Kumpulan Cerita Silat

05/08/2008

Kisah Membunuh Naga (25)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:49 am

Kisah Membunuh Naga (25)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Boe Kie yang dikuatirkan keselamatannya jika berada lama-lama di lembah Ouw-tiap-kok sudah menyatakan kesediaannya untuk ikut menyingkir dari lembah itu bersama-sama Kie Siauw Hoe dan puterinya.

“Boe kie,” kata Kin Siauw Hoe, “bila kau mau ikut dengan aku, kita boleh jalan bersama-sama. Aku sendiri akan segera pergi menemui soehoe ke Go bie san. Kalau nasib baik dan beliau tidak mendengar hasutan Soecieku, maka untukmu masih ada sedikit harapan hidup karena beliau memang mempunyai niatan untuk menurunkan semua kepandaiannya kepadaku, bahkan akan mengambil aku sebagai ahli warisnya. Manakala niatan itu dilaksanakan, beliau terutama tentu akan menurunkan Go bie Kioe yang kang kepadaku. Selanjutnya aku bisa ajarkan ilmu itu kepadamu. Dengan memiliki Go bie Kioe yang kang, kau bisa menggabungkannya dsngan Siauwlim dan Boe tong Kioe yang kang sehingga rasanya racun dingin Hian beng Sin ciang bisa dengan gampang terusir keluar dari badanmu. Tapi, aih…, sesudah aku melakukan perbuatan yang tidak pantas, mana aku ada muka untuk bertemu lagi dengan Soehoe? Mana bisa belia mengangkat aku menjadi ahli warisnya lagi?”

Semula sang bibi bicara dengan semangat berapi-api karena memikiri penyakit yang diderita Boe Kie. Tapi, manakala teringat olehnya akan dirinya yang telah ternoda, ia jadi tampak bermuram durja.

Melihat paras sang bibi yang sangat berduka, Boe Kie segera menghibur, “Kie Kouw kouw, kau tak usah bersedih. Ouw Sinshe mengatakan bahwa paling lama aku hanya bisa hidup setahun lagi. Akupun sering memeriksa keadaan badanku dan aku yakin, bahwa apa yang dikatakan Ouw Sinshe bukan omong kosong. Andaikata gurumu mengajar Go bie Kioe yang kang kepadamu, kurasa kaupun tak akan keburu menolong aku. Memang benar juga, jalan yang paling baik adalah kita menyingkir sekarang juga. Tapi dalam cara mengobati lukamu, masih ada beberapa bagian yang belum begitu terang bagiku. Untuk itu, aku masih perlu minta petunjuk Ouw Sinshe,”

SiauwHoe tertawa dan menanya, “Apa tak bisa jadi ia akan sengaja memberi petunjuk yang salah. Kau tidak boleh lupa, bahwa ia sudah berusaha untuk meracuni aku.”

“Tidak, kurasa ia tak akan berbuat sedemikian,” membantah Boe Kie. “Sebegitu jauh, obat-obat atau cara mengobati yang diberikan oleh Ouw Sinshe, sangat manjur dan tepat. Di samping itu, akupun dapat membedakan jika ia sengaja memberikan obat yang salah. Dan…inilah justeru yang aku tidak mengerti!”

Sesaat itu, Poet Hwie sudah kembali dengan kepala memakai topi rangkaian bunga. Mereka bertiga sudah mempunyai topi, perundinganpun sudah selesai dan mereka lalu kembali kerumah Ouw Ceng Goe.

Malam itu, Boe Kie tak bisa pulas lagi. Kira kira tengah malam Ouw Ceng Goe menggerayang lagi ke gubuk Siauw Hoe, gubuk Kan Ciat dan kawan-kawannya untuk menaruh racun.

Tiga hari telah lewat tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Karena tidak pernah kena racun lagi, kesehatan Siauw Hoe pulih dengan cepat. Keadaan Sie Kong Wan dan yang lain-lain masih tetap seperti biasa, sebentar mendingan, sebentar hebat. Beberapa orang sudah mulai mengeluh dan mengatakan, bahwa kepandaian Boe Kie masih terlalu rendah, tapi si bocah tidak menggubris.

Malam itu, sambil berbaring di pembaringan, Boe Kie berkata dalam hatinya, “Sesudah lewat malam ini, aku sudah mengikut Kie Kouw-kouw menyingkirkan diri. Karena racun dalam tubuhku tak bisa dipunahkan, lebih baik aku tidak pulang ke Boe tong, supaya Thay soe-hoe dan paman-paman jangan berubah hati. Aku akan pergi ketempat yang sepi dan mati dengan diam-diam.”

Mengingat bahwa ia akan segera meninggalkan Ouw tiap kok, hatinya terharu. Walaupun Ceng Goe beradat aneh, ia telah memperlakukannya baik sekali dan selama kurang lebih dua tahun, orang tua itu menurunkan banyak ilmu ketabiban kepadanya. Sesudah berkumpul begitu lama, di dalami hatinya sudah bersemi rasa cinta terhadap orang tua itu.

Maka itu, perlahan-lahan ia bangun, dan pergi ke kamar si tabib malaikat dan menanyakan kesehatan orang tua itu dari luar kamar. Tiba-tiba ia ingat bahwa Kim Hoa Coe jin akan segera menyateroni. Apa Ouw Sinshe mampu melawan perempuan jahat itu? Ia merasa kasihan dan segara berkata, “Ouw Sinshe, kau sudah berdiam di Ouw tiap kok begini lama, apa kau tidak merasa sebal? Mengapa kau tidak mau pergi pelesir ke tempat lain?”

Ceng Goe terkejut. “Aku sedang sakit, mana bisa aku pergi ketempat lain?” jawabnya.

“Tapi Sinshe dapat mengunakan kereta,” kata pula Boe Kie. “Dengan menutup jendela kereta dengan tirai supaya tidak masuk angin, kau bisa pergi ke manapun juga.”

Tiap kok Ie sian menghela napas. “Anak hatimu mulia sekali,” ia memuji. “Dunia sedemikin lebar, di manapun sama saja. Bagaimana keadaanmu selama beberapa hari ini? Bagaimana dadamu? Apakah hawa dingin masih bergolak di tantianmu?”

“Makin lama hawa itu makin bertambah”, jawabnya. “Sudahlah! Biarkan saja. Aka toh sudah tak bisa ditolong lagi.”

Untuk beberapa saat Ceng Goe tidak mengatakan suatu apa. “Anak, sekarang aku ingin memberi obat yang akan bisa menolong jiwamu,” katanya. “Gunakanlah Tong kwie, Wan cie, Seng tee, Tok ho dan Hong hong, lima macam. Di tengah malam, minumlah obat itu cepat-cepat, dengan menggunakan Coan san ka sebagai penuntun.”

Boe Kie kaget. Lima macam bahan obat itu sama sekali tiada sangkut pautnya dengan penyakit yang dideritanya. Bukan saja begitu, sifat kelima macam bahan obat itu malah berbahaya untuk dirinya. Ditambah dengan Coan san ka, bahaya itu jadi makin besar.

“Sinshe, berapa timbangannya?” tanyanya dengan rasa heran.

“Jangan rewel!” bentak Ceng Goe dengan suara gusar. “Aku sudah memberitahukan kau. Sudah cukup. Pergi!”

Si bocah gusar. Semenjak berdiam di Ouw tiap kok, orang tua itu memperlakukannya secara sopan-santun dan mereka sering kali merundingkan soal ketabiban sebagai sahabat. Tak dinyana, hari ini Ceng Goe berlaku begitu kasar terhadapnya. Dengan rasa mendongkol, ia kembali ke kamarnya.

Sambil berguling-guling di pembaringan ia berkata di dalam hati, “Dengan baik hati aku menasehati supaya kau menyingkir, tapi aku berbalik di hina olehmu. Hm ! …Kau juga coba memberi obat yang tidak-tidak kepadaku. Apa kau kira aku akan kena diakali?”.

Makin lama hatinya jadi makin panas. Ia tak mengerti mengapa si tua begitu berani mati dan memberikannya resep obat yang begitu gila-gilaan. Beberapa lama kemudian, ia merasa lelah dan maramkan kedua matanya. Mendadak, dalam keadaan sayup-sayup, serupa ingatan berkelebat dalam otaknya. Ah! Tong kwie, Wan cie, resep tanpa diberi timbangan obatnya…Dalam dunia tak ada resep yang sedemikian. Aha! Apa tak bisa jadi Tong kwie dimaksudkan kay tong kwie kie? Mungkin!

(Tong kwie adalah namanya serupa obat. Tapi “Tong kwie” atau “kay tong kwie kie” juga berarti “harus pulang” )

Sesudah memikir beberapa saat, tiba-tiba ia melompat bangun dan berkata dalam hatinya. “Benar! Resep itu mengandung maksud lain. Dengan Wan cie, ia rupanya ingin menyuruh aku ‘cie cay wan hang’ (ingatan berada di tempat jauh) atau dengan lain perkataan, ia ingin aku ‘ko hoei wan coew’ (pergi ke tempat yang jauh). Ia menyebutnya Seng tee (tanah hidup) dan Tok ho (hidup sendirian). Mungkin sekali, Seng tee berarti ‘Seng louw’ (jalanan hidup) dan sesudah mengambil jalanan hidup barulah aku bisa ‘hidup sendirian’. Apa arti Hong hang (menjawab angin)? Ouw Sin she maksudkan supaya aku menutup rahasia, jangan sampai ‘membocorkan angin’.”

“Obat itu harus diminum cepat-cepat di waktu tengah malam buta dengan menggunakan Coan san ka sebagai penuntun. ‘Cepat-cepat’, ‘tengah malam buta’, ‘Coan san ka’…Apakah Ouw Sinshe maksudkan, bahwa aku harus cepat-cepat kabur di tengah malam buta dengan menembus jalanan gunung dan tidak boleh mengambil jalanan raya? Tak salah! Itulah tentu maksud yang sebenarnya.”

(Coan san ka berarti trenggiling. Arti huruf-huruf itu sendiri ialah ‘menembus gunung’).

Berpikir begitu, ia segera menghampiri pintu. Sebelumnya membukanya, ia merendek. “Sekarangi musuh belum tiba, tapi mengapa Ouw Sinshe tidak memberitahukan aku secara teang-terangan?” tanyanya di dalam hati. “Mengapa ia mengeluarkan kata-kata itu? Kalau aku tidak dapat menebaknya, bukankah aku bisa celaka? Ah! Sekarang sudah lewat tengah malam, aku mesti menyingkir secepat mungkin.”

Walaupun baru berusia belasan tahun, Boe Kie sudah mempunyai jiwa ksatria. Ia ingin segera menyingkir, tapi ia memikiri nasib Ouw Sinshe. Di lain saat ia ingat, bahwa si tabib malaikat tentu lah juga sudah mempunyai pegangan untuk melawan musuh karena sesudah tahu bakal datangnya musuh itu, ia tetap tidak mau menyingkir. Tapi biar bagaimanapun juga, meskipun Ceng Goe sudah memesan supaya ia menutup rahasia, ia tak bisa tidak menolong Siauw Hoe dan puterinya.

Perlahan-lahan ia keluar dari kamarnya dan pergi ke gubuk Siauw Hoe. Ia menepuk-nepuk tangan seraya memanggil manggil dengan suara perlahan. “Kie Kouwkouw…Kie Kouwkouw…bangun!”

Siauw Hoe tersadar “Siapa? Boe Kie?” tanyanya.

Sesaat itu, sekonyong-konyong si bocah merasa sambaran angin yang sangat halus dipunggungnya dan baru saja ia memutar badan, pundak dan pinggangnya sudah kesemutan dan ia roboh tanpa berkutik lagi. Gerakan penyerang itu cepat luar biasa. Di lain saat, iapun sudah merobohkan Siauw Hoe dengan totokan. Dengan bantuan sinar bulan sisir, Boe Kie melihat, bahwa orang itu mengenakan topeng kain hijau.

Ouw Ceng Goe!

Sedang berbagai pertanyaan berkelebat-kelebat dalam otak Boe Kie, tangan kiri si tabib malaikat sudah mencengkeram pipi Siauw Hoe untuk memaksanya membuka mulut, sedang tangan kanannya coba memasukkan sebutir yo wan.

Sebelum pel itu masuk kedalam mulutnya, Siauw Hoe sudah mengendus bebauan yang sangat tak enak. Ia mengerti, bahwa pel itu adalah racun yang sangat hebat, tapi ia tidak berdaya, kaki tangannya tidak bisa bergerak lagi.

Dengan sorot mata putus harapan, ia mengawasi puterinya. “Poet jie!” ia mengeluh di dalam hati. “Ibumu bernasib celaka, kaupun jelek peruntungan. Mulai dari sekarang, ibumu tak bisa merawatmu lagi.”

Tiba-tiba pada detik yang sangat berbahaya, Boe Kie melompat bangun. Orang itu kaget dan menengok, tapi punggungnya sudah dihantam Boe Kie dengan sekuat tenaga.

Ternyata, sesudah ditotok jalanan darah pada pundak dan pinggangnya, untuk sementara Boe Kie rebah dengan tidak berdaya. Tapi, sebagai ahli waris Cia Soen, selang beberapa saat, ia berhasil membuka jalan darahnya dengan menggunakan Lweekang. Ia melompat bangun dan pada detik yang sangat genting, ia menghantam jalanan darah Kin soe hiat di punggung Ouw Ceng Goe dengan pukulan Sin liong Pa bwee, yaitu salah satu jurus dari Hang liong Sip pat ciang. Meskipun ia hanya mengenal bagian kulit dari pukulan itu, tapi karena jurus tersebut adalah jurus yang sangat luar biasa dan juga sebab Ouw Ceng Goe sama sekali tidak menduga bakal dibokong cara begitu, maka, begitu lekas pukulan Boe Kie mengenai Kin soe hiat, ia roboh tanpa mengeluarkan suara.

Berbareng dengan robohnya, topeng kain tersingkap separuh dan begitu melihat, Boe Kie mengeluarkan teriakan tertahan. “Ah!”

Mengapa?

Karena muka itu bukan muka Ouw Ceng Goe, tapi muka seorang wanita setengah tua yang berparas cantik.

“Siapa kau?” bentak Boe Kie.

Sesudah terpukul, wanita itu merasakan kesakitan hebat, mukanya pucat-pasi, sehingga ia tidak dapat menjawab pertanyaan si bocah.

Buru-buru Boe Kie membuka jalanan darah Kie Siauw Hoe dan berkata. “Kie Kouwkouw, tempelkan ujung pedangmu di dadanya, supaya dia tidak bisa berkutik. Aku mau menengok Ouw Sinshe.” Ia berkuatir akan keselamatannya Ouw Ceng Goe. Ia menduga bahwa wanita itu adalah konco Kim hoa Coe jin. Jika perempuan jahat itu keburu datang, maka dia dan Siauw Hce serta puterinya pasti akan celaka.

Dengan lari seperti terbang ia pergi ke kamar Ceng Goa dan tanpa banyak rewal, ia memukul pintu yang lantas saja terpentang.

“Ouw Sinshe!” teriaknya, tapi tak ada jawaban. Ia segera mengeluarkan bahan api dan menyulut lilin. Kasur terbuka, tapi orang tua itu tak kelihatan bayang-bayangannya. Melihat kamar itu kosong, hatinya agak lega, karena ia semula menduga bahwa Ouw Ceng Goe sudah dibinasakan. “Ouw Sinshe rupanya diculik musuh,” pikirnya.

Baru saja ia mau keluar, di bawah ranjang tiba tiba terdengar suara helaan napas. Ia segera mengangkat ciak-tak (tempat tancapan lilin) dan menyuluhi kolong ranjang. Ia girang bukan main, karena melihat Ouw Ceng Goe rebah di situ dengan kaki tangan terikat. “Ouw Sinshe, jangan khawatir!” katanya dan lalu merangkak ke kolong ranjang untuk menyeretnya keluar.

Ternyata, orang tua itu tidak bisa bicara sebab mulutnya disumbat dengan buah toh dan Boe Kie segera mengorek keluar buah itu. Waktu mau membuka ikatan, ia mendapat kenyataan, kaki tangan Ceng Goe diikat dengan tambang urat kerbau, sehingga ia tidak dapat memutuskannya dan lalu mecari pisau.

“Mana perempuan itu?” tanya Ceng Goe selagi Boe Kie mau memotong tambang.

“Jangan kuatir, ia sudah ditakluki dan tak akan bisa lari,” jawabnya.

“Jangan putuskan dulu tambang ini!” Kata Ceng Goe tergesa. “Lekas bawa dia kemari. Lekas kalau terlambat, aku kuatir tak keburu lagi.”

Boe Kie heran. “Mengapa begitu?” tanyanya

“Lekas bawa dia kemari!” bentak orang tua “Tidak!…Begini saja. Lebih dulu, berikan padanya tiga butir Goe hong Hiat ciat tan. Ambillah dari laci ketiga. Lekas…! Lekas ..” Ia berkata begitu dengan paras muka bingung dan pucat.

Boe Kie tahu, bahwa Goe hong Hiat ciat tan adalah pel untuk memunahkan racun dan dibuat dengan menggunakan macam-macam bahan yang sangat mahal harganya. Untuk memunahkan racun yarg sangat hebat, sebutir saja sudah lebih dari cukup. Tapi Ouw Ceng Goe menyuruhnya untuk memberikan tiga butir. Siapa wanita itu?

Ia heran tak kepalang, tapi melihat sikap orang tua itu, ia tidak berani menanya melit-melit. Buru buru ia mengambil pel itu dan berlari-lari ke gubuk Siauw Hoe.

“Lekas telan!” bentaknya sambil menyodorkan tiga butir Goe hong Hiat ciat tan kepada tawanannya.

“Pergi! Aku tak perlu dengan pertolonganmu!” teriak wanita itu. Begitu mengendus bau Goe hong Hiat ciat tan, ia lantas saja mengetahui, bahwa Boe Kie datang dengan membawa obat.

“Ouw Sinshe yang menyuruh aku membawa obat ini,” kata Boe Kie dengan mendongkol.

“Pergi!…pergi!..pergi…!” teriak pula wanita itu. Sesudah kena pukulan Boe Kie, teriakannya lemah sekali.

Si bocah bingung dan hanya bisa menebak-nebak. Ia menduga, bahwa waktu mengikat Ceng Goe wanita itu kena senjata racun. Untuk korek keterangan mengenal musuhnya, Tiap kok Ie sian rupanya sengaja memberi obat pemunah kepadanya. Memikir begitu, ia lantas saja menotok jalanan darah Kian tin hiat, sehingga wanita itu tak bisa melawan dan kemudian memasukkan tiga butir pel itu ke dalam mulutnya.

Karena suara ribut-ribut, Poet Hwie mendusin dan mengawasi wanita itu dengan perasaan heran.

“Kouw-kouw mari kita membawa dia kepada Ouw Sinshe,” kata Boe Kie. Mereka lantas saja mencekal tangan wanita itu yang lalu diseret ke kamar Tiap kok Ie sian.

Begitu mereka masuk, Ouw Ceng Goe menanya “Sudah makan obat?”

“Sudah,” jawab Boe Kie.

Paras muka Ceng Goe jadi lebih tenang dan Boe Kie segera memotong tambang yang mengikat kaki tangannya. Sesudah kaki tangannya merdeka, Tian kok Ie sian segera menghampiri wanita itu, membuka kelopak matanya dam memegang nadinya.

“Eh…eh!” katanya dengan suara kaget, “Mengapa kau mendapat luka? Siapa yang sudah melukakan kau?”

Wanita itu menjengkel. “Tanya muridmu!” bentaknya.

Ouw Ceng Goe memutar badannya dan menanya Boe Kie, “Apa kau yang memukul?”

“Benar,” jawabnya, “waktu dia mau…”

Plok! Plok!

Orang tua itu menggaplok Boe Kie keras keras, sehingga mata si bocah berkunang-kunang.

Siauw Hoe menghunus pedang dan membentak, “Kurang ajar!”

Tapi, tanpa menghiraukannya, Ceng Goe lalu menanya wanita itu, “Bagaimana rasanya dadamu? Aku pasti akan menyembuhkan kau.” Sikap dan perkataannya berbeda jauh, bagaikan langit dan bumi dengan kebiasaan Kian sie Poet kioe Ouw Ceng Goe. Tapi si wanita tetap tidak mengubris dan terus bersikap tawar.

Dengan rasa heran yang sangat besar, Boe Kie mengawasi kejadian itu sambil mengusap-usap pipinya yang bengkak.

Dengan sikap menyayang Tiap kok Ie sian lalu membuka jalanan darah si wanita, mengurut-urutnya, mengambil beberapa macam daun obat yang lalu dimasukkan ke dalam mulut wanita itu, memondongnya dan menaruhnya di atas pembaringan, akan kemudian menyelimutinya dengan selimut tebal. Semua itu dilakukan si-tua secara lemah lembut dan penuh kecintaan.

Boe Kie menggeleng-gelengkan kepala. Benar benar otaknya pusing.

Sesudah berdiri beberapa saat di depan pembaringan, Ceng Goe berkata dengan suara halus, “Sekarang selain racun, kaupun mendapat luka. Jika aku dapat menyembuhkan, kita jangan menjajal-jalal kepandaian lagi.”

Wanita itu tertawa, “Apa artinya luka ini?” katanya. “Tapi apakah kau tahu, racun apa yang ditelan olehku? Jika kau bisa menyembuhkan aku, aku akan mengaku kalah. Hm!…Tetapi belum tentu kepandaian Ie sian (tabib malaikat atau tabib dewa) bisa menandingi kepandaian Tok sian (si dewi racun).” Sehabis berkata begitu, ia bersenyum dan senyumnya itu menggairahkan.

Dalam usia belasan tahun, Boe Kie belum mengerti soal percintaan. Tapi biarpun begitu, ia bisa merasakan, bahwa di antara kedua orang tua itu terdapat kasih sayang yang tiada batasnya.

“Semenjak sepuluh tahun berselang, aku sudah mengatakan bahwa Ie Sian tak akan bisa menandingi Tok sian.” kata Ceng Goe. “Tapi kau tak percaya. Kau terlalu suka menjajal ilmu. Aku sungguh tidak mengerti, mengapa kau begitu gila sehingga kau meracuni diri sendiri. Sekarang aku mengharap, bahwa Ia sian akan menang dari Tok Sian. Jika aku gagal, akupun tak sudi hidup sendirian di dalam dunia.”

Wanita itu bersenyum pula. “Jika aku meracuni orang lain, kau bisa berlagak kalah.” katanya. “Ha ha!…Dengan meracuni diri sendiri, kau tentu akan mengeluarkan seantero kepandaianmu.”

Ceng Goe mengusap-ngusap rambut wanita itu dan berkata deagan suara nyaring, “Hatiku sangat berkuatir. Sudahlah ! Jangan kau bicara banyak banyak. Meramkan matamu dan mengaso. Tapi ingatlah, kalau dengan diam-diam kau mengerahkan Lweekang untuk mencelakakan diri sendiri, kau berbuat curang dalam pertandingan ilmu ini.”

“Aku tidak begitu rendah,” kata wanita itu sambil tertawa. Ia segera memeramkan kedua matanya dan pada bibirnya tersungging senyuman.

Untuk beberapa saat, kamar itu sunyi-senyap. Siauw Hoe dan Boe Kie menyaksikan itu semua dengan mata membelalak. Tiba-tiba Tiap kok Ie sian memutar badan dan menyoja kepada Boe Kie. “Saudara kecil,” katanya, “dalam kebingungan aku telah berbuat kesalahan terhadapmu. Aku harap kau sudi memaafkan.”

“Sedikitpun aku tidak mengerti, apa artinya ini semua,” kata Si bocah dengan mendongkol.

Sekonyong-konyong si tua mengangkat tangan kanannya dan menggaplok dua kali pipi sendiri keras-keras. “Saudara, kecil,” katanya Pula. “Kau adalah tuan penolongku. Hanya karena aku sangat memikiri keselamnatan isteriku, maka aku sudah berbuat kedosaan terhadapmu.”

“Dia….dia isterimu?” menegas si bocah dengan suara heran.

Ceng Goe mengangguk, “Benar, dia isteriku!” jawabnya.

Melihat sikap orang tua itu dan mendengar bahwa wanita itu adalah isterinya, semua kedongkolan Boe Kie lantas menghilang.

Ceng Goe mengambil kursi dan lalu mempersilakan Siauw Hoe dan Boe Kie duduk, “Kalian tentu merasa heran melihat kejadian di hari ini.” katanya, “Baiklah! Aku akan menceritakan latar belakangnya tanpa tedeng-tedeng. Isteriku seorang she Ong namanya Lan Kouw. Kami berdua adalah saudara seperguruan. Pada waktu kami masih berada dalam rumah perguruan, di samping belajar ilmu silat, aku mempelajari ilmu ketabiban, sedang dia mempelajari Tok soet (ilmu menggunakan racun). Menurut pendapatnya, tujuan belajar ilmu silat adalah untuk membunuh orang dan tujuan Tok soet juga untuk membunuh orang. Boe soet (Ilmu silat) dan Tok soet merupakan dua macam ilmu yang berdiri berendeng. Maka itu, jika seorang mahir dalam Boe soet dan Tok soet, maka kepandaiannya bertambah dengan satu kali lipat. Ilmu ketabiban adalah untuk menolong manusia, sehingga pada hakekatnya, ilmu ketabiban dan ilmu silat bertentangan satu sama lain. Itulah jalan pikiran isteriku. Tapi karena bakatku terletak dalam ilmu ketabiban, aku tak dapat mengubah kesukaan itu.”

“Meskipun apa yang dipelajari kami berdua, perhubungan kami sangat erat dan di antara kami telah timbul perasaan cinta. Belakangan, Soehoe telah menikahkan kami berdua. Perlahan-lahan nama kami mulai terkenal dalam dunia kangouw, sehingga banyak orang memberi gelaran Ie Sian kepadaku dan julukan Tok Sian kepada isteriku. Kepandaiannya dalam soal racun sungguh-sungguh lihai. Ia sudah melebihi kepandaian Soehoe sendiri dan mungkin sekali di dalam dunia sukar dicari tandingannya. Bahwa dia telah mendapat gelaran Sian atau Dewi, merupakan bukti nyata dari kepandaiannya.

“Dasar aku yang tolol, yang bertindak tanpa dipikir lagi. Berapa kali isteriku telah meracuni orang, dan orang itu telah datang kepadaku untuk meminta pertolongan. Tanpa memikir panjang aku segera menolong mereka. Pada waktu itu hatiku malah merasa senang. Sedikitpun aku tidak merasa bahwa tindakanku itu sangat menyinggung perasaan isteriku. Aku sama sekali tak ingat, bahwa jika menyembuhkan orang yang diracuni olehnya, maka itu berarti bahwa kepandaian Ie sian adalah lebih unggul dari pada Tok sian”

Siauw Hoe menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas. Sepasang suami isteri itu benar benar manusia aneh.

Sementara itu Ceng Goe melanjutkan penuturannya. “Isteriku sangat mencintai aku. Di dalam dunia sukar dicari tandingannya. Tapi aku sendiri? Dengan di dorong oleh napsu mau menang, berulang kali aku menyinggung perasaannya. Cobalah kalian pikir. Meskipun dia patung, satu waktu dia bisa habis kesabarannya. Akhirnya aku tersadar. Aku bersumpah, bahwa aku tak akan menolong lagi orang yang telah diracuni olehnya. Lantaran begitu, lama-lama orang memberi gelaran Kian sie Poet kioe atau melihat kebinasaan tak sudi menolong padaku. Melihat aku berubah, isterikupun merasa senang. Tapi baru saja beberapa tahun aku mengambil jalan yang benar, muncullah peristiwa adik perempuanku.”

“Kehormatan adikku telah dilanggar oleh bangsat Sian Ie Thong dari Hwa san pay dan akhirnya binasa dalam tangannya. Tapi, samoai pada detik mau menghembuskan napasnya yang penghabisan, adikku masih mencintai bangsat itu. Pesannya yang terakhir supaya aku berjanji, bahwa selama hidup aku akan menolongnya, jika ia memerlukan pertolongan. Karena melihat adikku tidak akan mati dengan mata meram jika aku tidak meluluskan permintaannya, maka mau tidak mau, dengan hati penasaran, aku terpaksa memberikan janjiku itu.”

“Di luar tahuku, isteriku telah menaruh racun yang sangat hebat di badan Sian Ie Thong. Racun itu yang jalannya sangat perlahan, akan merusak seluruh tubuh bangsat yang sesudah menderita hebat selama tiga tahun, akan mampus dengan dagingnya membusuk. Sian Ie Tong mengetahui janjiku yang diberikan kepada adikku. Begitu melihat keadaannya berbahaya, ia segera meminta pertolongan kepadaku. Hai!.. Otakku benar-benar pusing. Kalau aku menolong, aku menyinggung isteri sendiri. Kalau tidak menolong aku melanggar janji.”

“Sian Ie Tong adalah Ciangboenjin Hwa san pay. Ilmu silatnya tinggi dan dalam kalangan kangouw, ia dikenal sebagai seorang pendekar,” kata Siauw Hoe. “Sungguh tak dinyana dia sebenarnya manusia rendah. Ouw Sinshe sesudah adikmu binasa dalam tangannya, kaupun tak perlu menolong dia. Apa pula adikmu yang sudah meninggal dunia tidak tahu lagi urusan itu.”

“Tidak!” membantah Boe Kie. “Kie Kouwkouw, kau salah. Roh seorang yang sudah meninggal dunia masih bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam dunia.”

Waktu Ceng Goe mengatakan begitu, Boe Kie ingat kedua orang tuanya. Ia mengharap supaya roh ayah dan ibunya masih tetap berada di alam baka dan nanti kalau ia sendiri menginggal dunia, ia akan bisa berkumpul lagi dengan kedua orang itu.

Tiap kok ie sian menghela napas. “Apa yang terjadi di alam baka tidak diketahui oleh manusia,” katanya. “Pada waktu itu, jalan pikiranku adalah begini, jika aku berdosa terhadap isteriku, di alam kemudian aku masih dapat memperbaikinya. Tapi jika aku melanggar janji..hai!..Selama hidupnya, adikku selalu menderita…Bagaimana aka tega untuk menyakiti rohnya?”

“Demikianlah, dengan menggunakan seluruh kepandaian, aku akhirnya berhasil menyembubkan sibangsat Sian Ie thong. Isteriku tidak ribut-tibut lagi, ia hanya berkata dengan suara dingin, “Bagus. Kepandaian Tiap kok ie sian Ouw Ceng Goe benar-benar tinggi. Tapi Tok Sian Ong Lan Kauw tak sudi menakluk. Sekarang marilah kita menjajal ilmu, untuk mendapat keputusan, Ie Sian atau Tok sian yang lebih tingggi! Mati-matian aku memohon maaf, tapi ia tidak meladeni.”

“Beberapa tahun isteriku memperdalami ilmunya dan telah maracuni beberapa orang Kangouw yang ternama. Sesudah meracuni, ia memberi petunjuk supaya orang-orang itu datang kepadaku. Tok soet isteriku ternyata sudah banyak lebih lihai, sehingga tempo-tempo aku tidak mendapat jalan untuk mengobati orang yang kena racunnya. Ditambah lagi dengan rasa sungkan untuk membangkitkan amarah isteriku, maka dalam menghadapi keracunan yang hebat, sudah gagal satu dua kali, aku menghentikan usahaku dan mengatakan saja bahwa aku tak mampu menolong lagi.”

“Tapi di luar dugaan, sikapku bahkan menambah kegusarannya. Ia menuduh bahwa aku sudah memandang rendah kepadanya dan bahwa aku sudah sengaja tidak mau mengeluarkan seantero kepandaianku. Dengan gusar ia meninggalkan Ouw tiap kok dan mengatakan bahwa biar apapun yang terjadi, ia takkan kembali kepadaku.”

“Selama berada di luar, berulang kali ia meracuni orang dan menyuruh orang-orang itu datang kepadaku. Kependaiannya makin tinggi, sehingga tempo-tempo aku tak tahu, siapa yang sudah meracuni penderita yang meminta pertolonganku. Dalam menghadapi penderita yang seperti itu, dengan menganggap bahwa dia bukan diracuni oleh isteriku, kadang-kadang aku memberi pertolongan dan menyembuhkannya. Belakangan baru kutahu, bahwa orang itu sebenarnya telah diracuni oleh isteriku. Demikianlah perhubungan kita jadi makin renggang.”

“Namaku Ceng Coe, atau Kerbau Hijau, sebenarnya lebih tepat jika nama itu diganti dengan ‘Kerbau Tolol’. Entah kebaikan apa yang sudah kuperbuat, sehingga aku dicintai oleh seorang wanita begitu mulia seperti isteriku itu dan hanyalah karena ketololanku, maka ia telah meninggalkan rumah dan hidup terlunta-lunta di luaran. Mengingat bahayanya dunia Kangouw, setiap saat, setiap detik, hatiku selalu memikiri keselamatannya”

Berkata sampai di situ, paras muka Tiap kok Ie sian kelihatan berduka sekali.

Siauw Hoe melirik Ong Lan Houw yang rebah di pembaringan, “di dalam dunia, siapa yang berani melanggar Ouw Hoejin?” katanya dalam hati. “Sudah bagus kalau orang lain tidak dilanggar olehnya. Sungguh lucu! Ouw Sinshe kelihatannya sangat takut pada isterinya.”

Sesudah berdiam sejenak, Ceng Goe berkata pula, “Pada tujuh tahun berselang, sepasang suami isteri yang sudah berusia lanjut kena racun hebat dan mereka datang di sini untuk meminta pertolongan. Mereka adalah majikan pulau Leng coa to, di laut Tong hay. Mereka memiliki ilmu silat yang luar biasa dan tingkatan mereka pun tinggi sekali. Puluhan tahun berselang, nama Kim Hoa Popo dan Gin yap Sianseng menggetarkan rimba persilatan.”

“Aku tidak berani lantas menolak secara tegas. Tapi cobalah kalian pikir, cara bagaimana aku berani membuat kesalahan lagi? Aku lalu memeriksa nadi mereka dan mengatakan, bahwa Gin-yap Sianseng sudah tak dapat diobati lagi, sedang kim-hoa Popo hanya kena racun enteng dan ia akan bisa menyembuhkan dirinya dengan menggunakan Lweekang sendiri. Aku diberitahukan bahwa yang meracuni mereka adalah seorang Pek to pay (Partai Unta putih) yang sangat lihai di wilayah See hek (Wilayah barat) dan tiada sangkut pautnya dengan isteriku. Tapi sesudah sesumbar bahwa selain anggauta Beng kauw, aku tak akan menolong orang lagi, maka aku tak bisa menjilat ludah sendiri hanya karena yang minta tolong orang jempolan. Nyonya tua itu memohon mohon supaya aku suka menolong seorang saja, yaitu suaminya, dan untuk itu, ia menjanjikan hadiah yang sangat besar. Kalian harus mengetahui bahwa di dalam rimba persilatan, Gin yap sian seng dan Kim hoa Popo sangat cemerlang dan bahwa mereka sudah mau membuka mulut untuk meminta pertolonganku, bagiku sudah merupakan muka yang sangat besar (kehormatan besar). Tapi demi kepentingan kami berdua suami-isteri aku tetap tidak mau menolong.”

“Untung juga mereka tidak menggunakan kekerasan. Sesudah yakin tak ada harapan, mereka pergi dengan perasaan duka. Aku mengerti bahwa karena penolakan-penolakanku untuk mengobati orang, aku sudah menanam banyak bibit perm suhan. Tapi kecintaan dan kerukunan antara aku dan isteriku masih lebih panting daripada kepentingan orang lain. Bagaimana pendapat kalian? Bukankah pendirian itu pendirian benar?”

Siauw Hoe dan Boe Kie membungkam, tapi di dalam hati mereka tentu saja sangat tidak menyetujui pendirian yang gila itu.

Sementara itu, Ouw Ceng Goe sudah berkata pula, “Waktu Gie Coen datang ke sini paling belakang ia mengatakan bahwa di tengah jalan dia bertemu dengan seorang nenek yang memberitahukan bahwa, sesuai dengan dugaanku, Gin Yap Sian seng sudah meninggal dunia karena racun itu. Sesudah Gie Coen berlalu, isteriku mendadak pulang. Melihat Boe Kie, ia segera menggunakan bie-yo (obat tidur), sehingga saudara kecil pulas nyenyak semalam suntuk.”

“Ah! Kalau begitu kerjaan Ong Lan Kouw,” kata si bocah di dalam hati. “Hari itu aku menduga, bahwa aku sakit.”

Sesudah melirik isterinya, Ceng Goe melanjutkan penuturannya, “Pulangnya isteriku tentu saja sangat menggirangkan. Iapun sudah mendengar bahwa Kim-Hoa Popo telah datang lagi di Tiong goan, sehingga biarpun masih mendongkol terhadapku, buru-buru ia pulang untuk memberitahukan hal itu kepadaku. Atas kemauannya, aku berpura-pura sakit cacar dan menolak untuk menemui orang. Kami mengunci diri di dalam kamar dan memikiri siasat untuk menghadapi Kim Hoa Popo. Ilmu silat nyonya tua itu terlalu lihai, sehingga tak mungkin kami melarikan diri. Tapi ia mempunyai adat yang aneh. Jika ia ingin membunuh seseorang, serangannya dibatasi dalam tiga kali. Kalau orang itu bisa menyelamatkan diri dari ke tiga tiga kali serangannya, maka ia akan mengampuninya.”

“Selang beberapa hari kemudian datanglah Sie Kong Wan, Kan Ciat, kau sendiri, Kie Kouwnio dan yang lain-lainnya sampai lima belas orang.”

“Begitu mendengar luka kalian, aku segera mengetahui, bahwa Kim Hoa Popo sengaja mau mencoba-coba aku, apakah aku masih tetap pada pendirianku, yaitu tidak mau menolong siapapun jua, kecuali murid Beng kauw. Luka kelima belas orang itu rata-rata luka yang sangat aneh. Aku adalah seorang yang keranjingan ilmu ketabiban. Begitu melihat luka atau penyakit aneh, tanganku lantas saja gatal dan ingin menjajal kepandaianku. Sekarang Kim Hoa Popo mengirim bukan satu, tapi lima belas orang. Kalian dapatlah membayangkan perasaanku. Tapi akupun mengerti maksud nenek itu, jika ada seseorang saja yang diobati olehku, celakalah aku. Ia pasti akan menyiksa aku ratusan kali lipat lebih hebat daripada orang yang diobati itu. Lantaran begitu, sambil menahan keinginan hati, aku tetap berpeluk tangan. Belakangan sesudah Boe Kie menanyakan pendapatku andaikata orang yang terluka adalah seorang murid Beng kauw, barulah aku memberi petunjuk. Tapi aku sangat berhati-hati dan sengaja menerangkan, bahwa Boe Kie adalah murid Boe tong pay dan tidak bersangkut paut dengan diriku.”

“Melihat bahwa dengan pertolongan Boe Kie, orang-orang itu mulai sembuh dengan cepat, Lan Houw kembali merasa tidak senang. Setiap malam, diam-diam ia menaruh racun di piring mangkok mereka. Dengan demikian, lagi-lagi ia bermaksud untuk mengadu kepandaian denganku. Kelimabelas orang itu rata rata adalah jago-jago rimba persilatan. Bagaimana ia bisa menyateroni tanpa diketahui? Sebelum menyebar racun, lebih dulu ia menggunakan obat tidur.”

Siauw Hoe dan Boe Kie saling mengawasi. Sekarang baru mereka mengerti, mengapa pada malam itu, Siauw Hoe begitu sukar disadarkan, sehingga Boe Kie sampai perlu menggoyang-goyangkan badannya.

“Selama beberapa hari ini, kesehatan Kie Kouw nio pulih dengan cepat, seperti juga racun isteriku tidak mempan lagi,” kata pula Ceng Goa. “Sesudah menyelidiki, ia mengerti bahwa rahasianya sudah diketahui Boe Kie, maka ia segera mengambil keputusan untuk mengambil jiwa Boe Kie. Hai!…Kata orang sungai dan gunung lebih mudah diubah daripada adat manusia. Aku harus mengakui, bahwa aku, Ouw Ceng Goe tidak cukup setia kepada isteriku. Sebenarnya aku sudah mengambil keputusan uatuk berpeluk tangan, tapi karena Boe Kie telah menasehati aku supaya aku menyingkir ke tempat lain, maka hatiku lantas saja menjadi lemah. Aku segera memberi resep istimewa padanya dengan menyebutkan Tong wie, Wan sie, Tok ho dan beberapa macam obat lain. Aku tidak dapat bicara terus terang, karena Tan Kouw berada di samping ku.”

“Tapi isteriku adalah seorang yang sangat cerdas dan juga mengenal ilmu ketabiban. Mendengar resep yang gila itu, sesudah mengasah otak beberapa lama, ia segera dapat menangkap maksudku yang sebenarnya. Ia lalu mengikat kaki tanganku dan mengambil beberapa macam racun yang lalu ditelannya. “Soeko,” katanya. “Aku dan kau sudah menjadi suami isteri selama dua puluh tahun lebih. Lautan bisa kering, batu bisa hanceur, tapi kecintaan kita tak akan bisa berubah. Tapi kau selamanya memandang rendah kepada Tok toet ku. Setiap orang yang diracuni oleh ku, selalu dapat di tolong olehmu. Sekarang aku sendiri menelan racun. Jika kau dapat menolong jiwaku aku takluk terhadapmu. Bukan main rasa kagetku, berulang-ulang aku minta ampun dan mengaku kalah. Tapi ia lalu menyumbat mulutku dengan buah tho, sehingga aku tidak dapat bicara lagi. Kejadian selanjutnya sudah diketahui kalian. Hai!…Boe Kie, kau berdosa terhadapku. Kau membalas kebaikan dengan kejahatan. Aku menasehati kau untuk menyingkirkan tapi kau berbalik melukai isteriku yang tercinta.” seraya berkata begitu ia menggeleng-gelengkan kepala.

Siauw Hoe dan Boe Kie saling mengawasi tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata. Mereka mendongkol tercampur geli. Sedang suami-isteri itu benar-benar aneh dan sukar dicari tandingannya di dalam dunia selebar ini. Karena rasa cinta yang besar Ouw Ceng Goe takut terhadap isterinya. Di lain pihak, Ong Lan Kouw terus menindih suaminya dan akhirnya ia bahkan meracuni diri sendri.

Sesudah menggelengkan kepala, Tiap kok ie sian berkata pula, “Cobalah kalian pikir, Apa yang harus diperbuat olehku? Kalau sekarang aku berhasil menyembuhkannya, itu akan berarti, bahwa kepandaianku lebih unggul dari pada kepandaiannya dan Lan Kouw tentu akan tetap merasa kurang senang. Jika aku gagal, jiwanya melayang. Hai! Aku mengharap Kim hoa Popo cepat-cepat datang supaya aku lekas-lekas mampus agar jangan merasakan penderitaan ini lebih lama lagi.”

Tiba tiba serupa ingatan berkelebat dalam otak Boe Kie, “Racun apa yang ditelan Soebo?” tanyanya. “Bagaimana mengobatinya?” (Soebo-Isteri dari seorang guru). Sambil berkata begitu, ia menggoyang-goyangkan tangan, sebagai isyarat supaya Ceng Goe tidak menjawab dengan sebenarnya.

Ceng Goe melirik isterinya yang sedang tidur menghadap ke dalam. Sebagai seorang yang sangat pintar, ia segera mengerti maksud bocah itu.

“Selama beberapa tahun kepandaian isteriku sudah maju jauh, sehingga aku tidak dapat menebak racun apa yang ditelannya,” jawabnya. “Dan sebelum mengetahui racunnya, aku tentu tak dapat mengobatinya.”

Selagi orang tua itu menjawab pertanyaannya, dengan jari tangan Boe Kie menulis huruf-huruf yang berbunyi begini di atas meja: “Beritahukanlah aku dengan tulisan”. Selagi menulis, mulutnya berkata, “Kalau begitu Soebo tak bisa diobati lagi”

“Isteriku sendiri pasti tahu cara mempunahkan racun itu,” kata Ceng Goa. “Tapi aku mengenal adatnya. Biarpun mati, ia tak nanti memberitahukan kepada kita.” Waktu berkata begitu, dengan telunjuknya ia menulis di atas meja. Racun Sam ciong Sam co. Sam ciong ialah kelabang, ular tanah dan laba-lain beracun, Sam co terdiri dari Cin po co, Toan chung co dan Siauw houw koen. Sesudah itu ia menulis juga resep obat.

(Sam ciong = Tiga macam binatang. Sam-co = Tiga macam rumput).

Boe Kie mengangguk dan lalu menulis pula di atas meja, “Kau telanlah Sam ciong Sam co. Sesudah kau meracuni diri sendiri, aku yang akan menolong”

Tiap kok Ie sian terkejut, tapi ia segera dapat menangkap maksud Boe Kie. “Jalan ini sangat berbahaya,” pikirnya. “Tapi karena tak ada lain jalan biarlah aku mencoba secara untung untungan.”

Sementata itu Boe Kie sudah berkata pula. “Ouw Sinshe, dengan memiliki kepandaian yang begitu tinggi, apakah bisa jadi kau tak tahu racun apa yang sudah ditelan Soebo?”

“Menurut dugaanku, ia telah menelan racun Sam ciong Sam-co,” jawabnya. “Sam ciong bersifat “im” (dingin), sedang Sam-co besifat “yang” (panas). Jangankan sampai enam macam, satu macam saja sudah sukar untuk diobati. Jika aku menggunakan obat yang sangatnya panas untuk mempunahkan racun binatang yang bersifat dingin, maka racun rumput yang panas akan menjadi jadi. Dan begitu juga sebaliknya. Tubuh manusia yang terdiri dari darah daging, tak akan bisa bertahan terhadap enam rupa racun yang hebat itu.” Ia mengibas tangannya dan berkata pula, “Kalian pergilah! Manakala Lan Kouw binasa, akupun tak bisa hidup sendirian di dalam dunia.”

“Kami harap Sinshe bisa menyayang diri dan coba membujuk Soebo,” kata Boe Kie.

Ceng Goe menghela napas. “Kalau dia bisa dibujuk, kejadian hari ini boleh tak usah terjadi,” Jawabnya dengan suara putus harapan.

Siauw Hoe dan Boe Kie lantas saja meninggalkan kamar itu.

Sesudah mereka berlalu, Tiap kok Ie sian segera menotok jalanan darah, di pinggangnya dan pinggang isterinya. “Soe-moay,” katanya dengan suara parau, “suamimu tak mempunyai kemampuan dan tak dapat memunahkan racun Sam ciong Sam co. Jalan satu-satunya ialah mengikuti kau ke dunia baka untuk menyambung perjodohan kita,” ia merogoh saku isterinya dan mengeluarkan beberapa bungkus obat, yang sesuai dengan dugaannya, berisi Sam ciong Sam co.

Karena ditotok, tubuh Lan Kouw tidak bisa berkutik, tapi mulutnya masih bisa bicara. “Soeko, tak boleh kau makan racun!” teriaknya dengan kaget.

Sang suami tidak meladeni. Ia membuka bungkusan bubuk racun yang lalu dimasukkan ke dalam mulutnya dan ditelan dengan bantuan air.

Paras muka Lan Kouw pucat pasti. “Soeko?” jeritnya. “Kau gila! Mengapa begitu banyak? Racun sebanyak itu dapat membinasakan tiga manusia.”

Tiap kok Ie kin tertawa dingin. Ia duduk menyender di kursi di samping kepala ranjang. Sesaat kemudian, perutnya seperti disayat ratusan pisau dan ia mengerti, bahwa Toan-chung co (Rumput memutuskan usus) sudah mulai bekerja. Tak lama lagi, lima racun yang lain juga turut mengamuk dan penderitaan Ceng Goe tak mungkin dilukiskan dengan perkataan.

“Soeko! Racun itu ada pemunahnya!” teriak Lan Kouw.

Sang suami menggigil, giginya bercatrukan dan ia berkata sambil menggelengkan kepala, “Aku…tak…percaya…”

“Lekas makan Giok liong Souw hap san!” teriak si isteri. “Gunakan jarum untuk membuyarkan racun!”

“Apa gunanya?” kata Ceng Goe.

Sekarang nyonya itu menangis, “Racun yang ditelan olehku sangat sedikit,” katanya: “Kau makan terlalu banyak. Oh Soeko!…Lekaslah tolong jiwamu…Kalau terlambat…tak keburu lagi…”

“Aku mencintai kau dengan segenap jiwa,” kata sang suami. “Tapi kau sendiri tak hentinya mengajak aku mengadu ilmu. Aku merasa, hidup lebih lama tiada artinya…aduh!…aduh!! Ia bukan berpura-pura, ketika itu racun ular dan lawa lawa sudah mulai menyerang jantung. Badannya bergoyang-goyang dan dilain detik, ia sudah tak ingat orang.

Semua kejadian itu didengar jelas oleh Siauw Hoe dan Boe Kie yang menunggu di luar pintu. “Soeko! Soeko!” Lan Kouw sesambat. “Akulah yang bersalah…Kau tidak boleh mati…aku tak akan mengajak kau mengadu ilmu lagi”

Sekarang Boe Kie menganggap bahwa sudah tiba waktunya untuk ia turun tangan. Ia menerobos masuk dan bertanya, “Soebo…lekas! Lekas! beritahukan cara menolong Soehoe!”

Lan Kouw girang tak kepalang. “Lekas berikan Giok liong Souw hap san kepadanya!” teriaknya. “Lekas! Ambil jarum emas dan tusuklah jalan darah Yong coan hiat dan kioe bwee hiat dan cepat!”

Pada detik itu, di luar kamar sekonyong-konyong terdengar suara batuk-batuk. di tengah malam buta, suara itu membangunkan bulu roma. Kie Siauw Hoe melompat masuk, paras mukanya pucat bagaikan kertas. Sambil melompat, ia berkata dengan suara heran, “Kim Hoa Popo…”

Hampir berbareng dengan perkataan popo tirai bergoyang dan di ambang pintu berdiri seorang nenek yang tangannya mencekal satu nona cilik yang berparas sangat cantik.

Nenek itu memang bukan lain daripada Majikan Pulau Leng coa to, Kim Hoa Popo. Melihat Ceng Goe mencekal perut dengan paras muka bersemu hitam dan berada dalam keadaan pingsan, ia terkejut dan bertanya, “Ada apa?”

Lan Kouw menangis keras, “Soeko! Soeko!” jeritnya. “Mengapa kau meracuni diri sendiri?”

Kedatangan Kim Hoa Popo di wilayah Tiong goan mengandung dua maksud. Pertama untuk mencari musuh yang telah meracuni suaminya dan kedua untuk memberi hukuman kepada Ouw Ceng Goe. Tak dinyana, ia bertemu Tiap kok Ie sian yang sudah hampir mati. Sebagai seorang ahli dalam ilmu menggunakan racun, begitu melihat paras muka Ceng Goe dan Lan Kouw, ia mengetahui, bahwa jiwa mereka sukar untuk ditolong lagi. Ia menduga, bahwa Ceng Goa sudah menelan racun karena takut hukuman yang mungkin dijatuhkan olehnya dan dengan adanya dugaan itu, rasa sakit hatinya lagtas saja menghilang. Ia menghela napas dan sambil menarik tangan si nona cilik, ia berjalan keluar. Di lain saat, suara batuk-batuk terdengar di luar rumah, dalam jarak puluhan tombak. Kecepatan bergeraknya nenek sungguh sukar dicari tandingannya.

Sesudah Kim hoa Popo berlalu, Boe Kie meraba dada Ceng Goe yang jantungnya masih mengetuk dengan perlahan.

Buru-buru ia mengambil Giok long Souw hap san yang lalu dicekukkan ke mulut orang tua itu dan kemudian mengambil jarum emas untuk menusuk Yong coan hiat dan Kioe bwee hiat, supaya hawa beracun bisa keluar dari lubang tusukan. Sesudah menolong sang Soehoe, barulah ia menolong Soebo.

Setengah jam kemudian, perlahan-lahan Tiap kok ie sian tersadar. Rasa syukur dilukiskan, ia menaagis dan berkata, “Saudara kecil! kau adalah tuan penolong kami yang sudah menolong jiwa kami berdua.”

“Sekarang kalian boleh tak usah berkuatir lagi.” kata Boe Kie. “Kim hoa Popo yang menduga kalian pasti akan binasa, sudah berlalu tanpa mengatakan sepatah kata.”

“Tapi aku masih tetap berkuatir,” kata sang Soebo. “Kim hoa Popo adaiah seorang yang sangat berhati-hati. Biarpun hari ini ia sudah pergi, di lain hari ia pasti akan datang pula untuk menyelidiki. Kami berdua harus menyingkirkan diri. Saudara kecil, aku ingin meminta pertolonganmu. Buatlah dua buah kuburan kosong dan tulisilah nama kami di atas batu nisan.”

Si bocah mengangguk sebagai tanda ia akan melakuknn permintaan itu.

Ceng One dan Lan Kouw segera berkemas dan malam itu juga, dengan menumpang sebuah kereta keledai, mereka berangkat meninggalkan Ouw tiap kok. Boe Kie mengantar mereka sampai di mulut selat. Sesudah berkumpul dua tahun lebih dan sekarang meski berpisahan secara mendadak, Ceng Goe dan Boe Kie merasa sangat terharu.

Sambil mengangsutkan sejilid buku tulisan tangan kepada si bocah, orang tua itu berkata, “Boe Kie, semua pelajaranku sudah tercatat dalam buku ini. Aku menghadiahkannya kepadamu. Aku merasa sangat menyesal bahwa racun Hian beng Sin ciang dalam tubuhmu masih belum dapat disingkirkan. Aku mengharap, bahwa sesudah mempelajari buku ini, kau sendiri akan mendapat jalan untuk mempunah racun itu. Dengan berkah Tuhan, di hari kemudian kita masih bisa bertemu lagi”

Sambil menghaturkan banyak terima kasih, Boe Kie menerima hadiah itu.

“Boe Kie,” kata Lan Kouw, “kau bukan saja sudah menolong jiwa kami, tapi juga sudah mengakurkan kami berdua suami isteri. Menurut pantas, akupun harus memberikan semua pelajaran kepadamu… Hanya sayang apa yang dipelajari olehku ada ilmu ilmu meracuni manusia yang tiada faedahnya. Aku hanya dapat memohon pada Tuhan Yang Maha Esa, supaya kau sembuh dalam tempo agar di hari kemudian aku masih bisa membalas sedikit budimu.”

Demikianlah, dengun rasa duka, mereka berpisahan.

Sesudah kereta itu tak kelihatan bayangan-bayanganya lagi, barulah Boe Kie kembali ke rumah Ceng Goe yang sudah kosong. Pada esokan paginya, ia segera membuat dua buah kuburan di samping rumah dan kemudian memanggil tukang batu untuk mendirikan bong pay (batu nisan). Di atas sebuah bong pay tertulis. “Kuburan Tiap kok Ie sian, Ouw Sinshe, Ceng Goe”, sedang di lain bong pay tertulis. “Kuburan Nyonya Ouw, Ong sie”

Kan Ciat, Sie Kong Wan dan yang lain-lain percaya, bahwa kedua suami-isteri itu telah meninggal dunia karena sakit cacar.

Sesudah pengacaunya berlalu, dengan diobati Boe Kie, semua orang sembuh dengan cepat sekali. Dalam sepuluh hari, mereka semua sudah berlalu dengan menghaturkan banyak terima kasih.

Selama beberapa hari, Boe Kie memusatkan seluruh perhatiannya kepada buku yang diberikan oleh Tiap kok ie sian. Ia mendapat kenyataan bahwa isi buku itu benar-benar hebat, berisi resep-resep luar biasa dan macam-macam cara untuk mengobati berbagai penyakit yang aneh-aneh. Sungguh tak malu Ouw Ceng Goe mendapat gelaran Ie sian.

Tapi sesudah mempelajari delapan sembilan hari, ia masih juga belum dapat membaca Keterangan tentang cara mengusir racun Hian beng Sin ciang. Ia memikir bolak-balik, mengasah otak Siang malam, tapi tetap tidak berhasil. Ia jadi putus harapan.

Hari itu, dengan perasaan tertindih ia jalan-jalan di luar rumah. Sambil mengawasi keduaku kuburan kosong itu, ia berkata dalam hatinya, “Setahun lagi, siapakah yang akan mengubur mayat ku?” Mengingat begitu, hatinya sedih dan air mata nya mengucur.

Sekonyong-konyong dibelakangnya terdengar suara batuk-batuk. Ia kaget, dan memutar badannya. Orang yang berdiri dibelakangnya ternyata bukan lain daripada Kim hoa Popo yang sedang mencekal tangan si gadis kecil

“Anak kecil, pernah apakah kau dengan Ouw Ceng Goe?” tanya si nenek. “Mengapa kau menangis di depan kuburannya ?”

Jawab Boe Kie, “Aku kena racun Hian beng Sin ciang…”

Si nenek mengangsurkan tangannya dan memegang nadi Boe Kie. “Siapa yang memukul kau?” tanyanya dengan suara heran.

Boe Kie menggelengkan kepala. “Entahlah,” Jawabnya. “Orang itu menyamar seperti seorang perwira Mongol. Aku tak tahu siapa adanya dia. Aku datang kemari untuk meminta pertolongan Ouw Sinshe, tapi ia tak sudi menolong. Sekarang ia meninggal dunia dan penyakitku tentu tak dapat diobati lagi. Itulah sebabnya mengapa aku menangis.”

Melihat paras muka si bocah yang sangat tampan dan gerak-geriknya yang menarik. Kim hoa Popo merasa kasihan sehingga ia menghela napas panjang dan berkata.” Sayang, sungguh sayang!”

Dua tahun yang lalu, waktu baru diberitahukan bahwa racun Hian beng Sin ciang sukat diobati, Boe Kie ketakutan. Belakangan, sesudah berbagai usaha gagal, ia putus harapan dan jadi nekad. Ia sudah tidak memikiri lagi soal mati dan hidupnya. Maka itu, mendengar perkataan si nenek, ia tertawa dingin dan berkata. “Mati atau hidup tak bisa diminta secara paksa. Apakah seseorang yang serakah yang ingin hidup terus-menerus bukan seorang yang sedang mabuk Entahlah. Apakah seseorang yang takut mati bukan seperti seorang kanak-kanak yang kesasar dan tidak mengenal jalan pulang? Entahlah. Apakah seseorang yang sudah meninggal dunia tidak merasa menyesal bahwa ia dahulu ingin sekali dilahirkan di dalam dunia? Inipun tak diketahui olehku,”

Si nenek terkesiap. Untuk sementara ia tidak mengeluarkan sepatah kata dan coba memecahkan maksud perkatan si bocah.

Kata-kata itu adalah petikan dari kitab Lam hoa keng gubahan Cong coe -Chuang tse-. Sebagai mana diketahui Thio Sam Hong menganut agama Too kauw tapi ketujuh muridnya tidak turut memeluk agama tersebut. Meskipun begitu, mereka terus mempelajari Lam Hoa keng semasak-masaknya.

Waktu berada di pulau Peng bwee to, karena tak ada buku dan perabot tulis, Thio Coei San mengajar ilmu surat kepada puteranya dengan menulis huruf di atas tanah. Antara lain, ia telah menyuruh anaknya menghafal kitab Lam-hoa-keng.

Kata-kata yang dikutip Boe Kie mengandung makna yang seperti berikut: Hidup belum tentu senang dan mati belum tentu menderita, sehingga pada hakekatnya hidup atau mati tidak banyak perbedaannya. Seseorang yang hidup di dunia seperti sedang mimpi dan kalau ia mati, ia seperti tersadar dari mimpinya. Mungkin sekali, sesudah mati, rohnya menyesal mengapa dahulu dia hidup di dalam dunia dan mengapa dia tidak mati terlebih siang. Demikianlah kira-kira arti perkataan itu.

Sebagai seorang bocah, Boe Kie sebenarnya belum mengerti soal mati atau hidup. Tapi karena selama kurang lebih empat tahun setiap hari ia berada antara mati dan hidup, maka sedikit banyak ia dapat menyelami juga arti perkataan Cong coe. Tanpa merasa, ia mengharap supaya sesudah mati, ia akan berada di tempat yang bahagia, supaya ia bisa berkumpul lagi dengan roh kedua orang tuanya, sehingga kematiannya banyak lebih menyenangkan dari pada hidup sebatangkara di dalam dunia yang lebar ini.

Bagi Kim Hoa Popo, perkata itu telah mengingatkannya kepada sang suami yang sudah almarhum. Puluhan tahun, dengan penuh kecintaan mereka bersuami isteri. Tiba-tiba pada suatu hari, sang suami yang tercinta telah berpulang ke alam baka, seperti seorang pelancong yang pulang ke negeri sendiri. Mengingat begitu, di dalam hatinya segera muncul satu pertanyaan, “Apakah kebinasaan suami itu bukan kejadian yang tidak terlalu jelek?”

Dengan perasaan heran si nona cilik yang berdiri di samping Kim Hoa Popo mengawasi muka si nenek dan kemudian melirik Boe Kie. Ia tidak mengerti perkataan Boe Kie dan juga tidak mengerti mengapa neneknya bengong terlongong-longong.

Beberapa saat kemudian, Kim Hoa Popo menghela napas dan berkata, “Soal mati atau hidup tak bisa diketahui manusia. Biarpun kematian belum tentu merupakan suatu kejadian yang menakuti, tapi pada umumnya manusia takut mati. Benar! Manusia tidak bisa meminta secara paksa. Pada akhirnya, satu hari semua manusia akan mati. Akan tetapi, jika bisa hidup satu hari lebih lama, orang lebih suka hidup satu hari lebih lama!”

Melihat sikap dan perkataan si nenek yang lemah-lembut, hati si bocah jadi tenang tenteram. Sesudah menyaksikan lukanya ke lima belas orang dan rasa takutnya Ouw Ceng Goa, Boe Kie menganggap nenek itu sebagai siluman kejam. Tapi sekarang, melihat paras Kim hoa Popo yang penuh kecintaan dan sikapnya yang ramah-tamah, ia merasa, bahwa si nenek menyayangnya dengan setulus hati, sehingga dengan demikian rasa takutnya banyak berkurang.

“Nak,” kata pula nenek itu, “Siapakah ayahmu dan di mana ia sekarang?”

Tanpa tedeng-tedeng, secara ringkas Boe Kie segera memberi jawaban dan menuturkan sebab-musabab sehingga dia berada di Ouw tiap kok.

“Kalau begitu kau adalab putera Boe tong Thio Ngohiap,” kata Kim hoa Popo dengan suara heran. “Menurut pendapatku orang itu melukakan kau dengan Hian beng Sin ciang karena dia ingin memaksa kau memberitahukan tempat sembunyinya Cia Soen. Bukankah begitu ?”

“Benar” Jawab Boe Kie. “Dia telah menyiksa aku dengan berbagai cara, tapi aku tetap membungkam.”

“Tapi apa kau tahu di mana adanya Cia Soen ?” tanya pula si nenek.

“Kim mo Say ong adalah ayah angkatku.” jawabnya. “Tapi biar bagaimanapun jua, aku tak akan memberitahukan kepada siapapun jua.”

Mendadak si nenek membalik tangannya dan mencekal kedua tangan Boe Kie yang lalu dipijit keras-keras. Si bocah berteriak keras, matanya berkunang-kunang. Pijitan itu bukan saja hebat, tapi dari tangan si nenek juga keluar semacam hawa dingin yang menyerang dadanya. Hawa dingin itu berbeda dengen hawa Hian beng Sin ciang, tapi sama hebatnya.

“Anak baik,” kata Kim Hoa Popo, “Beritahukanlah di mana adanya Cia Soen? Sesudah kau memberitahukan, aku akan mengusir racun dari tubuhmu dan juga akan memberikan semacam ilmu silat yang tiada duanya kepadamu.”

Sambil menahan sakit, Boe Kie menjawab dengan suara tetap. “Kedua orang tuaku telah mengorbankan jiwa karena tidak mau menjual sahabat. Kim Hoa Popo, apakah kau memandang aku
sebagai manusia yang bisa menjual ayah ibunya?”

Advertisements

1 Comment »

  1. hebat hebat cerita ini sulit dicari bandingannya…

    Comment by kusuma — 06/04/2010 @ 9:16 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: