangan, ia merasakan nyeri juga. Dengan sebat ia memutar balik tangannya, akan menyambar ketiga biji torak, kemudian sembari tertawa ia berkata; “Kau menggaruki gatal dipunggungku, bukankah? Banyak-banyak terima kasih! Nah, ini aku kembalikan garukanmu!”

Auwyang Kongcu terperanjat, ia memasang matanya. Ia khawatir si nona benar-benar nanti menyerang padanya. Ia tidak mau mempercayai si nona itu sudi dengan baik hati memulangi toraknya itu. Hanya ia menanti dengan sia-sia. Si nona masih memegangi senjata rahasianya itu, dia tidak mengayunkan tangannya.

Menampak demikian, kongcu ini segera menjejak tanah dengan kakinya yang kiri, untuk mengapungkan diri berlompat ke atas pesaben bambu itu. Ia hendak membanggakan ringannya tubuhnya. Disitu ia berdiri di satu pojok, bajunya yang putih berkibaran di antara sampokannya angin, hingga nampak sikapnya yang bagus, baguskan seorang suci.

“Sungguh bagus ilmu ringan tubuhmu!” Oey Yong berseru dengan pujiannya. Lalu dia maju setindak untuk berlompat naik ke atas pesaben, untuk menghampirkan, untuk membayar pulang torak orang.

Butek pikirannya Auwyang Kongcu menyaksikan tangan si nona yang putih halus dan montok itu, putih bagaikan salju. Ia lantas mengulurkan tangannya, guna menyambuti senjata rahasianya, sekalian ingin ia meraba tangan yang halus itu, tatkala tiba-tiba saja ia mendapat lihat sinar kuning keemas-emasan berkelebat di depan matanya. Dua kali sudah ia merasakan tangannya si nona, maka tanpa bersangsi pula, ia lompat berjumpalitan turun dari atas pesaben itu. Sambil berkelit secara demikian, ia juga mengibas-ngibaskan tangan bajunya, maka juga berhasil ia meruntuhkan jarum emasnya si nona.

Oey Yong tertawa terkekeh walaupun serangannya itu gagal. Ia tidak berhenti sampai di situ. Dengan sekonyong-konyong saja, ia menyerang pula dengan tiga biji toraknya si anak muda, untuk menghajar embun-embunnya pemuda itu.

“Jangan!” berseru Kwee Ceng kaget, menampak perbuatannya si nona itu, untuk dibawa lompat turun.

Belum lagi anak muda ini dapat menginjak tanah, kupingnya dapat mendengar satu suara nyaring, yang mana dengan suara cegahannya Oey Yok Su, “Saudara Hong, berlakulah murah hati!”

Kwee Ceng segera merasakan dorongannya angin yang keras, bagaikan gunung roboh menguruk lautan, mengenakan dadanya. Berbareng dengan itu, ia khawatir, Oey Yong nanti terluka, dari itu lekas-lekas ia mengerahkan tenaganya, ia menggunai jurus “Melihat naga di sawah” dari Hang Liong Sip-pat Ciang. Dengan jurusnya itu ia menolak dorongan keras itu.

Dimana dua-dua pihak menggunai tenaga besar, kedua tenaga itu bentrok keras sekali. Sebagai kesudahannya, Kwee Ceng tertolak mundur tujuh atau delapan tindak, karena pertahanannya tidak dapat mengalahkan Ilmu Silat Kodok dari Auwyang Hong yang lihai itu.

Lekas-lekas Kwee Ceng melepaskan tubuh Oey Yong , lekas-lekas juga ia memasang kuda-kudanya, guna melayani terlebih jauh See Tok si Bisa dari Barat itu, yang sudah hendak menyerang pula padanya. Hanya belum lagi mereka bentrok pula, Ang Cit Kong berdua Oey Yok Su sudah berlompat maju menghalang di antara mereka.

“Sungguh malu,” berkata Auwyang Hong. “Tak keburu aku menahan diri! Apakah si nona terluka?”

Sebenarnya Oey Yong kaget bukan main, tetapi mendengar pertanyaan orang itu, ia memaksakan diri tertawa.

“Ayahku berada disini, mana dapat kau melukakan aku?” katanya.

Oey Yok Su pun berkhawatir. Ia lantas cekal tangan anaknya itu. Ia menarik.

“Apakah kau merasakan sesuatu yang beda pada tubuhmu?” tanyanya. “Lekas kau mainkan napasmu!”

Oey Yong menurut, ia lantas menarik dan mengeluarkan napas dengan beraturan. Ia tidak merasakan apa juga yang mengganggu pernapasannya itu. Maka ia lantas tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Melihat itu, barulah hati Oey Yok Su lega.

“Kedua pamanmu lagi berlatih silat di sini, kenapa kau main gila, budak?!” ayah ini menegur putrinya itu. “Kee-mo-kang dari Auwyang pepe hebat luar biasa, jikalau bukannya dia menaruh belas kasihan kepadamu, apakah kau kira sekarang kau masih mempunyai jiwamu? Coba kau lihat paseban itu!”

Oey Yong berpaling, akan melihat paseban seperti kata ayahnya itu. Diam-diam ia terperanjat. Paseban itu telah runtuh sebagiannya, tiang bambunya, yang mendam ke dalam tanah, telah terbongkar tercabut dan remuk bekas kena hajaran Silat Kodk. Tanpa merasa, ia mengulur lidahnya.

Ilmu silat Kee-mo-kang dari Auwyang Hong itu dimulai dari mendiamkan diri disusul sama gerakan tubuhnya, ketika itu seluruh tenaganya telah dikerahkan, kalau ia diserang, segera ia dapat menolak balik serangan itu. Untuk menyerang pun ia mesti berdiam dulu, memasang kuda-kudanya yang aneh bagaikan kodok nongkrong. Barusan ia melayani Ang Cit Kong, ia bersiap dengan kuda-kudanya yang aneh itu, disaat ia hendak menyerang, mendadak Oey Yong pun berlompat turun sebab dipondong Kwee Ceng, jadi tepat di nona melintang di tengah.

Auwyanng Hong pun kaget melihat arah serangannya adalah si nona, yang ia hendak ambil sebagai istri dari keponakannya. Ia menginsyafi bahwa si nona terancam bahaya maut, jiwanya tak bakal tertolong lagi. Ia juga dapat mendengar cegahannya Oey Yok Su. Begitulah ia mencoba menarik pulang pukulannya tetapi gagal, paseban kena terhajar runtuh, doronganya tenaga itu berlangsung terus. Lalu mendadak ia merasakan ada satu tenaga lain yang menahannya. Ketika ia sudah berhenti menyerang, ia memasang mata tajam ke depannya. Terlihat olehnya, penolong dari si nona adalah si pemuda Kwee Ceng. Diam-diam ia mengagumi Ang Cit Kong, katanya dalam hatinya: “Benar-benar lihai ini pengemis bangkotan, dia berhasil mengajari muridnya ilmu yang begini sempura!”

Oey Yok Su pun berpikir melihat sepak terjangnya Kwee Ceng itu, yang selama di Kwie-in-chung pernah ia saksikan ilmu kepandaiannya. Katanya dalam hatinya: “Ini bocah tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi, dia berani melayani Auwyang Hong, tidak memandang aku, tidakkah urat-urat dan tulang-tulangnya bakal putus dan remuk?” Ia mengatakan demikian karena tidak tahu, Kwee Ceng yang sekarang bukan lagi Kwee Ceng yang sama di Kwie-in-chung itu. Ia ketahui, barusan adalah Kwee Ceng yang sudah menolong putrinya, maka tanpa merasa kesannya yang kurang baik untuk pemuda itu menjadi berkurang tujuh atau delapan bagian. Bukankah bocah itu sudah berani berkorban untuk Oey Yong? Diakhirnya ia berpikir: “Bocah ini jujur dan baik hatinya, walaupun tidak dapat aku nikahkan anakku kepadanya, mesti menghadiahkan sesuatu kepadanya.”

Selagi Tong Shia berpikir demikian, ia mendapat dengar suaranya Ang Cit Kong.

“Makhluk beracun bangkotan, sungguh kau hebat!” demikian Pak Kay, si Pengemis dari Utara. “Kita berdua belum ada yang kalah dan menang, mari kita bertempur pula!”

“Baik, bersedia aku melayani seorang budiman!” menjawab See Tok, si racun dari Barat.

Ang Cit Kong tertawa.

“Aku bukannya seorang budiman, aku hanyalah pengemis!”

Dengan hanya sekali berlompot, raja pengemis ini sudah berada dalam gelanggang.

Auwyang Hong juga hendak masuk ke dalam gelanggang itu tatkala Oey Yok Su mencegahnya seraya Tong Shia melonjorkan tangannya yang kiri.

“Tunggu dulu, saudara Cit dan saudara Hong!” katanya. “Kamu berdua sudah bertarung lebih daripada seribu jurus, kamu tetap belum memutuskan menang atau kalah, karena hari ini kamu berdua adalah tetamu-tetamu terhormat dari Tho Hoa To, lebih baik kamu berdua duduk minum beberapa cawan arak pilihan yang aku nanti menyediakannya. Saatnya merundingkan pedang di Hoa San akan tiba di depan mata, maka itu wkatu bukan cuma kamu berdua yang bakal mengadu kepandaian pula, juga aku dan Toan Hong Ya akan bersama turun tangan! Bagaimana jikalau pertempuran ini hari disudahi sampai disini?”

“Baiklah!” menyahut Auwyang Hong tertawa, “Kalau kita bertempur pula, pastilah aku bakal kalah!”

Ang Cit Kong menarik pulang dirinya. Ia pun tertawa.

“Si makhluk berbisa bangkotan dari Wilayah Barat lain mulutnya lain hatinya!” berkata dia. “Kau memang sudah sangat tersohor! Kau membilang bakal kalah, itu artinya kau bakal menang! Tidak, aku si pengemis tua tidak dapat mempercayainya!”

“Jikalau begitu, hendak aku mencoba pula kepandaianmu, saudara Cit!” Auwyang Hong menantang.

“Tidak ada yang terlebih baik daripada itu!” Ang Cit Kong menyambut. Dan ia pun bersiap pula.

“Sudahlah!” berkata Oey Yok Su tertawa, melihat orang hendak bertempur lagi. “Nyatalah kamu berdua hari ini datang ke Thoa Hoa To untuk mempertunjukkan kepandaian kamu!”

Ang Cit Kong tertawa lebar.

“Pantas kau mengur aku, saudara Yok!” katanya. “Sebenarnya kami datang kemari untuk mengajukan lamaranku, bukannya untuk mengadu kepandaian.”

“Bukankah aku telah mengatakan hendak aku mengajukan tiga syarat untuk menguji kedua sieheng?” berkata pula Oey Yok Su. “Siapa yang lulus, dialah yang aku akan ambil sebagai menantuku, dan siapa yang jatuh, dia pun tidak bakal aku membuatnya pulang kecewa.”

Cit Kong agaknya heran.

“Apa?! Apakah kau masih mempunyai lain putri lagi?” tanyanya.

“Sekarang ini belum!” sahut Oey Yok Su tertawa. “Umpama kata aku lekas-lekas menikah pula dan mendapatkan satu anak perempuan, sekarang ini sudah tidak keburu lagi! Aku ini mengerti juga kasar-kasar tentang ilmu pengobatan dan meramalkan, maka itu sieheng yang mana yang tidak lulus, jikalau ia tidak mencelanya dan sudi mempelajari dia boleh memilih pelajaran yang mana ia penuju, nanti aku mengajarinya dengan sungguh-sungguh.”

Ang Cit Kong memang tahu Oey Yok Su banyak pengetahuannya, ia anggap lumayan juga andaikata orang tak dapat menjadi menantunya tetapi dapat semacam kepandaian daripadanya untuk kepentingan seumur hidupnya.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: