Kumpulan Cerita Silat

24/07/2008

Kisah Membunuh Naga (14)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 2:01 am

Kisah Membunuh Naga (14)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Jie Lian Cioe adalah seorang yang sabar dan panjang pikirannya. Ia jarang memperlihatkan rasa girang atau gusar pada paras mukanya. Perkataan See hoa coe yang sangat menusuk tidak dijawab olehnya dan ia mengasah otak untuk mencari jalan keluar.

“Soeka, jangan kau menggoyang lidah sembarangan,” kata Wie Soe Nio cepat-cepat dengan rasa mendongkol. “Semenjak dulu, Boe tong dan Koen loan mempunyai hubungan yang sangat erat. Dalam sepuluh tahun, dengan bahu-membahu kita bersama sama melawan musuh. Jie Jiehiap adalah seorang jujur yang sangat dihormati dalam kalangan Kang-ouw, sehingga tidak mungkin ia memihak pihak yang salah.”

See hoa coe mengeluarkan suara dari hidung, “Belum tentu,” katanya.

Bukan main rasa mendongkolnya Wie Soe Nio yaag diam-diam mencaci kakak yang tolol itu, “Soeko!” bentaknya. “Jika tanpa sebab kau cari-cari urusan dengan Boe tong Ngohiap dan kau ditegur oleh Ciangboen soesiok, aku tak akan campur-campur lagi urusanmu.”

Mendengar ancaman itu, barulah See hoa coe menutup mulut.

“Urusan ini telah menyeret berbagai partai dan golongan dalam rimba persilatan,” kata Jie lian Coe. “Aku seorang bodoh maka tidak berani mengambil keputusan sendiri. Apa pula, karena sudah berlarut-larut selama sepuluh tahun, persoalan ini tentu sukar dibereskan dalam tempo pendek. Aku telah mengambil keputusan untuk pulang ke Boe tong bersama-sama Thio Soe tee guna memberi laporan kepada Insoe dan Toa soeheng dan meminta petunjuk Insoe.”

See hoa coe tertawa dingin, “Sungguh lihai pukulan Jie hong Soo pit Jie Jiehiap.” ejeknya.

“Jie-hong Soe-pit,” (Seperti tutupan seperti kurungan) adalah serupa pukulan Boe-tong-pay untuk membela diri yang sangat terkenal dalam rimba persilatan. Dengan berkata begitu See hoa coe bukan saja mengejek Jie Lian Cioe pribadi tapi juga menghina pukulan Boe tong pay itu yang digubah oleh Thio Sam Hong sendiri. Biarpun sabar, darah Jie Lian Cioe meluap juga. Syukur sebelum mengumbar napsu, ia keburu ingat segala akibatnya, sehingga, sambil menarik napas, ia menindih hawa amarahnya dan hanya menyapu muka See hoa coe dengan sinar mata berkilat-kilat.

“Jika See hoa Toheng mempunyai pendapat lain, aku bersedia untuk mendengarnya.” katanya dengan suara dingin.

Setelah disapu dengan sorot mata gusar, See hoa coe jadi keder. “Soemoy,” katanya, “Bagaimana pendapatmu? Apakah sakit hati Ko Cek Seng dan Chio Tauw boleh disudahi dengan begitu saja ?”

Sebelum Wie Soe Nio menjawab, di sebelah selatan sekonyong-konyong terdengar suara terompet dan sesaat kemudian seorang murid Koen Loen masuk seraya berkata, “Kawan-kawan dari Khong tong pay dan Go bie pay sudah tiba untuk menyambut kita.”

Lie Thian Hoan dan dua kawannya saling melirik. Paras muka mereka agak berubah.

Dilain pihak, See hoa coe dan Wie Soe Nio jadi girang. “Jie Jiehiap.” kata San tian Nionio, “kurasa kita sebaiknya minta pendapat pihak Khong tong dan Gobie.”

“Baiklah,” jawab Lian Cioe.

Kedatangan orang-orang Khong tong dan Go bie menambah kejengkelan Coei San. Partai Go bie masih tidak apa, tapi Khong tong pay mempunyai permusuhan yang sangat hebat dengan kakaknya, yang sudah melukakan Khong tong Ngoloo dan merampas kitab Cit siang koen. Ia merasa pasti, bahwa orang-orang Khong tong tak akan mau mengerti jika ia tidak memberitahukan di mana adanya Cia Soen.

Sementara itu, So So memikir dari yang lain. Di satu pihak ia mendongkol terhadap puteranya, tapi di lain pihak ia ingat, bahwa anak itu belum mengerti kedustaan dan rasa cintanya terhadap Cia Soen tak dapat diukur dalamnya. Maka itu, bahwa dia menangis dan membantah pernyataan orang tentang kematian ayah angkatnya adalah hal yang sangat dapat dimengerti. Memikir begitu, ia merasa menyesal sudah menggaploknya begitu keras dan lalu memeluk Boe Kie sambil mengusap-usap pipi si bocah.

“Ibu, Giehoe tidak mati, bukan?” bisik Boe Kie di kuping ibunya.

“Tidak, tidak mati, aku hanya memperdayai mereka,” jawab sang ibu “Mereka adalah orang-orang jahat yang ingin mencelakakan Giehoemu.”

Boe Kie tersadar. Dengan mata gusar, ia menyapu Jie Lian Coei dan semua orang yang berada di situ. Mulai hari itu, kedua kakinya menginjak dunia Kangouw dan mulai saat itu, ia mengerti akan kekejaman manusia.

Beberapa saat kemudian, orang-orang Khongtong dan Go bie masing-masing pihak berjumlah enam tujuh orang sudah masuk ke gubuk perahu. Pemimpin rombongan Khong tong adalah Kat-ie Loojin, seorang tua yang bertubuh kurus kering, sedang kepala rombongan Go bie adalan seorang Niekouw (pendata wanita) setengah tua. Melihat Lie Thian Hoan dan kawan-kawannya, mereka kaget dan heran.

“Tong Samko! Ceng hie Soe thay!” teriak See hoa coe. “Boe tong pay dan Peh bie kauw sudah bergandengan tangan. “Kali ini kita rugi besar.”

Orang yang dipanggil “Tong Samko” adalah Kat-ie Loojin Tong Boe Liang, salah seorang dari Khong thong ngoo loo, sedang Ceng hie Soethay ialah murid turunan keempat dari Go bie pay dan dalam rimba persilatan, pendeta wanita itu mempunyai nama yang cukup besar.

Mendengar teriakan See hoa coe, mereka tercengangang, Ceng hie Soethay yang berpikiran panjang dan mengenal adat See hoa coe tidak mau lantas percaya tapi Tong Boen Liang lantas saja naik darahnya, “Jie Jie hiap, apakah benar begitu?” tanyanya dengan suara keras.

Sebelum Jie Lian Cioe keburu menjawab, See hoa coe sudah mendahului, “Boe tong pay dan Peh bie kauw sudah jadi cinkee (besan). Thio Coei San, Thio ngohiap, sudah menjadi menantu In Toakauwcoe…”

“Thio Ngohiap yang sudah menghilang sepuluh tahun yang lalu?” tanya Tong Boen Liang dengan heran.

“Benar, itulah adikku Coei San,” jawab Lian Cioe seraya menunjuk Ngohiap. “Ngotee, inilah Tong Boen Liang, Tong Sanya, seorang Cianpwee dari Khong tong pay.”

Boe Liang dan Coei San saling membungkuk dan mengucapkan kata-kata merendahkan diri.

See hoa coe yang sudah tak dapat menahan sabar lagi, lantas saja berkata pula, “Thio Ngo hiap dan In Kauwnio tahu tempat persembunyiannya Kim mo Say ong Cia Soen, tapi mereka menolak untuk memberitahukannya kepada kami. Mereka malah berdusta dan mengatakan, bahwa bangsat Cia Soen sudah mampus.”

Begitu mendengar nama Kim mo Say ong Cia Soen, darah Tong Boen Liang meluap. “Di mana dia sekarang?” tanyanya dengan suara keras.

“Dalam urusan ini, lebih dulu aku harus melaporkan kepada In soe dan aku mohon maaf karena tak dapat segera memberitahukan kepada kalian.” jawab Coei San.

Kedua mata Tong Boen Liang seolah-olah mengeluarkan api. “Di mana adanya bangsat Cia Soen?” teriaknya. “Dia telah membinasakan keponakanku. Aku tak mau hidup bersama-sama dia dalam dunia. Di mana dia? Katakan saja! Kau mau memberitahukan atau tidak?”

Perkataan-perkataan itu yang dikeluarkan tanpa sungkan-sungkan dan tanpa mengenal kesopanan sudah menggusarkan So So yang lantas saja berkata dengan suara dingin, “Mengapa kau tidak menceritakan juga, bahwa dia sudah melukakan Kong tong Ngoolo dan merampas kitab Cit siang Koen?”

Dalam melukakan Ngoolo dan merampas kitab Cit siang koen, Cia Soen telah menggunakan nama Seng Koen. Hal yang sebenarnya baru diketahui Khong tong pay pada kira-kira lima tahun berselang. Tapi, karena kejadian tersebut menodai nama partai maka orang-orang Khong tong pay selalu meenutupkan rapat. Bagaimana nyonya muda itu bisa tahu rahasia tersebut?

Paras muka Kat-ie Loojin lantas saja berubah pucat dan sambil mementang sepuluh jarinya, ia mengangkat kedua tangannya untuk menyerang. Tapi di lain detik, ia ingat, bahwa sebagai seorang tua, tak pantas ia turun tangan lebih dahulu terhadap seorang wanita muda yang kelihatannya begitu lemah-lembut sehingga tangan yang sudah terangkat itu berhenti di tengah udara.

Sambil menahan amarah, ia berpaling kepada Coei San dan bertanya, “Siapa dia?”

“Isteriku,” jawabnya.

“Puterinya In Toakauwcoe dari Peh bie kauw,” menyelak See hoa coe.

Peh bie Eng ong In Thian Ceng memiliki ilmu silat yang tidak dapat diukur tingginya sehingga waktu itu, belum pernah ada seorangpun dapat melayaninya dalam sepuluh jurus. Mendengar, bahwa nyonya Coei San adalah puteri In Thian Ceng, Tong boen Liang lantas saja merasa keder dan berkata dengan suara terputus-putus “Oh!…begitu”

Sesaat itu, Ceng hie Soethay yang sedang masuk ke gubuk perahu belum pernah bicara, baru membuka mulut. “Sebaiknya kita minta Jie Jiehiap menerangkan seluk-beluk kejadian ini,” katanya.

“Urusan ini berbelit-belit dan sudah menyeret banyak sekali orang,” kata Lian Cioe. “Di samping itu, permusuhan sudah berjalan lama sekali, sudah kurang lebih sepuluh tahun, sehingga dapatlah dimengerti jika kita tak akan dapat mengupasnya dalam tempo pendek. Begini saja, tiga bulan kemudian partai kami akan mengadakan perjamuan di Hong ho lauw dan mengundang wakil-wakil berbagai partai serta golongan. Dalam pertemuan itu, kita akan merundingkan persoalan ini sedalam-dalamnya. Bagaimana pendapat kalian ?”

“Aku setuju,” jawab Ceng hie seraya mengangguk.

“Siapa benar, siapa salah, boleh dibicarakan tiga bulan lagi,” kata Tong Boen Liang. “Tapi tempat sembunyinya Cia Soen harus diberitahukan sekarang juga.”

Coei San menggelengkan kepala. “Sekarang tidak bisa,” katanya dengan suara tetap.

Tong Boen Liang gusar tak kepalang, tapi sebisa bisanya ia menahan sabar, karena ia mengerti bahwa jika Boe tong pay sampai bersatu-padu dengan Peh bie kauw, akibat bakal hebat sekali. Maka itu, dengan muka merah padam, ia bangun berdiri dan mengangkat kedua tangannya, “Baiklah. Kita akan bertemu kembali tiga bulan kemudian.”

“Tong Samya, bolehkah kami menumpang di perahumu?” tanya See hoa coe.

“Mengapa tidak?” jawabnya.

“Bagus! Soemoay, ayolah!” mengajak See hoa coe. Orang-orang Koen loan datang ke tempat pertempuran dengan menggunakan perahu Boe tong dan dengan sikapnya itu, terang terang See hoa coe sudah memandang Boe tong pay sebagai lawan.

Tapi Jie Lian Cioe tetap bersikap tenang. Dengan manis budi ia mengantar semua tamu ke kepala perahu. “Sepulangnya kami ke Boe tong dan sesudah kami memberi laporan kepada Insoe, kami akan segara mengirim surat undangan,” katanya sambil membungkuk.

Baru saja See hoa coe mau menyeberang ke perahu Khong tong, tiba-tiba So So berkata, “See hoa Tootiang, tahan dulu! Aku mau menanyakan serupa hal.”

“Ada apa?” tanya si berangasan sambil memutar tubuh.

“Tootiang,” kata pula si nyonya sambil bersenyum. “Tak henti-hentinya kau mengatakan, bahwa agama kami agama menyeleweng, agama sesat. Sedang aku sendiri perempuan siluman. Bolehkah aku tahu di mana sesatnya dan di mana sifat silumannya?”

Untuk sejenak See hoa coe tertegun. Sesudah menenteramkan hati, ia menjawab, “Agamamu bukan agama tulen, tapi menyeleweng dan tersesat dari jalan yang lurus. Kecantikanmu seperti kecantikan siluman rase yang jahat dan cabul. Itu jawabanku. Perlu apa kau rewel-rewel. Kalau kau bukan siluman, bagaimana seorang laki laki sejati Thio Ngohiap bisa terpincuk! Ha-ha!”

“Terima kasih untuk penjelasan itu,” kata So So.

See hoa coe girang dan bangga, menganggap nyonya muda itu sudah dijatuhkan dengan kata-katanya yang tajam. Sambil bersenyum, ia menindak ke papan untuk menyeberang keperahu Tong Boen
Liang.

Perahu Boe tang dan Khong tong adalah perahu-perahu besar dengan tiga layar sehingga walaupun berdempetan, jarak antara kedua perahu itu, yang dihubungkan dengan papan masih kira kira dua tombak.

Karena harus bicara dulu dengan So So, See hoa coe jadi ketinggalan dan sesudah semua orang berada di perahu Tong boen Liang, ia sendiri baru mulai menyeberang. Baru berjalan beberapa tindak, mendadak ia merasakan kesiuran angin luar biasa di belakangnya. Meskipun berangasan dan pendek pikiran, ia berkepandaian tinggi dan berpengalaman luas. In tahu dirinya dibokong dan begitu memutar badan, tangannya sudah mencekal pedang.

Mendadak, mendadak saja, ia merasa kedua kakinya menjeblos ke bawah. Papan penyeberangan putus jadi dua! Sebisa-bisanya ia berusaha untuk menolong diri, tapi karena jarak ke perahu Khong tong masih agak jauh, maka tanpa ampun lagi ia tercebur kedalam air.

Sial sungguh, ia tidak bisa berenang, sehingga dalam sekejap, ia sudah minum beberapa ceguk air asin. Selagi ia kebingungan dan memukul serta menendang air dengan tangan dan kaki,tiba-tiba melayanglah seutas tambang. Cepat-cepat ia mencekalnya dan di lain saat ia merasa badannya terangkat naik ke atas permukaan air.

Ia menengadah dan melihat bahwa yang mengangkatnya adalah Thia Tancoe yang paras mukanya seperti tertawa, tapi bukan tertawa.

Tak usah dikatakan lagi, itu semua kerjaan So So. Karena mendongkol, diam-diam ia memerintahkan Hong dan Thia Tancoe “mengerjakan” si berangasan itu. Tiga puluh enam golok terbang dari Hong Tancoe terkenal dalam kalangan Kang ouw. Golok itu yang tipis dan tajam luar biasa, jarang meleset dari sasarannya. Selagi So So bicara dengan See hoa coe, dengan sekali menimpuk, Hong Tancon telah memotong papan itu dengan hoei to-nya dan meninggalkan sebagian kecil supaya tidak lantas jatuh ke dalam air dan baru akan patah jika diinjak. Thia Tancoe sendiri siapa sedia deagan seutas tambang, tapi pertolongannya baru diberikan sesudah See hoa coe minum banyak air.

Wie Soe Nio, Tong Boen Liang dan yang lain lain menyaksikan itu dengan mata membelalak, tapi mereka tidak dapat segera menolong, karena berada dalam jarak yang agak jauh.

See hoa coe merasa dadanya seperti mau meledak, tapi dalam keadaan tidak berdaya, sedapat-dapatnya ia menahan amarah. Celaka sungguh, baru mengangkat kira-kira satu kaki dari permukaan air, Thia Tancoe berseru. “Toheng,” katanya, “jangan kau bergerak. Tenagaku tidak cukup. Jika kau bergerak tambang ini bisa terlepas !”

See hoa coe bingung bukan main. Kalau dilepas, ia bisa celaka, atau sedikitnya bakal minum lebih banyak air asin.

Tiba tiba Thia Tancoe berteriak, “Hati-hati!” Dengan sekali menyentak, tubuh See hoa coe terayun ke belakang tujuh delapan kaki dan kemudian ia melemparkan bandulan manusia itu ke perahu seberang.

Begitu kedua kakinya hinggap di atas geladak perahu Khong tong, See hoa coe kalap dalam gusarnya. Kegusarannya lebih meluap-luap, karena orang-orang Peh bie kauw dengan serentak bersorak-sorai. Karena pedangnya sendiri sudah hilang di dalam air, bagaikan kilat ia menghunus pedang Wie Soe Nio dan melompat ke kepala perahu untuk menerjang musuh. Tapi, jarak antara kedua perahu itu sudah sangat jauh, sehingga apa yang dapat dibuatnya hanyalah mencaci habis-habisan.

Semua perbuatan So So telah dilihat oleh Jie Lian Cioe, yang diam-diam mengakui, bahwa wanita itu benar mempunyai sifat-sifat yang sesat dan kurang tepat untuk menjadi pasangan adiknya. Maka itu, ia lantas saja berkata. “In Hio coe dan Lie Hio coe, kuharap kalian suka menghadapi pertemuan di Oey ho lauw pada tiga bulan kemudian. Sekarang kita berpisah saja. Ngotee, mari ikut aku pergi menemui Insoe.”

“Baiklah,” kata Coei San dengan perasaan tidak enak.

So So mengerti, bahwa dengan berkata begitu, Lian Cioe berusaha untuk memisahkan diri dari sang suami. Dengan paras muka-duka, ia mendongak mengawasi langit dan kemudian menunduk, memandang geladak perahu.

Coei San lantas saja mengerti maksud isterinya, yang ingin mengingatkan sumpahnya sendiri yaitu “Langit di atas, Bumi di bawah, kita tak akan berpisahan lagi.” Maka itu, ia lantas saja berkata, “Jieko, aku ingin sekali mengajak teehoemu dan anakku pergi menemui Insoe lebih dulu dan sesudah mendapat perkenan beliau, barulah aku mengunjungi Gakhoe (mertua). Bagaimana pendapatmu?”

“Begitupun baik,” jawab sang kakak sambil mengangguk.

So So girang. “Soesiok”, katanya kepada Lie Thian hoan, “aku mohon kau suka memberitahukan Thia thia (ayah), bahwa anaknya yang tidak berbakti telah bisa pulang kembali, dan di dalam beberapa hari, kami akan pulang ke Cong to untuk menemui beliau.”

“Baiklah.” kata Lie Hiocoe seraya manggutkan kepala. “Kami akan menunggu kalian di Cong to.” Ia bangun berdiri dan berpamitan.

“Bagaimana dengan kakakku?” tanya So So sebelum Lie Thian hoan berlalu.

“Bagus, sangat bagus!” jawabnya. “Selama bebarapa tahun ini, ilmu silat kakakmu telah mendapat kemajuan luar biasa, sehingga aku sendiri sudah ketinggalan sangat jauh.”

“Ah! Soesiok selamanya suka guyon-guyon dengan anak-anak.” kata So So sambil tertawa.

“Tidak, aku tidak bicara main-main,” kata sang paman dengan suara sungguh-sungguh. “Kemajuan kakakmu malah telah dipuji juga oleh ayahmu sendiri.”

“Ah Soesiok!” kata nyonya Coei San. “Janganlah memuji orang sendiri di hadapan orang luar. Aku kuatir Jie Jie hiap akan tertawa.”

“Sesudah Thio Ngohiap menjadi Kouw-ya (menantu), apakah Jie Jie hiap masih dipandang sebagai orang luar” kata Lie Thian Hoan seraya tertawa dan kemudian, sesudah memberi hormat, bersama dengan kawannya, ia lalu meninggalkan perahu Boe tong. Mendengar tanya jawab itu, Lian Cioe merasa kurang senang, tapi ia hanya mengerutkan alis dan tidak mengatakan apa-apa.

Begitu lekas orang-orang Peh hie kauw berlalu, Coei San segera bertanya dengan tergesa-gesa, “Jieko, bagaimana dengan keadaan Samko? Apa..apa.. lukanya sudah sembuh?’

Lian Cioe menghela napas, ia tidak lantas menjawab pertanyaan adiknya.

Jantung Coei San berdebar keras. Dengan mata membelalak, ia mengawasi muka sang kakak.

“Samtee tidak mati,” kata Lan Coei akhirnya. “Tapi, hampir tiada beda dengan mati. Ia telah menjadi orang bercacat, kaki tangannya tidak dapat digerakkan lagi. Jie Thay Giam Jie Sam hiap..hm…dunia Kangouw tak akan melihatnya lagi.”

Air mata Coei San lantas saja mengucur. “Apa kah sudah diketahui siapa yang mencelakakannya?” tanyanya dengan suara parau.

Lian Cioe tidak menjawab. Mendadak ia mutar kepala dan sinar matanya yang seperti kilat menatap wajah So So. “In Kauwnio, apa kau tahu siapa yang melakukan itu padaJie Samtee?” tanyanya dengan suara tajam .

So So menggelengkan kepala. “Kudengar Jie Samhiap kena pukulan Kim kong cie dari Siauw lim sie,” jawabnya.

“Benar! Tapi apa kau tahu siapa yang melakukan serangan itu?” tanya pula Lian Coe.

“Tidak, aku tak tahu,” jawabnya.

Lian Cioe tidak mendesak lagi, tapi menengok kepada Coei San seraya berkata, “Ngotee, menurut Siauw lim pay kau telah membinasakan keluarga Liang boan Piauw kiok dan beberapa pendeta Siauw lim sie. Apa benar?”

Coei San tergugu dan menjawab dengan suara terputus-putus, “Ini…ini…”

“Kejadian itu tiada sangkut pautnya dengan dia”, menyelak So So. “Akulah yang sudah membunuh mereka.”

Lian Cioe melirik nyonya muda itu dengan sorot mata gusar, tapi sejenak kemudian, paras mukanya sudah berubah sabar kembali. “Aku memang tahu bahwa Ngo tee tak akan membunuh orang secara serampangan.” katanya. “Semenjak kau menghilang, antara partai kita dan Siauw lim pay telah terjadi sengketa. Kita mengatakan, bahwa mereka telah melukakan Samko, tapi mereka sebaliknya menuduh kau sebagai orang yang telah membunuh puluhan orang Siauw lim. Karena tak ada saksi, maka urusan itu sehingga sekarang masih belum bisa dibereskan. Untung juga Kong boen Tay-soe Ciang boen jin dari Siauw-lim pay, adalah seorang yang berpandangan jauh dan menghormati Insoe. Dengan sekuat tenaga, ia sudah melarang murid-muridnya menimbulkan gelombang. Itulah sebabnya mengapa selama sepuluh tahun, Boe-tong dan Siauw lim belum pernah terjadi bentrokan senjata.”

“Di waktu muda aku telah bertindak sembrono dan sekarang aku merasa sangat menyesal” kata So So. “Tapi apa mau dikata beras sudah menjadi nasi. Jalan satu-satunya adalah menyangkal tuduhan mereka.”

Paras muka Lian Cioe lantas saja berubah. Ia sungguh tak mengerti, bagaimana adiknya yang begitu mulia bisa menikah dengan wanita sesat itu.

Dilain pihak, So So pun merasa kurang senang terhadap Lian Cioe, karena Jie-hiap ini bersikap dingin tapi juga terus memanggil dengan panggilan “In Kouwnio” (nona In) dan tidak menggunakan “teehoe” (isteri dari adik lelaki). Maka itu, ia lantas saja berkata dengan suara tawar, “Siapa yang berbuat, ia yang harus bertanggung-jawab. Urusan ini, aku pasti tak akan menyeret-nyeret pihak Boe tong pay. Suruh saja Siauw lim pay cari Peh bie kauw.”

Lian Cioe jadi gusar dan berkata dengan suara nyaring, “Dalam kalangan Kangouw, yang paling diutamakan adalah keadilan. Jangankan Siauw lim pay sebuah partai besar, anak kecilpun tak boleh dihina dengan mengandalkan kekuatan.”

Jika teguran pedas itu diberikan pada sepuluh tahun berselang, So So tentu sudah menghunus pedang. Tapi sekarang, biarpun darahnya meluap, sebisa-bisa ia menahan napsu.

“Ajaran Jieko sedikitpun tak salah,” kata Coei San seraya membungkuk.

“Aku tak kepingin dengar ajaranmu,” kata So So di dalam hati dan sambil menarik tangan Boe Kie, ia bertindak keluar. “Boe Kie, mari kita meninjau perahu besar ini yang belum pemah dilihat olehmu,” katanya.

Sesudah isteri dan puteranya berlalu dari gubuk perahu, Coei San segera berkata dengan suara jengah. “Jieko, selama sepuluh tahun ini, aku…”

“Ngotee,” sang kakak memotong perkataannya sambil mengebas tangan. “Kecintaan antara kau dan aku adalah kecintaan darah daging. Dalam bahaya apapun juga, aku akan tetap berdiri didampingmu untuk hidup dan mati bersama-sama. Urusan pernikahanmu, kau tak usah membicarakan denganku. Sesudah kembali di Boe tong, kau boleh melaporkan kepada Soehoe. Jika Soehoe gusar dan lalu menjatuhkan hukuman, kita beramai, Boe tong Cit hiap, akan berlutut di hadapan Soehoe untuk memohon pengampunan. Puteramu sudah begitu besar dan aku tidak percaya, bahwa Soehoe akan cukup tega untuk memisahkan kau dengan anak isterimu.”

Bukan main rasa girang dan terima kasihnya Coei San. “Terima kasih atas kecintaan Jieko,” katanya dengan suara terharu.

Jie Lian Cioe adalah seorang yang diluarnya kelihatan menyeramkan dan keras, sedang di dalamnya lembek dan mulia. Di antara Boe tong Cit hiap dialah yang paling jarang berguyon, sehingga adik-adik seperguruannya lebih takut terhadapnya daripada terhadap Song Wan Kiauw. Tapi selain ditakuti, ia juga sangat dicintai, karena ia sangat mencintai saudara-saudara seperguruannya.

Hilangnya Coei San mendukakan hatinya, sehingga hampir-hampir ia menjadi kalap. Pertemuan dengan si adik pada hari itu merupakan kejadian yang luar biasa menggirangkan, tapi ia tidak memperlihatkan kegirangannya itu pada paras mukanya dan malah sudah menegur So So dengan kata-kata keras.

Sesudah berada berduaan, barulah ia mengutarakan isi hatinya di hadapan si adik. Apa yang paling dikuatirkan olehnya adalah keselamatan So So yang sudah membunuh begitu banyak murid Siauw lim sie dan ia merasa, bahwa peristiwa itu tidak mudah dapat dibereskan dengan jalan damai. Tapi diam-diam ia sudah mengambil keputusan bahwa jika perlu, ia rela mengorbankan jiwanya sendiri, demi kepentingan dan keutuhan keluanga Soe teenya.

“Jieko apakah bentrokan kita dengan Peb-bie kauw karena gara gara siauwtee?” tanya pula Coei San. “Siauw tee sungguh merasa tidak enak.”

“Bagaimana sebenarnya kejadian dalam pertemuan Ong-poan-san?” Lian Cioe balas menanya, tanpa menjawab pertanyaan si adik.

Coei San lantas saja menuturkan segala pengalamannya, cara bagaimana malam malam ia masuk ke gedung Long boen Piauw kiok, bagaimana ia mengenal So So, bagaimana ia turut menghadiri pertemuan di Ong poan san, bagaimana Cia Soen membunuh orang, merampas To liong to dan akhirnya menawan ia dan So So.

Sesudah mendengar penuturan itu, Lian Cioe lalu meminta penjelasan mengenai nasib Ko Cek Sang dan Chio Tauw. Sesudah segala apa jelas baginya, ia menghela napas seraya berkata, “Jika kau tidak pulang, entah sampai kapan rahasia ini baru bisa diketahui.”

“Benar,” kata Coei San, “Saudara angkatku…hmm. Pada hakekatnya, Cia Soen sebenarnya bukan manusia jahat. Ia telah melakukan banyak kedosaan sebab mengalami pengalaman hebat dan mendendam sakit hati yang hebat pula. Pada akhirnya, aku telah mengangkat saudara dengan ia.”

Lian Cioe hanya manggut-manggutkan kepalanya.

“Dengan teriakannya yang maha dahsyat, Gie heng (saudara angkat) telah merusak urat syaraf semua orang yang berada di pulau itu.” kata pula Coei San. “Ia mengatakan, bahwa andaikata orang-orang itu tidak menjadi mati, mereka akan kehilangan ingatan dan dengan begitu, barulah rahasia To liong to tidak sampai menjadi bocor.”

“Didengar dari penuturanmu, biarpun sangat kejam, Cia Soen adalah manusia luar biasa,” kata Lian Cioe. “Sepak terjangnya sangat hati-hati, tapi ia masih terpeleset dan melupakan satu orang.”

“Siapa?” tanya Coei San.

“Pek Kwie Sioe,” jawabnya.

“Ah! Tancoe dari Hian boe tan,” kata Coei San dengan kaget.

Lian Cioe mengangguk. “Menurut keteranganmu, di antara jago-jago yang berkumpul di pulau Ong poan san pada hari itu, Pek Kwie Sioe-lah yang memiliki Lweekang yang tinggi,” katanya. “Karena diserang dengan semburan arak oleh Cia Soen, ia telah jatuh pingsan. Jika ia tidak berada dalam keadaan pingsan, mungkin sekali ia tak dapat mempertahankan diri pada waktu Cia Soen mengeluarkan teriakannya yang dahsyat itu.”

“Benar!” Coei San memotong perkataan Soe hengnya sambil menepuk lutut. “Waktu itu memang Pek Kwie Sioe belum tersadar sehingga oleh karenanya ia tak mendengar teriakan Gie heng dan secara kebetulan berhasil menyelamatkan dirinya. Benar! Gieheng seorang yang berpikiran panjang, tapi ia tidak bisa berpikir sampai di situ.”

Lian Cioe menghela napas, “Yang masih hidup hanya Pek Kwie Sioe dan kedua murid Koen loen pay itu,” katanya pula, “Sebagaimana kau tahu Lweekang Koen loen pay sangat luar biasa dan walaupun tenaga dalamnya masih belum cukup tinggi, Ko Cek Sang dan Chio tauw bisa terlolos juga dari kebinasaan. Tapi mereka hilang ingatan, seperti orang menderita penyakit urat syaraf. Setiap kali ditanya, siapa yang mencelakakan mereka, mereka hanya menggeteng-gelengkah kepala, Ko Cok Sang hanya menyebutkan nama seorang, yaitu nama ‘In So So’…Hmmm”.

Ia berhenti sejenak dan kemudian berkata lagi. “Sekarang baru aku mengerti, bahwa si orang she Ko menyebut-nyebut nama Teehoe, karena ia tidak dapat melupakan kecantikan Teehoe…hm. Jika di lain kali See hoa coe mengeluarkan kata-kata yang kurang ajar, entah bagaimana aku harus menjawabnya. Pihaknya sendiri yang tidak benar, tapi dia masih mau menyalahkan orang.”

“Jika Pak Kwie Sioe tidak kurang suatu apa, dia tahu dari seluk-beluk dari segala kejadian di Ong poan san,” kata Coei San.

“Tapi dia tetap menutup mulut,” kata Lian Cioe. “Apa kau bisa menebak sebab-musababnya?”

Siadik memikir sejenak. “Ya.” jawabnya, sesaat kemudian. “Mereka menutup mulut karena masih mengharap bisa merampas To liong to ”

“Benar,” kata Lian Cioe. “Permusuhan dalam rimba persilatan berpangkal di situ. Koen loan pay menuduh bahwa In So So mencelakakan Ko Cek Seng dan Chio Tauw, sedang pihak kita menganggap kau sudah dibunuh oleh orang-orang Peh bie kauw”

“Apakah hadirnya Siauwtee di pulau itu telah diberitahukan oleh Pek Kwie Sioe ?” tanya Coei San.

“Bukan,” jawabnya. “Pek Kwie Sioe membungkam tidak sepatah kata keluar dari mulutnya. Bersama Sie tee dan Cit tee, aku telah membuat penyelidikan di pulau itu. Kami tahu kehadiranmu, sebab melihat dua puluh empat huruf yang di tulis olehmu ditembok batu dengan menggunakan Tiat pit. Kami, segera mencari Pek Kwie Sioe dan menanyakan tentang dirimu. Karena jawabannya kurang ajar, kita bertempur dan dia kena satu pukulanku. Tak lama kemudian orang-orang Koen loen pay minta keterangan dari Peh bie kauw dan berbuntut dengan pertempuran. Malam pertempuran itu, Koen loen pay menderita kerugian dua orang di pihaknya binasa dan permusuhan menghebat. Selama sepuluh tahun, dendaman sakit hati ini jadi makin mendalam.”

Coei San sangat berduka. “Karena gara gara siauwtee suami-isteri, berbagai partai menemui bencana ” katanya. “Siauwtee sungguh merasa sungguh sangat tak enak. Sesudah memberi laporan kepada Insoe, siauwtee akan mengunjungi berbagai partai untuk coba mendamaikan dan siauw tee rela menerima hukuman apapun jua.”

Lian Cioe menghela napas. “Dalam urusan orang tidak dapat menyalahkan kau,” katanya. “Jika hanya karena persoalan kau berdua suami-istri yang terseret dalam permusuhan, paling banyak hanya Koen loan, Boe tong dan Peh bie kauw. Tapi, dalam keinginannya untuk merampas To liong to, Peh bie kauw tidak pernah menyebut-nyebut nama Cia Soen, sehingga dengan begitu, Kie keng pang, Hay see pay dan Sin koen boon sudah menumplek kedosaan di atas kepala Peh bie kauw. Mereka menganggap, bahwa orang-orang Peh Bie kauwlah yang sudah membinasakan pemimpin-pemimpin mereka. Itulah sebabnya, mengapa Peh bie kauw sudah dikeroyok oleh begitu banyak partai dan golongan”

Coei San menggoyang-goyangkan kepalanya. “Aku sungguh-sungguh tidak mengerti apa kebaikannya To liong to, sehingga Gakhoe (mertua lelaki) rela menerima segala tuduhan yang tidak-tidak itu,” katanya.

“Aku sendiri belum pernah bertemu muka dengan mertuamu,” kata Lian Cioe. “Tapi kepandaiannya dalam memimpin orang-orangnya untuk melawan begitu banyak musuh, sangat dikagumi oleh semua orang.”

“Jieko, ada hal lain yang tidak dimengerti olehku,” kate pula Coei San. “Go bie dan Khong tong tidak turut hadir dalam pertemuan di Ong Poan San, mengapa mereka juga bermusuhan dengan Peb bie kauw?”

“Sebab musababnya berpangkal pada Giehengmu, Cia Soen, ” jawabnya. “Dalam usahanya untuk mendapatkan To liong to, Peh bie kauw tetah mengirim perahu-parahu Cia Soen di berbagai pulau. Kau harus mengetahui bahwa rahasia tak mungkin ditutup selama-lamanya. Meskipun Pek Kwie Sioe tetap membungkam, lama-lama rahasia itu bocor juga. Dangan menggunakan name Hoen-Goan Pek lek chioe Seng Koen, Gie-hengmu telah melakukan lebih dari tiga puluh pembunuhan yang menggemparkan. Banyak jago dari berbagai partai yang binasa di tangannya. Apa kau tahu kejadian ini?”

Coei San manggutkan kepala. “Kalau begitu, orang akhirnya tahu, bahwa itu semua telah dilakukan olehnya,” katanya dengan suara perlahan.

“Setiap kali membunuh orang, di atas tembok ia menulis huruf-huruf besar yang berbunyi: Yang membunuh ialah Hoen goan Pek-lek-chioe Seng Koen,” Lian Cioe melanjutkan penuturannya.

“Kejadian-kejadian itu sedemikian hebatnya, sehingga aku dan lain-lain saudara pernah menerima perintah Insoe untuk turun gunung guna bantu menyelidiki. Semula, tak satu manusiapun yang dapat menebak siapa penjahatnya, sedang Seng Koen sendiri tak pernah muncul. Tapi, sesudah rahasia Pak bie kauw bocor, orang-orang pandai berbagai partai lantas saja bercuriga dan mulai menebak-nebak. Cia Soen adalah murid tunggal dari Hoen-goan Pek lek Chie. Orang juga tahu meskipun tak tahu sebab sebabnya bahwa, belakangan Cia Soen bermusuhan hebat dengan gurunya. Maka itu, orang lantas saja menduga bahwa yang menggunakan nama Seng Koen adalah Cia Soen.”

“Jumlah manusia yang dibunuh Cia Soen sudah terlalu besar dan jumlah partai yang punya dendam sudah terlalu banyak. Bahkan seorang yang berkedudukannya paling tinggi dalam Siauw lim-pay, yaitu Kong kianTaysoe, juga binasa dalam tangannya. Coba kau menaksir-naksir berapa jumlah orang yang ingin membalas sakit hati terhadapnya”

Paras muka Coei San berubah pucat sekali, “Ya…Gie heng telah kembali ke jalan lurus, tapi kedua tangannya berlumuran terlalu banyak darah.” katanya dengan suara parau. “Jieko .. Pikiranku terlalu kusut dan aku tidak dapat memikir lagi.”

“Dengan demikian semua orang mengeroyok Peh bie kauw,” kata pula Lian Coe. “Karena kau, aku dan saudara-saudara mencari Peh bie kauw, karena Ko Cek Seng dan Chio Tauw, Koen loan pay mencari Peh bie kauw, karena kebinasaan pemimpinnya. Kie keng pang mencari Peh bie kauw. Siauw lim pay dan lain-lain golongan mencari Peh bie kauw sebab mau menanyakan di mana tempat sembunyinya Cia Soen. Selama beberapa tahun sudah terjadi lima kali pertempuran besar dan jumlah pertempuran kecil tak dapat dihitung lagi. Dalam pertempuran-pertempuran besar, pihak Peh bie kauw selalu jatuh di bawah angin. Akan tetapi, dengan kecerdikannya, Gak hoemu selalu dapat menolong rombongannya, sehingga tidak sampai menjadi hancur. Mau tidak mau semua orang-orang mengakui, bahwa dia benar-benar manusia luar biasa. Selama persoalan belum jelas dan masih banyak hal yang meragukan, Siauw lim, Koen loen, Boe Tong dan lain-lain pengurus tidak mau bertindak keterlaluan. Tapi golongan-golongan Kang ouw yang lainnya tidak sungkan-sungkan lagi. Kali ini, kami mendapat warta bahwa Hiocoe dari Thian sie tong telah berlayar dengan sebuah perahu besar. Kami lantas saja menguntit. Lie Hiocoe gusar dan pertempuran lantas saja terjadi. Jika kau tidak keburu datang, jumlah korban pasti akan lebih besar”

Bukan main rasa menyesalnya Coei San. Dengan sorot mata duka ia mengawasi kakak seperguruannya yang kelihatannya banyak lebih tua daripada sepuluh tahun berselang. “Jieko selama sepuluh tahun, kau sungguh menderita…” katanya dengan suara berbisik. “Sesudah bisa bertemu lagi dengan kau, matipun aku rela…aku…”

“Ngotee, tak usah kau terlalu sedih,” memotong kakak. “Berkumpulnya kembali Boe tong Cit hiap adalah kejadian yang sangat menggembirakan. Semenjak Samtee terluka dan kau menghilang, orang-orang Kangouw mengubah panggilan menjadi Boe tong Ngo Hiap. Huh huh! Hari ini Cit Hiap berkumpul kembali…” Ia tak dapat meneruskan perkataannya, sebab mendadak ia ingat, bahwa biarpun Cit hiap masih lengkap tujuh orang, tapi sebenarnya tidak begitu, karena Jie Thay Giam sudah tak dapat menunaikan lagi tugasnya sebagai seorang pendekar.

Sesudah berlayar belasan hari, mereka tiba di mulut Sungai Tiang kang. Mereka segera menukar perahu yang lebih kecil dan meneruskan perjalanan di sungai itu. Coei San dan So So sudah menukar pakaian yang pantas dan mereka sungguh merupakan pasangan yang setimpal: yang satu tampan, yang lain cantik. Boe Kie pun mengenakan baju baru dan sebagian rambutnya dibuat menjadi dua kuncir yang diikat dengan sutera merah. Dengan parasnya yang tampan, kegesitan dan kecerdasannya, ia sungguh seorang bocah yang menarik.

Dalam sibuknya mempelajari ilmu silat, Lian Cioe tidak menikah dan ia sekarang menumplek kasih sayangnya kepada putera Soeteenya itu. Boe Kie yang pintar mengetahui, bahwa Soepeh yang parasnya menyeramkan itu sangat mencintainya, sehingga, saban-saban Lian Cioe mempunyai waktu luang, ia selalu mendekati sang paman untuk menanyakan ini dan itu. Sebagai anak yang bisa bidup di pulau terpencil, pengalaman bocah itu sangat terbatas sekali banyaknya, sehingga hampir segala apa yang dilihatnya merupakan suatu yang baru baginya. Lian Cioce tidak pernah merasa bosan untuk menjawab penjelasan penjelasan yang seperlunya. Sering-sering dengan mendukung Boe Kie, ia berdiri di kepala perahu untuk menikmati pemandangan alam bersama-sama keponakannya itu.

Hari itu, perahu tiba di kaki gunung Teng koan san, daerah Tong leng dalam propinsi An hoei. Di waktu magrib, perahu itu berlabuh di dekat sebuah kota kecil dan juragan perahu mendarat untuk membeli daging dan arak. Coei San suami-isteri dan Jie Lian Cioe beromong-omong di gubuk perahu sambil minum teh, sedang Boa Kie main-main sendirian di kepala perahu.

Di darat, duduk di dekat perahu itu, kelihatan seorang pengemis tua yang lehernya dilibat seekor ular hijau, sedang kedua tangannya bermain-main dengan seekor ular besar yang badannya hitam dengan titik putih.

Karena belum pemah melihat ular, Boe Kie menonton permainan si pengemis dengan mata membelalak. Melihat si bocah, pengemis itu mengangguk sambil tertawa-tawa. Tiba-tiba sekali ia mengebas tangan, ular hitam itu melesat ke atas, jungkir balik di tengah udara beberapa kali dan kemudian jatuh di dadanya. Boo Kie heran bukan main dan terus mengawasi dengan mata tidak berkedip. Si pengemis tertawa dan menggapai-gapai sebagai undangan.

Tanpa memikir panjang Boe Kie segera melompat kedarat dan mendekatinya, pengemis itu mengambit sebuah kantong kain yang menggemblok dipunggungnya dan sambil membuka mulut kantong, Ia berkata seraya berkata, “Di dalam kantong ini terdapat serupa benda yang lebih menarik. Coba kau lihat.”

“Benda apa?” tanya Boe Kie.

“Sangat menarik, kau lihat saja sendiri,” jawabnya.

Boe Kie membungkuk dan mengawasi kedalam kantong itu, tapi ia tak dapat melihat apapun. Ia maju setindak lagi untuk melihat dengan lebih jelas. Mendadak, bagaikan kilat, kedua tangan si pengemis bergerak, menungkup kepala Boe Kie. Bocah itu hanya dapat mengeluarkan teriakan di tenggorokan, karena mulutnya sudah dibekap dan badannya di angkat ke atas.

Teriakan Boe Kie memang sangat lemah. Tapi Lian Cioe dan suami-isteri Coei San adalah ahli kelas satu yang kupingnya tajam luar biasa.

Seketika itu mereka tahu, bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak baik. Dengan serentak mereka berlari lari ke kepala perahu dan melihat Boe Kie yang sudah menjadi tawanan si pengemis. Baru saja mereka mau melompat ke darat, pengemis itu sudah membentak, “Jangan bergerak! Kalau kau masih sayang akan jiwa anak ini, jangan bergerak!”

Seraya mengancam, ia merobek baju Boe Kie di bagian pinggang dan mengangsurkan mulut ular hitam itu ke dekat kulit punggung si bocah.

Melihat begitu, bukan main bingung dan gusarnya So So. Tanpa memikir lagi tangannya bergerak untuk melepaskan jarum emas.

“Jangan!” bentak Lian Cioe dengin suara perlahan. Ia sudah mengenali, bahwa ular hitam itu adalah salah satu dari delapan belas macam ular paling berbisa di dalam dunia. Ular tersebut yang mengambil kedudukan ke sebelas, diberi nama Cit lie seng. Makin hitam warnanya dan makin halus titik-titik putihnya, makin hebat bisanya. Ular si pengemis itu, yang hitamnya mengkilap dan titik putihnya bersinar terang, kelihatan membuka mulutnya yang besar, dalam mana terdapat empat batang taring, siap sedia untuk memagut punggung Boe Kie yang putih bersih.

Sekali dipagut, bocah itu pasti akan segera binasa. Andaikata pengemis itu bisa lantas dibinasakan dan obat pemunah bisa lantas didapatkan, masih belum tentu jiwa Boe Kia keburu ditolong dengan obat itu.

Itulah sebabnya, mengapa Lian Cioe mencegah niatan So So. Dengan paras muka tidak berubah, ia bertanya, “Sebab apa tuan menawan anak itu ?”

“Sebelum aku menjawab, kau lebih dulu harus menolak perahumu sampai kira-kira delapan tombak dari tepi sungai,” kata si pengemis.

Lian Cioe mengerti, bahwa sesudah perahu terpisah jauh dari tepian, Boe Kie makin sukar ditolong. Tapi karena anak itu menghadapi bencana, ia tidak dapat berbuat lain daripada menurut. Ia lalu menjemput rantai sauh dan sekali menyentak, sauhnya yang beratnya kira-kira lima puluh kati sudah melompat keluar dari permukaan air.

Melihat Lweekang Jie Jiehiap yang sangat tinggi itu, paras muka si tua agak berubah.

Dengan jantung berdebar keras, Coei San mengambil gala dan menotol tanah, sehingga perahu itu lantas saja bergerak ke tengah sungai.

“Lebih jauh sedikit.” teriak pengemis itu.

“Apa belum delapan tombak ?” tanya Coei San dengan mendongkol.

“Waktu mengangkat sauh Jie Jiehiap telah memperlihatkan Lweekang yang begitu tinggi,” kata si tua sambil tertawa “Maka itu, biarpun sudah terpisah delapan tombak, aku yang rendah masih sangat kuatir.”

Apa boleh buat, Coei San mendorong pula sejauh beberapa tombak.

“Apakah aku boleh mendapat tahu she dan nama tuan yang mulia,” tanya Lian Cioe sambil menyoja.

“Aku yang rendah hanyalah seorang prajurit yang tidak masuk hitungan dalam Kay pang (Partai pengemis), sehingga namaku hanya akan mengotor kuping Jie Jiehiap,” jawabnya.

Melihat pengemis itu menggendong enam buah karung, Lian Cioe merasa heran, sebab seorang pengemis yang membawa karung sebanyak itu mempunyai kedudukan yang cukup tinggi. Di samping itu, sepanjang pengetahuannya, Kay pang adalah sebuah partai yang selalu melakukan perbuatan perbuatan mulia, sedang Pangcoe dari partai itu adalah sahabat karib dari Toa seekonya, Song Wan Kiauw.

Selagi ia berpikir, tiba tiba So So berkata, “Apakah, Boe san pang dari Soe coan timur sudah dipersatukan dengan Kay pang? Kalau tidak salah, dalam partai pengemis tidak terdapat orang yang seperti tuan.”

Si tua mengeluatkan seruan tertahan kaget. Sebelum ia menjawab, So So sudah berkata pula , “Ho Loosam, kau jangan main gila. Jika kau mengganggu selembar rambut anakku, aku akan mencincang tubuh Bwee Ciok Kian!”

Pengemis itu kaget tak kepalang, sehingga paras mukanya berubah pucat. Sesaat kemudian, sesudah dapat menenteramkan hatinya, ia berkata, “In Koawnio mempunyai mata yang sangat tajam dan dapat mengenali Ho Loosam. Atas perintah Bwee Pangcoe, aku datang kemari untuk menyambut Kongcoe.”

“Singkirkan ular itu!” bentak So So dengan gusar. “Gerombolan Boe san pang yang tiada artinya berani menyentuh kepala Peh bie kauw!”

“In Kouwnio, kau salah,” bantah Ho Loosam “Sedikitpun kami tidak mempunyai niatan untuk melanggar keangkeran Peh bie kauw. Asal saja In Kouwnio sudi menjawab pertanyaanku, bukan saja aku akan segera mengembalikan Kongcoe, tapi Bwee Pangsoe sendiripun akan datang berkunjung untuk meminta maaf.”

“Pertanyaan apa ?” tanya So So.

“In Kouwnio sendiri mungkin sudah mendengar, bahwa putera satu-satunya dari Bwee Pang coe telah binasa di dalam tangan Cia Soen.” jawab nya. “Bwee Pangcoe memohon supaya Thio Ngo hiap dan In Kouwnio…Aku salah…supaya Thio Ngo Hiap dan Thio Hoejin sudi menaruh belas kasihan dengan memberitahukan tempat bersembunyinya Cia Soen. Untuk budi yang sangat besar itu, seluruh partai akan merasa sangat berterima kasih.”

So So mengerutkan alis. “Kami tak tahu ” katanya.

“Kalau begitu, kami memohon supaya kalian suka mendengar-dengarkan di mana adanya Cia Soen, sedang di pihak kami, kami akan merawat Kongcoe baik baik” kata pula sipengamis. “Nanti sesudah kalian mendapat tahu tempat sembunyinya Cia Soen, Bwee Pangcoe sendiri akan mengembalikan Kongcoe.”

Melihat taring ular hanya terpisah beberapa dim dari punggung puteranya, hati So So berdebar- debar. Jika ia dapat mengambil keputusan sendiri, ia tentu akan segera membuka rahasia. Ia menengok dan mengawasi muka suaminya. Sesudah menjadi suami-isteri sepuluh tahun, ia mengenal adat sang suami yang keras dan mulia. Ia tahu, bahwa apapun jua yang akan terjadi, Coei San pasti tidak akan menghianati Cia Soen. Ia mengerti, bahwa jika ia membuka rahasia dan Cia Soen binasa oleh karenanya, perhubungan mereka sebagai suami-isteri sudah pasti tak bisa dipertahankan lagi. Maka itulah melihat paras muka Coei San yang menyeramkan, ia terpaksa menutup mulut.

“Baiklah, kau boleh menawan anakku,” kata Thio Ngohiap dengan suara nyaring. “Seorang laki-laki tak akan menjual sahabat. Ho Loosam, kau terlalu memandang rendah kepada Boe tong Cit hiap.”

Si pengemis terkejut, itulah jawaban yang tidak diduga-duga. Semula ia menaksir, bahwa begitu cepat Boe Kie tertawan, Coei San dan So So pasti akan memberitahukan tempat sembunyinya Cia Soen. Dengan rasa kagum, sambil berpaling ke arah Lian Cioe, ia berkata, “Jie Jiehiap, Cia Soen adalah manusia berdosa yang kedosaannya bertumpuk tumpuk bagaikan gunung. Boe tong pay selalu mengutamakan keadilan dan pendirian yang sangat dihormati dalam rimba persilatan. Aku mengharap Jiehiap suka membujuk Ngohiap”

“Mengenai urusan ini, aku dan Ngotee sekarang justeru ingin pulang ke Boe tong untuk melaporkannya kepada Insoe dan meminta keputusannya,” kata Lian Cioe, “Tiga bulan kemudian, kami akan mengadakan pertemuan di Hong ho lauw. Aku harap Bwee Pangcoe dan tuan juga suka menghadiri pertemuan itu, supaya kita beramai bisa berunding untuk mendapatkan suatu penyelesaian yang memuaskan. Sekarang aku minta kau suka melepaskan anak itu.”

Lian Cioe bicara dengan suara perlahan dari jarak belasan tombak. Tapi setiap perkataannya dapat didengar jelas oleh Ho loosam yang jadi kagum bukan main. “Boe tong Cit hiap yang namanya mengetarkan seluruh negeri sunguh-sungguh bukan nama kosong.” katanya di dalam hati. “Kali ini aku sudah menanam bibit permusuhan bagi Boe san pang. Tapi, biar bagaimanapun juga, sakit hati Bwee Pangcoe tidak bisa tidak dibalas.”

Ia merangkap kedua tangannya seraya berkata, “Kalau begitu, aku memohon beribu maaf dari kalian. Tidak ada jalan lain daripada aku mengajak Thio Kongcoe pulang ke Tongcoa.”

Karena Ho Loosam merangkap kedua tangannya, maka mulut ular yang dicekal dengan salah satu tangannya jadi terpisah agak jauh dari pungung Boe Kie. Biarpun kepalanya berada di dalam karung, bocah itu telah mendengar jelas semua pembicaraan. Begitu lekas ia merasa tangan si pengemis terlepas dari dirinya, bagaikan kilat ia menepuk jalanan darah Leng tay hiat, di punggung Ho Loosam, dan dengan berbareng, ia menendang seraya melompat. Karena kuatir musuh melepaskan ular, tanpa membuka karung yang masih menutup kepalanya, ia meloncat beberapa kali deagan sekuat tanaga.

Sesudah kabur belasan tombak, barulah ia mencabut karung dari kepalanya. Ia heran sebab melihat pengemis tua itu rebah di tanah tanpa bergerak.

Sementara itu, cepat-cepat Coei San menolak perahunya ke tepi sungai dan kemudian, bersama isterinya dan kakaknya, ia melompat ke daratan. Bagaikan terbang So So berlari-lari ke arah puteranya, yang lalu dipeluk dengan rasa girang yang meluap-luap.

Coei San sendiri segera menghunus pedang dan membunuh kedua ular berbisa itu.

Sesudah itu, barulah ia membungkuk dan memeriksa keadaan Ho Loosam yang mulutnya terus mengeluarkan darah dan kelihatannya sedang menderita kesakitan hebat,

“Ngotee,” kata Lian Cioe dengan perasaan heran, “apa mungkin tepukan Boe Kie yang begitu enteng bisa mengakibatkan luka yang begitu berat ?” Ia mengangsurkan tangan dan coba mengangkat lengan kiri si tua, tapi lengan itu kaku, seperti orang yang tertotok jalanan darahnya. Melihat begitu, ia segera mengurut jalanan darah Tau tiong hiat, di bagian dada, dan Toa twie hiat, di belakang leher Ho Loosam.

Di luar dugaan, begitu diurut, si pengemis mengeluarkan teriakan menyayat hati. “Aduh! Mau bunuh, lekas bunuh…Jangan kau…menyiksa!” Ia sesambat. Seluruh tubuhnya menggigil dan giginya bercetukan.

Lian Cioe kaget tak kepalang, karena dengan urutan itu, ia bermaksud untuk menolong. Tan tiong hiat ialah pusat, atau sumber dari hawa tubuh manusia, sedang Toa twie hiat adalah tempat berkumpulnya jalanan darah besar dibagian kaki tangan manusia. Maka itu, jika kedua jalanan darah sudah mengalir baik, jalanan darah lain yang tertutup akan terbuka kembali.

Tapi di luar dugaan, akibatnya justru sebaliknya. Melihat Ho Loosam menderita kesakitan yang begitu hebat, Lian Cioe segera menotok jalanan darah di pundaknya untuk mengurangkan penderitaannya dan kemudian berpaling mengawasi Coei San.

Tapi Coei San pun tidak mengerti sebab musababnya. “Sumoay,” katanya. “Apakah kau melukakan dia dengan jarum emas?”

“Tidak,” jawabnya. “Mungkin dia kena dipagut ularnya sendiri.”

Sambil menahan sakit, si tua berkata, “Tidak…anakmu yang menghantam punggungku…” Ia melirik Boe Kie dengan sorot mata heran dan takut.

So So senang hatinya. “Boe Kie,” katanya dengan suara bangga, “benarkah kau sendiri yang menghajarnya? Bagus! Bagus sekali!”

“Jalan darah apa yang harus dibuka untuk menolongnya?” tanya Coei San dengan suara jengah. Ia merasa malu, bahwa sebagai ayah ia tidak dapat menolong orang yang dihajar oleh puteranya sendiri, sehingga pertanyaan itu tidak langsung ditujukan kepada Boe Kie.

So So tertawa geli. “Anak,” katanya. “Thia thia menyuruh kau membuka jalanan darahnya. Tolonglah dia! Sekarang dia sudah mengetahui lihainya Cia Boe Kie.”

Mendengar perkataan Cia Boe Kie, Lian Cioe merasa heran. “Cia Boe Kie?” menegasnya.

“Ya,” jawab Coei San sambil mengangguk. “Siauwtee telah menyerahkan anak itu kepada Gieheng dan sedari dilahirkan ia telah menggunakan she Cia.”

Boe Kie menggelengkan kepalanya. “Aku tak bisa,” katanya.

“Mengapa tak bisa?” tanya sang ayah.

“Giehoe hanya mengajar aku untuk menotok orang, tapi tidak memberitahukan cara bagaimana harus membuka totokan itu,” jawabnya. Ia diam sejenak dan kemudian berkata pula, “Waktu menurunkan pelajaran itu kepadaku, Giehoe mengatakan, bahwa jika pukulan mengenai Tai-yang, Tan-tiong, Toa-twie dan Leng tay, empat jalanan darah besar, orang yang terpukul bisa lantas binasa. Aku segera menanyakan bagaimana caranya menolong orang yang terpukul. Ia mengerutkan alis dan berselang beberapa saat, barulah ia menjawab begini: Di dalam dunia, ilmu ini hanya dikenal olehku dan olehmu berdua orang. Perlu apa kau belajar cara menolongnya? Kau hanya boleh memukul musuh dengan pukulan ini. Dan kalau yang dipukul musuh, perlu apa kita menolongnya? Apakah kau mau memberi kesempatan kepadanya, supaya di belakang hari dia bisa membalas sakit hati? Itulah jawab Giehoe terhadap pertanyaanku.”

Coei San dan isterinya mengakui bahwa suara itu, memang suara Cia Soen yang tangannya kejam dan kalau membabat, selalu membabat sampai diakarnya.

Biar bagaimanapun jua, Ho Loosan seorang laki laki yang keras kepala. “Jie Jiehiap, Thio Ngohiap, dalam hal ini, yang bersalah memamg aku sendiri,” katanya. “Hatiku tidak baik dan memang pantas aku mendapat pembalasan yang tidak baik. Sekarang aku memohon supaya kalian cepat cepat mengambil jiwaku, supaya aku tidak menderita terlalu lama.”

Lian Cioe menggelengkan kepala. “Tidak, kedosaanmu tidak pantas mendapat hukuman mati,” katanya. “Aku meminta maaf untuk keponakanku yang sudah turun tangan tanpa mengetahui berat entengnya tangan itu. Kami akan berusaha sedapat mungkin untuk menolong jiwamu,” sehabis berkata begitu, ia mendukung Ho Loosam dan menaruhnya di dalam gebuk perahu.

Sesudah itu ia kembali ke daratan dan bertanya kepada Boe Kie, “Apa namanya pukulan yang telah digunakan olehmu ?”

Melihat paras sang paman yang menyeramkan, bocah itu jadi ketakutan dan lantas saja menangis. “Aku bukan sengaja mau membinasakannya,” jawabnya “Dia…dia mengancam aku dengan ular…Aku takut, aku…sangat takut…”

Lian Cioe menghela napas. Dengan rasa cinta ia mendukung keponakannya dan menyusutan matanya. “Jiepeh tidak menyalahkan kau,” katanya dengan suara halus. “Jika dia mengancam Jiepeh dengan ular, akupun akan menghajar dia.”

Sesudah dibujuk dan dielus elus, barulah Boe Kie berhenti menangis “Menurut katanya Giehoe pukulan itu ialah pukulan yang sudah hilang dari rimba persilatan,” Ia menerangkan. “Namanya Hang liong Sip pat ciang (Delapan belas pukulan untuk menaklukkan naga)”

Begitu mendengar perkataan Hang liong Sip pat ciang, paras muka Lian Cioe berubah dan ia lalu menurunkan si bocah dari dukungannya.

Hang liong Sip pat ciang adalah ilmu silat yang sangat tersohor dari Ang Cit Kong, Pangcoe partai pengemis pada akhir jaman kerajaan Lam tong. Di samping ilmu itu Ang Cit Kong, mempunyai ilmu silat tongkat yang diberi nama Tah kauw Pang hoat. (Ilmu silat tongkat untuk memukul anjing ), yang juga sudah menggetarkan rimba persilatan dan sangat disegani oleh jago-jago pada masa itu. Tah kauw Pang hoat adalah ilmu yang hanya diturunkan kepada Pangcoe dari Kaypang dan sampai pada waktu itu masib dikenal orang. Tapi Han-liong Sip pat ciang sudah lama menghilang dari dunia persilatan.

Ilmu itu telah diturunkan oleh Ang Cit Kong kepada Kwee Ceng, tidak terdapat orang yang berbakat cukup untuk mempelajarinya. Sin tiauw Tay hiap Yo Ko adalah seorang yang mengenal macam-macam ilmu silat antaranya Hang liong Sip pat ciang, tapi lantaran belakangan satu lengannya putus ia tidak dapat menggunakan ilmu itu yang harus digunakan dengan kedua-dua tangan. Maka itulah, selama kira-kira seratus tahun, rimba persilatan hanya mendengar nama, tapi belum pernah melihat ilmu silat tersebut. Di luar dugaan, Boe Kie telah mendapatkannya dari Cia Soen.

“Apa benar kau memukul Ho Loosam dengan Hong liang Sip pat ciang?” mendesak Lian Cioe yang masih tidak percaya akan keterangan keponakannya.

Boe Kie mengangguk. “Menurut kata Giehoe pukulan itu diberi nama Sin liong Pa bwee (Naga sakti menyabet dengan buntutnya).” jawabnya.

Lian Cioe dan Coei San lantas saja ingat bahwa waktu menceritakan Hong liang Sip pat ciang, guru mereka memang pernah menyebutkan nama “Sin-liong Pa bwee,” tapi Thio Sam Hong sendiri tidak mengenal pukulan itu. Mengingat bahwa dalam usianya yang masih begitu muda, Boe Kie sudah melukakan Ho Loosam begitu berat, keterangannya tentang Hang-liong Sip pat ciang mungkin tidak palsu.

“Waktu Boe Kie menerima pelajaran dari Gie hang, Siauwtee berdua isteri dilarang mendekat,” menerangkan Coei San. “Siauwtee tak nyana Giehoe sudah menurunkan ilmu yang luar biasa itu”

“Giehoe mengatakan bahwa ia hanya mengenal tiga dari delapan belas pukulan itu dan ia mendapatkannya dari seorang ahli yang sudah mengasingkan diri dari dunia Kangouw.” kata Boe Kie, “Giehoe juga mengatakan, ia merasa bahwa dalam perubahan perubahan ketiga pukulan itu ada sesuatu yang kurang tepat. Mungkin sekali, ahli itu sendiri belum dapat menyelami isi pukulan pukulan itu sampai ke dasar-dasarnya.”

Jie Lian Cioe dan Thio Coei San jadi bengong. Mereka kagum bukan main akan lihainya jago jago di jaman dulu. Cia Soen yang hanya mendapat oleh beberapa pukulan, sudah begitu hebat. Maka itu, lihainya Ang Cit Kong dan Kwee Ceng hanya dapat dibayang-bayangkan.

Antara ketiga orang itu, So So lah yang paling bangga hatinya. Sebagai seorang ibu, ia sangat bangga bahwa dalam pukulannya yang pertama puteranya yang masih begitu kecil sudah memperlihatkan kepandaian yang tinggi itu. Dalam girangnya, ia tidak memperhatikan pembicaraan antara suami dan Jiepehnya.

“Kurasa, selain Ho Loosam, Boe san pang juga mengirim lain orang untuk mencari,” kata Coei San. “Sebaiknya kita lekas lekas menyingkir dari tempat ini”

“Benar,” kata Lian Cioe. “Aku sudah memberikan obat Tok bing sinsan kepada Ho Loosam. Harap saja obat itu dapat menolong jiwanya.”

Mereka berempat lantas kembali keperahu. Napas Ho Loosam sangat lemah dan mulutnya masih mengeluarkan darah.

“Boe Kie,” kata Cioe San dengan suara tegas. “Kali ini, aku tidak menyalahkan kau. Lantaran adanya ancaman hebat, kau terpaksa turun tangan. Tapi lain kali, kecuali jika terlalu terdesak, tak boleh kau sembarangan bertempur. Lebih-lebih, aku melarang kau menggunakan tiga pukulan dari Hang liong Sip liong itu. Kau mengerti ?”

“Baiklah. Anak tak akan melupakan pesan ayah,” jawab si bocah.

Melihat paras muka ayahnya yang menyeramkan, air mata lantas saja berlinang-linang di kedua matanya dan sesaat kemudian, ia lantas saja menangis keras.

Tak lama kemudian, juragan perahu sudah kembali dengan membawa arak dan daging, Lian Cioe segera memerintahkannya untuk menjalankan perahu.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: