Kumpulan Cerita Silat

27/07/2008

Kisah Membunuh Naga (17)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 2:14 am

Kisah Membunuh Naga (17)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Girang guru itu mengetahui muridnya sudah beristeri. “Mana isterimu itu?” katanya. “Lekas ajak ia menemui aku!”

Coei San lantas saja berlutut di depan gurunya.

“Soehoe, muridmu bernyali besar,” katanya. “Untuk menikah, dia tidak memberitahukan terlebih dulu kepada Soehoe…”

Sang guru mengurut kumisnya dan tertawa. “Kau berada di pulau Peng hwee to selama sepuluh tahun dan tidak dapat pulang, apakah kau mesti menanti sepuluh tahun dan sesudah memberitahukan aku baru kau menikah?” katanya. “Ngaco, ngaco! Lekas bangun, tidak usah kau memohon maaf. Mana Thio Sam Hong mempunyai murid yang tidak tahu aturan!”

Tetapi Coei San tetap berlutut. “Tapi muridmu beristerikan orang yang asal usulnya sesat,” katanya pula. “Dia…dialah gadisnya In Kauwcoe dari Peh bie kauw…”

Kembali guru itu mengurut kumisnya. “Apakah halangannya itu?” katanya sambil bersenyum. “Asal kelakuan isterimu tidak ada celaannya, sudah cukup! Atau umpama kata pribadinya tidak baik, setelah dia naik ke gunung kita, apakah dia tidak dapat dididik untuk menjadi baik? Pula, apa artinya Peh bie kauw? Coei San, yang terutama untuk menjadi manusia ialah jangan pendek pandangan! Jangan kita menganggap, sebab diri kita dari golongan sejati lantas kita memandang enteng kepada lain orang! Dua huruf ‘sejati dan sesat’ itu, sulit untuk dibedakan. Murid golongan sejati juga, kalau hatinya tidak lurus, ia menjadi sesat, dan murid pihak sesat, apabila hatinya benar, dia dapat menjadi seorang koencoe!”

Bukan main girangnya Coei San. Ia tidak menyangka ganjalan hatinya selama sepuluh tahun itu, yang sangat menguatirkannya sekarang buyar dalam sedetik dengan kata-kata bijaksana gurunya.
Maka ia lantas bangkit dengan wajahnya riang gembira.

“Mertuamu itu. In Kouwcoe, adalah sahabatku,” kata sang guru kemudian. “Aku mengagumi ilmu silatnya. Dialah seorang laki-laki yang luar biasa. Walaupun sifatnya agak sesat, dia bukan seorang buruk. Maka kami dapat menjadi sahabat satu dengan yang lain.”

Kembali kata-kata ini melegakan hati Coei San.

Wan Kiauw dan yang lainnyapun berpikir, “Sungguh Soehoe sangat mencintai muridnya yang ke lima ini hingga sekalipun mertuanya, si raja iblis, dia senang menjadikannya sahabatnya.”

Selagi guru dan murid-muridnya itu berbicara, seorang kacung masuk untuk menyampaikan kabar. “In Kauwcu dari Peh bie kauw mengirim orang membawa hadiah untuk Ngo soesiok!”

“Mertuamu mengirim bingkisan!” berkata Thio Sam Hong sambil tertawa “Coei san, pergi kau sambut tamu!”

“Baik soehoe !” jawab murid itu.

“Nanti aku ikut bersama!” kata In Lie Heng.

Thio Siong Kee tertawa dan berkata, “Yang mengirim bingkisan bukannya Kim pian Kie Loo enghiong. Buat apa kau repot tidak karuan?”

Mukanya Lie Heng menjadi merah tetapi ia diam saja, terus ia mengikuti Coei San.

Di toa thia, ruang depan, terlibat dua orang yang usianya sudah lanjut. Mereka berdandan sebagai bujang tetapi pakaian mereka rapi. Begitu mereka melihat Coei San, mereka maju beberapa tindak untuk memberi hormat sambil berlutut seraya berkata, “Thio Kouwya baik! Terimalah hormat kami In Boe Hok dan In Boe Lok!”

Coei san membalas hormat kedua orang itu dengan mengangguk. “Silahkan koankee bangun,” katanya (Koankee itu kuasa rumah). Meski begitu, ia heran dan berkata di dalam hatinya, “Nama mereka ini aneh. Orang biasa memakai nama Pang An dan lain-lain sebagainya untuk bujang (pelayan). Kenapa mereka memakai nama Boe Hok dan Boe Lok yang berarti tidak punya rejeki dan tidak jaya?”

Ia memandang kedua pegawai mertuanya itu, di mana terlihat olehnya pada muka In Boe Hok ada tapak bacokan golok yang panjang, dari jidat kanan turun ke bawah, mengenai hidung dan bibir kiri, sedang In Boe Lok bekas diserang cacar. Terang wajah mereka buruk sekali. Usia mereka masing-masing sudah lima puluh tahuh lebih.

“Apa kedua mertuaku baik ?” tanya Coei San. “Setelah ada saatnya, bersama nonamu, aku akan pergi menjenguknya. Tidak disangka, sekarang kedua orang tua itu telah mendahului mengirim bingkisan. Bagaimana aku dapat menerimanya? Kamu baru datang dari tempat yang jauh, silahkan duduk dan minum teh.”

Boe Hok dan Boe Lok tidak berani duduk. Mereka hanya menyerahkan daftar barang-barang bawaannya itu. Sikapnya sangat menghormat. Kata mereka, “Looya dan Thay thay kami mengatakan agar ini sedikit barang sukalah kouwya menerimanya tanpa dibuat tertawaan.”

Mereka itu menyebut kouwya, atau baba mantu.

“Terima kasih!” berkata Coei San yang lantas membeber daftar itu, melihat mana, ia terperanjat. Ia mendapatkan belasan helai daftar dengan huruf air emas yang menyebutkan nama-namanya dua ratus rupa barang yang menjadi hadiah itu, umpamanya sepasang singa-singaan kemala, sepasang burung hong batu hijau, alat tulis dari bulu serigala serta bak dan bakinya yang istimewa. Rupanya Peh bie Kauwcoe mengetahui mantunya mengerti ilmu sastra, maka ia mengirim perabot tulis yang berhanga mahal itu. Yang lainnya tarnyata rupa pakaian, kopiah, rupa-rupa perhiasan dan lain lainnya, yang lengkap sekali.

Selama itu Boe Hok telah pergi keluar untuk kembali bersama sepuluh tukang pikul yang memikul barang-barang itu.

Coei San ragu-ragu. “Aku biasa hidup melarat dan sederhana, untuk apa semua barang mewah ini?” pikirnya. “Tapi mertuaku mengirimnya dari tempat demikian jauh. Kalau aku menampik, aku jadi berlaku tidak hormat.” Maka terpaksa ia menerimanya. Sekali lagi, ia mengucapkan terima kasih.

“Nona kamu habis melakukan perjalanan jauh, kesehatannya sedikit tenganggu,” katanya kepada kedua pesuruh itu. “Maka itu, koankee, lebih baik kamu berdiam dulu di sini untuk beberapa hari, nanti baru kamu menemui nona kamu itu,”

“Looya dan Thay thay sangat kangen kepada Kouwnio. Mereka mengharuskan kami pulang hari ini juga untuk menyampaikan balasan kabar,” kata Boe Hok. “Kalau Kouwnio kurang sehat, kami hanya memohon untuk bertemu saja sebentar guna menghaturkan hormat kami, habis itu kami segera berangkat pulang.”

“Kalau begitu, harap tunggu sebentar,” berkata Coei San. Ia lantas masuk, untuk menemui isterinya, guna menyampaikan warta girang.

So So girang sekali, lekas-lekas ia menyisir rambutnya dan berdandan, lalu ia pergi ke ruang samping untuk menemui kedua pegawai ayahnya itu. Ia menanyakan kesehatan orang tua serta kakaknya, setelah mana, ia minta mereka makan dan minum dulu.

Boe Hok dan Boe Lok lantas meminta diri untuk segera berangkat pulang.

Sesaat Coei San bersangsi ataukah kedua pesuruh itu harus diberi persen, tapi ia tak punya uang. Biarpun semua uang di gunung itu dikumpulkan masih belum cukup untuk menghadiahkan mereka berdua. Dasar polos, sembari tertawa, ia berkata, “Nona kalian menikah dengan orang miskin yang tidak bisa memberi persen pada kalian, harap kalian maklum saja!”

Boe Hok dan Boe Lok merendahkan diri. “Tidak apa,” kata mereka. “Kamipun tidak berani menerima. Malah kami bersyukur selalu telah dapat melihat wajahnya Boe tong Ngohiap!”

“Mereka bicara rapi sekali, mereka tentu mengerti baik ilmu surat,” pikir Coei San selagi ia mengantar orang sampai di pintu. “Cukup Kouw ya. Kami hanya mengharap Kouwya dan Kouwnio lekas datang menjenguk agar Looya dan Thaythay tidak terlalu lama mengharap-harap. Semua anggauta kami juga mengharap sekali dapat melihat wajah Kouwya!”

Atas itu, Coei San tersenyum.

“Ah! hampir aku lupa!” kata In Boe Lok tiba-tiba. “Hal ini perlu disampaikan kepada Kouwya. Dalam perjalanan kemari, di rumah penginapan di Siangyang, kami bertemu dengan tiga piauwsioe, sambil berbicara mereka itu menyebut-nyebut nama Kouwnio…”

“Oh begitu!” Kata Coey San. “Apakah kata mereka?”

“Kata yang seorang,” berkata Boe Lok, “Meskipun Boe tong Cit hiap telah melepas budi besar terhadap kita, akan tetapi soal jiwanya tujuh puluh lebih orang-orang Liong boen Piauw kiok tidak dapat dibikin habis secara begini saja. Bicara lebih jauh mereka mengatakan, biarpun mereka tak dapat memperhatikan lagi urusan itu tetapi mereka hendak pergi pada Sin Chio Tin Pat hong Tam Loolonghiong di kota Kay hong untuk minta biarlah jago tua itu sendiri yang berurusan dengan Kouwya.”

Mendengar itu, Coei San hanya mengangguk. Ia tidak mengatakan suatu apa.

In Boe Lok merogo sakunya, mengeluarkan tiga batang bendera kecil berbentuk segitiga. Sembari mengangsurkan itu kepada Coei San dengan kedua tangannya, ia berkata pula, “Oleh karena mendengar ketiga piauwsoe itu bernyali demikian besar, berani membentur kepalan batu, maka urusan ini kami telah mengalihkan kepada Peh bie kauw.”

Coei San terkejut melihat ketiga bendera tiga itu. Yang pertama bersulamkan harimau galak, kepalanya dimiringkan, mulutnya dipentang lebar, dan tubuhnya lagi nongkrong. Itulah benderanya Houw po Piauwkiok. Bendera yang kedua bergambar sulaman seekor burung ho putih lagi terbang di tengah udara, itulah benderanya Chin Yang Piauwkiok, sebab burung itu diartikan in Ho, ketua piauwkiok itu. Bendera yang ketiga yang disulam juga, sulamannya merupakan sembiIan ekor burung walet (yan). Terang itulah bendera Yan In Piauwkiok, sebab di situ ada huruf yan itu, yang berarti “walet” sedangkan bilangan “sembilan” (kioe) diambil dari namanya Kiong Kioe Kee.

“Kenapa kau mengambil bendera mereka itu?” ia tanya dengan heran.

“Kouwya toh baba mantunya Peh bie kauw!” menyahut In Boe Lok. “Dan Kie Thian Pioe dan Kiong Kioe Kee ketiga orang itu makhluk-makhluk macam apa? Mereka tahu bahwa mereka hutang budi kepada Boe tong Cit hiap, kenapa mereka masih mau pergi kepada Sin chio Tin pat hong, si tua bangka she Tam di Kay hong itu? Agar si tua bangka datang berurusan dengan Kouwya? Bukankah itu terlalu tidak pantas? Sebenarnya Looya dan Thay thay hanya menugaskan kepada kami untuk mengantar hadiah kepada Kouwya, tetapi setelah dapat mendengar kata-kata ketiga orang piauwsoe itu yang kurang ajar…”

“Sebenarnya mereka tidak kurang ajar…” kata Coei San.

“Benar, sebab Kouwya sangat bijaksana dan pemurah,” kata Boe Hok, “Tetapi kami yang tidak dapat menahan sabar lantas membereskan mereka semuanya dan mengambil sekalian bendera mereka ini…”

Thio Coei San terkejut. Ia tahu Kie Thian Pioe bertiga adalah Piauwsee piauwsoe kenamaan. Meskipun mereka itu bukan orang rimba persilatan nomor satu, mereka mempunyai masing-masing kepandaian sendiri-sendiri. Kenapa dua orang sebawahan In Thian Ceng ini memandang mereka enteng sekali?

Umpama In Noe Hok ngoceh saja, toh bendera ketiga piauwkiok itu telah berada di tangan mereka berdua. Bukankah jangan kata mengambilnya dengan berterang, dengan jalan mencuripun sukar? Maka itu, apa mungkin mereka merobohkan tiga Piauwsoe itu dengan obat atau hio pulas?

“Bagaimana caranya bendera ini diambil dari tangan mereka?” akhirnya ia tanya.

“Ketika itu Jie tee Boe Lok menantang mereka”, Boe Hok memberikan keterangan. “Tempat yang dipilih ialah pintu luar kota selatan. Mereka bertiga, kamipun bertiga.”

“Pertaruhan kita ialah jikalau mereka yang kalah, mereka mesti menyerahkan bendera mereka dengan mereka mesti mengutungkan sebelah tangan sendiri serta untuk selanjutnya tidak dapat mereka menaruh kaki, sekalipun satu tindak di wilayah propinsi Ouw pak.”

Coei San jadi bertambah heran. Hebat pertaruhan itu. Ia jadi semakin tidak berani memandang enteng kepada kedua Koankee itu.

“Bagaimana kemudian jadinya?” ia tanya pula.

“Kemudian tidak ada apa-apa yang aneh” kata Boe Hok. “Mereka itu menyerahkan bendera mereka serta masing-masing menabas kutung lengan mereka yang kanan seraya mengatakan untuk seumur hidupnya mereka tidak akan menginjak pula wilayah Ouw pak.”

Diam-diam giris hatinya Coei San. Pikirnya, “Benar-benar telengas orang-orang Peh bie kauw itu…”

Boe Hok berkata pula, “Seandainya Kouwya menganggap turun tangan kami terlalu enteng, sekarang juga kami pergi menyusul mereka, untuk mengambil kepala mereka!”

“Bukannya enteng, bahkan berat!” berkata Coei San cepat-cepat.

“Kamipun berpikir,” kata Boe Hok pula. “kami datang untuk mengantar hadiah kepada Kouwya. Itu artinya girang di balik girang, maka jikalau kami mengambil jiwa orang, itulah berarti alamat tidak baik.”

“Benar, kamu memikir sempurna sekali,” Coei San memuji. “Barusan kamu menyebut kamu datang bertiga, mana dia satu lagi?”

“Dialah saudara kami, In Boe Sioe,” menyahut Boe Hok.

“Sesudah mengusir ketiga piauwsoe itu, kami berdua lantas berangkat kemari menjeguk kouwya, sedang saudaraku itu terus berangkat ke Kayhong. Kami kuatir si tua bangka she Tam nanti keburu mendapat kabar dan lantas datang untuk banyak rewel. Ya, Boe Sioe meminta kami mewakilkan menyampaikan hormatnya kepada Kouwya.”

Habis berkata, koankee itu berlutut dan mengangguk untuk memberi hormat.

Coei San membalas dengan menjura. Ia merendah dan berkata bahwa tidak dapat ia menerima kehormatan itu. Di dalam hatinya, baba mantunya Peh bie Kauwcoe ini lantas memikirkan jago tua Tam Soei Lay, yang oleh dua saudara Boe ini menamakan “si tua bangka she Tam”. Ia bergelar Sin Chio Tin Pat Hong, artinya ia jago ilmu silat yang menggetarkan delapan penjuru negara. Ia tahu orang itu telah menjagoi selama empat puluh tahun. Dengan perginya In Boe Sioe seorang diri, ia berkuatir. Siapapun yang akan terluka di antara mereka berdua, hatinya tidak senang.

“Sudah lama aku mendengar nama Tam Soei Lay,” katanya. “Ia seorang Koencoe. Maka Jiewie tolong kamu lekas pergi menyusul ke Kayhong, untuk minta toako Boe Sioe…Bukan! Untuk berbicara dengan Soei Lay. Jikalau mereka berdua sama-sama bersikap keras dan jadi bentrok, itu tidak bagus.”

“Jangan Kouwya merasa kuatir”, berkata Boe Lok dengan tawar. “Tua bangka she Tam itu tidak nanti berani melawan Shatee Boe Sioe. Jikalau Shatee memberitahukan dia untuk jangan usilan, pasti dia akan mendengar kata.”

“Begitu?” tanya Coei San bersangsi. Ia pikir mungkin Tam Soey Lay sendiri sudah tua dan dapat berlaku sabar, tetapi bagaimana dengan orang-orang di dalam rumahnya? Sedikitnya Soei Lay mempunyai dua puluh murid yang sudah lihai, mana mereka jeri terhadap Boe Sioe?

Boe Hok dapat melihat roman ragu-ragu dari baba mantu majikannya. Ia berkata, “Pada dua puluh tahun yang lalu, tua bangka she Tam itu ialah pecundangnya Boe Sioe. Juga ada sesuatu yang penting yang berada di tangan kami. Maka Kouwya jangan kuatir. Harap Kouwya tetap baik!” tambahnya dan bersama saudaranya ia lantas memberi hormat untuk meminta diri dan berangkat pergi.

Coei San membiarkan mereka itu berlalu. Tangannya masih memegang ketiga helai bendera piauwkiok. Pikirannya bekerja. Tadinya ia memikirkan untuk minta dua orang itu pergi mendengar-dengar halnya Boe Kie, anaknya, tetapi berat untuk ia mengatakannya. Ia kuatir merusak nama kakaknya yang nomor dua. Maka di akhirnya, dengan ayal-ayalan ia kembali ke kamarnya.

In So So duduk menyender di atas pembaringan sambil memeriksa daftar barang-barang bingkisan ayah dan ibunya. Di samping itu, ia berduka dan kuatir untuk Boe Kie yang dibawa lari musuh. Sekarang ini entah bagaimana nasib anak itu. Ketika ia melihat suaminya masuk, ia heran melihat roman suaminya itu tidak tenang.

“Kenapa, eh?” tanyanya.

“Sebenarnya Boe Hok, Boe Lok dan Boe Sioe itu orang macam apa?” sang suami balik menanya.

Sudah 10 tahun So So menikah dengan Coei San. Ia tahu suami itu tidak menyukai Peh bie kauw, kumpulan agama yang dipimpin ayahnya. Dari itu, mengenai agamanya itu serta rumah tangganya, tidak mau ia membicarakannya, sedang suaminyapun tidak pernah menanyakannya. Maka itu, heran juga ia mendengar pertanyaan suaminya ini.

Tapi ia menjawab, “Mereka bertiga, pada dua puluh tahun yang sudah adalah penjahat-penjahat besar yang telah malang-melintang diwilayah barat daya. Pada suatu hari mereka kena dikepung serombongan jago, sampai mereka tidak berdaya untuk melawan atau melolos kan diri. Kebetulan ayahku lewat di situ dan melihatnya. Senang ayah melihat keberanian mereka yang tidak sudi menyerah kalah maka ayah lantas mengulurkan tangan, menolong mereka. Lantaran itu, mereka jadi sangat bersyukur dan mereka bersumpah bahwa seumurnya mereka rela menjadi hamba-hamba ayah. Mereka membuang she dan nama mereka. Mereka memakai nama yang sekarang: In Boe Hok, Boe Lok dan Boe Sioe. Sejak kecil aku berlaku baik kepada mereka, tidak berani aku memandang rendah. Mereka tidak diperlakukan sebagai bujang-bujang biasa. Ibu pernah memberitahukan aku mengenai kepandaian mereka. Walaupun ahli silat yang kenamaan, belum tentu gampang-gampang dapat menandingi mereka”

“Begitu!” kata Coei San yang terus menuturkan cerita Boe Kok tentang bertempuran dengan ketiga piauwsoe itu, yang benderanya dirampas serta bagaimana ketiga piauwsoe itu mengutungi lengannya sendiri.

Mendengar itu, In So So mengerutkan alis.

“Dengan berbuat begitu, mereka sebenarnya bermaksud baik,” kata si isteri. “Aku tidak menyangka bahwa kelakuan orang-orang yang menyebut diri dari kalangan sejati, mirip dengan orang kaum sesat. Ngoko, urusan ini dapat menambah kepusingan untukmu. Ah, aku tidak tahu bagaimana baiknya ini diatur…”

Ia berhenti sejenak, untuk kemudian menambahkan, “Biarlah nanti setelah Boe Kie dapat dicari, kita balik lagi ke Peng Hwee to…”

Belum lagi Coei San menanggapi kata-kata isterinya itu, di luar terdengar suara berisik dari In Lie Heng yang berseru, “Ngoko, Mari lekas! Kau ambil pit besar. Lekas kau menulis tulisan dan lain-lainnya!”

Kata-katanya itu lantas disusul dengan, “Ngo so, jangan kau menyesalkan aku yang mengajak Ngo ko keluar! Siapa suruh dia dijuluki Ginkauw Tiat hoa?”

Maka keluarlah Coei San, untuk selanjutnya lohor itu bekerja berenam, mengepalai saudara-saudaranya menghias kuil mereka, terutama untuk memajang banyak tulisan pilihan Song Wan Kiauw yang ditulis oleh Coei San.

Besoknya pagi-pagi, Wan Kiauw semua berdandan rapi dengan pakaian baru mereka. Di saat mereka hendak memayang Jie Thay Giam, untuk diajak pergi keluar memberi selamat kepada guru mereka, tiba-tiba datang satu tootong, yaitu kacung imam, yang membawa sehelai karcis nama.

Song Wan Kiauw yang menyambuti, tetapi mata Thio Siong Kee yang lihai sudah lantas membaca tulisan di atasnya, bunyinya, “Ho Thay Ciong yang muda dari Koen loen san beserta sekalian muridnya memberi selamat kepada Thio Cinjin. Semoga panjang umur sebagai gunung Selatan!” Maka heranlah ia dan lantas ia berkata, “Ketua dari Koen loen pay datang sendiri memberi hormat kepada Soeho! Ia datang dari tempat jauh selaksa li ialah suatu pemberian muka terang yang tak kecil!”

Wan Kiau pun berkata, “tamu kita ini bukan tamu sembarangan, harus kita minta Soe hoe sendiri yang menyambutnya!” Maka ia lantas lari masuk guna memberitahukan gurunya.

“Ciangboenjin dari Koen loen pay ini kabarnya belum pernah datang ke Tionggoan. Maka luar biasa yang ia mendapat tahu hari ulang tahunku,” berkata sang guru, yang lantas memimpin keenam muridnya melakukan penyambutan.

Ho Thay Ciong mengenakan jubah kuning, romannya ramah dan agung, agaknya tepat ia menjadi ketua sebuah partai persilatan. Ia diiringi deIapan muridnya antaranya terdapat See hoa coe serta Wie Soe Nio.

Thio Sam Hong menyambut sambil menjura dan lantas menghaturkan terima kasihnya. Song Wan Kiauw berenam memberi hormat sambil berlutut.

Ho Thay Ciong membalas hormatnya tuan rumah, sedang hormatnya Wan Kiauw beramai dibalas dengan setengah kehormatan. “Nama Boe tong Liok hiap tersohor sekali, maka itu hormatmu itu tidak dapat aku menerimanya,” katanya.

Tamu itu lalu diundang ke ruang tengah, di mana ia dipersilahkan duduk dan disuguhkan teh.

Belum lama, satu tootong datang pula dengan selembar karcis nama. Ketika Wan Kiauw menerimanya, ternyata itulah kartu nama dari rombongan Khong tong pay.

Di dalam kalangan persilatan masa itu, Siauw lim pay yang namanya paling tersohor, Koen loen pay dan Go bie pay yang kedua, baru Khong Tong pay. Maka itu, kedudukannya orang Khong tong pay ini seimbang dengan Song Wan Kiauw. Akan tetapi Thio Sam Hong manis budi, ia berbangkit seraya berkata kepada tamunya, “Ada tamu dari Khong tong pay, hendak aku menyambutnya, dari itu minta sudilah Ho looyoe menanti sebentar.”

Ho Thay Ciong mengangguk, akan tetapi di dalam hatinya ia berkata, “Yang datang hanya orang Khong tong pay, cukup kalau mereka disambut saja oleh seorang murid…”

Tidak lama muncullah Khong tong Ngo loo bersama muridnya. Ho Thay Ciong menemui mereka itu tanpa berbangkit, ia melainkan membungkuk sambil berduduk.

Tidak lama pula datanglah lain-lain tamu, seperti dari partai Sin koen boen, Hay see pay, Kie keng pang, Boe san pay dan lainnya. Maka repotlah Wan Kiauw dan saudara-saudaranya. Mereka ini bermaksud bersuka-ria bersama gurunya saja. Siapa tahu telah datang demikian banyak tamu.

Thio Sam Hong juga tidak gemar ramai-ramai. Ketika ia berulang tahun usia tujuh puluh, delapan puluh dan sembilan puluh, ia telah memesan murid muridnya untuk jangan memberitahukan itu pada banyak orang. Maka ia tidak menyangka kali ini ia kedatangan begitu banyak tamu, sehingga tidaklah heran, kursipun sampai kekurangan hingga terpaksa Wan Kiauw beramai menggunakan batu-batu bundar sebagai gantinya.

Semua ketua partai dapat duduk di kursi, tetapi murid murid mereka terpaksa duduk di batu bundar itu. Untuk minum teh juga, cawan kehabisan dan sebagai gantinya dipakai mangkok nasi.

Selagi Thio Siong Kee dan Thio Coei San berada di kamar sebelah timur, sang kakak menanya adik seperguruannya, “Ngo tee, apakah kau dapat melihat sesuatu?”

“Agaknya mereka telah berdamai Iebih dulu,” berkata Coei San. “Lihatlah sikap mereka di waktu mereka baru bertemu satu pada yang lain. Beberapa orang tampaknya heran tetapi terang itulah berpura-pura belaka.”

“Kau benar. Mereka ini bukannya bersungguh hati datang untuk memberi selamat kepada Soehoe,” kata Siong Kee kemudian.

“Memberi selamat hanya alasan. Yang benar mereka datang untuk menegur!” Kata Coei San.

“Bukan, bukan menegur.” kita Siong Kee. “Perkara jiwa keluarga Liong boen Piauw kiok tidak nanti dapat mengundang Ho Thay Ciong dari Koen loen pay.”

“Habis apakah itu untuk urusannya Kim mo Say ong Cia Soen ?” tanya Coei San.

Siong Kee tertawa dingin.

“Hmm! Mereka memandang terlalu enteng pada Boe tong pay!” katanya. “Walaupun mereka mengandalkan jumlah yang banyak untuk memperoleh kemenangan, apakah mereka menyangka murid-murid Boe tong pay dapat menjual sahabatnya? Ngo tee, meski Cia Soen itu jahat tak berampun, tidak nanti saudaramu membuka mulut untuk memberitahukan hal dia.”

“Sieko benar. Sekarang bagaimana kita harus bertindak ?”

Siong Kee berdiam untuk berpikir. “Sekarang ini kita berhati-hati saja,” sahutnya. “Cukup asal kita bersatu padu, Boe tong Cit hiap sudah kenyang menghadapi badai dan gelombang dahsyat, dari itu mana kita jeri terhadap mereka ini?”

Siong Kee tetap menyebut Boe tong Cit hiap, tujuh jago dari Boe tong pay, walaupun Jie Thay Giam telah bercacat. Ia tidak ingin gurunya sampai turun tangan, terutama sebab guru itu lagi merayakan ulang tahunnya yang ke seratus. Ia menghibur saudaranya itu meski ia merasa urusan itu sulit sekali.

Selanjutnya, Wan Kiauw bertiga Jie Lian Cioe dan In Lie Heng yang melayani tamu-tamu di toathia, ruang besar. Mereka merasa semakin pasti bahwa sikap sekalian tamu itu luar biasa.

Selagi orang berbicara, kembali ada kacung yang masuk dengan wartanya: ‘Murid kepala dari Go bie pay, Ceng hian Soe thay, datang bersama lima Soetee dan Soemaynya untuk memberi selamat kepada Soe couw!”

Mendengar warta itu, Wan Kiauw dan Lian Cioe bersenyum. Keduanya memandang Lie Heng. Justeru itu Boh Seng Kok pun tampak masuk bersama sembilan tamunya yang baru tiba, sedang Thio Siong Kee dan Thio Coei San baru muncul dari dalam. Mereka ini juga mendengar warta itu, mereka turut memandang Lie Heng sambil bersenyum.

Saudara she In ini menjadi merah mukanya, likat sikapnya. Tapi tanpa memperhatikan itu, Coei-San menarik tangannya Soe tee itu, untuk diajak keluar sambil tertawa, ia kata, “Mari, mari…Mari kita menyambut tamu!”

Di luar terlihat Ceng hian Soe Thay tengah menanti bersama lima adik seperguruannnya. Bhiksuni itu berusia empat puluh lebih, tubuhnya tinggi dan besar, romannya gagah. Ia seorang wanita, tetapi tubuhnya lebih tinggi daripada kebanyakan pria. Dari lima saudara seperguruannya, satu adalah seorang pria kurus, usia tigapuluh tahun, dua yang wanita, satu antaranya ialah Ceng hie Soe thay, yang Coei San pernah ketemukan di dalam perahu di tengah laut. Dua wanita lainnya, yang satu ialah nona umur kurang lebih duapuluh tahun, yang mulutnya senantiasa tersungging senyuman, dan yang lainnya berkulit halus, tubuhnya jangkung, romannya cantik. Dia ini, terus menundukkan kepala dan tangannya selalu membuat main ujung bajunya. Sebab dialah Nona Kie yang menjadi tunangannya In Lie Heng.

Bersama Lie Heng, Coei San menyambut tamu dari Go bie san yang mereka pimpin masuk ke dalam. Selama itu, Lie Heng tidak berani mengawasi Siauw Hoe, tunangannya. Hanya setibanya di paseban, selagi yang lainnya sudah berada di sebelah depan, baru ia berpaling, justeru si nona pun melirik ke arahnya. Dengan begitu bentroklah sinar mata mereka.

Adik seperguruan Siauw Hoe melihat lagak soe cienya ini, dia berdehem, sehingga kedua muda mudi itu menjadi kemalu-maluan, keduanya lantas berpaling ke lain arah. Soemoay itu tertawa geli dan berkata, “Soecie, lihat, In Soeko lebih pemaluan dari padamu!”

Hati Siong Kee lega juga karena datangnya rombongan Go Bie pay. Ia percaya, kalau sampai terjadi sesuatu, Ceng hian Soe thay tentu bakal membantu pihaknya, mengingat Nona Kie tunangannya Lie Heng.

Sedang tamu datang begitu banyak, pihak Giok hie koan tidak bersiap siaga. Mana bisa diadakan perjamuan besar? Maka juga pihak imam ini hanya bisa menyuguhkan masing-masing tamu semangkok nasi putih campur sayur tauwhoe dan kwacay.

Wan Kiauw berulang-ulang minta maaf karena dia tidak dapat menjamu semua tamunya lebih dari pada itu. Sebaliknya, kawanan tamu itu sembari makan mereka saban-saban memandang ke arah luar seperti juga mereka lagi menantikan orang.

Diam-diam Song Wan Kiauw dan saudara saudaranya memperhatikan gerak-gerik mereka. Semua ciang boen jin atau Pangcoe tidak ada yang membekal senjara, tetapi banyak murid mereka membawa senjata. Hanya murid-murid Go bie pay, Koen loan pay dan Khong tong pay yang bertangan kosong.

Boe tong pay belum lama didirikan, di kaki gunung belum dipasang “Kay Kiam Giam”, yaitu batu tanda untuk meletakkan pedang. Dengan “pedang” diartikan pelbagai macam senjata tajam. Karena itu, meskipun ada yang membawa pedang naik ke gunung dan termasuk perbuatan kurang pantas, sekalian tamu itu tidak dapat dilarang kedatangannya. Tuan rumah sendiripun tidak dapat menegur. Cuma di dalam hati merasa tidak puas. Kata Wan Kiauw di dalam hatinya, “Kalian datang untuk memberi selamat pada guruku, mengapa kalian diam-diam membekal senjata?”

Ada lagi yang tidak memuaskan pihak Boe tong pay, yang membikin terlebih nyata bahwa tamu-tamu itu mengandung sesuatu maksud. Pelbagai bingkisan yang dibawa oleh mereka, mieshoa dan lainnya, semua barang pembelian sambil lalu disusun di kaki gunung Boe tong san, semua dibeli secara kesusu. Bingkisan semacam itu tidak saja tidak tepat untuk Thio Sam Hong, juga tidak sesuai dengan derajatnya pelbagai tamu golongan ketua itu. Melainkan bingkisan Go bie pay yang tepat, ialah enam belas perabot kumala berikut sepotong jubah warna merah yang sekalian disulamkan seratus huruf “Sioe” (umur) pelbagai model.

Thio Sam Hong girang sekali. Ia mengucapkan terima kasih. Ia memuji kepandaian menyulam itu. Murid murid Go bie pay bukan hanya pandai silat, katanya.

Selagi gurunya itu berkata-kata, Siong Kee terus berpikir, “Entah semua orang ini masih menantikan siapa lagi…Soehoe tidak gemar akan keramaian. Maka juga sahabat-sahabat Boe tong pay tidak ada yang diundang. Kalau tidak, tidaklah kita menjadi mengucil semacam ini hingga kita tidak mempunyai bala bantuan…”

Thio Sam Hong biasa merantau. Tujuh muridnya juga banyak perbuatan baiknya. Jikalau melepas undangan, datanglah banyak sahabat yang lihai.

Jie Lian Cioe, yang berpikir seperti Siong Kee, berbisik pada adik seperguruannya itu, “Kita sudah pikir sehabis ulang tahun Soehoe, akan melepas undangan guna rapat orang gagah di Lauw teng Hong ho lauw. Siapa tahu karena kita berayal, sekarang kita mengalami kegagalan ini.”

Ia bermaksud di dalam rapat itu memberi ketika kepada Thio Coei San untuk menjelaskan bahwa Coei San tidak menjual sahabat agar dia bebas, atau kalau ada yang mendesaknya, pihaknya mungkin memperoleh simpati dan bantuan dari banyak hadirin lainnya. Di luar dugaan, pihak “musuh” telah mendahului, sekarang mereka meluruk datang.

“Sekarang kita cuma dapat berkelahi mati-matian,” berbisik Siong Kee kemudian.

Di antara Boe tong Cit hiap, Siong Kee yang paling pandai berpikir. Setiap ada kesulitan, saban-saban ialah yang memperoleh pikiran baik. Maka itu, mendengar suaranya Soetee ini, Jie Lian Cioe kata di dalam hatinya, “Sampaipun Soetee tidak berdaya, rupanya enam murid Boe tong pay harus mengucurkan darahnya di atas gunungnya ini.”

Coba orang berkelahi satu demi satu, hanya Thie khiem Siang seng Ho Thay Ciong yang dapat menandingi Boe tong Liok hiap. Tetapi orang pasti akan mengepung, itu artinya bukan satu lawan dua puluh tetapi satu lawan empat puluh.

Siong Kee menarik ujung baju Lian Cioe untuk diajak ke belakang ruang. Ia kata pada kakaknya yang nomor dua itu, “Kalau sebentar pembicaraan memuncak ke suasana buruk, kita mesti menantang satu lawan satu. Syukur kalau siasat kita ini kesampaian. Kalau tidak, terang mereka bakal main keroyok…” Lian Cioe mengangguk.

“Dalam kesulitan ini, paling perlu kita menolong Shatee,” katanya. “Kita mesti jaga hingga ia tidak terjatuh ke dalam tangan musuh, supaya ia tidak menderita pula, baik bathin maupun lahir. Tugas ini aku serahkan padamu. Ngo teehoe telah sembuh tetapi ia belum pulih benar kesehatannya, maka itu kau mintalah Ngotee yang melindunginya. Untuk menyambut, tugasnya terjatuh padaku dan Toako berempat.”

Siong Kee mengangguk. “Baik,” katanya. Ia berdiam sejenak, lantas ia berkata pula, “Mungkin ada jalan untuk kita lolos dari bahaya…”

“Apakah itu, Soetee? Biar kita mesti menerjang bahaya dulu, tidak apa.”

“Aku memikir untuk menggunakan siasat, ialah kita berenam masing-masing menyerbu satu lawan” Siang Kee mengutarakan pikirannya. “Di dalam satu jurus, kita mesti berhasil membekuk musuh itu agar musuh lainnya menjadi jeri dan tidak berani mendesak kita…”

Lian Cioe ragu-ragu, ” Yang lainnya tentulah bakalan mengepung kita. Juga umpamanya kita berhasil, masih…”

“Dalam saat berbahaya begini, jangan pikir banyak banyak,” kata Siong Kee. “Kita gunakan saja jurus cengkeraman naga Liong jiauw Ciat hoe cioe!”

“Hari ini hari ulang tahun Soehoe,” kata Lian Cioe, “Artinya hari ini hari baik. Apakah tidak terlalu telengas untuk menggunakan jurus itu?”

Jago Boe tong yang nomor dua itu bersangsi oleh kerena ia mengenal baik jurusnya itu, semacam jurus Kim na Coei hoat atau menangkap tangan sedang Liong jiauw Ciat hoat cioe itu berarti “kuku naga memutuskan.” Itulah jurus paling lihai dalam Boe tong pay.

Ketika Lian Cioe berhasil dengan jurus itu, ia masih kurang puas. Sebabnya ialah kalau musuh lihai, masih dapat meloloskan tangannya dari tangkapan, maka dengan kecerdikannya, ia mengolahnya. Dan ia berhasil menambah itu, menciptakan dua belas jurus hubungannya.

Dalam memilih murid, Thio Sam Hong memperhatikan juga kecerdasan setiap murid. Maka itu murid-muridnya dapat menggunakan otak mereka, di mana perlu mereka bisa mengubah ilmu silat yang diajarkan gurunya untuk disempurnakan.

Ketika Lian Cioe berhasil dengan ciptaannya, ia menjalankan itu di depan gurunya. Sang guru cuma mengangguk, tidak mengiakan juga tidak menolak. Melihat sikap guru itu Lima Cioe tahu rupanya masih ada cacat dalam ciptaannya itu, ia lantas meyakinkan terus.

Selang beberapa bulan, kembali ia mempertunjukkannya di depan gurunya. Kali ini Thio Sam Hong menghela napas dan berkata:”Lian Cioe, ciptaanmu ini jauh lebih lihai dari pada jurus yang aku ajarkan, hanya sambaranmu pada pinggang tidak peduli siapa yang menjadi korban, dia bakal terluka di dalam hingga putus daya keturunannya. Apakah kau menganggap ajaranku, yaitu ilmu silat sejati masih kurang, hingga kau menghendaki jurus yang membikin, hanya dengan satu serangan, lawan lantas tidak berkutik pula?”

Mendengar perunturan itu, Lian Coe mengeluaran keringat dingin, ia bergidik seorang diri.

Seberapa hari selewat itu, Thio Sam Hong mengumpulkan ketujuh muridnya dan bicara kepada mereka tentang ciptaan Lian Cioe itu, kemudian dia menambahkan, “Ciptaan Lian Cioe yang menjadi dua belas jurus berkat ketekunannya adalah suatu ilmu pukulan yang istimewa. Kalau ilmu itu dibuang karena kata-kataku satu orang, itulah sayang, maka itu kamu pergilah belajar pada Lian Cioe, untuk mempelajari itu, supaya masing-masing bisa menggunakannya. Aku hendak memesan, kecuali kalau bertemu saat mati hidup, janganlah itu sembarang dipakai. Sekarang di bawah nama Liong Jiauw itu, aku menambahkan dua huruf ‘Ciat hoe’, yang berarti ‘menutup pintu’. Ingatlah kamu, akibatnya serangan pukulan ini dapat membuat musuh putus turunannya, jadi inilah jurus yang mematikan!”

Semua murid itu menerima baik pesanan guru mereka. Maka yang enam orang lantas belajar pada Lian Cioe. Mereka telah meyakinkan ilmu itu, tetapi mereka belum pernah menggunakannya, sebab mereka taat kepada pesan guru mereka. Adalah sekarang ini, karena keadaan sangat berbahaya, Siong Kee mengajukan pikirannya itu yang membuat si orang she Jie ragu-ragu.

“Memang dengan terkena serangan kita, lawan bakal putus turunannya,” kata Siong Kee kemudian. “tetapi kita masih mempunyai jalan lain. Ialah kita mencari lawan dalam dirinya seorang pendeta imam, atau kalau tidak, kita hajar lawan-lawan yang usianya sudah tujuh atau delapan puluh tahun.

Mendengar itu, Lian Cioe tertawa. “Sungguh cerdik kau, Soetee!” Ia memuji. “Memang pendeta atau imam tidak bakal mempunyai anak!”

Sampai di situ, mereka sudah mencapai persetujuan, maka keduanya lantas mencari empat saudara yang lainnya, untuk mengisik, supaya mereka masing-masing menghadapi satu lawan yang tangguh atau kenamaan. Tanda untuk turun tangan, ialah kalau Thio Siong Kee sudah berseru.

Jie Lian Cioe sendiri sudah lantas memilih bakal mangsanya yaitu anggota paling tua dari Khong tong Ngo too, sedang Thio Coei San mengincar See hoa coe dari Koen loen pay.

Habis orang bersantap, semua mangkuk, sumpit dan cawan lantas dibenahi. Setelah itu Thio Siong Kee, dengan suaranya yang terang dan lancar, lalu berpidato. Dia kata, “Cianpwee serta para sahabat! Hari ini hari peringatan ulang tahun guru kami memasuki usia seratus tahun. Atas kunjungan Cianpwee dan sahabat sekalian, kami sangat bersyukur, hanya kami mohon dimaafkan untuk pelayanan yang tidak sempurna ini. Sebenarnya guru kami hendak mengundang para Cianpwee dan sahabat untuk pertemuan di Hong ho lauw, untuk minum bersama hingga puas, dari itu pelayanan bari ini biarlah diperbaiki kelak, di kemudian hari.”

“Hari inipun saudara seperguruan kami, Thio Coei San, baru saja kembali dari perjalanan jauh yang memakan waktu sepuluh tahun. Dia belum sempat menuturkan kepada guru kami tentang parjalanan dan pengalamannya itu. Inilah disebabkan pesta ulang tahun guru kami ini. Maka itu, kalau umpama dalam suasana begini kita berbicarakan tentang budi atau permusuhan kaum rimba persilatan, itu tidak dapat, itu juga alamat tidak bagus.”

“Dengan begitu maksud para Cianpwee dan sahabat datang memberi selamat lantas dengan sendirinya berubah menjadi hal yang tidak-tidak. Maksud baik itu berubah menjadi masud buruk. Oleh karena itu, tuan-tuan, setelah tuan tuan datang ke Boe tong pai, mari aku yang rendah mengundang tuan-tuan melihat-lihat gunung ini bagian depan dan belakangnya.”

Hebat siasatnya Siong Kee. Pertama-tama ia telah lantas menyumbat mulut orang. Dengan itu ia mau mengatakan, orang pastilah bermaksud bermusuh jika hendak membicarakan urusan Cia Soen dan Liong boen Piauw kiok. Sebab hari itu, hari pesta ulang tahun, adalah hari baik.

Sekalian tamu itu mendaki gunung Boe tong san untuk bicara, untuk mendesak menanyakan di mana adanya Kim mo Say ong Cia Soen. Tapi nama Boe tong pay angker sekali. Tidak ada yang berani memulai. Siapa yang mengajukan diri, berarti dialah yang mengundang permusuhan. Sebaliknya, untuk segera menyerang sendiri juga tidak ada yang berani memulai. Itupun berarti, siapa maju paling dulu, ada harapan dialah yang celaka paling dulu juga. Maka itu tidak ada yang mau menjadi musuh Boe tong pay serta tidak sudi juga menjadi korban pertama. Mereka itu saling mengawasi satu pada yang lain.

Dengan sendirinya suasana menjadi tegang tidak karuan junterungannya.

Akibatnya See hoa coe dari Koen loen pay berbangkit untuk bicara. Ia bukannya menerima undangan Siong Kee, hanya berkata nyaring, “Thio Sie hiap, tidak usah kau mengatakan sesuatu yang artinya lain. Kita terang-terang tidak melakukan apa apa yang gelap. Kita mau bicara dengan mementang jendela lebar-lebar! Kali ini kami datang kemari dengan maksud, pertama-tama ialah untuk memberi selamat kepada Thio Cinjin. Yang kedua yaitu guna mencari tahu tentang di mana beradanya Cia Soen sekarang ini.”

Boh Seng Kok sudah lama sekali menahan hatinya. Mendengar perkataannya Sea hoa coe, ia tidak dapat pula menguasai dirinya. “Bagus! Kiranya begitu!” katanya dengan tertawa dingin. “Tidak heran ! Tidak heran.”

See hoa coe mendelik. “Apa yang tidak heran ?” tanyanya bengis.

Dengan nyaring Seng Kok berkata, “Tidak heran sebab mulanya aku menyangka tuan-tuan datang kemari untuk memberi selamat kepada guru. Tetapi di tubuh kamu masing-matsng disembunyikan senjata tajam. Mulanya aku heran sekali, di dalam hatiku aku bertanya tanya apakah tuan-tuan hendak menghadiahkan senjata tajam kepada guruku? Sekarang barulah terang duduknya hal! Kiranya bingkisan ini bingkisan macam begini!”

See hoa coe menjadi mendongkol sekali. Ia menepuk-nepuk tubuhnya, terus ia meloloskan jubahnya.

“Bok Cit hiap lihatlah biar terang!” ia berseru. “Kau masih muda sekall, jangan kau menyembur orang dengan darah! Lihatlah tubuhku ini! Siapakah yang menyembunyikan senjata tajam?”

“Bagus! Memang tidak ada!” berkata Seng Kok dengan tertawa. Dengan sebat, dengan jari tangannya ia sodok dua orang yang berada di samping. Ketika ia menarik, putuslah tali baju dua orang itu, karena mana dengan menerbitkan suara nyaring berisik jatuhlah dua batang golok pendek yang berkilauan. Mereka benar telah menyembunyikan senjata di sebelah dalam bajunya itu.

Menyaksikan itu, banyak hadirin yang air mukanya menjadi berubah.

“Benar!” See hoa coe berseru. Sekarang ini ia tidak main pernik lagi. “Thio Ngo hiap jikalau kau tidak menunjukkan kami di mana adanya Cia Soen, maka entah kita bakal menggerakkan golok atau pedang!”

Thio Siong Kee tengah menantikan saat untuk memberi seruan. Ia melihat saatnya itu telah sampai. Hanya di saat itu hendak membuka mulutnya, tiba-tiba terdengar suara pujian “Omie too hoed!” yang datangnya dari arah luar pintu.

Suara itu tegas sekali dan halus nadanya masuk ketelinga orang. Suara itu datang dari tempat jauh akan tetapi seperti dari sampingnya setiap orang.

Thio Sam Hong yang semenjak tadi berdiam saja lantas berkata, “Kiranya Kong tie Siansoe dari Siauw Lim pay datang! Lekas sambut!”

Ketika itu di pintu luar lantas terdengar pula suara, “Hong thio Kong boen dari Siauw lim sie dengan mengajak soeteenya, Kong tie dan Kong seng serta murid-muridnya memujikan agar Thio Cinjin panjang umur!”

Kong boen bersama Kong tie dan Kong-seng adalah tiga di antara pendeta-pendeta kenamaan dari Siauw lim-sie. Oleh karena saudara mereka yang tertua, Kong-Kian, telah berpulang ke Tanah Barat (meninggal) sekarang tinggal mereka saja. Karena kedatangan mereka yang tiba-tiba itu batallah Siong Kee berseru. Pula lantas ia mengerti, dengan datangnya ketiga pendeta Siauw lim-sie ini, gagallah rencananya untuk menyergap lawan.

Ho Thay Ciong dari Koen loen pay sudah lantas menyambut dengan berkata, “Sudah lama aku mendengar nama besar dari keempat pendeta berilmu dari Siauw lim-sie. Sekarang kita dapat bertemu di sini, aku merasa beruntung sekali. Dengan begini berarti juga tidaklah sia-sia belaka kedatanganku kemari!”

Dari luar lantas terdengar satu suara dalam, suatu tanda bahwa yang mengeluarkannya ialah seorang yang usianya telah lanjut. Katanya, “Tuan tentunya Ho Sianseng yang menjadi Ciangboenjin dari Koen-loen-pay. Maka aku berbahagia sekali dengan pertemuan ini. Thio Cinjin, aku si pendeta tua telah datang terlambat untuk memberi selamat padamu, itulah perbuatan kurang hormat, maaf !”

Atas itu Thio Sam Hong berkata, dengan merendah, “Hari ini di Boe tong san telah berkumpul banyak tamu-tamu ku yang mulia. Aku girang sekali! Aku si imam hanya berhasil hidup sampai umur seratus tahun. Bagaimana aku berani membuat Soehoe yang agung datang kemari…”

Sembari berkata begitu, ia mengajak murid muridnya pergi ke pintu untuk menyambut tamu-tamunya yang dipandang suci itu dan dihormatinya.

Kedatangan rombongan Siauw-lim pay ini luar biasa. Pihak mereka dengan pihak Boe tong-pay tuan rumah, bicara dari jarak yang jauh. Kedua pihak sudah menggunakan suara dari tenaga dalam. Mereka masih terpisah jauh tetapi mereka bagaikan bicara berhadapan.

Ceng hian Soethay dari Go bie pay kalah mahir tenaga dalamnya. Dia tidak berani campur bicara. Yang lain-lain terlebih pula sampai hati mereka ciut dan malu sendirinya.

Ketika Thio Sam Hong dan murid-muridnya muncul di luar, rombongan Siauw-lim-pay, yang jalannya perlahan, baru sampai di depan pintu. Ketiga pendeta tua itu datang bersama sembilan murid mereka yang telah memasuki usia pertengahan.

Kong-boen Taysoe beralis putih yang panjang sampai turun k ematanya, hingga dia mirip dengan Tiang-bie Loo-han. Kong-seng bertubuh besar dan romannya gagah. Adalah Kong-tie yang beroman meringis dan mulutnya monyong ke bawah. Melihat romannya Kong-tie ini, Siong Kee heran, hingga dia berpikir; “Aku dapat melihat wajah orang, siapa beroman seperti pendeta ini, kalau dia bukan umurnya pendek, pasti dia mati celaka, maka heran, kenapa dia dapat berumur panjang dan dihormati banyak orang? Mungkinkah ilmu khoamia dari aku masih sangat terbatas?”

Thio Sam Hong dan Kong-boen semua adalah guru-guru silat ternama dan asalnya satu golongan. Akan tetapi mereka belum pernah mengenal satu dengan lain. Di dalam hal umur, Sam Hong lebih tua kira-kira tiga atau empat puluh tahun. Ia berasal dari Siauw lim sie, karena gurunya ialah Kak wan Taysoe. Ia berderajat atau bertingkat dua lipat lebih tinggi daripada Kong boen bertiga. Hanya ia tidak menjadi pendeta dan masuknya menjadi murid Siauw lim sie pun tanpa upacara resmi. Ia cuma murid perseorangan dari Kak wan. Karena ini, pertemuan dengan Kong boen bertiga dilakukan sebagai orang-orang dari sesama derajat dan tingkat. Karenanya, Wan Kiauw dan saudara saudaranya menjadi berada di tingkat sebelah bawah tamu-tamu itu.

Setelah kedua pihak saling memberi hormat, Sam Hong mengundang sekalian tamunya ke dalam di mana mereka itu bertemu dengan Ho Thay Ciong dan Ceng hian Soethay sekalian.

Kong boen halus gerak geriknya. Ia memberi hormat sekalipun terhadap anak-anak muda.

Habis minum teh, Kong boen berkata, “Thio Cinjin, menurut usia dan tingkat loolap adalah pihak yang lebih muda. Akan tetapi mengingat kedudukan Boe tong dan Siauw lim sederajat, dan loolap justeru menjadi Ciangboenjin dan Siauw lim pay, harap kau mengijinkan loolap bicara terus terang dan sukalah loolap diberi maaf.”

Thio Sam Hong dapat menduga maksud orang. Karena ia memang jujur, ia lantas berkata “Sam wie yang suci, apakah kedatangan Sam wie ini untuk Thio Coei San, muridku yang nomor lima?”

“Benar”, menjawab Kong boen.

“Ada urusan yang hendak didamaikan dengan Thio Ngo hiap?”

“Pertama yaitu halnya Thio Ngo hiap sudah membinasakan tujuh puluh dua jiwa keluarga Liong boen Piauwkiok serta enam jiwa murid Siauw lim sie. Bagaimana harus diputuskan mengenai tujuh puluh delapan jiwa itu? Yang kedua yaitu mengenai Soeheng kami, Kong kian Taysoe. Ialah seorang yang pemurah dan bijaksana, seumurnya belum pernah ia ribut dengan siapapun juga tetapi ia telah dicelakai Kim mo Say ong Cia Soen hingga ia mati secara sangat menyedihkan. Kami mendengar Thio Ngo-hiap mengetahui di mana beradanya Cia Soen itu, maka kami mohon sukalah Ngo hiap memberikan petunjuknya. Pasti kami dari Siauw lim sie akan mengingat budi itu.”

Mendengar itu, Thio Coei San lantas berbangkit tanpa menanti gurunya bicara. Ia berkata tegas, “Kong-boen Taysoe, tujuh puluh delapan jiwa keluanga Liong boen Piauwkiok dan pendeta Siauw lim sie yang dimaksudkan itu bukannya dibunuh olehku. Seumur hidupku, Coei San telah menerima budi dan ajaran guruku yang berbudi luhur. Walau pun aku bodoh, tidak berani aku mendusta. Hanya halnya siapa siapa yang telah menyebabkan lenyapnya tujuh puluh delapan jiwa itu, dapat aku terangkan bahwa aku mengetahui orangnya cuma tidak ingin aku memberitahukannya. Inilah jawabanku untuk urusan yang pertama itu.”

“Mengenai urusan yang kedua, kematiannya Kong kian Taysoe, siapapun di kolong langit ini tidak ada yang tidak merasa berduka akan tetapi Cia Soen itu ialah sahabat dan saudara angkatku, maka hal di mana beradanya dia sekarang, meski aku ketahui, tak dapat aku menerangkan. Kita kaum rimba persilatan, kita paling mengutamakan kehormatan. Dari itu aku Thio Coei San, leherku boleh kutung dan darahku boleh muncrat, tetapi alamatnya kakat angkatku itu tidak bisa aku menerangkannya. Urusanku ini tidak ada sangkut-pautnya dengan guruku yang berbudi luhur, juga tidak ada hubungannya sama sekalian saudaraku sepenguruan. Jadi semua itu aku yang bertanggung jawab sendiri. Terserah kepada Taysoe bila hendak membinasakan aku, silahkan turun tangan! Aku si orang she Thio, seumurku aku belum pernah aku melakukan sesuatu yang dapat membikin malu guruku, juga belum pernah aku lancang membunuh seorang baik-baik. Jikalau tuan-tuan hendak memaksa aku melakukan perbuatan tidak terhormat, bagianku ialah mati, lain tidak!”

Coei San bicara dengan bersemangat sekali hingga Kong boen memuji, “Omie toohoed!” dan berpikir, “Mendengar suaranya, ia tidak mendusta. Bagaimana sekarang”

Justru ruang sunyi, dari luar jendela terdengar suara bocah memanggil. “Ayah!”

Coei Sin terkejut. Ia mengenali suara anaknya. “Boe Kie, kau pulang!” serunya. Dan ia berlompat untuk lari keluar.

Dua orang masing-masing dari Boe san pay dan Sin koen boen yang berdiri di muka pintu, menduga orang hendak melarikan diri. Sambil membentak “Kau hendak lari ke mana?” mereka mengulur tangannya menekuk.

Coei San keras memikirkan anaknya. Ia mementang kedua tangannya, maka dua perintang itu lantas terpental ke samping kiri dan kanan dan roboh terguling. Ketika ia telah melompat keluar jendela, di situ ia tidak melihat suatu apa.

“Boe Kie!! Boe Kie!” ia terus memanggil berulang ulang kali.

Tidak ada penyahutan.

Dari dalam memburu belasan orang. Ketika mereka mendapatkan orang bukannya lari, merera berdiri diam mengawasi saja.

“Boe Kie! Boe Kie!” Coei San memanggil-manggil lagi.

Tetapi ia tidak memperoleh jawaban, sebaliknya, sejenak kemudian, di situ muncul In So So. Isteri itu baru sembuh dan berada di ruangan dalam ketika ia mendengar suaminya memanggil-manggil anak mereka.

“Boe Kie pulang?” tanya isteri ini kegirangan.

“Barusan aku seperti mendengar suaranya. Ketika aku memburu keluar, aku tidak melihatnya.” sahut sang suami.

So So kecele. “Mungkin disebabkan kau terlalu memikirkannya, barusan kau salah mendengar.” katanya perlahan,

Coei San berdiam, lalu ia menggelengkan kepalanya dengan keras. “Terang aku mendengarnya,” katanya. “Pergilah kau masuk!”

Coei San kuatir isterinya bertemu sama sekalian tamu dan nanti ada ekornya. Seberlalunya isteri itu, ia kembali ke dalam, terus ia memberi hormat pada Koen boen seraya meminta maaf untuk kepergiannya barusan tanpa perkenan lagi.

“Siancay, siancay!” Kong tie memuji, “Thio Ngohiap demikian menyayang anak. Kau sampai seperti lupa ingatan. Maka itu. begitu banyak jiwa yang dicelakai Cia Soen, apakah mereka itu tidak mempunyai ayah atau ibu, isteri atau anak ?”

Pendeta itu bertubuh kecil dan kurus akan tetapi suaranya nyaring bagaikan genta, menderu di telinga para hadirin. Coei San lagi kalut pikirannya, ia tidak memberikan penyahutannya.

Kong boen mengawasi kedua soeteenya, Kong tie dan Kong sang mengangguk. Maka ia lantas menghadapi tuan rumah dan berkata, “Thio Cinjin, bagaimana urusan ini hendak diputuskan, kami memohon petunjuk Cinjin saja.”

“Muridku tidak mempunyai kepandaian apa-apa. Walaupun demikian tidaklah nanti dia berani memperdayai gurunya,” berkata Sam Hong. “Maka itu, aku percaya tidak nanti dia berani mendustakan samwie. Seperti dia katakan, jiwanya orang-orang Liong boen Piauwkiok serta murid-muridmu itu bukanlah dia yang membunuhnya. Sedang tentang tempat kediamannya Cia Soen sudah terang dia tidak hendak memberitahukannya.”

Kong tie tertawa dingin. “Tetapi ada orang yang melihat dengan matanya sendiri Thio Ngo hiap membunuh murid-murid kami itu!” katanya mengejek. “Mustahillah murid-murid Boe tong pay tidak dapat mendusta tetapi murid Siauw lim pay dapat.”

Dia lantas mengibas dengan tangan kirinya dan dua pendeta usia pertengahan di belakangnya lantas maju ke depan

Di belakang dua pendeta ini mengintil seorang pendeta lain tetapi sebab ia bertubuh kecil dan kate tubuhnya itu teraling dan tidak segera terlihat. Tiga-tiga mereka picak mata kanannya. Mereka bukan lain daripada Goan sim, Goan im dan Goan hiap, ketiga pendeta Siauw lim pay yang di tepi telaga di Lim an telah terhajar jarum emasnya in So So.

Coei San telah melihat mereka itu dan mengenalinya. Ia menduga pasti mereka bakal dijadikan saksi untuk peristiwa di tepi telaga Seeouw itu. Sekarang dugaannya itu jitu. Ia tidak takut. Dia bukan si pembunuh, si pembunuh adalah So So yang telah menjadi isterinya. Bagaimana ia bisa tidak melindungi isterinya itu? Hanya, bagaimana ia harus melindunginya ?

Di antara tiga pendeta itu yang bernama berhuruf ‘Goan’, Goan im yang tabiatnya paling keras. Sebenarnya menurut adatnya, begitu bertemu Coei San, ingin ia menerjang. Tetapi karena ada gurunya, ia menahan sewot. Sekarang setelah gurunya memanggil, ia lantas muncul untuk terus berkata, “Thio Coei San, di tepi telaga See ouw di Lim an, kau telah menerjang Hoei bong dengan jarummu. Jarum mana masuk dari mulut, mengambil jiwanya! Aku melihat itu dengan mataku sendiri! Apakah aku memfitnah kau? Dan mata kanan kamipun diserang jarum beracun itu. Apakah kau masih hendak menyangkal?”

Di dalam keadaan seperti itu, Coei San mesti menyangkal terus. Ia kata, “Kami dari kaum Boe tong pay, benar kami mempelajari senjata rahasia dan jumlah macamnya bukan sedikit. Akan tetapi semua itu sebangsa piauw dan panah tangan! Kami bertujuh sudah lama sering merantau, cobalah tanya, apa pernah ada yang melihat kami menggunakan jarum, baik jarum emas maupun jarum perak? Maka tentang jarum beracun tak usah disebut-sebut lagi!”

Dunia rimba persilatan memang tahu golongan Boe tong pay golongan lurus, maka itu banyak yang tidak percaya bahwa Thio Coei San menggunai jarum jahat seperti itu. Tidak demikian dengan Goan im yang menjadi sangat gusar.

“Apakah kau tetap menyangkal”” dia membentak, “Bersama-sama soetee Goan giap aku melihat sendiri kau menyerang Hoei hong dengan jarum. Jikalau itu bukannya kau, habis siapakah?”

“Aku tahu siapa dia, tetapi aku tidak hendak memberitahukan kepada kamu!” menyahut Coei San.
“Apakah kau kira murid-murid Boe tong pay dapat kau main paksa ”

Coei San pandai bicara. Ia membuatnya darah Goan im meluap. Maka itu, adu mulut mereka berkesudahan dari unggul si pendeta jatuh di bawah angin.

“Goan im Soeheng,” Thio Siong Kee turut bicara,” tentang siapa sebenarnya yang membinasakan murid-murid Siauw lim itu, untuk sekarang ini sulit buat dibikin terang. Akan tetapi Soe heng kami, Jie Thay Giam, terang sudah telah dilukai dengan Kim kong cie dari Siauw Lim pay! Maka itu kebetulan sekali kunjungan tuan-tuan semua, sekarang aku mohon menanya, sebenarnya siapakah yang telah melukai Sam soe heng kami itu?”

“Itulah bukan aku,” Goan sim menyangkal cepat.

“Aku juga tahu bukannya kau!” kata Siong Kee tertawa dingin. “Aku juga tidak percaya kau mampu meyakinkan ilmu itu!”

Ia berdiam sejenak, lalu melanjuti, “Jikalau Soeheng kami itu bertubuh sehat dan ia bertempur dengan orang partaimu yang kosen secara laki-laki, kalau ia sampai dilukai dengan Kim kong cie, harus disesalkan saja kepandaiannya belum sempurna. Kalau pertempuran sampai terjadi orang terluka atau binasa apa mau dibilang lagi? Orang toh tidak biasanya membuat perjanjian sebelum pertandingan dimulai untuk mempertanggungkan keselamatan bulu atau rambutnya?”

“Akan tetapi Soeheng kami itu justeru lagi menderita sakit berat, tubuhnya tidak dapat digerakkan. Justeru begitu tuan pendeta itu sudah menggunakan pukulan Kim kong cie. Dia memaksa Soehengku menerangkan tentang golok mustika To liong to!”

Sampai di situ, dengan mengeraskan suaranya, Siong Kee menambahkan, “Ilmu silat Siauw lim pay telah menjagoi di kolong langit ini, Siauw lim pay telah menjadi jago rimba persilatan. Dari itu apa perlunya dia menghendaki juga golok mustika itu? Di samping itu, golok tersebut pernah dilihat satu kali oleh Soehengku itu! Kenyataannya ia telah dipaksa, bukankah perbuatan itu terlalu kejam? Jie Thay Giam mempunyai juga sedikit nama dalam Kang Ouw. Ia biasa melakukan perbuatan-perbuatan mulia. Dengan begitu, ia jadinya pernah melakukan jasa-jasa baik untuk kaum rimba persilatan. Tetapi sekarang, ia dianiaya pihak Siauw lim pay hingga ia cacat seumur hidupnya. Untuk sepuluh tahun, ia rebah saja di atas pembaringan. Maka itu sekarang kami mau memohon pertimbangan dari tiga Taysoe yang mulia”

Urusan terlukanya Jie Thay Giam dan kebinasaan keluarga Liong boen Piauw kiok itu telah menjadi bahan perselisihan selama sepuluh tahun. Hanya karena lenyapnya Thio Coei San suami-isteri perkara tinggal tengantung. Sekarang pihak Siauw lim pay menimbulkannya pula dan Thio Siong Kee menggunakan ketikanya akan turut menggugatnya.

“Tentang itu pernah loolap menyelidiki,” berkata Kong boen. “Loolap telah memeriksa sekalian murid Siauw lim sie, tapi tidak ada satupun yang melakukan penganiayan itu.”

Mendengar jawaban itu, Thio Siong Kee merogo sakunya untuk mengeluarkan sepotong emas goan po. Pada uang itu ada tapak jari tangan. Sambil menunjuki itu, ia berkata dengan nyaring, “Baiklah semua orang gagah di kolong langat ini mengetahui. Orang yang menyiksa Soeheng kami itu adalah pendeta Siauw lim pay yang tapak jari tangannya berada di atas uang goanpo ini ! Kecuali dengan Kim kong cie, ada partai mana lagi yang dapat membikin tanda di atas uang seperti ini?

Goan-im bertiga menuduh Thio Coei San hanya dengan kata-kata. Sekarang Siong Kee membalas dengan ada buktinya, inilah hebat.

“Siancay, siancay!” memuji Kong boen Taysoe, “Di antara orang partai kami yang meyakinkan Kim kong cie, kecuali kami bertiga, cuma lima Tiang Loo dari Tat mo tong. Akan tetapi, kelima Tiang loo itu tidak pernah keluar dari kuil kami lamanya sudah tiga sampai empat puluh tahun. Maka dari itu cara bagaimana mereka dapat melukai Jie Sam Hiap?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: