Kumpulan Cerita Silat

04/08/2008

Kisah Membunuh Naga (24)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:42 am

Kisah Membunuh Naga (24)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Nona Poet Hwie ini adatnya sangat polos dan wajar. Sedari masih kecil sekali, kecuali ibu dan pengasuhnya, ia tidak pernah bertemu sama lain orang. Sekarang ibunya terluka parah, mereka pun dalam kesukaran besar, sekarang ia menyaksikan Boe Kie menolongi ibunya itu yang nyerinya menjadi ringan sekali. Ia bersyukur bukan main. Adalah kebiasaannya, kalau ia mengutarakan kegirangan dan rasa syukurnya, suka ia berlompat kepada mereka, untuk memeluk atau merangkul, untuk mencium pipi mereka. Kebiasaan ini sekarang ia melakukannya terhadap Boe Kie tanpa malu.

“Hus!” Siauw Hoe berseru. “Jangan begitu Hwie-jie Kakak Boe Kie tidak senang nanti!”

Poet Hwie mementang kedua matanya, ia heran.

“Apakah kau tidak senang padaku?” ia tanya Boe Kie. “Kenapa aku tidak boleh berlaku baik kepadamu?”

Boe Kie tertawa.

“Aku girang!” sambutnya. “Aku suka berbuat baik terhadapmu!” Dan ia membalas mencium pipi yang halus dari nona cilik itu.

Poet Hwie girang bukan main, ia menepuk-nepuk tangan.

“Hai, tabib kecil, lekas kau obati ibu, supaya ibu sembuh seluruhnya!” ia berseru. “Nanti aku cium pula padamu!”

Tidak kepalang girangnya Boe Kie mendapatkan orang demikian manja dan lincah. Selama belasan tahun hidupnya, ia telah bergaul sama banyak orang, tetapi mereka itu adalah paman-pamannya dan Siang Gie Coen juga masih lebih tua delapan tahun daripadanya. di dalam perahu ia pernah bertemu sama Coe Tit Jiak, akan tetapi pertemuan itu sangat pendek, belum ada satu hari mereka sudah mesti berpisah pula. Jadi belum pernah ia bergaul sama sahabat-sahabat cilik sebayanya. Maka itu, mendapati nona ini, ia berpikir. “Jikalau aku mempunyai adik benar sekecil ini, yang begini menarik hati, pastilah aku sering mengajak dia pergi bermain-main…”

Dalam usia empat belas tahun, anak yatim piatu ini masih kekanak-kanakan. Ia kehilangan ketikanya untuk bermain-main seperti anak-anak yang kebanyakan.

Sementara itu Kie Siauw Hoe telah menyaksikan semua hadirin yang pada terluka. Ia merasa malu untuk mendahului mereka.

“Tuan-tuan ini datang terlebih dulu daripada aku, pergi kau periksa mereka lebih dulu,” ia kata pada Boe Kie. Ia tidak ketahui duduknya hal. “Sekarang ini sakitpun berkurang banyak.”

“Mereka datang untuk berobat kepada Ouw Sin she,” Boe Kie mengasih tahu. “Cuma sekarang ini Ouw Sinshe sendiri lagi sakit. Mana dia bisa mengobati orang? Mereka tidak mau berlalu, maka itu biarlah mereka terus menunggu. Kouwkouw, kau bukannya mencari Sinshe, jikalau kau percaya keponakanmu ini, mari sini, biar aku periksa lebih jauh lukamu. Sudah lama juga aku berdiam di sini, tentang luka-luka aku mengetahui sedikit.”

Sebenarnya Kie Siauw Hoe yang mendapat suatu petunjuk, datang ke lembah ini untuk mencari Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe. Ia datang dengan serupa maksud dengan Kan Ciat beramai itu.

Maka itu, melihat keadaannya Kan Ciat semua, ia heran siapa tahu duduknya hal sederhana saja. Ia lantas mengerti bahwa Ouw Ceng Goe tidak berniat menolongi mereka itu. Tapi mengenai Boe Kie, kepercayaannya lantas muncul. Bukankah ia telah ditusuk berulang-ulang dan sekarang rasa nyerinya telah berkurang banyak? Ia jadi tidak boleh memandang enteng kepada usia bocah ini.

“Baiklah.” katanya kemudian. “Aku terima kasih padamu ! Tidak apa tabib besar tidak mau mengobati aku, asal ada kau si tabib kecil…”

Boe Kie lantas minta bibi itu masuk ke kamar samping di mana ia lantas bekerja. Lebih dulu ia guntingi bajunya si bibi di bagian tubuhnya yang terluka. Ia mendapatkan tiga luka bacokan golok dibahu, sambungan pundaknya telah menggeser dari tempatnya. Di lengan juga ada tulang yang remuk. Di matanya tabib yang kebanyakan, luka-luka itu ialah luka luka yang sukar untuk di obati, tetapi di mata muridnya Ouw Ceng Goe, itulah luka-luka biasa. Maka Boe Kie lebih dulu menyambung rapi dulu, tulang yang berkisar itu, habis mana ia memborehkan obat. Kemudian lagi, ia membuat surat obat, yang obatnya ia suruh kacung memasaknya matang. Ia belum biasa membalut luka tapi toh, walaupun rada lambat, dapat menyelesaikan juga tugas ketabibannya itu.

“Kouwkouw, sekarang silahkan kau beristirahat dulu,” katanya akhirnya. “Sebentar, setelah habis kekuatan dari obat ini, kau akan merasa sakit luar biasa.”

“Terima kasih!” menyahut bibi itu.

Boe Kie pergi ke kamar obat untuk mencari buah ongoo dan buah heng. Ia bawa itu untuk dikasihkan pada Poet Hwie. Ketika ia kembali, si nona sudah tidur menyender kepada ibunya sebab dia telah tidak tidur satu malaman. Dari itu ia masuki saja buah-buahan itu ke dalam saku si nona. Lantas ia kembali ke depan.

Pria yang muntah darah itu, orang Hoa san pay, lantas berbangkit. Ia menjura dalam terhadap si anak tanggung.

“Siauw Sinshe.” katanya. Ia memanggil “Siauw Sinshe” atau tabib kecil. “Oleh karena Ouw Sin she lagi sakit, kau saja yang menolong mengobati kami. Pasti kami akan sangat bersyukur terhadap mu…”

Boe Kie mengawasi orang itu dan kawan-kawannya. Sebenarnya semenjak ia belajar ilmu kecuali mengobati Siang Gie Coen dan Kie Siauw Hoe ini, belum pernah ia mencoba terlebih jauh kepandaiannya itu. Akan tetapi ia ingat kata-katanya Ouw Sinshe, ia menguasai dirinya.

“Rumah ini rumah Ouw Sinshe,” ia berkata. “Dan aku sendiri, adalah orang yang menderita sakit yang berada di bawah rawatannya, mana berani aku melancangi tuan rumah ”

Orang Hoa San Pay itu mengawasi si bocah, ia seperti dapat menerka hati orang.

“Memang umumnya, seorang tabib kenamaan mesti telah berusia lima atau enam puluh tahun.” ia berkata untuk mengumpak, “Maka itu luar biasa Siauw Sinshe, yang usianya masih muda sekali tetapi kepandaiannya kau sangat langka. Maka itu. Sinshe, aku mohon sukalah kau menolongi kami?”

Si orang teromong itu adalah she Nio yang romannya seperti hartawan turut bicara.

“Kami empat belas orang, di dalam kalangan kang ouw, kami mempunyai juga sedikit nama,” katanya, “Maka itu, jikalau kami dapat ditolong oleh Siauw Sinshe, setelah kami pulang nanti, pasti kami akan mengabarkan kepandaian Sinshe ini supaya namanya menjadi kesohor hingga di dalam satu malam, kau akan jadi terkenal di seluruh negeri!”

Dasar masih terlalu muda, dan tidak punya pengalaman, Boe Kie tertarik kata-kata yang mengumpak-umpak itu, hatinya menjadi girang.

“Apakah bagusnya nama kesohor di seluruh negeri?” katanya. “Ouw Sinshe sendiri tidak dapat menolong kalian, apalagi aku? Apakah yang aku bisa bikin? Agaknya luka kamu bukannya enteng, maka begini saja, aku akan membantu meringankan rasa nyerimu.”

Lantas ia mengambil obat-obatan guna memberi pertolongannya. Ketika ia sudah melihat luka orang orang itu, ia menjadi heran. Nyata, setiap luka itu beda satu dari lain, semuanya bukan luka-luka biasa.

Belum pernah Ouw Ceng Goe mengajari ia tentang bermacam macam luka semacam ini. Ada seorang yang rupanya telah dipaksa menelan beberapa puluh batang jarum, ada orang perutnya tengoncang, tergempur tenaga dalam, ada yang beberapa jalan darahnya telah terlukakan racikan pisau. Semua itu menandakan, si pembuat luka juga mengerti itu tabib baik sekali. Semua itu ialah luka-luka yang sangat sukar diobatinya.

Ada lagi orang yang pinggiran peparunya terpaku hingga tak hentinya dia batuk-batuk dan mengeluarkan darah, ada pula orang yang tulang-tulang iganya pada patah tetapi luka itu tidak mengganggu peparu atau jantungnya. Seorang lagi terkutungkan kedua ujung tangannya lalu tangan tangan yang buntung itu, yang kiri ditaruh ke bahu kanan, yang kanan ditaruh di bahu kiri. Masih ada pula yang bengkak selurub tubuhnya seperti bekas dipagut kelabang atau binatang berbisa lainnya.

“Semua luka mereka luar biasa. Tidak satu juga yang aku bisa obati,” pikirnya. “Orang yang membuatnya luka itu hebat sekali, dia lihai. Kenapa dia menyiksa orang sampai begini?”

Karena memikir begini, ia menjadi ingat lukanya Kie Siauw Hoe.

“Luka bibi terlihat biasa saja, apakah bibipun mendapat luka di dalam?” pikirnya pula kaget. “Kalau tidak, mengapa bibi seorang yang dikecualikan?”

Lekas lekas ia meninggalkan Kan Ciat semua. Ia lari ke dalam. Segera ia memeriksa nadinya Siauw Hoe. Ia menjadi kaget. Ia mendapatkan nadi si bibi bergerak-gerak, sebentar keras, sebentar kendor, atau sebentar lagi jalannya lurus dan serat bergantian. Pasti itu disebabkan sesuatu dari dalam tubuh. Ia kaget sebab ia tidak mengerti akan perubahan itu.

Keempat belas orang itu aneh lukanya, ia tidak memikirkannya. di antara mereka itu ada orang Khong tong pay, yang ada sangkut pautnya dengan kebinasaan ayah dan ibunya, jikalau mereka tersiksa, pantaslah juga. Akan tetapi Kie Siauw Hoe, bibinya ini, tidak dapat ia tidak menolongnya. Maka lekas-lekas ia pergi ke kamarnya Ouw Ceng Goe, “Sinshe! Apa sinshe sudah tidur ?” ia tanya perlahan.

“Ada apa?” ia mendapat jawaban. “Tidak peduli siapa, aku tidak akan mengobatinya!”

“Ya, sinshe. Hanya luka mereka itu, semuanya luka yang aneh-aneh…”

Boe Kie lantas saja menurunkan tentang semua luka itu.

Ouw Ceng Goa, yang teraling dengan sekosol mendengari. Kalau ada yang ia tidak mengerti ia menanya tegas, untuk itu. Boa Kie mesti pergi keluar kepada orang-orang yang luka itu, untuk memeriksa pula selanjutnya untuk ia memberikan jawabannya yang terang kepada Tiap kok Ie sian. Oleh karena ini, setengah jam tempo dibutuhkan untuk mendapat tahu jelas lukanya semua limabelas orang itu berikut Siauw Hoe.

Beberapa kali Ouw Sinshe mengasih dengar suara tidak terang, agaknya ia terang berpikir, banyak kemudian, ia kata “Hm semua luka itu tidak akan dapat menyulitkan aku!”

Belum lagi Boe Kie sempat menanya, tiba-tiba ada orang yang bersuara di belakangnya katanya: “Ouw Sinshe, pemilik bunga emas itu telah membilangi aku, untuk aku menyampaikan kepada kau. Dia bilang. “Kecewa kau dipanggil Tiap kok Ie sian, sebab limabelas macam luka ini, aku menduga tidak satu yang kau sanggup sembuhkan.” Haha ! Benar-benar sekarang kau menyembunyikan diri, kau berpura-pura sakit!”

Boe Kie berpaling. Ia mengenali si orang tua berkepala lanang Seng Cioe Ka lam Kan Ciat dari Khong tong pay. Tadinya ia menyangka rambut orang rontok wajar, kemudian ia mendapat tahu, rambut itu rontok sebab kepalanya si gundul pernah dilabur obat yang sifatnya keras oleh si pemilik bunga emas atau Kim hoa hingga rambutnya habis. Bahkan sisa obat beracun menempel dan menembusi kulit, hingga selanjutnya kepala menjadi gatal terus-terusan, hingga ada kekuatiran, selewatnya beberapa hari, racun yang jahat itu nanti menyerang otak, hingga orang bisa menjadi gila. Sekarangpun kedua tangannya dirantai oleh kawan-kawannya, supaya tidak dapat menggaruk, kalau tidak, tidak nanti dia dapat melawan rasa gatalnya itu.

Atas kata-kata jago Khong tong pay itu, Ouw Ceng Goe kata dengan tawar, “Untukku, aku dapat menyembuhkan syukur, tidak dapatpun tidak apa. Ringkasnya, aku tidak mau mengobati kau! Aku lihat kau masih dapat hidup sampai tujuh atau delapan hari lagi, karena itu baiklah kau lekas pulang untuk menemui isteri dan anak-anakmu, orang sedalam rumah tangga! Apa perlunya kau banyak omong di sini? Apakah faedah nya itu ?”

Kan Ciat menggoyang-goyangkan kepalanya. Selagi mendongkol, berduka dan berkuatir, rasa gatalnya menyerang hebat sekali. Karena ia tidak bisa menggaruk, ia membenturkan kepalanya berulang ulang kepada tembok, sedang kedua tangannya yang digerak-gerakkan, mendatangkan suara berkelontrangan yang berisik. Dan terdengar jelas napasnya yang memburu.

“Ouw Sinshe, orang yang menggunakan bunga emas itu, siang atau malam, bakal datang kemari!” Ia berkata dengan sengit. “Aku juga telah melihat bahwa kaupun tidak bakalan mati secara baik, maka itu, aku pikir baiklah kita bergabung bekerja sama melawan dia. Bukankah ada terlebih baik begitu dari pada kau nantikan kematianmu dengan tidak berdaya?”

“Jikalau kamu semua masih dapat melawan dia, siang-siang kamu telah membunuh mampus padanya,” kata Ouw Ceng Goe “Apakah perlunya aku mendapatkan lima belas kantong nasi yang tidak mempunyai guna?”

Kan Ciat menjadi putus asa. Dari omong keras, ia menjadi merendah, memohon pertolongan tabib pandai itu. Tetapi Ouw Ceng Goe sudah bertekad dengan keputusannya, bahwa ia tidak mau ambil perduli.

Akhirnya Kan Ciat menjadi gusar, hingga ia berjingkrakan.

“Baiklah!” serunya saking nekad. “Ke kiri dan ke kanan toh bakal mampus, maka kalau benar benar musti mampus, baiklah, aku akan menggunakan api membakar kandang anjingmu ini. Kami yang biasa memasuki golok putih bersih dan mengeluarkan golok berdarah merah, biar kami membikin terjungkal kau. Pendeta bangsat! Biarlah kita sama-sama mengantarkan jiwa kita di tempat ini!”

Saat itu, dari luar masuk lagi seorang lain, yaitu orang yang ditolong Boe Kie waktu mau muntahkan darah. Melihat kekalapan Kan Ciat ia meraba pinggang dan mengeluarkan sebatang Go bie Kong-cek (senjata semacam pusut). Sambil menotol dada Kan Ciat dengan pusutnya, ia berkata, “Kau berdosa terhadap Ouw Cianpwee, dan aku si-orang she Sie, merasa sangat tidak enak. Kau ingin yang masuk pisau putih, yang keluar pisau merah? Baiklah! Aku akan mengiringi keinginanmu.”

Ilmu silat Kan Ciat sebenarnya tebih tingga daripada si orang she Sie. Tapi karena kedua tangannya diikat dengan rantai besi, maka ia tak melawan dan hanya mengawasi dengan mata membelalak.

“Ouw Cianpwee,” kata si orang she Sie dengan suara nyaring, “boanpwee Sie Kong Wan murid Sian ia Sianseng dari Hoan san memberi hormat.” Seraya berkata begitu, ia menekuk lutut dan manggutkan kepala empat kali.

Melihat begitu, dalam hati Kan Ciat lantas saja timbul sedikit harapan. Ouw Ceng Goe yang tidak dapat dipaksa dengan kekerasan, mungkin dapat ditataki dengan kelembekan.

Sesudahnya menjalankan peradatan besar, Sie Kong Wan berkata pula, “Kami sungguh bernasib sial, karena justeru pada waktu kami memerlukan pertolongan, Ouw Siashe sakit. Tapi kami tahu, bahwa di sini terdapat seorang saudara kecil yang mempunyai kepandaian tinggi dalam ilmu pengobatan. Maka itu, kami memohon Ouw Cianpwee suka memberi permisi supaya saudara kecil itu mengobati luka kami yang sangat luar biasa. Di kolong langit, kecuali murid Tiap kok le Sian tiada orang lain yang dapat menyembuhkan luka kami.”

“Anak itu bernama Thio Boe Kie,” kata si tabib malaikat dengan suara tawar. “Dia putera Thio Sam Hong. Aku Ouw Ceng Goe manusia jahat dari agama siluman tak ada sangkut pautnya dengan murid dari partai yang lurus bersih. Dia sendiri kena racun dingin dan meminta pertolonganku, Tapi aku sudah bersumpah, bahwa kecuali anggota Beng kauw, anak she thio itu tak sudi menjadi anggauta agama kami, mana biasa aku menolongnya?”

Hati Sie Kong Wan mencelos. Semula ia menduga, Boe Kie murid Tiap kok Ie sian.

Sesudah berdiam sejenak, si tabib berkata pala. “Mengapa kamu tidak mau lantas berlalu dari situ? Huh-huh! Apa kamu kira aku akan merasa kasihan? Tanyakanlah anak itu. Tanya dia berapa lama dia sudah berdiam dirumahku.”

Sie Kong Wan dan Kan Ciat lantas saja mengawasi Boe Kie yang lalu mengacungkan dua jari tangannya.

“Dua puluh hari?” tanya Sie Kong Wan.

“Dua tahun dua bulan tepat” jawabnya.

Kan Ciat dan Sie Kong Wan merasa kepala mereka seperti disiram air es. Mereka saling mengawasi dengan mulut ternganga.

“Biarpun dia berdiam di sini sepuluh tahun, aku tetap tidak menolongnya,” kata Ceng Goa, “Hanya sayang di dalam tempo satu tahun, racun dingin yang mengeram dalam isi perutnya akan mengamuk, sehingga biar bagaimanapun jua, dia tak bisa hidup setahun lagi. Aku pernah bersumpah di hadapan leluhur agama kami, bahwa biarpun ayah sendiri, biarpun anak kandungku sendiri, aku tetap tak akan menolong, jika ia bukan murid Beng keuw.”

Dengan putus harapan Kan Cat dan Sie Kong Wan menghela napes berulang-ulang. Tapi baru saja mereka mau berjalan keluar, tiba-tiba Ouw Ceng Goe berkata, “Bocah Boe tong pay itu mengerti juga sedikit ilmu pengobatan. Meskipun ilmu pengobatan Boe tong tidak dapat menandingi ilmu ketabiban Beng kauw, kurasa dia tidak akan membinasakan kamu dengan pengobatan yang keliru. Apa dia suka monolong atau tidak, bukan urusanku”

Sie Kong Wan agak terkejut. Didengar dari pada suaranya, si tabib malaikat seperti juga memberi isyarat supaya Boe Kie memberikan pertolongan. Maka itu, ia lantas saja berkata: “Jika Thio Siauw hiap sudi menolong, kami mempunyai haranan lagi untuk bisa hidup terus.”

“Bukan urusanku!” bentak Ceng Goa. “Boe Kie kau dengarlah. Aku melarang kau mengobati mereka dalam rumahku. Kalau kamu tidak berada dalam rumah ini, aku tidak perduli.”

Kan Ciat dan Sie Kong Wan kaget dan heran. Mereka sungguh tak mengerti apa maksudnya si tabib malaikat yang beradat aneh.

Tapi Boe Kie yang sangat pintar lantas saja tahu apa maunya Ceng Goe. “Kalian jangan mengganggu Ouw Sinshe yang sedang sakit,” katanya. “Ikutlah aku.”

Mereka lalu mengikutt Boe Kie ke ruang depan.

“Pengetahuanku tentang ilmu ketabiban sebenarnya sangat cetek dan luka kalian sangat luar biasa,” kata si bocah. “Maka itu.. aku tidak mempunyai pegangan, apa aku akan berhasil atau tidak. Jika kalian percaya dan rela diobati olehku, bolehlah aku mencoba-coba. Tapi aku tidak bertanggung jawab akan keselamatan jiwa kalian.”

Waktu itu, mereka sedang menderita hebat. Rasa sakit gatal, meluang dan kesemutan tercampur menjadi satu. Mereka mau mati tidak bisa mau hidup pun tidak dapat. Maka itu, begitu mendengar perkataan Boe Kie, mereka segera menyetujui untuk menerima pertolongan bocah itu dengan rela hati.

Sesudah mendapat jawaban, Boe Kie lalu berkata pula, “Sebagaimana kalian tahu, Ouw Sinshe tidak mengijinkan aku mengobati kalian di dalam rumahnya. Ia merasa kuatir, bahwa kalian mati di sini, nama harumnya sebagai Ie Sian (tabib malaikat) akan ternoda. Maka itu, marilah kita keluar.”

Mendengar perkataan Boe Kie, mereka bersangsi. Apakah kepandaiannya seorang anak-anak yang baru berusia belasan tahun? Kalau dia salah mengobati, tentu penderitaan akan ditambah dengan penderitaan lain. Tapi Kan Ciat sudah lantas berteriak, “Kulit kepalaku gatal bukan main. Saudara kecil, kau boleh mengobati aku lebih dulu.”

Sehabis berkata begitu, ia segera bertindak keluar.

Boe Kie memikir sejenak dan lalu masuk ke kamar obat, di mana dia mengambil Lam seng, Hong-hong, Pek tit, Thiam ma, Kiang ho, Pek hoe coe, Cie souw dan lain-lain, semuanya belasan macam bahan obat. Sesudah itu, ia memerintahkan seorang kacung mengilingnya dan mencampurnya dengan sedikit arak untuk membuat koyo yang lalu ditempelkan di kepala Kan Ciat yang gundul.

Begitu kena, dia mengeluarkan teriakan kesakitan dan melompat-lompat. “Aduh! Aduh!” teriaknya. “Sakit sungguh…tapi…tapi…mendingan daripada gatal.” Sambil mengertak gigi, ia berlari lari dan berteriak-teriak seperti seorang edan. Beberapa lama kemudian, kecepatan larinya jadi terlebih perlahan dan teriakannya mereda. “Enakan…mendingan,..” katanya dengan napas tersengal sengal. “Bocah itu memiliki kepandaian lumayan…eh, salah! Thio Siauw hiap, kau memiliki ilmu yang sangat tinggi dan aku merasa sangat berterima kasih sekali kepadamu!”

Melihat hasil itu, semua orang segera memohon pertolongan Boe Kie. Di antara mereka yang paling menderita adalah seorang yang terus bergulingan ditanah sambil mencekal perut. Dia ternyata telah dipaksa untuk menelan tiga puluh lebih lintah hidup yang sekarang menghisap darahnya di dalam perut. Untung juga Boe Kie segera ingat, bahwa dalam salah sebuah kitab, ia pernah membaca lintah dalam harus ditaklukkan dengan madu.

Buru-buru ia memerintankan seorang kacung mengambil semangkok madu yang lalu di berikan kepada orang itu. Dan sekali lagi ia berhasil. Dengan demikian, ia terus bekerja keras sehingga fajar menyingsing.

Tak lama kemudian, Kie Sianw Hoe dan putrinya keluar dari kamar. Melihat Boe Kie masih repot mengobati orang, Siauw Hoe segera memberi bantuan apa yang ia bisa.

Delasan orang ini sebenarnya jago-jago yang pernah malang-melintang dalam dunia Kangouw, tapi sekarang mereka jadi jinak sekali. Dengan sabar mereka menunggu giliran dan tak berani membantah apa yang dikatakan oleh si bocah.

Antara mereka hanya Yo Poet Hwie yang bebas dari rasa jengkel atau bingung. Sambil mengunyah buah angco ia berlari lari kian kemari untuk menangkap kupu-kupu yang berterbangan di dalam kebun.

Sesudah lewat tengah hari barulah Boe Kie mulai mengobati luka di luar. Dengan dibantu Siauw Hoe ia menghentikan keluarnya darah, memberi obat untuk meredakan rasa sakit, membalut luka dan sebagainya. Sesudah selesai, ia segera pergi mengasoh dalam kamarnya.

Baru saja pulas beberapa jam, ia disadarkan oleh suara ribut ribut. Buru-buru ia bangun dan pergi keluar untuk menengok para penderita. Ternyata keadaan sebagian penderita itu cukup memuaskan tapi keadaan yang sebagian lagi berbalik menghebat. Boe Kie jadi bingung, ia tak tahu apa yang harus diperbuat.

Akhirnya, karena tidak berdaya, ia terpaksa menemui Ouw Ceng Goe dan menceritakan keadaan mereka.

“Mereka bukan anggauta Bang kauw, perduli apa mereka mampus,” kata Tiap kok Ie sian dengan suara tawar.

Mendadak Boe Me mendapat serupa ingatan dan ia lantas saja berkata, “Andaikata ada seorang murid Beng kauw yang sedangkan di luar badannya tidak terdapat luka, perutnya kembung bengkak, warna kulitnya hitam biru dan terus-menerus berada dalam keadaan pingsan, cara bagaimana Sinshe akan mengobatinya?”

“Kalau benar dia murid Beng kauw, aku akan mengobatinya dengan menggunakan San ka, Liong bwee, Ang hoa, Seng tee, Leng sian, To Ouw ” kata Ceng Goe. “Obat-obatan itu aku masak dengan arak encer dan kemudian menambahkannya dengan sedikit To pian. Sesudah minum godokan tersebut si sakit akan buang buang air dan mengeluarkan darah beracun dari kotorannya.”

“Ouw Sinshe bagaimana aku akan berbuat jika kuping kiri seorang muiid Beng kauw dituangi timah cair, kuping kanan dituangi dengan air perak dan kedua matanya dilabur dengan cat, sehingga ia menderita kesakitan hebat dan matanya tak bisa melihat lagi”‘ tanya pula si bocah.

(Air perak = Air raksa)

Ouw Ceng Goe naik darah, “Siapa berani berlaku begitu kejam terhadap murid Beng kauw?” bentaknya.

“Musuhnya itu memang kejam luar biasa,” kata Boe Kie. “Tapi menurut pendapatku, yang paling perlu ialah mengobati lebih dulu dan kemudian barulah kita menanyakan siapa adanya musuh itu.”

Sesudah memikir sejenak, Tiap kok Ie sian ber kata: “Kalau dia memang murid Beng kauw, aku akan menuang air perak k edalam kuping kiri nya. Timah akan lumer dan bercampur dengan air perak, sehingga cairan itu akan mengalir ke luar dari kupingnya. Kemudian, aku akan memasukkan jarum emas ke dalam kuping kanannya. Air perak akan menempel pada jarum itu yang dengan perlahan bisa di tarik keluar. Mengenai cat yang masuk di kedua matanya, kurasa akan dapat dipunahkan dengan kepiting yang ditumbuk hancur dan kemudian dibalut pada matanya itu.”

Demikianlah, untuk setiap luka yang aneh, Boe Kie meminta pertolongan Ouw Ceng Goe dengan menggunakan nama “murid Beng kauw” dan sang tabibpun memberikan bantuannya dengan segala senang hati. Jika lukanya terlampau aneh dan si penderita tidak jadi mendingan dengan pertolongan pertama, Boe Kie segera menanyakan lagi pendapat Tiap-kok Ie-sian yang lalu mengasah otak dan mencoba pula dengan lain cara pengobatan. Sesudah berselang lima enam hari, semua orang dapat dikatakan sudah mulai sembuh seluruhnya.

Luka yang diderita Kie Siauw Hoe adalah luka di dalam, tercampur dengan racun. Tenaga pukulan musuh sudah melukai perutnya, sedang racunpun sudah masuk ke dalam tubuhnya. Sesudah memeriksa dengan teliti, Boe Kie segera memberi obat pemunah racun kepadanya dan selang beberapa hari, keadaannya sudah banyak baik.

Sementara itu, para penderita telah mendirikan sebuah gubuk di depan rumah Ouw Ceng Goe dan mereka tidur menggeletak di tanah dengan hanya dialaskan dengan rumput kering. Beberapa tombak dari gubuk itu, Kie Siauw Hoe juga membuat sebuah gubuk yang lebih kecil untuk ia dan puterinya.

Boe Me capai dan lelah. Tapi ia sangat bergembira dan bersemangat, karena ia bukan saja bisa menolong sesama manusia, tapi juga sudah memperoleh resep-resep mujijat dan cara-cara pengobatan yang biasa dari Tiap kok Ie sian.

Tapi pagi itu ia kaget bukan main, sebab waktu bertemu dengan Kie Siauw Hoe, ia melihat sinar hitam pada alis nona Kie. Apa penyakitnya kumat lagi? Apa racun mengamuk pula? Cepat-cepat ia memeriksa nadi Siauw Hoe. Sesudah itu, ia mencampur ludah Siauw Hoe dengan bubuk obat Pek hap san dan begitu lekas melihat campuran itu, ia bisa lantas memberi kepastian bahwa benar racun mengamuk lagi.

Ia mengasah otak mati-matian, tapi tidak bisa memecahkan sebab-musabab dari perubahan itu. Maka itu, ia selalu meminta pertolongan Ouw Ceng Goe yang segera memberitahukan lain cara pengobatan kepadanya. Benar saja, sesudah diobati menurut petunjuk baru itu, keadaan Siauw Hoe jadi terlebih baik.

Tapi, sungguh heran, sehabis Siauw Hoe, perubahan luar biasa mendadak datang kepada dirinya Kan Ciat. Kepala gundulnya yang sudah mulai sembuh mendadak borokan lagi dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Perubahan itu terjadi silih berganti atas dirinya ke lima belas orang itu: yang satu mendingan, yang lain menghebat lagi penyakitnya.!

Boe Kie bingung bukan main. Ia pergi menemui Tiap kok Ia sian dan menuturkan kejadian yang luar biasa itu. “Sebab musabab dari perubahan itu ialah karena luka mereka sangat aneh, berbeda dengan luka biasa,” menerangkan sang tabib malaikat. “Kalau mereka dapat disembuhkan oleb tabib biasa, tak perlu mereka datang kemari.”

Malam itu Boa Kie tak bisa pulas. Ia berduka dan coba memecahkan teka-teki yang rumit “Perubahan penyakit itu adalah kejadian biasa,” pikirnya. “Tapi walaupun begitu tak bisa jadi semua penderita itu mengalami perubahan sampai berkali-kali, sebentar baik, sebentar hebat,” Ia gelisah dan berbolak-bolak di atas pembaringan.

Kira-kira tengah maiam, tiba-tiba ia mendengar suara tindakan kaki yang sangat enteng dan lewat di depan kamarnya. Ia melompat bangun dam mengintip dari cela-cela jendela. Ia melihat berkelebatnya bayangan manusia yang segera menghilang di belakang pohon kuil. Dilihat dari pakaian dan gerak-geriknya orang itu bulan lain dari pada Ouw Ceng Goe.

“Eh-eh!…Mengapa Ouw Sinahe berkeliaran di tengah malam buta?” tanyanya di dalam hati. “Apa cacarnya sudah sembuh?” Sesaat kemudian, ia melihat masuknya Tiap kok Ie sian ke dalam gubuk Kie Siauw Hoe. Jantungnya berdebar keras dan jiwa kesatrianya tampil kemuka. “Apa dia mau menganiaya atau menghina Kie Kouw kouw?” tanyanya pada diri sendiri. “Meskipun aku bukan tandingannya, tak dapat aku mengawasi dengan berpeluk tangan.” Ia melompat keluar jendela dan indap indap, ia mendekati gubuk Kie Siauw hoe.

Gubuk tersebut yang terbuat dari alang-alang hanya untuk menedeng angin dan embun, di dalamnya kosong melompong, tiada sekosol, tiada aling aling apapun jua. Dengan hati bergoncang, Boe Kie mengintip dari belakang gubuk. Ia melihat sang bibi bersama puterinya sedang pulas nyenyak Di atas setumpuk rumput rumput kering.

Sekonyong Ouw Ceng Goe merogo saku dan mengeluarkan sebutir pel, yang lalu dicemplungkan ke dalam mangkok obat Siauw Hoe. Sesudah itu ia memutar badan dan terus berjalan keluar. Sekelebatan Boe Kie melihat, bahwa muka orang tua itu masih ditutup dengan topeng kain hijau.

Boe Kie mengeluarkan keringat dingin. Baru sekarang ia tahu, bahwa Ouw Ceng Goe-lah yang sudah menaruh racun, sehingga para penderita tak bisa menjadi sembuh.

Sesudah keluar dari gubuk Siauw Hoe, Ceng Goe masuk ke gubuk yang lain, di mana dia berdiam agak lama. Boe Kie mengerti, bahwa untuk meracuni ke empat belas orang dengan racun yang berbeda-beda, si tua memerlukan tempo yang lebih banyak.

Di lain saat si bocah sudah masuk ke dalam gubuk dan mencium mangkok obat Siauw Hoe. Di dalam mangkok terisi godokan Pat sian thung dan ia telah memesan supaya begitu bangun tidur, Kouw-kouw segera minum obat itu. Tapi sekarang godokan itu mengeluarkan bau-bauan yang masuk hidung. Sekonyong-konyong terdengar pula suara tindakan kaki. Buru-buru Boe Kie merebahkan diri di atas tanah. Ia tahu, bahwa Ouw Ceng Goe sudah kembali ke kamar tidurnya.

Sesudah menunggu beberapa lama, ia segera menaruh mangkuk obat keluar dari gubuk itu. “Kie Kouw-kouw! Kie Kouw-kouw!” ia memanggil manggil dengan suara perlahan.

Sebagai seorang ahli silat, menurut pantas Siauw Hoe mudah tersadar, tapi sesudah si bocah memanggil berulang-ulang, ia masih pulas terus. Karena terpaksa, Boe Kie lalu masuk pula dan menggoyang-goyangkan badan bibinya berulang kali. Dengan kaget Siauw Hoe tersadar. “Siapa?” tanyanya.

“Kouw-kouw, aku…” bisiknya. “Mari kita keluar.”

Siauw Hoe mengerti, bahwa kedatangan Boe Kie di tengah malam tentulah disebabkan oleh kejadian penting. Perlahan-lahan ia menarik lengannya yang dibantalkan di bawah kepala puterinya dan kemudian keluar dari gubuknya bersama-sama si bocah.

“Kie Kouw-kouw,” bisik Boe Kie, “orang telah menaruh racun di mangkok obatmu. Buanglah obat itu, tapi jagalah, jangan sampai diketahui orang. Besok aku akan memberi penjelasan kepadamu”

Siauw Hoe manggutkan kepalanya dan Boe Kie segera kembali ke kamarnya. Karena kuatir ketahuan, ia masuk dengan melompati jendela.

Pada esokan paginya, sesudah sarapan. Boe Kie mengajak Yo Poet Hwie pergi menangkap kupu-kupu. Mereka berlari-lari, makin lama makin jauh dari rumah Ouw Ceng Goe. Siauw Hoe yang mengerti maksud si bocah, lantas saja mengikuti dari belakang. Selama beberapa bari, Boe Kie sering bermain-main dengan si nona ciiik, sehingga perginya ketiga orang itu sama sekali tak menimbulkan kecurigaan.

Sesudah melalui kira-kira satu li mereka tiba di satu tanjakan gunung. Boe Kie menghentikan tindakannya dan segera duduk di atas rumput, sedang Siauw Hoe segera berkata kepada puterinya, “Poet-jie sekarang jangan mengejar kupu-kupu lagi. Pergi petik bunga-bunga dan buatlah tiga buah topi bunga untuk kita bertiga.” Si nona kecil jadi girang sekali dan sambil tertawa nyaring, ia berlari-lari untuk mencari bunga.

“Kouw kouw,” Boe Kie mulai, “apakah kau mempunyai permusuhan dengan Ouw Ceng Goe? Dialah yang sudah menaruh racun kedalam mangkok obatmu.”

Siauw Hoe terkejut. “Aku belum pernah mengenal Ouw Ceng Goe dan sehingga hari ini aku belum pernah bertemu muka dengannya,” jawabnya. Ia berdiam sejenak seperti orang sedang berpikir dan kemudian berkata pu1a. “Saban kali bicara mengenai Ouw Sinshe, Thia thia (ayah) dan Soehoe selalu mengatakan, bahwa dia adalah seorang tabib nomor satu di dalam dunia pada jaman ini. Merekapun tidak mengenal Ouw Sinshe. Aku sungguh tidak mengerti, mengapa Ouw Sinshe coba mencelakakan aku.”

Si bocah lalu menuturkan kejadian semalam dan menambahkan. “Dalam godokan Pat sian thung itu, aku mengendus bau rumput Pat sian co dan Touw koet koen yang sangat tajam. Kedua daun obat itu memang dapat mengobati luka, tapi racunnya sangat hebat dan tidak boleh digunakan terlalu banyak.”

“Selain begitu, sifat kedua daun obat tersebut juga bertentangan dengan delapan macam obat yang terdapat dalam Pat sian thung. Maka itu biarpun tidak membahayakan jiwa, luka Kouw kouw jadi makin sukar disembuhkannya.”

Siauw Hoe bersenyum. “Kau mengatakan bahwa Ouw Sinshe juga meracuni empat belas penderita yang lain,” katanya. “Hal ini lebih mengherankan lagi. Terhadap aku, kita dapat mengandalkan saja, bahwa secara tidak disengaja, ayah atau Go bie pay pernah menyinggung Ouw Sinshe. Tapi bagaimana terhadap yang lainnya? Apa mungkin ke empat belas orang itu semuanya berdosa terhadap Ouw Sinshe?”

Boe Kie mengangguk, “Memang! Memang sangat mengherankan,” katanya sambil menghela napas. “Kie Kouwkouw, selat Ouw tiap kok adalah sebuah tempat yang mencil dan tidak banyak diketahui orang. Cara bagaimana kau dan yang lain-lain bisa datang kemari? Siapa adanya Kim hoa Coe jin (Majikan Bunga emas) yang telah melukai kau? Urusan ini sebenarnya tiada sangkut pautnya dengan aku dan menurut pantas, aku sebenarnya tidak boleh menanya melit-melit. Akan tetapi, karena persoalan berbelit-belit, maka aku harap kau tidak menjadi kecil hatinya”

Paras mukanya Siauw Hoe lantas saja berubah merah. Ia mengerti maksud si bocah yang rupa rupanya kuatir, bahwa pertanyaan itu akan menyentuh persoalan puterinya. Persoalan mengapa sebelum menikah ia sudah mempunyai anak. Sesudah memikir sejenak, ia berkata dengan suara parau. “Kau sudah menolong jiwaku, tak dapat aku menyembunyikan sesuatu terhadapmu. Di samping itu, meskipun masih kanak-kanak, kau memperlakukan aku dan Poet jie luar biasa baik. Baiklah, aku akan menceritakan segala penderitaanku kepadamu, orang satu-satunya di dalam dunia yang boleh mendengar rahasiaku.”

Sehabis berkata begitu, air matanya mengucur. Ia mengambil saputangan dan sesudah menyusut air mata, ia berkata pula, “Sedari aku kebentrok dengan seorang kakak seperguruan pada dua tahun lebih yang lalu, aku tidak berani menemui Soe hoe lagi…aku tidak berani pulang…”

“Hmm! Teng Bin Koen!….Kouwkouw kau tidak usah takut,” kata Boe Kie.

“Bagaimana kau tau?” tanya Siauw Hoe dengan rasa terkejut dan heran.

Boe Me segera memberitahukan, bahwa pada malam itu, bersama Siang Gie Coen ia telah menyaksikan peristiwa menolong Pheng Hweeshio.

Siauw Hoe menghela napas. “Memang…rahasia memang tak mungkin ditutupi,” katanya.

“Kouwkouw, kau tak usah terlalu berduka.” kata Boe Kie, “In Lioksiok adalah seorang baik. Kalau kau tidak suka menikah dengannya, urusan itu bukan urusan yang terlalu besar. Begini saja, kalau bertemu dengan Lioksiok, aku akan memberitahukannya, bahwa kau tidak suka menikah dan dia merdeka untuk mencari lain isteri!”

Mendengar perkataan yang polos-jujur itu, yang keluar dari otak sederhana, Siauw Hoe tertawa getir. “Anak,” katanya dengan suara bergemetar. “Percayalah, bahwa aku bukan sengaja berbuat kedosaan terhadap pamanmu. Waktu itu aku…aku…tidak ada lain jalan…dan akupun sudah merasa menyesal sekali…” Ia tidak meneruskan perkataannya dan air matanya kembali mengucur.

Ia mengawasi si bocah dan berkata dalam hatinya “Anak ini masih suci bersih, bagaikan selembar kertas putih. Ah Lebih baik aku tidak menceriterakan segala hal percintaan kepadanya. Apa pula urusan pribadi ini tiada sangkut pautnya dengan dia.” Memikir begitu, ia lantas saja berkata, “Sesudah bercekcok dengan Teng Soecie, dengan membawa Poet jie aku bertani dan hidup mengasingkan diri di suatu tempat yang terpisah kira-kira tiga ratus lie di sebelah barat Ouw tiap kok ini. Selama dua tahun lebih aku hanya bergaul dengan kaum petani dan aku dapat melewati hari dengan tidak banyak pikiran. Setengah bulan yang lalu, aku mengajak Poet jie kekota untuk membeli kain guna pakaian anakku itu. Di luar dugaan, di atas sebuah tembok, secara kebetulan aku melihat gambar sebuah lingkaran Hoed kong (lingkaran sinar Buddha yang suci) dan sebatang pedang.”

“Itulah tanda rahasia memanggil kawan dari partai Go bie pay. Aku binguog dan sangat bersangsi. Sesudah menimbang-nimbang aku menganggap, bahwa meskipun aku telah kebentrok dengan Teng Soecie, tapi aku belum pernah melakukan perbuatan yang menghina guru atau menghianati partai. di samping itu, bentrokan tersebut juga tak ada sangkut pautnya dengan Soehoe dan lain-lain saudara seperguruan. Tanda itu mungkim diberikan oleh salah seorang saudara seperguruanku yang tengah menghadapi bahaya besar dan jika benar begitu, aku merasa tidak pantas untuk berpeluk tangan. Demikianlah, dengan menuruti petunjuk dari tanda rahasia itu, aku pergi ke Hong yang.”

“Di kota Hong yang aku kembali melihat tanda itu yang memberi petunjuk, supaya kawan-kawan datang di rumah makan Lim hway kok. Sudah ketelanjuran datang, aku segera menyusul ke situ. Ternyata dalam rumah makan sudah berkumpul tujuh delapan orang, antaranya terdapat Seng cioe Ka lam Kan ciat dari Khong tong pay, Sie Kong Wan dari Hwa san pay dan lain-lain. Anggauta Goe bie pay hanya aku seorang. Aku mengenal Kan Ciat dan Sie Kong Wan dan lalu menanyakan sebab-musabab dari berkumpulnya mereka di rumah makan itu. Mereka memberitahukan, bahwa mereka datang karena melihat tanda rahasia partainya, tapi seperti juga aku mereka tak tahu sebab-musabab dari panggilan itu. Sehari suntuk kami menunggu tapi tak ada yang datang lagi. Pada esokan harinya, dengan beruntun datang pula beberapa orang lain, ada orang Sin koen boen, ada orang Siauw lim pay bagian selatan dan lain lain. Mereka juga mengatakan bahwa kedatangan mereka adalah karena melihat tanda rahasia. Tak satupun di antara mereka yang mendapat urusan secara langsung. Semua orang heran dan bercuriga. Apa tidak bisa jadi kami semua tengah dipermainkan oleh seorang musuh?”

“Ketika itu, di loteng rumah makan berkumpul lima belas orang dari sembilan buah partai. Tanda rahasia setiap partai bukan saja berbeda satu sama lain, tapi juga sangat dirahasiakan, sehingga kalau bukan murid partai yang tersangkut, seorang luar tentu tak mengerti artinya tanda itu. Jika seseorang ingin main gila, apakah ia bisa tahu tanda rahasia dari sembilan partai? Mengingat bahwa aku membawa Poet jie dan kalau bisa, aku tak mau anak itu menghadapi bahaya dan mengingat pula bahwa panggilan itu bukan mengenai saudara seperguruanku ada yang tengah menghadapi bencana besar, maka aku segera mengambil keputusan untuk pulang saja. Tapi baru saja aku mau turun tangan, tiba-tiba di tangga loteng terdengar suara keras, seperti juga undakan tangga dipukul orang dengan menggunakan toya. Suara itu disusul denggn suara batuk-batuk dan seorang nenek yang rambutnya sudah putih semua, mendaki undakan tangga. Ia naik setindak demi setindak sambil batuk-batuk dan kelihatannya lelah sekali. Di sampingnya terdapat seorang nona kecil yang berusia kira kira dua belas tahun dan yang memapah si nenek.”

“Melihat nenek yang sudah bagitu tigggi usianya dan juga kelihatannya sedang sakit, aku segera minggir, supaya ia bisa naik lebih dulu. Nona kecil itu ternyata cantik sekali, meskipun usianya masih sangat muda, belum pernah aku melihat wanita yang seayu dia, sehingga tanpa merasa aku mengawasinya beberapa kali. Tangan kanan si nenek mencekal sebatang tongkat dari kayu Pek bok dan dari pakaiannya, ia seperti juga seorang wanita miskin. Tangan kirinya memegang serenceng biji tasbih yang mengeluarkan sinar kuning berkilauan. Ketika aku memperhatikan, rencengan itu ternyata bukan biji biji tasbih, tapi bunga bunga bwee yang terbuat dari pada emas tulen…”

“Aha!” memutus Boe Kie. “Perempuan tua itu tidak bisa lain dari pada majikan Kim hoa.”

“Benar. Tapi pada waktu itu, siapakah yang bisa menduga jelek kepadanya?” kata Siauw Hoe. Sehabis berkata begitu, ia merogoh saku dan mengeluarkan sekuntum bunga bwee emas yang menyerupai Kim Hoa yang pernah diserahkan kepada Ceng Goe oleh Boa Kie.

Si bocah tertegun. Tadinya ia menduga, bahwa Kim hoa Coe jie adalah saorang lelaki yang bertubuh tinggi besar dan bermuka menakutkan. Tak dinyana, majikan bunga emas itu hanyalah seorang nenek tua.

“Sesudah berada di atas loteng, nenek itu kembali batuk-batuk. Siauw Hoe melanjutkan penuturannya, “Si nona cilik berbisik, ‘Popo makan obat ya?’ Si nenek mengangguk dan nona kecil itu selanjutnya sudah mengeluarkan sebutir yo-wan dari dalam sebuah peles kristal.

“Sambil mengunyah yo-wan, nenek itu berkata, ‘O mie to hoed…O mie to hoed…’ Dengan mata separuh tertutup, ia mengawasi kami dan berkata pula dengan suara perlahan, ‘Hm …hanya lima belas orang. Coba tanya, apakah orang Koen loen pay dan Boe tong pay sudah pada datang semuanya?'”

“Kedatangan kedua wanita itu tidak diperhatikan oleh kami. Tapi, begitu si nenek mengucapkan perkataan itu, beberapa orang yang kupingnya lebih tajam segera menengok dan mengawasinya. Melihat nenek itu, hati mereka lega dan menganggap mereka salah dengar.”

“Tiba-tiba si nona cilik berkata dengan suara nyaring, ‘Hai! Popoku menanya kepada kalian. Apakah orang-orang Koen loen pay dan Boe tong pay sudah pada datang semuanya?'”

“Semua orang terkejut, untuk sejenak mereka tak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Sesaat kemudian, barulah Kan Ciat berkata, ‘Adik kecil, apa katamu?’ Jawab nona itu, “Popoku menanya: Mengapa ia tidak melihat murid Boe tong dan Koen loen?’ Alis Kan Ciat berkerut dan lalu menanya pula, ‘Siapa kalian?'”

“Nenek itu kembali batuk-batuk sambil membungkuk-bungkuk. Mendadak…mendadak saja, aku merasa semacam angin menyambar dadaku, entah dari mana. Sambaran itu hebat luar biasa dan buru-buru aku mengibaskan tangan untuk menangkis. Tiba tiba aku merasa dadaku menyesak, darahku bergolak golak, kedua lututku lemas dan aku jatuh duduk sambil muntahkan darah.”

“Dalam keadaan setengah pingsan, aku melihat badan si nenek bergerak-gerak, ia menggaplok atau meninju seraya batuk-batuk tak hentinya. Dalam sekejap, empat belas orang sudah rebah di atas loteng. Kecepatan bergeraknya dan hebatnya tenaganya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Seumur hidup, belum pernah kulihat manusia yang bisa bergerak begitu cepat dan mempunyai tenaga Lweekang yang sedemikian hebat. Di antara kami, sejurus pun tak ada yang mampu melawan. Kalau bukan tertotok jalan darah, isi perut mereka terluka karena pukulan Lweekang.”

“Tiba-tiba si nenek mengayun tangan kirinya dan lima belas bunga emas menyambar ke bahu atau tangan kelimabelas orang. Kali ini dia tidak mencelakakan orang, sebab meskipun limabelas bunga emas itu mengenai tepat pada sasarannya, tak seorangpun yang mendapat luka. Sesudah itu, dia memutar tubuh dan dengan dipapah oleh si nona kecil, ia berkata, ‘O mie to hoed!…O mie to hoed!’ Tanpa menengok lagi mereka turun ke bawah loteng. Beberapa saat kemudian, kami mendengar suara totokan tongkat ditanah, diseling-seling dengan suara batuk-batuk”

Bicara sampai di situ, Yo Poet Hwie mendatangi dengan tangan mencekal sebuah karangan bunga yang merupakan topi. Sambil tertawa ha ha hi hi, ia berkata, “bu, kau pakailah topi ini,” dengan sikap aleman, ia lalu menaruh topi bunga itu di kepala sang ibu.

Siauw Hoe tertawa sambil manggut manggutkan kepalanya dan kemudian melanjutkan penuturannya. “Kami semua rebah di atas papan loteng tanpa berkutik, sebagian pingsan, sebagian bernapas sengal-sengal dan sebagian pula merintih dengan perlahan…”

“Ibu,” memutus Poet Hwie. “Apakah kau sedang menceritakan perempuan jahat itu ? Jangan! Aku takut.”

“Nak,” kata sang ibu sambil bersenyum, “Pergilah kau memetik bunga lagi dan buatlah sebuah topi untuk kakak Boe Kie”

Poet Hwie mengawasi Boe Kie. “Warna apa yang kau suka ?” tanyanya.

“Merah dan campur sedikit dengan warna putih, lebih besar topinya lebih baik lagi,” jawabnya.

“Sebesar ini?” tanyanya pula si nona sambil membuat sebuah lingkaran dengan kedua tangannyaa.

“Ya, sebesar itu,” jawabnya.

Poet Hwie segera berlari-lari dengan menepuk nepuk tangan sambil tertawa-tawa. “Kalau sudah jadi kau harus memakainya !” teriaknya.

“Beberapa lama kemudian, dalam keadaan lupa ingat, aku melihat belasan orang naik ke loteng,”‘ Siauw Hoe melanjutkan penuturannya. “Mereka itu adalah pelayan, tukang masak dan pengurus rumah makan. Mereka menggotong kami ke dapur. Tak usah dikatakan lagi, Poet jie ketakutan setengah mati dan sambil menangis keras, ia mengikuti orang-orang yang menggotong aku. Setibanya di dapur, si pengurus rumah makan membaca tulisan di selembar kertas. Seraya menuding Kan Ciat, ia memerintah, ‘Labur koyo di kepalanya.’ Seorang pelayan segera membuka sebuah kotak koyo dan melebur isinya di kepala Kan Ciat. Sesudah itu, sambil membaca pula tulisan itu, dia menuding seorang lain dan berkata, ‘Putuskan tangan kanannya dan tempelkan lengan itu di kaki kirinya! Siksaan itu lantas saja dijalankan oleh dua orang pelayan. Waktu giliranku tiba, untung juga aku tidak mendapat hukuman aneh. Aku hanya diperintah minum semangkoh air yang rasanya manis. Aku mengerti, bahwa air itu tentu mengandung racun, tapi aku tidak berdaya.”

“Sesudah kami semua mendapat hukuman yang luar biasa, si pengurus rumah makan berkata, ‘Kamu semua sudah mendapat luka yang tak mungkin disembuhkan lagi. Tak seorangpun di antara kamu yang bisa hidup sepuluh hari atau setengah bulan lagi. Tapi pemilik bunga emas mengatakan, bahwa ia sama sekali tidak bermusuhan dengan kamu. Maka itu, ia menaruh rasa belas kasihan dan membuka suatu jalan hidup untuk kamu. Sekarang pergilah kamu lekas-lekas ke Ouw tiap kok yang terletak di tepi telaga Lie san Ouw dan mintalah pertolongan dari Ouw Ceng Goe yang bergelar Tiap kok Ie sian. Kalau dia sudi menolong, maka kamu semua ada harapan hidup, tapi manakala dia menolak, dalam dunia tak ada orang yang bisa menolong kamu lagi. Tapi Ouw Ceng Goe mempunyai lain julukan, yaitu Kian sie Poet kioe. Kalau kamu tidak berusaha mati-matian, dia pasti tak akan mengulurkan tangan. Jika kamu bertemu dengan Ouw Ceng Goe katakanlah bahwa tak lama lagi Kim hoa Coejin aku akan mencari dia dan dia harus siang-siang mempersiapkan penguburan mayatnya sendiri.’ Sesudah berkata begitu dia segera menyediakan kerata dan kuda kuda, memberi petunjuk mengenai jalanan yang harus diambil, dan kemudian mengusir kami.”

Boe Kie mendengari cerita itu dengan mata tidak berkedip, “Kie Kouwkouw,” katanya, “didengar dari penuturanmu, pengurus Lim hway kok, tukang masak dan pelayan-pelayannya semua kaki tangan perempuan jahat itu,”

“Akupun menduga begitu,” kata Siauw Hoe. “Si pengurus rumah makan memerintahkan dijalankannya siksaan itu menurut surat catatan yang rasanya ditinggalkan oleh perempuan kejam itu. Tapi dalam peristiwa terdapat beberapa teka-teki yang sehingga sekarang masih belum dapat dipecahkan olehku. Mengapa nenek itu melakukan perbuatan yang begitu kejam? Kalau dia mendendam sakit hati dan mau mengambil jiwa kami, dia dapat melakukannya dengan mudah sekali. Jika dia hanya ingin menyiksa orang orang dengan rupa-rupa jalan yang kejam mengapa dia mengirim kami kepada Ouw Sinshe? Dia mengatakan bahwa tak lama lagi dia akan mencari Ouw Sinshe untuk membalas sakit hati. Apakah penyiksaannya terhadap kami hanya untuk menjajal kepandaiannya Ouw Sinshe?”

Boe Kie menundukkan kepala, memikir sejenak, ia berkata, “Menurut katanya Siang Gie Coen Toako, Ouw Sinshe mempunyai seorang musuh yang akan datang untuk membalas sakit hati. Musuh itulah Kim hoa Coejie. Menurut pantas Ouw Sinshe seharusnya mengobati kalian dengan sungguh hati, supaya kalian bisa membantu dia dalam menghadapi musuh berat itu. Sesuai dengan julukan Kian sie Poet kioe, ia menolak untuk mengobati. Tapi mengapa, sesudah menolak, ia memberi berbagai resep kepadaku dan mengajarkan aku macam-macam cara pengobatan untuk menolong kalian? Resep obat itu manjur sekali. Tapi mengapa di tengah malam buta ia menggerayang dan memberi racun kepada kalian? Ah! Sikap Ouw Sinshe sungguh aneh? Dalam peristiwa ini muncul banyak hal yang tak akan bisa ditembus olehku.”

Lama sekali mereka berunding, tapi mereka tak juga dapat menebak artinya banyak teka teki itu.

Tak lama kemudian, Poet Hwie kembali dengan sebuah topi bunga yang lalu ditaruhnya di atas kepala Boe Kie dan kemudian pergi lagi untuk membuat topinya sendiri.

“Kie kouwkouw,” kata pula Boe Kie. “Mulai dari sekarang kau tidak boleh minum apapun juga kecuali jika obat itu diberikan olehku sendiri. Di waktu malam sebaiknya kau siap sedia dengan senjata untuk menjaga sesuatu yang tidak diinginkan. Sekarang kau masih belum boleh pulang karena aku masih perlu memberi obat untuk menyembuhkan luka di dalam badanmu. Begitu lekas lukamu tidak berbahaya lagi, kau harus buru-buru pulang dengan membawa Poet Hwie.”

Siauw Hoe mengangguk dengan rasa sangat berterima kasih. “Manusia she Ouw itu sungguh aneh dan hatinya sukar ditebak,” katanya, “Boe Kie, akupun merasa kuatir akan keselamatanmu jika kau berdiam lama-lama disini. Lebih baik kita menyingkir bersama-sama.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: