Kumpulan Cerita Silat

29/07/2008

Kisah Membunuh Naga (19)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 2:23 am

Kisah Membunuh Naga (19)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Boe Kie terus berlutut di depan kakek gurunya, begitupun di depan Wan Kiauw berlima, untuk manggut-manggut beberapa kali. Ia berkata pula, “Thay soehoe bersama paman semua telah menolong jiwa Boe Kie, maka selanjutnya Boe Kie mohon diajarkan ilmu silat supaya Boe Kie dapat membalaskan sakit hati ayah dan ibu kelak”

Sam Hong mengajak semua muridnya ke ruang dalam, di sini ia berkata kepada mereka itu, “Hawa dingin sudah masuk ke kepala, hati dan perut, tak tertolong dengan tenaga luar. Kelihatannya sia-sia belaka pengorbanan kita selama hampir empat puluh hari. Kenapa bisa terjadi begini, sungguh aku tidak mengerti…”
(more…)

Memanah Burung Rajawali – 29

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:42 am

Memanah Burung Rajawali – 29
Bab 29. Orang yang Berjalan di Atas Kali sambil Menjunjung Jambangan Air
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Koan Eng dapat menduga tengkorak itu aneh tetapi percaya ada ketangguhannya sendiri, ia tidak begitu berkhawatir, maka itu heran ia mendapatkan perubahan sikap dari ayahnya itu.

“Barusan orang mengantarkan ini termuat dalam sebuah kotak,” ia menerangkan. “Chunteng kita mengira pada bingkisan biasa saja, ia menerima dan memberi upah, tanpa meminta keterangan lagi, setelah dibawa ke dalam, baru ketahuan barang itu inilah adanya. Pembawa barang itu dicari tetapi ia sudah pergi entah kemana. Adapakah mengenai barang ini, ayah?”
(more…)

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 28

Filed under: Jin Yong, Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — ceritasilat @ 1:39 am

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 28
Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Nra)

Mendengar pemuda itu berdoa agar dirinya menikah dengan sang piauko, Giok-yan sangat senang, ia menjadi tidak tega pula menyaksikan pemuda baik hati itu akan dibunuh orang, maka dengan sedih ia berkata, “Toan-kongcu, budi pertolonganmu, aku Ong Giok-yan takkan lupa untuk selamanya.”

Sebaliknya Toan Ki memang sudah nekat, ia pikir daripada nanti menyaksikan engkau dipersunting piaukomu, lebih baik sekarang juga aku mati di hadapanmu saja. Maka perlahan ia mulai melangkah ke bawah loteng, sebelum itu ia masih sempat menoleh sekejap dan tersenyum kepada Giok-yan.
(more…)

Blog at WordPress.com.