Kumpulan Cerita Silat

24/07/2008

Kisah Membunuh Naga (14)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 2:01 am

Kisah Membunuh Naga (14)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Jie Lian Cioe adalah seorang yang sabar dan panjang pikirannya. Ia jarang memperlihatkan rasa girang atau gusar pada paras mukanya. Perkataan See hoa coe yang sangat menusuk tidak dijawab olehnya dan ia mengasah otak untuk mencari jalan keluar.

“Soeka, jangan kau menggoyang lidah sembarangan,” kata Wie Soe Nio cepat-cepat dengan rasa mendongkol. “Semenjak dulu, Boe tong dan Koen loan mempunyai hubungan yang sangat erat. Dalam sepuluh tahun, dengan bahu-membahu kita bersama sama melawan musuh. Jie Jiehiap adalah seorang jujur yang sangat dihormati dalam kalangan Kang-ouw, sehingga tidak mungkin ia memihak pihak yang salah.”
(more…)

Hina Kelana: Bab 125. Kelicikan Gak Put-kun yang Memalukan

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — ceritasilat @ 1:56 am

Hina Kelana
Bab 125. Kelicikan Gak Put-kun yang Memalukan
Oleh Jin Yong

Mendengar orang yang ditawan gembong-gembong Mo-kau itu adalah ibu gurunya, sungguh kejut Lenghou Tiong tak terkatakan, segera ia bermaksud menerjang ke luar untuk menolongnya. Tapi segera ia ingat dirinya tidak membawa pedang, tanpa pedang kepandaiannya sukar menandingi tokoh-tokoh sebagai Kat-tianglo dan kawan-kawannya itu. Karena itu ia menjadi cemas.

Kemudian terdengar Kat-tianglo bertanya pula, “Ilmu pedang Nyonya Gak itu cukup lihai, cara bagaimana Saudara Toh menangkapnya? Ah, tahulah aku, pakai obat, bukan?”
(more…)

Memanah Burung Rajawali – 24

Filed under: Jin Yong, Memanah Burung Rajawali — ceritasilat @ 1:19 am

Memanah Burung Rajawali – 24
Bab 24. Pengemis dengan Sembilan Jeriji
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

“Selama belasan tahun ayah telah mengajak aku merantau ke Timur dan ke Barat,” menyahut si nona. “Belum pernah kami berdiam di suatu tempat lamanya sepuluh hari atau setengah bulan. Ayah membilang, dia hendak mencari satu orang…seorang engko she Kwee…”

Perlahan sekali suara si nona, kepalanya pun tunduk. Ia likat.
(more…)

Create a free website or blog at WordPress.com.