Kumpulan Cerita Silat

28/07/2008

Kisah Membunuh Naga [18]

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 2:22 am

Kisah Membunuh Naga [18]
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Mendengar itu, Boh Seng Kok menyelak, “Barusan Taysoe tidak percaya perkataannya Ngo Soeko kami. Taysoe mengatakannya omong di satu pihak saja. Habis bagaimana sekarang, apakah kata-kata Taysoe juga bukan hanya kata kata sepihak?”

Kong boen sabar luar biasa, walaupun ditanggapi demikian rupa, ia tidak menjadi gusar.

“Jikalau Boh Cit hiap tidak percaya loolap, ya apa boleh buat!” katanya.

“Mana berani boanpwee tidak percaya Taysoe?” berkata Seng Kok. “Hanyalah di dalam dunia ini segala sesuatu gampang sekali berubab, sukar untuk menerkanya dan segala yang benar dan tidak benar tak dapat dipastikan. Tuan-tuan cuma ketahui beberapa pendeta Siauw lim pay itu telah terbinasa di tangan Soeheng kami. Sebaliknya kami menyatakan, Sam Soeheng dianiaya pihak Siauw lim pay. Siapa tahu jikalau di dalam perkara ini ada sesuatu yang tersembunyi? Maka kalau menurut Cianpwee urusan harus diurus dengan sabar, supaya tidak mengganggu persahabatan di antara kedua partai. Jikalau kita bertindak sembrono, kemudian di belakang hari urusan dapat dibuat terang, bukankah kita akan menyesal sesudah terlambat.”

“Boh Cit hiap benar,” berkata Kong boen mengangguk.

Sedang saudaranya itu berlaku demikian sabar, Kong tie berteriak dengan mendadak, “Habis apa kah sakit hatinya Soeheng Kong kian dapat dibiarkan saja? Thio Ngohiap, urusan Liongboen Piauw kiok untuk sementara boleh kita biarkan saja, tetapi tentang Cia Soen si jahat itu, itulah lain! Mengenai dia itu, hari ini kami menghendaki kau memberitahukannya biarpun kau tidak suka, kau mesti bicara juga!”

Song Wan Kiauw membungkam sekian lama. Sekarang ia melihat suasana tegang, terpaksa ia campur bicara. Ia kata nyaring “Jikalau golok mustika itu tidak ada di tangannya Cia Soen, apakah Taysoe tetap begini bernafsu hendak mengetahui di mana beradanya dia?”

Kata kata itu singkat tetapi maksudnya dalam sekali. Kong tie telah ditegur dan dituduh ingin memiliki golok mustika itu.

Kong tie menjadi gusar sekali. Tangannya menepuk meja! Maka celakalah meja itu yang menjadi hancur! Tapi ini pun menandakan lihainya tangan itu. Ia sampai terkejut sendirinya. Tapi ia lagi murka, ia tidak menghiraukannya. Ia bahkan berkata nyaring, “Sudah lama kami mendengar yang ilmu silatnya Thio Cinjin asalnya dari Siauw lim pay. Bahwa orang rimba persilatan mengatakan, hijau itu asalnya dari biru, tetapi yang hijau akhirnya menjadi lebih menang dari pada biru. Kamipun sudah lama mengaguminya, hanya kami tidak lagi tahu sampai di mana kebenarannya pembilangan itu. Apakah itu tidak melebihkan dari kenyataan hari itu? Hari ini di hadapan orang-orang gagah di seluruh negara ini, ingin aku belajar kenal. Aku mengharap tidaklah Cinjin pelit untuk mengajari!”

Perkataan itu mengejutkan orang banyak berbareng menarik hati. Thio Sam Hong menjagoi pada tujuh puluh tahun yang lampau. Orang-orang seangkatannya yang pernah bertempur dengannya sudah pada mati. Jadi sekarang ini belum ada yang mengetahui sampai di mana lihainya dia. Kecuali tujuh muridnya, belum pernah ada yang menyaksikan ia bersilat. Hanya dengan melihat dari kegagahannya Song Wan Kiauw bertujuh, bisalah ditaksir kelihaiannya itu. Kali ini orang-orang mendengar ketua Boe tong pay itu ditantang, semua orang menjadi gembira, rata-rata ingin menyaksikan pertempurannya jago jago utama.

Semua mata lantas saja diarahkan kepada Thio Sam Hong. Semua orang ingin sekali mendengar tantangan itu diterima atau tidak. Tapi orang mendapatkan orang tua itu melainkan hanya bersenyum. Sekali tidak menolak tetapi juga tidak menerima.

“Ilmu silat Thio Cinjin sangat lihai. Di kolong langit ini tidak ada tandingannya,” berkata Kong boen Taysoe. “Begitu juga kami ketiga pendeta dari Siauw lim sie. Kami bukannya tandingannya Cinjin, hanyalah sekarang, keadaan memaksa sekali! Perselisihan di antara murid kedua pihak, jikalau tidak dibereskan dengan kekuatan tenaga, untuk memastikan siapa kuat dan siapa lemah, sungguh sukar untuk diselesaikan. Maka itu, kami bertiga menjadi tidak tahu diri, kami bersedia bekerja sama bertiga meminta Cinjin sukalah memberi pengajaran kepada kami. Cinjin berderajat dua tingkat lebib tinggi dari pada kami. Jikalau kita bertempur satu lawan satu, itu artinya terhadap Cinjin kami berlaku sangat tidak hormat!”

Kata-kata ini didengar orang banyak, mereka itu pada berkata di dalam hatinya, “Perkataanmu sangat merendah, enak didengarnya, tetapi itu artinya tiga melawan satu! Thio Sam Hong boleh lihai sekali, tetapi sekarang ia sudah berusia seratus tahun. Tenaganya tentu telah berkurang banyak sekali. Maka itu, dapatkah ia melayani tiga jago dari Siauw lim sie itu ?”

Song Wan Kiauw sudah lantas berbangkit. “Hari ini adalah hari perayaan ulang tahun guruku. Mana dapat hari ini orang mengadu kepandaian ?” katanya.

Mendengar sampai di situ para hadirin menduga Boe tong pay takut menyambut tantangan. Tapi orang belum bicara habis, Wan Kiauw berkata terus, “Laginya benar seperti kata Kongboen Taysoe barusan. Tingkat derajat di antara guruku dan Taysoe bertiga berlainan, tidak seimbang. Jikalau pertempuran sampal terjadi, bukankah itu sama dengan yang tua menghina yang muda? Akan tetapi Siauw lim pay sudah menantang. Boe tong pay tidak dapat tidak menyambutnya. Pepatah membilang, kalau ada urusan, sang murid mengurusnya. Maka itu sekarang baiklah diatur begini, kami tujuh murid dari Boe tong pay, kami akan melawan dua belas pendeta lihai dari Siauw lim pay!”

Orang gempar sendirinya mendengar jawaban berani dari Wan kiauw ini. Itulah bukan menyambut tantangan belaka bahkan berbalik menantang.

Kong boen, Kong tie,dan Kong Seng datang ke Boe tong san dengan mengajak masing masing tiga murid. Dari itu jumlah mereka menjadi dua belas, dan itulah jumlah yang ditantang murid Boe tong pay itu. Oleh karena Wan Kiauw menyebut jumlah tujuh, orang menjadi heran. Bukankah Jie Thay Giam telah bercacat dan jumlah mereka menjadi tinggal enam orang. Enam lawan dua belas, itu sama artinya satu melawan dua. Bukankah dengan begitu dengan sendirinya Song Wan Kiauw menjadi telah mengangkat harga diri Boe tong pay?

Kelihatannya Song Wan Kiauw menyerbu bahaya dengan kata-katanya itu. Memang juga, terpaksa ia bersikap demikian. Tapi sikapnya ini telah diperhitungkan. Ia tahu baik Kong boen bertiga lihai melebihkan semua saudaranya. Kalau satu lawan satu, hanya ia seorang yang dapat menandinginya secara berimbang. Jie Thay Giam bercacat, sedang Jie Lian Cioe baru sembuh. Tapi kalau mereka melawan dua belas orang, ia tahu sembilan murid tiga pendeta itu tidak harus ditakutkan. Maka namanya saja enam lawan dua belas, kenyataannya enam lawan tiga.

Kong tie Taysoe ketahui maksud hatinya Wan Kiauw. Ia mengeluarkan suara di hidung. Ia kata, “Jikalau Thio Cinjin sendiri tidak sudi memberi pelajaran, baiklah, biar kami bertiga saja yang melawan tiga di antara keenam tuan dari Boe-tong pay. Dalam tiga pertandingan, siapa yang. menang dua kali dialah yang menang.”

Thio Siong Kee dapat memnerka hati orang. Ia menggantikan kakaknya berbicara. Ia kata, “Jikalau Kong-tie Taysoe menghendaki juga satu lawan satu, baiklah, dari kita tujuh saudara, Shako Jie Thay Giam tidak dapat turun dari pembaringan sebab ia telah dianiaya oleh pendeta Siauw lim sie. Meskipun begitu, tidak ada satu di antara kita berenam yang sudi ketinggalan. Maka baiklah kita bertempur dalam enam rombongan saja. Enam murid Boe-tong-pay melawan enam pendeta gagah dari Siauw lim-pay, dan siapa yang menang dalam empat pertandingan, dialah yang menang.”

“Benar begitu!” Boh Seng Kok turut bicara, “Jikalau pihak Boe-tong-pay yang kalah, Thio Ngoko akan memberitahukan tentang Kim mo Say ong Cia Soen. Dia akan memberitahukan kepada Hongthio dari Siauw-lim-sie. Umpama kata pihak Siauw-lim-pay yang mengalah, maka kami minta Taysoe bertiga lantas mengajak semua sababat ini, yang namanya saja datang untuk memberikan selamat ulang tahun kepada guruku, tetapi sebenarnya hendak mencari gara-gara, untuk turun dari gunung ini!”

Seng Kok mengatakan demikian sebab ia bisa mengerti maksud Siong Kee. Dengan enam lawan enam, sudah terang Boe tong pay bakal tidak kalah. Ia ketahui baik sekali kakaknya yang nomor satu dan nomor dua dapat menandingi ketiga musuh yang libay itu, tetapi ketiga murid mereka itu pasti bakal kena dikalahkan.

Kong-tie Taysoe cerdik, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak sempurna, itulah tidak sempurna!” katanya. Ia berkata begitu, lantas ia berhenti, tidak mau menjelaskan ‘tidak sempurna’ nya itu.

Thio Siong Kee berkata pula, “Taysoe bertiga menantang guru kami, katanya kamu mau bertanding tiga lawan satu. Setelah kami enam orang Boe tong pay bersedia melawan dua belas pendeta Siauw lim-pay, Kong-tie Taysoe menghendaki satu lawan satu. Kami menerima baik, tetapi Tay soe bilang tidak sempurna. Sekarang begini saja, biar boanpwee seorang diri melawan tiga pendeta yang lihai. Bukankah ini sempurna? Jikalau Taysoe bertiga dapat menghajar aku sampai mati, itu arti nya Siauw lim-pay yang menang! Tidaklah itu bagus?”

Mukanya Kong-tie menjadi berubah. Hebat ejekan itu.

Tapi Kong Seng tertawa terbabak-babak, berulang kali dia memuji, “Siancay ! Siancay!”

Semenjak datangnya, pendeta ini belum pernah membuka mulutnya. Inilah yang pertama kali. Lalu ia menambahkan, “Soeheng berdua, Thio Sie hiap ini mau bersendirian melawan kami bertiga, mari kami maju bersama!”

Pendeta ini lihai ilmu silatnya, tetapi ia tidak menginsafi ejekannya Siong Kee itu.

“Jangan banyak omong, Soetee!” Kong boen mencegah. Kemudian ia berpaling kepada Song Wan Kiauw dan berkata, “Begini saja ! Kami enam pendeta Siauw lim melawan enam jago Boe tong, menang atau kalah diputuskan dengan ini satu kali pukul. ”

“Bukannya enam orang dari Boe tong melainkan tujuh!” berkata Wan Kiauw.

Kong tie Taysoe terkejut. “Jadi kalau begitu Thio Cinjin bakat turun tangan juga ?” tanyanya.

“Taysoe keliru,” sahut Wan Kiauw. “Orang-orang dengan siapa guru kami pernah bertempur semua sudah tidak ada lagi dalam dunia karena itu mana bisa lagi guru kami melakukan pertempuran? Sedang tentang Jie Shatee kami, dia cacat, dia tidak dapat bengerak, dia juga tidak punya murid. Tetapi meski demikian, persaudaraan kami bertujuh sangat erat. Kami mau hidup dan mati bersama. Dari itu di saat mati-hidup seperti ini, mana dapat kami berpeluk tangan menonton saja di pinggiran? Maka itu, untuk gantinya, aku hendak minta dia mencari wakil. Untuk ini biarlah dia diberi ketika untuk memberi petunjuk kepada wakilnya itu. Dengan begitu, tujuh murid Boe tong pay menempur pendeta-pendeta dari Siauw lim pay! Untuk pihak taysoe, maju tujuh baik, maju dua belas baik juga, untuk kami tidak ada halangannya!”

Kong boan heran. Ia berpikir, “Sebegitu jauh yang aku tahu di pihak Boe tong pay kecuali Thio Cinjin dan tujuh muridnya, tidak ada lagi yang lihai. Maka sekarang dia mau mencari wakil mana dapat? Kalau mereka minta bantuan dari lain partai, itu bukan lagi namanya partai Boe tong pay Mengucapkan begini sebagai penutup saja untuk memegang nama baiknya Boe tong Cit hiap…”
Maka ia lantas mengangguk dan menyambut, “Baiklah, tujuh pendeta Siauw lim akan melawan tujuh jago Boe tong!”

Di pihak Boe tong pay, Jie Lian Cioe, Thio Siong Kee dapat menerka maksudnya Toako mereka. Thio Sam Hong mempunyai semacam ilmu silat istimewa yang diberi nama “Cit boe Cit cay tin” yaitu semacam warisan, untuk mana tujuh orang meski bertempur bersatu padu-melayani musuh. Ilmu itu didapatkan Thio Sam Hong karena ilham yang muncul setelah ia melihat sesuatu.

Pujaan Boe tong pay ialah Cin Boe Tay tee, patungnya Tay tee didampingi oleh dua panglimanya, ialah Koe Ciang koen, dan Coa Ciang koen, malaikat kura-kura dan ular. Kedua Ciang koen ini berkedudukan demikian rupa hingga mirip dengan letaknya Coa san dan Koe san. Gunung Ular dan Gunung Kura-kura di sungai Tiangkang dan sungai Hansoei. Sifatnya ular ialah lincah, dan sifatnya kura-kura pendiam. Ular dan kura-kuranya Cin Boe Tay tee justeru mencakup ke dua sifat itu. Maka setelah mendapat ilham itu segera Thio Sam Hong pergi ke Han yang untuk memandang kedua Gunung Ular dan kura-kura itu, mengawasi terus-terusan. Ia membayangkan bagaimana Gunung Ular bagaikan berlegot-legot, dan Gunung Kura-kura siap tegak dan agung.

Lantas setelah itu, ia melamuni ilmu silat yang hendak diciptakan itu. Hebat usahanya Sam Hong ini. Ia berdiri di tepi sungai selama tiga hari dan tiga malam tanpa minum dan makan. Di pagi hari keempat, ia menyaksikan munculnya Sang Surya yang merah menyala. Mendadak ia sadar. Lantas ia tertawa lebar dan terus berangkat pulang ke Boe tong san untuk selanjutnya mengumpulkan tujuh muridnya untuk mengajar mereka ilmu silat istimewa itu.

Ilmu sifat itu mempunyali keistimewaan sendiri-sendiri bila digunakan oleh satu orang. Kalau dengan dua orang, maka mereka berdua dapat saling membantu, baik maju baik mundur. Kalau bertiga, maka itu menjadi terlebih hebat pula, hebatnya seperti tiga melawan empat orang lihai.

Dengan rajin ketujuh murid itu belajar. Merekat menyakinkannya dengan sungguh-sungguh. Mereka telah memperoleh hasil berlipat ganda. Umpama empat dapat melawan delapan, lima dapat melawan enambelas, enam dapat melawan tiga puluh dua, dan tujuh dapat melawan enampuluh empat.

Di jaman itu, orang lihai cuma berjumlah kira kira tiga puluh orang. Mereka pun terpecah di antara pelbagai partai dan golongan sejati dan sesat. Maka kalau terjadi bertempuran, mereka tidak dapat bersatu. Maka itu Cinboe Cit cay tin jadi merupakan semacam barisan.

Sekarang, Song Wan Kiauw menghadapi lawan tangguh. Ia ingat ilmu silat itu.

“Sekarang aku minta Taysoe suka menanti sebentar,” kemudian ia kata pada Kong boen beramai. “Kami hendak menemui Jie Samtee untuk minta ia memilih wakilnya untuk menambah jumlah kami yang kurang satu.”

Habis berkata, kakak sepenguruan itu mengedipkan mata pada lima saudaranya, lalu mereka memberi hormat pada guru mereka, terus mereka mengundurkan diri dalam.

“Toako,” kata Seng Kok yang lantas mendahului membuka mulut, “mari kita lawan pendeta pendeta Siauw lim itu dengan Cin cay tin supaya mereka menginsafi lihainya ilmu silat Boe tong pay. Hanya siapakah yang bakal menggantikan Shako?”

“Hal itu kita putuskan dengan suara kita yang terbanyak,” kata Wan Kiauw mengangguk. “Sekarang kita semua jangan bicara. Kita menulis satu nama di telapak tangan kita. Nanti kita lihat siapa pilihan kita beramai”

“Bagus!” seru Seng Kok yang sangat setuju. Ia lantas mengambil pit dan menyerahkannya kepada kakak yang tertua itu.

Wan Kiauw menulis satu nama lalu dia membekap tangannya itu. Pitnya ia serahkan pada Lian Cioe. Si adik lantas menulis di telapak tangannya. Demikian seterusnya mereka berenam.

“Sekarang mari buka sama-sama!” kata Wan Kiauw kemudian.

Segera ternyata Wan Kiauw bersama Lian Cioe dan Siong Kee menulis “Ngo Teehoe,” artinya ipar mereka, isteri Coei San. Coei San sendiri menulis nama So so, isterinya. Seng Kok pun menulis “Ngo so,” artinya isteri Coei San juga.

In Lie Hong yang paling belakang. Dia tidak membuka telapak tangannya, cuma mukanya yang merah.

“Heran!” kata Seng Kok. “Apanya yang aneh?” Lantas ia memaksa membuka kepalan kakaknya itu.

Ternyata saudara she In ini menulis “Nona Kie” ialah tunangannya.

Coei San terharu. Ia menggenggam tangan adik seperguraan itu, sedang mulutnya mengucap, “Oh, Lioktee”

Semua orang mengetahui mengapa Lie Hang sampai menulis nama tunangannya itu. Ini adalah disebabkan karena ia mengasihani In So So yang belum lagi pulih benar kesehatannya, yang pada pikirnya tak seharusnya berkelahi mati-matian. Seng Kok hendak menggoda, tapi Coei San lekas mencegah dengan kedipan mata.

“Karena semua sudah setuju Tee hoe, Ngotee, pergilah kau undang isterimu datang kemari,” kata Wan Kiauw.

Coei San menurut. Ia segera pergi ke kamarnya dan mengundang isterinya itu dengan sekalian menjelaskan duduk persoalan.

“Semua orang-orang Liong boen Piauwkiok dan Hoei hong beramai, akulah yang membinasakannya”, kata So So. “Ketika aku melakukan hal itu, aku belum berkenalan sama Ngo-ko. Maka itu urusan itu tidak selayaknya menyeret-nyeret Boe tong-pay. Baiklah aku menyuruh saja semua pendeta itu mencari Peh bie-kauw ialah ayahku untuk mereka membuat perhitungan di sana.”

“Teehoe, perkara telah terjadi. Kita tidak mestinya berhitungan,” kata Siong Kee. “Laginya aku telah melihat jelas. Katanya mereka itu datang untuk urusan Liong boen Piauw-kiok melainkan alasan yang benar ialah untuk urusannya Cia Soen. Mereka berpegangan kepada permusuhan, tapi sebenarnya mereka mencari golok mustika To-liong-to!”

“Sieko betul!” kata Seng Kok. “Memang benar mereka mencari golok mustika itu. Maka biar bagaimana, mereka pasti tanya di mana tempat berdiamnya Cia Soen sekarang ini.”

“Memang demikian adanya.” kata Coei San. “Kong-kian sendiri yang memberitahukan Cia Soen saudara-angkatku itu, bahwa di dalam golok To liong-to itu ada tersimpan semacam ilmu silat yang dapat membikin orang menjagoi di kolong langit ini. Kong-kian ketahui itu, mesti Kong boen, Kong-tie dan Kong-seng mengetahuinya juga.”

“Jikalau begitu, terserah kepada kalian,” kata So So akhirnya. “Hanya ilmu silatku masih rendah sekali, di dalam tempo pendek ini, mana dapat aku memahami Cin boe Cit tay tin?”

“Itulah gampang,” berkata Wan Kiauw. “Sebenarnya dengan kita berlima melawan tujuh pendeta, kita merasa pasti bakal menang. Jikalau toh meminta bantuan kau, Teehoe, itulah sebab kita mendengar lihainya senjata rahasiamu yang berupa jarum. Kita mengharap kapan perlu, agar kau membantu kita. Dengan begitupun pastilah Shatee bakal jadi terhibur hatinya”

Wan Kiauw benar. Ia memang memberati Jie Thay Giam yang tidak bisa turut bertempur hingga saudara itu pasti akan menyesal sekali sedang penggunaan “tin” itu, inilah yang pertama kalinya. Bagaimana terhiburnya Thay Giam umpama kata dia bisa turut mengambil bagian dan mereka menang.

In So So cerdas, ia lantas mengerti. “Baik!” katanya. “Sekarang juga aku pergi kepada Shako untuk minta petunjuknya. Aku hanya kuatir nanti tidak dapat memahaminya dengan baik.”

“Jangan kuatir, enso” kata In Lie Hang, “Itu gampang asal kau mengingat baik-baik letak kedudukanmu dan gerakan kaki. Umpama kata kau mendadak lupa, kami pun dapat menyadarkan kau.”

Karena ini, bertujuh mereka pergi ke kamar Jie Thay Giam.

Semenjak pulang ke gunung, beberapa kali sudah Thio Coei San menemui kakak sepenguruannya itu, tapi untuk In So So, inilah yang pertama kali, sebab gangguan kesehatannya mencegah dia lantas menemui iparnya itu.

Melihat si nona muda cantik, gerak-geriknya halus, Thay Giam merasa senang. Tetapi ketika ia mendengar keterangannya Wan Kiauw hal datangnya musuh pendeta Siauw lim pay yang mau di lawan dengan Cin boe Cit cay tin, untuk mana ia harus diwakili oleh So So, ia terharu dan berduka sekali. Pedih hatinya. Tentu sekali ia menyesatkan sangat cacatnya hingga ia tidak dapat membantu semua saudaranya itu. Tapi ia kuat hatinya. Ia tertawa. Sembari bersenyum, ia kata pada So So, “Teehoe, Shapeh tidak dapat memberikan apa-apa padamu untuk pertemuan pertama kali ini sebab kesusu. Maka baiklah, nanti aku mengajar kau tentang ‘tin’ kita itu. Nanti sesudah musuh mundur, akan kulatih kau terlebih jauh agar kau paham semuanya.”

So So girang sekali. “Terima kasih, Shapeh.” ucapnya.

Inilah pertama kali Thay Giam mendengar suara iparnya itu. Ia agaknya terkejut sekali, segera ia menatap muka orang. Otaknyapun bekerja, memikirkan sesuatu yang telah dilupakan. Wajahnya menunjuk rasa heran yang luar biasa.

Coei San pun heran. “Shako, apakah kau merasa tubuhmu tidak enak?” tanyanya.

Thay Giam tidak menyahut, dari menatap ia bengong. Matanya mendelong ke depan. Mata itu bersinar sangat tajam. Sekarang terlihat juga perubahan air mukanya yang menandakan ia menderita dan penasaran.

Habis memandang saudaranya itu, Coei San berpaling pada isterinya. Juga isteri itu berubah air mukanya. So So nampaknya sangat berkuatir dan Song Wan Kiauw dan yang lainnya juga turut merasa heran. Bergantian mereka mengawasi saudara mereka itu serta sang ipar. Hati mereka tidak tenang lagi.

Kamar menjadi sangat sunyi. Semua hati orang berdebaran.

Selagi berdiam itu, Thay Giam nampak napasnya memburu, mukanya yang pucat bersemu merah. “Ngo teehoe, coba kemari,” katanya perlahan. “Mari aku lihat kau…”

Tubuh So So gemetaran, ia tidak berani menghampiri, sebaliknya tangannya menyambar tangan suaminya.

Kamar menjadi sunyi pula.

Selang sesaat, terdengar Thay Giam menghela napas. “Kau tidak sudi datang tidak apa,” katanya pula. “Dulu, hari itupun aku tidak melihat wajahmu. Teehoe, aku minta sukalah kau menyebutkan kata kataku ini: Pertama, aku minta Congpiauw tauw sendiri yang mengantarkannya. Kedua, dari Lim an sampai di Sang yang, di propinsi Ouwpak, kau harus berjalan siang hari dan malam, supaya piauw bisa mencapai tempat tujuannya dalam tempo sepuluh hari. Syarat ketiga, kalau terjadi sedikit kesalahan saja, huh! huh! Jangankan jiwa Cong piauw tauw sendiri, sedangkan ayam dan anjing dari Liong boen Piauwkiok pun tak akan terluput dari kebinasaan !”

Thay Giam bicara dengan perlahan, tetapi mendengar itu orang pada mengeluarkan peluh di punggungnya.

So So maju satu tindak.

“Shapeh, kau benar-benar hebat!” katanya. “Kau dapat mengenali suaraku.. Memang itu hari, di dalam kantor Liong boen Piauwtiok, orang yang memesan Touw Thay Kim mengantarkan kau ke Boe tong san ialah adikmu adanya.”

“Terima kasih untuk kebaikan hatimu Teehoe.”

“Kemudian pihak Liong boen Piauw kiok itu telah membuat kegagalan di tengah jalan,” So So berkata pula. “Kegagalan itu menyebabkan kau menjadi bersengsara begini rupa. Karena itu adikmu ini telah membunuh habis semua keluarga Liong boen Piuaw kiok itu.”

“Demikian rupa kau berlaku untukku, kenapakah?” tanya Thay Giam dingin.

Wajah So So menjadi guram. Ia menghela napas panjang. “Shapeh, perkara telah berjalan sampai sebegini jauh. Tidak dapatlah aku menyembunyikan apa-apa lagi,” katanya kemudian. “Hanya terlebih dulu hendak aku menjelaskan. Semuanya Coei San tidak tahu-menahu. Aku kuatir…aku takut…Setelah dia mengetahui itu, selanjutnya dia bakal tidak memperdulikan lagi padaku.”

“Jikalau begitu, tak usahlah kau menyebutnya lagi.” kata Thay Giam. “Aku telah bercacat begini rupa, urusan yang sudah-sudah tidak usah ditimbulkan pula. Kejadian itu tidak perlu mengganggu kamu sebagai suami isteri. Nah, kamu pergilah! Boe tong Liok hiap melawan pendeta-pendeta dari Siauw lim pay. Kemenangannya sudah dapat dipastikan. Jadi tak usahlah aku mendapat nama kosong”

Karena lukanya itu, sebab keangkuhannya, Thay Giam tidak pernah mengeluh atau mengutarakan penasarannya. Bahkan bicarapun ia tak dapat, tapi setelah dirawat sungguh-sungguh oleh gurunya selama sepuluh tahun, perlahan-lahan ia bisa juga bicara. Hanya mengenai urusannya itu atas pengalamannya, ia tetap menutup mulut.

Maka itu ini hari, di saat ini, kira-kiranya itu membikin semua saudaranya menjadi kaget dan heran, akan akhirnya semuanya berduka, bahkan ln Lie Heng lantas menangis.

“Shapeh, sebenarnya kau telah mendapat atau menduga dari siang-siang,” berkata So So pula, “melulu karena kau berat kepada Coei San sebagai Soeteemu, kau menahan sabar. Kau tidak sudi bicara. Memang itu hari di sungai Cian tong, yang sembunyi di dalam perahu, yang melukakan kau dengan jarum adalah adikmu ini…”

Coei San terkejut. “So So!” serunya. “Benarkah itu? Kau…mengapa kau tidak memberitahukan itu padaku?”

“Biang keladi segala kejadian dan orang yang mencelakai Soehengmu ini ialah So So isterimu ini. Cara bagaimana aku berani menerangkannya?” sahut sang isteri. “Shako, orang yang melukai kau dengan paku Cit seng teng, yang memperdayakan golok To liong to dari tanganmu, dialah kakakku sendiri, In Ya Ong…Kami dari Peh bie kauw tidak bermusuhan dengan kamu dari Boe tong pay. Setelah kami mendapatkan golok mustika itu, sedang kamipun menghargai kau sebagai seorang gagah sejati. Maka kami telah menugaskan Liong boen Piauw kiok mengantarkan kau pulang ke Boe tong san. Perihal peristiwa di tengah jalan, sungguh aku tidak duga sama sekali.”

Tubuh Coei San menggigil keras, matanya seperti menghamburkan marah. Ia lantas menuding isterinya, “Kau…Kau mendustai aku hebat sekali!” katanya nyaring.

Mendadak Jie Thay Giam berseru keras, lantas tubuhnya mencelat dari atas pembaringannya dan roboh. Tubuh itu jatuh di papan pembaringan hingga papan itu tak kuat menahannya dan ambruk. Thay Giam sendiri terus pingsan.

Melihat semua itu, So So menghunus pedang di pinggangnya. Ia membalik itu gagangnya pedang. Ia angsurkan pada suaminya. “Ngo ko,” katanya. “Sudah sepuluh tahun kita menjadi suami-isteri, aku bersyukur sekali untuk kecintaanmu. Maka kalau sekarang aku mati, aku puas. Aku tidak menyesal. Dari itu, kau tikamlah aku supaya dengan begitu kau dapat melindungi dan mempertahankan kehormatannya Boe tong Cit hiap…”

Coei San menyambuti pedang isterinya lalu hendak ia meneruskan menikam dada isterinya. Mendadak ia ingat akan cinta kasih mereka selama sepuluh tahun. Hatinya menjadi lemah. Segala apa lantas berbayang di depan matanya itu. Untuk sejenak ia termenung, di akhirnya ia berteriak, lalu ia lari keluar dari kamar, menuju ke depan!

So So dan Wan Kiauw semua tidak tahu apa yang bakal dilakukan. Mereka lari menyusul.

Mereka dapat melihat Coei San pergi ke ruangan besar untuk lantas berlutut di depan gurunya untuk mengangguk-angguk beberapa kali seraya berkata “Soehoe, kesalahanku telah menjadi begini hingga tidak dapat ditarik pulang lagi. Maka itu muridmu hanya memohon satu hal…”

Thio Sam Hong tidak tahu apa yang telah terjadi. Karena ia sabar ia berkata dengan tenang, “Apakah itu? Kau sebutkanlah! Pasti gurumu tidak akan menampik.”

Coei San mengangguk pula tiga kali.

“Terima kasih, Soehoo,” katanya. “Muridmu ada mempunyai seorang anak laki-laki, dialah anak satu satunya. Dia sekarang masih berada di dalam tangannya orang jahat. Maka itu muridmu mohon sukalah Soehoe menolongnya dari tangan iblis itu, kemudian tolong Soehoe merawatnya hingga dia menjadi besar.”

Habis berkata begitu, Coei San memutar tubuh ke arah Kong boen Taysoe dan lain tamu terhitung Ceng hian Soe thay dari Go bie pay. Dengan nyaring ia berkata, “Segala kesalahan, aku Thio Coei San yang melakukannya. Sebagai seorang laki-laki, aku sendiri juga yang menanggungnya. Maka itu sekarang hendak aku membuat tuan tuan puas!”

Kata-kata itu diakhiri dengan tebasan pedangnya kepada lehernya, hingga darahnya lantas muncrat dan tubuhnya roboh binasa.

Thio Sam Hong kaget bukun main. Ia melompat untuk menolong. Bersama ia, melompat juga Jie Lian Cioe, Thio Siong kie dan In Lie Heng. Semua mereka pada berseru.

Berbareng dengan mereka berempat, ada lima orang lain yang turut melompat maju, akan tetapi mereka telah dibikin terpental dengan sampokan guru dan tiga muridnya. Justeru karena ini, mereka ini terlambat, Coei San keburu membunuh diri dan tubuhnya roboh.

Song Wan Kiauw, Boh Seng Kok dan In So So muncul paling belakang.

Justeru itu, dari luar jendela terdengar teriakan, “Ayah! Ayah!” Suara yang kedua kali itu tertahan seperti keluar dari mulut yang lantas tersumbat.

Hanya sekelebatan saja, Thio Sam Hong sudah mencelat keluar jendela, hingga ia dapat melihat seorang laki laki dengan dandanan seragam tentara Mongolia memeluki seorang bocah umur delapan atau sembilan tahun, bocah mana dibekap mulutnya tetapi ia coba meronta.

Hatinya Sam Hong tengah sakit dan pedih, maka itu tanpa berpikir lagi, ia membentak orang Mongolia itu, “Kau masuk ke dalam !”

Orang itu tidak menurut perintah, bahkan dia menggerakkan sebelah kakinya untuk menjejak tanah, guna melompat naik ke atas genteng. Selagi menjejak, ia mendak sedikit, si bocah tetap dipeluk. Tapi ia tidak dapat berlompat. Tubuhnya dirasakan berat. Thio Sam Hong yang telah melompat kepadanya, telah menekan pundaknya !

Kaget orang itu, rupanya dia mengerti gelagat, tanpa membuka suara, dia bertindak ke dalam, hingga batallah dia hendak melarikan diri.

Bocah itu memang Boe Kie, puteranya Coei San dan So So. Ia telah ditotok urat gagunya. Akan tetapi ia pernah mengikuti Cia Soen belajar silat. Ia telah memperoleh kemajuan luar biasa, maka juga tidak lama habis ditotok, ia dapat dengan sendirinya membebaskan diri. Ia melihat ayahnya membunuh diri. Ia kaget luar biasa dan berteriak memanggil-manggil ayahnya itu, atas mana ia segera dibekap pula, sampai kakek gurunya datang menolongnya.

In So So karam hatinya melihat suaminya membunuh diri. Meski begitu, mendapatkan anaknya, kegirangannya muncul juga, maka segera ia menghampirkan, tetapi perkataannya yang pertama ialah pertanyaan ini, “Anak, kau toh tidak menyebutkan tentang di mana adanya ayah angkatmu”

“Biarnya dia bunuh mati padaku, tidak nanti aku beritahu!” sahut si anak.

“Oh, anak yang baik”, seru sang ibu, “Mari aku memelukmu!”

“Serahkan anak itu!” Sam Hong memerintah orang Mongolia.

Orang itu menurut, tanpa bersuara, ia menyerahkan si bocah kepada ibunya.

Boe Kie menyusup dalam rangkulan ibunya. “Ibu,” katanya, “Siapa yang memaksa ayah membunuh diri?”

“Di sini ada begini banyak orang,” menyahut sang ibu. “Merekalah yang naik ke gunung ini dan memaksakan kematian ayahmu!”

Matanya Boe Kie lantas menyapu, dari kiri ke kanan. Dia masih kecil akan tetapi sinar matanya tajam sekali. Sinar mata itu mengandung kebencian dan kemarahan hebat, hingga siapa yang sinar matanya bentrok, hatinya terkesiap.

“Boe Kie, berjanjilah kepada ibumu!” kata So So

“Titahkan, ibu!” sang anak menjawab.

“Kau jangan terburu napsu menuntut balas” katanya. “Kau harus sabar. Perlahan-lahan saja kau menantikan, asal seorang jua jangan diberi lolos…”

Mendengar itu, orang pada merasakan tubuhnya bergidik, punggungnya dingin sendirinya.

“Baik, ibu!” Boe Kie menjawab. “Aku akan menantikan dengan perlahan-lahan, seorang jua aku tidak akan kasih lolos!”

Tubuh si nyonya tiba-tiba menggigil.

“Anak,” katanya, “karena ayahmu sudah mati, baiklah kita menyebutkan tempat kediamannya ayahmu itu, supaya mereka ini mendapat tahu…”

“Jangan, ibu, jangan!” Boe Kie mencegah. Tapi So So tidak memperdulikannya.

“Kong boen Taysoe, mari!” katanya. “Aku hanya akan memberitahukan pada kau seorang. Mari kupingmu, akan aku bisiki…”

Semua orang heran. Inilah di luar dugaan mereka.

“Siancay ! Siancay!” Kong boen memuji. “Nyonya yang budiman, coba kau bicara tadian sedikit, pastilah Thio Ngo hiap tidak usah binasa…”

Ia lantas menghampiri So So untuk membungkuk memasang kupingnya.

Nyonya Coei San menggerakkan kedua bibirnya, tetapi suaranya tidak terdengar.

“Apa?” Kong boen tanya.

“Kim mo Say ong Cia Soen, dia bersembunyi di…” kata So So. Kata “bersembunyi di” itu diucapkan sangat perlahan dan samar-samar hingga sukar terdengar tegas.

“Apa!” pendeta dari Siauw lim sie itu menegas.

“Ya, dia bersembunyi di sana, pergilah kau mencari sendiri.” So So berkata pula.

“Aku tidak mendengar nyata!” kata Kong boen yang menjadi gelisah sendirinya.

“Aku hanya bisa memberitahukan secara demikian maka pergilah kau ke sana. Kau akan mendapatkannya sendiri…” katanya pula.

Habis itu, ibu ini merangkul anaknya untuk berbisik, “Anak, setelah dewasa nanti, jagalah dirimu agar tidak diperdayakan wanita! Makin seorang cantik dan manis dilihat, makin dia pandai memperdayakan orang…”

Kupingnya ibu itu ditaruh ditelinga puteranya. Ia menambahkan, “Aku tidak membilangi si pendata. Aku cuma mendustakan dia!”

Lalu ia tertawa sendirinya, tertawa sedih.

“Nyonya yang baik!” Kong-boen berseru.

Sekonyong-konyong rangkulannya So So terlepas dengan sendirinya. Tubuhnya terhuyung, terus roboh terlentang. Maka terlihatlah didadanya tertancapnya sebilah pisau belati. Karena selagi merangkul Boe Kie, puteranya, pisau belatinya sudah dipasang, dari itu tidak ada seorang juga yang melihat ia membunuh diri.

Boe Kie menubruk tubuh ibunya. “Ibu! Ibu!” ia memanggil-manggilnya. Tapi sang ibu telah lantas putus jiwanya.

Kedukaan Boa Kie melampaui batas, sampai ia tidak dapat menangis. Ia mencabut pisau belati dari dada ibunya, ia mencekal pisau yang berlumuran darah itu. Sambil memegangnya, ia memandang Kong boen Taysoe. Ia tanya dengan dingin, “Kaukah yang membunuh ibuku? Benar atau tidak?”

Kong-boen terperanjat. Kematiannya si nyonya sampai membuatnya tercenung. Biar bagaimana juga, ia adalah seorang Ciang boen jin, maka hatinya terharu juga menyaksikan sekaligus dua peristiwa berdarah yang terjadi secara beruntun dan menyayatkan hati itu.

Tanpa merasa, ia mundur setindak.

“Bukan…bukan aku…” katanya menyangkal. “Dia membunuh diri…”

Air matanya Boe Kie mengembang, tetapi ia mencoba menahan mengucurnya itu. Ia kata dalam hatinya, “Aku tidak boleh menangis! Aku tidak boleh menangis! Aku tidak boleh memberi lihat mereka ini aku menangis!”

Dengan tangan mencekal keras pisau belati berdarah itu, bocah ini lantas bertindak, dari kiri ruangan terus ke sebelah kanan. Dia berjalan dengan tindakan perlahan, matanya mengawasi tajam pada semua hadirin itu yang berjumlah tiga-ratus orang lebih untuk mengenali mereka satu demi satu, sedang dibatok kepalanya teringat pesan ibu nya barusan, “…perlahan-lahan saja kau menantikan, asal saja seorang juga jangan diberi lolos!”

Memang yang mendaki gunung Boe tong san itu, kalau bukannya ketua partai atau perkumpulan, tentu ahli silat dan bahwa mereka berani mengunjungi kuilnya Thio Sam Hong, menyatakan keberanian mereka. Akan tetapi sekarang, ditatap Boe Kie demikian rupa, hati mereka terkesiap dan mencelos. Jantung mereka berdenyutan memukul keras…”

Akhir-akhirnya Kong boen Taysoe berbatuk batuk perlahan. “Thio Cinjin,” katanya, “peristiwa ini…ah…sungguh di luar dugaan…Thio Ngo hiap suami isteri telah menutup mata sendirinya. Maka itu semua urusan yang telah lampau, baiklah dibikin habis saja. Sekarang kami meminta diri”

Pendeta itu lantas memberi hormat.

Thio Sam Hong membalas hormat itu. “Maaf, tidak dapat aku mengantar sampai jauh” katanya tawar.

Semua pendeta Siauw lim sie itu lantas bergerak untuk berlalu.

Mendadak In Lie Heng berseru bengis, “…kamu telah memaksa kematiannya saudaraku…” Tapi ia segera berhenti sendirinya, karena ia lantas ingat Ngoko telah membunuh diri sebab ia malu kepada Shako. Mereka ini tidak ada sangkut pautnya. Maka ia tidak melanjuti menegur, sebaiknya ia menubruk tubuhnya Coei San dan menangis menggerung-gerung.

Semua orang menjadi merasa tidak enak hati. Lantas mereka menghampiri Thio Sam Hong untuk pamitan, sedang di dalam hati mereka, mereka berpikir, “Perkara ini hebat sekali, Boe tong pay tentulah tidak mau sudahan dengan gampang-gampang…”

Hanya Song Wan Kiauw yang mengantar semua tamunya sampai di luar pintu. Selama itu matanya sudah merah, ketika kemudian ia memutar tubuh, air matanya lantas nerobos keluar, sedang kupingnya mendengar tangisan riuh dan memedihkan dari ruangan dalam.

Rombongan Go bie pay yang paling belakang meminta diri. Kie Siauw Hoe melihat In Lie Heng menangis demikian sedih, matanya menjadi merah sendirinya, lupa malu ia menghampiri pemuda itu.

“Liok ko, aku mau pergi,” katanya perlahan sekali, “Kau…kau rawatiah dirimu baik-baik.”

Dengan air mata masih mengembang, In Lie Heng mengangkat kepalanya akan memandang si nona. Karena air matanya itu matanya seperti kabur. Ia masih sesenggukan ketika ia berkata. “Kamu…kamu kaum Go bie pay apakah kamupun datang untuk menyeterukan Ngoko ?”

“Bukan,” menyahut Siauw Hoe cepat. “Hanya guruku mau meminta saudara Thio suka mengunjuk alamatnya Cia Soen.”

Boe Kie mendengar pembicaraan itu, mendadak ia menyeletuk, “Ibuku sudah memberitahukan itu kepada si pendeta, pergi kau tanya dia saja! Jikalau pendeta itu tidak sudi memberi tahu, pergi kamu rewel dengan mereka !”

Dalam kedukaannya, anak ini sudah mengerti maksud ibunya. “Kau anak yang baik,” berkata Kie Siauw Hoe. “Paman In mu tentulah akan bisa merawati kau terus…”

Dengan kata-katanya ini si nona mau maksudkan ia dan In Lie Heng pasti nanti memandang dia sebagai anak sendiri.

Kemudian ia meloloskan rantai emasnya dari lehernya. Ia memasuki itu ke kepalanya Boo Kie seraya berkata dengan halus , “Ini untukmu…”

Mendadak Boe Kie melompat sambil membentak, “Aku tidak menghendaki barang musuh!”

Nona Kie berdiri menjublak likat, tangannya tetap memegangi kalungnya itu.

“Kamu lekas pergi!” kata Boe Kie berteriak. “Aku hendak menangis! Seperginya semua musuh, baru aku menangis!”

“Anak, kami bukan musuhmu,” kata Kie Siauw Hoe perlahan.

Boe Kie menggertak gigi. Mendadak ia berkata sengit, “Semakin wanita cantik, semakin dia pandai menipu orang!”

Mukanya Kie Siatiw Hoe menjadi merah semua, hampir ia menangis.

Wajahnya Ceng hian Soethay menjadi guram. “Soemoay, buat apa banyak bicara sama anak kecil !” katanya. “Mari kita pergi!”

Boe Kie mengawasi, ia menanti sampai Kie Siauw hoe semua sudah lenyap dari pintu ruang itu, baru ia hendak menangis. Tiba-tiba napasnya berhenti berjalan, tubuhnya roboh terkulai.

Jie Lian Cioe terkejut. Ia lompat menubruk, untuk membangunkannya. Ia menyangka, saking sedihnya, anak ini jadi pingsan. Ia kata. “Anak, kau menangislah!” Iapun lantas mengurut tubuh si bocah.

Luar biasa keadaannya Boe Kie. Ia tidak siuman, bahkan sebaliknya tubuhnya menjadi dingin bagaikan es. Melainkan dari hidungnya menghembuskan napas yang lemah sekali.

Lian Cioe terus mengurut, tapi ia tetap tidak tersadar.

Sekarang Wan Kiauw semua menjadi kaget.

“Anak ini keras hatinya, iapun telah mengerti segala apa.” berkata Thio Sam Hong menghela napas. Ia lantas menekan jalan darah Leng thay hiat di punggung anak itu untuk menyalurkan hawanya sendiri ketubuh si anak.

Menurut tenaganya Thio Sam Hong, orang luka bagaimana berat juga, asal jiwanya belum putus, asal dia menyalurkan hawanya, dia bakal mendusin dari pingsannya dan keadaannya lantas menjadi baikan. Akan tetapi tidak demikian dengan Boe Kie. Anak ini mengashi lihat akibat yang luar biasa.

Mukanya lantas berubah jadi pucat menjadi biru, dari biru menjadi unggu, dan tubuhnyapun bengemetaran. Ketika jidatnya diraba, jidat itu dingin seperti es. Maka kagetlah kakek guru ini. Lekas-lekas ia masuki tangannya ke dalam baju di punggung untuk meraba-raba. Di situ ada satu bagian yang mengeluarkan hawa panas, sedang di sekitarnya semua dingin sekali. Kalau bukannya Sam Hong, mungkin dia turut kedinginan juga.

“Wan Kiauw, lekas cari itu orang Tartar yang tadi membawa anak ini kemari!” guru ini menitahkan muridnya.

“Aku turut?” berkata Lian Cioe yang pun turut pengir.

Ketika tadi orang bingung, tanpa ketahuan, orang Mongolia itu telah mengangkat kakinya. Thio Sam Hong sendiri sampai lupa memperhatikan dia.

Sam Hong lantas merobek baju Boe Kin, untuk memeriksa tubuhnya yang berkulit halus dan putih. Di punggung kedapatan tapak dari lima jari tangan, tapak bersemu hijau tua dan berbahaya. Ketika diraba, tapak itu mengeluarkan hawa panas sekali. Di lain pihak, di sekitar, semuanya berhawa dingin. Pantaslah, karenanya, Boe Kie pingsan bagaikan mayat.

Wan Kiauw dan Lian Cioe kembali dengan cepat dengan laporannya bahwa si orang Mongolia tidak kedapatan, bahwa mereka telah mencari dengan sia-sia. Mereka ini pun menjadi kaget sekali melihat tapak tangan di punggung Boe Kie.

Thio Sam Hong mengerutkan alisnya. Tampaknya ia menyesal ketika mengucapkan katanya, “Aku telah menyangka tigapuluh tahun yang lalu, dengan matinya Pek soe Tauwto, maka lenyaplah sudah ini ilmu Hian beng Sin cieng yang lihai luar biasa. Siapa sangka sebenarnya masih ada orang yang mempunyai kepandaian itu”

Wan Kiauw kaget bukan main. “Jadi anak ini terluka dengan ilmu Hian beng Sin ciang?” tanyanya. Ia berusia paling tinggi dan mengetahui perihal ilmu pukulan tangan kosong itu, Tangan Malaikat Air. Lian Cioe dan yang lainnya, mendengar pun belum.

“Warna tapak jari ini ialah tanda utama dari pukulan jahat itu” Thio Sam Hong menerangkan.

“Soehoe perlu obat apa?” tanya In Lie Heng, “Nanti aku lantas ambil.”

Guru itu menghela napas. Ia tidak menyahut, hanya kedua mata mengucarkan air. Ia mengangkat tubuh Boe Kie untuk dirangkul erat-erat, sedang matanya mengawasi mayat Coei San.

Ia kata, “Coei San, Coei San! Kau mengangkat aku menjadi guru. Ketika kau mau pulang, kau menitipkan anakmu ini padaku, akan tetapi aku aku tidak sanggup melindungi anakmu ini! Maka apakah artinya aku hidup sampai umur seratus tahun? Apakah gunanya Boe tong pay terkenal di seluruh jagat? Lebin baik aku mati saja…”

Wan Kiauw semua kaget tidak terkira. Semenjak mengikuti guru ini, mereka selalu mendapatkan si guru bergembira. Belum pernah ia bersusah hati atau berputus asa seperti ini.

“Soehoe, benarkah anak ini tidak dapat ditolong lagi?” tanya Lie Heng penasaran.

Sam Hong memeluk terus tubuh Boe Kie. Ia berjalan mundar-mandir diruang itu.

“Kecuali…kecuali guruku Kak-wan hidup pula dan ia mengajar aku seluruh kitab Kioe yang Cin keng…”

Semua murid Thio Sam Hong kaget. Semuanya berdiam. Kak wan Tay soe telah menutup mata pada delapan puluh tahun yang lampau. Mana dapat ia hidup pula? Itu artinya, Bor Kie tidak bisa ditolong lagi…

“Soehoe,” kata Lion Cioe tiba tiba “Aku ingat orang Mongolia tadi. Dengannya pernah aku beradu tangan. Memang tangannya lihai sekali, jarang orang selihai dia. Tanganku telah terluka karena beradu tangan itu, tetapi sekarang tanganku telah sembuh seantengnya, rasanya bakal tidak ada akibatnya lebih jauh…”

“Di dalam hal itu kau mengandal kepada nama besar Boe tong Cit hiap,” berkata sang guru “Hian beng Sin Ciang itu luar biasa. Kalau melukai orang, celakalah korbannya. Sebaliknya, kalau dia kalah tenaga dalam, dia bakal terluka sendirinya. Ketika dia beradu tangan dengan kau, mungkin dia tidak bersungguh hati, rupanya dia jeri. Maka ingat, kalau lain kali…kau bertemu dia, berhati-hatilah.”

Lian Cioe bergidik sendirinya.

“Jadi dia jeri kepada tenaga dalamku? Dia jadi tidak menggunakan seantero ilmunya yang lihai itu,” pikirnya. “Coba lain kali dia bertemu pula denganku, tentu dia tidak akan memberi ampun lagi…”

Keenam orang itu berdiam. Sekonyong-konyong terdengar jeritan Boe Kie, “Ayah, ayah, aduh sakit!” Dan ia membalas merangkul Thio Sam Hong keras-keras, kepalanya diselusupkan di dada si imam tua.

Hati Sam Hong menggetar. Ia sangat menyayang anak itu. Dengan mengertak gigi ia berkata, “Mari kita gunakan semua tenaga kita untuk menolong bocah ini. Sampai berapa lama lagi dia dapat hidup, terserah kepada kemurahan hati Thian”

Ia lantas mengawasi mayat Coei San, air mata turun bercucuran ia berkata, “Coei San, Coei San, oh, bagaimana sengsara anakmu ini!”

Kemudian ia bertindak ke dalam, membawa bocah itu ke kamarnya sendiri, setelah meletakkan tubuh orang ia menotok berulang-ulang delapan macam jalan darahnya.

Setelah ditotok pergi datang itu, tubuh Boe Kie tidak bergemetaran lebih jauh, hanya warna kulit mukanya, warna ungu itu, sudah menjadi bertambah gelap. Sam Hong tahu baik sekali, bila warna itu berubah menjadi hitam, habislah sudah jiwa bocah yang malang ini. Maka ia lekas-lekas meloloskan semua pakaian Boe Kie, dan membuka jubahnya sendiri, lalu punggung si anak ditempel rapat rapat pada dadanya sendiri.

Ketika itu di luar, Song Wan Kiauw beramai mengurus mayat Thio Coei San dan In So So. Kemudian Jie Lian Cioe bersama Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok bertiga menyusul guru mereka hingga mereka melihat sepak terjang guru itu yang tengah mengerahkan tenaga dalamnya menurut ilmu “Soen-yang Boe kek kang” untuk menyedot hawa dingin dari tubuh Boe Kie.

Seumur hidupnya Thio Sam Hong tidak menikah, maka sampai usianya seratus tahun, dia tetap perjaka sejati, karena mana juga dia berhasil meyakinkan ilmu tenaga dalamnya itu yang istimewa. Hanya ilmu itu luar biasa sekali, kalau salah penggunaannya dapat mencelakakan diri sendiri.

Menyaksikan itu, ketiga murid ini berdebatati hatinya. Mereka menguatirkan gurunya. Yang di kuatirkan, karena sudah tinggi usianya, tenaganya mungkin telah berkurang tanpa diketahui.

Selang setengah jam terlihat muka Thio Sam Hong berwarna semu hijau dan sepuluh jari tangannya gemetaran.

Kemudian guru itu membuka matanya dan berkata, “Lian Cioe mari kau gantikan aku. Kalau kau sudah tidak sanggup, lekas suruh Siong Kee menggantikannya. Ingat, jangan kau memaksakan diri.”

Lian Cioe meloloskan jubahnya, menyambuti Boe Kie, untuk dipeluk era- erat. Begitu tubuh mereka beradu, ia merasakan hawa dingin, seakan-akan ia memeluk sebalok es. Maka ia berkata “Cit tee, lekas kau suruh orang menyalakan beberapa dapur, makin menyala apinya makin baik!”

Demikian, dengan mengandalkan tenaga dalam mereka, guru dan murid-muridnya itu menolong Boe Kie, si bocah keturunan satu-satunya dari Coei San dan So So.

Di sini terlihat nyata perbedaan tingkat tenaga dalam antara guru dan murid itu. Seng Kok tidak dapat bertahan lama-lama seperti saudara-saudaranya, ia hanya kuat bertahan selama sepanasnya air teh di dalam cangkir, sedang Wan Kiauw kuat bertahan selama dua batang hio. Ketika In Lie Heng yang menggantikan, seketika itu dia menjerit dan tubuhnya menggigil.

“Mari serahkan Boe Kie padaku!” kata Sam Hong kaget. “Pergi kau bersamadhi!”

Ternyata Lie Heng menjadi lemah karena dialah yang mendaratkan pukulan batin paling hebat karena kematian Coei San itu, hingga ia tidak dapat menguasai diri.

Usaha merampas jiwa Boe Kie dari tangan maut ini dilanjutkan terus dengan bergantian selama tiga hari dan tiga malam, maka bisalah dimengerti hebatnya penderitaan mereka.

Syukurnya ialah, hawa dingin ditubuh Boe Kie mulai berkurang, yang berarti juga berkurangnya racun dari Hian beng Sin ciang. Baru dihari ke empat, mereka dapat senggang sedikit, untuk beristirahat dan tidur. Sedang pada hari kedelapan, pembagian giliran dapat diatur lebih rapi, ialah seorang dapat menolong bergantian setiap dua jam. Dengan begitu, mereka bisa beristirahat dengan baik dan teratur.

Boe Kie memperoleh kemajuan, hawa dinginnya berkurang setiap hari. Ingatannya pun bertambah sadar, bahkan ia dapat makan sedikit-sedikit. Semua orang berlega hati. Itu pertanda bahwa anak ini akan dapat ditolong.

Namun, bukan kepalang kagetnya orang ketika tiba pada hari yang ke tiga puluh enam, Lian Cioe yang pertama mengetahui datangnya perubahan luar biasa mendapatkan bahwa hawa dingin di tubuh Boe Kie tidak dapat disedot pula. Lian Cioe heran, ia menyangka bahwa tenaganya sendiri yang sudah habis, maka ia memberitahukan gurunya.

Thio Sam Hong segera mencoba sendiri, iapun gagal. Semua orang menjadi gelisah lagi. Lima hari dan lima malam mereka mencoba terus, tetapi hasilnya tetap tidak ada.

“Thay soe hoe,” berkata Boe Kie yang masih tetap sadar, “tangan dan kakiku telah terasakan hangat, hanya di kepala, hati dan perutku bertambah dingin…”

Di dalam hatinya, Thio Sam Hong kaget bukan main.

“Lukamu telah sembuh banyak,” ia berkata menghibur. “Kamipun rasanya tidak usah selalu harus mendampingimu. Pergilah kau rebahkan diri sebentar di pembaringanku.”

“Baik, thaysoehoe,” kata bocah itu.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: