Kumpulan Cerita Silat

24/07/2008

Hina Kelana: Bab 125. Kelicikan Gak Put-kun yang Memalukan

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — ceritasilat @ 1:56 am

Hina Kelana
Bab 125. Kelicikan Gak Put-kun yang Memalukan
Oleh Jin Yong

Mendengar orang yang ditawan gembong-gembong Mo-kau itu adalah ibu gurunya, sungguh kejut Lenghou Tiong tak terkatakan, segera ia bermaksud menerjang ke luar untuk menolongnya. Tapi segera ia ingat dirinya tidak membawa pedang, tanpa pedang kepandaiannya sukar menandingi tokoh-tokoh sebagai Kat-tianglo dan kawan-kawannya itu. Karena itu ia menjadi cemas.

Kemudian terdengar Kat-tianglo bertanya pula, “Ilmu pedang Nyonya Gak itu cukup lihai, cara bagaimana Saudara Toh menangkapnya? Ah, tahulah aku, pakai obat, bukan?”
(more…)

Memanah Burung Rajawali – 24

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:19 am

Memanah Burung Rajawali – 24
Bab 24. Pengemis dengan Sembilan Jeriji
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

“Selama belasan tahun ayah telah mengajak aku merantau ke Timur dan ke Barat,” menyahut si nona. “Belum pernah kami berdiam di suatu tempat lamanya sepuluh hari atau setengah bulan. Ayah membilang, dia hendak mencari satu orang…seorang engko she Kwee…”

Perlahan sekali suara si nona, kepalanya pun tunduk. Ia likat.
(more…)

23/07/2008

Memanah Burung Rajawali – 23

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 10:15 am

Memanah Burung Rajawali – 23
Bab 23. Bisa Lawan Bisa
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Yo Tiat Sim girang bukan main dapat menemukan istrinya, malah ia dapat menolongi juga, dari itu ia pondong erat-erat istrinya itu ketika ia lari keluar dengan melompati tembok istana.

Di bawah tembok, Liam Cu menantikan ayahnya dengan pikiran tegang. Ia tidak sabaran dan cemas juga. Ia heran ketika ia lihat ayahnya kembali dengan memondong seorang wanita.
(more…)

Kisah Membunuh Naga (13)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 2:08 am

Kisah Membunuh Naga (13)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Ia mengangguk sedikit dan lalu menduhului maju dua tindak ke depan.

“Dalam pukulan yang ke sepuluh aku telah menggunakan seantero tenaga dan aku terhuyung ke belakang beberapa tindak sebab terbentur dengan tenaga menolak yang sangat dahsyat. Aku tidak bisa melihat mukaku sendiri.”
(more…)

Hina Kelana: Bab 124. Gak Leng-sian Mati di Ujung Pedang Suami Sendiri

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — ceritasilat @ 1:56 am

Hina Kelana
Bab 124. Gak Leng-sian Mati di Ujung Pedang Suami Sendiri
Oleh Jin Yong

Begitulah dengan gemas Lo Tek-nau berkata pula, “Rupanya aku menyelundup ke dalam Hoa-san-pay sejak awal sudah diketahui oleh Gak Put-kun, hanya dia pura-pura tidak tahu dan berbalik mengawasi tingkah lakuku, dia sengaja membiarkan kiam-boh palsu dicuri olehku sehingga ilmu pedang yang diyakinkan guruku jadinya tidak lengkap. Kemudian pada pertarungan yang menentukan itu dia memancing guruku memainkan ilmu pedang itu untuk menghadapi ilmu pedang palsu yang tidak sempurna, dengan sendirinya dia pasti menang. Kalau tidak, jabatan ketua Ngo-gak-pay mana bisa jatuh ke tangannya.”

“Ya, Gak Put-kun benar-benar culas dan licik, kita sama-sama telah terjeblos ke dalam perangkapnya,” kata Peng-ci dengan menghela napas.
(more…)

22/07/2008

Kisah Membunuh Naga (12)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 2:00 am

Kisah Membunuh Naga (12)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Coei San dan Sa So saling melirik dengan perasaan berkuatir, karena perkataan itu seperti keluar dari mulµtnya seorang edan. Dalam kekuatiran merekapun merasa kasihan terhadap orang yang bernasib malang itu.

Sesudah berdiam sejenak, Cia Soen berkata pula, “Kalau dia hidup, sekarang sudah berusia delapan belas tahun. Aku, Cia Soen, pasti akan turunkan semua baik ilmu surat maupun ilmu silat kepadanya. Huh huh! Dia belum tentu kalah dari Boe tong Cit hip atau Siauw lim Sam gie.”

Kata-kata itu, yang kedengarannya angkuh, bernada sedih dan mengutarakan perasaan dari seorang yang hatinya sangat kesepian. Mendengar itu, Coei San dan So So turut berduka dan mereka merasa menyesal, bahwa karena terpaksa, kedua mata orang itu telah dibikin buta.
(more…)

Memanah Burung Rajawali – 22

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:19 am

Memanah Burung Rajawali – 22
Bab 22. Pertempuran Dahsyat
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Wanita ini tertawa, hingga tubuhnya menggetar, sedang tangan kanannya mengerahkan tenaganya. Kwee ceng merasakan tenggorokannya tercekik keras sekali. Di saat mati atau hidup itu, ia pegang tangan si wanita, untuk dipaksa melepaskan cekikannya. Ia telah mendapatkan pelajaran dari Ma Giok, ia sudah menyakinkannya beberapa tahun, tenaga dalamnya telah cukup kuat, sedang juga, ia dapat tenaga akibat darah ular yang ia sedot. Pengejarannya Nio Cu Ong dan pertempurannya sama Wanyen Kang membuatnya tenaga obat menguatkan tubuhnya. Maka juga, ia berontak dengan berhasil.

Bwee Tiauw Hong terperanjat. “Tidak jelek kepandaiannya bocah ini!” pikirnya. Dia lantas menjambak pula, sampai tiga kali.
(more…)

21/07/2008

Kisah Membunuh Naga (11)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:52 am

Kisah Membunuh Naga (11)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Sesudah Coei San, si nonapun berdoa perlahan, “Aku mohon supaya Langit melindungi kami berdua, supaya dari satu ke lain penitisan kami bisa terus menerus menjadi suami-isteri.” Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula, “Andaikata di belakang hari kami bisa kembali di Tionggoan, tee coe akan mencuci hati dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dulu. Tee coe akan bertobat dan bersama-sama suamiku, tee coe akan berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan balk. Tee coe tak akan membunuh manusia lagi secara sembarangan. Jika tee coe melanggar sumpah ini, biarlah Langit dan manusia menghukum tee coe.”

Coei San girang tak kepalang. Ia tak pernah menduga, bahwa tanpa diminta, sang isteri telah bertobat dan bersumpah untuk menjadi manusia balk. Sesudah selesai dengan upacara pernikahan itu, sambil saling mencekal tangan dan duduk berendeng di atas es. Pakaian mereka basah dan hawa dingin menyerang dengan hebat. Akan tetapi, hati mereka hangat bagaikan hangatnya musim semi yang penuh kebahagiaan dan keindahan.
(more…)

Memanah Burung Rajawali – 21

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 12:32 am

Memanah Burung Rajawali – 21
Bab 21. Semua Berkumpul
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Tiat Sim mendengar angin menyambar belakangnya, ia putar tangan kirinya ke belakang, untuk menangkis seraya mencekal, maka ujung tombak lantas kena terpegang. Ia telah mainkan ilmu silat Keluarga Yo bagian jurus “Hui ma chio” atau “Membaliki kuda”, ialah tipu istimewa yang hanya diketahui keluarganya yang mewariskan ilmu silat itu. Sebenarnya habis itu, tanpa menanti musuh menarik pulang tombaknya, tangan kanannya sudah mesti membarengi menyerang, akan tetapi sekarang ia memeluki Pauw Sek Yok dengan tangan kanannya itu, tidak dapat ia menyerang. Maka seraya memutar tubuh, ia membentak: “Ilmu silatku ini diwariskan cuma kepada anak laki-laki, tidak kepada anak perempuan, dari itu tentulah gurumu tidak dapat mengajarakan kepadamu!”

Memang benar, walaupun Khu Cie Kee lihay, tapi ia tidak dapat mengerti sedalam-dalamnya ilmu silat Keluarga Yo itu, jadi kepandaian Wanyen Kang menggunai tombak itu belum sempurna, maka ditegur begitu, pangeran itu menjadi tercengang. Dengan begitu, mereka mencekal masing-masing satu ujungnya tombak itu. Inilah hebatnya untuk tombak itu sendiri, yang gagangnya sudah tua. Tempo keduanya saling membetot, gagang tombak itu patah sendirinya.
(more…)

20/07/2008

Kisah Membunuh Naga (10)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:57 am

Kisah Membunuh Naga (10)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Memikir begitu, sambil menahan amarah ia segera berkata, “Cia Cianpwee, aku adalah seorang yang selamanya memegang teguh kepercayaan. Aku pasti tidak akan membocorkan rahasia Cianpwee. Aku bersumpah, bahwa aku takkan bicara dengan siapapun jua tentang kejadian dihari ini.”

“Aku percaya segala perkataanmu,” kata Cia Soen “Thio Ngohiap adalah seorang pendekar yang kenamaan dan setiap perkataanmu berharga ribuan tail emas. Hanya sayang, pada waktu berusia dua puluh lima tahun, aku pernah bersumpah berat. Lihatlah jeriji tanganku.”
(more…)

Memanah Burung Rajawali – 20

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 12:27 am

Memanah Burung Rajawali – 20
Bab 20. Tombak Besi dan Pakaian Lama
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Kwee Ceng telah terus ikut si pengurus bersama si kacung pergi untuk mengambil obat. Jalanan ada berliku-liku. Selama itu ia masih terus mengancam si pengurus, yang khawatir nanti jatuh atau main gila. Akhirnya mereka tiba di tempatnya Nio Cu Ong. Kacung itu membuka pintu, ia masuk ke dalam dan menyulut lilin.

Begitu ia berada di dalam kamar, Kwee Ceng lihat obat-obatan memenuhi meja, pembaringan dan lantai. Di situ pun ada banyak botol dan guci, besar dan kecil. Rupanya Nio Cu Ong gemar sekali membuat obat-obatan.
(more…)

19/07/2008

Memanah Burung Rajawali – 19

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 3:03 am

Memanah Burung Rajawali – 19
Bab 19. Ada Kuping di Balik Tembok
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Kwee Ceng tiada bilang apa-apa lagi, ia masuki resep ke dalam sakunya, lanats ia berlalu dari hotel. Ia lari keluar kota barat tanpa menghiraukan salju berterbangan menyampok mukanya. Disekitarnya yang luas, ia tampak segala apa putih meletak, disana tidak ada tapak-tapak manusia. Sesudah hampir sepuluh lie, ia lihat sinar terang dari air telaga. Karena hawa udara tidak sangat dingin, telaga itu tidak membeku, salju jatuh ke air, lantas lumer. Adalah di tepian, di pepohonan, salju melulu yang tampak.

Memandang ke sekitarnya, bocah ini menjadi heran. Tidak ada bayangan orang sekalipun.
(more…)

18/07/2008

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 27

Filed under: Jin Yong, Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — ceritasilat @ 3:11 am

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 27
Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Nra)

Untung waktu itu adalah malam dan di tempat sepi hingga tiada orang yang melihat sikapnya yang aneh itu, kalau tidak, tentu orang akan menyangka dia sudah gila.

Hujan itu semakin deras, Toan Ki menanggalkan jubahnya untuk menutup badan Giok-yan. Tapi hanya sebentar saja baju kedua orang telah sama-sama basah kuyup lagi.
(more…)

Memanah Burung Rajawali – 18

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 2:46 am

Memanah Burung Rajawali – 18
Bab 18. Mengadu Kepandaian
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Habis menerima antaran itu, Ong Cie It menanyakan keterangan kamarnya Bok Ek, lalu ia terus masuk ke dalam kamar orang, hingga ia dapatkan orang she Bok itu sedang rebah dengan muka pucat dan di tepi pembaringan, gadisnya duduk smabil menangis. Kapan mereka lihat tetamu, si nona berbangkit berdiri, Bok Ek sendiri berbangkit untuk berduduk di atas pembaringan.

Ong Cinjin periksa lukanya Bok Ek, yang setiap belakang telapakan tangannya bertanda lima lobang jari tangan, hingga nampak tulang-tulangnya dan kedua lengannya bengkak besar. Luka itu telah ditorehkan obat, tetapi mungkin dikhawatir menjadi nowa, sudah tidak dibalut.
(more…)

17/07/2008

Hina Kelana: Bab 123. Rahasia Munculnya Lo Tek-nau

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — ceritasilat @ 3:04 am

Hina Kelana
Bab 123. Rahasia Munculnya Lo Tek-nau
Oleh Jin Yong

Selang sejenak barulah Peng-ci meneruskan pula, “Dengan perlahan ibumu berkata, ‘Sudah tentu aku tahu, sebab kiam-boh itu justru kau sendiri yang mengambilnya.’ – Dengan gusar ayahmu menjerit pula, ‘Maksudmu men… men….’ tapi hanya sekian saja ucapannya dan mendadak bungkam.

“Suara ibumu sangat tenang, katanya pula, ‘Dalam keadaan pingsan tempo hari, ketika aku membubuhi obat pada luka Anak Tiong, kulihat dalam bajunya tersimpan sepotong kasa yang penuh tulisan mengenai ilmu pedang. Ketika untuk kedua kalinya aku memberi obat padanya ternyata kasa itu sudah tidak ada, waktu itu Anak Tiong masih belum sadar kembali. Selama itu di dalam kamar selain kita berdua tiada orang ketiga lagi, dan yang pasti aku sendiri tidak ambil kasa bertulis ilmu pedang itu.’
(more…)

« Newer PostsOlder Posts »

Blog at WordPress.com.