Kumpulan Cerita Silat

07/08/2008

Kisah Membunuh Naga (27)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:51 am

Kisah Membunuh Naga (27)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell, Eeyore dan YinYekSin)

Sesudah mikir begini setengah mati, begitu pun tiada jalan hidup, Boe Kie malah jadi tenang. Pada saat pikirannya bersih itulah, secara tidak disengaja matanya melirik pula ke lembaran buku itu, dan secara kebetulan pula halaman yang terbuka adalah bagian rumput-rumput beracun. Hatinya tertarik juga dan ia lalu membacanya. Pada bagian itu secara jelas diterangkan bentuk, bau warna, sifat dan cara memunahkannya macam rumput-rumput beracun.

Sesudah membaca beberapa saat, ia menghela napas. Ia ingat, bahwa beberapa detik lagi, ia akan berkumpul dengan roh orang tuanya.

Sekonyong-konyong, waktu melirik ke sebelah kiri, matanya tertumbuk pula dengan segundukan rumput yang berwarna sangat menyolok indah, segar dan mengkilap. Mendadak saja, dalam otak nya berkelebat serupa ingatan.

“Apa tak bisa jadi rumput beracun? Menurut buku ini, rumput yang mengandung racun indah warnanya. Kalau benar rumput itu rumput beracun, jiwa Poet Hwie moay moay masih bisa ditolong.” Pada saat itu ia sudah tidak memikir untuk menyelamatkan jiwa sendiri. Dengan masih mengeramnya racun dingin di dalam tubunya, anmdaikata hari ini ia selamat, paling banyak ia hanya bisa hidup beberapa bulan lagi. Apa yang dipikirnya ialah usahan menolong Poet Hwie, guna memenuhi permintaan mendiang Kie Siauw Hoe.

Dengan perlahan ia menggulingkan badan kearah rumput itu. Karena kedua tangannya terikat ke belakang, ia lalu membelakangi rumput itu dan kemudian mencabutnya. Sungguh untung, gerak geriknya itu tidak diperhatikan oelh musuh-musuhnya yang sedang diserang dengan rasa lapar dan tengah memusatkan perhatiannya keapda air yang hamper mendidih. Sekonyong konyong ia melompat bangun dan sambil mengawasi kejurusan larinya Cie Tang ia berseru, “Cie Taoko, banyak sungguh temanmu! Tolong! Tolong!”

Dengan terkejut, Kan Ciat dan tiga kawannya segera menghunus senjata. Mereka mengawasi ke arah yang diawasi Boe Kie. Dengan menggunakan kesempatan itu, Boe Kie mundur dua tindak dan melepaskan segabung rumput yang dicekalnya kedalam kuali.

Melihat tidak ada manusia, Kan Ciat mencaci” Bangsat! Kau boleh berteriak sekali lagi, sekuatmu! Tak ada manusia yang akan menolong kau.”

“Hayolah, perlu apa banyak-banyak bicara,” kata Sie Long Wan yang sudah merasa tidak sabaran.

“Sie Tonya, aku haus,” kata Boe Kie dengan suara memohon. “Tolong berikan semangkok air panas untukku. Sesudah mati, setanku tak akan mengganggu kau.”

“Baiklah,” jawabnya sambil menyeringai. Ia lalu menyendok semangkuk dari dalam kuali dan mengangsurkannya ke mulut si bocah.

Sebelum mangkok menempel pada bibirnya Boe Kie sudah berseru, “Aduh! Wangi sungguh apa yang dimasak?”

Boe Kie tidak berdusta. Rumput yang tadi di cemplungkannya ke dalam kuali tanpa diketahui orang, memang mengeluarkan bebauan sangat harum yang diendus juga oleh Kan Ciat dan kawan-kawannya.

Sesudah kelaparan beberapa hari, bau harum itu membangkitkan napsu makan memperhebat rasa lapar mereka. Oleh karena begitu, sebaliknya dari memberikan kepada si bocah, Kong Wan lalu menceguk sendiri “kuah” rumput itu.

“Astaga, benar-benar sedap!,” katanya ia segera menyendok semangkok lagi dan menghirupnya dengan bernapsu.

Kan Ciat mendongkol bukan main. Ia melompat dan merebut mangkok itu lalu digunakan untuk menyendok “kuah” harum dan segera meminumnya. Dengan beruntung ia menghabiskan 3 mangkok penuh. Kedua soeteenya Sie Kong Wan pun masing-masing minum 2 mangkok.

Sesudah menderita kelaparan berhari hari “kuah” yang hangat itu mendatangkan perasaan nyaman dan mereka mengusap usap perut sambil menyeringai. Kan Ciat yang masih merasa tidak puas lalu mengambil rumputnya dari dalam kuali dan sesudah mengunyah cepat-cepat segara menelannya. Di antara mereka tak seorangpun yang menanya dari mana datangnya rumput itu.

“Nah! Sekarang kita boleh bekerja dengan semangat,” kata Kan Ciat sambil ketawa lebar. Sinar matanya lanta saja mengeluarkan sorot kepuasan dan dengan mencekal golok, ia menghampiri Poet Hwie.

Melihat rumput itu belum mengeluarkan akibat suatu apa, Boe Kie menarik kesimpulan bahwa rumput tersebut bukan rumput beracun.

“Habislah jiwaku!” ia mengeluh.

Tapi, baru saja Kan Ciat mengkah dua tindak mendadak ia berteriak, “aduh!” sambil memegang perut. Di lain detik, badannya bergoyang-goyang dan ia roboh berguling di tanah.

“Kan heng, mengapa kau?” tanya Sie Kong Wan sambil menghampiri dan coba membangunkannya. Tapi sekali membungkuk, ia tak dapat melempangkan pinggannya lagi! Ia terjungkal ke samping si orang she Kan tanpa berkutik lagi. Dua orang murid Hwa San Pay yang lain bahkan tanpa mengeluarkan suara.

“Oh Langit! Oh Bumi! Terima kasih atas pertolonganmu!” teriak Boe Kie dengna suara parau sedang air mata mengalir turun di pipinya.

Dengan bergulingan ia mendekati dan menjemput golok yang jatuh dari tanan Kan Ciat dan kemudian menggunakannya untuk memutuskan tambang yang mengikat tangan Poet Hwe. Sesudah tangannya bebas si nona lalu coba menolong kakaknya dan ia baru berhasil sesudah melukakan tangan Boe Kie di dua tempat.

Tak usah menceritakan lagi kegirangan kedua anak itu, sesudah berpeluk-pelukkan beberapa lama barulah Boe Kie nengok mayak Kan Ciat dan kawan-kawannya.

Ternyata muka mereka berwarna hitam dan otot-otot pada menonjol keluar, sehingga kelihatannya menakuti sekali.

“Racun bisa mencelakakan manusia, tapi juga bisa menolong manusa baik,” kata Boe Kie dalam hati. Ia lalu mengambil pulang Tok beot Tay coan dan memasukkannya kedalam saku, dengan niatan untuk mempelajarinya di hari kemudian.

Dengan saling menggandeng tangan, kedua anak itu berjalan keluar dari hutan yang menyeramkan.

Baru saja mereka mau mencari jalanan sekonyong-konyong di sebelah timur terlihat obor-obor dan tujuh delapan orang yang membawa rupa2 senjata kelihatan mendatangi. Mereka ketakutan dan buru-buru menyembunyikan diri di rumput-rumput tinggi.

Tak lama kemudian reroton itu sudah tiba di dekat tempat persembunyian kedua anak itu. Yang berjalan di depat Cie Tat yang membawa tombak panjang.

Sambil mengangkat obor tinggi-tinggi, ia berteriak, “Hei manusia-manusia binatang! Lekas keluar untuk terima binasa!”

Mereka masuk ke dalam hutan dan begitu melihat mayat-mayat itu, mereka kaget bukan main.

“Saudara Thio! Saudara Thio!” teriak Cie Tat, “Di mana kau? Kami datang untuk menolong kalian.”

Sekarang Boe Kie tahu, bahwa kedatangan mereka adalah untuk memberi pertolongan. Hatinya terharu dan dengan air mata berlinang-linang, ia melompat keluar dari rumput alang-alang.

Dengan menuntun tangan Poet Hwie, ia berlari-lari menghampiri rombongan penolong itu. “Cie Tako! Aku berada di sini,” serunya.

Cie Tat girang tak kepalang, sambil memeluk si bocah. Ia berkata, “Saudara Thio, jangan di antara anak-anak, sedangakan di antara orang-orang dewasapun jarang terdapat manusia yang mempunyai jiwa kesatria seluhur kau. Aku sungguh berkuatir. Aku kuatir kau sudah menjadi kurbannya manusia-manusia itu. Tapi orang baik selalu mendapat pembalasan baik.”

sIa menanyakan cara bagaimana Kan Ciat dan kawan-kawannya binasa dan Boe Kie lalu memberikan keterangna sejelas-jelasnya. Mendengar it, semua orang merasa kagum dan memuji kepintaran si bocah.

“Beberapa saudara ini adalah sahabat-sahabatku sedari kecil,” kata Cie Tat. “Hari ini kami menyembelih seekor kerbau dan mereka sedang memasaknya di kelenteng Hong kan-sie. Begitu aku meminta pertolongan, mereka segera mengikut aku. Tapi kami datang terlambat dan sungguh syukur kau sudah bisa menolong diri sendiri.” Sehabis berkata begitu, ia segara memperkenalkan sahabat-sahabatnya itu.

Seorang yang mukanya persegi dan kupingnya lebar she Thong bernama Ho yang paras mukanya angker, she Tong bernama Jie yang bermuka hita dan bertubung jangkung, she Hoa bernama In, dan orang kulitnya bersih adalah kakak beradik sang kaka she gouw bernama Liang, si adik Gouw Tin dan akhirnya seorang pendeta yang mukanya jelek dan matanya dalam, tapi bersinar sangat tajam.

“Yang ini adalah Coe Taoke,” katanya. “Ia bernama Goan Coang dan sekarang menjadi pendeta di kelenteng Hong kak sie.”

“Dia jadi pendeta bebas,” menyambungi Hoa In seraya tertawa. “Dia tidak membaca kitab suci, pekerjaannya hanyalah minum arak dan daging”.

Melihat paras muka Coe Goan Ciang, Poet Hwie ketakukan dan lalu bersembunyi di belakang Boe Kie.

“Adik kecil, jangan takut,” kata si pendeta. “Aku makan daging, tapi tidak makan daging manusia”.

“Hayolah masakan kita rasanya sudah matang,” mengajak Thong Ho.

“Siauw moay-moay, mari aku gendong kau,” kata Hoa In seraya berjongkok dan sesudah menggendong Peot Hwie, ia seraya berjalan lebih dulu dengan tindakan lebar. Melihat cara-cara mereka yang polos dan bebas, Boe Kie merasa girang.

Sesudah berjalan empat lima li, tibalah mereka di sebuah kelenteng. Begitu masuk diruangan sembahyang, hidung mereka segera mengendus bebahuan sedap dari masakan daging kerbau

“Sudah matang!” seru Gauw Liang

“Saudara Thio, kau tunggu di sini,” kata Cie Tat. “Kami akan membawa masakan itu kemari.

Boe Kie dan Poet Hwie segera duduk di atas tikar, sedang Coe Goan Ciang dan kawan-kawannya masuk kedalam. Beberapa saat kemudian, mereka kembali dengan membawa piring yang penuh daging dan sepoci arak putih. Tanpa menyia-nyiakan tempo, mereka segera makan minum dengan gembira di depan patung Posat.

“Kie Tako,” kata Hoa In sambil mengunyah daging, “peraturan agama kita semuanya bagus. Hanya sayang ada larangan makan daging dan ini aku tidak begitu setuju.

Boe Kie terkejut. “Ah! Kalau begitu mereka orang-orang Bengkauw,” katanya di dalam hati.

“Tujuan dari agama kita adalah berbuat kebaikan dan membasmi kejahatan,” kata Cie Tat. “Larangan makan daging hanya merupakan larang yang terakhir. Sekarang ini tak ada beras dan tak ada sayur, apa kita lebih baik mati kelaparan?”

“Cie Taoko benar!” kata Teng Jie sambil menepuk lutut. “Hayo makanlah sepuas hatimu jangan terlalu rewel.”

Selagi enak makan tiba-tiba terdengar tindakan kaki dan pintu depan digedor, Thong Ho melompat bangun, “Celaka! Orang Wang gwee datang mencari kerbau,” bisiknya.

Pintu didorong keras-kerang dan disusul dengan masuknya yang berbadan keras dan muka bengis “Aha! Benar saja kerbau Wang gwee digegares kamu!” Teriak seseorang melompat dan menyekel tangan Coe Goan Ciang.

“Pendeta bangsat!” cacai yang satunya lagi, “Kami akan menyerahkan kamu kepada tiekoan supaya dihajar mampus.”

Coe Goan Ciang tertawa. “Kalian jangan menuduh sembarangan,” katanya. “Mana bisa jadi aku mencuri kerbau? Sebagai seorang pertapaan aku tak boleh makan daging.”

“Apa itu bukan daging kerbau?” bentak seorang sambil menuding sisa makanan.

Sambil memberi isyarat kepada kawan-kawannya dengan lirikan mata, Coe Goan Ciang tertawa pula seraya berkata. “Siapa kata itu daging kerbau?”

Selagi si pendeta memberi jawaban Gouw Liang dan Gouw Tin berjalan ke belakang kedua tukang pacul itu dan dengan sekali membentak, mereka melompat mencekal tangan kedua orang itu, yang tidak dapat berkutik lagi.

Sambil mencabut pisau panjang dari pinggangnya, si pendeta berkata, “Untuk bicara sebenar-benarnya, yang dimakan kami bukan daging kerbau, tapi daging manusia. Sekarang rahasia sudah diketahui kamu. Maka itu, untuk menutup mulut kamu, jalan satu-satunnya ialah makan juga dagingmu,” sehabis berkata begitu, ia membuka baju salah seorang dan menggorehkan pisaunya di dada orang.

Kedua tukang pukul itu ketakutan setengah mati dan lalu memohon-mohon ampun. Si pendeta bersenyum. Ia menjemput dua potong daging dan lalu memasukkan kedalam mulut mereka. “Telan!” bentaknya. Tanpa mengunyah lagi, mereka segera menelannya.

Sesudah itu Coe Goan Ciang pergi ke dapur dan mengambil secekel bulu kerbau yang juga lalu dimasukkan kedalam mulut kedua tukan pukul itu “Telan!” bentaknya pula. Karena takut mati, sambil berjengit-jengit mereka terpaksa menurut perintah.

Goan Ciang tertawa terbahak-bahak. “Nah sekarang kamu boleh mengadu kepada majikanmu.” Katanya. “Kamu boleh melaporkan, bahwa yang gegaras kerbaunnya ialah kamu. Huh huh!…di hadapan pembesar negeri, aku akan balas menuduh kau. Aku akan menuntut supaya perutmu dirobek. Semua orang akan lihat, bahwa kamu bukan saja sudah gegares dagingnya, tapi juga sudah menelan bulu kerbau!” Seraya berkata begitu, ia menggoreskan pula pisaunya di punggung orang itu yang menggigil karena ketakutan.

Kedua saudara Gouw tertawa berkakakan. Dengan berbareng mereka menendang pantat, kedua tukang pukul itu yang lantas saja terpental keluar dari ruangan sembahyang.

Setelah kaki tangan Thio Wan-gwe diusir, mereka melanjutkan makan minum. Sambil menangsal perut, mereka membicarakan kekejamanan haratwan itu yang sering sekali berbuat sewenang-wenang terhadap penduduk kampung. Kali ini kedua tukang pukul itu membentur tembok dan mereka pasti tidak berani memberi laporan kepada majikannya.

Boe Kie merasa geli dan kagum. “Biarpun mukanya jelek, pendeta she Coe itu lihai sekali,” pikirnya.

Dalam makan minum itu, kawan-kawan Cie Tat memperlakukan Bie Kie bukan seperti anak-anak biasa. Setelah mendengar kesatriaan si bocah yang rela mengorbankan jiwanya sendiri untuk menolong sesama manusia, mereka menghormati anak itu yang dianggapnya sebagai seorang sahabat yang berharga.

Sesudah makan kenyang, tiba-tiba Teng Ji menghela napas, “Hai! Sudah lama sekali bangsa Han ditindas oleh penjajah asing,” katanya.

“Sampai kapan bencana kelaparan ini baru bisa lewat?”

“Hampir separuh penduduk Hong yang sudah mati kelaparan,” kata Hoa In. “Kurasa di lain tempat pun keadaan tidak lebih baik. Daripada mati konyol, lebih baik kita mengadu jiwa dengan Pat-coe”

(Pat coe = Orang Mongol yang pada waktu itu berkuasa di Tiongkok).

“Benar!” teriak Cie Tat. “Sungguh kecewa jika sebagai laki-laki sejati tidak bisa menolong sesama manusia yang memerlukan pertolongan.”

“Tak salah,” menyambungi Tong Ho. “Kita pun tengah menghadapi kebinasaan. Hari ini kita bisa makan kenyang karena berhasil mencuri kerbau. Apa besok kita bisa mencuri lagi?”

Makin bicara mereka makin sengit dan makin hebat mencaci penjajah.

“Sudahlah!” kata Coe Cian Ciang. “Kita mencaci Tat Coe di sini, tapi selembar rambut Tat Coe tidan bergeming. Jika kau benar-benar lelaki tulen, mari kita membunuh Tat Coe!”

Dengan serentak, Thong Ho dan yang lain-lain melompat bangun. “Bagus! Mari! mari…”teriak mereka.

“Coe Taoko,” kata Cie Tat. “Kau berusia paling tua dan semua bersedia untuk mendengar segala perintahmu.”

Coa Cian Ciang tidak menolak, “Mulai hari ini kita sama-sama hidup dan sama-sama mati,” katanya. “Ada rejeki sama-sama makan ada bahaya sama-sama tanggung.”

Mereka mengangkat cawan lalu meneguk kering isinya. Sesudah itu, mereka menghunus golok membacok ujung meja sebagai sumpah setia kawan.

Poei Hwei yang tak tahu apa artinya itu semua, jadi ketakutan dan memeluk Boe Kie.

“Thay soehoe memesan supaya aku tidak bergaul dengan orang-orang Beng Kauw,” kata Boe Kie dalam hati. “Tetapi perbuatan beberapa orang Beng Kauw seperti Siang Goe Goen Taoko, Cie Taoko dan kawan-kawannya, banyak lebih mulia daripada sepak terjang manusia-manusia seperti Kan Ciat dan Sie Kong Wan yang menjadi anggota dari partai-partai jurus bersih”.

Thio Sam Hong adalah orang yang paling dihormatinya. Tapi sekarang sesudah mendapat pengalaman pahit getir, di dalam hati kecilnya ia merasa, bahwa pandangan orang tua itu tidak tepat seluruhnya. “Tapi biar bagaimana jua, aku tidak dapat melanggar pesanan Thay soehoe,” pikirnya.

“Seseorang gagah tidak menjilat ludah sendiri,” kata Coe Coan Ciang. “Sekarang sesudah makan kenyang, kita boleh lantas bertindak. Hari ini Thio Wan gwee mengadakan pesta dalam gedungnya untuk menjamu Tat-coe. Mari kita binasakan mereka!”

“Bagus!” teriak kawan-kawannya

“Tahan dulu!” kata Cie Tat yang lalu menggambil keranjang kecil dan mengisinya dengan daging kerbau. Kemudian sambil mengangsurkan keranjang itu kepada Boe Kie, ia berkata, “Saudara Thio, kau masih terlalu kecil dan tidak bisa mengikuti kami. Kami tak punya apapun jua dan hanya memberikan daging ini kepada kalian. Kalau masih hidup, di belakangan hari kita masih bisa bertemu pula dan bisa makan minum lagi bersama-sama seperti hari ini.”

Boe Kie menyambuti keranjang itu dan berkata dengan suara terharu. “Aku mengharapkan kalian bisa segera berhasil membinasakan dan mengusir semua Tat Coe, supaya rakyat di kolong dunia bisa hidup senang.”

Mendengar perkataan itu, Coe Goan Ciang dan kawan-kawannya merasa terkejut.

“Saudara Thio apa yang dikatakan olehmu benar sekali,” kata pendeta itu.

“Sampai bertemu lagi,” sehabis berkata begitu, dengan menenteng senjata bersama kawan-kawannya, ia segera meninggalkan Hong-kak-sie.

“Kalau tidak membwa anak kecil, aku pun akan turut mereka,” kata Boe Kie di dalam hati. “Mereka hanya bertujuh orang dan mereka pasti tak kan bisa melawan kaki tangan Thio Wan Geew Tat Coe yang berjumlah besar. Mungkin sekali orang-orang Thio wan Geew akan menyerang ke sini. Kelenteng ini akan berbahaya,” memikir begitu dengan membawa keranjang daging dan menuntun tangan Poet Hwie, ia segera meninggalkan kelenteng Hong Kak Sie.

Sesudah jalan lima enam lie, di sebelah utara mereka melihat sinar api yang berkobar kobar Boe Kie mengerti bahwa kebakaran itu akibat serangan Coe Gian Ciang dan kawan-kawannya dan ia merasa girang.

Penderitaan kedua anak itu sukar dituturkan satu per satu. Untung juga mungkin karena kedua orangtuanya adalah ahli-ahli silat, Poet Hwie mempunya badan yang kuat sehingga ia dapat bertahan dalam perjalanan yang penuh kesengsaraan itu. Kadang-kadang ia “masuk angin” tapi begitu diberi obat, yaitu rumput-rumput yang dipetik Boe Kie, ia sudah sembuh kembali.

Dengan berjalan sambil sebentar-sebentar berhenti untuk mengaso, di dalam suatu hari paling banyak mereka bisa melalu dua puluh li. Kira-kira setengah bulan barulah mereka tiba di wilayah propinsi Ho Lam, yang keadaannya tidak lebih baik dari propinsi Anhoei. Di mana-mana mereka bertemu dengan rakyat yang kelaparan.

Untuk menyambung jiwa Boe Kie membuat busur dan anak panah guna memanah burung-burung dan binatang-binatang kecil. Dengan mengandalkan ilmu silatnya, ia berhasil dalam usahanya itu.

Demikianlah, biarpun sengsara mereka masih bisa maju teus sehari kenyang sehari lapar. Syukur juga, di sepanjang jalan mereka tidak pernah bertemu dengan tentara Mongol atau penjahat-penjahat yang berkepandaian tinggi. Bangsat-bangsat kecil yang mau coba menggangu dengan mudah dapat dirobohkan oleh Boe Kie.

Pada suatu hari mereka bertemu dengan seorang kakek dan dalam omong-omong Boe Kie menanyakan di mana letaknya puncah Co Bong Hong, gunung Koen Lun San.

Kakek itu kelihatannya kaget sekali. Dengan mata membelalak, ia mengawasi Boe Kie dan beberapa saat kemudian barulah ia berkata, “Saudara kecil, dari sini ke Koen Loen San orang harus melewati perjalanan lebih dari sepuluh laksa li. Menurut katanya orang, hanya Tong Ceng (Tong taycie) yang pernah melewati gunung itu. Saudara kecil jangan kau memikir yang tidak-tidak. Di mana rumahmu? Lekas pulang!”

Boe Kie terkejut. “Kalau begitu jauh, aku terpaksa membatalkan perjalanan ke situ dan paling baik aku pergi ke Boe-Tong san untuk berdiam-diam dengan Thay soehoe,” katanya di dalam hati.

Tapi di lain saat, ia mendapat pikiran lain. “Sesudah menerima baik permintaan orang, biarpun sukar, tak bisa aku mundur di tengah jalan. Apapula waktu hidupku sudah tidak berapa lama lagi. Jika aku berayal dan kuburu mati, sehingga aku tak dapat memenuhi janji di alam baka, tak ada muka untuk menemu Kie Kouw Kouw.” Memikir begitu, tanpa bicara lagi dengan si kakek, ia menarik tangan Poet Hwie dan lalu meneruskan perjalanan.

Sesudah berjalan kurang lebih dua puluh hari lagi, pakaian mereka sudah rombeng semua. Sebab kurang makan, muka mereka makin pucal dan badan makin kurus. Penderitaan Boe Kie bahkan ditambah dengan rewelnya si adik yang sering-sering menangis dan memanggil-manggil ibunya. Dengan rupa-rupa akal, ia membujuk anak itu yang dicintainya seperti saudara kandung sendiri.

Sesudah menyeberang sungai Coe ma ho, bahwa udara jadi semakin dingin, karena pada waktu itu sudah masuk permulaan musim dingin. Dengah hanya menggenakan pakaian tipis, terutama di waktu malam, mereka sering menggigil kedinginan.

Satu ketika, sebab melihat Poet Hwie bergemetaran hebat, Boe Kie membuka bajunya dna memberikannya kepada si adik.

“Boe Kie koko, apa kau sendiri tidak dingin?” tanya Poet Hwie.

“Tidak aku malah kepanasan.” Jawabnya sambil melompat-lompat supaya darah mengalir lebih cepat dan badannya jadi lebih hangat.

“Kau sungguh baik!” kata si adik dengan suara perlahan. “Kau sendiri kedinginan, tapi kau menyerahkan bajumu kepadaku”. Mendengar perkataan itu, Boe Kie tercengang.

Sesaat itu, tiba-tiba terdengar suara bentrokan senjata, dengan suara tindakan kaki. “Bangsat!” teriak seorang wanita “Kau kena paku Seng-boen-teng yang beracun, makin kau lari, makin cepat bekerjanya racun”.

Buru-buru Boe Kie menarik tangan Poet Hwie dan melompat ke dalam rumput alang-alang yang tumbuh di pinggir jalan. Hampir berbareng, seorang lelaki yang berusia tiga puluh tahun lewat bagaikan terbang, sedang beberapa tombak di belakangnya mengikut seorang wanita yangn tangannya mencekal sepasang golok. Walaupun larinya cepat, tindakan lelaki itu limbung dan mendadak ia roboh terjengkang.

Wanita itu menghampiri dan berkata sambil tertawa. “Bangsat! Akhirnya kau jatuh juga kedalam tanganku.”

Sekonyong-konyong di luar dugaan, lelaki itu melompat bangun dan menghantan dengan dua tangannya. “Plak!” pukulannya mengenai tepat di dada si wanita. Pukulan yang dikirim dengan nekat hebat luar biasa, sehingga wanita itu lantas saja terguling, sedang sepasang goloknya terlempar di tanah.

Dengan napas tersengal-sengal, lelaki itu mencabut sebatang paku dari pundaknya. “Keluarkan obat pemunah!” bentaknya.

“Kau bunuh saja aku!” kata si wanita. “Ku tak punya obat pemunah”

Sambil menempelkan ujung golok, yang dicekal di tangan kiri, di leher wanita itu, lelaki itu lalu menggeledah saku orang dengan tangan kanannya. Benar saja ia tak mendapatkan apa yang dicarinya.

Wanita itu tertawa dingin, “Waktu Soehoe memerintahkan kami untuk menangkap kau, ia telah memberi senjata rahasia beracun, tapi tidak membekali obat pemunah”, katanya. “Sesudah jatuh ke dalam tanganmu, aku tak memikir untuk hidup. Tapi kau pun jangan harap bisa ketolongan.”

Lelaki itu gusang tak kepalang. Dengan geregetan ia menancapkan Song-boen-teng beracun di pundak orang dan membentak, “Kau juga harus turut merasakan enaknya paku ini! Kamu, orang-orang Koen-loen-pay!” Ia tak dapat meneruskan perkataannya dan roboh di tanah.

Wanita itu mencoba merangkak bangun, tapi lukanya terlalu hebat dan “uah!” ia memuntahkan darah.

Demikianlah kedua musuh itu, yang sama-sama terluka berat, rebah dengan napas memburu.

Sesusah mendapat pengalaman pahit dair manusia-manusia seperti Kan Ciat dan kawan-kawannya, Boe Kie sekarang sangat hati-hati terhadap orang-orang Kang-ouw. Ia terus menyembunyikan diri dan tak berani keluar.

Sesaat kemudian, lelaki itu menghela napas dan berkata, “Hari ini aku Souw Hie Cie binasa di Coe-ma-tiam tanpa tahu apa kesalahan terhadap Koe Leon Pay. Celaka sungguh. Benar-benar aku mati penasaran. Ciam Kouw Nio, bolehkah aku memohon keteranganmu?”

Wanita itu adalah seorang she Ciam bernama Coen. Ia tahu, bahwa paku Song-boen-teng dari gurunya mengandung racun yang amat hebat dan mereka berdua akan binasa bersama-sama. Mengingat itu ia terduka sangat dan berkata dengan suara perlahan, “Siapa suruh kau mengintip waktu guruku sedang berlatih ilmu pedang. It pit kiam sangan dirahasiakan oleh Soe Hoe. Jangankan orang luar, sedangkan muridnya sendiri bisa dikorek kedua biji matanya kalau murid itu berani melihat latihannya tanpa permisi.”

“Ah!” Souw Hie Cie mengeluarkan suara tertahan dan kemudian mencaci. “Bangsat! Tua bangka sudah mau mampus!”

“Kurang ajar kau!” bentak Ciam Coen, “Sedang ajalmu sudah hampir tiba, kau masih berani mencaci guruku”.

“Kalau aku mau mencaci, mau apa kau?” kata Hie Cie dengan gusar. “Apakah aku tidak mempunyai alasan untuk merasa penasaran? Waktu lewat di Pek-goe-san, secara tidak sengaja, kulihat gurumu sedang bersilat dengan menggunakan pedang. Sebab merasa ketarik, aku berhenti dan menonton. Apakah aku mempunyai kepintaran yang luar biasa, sehingga sekali melihat aku sudah bisa memahami Leong heng It pit kiam? Andaikata aku memiliki kecerdasan yang begitu tinggi, kamu semua beberapa murid Koen leon pay, sudah pasti takkan bisa mengalahkan aku. Ciam Kow nio, aku ingin memberitahukan kau secara terang-terangan, bahwa menurut pendapatku, gurumu, Thie kim Sian seng adalah manusia yang pandangannya terlalu sempit dan jiwanya terlampau kecil. Andaikata ciam Kouwnio, andaikata benar aku sudah berhasil mencuri satu dua jurus dari Liong heng It pit kiam, kedosaanku tidaklah begitu besar, sehingga aku mesti menerima hukuman mati?”.

Ciam Coen tak bisa mengeluarkan sepatah kata. dalam hati kecilnya, ia pun merasa, bahwa sang guru terlalu kecil jiwanya. Begitu lekas mengetahui, bahwa pemuda itu telah mencuri lihat latihannya, ia segera memerintahan enam muridnya, untuk memburu dan membinasakan “pencuri” itu, sehingga sebagai akibatnya mereka berdua menghadapi kebinasaan bersama-sama. Cian coen yakin, bahwa pengakuan pemuda itu yang diberikan pada saat hampir menghembuskan napas yang penghabisan, sudah pasti bukan keterangan dusta.

Suaw Hie Cie menghela napas dan berkata lagi. “Dia telah memberikan senjata rahasia beracun kepadamu, tapi tidak membekali obat pemunahnya. Dalam rimba persilatan, mana ada orang begitu gila? Bangsat!”

“Souw Toako,” kata Ciam Coen dengan suara halus, “Siaow moay merasa menyesal, bahwa siauw moay telah mencelakakan kau. Bagus juga sebagai hukuman siaw moay akan mengantar kau pulang ke alam baqa. Inilah yang dinamakan nasib. Apakah yang siauw moay merasa lebih menyesal ialah dalam peristiwa ini, siauw moay menyeret toaso dan putra-putrimu”.

“Istriku sudah menutup mata pada dua tahun berselang dengan meninggalkan dua anak, satu laki dan satu perempuan,” kata Souw Hie Cie. “Besok mereka akan jadi anak yatim piatu.”

“Apakah di rumahmu masih ada orang lain yang bisa merawat anak-anak itu?” tanya nona Ciam.

“Mereka dirawat oleh nsoku (istri kakak lelaki).” Jawabnya. “Nao hebat adanya dan licik sifatnya. Sebegitu lama aku masih hidup, ia masih takuti aku. Hai! Mulai besok kedua anakku itu akan sangat menderita.”

Ciam Coen yang berhati lembek lantas saja mengucurkan airmata. “Ini semua adalah karena gara-garaku” katanya dengan suara parau.

“Tapi kau tidak boleh disalahkan,” kata Hie Cie. “Kau telah menerima perintah gurumu dan kau tidak dapat menolak perintah itu. Ka upun tidak mempunyai permusuhan apapun juga denganku. Sebenarnya, sesudah kena senjata beracun, aku harus menerima nasib. Perlu apa aku memukul kau dan juga melukakan kau dengan senjata beracun? Andai kata aku tidak berbuat begitu, sebagai seorang yang berhati mulia kau tentu melihat-lihat kedua anakku yang bernasib buruk itu.”

Nona Ciam tertawa getir. “Aku adalah penjahat yang membinasakan kau,” katanya. “Bagaimana kau bisa menamakan aku sebagai seorang yang berhati mulia?”

“Aku tidak menyalahkan kau, bena-benar aku tidak menyalahkan kau,” kata Hie Cie.

Demikianlah kedua orang yang tadi bertempur matian dan saling berusaha untuk mengambil jiwa pihak lawan, sekarang saling menghibur!

Sesudah mendengar pembicaraan itu, Boe Kie merasa bahwa mereka bukan manusia jahat. Dalam hatiny lantas saja timbul rasa kasihan, lebih lagi terhadap Souw Hie Cie yang mampunyai dua anak yang masih mengeluarkan rawatan. Mengingat penderitaannya sendiri sebagai yatim piatu rasa kasihannya jadi lebih besar dan sambil menarik tangan Poet Hie ia segera bertidak keluar dari alang-alang.
. Kaupun tidak mempunyai permusuhan apapun juga denganku. Sebenar-benarnya, sesudah kena senjata beracun, aku harus menerima nasib. Perlu apa aku memukul kau dan juga melakukan kau dengan senjata beracun” Andai kata aku tidak berbuat begitu, sebagai seorang yang berhati mulia kau tentu bisa nolong melihat-lihat kedua anakku yang bernasib buruk itu”.

“Cian Kouwhio, racun apa yang digunakan pada senjata rahasia itu?” tanyanya.

Melihat munculnya kedua anak itu, Hie Cie dan Ciam Coen merasa heran. Dan mendengar pertanyaan Boe Kie, mereka jadi lebih heran lagi.

“Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan dan luka kalian mungkin sekali bukan tidak dapat diobati,” kata pula Boe Kie.

“Akupun tak tahu racun apa yang digunakan,” jawab nona Ciam. “Lukanya tidak sakit, tapi gatal bukan main. Menurut katanya Soehoe, orang yang kena Soeng-boen teng hanya bisa hidup dalam tempo empat jam.”

“Bolehkah aku periksa luka kalian?” tanya Boe Kie.

Tapi manakah mereka percaya bocah itu bisa mengobati luka beracun? Dengan pakaian robek, badan kurus kering dan muka pucat Boe Kie dan Poet Hwie kelihatannya seperti pengemis kecil.

“Sudahlah, kau jangan rewel. Pergilah! Jangan mengganggu kami.”

Boe Kie tidak meladeni. Ia menjemput paku Soen-boen teng dari atas tanah dan mengendus bau harum dari serupa bunga anggrek.

Dalam hari-hari yang belakangan setiap mempunyai tempo yang luang, Boe Kie selalu membaca dan mempelajari Tok-boet Tay coan peninggalan Ong Lan Kouw. Dalam kitab itu berisi keterangan lengkap mengenai ribuan macam racun itu yang aneh-aneh dan cara mengobatinya.

Maka itulah begitu mengendus bau racun itu, ia segera mengetahui bahwa yang melekat pada paku Song-boen teng adalah racun bunga To-lo hijau. Bau bunga itu sebenarnya berbau amis sehingga orang dapat memakannya sebanyak mungkin tanpa bahaya apapun jua. Tapi begitu lekas bercampur darah, peti bunga itu lantas saja berubah menjadi racun yang sangat hebat, sedang baunya yang amis juga berubah menjadi harum. “Inilah racun bunga To-lo hijau,” kata Boe Kie.

Ciam Coen memang tidak tahu racun apa yang digunakan pada paku itu, tapi ia tahu, bahwa dalam taman bunga gurunya ditanam banyak sekali pohon bunga To-lo hijau.

“Eh, bagaimana kau tahu?” tanyanya dengan heran.

Bunga To-lo hijau adalah tumbuh-tuimbuhan yang langka dan hanya terdapat di wilayah Barat (See-hek). Di daerah Tiong goan sebegitu jauh belum pernah terdapat pohon bunga tersebut.

Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. “Aku tahu,” katanya sambil menarik tangan Poet Hwie dan berkata pula. “Hayolah, kita pergi.”

“Saudara kecil,” kata nona Ciam cepat. “Jika kau bisa mengobati, tolonglah jiwa kami berdua.”

Boe Kie memang ingin menolong, tapi mendadak ia ingat perbuatan Kan Ciat dan Sie Kong Wan, sehingga ia mengambil keputusan untuk membatalkan niatnya itu.

“Tuan kecil,” kata Souw Hie Cie, “Mataku tidak berbiji dan aku tidak bisa mengenali seorang pandai. Kuharap kau sudi memaafkan.”

“Baiklah!” kata Boe Kie. “Aku akan mencoba-coba.” Seraya berkata begitu ia menotok jalan darah Tan-tiong-hiat di iga kiri dan kanan untuk meringankan rasa sakitnya Ciam Coen di bagian dada akibat pukulan Souw Hie CIe.

“Bunga To-lo hijau baru menjadi racun kalau bercampur dengan darah,” menerangkan Boe Kie. “Sekarang aku minta kalian saling menghisap luka itu untuk membuang racun yang sudah bercampur dengan darah.”

Hie Cie dan Ciam Coen merasa jengah. Tapi untuk menolong jiwa, mereka segera menyampingkan perasaan malu dan lalu melakukan apa yang dikatakan si bocah.

Sementara itu, Boe Kie sendiri lalu mencari tiga macam daun obat yang lalu dihancurkan dan diborehi diluka itu. “Tiga macam rumput ini dapat menahan bekerjanya racun,” ia menerangkan. “Sekarang mari kita pergi ke kota untuk mencari rumah obat. Aku akan menulis surat obat guna menyembuhkan luka kalian.”

Souw Hie Cie dan Ciam Coen girang tak kepalang. Begitu diborehi daun obat, luka mereka yang semula gatal bukan main, lantas saja adem rasanya dan kaki tangan mereka pun tidak begitu kaku lagi dan dapat digerakkan. Tak henti-hentinya mereka menghaturkan terima kasih. Mereka segera mematahkan ranting pohon dan dengan menggunakannya sebagai tongkat, mereka berjalan ke jurusan barat dengan mengajak Boe Kie dan Poet Hwie.

Sambil berjalan Ciam Coen menanya siapa guru Boe Kie, tetapi si bocah sungkan memberitahukan dan mengatakan saja, bahwa sedari kecil ia memang sudah mengerti ilmu pengobatan. Sesudah berjalan satu jam lebih, mereka tiba di kota See-ho-tiam dan sesudah mendapat kamar di rumah penginapan, Boe Kie lalu menulis surat obat dan menyuruh seorang pelayan untuk membelinya.

Tahun itu daerah Holam barat tidak kena bencana kelaparan dan keadaan kota See-ho-tiam masih seperti biasa.

Sesudah obat dibeli, Boe Kie lalu memasaknya dan memberikannya kepada Souw Hie Cie dan Ciam Coen. Tiga hari menginap dalam penginapan itu dan setiap hari si bocah menukar obat. Obat makan dan obat pakai. Pada hari keempat semua racun yang mengeram dalam tubuh Hie Cie dan Ciam Coen sudah dapat diusir.

Tentu saja mereka merasa sangat berterima kasih. Mereka menanyakan ke mana kedua anak itu mau pergi dan Boe Kie lalu memberitahukann bahwa tujuan mereka adalah puncak Coe-bong heng di pegunungan Koen-loen-san.

“Souw Toako,” kata si nona. “Jiwa kita ditolong oleh saudara kecil ini. Tapi urusanmu masih belum dapat diselesaikan. Kelima kakak seperguruanku masih terus mencari-cari kau dan kalau bertemu dengan mereka, kau bisa celaka. Apakah kau suka mengikut aku pergi ke Koen-loen-san?”

Hie Cie kaget. “Ke Koen-loen-san?” ia menegas.

“Benar,” jawabnya. “Kita berdua menemui guruku dan memberitahukan, bahwa kau tidak mencuri ilmu pdang Liung heng It-pit-kiam, sejuruspun kau tidak mampu. Dalam urusan ini sebegitu lama guruku belum menyudahi, jiwamu selalu masih berada dalam bahaya.”

Hie Cie merasa sangat mendongkol. “Koen-loen-pay terlalu menghina orang,” katanya. “Secara kebetulan aku hanya melihat gurumu bersilat untuk sekejap mata, tapi untuk kesalahan yang sebenarnya bukan kesalahan hampir-hampir jiwaku melayang. Ah! Benar-benar keterlaluan.”

“Souw Toako,” kata nona Ciam dengan suara lemah-lembut. “Cobalah kau pikir kesukaran Siauw Moay dalam hal ini. Kalau kau saja yang memberitahukan, Soehoe pasti tak percaya dan Siauw Moay akan mendapat hukuman. Siauw Moay dihukum tak menjadi soal. Tapi jika kelima saudara seperguruanku sampai salah tangan dan mencelakakanmu, Siauw Moay tentu akan merasa tidak enak sekali.”

Sesudah menghadapi kematian bersama-sama dan setelah bergaul beberapa hari, dalam hati kedua orang muda itu sudah timbul perasaan yang wajar, yaitu perasaan cinta. Mendengar bujukan si nona yang sangat beralasan, kegusaran Hie Cie lantas saja mereda. Di dalam hati iapun mengakui kebenaran perkataan Ciam Coen. Sebegitu lama persoalan ini belum dapat diselesaikan langsung dengan Thie Khim Sianseng, sebegitu lama jiwanya terancam bahaya.

Melihat Hie Cie masih membungkam, nona Ciam berkata pula. “Begini saja. Sekarang kau ikut aku ke Kun lun san. Sesudah itu, jika kau mempunyai urusan penting yang harus diselesaikan, Siauw Moay akan menemani kau untuk membereskannya. Bagaimana pikiranmu?”

Hie Cie jadi girang. “Baiklah,” katanya. “Tapi apakah gurumu akan percaya keteranganku?”

“Soehoe sangat menyayang aku,” jawab si nona. “Kalau aku memohon, ia pasti takkan mencelakakan kau.”

Mendengar perkataan-perkataan nona Ciam, Hie Cie segera mengetahui, bahwa gadis itu sudah jatuh cinta kepadanya. Diam-diam ia bergirang dan merasa sangat beruntung. Ia berpaling kepada Boe Kie seraya berkata, “Saudara kecil, mari kita ke Koen loen san beramai-ramai. Di jalan kita takkan merasa kesepian.”

“Koen loen san ribuan mil panjangnya dengan puncak-puncak yang tak terhitung beberapa banyaknya,” kata Ciam Coen. “Aku sendiri tak tahu di mana letak Coe-bong-heng. Tapi kita bisa menyelidiki perlahan-lahan dan aku merasa pasti, kita akan dapat menemukannya.”

Pada keesokan harinya, Hie Cie menyewa sebuah kereta untuk Boe Kie dan Poet Hwie sedang ia sendiri bersama nona Ciam mengikuti dengan menunggang kuda. Setibanya di sebuah kota besar, Ciam Coen membeli pakaian baru untuk kedua anak itu.

Sesudah menukar pakaian yang pantas, Boe Kie berubah menjadi seorang anak tanggung yang berparas tampan dan angker, Poet Hwie seorang gadis cilik yang ayu dan jelita. Sesudah dapat makan dan ngaso cukup, perlahan-lahan badan mereka menjadi lebih gemuk.

Makin hari hawa udara makin dingin. Dengan lindungan Hie Cie dan Ciam Coen, perjalanan berlangsung dengan licin, tanpa menemui halangan apapun jua.

Sesudah tiba di Seek hek Koen-loen yang besar dan angker itu berada di depan mata. Mereka berjalan terus dengan banyak derita, karena harus melalui gurun pasir dalam hawa udara yang sangat dingin.

Pada suatu hari, mereka tiba di Sam seng youw (Lembah tiga malaikat) dari Koen loen san. Begitu masuk di dalam lembah, mereka melihat pohon-pohon luar biasa dan mengendus bau harum yang tak kurang anehnya.

Souw Hie Cie, Boe Kie dan Poet Hwie merasa kagum bukan main. Mereka tak pernah menduga, bahwa di lembah itu terdapat pemandangan yang sedemikian indah seolah-olah di dalam surga. Di samping itu, hawanyapun tak begitu dingin, karena gunung-gunung yang mengitarinya menahan masuknya hawa dingin.

Dahulu, pendiri Koe-loen pay yaitu Ciok Too yang bergelar Koen-loen Sam-seng telah menggunakan tempo bertahun-tahun untuk memperindah lembah itu yang belakangan dikenal sebagai Sam-seng youw. Ia memerintahkan murid-muridnya pergi ke berbagai tempat di sebelah barat sampai di India untuk mencari pohon-pohon dan pohon-pohon bunga yang aneh-aneh untuk ditanam di lembah tersebut.

Sesudah melewati lembah tersebut Ciam Coen lalu mengajak mereka ke Thia khimkie tempat tinggalnya Thiem khim Sianseng Ho Thay Ciong. Begitu masuk, ia bertemu dengan beberapa saudara seperguruan yang paras mukanya mengunjuk rasa bingung dan ketakutan. Mereka mengunjuk dan tak mengeluarkan sepatah kata Ciam Coen kaget. “Ada apa?” tanyanya dalam hati.

Sambil menarik tangannya seorang adik seperguruan ia bertanya. “Apa Soehoe ada?”

Sebelum Soemoay itu menjawab, ia sudah mendengar cacian gurunya yang memaki sambil menepuk-nepuk meja. “Semua tong nasi,” teriaknya. “Belum pernah ada pekerjaan yang diurus beres oleh kamu?”

“Soehoe lagi keluar adatnya,” bisik nona Ciam kepada Souw Hie Cie. “Kita jangan nubruk paku. Besok saja kita menjumpai beliau”.

Tapi sebelum mereka keburu mengundurkan diri, tiba-tiba Ho Thay Ciong berseru. “Apa Coen-jie” Mengapa kau tidak lantas menghadap kepadaku? Ada apa kau kasak kusuk? Apa kau sudah mengambil kepalanya bangsat Souw itu?”

Paras muka Ciam Coen lantas saja berubah pucat. Buru-buru ia masuk dan berlutut di hadapan gurunya.

“Coen Jie, apakah kau sudha menunaikan tugasmu?” tanya sang guru.

“Orang she Souw itu sekarang berada di luar,” jawabnya dengan suara gemetar. “Dia sengaja datang kemari untuk meminta ampun. Dia mengatakan bahwa dia seorang tolol dan secara tidak sengaja dia sudah menonton waktu Soehoe berlatih. Tapi dia kata, kiamhoat kita sangat tinggi, sehingga meskipun sudah melihatnya, dia tidak mendapat keuntungan jua dan setengah juruspun tak dapat menirunya.”

Sebagai seorang murid yang sudah lama berguru, Ciam Coen mengenal adat sang Soehoe yang merasa sangat bangga karena kepandaiannya sendiri. Oleh karena begitu, ia sengaja mengemukakan rasa kagum Souw Hie Cie terhadap kiamhoat Koen-loen-pay. Si nona mengharap supaya dalam girangnya dan sang guru akan mengampuni pemuda ini.

Dalam keadaan biasa, mungkin sekali Hou Thay Ciong akan menerima “topi tinggi” itu dengan segala senang hati. Tapi hari itu ia sedang murung tak dapat digembirakan dengan pujian belaka.

Sambil mengeluarkan suara dihidung, ia berkata, “Bagus! Kau telah bekerja baik sekali. Penjarakan orang she Souw itu dalam kamar batu di gunung belakang. Aku akan menjatuhkan hukuman belakangan.”

Melihat gurunya sedang marah-marah, nona Ciam tidak berani banyak bicara. “Baiklah,” katanya sesudah berdiam sejenak, ia bertanya. “Apa para Soebo baik? Aku ingin pergi ke belakang untuk memberi hormat.” (Soebo-istrinya guru)

Ciam Coen sudah menggunakan istilah “para Soebo” karena Ho Thay Ciang mempunyai tak kurang dari lima istri-gundik dan yang paling disayang olehnya adalah gundik yang kelima. Untuk menolong jiwa Souw Hie Cie, si nona berniat pergi menemui Soebo kelima itu untuk meminta pertolongan.

Di luar dugaan, begitu mendengar pertanyaan muridnya, paras Ho Thay Ciong lantas saja berubah sedih dan sesudah menghela napas panjang ia berkata. “Memang ada baiknya jika kau pergi menemui Ngo-kouw. Dia sakit berat. Untung kau pulang siang-siang sehingga masih keburu bertemu muka dengannya.”

Nona Ciam terkejut. “Ngo-kouw sakit? Sakit apa?” tanyanya.

Sekali lagi sang guru menghela napas. “Sungguh bagus kalau kutahu sakit apa,” katanya.
“Sudah tujuh tabib yang terkenal pandai diundang olehku, tapi tak satupun yang tahu dia sakit apa. Sekujur badannya bengkak? Hai!…” Ia menggelengkan kepala dan berkata lagi dengan suara mendongkol.

“Aku mempunyai begitu banyak murid, tapi tak satupun yang berguna. Aku memerintah mereka pergi ke gunung Tiang-pekpsan untuk mencari Loo-san Jie-som, tetapi sesudah pergi dua bulan, seorangpun belum pulang. Aku menyuruh mereka pergi mencari Soat-lian, Sie ouw dan lain-lain obat penolong jiwa semua kembali dengan tangan kosong.”

Ciam Coen mengerti bahwa sang guru mengeluarkan kata-kata itu hanya untuk melampiaskan kedongkolannya. Untuk pergi ke Tiang pek san, orang harus melalui perjalanan berlaksa li.

Mana bisa mereka pulang cepat-cepat? Andaikata mereka sudah tiba di gunung itu, belum tentu mereka berhasil mencari Loo san Jie som. Mengenai Soat-lian, Sie-ouw dan lain-lain obat mujijat, sekalipun dicari selama seratus tahun, belum tentu orang bisa berhasil.

Memikir begitu, ia rasa bingung dan berkuatir akan keselamatan Souw Hie Cie, Ho Thay Ciong menyayangi gundiknya yang kelima seperti menyayangi jiwa sendiri. Kalau nyonya itu tidak dapat disembuhkan, dia tentu akan menumplek kedongkolannya di atas kepala orang lain. Tapi si nona tidak berani mengeluarkan sepatah kata.

Untuk sekian kalinya, Ho Thay Ciong menghela napas. “Dengan menggunakan Lweekang aku telah memeriksa pembuluh darahnya, tapi sedikitpun aku tidak menemui sesuatu yang luar biasa katanya. “Huh, huh! Kalau jiwa Ngo kouw tidak tertolong, aku akan mampuskan semua tabib goblok dalam dunia ini!”

“Coba kutengok padanya,” kata Ciam Coen.

“Baiklah mari sama-sama,” jawab sang guru.

Mereka lalu pergi ke kamar nyonya muda itu. Begitu masuk, si nona mengendus bau obat-obatan yang sangat keras. Ia menyingkap kelambu dan melihat Soebo rebah di ranjang dengan muka seperti Tie Pat Kay (Siluman babi), matanya kecil dalam seolah tidak bisa dibuka lagi. Napasnya tersengal-sengal bagaikan alat penutup api.

Ngo kouw adalah seorang wanita yang sangat cantik. Kalau tak cantik manakah Ho Thay Ciong menyayanginya? Tapi sekarang mukanya seperti mukanya hantu yang menakutkan.

Melihat begitu, Ciam Coen juga menghela napas.

“Panggil tabib-tabib goblok itu!” bentak Ho Thay Ciong.

Seorang nenek yang menjadi pelayan dalam kamar si sakit, lantas saja keluar dan beberapa saat kemudian, ia kembali bersama tujuh orang tabib yang masuk dengan diiringi suara berkerincingnya rantai besi. Ternyata, mereka diikuti satu sama lain dengan rantai besi dan dilihat dari muka mereka yang pucat pasi, mereka pasti sudah banyak menderita.

Mereka adalah tabib-tabib ternama di propinsi Soe-coan, In lam dan Kam siok, yang telah diundang, dengan baik atau dengan paksa, oleh murid-muridnya Ho Thay Ciong. Tapi tak satupun dapat menyembuhkan gundik yang disayangi itu. Bukan saja tak dapat menyembuhkan, bahkan pendapat mereka mengenai sebab musebab penyakit itu pun berbeda.

Ho Thay Ciong telah mengancam bahwa jika Ngo kouw mati, ketujuh “tabib-tabib goblok” itu akan dikubur hidup-hidup. Mereka sudah memeras otak dan memberi macam-macam obat, tapi penyakit Ngo kouw tidak jadi mendingan. Setiap kali memeriksa penyakit nyonya itu, mereka tidak habis-habisnya dan saling menyalahkan. Yang satu menuduh yang lain sebagai manusia goblok. Kali ini tidak berbeda. Sesudah memeriksa nyonya itu, mereka segera tarik urat.

Ho Thay Ciong jadi gusar dan ia mencaci sambil berteriak-teriak.

Mendadak, serupa ingatan berkelabat dalam otak Ciam Coen. “Soehoe,” katanya, “Dari Holam teecoe membawa seorang tabib, yang biarpun usianya masih muda, kepandaiannya banyak lebih tinggi daripada tabib-tabib itu.”

Sang guru girang. “Mengapa kau tidak memberitahukan terlebih siang,” katanya tergesa-gesa. “Lekas! lekas undang padanya.”

Nona Ciam segera keluar dari kamar dan tak lama kemudian, ia kembali bersama Boe Kie. Begitu melihat wajah Ho Thay Ciong, Boe Kie segera ingat bahwa orang tua itu adalah salah seorang yang sudah turut menekan sehingga kedua orang tuanya membunuh diri. Mengingat peristiwa hebat itu, darahnya lantas saja naik.

Tapi Thie Kim Sianseng sendiri tentu saja tidak mengenalinya. Sesudah berselang beberapa tahun, muka si bocah sudah banyak berubah. Dengan perasaan ia mengawasi Boe Kie yang baru berusia kira-kira lima belas tahun. Rasa sangat itu bercampur juga dengan rasa mendongkol karena si bocah bukan saja tidak menjalankan peradatan dengan berlutut, bahkan sikapnya tawar dan agung-agungan. Tapi ia tidak menghiraukan semua itu.

“Apa dia tabib yang dipujikan olehmu?” tanyanya sambil mengawasi muridnya.

“Benar,” jawab si nona. “Saudara kecil in mempunyai kepandaian yang sangat tinggi.”

Ho Thay Ciong mengeluarkan suara di hidung. Ia tak percaya.

“Waktu teecoe kena racun bunga To-lo hijau saudara kecil inilah yang mengobati teecoe,” menerangkan Ciam Coen. Sekali ini sang guru terkesiap. Racun bunga To lo hijau adalah racun yang sangat lihai menurut anggapannya, tanpa obat pemunah yang diberikan olehnya sendiri, siapa yang kena pasti akan mati. Kalau benar bocah itu bisa memunahkan racun tersebut ia benar-benar lihai.

Maka dari itu, sambil menatap wajah Boe Kie, ia bertanya dengan suara manis, “Anak muda, benarkah kau bisa mengobati penyakit?”

Mengingat nasib kedua orang tuanya, Boe Kie membenci si tua itu. Tapi pada hakekatnya ia memiliki sifat-sifat mulia dan ia seorang yang mudah melupakan segala sakit hati. Kalau tidak memiliki sifat yang baik itu, mana mau ia mengobati orang-orang seperti Kan Ciat dan Sie Kong Wan?

Ia merasa, bahwa Koen loen pay mempunyai andil sebagai partai yang turut menjadi gara-gara dari kebinasaan orang tuanya. Tapi ia adalah seorang yang tidak bisa menonton kebinasaan tanpa mengulurkan tangan. Maka itulah, ia sudah menolong Ciam Coen, seorang murid Koen loen pay, dan Souw Hie Cie. Sekarang mendengar pertanyaan si tua, meskipun hatinya gusar, ia manggutkan kepalanya.

Begitu masuk, ia mengendus bau luar biasa. Sesaat kemudian, ia merasa bau itu berubah-ubah sebentar keras, sebentar hilang. Ia mendekati mengawasi muka si sakit dan memegang nadinya. Mendadak ia mengeluarkan sebatang jarum emas yang lain ditusukkan di muka Ngo kouw yang bengkak seperti labu.

Ho Thay Ciong terkejut. “Bikin apa kau?” bentaknya serta mengangsurkan tangan untuk menjambret Boe Kie, tapi bocah itu sudah mencabut jarumnya.

Ternyata bekas tusukan jarum sama sekali tidak mengeluarkan darah atau cair. Boe Kie lalu mencium-cium jarum itu dan manggut-manggutkan kepalanya. Sehingga dalam hati Thie Kim Sianseng timbul harapan baru.

“Saudara…saudara kecil,” katanya. “Apakah ada harapan?”

Bahwa sebagai seorang pemimpin sebuah partai persilatan, ia sudah menggunakan istilah “saudara kecil” merupakan bukti, bahwa ia berlaku hormat terhadap si bocah.

Tapi Boe Kie tidak menyahut. Sekonyong-konyong ia merangkak ke kolong ranjang dan sesudah memeriksa kolong ranjang itu beberapa saat, barulah ia keluar lagi. Kemudian ia membuka jendela dan mengawasi pohon-pohon bunga yang ditanam di dalam taman. Mendadak ia melompat dan keluar dari jendela lalu berdiri tegak sambil memandang pohon-pohon di sekitarnya, seolah-olah ia sedang menikmati bunga-bunga yang beraneka warna dan harum baunya.

Ho Thay Ciong mendongkol. Karena sangat mencintai gundiknya itu, maka ia sudah memerintahkan muridnya untuk menanam pohon-pohon bunga yang luar biasa dan mahal harganya di luar jendela kamar Ngo kouw.

Sekarang, ia sedang mengharap-harap pertolongan selekas mungkin, sebaliknya dari menolong, si tabib cilik membuang-buang waktu dengan mengawasi pohon-pohon bunga itu. Bagaimana ia tak jadi mengeluh?

Sesudah berdiri beberapa lama, Boe Kie kembali manggut-manggutkan kepalanya, ia balik ke kamar.

“Penyakit itu masih dapat diobati, tapi aku tak sudi mengobatinya,” katanya dengan suara kaku. “Ciam Kouwnio, aku mau pergi”.

“Saudara Thio, ku mohon pertolonganmu,” kata nona Ciam. “Kalau kau bisa menolong Ngo kouw, segenap anggota Koen loen pay, dari atas sampai di bawah, akan merasa sangat berterima kasih. Saudara Thio, tolonglah”.

Boe Kie menggelengkan kepalanya sambil menuding Ho Thay Ciong, ia berkata, “Dia, Thie Kim Sianseng, turut mengambil pada bagian waktu sejumlah manusia kejam memaksa kedua orang tuaku membunuh diri. Perlu apa aku menolong jiwa gundiknya?”

Ho Thay Ciong terkesiap. “Saudara kecil, kau she apa?” tanyanya. “Siapa ayah dan ibumu?”

“Aku she Thio,” jawabnya dengan suara tawar. “Mendiang ayahku adalah murid kelima dari Boe tong pay”.

Si tua jadi lebih kaget lagi. Baru sekarang ia tahu, bahwa anak tanggung itu puteranya Thio Coei San. Buru-buru ia mencoba dan berkata, “Saudara Thio, pada waktu ayahmu masih hidup, aku bersahabat baik dengannya. Bahwa ia telah membunuh diri sudah sangat mendukakan hatiku?”

“Setelah kedua orang tuamu meninggal dunia, beberapa kali Soehoe menangis.” Ciam Coen menambah dusta gurunya. “Beliau sering mengatakan bahwa mendiang ayahmu adalah sahabatnya yang paling akrab.”

Boe Kie bersangsi, ia setengah percaya, setengah tidak. Tapi, sebagaimana telah dikatakan, ia adalah seorang yang mudah melupakan sakit hati lama.

Maka itu, lantas saja berkata, “Hoe jin (nyonya) bukan mendapat penyakit aneh. Ia kena racun dari Kim gin Hiat”.

“Ular Kim gin Hiat?” tegas guru dan murid itu hampir berbarengan. Mereka kaget dan heran, karena nama ular itu belum pernah didengar mereka.

“Benar,” jawabnya. “Aku pun belum pernah melihat ular itu. Aku menarik kesimpulan itu karena muka Hoejin, lihatlah apa di ujung jari kaki terdapat luka gigitan yang sangat kecil”.

Ho Thay Ciong buru-buru menyingkap selimut yang menutupi tubuh Ngo kouw dan menarik jari kakinya. Benar saja di setiap ujung jari kaki terdapat luka besar yang berwarna hitam. Karena terlalu kecil, jika tidak diperhatikan, luka itu tidak kelihatan.

Melihat begitu, si tua tidak menyangsikan lagi kepandaian Boe Kie. “Benar, benar,” katanya, “Setiap ujung jari kakinya benar terluka. Saudara kecil kau sungguh pandai. Sesudah mengetahui sebab musebab penyakit itu, saudara kecil pasti dapat menyembuhkannya. Sesudah dia sembuh aku akan memberi hadiah yang besar”.

Ia berpaling kepada tujuh tabib tolol itu dan membentak, “Kamu semua manusia tolol! Tabib goblok!”

“Penyakit Hoejin memang luar biasa dan kita tak dapat menyalahkan mereka,” kata Boe Kie, “Ho Sianseng biarkanlah mereka pulang saja!”

“Baik, baik,” kata si tua. “Sesudah saudara kecil berada di sini, memang perlu apa tabib-tabib goblok itu berdiam lebih lama lagi. Coen jin, berikan seratus tail perak kepada setiap orang dan suruh mereka pergi segera”.

Ketujuh tabib itu girang bukan main dan sesudah menerima hadiah, cepat-cepat mereka berlalu.

“Coba suruh beberapa pelayan menggeser ranjang Hoe jin,” kata Boe Kie. “Di bawah kaki ranjang terdapat dua lubang kecil dan lubang itu adalah tempat keluar masuknya ular Kim gin Hiat”.

Tanpa meminta bantuan lagi, Ho Thay Ciong segera mencekal kaki ranjang yang lalu digesernya. Sesuai seperti yang dikatakan Boe Kie, di bawahnya terdapat lubang kecil.

Si tua girang bercampur gusar. “Lekas ambil belerang dan api!” teriaknya, “Begitu dia keluar aku akan cincang!”

Boe Kie menggoyangkan tangannya. “Tak boleh, tak boleh begitu,” katanya. “Racun yang mengeram di dalam badan Hoejin harus dipunahkan oleh ular itu juga. Kalau kau bunuh, Hoejin tak dapat disembuhkan lagi!”

“Oh begitu?” kata si tua dengan rasa heran. “Mengapa begitu?”

“Ho Sianseng,” terang si bocah sambil menunjuk taman bunga yang berada di luar jendela.

“Penyakit Hoejin karena gara-gara delapan pot bunga anggrek Leng cie lan itu”.

“Leng cie lan?” tegas Ho Thay Ciong.

Baru sekarang ia tahu, anggrek itu Leng cie lan namanya. “Karna tahu aku suka menanam bunga, seorang sahabat yang datang dari wilayah Barat, See hek, dan yang membawa delapan pot bunga itu, sudah menghadiahkannya kepada aku. Bunga itu sangat indah dan harum. Hm!…Aku tak tahu dia bibit penyakit”.

“Menurut katanya kitab ilmu ketabiban, Leng cie lan berubi, yang bentuknya bundar seperti bola, warnanya merah api dan di dalam ubi itu terdapat racun yang sangat hebat,” Boe Kie melanjutkan keterangannya. “Cobalah gali”.

Ketika itu, semua Koen loen pay sudah tahu bahwa Boe Kie sedang coba mengobati penyakit Ngo kouw yang luar biasa.

Murid-murid lelaki tidak berani masuk, tapi keenam murid perempuan sudah berada dalam kamar itu. Begitu mendengar keterangan Boe Kie, dua antaranya lantas saja mengambil cangkul dan menggali sebuah pot. Benar saja ubi pohon anggrek itu bundar dan warnanya merah. Karena tahu beracun, mereka tidak berani menyentuhnya.

“Sekarang aku minta kalian menggali semua pohon anggrek itu dan taruh ubinya dalam sebuah mangkok kayu,” kata si bocah pula. “Tambahkan delapan biji telur ayam dan semangkok darah ayam. Pukul campuran itu sampai menjadi hancur. Tapi yang mengerjakannya harus berhati-hati, harus menjaga sampai campuran itu tidak mengenai kulit.”

Ciam Coen bersama dua orang saudara seperguruannya lantas saja bertindak keluar untuk melakukan apa yang diminta. Sesudah itu, Boe Kie minta juga dua buah bumbung bambu dan sebatang tongkat bambu.

Tak lama kemudian, ubi Leng cie lan dan campurannya sudah dipukul menjadi cairan kental. Boe Kie segera menuang cairan itu di lantai dan membuat sebuah lingkaran. Pada lingkaran itu ditinggalkan sebuah lubang yang lebarnya kira-kira dua dim.

Sambil mengawasi semua orang, ia berkata, “Kalau sebentar terjadi kejadian luar biasa, kuharap kalian jangan bersuara supaya ular itu tidak menjadi kaget dan menggigit kalian. Harap kalian menutup hidung dengan kapas.”

Semua orang lantas saja menuntut, sedang racun lalu menutup hidungnya dengan sedikit kapas.

Sesudah itu, ia mengambil api dan membakar daun-daun Ling cie lan di samping lubang. Kira-kira minuman teh, dari lubang sebelah kiri keluar seekor ular yang badannya merah dan di kepalanya terdapat semacam topi daging yang berwarna emas. Ular itu ternyata mempunyai empat kaki dan panjang badannya kira-kira delapan dim. Baru saja Kim koan Hiat coa (ular darah topi emas) keluar, dari lubang sebelah kanan kembali muncul seekor ular lain yang badannya lebih pendek dan topi dagingnya berwarna perak. Ular yang belakangan dinamakan Gin koan Hiat coa, ular darah topi perak. Sepasang ular itu dinamakan Kim gin Hiat coa yaitu ular darah emas perak.

Sambil menahan napas, Ho Thay Ciong dan murid-muridnya mengawasi kedua binatang itu. Mereka tahu, bahwa kalau ular-ular itu sampai lari, penyakit Nog kouw sukar disembuhkan lagi.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: