Kumpulan Cerita Silat

01/08/2008

Memanah Burung Rajawali – 31

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:42 am

Memanah Burung Rajawali – 31
Bab 31. Pemilik dari Pulau Tho Hoa To
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Cu Cong mendengar suara itu, ia segera lantas menoleh, maka terlihatlah olehnya menyambarnya suatu barang ke arah Bwee Tiauw Hong, siapa sudah lantas menangkis. Tepat tangkisannya itu, barang itu mengeluarkan suara keras, rusak dan jatuh. Nyata itu adalah sebuah kursi.

Menyusul itu terdengar angin dari datangnya suatu barang lain, yang terlebih besar. Kali ini si Mayat Besi mengeulur tangan kirinya, untuk menangkap. Dan ia kena pegang suatu barang lebar dan licin. Sebab itulah sebuah meja yang ebrada di samping Cu Cong, yang patah kakinya tertimpa pilar. Penyerangnya pun Cu Cong sendiri. Habis itu Tiauw Hong menendang meja itu. Berbareng dengan itu, Cu Cong, yang mengulur tangan kanannya, memasuki tiga benda bergerak ke leher bajunya si wanita lihai itu.

Tiauw Hong kaget hingga ia menggigil. Ia merasakan barang yang hawanya dingin nelusup ke dadanya. Ia menduga kepada senjata rahasia yang aneh atau permainan ilmu dukun. Ia lantas merogoh, untuk menangkapnya. Ia kena pegang beberapa ekor ikan emas. Tapi yang membuatnya kaget luar biasa ialah tangannya tidak dapat meraba botol obat di dalam sakunya, obat mana lenyap berbareng bersama pisau belatinya serta kitab Kiu Im Cin-keng. Ia sampai berdiri berjublak saja.

Si cerdik Cu Cong sudah menggunai tiga ekor ikan emas itu untuk menyimpangkan perhatiannya Bwee Tiauw Hong yang lihai itu. Itulah ikan-ikan emas, yang lolos dari jambangannya sebab jambangannya pecah ketimpa runtuhan. Diwaktu memasuki ikan itu ke leher baju, ia sekalian menyambar isinya saku orang. Setelah itu dengan cepat ia membuka tutup botol kecil itu, yang dibawanya ke hidungnya Tin Ok, “Bagaimana?” tanyanya.

“Untuk dimakan dan ditarohkan, inilah obatnya!” berkata saudara tua itu, yang ada ahli dalam pemakaian obat beracun.

Tiauw Hong dapat mendengar pembicaraan orang itu, ia sadar, dengan berlompat, ia menerjang. Tapi ia disambut tongkatnya Tin Ok, cambuknya Han Po Kie, dacinnya Coan Kim Hoat dan pikulannya Lam Hie Jin. Ia hendak mengeluarkan cambuknya sendiri atau ia batalkan itu dengan mendadak karena pedangnya Han Siauw Eng menikam ke arah dadanya.

“Kasih dia makan, torehkan padanya!” kata Cu Cong pada Oey Yong, kepada siapa ia serahkan obat pemunah racun itu. Dilain pihak, ia sesapkan pisau belatina si Mayat Besi kepada muridnya seraya memberitahukan: “Inilah piasu asal kepunyaanmu.” Setelah itu, dengan mainkan kipas besinya, ia mau membantu saudara-saudaranya mengepung musuh yang lihai itu.

Habet pertempuran itu, karena berselang sepuluh tahu, Kanglam Liok Koay telah memperoleh kemajuan pesat.

Seng Hong dan anaknya heran menyaksikan pertempuran itu. Mereka beranggapan, “Tiauw Hong benar-benar lihai, tetapi pun jago-jago Kanglam itu tidak bernama kosong.” Tapi Seng Hong sudah lantas berseru: “Tuan-tuan, berhenti dulu! Mari dengar aku!”

Orang lagi itu bertarung hebat, tidak ada yang pedulikan teriakan itu, mereka itu bertarung terus.

Tidak lama sehabisnya makan obat, Kwee Ceng mulai sadar. racun itu menyerang cepat tetapi perginya cepat juga. Lukanya masih menimbulkan rasa sakit tapi itu tidak mengganggu gerakan lengan kirinya yang terluka itu. Maka itu setelah, memasukkan piasu belati ke dalam sakunya, ia berlompat bangun dari rangkulannya Oey Yong. Ia maju ke gelanggang pertempuran, untuk berkelahi pula. Seperti tadi, ia menyerang dengan gerakan perlahan, pada saatnya baru ia mengerahkan tenaganya.

Tiauw Hong repot melayani musuh-musuhnya, ia juga tidak mendengar sambaran angin dari serangannya si anak muda, tahu-tahui ia sudah kena terhajar. Kembali ia roboh. Justru itu senjatanya Po Kie dan Hie Jin turun ke arah tubuhnya.

“Suhu, ampunkan dia!” berseru Kwee Ceng, yang menangkis sejata kedua gurunya itu.

Liok Koay menurut, mereka lantas berlompat mundur.

Tiauw Hong masih hendak membela diri, ia bersiap sedia dengan cambuknya, cambuk Tok-liong-pian yang beracun.

Kwee Ceng tidak menyerang lebih jauh, ia hanya berkata pada wanita lihai itu: “Hari ini baiklah pertempuran diakhirkan secara baik! Kami tiak hendak membikin susah padamu, kau pergilah!”

Tiauw Hong suka menyimpan cambuknya.

“Kau kembalikan kitabku!” katanya.

Cu Cong melengak. “Aku tidak mengambil kitabmu!” katanya. “Kau tahu sendiri, tidak pernah Kanglam Liok Koay berdusta!”

Ia tidak tahu kertas kulit manusia di luar pisau belati adalah rahasianya Kiu Im Cin-keng.

Tiauw Hong tahu Kanglam Cit Koay jujur, karena ini ia mau percaya kitabnya pastilah telah terjatuh selagi ia bertempur, dari itu ia lantas berdongko dan meraba-raba ke tanah. Sekian lama ia bekerja, ia tidak berhasil mendapatkan barang yang dicari itu.

Menyaksikan orang rape-rape itu, semua orang merasa kasihan juga. Tidakkah ia buta walaupun ia sangat lihai?

Seng Hong lantas saja berkata: “Suci, di sini benar-benar tidak ada barangmu! Mungkin kau kena bikin hilang di tengah jalan-”

Tiauw Hong tidak menjawab, ia pun tidak berhenti bekerja.

Sekonyong-koyong mata orang banyak bagaikan berkelebat, lalu di hadapan mereka muncul pula si orang baju hijau, yang gerakan tubuhnya bagaikan kilat. Tahu-tahu saja dia sudah mencekal punggung Bwee Tiauw Hong, yang terus diangkat, untuk dibawa pergi. Perginya pun lenyapnya dalam sekejap, lenyap di antara pepohonan di luar Kwie-in-chung itu.

Begitu lihainya si Mayat Besi, ia tidak berdaya.

Orang semua melongo, mereka saling memandang. Sunyi si sekitar mereka, kecuali suara gelombang, yang nanti terdengar, nanti tidak-.

Masih selewat sekian lama, barulah Kwa Tin Ok memecahkan kesunyian. Ia berkata kepada tuan rumah: “Murid kami telah menempur wanita jahat itu, karena kami merusak rumahmu, tuan, kami sangat menyesal.”

“Jangan berucap demikian, tayhiap,” Seng Hong berkata, “Justru aku girang sekali yang tayhiap semua serta muridmu datang ke mari. Justru aku hendak menghanturkan termia kasihku, sebab kalau tidak, mungkin rumahku ini bakal ludas.”

“Aku minta sukalah semua tuan duduk beristirahat,” Koan Eng menimpali ayahnya dengan sikapnya yang ramah tamah. “Saudara Kwee, apakah lukamu tidak sakit?”

“Tidak,” sahut Kwee Ceng. Tapi, baru ia menutup mulutnya, atau tiba-tiba sudah terlihat pula si baju hijau bersama Bwee Tiauw Hong, datangnya seperrti tidak nampak.

Bwee Tiauw Hong berdiri dengan menolak pinggang, ia berkata dengan nyaring, “Eh, bocah she Kwee, kau sudah menghajara aku dengan Hang Liong Sip-pat Ciang ajarannya Ang Cit Kong, karena mataku buta, aku tidak dapat melihat segala gerakanmu! Aku tidak ambil mumat, tetapi jikalau hal ini tersiar di kalangan kangouw, apabila sampai ada yang membilang Bwee Tiauw Hong tidak sanggup melawan muridnya si pengemis, bukankah itu akan meruntuhkan namanya guruku dari pulau Tho Hoa To? Maka itu mari, mari kita mencoba lagi sekali!”

Kwee Ceng berlaku sabar dan jujur.

“Sebenarnya aku bukanlah tandinganmu,” ia berkata, “Dengan mengandali matamu yang tidak dapat melihat, aku dapat melindungi jiwaku. Aku sudah menyerah sejak-sejak siang.”

“Hang Liong Sip-pat Ciang terdiri dari delapanbelas jurus, kenapa kau tidak menggunai itu semuanya?” Tiauw Hong tanya.

“Oleh karena sifatku tolo-..” sahut Kwee Ceng. Justru itu Oey Yong memberi tanda supaya ia jangan membuka rahasia, tetapi ia berkata terus, “Ang Locianpwee cuma ajarkan aku limabelas jurus.”

“Bagus!” kata Tiauw Hong pula. “Kau cuma bisa limabelas jurus, Bwee Tiauw Hong telah jatuh di tanganmu! Apakah benar Ang Cit Kong, si pengemis tua bangkotan itu demikian lihai? Tidak, tidak bisa, kau mesti mencoba bertempur pula denganku!”

Orang menjadi heran dan cemas. Nyata Tiauw Hong bukan hendak membalas sakit hati saja. Di sini ada bibit bentrokan di antara Oey Yok Su dan Ang Cit Kong.

Kwee Ceng masih berlaku sabar. Ia kata, “Nona Oey yang begitu muda muda masih bukan tandinganku, apapula kau? Ilmu silat dari Tho Hoa To adalah ilmu silat yang aku paling kagumi-”

“Eh, Bwee Suci, kau masih hendak membilang apa lagi?” Oey Yong tanya. “Mustahilkah di kolong langit ini ada orang yang terlebih lihai daripada ayahku?”

“Tidak bisa, kita mesti bertempur satu kali lagi!” Tiauw Hong berkukuh. Ia tutup perkataannya itu dengan sambaran tangannya.

Kwee Ceng berkelit. Sampai di situ ia habis sabarnya.

“Kalau begitu, silahkan Bwee Cianpwee memberikan pengajaran padaku!” katanya. Ia lantas menyerang dengan hebat, suara anginnya mendesir.

Tiauw Hong mengancam dengan cengkeramannya.

“Kau gunai serangan yang tak ada suaranya!” kata wanita kosen ini. “Dengan pukulanmu yang bersuara itu, aku bukan tandinganku!”

Kwee Ceng berlompat beberapa tindak.

“Guruku she Kwa yang besar budinya tidak leluasa matanya,” berkata Kwee Ceng, “Kalau lain orang menggunai tinju tak bersuara menghina dia, aku mestinya sangat membenci lawannya itu, karena itu, mana dapat aku berlaku demikian terhadapmu? Tadi aku telah tergores racunmu, untuk membela diri aku menggunai tinju tanpa bersuara itu. Kalau sekarang kita bertempur pula dengan aku menggunai caraku itu, aku tidak berlaku secara terhormat.”

Mendengar suara orang bersungguh-sungguh, hati Tiauw Hong tergerak juga. “Ini anak muda baik hatinya,” ia berpikir. Tapi ia membentak: “Aku menitahkan kau berkelahi dengan tinjumu tanpa bersuara, aku ada punya caraku untuk memecahkannya! Perlu apa kau banyak rewel seperti wanita tua?!”

Kwee Ceng melirik kepada si baju hijau, ia berpikir; “Mungkinkah dalam sekejap saja ia telah mengajarkan wanita ini ilmu memecahkan pukulanku tanpa bersuara itu?” Tapi karena orang sangat mendesak, ia menyahuti: ” Baiklah, Bwee Cianpwee, akan aku mencoba melayani kau lagi limabelas jurus!”

Pemuda itu memikir untuk mengulangi limabelas jurusan itu, umpama kata ia tidak bisa menghajarnya, ia pun dapat membela diri. Ia lantas berlompat maju, ia mulai menyerang dengan perlahan. Justru itu segera ia mendengar suara “Ser” di sampingnya, ia dapatkan tangannya Tiauw Hong sudah menbangkol ke arah lengannya itu, orang seperti melihat gerakan tangannya – tangan kiri yang dipakai untuk menyerang itu, terus ia menggeser ke kiri juga, untuk dari sini mengulangi serangan, tetap dengan cara ayal-ayalan.

Kembali ia menjadi heran. Baru tangannya itu dikeluarkan, Tiauw Hong seperti sudah mengetahui serangannya itu, ia mendahului menyerang – cepat melawan lambat. Ia berkelit, ia kurang sebat, hampir ia kena dijambret. Segera ia lompat mundur.

“Sudah aneh yang ia tahu aku bakal menyerang, tetapi sekarang ia malah dapat mendahulukan aku, inilah terlebih aneh pula-.” berpikir anak muda ini. Ia lantas menyerang untuk ketiga kalinya dan dengan “Hang Liong Ya Hui” atau “Naga Menyesal”, pukulannya yang paling lihai.

Kembali terdengar suara “Ser” seperti tadi, kembali tangan berkuku dari Tiauw Hong sudah menyambar ke lengan penyerangnya.

Pengalaman membuat Kwee Ceng cerdik. Ia menduga kepada suara “Ser” itu. Ia lalu menyerang pula untuk keempat kalinya, sembari menyerang ia melirik kepada si orang berbaju hijau itu. Sekarang ia melihat nyata orang menyentil sebutir batu kecil, batu mana meleset ke udara, suara ser-nya terdengar pula.

“Ah, benar-benar dialah yang memberi petunjuk!” pikirnya. “Hanya kenapa ia kenal ilmu silatku ini? Kenapa ia ketahui ke mana tinjuku bakal menuju-?” Ia berpikir terus, hingga ia ingat: “Ya, aku ingat sekarang. Tempo hari Yong-jie bertempur sama Nio Cu Ong, Ang Cit Kong saban-saban memecahkan dulu rahasia pukulannya Cu Ong itu, sekarang orang itu menggunai cara itu-. Baiklah setelah limajurus, aku mengaku kalah-.”

Pertempuran itu berlangsung terus, selalu Kwe Ceng menjadi pihak si penyerang. Kemudian terdengar tiga kali suara ser- ser, ialah sentilannya si baju hijau, atas itu, dari pihak diserang, Tiauw Hong berbalik menjadi pihak penyerang. Tiga kali beruntun ia menyerang, Kwee Ceng bisa membebaskan diri, lalu dua kali ia membalas.

Sekarang para penonton pun dapat melihat si baju hijau itu memberi petunjuk kepada Bwee Tiauw Hong, mereka heran. Pertempuran sendiri berjalan bertambah hebat, anginnya berdesir-desir, saban-saban dalam situ tercampur suara ser itu.

Oey Yong benar-benar cerdik, ia segera dapat memikir akal. Dia-diam ia memungut hancuran bata, lantas ia menelad orang. Ia berlaku licin, ialah ada kalanya ia menyerang ke udara, ke tempat kosong, di lain saat, ia serang lansung batunya si baju hijau. Dengan ini ia hendak membikin kacau Tiauw Hong. Tapi hebat si baju hijau, kapan batunya kena terpukul, batu itu justru mengasih dengar suara lebih nyaring, petunjuknya tidak terganggu.

Tuan rumah ayah dan anak dan Kanglam Liok Koay heran. Kenapa sentilan itu demikian lihai? Panah peluru pun tidak sehebat itu! Bukankah celaka kalau orang kena tersentil?

Oey Yong berhenti mengacau, ia menjublak mengawasi si baju hijau.

Di gelangang pertempuran, Kwee Ceng sudah lantas kena terdesak, serangannya si Mayat Besi menjadi terlebih berbahaya.

Tiba-tiba ada terdengar dua suara nyaring, lalu terlihat dua butir batu menyerang ke udara – yang di depan rada kendor, yang di belakangnya lebih cepat, lantas yang di depan itu kena disusul, kena diserang, maka terdengarlah suara beradunya kedua batu itu, yang memancerkan lelatu api hancurannya terbang berhamburan. Justru itu, Tiauw Hong lompat kepada lawannya untuk menubruk, sedang Kwee Ceng berlompat untuk menyingkir.

Sekonyong-konyong Oey Yong menjerit, “Ayah!” lalu ia lari ke arah si baju hijau itu, yang ia terus tubruk untuk memernahkan diri dalam rangkulan orang itu. Ia menangis terus ketika ia berkata-kata: “Ayah, kenapa, kenapa muka ayah berubah menjadi begini rupa-?”

Itulah kejadian diluar dugaan, karenanya si baju hijau itu berdiri menjublak

Kwee Ceng lekas berpaling, ia dapatkan Tiauw Hong berdiri di hadapannya, kupingnya lagi dipasang untuk mendengari suara ser seperti tadi. Inilah ketika baik, yang ia tak mau kasih lewat, maka ia ulur tangannya perlahan-lahan ke arah pundak wanita lihai itu. Hanya ketika ia menepuk, ia menggunai tenaganya seluruhnya. Ia menyerang dengan tangan kanan yang segera disusul dengan tangan kiri!

Tidak tempo lagi, Bwee Tiauw Hong roboh berjumpalitan, terus ia tebah, tak dapat ia berbangkit pula!

Seng Hong mendengar Oey Yong memanggil ayah, hanya sejenak ia berdiam, lalu ia menjadi kaget berbareng girang, sampai ia melupai kakinya yang sakit, ia mencelat dengan niat berlompat kepada si baju hijau itu. Tapi celaka untuknya, ia terguling di tempat kosong.

Si baju hijau lantas merangkul Oey Yong dengan sebelah tangannya, tangannya yang lain dibawa ke mukanya, di situ ia menarik kulit mukanya, maka di lain saat ia telah memperlihatkan muka yang lain. Nyatalah ia ada memakai topeng kulit yang tipis sekali.

Belum kering airmatanya Oey Yong atau ia berseru kegirangan, dia merampas topeng kulit itu untuk dipakai di mukanya, setelah mana ia merangkul pula ayahnya itu, sembari memeluki leher orang dia tertawa dan berjingkrakan. Sebab baju hijau yang aneh kelakuannya, yang luar biasa sebat gerakan tubuhnya, adalah Oey Yok Su, tocu pemilik dari Tho Hoa To, pulau bunga Tho.

“Ayah, kenapa kau datang ke mari?” kemudian si anak menanya. “Tadi si tua bangka she Kiu mencaci kau, kenapa kau tidak memberi hajaran padanya?”

“Kenapa aku datang ke mari?” balik menanya si ayah, romannya keren. “Aku justru mencari kau!”

Oey Yong girang bukan kepalang.

“Ayah, maksud hatimu telah kesampaian!” serunya. “Bagus! Bagus!” ia menepuk tangan.

“Maksud hati apakah?!” berkata si ayah. “Apakah untuk mencari kau si budak!”

Oey Yong terharu hatinya. Ia tahu ayahnya pernah mengangkat sumpah yang berat, ialah ayah itu telah mengambil ketetapan akan berdiam terus di Tho Hoa To untuk menyakinkan Kiu Im Cin-keng, supaya ia menjadi satu jago yang tak ada tandingannya di kolong langit ini, maka bukan main menyesalnya tempo ia mendapat kenyataan sebagian dari kitabnya itu dicuri Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong, keudua muridnya. Tentu sekali dengan lenyapnya kitab itu menggagalkan peryakinannya. Dalam murkanya ia bersumpah tidak akan meninggalkan pulaunya itu. Tapi anak daranya itu nakal, anak itu buron, untuk mencari si anak, dia telah melangggar sumpahnya sendiri, dia meninggalkan pulaunya itu.

“Ayah,” berkata si anak kemudian, “Ayah, selanjutnya aku akan menjadi anak yang baik, yang sampai matipun nanti mendengar katamu.”

Mendapatkan putrinya tidak kurang suatu apa, Oey Yok Su sudha girang, sekarang ia mendengar janji anaknya itu, hatinya menjadi lega sekali.

“Kau pimpin bangun sucimu,” ia memerintahkan.

Oey Yong mengasih bangun pada Bwee Tiauw Hong.

Koan Eng pun segera mengangkat bangun pada ayahnya, untuk mereka berdua menagsih hormat kepada itu guru atau kakek guru.

Oey Yok Su menghela napas.

“Seng Honh, kau baik sekali, kau bangun,” katanya. “Dulu hari itu aku sudah keburu nafsu, aku telah berbuat tidak pantas terhadapmu-.”

Sang murid menangis sesegukan.

“Apakah guru baik?” tanyanya dengan susah.

“Syukur aku tidak mati karena orang membikin aku mendongkol,” sahut gurunya itu.

Oey Yong memandang ayahnya, ia tertawa nakal.

“Toh ayah maksudnya bukan aku?” katanya.

“Kau pun termasuk sebagiannya!” kata ayah itu. “Hm!”

Anak itu mengulur panjang lidahnya.

“Ayah, mari aku ajar kau kenal dengan beberapa sahabat!” katanya kemudian. “Inilah Kanglam Liok Koay yang kesohor dalam dunia kangouw, merekalah gurunya engko Ceng.”

Oey Yok membuka lebar matanya, ia tidak perdulikan Liok Koay. “Aku tidak mau ketemu orang luar!” katanya kaku.

Kanglam Liok Koay tidak puas untuk keangkuhan orang itu, tetapi karena orang terlalu besar namanya, mereka terpaksa berdiam.

Kemudian Oey Yok Su berkata kepada anaknya: “Kau ada barang apa hendak dibawa pulang! Pergilah lekas ambil, mari kita pulang bersama!”

“Tidak ada apa-apa,” sahut si anak tertawa. “Ada juga hendak dipulangi kepada Liok Suko.” Ia merogoh sakunya, mengeluarkan obat Kiu-hoa Giok-louw-wan, yang ia terus angsurkan kepada Seng Hong. Ia kata, ” Suko, terimalah kembali obatmu ini. Tidak gampang untuk membikin ini, bersama engko Ceng aku telah menerima dua butir, itu pun sudah cukup, aku bersyukur sekali.”

Seng Hong tidak menyambuti, ia hanya berkata pada gurunya: “Hari ini teecu bertemu guru, hatiku girang bukan main. Obat ini hendka aku menghanturkan kepada suhu. Umpama suhu sudi berdiam di rumahku ini untuk beberapa waktu, aku terlebih-lebih-.”

Oey Yok Su tidak menjawab, hanya ia menunjuk kepada Koan Eng.

“Inikah anakmu?” tanyanya.

“Ya,” sahut sang murid.

Tanpa dititah lagi, Koan Eng memberi hormat pula dengan paykui empat kali seraya berkata; “Cucu murid memberi hormat kepada sucouw!”

“Sudahlah!” kata kakek guru itu, ia bukannya memimpin orang bangun, ia justru menyambar ke punggung, mencekal bajunya, untuk mengangkat tubuhnya, lalu dengan tangannya yang lain ia memukul ke arah pundak.

Seng Hong kaget sekali.

“Suhu, inilah anakku satu-satunya-.” ia kata.

Hajaran Oey Yok Su ini membuatnya Koan Eng jumpalitan, terpelanting tujuh atau delapan tindak, lalu terjungkal.

“Kau baik,” ia terus berkata kepada muridnya. “Kau tidak mewariskan kepandaiamu kepadanya! Adakah ia murid dari Hoat Hoa Cong?”

Hatinya Seng Hong lega. Ia tahu guru itu lagi menguji anaknya.

“Tidak berani teecu melanggar aturan suhu,” ia berkata cepat. “Tanpa ijin dari suhu, tidak berani teecu mengajari kepandaian suhu kepada lain orang. Memang anak ini adalah muridnya Kouw Bok Taysu dari Hoat Hoa Cong-”

“Hm!” kata guru yang bengis itu. “Kuow Bok dengan kepandaiannya semacam ini berani menyebutkan dirinya Taysu! Mulai besok kau sendiri yang mengajarkan anakmu ini!”

“Taysu” itu berarti guru besar.

Bukan main girangnya Seng Hong. “Lekas kau menghanturkan terima kasih kepada sucouw!” ia menyuruh kepada anaknya.

Koan Eng tahu diri, lekas-lekas ia memberi hormat pula, dengan berlutut empat kali lagi.

Oey Yok Su tidak melihat lagi kepada ini cucu murid, ia pun tidak memperdulikannya.

Melihat sikap gurunya ini, Seng Hong berdiam. Sebenarnya ia girang bukan main. Ia menyesal yang ia tidak dapat mengajari sendiri pada putranya ini, sampai ia kirim putranya itu pada lain guru. Dengan tidak mewariskan kepandaiannya kepada anaknya, ia kecewa sekali. Maka perkenanan suhunya ini membikin ia bersyukur.

“Siapa kesudian obatmu ini!” kata si guru, yang mendelik kepada muridnya. “Kau ambillah ini!”

Oey Yok Su menggerakkan tangannya, dua lembar kertas putih lantas terbang ke arah muridnya itu.

Jarak di antara guru dan murid itu ada setombak lebih tetapi kertas itu melayang bagaikan layangan ke arah si murid, yang menyambutnya.

Menyaksikan itu, Kanglam Liok Koay kagum sekali.

Pun Oey Yong sangat puas.

“Engko Ceng, bagaimana kau lihat kepandaian ayahku ini?” ia berbisik kepada Kwee Ceng.

“Ayahmu hebat sekali,” sahut si engko Ceng itu. “Yong-jie, kalau kau sudah pulang nanti, jangan kau termaha memain saja, kau mesti belajar dengan sungguh-sungguh.”

“Kau toh turut bersama!” kata si nona, cemas hatinya. “Mustahilkah kau tidak turut?”

“Aku hendak mengikuti suhuku,” sahut Kwee Ceng. “Lewat sedikit waktu, aku akan pergi menjengukmu.”

Oey Yong menjadi sangat gelisah. “Tidak! Tidak!” katanya. “Aku tidak mau berpisah denganmu!”

Kwee ceng menyeringai. Sebenarnya ia pun berat akan berpisahan dari si nona.

Seng Hong sendiri lantas sudah membeber kertas yang ia sambuti itu, ia melihat banyak huruf-hurufnya. Koan Eng lekas mengambilkanapi, untuk menyuluhi, maka ayahnya segera dapat kenyataan, itulah pengajaran ilmu silat. Ayah ini pun masih mengenali tulisan tangan gurunya, yang sudha duapuluh tahun ia tak menampaknya. Huruf-huruf gurunya itu masih tetap bagus dan keren. Di lembar pertama, di sebelah kanan, yang paling atas, ada empat huruf “Sauw yap twie hoat”. Jadi itulah ilmu menendang. Ia tahu, itulah ilmu yang bersama “Lok Eng Ciang” menjadi keistimewaan gurunya. Dari enam murid, tidak ada satupun yang diwariskan ilmu itu. Coba dulu ia dapatkan ilmu itu, alangkah girangnya, tetapi pun sekarang, ia pun sekarang masih bisa mengajari anaknya. Maka ia simpan baik-baik kertas itu, kepada gurunya ia memberi hormat sambil menghanturkan terima kasih.

“Ilmu tendangan ini tidak sama dengan pengajaranku dulu, Oey Yok Su memberitahu. “Jalannya mirip tetapi di mulai dengan latihan tenaga dalam. Kau menyakinkan ini sambil duduk bersemadhi, selang lima enam tahun, kau nanti dapat berjalan tanpa bantuannya tongkat!”

Seng Hong girang dan terharu, ia sangat bersyukur.

“Kakimu tidak dapat diobati lagi, bersilat di bawah pun kau tidak dapat,” berkata si guru itu, “Tetapi jikalau kau bersungguh-sungguh mengikuti pelajaranku ini yang baru, kau nanti dapat berjalan tak sulit seperti orang yang kakinya tak bercacad. Ah-.” Ia menyesal yang dulu hari, karena menuruti hawa amarahnya, ia sudah siksa keempat muridnya tanpa mereka itu bersalah dosa. Tapi dasar beradat keras, ia tidak sudi akui kekeliruannya itu. Hanya ia memesan: “Pergilah kau cari tiga adik seperguruanmu dan kau ajari mereka ilmu ini-”

Seng Hong menyahuti “ya”, lalu ia menambahkan: “Tentang sutee Leng Hong Kiok, tak pernah teecu mendengarnya. Tetapi kedua sutee Boe dan Phang, sudah lama mereka itu menutup mata-”

Oey Yok Su bersedih, lalu sinar matanya yang tajam itu beralih kepada Bwee Tiauw Hong. Lain orang melihat sinar mata itu, mereka terkejut. Syukur Tiauw Hong sendiri tidak melihatnya.

“Tiauw Hong!” berkata guru itu dingin, “Kau sebenarny terlalu jahat, tapi kau juga telah menderita hebat. Tapi si tua bangka she Kiu ngoceh menyumpahi aku mati, kau mengucurkan air mata, kau juga hendak menuntut balas untukku, maka itu, dengan memandang beberapa tetes air matamu itu, suka aku membiarkan kau hidup lebih beberapa tahun lagi.”

Tiauw Hong tidak menyangka gurunya dengan begitu gampang saja suka memberi ampun padanya, saking girang, ia lantas menjatuhkan diri ke tanah, untuk memberi hormat, buat menghanturkan terima kasih.

“Baik,baik,” kata guru itu yang dengan perlahan menepuk punggungnya tiga kali.

Tiauw Hong merasakan sakit tidak terkira, hampir ia pingsan, dengan suara menggetar ia memohon: “Suhu, teecu ketahui kedosaanku tak terampunkan, maka itu teecu mohon sekarang juga kau menghukum mati padaku, tetapi bebaskanlah teecu dari siksaan Hu-kut-ciam-..”

Hu-kut-ciam itu adalah jarum rahasia yang ditusukkan ke tulang-tulang. Tentang ini Tiauw Honjg pernah mendengar dariBtan Hian Hong. Katanya itulah senjata rahasia guru mereka, bahwa asal tubuh lawan kena ditepuk perlahan, jarum itu akan masuk ke dalam daging dan nacap di sambungan tulang-tulang, sakitnya bukan main, sebab jarumnya dipakaikan racun. Katanya pula, lambat jalannya racun itu, maka setiap hari enam kali orang akan tersiksa racun hebat, lalu selang lima bulan barulah sang kematian datang. Semakin lihai ilmu silat orang, semakin hebat penderitaannya.

Mengetahui ini, Tiauw Hong berputus asa, maka itu habis mengeluh, mendadak ia menggeraki cambuknya buat menghajar kepalanya sendiri, untuk menghabiskan jiwanya. Tapi Oey Yok Su sangat lihai, belum orang tahi apa-apa, cambuk itu sudah kena dia rampas. Dengan dingin guru ini berkata: “Kenapa tergesa-gesa? Untuk mati tidaklah gampang!”

Mendengar perkataan guru itu, Tiauw Hong menduga ia bakal disiksa, supaya ia menderita, karenanya ia menoleh kepada Kwee Ceng, samil tertawa meringis ia kata: “Aku berterima kasih yang kau telah membunuh suamiku, dengan begitu lelaki busuk itu dapat kematiannya dengan enak sekali!”

Oey Yok Su tidak pedulikan apa yang muridnya itu bilang, ia hanya kata: “Jarum Huu-kut-ciam ini baru bekerja sesudah lewat satu tahun, selama tempo satu tahun ini , aku berikan tiga macam tugas yang kau mesti rampungkan, habis itu kau boleh datang ke pulau Tho Hoa To untuk menemui aku, aku ada mempunyai daya untuk mencabut jarum itu.”

Girang Tiauw Hng mendengar gurunya ini.

“Biar mesti menerjang api berkobar, teecu nanti lalukan titah suhu itu!” ia berkata.

Tapi gurunya itu mengash dengar suara dingin sekali ketika ia berkata; “Taukah kau apa yang hendak aku menitahkan kau melakukannya hingga kau dapat menerimanya begini cepat?”

Tiauw Hong tidak berani menyahuti, ia menunduk saja.

Oey Yok Su segera memberitahukan tiga syaratnya itu.

“Yang pertama,” demikian katanya, “Kiu Im Cin-keng yang kau bikin lenyap itu kau mesti cari dan mendapatinya kembali untuk dikembalikan padaku! Jikalau kitab itu dapat dilihat orang lain, dia mesti dibinasakan! Seorang yang melihat, seorang yang dibunuh, seratus orang melihat, seratus orang juga yang mesti dibunuh itu! Umapama kau cuma membunuh sembilanpuluh sembilan orang, jangan kau kembali padaku!”

Bergidik orang yang mendengar syarat itu. Kanglam Liok Koay berpikir: “Orang menyebutnya Oey Yok Su sebagai Tong Shia, si Sesat dari Timur, kelakuannya ini benar-benar sesat sekali-.”

“Sekarang yang kedua,” Oey Yok Su berkata pula, “Tiga saudaramu Boe, Phang dan Kiok telah menderita karena perbuatanmu, sekarang kau pergi cari Leng Hong, setelah itu kau cari tahu dua saudara Boe dan Phang itu ada mempunyai turunan atau tidak, semua turunan mereka itu kau bawa ke Kwie-in-chung ini, serahkan kepada Seng Hong, supaya ia yang mengurusnya.”

Tiauw Hong memberikan janjinya.

Seng Hong pun berpikir, dapat ia berbuat untuk syarat yang kedua itu tetapi sebab ia kenal baik adat gurunya itu, ia berdiam saja.

Oey Yok Su angkat kepalanya mendongak ke langit, mengawasi bintang-bintang.

“Kitab Kiu Im Cin-keng itu kamulah yang mengambilnya sendiri,” ia berkata pula. “Ilmu dalam kitab itu aku tidak mengajarkan kamu, kamu sendiri yang mempelajarinya. Kamu tahu apa yang harus kau perbuat?” ia berdiam sejenak. “Nah, inilah yang ketiga.”

Tiauw Hong tidak segera dapat menerk apa maksud gurunya, sekian lama ia berpikir keras. Akhirnya ia sadar juga. Maka dengar suara menggetar ia kata: “Sesudah teecu berhasil membereskan yang pertama dan yang kedua itu, teecu ketahui bagaimana harus menghabiskan sendiri kedua ilmu Kiu Im Pek-kut Ciauw serta Cwie-sim-ciang yang teecu berhasil menyakinkannya.

Kwee Ceng tidak mengerti, ia tarik tangan bajunya Oey Yong, dengan sinar matanya memain, ia tanya si nona.

Oey Yong agaknya merasa berat tetapi dengan tangan kanannya ia membacok ke tangan kirinya. Melihat ini, pemuda itu mengerti, di dalam hatinya ia berkata: “Oh, kiranya dia hendak mengutungi tangannya sendiri. Bwee Tiauw Hong ini memang jahat sekali, hanya setelah ia insyaf, kenapa ia mesti dihukum secara demikian hebat? Mesti aku minta Yong-jie memohonkan keampunannya-”

Tengah pemuda ini berpikir demikian, Oey Yok Su berpaling padanya seraya menggapaikan. “Kaukah yang bernama Kwee Ceng?” ia menanya.

Kwee Ceng segera maju untuk memberi hormatnya sambil menjura.

“Teecu Kwee Ceng menghadap Oey Locianpwee,” katanya hormat.

“Tan Hian Hong yang emnjadi murid kepalaku, kaulah yang membinasakan, kepandaianmu bukan main,” kata Oey Yok Su.

Kwee Ceng terperanjat. Suara tak berkesan baik untunya. Tapi ia lekas menjawab: “Ketika itu teecu masih muda sekali dan belum tahu apa-apa, teecu kena tertangkap oleh Tan Cianpwee, dalam ketakutan dan bingung, teecu kesalahan tangan telah membinasakan dia-.”

“Hm!” Oey Yok Su memperdengarkan suara yang dingin. “Tan Hian Hong memang benar adalah murid murtad dari kalanganku, tetapi untuk membinasakannya, itulah hak kami. Apakah murid-murid dari Tho Hoa To boleh di bunuh orang luar?!”

Kwee Ceng tidak dapat menjawab, ia berdiam.

“Ayah,” Oey Yong berkata, “Ketika itu dia baru berumur enam tahu, tahu apa dia?”

Oey Yok Su tidak melayani putrinya itu, ia seperti tidak mendengar perkataan orang.

“Si pengemis tua she Ang itu biasanya tidak suka menerima murid,” katanya sejenak kemudian. “Tetapi sekarang ia telah mengajarkan kau Hang Ling Sip-pat Ciang sampai limabelas jurus, itulah tentu kau ada punya sifat-sifat baik yang melebihkan lain-lain orang. Tidak demikian, pastilah kau sudah bujuk dia dengan akal apa, yang membuat hatinya girang, hingga ia suka menurunkan kepandaiannya itu. Kau telah menggunai kepandaiannya si pengemis tua untuk merobohkan – hm,hm! Kalau nanti si pengemis itu bertemu dengan aku, bukankah ia bakal banyak bacot?”

Kembali Oey Yong memotong perkataan ayahnya.

“Ayah, memang benar ada digunai bujukan!” katanya sambil tertawa. “Tetapi bukannya dia yang mengakalinya, hanya aku! Dia seorang yang polos, jangan ayah berlaku galak dan membuatnya ketakutan.”

Oey Yok Su tidak melayani gadisnya itu. Sebenarnya semenjak istrinya menutup mata, ia sangat menyayangi gadisnya ini, karena itu anaknya menjadi termanjakan. Demikian sudah terjadi, karena ditegur ayahnya, Oey Yong minggat. Tadinya Oey Yok Su menyangka, sebagai seorang wanita, setelah buron, anaknya bakal menderita sekali, siapa tahu, anak itu sehat dan tetap manja seperti biasa. Melihat anak itu agak rapat sekali pergaulannya sama Kwee Ceng, hingga seperti juga dia kurang rapat dengan ayahnya sendiri, ia tidak puas. Maka itu, ia kata pula pada si anak muda: “Dengan si pengemis tua mengajarkan kau ilmu silat, kau terang sudah dia menertawakan partaiku tidak ada orangnya, bahwa setiap muridku tidak punya guna-”

Oey Yong bisa menerka hati ayahnya itu, yang tidak senang Tiauw Hong kena dikalahkan dengan Hang Liong Sip-pat Ciang, kembali ia menyela: “Ayah, siapakah bilang partai Tho Hoa To tidak ada orangnya? Dia ini beruntung sebab mata Bwee Suci buta! Nanti aku membikin ayah puas!” Ia lantas lompat ke depan seraya berseru, “Mari, mari! Nanti aku gunai kebisaan biasa saja yang ayah ajarkan aku melayani kepandaian istimewa Ang Cit Kong!” Ia menantang Kwee ceng, yang ia tahu kepandaiannya sudah maju jauh sekali hingga hampir seimbang dengannya, kalau dalam beberapa puluh jurus mereka berdua bertanding seri, itu saja sudah cukup untuk membikin puas ayahnya.

Kwee Ceng dapat mengerti maskudnya si nona, justru Oey Yong tidak membilang suatu apa, ia menerima tantangan. Tetapi ia kata: “Biasanya aku aklah dari kau, baik aku membiarkan kau menghajar aku dengan beberapa gebukan lagi!” Bahkan ia ayun tangan kanannya seraya berlompat maju.

“Lihat tanganku!” Oey Yong pun berseru seraya ia membacok dengan tangannya.

Itulah bacokan dari samping, dengan satu jurus dari ilmu silat Lok Eng Ciang.

Kwee Ceng melayani dengan Hnag Liong Sip-pat Ciang, tetapi ia menyayangi Oey Yong, maka itu ia tidak berkelahi dengan sungguh-sungguh, di lain pihak, Lok Eng Ciang memangnya lihai, maka itu setelah banyak jurus, beberapa kali ia kena dihajar, malah untuk memuaskan ayahnya, si nona menggunai tenaga keras. Oey Yong benari berbuat demikian karena ia tahu tubuh sahabatnya itu kuat.

“Kau masih tidak mau menyerah!” Oey Yong berseru sambil ia menerjang tidak hentinya.

Kwee Ceng tidak menyahuti, ia hanya berkelahi terus. Didesak, ia membela diri.

Disaat itu, mendadak Oey Yok Su mencelat ke arah mereka berdua. Hebat gerakkannya itu, orang sampai tidak melihatnya, hanya tahu-tahu, kedua tanganya sudah diulur, dipakai menyambar masing-masing leher bajunya kedua bocah itu, lalu ia menggentak, melemparkan mereka itu. Oey Yong disambar dengan tangan kiri, dia dilempar asal saja. Kwee Ceng dicekal dengan tangan kanan, tangan itu dikerahkan tenaganya, maksudnya supaya si bocah roboh terbanting.

Kwee Ceng tidak berdaya atas sambaran itu, tubuhnya terlempar dingin kebelakang, akan tetapi ketika ia jatuh, kakinya turun lebih dulu, begitu kakinya itu mengenai tanah, ia seperti menancap diri, ia tidak roboh terguling.

Sebenarnya kalau bocah ini roboh dan mukanya babak belur atau ia tidak dapat bangun pula, itulah untungnya, tetapi sekarang, melihat ketangguhan kuda-kudanya itu, Oey Yok Su menjadi panas hatinya.

“Hai, kamu bermain sandiwara untuk aku menontonnya?!” dia berseru. “Aku tidak mempunyai murid, mari, kau mencoba-coba menyambut kau beberapa jurus!”

Kwee Ceng terkejut, lekas-lekas ia menjura memberi hormat.

“Biarnya teecu bernyali sebesar langit, tidak nanti teecu berani melayani locianpwee,” katanya hormat.

“Hm, melayani aku!” kata Oey Yok Su tertawa dingin. “Kau tidak tepat, bocah! Aku akan berdiri di sini tanpa bergerak, kau boleh menyerang aku dengan Hang Liong Sip-pat Ciang! Asal aku berkelit atau menangkis, hitunglah aku kalah!”

“Teecu tidak berani,” Kwee Ceng berkata pula.

“Tidak berani kau juga mesti beranikan!” mendesak Oey Yok Su.

Kwee Ceng menjadi serba salah. “Kelihatannya tidak dapat aku tidak melayaninya,” pikirnya. “Apa boleh buat. Dia tentu hendak meminjam tenagaku, untuk membikin aku roboh beberapa kali-?”

“Lekas kau menyerang!” Oey Yok Su mendesak. Ia dapat kenyataan, walaupun bersangsi, orang sudah mempunyai niat. “Jikalau tidak, aku akan menghajarmu!”

“Karena locianpwe menitahkannya, teecu tidak berani membantah,” menyahut Kwee Ceng kemudian. Ia terus membungkuk seraya memutar tangannya melingkar. Ia cuma memakai tenaga enam bagian. Sebabnya ialah kesatu ia khawatir nanti melukai ayah kekasihnya itu dan kedua, umpama ia dibikin terjungkal, robohnya tidak hebat. Ia menyerang ke dada. Hanya aneh, ketika mengenai sasarannya, tangannya itu seperti licin, lewat dengan begitu saja.

“Apa? Kau tidak melihat mata padaku?!” menegur Oey Yok Su. “Apakah kau takut aku tidak sanggup bertahan untuk pukulanmu? Benarkah?”

“Teecu tidak berani,” menyahut si anak muda. Ia lantas menyerang untuk kedua kalinya. Sekarang ia tidak menahan lagi tenaganya. Serangannya itu dibarengi sama dikeluarkannya napas. Dengan tangan kiri ia mengancam, dengan tangan kanan ia menyerang perut.

“Nah, inilah baru pukulan benar,” berkata Oey Yok Su.

Kwee Ceng kaget bukan main. Serangannya hebat tetapi tidak mengenai sasarannya. Sebaliknya tangannya itu seperti kena disedot, begitu keras hingga bagaikan tangannya itu copot. Ia merasakan sakit bukan kepalang.

“Teecu kurang ajar, harap locianpwee memaafkan,” ia berkata. Tangannya itu sementara itu sudah tidak diangkat.

Kanglam Liok Koay heran, kaget dan berkhawatir. Sungguh hebat Tong Shia ini, tanpa berkelit tanpa menangkis, ia membikin lengan Kwee Ceng itu mati kutu.

“Kau pun rasai tanganku!” mendadak Oey Yok Su berseru. “Biarlah kau ketahui, yang mana yang lebih lihai, Hang Liong Sip-pat Ciang dari si pengemis tua atau kepandaian dari Tho Hoa To!”

Belum berhenti suara itu, angin sudah menyambar, Kwee Ceng menahan sakit, ia mencelat, maksudnya untuk berkelit. Di luar tahunya, belum tinju orang sampai, tinju itu telah didului gaetan kaki, maka sedetik itu juga, robohlah Kwee Ceng.

Oey Yong kaget.

“Jangan, ayah!” ia menjerit seraya berlompat menubruk Kwee Ceng, di atas tubuh siapa ia mendekam.

Oey Yok Su menyerang terus, tetapi melihat anaknya, tinjunya diubah menjadi cengkeraman dengan apa ia menjambak baju anak itu, untuk diangkat, kemudian tangan kirinya menggantikan menyerang terus.

Kanglam Liok Koay kaget sekali. Mereka tahu itulah pukulan dari kematian. Maka mereka maju dengan berbareng, untuk menolongi murid mereka. Coan Kim Hoat berada paling depan, dengan dacinnya ia menghajar lengan kiri Tong Shia.

Oey Yok Su meletaki gadisnya di sampingnya. Ia seperti tidak mengambil tahu serangannya Kim Hoat yang disusul pedangnya Han Siauw Eng. Ketika kedua serangan itu mengenai sasaran, mendadak saja dacin dan pedang patah menjadi empat potong!

Oey Yong lantas saja menangis.

“Ayah, kau bunuhlah dia!” dia berteriak. “Untuk selamanya aku tidak mau pula bertemu denganmu-.!” Tanpa menoleh lagi, ia lari ke arah telaga ke mana ia terjun!

“Bur!” air itu berbunyi dan gusar berbareng. Ia tahu putrinya itu pandai berenang dan selulup, semenjak kecil putri itu biasa mandi di Tang Hay, dapat ia tidak mendarat selama satu hari dan satu malam, akan tetapi kali ini sang putri bakal pergi entah untuk berapa lama, mungkin untuk tidak bertemu pula seperti kata si anak, maka itu dalam kagetnya, ia memburu ke tepi telaga, akan berdiri bengong mengawasi telaga itu.

Sampai sekian lama barulah Tong Shia si Sesat dari Timur itu berpaling, ia lihat Cu Cong tengah tolongi Kwee Ceng dengan menyambungi pula tangannya itu. Mendadak ia menumpahkan hawa amarahnya terhadap mereka itu.

“Lekas kamu bertujuh membunuh diri!” ia membentak mereka itu, suaranya dingin. “Tak usah sampai aku turun tangan hingga kau menjadi menderita!”

Kwa Tin Ok mengangkat tongkatnya.

“Satu laki-laki tidak takut mampus!” dia kata dengan nyaring. “Apapula penderitaan!”

“Kanglam Liok Koay sudah pulang ke kampung asalnya,” Cu Cong pun berkata. “Kalau sekarang kita mengubur tulang-tulang kita di telaga Thay Ouw ini, apakah lagi yang diberati?”

Lantas mereka berenam, dengan senjata di tangan atau tangan kosong, memernahkan diri untuk melawan jago dari Laut Timur itu.

Kwee Ceng jadi berpikir keras. Ia tahu keenam gurunya tidak bakalan sanggup melawan Oey Yok Su. Ia tidak ingin, karena urusannya sendiri, mereka itu mengnatar jiwa percuma-cuma. Maka itu ia lantas melompat untuk menyelak.

“Tan Hian Hong terbinasa di tangan teecu sendiri!” ia berseru, “Kematiannya pun tidak ada sangkut pautnya dengan semua guruku ini! Aku sendiri yang akan mengganti jiwanya!” Ia tahu gurunya yang nomor satu serta yang nomor tiga dan yang nomor tujuh beradat keras, kalau ia mati, mereka itu tentu nekat, maka itu ia menambahkan, “Tapi sakit hati ayahku masih belum terbalas, maka itu apakah locianpwee suka memberi tempo satu bulan kepadaku? Selewatnya tigapuluh hari teecu bakal datang sendiri ke pulau Tho Hoa To untuk menerima binasa!”

Berat pikirannya Oey Yok Su, karena ia ingat anaknya, hawa amarahnya lantas turut menjadi kendor. Tanpa membilang suatu apa, ia mengebas tangannya, ia memutar tubuhnya, terus ia ngeloyor pergi.

Kanglam Liok Koay heran, kenapa kata-kata muridnya itu dapat membikin jago Tang Hay itu mengangkat kaki. Mereka bercuriga, maka itu mereka tetap memasang mata. Tapi benar-benar orang telah pergi.

Seng Hong pun menjublak sekian lama. Kemudian barulah ia mengundang semua tetamunya kembali ke dalam.

Bwee Tiauw Hong tertawa dengan mendadak, ia mengebasi tangan bajunya, lalu tubuhnya mencelat setombak lebih, ketika tubuhnya itu diputar, ia pun lenyap dalam gelap gulita.

“Bwee Suci, bawalah muridmu!” Seng Hong berteriak.

Tidak ada jawaban, sekitar mereka tetap sunyi, maka teranglah sudah, si Mayat Besi pun telah pergi jauh.

Sampai di situ Liok Koan Eng mengasih bangun pada Wanyen Kang. Tapi orang berdiam saja. Sebab ia telah terkena totokan, tinggal kedua matanya saja yang dapat bergerak-gerak.

“Aku telah terima baik permintaan gurumu, kau pergilah!” berkata Seng Hong. Tapi ia tak dapat membebaskan orang dari totokan, karena itu bukablah totokan dari partainya, kalau ia berbuat demikian, ia jdai berlaku tidak manis terhadap si penotok. Ia mengawasi semua tetamunya, hendak ia berbicara.

Justru itu Cu Cong menghampirkan Wanyen Kang, tanpa membilang apa-apa, ia totok pangeran itu beberapa kali. Sebat totokannya itu, di pinggang beberapa kali disusul sama tepukan beberapa kali di punggung.

Melihat itu Seng ong kagum. “Dia lihai sekali,” pikirnya mengenai Cu Cong. “Wanyen Kang bukan sembarang orang tetapi ia dapat ditotok tanpa berbuat apa-apa.” Ia tidak tahu, Cu Cong dapat menotok dengan hasil bagus, karena keadaan lagi kacau sekali.

Wanyen Kang merasa sangat malu, tanpa memberi hormat, tanpa membilang suatu apa, ia hendak mengangkat kaki.

“Orang ini siapa`” berkata Cu Cong. “Kau bawalah dia pergi!” Ia pun lantas membebaskan Toan Tayjin.

Komandan tentara itu menduga jiwanya bakal hilang, maka itu bukan main girangnya ia yang ia ditolongi dan dimerdekakan juga. Dengan tergesa-gesa ia memberi hormatnya.

“Enghiong, untuk budi pertolonganmu ini, aku Toan Thian Tek tidak akan melupakan sekali pun sampai akhir ajalku!” katanya.

Kapan Kwee Ceng mendapat dengar itu nama Toan Thian Tek, ia terkejut ia tercengang. Nama itu seperti mengaung di kupingnya.

“Kau-kau bernama Toan Thian Tek?” ia menanya.

“Benar,” komandan itu menyahut. “Enghiong kecil, kau ada punya pengajaran apa untukku?”

“Bukankah delapanbelas tahun yang lampau selama di Lim-an, kau ada menjadi opsir tentara?” Kwee Ceng menanya pula.

“Benar, enghiong kecil. Bagaimana kau ketahui itu?” kembali Thian Tek menyahuti. Kemudian ia memandang pada Koan Eng, sebab barusan ia mendengar keterangannya Seng Hong bahwa pemuda itu muridnya Kouw Bok Taysu. Ia berkata: “Aku adalah keponakan yang tidak menyucikan diri dari Kouw Bok Taysu itu, karenanya kita menjadi orang sendiri, Haha!” Ia senang sekali, ia menjadi tertawa girang.

Kwee Ceng tidak menanya pula, ia hanya menoleh kepada tuan rumah.

“Liok Chungcu,” katanya. “Aku yang rendah memohon pinjam ruangan belakang dari rumahmu ini.”

“Tentu saja boleh,” sahut Seng Hong.

Kwee Ceng mengucap terima kasih, lalu ia tuntun Toan Thian Tek, buat diajak ke belakang. Cepat tindakannya itu.

Kanglam Liok Koay saling memandang, di dalam hatinya masing-masing mereka berkata: “Thian sungguh adil, Siapa nyana justru di sini kita dapat menemui si manusia jahat! Coba bukan dia menyebut namanya sendiri, siapa yang tahu dialah yang dicari ubak-ubakan dan jauh laksaan lie selama tujuh tahun…?”

Advertisements

1 Comment »

  1. Diciptakannya 4 tokoh sakti di utara; selatan; barat; dan timur, kerap ditiru oleh pengaranga cersil Khoo Ping Ho

    Comment by FIFI KOQ (BUNGA) SINTANG — 14/09/2010 @ 7:07 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: