Kumpulan Cerita Silat

23/07/2008

Kisah Membunuh Naga (13)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 2:08 am

Kisah Membunuh Naga (13)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Ia mengangguk sedikit dan lalu menduhului maju dua tindak ke depan.

“Dalam pukulan yang ke sepuluh aku telah menggunakan seantero tenaga dan aku terhuyung ke belakang beberapa tindak sebab terbentur dengan tenaga menolak yang sangat dahsyat. Aku tidak bisa melihat mukaku sendiri.”

“Tapi kutahu mukaku sudah pucat bagaikan kertas, sedang napas Kong kian Taysoe pun tersengal sengal. Cia Kiesoe, kau harus mengaso dulu sebelum mengirim pukulan ke sebelas, katanya. Aku adalah seorang yang sungkan mengaku kalah, tapi pada saat itu, benar-benar ku tak sanggup segera mengirim pukulan.”

Coei San dan So So mengawasi sang kakak dengan perasaan tegang.

“Giehoe, lebih baik kau jangan memukul lagi,” kata Boe Kie dengan tiba-tiba.

“Mengapa?” tanya Cia Soen.

“Pendeta tua itu sangat mulia hatinya,” jawabnya. “Jika Giehoe melukakannya, hati Giehoe tentu merasa tak enak. Jika Giehoe terluka, kejadian itu sama tidak baiknya.”

Coei San dan So So saling melirik. Mereka merasa girang, bahwa Boe Kie yang masih begitu kecil sudah mempunyai pemandangan jauh. Terutama Coei San merasa sangat terhibur, karena ia mendapat kenyataan, bahwa puteranya mempunyai pribudi yang luhur dan dapat membedakan apa yang benar, apa yang salah.

Cia Soen menghela napas panjang. “Ya? Aku hidup berpuluh tahun dengan cuma-cuma dan pikiranku tak bisa menandingi pikiran anak kecil,” katanya dengan suara menyesal. “Tapi pada waktu itu, dengan adanya tekad bulat untuk membalas sakit hati, aku tidak menghiraukan apapun juga. Aku merasa, bahwa jika aku memukul tiga kali lagi, salah seorang pasti akan binasa atau luka berat. Tapi aku tidak perduli. Aku segera mengerahkan seluruh lweekang dan mengirim pukulan yang kesebelas. Kali ini ia melompat, sehingga tinju yang ditujukan ke dadanya mengenai kempungan. Aku mengerti maksudnya yang sangat mulia. Jika aku memukul dadanya, tenaga mendorong dari dada itu hebat luar biasa dan ia kuatir aku tak kuat menerimanya. Tapi dengan memasang kempungan, ia sangat menderita. Begitu kena, ia mengerutkan alis, seperti orang sedang menahan sakit.”

“Untuk sejenak aku berdiri terpaku dan mengawasi dengan mata mendelong. Taysoe, kedosaan guruku sangat besar dan tak lebih dari pada pantas jika ia menerima hukuman mati, kataku dengan suara terharu. Mengapa Taysoe rela mengorbankan diri yang berharga bagaikan emas dan giok untuk menolong manusia yang berdosa itu?”

“Ia tidak lantas menjawab. Untuk beberapa saat, ia berdiri tegak dan mengatur jalan pernapasan. Sesudah itu, ia tertawa getir seraya berkata: Dua pukulan lagi…dan…permusuhan akan cepat dibereskan . Melihat begitu tiba-tiba dalam otakku berkelebat serupa ingatan. Ternyata pada waktu mengerahkan tenaga Kim long Poet hay tee, ia tidak boleh bicara. Mengapa aku tidak memancing supaya ia bicara dan dengan berbareng mengirim pukulan mendadak ?”

“Mengingat begitu segera aku berkata, “Kalau dalam tiga belas pukulan, aku berhasil melukakan Taysoe, apakah Taysoe tanggung bahwa guruku bakal datang untuk menemui aku? Seorang beribadat tak akan berdusta, jawabnya. Meskipun Taysoe berjanji, tapi apakah Taysoe mempunyai pegangan, bahwa ia pasti akan muncul ? tanyaku pula. Ia menjawab: ia sendiri yang mengatakan begitu kepadaku.”

“Pada detik itulah, sebelum ia bicara habis dengan mendadak dan bagaikan kilat cepatnya, aku mengirim pukulan yang kedua belas ke arah kempungannya. Aku merasa pasti bahwa ia tak akan keburu mengerahkan tenaga Kim kong Poeti hay tee !”

“Tapi di luar dugaan, ilmu itu dapat digunakan menurut kemauan hati. Begitu lekas tinjuku menyentuh kempungannya, tenaga malaikat dari Kim kong Poet hoay tee sudah berada di seluruh tubuhnya. Tiba-tiba aku merasa langit berputar dan bumi terbalik, sedang isi perutku seolah-olah mau meledak. Aku terhuyung tujuh delapan tindakan. Sesudah punggungku membentur pohon, barulah aku bisa berdiri tegak.”

“Hatiku hancur dan mendadak aku mendapat pikiran jahat. Sudahlah! teriakku. Sakit hati ini sukar bisa dibalas. Guna apa Cia Soen hidup lebih lama di dalam dunia? Seraya berkata begitu, aku mengangkat tangan untuk menghantam batok kepalaku.”

“Lihai! Sungguh lihai tipu itu!” seru Boe Kie. “Tapi Giehoe, apakah siasatmu itu tidak terlalu kejam?”

“Melihat apa kau?” tanya Coei San.

“Melihat Giehoe mau membunuh diri dengan menghantam batok kepala sendiri, Hweeshio tua itu pasti akan berteriak untuk mencegah dan akan coba menolong,” jawab Boe Kie. “Giehoe pasti akan turun tangan pada saat pendeta itu tidak berjaga-jaga. Tapi ia begitu baik terhadapmu dan Giehoe tentu tidak boleh melukakannya. Bukankah begitu? ”

Bukan main herannya Coei San dan So So. Mereka memang tahu, bahwa anak itu sangat cerdas otaknya. Tapi mereka sama sekali tak pernah menduga, bahwa dalam tempo sekejap mata, ia sudah bisa melihat akal khianatnya Cia Soen. Mereka sendiri adalah orang-orang yang terkenal pintar dan mempunyai banyak pengalaman dalam dunia Kangouw. Tapi dalam kecepatan berpikir, mereka ternyata masih kalah setingkat dari anak itu.

Paras muka Cia Soen berubah sedih dan sesudah menghela napas, ia berkata dengan suara parau, “Benar. Aku justru ingin menyalahgunakan kemuliaan Kong kian Tayso! Boe Kie, tebakanmu tepat sekali. Biarpun benar gerakanku itu merupakan suatu akal busuk, tapi pada waktu aku mengayun tangan untuk menepuk batok kepalaku, aku menghadapi bahaya yang sangat besar. Kalau aku tidak menghantam sungguh-sungguh dengan sepenuh tenaga, Kong kian tentu bisa melihatnya dan ia pasti tak akan coba menolong.”

“Dari tiga belas pukulan hanya ketinggalan satu pukulan saja. Cit siang koen memang lihai, tapi sudah terbukti, bahwa itu tak bisa menghancurkan Kim kong Poet hoay tee yang melindungi seluruh tubuhnya. Maka itu, dengan pukulan biasa, tak usah diharap aku bisa berhasil dan aku boleh tak usah mimpi untuk membalas sakit hati ini. Demikianlah, ibarat orang berjudi, pada detik itu aku tengah melemparkan dadu yang penghabisan kali. Aku menghantam dengan sekuat tenaga. Jika ia tidak menolong, maka aku akan binasa dengan kepala hancur. Memang, kalau aku tidak bisa membalas sakit hati, memang lebih baik aku binasa.”

“Melihat sambaran tanganku, Kong kian Taysoe berteriak: Hei! Jangan…Seraya berteriak, ia melompat dan nenangkis tanganku. Pada detik itulah aku mengirim tinju kiri ke bawah dadanya. Buk! Tinjuku mampir tepat pada sasarannya. Kali ini ia benar sekali tidak berjaga-jaga. Tubuh manusia terdiri dari darah dan daging tentu saja tak bisa menerima pukulan Cit sang koen yang sehebat itu. Tanpa bersuara, pendeta yang sangat mulia itu rubuh di tanah!”

“Aku mengawasinya sejenak dan tiba-tiba rasa kemanusiaanku mengamuk hebat. Aku memeluknya dan menangis keras. Kong kian Taysoe, Cia Soen tak mengenal pribadi, lebih hina daripada babi dan anjing! kataku dengan suara parau.”

Coei San bertiga tidak mengeluarkan sepatah kata. Mereka sangat berduka akan kebinasaan pendata yang berhati begitu mulia.

“Melihat aku menangis, Kong kian Taysoe bersenyum.” kata pula Cia Soen. “Ia menghibur aku dengaan berkata: Setiap manusia di dunia harus pulang ke alam baka! Kiesoe tak usah begitu sedih. Tak lama lagi gurumu akan tiba di sini dan kau harus menghadapinya dengan penuh ketenangan.”

“Nasehat itu menyadarkan aku. Barusan, sesudah megirimkan tiga belas pukulan, tenagaku dapat di katakan habis. Sekarang dalam menghadapi lawan berat, tak boleh aku terlalu berduka, karena hal itu dapat merusak semangat. Aku segera bersila dan mengatur jalan pernapasan. Tapi sesudah lewat sekian lama, guruku belum juga datang. Aku melirik kong kian Taysoe dan melihat bahwa pada paras mukanya terlukis rasa heran.”

“Sesaat itu, napas Kong kian Taysoe sudah sangat lemah. Iapun mengawasi aku dan berkata dengan suara terputus-putus. Tak dinyana…ia tidak…tidak…boleh dipercaya. Apa dia tertahan karena urusan lain ?”

“Aku gusar tak kepalang. Kau menipu aku! bentakku. Kau menipu aku, sehingga aku membinasakan kau. Sampai sekarang guruku masih belum muncul!”

“Ia mengeleng-gelengkan kepala. Aku tidak menipu katanya. Aku merasa bersalah terhadapmu.”

“Dalam kegusaran yang meluap-luap, aku mencacinya. Tiba-tiba selagi memaki, aku terkejut sebab ingat kenyataan yang sebenarnya. Andaikata ia menipu aku, tipunya merupakan pengorbanan jiwa dan baginya tak ada keuntungan apa pun jua, pikirku. Sesudah mengorbankan jiwa, ia malah meminta maaf kepadaku.”

“Bukan main rasa maluku dan aku segera berlutut di sampingnya. Taysoe, apakah kau mempunyai keinginan yang belum ditunaikan? tanyaku dengan suara parau. Katakan saja. Aku pasti akan melakukannya.”

“Ia bersenyum seraya berkata dengan berbisik: Aku hanya mengharap, bahwa jika kau mau membunuh orang, ingatlah loolap.”

“Kong kian Taysoe bukan saja seorang pendeta suci yang memiliki ilmu silat sangat tinggi, tapi juga seorang budiman dan bijaksana yang dapat menyelami perasaanku. Ia mengerti, bahwa jika ia meminta supaya aku menyudahi permusuhan dan mengubah menjadi orang baik, aku tentu tak akan dapat melakukannya. Ia tahu bahwa permintaan begitu bakal sia-sia saja. Maka itu, ia hanya memesan, supaya jika mau membunuh orang, biarlah aku ingat pengorbanannya.”

“Ngote, hari itu, pada waktu itu mengadu tenaga di dalam perahu, aku tidak mengambil jiwamu, sebab, secara mendadak, aku ingat Kong kian Taysoe.”

Coei San tercengang. Sedikitpun ia tak pernah menduga bahwa jiwanya ditolong oleh seorang pendeta yang sudah tidak ada lagi dalam dunia. Ia menghela napas dengan rasa kagum dan rasa hormat yang tiada batasnya.

“Giehoe, mengapa kau mengadu tenaga dengan Thia-thia?” Boe Kie menyelak…

“Mereka hanya main-main untuk menjajal Lweekang siapa yang lebih tinggi,” So So mendahului.

Bocah itu tak percaya. “Giehoe,” katanya pula. “Apa waktu itu kedua matamu sudah buta”

“Boo Kie! Jangan ngaco!” bentak sang ibu dengan rasa terkejut.

Cia Soen bersenyum. “Belum, waktu itu aku belum buta,” jawabnya. “Mengapa kau menanya begitu?”

Mendengar jawaban ayah angkatnya, Boe Kie segera berkata lagi, “Kalau begitu, mungkin sekali karena ayah tidak bisa mengalahkan Giehoe, maka ibu sudah turun tangan dan membutakan ke dua matamu…”

“Boe Kie!” bentak Coei San dan So So dengan berbareng sehingga anak itu ketakutan dan tidak berani membuka suara lagi.

“Tak boleb kamu menakut-nakuti anak itu,” kata sang kakak, “Boe Kie, tebakanmu tak salah. Bagaimana kau dapat menebaknya?”

Bocah itu mengawasi kedua orang tuanya dan menjawab dengan suara terputus-putus, “Aku…aku…”

“Kau benar,” kata sang ayah angkat. “Waktu itu, sebab ayahmu tidak bisa mengalahkan aku, ibumu sudah turun tangan dan menimpuk kedua mataku. Tapi kejadian itu sudah terjadi lama sekali dan orang yang bersalah adalah aku sendiri. Aku sama sekali tidak menjadi gusar. Apakah kau dengar dari ibumu?”

Ia tahu, bahwa So So tak mungkin menceritakannya kepada puteranya, tapi ia sengaja mengajukan pertanyaan itu supaya Coei San dan So So tidak bisa mencegah penjelasan si Boe Kie.

“Tidak ! Ayah dan ibu sama sekali belum pernah menuturkan kejadian itu kepadaku,” jawab Boe Kie. “Beberapa hari yang lalu ibu mengatakan, bahwa ia mau mengajar aku menimpuk dengan jarum emas, tapi pada esok harinya, ia membatalkan janji. Menurut dugaanku, ayahlah yang sudah melarang ibu, karena ia kuatir hal itu mengingatkan Giehoe akan kejadian-kejadian yang lampau.”

Cia Soen tertawa terbahak bahak. “Ngote, So moay, anak kita lebih pintar lima kali lipat dari pada aku dan lebih cerdas sepuluh kali lipat dari pada kamu berdua,” katanya dengan suara girang dan bangga, “Hmm…! Aku tak bisa menebak kelihaiannya di belakang hari…”

Tanpa terasa Coei San dan So So mengulur tangan mereka dan mencekal tangan si bocat erat-erat. Mereka merasa sangat girang tapi kegirangan itu tercampur dengan rasa kuatir. Coei San kuatir, bahwa karena terlalu pintar di hari kemudian anak itu akan menyeleweng. Sedang So So sendiri kuatir puteranya tidak bisa berumur panjang.

“Giehoe,” kata pula Boe Kie sambil tertawa. “Dengan berkata begitu, bukankah Giehoe lebih pintar dua kali lipat daripada ayah dan ibu ?”

“Lebih daripada dua kali lipat,” jawabnya disusul dengan tertawa nyaring.

“Giehoe, bagaimana dengan pendeta tua itu? Apa ia dapat diselamatkan jiwanya ?” tanya pula si bocah.

Cia Soen menghela napas. “Tidak, tak dapat disembuhkan lagi,” jawabnya. “Napasnya makian lama jadi makin lemah. Dengan mati-matian aku menekan jalanan darah Leng tayhiatnya sambil mengempos Lweekang untuk coba menolong jiwanya. Tiba-tiba ia menarik napas panjang-panjang dan berkata dengan suara berisik: Apa gurumu belum datang? Belum! jawabku. Kalau begitu, ia tidak akan datang, katanya lagi.”

“Taysoe, legakanlan hatimu”‘ kataku. “Aku berjanji, bahwa aku tak akan membunuh orang lagi secara serampangan untuk memancing dia. Untuk mencarinya, aku akan menjelajahi seluruh dunia.”

“Ia mengangguk dan berkata dengan suara terputus putus: Bagus bagus…Hanya sayang ilmu silatmu belum bisa menandinginya…kecuali…kecuali…”

“Sampai di situ, suaranya hampir tak dapat didengar lagi. Aku menempelkan kupingku di mulutnya. Sesaat kemudian ia berkata pula: Kecuali…kau dapat mencari To liong to…mencari golok itu punya pit…Ia hanya dapat mengeluarkan perkataan ‘pit’. Napasnya menyesak dan lalu menghambuskan napas penghabisan!”

(Penerusan “pit” ialah “bit”. Pit bit berarti “rahasia”.)

Sekarang Coei San dan So So baru mengerti mengapa kakak itu berusaha untuk mengorek rahasia To liong to, mengapa ia kadang-kadang kalap seperti binatang buas dan mengapa ia selalu
diliputi kedukaan. Sesudah mengangkat saudara sepuluh tahun, baru malam itu mereka mengetahui asal usul Cia Soen.

“Sesudah mencari di banyak tempat, belakangan barulah aku dengar di mana adanya golok mustika itu,” kata pula Cia Soen. “Buru-buru aku pergi ke pulau Ong poan san untuk merebutnya. Kejadian selanjutnya sudah diketahui kamu dan tak perlu aku mengulangi lagi. Sebelum mendapat golok itu, aku berusaha mati-matian mencari Seng koen. Tapi sesudah memiliki, aku berbalik takut dicari olehnya. Maka itu, aku memerlukan sebuah tempat yang jauh dan tak dikenal manusia untuk coba memecahkan rahasia yang tersembunyi dalam golok itu. Karena kuatir kamu membocorkan rahasiaku, maka aku sudah membawa kamu datang di sini. Tak dinyana kita sudah berdiam di sini tak kurang dari sepuluh tahun. Cia Soen…ah…Cia Soen! Setiap usahamu selalu menemui kegagalan!”

“Menurut Toako, perkataan Kong kian Taysoe , belum selesai diucapkan,” kata Coei San. “Ia mengatakan: Kecuali bisa mencari To liong to punya pit…Mungkin sekali ia mempunyai maksud lain”

Cia Soen menghela napas. “Selama sepuluh tahun siang-malam aku mengasah otak,” katanya. “Tapi aku tetap gagal. Tidak bisa salah lagi, di dalam golok itu bersembunyi rahasia besar. Hanya otakku tidak cukup tajam untuk menembus kabut yang menyelimuti rahasia itu. Boe Kie, kau jauh lebih pintar daripada aku. Di kemudian hari mungkin sekali kau akan berhasil di mana aku mengalami kegagalan.”

“Gie hoe, berapa usia Seng Koen sekarang?” tanya si anak.

Paras muka Cia Soe lantas saja berubah, “Tak salah kau, nak,” katanya. “Dia sekarang sudah berumur enam puluh lima tahun. Sakit hatiku kebanyakan tidak bisa terbalas. Hai! Langit! Langit! Kau telah membuat aku sangat menderita!”

Coei San dan So So mengerti apa yang dipikir kakak mereka. Andaikata di belakang hari Boe kie berhasil memecahkan rahasia To liong to, andaikata ia memperoleh ilmu yang dapat merubuhkan Seng Koen, andaikata ia bisa pulang ke Tionggoan dan mencari Seng Koen, hal itu tentunya bakal terjadi dalam dua puluh atau tiga puluh tahun kemudian. Pada waktu itu, sembilan dari sepuluh harapan, Seng Koen sudah berpulang ke alam baka.

Sesudah beromong-omong lagi beberapa lama, fajar mulai menyingsing. “Boe Kie,” kata Cia Soen. “Kau jangan tidur lagi. Giehoe akan mengajarkan kau semacam ilmu silat. ”

Coei San dan So So saling melirik, tapi mereka tidak berani membantah dan lalu kembali ke gua mereka.

Cia Soen tak pernah menyebut-nyebut lagi urusan itu, hanya caranya mendidik Boe Kie jadi berubah. Ia sekarang menurunkan pelajaran dengan lebih bengis dan keras.

Boe Kie baru saja berusia sembilan tahun dan biarpun otaknya sangat cardas, bagaimana ia dapat menyelami pelajaran Cia Soen yang begitu tinggi dalam tempo begitu pendek? Tapi sang ayah angkat tidak menghiraukan pertimbangan itu. Setiap kali bocah itu tidak memenuhi pengharapannya, ia bukan saja mencaci tapi juga memukulnya.

Sering kali So So melihat tanda-tanda biru bekas pukulan ditubuh puteranya, ia merasa kasihan dan tempo-tempo berkata , “Toako, tak dapat Boe Kie mempelajari semua ilmu silatmu dalam tempo pendek. Kita berdiam di pulau yang terpencil dan kita mempunyai banyak sekali tempo. Kurasa Toako tak usah begitu tergesa-gesa.”

“Aku bukan menyuruh dia melatih diri dalam pelajaran-pelajaran yang diturunkan olehku,” jawab sang kakak. “Aku hanya memerintahkan supaya dia mengingat dan menghafal semua pelajaran itu di dalam otaknya.”

So So tak mengerti maksud Cia Soen. Ia hanya tahu, bahwa kakak itu seorang aneh dengan cara-caranya yang aneh pula. Ia tidak dapat berbuat lain daripada membiarkan sang kakak bertindak semaunya.

Apa yang dapat dilakukannya hanyalah membujuk Boe Kie jika dia mendapat hajaran keras. Tapi anak itu sedikitpun tidak menjadi jengkel. “Ibu, maksud Giehoe sangat baik,” katanya. “Makin keras ia memukul, makin cepat aku menghafal pelajaran.”

Demikianlah setengah tahun yang pertama telah lewat. Pada suatu pagi, tiba-tiba Cia Soen berkata, “Ngotee, So-moay, empat bulan lagi angin dan arus laut akan membeluk ke selatan. Mulai hari ini kita sudah boleh membuat getek.”

(getek = rakit)

Coei San kaget tercampur girang. “Toako, apa kah kau maksudkan, bahwa sesudah membuat getek, kita akan bisa kembali ko Tionggoan?” tanyanya.

“Tergantung atas kebijaksanaan Langit,” jawabnya dengan suara tawar. “Ini yang dinamakan. manusia berusaha, langit berkuasa. Kalau untung baik, pulang k etempat sendiri, kalau nasib malang, tenggelam di dasar laut.”

Jika mereka menuruti keinginan So So, mereka tak usah menempuh bahaya besar itu. Mereka hidup bahagia dan bebas merdeka dan So So sudah merasa sangat puas. Akan tetapi, di samping itu masih terdapat lain pertimbangan yang sangat berat. Mereka memikirkan nasib Boe Kie. Dengan siapa anak itu akan menikah ? Apa tidak kasihan, jika ia harus hidup selama-lamanya di pulau yang terpencil itu? Demi kepentingan Boe Kie, jika masih ada jalan, biar bagaimana jua mereka harus berusaha untuk kembali ke dunia pergaulan.

Demikianlah, dengan bersemangat mereka lantas saja mulai bekerja. Untung juga di pulau itu terdapat banyak pohon besar, sehingga soal bahan tidak menjadi soal lagi. Cia Soen dan Coei San menebang pohon, So So membuat layar dan tambang dari serat kulit kayu, sedang Boe Kie dan si kera putih pun turut membantu atau mengacau.

Biarpun Cia Soen dan kedua suami-isteri itu orang-orang yang berkepandaian tinggi tapi karena kekurangan alat, pekerjaan mereka main dengan lambat sekali dan mereka harus menggunakan lebih banyak tenaga daripada seharusnya. Di waktu menebang pohon atau mengikat balok-balik untuk dijadikan getek. Cia Soen selalu memerintahkan Boe Kie berdiri di sampingnya dan ia mengajukan berbagai pertanyaan mengenai pelajarannya. Coei San dan So So tidak diharuskan lagi menyingkir dan mereka bisa mendengar tanya jawab antara ayah dan anak angkat itu. Mereka merasa heran , karena tanya jawab itu hanya mengenai Kouw koat (teori) dari berbagai ilmu silat.

Ternyata Cia Soen hanya menyuruh anak menghapal teori ilmu silat tangan kosong, ilmu golok, ilmu pedang dan sebagainya, tanpa memberi pelajaran mengenai cara-cara menggunakan teori itu. Dengan lain perkataan, Boe Kie hanya menghapal teori secara membeo, seperti anak sekolah jaman dulu menghapal kitab Soe sie dan Ngo keng tanpa mengerti maksudnya.

So So yang mendengari sambil bekerja, merasa kasihan pada puteranya. Jangankan seorang bocah cilik seperti Boe Kie, sedang seorang dewasapun tak akan bisa ingat Kouw-koat yang sulit itu tanpa mempelajari pukulan-pukulannya.

Sebagai guru, Cia Soen bengis bukan main. Salah satu perkataan saja. Boe Kie dicaci atau di gaplok. Biarpun ia menampar tanpa mengerah Lweekang, tapi karena kerasnya, muka Boe Kio sering menjadi bengkak.

Sesudah menggunakan tempo dua bulan lebih barulah getek itu selesai dibuat. Untuk memasang tiang layar, mereka barus bekerja kira-kira setengah bulan lagi. Sesudah itu, mereka memburu binatang, mengasini daging dan menjahit kantong-kantong kulit untuk dijadikan tempat air.

Mereka harus mempersiapkan sebaik-baiknya karena tak dapat diramalkan berapa lama mereka harus belayar di tengah samudara yang luas.

Waktu segala persiapan beres, siang hari sudah pendek dan malam sangat panjang, tapi arah angin masih belum berubah. Sambil menunggu perubahan angin, mereka membuat sebuah gubuk di pinggir laut untuk menempatkan getek itu.

(getek = rakit)

Sekarang Cia Soen tidak pernah berpisahan lagi dengan Boe Kie dan di waktu malam, mereka tidur bersama-sama. Dengan bengis dan tidak mengenal lelah, ia terus mengisi pelajaran pelajaran terakhir ke dalam otak anak angkatnya itu.

Pada suatu malam, waktu mendusin, tiba-tiba Coei San mendengar suara angin yang agak aneh. Ia melompat bangun dan ternyata, angin mulai meniup dari sebelah utara. buru-buru ia menggoyang- goyangkan tubuh istrinya seraya berkata dengan suara girang, “So So, kau dengarlah!” Sebelum istrinya tersadar di luar sudah terdengar teriakan Cia Soen, “Angin utara datang!” Di tengah malam buta, teriakan itu yang seperti tangisan kedengarannya menyeramkan sekali.

Pada esokan paginya, dengan rasa girang tercampur haru, Coei San, So So berkemas karena adanya harapan besar untuk kembali ke wilayah Tiong goan dan terharu sebab mereka harus segera berpisahan dengan pulau yang indah itu di mana mereka sudah berdiam kira-kira sepuluh tahun lamanya.

Kira-kira tengah hari barulah semua bekal selesai dipindahkan ke atas getek. Sesudah itu, mereka bertiga mendorong getek tersebut ke atas air. Orang yang melompat ke atas getek paling dulu adalah Boe Kie yang mendukung si kera putih, diikuti oleh sang ibu. “Toako, mari melompat bersama-sama,” kata Coei San sambil mencekal tangan sang kakak.

“Ngotee,” tiba-tiba Coei San berkata dengan suara parau. “Mulai saat ini, kita berpisah untuk selama-lamanya! Aku harap kau bisa menjaga diri.”

Kagetnya Coei San bagaikan disambar halilintar di tengah hari bolong. Ia menatap wajah kakaknya dengan mata membelalak dan berkata dengan suara terputus-putus, “Toako…kau…kau…”

“Ngotee, kau seorang yang berhati mulia dan kau pasti akan hidup beruntung.” kata Cia Soen. “Tapi nasib manusia sukar ditebak dan kemauan Langit sukar diketahui. Maka itu, dalam
tindakan-tindakamu, kau haruslah berhati-hati. Boe Kie telah mendapat seantero kepandaianku. Ia berotak sangat cerdas dan di hari kemudian ia pasti bisa berada di sebelah atas kita berdua. Mengenai So moay, biarpun ia seorang wanita, ia gagah dan pintar sehingga ia pasti tak akan di hina orang. Ngotee, orang yang aku kuatirkan adalah kau sendiri.”

“Toako, jangan kau ngaco!” kata Coei San dengan bingung. “Apa aku…kau…tidak mau ikut kami ?”

Sang kakak bersenyum sedih. “Pada beberapa tahun berselang, aku sudah mengatakan begitu kepadamu,” katanya. “Apa kau lupa?”

Coei San terkejut. Memang benar Cia Soan pernah mengatakan begitu, akan tetapi karena soal itu tidak disebut-sebut lagi, Coei San dan So So tidak mengangapnya sungguh-sungguh. Selama membuat getek dan mempersiapkan bekal, sang kakak juga tidak pernah mengutarakan niatannya itu. Tak dinyana pada saat mau berangkat barulah ia memberitahukan keputusannya.

“Toako, mana boleh kau berdiam di pulau ini”, kata pula Coei San dengan suara memohon, “Ayolah !” Seraya berkata begitu, ia membetot tangan kakaknya, tapi kedua kaki Cia Scam seolah berakar di dalam tanah.

“So moay! Boe Kie kemari! Toako tidak mau mengikut,” teriak Coei San.

So So dan Boe Kie tentu saja kaget dan buru-buru mereka melompat balik ke daratan.

“Giehoe, mengapa kau tidak mau turun ?” tanya si bocah, “Jika kau tidak turut, akupun tidak turut.”

Tak usah dikatakan lagi, Cia Soen pun merasa sangat berat untuk berpisahan dengan mereka. Ia mengerti, bahwa perpisahan itu adalah untuk selama-lamanya. Akan tetapi, sesudah merenungkan masak-masak dalam tempo lama, ia telah mengambil keputusan untuk tidak kembali ke Tionggoan. Mengapa? Karena, jika ia mengikut keluar, Coei San akan menghadapi bencana yang tidak habis-habisnya. Biarpun ia mempunyai riwayat yang berlamuran darah dan ia pernah melakukan perbuatan-perbuatan kejam, tapi semenjak mengangkat saudara dengan Coei San dan So So, ia mencintai ketiga orang itu seperti mencintai diri sendiri. Dan kecintaannya terhadap Boe Kie tidak kurang daripada kecintaaanya pada anak kandung sendiri.

Ia mengerti, bahwa di atas pundaknya tertumpuk dengan beban hutang darah. Baik dalam kalangan Kangouw, maupun dalam kalangan Liok li (Rimba hijau kalangan perampok), entah berapa banyak jumlahnya musuhnya yang ingin membalas sakit hati. Apa pula, sesudah memiliki To liong to, bakal makin banyak orang yang menghendaki jiwa dan goloknya.

Dulu sedikitpun ia tidak merasa gentar. Tapi sekarang, sesudah kedua matanya buta, ia merasa tak sanggup untuk melayani begitu banyak musuh. Sebagai orang gagah sejati, jika ia dikerubuti, Coei San dan So So sudah pasti tak akan berdiri dengan berpeluk tangan. Maka itu, kalau ia mengikut, bukan saja ia sendiri tapi kedua saudara angkat dan anak pungutnya pun akan turut menjadi korban. Demikianlah, sesudah memikir baik-baik, ia mengambil keputasan itu.

Mendengar perkataan Boe kie, ia terharu bukan main. Sambil memeluk anak angkat itu, ia berkata dengan suara serak, “Boe Kie, kau dengarlah perkataan Giehoe! Giehoe sudah tua, mata buta dan sudah enak hidup di sini. Kalau kembali ke Tionggoan, Giehoe akan menderita.

“Sesudah kembali ke Tionggon anak akan melayani Giehoe dan tidak akan berpisahan lagi dengan Giehoe,” kata Boe Kie. ” Giehoe mau makan atau minum apa, anak akan segera menyediakannya. Bukankah penghidupan begitu sama senangnya seperti penghidupan di sini?”

Cia Soen menggelengkan kepala, “Tidak, aku lebih senang berdiam terus di sini,” katanya.

“Kalau begitu, anakpun lebih senang hidup terus di sini,” kata pula bocah itu. “Thia, kita batalkan saja keberangkatan ini.”

“Toako, jika kau mempunyai lain pendapat, lebih baik kau mengutarakan saja terang-terangan supaya kita beramai dapat mengatasinya” kata So So. “Biar bagaimanapun jua, kita tak nanti meninggalkan kau di sini seorang diri”

“Toako,” Coei San menyambungi, “apakah karena mempunyai banyak musuh, kau kuatir akan merembet-rembet kami? Sepulangnya di Tionggoan, kita boleh mencari sebuah tempat yang sepi dan kita boleh hidup menyendiri tanpa bergaul dengaa manusia lain. Menurut pendapatku, paling benar kita berdiam di Boe tong san. Tak seorang pun yang akan menduga, bahwa Kim-mo Say-ong berada di gunung itu.”

“Hmm…” Cia Soen mengeluarkan suara di hidung. “Biarpun kakakmu seorang bodoh, tak usah ia menyembunyikan diri di bawah perlindungan Thio Cinjin!’

Coei San terkejut. Ia tahu bahwa ia sudah kesalahan bicara dan buru-buru berkata pula. “Bukan, bukan begitu maksudku. Kepandaian Toako tidak berada di sebelah bawah Soehoe dan tentu saja Toako tak perlu berlindung di bawah perlindungan Soehoe. Di wilayah Tiong goan terdapat banyak sekali tempat yang terpencil dan jauh dari dunia pergaulan misalnya Hoei kiang, Tibet, daerah gurun pasir dan sebagainya. Kita berempat boleh pergi ke situ dan mencari penghidupan yang tenteram ”

“Kalau mau mencari tempat yang jauh dari pergaulan manusia, tempat inilah yang paling baik!” Kata sang kakak. “Eh, katakan saja, apa kamu mau pergi atau tidak?”

“Tanpa kau, kami tak akan berangkat,” jawab So So dan Boe Kie dengan berbareng.

Cia Soen menghelas napas “Baiklah”‘ katanya “Kita semua jangan pergi. Sesudah aku mati, kamu masih mempunyai banyak tempo untuk pulang ke Tiong goan.”

“Benar, kita sudah berdiam di sini sepuluh tahun dan tak usah kita tergesa-gesa.” kata Coei San.

“Bagus!” bentak Cia Soen. “Sesudah aku mampus, aku mau lihat apa kamu masih mau berdiam di sini.” Seraya berkata begitu, mendadak ia menghunus To liong to dan mengayun ke lehernva.

Semangat Coei San terbang. “Jangan celakakan Boe Kie!” teriaknya. Ia mengerti, bahwa ia tak akan mampu mencegah niat kakaknya sehingga jalan satu-satunya adalah berteriak begitu.

Benar saja Cia Soen terkejut. Goloknya berhenti di tengah udara dan ia, bertanya, “Apa?”

“Toako jika kau sudah mengambil keputusan pasti siauwtee tidak dapat berbuat lain dari pada meminta diri,” katanya dengan suara parau dan lalu berlutut di hadapan sang kakak.

“Giehoe!” teriak Boe Kie. “Jika kau tidak pergi, aku pun tidak pergi. Kalau kau bunuh diri, aku pun bunuh diri”

Cia Soen kaget. Ia tahu, bocah yang luar biasa pintar itu sekarang balas menggertaknya. buru-buru ia memasukan To liong to ke dalam sarung dan membentak, “Setan kecil! Jangan ngaco kau!”

Tiba-tiba, ia mencengkeram punggung Boe Kie dan melemparkannya ke getek dan kemudian melontarkan juga Coei San dan So So. “Ngotee! So moay! Boe Kie!” teriaknya dengan suara duka. “Semoga perjalananmu diiringi dengan angin baik dan siang-siang kembali di Tiong goan.”

Melihat majikannya sudah berada di getek, si kera putih pun buru-buru melompat ke getek itu.

“Giehoe! Giehoe!” sesambat Boe Kie.

Cia Soen mencabut pula To liong to dengan membentak dengan suara angker, “Jika kamu turun lagi, Kamu akan temukan mayatku!”

Karena terpukul arus air, perlahan-lahan getek itu meninggalkan pulau. Makin lama bayangan Cia Soen jadi makin kecil. Coei San dan So So mengerti bahwa keputusan kakak mereka sudah tak dapat diubah lagi. Mereka tak bisa berbuat lain daripada mengelus-elusn tangan dengan rasa sedih dan berterima kasih tak habisnya.

Sesudah berada di lautan terbuka, Coei San bertiga tidak mengenal arah dan membiarkan getek itu berlayar semau-maunya. Apa yang diketahui mereka, ialah setiap pagi matahari naik dari sebelah kiri dan setiap sore, turun dari sebelah kanan. Saban malam, mereka bisa melihat bintang Pak kek di belakang getek. Siang-malam, dengan perlahan getek itu bergerak maju.

Selama kurang lebih dua puluh hari, Coei san tak berani memasang layar sebab kuatir getek itu membentur dengan gunung es. Tanpa layar, walau pun terbentur, benturan itu tidak keras, dia tak akan mencelakakan. Sesudah berpisahan dengan gunung es, barulah mereka menaikkan layar.

Dengan bantuan angin utara yang meniup tak henti-hentinya, getek itu mulai maju ke arah selatan dengan pesat sekali. Dasar nasib baik, di tengah perjalanan mereka tidak pernah bertemu dengan badai dan dilihat tanda-tandanya, mungkin mereka akan bisa pulang dengan selamat.

Selama sebulan Coei San dan So So tak pernah menyebut-nyebut Cia Soen, karena kuatir menbangkitkan kedukaan Boe Kie. Pada suatu hari sambil mengawasi permukaan air, tanpa merasa So So berkata “Toako benar-benar seorang luar biasa. Ia bukan saja tinggi ilmu silat nya, tapi juga paham lain-lain ilmu ”

“Ibu, menurut katanya Giehoe, selama setengah tahun angin meniup ke selatan dan setengah tahun lagi meniup ke utara,” kata Boe Kie. “Biarlah lain tahun kita kembali ke Peng hwee to untuk menengok Giehoe.”

“Benar,” kata Coei San “Sesudah kau besar, kita beramai-ramai mengunjungi lagi pulau itu.”

“Apa itu?” So So memutuskan perkataan suaminya seraya menuding keselatan.

Jauh-jauh, digaris pertemuan antara angit dan laut, terlihat dua titik hitam.

Coei San terkesiap. “Apa ikan paus ?” katanya dengan suara di tenggorokan.

Susudah mengawasi beberapa lama, So So ber kata, “Bukan, bukan ikan paus. Aku tak lihat semburan air.”

Dengan hati berdebar-debar, mereka terus memperhatikan kedua titik hitam itu. Berselang kurang lebih satu jam, tiba-tiba Coei San berseru dengan suara girang, “Perahu! Perahu!” Bahkan girangnya, ia melompat bangun dan berjungkir-balik. Boe Kie tertawa terbahak-bahak dan lalu mengikuti ayahnya yang sedang kegirangan. So So sendiri buru-buru mengambil kayu bakar, menuang minyak ikan di atasnya dan lalu menyulutnya.

Sesudah lewat kira-kira satu jam lagi, sedang matahari mulai mendoyong ke barat, mereka sudah bisa melihat tegas dua buah perahu di atas permukaan air. Mendadak So So kelihatan menggigil dan paras mukanya berubah pucat.

“Ibu, ada apa ?” tanya Boe Kie dengan perasaan heran.

Sang ibu tidak menjawab, tapi bibirnya bergemetar. Dengan paras muka kuatir, Coei San mencekal kedua tangan isterinya. So So menghela napas. “Baru pulang, sudah bertemu,” katanya.

“Apa?” menegas sang suami.

“Lihat layar itu,” jawabnya sambil menuding ke sebuah perahu.

Coei San mengawasi keperahu yang berada di sebelah kiri. Ia mendapat kenyataan, bahwa pada layarnya terpeta sebuah tangan berdarah dengan lima jeriji yang terpentang lebar. “Layar itu aneh sekali, apa kau tahu perahu siapa?” tanyanya.

“Perahu Peh bie kauw dari ayahku!” jawabnya dengan suara perlahan.

Coei San tertegun. Sesaat itu rupa-rupa pikiran berkelebat-kelebat di otaknya. “Ayah So So seorang jahat dan kejam, bagaimana aku harus berbuat jika bertemu dengannya? Bagaimana si Insoe terhadap pernikahanku ini? tanyanya di dalam hati.” Kedua tangan isterinya yang dicekelnya agak bergemetar. Ia mengerti, bahwa sang isteripun sedang memikiri berbagai soal yang tengah dihadapi mereka.

“So So,” katanya dengan suara membujuk. “Kita sudah menikah dan anak kita sudah begini besar. Langit di atas, bumi di bawah. Apapun yang akan terjadi kita tak akan berpisah lagi. Kau tak usah kuatir.”

So So mengangguk dan bersenyum. “Aku hanya mengharap kau tidak menyesalkan aku,” katanya dengan suara perlahan.

Boe Kie yang belum pernah melihat perahu, tidak menghiraukan pembicaraan antara ayah dan ibunya dan matanya terus mengawasi kedua perahu itu, yang kelihatannya sangat berdekatan, seolah-olah menempel satu sama lain. Jika tidak ada perubahan arah, getek mereka akan perpapasan dengan kedua perahu itu dalam jarak puluhan tombak.

“Apa kita perlu memberi isyarat ?” tanya Coei San.

“Tak perlu” jawab So So. “Sesudah tiba di Tiong goan, aku akan mengajak kau, dan Boe Kie pergi menemui ayah.”

“Baiklah,” kata sang suami.

Mendadak Boe Kie berteriak, “Hei! Lihat! Orang-orang itu sedang berkelahi!”

Coei San dan So So terkejut dan lalu melihat kedua perahu itu. Benar saja mereka melihat berkelebat-kelebatnya senjata dan empat lima orang sedang bertempur.

“Apa ayah berada di situ ?” kata So So dengan rasa kuatir.

“Sesudah terlanjur bertemu, ada baiknya kita menengok sebentar,” kata Coei San. Ia segera mengubah kedudukan layar dan membelokan kemudi sehingga getek membelok ke kiri, menuju ke arah kedua perahu itu.

Berselang kira-kira setengah jam barulah getek mendekati kedua perahu itu. “Pelancong yang tidak ada urusan jangan datang dekat!” demikian terdengar terlakan dari perahu Peh bie kauw.

“Aku adalah Hio coe dari Congto !” teriak So So. “Tocoe dari bagian mana yang sedang memasang hio?”

Mendengar teriakan itu yang menggunakan istilah rahasia dari Peh bie kauw, orang yang barusan berteriak lantas saja berubah sikapnya. “Maaf! Kami tak tahu, bahwa yang datang adalah Hio coe dari Congto,” katanya dengan sikap hormat. “Kami adalah rombongan Lie Hio coe dari Thian sie tong yang memimpin Hong Tan coe dari Sin coa tan dau Thia Tancoe dari Ceng liong tan. Bolehkah kami mendapat tahu, Hio coe dari mana yang datang ke sini?”

“Hio coe dari Cie wie tong,” jawab So So.

Hampir berbareng dengan jawaban So So, keadaan di perahu Peh bie kauw menjadi kalut. Beberapa orang berlari-lari, rupanya untuk memberitahukan pemimpin mereka, sedang belasan orang berteriak dengan suara kaget dan girang, “In Kouwnio pulang! In Kouwnio pulang!”

Biarpun sudah menjadi suami-isteri sepuluh tahun, So So belum pernah membicarakan Peh bie kauw dengan suaminya, sedang Coei San pun belum pernah menanyakan. Sesudah mendengar tanya-jawab itu, barulah Coei San tahu, bahwa kedudukan Hio coe dari Cie wie tong lebih tinggi dari pada kedudukan Tancoe. Waktu berada di pulau Ong poan san, ia pernah menyaksikan kepandaian Tancoe dari Hian boe tan dan Coe ciak tan yang lebih unggul dari pada ilmu silat So So. Ia mengerti bahwa isterinya bisa menjadi Hiocoe adalah karena So So puteri pemimpin besar dari Peh bie kauw. Maka itu, dapatlah diduga, bahwa Lie Hiocoe dan Thian sie tong seorang yang berkepandaian sangat tinggi.

Tiba-tiba dari perahu Peh bie kauw terdengar suara seorang tua, “Menurut laporan, In Kauw nio sudah kembali. Bagaimana kalau kita menghentikan pertempuran untuk sementara waktu? ”

“Baiklah!” jawab seorang yang suaranya nyaring bagaikan genta. “Hentikan Pertempuran!”

Dengan serentak suara beradunya senjata terhenti dan semua orang melompat keluar dari gelanggang pertempuran.

Mendengar suara yang nyaring itu, jantung Coei San memukul keras. “Apa Jie Lian Cioe Soeko?” teriaknya.

Jawab orang itu, “Aku Jie Lian Cioe. Ah…Kau…Kau…”

“Siauwtee ..Coei San…” jawabnya dengan suara terputus-putus bahna terharunya. Sesaat itu jarak antara getek dan perahu Jie Lian Cioe belasan tombak. Dengan tergesa-gesa Coei San menyambar sepotong papan yang lalu dilontarkan ke atas air, akan kemudian ia melompat ke papan itu dan sekali menotol dengan satu kakinya untuk meminjam tenaga, tubuhnya sudah melesat ke kepala perahu Jie Lian Cioe.

Jie Lian Cioe menubruk dan memeluk Soeteenya. Sesudah mereka berpisahan sepuluh tahun dapat dimengerti perasaan mereka pada sesaat itu. Si adik berseru dengan suara parau, “Jieko'” Sang kakak berbisik “Ngotee!” Mata mereka basah.

Di lain pihak, orang-orang Peh bie kauw menyambut In So So dengan segala upacara. Empat buah terompet yang dibuat dari keong laut raksasa ditiup dengan serentak. Li Hiocoe berdiri paling depan dengan Hong Tancoe dan Thia Tancoe di belakangnya, dan di belakang ketiga pemimpin itu berdiri kurang lebih seratus pengikut Peh bie kauw.

Di antara perahu besar dan getek dipasang selembar papan dan getek itu digaet dengan gala gaetan oleh beberapa anak buah perahu, supaya tetap pada tempatnya. Sambil menuntun Boe Kie, So So menyeberang perahu dengan melewati papan itu.

Di dalam kalangan Peh bie kauw, orang yang berkedudukan paling tinggi ialah Kauwcoe (pemimpin agama), Peh bie Eng ong In Thian Ceng. Di bawah Kauwcoe terdapat Lwee sam tong (Tiga “Tong” Dalam) dan Gwa ngo tan (Lima “Tan” Luar) yang bantu pemimpin para pengikut Peh bie kauw.

Lwee sam tong terdiri dari Thian-wie tong, Cia wie tong dan Thian sie tong, sedang Gwa ngo tan ialah Sin coa tan, Ceng liong tan, dan ???

(??? = tidak ada keterangan)

Hiocoe (pemimpin) Thian wie tong ialah putera sulung In Thian Ceng yang bernama In Ya Ong. Hiocoe Thian sie tong ialah Lie Thian Hoan, Soetee (adik seperguruan) In Thian Ceng. Walau pun berkepandaian sangat tinggi dan tingkatannya lebih tua daripada So So, dengan memandang muka Kauwcoe, ia berlaku sangat hormat terhadap nyonya muda itu.

Melihat So So menuntun seorang bocah dan pakaiannya, yang terbuat daripada kulit binatang, rusuh dan compang-camping. Lie Thian Hoan terkejut. Tapi dengan paras muka berseri, ia tertawa neraya berkata, “Terima kasih kepada Langit, terima kasih kepada Bumi, akhirnya kau pulang juga. Selama sepuluh tahun, bukan main jengkelnya ayahmu.”

So So memberi hormat dengan berlutut. “Soe siok selamat bertemu pula!” katanya. Ia menengok kepada puteranya dan berkata pula, “Lekas berlutut di hadapan Soe-siok-couwmu.” Boe Kie buru-buru menekuk kedua lututnya dengan mata mengawasi Lie Thian Hoan dan ratusan orang yang berdiri di belakang kakek paman guru Soe siok couw itu.

“Soesiok,” kata So So sambil bangun berdiri. “Anak ini adalah anak tit lie (keponakan perempuan) bernama Boe Kie.”

Lie Hiecoe terkesiap, tapi sejenak kemudian, tertawa terbahak-bahak. “Bagus! Bagus!” serunya. “Ayahmu pasti akan kegirangan. Bukan saja puterinya pulang dengan selamat, tapi juga sudah mendapatkan sang cucu yang tampan dan pintar.”

Melihat noda-noda darah dan beberapa mayat yang menggeletak di geledak perahu, So So bertanya dengan suara perlahan, “Perahu siapa itu? Mengapa kalian berkelahi?”

“Orang-orang Boe tong pay dan Koen loan pay,” jawab Thian Hoen.

Melihat suaminya sedang berpelukan dengan salah seorang dari perahu itu, So So mengerutkan alis dan berkata pula, “Lebih baik kita menghentikan dulu pertempuran ini dan tit-lie akan berusaha untuk mendamaikan!”

“Baiklah,” jawab sang Soesiok.

Walaupun secara pribadi, tingkatan Lie Thian Hoan sebagai Soesiok (paman guru) lebib tinggi daripada So So, akan tetapi secara resmi, di dalam kalangan Peh bie kauw, kedudukannya lebih rendah daripada nyonya muda itu, karena ia memimpin “tong” ketiga, sedang So So menjadi Hiocoe “tong” kedua.

“So So, Boe Kie kemari! Temui Soekoku !” demikian terdengar teriakan Coei San.

Sambil menuntun Boe Kie, So So segera pergi ke perahu Boe tong. Lie Thian Hoan, Hong dan Thia Tancoe bingung, tapi tanpa merasa mereka lalu mengikuti nyonya muda itu.

Di atas geladak perahu Boetong terdapat tujuh delapan orang dan salah seorang yang berusia kira- kira empat puluh tahun dan bertubuh jangkung kurus sedang berpegangan tangan dengan Coei San. “So So, inilah Jie Soeko yang namanya sering disebut-sebut olehku,” kata Coei San sambil bersenyum, “Jieko, inilah teehoemu (teehoe isteri dari adik lelaki) dan keponakanmu Boe Kie.”

Semua orang kaget bukan main. Peh bie kauw dan Boe tong pay sedang bertempur mati-matian. Tak nyana, dua orang penting dari kedua belah pihak telah terangkap menjadi suami-isteri dengan sudah mempunyai seorang putera.

Jie Lian Cioe mengerti, bahwa kejadian itu banyak latar belakangnya dan penjelasannya meminta tempo. Secara bijaksana, ia lebih dahulu memperkenalkan kawan-kawannya kepada Coei San dan So So.

Seorang Toosoe tua yang berbadan kate gemuk ialah See hoa coe dari Koen loan pay, sedang seorang wanita setengah tua yang masih berparas cantik diperkenalkan sebagai Soemoay (adik seperguruan) dari Soe hoa coe. Ia itu bukan lain dari pada San tian chioe (si Tangan kilat) Wie Soe Nio, yang dalam kalangan kang ouw dikenal sebagai Son tian Nio. Beberapa orang lainnya juga jago-jago kosen Koen loan pay, hanya nama mereka tidak begitu terkenal seperti See hoa coe dan Wie Soe Nio.

Meskipun sudah berusia lanjut, See hoa coe masih berangasan. “Thio Ngohiap, di mana adanya bangsat jahat Cia Soen?” tanyanya. “Kau mesti tahu!”

Coei San bingung tak kepalang. Sebelum mendarat, ia sudah menghadapi dua soal sulit. Pertama partainya sendiri bermusuhan dengan Peh bie kauw dan kedua, begitu membuka mulut, orang
sudah menanyakan tempat bersembunyinya Cia Soen. Ia merasa sukar untuk menjawab pertanyaan imam itu dan segera berkata sambil berpaling kepada Jie Lian Coe, “Jieko, ada apakah sehingga kalian mesti bertempur?”

See hoa coe mendongkol. “Hai! Apa kau tak dengar pertanyaanku?” bentaknya. “Di mana adanya bangsat Cia Soen ?” Sebagai seorang yang gampang marah, dalam Koen loan pay Soe hoa coe berkedudukan tinggi dan lihai ilmu silatnya, sehingga ia sudah biasa main bentak-bentak terhadap orang-orang separtainya.

Hong Tancoe, pemimpin Sin coa tan, adalah seorang yang sangat “berbisa”. Dalam pertempuran tadi dua orang muridnya telah binasa di bawah pedang See hoa coe, sehingga ia merasa sangat sakit hati.

Maka itu, begitu mendengar bentakan si Toosoe, ia lantas saja menggunakan kesempatan baik itu. “Huh! Jangan banyak lagak kau!” katannya deagan suara dingin. “Thio Ngohiap adalah menantu dari Peh bie kauw. Tidak boleh kau bicara begitu kasar terhadapnya”

Soe hoa coe lantas saja meluap darahnya. “Tutup mulutmu!” bentaknya. “Mana bisa seorang baik-baik menikah dengan perempuan siluman dari agama yang menyeleweng? Dalam pernikahan itu pasti terdapat latar belakarg yang busuk.”

“Jangan mengacao kau!” Hong Tancoe tertawa dingin. “Buktinya Kauwcoe kami sudah mempunyai cucu.”

Dengan kalap See hoa coe berteriak, “Perempuan siluman itu…”

“Soeheng jangan tarik urat dengan manusia itu” memotong Wie Soe Nio. “Dalam urusan ini kita menyerahkan saja kapada Jie hiap.” Ia sudah melihat maksud Hong Tancoe untuk mengadu domba Boe tong pay dengan Koen loan pay.

Mendengar perkataan Soe moaynya, See hoa coe juga tersadar dan sambil menahan amarah, ia menutup mulut.

Sambil mengawasi Coei San dan So So, Jie Lian Coe merasa bingung dan di dalam otaknya berkelebat-kelebat banyak pertanyaan. “Paling baik kita bicara di gubuk perahu,” katanya sesudah memikir beberapa saat. “Saudara-saudara kedua pihak yang mendapat luka harus ditolong terlebih dahulu.”

Dalam perahu Jie Liam Coe, Peh bie kauw merupakan tamu dan orang yang berkedudukan paling tinggi dalam “agama” itu ialah In So So, Hio coe Cie wie tong. Maka itu, sambil menuntun Boe Kie, So So masuk paling dulu ke dalam gubuk perahu, diikuti oleh Lie Hiocoo dan kedua Tancoe. Selagi Hong Tancoe baru mau masuk, mendadak ia merasakan kesiuran angin yang menyambar pinggangnya.

Sebagai seorang yang berpengalaman, ia tahu bahwa dirinya dibokong See hoa coe. Sebaliknya dari menangkis, ia menubruk ke depan seraya berteriaknya, ” Celaka! Aku dibokong!” Dengan gerakannya itu, ia sudah mempunahkan pukulan Sam in Coat houw chioe dari See hoa coe. Mendengar teriakan itu, semua orang menengok mengawasi Hong Tancoe dan See hoa coe yang mukanya berubah marah seperti kepiting direbus.

Dengan rasa jengah, Wie Soe Nio memandang tajam Soe hengnya. Pada saat itu, Hong Tancoe ialah seorang tamu terhormat dan bokongan terhadapnya bukan saja melanggar peraturan, tapi juga memalukan.

Di dalam gubuk perabu, So So menduduki kursi tamu yang pertama dengan Boe Kie berdiri di sampingnya, sedang Jie Lian Cioe duduk di kursi pertama dari pihak tuan rumah. Sambil menunjuk sebuah kursi di sebelah belakang kursi Wie Soe Nio, Jie Lian Cioe berkata, “Ngotee, kau duduk di situ.” Coei San mengangguk dan lalu duduk di kursi yang ditunjuk, sehingga kedua suami-isteri duduk sebagai tuan rumah dan tamu.

Selama sepuluh tahun, sesudah Thio Coei San menghilang dan Jie Thay Giam tidak pernah keluar karena lukanya, yang bergerak dalam rimba persilatan hanyalah lima pendekar Boe tong pay dan selama sepuluh tahun itu, nama mereka jadi makin cemerlang. Biarpun kedudukan mereka adalah murid turunan kedua dari Boe tong pay, tapi dalam rimba persilatan mereka sudah bisa berendeng dengan pendeta-pendeta Siauw lim sie yang berkedudukan tinggi. Selama tahun-tahun yang belakangan, orang-orang Kangouw makin menghargai dan menghormati Boe tong Ngo hiap. Maka itu lah, biarpun tingkatannya tinggi Soe hoa coe dan Wie Soe Nio mempersilahkan Jie Liam Cioe duduk di kursi utama.

Beberapa murid segera menyuguhkan teh dan sambil mengundang para tamunya minum teh. Jie Lian Cioe menimbang-nimbang perkataan apa yang harus diucapkannya terlebih dahulu. Perangkapan jodoh antara Coei San dan puteri In Kauwcoe adalah kejadian yang sangat di luar dugaan dan ia merasa bahwa jika ia menanyakan langsung persoalan itu di hadapan orang banyak Coei San tentu akan merasa jengah dan tidak akan mau bicara seterang-terangnya.

Memikir begitu ia lantas saja berkata dengan suara nyaring, “Sebagaimana kita tahu, Siauw lim, Koen loen, Go bie, Khong thong dan Boe tong, lima “pay”. Sin koen, Ngo hong to dan lain lain, berjumlah sembilan “boen”, Hay see, Kie keng dan sebagainya, tujuh “pang”, sehingga semuanya dua puluh satu partai atau golongan, telah salah mengerti dengan Peh bie kauw karena usaha kita untuk mencari Cia Soen, In Kouwnio, dan Soeteeku, Coei San. Salah mengerti itu telah berbuntut dengan bentrokan, sehingga selama telah bertahun tahun jatuh banyak korban yang binasa dan terluka…”

Ia berhenti sejenak dan kemudian berkata pula, “Sungguh syukur, secara tidak diduga-duga, In Kouwnio dan Thio Soetee pulang dengan selamat. Peristiwa yang sudah terjadi selama sepuluh tahun itu tidak dapat dibereskan dalam tempo pendek. Maka itu menurut pendapatku, sebaiknya kita menunda dulu permusuhan dan pulang ke masing-masing tempatnya. Biarlah In Kouwnio melaporkan segala pengalamannya kepada In Kauw coe, sedang Thio Soetee memberi pertanggungan jawab di hadapan guru kami. Sesudah itu, kita boleh mengadakan pertemuan pula untuk coba membereskan soal-soal kita. Adalah kejadian yang sangat diharap-harapkan, jika dalam pertemuan itu kita dapat menyudahi permusuhan yang sudah berlarut-larut ini…”

“Di mana adanya bangsat Cia Soen ?” See-hoa coe memutus perkataan Lian Cioe. ” Tujuan kita yang terulama adalah mencari bangsat Cia Soen.”

Coei San kelihatan berduka sekali. Ia merasa sangat tidak enak, karena, gara-gara mencari orang yang hilang dalam rimba persilatan telah muncul gelombang yang begitu besar dan yang sudah meminta sangat banyak korban. Mendengar pertanyaan See hoa coe, ia jadi serba salah. Jika ia memberitahukan terang-terangan, sejumlah besar pentolan rimba persilatan sudah pasti akan meluruk ke Pang hwee to untuk mencari kakaknya. Jika ia membungkam…bagaimana ia dapat membungkam?

Selagi ia bimbang, tiba-tiba terdengar suara So So, “Bangsat Cia Soen yang jahat dan membunuh manusia secara serampangan sudah mampus sembilan tahun yang lalu,”

Semua orang kaget. “Sudah mati?” mereka menegas serentak.

“Benar,” jawabnya. “Pada suatu malam, yaitu ketika aku melihat anakku, bangsat Cia Soen mendadak kalap. Selagi mau membunuh Ngoko dan aku, tiba-tiba dia dengar suara tangisan bayi ku. Penyakitnya kambuh dan bangsat itu mati dengan mendadak.”

Coei San mengerti maksud isterinya. Dengan, mengatakan, bahwa “Cia Soen yang jahat sudah. mati.” So So tidak berdusta, karena, bagai mendengar tangisan Boe Kie, kekalapan dan kekejaman “Cia Soen yang jahat” menghilang dan mulai dari detik itu, ia berubah menjadi seorang baik, dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa sembilan tahun berselang , “Cia Soen yang jahat” sudah mati dan Cia Soen yang baik menjelma dalam dunia.

See hoa coe mengeluarkan suara di hidung. Ia tidak percaya keterangan So co yang dianggapnya sebagai perempuan menyeleweng dari “agama yang menyeleweng” pula.

“Thio Ngohiap, apa benar bangsat Cia Soen sudah mampus?,” tanyanya dengan suara keras.

“Benar, bangsat Cia Soen yang jahat sudah mati pada sembilan tahun berselang,” jawab Coei San dengan suara sungguh-sungguh.

Sekoyong-konyong Boe Kie menangis keras “Giehoe bukan bangsat jahat!” teriaknya. “Giohoe tidak mati! Giehoe tidak mati! ”

Biarpun berotak sangat cerdas, Boe Kie masih terlalu kecil dan belum berpengalaman. Rasa cintanya terhadap Cia Soen tidak kurang dari rasa cintanya terhadap kedua orang tuanya sendiri.

Maka itu, dapatlah dimengerti, jika ia tidak tahan mendengar tanya-jawab itu dan cacian-cacian yang ditujukan terhadap ayah angkatnya.

Semua orang terkesiap dan tertegun. Dalam gusarnya. So So menggaplok muka puteranya. “Diam!” bentaknya dengan bengis.

“Ibu, mengapa kau mengatakan Giehoe sudah mati?” tanya bocah itu dengan suara serak “Bukankah ia masih hidup segar bugar?”

“Jangan campur-campur urusan orang tua!” bentak sang ibu “Yang sudah mati adalah Cia Soen, si penjahat jahat, bukan Giehoemu.”

Boe Kie bingung, tapi ia tidak berani membuka mulut lagi.

See hoa coe tertawa dingin. “Saudara kecil,” katanya kepada Boe Kie. “Cia Soen ayah angkatmu bukan? Di mana dia sekarang ?”

Si bocah mengawasi muka kedua orang tuanya. Sekarang ia mengerti, bahwa perkataan yang tadi dikeluarkannya mempunvai arti yang sangat penting. Ia menggelengkan kepala seraya menjawab, “Tidak, aku tidak akan beritahukan kau.” Dengan tidak sengaja, jawaban itu merupakan bukti yang lebih kuat, bahwa Cia Soen sebenarnya belum mati .

Sambil mengawasi Coei San dengan mata mendelik, See hoa coe membentak, “Thio Ngohiap! Apa benar In Kouwnio isterimu ?”

“Benar, dia isteriku!” jawabnya dengan suara nyaring.

“Dua orang murid partai kami telah celaka dalam tangan isterimu.” kata pula See hoa coe sambil menahan amarah. “Mereka mati tidak, hidup pun tidak. Bagaimana kita harus memperhitungkan perhitungan ini?”

Coei San dan So So terkejut.

“Jangan ngaco!” bentak nyonya muda itu.

“Dalam hal ini mungkin terselip salah mengerti,” kata Coei San, “Sudah sepuluh tahun kami berdua meninggalkan wilayah Tionggoan. Cara bagaiman kami bisa mencelakakan murid partai kalian”‘

“Hah-hah!” See hoa coe menggeram. “Memang…memang Ko Cek Seng dan Chio Tauw sudah menderita lebih dari sepuluh tahun lamanya.”

“Ko Cek Seng dan Chio Tauw?” menegas So So.

“Apa Thio Hoejin masih ingat kedua orang itu?” ejek See hoa coe. “Aku kuatir kau sudah tidak ingat lagi karena kau telah membunuh terlalu banyak manusia.”

“Mengapa mereka?” bentak So So. “Mengapa kau menuduh aku secara membuta-tuli?”

“Menuduh membuta tuli! Membuta tuli…!” teriak Soe hoa coe. “Ha ha ha !…Mereka sekarang sudah jadi gila…sudah hilang ingatan…Tapi mereka masih ingat namanya satu manusia. Mereka masih ingat, bahwa yang mencelakakan mereka adalah In So So!” Seraya mengatakan begitu, ia menatap wajah nyonya Coei San dengan mata beringas.

“Tutup mulutmu!” bentak Hong Tancoe. “Kau tidak berhak untuk menyebutkan nama terhormat dari Hiocoe Cie wie tong kami. Apakah kau tidak tahu adat-istiadat rimba persilatan? Cian pwee apa kau? Thia Hiantee, apakah dalam dunia ini ada hal yang lebih memalukan dari pada itu?”

“Tak ada,” jawab Thia Tancoe. “Aku sungguh tak mengerti, mengapa sebuah partai yang begitu tersohor mempunyai murid ugal-ugalan seperti dia. Sungguh memalukan.”

Diejek begitu, See hoa coe jadi kalap. “Binatang ! Siapa yang memalukan?” teriaknya seraya mencekal gagang pedangnya.

Hong Tancoe tetap tenang, bahkan melirikpun tidak. “Thia hiantee,” katanya pula. “Seseorang yang sudah memiliki beberapa jurus ilmu pedang kucing kaki tiga sebenarnya harus mengenal kesopanan manusia. Bagaimana pendapatmu?”

Thia Tancoa mengangguk seraya menjawab “Benar. Semenjak Giok hie Too tiang meninggal dunia, makin lama mereka makin tidak karuan macam.”

Giok hie Too tiang adalah Soe peh (paman guru) See hoa coe. Imam yang beribadat itu bukan saja tinggi ilmu silatnya, tapi juga sangat mulia hatinya, sehingga ia sangat dihormati dalam rimba persilatan.

Paras muka See hoa coe berubah merah padam. Tak dapat ia menjawab sindiran itu. Jika ia membantah, bukankah ia jadi menhina Soepehnya sendiri yang namanya telah menggetarkan seluruh negeri?

Tiba-tiba ia bangun, badannya berkelebat dan ia sudah berdiri di luar pintu gubuk perahu, “Sreet!” Ia menghunus pedang. “Bangsat!” teriaknya. “Kalau kau mempunyai nyali, keluarlah!”

Ejekan kedua pemimpinan Peh bie kauw itu terhadap See hoa coe adalah untuk menolong in So So dari desakan. Mereka menganggap bahwa dengan pernikahan Coei San dan So So, hubungan antara Boe tong pay dan Peh bie kauw sudah berubah. Meskipun Jie Lian Cioe dan Thio Coei San tidak sampai turun tangan untuk membantu pihaknya, kedua orang itu juga pasti tidak akan menyerang Peh bie kauw. Menurut perhitungan mereka, tanpa campur tangannya pihak Boe tong, mereka akan dapat mengalahkan orang-orang Koen loan pay yang hanya terdiri dari tujuh-delapan orang.

Perhitungan Peh bie kauw itu sudah dapat ditebak oleh Wie Soe Nio yang bisa berpikir dengan otak dingin. “Soeko!” teriaknya. “Mereka yang berada di perahu ini adalah tamu-tamu kita. Kita harus turut segala keputusan Jie Jie hiap ”

Dengan berkata bergitu, San-tian Nio nio telah berlaku bijaksana. Jie Lian Cioe adalah seorang pendekar yang tulus bersih, sehingga ia pasti tidak akan berlaku curang.

Tapi di luar dugaan dalam gusarnya, See-hoa coe yang tolol tidak mengerti maksud Soe-moay nya. “Omongan kosong!” teriaknya. “Boe tong pay dan Peh bie kauw sudah terikat famili. Mana bisa dia berlaku sama tengah lagi!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: