Kumpulan Cerita Silat

26/07/2008

Kisah Membunuh Naga (16)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 2:13 am

Kisah Membunuh Naga (16)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Coan Kian Lam juga sudah turun dari kudanya dan sambil mengebas kedua senjatanya, ia melompat ke samping Coei San.

“Hari ini aku dan So So bertempur demi kepentingan Gie heng,” pikir Coei San. “Sebagai saudara angkat, hal itu hal yang wajar. Tapi Jie ko belum pernah mengenal Gie heng, sehingga tidaklah pantas jika ia menerima hinaan karena gara-gara Gie heng.” Memikir begitu, ia lantas saja mengambil suatu keputusan.

Sesaat itu, si tua sudah menotok dengan pitnya dan Coei San lalu menangkis dengan hanya menggunakan dua bagian tenaganya. Begitu kedua senjata kebentrok, badan Thio ngohiap kelihatan bergoyang-goyang. Kian Lam jadi girang bukan main. Ia tak nyana pendekar Boe tong yang begitu disohorkan, sedemikian ’empuk’. Ia segera bertekad untuk merubuhkan Ngohiap dalam pertempuran satu lawan satu supaya dalam segebrakan saja, namanya bisa naik tinggi dalam rimba persilatan di wilayah Tionggoan.

Sambil membela diri, Coei San memperhatikan ilmu silat musuh. la mendapat kenyataan si kakek gesit dan licin gerakannya dan caranya menotok jalan darah berbeda dengan ilmu totokan Tionggoan.

Sesudah bertempur beberapa lama, Coei San mengetahui bahwa Poan koan pit musuh yang dicekel di tangan hanya menotok jalanan jalanan darah di bagian punggung dari Leng thay hiat ke bawah, sedang Poan koan pit yang di sebelah kanan menotok jalanan darah di bagian pinggang dan lutut seperti Ngo kie hiat, Wie to hiat, Kie kauw biat dan lain-lain,

“Soehoe pernah mengatakan, bahwa walaupun lihai, Tiamhiat dari San liong pay tidak usah ditakuti,” pikirnya. “Hari ini baru aku melihat buktinya,” Sesudah dapat meraba ilmu silat musuh, pembelaan diri jadi makin sederhana, karena ia hanya perlu menjaga jalanan-jalanan darah tertentu yang dicecer dengan totokan totokan.

Sesudah lewat lagi beberapa jurus, sambil membentak keras, cepat bagaikan kilat, Coei San menyerang dengan Coretan huruf “Liong” (naga) dengan gaetannya “Srt!” Ginkauw menggores jalan darah Hong say biat di lutut kanan si tua.

Seraya mengeluarkan teriakan kesakitan, Kian Lam berlutut. Seperti arus kilat, dengan menggunakan coretan huruf “Hong” (tajam ), Ngohiap menotok belasan jalanan darah, yaitu jalanan-jalanan darah yang biasa jadi bulan-bulanan si kakek sendiri.

“Sudahlah! Sudahlah!” mengeluh Kian Lam. “Andaikata dia patung, aku masih tak mampu menotok belasan jalanan darahnya dalam tempo sekejap mata. Celaka sungguh! Aku bahkan masih belum pantas untuk menjadi muridnya!”

Seraya menempelkan Ginkauw di leher Kian Lam, Coei San membentak, “Tuan tuan, mundurlah! Sesudah Coan Loo eng hiong mengantar kami sampai di kaki Boe tong san, aku akan membuka jalanan darahnya dan mengembalikannya kepada kalian!” Ia merasa pasti, bahwa orang-orang yang mengepung akan segera mundur.

Tapi di luar dugaan, si wanita muda mengangkat sepasang goloknya dan berteriak, “Serbu!”

“Tahan!” bantak Ngohiap. “Maju setindak lagi kakek ini akan menjadi mayat !”

Wanita itu tertawa dingin. “Serbu!” teriaknya pula. Ia mengeprak kuda dan menerjang, sedikitpun tidak menghiraukan nasib Coan Kian Lam.

Wanita itu adalah salah seorang Tocoe dari Sam kang pang dan tujuan mereka ialah menawan, Jie Lian Cioe dan So So untuk memaksa Coei San memberitahukan tempat sembunyinya Cia Soen. Coan Kian Lam seorang luar yang hanya menjadi tamu, sehingga mati hidupnya tidak begitu dihiraukan.

Coei San kaget bukan kepalang. Ia mengerti, bahwa tak ada gunanya membunuh si kakek. Sesaat itu, tujuh delapan orang sudah mengurung kereta So So, delapan sembilan musuh mengepung kereta Lian Cioe, sedang ia sendiri dikurung oleh si wanita bersama enam tujuh orang.

Selagi ia kebingungan, tiba-tiba Lian Cioe berteriak dengan suara nyaring, “Liok tee, beres kan orang-orang itu!”

Coei San tercengang. Apa kakaknya tengah menggunakan siasat “kota kosong”?

Sekonyong- konyong di tengah udara terdengar siulan yang panjang dan nyaring. “Ngoko! Setengah mati aku memikir kau!” teriak seorang. Hampir berbareng dari atas sebuah pohon besar melompat turun satu bayangan manusia yang lantas saja menerjang sambil memutar pedang. Orang itu memang bukan lain dari pada In Lie Heng.

Hati Coei San meluap dengan kegirangan, “Liok tee !” serunya.

Beberapa orang dari Sam kam pang segera menceggat Lie Heng. Pedang Boe tong Liokhiap berkelebata kelebat dibarengi dengan suara jatuhnya sejumlah senjata, karena setiap kali pedang berkelebat ujungnya menggores jalanan darah Sin boen hiat, di pergelangan tangan musuh.

Wanita itu gusar tak kapalang dan membentak, “Siapa kau?” Ia tak dapat bicara terus, sebab kedua goloknya hampir berbareng jatuh di tanah.

“Ilmu Sin boen Sip sam kiam yang digubah Soehoe sudah sempurna!” teriak Coei San kegirangan.

Sin boen Sip sam kiam atau “Tiga belas jurus pedang Sin boen” terdiri dari tiga belas macam jurus yang berbeda beda gerakannya, tapi setiap jurus mengarah jalanan darah Sin boen Hiat di pergelangan tangan lawan. Pada sepuluh tahun berselang, waktu Coei San berada di Boe tong san, Thio Sam Hong pernah mengutarakan niatnya untuk menggubah ilmu pedang tersebut. Tapi, karena adanya berbagai kesukaran, pada waktu itu sang guru belum berhasil mencapai maksudnya. Sekarang Coei San dapat melihat kelihaian Sin boen Sip sam kiam.

Melihat gelagat tidak baik, wanita itu berseru “Angin keras! Mundur!” Semua kawannya lantas saja kabur lintang-pukang, beberapa antaranya malah tidak keburu menunggang kuda.

Sementara itu, Coei San sudah membuka jalanan darah Coan Kian Lam yang tertotok. Ia menjemput kedua Poan koan pit pecundangnya dan menyelipkannya di pinggang si kakek. Dengan kemalu maluan, si tua buru-buru berlalu.

Sesudah memasukkan pedang kedalam sarung sambil mencekal tangan kakak seperguruannya, Lie Heng berkata, “Ngoko, aku sungguh menderita dalam memikiri nasibmu!”

Sang kakak tertawa. “Liok tee, kau sudah besar sekali,” katanya. Waktu mereka berpisahan, In Lie Heng baru berusia delapan belas tahun. Selang sepuluh tahun adik yang tadinya kurus kecil itu sudah berubah menjadi pemuda jangkung yang tampan parasnya.

Sambil menuntun tangan Lie Heng, Coei San mengajak adik itu menemui isterinya. So So yang tengah menderita sakit yang tidak enteng manggut manggutkan kepala seraya bersenyum, “Lioktee!” katanya dengan suara perlahan.

“Bagus!” kata Lie Hang. “Ngoso juga she In. Aku bukan saja mendapat enso, tapi juga memperoleh kakak.”

“Jieko sungguh lihai,” kata Coei San. “Aku tak mimpi kau bersembunyi di pohon, tapi ia sudah mengetahuinya.”

Lie Heng lantas saja menuturkan cara bagaimana ia bisa datang ke situ untuk menyambut kakaknya. Ternyata, pada waktu Siehiap Thio Siong Kee turun gunung untuk membeli barang guna perayaan ulang tahun gurunya, ia telah bertemu dengan dua orang Kangouw yang sikapnya sangat mencurigakan.

Ia curiga lalu menguntit mereka. Dengan mendengari pembicaraan mereka, ia tahu, bahwa Coei San sudah pulang dan sudah mempersatukan diri dengan Lian Cioe.Ddi samping itu, ia juga tahu, bahwa Sam kang-pang dan Ngo hong to ingin mencegat kedua saudara itu untuk menanyakan tempat sembunyinya Cia Soen.

Cepat-cepat ia pulang ke Boe tong san, tapi di tempat gurunya ia hanya bertemu dengan In Lie Heng seorang. Mereka segera turun gunung untuk menyambut kedua saudara itu. Sedikitpun mereka tidak merasa kuatir. Mereka menganggap, bahwa orang dari partai-partai kecil tidak akan bisa berbuat banyak terhadap Lian Cioe dan Coei San. Tapi karena mereka ingin sekali bertemu dengan Coei San selekas mungkin, maka mereka berjalan dengan secepat-cepatnya, mereka tak tahu tentang terlukanya Lian Cioe, sebab kedua orang kangouw itu sama sekali tidak membicarakannya.

Di tengah perjalanan Siong Kee mengusir orang pandai dari Ngo hong to, sedang tugas menghajar orang-orang Sam kang pang diserahkan kepada In Lie Heng.

Lian Cioe menghela napas. “Kalau Sietee tidak berwaspada, mungkin sekali hari ini Boe tong pay ambruk namanya.” katanya.

“Benar,” menyambungi Coei San dengan suara jengah. “Siauwtee sendiri pasti tak akan dapat melindungi Jieko. Hai! Sesudah meninggalkan rumah perguruan sepuluh tahun lamanya kepandaian Siauwtee sungguh-sungguh beda terlalu jauh dari saudara.”

“Janganlah Ngoko berkata begitu,” kata Lie Heng seraya tertawa. “Barusan Ngoko telah memperlihatkan pukulan yang sangat lihai waktu merobohkan si tua bangka dari Ko lee kok. Sesudah kau pulang, Soehoe pasti akan menurunkan berbagai ilmu kepadamu. Mengenai Sin boen Sip sam kiam, sekarang juga siauw tee bersedia untuk memberi penjelasan kepadamu.”

Malam itu, mareka menginap di sebuah rumah penginapan di Sian Jan touw. In Lie Heng minta tidur bersama-sama Coei San. Permintaan itu disambut dengan rasa girang oleh sang kakak, yang juga merasa sangat kangen dengan adiknya itu.

Dalam runtunan Boe tong Cit hiap, Boh Seng Kok yang berusia paling muda. Tapi walaupun berusia lebib muda, lagak lagu Boh Seng Kok lebih tua dari pada Lie Heng. Semenjak dulu, Coei San sangat mencintai Lie Heng yang usianya tidak beda seberapa dengannya dan mereka berdua biasa bergaul rapat sekali.

“Ngotee sudah mempunyai isteri,” kata Lian Cioe sambil tertawa. “Jangan kau mempersamakan dia seperti pada sepuluh tahun yang lalu. Ngotee, pulangmu sungguh kebetulan. Sesudah minum arak panjang umur dari Sohoe, kau akan segera minum arak kegirangan (arak pesta pernikahan) dari Lioktee.”

Coei San girang tak kepalang. Ia menepuk nepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak. “Bagus! Sungguh bagus. Siapa pengantin perempuannya?” tanyanya.

Paras muka si adik lantas saja berubah merah.

“Mutiara (puteri) dari Kim pian Kie Loo eng hiong di Hian yang,” kata Lian Cioe.

“Bagus! Kalau Lioktee natal, Kim pian (cambuk emas) akan menghantam kepalamu.” katanya sambil tertawa geli.

Lian Cioe bersenyum, tapi pada mukanya berkelebat sehelai sinar suram. “Kie Kouwnio menggunakan pedang…” katanya. “Kuharap di antara wanita-wanita bertopeng yang mencegat kita di tengah sungai, tidak terdapat Kie Kouwnio.”

Coei San kaget. “Kalau begitu ia murid Go bie?” tanyanya.

Lian Cioe mengangguk seraya berkata “Waktu kita bertempur di pinggir sungai, semua anggauta rombongan Go bie berkepandaian biasa saja sehingga tak mungkin Kie Kouwnio turut serta dalam rombongan itu. Jika ia berada di situ untuk kepentingan Ngo teehoe, aku bisa berdosa terhadap Liok teehoe dan orang bisa mengatakan aku memilih kasih. Ngotee, Liok teehoe kita berparas cantik, berkepandaian tinggi, dan sebagai murid dari sebuah partai yang tersohor, ia benar-benar merupakan pasangan yang setimpal dengan adik kita…”

Mendadak ia berhenti bicara, karena tiba-tiba ia ingat bahwa In So So adalah puteri seorang pemimpin “agama” yang sesat, sehingga dengan memuji nona Kie, seperti juga mengejek isterinya Coei San. Selagi mencari perkataan untuk memperbaiki kesalahannya, sekonyong-konyong datang seorang pelayan yang lantas saja berkata, “Jie ya, ada beberapa orang, yang mengaku sebagai sahabatmu, datang berkunjung ”

“Siapa?” tanya Lian Cioe.

“Mereka memperkenalkan diri sebagai murid murid Ngo-hong-to” jawab sipelayan. “Jumlahnya enam orang.”

Lian Cioe bertiga terkejut. Apakah Siong Kee yang bertanggung jawab untuk mengusir orang-orang Ngo-hong-to, mendapat kecelakaan?

“Aku akan menemui mereka,” kata Coei San yang kuatir keselamatan Lian Cioe yang masih belum sembuh dari lukanya.

“Undang mereka masuk,” kata Jiehiap kepada si pelayan.

Beberapa lama kemudian, masuklah enam pria dan seorang wanita. Coei San dan Lie Heng berdiri di samping Lian Cioe siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan. Tapi tamu-tamu itu kelihatan berduka tercampur malu dan merekapun tidak membekal senjata.

Begitu masuk, seorang yang rupanya menjadi pemimpin dan yang berusia kira-kira empat puluh tahun, merangkap kedua tangannya dan berkata dengan sikap hormat, “Apakah kalian Jie Jiehiap, Thio Ngohiap dan In Liok hiap dari Boe-tong-pay? Aku, Ben Ceng Hooey, murid Ngo-hong-to memberi hormat.”

Lian Cioe bertiga lantas sajs membalas hormat. “Beng Loosoe, selamat bertemu,” kata Lian Cioe. “Kalian duduklah.”

Beng Ceng Hoey tidak lantas berduduk, tapi berkata pula, “Partai kami yang berkedudukan di Ho tong, propinsi San see, hanyalah sebuah partai kecil yang tidak ada artinya. Sudah lama kami mendengar nama besarnya Thio Cinjin dan Boe tong Cit hiap. Hanya sebegitu jauh, kami belum mendapat kesempatan untuk bertemu muka. Hari ini kami tiba di kaki Boe tong san. Menurut pantas, kami haruslah naik gunung untuk menemui Thio Cinjin. Tapi mendengar, bahwa beliau sudah berusia seratus tahun dan selalu hidup dengan mengasingkan diri, kami orang-orang kasar tidak berani mengganggu ketenteraman beliau. Kalau nanti sudah pulang ke gunung kami mengharap Sam wie suka memberitahukan beliau, bahwa murid-murid Ngo hong to memberi selamat dan berdoa agar beliau dikaruniai dengan rejeki dan umur panjang oleh Tuhan Yang Maha kuasa.”

Mendengar pemberian selamat kepada gurunya, Lian Cioe yang duduk di atas pembaringan batu sebab lukanya belum sembuh, buru-buru memegang pundak In Lie Heng dan turun dari pembaringan.

“Terima kasih atas pemberian selamat dan doa itu,” katanya seraya membungkuk.

“Sebagai penduduk kampung, kami seperti kodok di dalam sumur,” kata pula Beng Ceng Hoey. “Kami tak tahu bagaimana luasnya langit dan lebarnya bumi. Dengan berani mati, kami datang ke tempat kalian. Tapi dengan jiwa yang sangat besar, para pendekar Boe tong berbalik menolong kami, untuk itu kami berterima kasih tidak habisnya. Kedatangan kami pertama untuk menghaturkan terima kasih yang tak terhingga. Kedua untuk meminta maaf dan kami memohon agar Sam wie tidak mencatat kedosaan kami”

Sehabis berkata begitu, Beng Ceng Hoey kelihatan bingung, seolah-olah merasa takut untuk bicara terus.

“Beng Loosoe boleh bicara saja tanpa ragu-ragu,” kata Lian Cioe dengan manis.

“Terlebih dulu aku memohon janji Jiehiap, bahwa Boe tong pay tak akan menggusari kami, supaya kami bisa memberi laporan kepada soehoe,” katanya.

Lian Cioe tersenyum. “Apakah kunjungan kalian untuk menyelidiki tempat bersembunyinya Kim mo Say ong Cia Soen?” tanyanya. “Kedosaan apa yang telah diperbuat Cia Soen terhadap partai kalian?”

“Saudaraku, Beng Ceng Jin, telah binasa dalam tangan Cia Soen !” jawabnya.

Lian Cioe kaget. “Oleh karena adanya kesukaran yang tidak dapat di atasi kami tidak bisa memberitahukan kalian mengenai tempatnya Cia Soen,” katanya. “Tentang soal menggusari kalian, baiklah jangan disebut-sebut lagi. Kalau nanti kalian pulang dan bertemu dengan Ouw Loo yacoe, katakanlah, bahwa Jie Jie, Thio Ngo dan In Liok menanyakan kesehatan beliau.”

“Kalau begitu, kami ingin meminta diri,” kata Beng Ceng Hoey. “Di hari kemudian, andaikata Boe tong pay memerlukan tenaga kami, biarpun Ngo hong to bertenaga sangat kecil, murid-murid Ngo hong to pasti tak akan menolak tugas sebagai pesuruh.”

Sehabis berkata begitu ia mengangkat kedua tangan, diturut oleh kelima kawannya, dan kemudian meninggalkan kamar itu.

Baru berjalan beberapa tindak, yang wanita mendadak memutar badan dan lalu berlutut di lantai, “Aku yang rendah sudah bisa mempertahankan kesucian diri berkat pertolongan para pendekar Boe tong,” katanya dengan suara perlahan. “Selama hidup, aku tak akan melupakan budi yang sangat besar ini.”

Biarpun sangat kepingin tahu duduknya persoalan, tapi mendengar perkataan “kesucian diri.” Lian Cioe bertiga tidak berani menanya lebih jelas. Sesudah berlutut beberapa kali, ia lalu berjalan keluar untuk menyusul rombongannya.

Beberapa saat sesudah rombongan Ngo hong to berlalu, tirai mendadak tersingkap dibarengi dengan masuknya seorang yang segera menubruk dan memeluk Coei San.

“Sieko!” teriak Coei San, bagaikan kalap bahkan girangnya.

Orang itu ialah Siehiap Thio Siong Kee. Sesudah berpelukan beberapa lama, Coei San berkata, “Sieko, kau sungguh pintar dan berakal budi. Kau sudah berhasil mengubah sikap orang-orang Ngo-hong-to dari lawan menjadi kawan.”

“Ah! itulah sudah terjadi karena kebetulan saja”, sang kakak merendahkan diri.

Siong Kee lantas saja menuturkan latar belakang kejadian itu.

Wanita cantik itu seorang she Ouw, puteri kedua dari Ciangboenjin Ngo-hong-to. Suaminya ialah Beng Ceng Hoey. Kali ini, kedua suami-isteri bersama empat orang Soetee dan Soetit telah datang di Ouwpak untuk menyelidiki Cia Soen. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Tocoe Sam-kang-pang yang memberitahukan, Coei San dari Boe-tong pay mengetahui di mana adanya Kim mo Say-ong. Ouw-sie lantas saja mengusulkan untuk membekuk Coei San guna memaksakan pengakuan.

Beng Ceng Seng biasanya sangat takut isteri, tapi kali itu ia menolak. la mengatakan, bahwa murid Boe-tong-pay lihai luar biasa, dan jalan yang paling baik ialah menanyakan dengan memakai peradatan. Kalau tidak diluluskan, coba mencari daya upaya lain. Ouw-sie kukuh pada pendapatnya, ia mengatakan, bahwa jika Coei San sudah pulang ke Boe-tong-san, mereka tak akan dapat menangkapnya lagi.

Karena tidak sependapat, kedua suami-isteri itu lantas saja bercekcok, sedang kawan-kawannya yang lain tidak berani campur mulut.

Ouw-sie jadi sangat gusar “Setan nyali tikus!” teriaknya. “Kan usul itu untuk membalas sakit hati saudaramu, bukan untuk kepentinganku. Hmmm! Kapan kau begitu takut terhadap murid-murid Boe tong! Andai kata dia Thio Coei San memberitahukan tempat sembunyinya Cia Soen, apakah kau mempunyai nyali untuk mencari musuhmu. Menikah dengan manusia nyali tikus benar-benar celaka besar!”

Beng Ceng Hoey tidak berani bertengkar lagi, tapi ia tetap tidak menyetujui usul isterinya untuk menggunakan song-han-yo (obat pulas) guna membekuk Coei San dan So So. Dalam gusarnya, malam itu, selagi suaminya pulas, ia menghilang.

Nyonya muda itu pergi dengan niatan membekuk Coei San dan So So supaya ia bisa mengejek suaminya. Di luar dugaan, gerak geriknya diketahui oleh seorang Tocoe dari Sam kang pang. Melihat kecantikan Ouw Sie, Tocoe itu mendapat pikiran jahat dan lalu menguntit, sehingga akhirnya, bukan Coei San dan So So yang kena Bong han yo, tapi, Ouw Sie sendiri.

Siong Kee yang terus mengintip gerak-gerik keenam orang Ngo hong to, itu, lalu memberi pertolongan. Sesudah dihajar dan diperingati keras, ia mengusir Tocoe Sam kang pang itu. Pada Ouw sie, Siong Kee tidak memperkenalkan nama. Ia hanya mengatakan, bahwa ia adalah murid Boe tong Pay.

Dengan malu besar, Ouw sie kembali kepada suaminya dan menceritakan segala apa yang sudah terjadit. Dengan demikian, Boe tong pay berbalik menjadi tuan penolong.

Sesudah berdamai, mereka segera mengunjungi Lian Cioe bertiga untuk menghaturkan terima kasih dam meminta maaf. Supaya Ouw sie tidak terlalu jengah, sesudah mereka berlalu, barulah Siong Kee muncul.

“Menghajar Tocoe Sam kang pang itu memang bukan pekerjaan sukar,” kata Coei San. “Tapi tindakan Sieko yang selamanya memberi kesempatan kepada orang-orang yang berdosa, sangat sesuai dengan pendirian Soehoe.”

Siong Kee tertawa. “Sesudah sepuluh tahun tak bertemu, begitu bertemu Ngotee menghadiahkan topi tinggi kepadaku.” katanya.

Malam itu keempat saudara seperguruan tidur di satu pembaringan dan mereka beromong-omong terus sampai pagi.

Meskipun pintar dan berakal budi, Siong Kee tidak dapat menebak siapa adanya orang yang menyamar seperti serdadu Goan, menculik Boe Kie dan melukakan Lian Cioe.

Pada esok paginya sesudah Siong Kee menemui So So, mereka lalu meneruskan perjalanan. Sesudah menginap lagi semalaman di tengah jalan, barulah mereka mulai mendekati Boe tong san.

Sesudah berpisahan sepuluh tahun, Coei San kembali ke gunung itu yang menjadi tempat tinggalnya sedari kecil. Mengingat bahwa ia akan segera bertemu dengan guru dan saudara-saudaranya, biar pun isteri sakit dan anak hilang, kegirangannya melebihi rasa dukanya.

Setibanya di atas gunung mereka melihat delapan ekor kuda tertambat di depan kuil.

“Ada tamu,” kata Siong Kee. “Kita masuk saja dari pintu samping.”

Sambil menuntun isterinya, Coei San beramai masuk dari pintu samping. Melihat kembalinya Ngohiap, segenap penghuni kuil dari imam sampai pesuruh jadi girang bukan main. Begitu masuk, Coei San segera ingin menemui gurunya, tapi kacung yang merawat sang guru memberitahukan bahwa Thio Sam Hong masih menutup diri. Karena itu, ia hanya bisa berlutut di depan kamar sang guru.

Sesudah itu, ia pergi ke kamar Jie Thay Giam. Kacung yang menjaga Jie Samhiap berkata, “Samsoe siok pulas. Apakah mau dibanguni?”

Coei San menggoyangkan tangannya dan masuk kedalam kamar dengan indap-indap. Dengan hati tersayat, ia mengawasi kakak seperguruannya yang pucat dan perok mukanya, dengan kulit membungkus tulang. Keangkeran dan kegagahannya sepuluh tahun berselang sudah tak kelihatan lagi bayangan-bayangannya. Mengingat pengalamannya yang dulu, bagaimana pada waktu baru naik gunung, ia telah menerima banyak pelajaran dari kakak itu, air mata Coei San lantas saja mengucur deras.

Sesudah mengawasi beberapa saat, sambil mendekap muka ia berjalan keluar. “Mana Toasoepeh dan Citsoesiok?” tanyanya kepada si kacung.

“Lagi menemani tamu di toathia (ruang besar),” jawabnya.

Ia lalu pergi ke ruangan belakang untuk menunggu Toasoeko dan Citsoeteenya. Tapi sesudah menunggu agak lama, kedua saudara itu belum juga muncul. Kepada seorang toojin yang membawa teh, ia menanya, “Siapa tamu itu?”

“Kelihatannya seperti orang dari Piauwkiok,” jawabnya.

Sesaat kemudian, In Lie Heng yang masih sangat kangen pada saudaranya menyusul ke ruangan belakang dan Coei San lantas saja menanyakan asal usul tamu itu.

“Tiga orang Cong piauw tauw,” jawab si adik. “Yang satu Kie Thian Pioe, Congpiauwtauw Houw-po-Piauwkiok di Kim leng, yang satu lagi In Ho Congpiauwtauw Chin-yang-Piauwkiok di Thaygoan, yang ketiga Kiong Kioe Kee, Congpiauwtauw Yan-in-Piauwkiok di kota raja.”

Coei San terkejut. “Perlu apa mereka datang kemari?” tanyanya. Ia tahu, bahwa dalam kalangan Piauwkiok diwilayah Tionggoan, ketiga Piauw kiok itulah yang mempunyai nama paling besar.

In Lie Heng tertawa. “Mungkin sekali ada piauw yang kena dirampok dan si perampok sangat lihai sehingga mereka minta pertolongan Toasoeko,” jawabnya.

“Ngoko, selama beberapa tahun ini. Toasoeko makin mulia sepak terjangnya. Kalau di Kong ouw terjadi sesuatu, mereka lantas pada datang menemui Toasoeko.”

“Toako memang berhati mulia seperti Budha.” kata Coei San “Ia tak pernah merasa bosan untuk menolong sesama manusia. Hai! Sesudah berpisahan sepuluh tahun, apa Toasoeko tampak banyak lebih tua?”

Sesudah berkata begitu, hatinya seperti dibetot dan ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. “Lioik tee,” katanya, “mari kita pergi ke belakang sekosol supaya aku bisa segera melihat wajah Toako dan Cit tee.”

Endap-endap, ia masuk ke toa thia dan mengintip dari belakang sekosol. Song Wan Kiauw dan Boh Seng Kok yang sedang duduk di kursi tuan rumah tengah bicara dengan tamu tamunya. Wan Kiauw mengenakan jubah iman, parasnya tenang, tiada banyak bedanya seperti dulu hari, hanya rambut dibawah kundainya sudah berawarna abu-abu.”

Toako itu sebenarnya bukan seorang toosoe, tapi karena sang guru seorang toosoe dan juga sebab ia menetap di dalam kuil, maka kalau berada di kuil, ia kebanyakan mengenakan jubah imam dan barulah menukar pakaian biasa bila turun gunung.

Tubuh Boh Seng Kok jauh lebih jangkung dan besar daripada sepuluh tahun berselang. Meskipun masih berusia muda, mukanya penuh brewok, sehingga ia kelihatannya lebih tua daripada Coei San.

Tiba tiba terdengar suara Boh Seng Kok yang keras, “Toasoekoku tidak pernah mendusta, perkataannya satu-satu, dua-dua. Apakah kalian masih tidak percaya?”

Coei San kaget. Adat Soetee itu yang berangasan ternyata belum berubah. Mengapa ia bergusar?
la lalu mengawasi ketiga tamu itu. Mereka semua berusia kurang lebih lima puluh tahun. Yang satu kelihatan angker dan garang, yang satunya lagi jangkung kurus, sedang yang ketiga yang duduk dikursi paling buncit kelihatannya seperti orang sakit. Di belakang mereka berdiri lima orang lain, mungkin murid murid mereka.

“Kami tentu tidak bisa menyangsikan perkataan Song Toahiap,” kata si jangkung kurus. “Tapi apakah kami boleh mendapat tahu, kapan Thio Ngohiap akan pulang?”

Mendengar perkataan Thio Ngohiap, Coei San terkesiap. “Apa mereka datang untuk menyelidiki Gieheng?” tanyanya di dalam hati.

Sementara itu, Boh Seng Kok sudah menjawab, “Biarpun kami bertujuh berkepandaian sangat rendah, tapi dalam hal menolong sesama manusia kami selalu tidak mau ketinggalan. Kawan-kawan di kalangan Kangouw telah menghadiahkan kami dengan julukan Boe tong cit hiap. Kami sebenarnya merasa malu mendapat julukan itu. Akan tetapi, sesudah terlanjur menerimanya kami lebih berhati-hati setiap tindakan kami. Thio Ngoko seorang yang halus budi pekertinya baik adatnya dan seorang yang boen boe coan cay. Maka itu, omong kosong jika Ngoko dituduh membunuh keluarga Liong boen Piauw kiok.”

Sekarang baru Coei San tahu maksud kedatangan tamu-tamu itu.

“Nama besar Boe tong Cit hiap memang sudah dikenal dalam rimba persilatan,” kata orang yang sikapnya garang, “Boh Cit hiap tak usah mengagulkan diri!”

Mendengar perkataan yang menusuk itu, Seng kok segera berkata, “Apa sebenarnya keinginan Kie Cong piauw tauw. Kau boleh bicara saja terang-terangan ”

Orang itu, Kie Thian Pioe, lantas saja berkata dengan suara gusar, “Aku tidak menyangsikan, bahwa Boe tong Cit hiap omong satu-satu, omong dua-dua. Tapi, apakah pendeta suci dari Siauw lim sie berdusta? Dengan mata sendiri, pendeta Siauw lim telah menyaksikan cara bagaimana keluarga Liong boen Piauw kiok tetah binasa oleh Thio Ngo hiap…” Perkataan “hiap” diucapkan dengan suara luar biasa nyaringnya dan nadanya mengejek.

Bukan main gusarnya In Lie Heng. Selagi ia mau melompat keluar untuk menghadapi piauwsoe itu, Coei San mencekal tangannya dan mengawasinya dengan sorot mata berduka.

Si adik tidak berani membantah. Ia kagum akan kesabaran kakak seperguruannya.

Dengan mata berapi, Seng Kok berkata, “Ngoko sekarang belum pulang, Boh Seng Kok dan Coei San mati hidup bersama-sama.”

Boh Seng Kok bangun berdiri. “Urusannya adalah urusanku. Jika Sam wie ingin cari Coei San carilah aku. Sam wie memastikan bahwa Ngoko sesudah membunuh keluarga Liong boen Piauwkiok! Baiklah, pembunuhan itu sama juga telah dilakukan olehku sendiri. Kalau mau membalas sakit hati, balaslah kepadaku. Boh Seng Kok adalah Thio Coei San, Thio Coei San adalab Boh Seng Kok. Dalam kepintaran dan kepandaian, aku tak beda dengan saudaraku yang kelima itu. Maka boleh dikatakan, untung besar kau bertemu dengan aku.”

Kie Thian Pioe juga meluap darahnya. Ia melompat bangun seraya membentak, “Kalau tujuan kami benar untuk mengacau di Boe tong san, orang sedunia akan mentertawai kami sebagai manusia-manusia yang tak tahu diri. Akan tetapi, sakit hatinya keluarga Touw Tay Kim sehingga sekarang belum terbalas. Hal itu tak dapat ditelan oleh kami. Waktu naik ke gunung, karena menghargai Thio Cinjin, kami tidak berani membekal senjata. Sekarang biarlah aku menerima kebinasaan di bawah kaki dan tangan Boh Cit hiap.” Sehabis berkata begitu, dengan tindakan lebar ia berjalan ke tengah ruangan.

Melihat pertempuran akan segera terjadi, Song Wan Kiauw yang sedari, tadi terus membungkam, mencekal tangan adiknya seraya berkata, “Dari tempat jauh kalian datang kemari dengan membawa tuduhan bahwa Ngotee telah membunuh keluarga Liong boen Piauwkiok. Untung juga, tak lama lagi Ngotee akan pulang. Maka itu, menurut pendapatku, sebaiknya kalian menunggu sampai Ngotee kembali dan menanyakan soal-soal itu kepadanya sendiri.”

Tamu yang seperti orang sakit, pemimpin Yan in Piauwkiok Kiang Kioe Kee yang berakal budi, lantas saja berkata, “Kie Congpiauwtauw sabar. Duduklah dulu. Memang juga, sebelum Thio Ngohiap pulang, urusan ini sukar mendapat penyelesaian yang memuaskan. Sebaiknya kita sekarang menemui Thio Cinjin untuk meminta jawaban. Beliau adalah gunung Thay san atau bintang Pak tauw dari rimba persilatan dan dihormati oleh segenap orang gagah. Maka itu, tak mungkin beliau melindungi diri murid sendiri tanpa melihat siapa yang benar siapa yang salah,”

Perkataan itu yang diucapkan secara sopan, lihai bukan main dan Boh Seng Kok tentu saja mengerti maksudnya.

“Guruku sedang menutup diri dan sampai sekarang belum keluar ” katanya. “Di samping itu, selama beberapa tahun ini, segala urusan selalu diurus oleh Toa soeko dan kecuali orang yang sangat kenamaan dalam rimba persilatan, Soehoe boleh dikatakan tidak pernah menerima tamu.” Dengan berkata begitu, Boh Cit hap mau mengatakan, bahwa ketiga Congpiauw tauw tersebut belum cukup tinggi kedudukannya untuk berjumpa dengan Thio Sam Hong.

Tamu yang bertubuh jangkung kurus, yaitu In Ho dari Chin-yang piauwkiok, tertawa dingin, “Urusan-urusan dalam dunia memang sering terjadi secara kebetulan,” katanya, “Secara kebetulan, kedatangan kami terjadi pada saat Thio Cinjin sedang menutup diri. Tapi soal tujuh puluh jiwa lebih dari keluarga Liong boen Piauwkiok sukar dielakkan dengan alasan menutup diri.”

Dengan perkataan yang sangat berat itu, buru-buru Kiong Kioe Kee mengedipkan matanya.

Boh Seng Kok gusar tak kepalang. “Kau mau mengatakan, bahwa guruku menutup diri karena merasa jeri terhadap kamu?” bentaknya. In Ho tidak menjawab, ia hanya tertawa dingin.

Biarpun sabar, hinaan terhadap gurunya yang sangat dihormati umum, sangat mendongkolkan hati Song Wan Kiauw. Selama banyak tahun, belum pernah ada orang berani mengucapkan kata kata kurang ajar untuk alamat Thio Sam Hong di hadapan Boe tong Cit hiap. Maka itu, ia segera berkata dengan suara perlahan.

“Sam wie adalah tamu kami dan kami tidak berlaku kurang sopan. Marilah kami mengantar kalian keluar dari kuil ini.”

Seraya berkata begitu, ia mengebas dengan tangan jubahnya dan…tiga cangkir teh yang berada dihadapan Kie Thian Pioe, In Ho dan Kiong Kioe Kee serentak terbang dan kemudian perlahan-lahan turun di hadapan Wan Kiauw.

Itulah pertunjukan Lweekang yang dahsyat luar biasa. Begitu Wan Kiauw mengebas, Kie Thian Pioe bertiga merasa dada mereka menyesak, tapi sejenak kemudian, rasa sesak itu menghilang. Paras muka ketiga orang itu berubah pucat bagaikan kertas. Mereka tahu bahwa jika mau Song Toahiap dengan mudah dapat mengambil jiwa mereka seperti orang membalik telapak tangannya sendiri.

Antara mereka, Kie Thian Pioe lah yang paling polos. Sambil merangkap kedua tangannya ia berkata, “Terima kasih atas belas kasihan Song Toahiap. Kami minta permisi!”

Wan Kiauw dan Seng Kok mengantar tamunya sampai di luar kuil.

“Cukuplah, kalian tak usah mengantar lebih jauh lagi,” kata Kie Thian Pioe.

“Kami menghaturkan banyak terima kasih atas kunjungan kalian,” kata Wan Kiauw. “Di lain hari, kami akan balas mengunjungi pianwkiok kalian di kotaraja, Thay goan dan Kim leng.”

“Itulah kehormatan yang kami tidak berani menerima.” sahut Kie Thian Pioe.

Selagi mereka meagucapkan kata kata sungkan, tiba-tiba datang orang setengah tua yang bertubuh kecil. “Sietee, berkenalanlah dengan ketiga sahabat ini.” kata Wan Kiauw.

Sesudah diperkenalkan sambil tertawa Thio Siong Kee berkata, “Sungguh kebetulan Samwie datang di sini. Aku justru ingin menyerahkan beberapa rupa barang.” la merogoh sakunya mengeluarkan tiga bungkusan kecil yang lalu di bagikan kepada ketiga tamu itu.

“Barang apa ini?” tanya Kie Thian Pioe.

“Jangan buka di sini,” kata Siong Kee. “Sesudah turun gunung, barulah kalian boleh membukanya.”

Sesudah ketiga tamu itu berlalu, Boh Seng Kok berkata dengan tergesa-gesa, “Sieko. Mana Ngo ko? Apa ia sudah pulang?”

“Pergilah kau menemui Ngotee,” kata Siong Kee seraya bersenyum. “Aku dan Toako akan menunggu kembalinya ketiga piauwsoe itu.”

“Kembalinya ketiga piauwsoe?” menegas Seng Kok dengan heran. “Mengapa begitu ?” Tapi, sebab ia ingin lekas-lekas bertemu dengan Coei San tanpa menunggu jawaban, ia lantas masuk dengan berlari-lari.

Benar saja, baru Boh Cithiap masuk ke dalam, Kie Thian Pioe bertiga sudah kembali dengan terburu-buru dan begitu berhadapan dengan Wan Kiauw dan Siong Kee, mereka berlutut. Wan Kiauw dan Siong Kee membalas hormat dan membangunkan ketiga orang itu.

“Kemuliaan para pendekar Boe tong baru sekarang diketahui aku, si orang she In.” Kata In Ho. “Barusan aku telah mengeluarkan kata-kata yang menghina Thio Cinjin dan aku sungguh lebih hina dari pada anjing atau babi.”

Sehabis berkata begitu, ia menggapelok mukanya sendiri belasan kali, sehingga jadi bengkak dan matang biru.

“In Congpiauwtiauw adalah seorang laki-laki gagah yang mempunyai cita-cita besar,” kata Siong Kee. “Cita-cita untuk merampas pulang, sungai dan gunung (negara) dari tangan penjajah, mendapat sokongan sepenuhnya dan segenap orang gagah di seluruh negeri. Bantuan sekecil itu yang diberikan kami adalah selayaknya saja. Perlu apa In Congpiauwtauw berlaku sampai begitu rupa?”

“Jiwa seluruh keluargaku telah ditolong oleh Coe hiap (para pendekar),” kata pula In Ho. “Selama lima tahun, aku seperti orang mimpi. Untuk kedosaanku, aku harap beliau suka menghajar aku, supaya hatiku jadi lebih enak.”

Siong Kee tertawa. “Urusan yang sudah lewat sebaiknya jangan disebut-sebut lagi,” katanya. “Andai kata Soehoe sendiri mendengar perkataan In Congpiauwtauw yang sangat mulia, beliaupun tak merasa tersinggung,” Tapi In Ho yang masih merasa sangat malu, terus mencaci dirinya sendiri.

Song Wan Kiauw yang tidak mengerti duduknya persoalan, hanya mengeluarkan perkataan-perkataan merendahkan diri. Selain In Ho, Kie Thian Pioe dan Kiong Kioe Kee juga tak hentinya menghaturkan terima kasih.

Menurut penglihatan Wan Kiauw, Siong Kee bersikap sangat manis dan hangat terhadap In Ho, tapi terhadap Kie dan Kiong Congpiauwtauw, ia bersikap sedang-sedang saja. Mereka bertiga memohon permisi untuk memberi hormat di depan kamar Thio Sam Hong dan menghaturkan maaf kepada Beh Sang Kok, tapi permintaan itu semua ditolak dengan manis oleh Wan Kiauw berdua.

Sesudah ketiga orang itu berlalu, Siong Kee berkata seraya menghela napas, “Biarpun mereka merasa sama sekali tidak menyebutkan soal Liong boen Piauwkiok. Dengan lain perkataan, budi tinggal budi, tapi urusan itu masih belum beres.”

Baru saja Wan Kiauw ingin meminta penjelasan, Coei San sudah muncul sambil berlari-lari. Begitu berhadapan dengan kakaknya, ia berlutut seraya berkata “Toako…”

Song Wan Kiauw halus budi pekertinya. Walaupun terhadap adik seperguruannya, apa pula dalam keadaannya ini, seperti sekarang selagi hatinya berdebaran, ia tidak dapat melupakan akal budinya itu, maka ia membalas hormat sambil berlutut juga. Ia pun berkata “Ngo tee, oh akhirnya kau pulang juga !”

“Ya, Toako,” menyahut adik seperguruannya yang nomor lima itu.

Coei San lantas menuturkan hal ikhwalnya semenjak perpisahan mereka.

Boh Seng Kok yang tidak sabaran, menyelak, “Ngoko, ketiga piauwsoe itu sangat kurang ajar, mereka tetap menuduh kaulah yang membinasakan seantero keluarga Liong boen Piauw kiok di Lim an, kenapa kau berlaku demikian sabar dan tidak hendak pergi menghajar adat kepada mereka ?”

Mendengar itu, Coei San menghela napas, romannya sangat berduka. “Tentang soal itu berliku-liku duduknya, tidak dapat dituturkan dengan sepatah dua patah kata,” katanya. “Tunggu saja sampai Sha-ko sudah mendusin, nanti aku menjelaskan semua. Bahkan aku masih hendak memohon saudara-saudara membantu memikirkan suatu daya yang sempurna.”

“Jangan kuatir, Ngoko,” berkata In Lie Hang. “Tidak layak perbuatannya Liong boen Piauw kiok yang mengantarkan Sha-ko pulang dalam keadaan bercacat seumur hidupnya! Andai kata benar Ngoko telah membinasakan seluruh keluarganya, itulah disebabkan kecintaan terhadap saudara sendiri. Karena kemurkaanmu pada satu saat…”

“Liok tee, kau ngaco!” bentak Lian Cioe. “Kalau Soehoe mendengar kata-katamu ini, pastilah kau bakal dikurung selama tiga bulan! Membinasakan seantero keluarga, tua dan muda, itu artinya memusnahkan satu rumah tangga, perbuatan demikian itu mana dapat kita lakukan ?”

Kelima orang itu lantas mengawasi Thio Coei San, roman siapa tampak sangat berduka.

“Keluarga Liong boen Piauw kiok itu, seorang pun tidak ada yang kubunuh,” berkata Coei Sani selang sesaat. “Aku tidak berani melupakan ajaran Soehoe dan tidak berani juga menyeret-nyeret semua saudara.”

Mendengar ini lega hati mereka. Tadinya mereka menyangsikan saudara seperguruan ini. Mereka tidak percaya saudara mereka melakukan perbuatan sangat telengas itu. Tetapi pihak Siauw lim menuduh pasti pembunuhan itu dilakukan Coei San dan mereka itu mengatakan melihatnya dengan mata kepala sendiri, sedang ketika piauwsoe tadi datang, Coei San tidak mangajukan dirinya untuk menyangkal atau menegur, mereka toh bercuriga.

Tapi sekarang, sesudah mendengar pernyataan Coei San, hati mereka lega. Mereka lantas berpikir, “Di dalam urusan ini tentu ada kesulitannya, akan tetapi tidak apalah asal jangan dia yang melakukan pembunuhan. Biar bagian apapun jua, akhirnya pasti soal itu akan dapat dibikin terang dan didamaikan.”

Kemudian Boh Seng Kok menanyakan tentang ketiga piauwsoe itu.

“Di antara mereka bertiga, in Ho yang omongnya kasar adalah yang kelakuannya paling baik,” kata Siong Kee, “di wilayah Shoa say dan Siam say, dia sangat tersohor. Diam-diam dia telah berserikat dengan orang-orang gagah di kedua propinsi itu, dengan tujuan untuk merobohkan kerajaan Goan.”

“Itulah bagus!” berseru Song Wan Kiauw berlima.

“Tidak disangka dia sedemikian bersemangat,” kata Boh Seng Kok dengan rasa kagum, “dia harus dihormati dan dipuji. Sieko, kau jangan bicara terus dulu, kau tunggu sampai aku sudah kembali.” Setelah berkata begitu, ia pergi keluar sambil berlari-lari.

Thio Siong Kee benar-benar berhenti menutur, sebaliknya ia menanyakan Coei San tentang pulau Peng hwee to.

Coei San lantas bercerita tentang si kera putih yang cerdik luar biasa, sehingga keempat saudaranya menjadi heran dan kagum.

“Sebenarnya kami berniat membawa pulang kera itu,” kata Coei San pula. “Sesudah berlayar berapa hari, ia agaknya tidak biasa dengan hawa udara yang hangat, mendadak dia menerjun ke air, dan berenang ke arah utara, mungkin dia niat pulang ke pulau Peng hwee to.”

“Sayang, sayang,” kata In Lie Heng.

“Kera sedemikian kecil, tetapi begitu kuat, itulah hebat,” kata Wan Kiauw.

“Mungkin kera itu bukan bangsa kera asli,” Coei San mengutarakan dugaannya, “Mungkin dia berjenis tersendiri disebabkan terlahirnya di pulau yang hawa udaranya sangat luar biasa. ”

Wan Kiauw mengangguk. “Mungkin,” katanya. “Di tanah pegunungan dan rimba-rimba kita pun terdapat binatang binatang yang istimewa.”

Selagi mereka bicara, Boh Seng Kok kembali dengan berlari-lari. “Aku telah menyusul In Piauw soe untuk menghaturkan maaf dan aku telah memujinya sebagai seorang laki-laki sejati!” katanya.

Senang saudara-saudaranya mendengar keterangan itu. Mereka memang telah menduga ke mana perginya saudara itu barusan. Sebagai seorang jujur, Boh Seng Kok tak menghiraukan perjalanan maafnya itu, sebab kalau tidak, ia bakal tidak dapat tidur tenang.

“Cit tee,” kata In Lie Hang, “penuturan Sieko ditunda sebab musti menantikan kau, tetapi ceritanya Ngoko tentang si kera cerdik lebih menarik hati Iagi.”

“Oh, begitu?” Seng Kok berjingkrak.

Siong Kee menyelak “Rencananya In Ho itu sudah diatur rapi…”

“Sieko maaf,” Seng Kok memotong, “tunggu sebentar!…”

“Dasar Cit tee!” Coei San tertawa yang terpaksa mengulangi ceritanya tentang si kera putih.

“Benar benar aneh, benar-benar aneh!” seru Seng Kok. “Nah, Sieko giliranmu!”

Siong Kee bersenyum, ia berkata, “Rencana In Ho itu sudah rapi, dia tinggal menanti harinya untuk bergerak di tiga tempat ialah Thay goan, Thay tong dan Hoen yang. Siapa tahu, di antara kawan serikat mereka, ada seorang pengkhianatnya. Tiga hari sebelum bergerak, dia telah pergi membuka rahasia kepada pihak Mongolia sambil menyerahkan juga daftar nama-nama rancana gerakan In Ho itu.”

“Ah, itulah hebat!” seru Seng Kok.

“Tapi di sana telah terjadi sesuatu yang kebetulan.” kata Siong Kee tertawa. “Ketika itu aku berada di Thay goan, maksudku mencari Tiekoan Thay goan untuk mengajar adat kepadanya. Pada tengah malam itu, aku mendapatkan si Tiekoan asyik berbicara dengan si pengkhianat, merundingkan cara untuk membeber rahasia itu kepada kaisar serta daya untuk mengirim tentara guna menyapu bersih kawanan pencinta negara itu. Tanpa ayal lagi, aku melompat masuk dari jendela. Aku bunuh Tiekoan dan si pengkhianat, kemudian aku merampas daftar nama-nama rencana kerja itu yang terus dibawa pulang olehku ke Selatan. Di pihak In Ho, orang bingung dan berkuatir sekali karena lenyapnya daftar dan rencana mereka. Mereka mengerti, bahwa selain kuatir mereka akan gagal, juga mereka serta keluarga mereka terancam bahaya kemusnahan. Mereka lantas bekerja mengirim orang untuk memberi kisikan, agar keluarga mereka pada pergi mengumpatkan diri. Celakanya, tindakan inipun mendapat halangan, yaitu pintu kota telah ditutup dan pesuruh-pesuruh ini tidak dapat keluar dari kota.”

“Besoknya pagi kekuatiran mereka ditambah dengan tersiarnya berita pembunuhan atas diri Tie koan, pembunuhan mana sangat menggemparkan, sebab pembesar negeri mengambil tindakan menutup pintu kota sambil berbareng melakukan penggledahan luas untuk mencari dan membekuk si pembunuh gelap. In Ho semua bagaikan rombongan semut di atas kwali panas. Mereka terutama berkuatir akan keselamatan semua kawan mereka di kedua propinsi. Untuk beberapa hari mereka hidup seperti tersiksa. Selama itu, tidak terjadi sesuatu dan si pembunuh Tiekoanpun tidak kedapatan. Akhirnya, urusan menjadi reda. Ketika mereka mengetahui bahwa si pangkhianat pun terbunuh di dalam kantor Tiakoan, mereka menduga ada pertolongan tersembunyi untuk pihak mereka. Mereka tidak tahu siapa penolong itu. Merekapun sama sekali tidak menduga aku”

“Jadi yang tadi kau serahkan pada In Ho itu ialah daftar nama-nama dan rencananya itu?”

“Benar.” jawabnya.

“Bagaimana dengan Kiong Kioe Kee ?” Lie Heng tanya pula. “Bagaimana Sie ko membantu dia ?”

“Kioo Kee cukup-tinggi ilmu silatnya, hanya dalam hal sifat, ia tidak dapat disamakan dengan In Ho,” menyahuti Siong Kee, “Pada enam tahun dulu ia mengantar piauw ke propinsi Inlam. Setibanya di Koen beng ia diminta bantuannya membawa barang barang permata untuk Pakkhia, harganya semua enam puluh laksa tail. Ia mesti membawanya secara diam-diam. Tiba di propinsi Kang say, ia mendapat susah, ialah di tepi telaga Po yang ouw, ia dicegat dan dikepung oleh tiga anggauta Poyang Soa gie, empat orang gagah dari Po yang ouw, dan piauwnya dirampas. Meskipun dia menjual harta bendanya semua, tidak nanti Kioe Kee dapat mengganti kerugian. Inipun mengenai nama baik dari Yan in Piauw kiok yang sangat kesohor untuk wilayah utara. Karena kejadian itu, pasti perusahaan Piauw kioknya bakal roboh. Selagi berada di rumah penginapan, saking putus asa, ia nekad hendak menghabiskan jiwanya sendiri. Po yang Soe gie bukan orang Rimba Hijau, mengapa mereka merampas piauw itu? Ini pun ada sebabnya. Saudara mereka yang tertua lagi mendapat susah, saudara itu dikurung dalam penjara di kota Lam Ciang, setiap waktu bisa menjalankan hukumannya, hukuman mati. Dua kali Soe gie coba menolong. Mereka membongkar penjara, dua kalinya gagal. Akhirnya mereka terpaksa mencari uang, untuk menyogok pembesar-pembesar di Lam ciang itu, cukup asal hukuman kakak mereka diperenteng. Aku mendapat tahu perkara mereka itu, aku tahu juga bahwa Po yang Soe gie orang baik-baik. Aku lantas bekerja uptuk menolong kakak mereka, supaya piauwnya Kioe Kee dikembalikan kepada piauwsoe itu. Wajah Kioe Kee memuakkan dan cara bicaranya juga tidak menyenangkan, tetapi ia belum pernah melakukan sesuatu kejahatan dan iapun tidak pernah mengganggu rakyat, maka aku pikir, ada baiknya juga aku menolong jiwanya. Hanya dalam menolong dia, aku meminta Po yang Soe gie jangan menyebut nyebut namaku. Piauw itu dipulangkan, melainkan bungkusan sulamannya yang aku tahan. Dan barusan aku memberikan pulang bungkusan itu, maka kau tentulah telah mengerti sendiri.”

Lian Cioe mengangguk angguk. “Bagus perbuatanmu itu, Sie tee.” ia memuji. “Kiang Kioe Kee itu dapat dimaklumkan dan Po yang Soe gie juga tak ada celaannya.”

“Eh, Sieko,” tanya Seng Kok. “Barang apa itu yang kau serahkan pada Kie Thian Pioe?”

“itulah sembilan biji Toan hoen Gouwkong piauw,” jawabnya.

Jawaban ini membuat lima saudara itu terperanjat. Untuk dunia Kang ouw, piauw itu ialah semacam senjata rahasia yang kesohor sekali. Itulah senjata yang membikin naik namanya Gouw It Beng dari Liang Cioe.

“Mengena piauw itu, aku bertindak dengan terlalu berbesar hati,” Siong Kee mengakui. “Kalau sekarang aku mengingatnya, aku merasa bersyukur sekali bahwa aku telah lolos dari mara bahaya. Ketika itu Kie Thian Poe mengantar piauw lewat di kota Tong kwan, di luar tahunya ia berbuat keliru terhadap satu muridnya Gouw It Beng. Dalam pertempuran, Thian Pioe merobohkan dan melukakan parah murid orang itu. Setelah kejadian, baru Thian Pioe menginsyafi bahwa ia telah menerbitkan onar. Maka lekas-lekas ia menyelesaikan tugasnya sebab ia ingin segera pulang ke Kim leng guna mengumpul kawan yang bersedia menghadapi It Beng itu. Ia baru sampai di Lok yang, ketika di sana ia dihadang It Beng. Maka terjadilah janji akan bertarung besoknya di luar pintu barat kota Lok yang ”

“Gouw It Beng lihai, tak ada di sebawahan kita, bagaimana Kie Thian Pioe dapat menandingi dia?” tanya In Lie Heng.

“Memang. Thian Pioe sendiri merasa bahwa ia tidak unggulan melawan musuhnya, maka itu ia minta bantuannya persaudaraan Kiauw di kota Lok yang itu,” Siong Kee menerangkan. “Atas permintaan itu, pihak parsaudaraan Kiauw menjawab: Kau bukan tahu sendiri, Kie Toako, kami bukan lawan Gouw It Beng. Bukankan kau hanya menghendaki kami membantu memberikan suara saja? Baiklah, besok pagi kami pasti datang di luar kota barat itu !”

“Persaudaraan Kiauw pandai menggunakan senjata rahasia, dengan Thian Pioe dibantu mereka, artinya tiga lawan satu, mungkin It Beng dapat dilawan hingga berimbang kekuatannya,” berkata Seng Kok. “Bagaimana dengan Gouw It Beng, apakan ia mempunyai kawan atau tidak ?”

“It Beng tidak punya kawan,” kata Siong Kee. “Yang aneh ialah dua saudara Kiauw itu. Pagi-pagi sekali besoknya Thian Pioe telah pergi ke rumah mereka, terutama untuk memastikan cara menghadapi It Beng. Ketika tiba, ia bertemu dengan penjaga pintu yang berkata: Toaya dan Jieya mempuayai urusan yang penting yang mendadak, mereka telah pergi ke Tongcioe. Aku dipesan untuk memberitahukan Kie Looya agar Looya tidak usah menantikannya. Mendengar itu, Thian Pioe kaget dan mendongkol bukan main. Beberapa tahun yang lalu, tempo dua saudara Kiauw itu nampak kesukaran di Kanglam, Thian Pioe telah membantunya, tetapi sekarang, mulut mereka manis, kaki mereka ngacir. Thian Pioe menginsyafi bahaya, tetapi ia tidak mau salah janji, dari itu ia kembali ke hotelnya untuk menulis pesan terakhirnya. Sesudah memesan seperlunya kepada sekalian pembantunya, seorang diri ia pergi keluar pintu kota barat.”

“Semua kejadian itu tidak lolos dari mataku,” Siong Kee melanjutkan setelah berhenti sejenak. “Aku sudah lantas pergi keluar pintu kota itu. Di sana aku bercokol di bawah sebuah pohon. Sengaja aku menyamar sebagai seorang pengemis. Aku melihat It Beng dan Thian Pioe datang saling susul, terus mereka bertempur. Baru beberapa jurus. It Beng telah habis sabar, ia lantas menyerang dengan sebatang piauwnya yang lihai. Thian Pioe putus asa, ia meraimkan matanya menanti kebinasaan. Di saat itu aku melompat maju. Aku menanggapi piauw maut itu. It Beng kaget, heran dan gusar. Ia lantas saja menegur aku dan menanya aku orang dari Partai Pengemis atau bukan. Aku tertawa saja, tidak menjawab: Dalam gusar dan penasarannya, delapan kali beruntun ia menyerang aku dengan sepasang senjata rahasianya itu, yang semua aku tangkapi dengan berhasil. Dia benar-henar lihai. Sedang aku, aku tidak berani menanggapi dengan menggunakan ilmu silat kita. Aku takut ia mengenali aku. Begitulah aku berpura-pura pincang sebelah kakiku dan mati tanganku yang kanan, aku menggunakan saja tangan kiri, dan ilmu yang digunakan olehku ialah ilmu silat Siauw lim pay. Semua senjata itu aku bekap, hampir telapakan tanganku terluka piauw yang ke tujuh. Dia lantas membentak, menanyakan aku muridnya Siauw lim sie yang mana. Aku tetap membungkam dan berlagak tuli. Aku bicara ah an uh uh saja. It Beng mengerti bahwa ia tidak akan sanggup melawan aku, ia lantas ngeloyor pergi dengan mendongkol. Setibanya di Liangcoe, di rumahnya, seterusnya ia menutup pintu, selama beberapa tahun ini ia tidak pernah muncul lagi dalam dunia Kang ouw.”

Seng Kok jujur dan polos, ia tidak mengerti sikapnya kakak seperguruan itu yang menolong Kioe Kee dan menentang It Beng. Thio Coei San sebaliknya tahu, bahwa dengan itu Siong Kee hendak meredakan permusuhan yang disebabkan pembunuhan keluarga Liong boen Piauw kiok. Houw po Piauw kiok adalah piauwkiok paling ternama untuk Kang Lam. Untuk wilayah Utara ialah Yan in Piauwkiok, dan di Barat daya yaitu Chin yang Piauw kiok. Dengan terjadinya pembunuhan pada keluarga Liong boen Piauwkiok itu, dua yang lainnya tentulah bakal turun tangan, maka Song Kee diam-diam menumpuk perbuatan baik atau budi, yang diaturnya sedemikian rupa hingga orang tidak akan menyangka bahwa itulah usaha berencana.

“Sieko,” kata Coei San akhirnya sambil menangis sesenggukan, “kita berada di antara saudara sendiri, tidak usah aku menghaturkan terima kasih lagi padamu. Semua itu ialah sembrononya iparmu yang bertindak menuruti hawa amarahnya hingga mendatangkan bahaya besar.”

Sampai di situ, tanpa tedeng aling-aling, Coei San menuturkan perbuatan isterinya, So So yang menyamar menjadi ia dan sudah menyatroni dan membunuh keluarga Liong boen Piauwkiok di waktu malam. Kemudian ia menambahkan, “Sieko, bagaimana urusan ini dapat diselesaikan di kemudian hari? Aku memohon pikiranmu.”

Thio Siong Kee berdiam untuk berpikir. “Aku pikir dalam urusan ini perlu kita mengundang Soehoe turun gunung, supaya Soehoe yang memberi petunjuk,” katanya. “Perkara telah terjadi, orang yang sudah mati tidak dapat hidup kembali, sedang Tee hoe sudah menginsyafi kesalahannya dan mengubahnya. Ia sekarang bukan lagi si wanita pembunuh yang telengas. Maka itu, perlu kita mengerti maksudnya pepatah kuno: tahu bersalah dan dapat mengubahnya, itulah paling baik. Kau lihat, Toako bukankah ini benar?”

Song Wan Kiauw, yang ditanya itu, berdiam saja. Soal itu menyangkut perkara jiwanya beberapa puluh orang. Itulah perkara sangat besar, ia ragu-ragu.

“Tidak salah.” Jie Lian Cioe menalangi kakak seperguruannya. Ia mengangguk.

Ketika In Lie Heng mendengar suaranya kakak she Jie ini, bukan main lega hatinya. la memang paling jeri terhadap ini kakak seperguruan yang nomor dua, yang saking jujurnya, membenci perbuatan jahat seperti dia membenci musuhnya yang dalam segala pertimbangan tidak mengenal urusan peribadi. Tadinya ia berkuatir untuk So So, isterinya Coei San itu, iparnya. Siapa nyana, demikian singkat dan bijaksana putusannya Jieko itu.

“Benar”, ia lantas turut bicara. “Kalau nanti ada orang luar yang menanyakan, Ngoko, kau jawab saja bahwa bukan kau yang membunuh mereka itu. Kau bukan mendusta, sebab memang bukan kau yang membunuhnya,”

Song Wan Kiauw melotot terhadap adik seperguruan ini, katanya, “Dengan menyangkal begitu, mana hati Ngotee bisa tenang? Kita menamakan diri kita orang-orang gagah mulia. Apakah kita bisa merasakan tenteram ?”

“Habis bagaimana?” tanya Lie Heng.

“Menurut pikiranku, kita harus berbuat begini”, berkata sang Toako. “Paling dulu kita menanti sampai selesai perayaan ulang tahun Soehoe. Setelah itu kita pergi mencari anaknya Ngotee. Habis itu pada rapat besar di Hong ho lauw kita membereskan urusannya Kim mo Say ong Cia Soen. Lalu sesudah itu, kita berenam saudara dibantu oleh Ngo tee hoe, berangkat ke Kang lam. Di dalam tempo tiga tahun, kita masing-masing harus melakukan perbuatan-perbuatan baik sebanyak sepuluh macam ”

“Akur! Akur!” Thio Siong Kee berseru menepuk-nepuk tangan. “Liong boen Piauwkiok kematian tujuh puluh jiwa, kita bertujuh melakukan masing-masing sepuluh rupa kebaikan. Asal kita semua bisa menolong seratus sampai dua ratus orang yang bersengsara atau terfitnah, maka dengan itu dapatlah kita menebus jiwanya tujuh puluh orang yang mati kecewa itu!”

“Pikiran Toako sangat sempurna,” Jie Lian Cioe memuji. “Aku percaya soehoe pun akan menyetujuinya. Kalau tidak demikian, untuk tujuh puluh jiwa itu, Teehoe mengganti dengan satu jiwanya. Apakah artinya penggantian satu jiwa itu ?”

Coei San girang berbareng terharu.

“Nanti aku bicara padanya!” katanya. Ia maksudkan isterinya. Lantas ia lari masuk kedalam untuk menuturkan semua itu kepada So So.

Mendengar keterangan suamiana, So So menjadi bersemangat. Ia percaya lihainya enam jago Boe tong pay itu, maka ia percaya juga yang Boe kie, anaknya, bakal dapat dicari. Ia memangnya bukan sakit berat, ia hanya bersusah hati. Sekarang ia terbuka hatinya, dan sakitnya lalu berkurang setiap hari.

—–

Lewat beberapa hari maka tibalah Sie gwee Cap pee, tanggal delapan bulan keempat. Tanpa, bersangsi lagi, Thio Sam Hong membuka pintu kuilnya. Besok adalah hari ulang tahunnya yang ke seratus, murid-muridnya pasti bakal datang untuk merayakannya. Sebenarnya, sesudah Jie Thay Giam terluka bercacat dan Thio Coei San lenyap, ia sangat berduka. Tetapi, bahwa ia telah bisa memasuki usia seratus tahun, adalah hal yang tak dapat dilewatkan dengan begitu saja.

Selain itu, ia juga yakin, bahwa lima silar Thay kek Sin kang sudah mencapai kesempurnaannya, itu artinya, di dalam ilmu silat, ia telah membuat suatu jasa yang tak kurang daripada jasanya Tatmo Couwsoe dari Siauw-lim-sie.

Pagi pagi Thio Sam Hong membuka kedua daun pintu kamarnya. Untuk herannya, orang yang pertama ia lihat bukan lain daripada Thio Coei San, muridnya yang telah hilang sepuluh tahun. Ia mengucek matanya, kuatir nanti keliru melihat.

Coei San sendiri sudah lantas menuju untuk menubruk gurunya itu.

“Soehoe!” serunya sambil menangis sesenggukan. Saking terharunya, ia lupa berlutut untuk menjalankan kehormatan.

Song Wan Kiauw berlima lantas turut maju. “Selamat, Soehoe !” berseru mereka. “Saudara yang kelima sudah pulang!”

Thio Sam Hong sudah berumur seratus tahun, itu artinya ia telah belajar silat dan melatihnya selama delapan puluh tahun. Pengalamannya luas dan hatinya sudah terbuka. Akan tetapi dengan ketujuh murid muridnya ini ia bergaul sangat erat, seperti ayah dan anaknya. Maka begitu melihat Coei San, tak tahan ia akan rasa terharunya. Ia pun memeluk erat erat dan air matanya mengucur turun.

Segera setelah itu, keenam murid itu melayani guru mereka menyisir rambut, mencuci muka dan mulut serta berdandan, kemudian mereka duduk memasang omong. Coei San tidak berani omong perihal segala apa yang dapat memusingkan kepala, maka ia menuturkan saja mengenai pulau Peng hwee to, tentang yang indah dan menarik hati, juga perihal ia sudah menikah.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: