Kumpulan Cerita Silat

02/08/2008

Kisah Membunuh Naga (23)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 2:18 am

Kisah Membunuh Naga (23)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Hari itu turun hujan besar dan Gie Coen separuh terendam di air, tapi sang paman guru tak menghiraukannya. Melihat begitu, Boe Kie mendongkol bukan main dan di dalam hati, ia mencaci si tabib malaikat yang berhati kejam.

Malamnya hujan turun makin besar. Kilat menyambar-nyambar, diiringi guntur dan petir yang menggetarkan bumi. Boe Kie tak bisa mempertahankan diri lagi. Sambil mengertak gigi, ia berkata dalam hatinya. “Biarpun aku mesti membunuh Siang Toako, tak dapat aku mengawasi penderitaannya dengan berpeluk tangan.” Dari laci obat Ouw Ceng Goe, ia segera mengambil delapan batang jarum emas dan lalu menghampiri Gie Coen.

“Siang Toako,” katanya dengan suara parau, “Selama beberapa hari siauwtee telah mempelajari kitab-kitab Ouw Sinshe dan biarpun belum mengerti benar, tapi karena keadaan memaksa, siauwtee ingin coba menggunakan jarum untuk mengobati Toako. Andaikata terjadi kejadian yang tidak di harapkan, siauwteepun tidak bisa hidup sendirian dalam dunia ini.”

Gie Coen tertawa terbabak bahak. “Saudara kecil jangan kau mengatakan begitu,” katanya. “Lekas gunakan jarum itu. Kalau kau berhasil, Soe peh akan merasa malu sekali. Andaikata aku mati, aku memang lebih suka mati daripada berendam di genangan ini.”

Dengan tangan gemetar Boe Kie mencari jalan darah Gie Coen dan kemudian menancapkan sebatang jarum emas di Koan goan hiat. Tapi, begitu ditacapkan, jarum itu bengkok dan tidak bisa masuk terus ke dalam daging.

Hal ini bisa dimengerti, karena bukan saja si bocah belum pemah menggunakan jarum tersebut, tapi jarum itupun lemas luar biasa, sehingga untuk memasukkannya ke dalam daging, orang harus menggunakan Lweekang yang tinggi. Boe Kie terpaksa mencabutnya lagi. Menurut biasa, jika jarum masuk tepat di jalanan darah, darah tidak keluar. Tapi sekarang, sebab si bocah menusuk salah, maka begitu jarum tercabut, darah Gio Coen lantas saja keluar berketel-ketel. Koan goan hiat yang terletak dikempungan manusia, merupakan salah satu “hiat” yang paling berbahaya. Melihat darah merembas keluar tak hentinya, Boe Kie jadi bingung.

Sekonyong-konyong di belakangnya terdengar suara orang tertawa berkakakan. Ia menengok dan melihat Ouw Ceng Goe yang berdiri sambil menggendong tangan, dengan paras muka berseri-seri.

“Ouw Sinshe,” kata Boe Kie dengan suara bingung. “Koan goan hiat Siang Toako mengeluarkan darah. Bagaimana baiknya ?”

“Tentu saja aku tahu bagaimana baiknya,” jawabnya. “Tapi perlu apa aku memberitahukan kau ?”

“Ouw Sinshe, mengapa kau begitu kejam?” kata Boe Kie dengan suara keras, “Begini saja. Satu jiwa ditukar dengan satu jiwa. Tolonglah Siang Toako. Sesudah kau menolong, aku akan segera binasa dihadapanmu.”

“Kalau aku kata tidak, tetap tidak,” kata Ceng Goe dengan suara tawar. “Aku hanya Kian sie Poet kioe Ouw Ceng Goe. Aku bukan Boe siang (setan yang biasa membetot jiwa orang). Kalau kau mampus, sedikitpun tiada sangkut-pautnya dengan aku. Andaikata sepuluh Boe Kie mati, akupun tidak akan menolong satu Siang Gie Coen.”

Boe Kie mengerti, tiada gunanya ia memohon mohon lagi. Ia tahu, bahwa ia tak akan bisa menggunakan jarum emas itu yang terlampau lemas. Mencari jarum baja atau jarum besi sudah tidak keburu lagi.

Sesudah memikir sejenak, buru buru ia mematahkan sebatang bambu. Dengan menggunakan pisau, ia membuat beberapa batang bambu dan kemudian, tanpa memikir lagi ia menancapkannya di Cie kiong, Siong tong, Koen goan dan Tian tie hiat.

Sesaat kemudian Gie Coen muntahkan darah hitam beberapa kali.

Boe Kie jadi bingung. Sesudah menusuk jalanan darah orang, ia tak tahu apa penyakitnya jadi lebih enteng atau lebih berat. Ia mengawasi muka Ouw Ceng Goe dan melihat, bahwa, meskipun sikapnya acuh tak acuh, paras muka si tabib malaikat menunjuk rasa kagum. Ia sekarang tabu, bahwa usahanya yang pertama telah berhasil dan hatinya girang.

Buru-buru ia masuk k edalam rumah dan sambil membaca beberapa kitab, ia mengasah otak untuk coba menulis surat obat. Ia tahu obat apa bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit apa, tapi ia belum pernah melihat macamnya obat itu dan juga tidak mengerti, berapa banyak si sakit barus diberikan. Sesudah berpikir beberapa lama dengan nekat ia lalu menulis surat obat yang lalu diserahkan kepada si kacung tukang masak obat dengan berkata, “Masaklah obat ini”

Si kacung membawa surat obat itu kepada majikannya dan menanya, apakah ia boleh turut perintah Boe Kie. Ceng Goe mengeluarkan suara di hidung dan berkata pada dirinya sendiri. “Hmm ! Benar benar gila!” Ia berpaling kepada kacungnya dan berkata, “Boleh. Masaklah obat menurut timbangannya. Kalau dia tidak mati, benar-benar rejekinya besar.”

Boe Kie mongerti apa maksudnya perkataan itu.

Cepat-cepat ia merebut pulang surat obat itu, mengurangkan timbangannya dan kemudian harus menyerahkannya kembali kepada si kacung.

Sesudah dimasak, Boe Kie membawa obat itu kepada Gie Coen dan berkata dengau air mata berlinang-linang, “Siang Toako, minumlah obat ini. Apa untung, apa celaka, siauwtee sendiri tak tahu”

“Bagus! Bagus!” kata siberewok sambil tertawa “Inilah yang dikatakan, tabib buta mengobati kuda buta.” Sambil meramkan mata ia segera minum habis semangkok obat itu.

Malam itu Gie Coen menggelisah. Ia merasa perutnya seperti disayat pisau dan dari mulutnya terus mengeluarkan darah. Tanpa menghiraukan hujan dan hawa dingin, semalaman suntuk Boe Kie menemani si sakit. Pada esokan paginya, hujan berhenti dan darah yang dimuntahkan Gie Coen makin lama jadi makin sedikit. Warna darah juga berubah, dari hitam menjadi ungu, dari ungu berubah merah.

“Saudara kecil,” kata Siang Gie Coen dengan girang. “Obatmu teryata tidak membinasakan manusia. Aku merasa badanku banyak lebih enak, lebih nyaman.”

“Bagaimana? Obat siauwtee boleh juga bukan?” kata sibocah sambil menyengir.

“Lebih dari boleh juga!” memuji Gie Coen. “Hanya obatmu mungkin terlalu keras, perutku seperti diiris-iris pisau.”

“Ya, mungkin terlalu keras,” kata Boe Kie dengan rasa jengah.

Sebenarnya, obat yang diberikan oleh Boe Kie kepada Gie Coen bukan hanya terlalu keras, tapi beberapa lipat kali terlalu keras. Kalau Gie Coen tidak mempunyai badan yang sangat kuat, siang-siang ia sudah binasa.

Sesudah membersihkan badan, Ouw Ceng Goe berjalan keluar. Melihat paras muka Siang Gie Coen ia terkesiap. Ia tak nyana, bahwa Boe Kie benar-benar sudah berhasil menyembuhkan luka si borewok.

Sementara itu, si bocah sudah menulis surat obat untuk menguatkan badan dan lain menyerahkannya kepada si kacung untuk dimasak.

Ia memasukkan segala macam obat kuat, seperti Jinsom, Lok jiong, Souw ouw dan sebagainya. Dalam rumah Ouw Ceng Goe terdapat rupa-rupa obat, dari yang paling murah sampai yang paling mahal harganya. Sesudah minum obat kuat enam tujuh hari beruntun, bukan saja kesehatannya, tapi kepandaian silat Gie Coen juga sudah pulih kembali.

Beberapa hari kemudian, ia berkata begini kepada Boe Kie, “Saudara kecil, lukaku sudah sembuh Sekarang saja kita berpisahan.”

Selama kurang lebih sebulan Boe Kie telah berkawan dengan pemuda itu dan mereka berdua sama-sama merasakan banyak penderitaan. Mereka telah menjadi seperti saudara kandung dan dapatlah dimengerti, jika s ibocah merasa sedih waktu mendengar perkataan sang kakak. Ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata. Ia hanya mengangguk dengan air mata berlinang-linang.

“Saudara kecil, jangan kau bersusah hati,” membujuk Gie Coen. “TIga bulan kemudian, aku akan kembali untuk menengokmu. Kalau racun dingin sudah diusir bersih dari badanmu, aku akan segera mengantarkan kau pulang ke Boe tong.”

Ia masuk kedalam rumah dan berlutut di hadapan Ouw Ceng Goe. “Ouw Soepeh,” katanya, “sekarang teecoe sudah sembuh sama sekali. Biarpun benar saudara Thio yang mengobati, akan tetapi, pengobatan itu diberikan berdasarkan petunjuk kitab kitab Ouw Soepeh. Di samping itu, teecoe juga telah menghabiskan banyak sekali obat-obatan Soepeh yang berharga mahal. Untuk itu semua, teecoe hanya bisa menghaturkan banyak-banyak terima kasih.”

Sang paman guru manggut-manggutkan kepalanya. “Tak apa,” katanya. “Lukamu memang sudah sembuh, hanya sayang, usiamu berkurang dengan tiga puluh tahun.”

Gie Coen tidak mengerti. “Apa yang dimaksudkan Soepeh ?” tanyanya,

“Dilihat dari kekuatan badanmu, paling sedikit kau bisa hidup sampai usia delapanpuluh tahun,” menerangkan sang paman guru. “Tapi karena bocah itu membuat kesalahan dalam memberi obat dan membuat kesalahan pula waktu menusuk jalanan darahmu, maka, setiap kali bertemu delapan musim hujan angin, sekujur badanmu akan dirasakan sakit. Menurut taksiranku, kau hanya bisa berusia sampai lima puluh tahun.”

Si berewok tertawa terbabak-bahak. “Ouw Soe peh,” katanya dengan suara lantang, “jika seorang laki-laki bisa menolong sesama manusia dan mengabdi kepada negara, berusia sampai empat puluh tahun saja kurasa sudah cukup. Jika seorang hidup tanpa tujuan, maka biarpun ia bisa berumur seratus tahun, hidupnya percuma saja.”

Ceng Goe tidak mengatakan suatu apa, ia hanya mengangguk beberapa kali.

Boe Kie mengantar Gie Coen sampai di mulut selat Ouw tiap kok den kemudian mereka berpisahan sesudah memeras banyak air mata. Sambil mengawasi bayangan si brewok yang makin lama jadi makin jauh, Boe Kie bertekad untuk mempelajari ilmu pengobatan, supaya di belakang hari ia dapat memulihkan usia Gie Coen, yang menurut katanya Ouw Ceng Goa, akan berkurang tiga puluh tahun.

Setiap hari dengan telaten, Ceng Goe menggunakan jarum emas dan memberi obat untuk mengusir semua racun dingin yang masih mengeram dalam tubuh si bocah. Sementara itu, di waktu luang, Boe Kie tidak menyia-nyiakan tempo. Tanpa kenal capai, ia membaca dan mempelajari kitab kitab ketabiban. Jika ada bagian yang tidak dimengerti, ia memohon petunjuk dari Ouw Ceng Goe yang memberinya dengan segala senang hati. Perlahan-lahan tabib malaikat itu mulai merasa suka terhadap si bocah pintar itu. Sekali hatinya terbuka, tanpa sangsi-sangsi, ia memberi segala pelajaran yang dimilikinya.

Kadang-kadang bocah itu mengajukan pertanyaan mengenai hal-hal yang belum pernah dipikir olehnya sendiri. Rasa kagum orang tua itu terhadap Boe Kie jadi makin besar.

Semula, ia berminat membinasakan Boe Kie begitu lekas lukanya sembuh. Tapi sekarang ia merasa, bahwa jika si bocah binasa, ia akan hidup kesepian. Maka itulah, waktu memberi obat, ia sengaja mengurangkan timbangannya untuk menunda penyembuhan dan menunda pula kebinasaan anak itu.

Sesudah lewat satu dua bulan, dengan rasa heran Ceng Goe mendapat kenyataan, bahwa sesudah menggunakan rupa-rupa cara, ia masih belum juga bisa mengusir racun dingin yang berkumpul di Sam cauw. Belasan hari ia memeras pikiran dan bekerja keras, tapi hasilnya nihil sehingga rambutnya bertambah uban.

(Samcouw = hormon).

Pada suatu hari, sambil menghela napas ia berkata, “Ilmu silat Thay soehoemu sangat tinggi, tapi dalam ilmu ketabiban, ia mencelakakan kau. Sesudah kau kena pukulan Hian beng Sin ciang, ia membuka Kie keng Pat mehmu. Betul-betul gila!”

“Bukan, bukan Thay soehoe yang membuka pembuluh darahku,” membantah Boe Kie. Sesudah berkumpul dengan Ouw Ceng Goe beberapa bulan, ia merasa bahwa meskipun beradat aneh, tabib melaikat itu bukan manusia jahat. Maka itu, tanpa diminta, ia lantas saja meneceritakan riwayat hidupnya. Ia juga menuturkan pengalamannya di kuil Siauw lim sie, ketika ia datang untuk belajar Siauw lim Kioe yang kang.

Sesudah menunduk beberapa saat, tiba-tiba saja Ceng Goe menepuk paha dan berkata, “Boe Kie, pendeta Siauw lim itu pasti dengan sengaja mencelakakan kau !”

Si bocah terkejut. “Aku belum pernah mengenalnya, ada perlu apa dia harus mencelakakan aku?” tanyanya.

“Hal…hal ini sungguh aneh,” kata pula Ceng Goa. “Coba kau ceritakan terlebih jelas semua pengalamanmu di Siauw sit san.”

Boe Kie menurut dan lantas saja mengulang penuturannya secara lebib jelas.

Tiap kok Ie sian tampak berjalan mundar-mandir sambil menggendong kedua tangannya. Sekonyong-konyong ia berteriak, “Tidak bisa salah lagi. Pendeta itu memang sengaja mencelakakan kau. Thay soehoemu tidak mengerti ilmu ketabiban dan juga ia adalah seorang yang sangat percaya segala manusia. Maka itu, ia tidak bercuriga. Coba kau pikir, Goan tin adalah seorang yang mahir dalam ilmu Siauw lim Kioe yang kang dan ia juga bisa membantu kau dalam membuka Kie keng Pat mehmu. Dengan lain perkataan, ia sudah memiliki Lweekang sangat tinggi. Maka itu, begitu lekas kedua telapak tangannya menempel dengan telapak tanganmu, ia pasti tahu, bahwa dalam tubuhmu mengeram racun dingin. Tapi, ia malah sengaja membuka pembuluh darahmu. Apakah, dengan begitu, ia bukan sengaja mencelakakan kau?”

“Tapi, dari sebelum menobloskan tembok, ia memang sudah berniat untuk bantu membuka Kie keng pat mehku,” kata Boe Kie. “Waktu ia belum tahu, bahwa aku kena pukulan Hian beng Sin ciang.”

Ceng Goe geleng-gelengkan kepalanya. “Sebab apa Goan tin mau mencelakakan kau, aku masih belum tahu,” katanya. “Kau mengatakan, bahwa sebab belum pernah kenal satu sama lain, maka tak mungkin ia mencelakakan kau. Akan tetapi, kau harus ingat, bahwa kau sudah belajar Siauw Lim Kioe yang kang, yang mungkin dianggap olehnya sebagai miliknya sendiri. Hal ini sudah cukup untuk menimbulkan niatan membunuh kau di dalam hatinya”

“Menurut katanya Thay Soehoe Siauw lim sie dan Boe tong adalah pemimpin dari partai partai yang lurus bersih” kata Boe Kie. “Menurut pendapatku biarpun dalam kuil Siauw lim sie terdapat orang orang yang berpemandangan sempit, akan tetapi, mereka pasti tidak akan bertindak secara begitu hina dina. Apa pula Thay soehoe sendiri telah menyerahkan Thay kek Sip sam sit dan Boe tong kioe yang kang kepada mereka sebagai penukaran. Dalam hal ini pada hakekatnya pihak Siauw lim yang lebih untung.”

Ouw Ceng Goe tertawa dingin. “Lurus bersih!,” menegasnya. “Apakah ayah dan ibumu bukan didesak sehingga binasa oleh orang-orang dari partai lurus bersih? Dengan menganggap, bahwa mereka putih bersih, mereka berlaku sangat kejam terhadap orang-orang dari partai yang dianggapnya sesat. Padahal, orang-orang partai lurus bersih belum tentu baik semuanya, sedang orang-orang dari partai sesat belum tentu jahat seanteronya.”

Kata-kata itu menyentuh hati Boe Kie. Ia ingat, bahwa yang mendesak hebat sehingga mengakibatkan binasanya kedua orang tuanya, sebagian besar terdiri dari orang orang partai lurus bersih, seperti Siauw lim, Koen loan dan Khong tong pay. Bahkan paman-pamannya dari Boe tong pay telah menyaksikan pembunuhan diri kedua orang tuanya dengan berpeluk tangan.

Memang benar mereka berduka, akan tetapi, di dalam hati menganggap bahwa binasanya kedua orang tuanya adalah kebinasaan yang sepantasnya. Pendapat itu sudah lama sekali terkandung dalam lubuk hatinya, tapi sebegitu jauh, ia belum pernah berani mengatakan secara terang-terangan. Sekarang, begitu mendengar perkataan Ouw Ceng Goe, ia menggigil dan menangis keras.

“Ya, dunia memang begitu,” kata Ceng Goe dengan suara tawar. “Baru menemui satu soal saja, kau sudah menangis. Jika kau tidak mati hari ini, di hari kemudian kau bakal mengalami banyak sekali kejadian-kejadian yang dapat mengucurkan air matamu.

Boe Kie buru buru menyusut air matanya.

“Kau mengatakan, bahwa kau belum pernah melihat muka Goan tin,” kata pula si tabib malaikat. “Tapi bagimana kau tahu, bahwa dia tidak mengenal kau? Suara orang dapat diubah bahkan muka masih bisa diubah. Dia tidak mau menemui kau. Hal ini saja sudah menerbitkan kecurigaan. Kau mengatakan, bahwa tanpa sebab, seseorang pasti takkan mencelakakan kau. Apa kau tahu pasti, bahwa aku tidak ingin membunuh kau? Biarlah aku berterus-terang. Karena melihat penyakitmu sangat aneh, maka aku sudah mau berusaha untuk mengobati kau. Tapi berbareng dengan itu, akupun telah mengambil keputusan, bahwa begitu lekas kau sembuh, aku akan segera mengambil jiwamu!”

Boe Kie bergidik. Ia mengerti, bahwa apa yang dikatakan oleh si orang aneh tidak mudah dapat diubah lagi. Ia menghela napas seraya berkata, “Racun dingin dalam tubuhku tak dapat diusir keluar lagi seanteronya. Tanpa kau turun tangan, aku akau mati sendiri. Hai! Manusia di dunia agaknya merasa senang jika melihat orang lain celaka atau mati. Bukankah orang yang belajar silat bertujuan untuk membunuh sesama manusia?”

Ouw Ceng Goe mendongak dan dengan mata membelakak ia mengawasi langit. Sesudah lewat kian lama, ia berkata dengan suara parau, “Di waktu masih muda aku mempelajari ilmu ketabiban dengan tekad untuk menolong sesama manusia. Akan tetapi, orang-orang yang ditolong berbalik mencelakakan aku. Aku pernah menolong jiwa seorang yang mendapat tujuhbelas lubang luka bacokan. Dia sebenarnya sudah mesti mati. Tiga hari tiga malam aku tidak tidur dan dengan seantero kepandaian, aku berhasil menyembuhkannya. Belakangan aku mengangkat saudara dengannya. Tak dinyana, ia akhimya membinasakan adik perempuanku, adik kandungku. Siapa dia? Dia sekarang seorang tokoh besar yang namanya besar pula dari sebuah partai lurus bersih.”

Dengan rasa kasihan, Boe Kie mengawasi muka Ceng Goe yang diliputi dengan sinar kedukaan. “Kalau begitu ia mendapat gelaran Kian sie poet kioe karena ia telah mengalami kejadian hebat,” katanya di dalam hati. Darahnya lantas saja meluap dan ia menanya, “Siapa adanya manusia binatang itu? Mengapa kau tidak cari padanya untuk membalas sakit hati?”

“Pada waktu mau meninggal dunia, adikku telah memaksa aku bersumpah, bahwa aku tak akan coba membalas sakit hati,” jawabnya, “Lebih gila lagi, ia minta aku berjanji bahwa kalau manusia itu berada dalam bahaya, aku mesti menolong. Dapat dimengerti jika aku menolak tuntutan itu. Tapi, sebelum aku meluluskan adikku tidak akan mati dengan mata meram. Hati Adikku…hatinya terlalu mulia. Akhirnya aku tak dapat tidak meluluskan permintaannya yang paling penghabisan itu.” Sehabis berkata begitu air matanya berlinang-linang.

Baru sekarang Boe Kie insyaf, bahwa Ouw Ceng Goe bukan manusia yang tak punya perasaan. Tak bisa salah, antara saudara angkatnya dan adik perempuannya mempunyai hubungan yang sangat erat, kalau bukan suami-isteri, tentulah juga sepasang kecintaan.

Tiba-tiba Ceng Goe berkata dengan suara keras, “Ingatlah apa yang dikatakan olehku, tak boleh kau menyebut-nyebut lagi di hadapanku. Jika kau membocorkan pembicaraan ini kepada orang lain, aku akan membuat kau hidup tidak, matipun tidak.”

Boe Kie sebenarnya ingin menjawab dengan beberapa perkataan tajam, tapi ia segera mengurungkan niatnya, karena ia merasa bahwa pada hakekatnya Ouw Ceng Goe adalah seorang yang harus dikasihani. “Baiklah, aku berjanji tak akan bicara lagi mengenai hal itu.” katanya.

Tabib malaikat itu kemudian mengusap-ngusap rambut si bocah dan berkata sesudah menghela napas berulang-ulang, “Kasihan! Kasihan!” Sehabis berkata begitu, ia masuk ke ruang dalam.

Sesudah terjadi pembicaraan di atas, berulang kali Ceng Goe memeriksa tubuh Boe Kie dan siang malam is mengasah otak, tapi ia tidak mendapat jalan untuk membasmi racun dingin yang sudah masuk ke dalam Sam ciauw. Ia sekarang yakin, bahwa biarpun ia berusaha sebisa-bisa dengan menggunakan ilmu pengobatan yang paling tinggi, paling banyak ia bisa-bisa memperpanjang umur si bocah dengan beberapa tahun saja.

Sementara itu, karena berada di pegunungan yang sepi, Boe Kie merupakan seorang kawan yang sangat menyenangkan, maka di waktu-waktu luang Ceng Goe memberi petunjuk dan pelajaran ilmu ketabiban kepada si bocah yang terus belajar dengan rajin dan tak mengenal capai.

Melihat kecerdasan bocah itu yang dalam tempo singkat sudah dapat memahami kitab-kitab Oey te Ha mo keng, See hong Coe beng tong Cie keng, Tay peng seng Hoei hong dan sebagainya, Ceng Goe menghela napas seraya berkata, “Dengan kecerdasanmu, dibantu olehku sendiri, sebelum berusia dua belas tahun, kau sudah akan hisa merendengi Hoa To atau Pian Ciak. Hanya sayang…sungguh sayang!”

Ia merasa sayang, karena dengan berusia pendek, semua kecerdasan dan kepandaian itu, tiada gunanya. Tapi Boe Kie mempunyai lain tujuan. Ia belajar ilmu ketabiban dengan tekad untuk memulihkan usia Siang Gie Coen yang menurut Ouw Ceng Goe, akan berkurang dengan tigapuluh tahun.

Hari berlalu laksana terbang dan tanpa terasa, dua tahun sudah berselang, Boe Kie sekarang sudah berusia empat belas tahun. Selama dua tabuh itu beberapa kali Gie Coen datang menengoknya. Ia memberitahukan, bahwa Thio Sam Hong memperkenankannya, untuk berdiam lebih lama di Ouw tiap kok, sampai racun dingin dalam tubuhnya dapat dibasmi seluruhnya. Ia juga menyampaikan warta bahwa makin lima orang Mongol jadi ganas, bahwa rakyat menderita dan permusuhan antara partai lurus bersih dan partai sesat makin menghebat dan jumlah manusia yang menjadi korban makin meningkat.

Setiap kali datang di Ouw tiap kok, Siang Gie Coen berdiam beberapa hari dan kemudian pergi lagi. Pada kedatangannya yang terakhir, Boe Kie telah mendapat kemajuan pesat dalam pelajaran ilmu ketabiban. Ia memeriksa nadi Siang Gie Coen dan kemudian menulis obat yang lalu diberikan kepada si berewok dengan pesanan bahwa ia harus sering-sering minum obat itu. Gie Coen menghaturkan banyak terima kasih dan lalu memasukkan surat obat itu kedalam sakunya.

Kali ini, dalam kamar paman gurunya, Gie Coen beromong-omong dengan orang tua itu sehingga jauh malam. Malam itu dia tidak bisa tidur dan gelisah. Boe Kie merasa heran. Si brewok tidak begitu akur dengan paman gurunya. Mengapa ia bicara begitu lama? Boe Kie menduga bahwa di dalam kalangan Mo kauw timbul gelombang dan sebab ia sendiri bukan anggauta “agama” itu, maka ia tidak mau menyelidiki.

Esok paginya, Gie Coen berpamitan dan Boe Kie mengantarnya sampai di mulut selat. “Saudara,” kata si berewok waktu mereka berpisahan, “dalam beberapa hari ini seorang musuh yang sangat lihai akan menyatroni Ouw Soepeh. Sebenarnya aku ingin mengajak kau pergi ke lain tempat untuk sementara waktu, akan tetapi Ouw Soepeh mengatakan, bahwa musuh itu tak akan bisa berbuat banyak. Ia mengatakan, aku tak usah takut. Tapi aku harap, kau suka berlaku hati-hati.”

“Musuh siapa?” tanya Boe Kie.

“Akupun tak tahu,” jawabnya. “Aku mendengar warta itu di tengah jalan dan buru-buru aku datang kemari untuk memberitahukan Ouw Soepeh. Saudara, Ouw Soepeh seorang pintar yang sangat berhati-hati. Kalau ia mengatakan tak usah kuatir, ia tentu sudah mempunyai pegangan. Hanya aku yang masih berkuatir.”

Melihat kecintaan si brewok terhadap dirinya, Boe Kie merasa sangat terharu dan sesudah beromong-omong lagi beberapa lama, mereka lalu berpisahan.

Sekembalinya dirumah Ceng Goe, ia melihat orang tua itu tenang-tenang saja. Beberapa kali ia coba menanya, tapi pertanyaan selalu diputuskan di tengah jalan.

Enam tujuh hari telah lewat dengan tenang. Malam itu, selagi Boe Kia membaca sejilid kitab obat, mendadak ia merasa kepalanya berat dan badannya lelah. Ia lantas saja naik ke pembaringan. Esok harinya, ketika tersadar, ia merasa kepalanya sakit sekali. Ia segera pengi kebelakang untuk mengambil obat. Tapi, baru berjalan puluhan tindak, ia mendapat kenyataan, bahwa ia baru tersadar di waktu lohor. “Mengapa aku tidur begitu lama? Apa aku sakit?” tanyanya di dalam hati.

Ia segera memegang nadi, tapi ketukan nadi tidak mengunjuk hal yang luar biasa. ia jadi semakin kaget. Apakah racun dingin itu mengamuk dan ia sudah mendekati ajalnya?

Buru buru ia mencari Ouw Ceng Goe, tapi orang tua itu tidak kelihatan hidungnya. Selama beberapa hari ia selalu berkuatir dan sekarang karena orang tua itu tidak berada di dalam rumah, sambil berlari-lari ia pergi kekebun untuk mencarinya. Di kebun ia bertemu dengan seorang kacung yang sedang mencangkul tanah. “Mana Ouw Sinshe?” tanyanya.

“Apa ia tidak berada di kamarnya?” si kacung balas menanya. “Baru saja aku membawa teh, Ouw Sinshe memesan supaya ia tidak diganggu”. Boe Kie tertawa. “Aku benar tolol.” katanya di dalam hati dan lalu kembali ke rumah.

Waktu tiba di depan kamar Ceng Goe, ia melihat pintu dikunci. Mengingat perkataan si kacung ia tidak berani mengetuk dan hanya batuk-batuk beberapa kali.

“Boe Kie,” kata orang tua itu, “hari ini badanku kurang enak. Leherku sakit. Kau belajar saja sendiri.”

“Baiklah,” jawabnya. Sesaat kemudian, sebab kuatir penyakit orang tua itu lebih berat, ia berkata: “SinShe, boleh kuperiksa lehermu?”

“Tak usah,” Jawabnya dengan suara dalam. “Aku sendiri sudah memeriksa dari tadi. Tak apa-apa. Aku sendiri sudah minum obat.”

Malam itu, waktu kacung membawa nasi, Boe Kie turut masuk ke kamar Ceng Goe. Ia melihat, bahwa muka orang tua itu yang rebah di pembaringan pucat pasi. Ia kaget. “Apakah semalam, selagi aku tidur, musuh sudah datang menyatroni?” tanyanya dalam hati. “Mungkin sekali, biarpun berhasil mengusirnya, Ouw Sinshe sendiri terluka berat.”

Begitu melihat Boe Kie, Ceng Goe mengibas tangannya. “Pergi!” bentaknya. “Kau tahu aku sakit apa? Sakit cacar.”

Si bocah mengawasi dan benar saja, tangan dan muka orang tua itu penuh dengan titik-titik hebat. Kalau salah pengobatannya, orang bisa mati, atau sedikitnya bakal bermuka bopeng. Tapi mengingat Ceng Goe seorang tabib malaikat, ia tidak merasa kuatir. Hatinya lega sebab ia yakin, bahwa orang tua itu bukan dilukakan musuh.

“Kau dan si kacung tidak boleh masuk lagi ke dalam kamarku,” kata pula Ceng Goe. “Semua perabot makan, sesudah digunakan olehku, harus diseduh dengan air panas. Kau tidak boleh menggunakan itu…hm…” Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi. “Boe Kie, begini saja. Menyingkirlah dari Ouw tiap kok untuk sementara waktu, kau boleh menumpang di salah sebuah rumah penduduk kira kira setengah bulan. Aku kuatir kau ketularan cacar!”

“Tidak!” kata si bocah. “Sinshe sedang sakit, kalau aku pergi, siapa yang harus merawatmu. Biar bagaimanapun jua, aku lebih mengenal ilmu pengobatan dari pada kedua kacung itu.”

“Tapi lebih baik kau menyingkir,” kata orang tua itu. Ia membujuk beberapa kali, tapi si bocah tetap pada pendiriannya. Akhirnya Ceng Goe berkata, “Baiklah. Tapi biar bagaimanapun jua, aku melarang kau masuk lagi ke kamarku”

Tiga hari telah lewat. Setiap pagi dan malam Boe Kie selalu menanyakan kesehatan orang tua itu dari luar kamar. Ia mendapat kenyataan bahwa biarpun suara Ceng Goe masih agak parau, tapi semangatnya sudah cukup baik dan nafsu makannyapun bertambah besar. Setiap kali, dari dalam kamar, Ceng Goe menyebutkan nama-nama obat dan timbangannya yang harus dimasak untuknya oleh si kacung.

Pada hari keempat, di waktu lohor, Boe Kie membaca bagian Soe Kie Tauw sia Tay Loen (Perundingan mengenai peranan empat hawa dalam memperkuat semangat) dari Oey Tee Lwee keng (Kitab obat-obatan dari kaisar Oey Teng). Di bagian itu antara lain tertulis seperti berikut:

“Maka itulah, seorang pandai tidak mengobati penyakit, tapi menjaga supaya penyakit itu jangan sampai timbul. Ia tidak membereskan kekacauan, tapi menjaga jangan sampai kekacauan muncul. Inilah jalan yang paling baik. Kalau menunggu sampai penyakit timbul dan baru mengobatinya, sampai kekacauan muncul dan baru mengobatinya, sampai kekacauan muncul dan baru membereskannya, maka usaha itu adalah seperti menggali sumur sesudah haus atau membuat senjata sesudah menghadapi musuh. Apakah itu bukan sudah terlambat?”

Tanpa merasa, Boe Kie mengangguk beberapa kali. “Memang sudah terlambat, kalau menggali sumur sesudah haus dan membuat senjata sesudah berhadapan dengan musuh,” katanya di dalam hati. “Membereskan negara sesudah terbit kekacauan juga sudah terlambat. Biarpun andaikata keamanan dapat dipulihkan, akan tetapi negara tetap mendapat kerugian. Mengobati penyakit juga tiada bedanya. Lebih baik menjaga sebelum penyakit mengamuk dari pada mengobati sesudah penyakit itu menjadi berat,” ia ingat di bagian lain dari kitab tersebut terdapat kata kata seperti berikut:

“Seorang tabib yang pandai, paling senang mengobati kulit dan bulu, kemudian mengobati otot otot, lalu mengobati urat-urat, dan akhirnya baru mengobati isi perut. Jika ia harus mengobati isi perut, maka kemungkinan sembuhnya si sakit hanya separuh-separuh.”

“Benar, memang benar apa yang dikatakan dalam kitab itu,” pikir Boe Kie. “Seorang tabib pandai selalu mengobati pada waktu penyakit baru saja muncul. Kalau penyakit sudab masuk ke isi perut biar bagaimana pandaipun jua, ia tidak mempunyai pegangan lagi. Seperti aku, racun sudah masuk ke dalam isi perutku. Keadaanku sudah sembilan bagian mati dan hanya satu bagian hidup.”

Selagi memikir begitu, tiba tiba terdengar suara tindakan kuda. Boe Kie buru-buru menutup bukunya dan berbangkit. Ia bingung sebab kuatir kedatangan musuh. Sambil berlari-lari ia pengi kekamar Ceng Goe. “Ouw Sinshe,” katanya. “Kudengar suara tindakan bebrapa ekor kuda yang masuk ke selat ini. Bagaimana baiknya?”

Sebelum orang tua itu keburu menjawab, kuda-kuda itu yang ternyata bisa lari luar biasa cepatnya, sudah tiba di depan rumah.

“Sesama orang rimba persilatan mohon bertemu dengan Ie Sian Ouw Sinshe!” demikian terdengar teriakan seorang. “Kami ingin memohon belas kasih Ouw Sinshe untuk mengobati penyakit”

Mendengar itu, hati Boe Kie agak lega. Ia bertindak keluar dan melihat seorang bermuka hitam berdiri di depan pintu. Tangan orang itu menuntun tiga ekor kuda. Di punggung dua di antara hewan hewan itu kelihatan rebah dua orang yang pakaiannya berlepotan darah. Penunggang kuda itu sendiri berdiri dengan kepala d ibalut dengan kain putih bernoda darah, sedang tangan kanannya di masukkan dalam selembar kain yang diikatkan keleher. Di lihat dari romannya, iapun mendapat luka yang tidak enteng.

“Kedatangan kalian sungguh sangat tidak kebetulan,” kata Boe Kie. “Ouw Sinshe sedang sakit dan tidak bisa bangun. Harap kalian suka cari lain tabib saja.”

“Celaka!” kata orang itu dengan suara kaget. “Kami melalui perjalanan ratusan li dengan harapan bisa mendapat pertolongan Ie sian”

“Ouw Sinshe mendapat sakit cacar,” Boe Kie menerangkan. “Dalam beberapa hari ini, keadaannya sangat buruk. Inilah suatu kenyataan dan aku tidak berdusta.”

Orang itu menghela napas. “Kami bertiga adalah saudara seperguruan dan kami mendapat luka yang sangat berat,” katanya dengan suara duka. “Kalau tidak ditolong Ie sian, kami pasti akan meninggal dunia. Kuharap saudara suka melaporkan kepada Ouw Sinshe.”

“Kalau begitu, bolehkah aku tahu she dan nama Toako yang mulia?” tanya Boe Kie.

“Nama kami tidak cukup berharga untuk disebut-sebut,” jawabnya. “Tolong beritahukan saja bahwa murid-murid Sian-ie Ciang-boen dari Hoa San-pay memohon pertolongan.” Sehabis berkata begitu, badannya bengoyang-goyang, paras mukanya jadi lebih pucat dan mulutnya agak terbuka seperti mau muntahkan darah.

Boe Kie melompat dan menotok beberapa jalan darah di dada dan punggung orang itu. Begitu tertotok, darah yang sudah meluap turun kembali dan orang itu merasa dadanya agak lega.

Melihat kepandaian si bocah, ia kelihatan kaget dan kagum.

Boe Kie segera masuk ke dalam, “Sinshe,” katanya. “di luar menunggu tiga orang yang mendapat luka berat dan minta pertolonganmu. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah murid-murid dari Sian ie Ciang boen Hoa-san-pay.”

Ouw Ceng Goe mengeluarkan suara “ih!” dan kemudian, ia berteriak dengan gusar, “Tidak! Tidak! Usir mereka!”

“Baiklah,” kata Boe Kie yang dengan cepat lalu berjalan keluar.

“Ouw Sinshe tak bisa menemui kalian karena penyakitnya masih belum mendingan,” kata Boe Kie. “Harap kalian suka memaafkan.”

Orang itu mengerutkan alis. Selagi ia mau memohon lagi, tiba-tiba salah seorang yang bertubuh kurus kecil dan rebah di atas punggung kuda mengangkat kepalanya dan mengayun tangannya. Hampir berbareng sehelai sinar emas menyambar dan serupa benda jatuh di atas meja di dalam rumah.

“Saudara, bawalah bunga emas itu kepada Kian sie poet kioe,” kata si kurus. “Beritahukanlah bahwa kami bertiga telah dilukakan oleh majikan dari bunga emas itu. Dia akan segera mencari le sian sendiri. Jika Kian sie Poet kioe suka mengobati kami, sesudah sembuh kami akan tetap berdiam di sini untuk bantu melawan musuh. Biarpun kepandaian kami tidak berarti, tapi masih merupakan tiga tenaga bantuan”

Boe Kie menghampiri meja. Ia melihat, bahwa senjata rahasia itu menyerupai sekuntum bunga bwee yang terbuat dari pada emas tulen, dengan sari bunga dibuat dari perak putih, sehingga Kim hoa (bunga emas) itu indah sekali kelibatannya. Boe Kie mengulurkan tangan dan coba menjemputnya, tapi di luar dugaan bunga emas itu menancap dimeja dan ia tidak dapat mencabutnya lagi. Dengan mengunakan jepitan obat, barulah ia berhasil. “Orang kurus itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi, tapi dia masih kena dilukakan oleh majikan bunga emas itu.” pikirnya, “Siang Toako mengatakan bahwa seorang musuh akan menyatroni Ouw Sinshe. Mungkin sekali musuh Ouw Sinshe adalah orang itu.” Sambil mambawa senjata rahasia tersebut, ia segrera masuk dan menyampaikan perkataan si kurus kepada Ouw Ceng Goe.

“Coba aku lihat,” kata orang tua itu.

Boe Kie menolak pintu dan menyingkap tirai. Kamar itu sangat gelap. Seorang yang kena penyakit cacar memang takut dengan sinar terang, maka pintu dan jendela kamar itu ditutup dengan tirai. Ia melihat muka Ouw Ceng Goe ditutup dengan kain dan hanya kedua matanya yang bisa dilihat orang. Hati Boe Kie berdebaran. Bagaimana macamnya bisul-bisul di muka orang tua itu. Apa sesudah sembuh, dia bakal bopeng?

“Taruh bunga emas itu di atas meja dan lekas keluar,” perintah si tabib malaikat.

Boe Kie menurut.

“Mati hidup mereka bertiga tiada sangkut pautnya dengan aku,” demikian terdengar suara Tiap kok ie sian, “Soal mati hidupku juga tak usah diributi mereka.” “Ptak!”, bunga emas itu terbang keluar sesudah menobloskan tirai dan kemudian jatuh di tanah.

Biarpun daun bunga dari senjata rahasia itu sangat tipis dan tajam, tapi karena tirai adalah lemas dan alot, maka dicobloskannya kain yang tebal itu mengejutkan Boe Kie. Selama berdiam dua tahun di rumah Tiap kok Ie sian, Boe Kie belum pernah melihat ilmu silat orang tua itu. Baru sekarang ia mendapat bukti, bahwa si tabib malaikat juga memiliki ilmu silat yang sangat tinggi.

Ia menjemput Kim hoa itu dan menghampiri lelaki yang kurus itu. Sambil menggelengkan kepala,
ia berkata. “Sakitnya Ouw Sianshe sangat berat.”

Mendadak dari sebelah kejauhan terdengar suara roda kereta yang tengah memasuki selat Ouw tiap kok. Perkataan Boe Kie terhenti dan semua orang memasang kuping.

Kereta itu cepat sekali jalannya, dan tak lama kemudian sudah berada di luar rumah. Dari dalam kereta keluarlah seorang pemuda yaug kuning kulit mukanya sambil melompat. Begitu turun ia mendukung seorang kakek yang gundul kepalanya “Apa Tiap kok Ie sian Ouw Sinshe ada?” tanyanya.

“Murid Khong tong pay…” Baru ia ber kata begitu, badannya bergoyang-goyang dan ia lalu roboh bersama-sama si kakek. Dua ekor kuda yang menarik kereta, yang mulutnya mengeluarkan busa, juga berlutut dengan berbareng. Rupanya kedua binatang itu kehabisan tenaga.

Melihat romannya dua orang itu, tanpa ditanya lagi ketahuanlah sudah bahwa mereka itu baru saja melakukan perjalanan cepat satu sampai dua ratus li tanpa beristirahat di tengah jalan. Sudah begitu Boe Kie pun mendengar disebutnya “Murid murid Khong Tong pay”, maka ingatlah ia akan halnya, di antara orang-orang yang memaksakan kematian ayah dan ibunya di atas gunung Boe tong san ada tianglo atau tertua dari partai itu. Ia melihat si orang tua kepala gundul lantang yang disebut Seng Cioe Ka Lam Kao Ciat. Orang tua ini tidak hadir digunung ketika itu, akan tetapi mau ia menduga bahwa dia ini mestinya bukan manusia baik-baik.

Karena itu ingin ia menolak mereka itu, tapi ia segera melihat munculnya lagi empat atau lima orang ada yang dingkluk-dingkluk sambil memegangi tongkat, ada yang saling menuntun, dan semua mereka itu mempunyai luka-luka di tubuh mereka. Ia mengerutkan alisnya. Tidak menanti sampai mereka itu datang dekat, ia lantas berkata nyaring, “Ouw Sinshe kena penyakit cacar, karena dirinya sendiri belum tentu dapat ditolong, ia jadinya tidak dapat mengobati kalian, tuan-tuan! Maka itu, silahkan tuan-tuan sekalian lekas mencari tabib lain saja supaya kamu tidak dimatikan oleh luka-luka kau.”

Sementara itu, orang orang itu yang berjumlah berlima sudah datang dekat. Nyata mereka itn mengenakan pakaian yang bagus-bagus, mereka mirip dengan saudagar saudagar besar, melainkan muka mereka semua pucat pasi, bagaikan kertas putih polos, sedikit juga tidak ada sinar darahnya. Di tubuh mereka tidak tampak tanda-tanda bekas luka, dari itu teranglah sudah bahwa mereka mendapat luka-luka hebat di dalam.

Orang yang berjalan dimuka, yang tubuhnya jangkung dan gemuk, mengangguk terhadap Kan Ciat serta si pria kurus dan kecil, atas mana, mereka itu saling menyeringai. Jadinya, tiga rombongan orang itu, semua kenal satu dengan lain.

Boe kie heran, tertarik rasa ingin tahunya.

“Apakah kamu semua terlukanya si pemilik bungga emas?” ia tanya.

“Benar.” menjawab si gemuk, yang terus berpaling kepada Kan Ciat, untuk menanya: “Saudara Kan, apakah kau telah bertemu sama Ouw Sinshe?”

Kan Ciat nuenggeleng kepala, “Saudara Nio, mukamu lebih terang. Mungkin kau dapat mengundang Ouw Sinsbe,” katanya

“Siapakah itu si pemilik bunga emas?” tanya Boe Kie menyelak. “Kenapa dia demikian galak?”

“Saudara kecil,” berkata orang yang dipanggii saudara Nio oleh Kan Ciat tanpa dia menjawab pertanyaan si anak tanggung, “tolong kau menyampaikan kepada Ouw Sinshe bahwa aku si orang she Nio dari Toko Emas Goan Sang di Boe hoe telah datang dari tempat yang jauh memohon berobat”

Si orang yang muntah darah hidup, yang tiba paling dulu, menduga Boe Kio muda sekali tetapi bukannya sembarangan orang, maka dia bertanya: “Saudara kecil, kau she apa? Apakah hubungan sama Ouw Sinshe?”

“Aku juga pasien dari Ouw Sinshe.” Boe Kie menyahut. “Sudah dua tahun lebih Ouw Sinshe mengobati aku. Aku masih belum sembuh betul, Ouw Sinshe telah membilang, dia tidak dapat mengobati. Maka itu, sudah pasti dia tidak bakal mengobatinya. Karenanya, tidak ada gunanya untuk kamu berdiam lama-lama disini.”

Selagi mereka berbicara, dengan beruntun kembali datang empat orang. Ada yang naik kereta, ada yang menunggang kuda, dan mereka ini juga datang untuk minta ditolong diobati, mereka memintanya dengan sangat.

Boe Kie menjadi heran sekali hingga ia berpikir. “Lembah Ouw tiap kok ini sepi luar biasa. Kecuali orang-orang partai agama sesat, orang Kang-ouw juga sedikit yang sekali mengetahuinya. Maka itu mereka ini ialah orang-orang Khong Tong pay dan lainnya, yang bukan kaum sesat. Kenapa mereka berbareng pada datang kemari untuk berobat? Pula, kenapa mereka juga terluka berbareng? Dan itu pemilik bunga emas, dia lihai sekali! Untuknya jikalau dia mau mengambil jiwa mereka ini, itulah bukan pekerjaan sulit. Kenapa dia justeru melukai orang orang ini hebat begini macam?”

Di antara semua orang itu, yang berjumlah empat belas, ada yang pandai bicara, ada yang diam saja, tetapi mereka semua bersatu hati tak mau mengangkat kaki walaupun mereka sudah ditolak. Ketika itu sudah magrib, mereka seperti memenuhi sebuah ruang.

Kacung tukang masak nasi sudah lantas menyajikan barang makanannya Boe Kie, dan Boe Kie tanpa sungkan lagi lantas berdahar seorang diri. Kemudian ia duduk menghadapi meja dan dengan terangnya pelita, ia membaca buku tentang ilmu ketabiban. Semua orang itu ia tidak ambil peduli. Ia telah berpikir. “Aku telah dapat mempelajari ilmu tabib dari Ouw Sinshe, maka itu akupun boleh mempelajari ilmunya, melihat kematian tidak menolong.”

Malam telah tiba. Malam itu sunyi sekali. Di dalam rumah gubuk itu tidak terdengar suara apa apa lagi kecuali suara Boe Kie membolik-balik halaman bukunya serta suara bernapas keras dari mereka yang terluka. Justeru suasana sedang sunyi sunyinya itu, dari luar gubuk terdengar tindakan kaki dari dua orang.

Boe Kie heran. Ia lantas mengangkat kepalanya. Ia memasang kuping. Tindakan tadi perlahan, selagi mendekati, semakin perlahan terdengarnya. Terang orang lagi menghampirkan ke rumah gubuk.

Tak lama, atau lantas terdengar suara yang halus tetapi terang. “Ibu, di sana ada sinar api di dalam rumah. Kita sudah sampai!”

Di dengar dari suaranya itu, orang itu mestinya seorang anak kecil.

“Anak, kau capai atau tidak?” lalu terdengar suara lain, lebih keras tetapi toh dari seorang wanita juga.

“Aku tidak capai.” sahut si anak barusan. “Ibu jikalau tabib sudah mengobati kau, kau tentunya tidak sakit lagi.”

Si wanita terdengar menjawab, “Ya…Tapi entahlah dia suka menolong atau tidak!”

Hati Boe Kie tergerak.

“Ah, rasanya aku kenal baik suara ini …” pikirnya. “Rupanya dia Nona Kie Siauw Hoe.”

“Pasti tabib akan mengobati ibu,” kata pula si anak perempuan. “Jangan kuatir. Apakah nyeri ibu sudah mendingan?”

“Sedikit mendingan?” menyahut si nyonya yang dipanggil ibu itu. “Ah, anak yang bersengsara…”

Mendengar pula suara orang itu, Boe Kie tak sangsi lagi. Ia lantas lompat keambang pintu.

“Toh Kie Kouwkouw disana”, ia menanya “Apakah kaupun terluka?”

Lalu di bawah terangnya sang Puteri Malam ia melihat seorang wanita yang sebelah tangannya menuntun seorang nona kecil, seorang anak perempuan juga. Wanita itu yang dipanggil Kouwkouw, atau bibi, benarlah Kie Siauw Hoe adanya. Akan tetapi Siauw Hoe tidak mengenalinya sebab ketika di atas gunung Boe tong san mereka bertemu, Boe Kie baru berumur sepuluh tahun, dan sekarang, sang waktu sudah lewat lima tahun.

“Kau…kau…” tanyanya heran.

“Kouwkouw, kau telah tidak mengenali aku, bukan?” kata Boe Kie, “Aku Thio Boe Kie. Ketika dulu hari di Boe tong san ayah dan ibuku membunuh diri, aku melihat kau.”

Siauw Hoe berseru saking herannya. Inilah ia sama sekali tidak menyangka. Berbareng dengan itu, ia menjadi kaget sendirinya. Ia seorang nona yang belum menikah, membawa-bawa seorang anak perempuan…Sekarang ia berhadapan dengan Boe Kie, keponakan dari In Lie Heng bakal suaminya itu. Sebagai bocah tanggung, Boe Kie tentulah sulit untuk diberi penjeasan tentang keganjilan itu. Maka mukanya menjadi merah. Karena ia lagi terluka serta lukanya bukan enteng, kagetnya itu membuat tubuhnya terhuyung.

Anak perempuan itu, yang umurnya baru enam atau tujuh tahun, melihat ibunya mau jatuh, ia lantas menjambret tangannya, akan tetapi ia bertenaga lemah, ia dapat berbuat apa?

Boe Kie melihat Siauw Hoe mau jatuh, karena mana si nona cilikpun bakal roboh juga, ia lantas menahan pundaknya bibi itu.

“Kouwkouw, silahkan masuk ke dalam untuk beristirahat,” ia mengundang. Ia berkata begitu ia toh memimpin orang masuk kedalam ruang. Karena ini, dengan pertolongan cahaya api, ia lantas melihat luka si bibi, luka di pundak kiri dan di bahu kanan, bekas golok atau pedang. Melihat darah yang menembus dari balutan, luka itu mestinya parah. Pula si nona merintih beberapa kali, tandanya hebat menahan rasa nyerinya.

Mendengar rintihan atau batuk-batuk si nona, Boe Kie mengerti hebatnya luka si bibi. di dalam halnya ilmu ketabiban, sekarang ini Boe Kie telah dapat melawan sembarang “tabib kenamaan”. Suara batuk itu menadakan si nona telah mendapat goncangan pada pinggiran peparunya yang kiri.

“Kouwkouw,” katanya, “tangan kananmu telah bentrok sama tangan orang dan karena itu kau terluka pada bagian peparumu they im hie.” Ia berkata begitu, tetapi tanpa menanti jawaban, ia lantas mengeluarkan tujuh batang jarum emas. Dengan itu, tanpa membukai baju si nona, ia menusuk ditujuh jalan darah in-boen di pundak, hoa kay di dada cie-tek dan lain-lain.

Kepandaian dari Boe Kie ini sekarang beda jauh dari waktu dulu hari ia mengobati Siang Gie Coen. Selama dua tahun ia belajar di bawah pimpinan Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe, ia sudah mendapat kemajuan pesat. Penghalang satu-satunya yalah usianya yang masih terlalu muda. Jadi kalau dibandingkan dengan gurunya, ia masih ketinggalan jauh sekali. Hanya di dalam ilmu menusuk jalanan darah dengan jarum emas saja, ia sudah mendapatkan tujuh atau delapan bagiannya.

Kie Siauw Hoe melihat anak tanggung itu mengambil jarum, ia tidak tahu apa perlunya itu, maka ia heran dan kagum ketika tahu-tahu dia telah ditusuk berulang-ulang secara demikian hebat dan tepat. Begitu lekas sudah ditusuk, ia merasakan dadanya tidak terlalu sesak lagi.

“Anak yang baik!” Ia berseru dalam girangnya “Aku tidak sangka kau berada di sini dan juga telah dapat mempelajari ilmu tabib begini sempurna!”

Siauw Hoe lantas ingat kejadian di Boe tong san itu hari, ketika ia menghadapi Thio Coei San dan In So So, suami isteri itu, saling bergantian membunuh diri, hingga mayat mereka dipeluki Boe Kie. Ia merasa terharu sekali, ia berkasihan terhadap anak itu, maka ia telah membujuk dan menghiburinya seraya memberikan juga kalungnya yang terbuat daripada emas. Hanya ketika itu Boe Kie sudah menampik pemberian itu sebab dia lagi sangat berduka dan gusar, hingga dia memandang semua tetamu yang hadir di situ adalah musuh-musuh yang mendesak kebinasaan ayah dan ibunya. Atas penampikan itu, Siauw Hoe jadi malu sekali, tetapi ia tidak dapat berbuat apa apa.

Kemudian pikiran Boe Kie berubah. Inilah disebabkan ketika dia terlukai serangam ilmu Hian beng Sin ciang, dia sudah ditolong mati-matian oleh In Lie Heng, yang sudah mengorbankan banyak tenaga dalamnya. Perto1ongan itu dia ingat betul. Dia merasa berhutang budi. Maka juga, karena mengingat budinya In Lie Heng dia menjadi ingat juga kebaikan Ki Siauw Hoe dan untuk membalas budinya si paman guru, pantas dia memberikan kesan baik terhadap si tunangan si paman.

Semakin usianya bertambah semakin dia dapat berpikir, membedakan yang benar dan yang salah. Dia juga ingat tempo dulu kala, sekalian paman gurunya telah membicarkan persoalan minta Go bie pay bekerja sama menentang musuh. Jadi Go bie pay bukanlah musuh utama bahkan sama sekali bukanlah musuh Boe tong pay.

Pada dua tahun dulu, ketika Boe Kie bertemu sama Siang Gie Coen di di luar rimba, di sana ia menyaksikan Kie Siauw Hoe menolongi Pheng Hweeshio. Perbuatan mulia nona itu membikin ia beranggapan si nona ialah orang baik. Hanya sekarang ini ia belum dapat memikir kenapa Siauw Hoe, si bibi yang belum menikah, telah mempunyai anak perempuan umur lebih daripada lima tahun itu…

Cuma Siauw Hoe yang lihat sendirinya.

Selama ini Boe Kie dapat melihat jelas anaknya bibi itu. Nona cilik itu berdiri diam di sisi ibunya. Dia masih kecil tetapi nyata dia cantik sekali. Sepasang alisnya bagaikan dilukis, sepasang matanya hitam dan celi, dan dengan mata tajam mengawasi padanya.

“Ibu, apakah anak ini si tabib?” kemudian anak itu berbisik di kuping ibunya. “Apakah rasa nyeri ibu sudah baik?”

Mendengar panggilan “Ibu” mukanya Siauw Hoe menjadi merah pula, tak dapat ia mencegah jengahnya.

“Inilah kakakmu, kakak Boe Kie,” ia menyahuti. “Ayah kakakmu ini ialah sahabat ibumu. Kemudian ia meneruskan pada Boe Kie, perlahan, “Dia…dia bernama Poet Hwie…” Ia berhenti pula sejenak. “Dia she Yo…Yo Poet Hwie…”

Boe Kie girang, dia tertawa.

“Bagus!” dia berseru. “Aku Thio Boe Kie dan kau Yo Poet Hwie!”

Senang Siauw Hoe melihat sikap wajar dari Boe Kie, tak sedikit juga sikap si anak yang hendak menegur kepadanya. Hatinya menjadi lega.

“Anak, kepandaian kakakmu hebat,” ia kata pada anaknya. “Sekarang ini rasa nyeriku sudah berkurang”

Poet Hwie memainkan matanya yang celi itu. Ia mengawasi ibunya, terus ia mengawasi Boe Kie. Sekonyong-konyong ia maju kepada bocah di depannya, untuk merangkul, untuk mencium pipinya.

Bukan main terkejutnya Boe Kie.

Advertisements

1 Comment »

  1. Waduh senangnya bisa membaca cerita silat kesayangan saya lagi. Dulu papaku punya buku ceritanya, masih ejaan lama, tapi sudah tidak ketemu lagi sekarang. Saya membaca cerita ini ketika masih SD (sekitar tahun 1973), banyak sekali pelajaran yg bisa diambil dari cerita silat ini. Kalau boleh saya tau, dimana saya bisa membeli lagi buku ceritanya ya? Tolong beritau informasinya, saya sangat berterima kasih untuk itu. God bless you for help me find this story again.

    Comment by Lina — 03/08/2008 @ 9:31 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: