Kumpulan Cerita Silat

29/07/2008

Kisah Membunuh Naga (19)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 2:23 am

Kisah Membunuh Naga (19)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Boe Kie terus berlutut di depan kakek gurunya, begitupun di depan Wan Kiauw berlima, untuk manggut-manggut beberapa kali. Ia berkata pula, “Thay soehoe bersama paman semua telah menolong jiwa Boe Kie, maka selanjutnya Boe Kie mohon diajarkan ilmu silat supaya Boe Kie dapat membalaskan sakit hati ayah dan ibu kelak”

Sam Hong mengajak semua muridnya ke ruang dalam, di sini ia berkata kepada mereka itu, “Hawa dingin sudah masuk ke kepala, hati dan perut, tak tertolong dengan tenaga luar. Kelihatannya sia-sia belaka pengorbanan kita selama hampir empat puluh hari. Kenapa bisa terjadi begini, sungguh aku tidak mengerti…”

Semua orang mengasah otak, tapi sesudah sekian lama, belum juga ada yang bisa menebak sebab musababnya perubahan itu. Jika mau dikatakan, bahwa Soen yang Boe kek kang tidak dapat mengusir hawa dingin itu, mengapa ilmu tersebut memperlihatkan kefaedahannya selama tiga puluh enam hari dan baru gagal pada hari ke tiga puluh tujuh?

Mengapa sedang lain-lain bagian tubuhnya hangat hanya di embun-embunan, hati, dan tantian (perut, tiga dim dibawah pusar) yang dingin luar biasa?

Selang beberapa saat lagi, tiba-tiba Jie Lian Cioe berkata, “Soehoe, apa tidak bisa jadi, sesudah kena pukulan Hian beng Sin ciang, Boe Kie mengerahkan Lweekang untuk melawannya dan karena salah menggunakan tenaga dalam, racun dingin itu dan tenaga dalamnya melekat satu sama lain, sehingga tidak dapat disedot lagi?”

Sam Hong menggelengkan kepala. “Tak mungkin,” jawabnya. “Andai kata Coei San telah mengajarnya, anak yang masih begitu kecil pasti tidak mempunyai Lweekang yang begitu berarti.”

“Soehoe keliru,” membantah Lian Cioe. “Tenaga dalam Boe Kie tidak lemah.” Ia segera menceritakan, cara bagaimana dengan pukuan Sin Liong Pa bwee, bocah itu telah merobohkan seorang murid dari Boe san pang.

Sang guru menepuk lututnya. “Benar, kau benar!” katanya. “Anak ini tentu sudah mempelajari ilmu silatnya Kim mo Say ong Cia Soen yang aneh-aneh. Kalau Lweakangnya diperoleh dari Coei San, sehingga ia memiliki tenaga dalam dari partai kita sendiri, maka pengobatan dengan Soen yang Boe kek kang sudah pasti akan mempercepat kesembuhannya dan tak mungkin akan timbul perubahan yang sangat luar biasa, Tapi…ilmu silat apakah yang dimiliki Cia Soen?”

Ia segera kembali ke kamar Boe Kie dan berkata, “Nak, Thay soe hoe ingin menyelidiki ilmu silat mu. Cobalah kau memukul aku tiga kali.”

“Aku tidak berani memukul Thay soehoe,” kata Boe Kie.

Sang kakek guru bersenyum. “Jika kau tidak memukul, cara bagaimana aku bisa mendapat tahu cetek dalamnya ilmu silatmu?” katanya. “Sebelum mengetahui itu, tak dapat aku menurunkan pelajaran yang lebih tinggi. Pukullah dengan seantero tenaga.”

“Kalau begitu baiklah,” kata si bocah. “Tapi Thay soehoe jangan membalas.”

“Jangan kuatir,” kata Sam Hong.

Boe Kie lantas saja miringkan badannya, tangan kanannya dari atas menyabet ke bawah, ke sebelah kiri. Itulah pukulan Kian liong Cay tian (Melihat naga di sawah) dari Hang liong Sip pat ciang. Sang kakek guru segera menyambut dengan tangan kirinya dan tenaga pukulan si bocah lantas saja punah.

Sam Hong manggut-manggutkan kepalanya. “Tidak jelek,” katanya.

Begitu lekas pukulan pertama punah, Boe Kie memutar tubuh dan lalu menyabet pula dengan telapak tangannya, dengan jurus Sin liong Pa bwee. Sam Hong menyambutnya dengan tangan kanan dan untuk kedua kalinya, pukulan Boe Kie punah seperti masuk ke dalam laut.

“Bagus!” memuji sang kakek guru. “Bahwa anak sekecil kau bisa mempunyai tenaga yang sebesar itu, sungguh-sungguh luar biasa.”

Paras muka si bocah berubah merah. “Thay soehoe, sudahlah! Aku tak mau memukul lagi”

“Kedua pukulanmu sangat bagus, coba lagi satu kali,” memerintah Sam Hong.

Boe Kie segera membuat sebuah lingkaran dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya mendorong ke depan. Itulah pukulan Kang liong Yoe hwie (Penyesalan sang naga) dari Hang liong Sip pat ciang.

Waktu menyambutnya, Sam Hong merasa bahwa pukulan itu tidak selihai dua pukulan yang lebih dulu. Ia menggelengkan kepala seraya berkata, “Pukulan ini kurang bagus. Mungkin kau belum mahir.”

“Bukan, bukan aku, tapi Giehoe yang belum mahir,” membantah Boe Kim. “Gie hoe telah mengatakan, bahwa Hang liong sip pat ciang adalah salah satu ilmu pukulan yang terlihai di dalam dunia. Sayang, ia hanya mengenal sebagian kecil saja. Giehoe juga mengatakan, bahwa ia sendiri masih belum dapat menyelami intisari dari pada Kang liong Yoe hwie, tapi ia mengajarkannya juga kepadaku, dengan pengharapan bahwa di kemudian hari aku sendiri bisa menyelaminya.”

Sam Hang mengangguk “Ya.” katanya. “sekarang aku mengerti. Tapi dalam pertempuran, tak boleh kau menggunakan pukulan itu, karena kau sendiri bisa celaka.”

“Thay soehoe, aku memohon kau untuk mengajar aku ilmu silat itu,” kata Boe Kie.

“Aku sendiri tak mampu,” jawabnya. “Semenjak jaman Kwee Ceng, Kwee Thayhiap membela kota Siangyang, kecuali Kwee Tayhiap sendiri, ilmu silat itu sudah menghilang dari rimba persilatan.” Sesudah itu ia lalu menanyakan semua ilmu yang sudah dipelajari Boe Kie dan anak itu menerangkan sejelas-jelasnya.

Sesudah mendengar habis, Sam Hong merasa kagum akan luasnya pengetahuan Cia Soen. Dapat dikatakan, bahwa ia mengenal semua ilmu silat yang terdapat dalam rimba persilatan. Hanya sayang, ia tidak menyelami ilmu-ilmu itu sampai didasarnya, akan kemudian mengubah ilmu silatnya sendiri, seperti lazimnya diperbuat oleh guru-guru besar. Oleh karena begitu, biarpun ilmunya beraneka warna tak satupun yang dipelajari sampai dipuncaknya. Tak usah dikatakan lagi, bahwa dalam usia yang semuda itu, Boe Kie belum bisa mewarisi kepandaian ayah angkatnya. Apa yang sudah dilakukannya ialah menghafal kitab kitab dan Kouw koat (teori) dari macam-macam ilmu silat. Ia menghafal dengan lancar sekali. Beberapa macam ilmu silat bahkan belum pernah didengar oleh Sam Hong sendiri.

Dalam tekadnya yang bulat untuk membalas sakit hati terhadap Seng Koen, Cia Soen telah membinasakan banyak jago dari berbagai partai atau golongan persilatan. Saban kali membunuh orang, ia selalu merampas kitab ilmu silat yang dimiliki oleh korbannya itu, supaya kalau belakangan ia mesti bertempur dengan kawan-kawan sikorban. Ia sudah mengenal ilmu silat musuhnya. Itulah sebabnya mengapa ia memiliki ilmu silat yang begitu banyak corak ragamnya dan ilmu-ilmu itu semua diturunkan kepada Boe Kie.

Tapi Boe Kie hanya mempelajari teori dan tidak mengenal prakteknya. Ia belum bisa bersilat berdasarkan teori itu dan masih gelap akan perubahan-perubahan yang tersebut dalam Kouw koat itu.

Sam Hong manggut-manggutkan kepalanya. Ia mengerti, bahwa dengan berbuat begitu, Cia Soen memperlihatkan cintanya yang tidak terbatas terhadap anak pungutnya. Cia Soen tahu, bahwa dalam tempo beberapa tahun, Boe Kie tak akan bisa mempelajari semua ilmu silatnya.

Sang tempo sudah sangat mendesak, karena Boe Kie mesti segera pulang ke Tionggoan. Maka ia sudah menurunkan semua Kouw koat, dengan pengharapan bahwa di kemudian hari, dengan dibantu kecerdasannya, anak itu bisa mengerti sendiri teori-teori yang sudah dihapalnya.

Sesudah menyambut tiga pukulan Boe Kie, Sam Hong tahu, bahwa tenaga dalam bocah tidak murni. Sebagai akibatnya, Lweekang dingin dari Hian beng Sin ciang tidak dapat disedot keluar lagi.

Dengan hati masgul kakek guru itu duduk terpekur sambil mengasah otak. Selang sekian lama, ia berkata dengan suara perlahan, “Untuk mengeluarkan racun itu, orang lain tidak akan dapat membantunya lagi. Jalan satu-satunya, ia harus melatih diri dengan Lweekang tertinggi dari Kioe yang Cin keng. Tapi sayang sungguh, bahwa pada waktu mendiang guruku yaitu Kak wan Taysoe, menghafal kitab tersebut, aku masih sangat muda dan tidak bisa ingat seanteronya. Biarpun sudah berulang kali aku menutup diri merenungkannya sekian lama, belum juga aku dapat menyelami seluruhnya. Sekarang, karena tiada jalan lain, biarlah ia berlatih sendiri dengan apa yang aku mampu. Jika ia bisa hidup lebih lama satu hari, biarlah ia hidup lebih lama satu hari.”

Sesudah itu, ia segera mengajar Boe Kie dengan Kouw koat dan cara berlatih dari Kioe yang Cin-kang (Ilmu senjata dari Kioe yang). Ilmu itu, yang kelihatannya sederhana, sangat dalam dan banyak sekali perubahannya. Dengan menjalankan pernapasan menurut peraturan yang sudah ditetapkan, Cin kie (Hawa murni) yang hangat dari tantian mengalir ke berbagai jalan darah dan kemudian kembali dan berkumpul pula sekitar tantian. Pengaliran “hawa murni” dari tantian ke tantian merupakan satu putaran dan putaran itu diulang dan diulang lagi.

Sesudah selesai satu putaran, orang yang berlatih lantas saja merasa seluruh tubuhnya nyaman luar biasa. “Hawa-murni” itu yang melayang-layang dan mengalir bagaikan asap rokok dinamakan juga In-Oen Cie kie (Hawa Ungu dari Langit dan Bumi). Jika latihan seseorang sudah capai tingkat yang tinggi, In oen Cie-kie bisa mengusir racun dingin ditatian dan di berbagai jalan darah. Dalam rimba persilatan, asas-asas Lweekang dari berbagai partai itu tidak banyak bedanya. Yang berbeda ialah cara berlatihnya. Sebegitu jauh mengenai tenaga, Boetong Sin-hoat dari Thio Sam Hong jarang tandingannya di dalam dunia.

Sesudah berlatih dua tahun lebih, Boe Kie sudah dapat mengumpulkan banyak juga In oen Cin Kie ditantiannya. Tapi karena racun dingin terlampau hebat, maka kehangatan dari “hawa murni” itu tidak berhasil mengusirnya. Sebaliknya dari pada sembuh, sinar hijau di mukanya kian hari kian tua dan setiap kali racun dingin itu mengamuk, ia menderita bukan main.

Selama dua tahun, Thio Sam Hong memeras tenaga dan pikiran untuk mengajar, menilik dan merawat cucu muridnya itu. Song Wan Kiauw dan saudara-saudara sepenguruannya telah menjelajah keberbagai tempat untuk mencari obat-obatan yang mujarab dan langka terdapat di dalam dunia. Mereka membawa pulang Jin som yang sudah berusia lebih seratus tahun, Sioe ouw, Hok leng dari Soat san dan sebagainya untuk diberikan kepada bocah itu. Tapi semua obat-obatan itu bagaikan batu yang dilemparkan ke dalam lautan. Makin hari anak itu jadi makin kurus dan pucat.

Guna menyenangkan orang-orang yang mencintainya, Boe Kie selalu memaksakan diri untuk bergembira. Tapi sang kakek guru dan paman-paman itu merasa, bahwa turunan tunggal dari Thio Coei San sudah tak dapat ditolong lagi.

Selagi repot mengobati lukanya, tokoh-tokoh Boe tong pay tak punya tempo lagi untuk mencari musuh-musuh yang telah mencelakakan Jie Thay Giam dan Boe Kie. Selama dua tahun itu, Kauw coe Peh bie kauw, In Thian Ceng, berulang kali mengirim utusan untuk menengok cucu luarnya dan menghadiahkan banyak barang-barang berharga. Tapi mengingat bahwa secara tidak langsung Jie Thay Giam dan Thio Coei San celaka dalam tangan Peh bie kauw, pendekar-pendekar Boe tong selalu mengirim pulang barang-barang itu. Bahkan satu kali Boh Seng Kok menghajar juga utusan In Thian Ceng. Mulai waktu itu, In Thian Ceng tidak pernah mengirim orang lagi.

Tanpa terasa hari perayaan Tiong cioe tiba kembali. Menurut kebiasaan, Thio Sam Hong dan murid muridnya merayakan hari itu. Tapi pada kali sebelum mereka duduk di meja perjamuan, penyakit Boe Kie mendadak kambuh lagi. Selebar mukanya bersinar hijau dan tubuhnya menggigil. Sebab kuatir merusak kegembiraan kakek guru dan paman-pamannya, sambil mengertak gigi, ia coba mempertahankan diri. Tapi gejala kumatnya penyakit sudah tentu tidak dapat disembunyikan. Dengan penuh rasa cinta, In Lie Heng mendukung keponakan itu ke kamarnya, menyelimutinya dan membuat satu perapian.

Tiba tiba Thio Sam Hong berkata, “Besok bersama Boe Kie, aku akan pergi ke Siauw lim sie di Siongsan”

Semua murid Thio Sam Hong tertegun. Mereka mengerti, bahwa dalam keadaan mendesak dan karena cintanya terhadap si cucu murid, guru itu rela menundukkan kepala di hadapan Siaum Lim sie untuk meminta pertolongan.

Mereka mengerti bahwa sang guru mengharap, dengan Kioe yang Cin keng yang lengkap, jiwa Boe Kie akan bisa ditolong. Sebagaimana diketahui, kioe yang Cin keng yang dimiliki Thio Sam Hong masih ada kekurangannya.

Dua tahun berselang, waktu Thio Sam Hong merayakan hari ulang tahunnya yang ke seratus, perhubungan antara Siauw lim dan Boe tong telah menjadi retak. Dengan kedudukannya sebagai seorang guru besar dari sebuah partai ternama, kepergian Thio Sam Hong ke Siauw lim sie untuk meminta pertolongan, sungguh akan menurunkan derajat Boe tong pay. Akan tetapi, demi cinta yang tidak mengenal batas, guru besar itu telah menyampingkan segala nama kosong. Sesudah tertegun, semua muridnya menghela napas dengan rasa kagum akan kebesaran jiwa sang guru.

Sebenarnya, Go bie paypun mengenal sebagian Kioe yang Cin-keng. Akin tetapi, Biat coat Soe thay sungkan menemui orang luar. Beberapa kali, Sam Hong telah memerintahkan in Lie Heng membawa suratnya ke gunung Go bie san. Tapi pendeta wanita itu tidak menggubris dan memulangkan surat surat itu, tanpa dibuka. Maka itulah jalan satu-satunya yang masih terbuka ialah minta pertolongan Siauw Lim sie.

Sam Hong mengerti, bahwa jika ia cuma mengutus murid-muridnya ke Siauw lim sie, Kong-boen Taysoe beramai pasti tidak akan meladeni. Dari sebab itu, ia telah mengambil keputusan untuk pergi sendiri.

Demikianlah, perjamuan itu diliputi dengan kemasgulan dan sesudah meneguk beberapa cawan arak, mereka lalu bubar.

Pada keesokan barinya, pagi-pagi benar guru itu berangkat dengan mengajak Boe Kie, diantar oleh muridnya sampai di kaki gunung. Song Wan Kiauw dan saudara-saudaranya sebenarnya ingin turut serta, tetapi dilarang karena Sam Hong kuatir datangnya banyak orang akan menimbulkan kecurigaan bagi pihak Siauw lim.

Dengan masing-masing menunggang keledai, si kakek dan si bocah menuju ke arah utara. Jarak antara Siauw Lim dan Boe-tong, dua pusat persilatan pada jaman itu, tidak terlalu jauh. Dari Boe-tong-san Ouw-pak utara, ke Siong-san di Ho lam barat, hanya memerlukan pelayaran beberapa hari. Sesudah menyeberangi sungai Han soe di Loo ho kow, mereka tiba di Lam yang. Terus menuju ke utara sampai di Nie-coo dan sesudah membelok kearah barat, tibalah mereka di gunung Siong san.

Sesudah mendaki Siauw sit san, mereka menambat keledai di dahan pohon dan meneruskan perjalanan dengan jalan kaki. Sambil berjalan, Sam Hong ingat kejadian pada delapan puluh tahun lebih yang lalu, kapan dengan memikul dua tahang mendiang gurunya, Kak wan Taysoe mengajak ia dan Kwee Siang melarikan diri dari Siauw Lim sie. Kejadian itu sudah hampir seabad, tapi seolah-olah baru terjadi kemarin. Ia menghela napas dan hatinya terharu bukan main, karena di luar semua perhitungan, hari ini ia kembali ke tempat dulu. Ia mengawasi puncak-puncak gunung dan kuil Siauw lim sie yang tiada berbeda seperti ada delapan puluh tahun berselang. Tapi orang-orang yang dicintainya yaitu Kak wan dan Kwee Siang, sudah tidak ada lagi di dalam dunia.

Tak lama kemudian, mereka tiba di pendopo Lip soat teng. Kebetulan, dua pendeta kelihatan mendatangi. Sam Hong menghampiri dan sesudah memberi hormat, ia berkata, “Aku minta pertolongan soehoe (tuan pendeta) untuk melaporkan kepada Hong thio Taysoe (kepala kuil), bahwa Thio Sam Hong minta bertemu.”

Mendengar nama “Thio Sam Hong,” kedua pendeta itu terkejut. Dengan mata membelalak, mereka mengawasi kakek itu yang bertubuh tinggi besar, berambut dan berjenggot putih, sedang mukanya yang bersemu merah selalu bersenyum-senyum. Di lain saat, mereka tercengang karena orang yang mengaku bernama Thio Sam Hong itu, mengenakan jubah imam yang mesum.

Mereka tak tahu, bahwa guru besar itu memang seorang sembarangan, sembarangan cara-caranya dan sembarangan pula dalam berpakaiannya. Maka itulah, dibelakangnya sejumlah orang Kangouw menyulukinya sebagai “Tah-tah Toojin” (si imam mesum) dan ada juga orang yang menamakanya “Thio Tah-tah”

Melihat begitu, kedua pendeta itu agak kurang percaya. “Apa kau Thio…Thio Cinjin dari Boe tong pay?” tanya salah seorang.

Sam Hong tertawa. “Apa ada Thio Sam Hong palsu?” tanyanya.

Mendengar jawaban itu yang bernada guyon-guyon dan sama sekali bebas dari keangkeran seorang guru besar dari sebuah partai persilatan yang besar, si pendeta makin tidak percaya.

“Apa kau tidak main-main ?” tanyanya pula.

Sam Hong kembali tertawa. “Apakah Thio Sam Hong berharga sedemikian besar, sehingga ia mesti dipalsukan?” tanyanya pula.

Dengan penuh kesangsian, kedua pendeta itu berlari-lari ke arah kuil untuk melaporkan. Sesudah lewat sekian lama, pintu di tengah kuil terbuka dan Hong thio Kong boen Taysoe muncul bersama-sama Kong tie dan Kong seng. Di belakang mereka mengikuti lima orang pendeta tua yang mengenakan jubah pertapaan warna kuning muda. Sam Hong tahu, bahwa mereka, adalah anggauta angqauta dari Tat mo ih dan tingkatan mereka mungkin lebih tinggi daripada Kong boen dan saudara-saudara sepenguruannya. Mereka itu biasanya menyembunyikan diri di dalam kuil untuk mempelajari dan merenungkan ilmu silat Siauw lim sie. Sebegitu jauh, anggauta-anggauta tat mo ih tidak pernah mencampuri urusan lain. Tapi sekarang, rupanya karena mendengar kedatangan orang-orang Boe tong pay, Kong boen sudah merasa perlu untuk mengajak kelima tetua itu.

Sam Hong segera bertindak keluar dari pendopo Lip soat teng dan sambil memberi hormat, ia berkata, “Siauwtoo merasa berat untuk menerima sambutan dari para Taysoe.”

(Siauwtoo = Aku si imam kecil)

Kong boen dan yang lain-lain segera merangkap tangan.

“Kedatangan Thio Cinjin di luar dugaan siauwceng (aku si pendeta kecil),” kata Kong boen. “‘Apakah maksud kedatangan Cinjin?”

“Ingin minta pertolongan.” jawabnya.

“Duduklah, duduklah,” mengundang Kong boen. Sesudah duduk di pendopo itu dan disuguhkan teh, di dalam hati, Sam Hong merasa mendongkol, “Biar bagaimanapun juga, aku adalah guru besar dari sebuah partai,” pikirnya. “Tingkatanku lebih tinggi daripada kamu. Mengapa kamu tidak mengundang aku masuk di kuil?” Tapi sebagai manusia yang sembarangan dan terbuka, perlakuan yang kurang pantas itu tidak dibuat pikiran olehnya.

Tapi Kong boen sendiri rupanya sudah merasakan adanya ketidakpantasan. Katanya, “Menurut adat- istiadat, kami harus mengundang Thio Cin jin masuk ke dalam kuil. Tapi hal itu tidak dapat dilakukan, karena dulu, di waktu muda, Thio cin jin pernah meninggalkan Siauw lim sie tanpa pamitan. Peraturan kuil kami, yang sudah dipertahankan selama ratusan tahun, tentulah juga diketahui Thio Cinjin. Setiap murid yang melarikan diri atau murid yang berkhianat, seumur hidupnya tidak dipermisikan menginjak lagi kuil kami. Menurut peraturan itu, siapa yang melanggarnya harus dikutungkan kakinya.”

Thio Sam Hong tertawa terbahak-bahak. “Oh, begitu ” katanya. “Memang benar, waktu masih kecil, Siauwtoo pernah berdiam di Siauw lim sie dan merawat Kak wan Taysoe. Akan tetapi, apa yang dilakukan Siauwtoo hanyalah menyapu lantai dan masak air. Siauwtoo belum pernah mencukur rambut dan juga belum pernah mengangkat guru. Maka itu, pada hakekatnya orang tidak dapat mengatakan, bahwa Siauwtoo adalah murid Siauw lim sie.”

Kong tie tertawa dingin. “Tapi tidak dapat disangkal bahwa ilmu silat Thio Cinjin adalah curian dari Siauw Lim sie,” katanya.

Darah guru besar itu lantas saja naik, tapi di lain saat, ia dapat memulihkan ketenangannya. Pikirnya, “Biarpun ilmu silat Boe tong adalah hasil jerih payahku selama empat puluh tahun, tapi jika mau diusut sumbernya, memang juga bersumber dari Siauw lim sie. Jika Kak wan Taysoe tidak menghadiahkan aku dengan sepasang Loohan besi, mungkin sekali aku tak akan bisa menjadi seorang ahli silat. Maka itu kalau dikatakan ilmu silatku bersumber dari Siauw lim sie, pernyataan itu tidak terlalu salah.”

Memikir begitu, ia lantas saja berkata, “Kedatangan Siauwtoo justeru untuk persoalan itu.”

Kong boen dan Kong tie saling mengawasi. “Aku mohon Thio Cinjin suka menjelaskannya.” Kata Kong boen.

“Barusan Kong tie Taysoe mengatakan, bahwa ilmu silat Siauwtoo didapat dari Siauw lim sie,” menerangkan Sam Hong. “Pernyataan itu adalah benar. Dulu, Siauwtoo telah merawat Kak wan Taysoe dan beliau telah menurunkan ilmu dari kitab Kioe yang Cin keng yang ditulis sendiri oleh Tat mo Loocauw kepadaku. Akan tetapi, karena pada waktu itu Siauwtoo masih kecil, maka apa yang didapatkan masih banyak kekurangannya dan hal itu merupakan penyesalan besar dalam hatiku. Waktu Kak wan Taysoe menghafal Cin keng, ada tiga orang yang mendengarnya. Yang satu adalah pendiri Go bie pay, Kwee Siang Liehiap, yang lain Boe Sek Siansoe dan yang ketiga ialah Siauwtoo sendiri. Karena berusia paling muda, berotak paling timpul dan waktu itu Siauwtoo belum pernah belajar silat, maka apa yang didapatkan Siauwtoo paling sedikit.”

“Mungkin sekali tidak sedemikian,” kata Kong tie dengan suara dingin. “Sedari kecil Thio Cin jin merawat Kak wan. Selama beberapa tahun itu, apa tidak bisa jadi diam-diam Kak wan telah menurunkan banyak ilmu silat kepada Thio Cinjin? Sekarang, nama Boe tong pay menggetarkan seluruh jagat dan menurut pendapatku, semua itu ialah hadiah dari Kak wan.”

Tingkatan Kak wan Taysoe lebih tinggi tiga tingkat daripada Kong tie. Menutut pantas, ia harus menggunakan istilah “Toa soesiok couw.” Akan tetapi, lantaran Kak wan meninggalkan Siauw lim sie di tengah jalan dan namanya sudah dicoret, maka dalam pembicaraan, Kong tie sudah tidak menggunakan istilah yang menghormat. Tapi Thio Sam Hong sendiri buru-buru bangun berdiri dan berkata sambil membungkuk “Budi Siansoe (mendiang guru) yang sangat besar, selalu tak dapat dilupakan Siauwtoo.” Sikapnya itu ialah untuk menghormat mendiang gurunya.

Di antara empat Seng ceng (pendeta suci) dari Siauw lim sie, yang berhati paling mulia ialah Kong kian Taysoe. Hanya sayang siang-siang ia sudah meninggal dunia. Kong boen seorang pintar dan bijaksana, rasa girang dan gusarnya jarang diutarakan pada paras mukanya. Kong seng seorang sembrono dan polos sering sering bertindak atau berbicara seenaknya saja. Antara mereka itu Kong tie lah yang berpemandangan paling sempit.

Sering-sering Kong tie merasa mendongkol, karena di dalam rimba persilatan, nama Boe tong sudah berendeng dengan Siauw Lim, sedang menurut anggapannya, ilmu silat Boe tong adalah “curian” dari Siauw lim sie.

Kunjungan Sam Hong pada hari itu dianggapnya bertujuan untuk membalas sakit hati Thio Coei San. Di samping itu, masih ada lain hal yang dibuat ganjalan olehnya. Sebagaimana diketahui sebelum membunuh diri, In So So telah berlagak membisiki sembunyinya Cia Soen dikuping Kong boen. Siasat itu siasat sangat beracun. Selama dua tahun, tiada henti hentinya jago-jago rimba persilatan mengunjungi Siauw Lim sie untuk menanyakan di mana adanya Cia Soen. Kong boen bersumpah keras keras bahwa ia tidak tahu. Tapi pada hari itu, di ruang besar “Giok hie koan”, semua mata juga telah melihat, bahwa So So telah membisikkan sesuatu di kupingnya. Siapa yang mau percaya keterangan Kong boen?

Selama dua tahun, sebab gara-gara itu, banyak pertempuran telah terjadi. Tamu-tamu banyak yang binasa atau terluka, tapi pihak Siauw lim pun tidak bebas dari kerusakan. Dan kalau dihitung-hitung, menurut pendapat Kong tie yang menanam bibit penyakit ialah Boe tong pay.

Sekarang, di luar dugaan Thio Sam Hong datang sendiri. Dapat dimengerti, jika Kong tie sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik itu untuk melampiaskan rasa mendongkolnya. “Thio Cinjin sudah mengaku, bahwa ilmu silat Boe tong adalah titisan dari Siauw lim sim,” katanya pula. “Hanya sayang pengakuan itu tidak didengar oleh lain orang.”

Tapi, walaupun diejek, Sam Hong tenang luar biasa. “Ilmu-ilmu silat di kolong langit sebenarnya bersumber satu,” katanya dengan suara sabar. “Selama ratusan, selama ribuan tahun, tokoh-tokoh rimba persilatan memperkembangkan, memperbaiki dan menambal kekurangan-kekurangan yang terdapat dalm ilmu-ilmu silat. Maka itu, di waktu sekarang, sukarlah dikatakan ilmu silat mana yang benar-benar merupakan sumber dari semua ilmu silat. Tapi, bahwa Siauw lim pay merupakan pemimpin dari rimba persilatan, adalah kenyataan yang diakui oleh semua orang. Hari ini, kedatangan Siauwtoo justeru karena mengagumi ilmu silat dari partai kalian. Siauwtoo mengakui kekurangan sendiri, makanya ingin minta pelajaran dari para Taysoe..”

Kong boen dan yang lain-lain terkejut. Mereka menafsirkan, bahwa kata-kata “meminta pelajaran” sebagai suatu tantangan. Paras muka mereka lantas saja berubah dan untuk beberapa saat, keadaan sunyi. Akhirnya, yang bicara paling dulu adalah Kong seng, si sembrono. “Baiklah, toosoe tua,” katanya “Jika kau mau menjajal kepandaian kami, akupun tidak takut.”

“Kalian hendaknya jangan salah mengerti ” kata Sam Hong cepat-cepat, “Siauwtoo mengatakan mau minta pelajaran, dan pernyataan itu adalah hal yang sesungguhnya. Dalam mempelajari Kioe yang Cin keng yang diturunkan oleh Siansoe, ada banyak bagian yang belum siauwtoo ketahui. Jika kalian sudi mengajar bagian-bagian yang kurang itu, siauwtoo akan merasa berterima kasih tidak habisnya.” Sesudah berkata begitu, ia bangun berdiri dan membungkuk.

Pernyataan Thio Sam Hong mengejutkan semua orang. Thio Sam Hong adalah pendiri partai yang ilmu silatnya tersohor di seluruh jagat. Sesudah mencapai usia seratus tahun lebih, baik nama dan kepandaian maupun tingkatan, pada jaman itu tiada orang yang bisa merendenginya. Maka itu, adalah suatu keanehan, bahwa guru besar itu meminta pelajaran dari pendeta-pendeta Siauw lim sie.

Kong boen buru-buru bangun berdiri dan membalas hormat. “Thio Cinjin, janganlah Cinjin ber guyon-guyon,” katanya. “Kami adalah orang-oiang yang tingkatannya rendah dan pelajarannya cetek. Bagaimana kami bisa memberi pelajaran?”

Sam Hong mengerti bahwa pernyataannya terlalu aneh. Maka itu ia lantas saja menceriterakan sejelas-jelasnya duduknya persoalan. Ia menandaskan, bahwa kedatangannya itu ialah untuk menolong jiwa Boe Kie. la mengatakan bahwa ia bersedia memberitahukan pihak Siauw lim segala pelajaran yang telah diperolehnya dari Kioe yang Cin keng dengan harapan, bahwa pihak Siauw lim sudi memberitahukannya bagian bagian Kioe yang Cin keng yang belum dimengerti olehnya.

Sesudah berpikir agak Iama, Kong boen berkata, “Semenjak ribuan tahun, di antara tujuh puluh dua macam ilmu silat Siauw lim sie, belum pernah ada seorang murid yang berhasil mempelajari lebih daripada duabelas macam.”

“Ilmu yang dimiliki Thio Cinjin memang ilmu yang sangat luar biasa. Akan tetapi, ilmu silat yang diwariskan oleh leluhur partai kami dengan sesungguhnya sudah terlalu banyak, sehingga, untuk mempelajari sepersepuluhnya saja, sudah tidak gampang. Thio Cinjin menyatakan bersedia untuk menukar ilmu dengan partai kami dan untuk kesudian itu, kami merasa berterima kasih. Tapi jika dipandang dari sudut kami, kami sebenarnya tak perlu menambah ilmu, sebab kami sendiri sudah memiliki terlampau banyak.”

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula, “Ilmu silat Boe tong bersumber dari Siauw lim. Jika hari ini kedua belah pihak tukar menukar ilmu, maka di kemudian hari, orang-orang yang tidak tahu duduknya persoalan, akan mengatakan, bahwa meskipun ilmu silat Boe tong bersumber dari Siauw lim, Siauw lim pay pun pernah memperoleh pelajaran dari Thio Cinjin. Sebagai Ciang boenjin dari Siauw lim pay, desas desus yang semacam itu benar-benar tidak bisa dipertanggung jawabkan oleh Siauw ceng.”

Diam-diam Sam Hong menghela napas. Ia merasa menyesal, bahwa Kong boen Taysoe, salah seorang dari empat pendeta suci, bisa mempunyai pemandangan yang sedemikian sempit. Akan tetapi karena kedatangannya adalah untuk meminta bantuan orang, maka sebisa-bisanya ia menahan sabar dan tidak menegur. “Sam wie adalah Seng Ceng (Pendeta suci), selalu menaruh belas kasihan terhadap segenap umat manusia” Katanya dengan suara memohon, ” Jiwa anak ini tergantung atas selembar rambut. Maka itu, dengan mengingat welas asihnya Sang Buddha, siauwtoo memohon pertolongan dan untuk itu, siauwtoo berterima kasih tidak habisnya.”

Kong tie tertawa dingin. “Benar, memang benar seorang beribadat harus menaruh belas kasihan kepada, ummat manusia,” katanya dengan tawar. “Tapi berapa banyak murid Siauw lim telah binasa di dalam tangan Thio Coei San Thio Ngo hiap dan isterinya? Karena mereka berdua sudah membunuh diri sendiri, kamipun tidak mau menarik panjang urusan ini. Kalau mau ditarik panjang, kalau kami mau bersendirian, bahwa satu jiwa harus dibayar dengan satu jiwa pula, maka anak inipun harus diserahkan untuk membayar hutang.”

Semenjak tadi, Boe Kie yang berdiri disamping kakek gurunya sudah naik darah. Sebegitu jauh, sedapat dapatnya ia menekan hawa amarahtnya. Sekarang begitu mendengar disebutkanaya ayah- ibunya, ia tak bisa menahan sabar lagi.

“Thay soecouw,” katanya dengan suara nyaring, “hweeshio-hweeshio ini telah melaksanakan kematiannya ayah dan ibuku. Aku lebih suka lantas mati sekarang daripada memohon pertolongan mereka!”

“Diam!” bentak Sam Hong. “Di hadapan orang-orang tua, tak boleh kau ngaco-belo. Kematian ayah dan ibumu tiada sangkut pautnya dengan pendeta-pendeta suci itu.”

Boe Kie tidak berani membuka mulut lagi. Tapi sebagai seorang yang beradat angkuh, diam-diam ia mengambil keputusan untuk menolak pertolongan para pendeta itu, andaikata pertolongan itu mau diberikan.

Selagi Sam Hong menohon dan memohon lagi, tiba-tiba terdengar suara tindakan kuda dan lima orang penunggang kuda kelihatan mendatangi. Orang yang berjalan paling depan bertubuh tinggi besar dan beroman garang, macamnya seperti satu pagoda besi. Begitu tiba di depan Lip soat teng, ia menahan les dan berseru, “Bagus!”

Teriakan “bagus!” itu bagaikan suara halilintar, sehingga semua orang terkejut.

Sambil mengawasi Kong boen, orang itu berkata, “Bwee Ciok Kian dari Boe san pang ingin bertemu dengan Hong thio Siauw lim Sie. Harap kalian sudi melaporkannya.”

Kata kata itu yang diucapkan secara biasa, kedengaran sangat keras dan menusuk telinga. Rupanya, sebab memiliki suara keras yang wajar, ditambah dengan daya Lweekang, maka suaranya begitu hebat.

Mendengar nama Bwee Ciok Kian, Boe Kie lantas saja ingat peristiwa yang dialaminya pada dua tahun berselang, yaitu waktu ia menghajar Ho Losam yang telah mengancamnya dengan ulat berbisa. Melihat kegarangan orang itu, ia lalu bersembunyi di belakang sang kakek guru, karena kuatir dikenali.

Kong boen mengerutkan alis. Ia yakin, bahwa tujuan Bwee Ciok Kian adaiah untuk menyelidiki tempat sembunyinya Cia Soen. Mengingat begitu, ia jadi lebih mendongkol terhadap Coei San dan isterinya yang dianggapnya sudah menyebar bibit penyakit. “Ada urusan apa tuan mencari Hong thio kuil kami?”

Bwee Ciok Kian segera melompat turun dari tunggangannya, dan menjawab seraya merangkap kedua tangannya, “Aku ingin menyelidiki kediamannya seorang.”

“Seorang, pendeta tidak mencampuri urusan luar, ia hanya membaca kitab dan bersembahyang,” kata Kong tie. “Jika Bwee Pangcoe ingin menyelidiki kediaman seseorang, Siauw lim sie bukan tempatnya.”

“Bolehkah aku mendapat tahu, siapa adanya Taysoe ?” tanya Ciok Kian.

“She dan nama adalah sesuatu yang berada di luar badan dan seseorang boleh menggunakan ilmu apapun jua,” jawab Kong tie secara menyimpang.

“Hai! Nama saja Taysoe sungkan memberitahukan,” kata Bwee Ciok Kian dengan suara keras. “Kalau begitu, perjalananku ke Siong san percuma saja.”

Mendadak Kong tie mendapat serupa pikiran, “Belum tentu percuma.” katanya. “Bukankah Pangcoe ingin menyelidiki tempat kediaman Kim mo Say ong Cia Soen ?”

“Benar, puteraku yang sulung telah dibinasakan oleh Cia Soen” jawabnya, “Jika Taysoe dapat memberi petunjuk, segenap anggauta Boe san pang akan berterima kasih tidak habisnya.”

“Kedatangan Pangcoe di hari ini dan di waktu ini adalah kebetulan sekali,” kata Kong tie. “Jika datang kemarin atau datang besok, kedatangan Pangcoe akan percuma saja”

Mendengar itu, bukan main girangnya Bwee Ciok Kian. “Terima kasih atas petunjuk Tay-soe.” katanya.

“Dalam dunia hanya seorang yang tahu tempat bersembunyinya Kim mo Say ong Cia Soen,” kata Kong tie dengan suara perlahan “Orang itu ialah saudara kecil yang berdiri di situ. Dia adalah putera dari Thio Coei San, Thio Ngohiap, dari Boe tong pay.” Seraya berkata begitu, ia menuding Boe Kie.

Waktu Bwee Ciok Kian baru datang, Boe Kie ketakutan dan bersembunyi di belakang Thio Sam Hong. Tapi sekarang, melihat bahaya sudah tidak dapat dielakkan lagi dan juga mendengar disebutkannya nama ayahnya, ia jadi nekat. Ia merasa, bahwa sikap pengecut sangat menurunkan keangkeran mendiang ayahnya. Ia segera maju ke depan seraya berkata, “Bwee Pangcoe, kau sungguh tidak mengenal malu !”

Semua orang terkesiap. Siapapun juga tak pernah menduga, bahwa bocah kurus kering itu mempunyai nyali yang begitu besar.

“Bocah! Apa kau mau mampus!” bentak Bwee Ciok Kian.

Boe Kie keder, tapi sambil mengempos semangat, ia berkata, “Dua tahun lebih yang lalu kau telah menyuruh seorang yang barnama Ho Loosam menyamar sebagai murid Kay pang dan Ho Loosam itu telah coba menawan aku. Benarkah begitu? Mengapa kau menggunakan nama Kay pang? Benar-benar kau tidak mengenal malu!”

Paras muka Bwee Ciok Kian merah padam. Ia mengangkat tangannya, dan lalu menggaplok Boe Kie. Sebab kuatir membinasakan si bocah, ia hanya menggunakan sebagian tenaganya, tapi biarpun begitu, tenaganya yang memang besar sudah pasti tak akan dapat disambut oleh anak itu.

Boe Kie ingin melompat mundur, tapi sudah tidak keburu lagi sebab tenaga telapak tangan Bwee Ciok Kian sudah “menutup” seluruh tubuhnya dan napasnya lantas saja menyesak. Karena tiada jalan, ia terpaksa mengangkat tangannya untuk menangkis.

Mendadak, ia merasa dari punggungnya masuk semacam hawa yang halus dan hangat. Sesaat itu tangannya sudah kebentrok dengan tangan Bwee Pangcoe. “Plak!” tubuh Bwee Ciok Kian terhuyung tiga tindak dan sesudah mengerahkan tenaga Ciang kin toei, barulah ia bisa berdiri tetap.

Bukan main rasa gusar dan malunya Bwee Pangcoe. Mukanya yang merah padam berubah seperti warna hati babi. Dengan mata seolah-olah mengeluarkan api, ia menatap wajah Boe Kie.

Waktu Ho Loosam melaporkan kecelakaan yang menimpa atas dirinya, ia tidak mau percaya. Sekarangpun, bahkan sesudah mengalaminya sendiri, ia masih tidak percaya, bahwa bocah seperti Boe Kie mempunyai tenaga yang begitu hebat. Tafsiran satu-satunya ialah anak itu memiliki ilmu siluman.

Tapi para pendeta suci dari Siauw lim sie mengerti sebab-musabab dari kejadian yang aneh itu. Mereka tahu, bahwa Thio Sam Hong telah membantu cucu muridnya dengan ilmu Kat tee Coan kang (ilmu mengoperkan tenaga). Dengan menggunakan ilmu tersebut, tangan Boe Kie menyerupai sebatang tongkat yang, digunakan oleh Thio Sam Hong untuk menangkis serangan lawan. Kat tee Coan kang bukan ilmu yang terlalu sukar dipelajari. Tapi penggunaan yang begitu bagus, sehingga tidak dapat dilihat lawan, sungguh-sungguh luar biasa. Diam-diam ketiga pendeta suci mengakui, bahwa mereka tidak mampu melakuan apa yang dilakukan oleh Thio Sam Hong.

Di lain saat, Bwee Ciok Kian sudab membentak pula, “Setan kecil! Sambut lagi pukulanku !” Ia mengempos semangat dan menghantam dada Boe Kie dengan sepenuh tenaga. Sambaran tenaga itu sedemikian hebat, sehingga pakaian semua orang jadi bergoyang-goyang. Para pendeta yang kena disambar angin pukulan, merasa dada mereka menyesak dan buru-buru mengarahkan Lwee kang untuk memusnahkan tenaga itu.

Selama beberapa tahun Thio Sam Hong menutup diri untuk merenungkan ilmu silat dan Ilmu Thay kek kang, yang digubahnya sendiri sangat berbeda dengan Lweekang dari partai mana pun jua. Ia menggunakan kelemahan untuk melawan kekerasan, yang diam untuk menindas yang bergerak, yang sedikit untuk merobohkan yang banyak, yang kecil untuk menjatuhkan yang besar dan apa yang paling diutamakan ialah ilmu “meminjam tenaga, memukul tenaga.”

Melihat pukulan Bwee Ciok Kian yang sehebat itu, Sam Hong jadi mendongkol. “Kau sungguh kejam,” katanya di dalam hati. “Terhadap anak yang masih begitu kecil, kau turunkan tangan yang begitu berat. Jika aku tidak berada di sini, bukankah Boe Kie akan hancur luluh?” Buru-buru ia menempelkan telapak tangannya di punggung Boe Kie dan suatu daya Lweekang yang mahal dahsyat, yang didapat dari latihan hampir seratus tahun, lantas saja menerobos masuk ke dalam tubuh si bocah.

Sementara itu, Boe Kie sudah menyambut pukulan si raksasa dengan mengangkat tangan kanannya mendorong dengan tangan kirinya, yaitu dengan menggunakan jurus Kian liong Cay tian

“Plak!” kedua lengan tangan kebentrok, disusul dengan, “aaah!”, teriakan Bwee Ciok Kian yang tubuhnya terpental keluar bagaikan layangan putus. Sebelum orang tahu apa yang terjadi, badan si raksasa sudah jatuh di atas cabang pohon siong tua yang tingginya kira-kira lima tombak dari muka bumi. Begitu jatuh, si raksasa melupakan malu dan berteriak-teriak dengan ketakutan.

Meskipun hebat tenaga Sam Hom adalah tenaga “lembek”, sehingga Bwee Ciok Kian tak terluka sedikit pun jua. Tapi ia tidak berani melompat turun, karena tidak mengerti ilmunya mengentengkan badan. Maka itu dengan jantung berdebar keras, ia memeluk cabang pohon itu erat-erat.

Semua orang menyaksikan kejadian itu dengan rasa heran bercampur geli. Dua orang sebawahan Bwee Pangcoe yang mahir dalam ilmu ringan badan, lantas saja bergerak untuk menolong pemimpinnya.

Sementara itu, Sam Hong kelihatan bicara bisik-bisik di kuping Boe Kie yang manggut-manggutkan kepalanya. Si bocah lantas saja menjemput sebutir batu kecil dan lalu menyentilnya ke arah cabang pohon yang sedang dipeluk Bwee Pangcoe. Batu itu terbang dengan mengeluarkan bunyi mengaung, “Tak”…cabang yang dipeluk si raksasa patah dan tubuhnya yang seperti pagoda besi segera ambruk ke bawah! Boe Kie melompat dan menepuk punggung si korban.

Waktu melayang jatuh, Ciok Kian merasa pasti, bahwa ia akan terluka berat. Tapi di luar dugaan, ia dipapaki dengan tepukan dan badannya lantas ngapung lagi ke atas. Selagi melayang ke bawah untuk kedua kalinya, ia berniat menggunakan gerakan Lee hie hoan sin (Ikan gabus membalik badan) agar ia bisa hinggap di tanah di atas kedua kakinya. Tapi heran sungguh, tepukan Boe Kie membuat kaki tangannya lemas semua, sedikitpun tak dapat digerakkan. Demikianlah, ia jatuh ambruk dan sesudah itu, barulah ia dapat merangkak bangun.

Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa itu semua adalah perbuatan Thio Sam Hong. Begitu bangun terdiri, ia mengangkat kedua tangannya seraya berkata, “Enghiong kecil, aku merasa takluk terhadapmu.” Sehabis berkata begitu, buru-buru ia menyemplak kudanya dan mengajak orang-orangnya turun gunung secepat-cepatnya.

Kong boen dan yang lain-lain kaget tak kepalang. Sudah lama mendengar kelihaian Thio Sam Hong, tapi baru sekarang mereka menyaksikannya dan apa yang barusan dipertunjukkan oleh pendiri Boe tong pay itu adalah lebih hebat dari pada dugaan maka Kong boen sebenarnya tak sudi saling menukar ilmu, tapi sesudah melihat kelihaian Sam Hong, ia berkata dalam hatinya, “Biar pun aku berlatih lima puluh tahun lagi, aku tak akan dapat menandinginya. Ia ternyata memiliki ilmu yang luar biasa, ia berkepandaian jauh lebih tinggi dari pada aku, sehingga kalau toh aku tukar-menukar dengannya, aku tak rugi.”

Memikir begitu, in lantas saja bertanya, “Thio Cinjin, apakah ilmu Kat te Coan kang itu didapat dari Kioe yang Cin keng?”

“Bukan,” jawabnya. Ilmu ini dinamakan Thay kek kang, adalah ciptaan Siauwtoo. Aku yang telah menggubahnya dengan semacam ilmu pukulan yang diberi nama Thay kek loan Sip sam sit (Tigabelas jurus ilmu pukulan Thay kek) dan ilmu pukulan itu tiada sangkut pautnya dengan Kioe yang Cin keng. Manakala Thaysoe sudah menolong cucu muridku, aku tidak akan berlaku pelit dan bersedia untuk merundingkan ilmu pukulan itu bersama-sama kalian.”

Kong boen melirik Kong tie yang lantas saja mengangguk. “Kalau begitu, baiklah,” katanya, “Kami akan membuka rahasia Kioe yang Cin keng kepada Thio Kongcoe. Akan tetapi, kami hanya menurunkan ilmu itu kepada Thio Kongcoe seorang dan Thio Kongcoe tidak dapat mengajarkannya lagi kepada siapa pun jua. Disamping itu, Thio Kongcoe juga tidak boleh menggunakan ilmu tersebut untuk bertempur dengan murid-muridnya Siauw Iim sie. Dalam kedua perjanjian ini, kami menuntut sumpah yang berat dari Thio Kong coe”

Thio Sam Hong jadi girang sekali. “Boe Kie, kedua syarat itu boleh diterima baik,” katanya, “Ayolah, kau boleh bersumpah !”

Tapi anak itu menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak mau bersumpah dan aku pun tak sudi belajar ilmu mereka,” katanya.

Sang kakek guru terkejut, tapi ia lantas saja mengerti perasaan anak itu. Ia tahu, bahwa Boe Kie beradat keras dan lebih suka mati daripada memohon-mohon di hadapan musuhnya. Maka itu, ia lantas saja menuntun anak itu dan mengajaknya keluar Lip soat teng.

Sesudah terpisah agak jauh dari pendeta-pendeta Siauw lim tie, ia berkata, “Anak, waktu mau berangkat, kau sudah berjanji akan menerima pelajaran dari Siauw lim pay. Mengapa sekarang ini kau justeru melanggar janji?”

“Mereka ingin aku bersumpah untuk tidak menggunakan ilmu Kioe yang Cin keng terhadap murid-murid Siauw lim sie,” jawabnya. “dengan adanya sumpah itu, cara bagaimana di belakang hari aku bisa membalas dendam sakit hatinya kedua orang tuaku”

“Kalau sekarang ini kau menolak pelajaran Kioe yang Cin keng, dalam tempo setahun, kau akan meninggal dunia,” kata sang kakek guru. “Sesudah mati, bagaimana kau bisa menuntut balas? di dalam dunia terdapat banyak sekali ilmu silat yang sangat lihai. Jika nanti kau sudah berhasil, kau bisa membalas sakit hati dengan menggunakan ilmu silat yang lain. Tak perlu kau menggunakan ilmu Kioe yang Cin keng. Kalau sudah mencapai puncak kesempurnaan, ilmu manapun juga cukup untuk membalas sakit hatimu.”

Sesudah memikir sejenak, Boe Kie berkata “Baiklah, aku turut perintah Thay soehoe.” Mereka segera kembali ke Lip soat teng. Boe Kie lantas saja menekuk lutut dan berkata dengan suara nyaring, “Hari ini teecoe Thio Boe Kie menerima pelajaran Kioe yang Cin keng dari pendeta suci Siauw lim pay, dengan tujuan untuk mengobati luka. Teecoe berjanji tidak akan mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain dan juga tidak akan menggunakan ilmu itu untuk bertempur dengan murid-murid Siauw lim sie. Kalau teecoe melanggar janji, biarlah teecoe mati membunuh diri sendiri, seperti apa yang dilakukan oleh ayah dan ibuku.”

Sebagaimana diketahui, pada waktu baru terlahir, Boe Kie telah diberikan kepada Cia Soen dan ia menggunakan she Cia. Coei San dan isterinya ingin menunggu putera yang kedua guna menyambung turunan keluarga Thio. Sesudah kedua suami-isteri itu binasa dan mereka tak punya anak yang lain, maka atas anjuran Lian Cioe, Lie Heng dan lain-lain paman, Boe Kie menggunakan lagi she Thio.

Sesudah bersumpah, Boe Kie bangun berdiri.

“Di belakang hari aku akan menggunakan lain ilmu untuk membasmi hweeshio-hweeshio itu,” pikirnya dengan mendongkol.

Kong boen Thaysoe lantas saja merangkap kedua tangannya dan memuji, “Siancay, siancay Siauw siecoe (tuan kecil) telah bersumpah terlampau berat!” Ia berpaling kearah Thio Sam Hong dan berkata pula, “Kami akan mengajak Siauw sie coe kedalam kuil untuk memberikan pelajaran Sin kang. Tapi bagaimana dengan Thay kek Sip sam sit?”

“Aku minta kertas dan perabot tulis, dan di sini serta sekarang juga aku akan menulis Thay kek sip sam sit serta bagian-bagian Kioe yang Cinkeng yang dikenal olehku,” jawabnya.

“Kalau begitu, baiklah,” kata Kong boen yang lalu memberi hormat dan kemudian bersama yang lainnya, kembali ke kuil dengan mengajak Boe kie.

Sambil berjalan, bukan main rasa mendongkolnya Boe Kie. “Kioe yang kang Boe tong belum tentu kalah dari Kioe yang kang Siauw lim” Pikirnya. “Kalau Thay Soehoe hanya menukar Kioe yang kang dengan Kioe yang kang, itu baru namanya adil. Tapi kamu mau ditambahkan juga dengan Thay kek koen Sip sam sit. Di samping itu, sesudah mempelajari Kioe yang kang Boe tong, kamu boleh turunkan ilmu itu kepada orang lain dan juga boleh menggunakannya terhadap murid murid Boe tong. Tapi pihak Boe tong tidak boleh. Inilah sangat tidak adil. Karena gara-garaku seorang, Song Soepeh, Jie Soepeh dan yang lain-lain tidak akan bisa mengangkat kepala lagi. Hai! Bagaimana baiknya ?” la sangat berduka, tapi ia tidak berani membantah perintah sang kakek guru.

Setibanya di dalam kuil, Kong boen mengantar kan Boe Kie ke sebuah kamar kecil. “Siauw Siecoo mengasolah di sini,” katanya. “Aku akan segera mengirim orang untuk mengajar ilmu kepadamu.” Sehabis berkata begitu, ia mengebas dangan tangan jubahnya dan jalanan darah Sweehiat (jalanan darah yang jika tertotok menyebabkan tidur pulas) Boe Kie lantas saja tertotok.

Kong boen Taysoe adalab salah seorang dari empat pendeta suci dari Siauw lim sie. Tak usah dikatakan lagi, ia memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Begitu tertotok jalan darahnya, Boe Kie segera pulas dan menurut perhitungan, ia baru akan tersadar empat jam kemudian. Tapi Kong boen tak tahu, bahwa anak itu memiliki Lweekang luar biasa yang diturunkan oleh Cia Soen. Dan karena adanya Lweekang itu kedudukan jalan darahnya bisa berpindah-pindah. Dua tahun berselang, pada waktu ia dibawa oleb penculik yang menyamar sebagai serdadu Goan, jalan darah Ah hiatnya (jalan darah gagu) telah ditotok. Tapi toh, ia masih dapat berteriak “ayah!” Sekarangpun demikian. Baru pulas beberapa saat, ia sudah tersadar kemball.

Sesudah ingatannya pulih, ia mendengar suara Kong tie yang berkata, “Thio Tah tah adalah guru besar dari sebuah partai sehingga kalau dia sudah menyanggupi, ilmu yang ditulisnya pasti tidak palsu. Andaikata dia sengaja tidak menulis terang, sesudah mempelajarinya, aku merasa pasti kita akan mengerti.”

Kecurigaan Boe Kie lantas saja timbul. Ia kuatir kalau-kalau pendeta-pendeta itu mau berlaku licik. Maka itu, ia lantas saja memeramkan kedua matanya dan pura-pura pulas.

Tapi kecurigaan itu sebenarnya tidaklah perlu. Biarpun hubungan antara Siauw lim dan Boe tong sudah agak renggang, tapi Kong boen, Kong tie dan Kong seng adalah pendeta suci yang tak akan merusak nama baik Siauw lim sie dengan akal bulus.

“Thay kek Sip sam sit dan Boe tong Kioe yang kang yang ditulis Thio Sam Hong sudah pasti tak palsu,” kata Kong boen. “Akan tetapi, kita sendiri belum pernah mempelajari Siauw lim Kioe yang kang. Apakah untuk kepentingan orang luar, kita harus memohon-mohon di hadapan Goan tin?”

Boe Kie kaget. Ia tidak pernah menduga bahwa pendeta pendeta suci itu belum pernah mempelajari Siauw lim Kioe yang kang. Kekuatirannya lantas saja timbul. Ia kuatir mereka turunkan ilmu palsu.

Sementara itu, Kong tie sudah berkata pula, “Soeheng, kau adalah Ciang boen Hong thio (pemimpin partai dan pemimpin kuil). Maka itu, menurut pendapatku, perintahmu tak dibantah oleh Goan tin, tindakanmu ini adalah untuk memperkaya Siauw lim pay dan bukan guna kepentingan sendiri.”

Kong Soen menghela napas. “Kalau Kong Kian Soeheng masih hidup, kita boleh tak usah menhadapi kesukaran ini,” katanya dengan suara menyesal. Sesudah berhenti sejenak, ia berkata pula “Sam soetee, pergilah kau membawa Sek thungku (tongkat timah) dan memberi perintah kepada Goan tin, supaya ia turunkan ilmu Kioe yang kang kepada pemuda she Thio itu.”

“Baiklah,” kata Kong tie.

Sebagaimana diketahui, waktu dulu Kak wan menghafal Kioe yang Cin keng ada tiga orang yang mendengarnya, yaitu Thio Sam Hong, Kwee Siang dan Boe sek Siansoe. Belakangan Kioe yang kang yang diperkembangkan oleh Thio Sam Hong dinamakan Boe tong Kioe yang kang, yang diperkembangkan Kwee Siang dikenal sebegai Go bie Kioe yang kang, sedang yang diperkembangkan oleh Boe sek Siansoe ialah Siauw lim Kioe yang kang.

Karena sangat sulit, maka dalam tiap partai hanya beberapa orang saja yang mewarisi ilmu itu. Dalam kalangan Siauw lim sie, tak pernah ada seorang pun yang memiliki tujuh puluh dua macam ilmu silat. Jumlah yang mempelajari Siauw lim Kioe yang kang lebih sedikit lagi. Dari jaman Boe sek sampai pada Kong kian, dalam setiap turunan hanyalah seorang saja yang belajar dalam ilmu tersebut. Mengapa? Karena, di samping memiliki banyak sekali ilmu, murid-murid Siauw Lim sie selalu menganggap Kak wan Taysoe sebagai murid pemburon, sehingga biarpun Kioe yang kang sangat tinggi mutunya, sedikit sekali yang suka mempelajarinya.

Hanya untuk menjaga supaya ilmu itu tidak menjadi hilang, maka pada setiap turunan selalu ada seorang murid yang mempelajarinya.

Pada jaman itu di dalam kalangan Siauw lim sie hanya murid penutup (murid yang diterima paling belakang) dari Kong kian Taysoe yang mengerti Siauw Lim Kioe yang kang. Tapi murid itu, yang bernama Goan tin, aneh sekali adatnya. Ia tidak sudi keluar dari kamarnya dan kecuali tiga pendeta suci, tak seorangpun dalam kuil yang diladeni olehnya.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: