Kumpulan Cerita Silat

30/07/2008

Kisah Membunuh Naga (20)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 12:46 am

Kisah Membunuh Naga (20)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Menurut kebiasaan, setiap tahun murid-murid Siauw lim sie dijajal kepandaiannya oleh ketiga pendeta suci. Semua murid mengambil bagian. Hanya Goan tin seorang yang saban-saban mengatakan sakit, entah benar, entah bohong, sehingga oleh karenanya, tak seorangpun yang tahu cetek dalamnya kepandaiannya. Dan sekarang, karena Kioe yang kang hanya dimiliki Goan tin seorang dan harus diturunkan olehnya kepada Boe Kie, tidaklah heran kalau Kong boen bertiga merasa sangsi.

Beberapa saat kemudian Kong tie kembali dan berKata Goan tin sungguh aneh. Dia mengatakan, bahwa sesudah mengabdi pada Sang Buddha, ia juga tidak mau bertemu dangan orang luar, tapi karena Hong thio sudah mengeluarkan perintah, maka ia bersedia untuk mengajar ilmu dengan cara Kay tiang Coan tang (Mengajar ilmu dengan teraling tirai).

“Sesukanialah,” kata Kong boen. “Soetee, bawalah pemuda ini kepada Goan tin. Sesudah itu, perintah pengurus dapur mengantarkan sebuah meja perjamuan ke Lip soat teng. Biar bagaimanapun jua, Thio Sam Hong adalah pemimpin dari sebuah partai besar dan kita tidak boleh tidak berlaku hormat.”

Sementara itu, Boe Kie terus berlagak pulas. Sesudah lewat sekian lama, barulah datang seorang pendeta kecil yang membawa makanan dan sesudah ia selesai bersantap, pendeta itu lantas saja berkata, “Siauwsiecoe, ikutlah aku.”

“Kemana?” tanyanya.

“Hong thio memerintahkan aku membawamu kepada seseorang.”

“Kepada siapa ?” tanya lagi Boe Kie.

“Hong thio memesan supaya aku jangan banyak bicara.” jawabnya.

Boe Kie mengeluarkan suara dihidung. Diam diam ia mentertawai Kong boen bertiga, sebab ia sendiri sudah tahu, bahwa ia bakal dibawa kepada Goan tin Hweshio.

Tanpa menanya lagi, ia lalu mengikuti pendeta kecil itu. Sesudah melewati belasan gedung dan banyak pekarangan, sehingga Boe Kie merasa sangat kagum akan luas dan megahnya Siauw lim sie, barulah mereka tiba disebuah bangunan kecil yang dikurung dengan pohon pohon siong dan pek. Sambil berdiri di depan tirai pintu, pendeta kecil
itu berseru, “Siauwsiecoe sudah tiba!”

“Masuk,” demikian terdengar suara seseorang.

Boe Kie lantas saja mendorong pintu dan bertindak masuk, sedang si pendeta kecil lalu mengunci pintu.

Si bocah mengawasi kesekitarnya. Kamar itu ternyata sebuah kamar kosong. Kecuali selembar tikar di tengah tengah, tidak terdapat apapun jua.

Sesudah mendengar bahwa Goan tin akan memberi pelajaran dengan cara “Kay tiang Coan kang”, ia menduga bahwa dalam kamar itu dipasang semacam tirai. Di luar dugaan, kamar itu bukan saja kosong melompong, tapi juga tidak mempunyai lain pintu sehingga tak dapat ditebak dari mana datangnya suara manusia yang barusan. Selagi ia terheran-heran tiba-tiba terdengar pula suara itu, “Duduk! Dengarlah aku segera menghafal Siauw lim Kioe yang kang. Aku hanya akan menghafal satu kali. Terserah kepadamu, berapa banyak yang bisa diingat olehmu. Hong thio telah memerintahkan aku memberi pelajaran itu kepadamu. Aku menurut perintah. Tapi apa kau mengerti atau tidak adalah urusanmu sendiri.”

Boe Kie memasang kuping. Sekarang barulah ia tahu bahwa suara itu datang dari tembok sebelah dan Goan tin hweeshio berdiam dikamar sebelah. Pada hakekatnya, mengirim dari alingan tembok bukan kepandaian luar biasa. Siapapun jua dapat melakukannya. Apa yang luar biasa ialah suara Goan tin kedengarannya tegas sekali, seperti juga ia bicara berhadap hadapan. “Lweekang pendeta itu sungguh hebat,” kata Boe Kie di dalam hati.

Sesaat kemudian, oraag itu berkata perlahan lahan, “Tubuh berdiri tegak, kedua tangan yang dirangkapkan ditaruh didada, hawa tenang, semangat dipusatkan, hati tenteram, paras muka mengunjuk sikap menghormat. Inilah jurus pertama yang dinamakan Wie hok Yan couw (Wie Hok mempersembahkan gada). Ingatlah!”

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula , “Kedua tumit kaki ditancapkan di atas bumi. Kedua tangan dipentang keluar dengan rata. Hati tenang hawa tentaram mata membelalak mengawasi kedepan mulut ternganga. Ini jurus kedua, Hoen tan Hang mo couw ( Memikul gada untuk menakluki siluman ). Kau ingatlah.”

Seterusnya ia menghafal jurus ketiga, keempat kelima sampai pada jurus keduabelas. Mengenai jurus keduabelas, ia berkata, “Jurus ini dinamakan Tiauw wie Yauw tauw (Mengibas buntut, menggoyang kepala), dengan Kouwkoat seperti berikut: Lutut lurut, lengan dilonjorkan, mendorong dengan tangan sehingga mengenakan bumi. Mata membelalak, menggoyangkan kepala, semangat dipusatkan sehingga menjadi satu. Sesudah itu melempangkan tubuh dan menjejak tanah dengan kaki, mengendurkan bahu, memanjangkan lengan, menyabet tujuh kali kekiri kanan dan sekarang sudah selesai Ilmu Kioe yang Ie kin, dikolong langit tiada tandingan.”

Hampir berbareng dengan perkataan “dikolong langit tiada tandingan”, ia membentak, “Siapa mencuri mendengar di luar? Masuk!”

“Brak!” pintu terpental dan sesosok tubuh manusia jatuh ngusruk. Orang itu bukan lain daripada si pendeta kecil yang tadi mengantar Boe Kie kekamar itu. Dia jatuh meringkuk, kedua matanya meram dan pada mukanya terlihat rasa sakit yang hebat. Boe Kie terkejut buru-buru ia menghampiri untuk membangunkannya.

“Kau urus saja urusanmu sendiri,” kata orang dikamar sebelah, “Sekarang kau memerlukan semua kekuatan otakmu untuk mengingat-ingat Kouw koat yang barusan dihafal olehlu. Tidak dapat kau memecah perhatianmu.”

“Dua belas jurus itu sudah diingat olehku seanteronya,” kata si bocah.

“Apa benar? Coba kau hafal,” kata Goan tin. Di dengar dari nada suaranya, ia merasa heran bukan main.

Boe Kie lantas saja menghafal Kouw koat yang barusan diturunkan kepadanya, dari jurus pertama Wie hok Hian couw sampai Tiauw wie Yauw tauw, jurus kedua belas. Benar saja, dalam hafalan itu, tak satu perkataanpun yang salah.

Untuk sejenak Goan tin tak dapat mengeluarkan sepatah kata. Waktu menerima perintah Kong boen untuk mengajarkan Kioe yang kang kepada orang luar, ia mendongkol dan jika mungkin, ia tentu sudah menolak. Akan tetapi, peraturan dalam kuil Siauw lim sie selalu dipegang keras dan perintah seorang Hong thio, merangkap Ciangboenjin, tidak boleh dilanggar. Di samping itu, perintah Kong boen hanya berbunyi “mengajar anak itu” dan bukan “mengajar anak itu sampai dia paham”. Maka itu, menurut anggapannya, jika ia menghafal Kouw koat cepat-cepat, paling banyak si bocah
akan ingat satu dua perkataan. Tapi di luar semua perhitungannya, Boe Kie sudah berhasil memasukkan Kouw koat selengkapnya kedalam otaknya. Ia merasa kagum bukan main, karena kecerdasan dan bakat yang begitu luar biasa sungguh jarang terdapat dalam dunia ini.

Melihat si pendeta kecil terus meringkuk dilantai, Boe Kie merasa sangat tidak tega dan segera bertanya, “Siansoe, apakah kedosaannya Siauw soehoe ini ?”

“Dia mencuri dengar pelajaran tadi dari luar pintu,” jawabnya, tawar. “Aku telah menggunakan Kim kong Sian ciang untuk mengajar adat kepada nya. Jangan kuatir. Dalam beberapa saat, ia akan sembuh kembali.” Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi. “Aku tak tahu, mengapa Hong thio memerintahkan aku memberi pelajaran Kioe yang Sin kang kepadamu. Aku tidak tahu siapa namamu dan kaupun tak usah tanya namaku. Aku tidak tahu ilmu apa yang sudah pernah dipelajari olehmu. Akan tetapi, aku merasa kagum akan kepintaranmu. kemudian hari, kau mempunyai harapan yang tidak terbatas. Maka itu, aku berniat untuk membantu kau, untuk membuka Kie king Pat meh (pembuluh darah) di seluruh tubuhmu, supaya kalau nanti kau berlatih dengan Kioe yang Sin kang, kau tidak usah mengalami banyak kesukaran.”

Sebelum Boe Kie sempat menjawab, mendadak tembok berlubang dan dua lengan muncul dari lubang itu! Boe Kie kaget tak kepalang, ia mencelat dari tempat duduknya dan berseru dengan suara tertahan, “Kau…kau!…” Itulah kenyataan yang terlalu mustahil ! Tapi, dengan matanya sendiri, ia menyaksikan, bahwa tembok yang tebal itu sudah berlubang karena sodokan tangan Goan tin, seolah-olah tembok tidak lebih daripada tahu yang empuk.

“Tempelkan kedua telapak tanganmu dengan telapak tanganku.” memerintah Goan tin. “Aku tidak tahu she dan namamu, akupun tidak tahu kau murid siapa. Hari ini kita bertemu dan jodoh kita habis sampai di sini.”

Tahu maksud orang yang sangat baik. Pandangan Boe Kie terhadap Goan tin lantas berubah. “Terima kasih atas bantuan Siansoe,” katanya seraya melonjorkan tangannya dan menempelkan telapak tangannya ketangan si orang aneh.

“Kendurkan tulang tulang dan otot-otot dalam tubuhmu dan bebaskan pikiranmu dari segala ingatan,” kata pula Goan tin.

“Baiklah,” kata Boe Kie. Sesaat kemudian, dari kedua telapak tangan Goan tin keluar semacam hawa hangat yang terus menembus ketelapak tangannya, terus naik kelengan dan bahu. Hawa itu halus bagaikan selembar benang, tapi ia dapat merasakan nyata sekali dan perlahan-lahan hawa tersebut masuk kepembuluh darah.

Jika menemui rintangan dan tidak dapat segera menembus, bawa itu berubah lemas dan menerjang berulang-ulang sehingga rintangan ditembuskan. Sesudah lewat delapan pembunuh darah besar hawa itu makin cepat jalannya hingga Boe Kie merasa matanya berkunang-kunang, kepalanya terputar-putar dan berapa kali, ia seperti mau jatuh tenguling.
Akan tetapi dari telapak tangan si orang aneh keluar semacam tenaga menyedot, sehingga telapak tangan Boe Kie melekat keras pada telapak tangan Goan tin dan ia tak sampai tenguling. Dilain saat, ia merasakan seluruh badannya seperti dibakar. Kalau mungkin, ia tentu sudah kabur dan membuka baju untuk menerjun kedalam lautan es disekitar Pang hweeto.

Sesudah lewat sekian lama, bawa panas itu meninggalkan tubuhnya dan kembali ketelapak tangan Goan tin. Sesudah menarik pulang kedua lengannya dari lubang itu, Goan tin berkata dengan suara dingin , “Kau pergilah!”

Boe Kie melongok melalui lubang itu, tapi yang dilihatnya hanya kegelapan. Mengingat budi si orang aneh, ia lantas saja berkata, “Terimakasih banyak atas budi Siansoe yang sangat besar.”

Sehabis berkata begitu, ia menekuk kedua lututnya. Mendadak lengan Goan tin muncul lagi di lubang itu dan mengibasnya. Hampir berbareng, tubuh Boe Kie terpentaI dan jatuh di luar pintu. Orang itu ternyata sungkan menerima kehormatan si bocah.

“Pergi kau beritahukan Hong thio, bahwa pelajaran Kioe yang Sin kang telah diturunkan semua kepada Siauw siecoe, juga bahwa Siauwsiecoe mempunyai peringatan yang sangat kuat dan semua pelajaran itu sudah diingat olehnya.”

“Baiklah,” kata si pendeta kecil yang sudah tersadar dan dengan muka pucat lalu berjalan keluar dari kamar itu.

Boe Kie mengikuti dan mereka berdua lantas saja meninggalkan kuil. Di berbagai ruangan mereka bertemu dengan banyak pendeta yang semua berjalan dengan menundukkan kepala dan tanpa mengeluarkan sepatah kata. Di dalam kuil terdapat ribuan orang, tapi suasana tetap tenang dan sunyi.

Boe Kie merasa kagum dan berkata dalam hatinya, “Memang pantas sekali jika Siauw lim sie dikenal sebagai pemimpin dari rimba persilatan.”

Jika dibandingkan dengan keadaan di kuil Siauw lim sie, Giok hie koan seolah-olah sebuah pasar, di mana semua orang bergerak dan berbicara secara bebas dan merdeka. Hal ini sudah terjadi karena, pertama, agama Tookauw memang menganjurkan hidup bebas, dan kedua, sebab Thio Sam Hong sendiri seorang yang beradat sederhana dan sembarangan.

Setibanya mereka di Lip soat teng, Thio Sam Hong sudah menulis tiga puluh lembar lebih tapi masih menulis terus.

Melihat kerelaan dan pengorbanan guru besar itu Boe Kie merasa terharu, dan dengan air mata berlinang linang, ia berseru, “Thay soehoe!”

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata, “Kioe yang kang Cap jie sit sudah seluruhnya diturunkan kepada anak oleh Siansoe,”

Sang kakek guru girang. “Bagus,” katanya sambil tertawa. Sesudah menulis lagi beberapa lama, Thio Sam Hong sudah menyelesaikan apa yang mau ditulisnya.

Pendeta yang melayani segera balik ke kuil untuk memberi laporan dan tidak lama kemudian, Kong boen, Kong tie dan Kong seng datang di Lip soat teng, diikuti oleh seorang pemuda yang berusia kira-kira dua puluh lima tahun. Pemuda itu mengenakan thungsha (jubah panjang) dan ia ternyata seorang murid Siauw lim sie yang tidak menyukur rambut.

Thio Sam Hong merasa heran. Ia tahu bahwa menurut peraturan Siauw Lim sie, sebelum lulus seorang murid bukan pendeta tidak boleh keluar dari pintu kuil. Bagi seorang biasa masuk di Siauw lim sie bukan gampang, tapi keluar dari kuil itu lebih sukar lagi.

Apa maksudnya Kong boen mengajak seorang murid bukan pendeta? Tanpa merasa, ia mengawasi pemuda itu yang jangkung kurus, panjang lengannya dan pendek kakinya, sedang kedua matanya bersinar terang, sehingga tidak dapat ditebak, bahwa ia memiliki kecerdasan otak yang luar biasa.

“Kami telah membuat Thio Cinjin banyak capai,” kata Kong boen sambil merangkap kedua tangannya.

Sam Hong bersenyum. “Terima kasih atas belas kasihan Hong thio Soe heng, sehingga jiwa anak ini bisa ditolong,” jawabnya sambil membungkuk. Sehabis berkata begitu, ia menyodorkan tiga puluh lembar tulisan itu dan lalu berkata pula, “Thay kek boen dan Sip sam sit dan Boe tong Kioe yang kang semua sudah ditulis di sini. Aku harap Sam wie Soeheng suka memberi petunjuk petunjuk dan bahwa aku sudah berani memperlihatkan kebodohanku di hadapan kalian, kuharap kalian jangan mentertawai.”

Kong boen menyambuti dan tanpa melihat lagi, ia segera menyerahkan tulisan itu kepada pemuda yang berdiri di belakangnya. Si pemuda segera membacanya dengan teliti, selembar demi selembar.

Sambil mencekal tangan Boe Kie, Sam Hong segera meminta diri.

“Dalam kedatangan kalian, loolap sebenarnya harus mengundang kalian berdiam di sini beberapa hari, dan bahwa loolap tidak dapat berbuat begini hatiku merasa sangat tidak enak.” kata Kong boen. “Maka sebagai gantinya loolap hanya bisa mengundang Thio Cinjin meneguk tiga cawan arak untuk mengunjuk hormat kami.”

Pendeta arak dan kedua orang berilmu itu lantas saja ber sama-sama mengeringkan tiga cawan dengan beruntun.

Sesudah itu Kong been, Kong tie dan Kong seng pun turut memberi selamat jalan dengan tiga cawan arak.

Sesudah selesai, Sam Hong dan Boe Kie segera memberi hormat dan memutar badan untuk berlalu.

Sebelum bertindak, sekonyong-konyong pemuda jangkung kurus itu berkata, “Soepeh, ilmu silat yang ditulis Thio Cinjin tidak berbeda dengan pelajaran kita. Semua yang telah dibaca olehku, aku sudah belajar dari Soehoe.”

Sam Hong terkejut.

“Omong kosong !” bentak Kong been, “Thay kek Sip sam sit adalah mustika Boe tong pay yang digubah oleh Thio Cinjin sendiri. Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa kau sudah pernah belajar ilmu itu?”

Si pemuda segera menyerahkan tulisan Thio Sam Hong itu kepada Kong boen dan berkata, “Soepeh lihat saja sendiri.”

Kong boen menyambuti dan lalu membalik-balik beberapa lembar dan kemudian menyerahkannya kepada Kong tie dan Kong seng. Kedua pendeta itu juga membalik-balik beberapa lembar. “Soeheng, benar saja ilmu ini masih termasuk dalam lingkungan ilmu Siauw lim sie,” katanya dengan suara perlahan.

Sam Hong kaget bercampur gusar. Thay kek Sip sam sit adalah hasil jerih payahnya selama tigapuluh tahun dan baru pada tahun yang lalu, ilmu itu menjadi sempurna. Intisari daripada ilmu itu ialah dengan kelemahan melawan kekerasan, dengan bergerak lebih dulu. Asas-asas tersebut justeru sebaliknya daripada asas-asas ilmu silat Siauw lim sie. Di samping itu, walaupun bersumber dari Kioe yang Cin keng gubahan Tat mo Loo couw, Boe tong Kioe yang kang sudah ditambah dengan banyak perobahan yang keluar dari otaknya Sam Hong.

Maka itulah, mendengar kata-kata si pemuda dan Kong tie, guru besar itu jadi sangat mendongkol. Tapi di lain saat, ia sudah dapat menebak sebab-musabab dari sikap Siauw lim. Ia mengerti, bahwa ia kuatir dikatakan menerima pelajaran dari Bee tong pay maka pendeta-pendeta suci itu sudah mengeluarkan siasat tersebut.

Sementara itu, sambil mengangsurkan tulisan-tulisan itu kepada Sam Hong, Kong boen berkata, “limu silat Boe tong bersumber dari Siauw Lim. Benar saja, apa yang ditulis Thio Cinjin tidak banyak bedanya dari ilmu silat kami.”

Sam Hong tertawa. “Apa yang telah ditulis oleh si orang she Thio, sedikitpun aku tidak merasa menyesal,” katanya. “Aku mengerti bahwa ilmuku itu sangat cetek dan tidak berharga. Jika Samwie tidak memerlukannya, sebaiknya dibuang saja.” Ia tidak menyambuti gabungan kertas itu yang diangsurkan kepadanya.

“Dari kata-katamu, Thio Cinjin, rupanya kau tidak percaya akan pengutaraan kami itu,” kata Kong tie. Ia berpaling kepada si pemuda seraya berkata pula, “Yoe Liang, coba kau hafal Thay kek Sip sam sit dan Kioe yang kang yang diturunkan olehku kepadamu ”

“Baiklah,” jawab pemuda itu yang lantas saja menghafal tulisan Sam Hong selengkapnya, sehuruf pun tidak ada yang ketinggalan.

“Thay soehoe, orang itu menghafal dengan membaca tulisanmu,” Boe Kie menyelak. “Dan sekarang mereka mengatakan, ilmu Thay soehoe tiada berbeda dengan ilmu mereka. Sungguh tak mengenal malu.”

Sam Hongpun tahu. Ia tertawa besar dan sambil mengawasi pemuda itu, ia berkata, “Selagi ketiga pendeta suci mengajak aku minum arak, tuan sudah menghafalkan dua macam ilmu silatku. Kepintaran dan kecerdasan itu tidak dimiliki Sam Hong. Boleh aku mendapat tahu she dan nama tuan yang besar?”

“Cianpwee jangan memuji begitu tinggi,” jawabnya. “Boanpwee she Tan, bernama Yoe Liang.”

“Saudara Tan,” kata pula guru besar itu dengan suara sungguh-sungguh. “Dengan kecerdasanmu, apapun jua yang dipelajari olehmu pasti akan berhasil. Aku hanya mengharap, kau jangan mengambil jalan yang salah. Dengan menggunakan kesempatan ini, aku ingin mempersembahkan kata-kata seperti berikut: Dengan kejujuran kita memperlakukan orang lain, dengan kerendahan hati kita membatasi diri.”

Melihat sinar mata orang tua itu yang tajam bagaikan pisau, Yoe Liang bergidik. Tapi di lain saat ia menjadi mendongkol dan berkata dengan suara kaku, “Terima kasih atas petunjuk Thio Cinjin. Tapi Boanpwee adalah murid Siauw lim dan boan pwee mempunyai Soepeh, Soehoe dan Soesiok untuk mengajar boanpwe.”

“Benar,” kata Sam Hong sambil tertawa. “Memang aku si tua yang terlalu rewel.”

Sesaat itu, Kong tie mengangsurkan gabungan kertas itu. Hampir berbareng dengan itu si pendeta terhuyung dan Yoe Liang yang berdiri di sampingnya segera coba memeluknya. Tapi tenaga Kong tie besar luar biasa dan pemuda itu yang kena didorong, lantas saja terpental keluar pendopo dan jatuh di tanah.

Dalam mengirim Lweekang itu, Sam Hong hanya menggunakan sebagian tenaganya dan ia memang tidak berniat jahat. Maka itu, begitu mengerahkan Lweekang ke bagian kakinya, Kong tie sudah bisa berdiri tegah.

Sam Hong bersenyum seraya berkata, “Itulah ilmu dari Thay kek Sip sam sit. Sekarang terbukti, bahwa walaupun kalian berdua paham akan ilmu itu, tapi kalian belum mempunyai tempo untuk berlatih. Selamat tinggal!”

Dengan sekali mengibas tangan, di udara beterbanganlah kepingan-kepingan kertas yang sangat halus, yaitu kertas yang berisi ilmu Thai kek dan Boe tong Kioe yang kang. Sambil menuntun tangan Boe Kie, tanpa menengok lagi ia meninggalkan Siauw sit sat.

Kong boen bertiga saling mengawasi dengan mulut ternganga. Mereka merasa kagum dan takluk akan kepandaian orang tua itu. Di samping itu, merekapun merasa agak menyesal.

“Ilmu itu begitu lihai,” kata Kong boen di dalam hati. “Apa Yoe Liang sudah menghafalkan seanteronya? Jika satu huruf saja yang kelupaan, Siauw lim akan menderita kerugian besar.”

Malam itu di dalam rumah penginapan Sam Hong menyuruh Boe Kie berlatih menurut Kouw koat yang diturunkan oleh Goan tin. Karena tidak ingin mendengar dan melihat cara berlatihnya si bocah, ia sendiri tidur di sebuah kamar lain. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, jika ia melihat cara bersemedhi dan gerak-gerakannya serta mendengar jalan pernapasan cucu muridnya itu, ia sudah bisa mengetahui rahasia Siauw lim Kioe yang-kang.

Selama berada dalam perjalanan pulang, ia pun belum pernah menanyakan kemajuan Boe Kie. Meskipun ketiga pendeta suci Siauw lim pay berpemandangan agak sempit, akan tetapi mereka adalah orang-orang ternama dalam kalangan rimba persilatan sehingga ia percaya, mereka tidak akan memberi pelajaran palsu.

Berselang beberapa hari, paras muka Boe kita sudah berubah agak merah sehingga sang kakek guru jadi merasa girang sekali. Sam Hong tahu, bahwa Boe Kie sudah memiliki Kioe yang kang dari Boe tong dan Siauw lim yang saling menambah kekurangan masing-masing. Ia percaya penuh, bahwa kedua macam Kioe yang kang itu akan cukup kuat untuk mengusir racun dingin Hianbeng Sin ciang yang mengeram dalam tubuh si bocah.

Hari itu, mereka tiba di tepi sungai Han soei dan lalu menyewa perahu untuk menyeberang.

Dengan rasa terharu, Sam Hong ingat pengalamannya yang lampau. Ia ingat kesengsaraan dulu, pada waktu ia kabur dari Siauw lim sie dan mau menyeberang sungai itu. Waktu usianya tidak banyak berbeda dengan usia Boe Kie sekarang.

Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa pada akhirnya ia bisa menjadi pendiri Boe tong pay yang sekarang berdiri berendeng dengan Siauw lim pay.

Keadaan Boe Kie di hari ini lebih bagus dan lebih unggul daripada diwaktu dulu. Ia percaya, bahwa di kemudian hari, kedudukan bocah itu akan lebih tinggi daripadanya. Mengingat begitu, tanpa ia merasa ia bersenyum dan hatinya bunga.

Mendadak, lamunannya disadarkan oleh teriakan Boe Kie, “Thay soehoe!…Aku…aku…” Suaranya bergemetaran dan mukanya pucat pasi. Sam Hong terkesiap. Muka anak itu merah dan pada warna kemerah-merahan itu terdapat sinar hijau. “Thay soehoe!” teriak Boe kie. “Aku…aku tak tahan!” Badannya bergoyang-goyang.

Dengan cepat tangan kiri sang kakek guru mencekal pengelangan tangan Boe Kie, sedang telapak tangan kanannya ditempekan dijalan darah Leng-tay hiat di punggung si bocah. Tapi begitu lekas ia mengirim tenaga dalam untuk membantu Boe Kie melawan racun dingin itu, sekali lagi ia terkesiap karena Lweekangnya lantas saja menerobos masuk ke Kie keng Pat meh. Boe Kie mengeluarkan teriakan menyayat hati dan lalu pingsan.

Kaget orang tua itu bagaikan disambar halilintar. Buru-buru ia menotok untuk menutup dua belas Thay hiat dibadan Boe Kie.

“Mengapa Kie keng Pat meh terbuka?” tanyanya di dalam hati. “Dengan terbukanya pembuluh darah, racun bisa lantas masuk ke dalam isi perut dan kalau sudah masuk di situ maka sudah tentu tak akan bisa dibuyarkan lagi.”

Sesudah berusia lebih dari satu abad dan sesudah ilmunya menecapai puncak kesempurnaan, guru besar itu tenang luar biasa. Tapi kali ini, ia tak dapat mempertahankan ketenangannya. Jantungnya berdebar keras dan keringat dingin mengucur dari dahinya “Apa bisa jadi, Siauw lim Kioe yang kang sedemikian hebat, sehingga dalam beberapa hari saja ilmu itu sudah dapat membuka pembuluh darah ?” Ia tanya lagi dirinya sendiri. “Tidak mungkin! Pasti tidak mungkin ! Lie Heng dan Seng Kok sudah berlatih belasan tahun, tapi latihan itu masih belum cukup untuk membuka pembuluh darah.”

Dengan Lweekangnya yang sangat tinggi, jikamau, Sam Hong bisa membantu kedua muridnya untuk membuka Kie-keng pat-meh. Akan tetapi, dalam memberi pelajaran, ia selalu berpendirian bahwa sesuatu yang didapat dengan latihan sendiri adalah lebih berhanga daripada yang diperoleh atas bantuan orang. Dalam mengajar semua muridnya dia tak mau tergesa-gesa. Ia membiarkan murid murid itu berlatih sendiri dan maju dengan per lahan tapi tentu.

Waktu itu, perahu yang ditumpangi mereka tiba di tengah tengah sungai dan karena terdampar ombak, kendaraan air yang kecil itu terombang ambing kian-kemari tiada bedanya seperti hati Thio Sam Hong yang bergoncang keras.

Beberapa saat kemudian, Boe Kie tersadar. Sesudah kedua belas Tayhiatnya ditotok, racun dingin tidak bisa masuk ke dalam isi perutnya, akan tetapi, karena itu, ia tak dapat menggerakkan badan.

Sekarang Sam Hong tidak menggubris lagi soal pantas atau tidak pantas.

“Nak, bagaimana isi Siauw lim Kioe yang kang yang diturunkan kepadamu?” tanyanya. “Mengapa semua pembuluh darahmu jadi terbuka?”

“Yang membuka ialah Goan tin Siansoe,” jawabnya. “Ia mengatakan bahwa ia membantu supaya aku bisa berhasil terlebih siang dalam latihan Kioe yang Sin kang.”

“Tapi bagaimana ia jadi membantu kau?” tanya Sam Hong, tergesa-gesa.

Boe Kie segera menceriterakan cara bagaimana ia mendengar pembicaraan antara Kong boen dan Kong tie, cara bagaimana Goan tin memberi pelajaran dengan teraling tembok dan cara bagaimana pendeta aneh itu sudah membantunya dalam membuka Kie keng Pat mah.

Untuk beberapa lama sang kakek guru tidak mengeluarkan sepatah kata. “Kalau pembuluh darahmu perlu dibuka dengan segera, apakah aku tidak dapat melakukan itu?” katanya dengan suara perlahan. “Apa maksud baik atau sengaja dia bermaksud jahat?”

“Goan tin Siansoe telah mengatakan berulang ulang bahwa ia tak tahu she dan namaku, ia tak tahu rumah perguruanku dan akupun tidak perlu tahu she dan namanya,” menerangkan Boe Kie.

“Goan tin…Goan tin…” Sam Hong berkata, seperti pada dirinya sendiri, “Belum…belum pernah aku mendengar nama begitu di antara jago-jago Siauw lim sie. Hm…Ia tak tahu namamu, tak mengenal partaimu. Kalau begitu, ia tak tahu perhubungan antara aku dan kau. Kalau begitu, bantuannya itu, keluar dari hati yang baik.”

Sesudah berkata itu, Sam Hong lalu menanyakan Kouw koat Siauw Lim Kioe yang kang. Boe Kie lantas saja menghafal, mulai dari jurus Wie hok Hian couw. Baru saja ia menghafal sampai jurus ketiga. Ciang to Thian boen (Dengan telapak tangan menyangga pintu langit), sang kakek guru sudah berkata, “Cukup! Tak usah kau menghafal terus. Tujuanku hanyalah untuk mengetahui tulen palsunya ilmu yang diturunkan kepadamu. Mulai dari sekarang, kau tidak boleh memberitahukan Siauw lim Kioe yang Sin kang kepada siapapun jua. Kau mesti ingat, bahwa kau tidak boleh melanggar sumpahmu yang sangat berat.

“Baik,” jawabnya sambil mengawasi muka sang kakek guru, karena Sam Hong telah mengucapkau kata-kata itu dengan suara gemetar. Ia melihat bahwa dalam kedua mata orang tua itu mengembang air. Sebagai seorang yang sangat pintar, ia mengerti, bahwa sang kakek guru sudah tak punya harapan untuk menolong jiwanya lagi.

Mendadak, serupa ingatan berkelebat dalam otaknya. “Thay Soehoe,” katanya, “Apakah aku masih bisa bertahan dan bisa pulang ke Boe tong san dengan masih bernyawa?”

“Jangan kau berkata begitu,” jawab guru besar itu sambil menahan mengucurnya air mata. “Biar bagaimanapun jua, Thay soehoe akan berdaya untuk menolong jiwamu ”

“Kalau aku masih bisa bertemu muka dengan Jie Shapeh, aku sudah merasa puas,” kata pula Boe Kie.

“Mengapa begitu?” tanya sang kakek guru.

“Sebab sesudah tidak bisa hidup, anak ingin membuka rahasia Siauw lim Kioe yang kang ke pada Jie Shapeh” jawabnya.

“Anak mengharap supaya dengan menggunakan Kioe yang kang dari Boe tong dan Siauw lim, Shapeh akan dapat menyembuhkan kaki tangannya yang bercacat. Sesuai dengan sumpah anak akan menggorok leher sendiri seperti yang telah dilakukan ayah, supaya dengan begitu, anak dapat menebus sebaglan kecil dari kedosaan ibu.”

Bukan main rasa kaget dan terharunya Sam Hong. Tak pernah ia menduga, bahwa bocah sekecil Boe Kie bisa mempunyai pikiran begitu, “Ah!…Jangan kau…bicara…yang tidak-tidak.” katanya dengan suara parau.

“Hari itu, aku sudah mengerti duduknya persoalan,” kata Boe Kie. “Dengan menggunakan jarum beracun, ibu telah melukai Jie Shapeh sehingga Shapeh bercacat untuk seumur hidupnya. Itulah sebabnya, mengapa ayah telah…”

Sam Hong tak dapat mempertahankan diri lagi. Air matanya lantas saja mengucur deras, sehingga membasahi jubah pertapaannya. “Kau…kau tak boleh…memikir yang tidak-tidak.” katanya sambil menangis sedu-sedan. Sesaat kemudian, sesudah menenteramkan hatinya, ia berkata pula dengan suara angker, “Seorang laki-laki harus berjalan di jalanan lurus. Kau sudah berjanji, dengan disertai sumpah berat, untuk tidak memberitahukan pelajaran Siauw lim Kioe yang kang kepada siapapun jua. Janji itu harus dipegang sampai pada akhirnya. Andaikata benar kau bakal mati, aku juga tidak boleh berlaku licik.”

Boe Kie terkejut. Ia mengawasi sang kakek guru dengan mulut ternganga, akan kemudian manggutkan kepalanya.

Semenjak kecil sehingga pulang ke Tiong goan, Boe Kie hidup bersama-sama kedua orang tua dan ayah angkatnya, So So dan Cia Soen memang bukan manusia yang bersih, tapi bahkan Coei San sendiri belum pernah memberi pelajaran bathin kepadanya. Maka itulah, ia belum mengerti soal kehormatan dalam rimba persilatan. Sekarang untuk pertama kali, ia menerima nasehat dari kakek gurunya.

D ilain saat, Sam Hong berkata pula dalam hatinya, “Sesudah tahu, bahwa jiwanya tidak bakal tertolong lagi, anak itu rela membunuh diri guna menolong Thay Giam. Jiwa yang sedemikian adalah sesuai dengan jiwa seorang pendekar rimba persilatan.”

Memikir begitu, ia lantas berniat memberi sedikit pujian kepada Boe Kie, tapi, belum sampai ia membuka mulut, sudah terdengar teriakan seseorang, “Hentikan perahu! Serahkan anak itu! Kalau kau tidak menurut, jangan katakan aku kejam.” Suara itu nyaring luar biasa, suatu pertanda bahwa orang yang berteriak memiliki Lweekang yang sangat tinggi.

Sam Hong bersenyum lebar. “Siapa yang bernyali begitu besar, berani memerintahkan aku menyerahkau cucu muridku ?” katanya di dalam hati.

Ia mendongak dan melihat sebuah perahu kecil yang didayung oleh seorang lelaki brewokan dan dengan badannya, orang itu melindungi dua orang anak kecil, satu lelaki dan satu perempuan. Dibelakang perahu kecil itu mengejar sebuah perahu yang lebih besar, yang ditumpangi oleh empat orang-orang Hoan ceng (Pendeta bukan golongan Han) dan tujuh delapan perwira Mongol yang mendayung perahu.

Lelaki brewokan itu bertenaga sangat besar dan perahunya laju pesat sekali. Tapi perahu yang mengejar didayung oleh orang yang jumlahnya jauh terlebih banyak, sehingga makin lama jarak antara kedua perahu itu jadi semakin pendek.

Beberapa saat kemudian, tampak ke empat Hoan ceng dan perwira-perwira Mongol itu mulai melepaskan anak panah.

Sekarang Sam Hong tahu, bahwa yang dimaui oleh orang-orang itu adalah kedua anak kecil yang dilindungi oleh si orang brewokan. Selama hidup, ia paling benci serdadu-serdadu Mongol yang berbuat sewenang-wenang terhadap orang Han dan seketika itu juga, di dalam hatinya timbut niatan untuk menolong. Tapi ia segera mengurung kan niatannya itu, karena ia sendiri harus melindungi Boe Kie yang sedang menderita penyakit berat. Di samping itu, jarak antara perahunya dan kedua perahu yang sedang kejar-mengejar itu masih terlalu jauh, sehingga biarpun ingin, ia tak akan keburu menolong mereka.

Tapi di lain saat terjadi perkembangan yang di luar dugaan. Dengan tangan kiri tetap mendayung perahu, tangan kanan si brewok mengibas anak-anak panah yang menyambar dengan penggayuh yang satunya lagi. Tanpa merasa, Sam Hong bersorak dan berkata dalam hatinya, “Orang itu memiliki kepandaian luar biasa. Cara bagaimana aku bisa mengawasi kecelakaan yang menimpa dirinya seorang gagah dengan berpeluk tangan?”

Ia lantas saja berpaling kepada si tukang perahu seraya berkata, “Coan kee (tukang perahu), dayunglah perahumu ke arah kedua perahu itu!”

Si tukang perahu kaget tak kepalang. Sambil mengawasi si kakek dengan mata membelalak ia berkata , “Loo too ya…kau…kau…jangan guyon-guyon!”

Melihat keadaan sudah mendesak, tanpa mengeluarkan sepatah kata, Sam Hong menyentak dayung dan dengan sekali menggayuh, kepala perahu sudah terputar.

Sekonyong-konyong terdengar teriakan menyayat hati. Teriakan itu keluar dari mulutnya salah seorang anak yang lelaki yang punggungnya tertancap sebatang anak panah.

Dalam kagetnya, si brewok membungkuk untuk memeriksa luka anak laki-laki tersebut itu, dan selagi ia membungkuk, dua batang anak panah mengenakan pundak dan punggungnya. Ia mengeluarkan teriakan tertahan. Badannya bengoyang-goyang dan dayung yang dicekalnya jatuh ke air, sehingga perahunya lantas saja berhenti. Sesaat kemudian perahu yang mengejar sudah menyandak dan semua pengejar Ialu melompat keperahu si brewok. Tapi dia laki-laki sejati. Biarpun dikurung oleh begitu banyak. musuh, secara nekat-nekatan in melawan dengan tangan kosong,

“Orang gagah, jangan takut!” teriak Thio Sam Hong. “Aku akan datang menolong kau!” Sambil menggenjot tubuhnya, ia melontarkan dua lembar papan ke air, kaki kirinya menotol papan pertama, kaki kanannya papan kedua dan bagaikan seekor burung raksasa, ia hinggap di atas perahu.

Selagi ia melompat, dua orang perwira dengan berbareng melepaskan anak panah, tapi kedua anak panah itu terpental dengan kibasan tangan. Begitu lekas kedua kakinya menginjak geladak perahu, ia menghantam dengan telapak tangan kirinya dan dua Hoan ceng, terpental setombak lebih, akan kemudian tercebur di dalam air.

Melihat kelihaian si kakek, semua orang kaget bukan main, “Bangsat tua! Mau apa kau?” bentak perwira yang memimpin rombongan.

“Anjing Tat coe!” Sam Hong balas mencaci. “Lagi-lagi kamu mencelakakan rakyat baik-baik. Pergi!’

“Kau tahu siapa mereka?” tanya si perwira. “Mereka adalah anak-anaknya penghianat dari Mokauw (agama siluman). Hong siang telah mengeluarkan firman untuk membekuk mereka!”

Mendengar “penghianat dari Mokauw”, Thio Sam Hong rupanya terkejut juga. “Apakah mereka orang-orangnya Tincoe Cioe Coe Ong?” Tanyanya di dalam hati. Ia menengok kepada si brewok dan bertanya, “Apa benar?”

Dengan tubuh berlumpuran darah dan sambil memeluk mayat anak lelaki itu, ia menangis dan berkata, “Siauwcoekong (majikan kecil)…Siauw coekong binasa dipanah oleh meraka…”

Si kakek jadi makin kaget. “Apakah anak itu puteranya Cioe Coe Ong?” tanyanya pula.

“Benar,” jawabnya “Aku sudah gagal menunaikan tugasku. Biarlah aku mati bersama-sama”.

Perlahan-lahan ia menaruh mayat di atas geladak perahu dan kemudian menubruk perwira Mongol itu. Tapi, sebab lukanya terlalu berat dan kedua anak panah itu belum dicabut dari pundak dan punggungnya, maka begitu melompat, ia roboh kembali. Nona kecil itu, yang lengannya tertancap sebatang anak panah, menangis dan sesambat, “Koko! Koko !…”

Di dalam hati, Sam Hong merasa menyesal bahwa ia sudah mencampuri urusannya Cioe Coe Ong. Akan tetapi, karena sudah terlanjur, ia tak bisa mundur di tengah jalan. Maka itu, ia menengok kepada si perwira dan berkata, “Anak itu sudah binasa dan mereka berdua telah mendapat luka berat, sehingga tak lama lagi merekapun akan turut binasa. Kalian sudah berpahala besar. Pergilah!”

“Tidak bisa!” kata perwira itu. “Kami mesti memenggal kepala ketiga orang itu.”

“Perlu apa kalian berlaku begitu kejam ?” kata pula Sam Hong.

“Siapa kau? Mengapa kau berani campur campur arusan kami ?” tanya siperwira dengan aseran.

Sam Hong tertawa. “Siapa yang bisa menolong sesama manusia, haruslah dia menolong,” jawabnya. “Segala urusan dikolong langit boleh dicampuri oleh manusia di kolong langit.”

Perwira itu melirik kawan-kawannya. “Siapa adanya Tootiang dan di mana letak kuil mu?” tanyanya.

Mendadak, dua perwira lain mengangkat golok dan menyabet pundak Sam Hong. Kedua senjata itu menyambar bagaikan kilat dan di atas perahu yang sempit, sungguh sukar untuk mengelakkannya. Tapi dengan hanya sekali miringkan badan, guru besar itu sudah kelit senjata musuh.

Hampir berbareng, Sam Hong mengeluarkan kedua tangannya yang lalu ditempelkan di punggung kedua penyerang itu. “Pergilah !” Bentaknya seraya mendorong dan tubuh kedua perwira itu lantas saja “terbang”, akan kemudian jatuh di atas perahu mereka sendiri.

Sesudah puluhan tahun Sam Hong belum pernah bertempur dan hari ini ia sebenarnya menghadapi jago-jago pilihan dari kaisar Mongol. Semua jago itu kaget tak kepalang, sebab pihak mereka sedikitpun tak dapat berkutik.

Mendadak, seperti orang ingat sesuatu, pemimpin rombongan menatap wajah Sam Hong dengan mulut ternganga dan kemudian berkata dengan suara putus-putus, “Kau…kau .. apa kau bukan…”

“Aku adalah seorang yang biasa membunuh Tat coe,” kata si kakek seraya mengibas dengan lengan jubahnya.

Hampir berbarengan semua orang itu merasakan satu sambaran angin dan dada mereka menyesak, sehingga mereka tidak dapat mengetuarkan sepatah katapun. Di lain saat, dengan muka pucat mereka berdulu dulu meninggalkan perahu itu dan sesudah menolong kedua Hoan ceng yang tercebur di air, mereka kabur secepat mungkin dengan ramai-ramai mendayung perahu.

Melihat si brewok dan nona cilik itu dilukai dengan anak panah beracun, Sam Hong segera mengeluarkan obat pemunah racun. Sesudah itu ia mendayung perahu kecil itu, mendekati perahunya sendiri.

Baru saja ia mau memapah si brewok untuk berpindah ke perahunya, orang itu sudah melompat dengan memeluk mayat dan tangan lain menyekel tangan si nona kecil.

Sam Hong manggut-manggutkan kepala. “Benar-benar laki-laki sejati,” pujinya. “Meskipun sudah menderita luka berat, ia tetap menunjuk kesetiaan kepada majikan kecilnya. Aku tak merasa menyesal sudah menolongnya.”

Ia sendiri lalu melompat balik k eperahunya, di mana ia segera mencabut anak panah yang menancap di tubuh si brewok dan si gadis cilik. Sesudah menaruh obat luka dan membalut luka itu.

Sam Hong tidak lantas mendarat, karena ia menghadapi keadaan yang agak sukar. Boe Kie yang kedua belas Thay hiatnya ditotok, tidak bisa berjalan sendiri, sedang si brewok dan si nona kecil itu adalah pemburonan yang sedang dicari oleh kaki tangan kaisar Mongol. Jika mereka menginap di Loa ho kouw, Sam Hong merasa agak berat untuk melindungi tiga orang itu. Sesudah mengasah otak beberapa saat, ia merogoh saku bajunya, dan ia mengeluarkan beberara tahil perak yang lalu diserahkan kepada si tukang perahu.

“Saudara” katanya sambil bersenyum. “Aku ingin meminta pertolonganmu untuk membawa mereka ke Thay peng tiam supaya mereka bisa menginap di situ.”

Si tukang perahu sebenarnya sangat ketakutan tapi melihat jumlah uang yang begitu besar, ia lantas saja manggut-manggut kepala.

Si brewok buru-buru berlutut di atas geladak perahu dan berkata, “Budi Loo tooya yang sangat besar tak akan dapat dibelas oleh Siang Gie Coen.”

Sam Hong membangunkan orang itu seraya berkata “Siang Enghiong, tak usah, tak usah kau jalankan peradatan besar.”

Tiba-tiba ia terkejut, sebab waktu tangannya menyentuh tangan Siang Gie Coen, ia merasa tangan itu dingin luar biasa. “Siang Enghiong apakah kau mendapat luka di dalam badan ?” tanyanya.

“Benar”, jawabnya sambil mengangguk. “Dengan membawa kedua majikan kecil ini, Siauw jin (aku yang rendah) berangkat dari Sin yang untuk pergi ke Selatan. Di sepanjang jalan empat kali siauwjin bertempur dengan kuku garuda (kaki tangan kaisar) yang dikirim oleh Tatcoe. Dada dan punggungku telah terkena pukulan seorang Hoan ceng.”

Sam Hong segera memeriksa nadi Siang Gie Coen dan mendapat kenyataan, bahwa denyutan nadi sudah lemah sekali. Kemudian ia membuka baju si brewok dan begitu melihat lukanya, ia terkejut, karena luka itu sudah bengkak dan sangat berat. Ia mengerti, bahwa tanpa memiliki kekuatan badan yang luar biasa, Siang Gie Coen tentu sudah tidak dapat bertahan lagi. Ia segera mempersilahkan Gie Coen mengaso di gubuk perahu dan melarangnya banyak bicara.

Mereka tiba di Thay pang kiam di waktu malam. Sam Hong lantas saja pergi ke kota untuk membeli obat-obatan yang kemudian segera dimasak dan diberikan kepada Siang Gie Coen dan si nona kecil.

Gadis itu, yang baru berusia kira-kira sepuluh tahun dan yang paras mukanya mengunjuk, bahwa sesudah besar ia bakal jadi seorang wanita yang luar biasa cantik, duduk terpaku di samping mayat kakaknya. Melihat begitu, Sam Hong merasa kasihan dan menanya dengan suara lemah lembut, “Nona, siapa namamu?”

“Aku, Cioe Tit Jiak”, jawabnya. “Bolehkah aku mendapat tahu nama Too tiang?”

Rasa simpati guru besar itu jadi makin besar karena dalam kedukaannya, anak itu masih tetap agung dan sopan. “Aku, Thio Sam Hong.” jawabnya.

“Ah!” demikian terdengar teriakan Siang Gie Coen yang lantas bangun duduk. “Kalau begitu Tootiang adalah Thio Cinjin dari Boe tong san! Tak heran jika Tootiang memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Aku merasa sangat beruntung, bahwa hari ini aku bisa bertemu muka dengan Sian tiang (dewa)”

“Jangan gunakan istilah dewa”, kata si kakek seraya bersenyum. “Aku hanya berumur lebih panjang dari manusia kebanyakan Siang Enghiong, tidurlah. Jangan banyak bergerak supaya lukamu tidak terbuka lagi.”

Melihat kegagahan Siang Gie Coen dan sopan santunnya Cioe Tit Jiak, Sam Hong merasa senang sekali. Tapi begitu mengingat bahwa mereka itu adalah orang-orang dari golongan sesat, hatinya lantas saja berubah dingin. “Jie wie mendapat luka berat dan tidak boleh banyak bicara.” katanya dengan suara tawar.

Dulu, Thio Sam Hong sebenarnya tidak begitu menghiraukan perbedaan antara golongan sesat dan lurus. Iapun pernah mengatakan kepada Coei San, bahwa “ceng” (lurus besar) dan “sia” (sesat kotor) sukar dibedakan. Kalau berhati tidak baik, murid murid dari partai lurus bersih bisa melakukan perbuatan jahat, sedang murid-murid dari partai yang katanya sesat kotor dapat melakukan perbuatan mulia, jika hati mereka bersih. Ia juga pernah mengatakan, biarpun angkuh dan beradat aneh, In Thian Ceng dari Peh bie kauw adalah laki-laki yang bertanggung jawab atas segala perbuatan nya.

Akan tetapi, semenjak Coei San membunuh diri, ia membenci Peh bie Kauw. Ia menganggap, bahwa kebinasaan Coei San dan kecelakaan Jie Thay Giam adalah gara-gara Peh bie kauw. Walaupun ia masih dapat menahan sabar dan tidak menuntut balas terhadap In Thian Ceng, tapi di dalam hatinya sudah terdapat kebencian yang sangat terhadap partai golongan “sesat”.

Cioe Coe Ong adalah murid rutama golongan Bie lek cong dari “agama” sesat. Beberapa tahun yang lalu. Cioe Coe Ong telah memberontak di Wan cioe dan mengangkat dirinya sendiri menjadi “kaisar”, dengan kerajaan yang dinamakan “Cioe”. Tapi bala tentaranya telah dibasmi habis oleh tentara Goan, dan ia sendiri ditangkap dan di hukum mati.

Bie lek cong dan Peh bie kauw mempunyai hubungan erat. Waktu Cioe Coe Ong memberontak, In Thian Ceng telah memberi banyak bantuan dari Ciat kang timur.

Bahwa Thio Sam Hong sudah menolong Siang Gie Coen dan Cioe Tit Jiak, adalah karena didorong oleh rasa kesatriaan dan juga sebab pada waktu turun tangan, ia masih belum tahu siapa adanya mereka itu.

Sekarang, mengingat nasib dua orang muridnya, tanpa merasa ia menghela napas panjang. Tak lama kemudian, si tukang perahu sudah selasai masak dan menaruh empat macam makanan dengan daging ayam, daging babi, ikan dan sayur, bersama sebakul nasi dan di atas sebuah meja kecil.

Sam Hong segera menyilakan kedua tamunya makan lebih dulu, sebab ia sendiri ingin manyuapkan Boe Kie yang tidak bisa bergerak. Atas pertanyaan Siang Gie Coen, ia menerangkan sebab-musababnya.

Karena hatinya berduka, Boe Kie tidak bisa makan banyak. Baru saja menelan satu dua suap, ia sudah menggeleng-gelengkan kepala.

Tiba tiba Tit Jiak mengambil mangkok nasi dan sumpit dari tangan Sam Hong. “Too tiang, kau makan lebih dulu. Biar aku saja yang menyuapkan Toako,” katanya.

“Aku sudah kenyang,” kata Boe Kie.

“Toako, jika kau tak mau makan, Too tiang jadi kesal dan iapun tidak akan mau makan,” kata si nona dengan halus. “Apa kau tega membiarkan orang tua itu kelaparan?”

Boe Kie merasa perkataan gadis itu ada benarnya juga. Maka, waktu Tit Jiak mengangsurkan sendok nasi ke mulutnya, ia lalu membuka mulut dan memakannya. Dengan hati-hati, si nona kecil mencabut tulang-tulang ikan dan ayam dan pada setiap sendok nasi, ia menambahkan kuah daging, sehingga menimbulkan napsu makan dan tidak lama kemudian, Boe Kie sudah menghabiskan semangkok nasi.

Melihat begitu, Sam Hong merasa terhibur, Diam-diam ia merasa bahwa dalam sakitnya yang begitu berat, Boe Kie memang harus dirawat oleh seorang wanita yang halus budi pekertinya. Sementara itu, Siang Gie Coen makan dengan bernapsu. Ia telah menghabiskan semangkok sayur dan empat mangkok nasi, tapi daging dan ikan tidak disentuh olehnya.

Di lain pihak, meskipun ia seorang toosoe, Sam Hong sendiri makan makanan berjiwa. Melihat nafsu makan Siang Gie Coen, ia segera menawarkan daging dan ikan kepada tamunya itu.

“Thio Cinjin,” kata si brewok, “Sebagai orang yang memuja Po sat, aku tidak makan-makanan berjiwa.”

“Ah! Aku lupa,” kata Sam Hong.

Dalam kalangan “agama siluman”, peraturan paling dipegang keras sekali. Anggauta “agama” itu setiap hari hanya diperbolehkan makan satu kali dan dilarang makan-makanan berjiwa. Peraturan itu sudah berjalan sedari jaman kerajaan Tong. Oleh sebab sepanjang masa pemerintah selalu berusaha untuk membasminya, sedang orang-orang rimba persilatan juga memandangnya rendah, maka anggauta-anggauta “agama” sesat sangat berhati-hati dalam segala sepak terjangnya.

Mereka tidak makan makanan berjiwa karena dilarang “agama” nya tapi terhadap dunia luar, mereka selalu mengatakan, bahwa mereka ciacay (hanya makan sayur-sayur) sebab menyembah Po sat atau Sang Buddha. Mereka tidak berani mengakui siapa sebenarnya mereka.

“Thio Cinjin, kau adalah penolong jiwaku,” kata Siang Gie Coen sesudah selesai bersantap. “Sesudah kau tahu siapa adanya aku, akupun tak perlu menggunakan tedeng-tedeng lagi. Aku adalah seorang anggauta Beng kauw yang mengabdi kepada Beng coen. Agama kami dibenci oleb kerajaan, dipandang rendah oleh partai-partai persilatan yang lurus dan bahkan diejek oleh orang-orang “sejalan hitam” (kawanan perampok). Tapi Thio Cinjia sendiri, malah sesudah mengetahui asal usul kami, masih rela menyodorkan tangan untuk menolong kami. Budi yang sangat besar itu tak akan dapat dibalas.”

Pemimpin besar dari “agama” sesat itu dinamakan “Mo-ni”, sedang para penganut memanggilnya dengan panggilan “Beng coen”. Mereka menamakan “agama” mereka sebagai “Beng kauw.” (Agama terang), sedang orang luar memberi nama “Mo kauw” atau Agama siluman.

Sam Hong mengawasi Gie Coen dengan mata tajam dan berkata, “Siang Enghiong…”

“Lo too ya,” memutus Gie Coen, “janganlah kau menggunakan kata-kata enghiong. Panggil saja namaku, Gie Coen.”

“Baiklah,” kata guru besar itu sambil mengangguk. “Gie Coen, berapa usiamu sekarang?”

“Baru masuk dua puluh tahun,” jawabnya.

Sam Hong mengawasi pemuda itu. Ia kelihatannya banyak lebih tua lantaran berewoknya yang tebal. Dari suara dan gerak-geriknya, ia memang masih muda sekali.

Sam Hong manggut-manggutkan kepalanya. “Kau baru saja masuk usia dewasa, masih muda sekali,” katanya. “Biarpun kau sudah masuk kedalam agama sesat, masih belum terlalu dalam. Jika kau mau memutar kepala, masih belum terlambat. Aku ingin mempersembahkankan dengan beberapa perkataan dan aku harap kau tidak menjadi gusar.”

“Ajaran Tootiang tentulah juga berharga seperti emas dan batu kumala,” kata pemuda itu sambil membungkuk. “Mana bisa aku merasa gusar?”

“Baiklah”, kata guru besar itu. “Aku ingin menasehati supaya kau cepat-cepat mencuci hari dan mengubah muka supaya kau segera meninggalkan agama yang sesat itu. Manakala kau tidak mencela Boe tong pay yang ilmunya cetek, aku akan memerintahkan supaya muridku yang kepala, yaitu Song Wan Kiauw, menerima kau sebegai murid. Di hari kamudian kau akan bisa mengangkat muka dan tidak seorangpun berani memandang rendah lagi kepadamu.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: