Kumpulan Cerita Silat

01/08/2008

Kisah Membunuh Naga (22)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 2:18 am

Kisah Membunuh Naga (22)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Beberapa kali Kie Siauw Hoe menerjang dengan pukulan hebat, dalam usaha untuk mundurkan Soecienya supaya ia bisa melarikan diri, tapi usahanya selalu gagal. Ia gagal karena tidak biasa menggunakan pedang dengan tangan kiri dan juga karena, sesudah mengeluarkan banyak darah, tenaganya berkurang.

Untung juga, Teng Bin Koen selamanya merasa jerih terhadap adik seperguruannya, sehingga ia tidak berani terlalu mendesak. Ia berkelahi dengan hati-hati sekali sambil menunggu lelahnya Siauw Hoe. Memang juga, makin lama tindakan nona Kie jadi makin limbung dan gerakan-gerakannya makin lambat. Sesudah lewat beberapa jurus lagi, lengan kanan Siauw Hoe kembali tertikam dan darah mengucur makin deras.

“Kie Koauwnio!” tiba-tiba Pheng Eng Giok berteriak. “Tikamlah mataku! Kie Kouwnio, budimu yang sangat besar tak akan dapat dibalas oleb Pheng Eng Giok !”

Memang juga, rasa terima kasihnya Pheng Hweeshio tidak dapat dilukiskan lagi. Bahwa, dengan menempuh bahaya Siauw Hoe melindungi seorang musuh, sudah merupakan suatu perbuatan yang sukar dilakukan. Dan dalam usaha untuk melindungi musuh, ia telah dicaci dengan kata-kata yang menodakan nama baik seorang wanita, nama baik yang dipandang lebih penting daripada jiwa.

Tapi kalau sekarang Siauw Hoe menurut perintah dan menusuk mata Pheng Hweesbio, Teng Bin Koen juga tak akan memberi ampun kepadanya. Kakak seperguruan itu mengerti bahwa kalau sekarang dia tidak membinasakan si adik seperguruan ia seperti juga menanam bibit penyakit untuk dikemudikan hari.

Teng Bin Koen menyerang Siauw Hoe. Pheng Hweeshio yang melihat itu segera berteriak “Teng Bin Koen. Kau sungguh manusia tak kenai malu! Tak heran jika orang Kang ouw memberi gelaran Tok chioe Boe yam kepadamu. Sekarang aku menyaksikan dengan mata sendiri, bahwa hatimu benar jahat seperti ular dan kalajengking. Huh ! Mukamu jelek seperti muka Boe yam! Jika semua wanita separti kau, semua lelaki dunia tentu buru-buru mencukur rambut !”

Sebenarnya, biarpun tidak bias disebut cantik, Teng Bin Koen bukan seorang wanita yang jelek. Pheng Hweeshio sudah sengaja mencaci begitu dan memberi gelaran “Tok chioe Boe yam” kepadanya untuk menolong Kie Siauw Hoe. Ia tahu bahwa seorang wanita bisa mata gelap, jika disinggung kejelekan mukanya. Ia mengharap supaya dalam gusarnya, Teng Bin Koen membunuh ia sendiri dan Kie Siauw Hoe bisa mendapat kesempatan untuk melarikan diri.

Tapi wanita she Teng itu ternyata bukan manusia tolol. Ia berpendapat, bahwa sesudah membinasakan adik seperguruannya, ia masih mempunyai banyak tempo untuk mengambil jiwa pendeta itu. Maka itulah, tanpa meladeni cacian orang, ia terus menyerang dengan hebat.

“Dalam dunia Kang ouw, siapakah yang tak tahu kesucian Kie Liehiap,” teriak pula Pheng Hweeshio. “Teng Bin Koen, sekarang aku mau membuka rahasiamu. Kaulah, manusia muka jelek, yang sebenarnya maui In Lie Heng ! Karena In Liokhiap tidak meladeni, kau memfitnah Kie Liehiap. Ha ha ha! Tulang pipimu begitu tinggi ! Mulutmu sebesar panci! Kulitmu kering dan kuning, sedang badanmu kurus jangkung seperti gala jemuran! Ha ha ha ! In Liokhiap yang begitu tampan mana mau mengambil kau sebagai isterinya? Kau sebenarnya harus lebih sering berkaca…”

Meskipun pintar, Teng Bin Koen kalap juga. Mendengar sampai di situ, ia tidak dapat mempertahankan ketenangannya lagi. Ia melompat sambil mengayun pedang yang diturunkan ke mulut Pheng Hweeshio.

Memang benar tulang pipi nona Teng agak tinggi, mulutnya agak besar, kulitnya agak hitam sedang badannya agak jangkung. Tapi kekurangan-kekurangan itu, yang tidak banyak, tidak terlihat nyata, jika tidak diperhatikan.

Tapi Pheng Hweeshio yang bermata tajam sudah bisa melihat itu semua dan ia lalu mengejek secara berlebih-lebihan. Apa yang membuat Teng Bin Koen kalap ialah disebut-sebutnya nama In Lie Heng, yang belum pernah dikenal olehnya.

Mendadak dari dalam hutan berkelebat satu bayangan manusia yang sambil membentak keras, mengadang di depan Pheng Hweeshio, sehingga pedang Teng Bin Koen yang tengah menyambar menancap tepat di lehernya. Hampir berbareng tangan orang itu menghantam dan “buk!” mengenakan dada Teng Bin Koen yang lantas saja terhuyung beberapa tindak dan mulutnya memuntahkan darah. Pedang yang dilepaskan oleh nona Teng tetap menancap di leher orang itu yang rupanya sudah tak bisa hidup lebih lama lagi.

See Leng coo maju dua tindak dan mengawasi orang itu. “Pek Kwie Sioe” teriaknya.

Orang itu memang Pek Kwie Sioe, Tancoe dari Hian boe tan.

Sesudah terluka berat, ia mendapat tahu, bahwa untuk melindungi dirinya, Pheng Hweeshio telah dikepung oleh orang-orang Siauw lim, Koen loan, Go bie dan Hay see pay. Maka itu, dengan sekuat tenaga ia datang ke tempat pertempuran dan menggantikan Hweeshio itu untuk menerima tikaman Teng Bin Koen. Tapi pukulannya yang terakhir masih hebat luar biasa, sehingga beberapa tulang rusuk Teng Bin Koen menjadi patah.

Sesudah menentramkan hatinya. Kie Siauw Hoe lalu merobek tangan bajunya untuk membalut luka dilengannya dan kemudian, dengan pedangnya, ia memutuskan tambang yang membelenggu kaki tangan Pheng Hweeshio. Sesudah itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia memutar badan dan berjalan pergi.

“Kie Kouwnio, tahan!” seru si pendeta, “Terimalah hormatnya Pheng Hweeshio.”

Buru-buru Kie Slauw Hoe melompat ke samping untuk menolak pemberian hormat pendeta itu yang berlutut di tanah.

Begitu bangun berdiri si pendeta segera menjemput pedang See long coe dan berkata, “Manusia yang sudah merusak nama baik Kie Kouw nio tidak boleh dibiarkan hidup terus.”

Seraya berkata begitu, ia mengayun pedang dan menikam tenggorokan Teng Bin Koen.

Bagaikan kilat nona Kie menangkis pedang itu. “Dia adalah kakak seperguruanku,” katanya “Biarpun dia tidak menyintai aku, aku sendiri tak bisa tidak mengenal pribudi.”

“Kalau sekarang tidak dibunuh, di belakang hari dia bisa menyebabkan munculnya banyak kesukaran bagi Kie Kouwnio,” kata si pendeta.

Air mata Siauw Hoe lantas saja mengucur. “Aku seorang wanita yang bernasib paling buruk dalam dunia ini,” katanya dengan suara sedih. “Biarlah, biarlah aku menyerahkan saja segala apa kepada nasib. Pheng Soehoe, jangan kau melukai Soe cieku!”

“Perintah Kie Lihiap sudah tentu tidak akan dilanggar olehku,” kata Pheng Hweeshio sambil membungkuk.

“Soecie, kuharap kau bisa menjaga diri baik baik” kata Kie Siauw Hoe dengan suara perlahan-lahan kemudian, sesudah memasukkan pedangnya k edalam sarung, ia segera berlalu tanpa menengok lagi.

Sesudah nona Kie pergi jauh, Pheng Hweeshio segera berkata kepada See leng coe dan yang lain lain, “Aku siorang she Pheng sebenarnya tidak mempunyai permusuhan apapun jua dengan kamu sekalian. Akan tetapi, fitnah hebat yang dilontar kan oleh si perempuan she Teng telah didengar oleh kamu semua. Kalau cerita ini sampai tersiar di luaran, bagaimana Kie Kouwnio bisa berdiri terus di atas bumi ini? Maka itu, tak bisa aku membiarkan kamu hidup terus. Hal ini sudah terjadi lantaran terpaksa dan aku harap kamu jangan menyalahkan aku.”

Sehabis berkata begitu, dengan beruntun ia menikam See leng coe, See ciat coe, seorang pendeta Siauw lim dan dua jago Hay see pay. Kemudian barulah ia menggores muka Teng Bin Koen dengan pedangnya, sehingga wanita she Teng itu menjadi kalap, tapi tidak bisa berbuat banyak, karena ia sudah terluka hebat. “Bangsat gundut !” teriaknya. “Jangan kau menyiksa aku ! Bunuhlah !”

Pheng Hweeshio tertawa nyaring, “Aku tidak berani membunuh perempuan jelek yang kulitnya kering dan mulutnya lebar,” ejeknya. “Kalau kau mampus aku kuatir begitu lekas rohmu masuk di akhirat, berlaksa laksa setan akan kabur ke dunia sebab ketakutan. Aku pun kuatir Giam Loo Ong berak-berak saking kagetnya !”

Sehabis berkata begitu, ia tertawa nyaring dan melemparkan pedang di tanah dan sesudah menanggul mayat Pek Kwie Sioe, ia menangis keras akan kemudian berlalu dengan tindakan cepat.

Untuk beberapa lama Teng Bin Koen mengaso dengan napas tersengal-sengal. Kemudian dengan menggunakan sarung pedang sebagai tongkat, iapun berlalu dengan tindakan limbung.

Peristiwa yang hebat itu telah disaksikan semua oleh Siang Gie Coen dan Boe Kie. Sesudah Teng Bin Koen berlalu, barulah mereka menarik napas lega.

“Siang Toako,” kata Boe Kie. “Kie Kouwnio adalah tunangan In Lioksiok. Perempuan she Teng itu mengatakan mendapat anak. Siang Toako, bagaimana pendapatmu, apa benar atau tidak’?”

“Dia omong kosong, jangan dipercaya!” jawabnya.

“Benar!” kata Boe Kie. “Kalau bertemu In Liok siok, aku akan memberitahukan kekurang ajaran perempuan she Teng itu, supaya Lioksiok bisa menghajarnya.”

“Jangan! Jangan !” cegah Gie Coen tergesa gesa. “Hal itu kau sekali-kali tidak boleh memberitahukan In Lioksiok. Kau mengerti!”

“mengapa?” tanya si bocah.

“Omongan-omongan yang tidak sedap itu tidak boleh diberitahukan kepada siapapun juga,” jawabnya. “Ingatlah. Kau tidak boleh bicara dengan siapapun juga.”

Boe Kie mengangguk sambil mengawasi muka Gie Coen. Beberapa saat kemudian, ia berkata pula, “Siang Toako, apa kau kuatir tuduhan Teng Bin Koen suatu kenyataan ?”

Gie Coen menghela napas. “Tak tahu,” jawabnya.

Pada keesokan paginya jalanan darah Gie Coen yang tertotok terbuka sendirinya dan ia lalu mendukung Boe Kie, siap sedia untuk meneruskan perjalanan. Sambil mengawasi mayat-mayat yang menggeletak di tanah, ia berkata di dalam hati, “Sesudah belasan tahun, Cia Soen menghilang, tapi karena gara-garanya, orang-orang rimba persilatan masih terus mengorbankan jiwa. Hai! Sampai kapan urusan ini baru menjadi beres ?”

Sesudah banyak mengasoh, sebagian tenaga Gie Coen pulih kembali. Rasa sakit dalam badannya banyak berkurang dan ia bisa berjalan terlebih cepat. Sesudah melalui beberapa li mereka bertemu jalanan raya.

Gie Coen agak terkejut. “Ouw Soe peh berdiam di tempat yang sepi. tapi mengapa aku bertemu dengan jalanan raya?” tanyanya di dalam hati. “Apa nyasar?”

Baru saja ia mau mencari penduduk dusun untuk menanyakan, tiba tiba terdengar suara tindakan kuda dan empat orang serdadu Mongol mengubar dari belakang. “Lekas jalan! Lekas jalan!” teriak mereka sambil mengacung acungkan senjata seolah olah menggebah binatang.

“Tak dinyana aku mesti mati ditempat ini,” mengeluh Gie Coen. Karena lukanya, ilmu silatnya sudah musnah semua. Sekarang ia malah tidak dapat melawan seorang serdadu Mongol biasa.

Maka itu sambil menahan amarah, ia terpaksa berjalan terus.

Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan sejumlah penduduk yang juga digiring oleh serdadu serdadu Mongol. Dalam hati mereka lantas saja muncul sedikit harapan. Sekarang ternyata, bahwa serdadu-serdadu itu sedang memperlihatkan kekejamannya terhadap rakyat jelata dan bukan mereka yang dijadikan bulan-bulanan.

Melihat bahaya, Boe Kie segera berbisik, “Siang Toako, lekas kau berlagak jatuh dan buang golokmu.”

Gie Coen tersadar. Sesudah berjalan beberapa tindak lagi, ia pura-pura terpeleset dan menggulingkan diri dirumput sambil melepaskan golok yang disisipkan dipinggangnya. Sesudah itu, ia merangkak bangun dan berjalan lagi dengan napas tersengal sengal. Selagi ia lewat di depan seorang perwira Mongol, seorang Han yang jadi juru bahasa berteriak, “Bangsat! Kau sungguh tidak tahu adat. Lekas berlutut dihadapan Tayjin!”

Mengingat Cioe Coe Ong serumah tangga telah dibinasakan oleh tentara Mongol, darah Siang Gie Coen lantas saja naik tinggi dan biarpun mesti mati, ia tak sudi menekuk lutut. Ia jalan terus dengan berlagak tuli. Seorang serdadu Mongol mengudak dan menyapu kakinya sehingga ia jatuh terguling.

“She apa kau?” bentak si juru bahasa.

Sebelum Gie Coen sempat memberi jawaban, Boe Kie sudah mendahului berkata: “She Cia, dia kakakku”

Serdadu itu lalu menendang punggung Boe Kie seraya membentak, “Pergi!”

Bukan main gusarnya Gie Coen. Sambil merangkak bangun, ia bersumpah di dalam hati, bahwa sebegitu lama ia masih hidup, ia akan berusaha dengan seantero tenaganya untuk mengusir bangsa Mongol dari daerah Tiong goan.

Dalam keadaan tidak berdaya, buru-buru ia mendukung pula Boe Kie dan berlalu cepat-cepat. Baru berjalan beberapa puluh tombak, tiba tiba mereka mendengar teriakan teriakan menyayat hati. Mereka menengok dan melihat puluhan rakyat sedang dibunuh oleh tentara Mongol.

Sepanjang sejarah, selama penjajahan kerajaan Goan (Mongol), rakyat banyak memberontak. Belakangan, seorang pembesar tinggi Mongol telah mengeluarkan perintah untuk membunuh orang orang Han, yang she Thio, Ong, Lauw, Lie dan Tio. Semuanya lima she. Pada jaman itu, orang she Thio, Ong, Lauw dan Lie yang paling banyak terdapat di Tiong goan, sedang she Tio adalah she dari kaisar-kaisar Song. Maka itu, menurut jalan pikiran si pembesar Mongol, bangsa Han akan runtuh semangatnya jika orang-orang dari kelima she itu dibunuh. Untung juga, perintah yang sangat kejam itu cepat diketahui oleh kaisar Mongol yang segera mengeluarkan larangannya. Tapi sementara itu, banyak juga orang Han yang dibunuh mati.

Gie Coen tidak berani berdiam lama lama lagi dan lalu berjalan secepat-cepatnya. Sesudah berjalan lama, mereka bertemu dengan seorang penjual kayu bakar dan mereka lalu menanyakan di mana letaknya Ouw tiap kok. Orang itu menggelengkan kepala. Tapi Gie Coen segera mengetahui, bahwa Soepehnya mesti berdiam di sekitar tempat itu.

Dengan sabar ia lantas saja mencari-cari. Di sepanjang jalan mereka melihat ratusan macam bunga yang menghiasi daerah pegunungan itu. Tapi sesudah menyaksikan peristiwa yang menyedihkan itu, mereka tak punya kegembiraan Iagi untuk menikmati pemandangan alam yang sangat indah.

Sesudah membelok di beberapa tikungan, di sebelah depan menghadang sebuah tembok gunung dan jalanan putus di situ. Selagi mereka kebingungan, mendadak muncul beberapa ekor kupu-kupu yang terbang masuk ke sebuah gerombolan pohon-pohon kembang.

“Tempat ini dinamakan Ouw tiap kok, atau Selat Kupu-kupu,” kata Boe Kie. “Apa tidak baik kita mengikuti kupu-kupu itu?”

“Baiklah,” kata Gie Coen yang lalu turut masuk ke gerombolan pohon itu.

Sesudah melewati gerombolan pohon bunga, mereka bertemu dengan sebuah jalanan kecil yang tertutup rumput hijau.

Setelah berjalan beberapa jauh, jumlah kup-kupu yang beterbangan di sekitar situ jadi makin banyak. Hidung mereka mengendus harumnya bunga-bunga. Kembang-kembang yang tumbuh di sekitar situ sangat berbeda dengan apa yang terlihat ditempat lain.

Makin jauh mereka maju kupu-kupu makin tidak takut manusia. Mereka terbang mendekati seolah-olah menyambut kedatangan tamu-tamu dan hinggap di kepala, di pundak, d ilengan Gie Coen dan Boe Kie.

Gie Coen dan Boe Kie jadi bersemangat, karena mereka tahu, bahwa mereka sudah berada dalam selat Ouw tiap kok.

Lewat tengah hari, mereka melihat tujuh-delapan rumah gubuk di pinggir sebuah solokan yang airnya`jernih. Di depan, di belakang dan di kiri-kanan setiap gubuk ada dikelilingi dengan kebun kembang yang terawat baik.

Gie Coen berlari-lari ke depan gubuk-gubuk itu dan berkata dengan suara menghormat: “Teecoe Siang Gie Coen ingin berjumpa dengan Ouw Soepeh.”

Selang beberapa saat, dari sebuah gubuk keluar seorang kacung yang berkata: “Masuklah.”

Sambil mendukung Boe Kie, Gie Coen segera bertindak masuk. Di satu sudut dari ruangan tengah kelihatan berdiri seorang lelaki setengah tua yang berparas agung. Ia ternyata sedang menilik seorang kacung yang lagi memasak obat. Seluruh ruangan itu penuh dengan macam-macam daun obat yang aneh-aneh. Buru-buru Gie Coen menaruh Boe Kie Di atas kursi dan lalu berlutut di hadapan orang itu.

“Ouw Soepeh, Gie Coen memberi hormat,” katanya.

Boe Kie mengawasi orang itu yang tentulah juga bukan lain daripada Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe.

Tabib malaikat itu manggut-manggutkan-kepalanya dan berkata, “Urusan Cioe Coe Ong, aku sudah tahu. Itulah nasib. Mungkin sekali, rejeki Tatcoe masih belum habis dan agama kita belum sampai waktunya untuk bisa memperoleh kemakmuran”

Sehabis berkata begitu, ia memegang nadi Gie Coen dan membuka baju pemuda itu. Sambil mengawasi dada si berewok, ia berkata: “Kau kena pukulan Ciat sim ciang dari Hoan ceng. Pada hakekatnya, pukulan itu tidak sukar di obati. Tapi sesudah terpukul, kau menggunakan terlalu banyak tenaga, sehingga hawa dingin menyerang jantungmu dan sebagai akibatnya, aku memerlukan agak lebih banyak tempo untuk menyembuhkannya.” Sesudah memberi penjelasan, ia meraba-raba sekujur badan Gie Coen.

“Dengan siapa kau bertempur tadi malam?” tanya Ceng Goe secara tiba-tiba. “Dengan murid Boe tong pay?”

“Tidak,” jawabnya.

Sang paman segera meraba-raba kedua paha Si brewok. Sekonyong-konyong paras mukanya berubah dan membentak, “Gie Coen! Tujuh delapan tahun kita tidak pernah bertemu muka. Sekali bertemu, kau coba memperdayai Soepehmu. Sudahlah! Aku tidak bisa mengobati lukamu. Pergi!”

Gie Coen jadi bingung. “Ouw Soepeh,” katanya, “mana berani aku mendustai kau? Dengan sesungguhnya, sepanjang malam aku tidak pernah bertempur dengan siapapun jua. Tenagaku sudah habis semua. Andaikata aku ingin, akupun tidak bisa berkelahi!”

“Omong kosong!” bentak sang paman guru “Terang-terang, Hoan tiauw hiat di kedua pahamu telah ditotok orang. Dan totokan itu dilakukan dengan ilmu menotok dari Boe tong pay. Tempo nya yalah antara Coe sie dan Tio sie,” (Coe sie antara jam 11 malam dan jam 1. Tio sie Antara jam 1 dan jam 3 pagi).

Mendadak si brewok tertawa. “Ah! Kalau begitu, yang dimaksudkan Soepeh ialah jalanan darah yang ditotok olehku sendiri,” katanya. Dengan ringkas ia lalu menceritakan kejadian semalam.

Waktu Gie Coen menuturkan cara bagaimana ia sudah dikelabui Boe Kie, Ceng Goe melirik bocah itu dan waktu ia menceritakan cara bagaimana mata kanan Pheng Hweeshio telah ditusuk oleh Teng Bin Koen, sang paman guru menghela napas berulang ulang dan berkata: “Pheng Eng Giok Hweeshio adalah seorang gagah sejati dari agama kita. Biarpun kita tidak segolongan dengan dia, tapi kita harus mengaku, bahwa dia itu seorang manusia yang jarang terdapat dalam dunia ini. Kalau begitu ditusuk, ia bisa segera datang kepadaku, mungkin sekali mata kanannya tidak sampai menjadi buta. Tapi sekarang sudah tidak dapat diobati lagi.”

Ia menengok kepada Boe Kie dan berkata pula, “Dari mana kau belajar ilmu Tiam Toat Boe tong pay?”

“Soepeh.” kata Gie Coen, “saudara kecil itu adalah putera Thio Ngohiap dari Boe tong pay.”

Ouw Ceng Goe kaget dan paras makanya lantas saja berubah gusar. “Murid Boe tong pay?” la menegas, “Perlu apa kau membawa dia kemari?”

Gie Coen lantas saja menuturkan cara bagaimans Thio Sam Hong telah menolong dia dan puteri Cioe Coe Ong waktu mereka diubar-ubar oleh kaki tangannya kaisar Goan disungai Han soei. Sesudah selesai bercerita, ia akhirnya berkata, “Sesudah menanggung budi yang begitu besar teecoe memohon supaya Soepeh suka membuat kecualian dan sudilah Soepeh menolong jiwa saudara kecil ini.”

Sang paman guru mengeluarkan suara di hidung, “Gie Coen, kau sungguh seorang yang royal dengan janji-janjimu,” ejeknya. “Hem…yang ditolong Thio Sam Hong adalah kau, bukan aku. Lagi kapan aku pernah membuat kecualian dalam kebiasaanku?”

Gie Coen segera berlutut dan manggutkan kepalanya berulang-ulang. “Soepeh.” katanya, “ayah saudara kecil itu adalah seorang laki-laki sejati yang lebih suka menggorok leher dari pada menjual sahabat. Dia sendiri, meskipun masih kecil, mempunyai jiwa seorang kesatria. Teeeoe menjamin bahwa dia seorang baik.”

“Apa? Orang baik?” Ceng Goe mengejek pula. “Ada berapa banyak orang baik dalam dunia? Kalau dia bukan murid Boe tong pay, masih tidak apa. Dia murid sebuah partai yang lurus bersih, mengapa dia harus meminta pertolongan dari agama sesat ?”

“Ibu saudara Thio ini adalah puteri Peh bie Eng ong In Kauwcoe,” kata Gie Coen. “Dengan demikian, dapatlah dikatakan, separuh badannya adalah dari agama kita.”

Mendengar keterangan itu, hati Ouw Ceng Goe tergerak juga, “Oh, begitu. Kau bangunlah.” kataanya, “Dia putera In So So dari Peh bie kauw. Kalau begitu lain urusan.” Ia lalu mendekati Boe Kie dan berkata dengan suara hangat. “Anak, aku selamanya mentaati peraturan bahwa aku tidak akan menolong orang orang dari partai lurus bersih. Ibumu adalah anggauta dari agama kita. Tapi sebelum mengobati, aku ingin kau berjanji, bahwa sesudah sembuh, kau harus pulang ke tempat kakekmu, yaitu Peh bie Eng ong ln Kauwcoe, dan kau harus masuk kedalam agama Peh bie kauw. Dengan lain perkataan, kau harus meninggalkan partai Boe tong pay.”

Sebelum Boe Kie menjawab, Gie Coen sudah mendahului. “Soepeh, hal itu tidak bisa kejadian. Sebelum menyerahkan saudara Thio kepada Teecoe, Thio Sam Hong Thio Cinjin sudah mengatakan terang terangan, bahwa kita tidak boleh memaksa dia masuk kedalam agama kita dan juga andaikata dia sembuh, Boe tong pay tidak menanggung budi dari agama kita”

Kedua mata Ouw Ceng Goe lantas saja mendelik dan darahnya naik, “Huh ! Manusia apa Thio Sam Hong !” bentaknya. “Dia begitu memandang rendah kepada kita, perlu apa kau membantu dia. Anak, bagaimana keputusanmu sendiri ?”

Boe Kie mengerti bahwa ia sedang menghadapi soal mati atau hidap. Sesudah kakek gurunya tidak berdaya untuk menolong harapan satu-satu nya ialah Ouw Ceng Goe. Ia tahu, kalau ia tidak dapat meluluskan apa yang diminta oleh Tiap kok Ie Sian, jiwanya pasti tak akan bisa ditolong lagi.

Ia sendiri sebenarnya masih tak tahu apa kejelekan atau kebusukan “agama” sesat yang begitu di benci oleh sang kakek guru dan semua paman-pamannya. Tapi karena ia sangat mencintai dan menghormati kakek gurunya, maka ia lantas saja mengambil keputusan, bahwa ia lebih baik mati dari pada melanggar pesanan orang tua itu.

Tanpa bersangsi lagi, dengan suara lantang ia menjawab. “Ouw Sinshe, ibuku ialah Hio coe dari Peh bie kauw dan aku pribadi menganggap bahwa Peb bie kauw adalah agama baik. Akan tetapi, sebab Thay soehoe melarang aku masuk kedalam Mo kauw dan aku sendiri sudah menyanggupi, maka sebagai laki-laki, tak dapat aku menarik pulang janjiku itu. Jika kau tak sudi mengobati aku, akupun tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau lantaran takut mati, aku menurut apa yang diminta olehmu, maka aku akan menjadi seorang manusia yang tidak mempunyai kepercayaan, dan dari pada jadi manusia semacam itu, lebih baik aku berpulang ke alam baka.”

Ouw Ceng Goe mendongkol bukan main. “Gie Coen,” katanya. “Bawa, dia pergi! Di dalam rumah Ouw Ceng Goe tidak boleh ada orang mati lantaran sakit.”

Gie Coen jadi bingung. Ia mengenal benar adat Soepehnya Jika ia telah berkata “tidak”, perkataannya tidak bisa diubah lagi.

“Saudara kecil,” katanya dengan suara membujuk. “Biarpun Mo kauw agak berbeda dengan partai-partai yang lurus bersih, akan tetapi, semenjak jaman kerajaan Tong sampai sekarang, dalam kalangan kami setiap turunan selalu muncul orang gagah sejati. Apa pula kakek luarmu adalah Kauwcoe dari Peh bie kauw sedang ibumu sendiri Hio coe dari agama tersebut. Saudara kecil, luluskanlah permintaan Ouw Soepeh. Di hari kemudian aku akan bertanggung jawab di hadapan Thio Cinjin.”

“Baiklah,” kata Boe Kie. “Siang Toako, ketuklah tulang punggungku yang ke delapan dan ke tiga belas dengan kuku jarimu, ketuklah beberapa kali”

Gie Coen menjadi girang dan lalu melakukan apa yang diminta. Di luar dugaannya begitu kedua tulang punggungnya diketuk, si bocah lantas saja menggerakkan kedua kakinya. Ia bangun berdiri seraya berkata kepadanya “Siang Toako. Kau telah berbuat apa yang kau bisa. Di belakang hari Thay Soehoe tak bisa menyesalkan kau.” Ia memutar badan dan berjalan keluar dengan tindakan lebar.

Si brewok kaget. “Mau ke mana kau?” teriaknya.

“Kalau aku mati di Ouw tiap kok, bukankah nama Tiap kok Ie sian akan menjadi rusak?” jawabnya. Sambil berkata begitu, ia kabur dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.

Ouw Ceng Goe tertawa dingin. “Nama Kian sie Poet kioe Ouw Ceng Goe sudah kesohor di kolong langit.” katanya. “Bukan baru satu orang yang roboh binasa di luar rumahnya.”

(Kian sie Poet kioe artinya Melihat kebinasaan tetap tidak menolong).

Tanpa menghiraukan perkataan Soepehnya, Gie Coen segera mengubar. Mereka kedua duanya sama-sama mendapat luka, tapi luka Cie Goan banyak lebih enteng dan tenaganya pun banyak lebih besar. Maka itu, dalam beberapa saat saja ia sudah bisa menyandak Boe Kie yang lalu dipeluknya dan dibawa balik kerumah paman guruya.

Dengan kedua tangan belum bisa bergerak, si bocah tidak berdaya lagi.

“Ouw Soepeh apa benar-benar kau tidak mau menolong?” tanya Gie Coen dengan napas tersengal-sengal.

“Apa kau tidak tahu, bahwa aku bergelar Kian sie Poet kioe?” Sang paman balas menanya. “Perlu apa kau melit-melit?”

“Tapi apakah Soepeh bersedia untuk mengobati luka di dalam tubuhku?” tanya pula Siang Gie Coen.

“Tentu.” jawabnya.

“Bagus!” kata si brewok girang. “Teecoe telah berjanji kepada Thio Cinjin nntuk menolong saudara kecil ini. Sesudah memberi janji itu, tee coe tak mau orang-orang partai sana mengatakan bahwa murid-murid Mo kauw tidak boleh dipercaya. Maka itu, begini saja, Teecoe tak usah di obati oleh Soepeh, tapi teecoe memohon supaya Soepeh sudi mengobati saudara kecil dengan demikian, satu ditukar dengan satu dan Soepeh tidak jadi rugi.”

“Kau tahu bagaimana hebatnya Ciat sim ciang ?” tanya sang paman guru dengan paras sungguh-sungguh. “Sesudah kena pukulan itu, jika di dalam tempo tujuh hari, kau mendapat pertolongan seorang tabib kelas satu, maka lukamu akan menjadi sembuh. Sesudah lewat tujuh hari, hanya jiwamu yang dapat ditolong, sedang ilmu silatmu akan musnah seanteronya. Sesudah lewat empat belas hari, tak satu tabibpun yang akan bisa menolong jiwamu.”

“Ya, itulah karena meskipun melihat kebinasaan, Soepeh tidak sudi menolong,” jawabnya, “Teecoe rela mati dan takkan merasa menyesal.”

“Aku tak sudi ditolong olehmu!” teriak Boe Kie. “Tak sudi! Kau mengerti?” la menengok ke arah si berewok dan berkata, “Siang Toako, apa kah kau rasa Boe Kie manusia rendah? Kau menukar jiwamu dengan jiwaku. Andaikan aku hidup, aku akan hidup menderita. Tak bisa ada kejadian begitu !”

Gie Coen adalah laki-laki tulen. Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, ia membuka tali pinggangnya yang lalu digunakan untuk membelenggu kaki tangan Boe Kie dan kemudian mengikatkan ke sebuah kursi.

“Lepas! Lepas!” teriak bocah itu. “Kalau kau tidak lepas, aku akan mencaci.”

Si berewok tidak menggubris.

“Kian sie Poet kioe Ouw Ceng Goe!” teriak Boe Kie. “Kau sungguh seperti kerbau tolol! Kau lebih rendah daripada binatang. Aku sedih, bahwa di dalam Mo kauw terdapat manusia yang tidak bersifat manusia. Dan kau masih begitu tak mengenal malu, kau masih ada muka untuk membujuk aku masuk ke dalam agamamu. Entah dosa apa yang ditumpuk oleh delapan belas leluhurmu, sehingga pada akhirnya, mereka mendapat turunan seperti kau, manusia yang lebih rendah dari pada anjing dan babi !”

Sesudah selesai mengikat Boe Kie, Gie Coen segera berkata, “Ouw Soepeh, saudara Thio, selamat tinggal! Aku sekarang ingin mencari tabib.”

“Di seluruh propinsi An hoei tidak terdapat tabib yang pandai,” kata Ceng Goa. “Dan di dalam tujuh hari, belum tentu kau bisa keluar dari propinsi ini.”

Si brewok tertawa terbahak-bahak. “Aku mempunyai Soepeh melihat kebinasaan tak sudi menolong,” katanya. “Dan kau mempunyai Soetit (keponakan murid) yang tidak mengenal mampus.” Seraya berkata begitu, dengar tindakan lebar ia berjalan keluar.

“Ouw Ceng Goe!” bentak Boe Kie. “Kalau kau tidak mengobati Siang Toako, satu hari kau pasti akan binasa di dalam tanganku! Aku…aku..”

Ia tidak dapat meneruskan perkataannya, karena ia sudah pingsan.

Ceng Goe mengeluarkan suara di hidung. “Tak perlu kau mampus di luar rumahku,” katanya seraya mengambil sebatang daun obat yang lain di timpukkan ke arah Gie Coen. Batang daun obat itu menyambar bagaikan kilat dan mengenakan tepat di lutut si berewok, yang tanpa mengeluarkan suara, segera roboh terguling dan tidak bisa bangun lagi.

Memang aneh sungguh adat Ouw Ceng Coe. Kalau dia kata “tidak” tetap tidak, kalau dia “mau”, dia tetap mau. Perkataan Boe Kie yang paling belakang, yakni ancaman “kalau kau tidak mengobati Siang Toako, satu hari kau pasti akan binasa di dalam tanganku”, agak mengejutkan hatinya.

Melihat kegagahan Boe Kie dan mengingat bahwa anak itu murid Thio Sam Hong, ia merasa bahwa ancaman itu bukan ancaman kosong. Ia seorang yang sangat berhati-hati. Sesudah memikir sejenak berkata dalam hatinya, “Biarlah, kedua-duanya tidak ditolong olehku. Perduli apa jika di Ouw tiap kok bertambah dengan dua setan penasaran”

Sesudah menimpuk Gie Coen, ia segera membuka ikatan Boe Kie dan mencekal kedua pergelangan tangan anak itu untuk dilontarkan sejauh-jauhnya keluar.

Mendadak Ceng Goe terkejut, karena denyutan nadi si bocah sangat luar biasa. Ia segera memeriksa lebih teliti dan rasa kagetnya bertambah-tambah.

“Apakah bocah sekecil dia sudah bisa membuka Kie keng Pat meh” tanyanya dalam hati. “Puluhan tahun aku berlatih, tapi belum dapat aku membuka pembuluh darahku. Oh, aku tahu! Tak salah lagi, inilah akibat bantuan Thio Sam Hong. Dia rupanya sangat sayang bocah ini dan rela mengorbankan sebagian Lweekangnya.”

Ia lalu membuka pakaian Boe Kie dan memeriksa seluruh badannya. Sesudah itu, ia menekan tantian, dada, embun-embunan dan hati si bocah. Akhirnya ia tertawa dingin seraya berkata, “Thio Sam Hong berlagak pintar, tapi dia jadi bodoh. Lantaran menyayang, dia mencelakakan cucu muridnya. Jikalau Kie keng Pat meh anak ini belum terbuka, jiwanya masih dapat ditolong. Tapi sekarang, racun dingin sudah buyar dan masuk ke dalam isi perutnya. Kecuali dewa, manusia biasa tak berdaya lagi. Huh huh! Kata orang, Boe tong Thio Sam Hong berkepandaian luar biasa tinggi. Tapi menurut penglihatanku, dia goblok berlapis dungu.”

Beberaga saat kemudian, Boe Kie tersadar, dan melihat Ouw Ceng Goe sedang mengawasi api dapur obat dengan mata membelalak, sedangkan Siang Gie Coen masih juga menggeletak di jalanan berumput, di luar rumah. Keadaan begitu sunyi senyap untuk beberapa lama, tak seorangpun membuka mulut.

Ouw Ceng Goe adalah seorang tabib yang telah mencurahkan seluruh penghidupannya untuk mempelajari ilmu ketabiban. Kalau dia senang, dengan mudah dia dapat menyembuhkan penyakit yang aneh-aneh. Oleh karena itu, ia mendapat gelaran “Ie sian,” atau “Tabib Dewa.”

Tapi, ia sekarang menghadapi racun yang sangat langka, yaitu racun dingin dari pukulan Hian beng Sin ciang. Apa yang lebih luar biasa lagi, yalah pembuluh darah dari orang yang terkena racun itu, terbuka semuanya, sehingga racun tersebut sudah masuk ke dalam perutnya.

Sebagaimana diketahui, dalam dunia ini, orang-orang sangat sukar mendapat lawan yang setimpal. Seorang ahli catur jempoan sukar mendapat lawan yang seimbang. Jika menemui lawan begitu, ia bisa lupa makan dan lupa tidur. Seorang ahli hitung juga pasti tak akan menyerah kalah sebelum dapat memecahkan teka-teki hitungan yang sulit.

Hal yang sama sekarang dihadapi oleh Ouw Ceng Coe. Penyakit Boe Kie merupakan tantangan baginya. Ia sungkan mengobati Boe Kie tapi tantangan itu terlalu hebat untuk bisa dielakkan dengan begitu saja.

Tanpa merasa, ia mengasah otak. Beberapa lama, ia mengasah otak, tanpa berbasil. Akhirnya dengan geregetan, ia berkata di dalam hatinya, “Baiklah. Lebih dulu aku akan menyembuhkan penyakitnya. Aku pasti bisa menyembuhkannya. Sesudah dia sembuh, masih banyak tempo untuk membinasakannya.”

Sesudah memeras pikiran sejam lebih, ia mengeluarkan dua belas kepingan kecil tembaga dari sakunya. Sambil mengerahkan Lweekang, ia menancapkan kepingan-kepingan logam tembaga itu di Tiongkie hiat (sebelah bawah tantian), di Thian touw hiat (sebelah bawah leher), di Cian keng hiat (dipundak) dan di lain-lain jalan darah disekujur badan Boe Kie. Sesudah kepingan tembaga itu ditancapkan, maka dua belas Keng siang meh terputus hubungannya dengan Kie keng Pat meh.

Keng siang meh ialah hati, paru paru, nyali ginjal, usus besar, usus kecil dan lain lain, ialah dua belas macam isi perut dalam tubuh manusia.

Sesudah Keng siang meh terputus hubungannya dengan Kie keng Pat meh, maka racun dingin yang sudah masuk ke dalam isi perut Boe Kie tidak bisa naik lagi ke pembuluh darah dan untuk sementara, tidak berbahaya lagi.

Sesudah membuka semua jalanan darah yang tertotok di kaki tangan Boe Kie, dengan menggunakan batang rumput Tin ngay, Ouw Ceng Goe lalu membakar In boen hiat dan Tiang hoe hiat di pundak sibocah. Kemudian, ia lalu membakar berbagai jalanan darah dari lengan sampai di jempol tangan, seperti Thian hoe hiat, Hiap pek hiat, Cek tek hiat dan sebagainya. Setiap pembakaran disaban jalanan darah mengurangi racun dingin yang mengeram dalam isi perut Boe Kie. Tapi cara itu, yaitu menggunakan hawa panas untuk melawan hawa dingin, menimbulkan kesakitan luar biasa dan penderitaan Boe Kie lebih hebat dari pada waktu mengamuknya racun dingin itu.

Tanpa mengenal kasihan, si tabib malaikat membakar terus dengan batang Tin ngay yang menyala nyala. Sesudah selang beberapa lama, tubuh si bocah penuh dengan totol-totolan hitam akibat pembakaran itu.

Boe Kie yang keras kepala sedikitpun sungkan memperlihatkan kelemahannya. Jangankan berterlak kesakitan, merintihpun tidak. Sebaliknya dari itu, ia masih bisa bicara dengan sang tabib sambil bersenyum senyum.

Meskipun tidak mengerti ilmu ketabiban, tetapi sesudah belajar ilmu Tiam hiat dari Cia soen, ia paham akan letaknya berbagai jalanan darah di sekujur badan manusia. Maka itu, waktu Ouw Ceng Goe bicara tentang soal ketabiban sambil membakar jalanan darahnya, sedikit-sedikit ia masih bisa melayaninya. Kadang kadang berdasarkan pengetahuannya akan ilmu Tiam hiat, ia malah memberi tafsiran atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat. Hal ini menggembirakan sangat hati Tiap kok Ie sian.

Sebagaimana diketahui, ia hidup menyendiri di sebuah selat yang terpencil dari dunia luar. Manusia yang mengawaninya hanya kacung-kacung yang membantunya mencari daun obat atau memasak obat. Maka dapatlah dimengerti kalau sekarang kegembiraannya timbul sebab ia bisa bicara dengan seorang yang kelihatannya mengerti akan apa yang dibentangkan olehnya.

Setelah beberapa ratus jalanan darah yang bersangkut paut dengan Keng sian meh selesai di bakar, siang sudah berganti dengan malam. Tak lama kemudian, seorang kacung membawa nasi dan sayur yang lalu ditaruh. Di atas meja dan kemudian ia membawa juga barang santapan keluar rumah untuk diberikan kepada Siang Gie Coen yang masih terus menggeletak Di atas rumput.

Malam itu si berewok tidur di udara terbuka. Waktu tiba temponya untuk mengaso, tanpa mengeluarkan sepatah kata, Boe Kie berjalan keluar rumah dan membaringkan dirinya di atas rumput, di samping Toako, sebagai tanda bahwa ia bersamaan nasib dengan si berewok.

Ouw Ceng Goe tidak memperdulikan, ia malah berlagak tidak melihat perbuatan Boe Kie. Tapi di dalam hati, diam-diam ia merasa heran dam kagum akan cara-caranya bocah cilik Itu.

Pada keesokan harinya, si tabib malaikat menggunakan tempo setengah hari untuk membakar “hiat” dari Kie keng Pat meh. Keng siang meh adalah seperti sungai yang terus mengalir tak henti-hentinya, sedang Kie keng Pat meh seolah-olah telaga atau lautan yang menerima semua aliran itu. Maka itu, usaha untuk mengusir racun dingin yang berkumpul di Kie keng Pat meh banyak sukar daripada usaha mengusir racun itu dari Keng Pat meh.

Sesudah selesai membakar berbagai “hiat” dari Kie keng pat meh, Ceng Goe segera memerintahkan kacungnya memasak semacam ramuan obat yang kemudian lalu diberikan kepada Boe Kie. Obat itu dingin sifatnya dan dalam usaha babak kedua itu ia menggunakan dingin membasmi dingin. Sehabis makan obat itu, Boe Kie mengigil hebat, tapi sesudah serangan itu mereda, ia merasakan badannya banyak lebih baik, lebih nyaman dan lebih segar.

Di waktu lohor si tabib malaikat meneruskan usahanya dengan menusuk berbagai jalanan darah Boe Kie dengan mengunakan jarum emas. Selagi diobati dengan rupa0rupa daya Boe Kie coba membujuk Ceng Goe, supaya dia suka mengobati Gie Coen, tapi orang aneh itu tidak meladeni dan hanya berkata, “Gelar Tiap kok ie sian untukku sebenarnya kurang tepat dan aku tidak menyuka julukan itu. Gelar Kian sie Poet kioe barulah menyenangkan hatiku.”

Sambil berkata begitu, ia menusuk Ngo kit hiat, di antara pinggang dan paha dengan jarum emas nya. Jalanan darah itu adalah tempat bertemunya Siauw yang dan Tay yang.

“Tay meh dalam tubuh manusia merupakan pembuluh darah yang paling aneh,” kata Boe Kie. “Ouw Sinshe, apa kau tahu bahwa ada beberapa orang yang tidak mempunyai Tay meh ?”

Ceng Goe kaget. “Omong kosong! Tak bisa jadi!” bentaknya.

Memang benar, Boe Kie hanya bicara sembarangan. Tapi ia berkata pula. “Ouw Sinshe, dunia ini luas sekali dan di dalam dunia terdapat banyak yang aneh-aneh. Apalagi menurut katanya orang, Tay meh sebenarnya tidak memegang peranan penting dalam tubuh manusia.”

“Aku mengakui, bahwa Tay meh adalah pembuluh darah yang agak aneh,” kata sitabib. “Tapi dusta besar, jika orang mengatakan, babwa Tay meh tidak berguna besar. Dalam dunia terdapat banyak tabib tolol yang tidak mengerti kegunaan dan pentingnya Tay meh. Aku mempunyai sejilid Kitab Tay meh. Kau bacalah sendiri,”

Ia segera masuk ke dalam dan keluar lagi dengan membawa sejilid buku tipis yang ditulis dengan tulisan tangannya sendiri, dan lalu menyerabkan kepada si bocah.

Boe Kie membuka halaman yang pertama, di mana tertulis seperti berikut: “Dua belas Keng siang meh dan Kie keng cit meh semua mengalir dari atas ke bawah. Hanya Tay meh yang terletak di samping kempungan, mengalir dengan memutari pinggang, seperti juga sehelai ikatan pinggang. Dalam beberapa kitab pengobatan terdapat keterangan, bahwa Tay meh mempunyai empat hiat atau enam hiat. Itu semua salah. Tay meh sebenarnya mempunyai sepuluh hiat, dua di antaranya kadang-kadang muncul, kadang kadang menghilang, sehingga sukar sekali dapat diraba”

Boe Kie membaca terus dengan teliti dan diam diam mengingat-ingat semua apa yang dibacanya.

Tiba-tiba ia teringat peristiwa Tan Yoe Liang yang coba mengelabui kakek gurunya. Kitab Tay meh itu tidak seberapa banyak isinya dan apa yang tertulis di dalamnya ternyata sangat mudah dimengerti, sehingga jika dibandingkan dengan Kouw koat ilmu silat, kitab tersebut sepuluh kali lebih mudah dihafal.

Sesudah selesai membaca, si bocah lalu mengembalikan kitab itu kepada Ouw Ceng Gee. “Kitab itu sudah pernah dibaca olehku,” katanya dengan suara tawar. Pada waktu berusia tigapuluh tahun, Thay soehoe pernah menulis Coe hak Tay meh Jip boen Cian swee, yang bersamaan isinya dengan hubungan itu. Entah Thay soehoe yang meneladani keteranganmu atau kau yang menyontoh gubahan Thay soehoe,”

Ouw Ceng Goe tercengang, akan kemudian marah besar. “Tahun ini aku baru berusia lima puluh satu tahun,” katanya di dalam hati. “Kau mengatakan, bahwa Thio Sam Hong menulis buku itu waktu ia berusia tiga puluh tahun dan karena ia sekarang sudah berumur seratus tahun lebih, maka ia menulis itu pada tujuhpuluh tahun berselang. Dengan lain perkataan lagi, akulah yang sudah mencuri buah kalamnya Thio Sam Hong. Kurang ajar! Kitab Tay-meh itu adalah hasil jerih-payahku dan belum pernah didapat oleh siapapun dua dalam dunia ini. Kurang ajar! Kau mengatakan Coe hak Tay meh Jip boen Cian swee, sudah ‘Coe hak’, ‘Jip boen’, sudah ‘Jip boen’, ‘Cian swee’ lagi! Kunyuk kecil ini benar-benar kurang ajar!”

(Coe hak artinya pelajaran permulaan, Jip boen adalah pendahuluan, Cian swee berarti perundingan yang cetek, tidak mendalam).

Dalam gusarnya, ia menancapkan jarum emas dalam-dalam di pinggir jalanan darah, sehingga darah lantas saja keluar berketel-ketel. Boe Kie kesakitan, hampir-hampir ia berteriak, tapi sambil menggigit bibir, ia menahan rasa sakit itu. “Kalau kau tidak percaya, biarlah aku menghafal Coe hak Tay meh Jip boen Cian swee itu, yang digubah oleh Thay Soehoe,” katanya dengan tenang.

“Baiklah!” bentak Ceng Goe. “Kalau salah sehuruf saja, tahu sendiri, aku akan segera mengambil jiwamu ”

Selama di Pheng hwee to, semenjak berusia tima tahun, Boe Kie telah dipaksa menghafal Kouw koat ilmu silat oleh ayah angkatnya. Salah sedikit saja, ia digaplok oleh ayah angkat yang galak itu. Maka itulah, sesudah berlatih selama lima tahun, ia boleh dikatakan sudah menjadi ahli dalam ilmu menghafal. Akan tetapi, mendengar ancaman Ouw Ceng Goe in keder juga. Ia yakin, bahwa orang aneh itu dapat membuktikan ancamannya. Diam-diam ia merasa menyesal, bahwa ia berguyon-guyon secara melampaui batas. Tapi sekarang ia sudah tidak bisa mundur lagi. Sambil mengempos semangat untuk mengumpulkan semua tenaga otak nya, ia mulai menghafal dengan suara nyaring :

“Duabelas Keng siang meh dan Kie keng Cit meh semua mengalir dari atas ke bawah. Hanya Tay meh, yang terletak di samping kempungan, mengalir memutari pinggang, seperti sehelai ikatan pinggang…”

Makin lama, ia makin bersemangat dan akhirnya ia mendapat menyelesaikan hafalan itu dengan sempurna.

Bukan main kagetnya Ceng Goa. Untuk beberapa saat, ia mengawasi si bocah dengan mata membelalak. “Sungguh luar biasa” pikirnya. “Anak itu mempunyai bakat Kwee bak poet bong, Manusia yang seperti dia sukar dicari keduanya di dalam dunia.”

(Kwee bak poet bong artinya begitu melihat tidak bisa lupa Iagi)

Ia tak tahu, bahwa dalam kuil Siauw lim sie terdapat Tan Yoe Liang yang kecerdasannya tidak berada di sebelah bawah Boe Kie.

Sesudah hilang kagetnya, tanpa merasa ia memuji, “Pintar! Kau sungguh pintar!” Sehabis berkata begitu, ia segera menusuk sepuluh “hiat” dari Tay meh Boe Kie dengan jarum emasnya.

Sehabis mengaso sebentar, Ceng Goe mendapat ingatan untuk mencoba lagi, “Di samping kitab Tay meh, aku memiliki kitab Coe ngo Ciam cie keng,” katanya. “Coba kau lihat. Apakah Thio Sim Hong juga sudah pernah menggubah kitab yang seperti itu ?”

Ia segera masuk kedalam dan keluar lagi dengan membawa 12 jilid kitab tulisan tangan.

Boe Kie segera membalik-balik lembarannya. Setiap halamannya penuh huruf-huruf kecil yang menerangkan kedudukan jalanan darah, beratnya timbangan obat, waktu dan cetek dalamnya tusukan jarum emas. Semua diterangkan dengan jelas sekali, “Untuk membaca dua belas jilid sedikitnya memerlukan tempo tiga atau empat hari,” pikirnya.

“Bagaimana aku dapat menghafal dalam tempo cepat? Biarlah aku coba saja mencari ilmu untuk mengobati luka Siang Toako.” Dengan cepat ia membalik-balik lembaran kitab-kitab itu dengan hanya memperhatikan judulnya. Waktu memeriksa jilid ke sembilan, di bagian Ciang siang Cie hoat (Cara mengobati luka pukulan telapak tangan), ia melihat petunjuk-petunjuk untuk mengobati luka Tiat see ciang, Tok ciang, Kay san ciang dan sebagainya. Waktu ia meneliti lagi sampai di halaman seratus delapanpuluh, barulah ia bertemu dengan cara pengobatan luka terkena pukulan Ciat sim ciang.

Ia jadi sangat girang. Ia lalu membaca dan mempelajari apa yang tertulis di situ. Ia mendapat kenyataan bahwa keterangan mengenai pukulan itu diberikan jelas sekali, tapi cara mengobatinya sangat sederhana dan ringkas. Mengenai itu hanya ditulis seperti berikut “Turun tangan mulai dari Cie kiong hiat, Tiong tseg hiat. Koan goan hiat dan Thian tie hiat. Sesudah itu, memberi obat dengan melihat perubahan Im yang dan Ngoheng, meninjau lima hawa udara yaitu: dingin, panas, kering, basah dan angin dan memperlihatkan lima perasaan girang, gusar, jengkel, banyak pikiran dan bersemangat dari si sakit.”

Dalam ilmu pengobatan Tionghoa terdapat banyak perubahan dan tidak ada peraturan yang tentu. Untuk mengobati serupa penyakit si tabib biasa memberi obat dengan memperhatikan hawa udara, siang atau malam, lelaki atau perempuan, besar atau kecil dan sebagainya.

Sementara itu, sesudah membaca beberapa kali, Boe Kie berkata dalam hatinya, “Yang paling penting yalah coba menolong Siang Toako. Aku tidak boleh mengejek tabib malaikat ini.”

Di bagian terakhir Ciang siang Cie hoat, ada tertulis Hian beng Sin ciang. Kehebatan pukulan itu diterangkan jelas, tapi di bagian cara pengobatan tertulis “Tidak ada.”

Ia lalu menutup kitab itu dan dengan sikap hormat menaruhnya Di atas meja. “Dalam ilmu silat, Ouw Sinshe tidak dapat menandingi Tay soehoe, tetapi di dalam ilmu ketabiban, Tay Soe hoe tidak bisa melawan Ouw Sinshe,” katanya, “Coe ngo ciam cie keng luas dan dalam, Tay Soehoe tak akan dapat menggubah kitab seperti itu. Akan tetapi, mengenai pengobatan pukulan telapak tangan, apa yang dipelajari Ouw Sinshe belum dapat melampaui pelajaran Tay Soehoe.”

Sehabis berkata begitu, ia segera menghafal Ciang Siang Cie hiat yang terdiri dari mengobati seratus lebih macam pukulan telapak tangan, dan dalam menghafal itu, tidak sehuruf pun yang salah atau ketinggalan. Akhirnya ia berkata, “Luka boanpwee akibat pukulan Hian beng Sin ciang tak dapat diobati oleh Tay soehoe. Mungkin sekali Ouw Sinshepun tidak berdaya”

Ouw Ceng Goe tertawa dingin. “Tak usah kau memanaskan hatiku,” katanya. “Kau saksikan saja sendiri apa benar aku tidak berdaya. Tapi sesudah aku menyembuhkan kau, belum tentu kau bisa hidup lama.”

Walaupun Boe Kie pintar luar biasa, ia tidak mengerti maksud sebenarnya dari perkataan si tabib yang ingin membinasakannya sesudah menyembuhkannya, supaya sesuai dengan kebiasaannya, bahwa ia tidak pernah menolong orang yang di luar lingkungan “agama” sesat.

Dengan tujuan satu-satunya untuk menolong Siang Gie Coen, si bocah lantas saja berkata: “Ouw Sinshe, jika boanpwee tidak bisa hidup lama, boanpwee ingin sekali bisa membaca lagi kitab Coe ngo Ciam cie keng yang sangat luar biasa itu.”

Ouw Ceng Goe tidak lantas menjawab. Sesudah menimbang sejenak, ia menganggap tidak halangan jika ia meluluskan permintaan itu, sebab biar bagaimana jua pun, bocah itu tidak akan bisa keluar dari Ouw tiap kok dengan masih bernyawa.

Ia mengangguk seraya berkata “Boleh, kau boleh membaca sesukamu.”

Biarpun adatnya aneh, tidak dapat disangkat lagi bahwa Ouw Ceng Goe adalah salah seorang manusia luar biasa yang berkepandaian tinggi dan berpengetahuan luas. Hanya sesudah masuk kedalam “agama” sesat, ia membenci manusia biasa dan lebih membenci lagi orang orang rimba persilatan yang menjadi anggauta dari partai-partai lurus bersih. Makin lama, adatnya jadi makin aneh dan ia hidup menyendiri di tempat yang terpencil. Tapi, sebagai manusia biasa kadang-kadang ia merasa manyesal, bahwa ia tidak mempunyai kawan untuk bersama-sama merundingkan atau mempelajari ilmu ketabiban dan iapun merasa sangat kesepian. Oleh sebab itu, maka kedatangan Boe Kie, yang sangat pintar dan yang kagum akan kepandaiannya, pada hakekatnya menyenangkan hatinya yang kosong sunyi.

Sesudah mendapat perkenan, siang malam Boe Kie mempelajari isi kitab-kitab Ceng Goe. Sering sering ia lupa makan dan lupa tidur. Ia bukan saja membaca belasan macam kitab yang ditulis oleh Ouw Ceng Goe sendiri, tapi juga banyak kitab lain, sepetti Oay Tee Lweekang, Hoa To, Lwee ciauw touw, Cian kim ek dan sebagainya. Tujuan si bocah yang sesungguhnya, tidak dapat ditebak oleh Ouw Ceng Gee yang menganggap, bahwa karena tidak mengerti kitab gubahannya sendiri, maka Boe Kie yang sungkan menanya secara langsung, sudah membongkar kitab-kitab ketabiban kuno untuk mencari penjelasannya.

Beberapa hari telah lewat, Selama beberapa hari itu, Boe Kie telah bisa menghafal banyak kitab, akan tetapi, ilmu pengobatan yang dalam dan luas mana bisa dipahamkannya dalam beberapa hari saja? Ia menghitung-hitung dan ternyata ia sudah berdiam di Ouw tiap kok enam hari lamanya.

Ia jadi bingung. Menurut katanya Ouw Ceng Goe, jika di dalam tempo tujuh hari, Cie Coen bisa mendapat pertolongan tabib yang pandai, maka lukanya akan sembuh seanteronya. Jika lewat tujuh hari, andaikata bisa sembuh, ilmu silat Gie Coen akan musnah semuanya. Dan sekarang, si brewok sudah menggeletak di luar rumah enam hari enam malam lamanya. Apakah ia akan bisa menolong jiwa Siang Toako?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: