Kumpulan Cerita Silat

31/07/2008

Kisah Membunuh Naga (21)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 2:09 am

Kisah Membunuh Naga (21)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Song Wan Kiauw adalah kepala dari Boe tong cit hiap dan namanya telah menggetarkan seluruh rimba persilatan. Bagi ahli silat yang biasa untuk menemuinya saja, sudah bukan gampang. Dalam beberapa tahun yang belakangan, baru Boe tong Cit hiap mulai menerima murid. Tapi dalam penerimaan murid itu selalu dilakukan pemilihan dan penyaringan yang sangat keras. Hanyalah orang orang yang berbakat dan beradat baik barulah di terima menjadi anggauta Boe tong pay. Siang Gie Coen adalah seorang anggauta “agama” sesat. yang dipandang jijik oleh masyarakat seumumnya. Maka itu tawaran Thio Sam Hong merupakan juga rezeki luar biasa pemuda itu.

Tapi, di luar dugaan, Gie Coen menjawab dengan sikap hormat, “Bahwa aku, Siang Gie Coen telah mendapat penghargaan yang begitu tinggi dari Thio Cinjin, bukan main rasa terima kasihku. Akan tetapi, sesudah menjadi anggauta Beng kauw seumur hidup aku tak berani membelakangi agamaku itu”

Sam Hong coba membujuk lagi, tetapi pemuda itu tetap menolak dengan hormat dan tegas. beberapa saat kemudian, dengan rasa menyesal, ia lalu mendukung Boe Kie seraya berkata, “Kalau begitu, biarlah kita berpisahan disini saja.” Dalam kata-kata perpisahan itu, ia malah tidak mengucapkan perkataan, “sampai bertemu lagi,” yang lazimnya digunakan.

Sebelum tuan penolong itu meninggalkan perahu, sekali lagi Siang Gie Coen menghaturkan terima kasih dengan berlutut.

“Thio Toako,” kata si nona cilik kepada Boe Kie, “setiap hari kau harus makan kenyang-kenyang, supaya Loo too-ya jangan jengkel.”

Air mata Boe Kie lantas saja mengembang dan dengan suara putus-putus ia menjawab, “Terima kasih untuk kebaikanmu…Tapi aku hanya bisa makan nasi beberapa hari saja.”

Bukan main rasa dukanya kakek guru itu. Ia mengangkat lengannya dan menggunakan tangan jubah untuk menyusut air mata cucu muridnya.

“Apa?” menegas Tit Jiak dengan suara kaget “Kau…kau…”

“Nona kecil, hatimu sangat mulia,” kata Sam Hong, “Aku mendoakan supaya di belakang hari kau jalan di jalanan yang lurus”

“Terima kasih atas nasehat Loo too-ya,” jawab Cioe Tit Jiak.

“Thio Cinjin,” tiba-tiba Gie Coen berkata, “kau memiliki Lweekang dan kepandaian yang sangat tinggi. Biarpun luka saudara kecil itu sangat berat, aku percaya kau akan dapat menyembuhkannya.”

“Benar,” kata Sam Hong yang tanpa dilihat Boe Kie, sudah menggoyangkan tangan kirinya sebagai keterangan kepada Gie Coen, bahwa lukanya bocah itu tidak dapat diobati lagi.

Gie Coen terkejut. “Thio Cinjin,” katanya pula, “aku sendiri telah mendapat luka yang sangat berat dan sekarang aku justeru ingin meminta pertolongan dari seorang tabib malaikat. Mengapa Thio Cinjin tidak mau mencoba-coba?”

Thio Sam Hong menundukkan kepala. “Semua pembuluh darahnya telah terbuka, sehingga racun dingin bisa membuyar dan masuk ke dalam perutnya,” katanya dengan suara perlahan. “Ia tidak akan dapat disembuhkan dengan memakai obat biasa dan di dalam dunia, tak seorangpun bisa mengobatinya.”

“Tapi,” kata Siang Gie Coan, “tabib malaikat yang dimaksudkan olehku memiliki kepandaian luar biasa tinggi, sehingga kata orang ia malah mampu menghidupkan mayat.”

Sam Hong terkejut dan mendadak saja, ia ingat satu orang. “Apakah yang dimaksudkan olehmu bukan Tiap-kok Ie sian?” tanyanya.

“Benar,” jawabnya. “Kalau begitu, Tootiang pun mengenal Ouw Soepehku.”

Guru besar itu kelihatan agak bersangsi. Memang sudah lama ia mendengar nama Tiap kok le Sian Ouw Ceng Goe yang dipandang rendah oleh orang rimba persilatan. Ia mempunyai adat yang sangat aneh. Kalau orang yang sakit atau terluka anggota “agama”nya, ia segera menolongnya dengan sepenuh tenaga tanpa mau menerima bayaran apapun jua. Tapi, kalau yang memohon pertolongan bukan pengikut “agama”, biarpun dibayar dengan laksaan tail emas, ia tak akan meladeni.

“Aku lebih suka Boe Kie mati dari pada menyerahkannya kepada orang dari agama sesat itu,” katanya di dalam hati.

Melihat kesangsian Sam Hong, pemuda itu dapat menebak apa yang dipikirnya dan ia lantas saja berkata, “Thio Cinjin, meskipun Ouw Soepeh biasanya menolak untuk mengobati orang luar, tapi karena Thio Cinjin telah menolong jiwa Cioe Kouw nio, ia pasti akan membuat kecualian. Andaikata ia menolak, Gie Coen pasti tak mau mengerti.”

Sam Hong menghela napas dan berkata dengan suara duka: “Mengenai kepandaian Ouw Sinshe, sudah lama aku mendengarnya. Hanya sayangnya, racun dingin yang mengeram di dalam tubuh Boe Kie sekarang ini tidak akan dapat disembuhkan dengan obat biasa…”

“Thio Cinjin!” teriak Gie Coen. “Mengapa kau begitu bersangsi? Kalau diobati oleh Soepehku, paling banyak saudara kecil itu tidak sembuh. Kalau ke kiri mati, ke kanan pun mati, perlu apa Tootiang memikir panjang?”

Sebagai orang yang beradat polos, ia bicara segala apa yang berkelebat di otaknya.

Mendengar “ke kiri mati, ke kananpun mati”, hati guru besar itu bergoncang keras. “Apa yang dikatakan olehnya memang tidak salah,” pikirnya. “Menurut penglihatanku, paling banyak Boe Kie bisa bertahan dalam tempo sebulan lagi.” Mengingat begitu, ia lantas saja berkata: “Gie Coen, baiklah, aku minta pertolonganmu. Akan tetapi, sebelum pertolongan diberikan, aku ingin menjelaskan terlebih dulu, bahwa Sinshe tidak boleh membujuk atau memaksa Boe Kie masuk k edalam agama kalian. Di samping itu, jika Boe Kie benar menjadi sembuh, Boe tong pay tidak menanggung budi agama kalian.”

“Thio Cinjin,” kata Gie Coen, “Dengan berkata begitu, kau jadi memandang terlalu rendah kepada orang-orang kami.” Ia berpaling kepada Cioe Tit Jiak dan berkata plta: “Cioe Kauwnio, aku ingin kau mengikut Thio Cinjin untuk sementara waktu. Apa kau suka?”

Sebelum si nona menjawab, Sam Hong sudah mendahului, “Apa?”

“Aku tahu bahwa Thio Cinjin tidak suka pergi kepada Ouw Soepehku,” kata Gie Coen. “Dapat dimengerti, bahwa lurus dan sesat tidak bisa berdiri berendeng. Thio Cinjin adalah seorang guru besar pada jaman ini. Cara bagaimana Thio Cinjin bisa meminta pertolongan dari seorang anggauta agama sesat? Di samping itu, adat Ouw Soepeh juga aneh sekali. Jika ia bertemu dengan Thio Cinjin, mungkin sekali ia tidak berlaku sopan santun, sehingga pertemuan itu bisa berakibat sebaliknya daripada apa yang diharap. Maka itu, menurut pendapatku, sebaiknya saudara Thio dibawa olehku sendiri. Tapi, akupun mengerti, bahwa Thio Cinjin merasa sangsi untuk menyerahkan saudara Thio kepadaku. Maka itulah, aku minta Cioe Kouwnio berdiam di Boe tong san untuk sementara waktu. Nanti, sesudah saudara Thio sembuh, aku akan mengantarkannya ke Boe tong san dan sekalian mengambil pulang Cioe Kouwnio. Dengan perkataan yang lebih tegas, aku ingin minta Cioe Kauwnio mengikut Thio Cinjin untuk dijadikan semacam tanggungan.”

Dalam pergaulannya selama puluhan tahun, Thio Sam Hong selalu berterus-terang dan menaruh kepercayaan kepada orang-orang rimba persilatan. Akan tetapi, Thio Boe Kie adalah turunan tunggal dari muridnya yang tercinta, sehingga memang benar ia sangat bersangsi untuk menyerahkannya kepada seorang dari kalangan “agama” sesat.

Sebelumnya guru besar itu sempat menjawab, Siang Gie Coen sudah berkata pula “Cioe Cie Ong, Cioe Toako, adalah seorang yang bener-benar luhur pribudinya. Sesudah gagal dalam gerakannya di Sin yan, dua puluh tiga anggauta keluanganya telah dibinasakan oleh Tat-coe. Bahkan ibu Toako yang sudah berusia tujuh puluh delapan tahun, tidak luput dari kebinasaan. Sesudah bertempur mati-matian, barulah aku dapat menolong seorang putera dan seorang putrinya. Tak dinyana, Siauw kongcoe telah binasa terpanah musuh sehingga Kauwnio merupakan turunan yang satu-satunya dari Ciao Toako. Sebagai salah seorang pemimpin Beng kauw, Cioe Toako mempunyai banyak musuh. Bukan saja Tat coe, tapi musuh-musuh lainnya pun akan menyukarkan Thio Cinjin jika mereka tahu, bahwa Cioe Kauwnio berada di Boe tong…”

Tanpa merasa Sam Hong tertawa. Sebelum ia menyanggupi untuk menerima Cioe Tit Jiak, pemuda yang polos itu sudah memperingatkannya. Ia berdiri bengong beberapa saat. Memang juga, lain jalan tidak ada, ke kiri mati, ke kananpun mati, jalan satu-satunya ialah mencoba coba kepandaian Tiap-kok Ie sian.

Mengingat begitu, ia lantas saja berkata, “Gie Coen baiklah. Aku akan merawat Cioe Kauwnio baik- baik dan kaupun harus merawat Boe Kie sebaik-baiknya. Sesudah anak itu sembuh, kuharap kau lekas-lekas datang di Boe tong san.”

“Thio Cinjin tak usah kuatir,” jawabnya dengan suara lantang. “Aku pasti akan menunaikan tugas dengan sepenuh tenaga”

Sehabis berkata begitu, ia melompat ke darat dan membuat sebuah lubang d itanah dengan ujung golok, kemudian, sesudah membuka semua pakaian yang menempel di mayat majikan kecilnya, ia lalu menguburnya dalam keadaan telanjang.

Sesudah itu, bersama Cioe Tit Jiak, ia memberi hormat di depan kuburan. Nona Cioe menangis sedih, sedang ia sendiri berdiri tegak sambil menahan mengucurnya air mata.

Mayat bocah itu di kubur dalam keadaan telanjang adalah sesuai dengan kebiasaan Bang kauw.

Menurut “agama” itu, seorang manusia yang dilahirkan kedalam dunia dengan tidak memakai pakaian, haruslah berpulang ke alam baka dalam keadaan begitu juga.

Sam Hong yang tidak tahu sebab musabab penguburan yang aneh itu, hanya menhela napas dengan perasaan, bahwa sepak terjang orang-orang “agama” sesat benar-benar sesat.

Pada keesokan paginya, sambil menuntun Tit Jiak, guru besar itu berpisahan dengan Gie Coen dan Boe Kie. Semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia, Boe Kie menganggap sang kakek guru seperti kakeknya sendiri. Sekarang secara mendadak kakek guru itu meninggalkannya, sehingga tanpa tertahan lagi, air matanya mengucur deras.

“Boe Kie,” kata Sam Hong sambil mengusap-usap kepala anak itu. “Sesudah kau sembuh Siang Toako akan membawa kau pulang ke Boe tong. Kita hanya berpisahan untuk beberapa bulan dan kau tak perlu bersusah hati.”

Anak itu yang kaki tangannya sudah tidak bisa bergerak akibat totokan sang kakek guru, hanya manggut-manggutkan kepala, sedang air matanya mengucur.

Melihat begitu, nona Cioe segera kembali ke perahu. Ia mengeluarkan sehelai sapu tangan kecil dari sakunya dan lalu menyusut air mata Boo Kie. Ia bersenyum dan sesudah memasukkan sapu tangan itu di tangan baju Boe Kie, barulah ia melompat balik ke darat.

Hati Sam Hong bergoncang, “Nona kecil itu, sangat cantik dan di hari kemudian, ia pasti akan menjadi seorang wanita yang ayu luar biasa,” pikirnya. “Sesudah Boe Kie sembuh, aku tidak boleh membiarkan mereka bertemu muka lagi. Jika mereka sampai saling menyinta, hikayat Coei San mungkin akan terulang lagi.”

Dengan hati duka, Boe Kie mengawasi bayangan sang kakek guru yang menuju ke arah barat sambil menuntun tangan nona Cioe, yang tidak berhentinya mengulap-ulapkan tangan, sehingga bayangannya menghilang di antara pohon-pohon.

Sesaat itu, hati si bocah mencelos, benar-benar ia merasa hidup sebatang kara dalam dunia yang lebar ini dan air matanya kembali mengucur.

Gie Coen mengerutkan alis. “Saudara Thio, berapa usiamu?” tanyanya.

“Dua belas tahun,” jawabnya.

“Hm…” Gie Coen mengeluarkan suara di hidung. “Usia dua belas tahun bukan anak anak lagi. Apa kau tak malu, menangis? Waktu aku berusia duabelas tahun, aku sudah menerima pukulan ratusan kali, tapi tidak setetes air mata keluar dari mataku. Seorang laki-laki sejati hanya boleh mengucurkan darah, tak boleh mengucurkan air mata. Kalau kau terus menangis seperti bayi, aku akan hajar kau.”

Melihat kegarangan si brewok, Boe Kie jadi agak keder. “Baru saja Thay soehoe pergi, kau sudah begitu galak.” pikirnya. “Entah berapa besar kesengsaraan yang bakal diderita olehku.” Mengingat begitu, ia lantas saja berkata dengan suara nyaring. “Aku menangis karena merasa sedih harus berpisahan dengan Thay soehoe. Aku belum pernah menangis sebab pukulan. Mau pukul boleh kau pukul. Kalau hari ini kau memukul aku satu kali, di hari kemudian nanti aku akan membalas sepuluh kali.”

Gie Coen tertawa terbahak-bahak, “Bagus! Bagus !” katanya. “Itulah perkataan seorang laki-laki. Kau begitu lihai, tak berani aku memukul kau.”

“Mengapa? Aku sedikitpun tidak bisa bergerak,” kata si bocah.

“Kalau hari ini aku memukul kau, di kemudian hari, sesudah kau memiliki kepandaian tinggi, bagaimana aku kuat menerima sepuluh kali pukulanmu ?” jawabnya.

Boe Kie tertawa. Ia merasa bahwa meskipun garang, Siang Toako bukan seorang jahat.

Dengan mengunakan perahu, mereka menuju ke Han kouw dan sesudah tiba di Han kouw, Gie Coen menyewa lain perahu dan berlayar ke aliran sebelah bawah dari Tiangkang timur.

Tiap kok, atau selat kupu-kupu, tempat tinggal Tiap kok Ie sian terletak di pinggir telaga Lie san ouw, sebelah utara propinsi An hoei. Sebagaimana diketahui, dari Han kouw sampai di Kioe kang, sungai Tiang kang mengalir ke jurusan tenggara. Sesudah melewati Kioe kang, sungai itu membelok kearah timur laut dan masuk ke propinsi An hoei.

Boe Kie berlayar dengan perasaan duka. Ia ingat bahwa pada dua tahun berselang, ia pernah berlayar di sungai Tiangkang bersama-sama kedua orangtuanya dan paman Jie Lian Cioe. Selama dalam pelayaran, ia gembira bukan main, tetapi sekarang, kedua orang tuanya sudah meninggal dunia secara mengenaskan, kaki tangannya tidak bisa bergerak dan ia sendiri berada dalam rawatan seorang sahabat baru dalam perjalanan untuk memohon pertolongan kepada seorang aneh.

Antara kedua pelayaran itu terdapat perbedaan seperti langit dan bumi. Ia bersedih, tapi sebisa bisa ia menahan mengucurnya air mata, karena kuatir ditertawai olen Siang Toakoo.

Setiap hari, pada Coe sie (antara jam 11 malam dan jam 1 lewat tengah malam) dan Ngo sie (antara jam 1 siang sampai jam 1 lohor), racun dingin mengamuk dalam tubuhnya. Sambil mengertak gigi dan menggigit bibir, ia menahan sakit, sehingga bibirnya sampai terluka akibat gigitan. Di samping itu, makin hari serangan racun makin hebat.

Pada suatu hari mereka tiba di Kwa po, sebelah bawah Cip keng (sekarang Nan king). Dengan mendukung Boe Kie, Gie Coen mendarat dan lalu menyewa kereta untuk meneruskan perjalanan ke utara. Beberapa hari kemudian, mereka tiba di Beng Kong, di sebelah timur Hong yang.

Gie Coen tahu bahwa Soepehnya yang beradat aneh itu paling tidak senang tempat tinggalnya di ketahui orang. Maka itu, pada waktu kereta berada dalam jarak kira-kira dua puluh li dari Lie san ouw, ia segera turun dari kereta dan sambil menggendong Boe Kie, lalu melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.

Tapi di luar dugaannya, baru saja ia berjalan kurang lebih satu li badannya lemas dan napasnya tersengal-sengal. Ia terkejut dan mengerti, bahwa itulah akibat dari luka yang dideritanya karena pukulan im ciang dari dua pendeta asing.

Boe Kie merasa sangat tidak tega. “Siang Toa ko.” katanya. “Jalan saja perlahan-lahan. Jangau kau merusak badan.”

“Celaka sungguh!” kata Gie Coan dengan gusar. “Menurut kebiasaan, sekali lari aku bisa melalui seratus li. Apakah pukulan kedua pendeta bangsat itu sedemikian hebat, sehingga aku tidak dapat berjalan lagi?” Dengan amarah yang meluap-luap ia berjalan terus. Baru jalan puluhan tombak, ia merasa tulang-tulangnya seperti mau copot. Tapi Siang Gie Coen seorang keras kepala dan keras hati. Sambil mengertak gigi, ia maju terus, setindak demi setindak.

Dengan kemajuan yang sangat lambat itu, sampai malam barulah mereka melalui separuh perjalanan. Jalanan gunung yang berbelit belit dan turun naik menambah penderitaan pemuda itu.

Akhirnya, waktu tiba di sebuah hutan ia tak dapat bertahan lagi. Perlahan-lahan ia menaruh Boe Kie di atas tanah dan kemudian, ia merebahkan diri untuk mengaso. Ia mengeluarkan kue phia dari sakunya dan membagi kue itu kepada Boe Kie untuk menangsal perut.

Sesudah mengaso kira-kira setengah jam, Gie Coen bangun berdiri untuk meneruskan perjalanan, tapi Boe yang merasa kasihan terhadapnya, berkeras untuk mengaso semalaman d ihutan itu. Sesudah berpikir sejenak, ia merasa pendirian si bocah ada benarnya juga. Andaikata, mereka bisa tiba di rumah Ouw Ceng Goe pada malam itu, sang Soepeh yang beradat aneh mungkin bergusar karena diganggu tidurnya dan kalau dia bergusar, mungkin sekali dia akan menolak untuk mengobati. Memikir begitu, ia lantas saja menyetujui usul Boe Kie.

Mereka tidur dengan menyender d ikaki sebuah pohon besar. Kira-kira tengah malain, racun dingin mengamuk lagi dan Boe Kie memanggil keras. Karena sungkan mengganggu Gie Coen yang sudah capai lelah, ia menahan sakit sambil menggigit bibir.

Selagi ia bergulat melawan racun dingin itu, sekonyong-konyong terdengar suara beradunya senjata, disusul dengan suara bentakan seorang, “Mau lari kemana kau?” Bentakan, disusul pula dengan teriakan beberapa orang lain.

“Cegat di timur! Cepat! Supaya dia masuk ke hutan!”

“Bangsat gundul itu tidak boleh dilepaskan! Cegat!”

Hampir berbareng terdengar tindakan sejumlah orang yang menuju ke arah hutan.

Dengan kaget Siang Gie Coen tersadar. Satu tangannya segera menghunus golok, lain tangan mendukung Boe Kie, siap sedia untuk melarikan diri sambil bertempur.

“Siang Toako, kurasa mereka bukan maui kita,” bisik Boe Kie.

Gie Coen mengangguk. Di dalam hati ia sudah mengambil keputusan, bahwa meskipun mesti membuang jiwa, ia akan coba melindungi keselamatan bocah itu. Hanya ia merasa menyesal, bahwa sesudah mendapat luka, ilmu silatnya sekarang sudah musnah seanteronya.

Mereka mengintip dari belakang sebuah pohon besar. Mereka melihat berkelebat-kelebatnya bayangan orang tujuh delapan orang sedang mengurung dan mengerubuti satu orang. Karena gelap, mereka tak tahu siapa adanya orang-orang itu. Mereka hanya tahu, bahwa orang yang dikepungnya melawan dengan tangan kosong dan bahwa orang itu lihai luar biasa, sehingga biarpun dikerubuti, ia masih dapat membela diri secara bagus sekali.

Sesudah bertempur beberapa lama, setindak demi setindak, orang-orang itu mendekati tempat bersembunyinya Gie Coen berdua. Pada waktu sang rembulan muncul dari alingan awan hitam mereka melihat, bahwa orang yang dikepung ialah seorang pendeta yang berusia kira-kita lima puluh tahun, tubuhnya kurus jangkung data mengenakan jubah pertapaan serba putih.

Di pihak pengepung terdapat pendeta, imam, seorang lelaki yang memakai pakaian koan kee (pengurus rumah tangga) dan dua orang perempuan. Makin lama Gie Coen makin merasa heran. Delepan pengurung itu masing-masing memiliki kepandaian tinggi. Dua orang pendeta yang satu bersenjata Sian thung dan yang lain memegang golok menyerang dengan pukulan-pukulan yang disertai sambaran angin dahsyat, sehingga daun-daun pohon meluruk jatuh ke bawah.

Si imam, toosoe yang bersenjatakan pedang panjang, aneh gerak-gerakannya. Sebentar ia melompat ke kiri, sebentar ke kanan. Sedang pedangnya yang menggetar tak henti-hentinya mengeluarkan sinar berkeredepan.

Lelaki yang berpakaian seperti koan kee, kate kecil tubuhnya. Berguling-guling di tanah dan menyerang bagian bawah s ipendeta jubah putih dengan menggunakan ilmu golok Tee tong To hoat. Kedua goloknya terputar putar bagaikan sebuah bola yang menggelinding di tanah.

Kedua wanita itu, yang bertubuh langsing dan masing masing mencekal sebatang pedang, juga menyerang dengan pukulan pukulan yang sangat lihai.

Selagi bertempur hebat, salah seorang wanita mendadak memutar badan, sehingga separuh mukanya disoroti sinar rembulan.

“Kie Kouwnio!” seru Boe Kie dengan suara tertahan. Wanita itu bukan lain daripada Kie Siauw Hoe, tunangan In Lie Heng. Tadi melihat pendeta si jubah putih dikerubuti oleh begitu banyak orang, Boe kie merasa mendongkol terhadap pihak pengepung. Tapi sekarang sesudah melihat Kie Siauw Hoe, pandangannya berubah dan ia menganggap, bahwa pendeta itu manusia jahat.

“Delapan orang mengerubuti satu orang, terlalu tak mengenal malu.” Gie Coen berkata seorang diri. “Siapa mereka?”

“Yang wanita dari Go bie pay,” bisik Boe Kie, “Hm…dua pendeta itu orang Siauw Lim sie.” Sesudah mengawasi pertempuran beberapa saat, dia berkata pula “Si toosoe orang Koen loan pay. Lihatlah! Pukulan Tay mo Hoei soe (Tay mo Hoe see artinya Pasir beterbangan di gurun pasir) itu sungguh amat hebat. Itulah pukulan simpanan dari Koen loen pay. Tapi siapakah lelaki yang menggunakan ilmu silat Tee tong To hoat?”

“Apa bukan dari Khong tong pay ?” tanya si brewok.

“Bukan,” jawabnya. “Dalam Tee tong to hoat Khong thong pay, orang halus menggunakan sebatang golok yang dicekal di tangan karan, dan sebatang toya di tangan kiri. Orang itu menggunakan sepasang golok.”

Mendengar keterangan si bocah, Siang Gie Coen merasa kagum. “Setiap murid Boe tong benar-benar berpengetahuan luas,” pikirnya. Tapi ia tak tahu bahwa pengetahuan itu didapat Boe Kie bukan dari Boe tong tapi dari ayah angkatnya.

Sebagaimana diketahui, di dalam tekad untuk membalas sakit hatinya, Cia Soen telah mempelajari hampir semua ilmu-ilmu silat yapg dikenal di dalam rimba persilatan.

Pertempuran berlangsung terus dengan hebatnya, akan tetapi pendeta jubah putih itu masih tetap dapat mempertahankan diri. Tubuhnya berkelebat kelebat bagaikan kilat, tenaganya dahsyat luar biasa, sedang gerakan tangannya hampir tak bisa dilihat tegas, karena terlampau cepat.

Tiba-tiba terdengar bentakan salah seorang, “Gunakan senjata rahasia!”

Si kate kecil dan si imam lantas saja melompat keluar dari gelanggang pertempuran, disusul dengan menyambarnya nyambrnya peluru serta Hoei to (golok terbang) ke arah si pendeta. Di serang secara begitu, dia mulai keteter.

“Pheng Hweeshio !” bentak si imam. “Kami bukan maui jiwamu, perlu apa kau nekad-nekadan? Serahkan Pek Kwie Sioe dan kita akan berpisahan sebagai sahabat.”

Siang Gie Coen terkesiap, “Pheng Hweeshio” bisiknya.

Boe Kie pun tidak kurang kagetnya. Waktu berada dalam perjalanan pulang ke Boe tong bersama kedua orang tuanya dan Jie Lian Cioe ia pernah mendengar, bahwa Pek Kwie Sioe adalah orang Peh bie kauw satu-satunya yang bisa pulang dengan selamat dari pulau Ong poan San. Dan murid murid Koen loan juga terlolos dari kebinasaan, tapi mereka hilang ingatan karena teriakan Cia Soen. Maka itu, selama belasan tahun, dalam pertempuran dangan Peh bie kauw tujuan jago-jago berbagai partai adalah untuk mendesak supaya Pek Kwie Sioe memberitahukan di mana adanya Cia Soen.

“Apakah Pheng Hweeshio segolongan dengan ibuku?” tanya Boe Kie di dalam hati.

Sementara itu, Pheng Hweeshio sudah menjawab dengan suara lantang, “Pak Tancoe sudah dilukakan berat oleh kamu. Jangankan aku dan dia masih sama-sama orang-orang segolongan, terhadap orang luar sekalipun, aku tak bisa mengawasi kebinasaan dengan berpeluk tangan.”

“Omong apa kau!” bentak si imam. “Mengawasi kebinasaan dengan berpeluk tangan? Kau tahu, tujuan kami bukan mengnendaki jiwanya. Kami hanya menyelidiki tempat bersembunyinya seorang.”

“Kalau kamu mau menyelidiki di mana adanya Cia Soen, mengapa kamu tidak mau pergi kepada Hong thio Siauw lim sie?” tanya si pendeta.

“Tutup bacotmu!” bentak si pendeta Siauw lim. “Apa kau tidak tahu, bahwa itu hanya tipu busuk dari perempuan siluman In So So?”

Mendengar disebutkannya nama mendiang ibunya, Boe Kie merasa bangga agak bercampur duka.”Hm…sesudah meninggal dunia, ibu masih bisa membuat kalian semua pusing kepala,” katanya di dalam hati

Sambil bicara, pertempuran berlangsung terus dengan dahsyatnya. Si toosoe mengajak, bicara dengan tujuan untuk memecah pemusatan pikiran Pheng Hweeshio. Tapi pendeta itu yang cerdas otaknya dan tinggi ilmu silatnya, tidak kena diakali. Biarpun mulutnya bicara, kewaspadaannya sedikitpun tidak jadi berkurang. Tapi, karena jumlah musuh terlalu besar dan musuh-musuh itu pun bukan sembarang orang, maka ia tetap tidak berhasil dalam usahanya untuk menerjang keluar dari kepungan.

Sekonyong-konyong, si imam yang melepaskan senjata rahasia dengan berdiri di luar gelanggang, berteriak, “Celaka! Senjata rahasia habis!” berbareng dengan teriakan itu, semua kawannya menggulingkan diri di tanah dan lima batang golok terbang menyambar bagaikan kilat. Ternyata kata kata “senjata rahasia habis” adalah semacaan isyarat supaya semua orang bergulingan untuk menyingkirkan diri dari sambaran lima batang Hoeito yang menyambar dalam bentuk bunga bwee.

Dalam keadaan biasa, dengan menundukkan kepala, membungkuk, melompat kedepan atau menjengkangkan diri, Pheng Hweeshio akan dapat mengelakkan lima golok itu yang menyambar dadanya. Tapi sekarang, sebab sambil bergulingan, keenam musuhnya juga menyerang dengan senjata mereka, maka bagian bawah badannya tertutup semua.

Boe Kie mencelos hatinya.

Mendadak tubuh Pheng Hweeshio meleset ke atas kira-kira setombak tingginya, dan lima buah golok terbang lewat di bawah kakinya. Tapi, meskipun senjata rahasia sudah dielakkan, Sianthung dan golok kedua pendeta Siauw lim serta pedang dari toesoe Koen loan pay sudah manyambar lututnya dengan berbareng. Sesaat itu tubuh Pheng Hwee shio masih di tengah udara, sehingga, mau tidak mau, ia terpaksa menggunakan pukulan yang berbahaya dan membinasakan.

“Petak!”, telapak tangan kirinya menghantam kepala seorang pendeta Siauw lim dan dengan sekali menjambret, tangan kanannya sudah merampas golok pendeta itu, yang lalu digunakan untuk menangkis Sianthung. Dengan meminjam tenaga dari bentrokan kedua senjata itu, badannya “terbang” beberapa tombak jauhnya. Pendeta Siauw lim yang ditepuk kepalanya, sudah binasa seketika itu juga. Sambil berteriak-teriak, tujuh kawannya mengubar Pheng Hweeshio.

Di lain saat, badan Pheng Hweeshio kelihataan bergoyang-goyang, hampir-hampir jatuh terguling, dan ketujuh musuhnya lantas saja mengurung.

Sambil memutar Sianthung, si pendeta Siauw lim menerjang dan berteriak “Pheng Hweeshio! Kau membinasakan Soeteeku. Mari kita mengadu jiwa !”

“Lututnya sudah kena Sia wie kauw (Gaetan buntut kalajengking. semacam senjata rahasia) !” teriak si toosoe Koen loen. “Tak lama lagi, dia akan mampus keracunan!”

Benar saja, tindakan Pheng Hweeshio kelihatan limbung dan perlawanannya terhadap si pendenta Siauw lim, sudah kalut.

“Celaka!” bisik Siang Gie Coen. “Ia adalah guru Cioe Toako. Bagaimana aku harus menolongnya?”

Boe Kie tahu, bahwa si brewok adalah manusia yang tidak bisa menonton kecelakaan kawan sambil berpeluk tangan. Biarpun dirinya sendiri terluka berat, ia masih mau menolong orang. Andai kata ia sampai menerjang keluar, ia hanya akan mengantarkan jiwa dengan cuma-cuma.

Tiba-tiba Boe Kie mendapatkan serupa ingatan dan ia lantas saja berkata. “Siang Toako, kau ingin menolong Pheng Hweeshio bukan?”

“Tidak bisa tidak ditolong!” jawabnya. “Ia kena senjata beracun, Tapi, aku sendiri…aku sendiri…”

“Aku mempunyai serupa daya untuk memulihkan tenagamu,” memutus si bocah. “Kau akan bisa bertahan selama setengah jam, tapi dengan demikian, kau akan merusak tenaga dalammu.”

Sesudah mendengar keterangan si bocah mengenai limu silat berbagai partai, Gie Coen percaya, bahwa anak yang sangat pintar itu adalah murid istimewa dari Thio Sam Hong, sehingga ia tidak menyangsikan omongan itu.

“Untuk menolong jiwa manusia, aku rela merusak tenaga dalamku sendiri.”

“Ambillah dua butir batu yang tajam,” bisik Boe Kie.

Gie Coen segera melakukan apa yang diminta. “Apa ini boleh?” tanyanya sambil mengangsurkan kedua batu itu.

“Boleh,” jawab si bocah sambil mengangguk. “Dengan tajamnya batu, totoklah samping pahamu, di bawah pinggang.”

“Di sini?” tanya Gie Coen sambil menunjuk samping pahanya.

“Lebih bawah sedikit,” kata si bocah. “Ya! benar di situ. Ke sebelah dikit, setengah coan. Bagus! Nah, sekarang totoklah.”

Si berewok lantas saja menotok paha kanannya dengan batu itu dan hampir berbareng, ia merasa pahanya kesemutan.

“Inilah ilmu yang dinamakan Tie sin Tah hiat hoat (ilmu menotok jalan darah untuk mempertinggi semangat),” menerangkan Boe Kie. “Totoklah paha kirimu.”

Si berewok agak bersangsi. Walaupun belum pernah belajar, ia tahu bahwa dalam rimba persilatan terdapat ilmu Tiam hiat yang dapat melumpuhkan anggauta badan manusia. Akan tetapi, meskipun mengingat itu, ia tetap percaya omongan Boe Kie, karena menurut anggapannya, sebagai sebuah partai persilatan yang namanya menggetarkan dunia, Boe tong pay tentunya juga mempunyai cara-cara yang lain dari pada yang lain. Demikianlah, ia segera menotok lagi pada paha kirinya.

Tapi, di luar dugaan, begitu paha kirinya tertotok, separuh badannya, mulai dari pinggang ke bawah, tidak dapat digerakkan pula.

Sementara itu, sesudah melompat beberapa tombak jauhnya, Pheng Hweeshio lalu roboh di tanah.

“Saudara Thio!” kata si brewok dengan bingung. “Mengapa…badanku seperti mati separoh ?”

Boe Kie tertawa geli di dalam hati, karena Siang Gie Coen sudah tertipu, tapi ia pura-pura kaget dan mengeluarkan seruan tertahan: “Celaka! Kau tidak mengerti Tiam hiat, mungkin sekali kau salah dalam menggunakan tenaga. Tunggulah sebentar.”

Siang Gie Coen bukan seorang tolol. Di lain saat ia sudah mengerti, bahwa ia terjebak oleh muslihat si bocah nakal. Tapi iapun tahu, bahwa dengan berbuat begitu, Boe Kie bermaksud baik sekali. Ia tidak dapat berbuat lain daripada menghela napas dengan perasaan mendongkol tercampur geli.

Pheng Hweeshio menggeletak di tanah tanpa bengerak, seolah olah ia sudah menghembuskan napasnya yang penghabisan. Akan tetapi biarpun begitu, musuh-musuhnya masih belum berani mendekati.

“Kouw Soetee, cobalah kau menimpuk lagi dengan dua buah golok terbangmu, untuk mencoba-coba,” kata si toosoe Koen loen pay.

Too jin yang dipanggil “Kouw Soetee,” segera mengayun tangan kanannya dan dua Hoeito menyambar, yang satu menancap di pundak kanan Pheng Hweeshio, sedang yang lain mengenakan paha kirinya. Tapi pendeta jubah putih itu tetap tidak bergerak, suatu bukti, bahwa dia benar benar sudah binasa.

“Sayang! Sayang dia sudah mati,” kata si too soe Koen loen. “Sekarang sukar diselidiki, di mana dia menyembunyikan Pek Kwie Sioe.”

Semua lalu mendekati “mayat” Pheng Hweesio.

Mendadak, mendadakan saja, terdengar Suara “plak…plak…plak…” lima kali beruntun, dan lima orang roboh terguling! Hampir berbareng, dengan semangat bergelora, Pheng Hweeshio bangun berdiri, dengan pundak dan paha masih tertancap golok.

Ternyata, sesudah kena senjata beracun dan yakin, bahwa jiwanya tidak akan dapat ditolong lagi, Pheng Hweesio lalu pura-pura mati. Begitu lawannya mendekati, ia segera menghantam lima orang musuh lelaki dengan pukulan Ngoheng ciang. Ia sengaja mengampuni dua orang lawan wanita, yaitu Kie Siauw Hoe dan Soecienya yang bernamar Teng Bin Koen.

Dalam kagetnya, kedua murid Go bie pay itu melompat mundur. Mereka melihat, bahwa kelima kawannya muntahkan darah dan dua antaranya yang Lweekangnya agak lemah, sudah jatuh berlutut. Sesudah mengeluarkan banyak tenaga, tubuh Pheng Hweeshio pun bergoyang-goyang.

“Teng Kouwnio, Kie Kouwnio!” teriak si too soe Koen loen. “Tikamlah bangsat gundul itu!”

Antara sembilan orang yang tadi bertempur, seorang pendeta Siauw lim sudah binasa, sedang Pheng Hweeshio dan lima lawannya mendapat luka berat, sehingga hanya Teng Bin Koen dan Kie Siauw Hoe yang tidak kurang suatu apa.

Mendengar teriakan si toosoe Koen loen, Teng Bin Koen segera mengangkat pedang dan menyabet kaki si pendeta.

Pheng Hweeshio mengeluh. “Karena merasa kasihan terhadap orang perempuan, aku tidak berlalu kejam terhadap kamu, tapi tidak dinyana, rasa kasihanku berbalik mencelakakan diriku sendiri” katanya di dalam hati. Ia meramkan kedua matanya untuk menunggu kebinasaan.

Tiba-tiba terdengar suara “trang!” suara benturan senjata. Pheng Hweeshio membuka mata dan mendapat kenyataan, bahwa yang menolongnya ialah Kie Siauw Hoe.

“Eh, mengapa kau begitu?” tanya Teng Bin Koen dengan kaget.

Nona Kie tertawa. “Soecie,” katanya. “Pheng Hweeshio tidak berlaku kejam terhadap kita dan kitapun tidak boleh membunuh dia.”

“Aku juga bukan mau mengambil jiwanya,” kata Teng Bin Koen. “Aku hanya ingin memaksa supaya dia memberitahukan tempat sembunyinya Pek Kwie Sioe.”

“Dia telah keracunan hebat, paling dulu kita harus memunahkan racun itu,” kata Kie Siauw Hoe seraya mendekati si toosoe Koen loen dan berkata, “Saudara See leng, berikanlah obat pemunah Sie wie kauw kepadaku.”

Too ho (nama sebagai orang pertapaan) dari toojin itu ialah See leng coe, sedang toojin yang melepaskan golok terbang bernama See ciat coe dan mereka kedua duanya adik sepenguruan See hoa coe.

“Belenggu dulu padanya,” kata See leng coe. “Hweeshio ltu banyak akal bulusnya…” Ia bicara dengan napas tersengal-sengal karena pukulan Ngo beng ciang telah membuatnya terluka berat.

Kie Siauw Hoe mengangguk dan sesudah mengambil seutas tambang, ia menghampiri Pheng Hweeshio. “Pheng Taysoe” katanya dengan suara lemah lembut, “aku mohon maaf untuk kekurangan ajarku.”

Karena tak ada jalan lain, mau tak mau si pendeta membiarkan kaki tangarnya dibelenggu.

Sesudah itu barulah See leng coe mengeluarkan obat yang lalu diserahkan kepada nona Kie dengan memberitahukan juga cara-cara menggunakannya. Siauw Hoe lalu mencabut dua Hoeito yang menancap di pundak dan paha Pheng Hweeshio dan kemudian menaruh obat di lubang-lubang.

“Pheng Hweeshio!” bentak Teng Bin Koen. “Soe moyku berhati murah dan sudah menotong jiwamu. Sekarang beritahukanlah di mana adanya Pek Kwie Sioe.”

Peng Hweeshio tertawa terbahak-bahak. “Teng Kouwnio,” katanya, “dengan berkata begitu, kau memandang aku terlalu rendah. Thio Ngohiap dari Boe tong pay lebih suka bunuh diri daripada memberitahukan tempat tinggal saudara angkatnya. Pribadi Thio Ngohiap yang luhur itu dikagumi sungguh oleh Pheng Eng Giok. Maka itu biarpun aku bukan seorang ternama, aku ingin mengikut perbuatan Thio Ngohiap.”

Mendengar itu, bukan main rasa bangganya Boe Kie. Kematian Coei San sangat disayangkan oleh orang-orang rimba persilatan dan mereka menganggap, bahwa kebinasaan Thio Ngohiap adalah karena menikah dengan seorang wanita “siluman” dari partai yang sesat.

Sebagai anak yang cerdas, Boe Kie tahu, bahwa dalam omong-omong antara kakek guru dan para pamannya, mereka sangat berduka akan kematian ayahnya, tetapi mendongkol terhadap mendiang ibunya. Tapi dari semua pembicaraan yang pernah didengarnya, belum pernah ada seorang yang mengutarakan rasa hormat begitu besar terbadap ayahnya seperti pengutaraan Pheng Hweeshio.

Teng Bin Koen tertawa dingin. “Dengan menikahi dengan perempuan siluman, Thio Coei San seperti juga sudah buta matanya,” katanya. “Dia sendiri juga yang rela menjadi seorang hina dina. Apa orang begitu pantas dibuat contoh? Boe tong pay…”

“Soecie!” memutus Kie Siauw Hoe.

“Jangan kuatir,” kata sang kakak sepenguruan “Aku tak akan menyeret nama In Liok hiap,” Ia mengibas pedangnya yang lalu ditudingkan ke mata kanan si pendeta. “Kalau kau tidak bicara, lebih dulu kutusuk mata kananmu.” Ia mengancam dengan suara bengis. “Kemudian kutikam mata kirimu. Sesudah itu, kusodok kuping kanan dan kuping kirimu dan akhirnya ku papas hidungmu. Tapi kau tak usah kuatir. Biar bagaimanapun juga, aku tak akan mengambil jiwamu.” Ujung pedang yang berkilauan dan menggetar tak hentinya itu hanya terpisah setengah dim dari mata kanan Pheng Hweeshio.

Tetapi Pheng Hweeshio sedikitpun tidak menjadi gentar. Dengan mata tak berkedip, ia berkata, “Sudah lama kudengar, bahwa Biat coat Soethay dari Go bie pay seorang kejam. Sekarang aku mendapat kenyataan, bahwa si murid tidak banyak berbeda dengan sang guru. Hari ini Pheng Eng Giok sudah jatuh kedalam tanganmu dan kau boleh berbuat sesukamu.”

“Bangsat gundul!” teriak Teng Bin Koen. “Kau berani menghina guruku?” Dengan sekali mendorong pedangnya, mata kanan Pheng Hweeshio sudah menjadi buta dan kemudian ia menempelkan ujung pedang di kelopak mata kiri si pendeta.

Tapi pendeta itu tertawa terbabak-babak sedang mata kirinya yang terbuka lebar menatap muka musuhnya. Ditatap begitu, dengan sinar mata yang berkeredepan, jantung Teng Bin Koen memukul keras. “Kepala gundul !” bentaknya pula. “Aku sungguh tak mengerti akan sikapmu. Kau bukan anggauta Peh bie kauw, tapi mengapa kau rela membuang jiwamu untuk manusia seperti Pek Kwie Sioe ?”

“Biarpun aku menerangkan kepadamu tentang cara-caranya seorang kesatria, kau tentu tak akan mengerti.” jawabnya dengan suara duka.

Melihat paras muka si pendeta yang seolah-olah memandang rendah kepadanya, Teng Bin Koen meluap darahnya dan sekali lagi ia menggerakkan pedang untuk menusuk mata kiri Pheng Hweeshio.

Dengan cepat Kie Siauw Hoe menangkis dengan senjatanya. “Soecie. Dia keras kepala dan biar bagaimanapun jua, ia pasti tidak akan membuka mulut,” katanya. “Meskipun dibinasakan tiada guna nya.”

“Dia mencaci Soehoe sebagai seorang kejam, maka biarlah dia menyaksikan kekejamanku.” kata Teng Bin Koen. “Siluman Mo kauw semacam dia hanya bisa mencelakakan manusia baik-baik. Maka itu, jikalau kita menyingkirkannya dari muka bumi ini berarti kita berbuat baik terhadap sesama manusia,”

“Tapi tidak bisa disangkal, bahwa dia seorang gagah yang tidak takut mati,” Siauw Hoe coba membujuk lagi. “Soecie, menurut pendapatku, sebaiknya kita memberi ampun kepadanya.”

“Tidak bisa !” bentak sang kakak sepenguruan “Dua Soeheng dari Siauw lim pay yang satu binasa, satu terluka. Sedang dua Tootiang dari Koen loen Pay mendapat luka berat, sedang dua saudara dari Hay see pay terluka lebih hebat juga. Apa tangannya tidak cukup kejam ? Sekarang biarlah aku menusuk mata kirinya. Sesudah itu, baru kita menanyakan lagi tempat sembunyinya Pek Kwie Sioe.”

Sehabis berkata begitu, bagaikan kilat pedangnya lantas menyambar mata kiri Pheng Hweeshio.

Sekali lagi Kie Siauw Hoe menangkis pedang Soecienya. “Soecie,” katanya dengan suara memohon. “Dia sudah tidak bisa melawan lagi dan jika kita menganiaya dia, aku kuatir partai kita makin mendapat nama jelek dalam rimba persilatan.”

Teng Bin Koen mendelik. “Minggir! Jangan perdulikan aku,” bentaknya.

Kie Siauw Hoe kelihatan bingung dan berkata pula, “Soecie…”

“Jangan rewel!” Memutus Bin Koen. “Kalau kau menganggap aku sebagai kakak seperguruan, kau harus mendengar omonganku.”‘

“Baiklah,” kata nona Kie.

Sekali lagi pedang Teng Bin Koen menyambar mata kiri Pheng Hweeshio. Kali ini ia menggunakan tiga bagian tenaga Lweekang. Iapun mengerakkan tenaga dalam. “Trang!” kedua senjata kebentrok dan kedua saudari sepenguruan terhuyung beberapa tindak.

Teng Bin Koen marah besar, “Soemoay !” bentaknya. “Beberapa kali dengan mati-matian kau melindungi pendeta siluman itu. Apa sebenarnya maksudmu ?”

Kie Siauw Hoe tertawa, “Aku hanya ingin meminta supaya Soecie jangan menganiayanya.” jawabnya dengan sabar, “Jikalau kita ingin menyelidiki di mana tempat sembunyinya Pek Kwie Sioe, kita hanya bisa menanyakan nanti secara perlahan-lahan.”

Teng Bin Koen tertawa dingin. “Huh ! Apakah kau kira aku tak tahu jalan pikiranmu ?” tanyanya dengan nada mengejek. “Berapa kali In Liokhiap dari Boe tong pay mendesak supaya kau menikah dengannya. Mengapa kau selalu menolak dengan memberikan rupa-rupa alasan? Waktu ayahmu turut mendesak, mengapa kau kabur dari rumahmu ?”

“Soecie itu adalah urusan soemoay pribadi,” kata nona Kie “Mengapa Soecie jadi menyebut-nyebut hal itu ?”

Sang kakak mengeluarkan suara di hidung. “Kita sama tahu.” katanya. “Di hadapan orang luar, memang kurang baik jika aku membuka topengmu. Huh! Badanmu berada di Go bie, tapi hatimu di pihak Mo kauw !”

Mendengar perkataan itu, Siauw Hoe gusar tak kepalang, sehingga paras mukanya berubah pucat. “Aku selalu menghormati kau sebagai seorang kakak dan belum pernah aku berbuat kesalahan terhadapmu,” katanya dengan suara gemetar “Tapi mengapa hari ini kau menghina aku sedemikian hebat?”

“Kalau benar-benar hatimu tidak condong, kepada Mo kauw, coba tusaklah mata kiri pendeta siluman itu.” kata Teng Bin Koen.

“Soecie,” kata nona Kie dengan suara duka. “Sebagaimana kau tahu, semenjak jaman Siauw ong-sia Kwee Soecouw (Kwee Siang), di dalam partai kita terdapat banyak sekali wanita yang tidak mau menikah seumur hidupnya. Oleh karena mengagumi kemuliaan mendiang guru besar kita, siauwmoaypun telah mengambil keputusan untuk tidak menikah. Siauwmoay menganggap, hal itu hal yang lumrah saja. Mengapa Soecie mendesak begitu hebat?”

“Sudah! Aku tak suka dengar segala omonganmu!” bentak Bien Koen. “Jika kau tidak mau menikam mata pendeta siluman itu, aku akan mencopoti topengmu.”

Mendengar ancaman itu, Siauw Hoe kelihatannya tak berani berkeras lagi. “Soecie,” katanya dengan suara halus, “Aku memohon kepadamu, soecie, dengan mengingat kecintaan antara sesama saudara sepenguruan, janganlah kau mendesak aku terlalu hebat.”

Wanita she Teng itu tertawa. “Aku bukan memaksa kau mengerjakan pekerjaan yang sulit,” katanya, “Sebagaimana kau tahu, Soehoe telah memerintahkan kita untuk menyelidiki tempat bersembunyinya Kim mo Say ong Cie Soen. Sekarang, pendeta itu adalah orang satu-satunya yang bisa memberi penerangan kepada kita, tapi dia bukan saja sungkan membantu kita, malah sudah melukai juga kawan-kawan kita. Kalau aku menikam mata kanannya dan kau menikam mata kirinya, bukankah merupakan suatu hal yang sangat wajar? Mengapa kau merasa segan tidak mau turun tangan ?”

“Hati siauw moay lembek, tidak bisa turun tangan,” jawabnya.

“Apa? Hatimu lembek ?” menyindir Teng Bin Koen.

“Soehoe sering memuji kau sebagai murid yang ilmu pedangnya hebat dan adatnya keras. Sangat menyerupai adat soehoe sehingga beliau mempunyai niatan untuk mengangkat kau sebagai ahli warisnya. Mana boleh hatimu lembek ?”

Apabila dua saudara bertengkar, maka hal itu akan sangat membingungkan orang-orang yang mendengarkannya, karena mereka tak mengetahui sebab musabab yang sebenarnya dari percekcokan antara keduanya. Sesudah mendengar perkataan Teng Bin Koen yang paling belakangan, barulah mereka bisa meraba-raba. Rupanya, Ciang boen jin Go Bie pay Biat coat Soethay sangat menyayangi Kie Siauw Hoe dan berniat untuk mengangkat murid itu menjadi ahli warisnya. Hal ini kelihatannya sudah menimbulkan rasa cemburu dalam hati Teng Bin Koen yang entah sudah memegang rahasia apa dari adik sepenguruannya sekarang ingin menghilangkan muka nona Kie di hadapan orang banyak.

Boe Kie yang menyaksikan kejadian itu dari tempat bersembunyinya, merasa gusar sekali. Ia ingat perlakuan nona Kie yang sangat baik terhadapnya pada hari itu, pada harian kedua orang tuanya membunuh diri. Ia bergusar dan berduka. Kalau dapat, ia ingin sekali menerjang keluar dan menggaplok muka si wanita she Teng yang tidak mengenal kasihan.

“Kie Soemoay, aku ingin mengajukan lagi satu pertanyaan,” kata Teng Bin Koen. “Pada tiga tahun berselang, Soehoe telah mengumpulkan semua murid di puncak Kim teng, d ipuncak gunung Go bie san dengan maksud untuk mengajar ilmu pedang Bit kiam dan Coat kiam kepada semua saudara sepenguruan kita. Coba jawab. Kenapa kau tidak hadir dalam pertemuan besar itu? Mengapa beliau jadi begitu gusar sehingga beliau mematahkan pedangnya sendiri dan mengatakan bahwa dunia tidak akan mengenal lagi kedua ilmu pedang itu?”

“Ketika itu, siauwmoay tiba-tiba mendapat sakit berat di Kam cioe, sehingga tak bisa bangun,” jawabnya. “Hal ini siauwmoay sudah memberitahukan kepada Soehoe. Mengapa Soecie menanyakan pedang itu?”

Teng Bin Koen tertawa dingin. “Hmm!” ia mengeluarkan suara di hidung. “Kau bisa memperdayai Soehoe, tapi tak dapat mengabui aku. Aku masih ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Tapi jika kau menikam mata si kepala gundul, pertanyaan itu tidak diajukan olehku.”

Kie Siauw Hoe menundukkan kepala. Ia berduka bukan main. “Soecie,” katanya dengan suara perlahan, “apakah kau tidak ingat Iagi kecintaan antara sesama saudara sepenguruan?”

“Kau mau tikam atau tidak?” tanya sang kakak dengan bengis

“Soecie, kau tak usah kuatir,” kata nona Kie dangan suara memohon. “Andaikata aku mau di jadikan ahliwaris oleh Soehoe, aku tentu akan menolak.”

“Bagus” bentak Tang Bin Koen dengan gusar. “Dengan berkata begitu, kau seperti juga mau mengatakan, bahwa aku menerima budimu yang besar. Cobalah kau unjuk. Di bagian mana yang aku kalah dari kau? Aku tidak perlu menerima budimu! Tidak perlu kau mengalah! Eh! Katakan sekarang. Kau mau tikam atau tidak?”

“Jika Siauwmoay bersalah, Soecie boleh menegur atau menjatuhkan hukuman dan Siauwmoay akan menerimanya dengan segala senang hati,” kata Siauw Hoe. “Di sini terdapat sahabat-sahabat dari lain partai, sehingga kumohon Soecie jangan mendesak terlalu…” berkata sampai di situ, ia tidak dapat meneruskan perkataannya, karena air matanya sudah mulai mengucur.

Teng Bin Koen tertawa dingin. “Huh! Jangan kau berlagak sedih, sedang di dalam hati kau mencaci aku,” ejeknya. “Pada tiga tahun yang lalu, apa benar-benar kau mendapat sakit di Lam cioe? Perkataan dapat memang tak salah, tapi bukan mendapat sakit, hanya mendapat anak !”

Mendengar kata-kata yang sehebat itu, Kie Siauw Hoe mengeluarkan teriakan menyayat hati. Ia memutar badan dan terus kabur sekeras-kerasnya. Tapi Teng Bin Koen juga sudah menduga lebih dulu, lantas saja mengubar dan mencegatnya

“Soemoay, lebih baik kau tikam mata kiri pendeta siluman itu,” katanya sambil mengibas pedang. “Jika kau tetap membantah, aku akan menanya siapa adanya ayah anak itu dan aku akan menanya, mengapa sebagai murid dari sebuah partai yang lurus bersih, kau melindungi seorang pendeta siluman dari agama Mokauw secara begitu mati-matian”

“Kau…kau…minggir!” bentak nona Kie dengan napas tersengal-sengal.

Sambil menudingkan pedang didada adik seperguruan itu, Teng Bin Koen membentak, “Jawab pertanyaanku: di mana kau titip bayimu ? Kau adalah tunangan In Lie heng, In Liokhiap, tapi mengapa kau melahirkan anak ?”

Kata kata itu, mengejutkan semua orang. Bahkan Boe Kie yang masih kecil juga merasa, bahwat Kie Siauw Hoe telah dituduh melakukan perbuatan hebat yang menyinggung kehormatan In Lie Heng.

Paras muka nona Kie berubah pucat bagaikan kertas dan ia menerjang untuk coba meloloskan diri. di luar dugaannya, Teng Bin Koen membuktikan ancamannya. Dengan sekali menyodok, pedangnya amblas di lengan Siauw Hoe, sehingga ujung pedang mengenakan tulang. Sambil menahan sakit, nona Kie terpaksa menghunus senjatanya dengan tangan kiri.

“Soecie,” katanya dengan suara parau, “jikalau kau mendesak terus, aku terpaksa akan berlaku kurang ajar.”

Teng Bin Koen merasa, bahwa sesudah ia membuka rahasia si adik sepenguruan, tentu akan berusaha untuk membinasakannya guna menutup mulutnya. Maka itu, dengan mengetahui, bahwa bekal ilmu silatnya masih kalah dari Siauw Hoe, dia segera mengambil suatu keputusan untuk turun tangan lebih dulu. Sesudah menikam lengan si adik dalam serangan susulan, ia menusuk kempungan Siauw Hoe.

Melihat Soecienya menyerang pula dengan pukulan yang membinasakan, sambil menahan sakit, nona Kie menangkis dengan pedang yang dicekal dalam tangan kirinya. Di lain saat mereka sudah bertempur seru dengan gerakan-gerakan yang luar biasa cepat.

Semua orang yang ada di situ adalah ahli-ahli silat yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi, karena semua sudah mendapat luka berat, mereka tak berdaya untuk memisahkannya. Diam-diam mereka merasa kagum akan lihainya ilmu pedang Go bie pay, yang dikenal sebagai salah satu dari empat partai besar dalam rimba persilatan.

Kie Siauw Hoe bertempur dengan lengan kanan terus mengucurkan darah.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: