Kumpulan Cerita Silat

25/07/2008

Kisah Membunuh Naga (15)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 2:04 am

Kisah Membunuh Naga (15)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Malam itu, sesudah bersantap, Lian Cioe bersila dengan tangan menekan jalanan darah Toatwie hiat di belakang leher Ho Loosam dan kemudian mengempos Lweekangnya untuk bantu mengobat si pengemis.

So So sangat tak puas akan cara-cara Jiepehnya itu yang dianggapnya seperti nenek-nenek. Menurut jalan pikirannya, manusia semacam Ho Loosam bukan saja tidak pantas ditolong, malah harus dilemparkan ke dalam air.

Sesudah mengalirkan Lweekangnya beberapa jam, Lian Cioe merasa lelah dan Coei San lalu menggantikannya. Di waktu fajar menyingsing, pengemis tua itu tidak mengeluarkan darah lagi dan pada mukanya mulai terdapat sinar dadu.

“Jiwamu sudah ketolongan,” kata Lian Cioe dengan girang. “Hanya mungkin ilmu silatmu tidak bisa pulih kembali ”

“Budi Jie-wie tak akan dilupakan olehku si orang she Ho,” kata Ho Loosam. “Akupun tak ada muka untuk menemui lagi Bwee Pangcoe. Mulai dari sekarang, aku akan menyingkir dari diri pergaulan dan tidak akan berkeliaran lagi di dalam kalangan Kangouw.”

Waktu perahu tiba di An keng, pengemis itu berpamitan dan berlalu.

Sesudah berpisahan sepuluh tahun dengan guru dan saudara-saudara seperguruannya, Coei San ingin sekali tiba di Boe tong secepat mungkin. Ia merasa sangat tidak sabar akan perlahannya perahu, maka sesudah melewati An keng, ia mengajukan usul untuk mengambil jalanan darat dengan menunggang kuda.

“Ngotee, kurasa kita lebih baik terus menggunakan perahu,” kata sang kakak. “Biarpun lebih lambat beberapa hari, kita lebih selamat. Di waktu ini, entah berapa banyak orang ingin menyelidik tempat sembunyinya Cia Soen.”

“Dengan berjalan bersama-sama Jiepeh, apakah masih ada manusia yang berani mencegat kita ?” kata So So.

“Kalau kami tujuh saudara semua berkumpul, mungkin sekali orang akan sangsi untuk mengganggu,” kata Lian Cioe. “Tapi dengan hanya bertiga, tak bisa kita menghadapi begitu banyak orang pandai. Di samping itu, tujuan kita ialah untuk menyelesaikan urusan ini secara damai. Perlu apa kita menanam lebih banyak bibit permusuhan?”

Coei San mengangguk, “Tak salah apa yang di katakan Jieko” katanya.

Beberapa hari kemudian, mereka tiba di Boe hiat, wilayah Oawpak. Malam itu, setibanya di Hok-tie-kouw, perahu itu melepas sauh dan bersiap untuk bermalam di situ.

Tiba-tiba Lian Cioe mendengar suara kaki kuda digili-gili dan ia mendongok keluar dari gubuk perahu. Secara kebetulan, dua penunggang kuda sedang membelokkan tunggangannya yang lalu dikaburkan ke arah kota. Dengan begitu ia tidak bisa melihat muka kedua orang itu. Tapi dilihat dari gerak-geraknya yang gesit dan lincah, mereka pasti bukan sembarang orang.

Lian Cioe melirik adiknya dan berkata dengan suara perlahan, “Kurasa di tempat ini bakal terjadi sesuatu. Lebih baik kita berangkat sekarang juga.”

“Baiklah,” kata Coei San dengan rasa berterima kasih.

Semenjak Boe tong Cit-hiap turun gunung, dengan memiliki kepandaian tinggi dan sepak terjangnya selalu menuruti jalan yang lurus, mereka tak pernah menyingkir dari orang lain. Selama beberapa tahun yang paling belakang, nama Jie Lian Cioe naik makin tinggi, sehingga malah para Ciang boen jin dari partai-partai ternama, seperti Koen loan, Khong dan sebagainya, menaruh hormat terhadapnya. Tapi, malam itu, ia tak mau berdiam lama-lama di Hoktie kouw karena melihat bayangan dua orang yang tidak ternama. Coei San mengerti bahwa sikap sang kakak itu adalah demi keselamatan keluarganya.

Sementara itu, Lian Cioe sudah memanggil juragan perahu. Sambil mengangsurkan sepotong perak yang beratnya lima tahil, ia minta supaya perahu diberangkatkan sekarang juga. Meskipun lelah, melihat uang yang berjumlah besar itu, ia jadi girang dan mengiakan.

Malam itu, rembulan memancarkan sinarnya yang gilang gemilang. Boe Kie sudah menggeros, sedang ayah bundanya bersama sang Jiepeh minum arak di kepala perahu sambil menikmati pemandangan malam yang sangat indah itu. Dengan hati lapang, mereka minum sambil beromong-omong.

“Tak lama lagi Insoe berulang tahun yang ke seratus,” kata Coei San. “Bahwa siauwtee keburu pulang untuk turut serta dalam pertemuan yang langkah itu merupakan bukti bahwa Langit menaruh belas kasihan atas diri siauwtee.”

“Hanya sayang kita tidak bisa menyediakan antaran yang sepantasnya,” menyambungi si isteri.

Lian Cioe tertawa seraya berkata, “Teesoe, apakah kau tahu, siapa di antara tujuh muridnya yang paling dicintai Insoe?”

“Tentu saja Jiepah,” jawabnya sambil bersenyum.

Lian Cioe tertawa. “Teehoa nakal sekali,” katanya. “Kau tahu, tapi kau sengaja mengatakan begitu. Di antara kami bertujuh orang, yang paling dicintai Insoe adalah suamimu yang tampan.”

So So girang bukan main. “Aku tak percaya,” katanya dengan paras muka berseri-seri.

“Di antara kami bertujuh setiap orang mempunyai keunggulan sendiri-sendiri,” menerangkan Lien Cioe. “Toasoeko mempelajari kitab Ya keng dan sebagai manusia, ia rendah hati, sederhana besar jiwanya dan luas pemandangannya. Samtee seorang hati-hati dan pandai bekerja. Pekerjaan yang diberikan Insoe belum pernah digagalkan olehnya. Sietee berotak cerdas luar biasa. Lioktee unggul dalam ilmu pedang dan Cit tee belakangan ini telah mempelajari juga Gwakang (ilmu silat luar), sehingga ia akan mahir dalam ilmu dalam dan ilmu luar serta akan dapat menangkap tenaga keras dan tenaga lembek.”

“Bagaimana dengan Jiepeh sendiri?” tanya So So.

“Aku berotak tumpul dan tak mempunyai keunggulan dalam apapun jua,” jawabnya,” jika Tee hoe ingin tahu juga, boleh dikatakan bahwa dalam pelajaran yang diturunkan oleh Soehoe, akulah yang paling giat mempelajarinya.”

So So bertepuk tangan. “Aku memang tahu, bahwa di antara Boe tong Cit hiap, Jiepeh yang ilmu silatnya paling tinggi,” katanya sambil tertawa. “Tapi Jiepeh sangat merendahkan diri dan tidak suka mengakuinya.”

“Memang, di antara kami bertujuh, memang Jie ko yang berkepandaian paling tinggi,” kata Coei San. “Hai!…Selama sepuluh tahun Siauwtee tak pernah menerima pelajaran In soe dan di waktu ini, siauwtee pasti menduduki kursi yang paling buncit.” Waktu mengucapkan kata-kata itu, suaranya bernada sedih.

“Akan tetapi, di antara kita bertujuh, kaulah yang Boen boe coan cay,” kata Lian Cioe, “Tee hoe, aku sekarang ingin membuka suatu rahasia. Pada lima tahun berselang, ketika Soehoe merayakan ulang tahunnya yang ke sembilan puluh lima, tiba-tiba paras muka beliau berubah sedih. Sesudah menghela napas, beliau berkata: Di antara tujuh muridku, yang otaknya paling cerdas dan boen boe song coan hanyalah Coei San seorang. Aku sebenarnya mengharap bahwa di hari kemudian ia akan bisa menjadi ahli warisku. Ah! .. Hanya sayang rejeki anak itu tipis sekali dan selama lima tahun, belum diketahui bagaimana nasibnya. Mungkin…mungkin sekali ia sudah mendapat kecelakaan”

“Kau dengarlah, Teehoe. Apakah keliru, jika aku mengatakan, bahwa Ngotee paling disayang oleh Soehoe?”

Mendengar itu, Coei San merasa berterima kasih dan terharu, sehingga air matanya lantas saja berlinang-linang.

“Sekarang Ngotee sudah kembali dengan selamat dan pulangnya bersama-sama kalian, sudah merupakan antaran yang paling berharga untuk Soehoe,” kata pula Lian Cioe.

Bicara sampai di sini sekonyong-konyong terdengar suara kaki kuda yang di kaburkan di gili-gili sungai. Kuda-kuda itu mendatangi dari sebelah timur dan menurut ke arah barat. Di tengah malam yang sunyi, suaranya terdengar tegas sekali dan dari suara tindakan bisa diketahui, bahwa jumlahnya empat ekor kuda.

Lian Cioe bertiga saling mengawasi. Di dalam hati mereka tahu, bahwa empat penungang kuda itu yang datang di tengah malam buta, kebanyakan mempunyai sangkut-paut dengan mereka.

Meskipun mereka sungkan mencari urusan, mereka bukan orang-orang yang takut mendapat urusan. Maka itu, biarpun bercuriga, mereka tenang-tenang saja dan tidak membicarakan kejaran empat pengunggang itu.

“Pada waktu aku turun gunung, Soehoe sedang menutup diri dan bersemedhi,” kata pula Lian Cioe. “Menurut perhitungan, setibanya kita di Boe-tong, beliau sudah selesai.”

“Dulu ayah pernah memberitahukan kepadaku, bahwa selama hidup ia hanya mengagumi Thio Cinjin dan Kian boen tie seng, empat pendeta suci dari Siauw lim-pay,” kata So So. “Tahun ini Thio Cinjin sudah mencapai usia seratus tahun dan dalam keagamaan, mungkin ia tidak mempunyai tandingan lagi didunia ini. Apakah beliau sedang mempelajari ilmu untuk hidup abadi?”

“Bukan, Insoe sedang merenungkan ilmu silat,” jawabnya.

So So agak kaget. “Dalamnya ilmu silat yang dimiliki beliau sudah tak dapat diukur lagi,” katanya. “Apa lagi yang ingin dipelajari? Apakah pada jaman ini beliau masih mempunyai tandingan?”

“Semenjak usia sembilan puluh lima tahun, saban tahun in Soe menutup diri sembilan bulan lamanya,” menerangkan Lian Cioe. “Beliau sering mengatakan, bahwa intisari daripada ilmu silat Boe tong terletak di dalam kitab Kioe yang Cin keng. Hanya sayang, pada waktu Kak wan Couw soe menghafal isi kitab itu, Insoe masih terlalu muda dan sesudah lewat sekian tahun, ia sudah tidak ingat lagi seluruh isinya. Maka itulah, dalam ilmu silat kami masih terdapat kekurangan-kekurangan.”

“Kioe yang Cin keng adalah warisan Tat mo Couw soe Insoe mengatakan, bahwa makin lama beliau merenungkan, makin beliau merasa, bahwa dalam ilmu silat kami masih terdapat terlalu banyak kekurangan, seolah hanya merupakan separoh dari sebuah keseluruhan. Beliau mengatakan, bahwa untuk mencapai keseluruhan itu, orang harus mendapatkan dan mempelajari Kioe im Cin keng. Hanya sayang, sedang Kioe yang Cin keng saja masih belum lengkap, di manakah orang harus mencari Kioe im Cin keng ? Di samping itu, apakah di dalam dunia benar-benar terdapat kitab Kioe im Cin keng, masih merupakan sebuah teka teki.”

“Tat mo Couw soe adalah seorang luar biasa dari negeri Thian tiok (India). Dalam kecerdasan dan bakat belum tentu Insoe kalah dari Tat mo Couw soe. Maka itu, sedang Cin keng tak mungkin didapatkan, apakah Insoe sendiri tidak mampu mengubah ilmu silat yang sempurna? Pertanyaan itu tidak bisa menghilang dari otak Insoe. Maka itulah, beliau lalu menutup diri untuk mempelajari dan merenungkan ilmu silat kami guna mencapai suatu kesempurnaan.”

Mendengar keterangan itu, bukan main rasa kagumnya Coei San dan So So.

“Yang turut mendengar Kak wan Couwsoe menghafal Kioe yang Cin keng ada tiga orang.” Lian Cioe melanjutkan penuturannya. “Yang satu Insoe sendiri, yang kedua Boe sek Taysoe dari Siauw lim sie, sedang yang ketiga seorang wanita yaitu Couwsoe Goe bie pay, Kwee Siang Kwee Lie hiap. Kecerdasan, bakat dan kepandaian mereka berlainan satu sama lain. Yang ilmu silatnya paling tinggi pada waktu itu adalah Boe sek Taysoe. Kwee Lie hiap ialah puteri Kwee Tayhiap dan Oey Yong, Oey Pangcoe. Sebagai puterinya ahli-ahli silat kelas utama pada jaman itu, beliau sudah memiliki ilmu silat yang beraneka warna. Insoe sendiri pada waktu itu dapat dikatakan belum mengenal ilmu silat. Tapi sebab itulah ilmu silat Boe tong menjadi ahli waris yang paling bersih dari pada kitab Kioe yang Cin keng.”

“Belakangan mengenai ilmu-ilmu silat Siauw Lim, Go bie dan Boe tong, orang memberi julukan Ko (tinggi) kepada Siauw lim. Pok (luas) kepada Go bie dan Soen (bersih) kepada Boe tong. Ketiga partai masing-masing mempunyai keunggulan sendiri dan juga mempunyai kekurangan-kekurangan.”

“Kalau begitu, Kak wan Couw soe memiliki ilmu silat yang paling tinggi pada jaman itu,” kata So So.

“Tidak !” jawabnya. “Kak wan Couw soe tidak mengerti ilmu silat. Dalam kuil Siauw lim sie, ia bekerja sebagai pengurus Cong keng kok (gedung perpustakaan). Ia seorang kutu buku yang membaca segala rupa kitab dan menghafalnya. Secara kebetulan ia mendapatkan Kioe yang Cin-keng Yang lalu dibacanya dan dihafalnya. Ia sama sekali tak tahu, bahwa dalam kitab itu terdapat ilmu silat yang sangat tinggi.”

Lian Cioe selanjutnya menuturkan cara bagaimana kitab itu hilang dan tidak dapat ditemukan lagi. Coei San sendiri sudah pernah mendengar cerita itu dari gurunya, tapi So So yang baru pertama kali mendengarnya, merasa ketarik bukan main.

Lian Cioe seorang pendiam dan biasanya sangat jarang bicara. Tapi sekarang, dalam kegembiraannya karena sudah bertemu pula dengan adiknya yang disangka mati, ia berbicara banyak sekali, bahkan berguyon.

Sesudah bergaul belasan hari dengan So So, ia merasa, bahwa si Teehoe sebenarnya bukan manusia jahat. Ia yakin, bahwa kekejaman So So pada masa yang lampau, adalah akibat daripada suasana dan pergaulannya. Kata orang, mendekati bak (tinta) keluaran hitam, mendekati coe see (bubuk merah) berlepotan merah. Sedari kecil, apa yang dilihat dan didengar So So adalah perbuatan-perbuatan sesat dan kejam, sehingga sesudah besar, ia tidak dapat membedakan lagi apa yang benar, apa yang salah dan biasa membunuh manusia secara serampangan. Tapi sesudah menikah dengan Soeteenya, adat yang kejam itu perlahan-lahan berubah. Itulah kesimpulan Lian Cioe.

Baru saja Coei San ingin menanyakan Soehengnya tentang kemajuan yang telah dicapai oleh gurunya dalam usaha menyempurnakan ilmu silat Boe-tong, sekonyong-konyong suara tindakan kuda tadi terdengar pada kali ini dari menuju ke timur dan tidak lama kemudian mereka lewat di atas gili-gili dekat perahu.

Coei San agak terkejut, tapi ia tidak menggubris. “Jieko” katanya. “jika Insoe mengundang tokoh-tokoh Siauw lim dan Gobie untuk bersama-sama menyempurnakan ilmu silat, kurasa ketiga partai ini sama-sama akan memperoleh keuntungan yang sangat besar.”

Lian Cioe menepuk lututnya. “Kau benar !” katanya dengan bersemangat. “Perkataan Soehoe, bahwa di hari kemudian kau bakal menjadi ahli warisnya sungguh tepat sekali.”

“Perkataan itu kurasa sudah dikeluarkan karena Insoe selalu mengingat Siauwtee yang tidaak diketahui ke mana perginya,” kate Coei San. “Bukankah seorang anak durhaka yang bergelandangan di luaran lebih dipinggirkan oleh ibunya daripada anak berbakti yang selalu berdampingan dengan sang ibu? Pada waktu ini, janganlah dibandingkan dengan Toako, Jieko dan Sieko, sedangkan dengan Lioktee dan Cit tee pun, ilmu silat Sauwtee masih belum bisa menandingi.”

“Bukan, tafsirannya bukan begitu,” kata Lian Cioe sambil meggelengkan kepala. “Sebegitu jauh mengenai ilmu silat, memang juga Ngotea tidak bisa menandingi aku. Akan tetapi, seorang ahli waris Insoe mempunyai tanggung jawab yang sangat besar untuk memperkembangkan ilmu silat. Insoe sering mengatakan, bahwa dalam dunia yang lebar ini, soal gemilang atau suramnya Boe tong pay sebagai partai persilatan adalah soal remeh. Soal yang penting ialah seorang ahli silat harus menunaikan tugasnya sebagai seorang anggota dari rimba persilatan. Jika ia bisa mempelajari menyelami rahasia ilmu silat dan kemudian menurunkan pelajarannya itu kepada orang lain, supaya ilmu silat seorang koen coe (manusia utama) berbeda dengan ilmu silat seorang Siauwjin (manusia rendah). Jika ia dapat mempersatukan pencinta-pencinta negeri untuk mengusir penjajah dan merampas pulang negeri yang sedang dijajah, maka dapatlah dikatakan, bahwa ia sudah menunaikan tugasnya yang sangat mulia. Itulah pendapat Insoe mengenai tanggung jawab seorang ahli silat. Maka itulah seorang ahli warisnya, pertama harus mempunyai batin yang luhur dan kedua harus memiliki kesadaran. Mengenai batin, kita bertujuh tiada banyak bedanya. Tapi mengenai kesadaran, Ngotee-lah yang paling unggul.”

Coei San menggoyangkan tangannya. “Tapi siauw tee masih tetap berpendapat, bahwa perkataan itu sudah dikeluarkan Insoe karena beliau terlalu memikirkan siauwtee,” katanya dengan suara terharu. “Andaikata benar Insoe mempunyai niat begitu, biar bagaimanapun jua, siauwtee tak akan dapat menerimanya.”

Mendadak Lian Cioe berpaling ke arah So So. Ia bersenyum seraya berkata, “Teehoe pergilah kau melindungi Boe Kie, supaya ia tak jadi kaget. Urusan di luar akan diurus olehku dan Ngotee.”

So So memandang ke darat, tapi ia tak dapat melihat sesuatu yang luar biasa. Selagi ia bersangsi, Lian Cioe berkata pula, “Di antara pohon-pohon itu bersembunyilah orang dan di antara rumput alang-alang di sebelah depan pasti bersembunyi perahu-perahu musuh”

So So membuka matanya lebar-lebar dan mengawasi ke empat penjuru, tapi ia tetap tak melihat apapun jua. Diam-diam dia menduga mata sang Jiepeh kabur.

Sekonyong-konyong Lian Cioe berteriak, “Boe tong san Jie Jiehiap dan Thio Ngo hiap numpang lewat di tempat ini. Kami memohon kalian sudi memaafkan, jika kami melanggar kesopanan. Kami mengundang kalian untuk naik ke perahu ini guna minum bersama-sama.”

Teriakan Lian Cioe diikuti dengan suara air yang terpukul dayung dan sesaat kemudian, dari antara rumput alang-alang muncullah enam buah perahu kecil yang didayung cepat sekali dan yang kemudian berbaris dan menghadang dari satu tepi ke lain tepi sungai. Dari salah sebuah perahu itu terdengar suara “uuu…uuu…” dan dilepaskan sebatang anak panah pertandaan, yang mengeluarkan suara nyaring. Hampir berbareng, dari antara gerombolan pohon pohon melompat keluar belasan orang yang ringkas dan badannya semua mengenakan pakaian warna hitam dan semua mencekal senjata. Sedang muka mereka ditutup dengan topeng kain yang berwarna hitam juga.

So So kagum tak kepalang. “Nama besar Jie peh sungguh bukan nama kosong,” pikirnya. Melihat jumlah musuh yang besar cepat- cepat ia masuk kedalam gubuk perahu untuk melindungi puteranya. Anak itu ternyata sudah mendusin. Sesudah merapikan pakaiannya, ia berbisik “Anak, kau jangan takut!”

“Sahabat dari mama yang akan berkunjung?” tanya Lian Cioe. “Boe tong Jie Jie dan Thio Ngo hiap menyampaikan salam persahabatan.”

Tapi tak satu manusiapun yang muncul dari perahu-perahu itu dan pertanyaan Jiehiap tetap tidak mendapat jawaban.

“Celaka!” Lian Cioe mengeluarkan seruan tertahan dan lalu melompat ke air. Ia kelahiran Kang lam dan rumah tinggalnya berdekatan dengan sungai, sehingga semenjak kecil ia sudah mahir dalam ilmu berenang.

Ia menyelam dan melihat empat orang sedang berenang mendekat, ia mengerti maksud mereka yaitu ingin membor dasar perahu supaya perahu itu karam.

Jie Lian Cioe segera bersembunyi di samping badan perahu. Begitu lekas ke empat orang itu datang dekat, kedua tangannya bergerak dan dua orang sudah tertotok jalanan darahnya. Hampir berbareng ia mengirim tendangan dan jalanan darah Cit sit hiap, di pinggang orang ketiga, kena tertendang. Musuh yang keempat coba melarikan diri, tapi Lian Cioe keburu menjambret pergelangan kakinya dan lalu melontarkannya ke atas perahu. Mengingat, bahwa ketiga musuhnya pasti bakal mati kalelap jika tidak ditolong, ia segera melemparkan mereka satu-persatu ke kepala perahu dan kemudian barulah ia sendiri meloncat ke atas perahu.

Sementara itu sesudah bergulingan, musuh keempat melompat bangun dan lalu menikam dada Coei San dengan bornya. Melihat ilmu silat orang itu biasa saja, tanpa berkelit. Coei San menangkap pergelangan tangannya yang mencekal senjata kemudian menotok jalanan darah di dada dengan sikutnya. Tanpa mengeluarkan teriakan, dia rubuh di atas geladak perahu.

“Di antara yang berkumpul di darat kelihatannya terdapat beberapa orang yang berkepandaian tinggi,” kata Lan Cioe. “Sesudah berhadapan, tak dapat kita berlaku sungkan lagi.”

Coei San mengangguk dan lalu memerintahkan juragan perahu untuk menjalankan kendaraan air itu. Karena mesti melawan arus air, jalanannya perahu perlahan sekali. Begitu berdekatan dengan enam perahu musuh, Lian Cioe mengangkat keempat tawanannya, membuka jalanan darah mereka dan lalu melemparkannya ke perahu yang paling dekat. Tapi sungguh heran dari enam perahu itu sama sekali tidak terdengar suara manusia, belasan orang yang berkumpul di daratan pun tidak mengeluarkan sepatah kata, seolah-olah mereka semua gagu, sedang keempat orang yang barusan dilontarkan juga tak muncul lagi.

Tiba-tiba, selagi perahu Lian Cioe mau melewati keenam perahu itu, seorang pendayung dari perahu musuh yang paling dekat mengayun tangannya dan hampir berbareng, dengan dua kali suara ledakan, kemudi perahu Lian Cioe terbakar dan perahunya sendiri terputar badannya.

Yang dilemparkan oleh si pendayung ialah semacam dinamit yang biasa digunakan oleh para nelayan untuk mendinamit ikan. Hanya karena barang peledak itu dibuat luar biasa besar maka tenaganyapun jauh lebih bear daripada dinamit yang biasa.

Dengan paras muka tetap menunjuk ketenangan, Lian Cioe melompat ke perahu musuh. Sebagai seorang yang berkepandaian tinggi, nyalinya sangat besar dan sampai pada saat itu, ia masih tetap tidak bersenjata.

Kedatangan Jiehiap tidak digubris oleh si pendayung. “Siapa yang melemparkan dinamit?” bentak Lian Cioe. Tapi orang itu tidak menjawab dan lagaknya seperti orang gagu dan tuli.

Lian Cioe segera masuk ke gubuk perabu, di mana terdapat dua orang laki-laki yang duduk pada sebuah meja, tapi merekapun tidak bergerak dan tidak bersuara.

Dengan mendongkol ia mencekal tengkuk salah seorang dan lalu mengagnkatnya tinggi-tinggi. “Hai! Kau jangan main gila!” bentaknya, tapi orang itu memeramkan kedua matanya dan tetap menutup mulut.

Sebagai seorang kenamaan dari rimba persilatan, Lian Coe sungkan mengunjak kegarangan terhadap seorang yang bukan tandingannya. Ia lalu melepasakan orang itu dan pergi ke belakang perahu, di mana ia bertemu dengau Coei San dan So So yang mendukung Boe Kie.

Tiba-tiba So So berteriak “Awas! Penjahat menenggelamkan perahu!” Sesaat itu, air sudah mulai mencapai geladak perahu.

Ternyata, musuh yang berdiam di perahu itu sudah membuat persiapan dan begitu lekas Lian Cioe berempat pindah ke perahu mereka, orang-orang itu lalu membuka sumbat lubang lubang di dasar perahu. Lian Cioe berempat lantas melompat ke parahu yang kedua, tapi perahu itupun mulai karam.

“Ngotee, sekarang tak bisa tidak, kita mendarat juga,” katanya. Ia mengerti, bahwa musuh telah membuat keenam perahu itu sebagai papan loncatan untuk mengundang tamu-tamu naik ke daratan. Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di atas gili-gili.

Belasan lelaki yang mengenakan pakaian hitam itu berdiri dalam garis setengah lingkaran, sehingga Lian Cioe berempat separuh terkurung. Sebagain besar di antara mereka bersenjatakan pedang sedang yang lainnya mencekal sepasang golok atau Joanpian (cambuk). Tak satupun yang membawa senjata berat.

Jiehiap berdiri tegak dengan paras muka dingin dan sepasang matanya yang bersinar terang menyapu musuh-musuh yang menghadang itu.

Mendadak, seorang musuh yang berdiri di tengah-tengah mengebas tangan kanannya dan barisan setengah lingkaran itu segera terpecah dua dan membuka jalan di tengah-tengah. Mereka berdiri dengan badan separuh membungkuk, ujung senjata mereka ditudingkan kebumi, sedang kedua tangan mereka dirangkap sebagai tanda memberi hormat. Sesudah membalas hormat, Lian Cioe bertindak maju. Begitu Jiehiap lewat sekonyong-konyong ujung kedua barisan kembali menyambung menjadi satu dan menutup jalanan keluar, sehingga Coei San, So So dan Boe Kie lantas saja terkurung.

Ngohiap tertawa terbahak-bahak. “Kalau begitu, yang dikehendaki kalian adalah aku, seorang she Thio,” katanya. “Terima kasih atas perhatian kalian yang begitu besar.”

Musuh yang berdiri di tengah-tengah, yang rupanya menjadi pemimpin rombongan, kelihatan bersangsi. Ia menundukkan pedangnya dan sekali lagi membuka jalan.

“So So, kau jalan lebih dulu !” memerintah sang suami.

Sambil mendukung Boe Kie, si isteri segera bertindak maju.

Sekonyong-konyong selagi mau melewati kedua barisan, lima orang bergerak bagaikan kilat dan pedang mereka menuding Boe Kie. Dengan kaget So So bertindak mundur, tapi kelima musuh itu mengikuti dan pedang mereka tetap berada dalam jarak kira-kira satu kaki dari tubuh si bocah.

Lian Cioe yang sangat berwaspada sudah lantas melihat kejadian itu. Sekali menotol tanah dengan kedua kakinya, tubuhnya terbang dan masuk ke dalam kurungan musuh. Bagaikan kilat, kedua tangannya menepuk empat kali, saban tepukan mengenakan pergelangan tangan musuh yang mencekal pedang dan empat batang pedang hampir berbareng terpental ke tengah udara. Sesudah itu, tangan kirinya menyambar pergelangan tangan musuh yang kelima. Begitu mencekal, ia merasa tangan musuh halus luar biasa, seperti juga tangan seorang wanita. Buru-buru ia menotok jalanan darah orang dan buru-buru pula ia melepaskan cekalannya. Tangan orang itu lantas saja lemas dan pedangnya jatuh di tanah.

Sesudah pedang mereka terlepas, kelima orang itu cepat-cepat melompat mundur.

Di lain saat, dua batang pedang menyambar Lian Cioe. Kedua senjata itu menikam lurus dari kiri dan kanan. Jiehiap lantas saja mengenali bahwa serangan itu ialah pukulan Tay mo pang see (Pasir yang rata digurun pasir) dari Koen loen pay.

Lian Cioe menunggu sampai ujung pedang hanya terpisah kira-kira tiga dim dari dadanya dan pada saat yang tepat, ia menarik sedikit dadanya ke belakang, sedang telunjuk tangan kiri dan tangan kanan menyentil badan kedua pedang itu.

Kedua sentilan itu kelihatannya tidak bertenaga, tapi sebenarnya hebat luar biasa disertai dengau Lweekang yang sangat tinggi. Menurut kebiasaan senjata lawan pasti akan terlepas. Tapi kali ini begitu telunjuknya nenyentuh badan pedang, ia merasakan sambutan dari tenaga Jioa kin (tenaga lembek), sehingga Lweekangnya kena dipunahkan. Tapi kedua musuh itu tak dapat mempertahankan diri, satu terhuyung tiga tindak dan badannya bergoyang-goyang sedang yang lain, sesudah mengeluarkan teriakan kesakitan, muntah darah.

Semenjak mencegat, tak satupun mengeluarkan suara dan teriakan itu adalah suara pertama. Sungguh heran, teriakan itu tajam dan nyaring, seperti teriakan seorang wanita.

Melihat kelihaian Lian Cioe, pemimpin rombongan mengebas tangannya dan belasan orang itu lantas saja mundur, akan kemudian menghilang di antara pohon-pohon. Lian Cioe mengawasi bayangan mereka dengan mata tajam. Ia mendapat kenyataan, bahwa hampir semuanya bertubuh langsing dan gerak-gerik mereka yang gemulai menyerupai gerak-gerik wanita.

“Jie Jie dan Thio Ngo dari Boe tong pay menghaturkan maaf kepada Thie khim Sianseng! ” teriak Lian Cioe.

Orang-orang itu tidak menjawab, hanya sayup-sayup terdengar tertawanya seorang wanita.

Sesudah bahaya lewat, So So menurunkan Boe Kie dari dukungannya dan sambil terus mencekal tangan puteranya, ia berkata. “Jiepeh, orang-orang itu rasanya orang perempuan. Apa mereka orang-orang Koen loen pay?”

“Bukan,” jawabnya “mereka orang Go bie pay.”

“Go bie pay?” menegas Coei San dengan perasaan heran. “Bukankah tadi Jieko menyebut nama Thie khim Sianseng?”

Lian Cioe menghela napas, “Mereka tidak bersuara dan muka mereka ditutup dengan topeng itu semua menandakan bahwa mereka sungkan dikenali orang,” katanya. “Lima pedang yang mengancam Boe Kie ialah Han bwee kiam tin (Barisan pedang bunga Bwee) dari Koen loen pay, sedang kedua orang yang menikam aku juga menggunakan pukulan Tay mo pang see dari Koen loen pay. Karena mereka menyamar sebagai orang Koen loen, aku sungkan membuka rahasia mereka dan sengaja menyebutkan nama Thie khim Sianseng, Ciang boenjin dari Koen loen pay.”

“Bagaimana Jiepeh tahu mereka orang Go bie pay?” tanya So So. “Apa di antaranya ada yang dikenal?”

“Tidak,” jawabnya. “Dilihat dari Lweekangnya yang tidak seberapa dalam, mereka mungkin cucu cucu murid Biat coat Soe thay, Ciang boenjin Go bie pay. Dengan lain perkataan, mereka adalah murid turunan keempat dari partai tersebut. Di antara mereka, tak satupun yang dikenal aku. Tapi pada waktu mereka coba mempunahkan sentilanku dengan tenaga Jio kin, aku segera mengenali, bahwa ilmu yang digunakan lima Go bie pay. Sebagaimana kau tahu, tidaklah terlalu sukar untuk meniru pukulan-pukulan partai lain. Tapi begitu lekas seseorang menggunakan Lweekang, tak dapat tidak, topengnya terlucuti.”

Coei San mengangguk. “Sebenarnya mereka tak akan terluka berat, jika mereka tidak melawan dan segera melepaskan senjata waktu disentil Jieko,” katanya. “Aku tahu, kalau Jieko memandang mereka semua seperti musuh, kedua bocah itu tentu sudah hilang jiwanya. Hanya aku merasa heran, mengapa hari ini mereka mencegat kita, sedang biasanya orang-orang Go bie pay selalu berlaku sungkan terhadap kita.”

“Di waktu muda, Insoe pernah menerima budi Kwee Siang Liehiap Couw soe dari Go bie pay.” menerangkan Lian Cioe. “Oleh karena begitu, In soe sering memesan, supaya kami jangan sampai kebentrok dengan murid-murid Go bie, supaya persahabatan lama dapat dipertahankan terus. Sesudah sentilanku mengenakan pedang, barulah aku tahu, bahwa mereka tak akan bisa bertahan. Aku ingin menarik pulang Lweekang, tapi sudah tidak keburu lagi, sehingga kedua orang itu terluka juga. Biarpun tidak disengaja, aku sudah melanggar pesanan Insoe.”

So So tertawa. “Baik juga Jiepeh menyebutkan nama Thie khim Sianseng, sehingga, jika bersalah, kesalahan itu tidak ditujukan langsung terhadap Go bie pay.”

Sementara itu, keenam perahu kecil sudah karam semua, sedang perahu yang ditumpangi Lian Cioe berempat sudah pergi jauh. Anak buah perahu perahu kecil itu dengan basah kuyup mulai merangkak naik digili-gili.

“Apa mereka semua orang-orang Go bie?” tanya So So.

“Bukan.” bisik Lian Cioe. “Kurasa mereka orang-orang Liang coan pang dari Cauw ouw.”

Melihat lima batang pedang Go bie yang sangat bagus menggeletak di tanah, So So membungkuk untuk menjemputnya.

“Jangan ganggu!” melarang sang Jiepeh. “Jika di pedang itu diukir nama, di hari kemudian kita tak akan bisa menyangkal lagi. Hayolah kita meneruskan perjalanan.”

Sekarang So So sudah merasa takluk terhadap Jiepeh yang mulia dan lihai itu. “Baiklah,” katanya sambil berjalan dengan menuntun tangan Boe Kie.

Sesudah melewati gerombolan pohon pohon sekonyong-konyong Boe Kie berteriak dengan suara girang, “Kuda! Lihat!”

Benar saja, di bawah sebuah pohon lioe tampak tertambat tiga ekor kuda yang besar dan garang.

Cepat cepat mereka menghampiri dan di dahan pohon tercantum selembar kertas. Coei San mengambil kertas itu yang tertulis perkataan seperti berikut, “Mempersembahkan tiga ekor kuda untuk menebus dosa.”

“Mereka ternyata berlaku sungkan sekali terhadap kita,” kata Lian Cioe. Mereka segera menunggang kuda-kuda itu dengan Boe Kie duduk di depan ibunya. Si bocah yang belum pernah menunggang kuda jadi girang tak kepalang.

“Sesudah banyak orang mengetahui gerak-gerik kita, kurasa menumpang perahu atau menumpang kuda tiada banyak bedanya,” kata Coei San.

“Benar,” jawab sang kakak, “Kita tentu akan menghadapi lebih banyak gelombang. Kalau bukan terlalu terpaksa, kita tidak boleh turunkan tangan terlampau berat.” Ia berkata begitu karena mengingat terlukanya kedua murid Go bie dan hatinya tetap merasa tidak enak.

Diam-diam So So merasa sangat malu. Karena kesalahan yang begitu kecil, Jiehiap sudah merasa begitu menyesal. Betapa jauh perbedaan antara dirinya sendiri yang pernah memandang jiwa manusia seperti jiwa semut dan sang Jiepeh yang sedemikian mulia hatinya. Ia merasa bahwa orang yang berdosa harus bertanggung jawab dan ia tak pantas menyukarkan Jie Lian Cioe lagi. Karena memikir begitu, ia lantas saja berkata, “Jiepeh, tujuan mereka ialah kami berdua suami-istri. Sedang terhadap Jiepeh, mereka berlaku hormat sekali. Jika di depan ada rintangan lagi, biarlah teehoe yang menyambutnya lebih dulu dan jika aku kalah, barulah Jiepeh menolong.”

“Ah, mengapa Teehoe berkata begitu”” kata Lian Coe. “Dengan berkata begitu, Teehoe menganggap aku seperti orang luar. Kita sekarang sudah terikat famili, mati dan hidup haruslah bersama-sama.”

So So tidak berani membantah lagi. “Terang terang mereka tahu, bahwa Jiepeh berada bersama-sama kami, tapi mengapa mereka berlaku begitu ceroboh dan mengirim saja murid-murid turunan keempat yang ilmu silatnya belum seberapa?” tanyanya pula.

“Mungkin sekali karena persiapan mereka dilakukan dengan tergesa-gesa, sehingga tidak keburu memanggil orang-orang lebih pandai,” jawab Lian Cioe.

Karena menduga, bahwa pencegatan Go hie pay bertujuan untuk menyelidiki tempat sembunyinya Cia Soen, Coei San lantas berkata, “Baru sekarang kutahu, bahwa Gieheng bermusuhan dengan Go bie pay. Selama berada di Peng hwee to, ia tidak pernah menyebut-nyebut itu.”

“Ya, semula akupun merasa heran,” kata Lian Cioe. “Go bie pay adalah sebuah partai persilatan yang menjaga keras peraturannya, sedang murid-muridnya sebagian terbesar terdiri dari kaum wanita. Biat coat Soethay selamanya tidak mempermisikan murid-murid Go bie berkeliaran dalam dunia Kangouw. Mereka kebanyakan menjadi pendeta, mengasingkan diri dari pergaulan atau menikah dan mengurus rumah tangga. Waktu Go bie pay mengirim orang untuk bertempur dangan Peh bie kauw kamipun merasa heran. Belakangan baru kami tahu latar belakangnya. Pada suatu malam Phoei Peng, Phoei Loo eng hiong, si orang jago tua di propinsi Holan, di bunuh orang dan di atas tembok tertulis huruf-huruf yang berbunyi: Si pembunuh ialah Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen.”

“Apakah Phoei Peng anggauta Go bie pay ?” tanya So So.

“Bukan,” jawabnya. Sesudah berdiam beberapa saat, barulah Jie Lian Cioe memberi penjelasan, “Sebenarnya adalah kurang pantas untuk membicarakan soal-soal pribadi dari orang-orang yang tingkatannya lebih atas. Sepanjang keterangan, di waktu muda, Biat coat Soethay adalah salah seorang wanita tercantik dalam rimba persilatan. Belakangan, mendadak beliau mencukur rambut dan menjadi pendeta, sedang Phoei Loo enghiong memutuskan sebuah lengannya sendiri, dan sampai mati ia tidak pernah menikah.”

Hampir berbareng, Coei San dan So So mengeluarkan seruan tertahan. Baru sekarang mereka tahu, bahwa Ciang boen jin Go bie pay yang tersohor itu pernah mengalami kegagalan dalam percintaan. Mereka mengerti, kalau Biat coat Soethay sedapat mungkin ingin membalas sakit hatinya orang yang dicintainya.

“Jiepeh, apakah Phoei Loo enghiong seorang baik atau seorang jahat’?” tanya Boe Kie.

“Tentu saja seorang baik,” jawabnya. “Sesudah mengutungkan lengan sendiri, ia bercocok tanam, membaca kitab-kitab dan menyembunyikan diri dari pergaulan manusia.”

“Hai! Perbuatan Giehoe memang sangat tidak pantas,” kata Boe Kie dengan suara duka. “Ia tak boleh membunuh manusia secara serampangan saja”

Lian Cioe jadi girang sekali. Ia mengangkat anak itu dan lalu mengusap kepalanya, “Anak kau sekarang tahu, bahwa seorang manusia tidak boleh sembarangan membunuh sesama manusia” katanya dengan suara halus. “Jiepeh sungguh merasa girang. Orang yang sudah mati tidak bisa hidup kembali. Maka itu, biarpun terhadap seorang yang sangat jahat, kita masih tidak boleh segera membunuhnya. Kita harus memberi kesempatan supaya dia bisa membelok kejalanan yang lurus.”

“Jiepeh, aku ingin ajukan satu permintaan, bolehkan” tanya Boe Kie.

“Permintaan apa?” menegas sang paman.

“Jika mereka mencari Giehoe, aku minta jiepeh suka membujuk mereka supaya mereka tidak membinasakannya karena Giehoe sudah buta dan tidak dapat melawan mereka,” kata si bocah.

Lian Cioe bersangsi. Sesudah memikir sejenak, ia menjawab, “Tak dapat aku meluluskan permintaanmu. Tapi aku berjanji, bahwa aku sendiri tak akan membunuh Giehoemu”

Boe Kie mengawasi Jiehiap dengan mata membelalak dan air matanya berlinang-linang.

Waktu fajar menyingsing, mereka tiba di sebuah kota kecil, di mana mereka mengaso setengah harian dan di waktu lohor segera meneruskan perjalanan.

Selang beberapa hari, tibalah mereka di kota Hankouw. Hari itu selang mendekati kota Anlok. Di tengah jalan mereka bertemu dengan belasan orang yang lari lintang-pukang dari sebelah depan.

Begitu bertemu dengan rombongan Lian Cioe mereka berteriak-berteriak, “Balik! Balik! Jangan menuju terus! Di sebelah depan serdadu Tat coe (serdadu Mongol, Goan) sedang membunuh dan merampok”.

Sambil mengawasi So So, salah seorang berkata “Kau sungguh berani mati. Kalau bertemu dengan mereka, kau bakal celaka.”

“Ada berapa banyak?” tanya Lian Cioe,

“Belasan orang,” jawabnya dan mereka segera lari terus ke jurusan timur.

Musuh terbesar dari Boe tong Cit-hiap ialah serdadu Goan yang sering berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat. Dalam mendidik murid-muridnya, Thio Sam Hong memegang peraturan keras dan selamanya melarang murid-murid itu sembarangan turun tangan. Tapi jika menghajar serdadu Goan yang sedang merampok atau membunuh rakyat, mereka bukan saja tidak ditegur malah dipuji. Maka itu, mendengar rombongan musuh hanya berjumlah belasan orang, Lian Cioe lantas saja mengeprok tunggangannya dan maju ke depan diikuti oleh Coei San bertiga.

Benar saja, sesudah berjalan kira-kira tiga mereka mendengar sesambat rakyat. Belasan serdadu yang bersenjata golok dan tombak tengah mengunjuk kegarangannya dan di atas tanah sudah menggeletak beberapa mayat.

Bukan main gusarnya Coei San. Ia menyerang dan melompat dari punggung kuda. Sebelum kedua kakinya hinggap d ibumi, tinjunya menghantam dada seorang serdadu yang mau menenteng satu anak kecil. Tanpa mengeluarkan suara serdadu itu roboh di tanah. Kawannya gusar dan menikam punggung Coei San dengan tombaknya.

Coei San memutar badan dan ujung tombak hanya terpisah kurang lebih setengah kaki dari dadanya. Sambil bersenyum ia menangkap ujung senjata dan lalu mendorongnya keras-keras, sehingga gagang tombak menghantam dada serdadu itu yang lantas saja roboh pingsan.

Melihat kelihaian Coei San, sambil berteriak-teriak belasan serdadu lantas saja mengurung. So So buru-buru melompat turun dari tunggangannya. Ia merampas sebatang tombak dan membinasakan dua orang musuh. Serdadu-serdadu itu jadi keder dan mereka lalu melarikan diri. Tapi sambil lari di sepanjang jalan mereka masih mengunjuk kekejaman dan melukai beberapa orang penduduk,

“Cegat! Cegatlah mereka!” teriak Lian Coei yang sudah meluap darahnya. Seraya berkata begitu, ia mengubar dan mencegat empat orang serdadu. Coei San dan So So pun turut mengejar dan masing-masing memotong jalanan lari dari sejumlah musuh.

Walaupun garang, serdadu Goan kebanyakan tidak memiliki ilmu silat tinggi, sehingga Coei San dan So So tidak kuatir akan keselamatan Boe Kie.

Boe Kie juga melompat turun dari punggung kuda. Melihat paman dan kedua orang tuanya sedang mengamuk di antara belasan musuh, ia kegirangan dan menepuk-nepuk tangan seraya berteriak-teriak, “Bagus! Bagus!”

Sokonyong-konyong, serdadu Goan yang tadi disodok Coei San dengan gagang tombak dan roboh pingsan, melompat bangun dan memeluk Boe Kie. Si bocah, terkesiap lalu menghantam dengan pukulan Sin liong Pa bwee. Karena melihat paman dan kedua orang tuanya mengamuk tanpa mengenal kasihan lagi, ia menggunakan pukulan itu dengan seantero tenaga.

Di luar dugaan serdadu Goan itu hanya mengeluarkan suara “heh!” perlahan, badannya tidak bergeming dan dengan sekali menotol tanah dan dengan kedua kakinya, ia melompat ke atas punggung kuda yang lalu dikaburkan keras-keras.

Lian Cioe, Coei San dan So So kaget tak kepalang, cepat-cepat mereka mengubar. Dengan beberapa lompatan Jiehiap sudah menyandak dan tangan kirinya menghantam punggung serdadu itu. Tanpa menengok, serdadu itu menangkis. “Plak!”, kedua tangan beradu. Lian Cioe merasa tenaga musuh dahsyat luar biasa, seolah-olah gelombang besar, sehingga dadanya menyesak, tubuhnya bergoyang-goyang dan terhuyung beberapa tindak. Tunggangan serdadu itu tak kuat bertahan, keempat kakinya bergemetaran dan dia jatuh berlutut. Sambil mendukung Boe Kie, serdadu itu melompat turun dan terus kabur dengan menggunakan ilmu ringan badan. Dalam sekejap ia sudah lari puluhan tombak jauhnya.

Melihat paras muka Lian Cioe yang pucat pasi, Coei San tahu bahwa kakak seperguruan itu telah mendapat luka yang tidak enteng.

Buru-buru ia menghampiri dan memeluknya. Sementara itu, dengan nekad So So mengejar terus, tapi musuh berkepandaian tinggi, makin lama jarak antara mereka makin jauh sehingga belakargan, sesudah membelok di sebuah tikungan, serdadu itu menghilang dari pemandangan. Tapi So So yang sudah kalap mengejar terus.

“Minta Teehoe balik.” kata Lian Cioe dengan suara perlahan. “Kita harus…berusaha dengan perlahan”

“Bagaimana luka Jieko?” tanya si adik sambil menikam dua serdadu yang menerjang dengan tombaknya.

“Tak apa-apa,” jawabnya, “Yang paling penting panggillah Teehoe.”

Karena kuatir di antara sisa serdadu itu masih terdapat orang pandai, Coei San segera mengubar kian-kemari dan sesudah mengusir mereka, barulah la melompat ke punggung kuda dan menyusul isterinya.

Sesudah membedal tunggangannya belasan li, barulah ia bertemu dengan So So yang tengah berlari-lari dalam keadaan kalap dan dengan tindakan limbung, suatu tanda, bahwa nyonya muda ini sudah kehabisan tenaga. Coei San memeluknya dan menaikkannya ke punggung kuda.

Sambil menangis sedu-sedan, So So berkata “Anak kita hilang! Tidak kecandak…tidak kecandak…” Tiba-tiba matanya mendelik dan ia pingsan dalam pelukan sang suami.

(kecandak = terpegang)

Karena memikir keselamatan saudara seperguruannya, cepat-cepat Coei San memutar kuda dan lari balik ke tempat tadi. Jauh-jauh ia melihat tiga serdadu Goan yang bersenjata tombak sedang mendekati Lian Cioe. Biarpun Soehengnya duduk menyender di pohon ketiga serdadu itu, yang sudah berkenalan dengan kelihaiannya Jiehiap tidak berani lantas menyerang.

“Tat-coe, serahkan jiwamu!” teriak Coei San sambil menerjang dengan kaburkan tunggangannya. Di lain saat, dua di antaranya sudah roboh, sedang musuh yang ketiga lari lintang-pulang. Sambil membentak keras, Ngohiap menimpuk dengan tombaknya. Dalam kegusarannya sebab putranya diculik, Soehengnya terluka dan isterinya pingsan, ia menimpuk dengan sepenuh tenaga. Tombak itu terbang dengan mengeluarkan suara mengaung dan “jres!” serdadu itu terpaku di tanah

Sementara itu, So So sudah mendusin. “Boe Kie!”, ia sesambat.

Sesudah menjalankan pernapasan beberapa lama, Lian Cioe mengambil sebutir pel Thay it Tok beng tan yang lalu ditelannya. Beberapa saat kemudian, pada mukanya terlihat sinar merah. Ia membuka matanya seraya berkata perlahan “Sungguh hebat tenaga orang itu!”

Coei San lega hatinya. Ia tahu, bahwa jiwa soe hengnya sudah terlolos dari bahaya, tapi ia masih tidak berani mengajak bicara. Perlahan-lahan Jie hiap bangun berdiri. “Apa sudah tidak kelihatan bayangan bayangan lagi?” tanyanya dengan suara perlahan.

“Jiepeh…bagaimana baiknya?’ tanya si Tee hoe dengan suara parau.

“Legakan hatimu, Boe Kie tidak kurang suatu apa,” jawabnya. “Orang itu berkepandaian sangat tinggi. Aku merasa pasti bahwa seorang yang berkepandaian setinggi itu tak akan mencelakakan anak kecil yang tidak berdosa.”

Air mata So So kembali mengucur. “Tapi…tapi…Boe Kie sudah diculik,” katanya. Lian Cioe mengangguk. Ia memeramkan kembali kedua matanya dan mengasah otak.

Sesaat kemudian, ia membuka, matanya seraya berkata, “Aku tidak dapat menebak asal usul orang itu. Jalan satu-satunya kita harus menanyakan Soehoe.”

So So bingung bukan main. “Jiepeh, yang paling penting kita harus memikiri daya untuk merampas pulang Boe Kie,” katanya memohon. “Asal usul orang itu dapat diselidiki belakangan”

Lian Cioe tidak menyahut, ia hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“So moay, Jieko mendapat luka berat, sedang orang itu berkepandaian begitu tinggi,” kata Coei San. “Andaikata kita sekarang dapat mencarinya, kitapun tidak dapat berbuat banyak,”

“Apa kita menyudahi dengan begitu saja ?” tanya si isteri dengan suara mendongkol.

“Kita tak perlu cari dia,” jawabnya. “Dialah yang pasti akan cari kita.”

So So adalah seorang wanita yang sangat pintar. Hanya karena puteranya diculik, pikirannya kalut dan ia tidak dapat berpikir dengan otak dingin. Mendengar perkataan sang suami, ia tersadar dan mengerti maksud Coei San. Serdadu Goan itu memiliki kepandaian begitu tinggi, sehingga Lian Cioe sendiri sampai terluka. Dia pasti seorang tokoh rimba persilatan yang menyamar. Jika mau, sesudah Lian Cioe terluka, dia bisa membinasakan Coei San bertiga. Tapi dia hanya menculik Boe Kie. Dari kenyataan itu, dapatlah ditebak, bahwa tujuan orang itu ialah ingin menekan, supaya Coei San dan isterinya mau membuka rahasia mengenai tempat sembunyinya Cia Soen.

Coei San lalu mendukung dan menaikkan Jiekonya ke atas punggung kuda dan perlahan-lahan mereka meneruskan perjalanan. Setibanya di An lok, mereka menginap di sebuah rumah penginapan kecil dan sesudah bersantap, mereka segera mengunci pintu.

Lian Cioe segera bersila dan mengerahkan Lweekang untuk mengobati lukanya. Coei San duduk di dekatnya, sedang So So menyender di sebuah kursi panjang. Kira-kira tengah malam, Lian Cioe turun dari pembaringan dan berjalan perlahan-lahan, memutari kamar, untuk mengendorkan otot ototnya. “Ngotee…” katanya. “Selama hidup, kecuali Soehoe sendiri, belum pernah aku bertemu dengan manusia yang memiliki Lweekang begitu hebat.”

Pada waktu disodok dengan gagang tombak oleh Coei San, “serdadu” itu berlagak pingsan sehingga Coei San bertiga tidak memperhatikannya. Sekarang mereka mengingat-ingat wajah dan potongan badan orang itu. Kalau tak salah, dia brewokan, tiada banyak bedanya dengan kebanyakan serdadu Goan.

“Dia menculik Boe Kie pasti dengan tujuan untuk menyelidiki Gieheng,” kata So So. “Ah! Apakah anak itu akan membuka rahasia?”

“Boe Kie pasti tidak akan membuka rahasia,” kata sang suami dengan suara tetap. “Kalau dia membuka rahasia, dia bukan anak kita,”

“Benar,” kata si isteri. ” Dia pasti tidak membuka rahasia.,”

Tiba-tiba nyonya Coei San menangis pula.

“Mengapa kau menangis?” tanya sang suami.

“Kalau…Boe Kie menutup…mulut, penjahat itu pasti akan…mempersakitinya.” jawabnya terputus-putus. “Mungkin…mungkin dia turunkan tangan beracun.”

Coei San dan Lian Cioe menghela napas. “Batu kumala yang tidak digosok, tidak akan jadi barang yang berguna,” kata Coei San. “Biarlah dia merasakan sedikit penderitaan. Mungkin sekali penderitaan itu banyak faedahnya di hari kemudian.”

Walaupun mulutnya berkata begitu hatinya sakit sekali. Ia ingat bahwa pada saat itu Boe Kie sedang menderita siksaan atau sedang tidur nyenyak di atas pembaringan. Kalau dia sedang tidur nyenyak, dia tentu sudah membuka rahasia dan sudah menjadi manusia yang tak punya pribudi.

“Dari pada jadi manusia rendah, lebih baik dia mati,” kata Coei San di dalam hatinya. Ia melirik isterinya yang kelihatan berduka bukan main. Pada kedua mata si isteri terlihat sinar mohon belas kasihan. Jantungnya memukul keras. Ia merasa bahwa jika penjahat itu menekan So So dengan mengancam jiwa Boe Kie mungkin sekali si isteri akan menakluk.

Ia menghela napas dan berkata “Jieko, bagaimana keadaanmu? Apa kau merasa enakan?”

Semenjak kecil, mereka berdua bersama-sama belajar silat, sehingga yang satu sudah bisa membaca isi hati yang lain. Melihat sikap dan mendengar pertanyaan si adik, Lian Cioe sudah mengerti maksudnya. Ia mengerti, bahwa Coei San kuatir penjahat itu akan menyatroni dan coba menaklukkan So So dengan menyiksa Boe Kie. “Baiklah, kita meneruskan perjalanan malam ini juga.”

Sesudah membayar uang sewa kamar dan santapan, mereka segera berangkat dan berjalan dengan mengambil jalanan kecil. Mereka bukan takut mati. Yang dikuatirkan ialah penjahat itu akan menyiksa Boe Kie di depan mata mereka, untuk memaksa mereka membuka rahasia.

Mereka meneruskan perjalanan tanpa bertemu dengan rintangan lagi. Tapi So So jatuh sakit karena duka, Coei San segera menyewa dua kereta keledai untuk So So dan Lian Cioe, sedang ia sendiri melindungi dengan menunggang kuda.

Sesudah melewati Siangyang, pada suatu malam mereka menginap di sebuah rumah penginapan di kota Tay-pang-liam. Baru saja Coei San mengucapkan selamat malam kepada Soehengnya dan ingin kembali ke kamarnya, tiba-tiba seorang lelaki menyingkap tirai daa menyelonong masuk.

Dia mengenakan baju hijau dan celana pendek, sedang tangannya menyekal cambuk, sehingga macamnya seperti seorang kusir kereta. Begitu masuk, dia mengawasi Lian Cioe dan Coei San dengan mata melotot dan sesudah tertawa dingin, lalu memutar badan berjalan keluar.

Coei San tahu, bahwa orang itu mengandung maksud tidak baik. Sikap orang itu yang kurang ajar menggusarkan sangat hatinya.

Sesaat itu,tirai kain yang didorong oleh orang itu, terayun ke depan Coei San. Ia segera menangkap ujung tirai dan sambil mengerahkan Lweekang, menimpuknya kepunggung orang itu. “Ptak !” dia terhuyung, akan kemudian roboh di lantai. Cepat-cepat dia bangun berdiri, “Penjahat-penjahat Boe-tong pay !” bentaknya, “Sedang kebinasaan sudah berada di atas kepalamu, kau masih mengunjuk keganasan !” Mulutnya mencaci, tapi kakinya lari dan dari tindakannya yang limbung, ia bukan terluka enteng.

Lian Cioe tidak mengatakan suatu apa.

“Jieko, apa tidak baik kita jalan terus?” tanya Coei San.

“Tidak!” jawab sang kakak deagan suara lantang. “Besok pagi baru kita terangkat.”

Coei San mengerti jalan pikiran kakak seperguruannya dan semangatnya lantas saja meluap-luap “Benar!” katanya. “Dari tempat ini, dua hari lagi kita akan tiba di gunung kita. Biarpun kita tolol, tak dapat kita merosotkan derajat dan keangkeran Boe tong pay. Di bawah kaki Boe tong san, masa boleh kita lari ngiprit?”

Sang kakak bersenyum. “Sesudah orang tahu siapa kita, biarlah mereka tahu, bagaimana murid murid Boe tong menghadapi kebinasaan yang sudah berada di atas kepala,” katanya dengan suara angkuh.

Lian Cioe lantas saja mengikut ke kamar Coei San di mana mereka duduk bersila di atas pembaringan batu dengan berendeng pundak sambil memeramkan mata dan menjalankan pernapasan.

Malam itu, tujuh delapan orang berkeliaran di luar kamar dan di atas genteng, tapi mereka tidak berani menerjang karena merasa jerih terhadap nama besarnya Boe tong pay.

Pada esokan harinya, meskipun duduk di kereta, Lian Cioe memerintahkan supaya kusir menyingkap semua tirai, sehingga ia dapat mengamat-amati keadaan diseputarnya. Sesudah meninggalkan Tay pong tiam beberapa li dari sebelah timur kelihatan mengejar tiga penunggang kuda yang kemudian mengintil di belakang kereta dalam jarak belasan tombak.

Sesudah berjalan lagi beberapa li, di sebelah depan menunggu empat penunggang kuda. Begitu lekas rombongan Lian Cioe lewat, mereka segera mengikuti dari belakang. Beberapa lama kemudian, jumlah “pengiring” bertambah lagi empat orang.

Kusir kereta jadi ketakutan. “Tuan, apakah mereka penjahat?” Ia tanya Coei San dengan suara perlahan.

“Jangan takut,” jawab Ngohiap. “Mereka bukan mau merampas uang”

Kira-kira tengah hari, jumlah yang mengikuti bertambah lagi dengan enam orang. Pakaian mereka beraneka warna, ada yang mewah dan ada yang buruk.

Mereka semua membekal senjata dan mengikuti tanpa mengeluarkan sepatah suara. Dilihat dari potongan badan mereka yang kecil, mungkin sekali mereka penduduk Tiongkok Selatan. Sesudah lewat tengah bari, jumlah mereka bertambah lagi dengan dua puluh satu orang. Beberapa antaranya yang bernyali besar, mendekati kereta sampai jarak kira-kira tiga tombak. Lian Cioe sendiri terus duduk sambil meramkan mata, seolah-olah tidak memperhatikan mereka.

Di waktu magrib, dari sebelah depan mendatangi dua penunggang kuda, yang satu seorang tua dengan jenggotnya yang panjang, sedang yang lain seorang wanita muda yang berparas cantik. Si kakek bertangan kosong, tapi wanita itu bersenjatakan sepasang golok. Begitu tiba di depan kereta, mereka segera menghadang di tengah jalan.

Coei San naik darahnya. Sambil mengangkat tangan ia berkata, “Boe-tong Jie Jie dan Thio ngo numpang lewat di jalanan ini. Dapatkah kami menanya she dan nama tuan yang mulia?”

Orang tua itu bersenyum. “Di mana Cia Soen?” tanyanya. “Jika kau sudi memberitahukan, kami pasti tidak akan mengganggu murid-murid Boe tong.”

“Dalam hal ini, aku lebih dulu ingin meminta petunjuk Insoe,” jawab Coei San.

“Jie Jie terluka, Thio Ngo sebatang kara.” kata si tua. “Dengan sendirian, kau bukan tandingan kami.” Seraya berkata begitu, ia meraba pinggangnya dan mengeluarkan sepasang Poan koan pit (Senjata yang menyerupai pit, pena Tionghoa), Senjata itu agak berbeda dengan yang biasa, karena ujungnya berbentuk kepala ular.

Coei San bergelar Gin kauw Tiat hoa dan salah sebuah senjatanya ialah Poan koan pit. Maka itu dapat dikatakan ia mengenal semua jago yang menggunakan Poan koan pit. Begitu melihat senjata si kakek, ia terkejut.

Waktu masih belajar silat, gurunya pernah cerita, banwa di negeri Ko lee (Korea) terdapat sebuah pay yang menggunakan Poan koan pit berujung kepala ular. Silat partai itu berbeda dengan silat Tiam hiat (menotok jalan darah) yang di gunakan oleh ahli-ahli silat Tionggoan yang menggunakan poan koan pit. Silat partai itu katanya licin dan telengas. Partai tersebut dinamakan Sin liong pay (Partai Naga malaikat), sedang salah seorang tokohnya she Coan, tapi Thio Sam Hong sendiri tak tahu namanya.

Mengingat itu, ia lantas saja menyoja seraya berkata, “Bukankah Cianpwee dari Sin liong pay di Ko lee? Bolehkah aku mendapat tahu nama besar dari Coan Looy coe?”

Orang tua itu, yang bernama Coan Kian Lam, bukan lain daripada Ciangboenjin dari Sin Liong pay. Dengan memberi hadiah besar, Pangcoe Sam kang pang di Lang lam telah mengundangnya dari negeri Ko lee. Ia sebenarnya ingin merahasiakan dirinya, tapi di luar dugaan, begitu bertemu Coei San, rahasianya terbuka.

Sambil mengebas kedua pitnya, ia menjawab , “Loohoe Coan Kian Lam ”

“Sin liong pay dan rimba persilatan dari wilayah Tionggoan belum pernah berhubungan.” kata Coei San “Bolehkah aku mendapat tahu, apa kesalahan Boe tong pay terhadad Coan Loo eng hiong .”

“Loohoe dan tuan memang tidak mempunyai permusuhan apapun jua.” kata si tua, “Kami, orang Ko lee, juga tahu bahwa di Tionggoan terdapat Boe tong pay dengan tujuh pendekarnya yaug selalu melakukan perbuatan-perbaatan mulia. Loohoe hanya ingin mengajukan satu pertanyaan di mana tempat persembunyiannya Cia Soen”

Biarpun cukup sopan, perkataannya sangat mendesak. Di samping itu, begitu lekas ia mengebas kedua senjatanya, orang-orang yang berkumpul di belakang kereta lantas saja berpencaran dan mengurung dari sebelah kejauhan. Maka itu, jadilah terang, bahwa jika mereka tidak mendapat jawaban memuaskan, satu pertempuran tidak dapat dielak kan lagi.

“Bagaimana jika aku menolak untuk menjawab?” tanya Coei San

“Thio Ngohiap memiliki kepandaian tinggi, sehingga biarpun berjumlah besar, kami tentu tidak dapat menahan kau,” kata si kakek. “Tapi Jie Jiehiap telah luka dan isterimu sedang sakit. Dengan menggunakan kesempatan pada waktu orang berada dalam bahaya, kami akan menahan mereka berdua. Jika mau, Ngohiap boleh berlalu sekarang.” Ia bicara dalam bahasa Tionghoa yang tidak lancar dan nadanya tajam, sehingga suaranya sangat menusuk kuping.

Mendengar kata-kata ‘menggunakan kesempatan pada watu orang berada dalam bahaya’ kata-kata yang sangat tidak mengenal malu, Coei San lantas saja berkata, “Baik, Kalau begitu, tak bisa lain daripada aku meminta pelajaran dari Coan Loo enghiong. Tapi bagaimana, jika Coan Loo enghiong menjadi pihak yang kalah dalam pertempuran?”

“Jika aku kalah, kawan-kawanku akan mengerubuti kamu.” jawabnya.

Coei San mengerti, tak guna bicara lagi. Tujuan satu satunya adalah coba membekuk Coan Kian Lam, supaya kawan-kawannya tidak berani menyerang. Ia segera melompat turun dari tunggangannya dan waktu kedua kakinya hinggap di atas bumi, tangan kirinya sudah mencekal gaetan perak yang berkepala harimau, sedang tangan kanannya memegang Poan koan pit.

“Kau tamu, maka aku mengundang kau menyerang lebih dulu,” kata Ngohiap.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: