Kumpulan Cerita Silat

22/07/2008

Kisah Membunuh Naga (12)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 2:00 am

Kisah Membunuh Naga (12)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Coei San dan Sa So saling melirik dengan perasaan berkuatir, karena perkataan itu seperti keluar dari mulµtnya seorang edan. Dalam kekuatiran merekapun merasa kasihan terhadap orang yang bernasib malang itu.

Sesudah berdiam sejenak, Cia Soen berkata pula, “Kalau dia hidup, sekarang sudah berusia delapan belas tahun. Aku, Cia Soen, pasti akan turunkan semua baik ilmu surat maupun ilmu silat kepadanya. Huh huh! Dia belum tentu kalah dari Boe tong Cit hip atau Siauw lim Sam gie.”

Kata-kata itu, yang kedengarannya angkuh, bernada sedih dan mengutarakan perasaan dari seorang yang hatinya sangat kesepian. Mendengar itu, Coei San dan So So turut berduka dan mereka merasa menyesal, bahwa karena terpaksa, kedua mata orang itu telah dibikin buta.

“Kalau dia masih dapat melihat, bukankah kita berempat bisa hidup senang di pulau ini ?” kata Coei San di dalam hati.

Untuk beberapa saat lamanya, ketiga orang itu tidak mengeluarkan sepatah kata. Akhirnya kesunyian dipecahkan oleh Coei San yang berkata dengan suara tetap, “Cia Cianpwee, kau terimalah anak ini. Kami akan menukar shenya jadi she Cia.”

Mendadak, sehelai sinar terang berkelebat di muka Cia Soen yang suram. “Apa benar ?” tanyanya dengan suara kurang percaya. “Kau rela dia menukar she? Cia Liam Coe…Cia Liam Coe…Namun itu cukup baik. Tapi anakku yang mati bernama Boe Kie.”

“Kalau Cia ciapwee menghendaki, anak kami boleh dinamakan Boe Kie,” kata Coei San.

Tak kepalang girangnya Cia Soen, tapi dalam kegirangan itu, ia merasa sangsi, kalau-kalau ke dua suami-isteri itu sedang menipu dia. “Kalian memberikan anakmu kepadaku, tapi bagaimana kau sendiri?” tanyanya pula.

“Tak perduli dia she Cia atau she Thio, kami berdua akan tetap menyintainya,” kata Coei San.
“Di belakang hari, ia harus mengunjuk kebaktian kepada Cianpwee dan kepada kami sendiri. Bukan kah itu baik sekali ? So So, bagaimana pendapatmu?”

“Aku setuju apa yang dikatakan olehmu,” jawab So So dengan suara agak bersangsi. “Makin banyak orang menyintainya, makin bagus untungnya anak itu.”

Dengan air mata berlinang-linang Cia Soen menyoja sambil membungkuk. “Aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih kepada kalian,” kata nya dengan suara terharu. “Sakit hati membutakan mata mulai sekarang sudah dihapuskan, Cia Soen kehilangan anak, tapi hari ini dia mendapat pula seorang anak. Di hari kemudian, nama Cia Boe Kie akan menggetarkan dunia dan biarlah orang tahu, bahwa ayahnya adalah Thia Coei San, ibunya In So So, sedang ayah angkatnya adalah Kim mo Say ong Cia Soen”

Barusan So So agak bersangsi karena Cia Boe Kie yang tulen telah binasa seperti perkedel, sehingga ia kuatir nama itu kurang baik, untuk anak nya. Tapi melihat kegirangan Cia Soen yang begitu besar, ia merasa tak tega untuk mengutara kan kesangsiannya. Ia yakin, bahwa anak itu tentu akan sangat dicinta Cia Soen dan hal ini merupakan keberkahan untuk anak itu.

“Cia Cianpwee apa kau mau mendukungnya?” tanyanya sambil mengangsurkan anak itu.

Cia Soen menyambuti dan memeluknya dengan hati-hati. Mendadak, karena terlalu girang, kedua tangannya bergemetaran dan air matanya mengalir. “Kau…kau.. ambillah pulang,”katanya. “Melihat mukaku, dia bisa ketakutan setengah total.”

“Jika masih senang, kau boleh mendukungnya terlebih lama,” kata So So sambil bersenyum. “Di kemudian, hari kaulah yang harus mengajak ia bermain-main.” Sehabis berkata pegitu ia menyambuti anak itu.
,
“Baik! Baik!” kata Cia Soen sambil tertawa lebar.

Mendengar si bayi menangis keras ia ber kata pula, “Tetekkanlah. Dia lapar. Aku mau keluar dulu.”

Coei San dan So So bersenyum. Dengan matanya yang sudah buta, biarpun So So sedang menyusukan, ia sebenarnya boleh berdiam terus di situ. Tadi dalam kalapnya, ia begitu ganas. Tapi sekarang, ia begitu mengenal adat.

Sebelum ia bertindak keluar, Coei San sudah mendahului, “Cia Canpweee…”

“Tidak! Sesudah kita jadi orang sendiri, kau tak dapat menggunakan istilah Cianpwee lagi,” katanya. “Apa kalian setuju jika kita sekarang mengangkat saudara? Tali kekeluargaan ini akan banyak baiknya untuk anak kita!”

“Cianpwee adalah seorang yang berusia banyak lebih tua dan berkepandaian banyak lebih tinggi, sehingga mana bisa kami berdua berdiri berendeng dengan Cianpwee?” kata Coei San.

“Fuih!” bentak Cia Soen. “Kau adalah seorang dari rimba persilatan dan aku sungguh tak mengerti mengapa kau begitu, rewel? Ngotee, Soe moay, apakah kau berdua bersedia untuk memanggil aku Toako (kakak paling tua) ?”

“Baiklah, biar aku yang lebih dulu memanggil Toako.” kata So So. “Kalau dia tetap mau panggil kau Cianpwee, maka terhadap akupun, dia harus memanggil Cianpwee.”

“Kalau begitu, biarlah siauwtee menurut perintah Toako,” kata Coei San.

“Sesudah kita mencapai persetujuan, beberapa hari lagi, sesudah aku lebih kuat, barulah kita bersembahyang dan memberitahukan kepada Langit dan bumi, akan kemudian menjalankan peradatan mengangkat ayah dan mengikat tali persaudaraan,” kata So So.

Cia Soen tertawa terbahak-bahak. “Satu laki laki tak akan menarik pulang perkataannya. Perlu apa bersembahyang kepada langit? Aku sudah membenci Langit !” Sehabis berkata begitu dengan tindakan lebar ia berjalan keluar. Beberapa saat kemudian, Coei San dan So So mendengar suara tertawanya yang panjang dan nyaring. Sedari bertemu, belum pernah mereka melihat dia begitu bergembira.

Demikianlah, dengan penuh perhatian, ketiga orang itu merawat dan memelihara Cia Boe Kie. Sebagai seorang yang bergelar Kim-mo Say ong, kepandaian Cia Soen dalam ilmu menangkap dan melatih binatang dapat dikatakan tidak bandingannya di dalam dunia. Coei San mengajak ia pergi ke berbagai pelosok pulau itu dan sekali pergi, ia tidak melupakan lagi jalanan-jalanannya.

Dalam pembagian pekerjaan, Cia Soen bertanggung jawab untuk menyediakan daging kepada keluarganya, menangkap menjangan atau memburu beruang.

Kadang-kadang si kera merah mengikut, tapi karena cara kera itu membinasakan beruang terlalu mudah, maka Cia Soen berbalik tidak merasa gembira. Semula ia masih suka mengajaknya untuk dijadikan penunjuk jalan, tapi sesudah mengenal jalanan, ia tidak mempermisikan lagi dia mengikuti dan memerintahkannya berdiam untuk bermain-main dengan Boe Kie.

Beberapa tahun telah lewat dengan aman sentosa. Bayi itu bertubuh kuat, tidak pernah mengenal penyakit, dan dengan cepatnya sudah menjadi seorang anak yang mungil dan subur.

Di antara ketiga orang tua itu, Cia Soen lah yang paling memanjakannya. Setiap kali Coei San atau So So mau nenghukumnya, karena ia terlalu nakal, Cia Soen selalu datang menghalang-halangi. Dengan demikian, saban-saban ayah dan ibu kandungnya bergusar, ia tentu lari ke tempat sang ayah angkat untuk meminta pertolongan. Kedua orang tuanya hanya dapat menggeleng-geleng kan kepala dan menggerutu, bahwa anak itu terlalu dimanja oleh sang toako.

Waktu Boe Kie berusia empat tahun, So So lalu mulai mengajar ilmu surat kepadanya. Pada hari ulang tahunnya yang kelima, Coei San berkata, “Toako, anak kita sudah boleh belajar silat. Mulai hari ini, kurasa kau sudah boleh mengajarnya. Apa Toako setuju?”

Sang kakak menggelengkan kepalanya. “Tak bisa,” jawabnya. “Ilmu silatku terlampau dalam. Jika sekarang aku yang mengajarnya, ia tak mengerti. Sebaiknya, lebih dulu kau menurunkan ilmu Boe tong Sim hoat dan sesudah is berusia delapan tahun, barulah aku yang mengajarnya. Sesudah aku mengajar dua tahun, kamu sudah boleh pulang!

So So kaget dan heran. “Apa? pulang? Pulang ke Tionggoan?” menegasnya.

“Benar.” jawabnya. “Selama beberapa tahun, sehari aku memperhatikan arah angin dan arus air. Aku mendapat kenyataan bahwa saban tahun pada malam yang paling panjang, turunlah angin yang meniup keras terus-menerus sampai beberapa puluh malam. Sebelum waktu itu tiba, kita dapat membuat sebuah getek yang besar, memasang layar dan jika Langit tidak mengacau, mungkin sekali kalian bisa ditiup angin sampai di Tionggoan.”

“Kami?” tanya pula So So. “Apa kau tidak turut serta?”

“Mataku sudah tidak bisa melihat, perlu apa aku pulang ke Tionggoan?” jawabnya.

“Jika kau tidak ikut, kami pasti tak akan mempermisikan kau berdiam sendirian di pulau”
kata So So. “Anak kitapun tak akan mau mengerti, Ka1au bukan Gie hoe (ayah angkat), siapa lagi yang bisa menyayangnya?”

Cia Soen menghela napas dan paras mukanya kelihatan berduka. “Aku sudah menyayangnya sepuluh tahun. Cukuplah,” katanya. “Langit selam nya mengacau penghidupanku. Jika anak kita berdampingan terlalu lama denganku, Langit mungkin akan menggusari dia dan dia bisa celaka.”

Coei San dan So So bingung. Tapi sesaat kemudian, mereka manganggap, bahwa sang kakak bicara sembarangan saja dan hati mereka jadi lebih lega.

Mulai hari itu, Coei San mulai memberi pelajaran Lweekang kepada puteranya. Ia menganggap bahwa bagi anaknya yang masih begitu kecil, pelajaran Lweekang untuk menguatkan diri sudahlah cukup.

Di samping itu, dengan berdiam di pulau tersebut, anak itu sebenarnya tidak perlu memiliki ilmu silat, karena tidak ada kemungkinan untuk berkelahi. Mengenai kesempatan pulang ke Tionggoan tidak pernah disebut-sebut lagi oleh Cia Soen, sehingga Coei San dan So So menganggap, bahwa kakak mereka sudah berkata begitu secara sembarangan saja.

Waktu Boe Kie berusia delapan tahun, benar saja Cia Soen mengajukan untuk memberi pelajaran ilmu silat. Tapi ia mengadakan peraturan, bahwa waktu ia menurutnkan pelajaran, baik Coei San maupun So So tidak boleh turut menyaksikan. Peraturan itu yang sudah lazim dalam rimba persilatan, tidak pernah dibantah oleh mereka. Mereka tahu, bahwa sang kakak akan memberi pelajaran yang sebaik-baiknya kepada Boe Kie.

Sang tempo lewat dengan cepat dan tahu-tahu Boe Kie sudah menerima pelajaran setahun lebih dari ayah pungutnya. Semenjak terlahirnya anak itu, karena hatinya bahagia dan mempunyai tugas tertentu, Cia Soen tak pernah memperhatikan lagi To liong to.

Pada suatu malam, karena tak dapat pulas. Coei San keluar dari gua dan jalan-jalan di seputar situ. Tiba-tiba ia lihat Cia Soen sedang bersila di atas satu batu besar sambil mencekal golok mustika dengan kepala menunduk.

Baru saja ia mau menyingkir diri, sang kakak yang sudah mendengar suara tindakannya sudah keburu berseru, “Ngotee, kurasa kata-kata Boe lim coe-coan, poto To liong hanya kata-kata kosong belaka.”

Coei San menghampiri seraya berkata, “Di dalam rimba persilatan memang banyak sekali tersiar omongan-omongan yang tidak boleh dipercaya. Toako adalah seorang yang berpengetahuan tinggi, sehingga aku sesungguhnya tidak mengerti, mengapa kau percaya omongan itu?”

“Ngotee, aku bukan percaya secara serampangan saja,” jawabnya. “Keterangan itu dapat dari Kong kian Taysoe, seorang pendeta dari Siauw limpay.”

“Ah!” Coei San mendadak mengeluarkan seruan tertahan. “Kong kian Taysoe! Kudengar ia adalah Soeheng (kakak seperguruan) dari Kong boen Taysoe, Ciangboejin Siauw limpay. Ia sudah meninggal dunia lama sekali.”

“Benar,” kata Cia Soen. “Akulah yang membinasakannya!”

Tak kepalang kagetnya Coei San. Dalam dunia Kangouw terdapat kata yang seperti berikut, “Siauw lim Seng ceng, Kian Boen Tie Seng,” (Pendeta suci dari Siauw lim pay ialah Kian, Boen, Tie dan Seng). Kata-kata itu adalah untuk mengunjuk keempat Hweeshio lim sie, yaitu Kong kian, Kong boen, Koug tie dan Kong seng. Belakangan ia dengar dari gurunya, bahwa Kong kian telah meninggal dunia dan tak dinyana, sekarang ia mendapat tahu, bahwa pendeta suci itu telah dibinasakan oleh kakaknya.

Cia Soen telah menghela napas panjang dan paras mukanya berubah sedih. “Kong kian manusia tolol,” katanya. “Ia membiarkan aku memukulnya tanpa membalas. Ia mati sesudah dipukul tiga belas kali”

Coei San jadi lebih kaget lagi. Seorang yang kuat menerima tigabelas pukulan Cia Soen, harus mempunyai kepandaian yang luar biasa tinggi.

Sementara itu, paras muka Cia Soen jadi semakin suram dan terdapat sinar kemenyesalan yang sangat dalam.

Coei San mengerti, bahwa di balik kebinasaan Kong kian Taysoe bersembunyi peristiwa yang sangat mendukakan. Ia yakin bahwa kebinasaan pendeta suci itu bukan kejadian yang biasa saja. Biarpun sudah delapan tahun mereka hidup bersama-sama di pulau itu sebagai saudara angkat, dalam rasa menghormat kepada kakak, dalam hati Coei San juga terdapat rasa jerih. Ia tidak berani menanya melit-melit, karena kuatir membangunkan peringatan tidak enak dari masa dahulu.

“Selama hidupku, orang yang dihargai olehku hanya beberapa gelintir saja,” kata pula Cia Soen dengan suara perlahan. “Orang yang seperti gurumu, yaitu Thio Cinjin, aku hanya mendengar nama dan belum pernah bertemu dengan beliau. Kong kian Taysoe sungguh seorang pendeta suci. Meskipun nama besarnya tidak begitu dikenal seperti adik adik seperguruannya, seperti Kong tie dan Kong seng, tapi menurut pendapatku, kepandaian kedua Taysoe itu tak dapat menandingi Kong kian Taysoe”

Semenjak bertemu dengan Coei San, Cia Soen selalu memandang rendah kepada semua pentolan pentolan dunia. Maka itu, Coei San heran tak kepalang ketika mendengar pujian terhadap Kong kian Taysoe.

“Mungkin sekali karena orang tua itu selalu hidup menyembunyikan diri di dalam kelenteng, maka tak banyak orang mengenal kepandaiannya.” kata Coei San.

Cia Soen tidak kedengaran menjawab. Ia bengong dan kedua matanya mengawasi ke tempat jauh.
“Sayang!…Sungguh sayang!…” katanya pada dari sendiri, “Manusia yang begitu luar biasa telah binasa dalam tanganku! Jika waktu itu ia membalas, aku Cia Soen tentu tak bisa hidup sampai sekarang,”

“Apakah kepandaian pendeta itu lebih tinggi daripada Toako ?” tanya Coei San.

“Mana bisa aku dibandingkan dengan beliau ?” jawabnya. “Ilmu silat murid-muridnya juga lebih tinggi daripada aku.” Ia mengeluarkan kata-kata itu dengan nada penyesalan yang tiada taranya.

Coei San jadi makin heran. Ia hampir tak percaya keterangan kakaknya. Gurunya sendiri, Thio Sam Hong, adalah salah seorang luar biasa pada jaman itu. Tapi ia yakin, bahwa jika gurunya mesti bertanding dengan Cia Soen, paling banyak sang guru lebih unggul setengah tingkat. Jika Kong kian lebih unggul dari pada Cia Soen, bukankah gurunya sendiri tak akan dapat menandingi Kong kian? Tapi iapun mengenal kakaknya sebagai manusia yang sangat angkuh. Jika ia tak benar-benar merasa takluk, ia pasti tak akan membuat pengakuan itu.

Cia Soen rupanya dapat membaca apa yang dipikir oleh adiknya. “Baiklah. Panggil Boe Kie sekarang. Katakan padanya, bahwa aku ingin menceritakan sebuah cerita dahulu.”

Walaupun merasa, bahwa membangunkan anak itu tengah malam buta bukan seharusnya, Coei San tak berani membantah perintah sang kakak. Maka itu, ia segera kembali ke guanya dan membangunkan arak itu. Mendengar ayah angkatnya mau bercerita, Boe Kie jadi girang dan mengia kan dengan suara keras-keras, sehingga ibunya turut tersadar. Maka itu, mereka bertiga lantas saja pergi kegua Cia Sam untuk mendengari ceritera yang dijanjikan.

Sesudah semua orang berkumpul, Cia Soen segera mulai, “Anak, tak lama lagi kau akan pulang ke Tionggoan”

“Apa? Ke Tionggoan ?” memutus Boe Kie.

Cia Soen menggoyangkan tangan supaya anak itu jangan memutuskan omongannya dan berkata pula “Jika getek kita tenggelam di laut atau ditiup angin ke samudera yang luas, maka kita boleh tak usah bicara lagi. Tapi andaikata kita kembali ke Tiongggoan, aku ingin memberitahukan suatu hal kepadamu. Ingatlah hati manusia di dalam dunia sangat jahat dan kau tidak boleh main percaya kepada siapapun jua kecuali ayah dan ibu sendiri. Aku nyesa1, bahwa di waktu masih muda, tak pernah ada orang yang memberi nasehat itu kepadaku. Tapi biarpun ada yang menasehati, waktu itu aku tentu tidak mau percaya.”

“Pada waktu aku berusia sepuluh tahun, secara, kebetulan aku telah bisa berguru dengan seorang yang mempunyai nama besar dalam rimba persilatan. Karena melihat bakatku yarg sangat baik, Soehoe sangat menyayang aku dan telah menurutkan ilmu-ilmu silat yang istimewa kepadaku, sehingga dengan demikian, perhubungan kami adalah bagaikan ayah dan anak. Ngotee, pada waktu itu, rasa cinta dan rasa hormat ku terhadap Soehoe kira-kira bersamaan seperti rasa cinta dan rasa hormatmu terhadap gurumu. Aku keluar dari rumah perguruan dalam usia dua puluh tiga tahun. Tak lama kemudian, aku menikah, dan mempunyai seorang anak. Penghidupan kami sangat beruntung.”

“Selang dua tahun, waktu lewat di kampung kelahiranku. Soehoe mampir dan berdiam berapa hari di rumahku. Aku girang bukan main dan seluruh keluarga melayaninya dengan sepenuh perhatian. Dengan menggunakan kesempatan itu, guruku juga memberikan berbagai petunjuk pada kekurangan-kekurangan dari ilmu silatku. Tapi siapa nyana…seorang tokoh yang termasyhur dalam rimba persilatan sebenarnya mempunyai hati binatang! Pada tanggal lima belas bulan tujuh, sesudah minum arak, tiba-tiba ia coba memperkosa isteriku…”

Dengan berbareng Coei San dan So So mengeluarkan seruan kaget. Guru menodai kehormatan isteri muridnya adalah suatu kejahatan langka dalam rimba persilatan.

“Isteriku memberontak dan berteriak-teriak minta tolong.” Cia Soen melanjutkan penuturannya. “Mendengar teriakan itu, ayahku menerjang masuk kedalam kamar. Melihat rahasianya terbuka, guruku memukul ayahku yang lantas saja binasa. Sesudah itu, dia membinasakan juga ibuku dan membanting Cia Boe Kie, anakku yang berumur belum cukup setahun…”

“Cia Boe Kie ” memotong si bocah dengan suara heran.

“Jangan rewel! Dengari cerita Gie-hoe!” bentak Coei San.

“Benar,” jawab sang ayah pungut. “Itulah anak kandungku yang namanya bersamaan dengan namamu. Guruku membantingnya keras-keras, sehigga dia jadi perkedel!”

“Gie-hoe! Apa…apa dia masih bisa hidup ?” tanya Boe Kie.

“Tak bisa! Tak bisa hidup lagi!” jawabnya dengan suara parau.

So So mendelik sambil menggoyang-goyangkan tangannya untuk melarang anak itu untuk menanya lagi.

Sesudah bengong beberapa saat, barulah Cia Soen berkata lagi, “Melihat kejadian itu nyawaku terbang separuh dan aku berdiri terpaku sambil mengawasi dengan mata membelalak. Tiba-tiba guruku melompat dan meninju dadaku, sehingga aku rubuh terguling dalam keadaan pingsan. Ketika aku tersadar, guruku sudah menghilang, sedang diseputar rumahku penuh mayat. Mayat ayah dan ibuku, isteriku, anakku, isteri adikku dan bujang-bujangku, semuanya berjumlah tigabelas jiwa. Ia tidak memukul aku lagi, sebab rupanya ia duga aku sudah mati”

“Sebab terluka, berduka dan bergusar secara melampaui batas, aku mendapat sakit berat sekali. Sesudah sembuh, siang-malam aku melatih diri dan selang lima tahun, aku mencari guruku untuk membalas sakit hati. Tapi kepandaianku masih kalah terlalu jauh, sehingga dapat hinaan yang sangat lebar. Bia bagaimana pun sakit hati tiga belas orang tak dapat disudahi dengan begitu saja. Aku segera berkelana untuk mencari guru yang pandai. Selama sepuluh tahun, aku telah bertemu dengan tiga orang berilmu yang menurunkan kepandaiannya kepadaku. Dengan dugaan bahwa kepandaianku sudah cukup tinggi, sekali lagi aku mencari guruku. Tapi di luar taksiran, sedang kupandaianku bertambah, kepandaiannya bertambah lebih banyak lagi. Demikianlah untuk kedua kalinya, aku pulang dengan terluka berat”

“Sekali lagi aku melatih diri tanpa mengenal capai. Kali ini aku melatih Lweekang dari Cit siang koen (ilmu pukulan Tujuh Luka) dan sesudah berlatih tiga tahun lamanya, barulah aku berhasil. Aku menganggap, bahwa dengan memiliki kepandaian itu, aku sudah boleh berendeng dengan ahli ahli silat kelas utama dan jika guruku tidak mendapat lain-lain ilmu yang lebih tinggi, ia pasti tidak akan bisa melawan aku. Untuk ketiga kalinya, aku menyatroninya rumahnya, tapi bakan main rasa kecewaku, karena ia sudah pindah ketempat lain. Aku lalu berkelana dalam kalangan Kangouw untuk mencarinya, tapi ia tetap tak kelihatan mata hidungnya, Rupanya, untuk menyingkir dari bencana, ia telah kabur ke tempat jauh. Dunia begini luas, di mana aku mencarinya ?”

“Sesudah itu, dengan sakit hati yang makin lama makin mendalam dan kegusaran yang meluap-luap, aku lalu mengamuk. Aku memperkosa wanita, merampok, membunuh dan membakar rumah. Setiap kali bekerja, aku selalu meninggalkan nama guruku !”

“Ah!” Coei San dan So So mengeluarkan seruan kaget dengan berbareng.

“Apa kau tahu siapa guruku?” tanya Cia Soen.

So So manggat-mangaut kepalanya seraya berkata, “Kalau, begitu, Toako adalah murid Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen.” (Hoen goan Pek lek chioe-si tangan geledek).

Ternyata pada belasan tahun berselang di dalam rimba persilatan mendadak terjadi gelombang yang sangat hebat. Dalam tempo setengah tahun, dari Liao tong sampai di Lenglam dengan beruntun-runtun terjadi peristiwa-peristiwa besar. Tiga puluh lebih orang-orang gagah kenamaan telah dibunuh dan si pembunuh meninggalkan nama Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen. Orang yang dibunuh, kalau bukan Ciang boenjin suatu partai, tentulah juga seorang gagah yang mempunyai pergaulan luas.

Seluruh rimba persilatan telah mengerahkan tenaga untuk menyelidiki pembunuhan itu dan atas perintah guru mereka. Boe tong Cit hiap turun gunung untuk membantu, tapi sesudah membuang banyak tempo dan tenaga, meraka tetap tidak berhasil dalam usahanya. Tak seorangpun tahu, siapa pembunuh yang kejam itu. Semua orang mengerti bahwa ada seorang yang sengaja mau mencelaka kan Seng Koen, karena sebegitu jauh Seng Koen dikenal sebagai manusia baik-baik dan beberapa orang yang telah dibinasakan, adalah sahabat-sahabat baiknya.

Orang satu-satunya yang mungkin tahu siapa, pembunuh itu, adalah Seng Koen sendiri. Tapi jago itu mendadak menghilang tanpa meninggalkan bekas sehingga, biarpun semua orang gagah dalam dunia persilatan ingin membantu, mereka tidak berdaya sebab tidak tahu siapa penjahatnya.

Sekarang, sesudah mendengar pengakuan Cia Soen, barulah Coei San dan So So mengetahui latar belakang dari kejadian-kejadian yang hebat itu.

Sesudah berdiam beberapa saat, Cia Soen melanjutkan penuturannya, “Kau harus tahu, bahwa tujuan dari sepak terjangku itu adalah untuk memaksa keluarnya Seng Koen. Dengan dicari oleh ribuan atau sedikitnya ratusan orang, menurut dugaanku, ia pasti akan dapat ditemukan.”

“Tipu Toako memang sangat bagus,” kata So So. “Akan tetapi sungguh kasihan orang-orang itu yang sudah dibunuh tanpa berdosa.”

“Hm! Apakah kau tidak merasa kasihan terhadap orang tua dan anak istriku yang juga sudah dibunuh tanpa berdosa!” tanya Cia Soen dengan suara getir. “Dulu kulihat kau seorang yang sangat polos terbuka. Tetapi sesudah menikah sepuluh tahun dengan Ngote, kau jadi bawel seperti nenek tua.”

So So melirik suaminya sambil bersenyum, “Toako, bagaimana buntutnya? Apa kau berhasil mencari Seng Koen?” tanyanya.

“Tidak, tidak berhasil,” jawabnya. “Belakangan, waktu berada di Lokyang, aku bertemu dengan Song Wan Kiauw.”

Coei San terkesiap. “Song Wan Kiauw, Toa soekoku?” ia menegas.

“Benar, Song Wan Kiauw, kepala dari Boe tong cit hiap.” jawabnya. “Sesudah aku mengamuk, rimba persilatan jadi kacau balau dan kalang kabutan. Tapi guru…”

“Gie-hoe,” memutus Boe Kie. “Dia begitu jahat, mengapa masih memanggil guru kepadanya ?”

Cia Soen tertawa getir. “Sudah kebiasaan sedari kecil,” jawabnya. “Sebagian besar ilmu silatku didapat darinya. Dia jahat, akupun bukan manusia baik. Mungkin sekali, segala kejahatanku juga didapat darinya. Maka itu, aku tetap memanggil guru kepadanya.”

Mendengar penuturan sang kakek yang sedemikian hebat. Coei San jadi merasa kuatir, bahwa ceritera itu akan memberi pengaruh kurang baik kepada Boe Kie. Diam-diam dia mengambil keputusan untuk memberi penerangan dan penjelasan lebih jauh kepada bocah itu.

Sementara itu, Cia Soen sudah menyambung pula penuturannya, “Melihat guruku belum juga muncul, aku berpendapat, bahwa kalau aku tidak melakukan perbuatannya yang menggemparkan dunia, ia pasti tak akan keluar. Sebagaimana kau tahu, dalam rimba persilatan, yang paling dihormati orang adalah partai Siauw lim dan Boe-tong.”

“Menurut pendapatku, aku baru bisa berhasil jika membunuh seorang pentolan Siauw lim atau Boe tong. Hari itu, di taman Bouw tan wan, depan kuil Ceng hie koan di Lokyang, aku telah menyaksikan cara bagaimara Song Wan Kiauw menghajar seorang hartawan jahat. Aku mendapat kenyataan, bahwa ia benar-benar berkepadaian tinggi dan pada saat itu juga, aku segera mengambil keputusan untuk membinasakannya.”

Walaupun tahu, bahwa pada akhirnya Song Wan Kiauw tidak terbunuh, Coei San merasa terkejut juga. Ia yakin, bahwa kepandaian Cia Soen banyak lebih tinggi dari saudara seperguruannya, sehingga kalau diserang, Toasoehengnya pasti akan dijatuhkan.

So So yang juga tahu, bahwa Song Wan Kiauw tidak dibinasakan, lantas saja berkata, “Toako, masih untung kau tidak tega turunkan tangan jahat. Jika kau binasakan Song Tayhiap. Thio Ngohiap pasti akan mengadu jiwa denganmu dan kita tak bisa mengangkat saudara lagi.”

Cia Soen mengeluarkan suara dari hidung. “Tidak tega? Mana boleh tidak tega?” katanya. “Kalau sekarang, aku tentu tak akan memusuhi orang-orang Boe tong. Tapi pada waktu itu, jangankan Song Wan Kiauw, sedangkan Ngote sendiripun, jika bertemu denganku, aku pasti akan coba membinasakannya tanpa ragu-ragu lagi.”

“Gie hoe, mengapa kau mau membunuh ayah?” Boe Kie menyelak.

“Aku hanya menyebutkan suatu perumpamaan dan bukan benar-benar mau membunuh ayahmu,” jawab sang ayah angkat sambil tersenyum.

“Oh begitu?” kata si bocah.

Sambil mengusap-usap kepala anak itu, Cia Soen berkata pula dengan suara perlahan, “Meskipun langit sering menyakiti batinku, kali ini aku merasa syukur bahwa pada akhirnya, aku tidak membunuh Song Wan Kiauw. Memang benar, jika Song Wan Kiauw sampai dibunuh olehku, kita tak akan bisa mengangkat saudara.”

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi, “Malam itu, sesudah bersantap, aku segera bersemedi di dalam kamar untuk mengumpulkan semangat dan tenaga. Aku mengerti, bahwa sebagai kepala dari Cit hiap, song Wan Kiauw mempunyai kepandaian yang sangat tinggi. Jika dengan sekali pukul aku tidak dakat membinasakannya dan ia bisa melarikan diri, maka rahasiaku akan bocor dan usaha mencari guruku akan gagal sama sekali. Bukan saja begitu, aku malah bakal dikepung oleh orang-orang gagah di kolong langit. Sehingga, biarpun aku mempunyai tiga kepala enam tangan, aku pasti tak kan dapat melawannya. Aku mati tak menjadi soal tapi jika aku mati begitu rupa, sakit hati yang begitu besar itu akan dibawa kelubang kubur.”

“Gie hoe,” tiba Boe Kie menyelak lagi.” Matamu tidak bisa melihat. Tunggulah sampai aku besar. Sesudah mempunyai kepandaian tinggi, aku akan membalas sakit hati Gie hoe.”

Perkataan itu mengejutkan Cia Soen dan Coei San yang dengan serentak bangun berdiri. Dengan mata yang tak dapat melihat, Cia Soen “mengawasi” anak angkatnya dan berkata dengan suara perlahan, “Boe Kie, apa benar kau menpunyai niatan begitu?”

Coei San dan So So jadi bingung. Sekarang mereka berada di sebuah pulau terpencil di daerah Kuub Utara, sehingga belum tentu mereka bisa kembali ke Tiong goan. Akan tetapi, di dalam rimba persilatan orang sangat mengutamakan kepercayaan. Sekali berjanji seumur hidup tak dapat ditarik lagi. Begitu lekas Boe kie menyanggupi untuk membalas sakit hati Cia Soen, maka ia segera memikul beban yang luar biasa berat di atas pundaknya. Sedang Cia Soen yang memiliki kepandaian sedemikian tinggi masih belum mampu membalas sakit hatinya, bagaimana anak itu bisa memenuhi janjinya ?

Menurut kebiasaan rimba persilatan, walaupun anak itu masih kecil, dalam urusan itu, ia harus mengambil keputusan sendiri dan orang tuanya tidak boleh mempengaruhi pikirannya. Maka itu, meskipun sangat berkuatir, Coei San dan So So tidak berani mengeluarkan sepatah kata.

“Gie hoe,” kata anak itu dengan suara nyaring “Orang yang membinasakan serentero keluargamu, bernama Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen, bukan? Baiklah Boe Kie akan mengingat nama itu. Di belakang hari, anak tentu mewakili ayah untuk membalas sakit hati dan akan membasmi seluruh keluarganya, tak satupun yang diberi hidup!”

“Boe Kie! Jangan ngaco kau!” bentak Coei San dengan gusar. “Satu orang yang berbuat, satu orang yang harus bertanggung jawab. Biarpun dosanya Seng Koen lebih besar lagi, hanya dia seorang yang harus mendapat hukuman. Lain orang yang tidak berdosa tidak boleh diganggu selembar rambutnya!”

“Ya, ya…Thia thia,” katanya dengan suara ketakutan dan ia tidak berani membuka suara pula.

“Orang yang sudah mati tak tahu suatu apa,” kata Cia Soen. “Paling hebat ialah hidup sendirian di dalam dunia sesudah seluruh keluarga dibinasakan orang…”

“Toako, bagaimana kesudahan usahamu untuk bertempur dengan Toasoeheng,” Coei San memotong perkataan kakaknya. Ia berbuat begitu karena kuatir Cia Soen bicara terlalu panjang mengenai penderitaannya, sehingga dapat memberi pengaruh yang lebiih besar pada anaknya.

“Sungguh heran Toasoeheng be1um pernah memberitahukan kejadian itu kepada kami”

“Song Wan Kiauw belum pernah mimpi bahwa ia pernah menjadi bulan-bulanan,” jawabnya.

“Mungkin sekali, ia malah belum pernah mendengar nama kin mo Say ong Cia Soen. Mengapa ? Karena pada akhirnya, aku tidak jadi cari padanya.”

Coei San menarik napas lega. “Terima kasih Langit, terima kasih bumi.” katanya.

“Mengapa kau mengaturkan terima kasih kepada langit dan bumi?” tanya So So sambil tertawa. “Yang harus menerima pernyataan terima kasihmu adalah Cia Toako.”

Mendengar itu, Coei San dan Boe Kie turut tertawa.

Cia Soen tidak turut tertawa. Paras mukanya berubah jadi duka dan ia berkata dengan suara perlahan, “Kejadian malam itu masih diingat tegas olehku, seperti juga baru terjadi kemarin. Aku duduk di atas pembaringan batu dan menjalankan pernapasan, melatih Cit siang koen beberapa kali. Ngote, kau belum pernah menyaksikan pukulan Cit siang koen. Apa kau ingin melihatnya ?”

“Ilmu pukulan itu tentulah hebat luar biasa,” mendahului So So “Toako, mengapa kau tidak cari Song Tayhiap ?”

“Kalau tidak hebat, bagaimana pukulan itu bisa dinamakan Cit siang koen?” kata Cia Soen sambil tersenyum dan lalu jalan mendekati satu pohon besar. Ia mengangkat tangan seraya menbentak keras, menghantam dahan pohon itu.

Dengan Lweekang yang dimilikinya, biarpun ia tak dapat merubuhkan pohon itu, sedikitnya tinju Cia Soen akan amblas di dahan. Tapi di luar dugaan, pohon itu bergoyangpun tidak, sedang kulitnya tetap utuh.

So So merasa menyesal dan berkata di dalam hati, “Sesudah berdiam di sini sembilan tahun, ilmu silat Toaka merosot banyak. Hal itu tak heran, karena ia memang tak pernah berlatih lagi.” Tapi walaupun hatinya berduka, mulutnya bersorak-sorai.

“Se moay sorakanmu tidak keluar dari hati yang setulusnya,” kata sang kakak. “Kau anggap ilmu sllatku sudah tidak seperti dulu, bukan.”

“Dengan berdiam di pulau terpencil ini dan kita berempat adalah orang sekeluarga, memang tak perlu kita berlatih silat lagi,” kata So So.

“Ngotee, apa kau bisa melihat lihainya pukulanku?” tanya Cia Soen tanpa menghiraukan So So.

“Waktu menyambar, pukulan itu sangat dahsyat, sehingga aku tidak mengerti, mengapa pohon itu tidak bergeming, malah daunnya tidak bergoyang,” kata Coei San. “Aku percaya malah Boe Kie dapat menggoyang dahan itu.”

“Aku bisa!” teriak si bocah sambil berlari-lari dan kemudian meninju dahan pohon itu. Benar saja pohon yang besar itu bergoyang keras. Kedua suami-isteri girang bukan main, karena putera mereka sudah memiliki tenaga yang begitu besar. Mereka mengawasi Cia Soen dan menunggu penjelasan sang kakak.

Cia Soen bersenyum seraya berkata, “Tiga hari kemudian semua daun akan menjadi kering dan rontok dan selewatnya tujuh hari, pohon itu akan mati berdiri. Aku sudah memutuskan nadi pohon”

Kedua suami-isteri kaget dan heran, tapi mereka tidak menyangsikan keterangan itu, karena sang kakak belum pernah berdusta.

Tiba-tiba Cia Soen menghunus To liong to dan menyabet putus dahan yang tadi dipukulnya. Dengan suara gedubrakan, pohon itu rubuh di tanah. “Mari, lihatlah,” kata sang kakak. “Kalian boleh manyaksikan lihainya Cit siang koen.”

Coei San bertiga lantas saja menghampiri. Ternyata “hati” pohon sudah menjadi rusak, ada “urat-urat” yang hancur dan ada juga yang putus, suatu tanda, bahwa pukulan itu mengandung beberapa macam tenaga. Bukan main rasa kagumnya Coei San dan So So. “Toako, hari ini kau telah membuka mata siauwtee,” kata Coei San.

“Dalam pukulanku itu terdapat tujuh macam tenaga,” kata sang kakak dengan suara bangga. “Tenaga keras, tenaga lembek dalam keras, keras dalam lembek dan sebagainya. Seorang musuh dapat menahan tenaga pertama, tak dapat menahan tenaga kedua, yang dapat menahan tenaga kedua, tak akan dapat menahan tenaga ketiga dan begitu seterusnya. Maka itulah, pukulan tersebut diberi nama Cit-siang koen. Huh huh ! Mungkin sekali kau akan mengatakan bahwa Cit-siang koen terlalu kejam.”

“Gie hoe, bolehkah kau turunkan Cit siang koen kepadaku?” tanya Boe Kie.

“Tak bisa!” jawabnya seraya menggeleng-geleng kan kepala, sehingga bocah itu merasa sangat kecewa.

“Boe Kie, kau benar edan!” kata So So. “Pukulan Giehoemu itu tak akan dapat dipelajari sebelum mempunyai Lweekang yang sangat tinggi.”

Si bocah mengangguk seraya berkata, “Baiklah nanti kalau sudah memiliki Lweekang tiaggi, barulah Boe Kie mengajukan permintaan pula ke pada giehoe.”

“Tidak boleh, tak nanti aku turunkan Cit siang koen kepadamu,” kata Cia Soen. “Dalam tubuh setiap manusia. bukan saja terdapat hawa Im dan yang (negatif dan positif ) tapi juga lima Heng yaitu Kim, Bok, Soei, Ho dan Touw (emas, kayu, air, api, dan tanah). Misalnya saja, paru-paru termasuk dalam Kim, buah pinggang termasuk dalam Soei, nyali termasuk dalam Touw dan sebagainya. Begitu lekas seorang melatih diri dalam pukulan Cit siang coen, tujuh bagian isi perutnya yang sangat penting akan terluka. Makin tinggi kepandaiannya, makin hebat luka di dalam itu. “Cit siang” atau “tujuh luka”, lebih dulu melukai diri sendiri. Kemudian baru melukai musuh. Sebab-musabab mengapa aku sering kalap adalah karena latihan Cit siang koen”

Coei San dan So So terkejut. Baru sekarang mereka tahu, mengapa Cia Soen yang boen boe song Coei (pandai ilmu surat dan ilmu silat) acap kali berlaku seperti binatang buas.

“Jika aku melatih Cit siang koen sudah memiliki Lweekang yang sama tingginya sepertt Lwee kang Kong kian Taysoe atau Thio Cinjin dari Boe tong pay, mungkin sekali aku tidak sampai terluka, luka itu tidak menjadi halangan,” kata pula Cia Soen. “Aku sudah tidak menghiraukan segala bencana karena didorong oleh keinginan untuk membalas sakit hati secepat mungkin. Tahun itu, sesudah membinasakan tujuh orang, barulah aku dapat merampas kitab Cit siang koen dari tangan Kong tong pay dan dengan tergesa-gesa segera melatih diri menurut petunjuk-petunjuk kitab itu. Aku berbuat begitu, sebab kuatir guruku keburu mati dan aku tidak bisa membalas sakit hati. Sesudah kasep dan tidak bisa diubah lagi, barulah aku mendusin, bahwa aku sudah mendapat luka di dalam. Aku sama sekali tidak memikir untuk lebih dulu menyelidiki, mengapa dalam kalangan Kong tong pay sendiri tidak ada orang yang mempelajari ilmu pukulan itu. Di samping itu, masih ada lain sebab, mengapa aku segera melatih diri dalam Cit siang koen. Pukulan itu mempunyai sifat-sifat yang dahsyat dan menyeramkan dan bagiku, hal itu merupakan keuntungan besar. Sumoay, apakah kau mengerti maksudku.”

So So memikir sejenak. “Apakah Toako maksudkan bahwa Cit siang koen agak mirip dengan ilmu silat Pek lek chioe.” tanya si adik.

“Benar!” jawabnya. “So moay, kau sungguh pintar. Guruku bergelar Hoen goan Pek lek chioe, atau si Tangan geledek, dan ilmu silatnya mengandung pengaruh angin dan geledek yang sangat hebat. Jika aku menyerang dengan Cit siang koen, ia pasti akan menduga, bahwa aku menyerang dengan ilmu silatnya sendiri, ia akan mendusin sesudah pukulanku mampir dibadannya, tapi sudah kasep. Ngotee, jangan kau mengatakan, aku licik dan kejam, guruku adalah salah seorang yang paling hati-hati dan paling kejam d idunia. Jika kau tidak menggunakan racun untuk melawan racun, sakit hatiku pasti tidak akan terbalas. Hai! Ngotee, aku sudah melantur terlalu jauh sehingga melupakan soal Kong kian Taysoe yang mau dituturkan olehku. Malam itu, sesudah melatih diri dalam Cit siang koen, aku segera berangkat untuk cari Song Wan Kiauw.”

“Selagi melompat keluar dari tembok, sedang kedua kakiku belum hinggap di bumi, tiba-tiba pundakku ditepuk orang. Aku kaget bukan main. Bahwa badanku disentuh orang tanpa aku mampu menangkis, adalah kejadian yang belum pernah terjadi, Boe Kie, cobalah kau pikir. Jika orang itu menepuk dengan menggunakan Lweekang, bukankah aku sudah mendapatkan luka berat? Aku balas memukul dan begitu lekas kaki kiriku hinggap di tanah, aku memutar badan. Saat itu sekali lagi aku merasa punggungku ditepuk orang dan hampir berbareng terdengar hela napas dan suara seorang, “Lautan penderitaan tiada terbatas, menengok ke belakang melihat tepian.”

Boe Kie gembira sekali, ia tertawa terbahak bahar. “Gie hoe,” katanya. “Apa orang itu main-main denganmu?”

Coei San dan So So sudah menebak, bahwa orang itu Kong kian Taysoe adanya.

“Waktu itu aku begitu kaget, sehingga sekujur badan dingin semua,” Cia Soen melanjutkan panturannya. “Dengan kepandaian yang sedemikian tinggi, dengan mudah orang itu bisa mengambil jiwaku. Tapi delapan perkataan yang diucapkan nya bernada lemah-lembut, penuh kasih dan sayang. Begitu memutar badan. kulihat seorang pendeta yang mengenakan jubah putih berdiri dalam jarak empat tombak lebih. Dengan demikian, sesudah menepuk punggungku, ia sudah melompat kurang lebih empat tombak jauhnya dan kecepatan gerakan itu sungguh-sungguh luar biasa.”

“Pada waktu itu, aku hanya menarik suatu kesimpulan, bahwa yang berdiri di hadapanku bukan manusia, tapi setan penasaran dari seorang yang telah dibunuh olehku. Aku menarik kesimpulan itu, karena, menurut pendapatku, seorang manusia biasa tak nanti mampu bergerak begitu cepat. Sebab menduga begitu, nyaliku jadi besar lagi dan aku segera membantak: Setan siluman! Pergi kau! Aku tidak takut Langit dan bumi, apalapi kau!”

“Pendeta itu merangkap kedua tangannya seraya berkata: Cia Kiesoe, Looceng Kong kian memberi hormat. Begitu mendengar perkataan ‘Kong kian’ aku terkesiap. Sudah lama kudengar ‘Siauw lim Sang ceng, Kian, boen, tie seng yang tersiar luas di dalam rimba persilatan. Kong kian Taysoe adalah kepala dari empat pendeta nabi (Sengceng ) Siauw lim sie sehingga tidaklah heran jika ia memiliki kepandaian yang begitu tinggi.”

Mendengar sampai di situ, hati Coei San dan So So merasa sangat tidak enak, karena mereka tahu, pada akhirnya Kong kian binasa karena tiga belas pukulan Cia Soen.

Sesudah berdiam sejenak, Cia Soen berkata pula, “Aku mengawasinya seraya bertanya: Apa kah aku sedang berhadapan dengan Kong kian Seng ceng dari Siauw lim sie? Ia jawab: Perkataan Seng ceng aku tidak dapat menerima tapi memang benar loolap ialah Kong kian dari Siaw Lim sie. Aku kata: Aku dan Taysoe belum pernah mengenal satu sama lain, tapi mengapa Taysoe mempermainkan aku? kata Kong kian: Mana berani loolap mempermainkan Kiesoe? Aku hanya ingin menanya: ke mana Kiesoe mau pergi? Ku jawab: ke mana kumau pergi tiada sangkut pautnya dengan Taysoe! Ia menghela napas dan berkata dengan suara perlahan: Malam ini Kiesoe ingin membunuh Song Wan Kiauw Tayhiap dari Boe tong pay. Bukankah begitu? Sekali lagi aku terkesiap.”

“Ia mengawasi aku dengan mata tajam dan berkata pula: Kiesoe ingin melakukan perbuatan yang menggemparkan rimba persilatan untuk memancing keluar Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen guna membalas sakit hati…”

“Aku heran dan kaget tak kepalang. Aku belum pernah memberitahu perbuatan guruku kepada orang lain dan gurukupun tak pernah membuka rahasia busuknya itu.”

“Begitu mendengar Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen, tubuhku menggigil. Jika Taysoe sudi mengunjuk di mana adanya dia, aku rela menjadi kerbau atau kuda untuk kepentingan Taysoe, kata ku.

“Ia menghela napas dan berkata dengan suara menyesal: Perbuatan Seng Koen memang suatu kedosaan yang sangat besar. Akan tetapi, dalam kegusarannya, Kiesoe sudah membunuh begitu banyak orang dan perbuatan Kiesoe itu juga merupakan kedosaan yang tidak kecil.”

“Aku mendongkol dan sebenarnya ingin sekali menyemprotnya. Tapi karena tahu, bahwa aku bukan tandingannya, maka sambil menahan amarah, aku berkata: Aku berbuat begitu sebab tidak ada jalan lain. Seng Koen menyembunyikan diri dan aku tidak dapat mencarinya.”

“Ia manggut-manggutkan kepala seraya berkata: Aku mengerti, aku sangat merasakan perasanmu. Sakit hatimu besar luar biasa dan aku tidak dapat melampiaskan, akan tetapi, Song Tay hiap adalah murid pertama Thio Sam Hong Cinjin dan jika kau membinasakannya, bakal muncul gelombang yang tidak kecil. ”

“Aku tersenyum getir. Itu memang tujuanku,jawabku. Makin dahsyat gelombang yang diterbitkan olehku, makin baik lagi, karena hanyalah itu yang bisa memaksa keluarnya Seng Koen dari tempat persembunyiannya.”

“Sesudah itu, aku dan Kong Kian bicara seperti berikut: Cia Kiesoe, jika kau membinasakan Song Tayhiap, memang Seng Koen tidak bisa tidak keluar dari tempat persembunyiannya. Akan tetapi, Seng Koen sekarang bukan Seng Koen dulu. Terang terang aku mengatakan, bahwa kepandaian Kie soe masih belum dapat menandinginya. Biar bagaimanapun jua, Kiesoe tak akan bisa membalas sakit hatimu. ”

“Seng Koen adalah guruku. Aku lebih mengenal kepandaiannya daripada Taysoe.”

“Tidak, tidak begitu. Ada halnya yang tidak di ketahui Kiesoe. Seng Koen telah mendapat guru yang sangat lihai dan selama tiga tahun ia telah memperoleh kemajuan luar biasa pesat. Biarpun Kiesoe mahir dalam ilmu Cit siang koen dari Khong tong pay Kiasoe tak akan dapat melukakannya”

“Untuk sekian kalinya aku terkejut. Kong kian Taysoe belum pernah bertemu denganku, tapi gerak gerikku diketabui begitu jelas olehnya. Aku mengawasinya dengan mata membelalak. Sesudah menenteramkan hatiku yang berdebar-debar, aku bertanya: Bagaimana Taysoe tahu? Ia menjawab: Seng Koen sendiri yang memberitahukan kepadaku”

Coei San, So So dan Boe Kie mengeluarkan suara tertahan dengan berbareng.

“Kalian heran, tapi aku lebih heran lagi. Aku melompat dalam kagetku, dan membentak: Bagaimana dia tahu? Kong kian menjawab dengan suara perlahan: Selama beberapa tahun, ia selalu mendampingi Kiesue. Hanya karena ia selalu selalu menyamar, maka Kiesoe tak mendapat tahu.

“Tak mungkin! teriakku. Tak mungkin! Aku mengenalnya. Biarkan dia sudah menjadi abu, aku masih dapat mengenalinya.”

“Kong kian menggelengkan kepala seraya berkata deagan suara lemah lembut: Cia Kie soe, kau bukan seorang semberono. Akan tetapi, karena kau hanya ingat soal membalas sakit hati, maka kau tidak memperhatikan keadaan di sekitarmu. Kau di tempat terang, dia di tempat gelap. Tak heran jika kau tidak mengenalinya.”

“Aku tidak bisa tidak percaya keterangan itu. Kong kian taysoe adalah seorang pendeta suci yang namanya terkenal di kolong langit, sehingga tak mungkin ia berdusta. Kalau begitu, bukankah lebih baik baginya jika ia membunuh aku dengan membokong? kataku. Jika ia ingin mengambil jiwa, ia dapat melakukannya seperti membalik tangan sendiri, Kata Kong kian: Cia Kiesoe, dua kali kau coba membalas sakit hati, dua kali telah dikalahkan. Jika ia memang mau menghendaki jiwamu, mengapa waktu itu ia tidak turun tangan? Pada waktu kau coba merampas kitab Cit siang koen, kau telah mengadu Lweekang dengan tiga tetua dari Kong tong pay. Sebagai mana kau tahu, partai itu mempunyai lima orang tetua. Ke mana perginya dua tetua yang lain? Mengapa kedua orang itu tidak turut mengerubuti kau? Kalau Ngo lo (Lima tetua) turun tangan dengan berbareng, apakah Kiesoe masih bisa hidup terus?”

“Untuk kesekian kalinya, aku terkejut. Memang benar, waktu aku melukakan Khong tong Sam loo (Tiga tetua Khong tong pay), aku mendapat tahu, bahwa dua tetua yang lain, yang tidak turut bertempur, juga mendapat luka berat. Hal itu selalu merupakan teka-teki yang tidak dapat dipecahkan olehku. Apakah kedua tetua itu berkelahi dengan kawan sendiri? Apakah aku dibantu oleh seorang yang berilmu tinggi? Sekarang, mendengar perkataan Kong kian Taysoe, aku bertanya di dalam hati. Apakah dua tetua itu dilukakan oleh Seng koen ?”

Coei San dan So So adalah orang oraag mempunyai pengalaman, pergaulan dan pendengaran luas. Mereka sudah kenyang mendengar cerita-cerita aneh dalam rimba persilatan, tapi belum pernah ada yang seaneh cerita Cia Soen. Sesudah bergaul lama, mereka tahu, bahwa Cia Soen bukan lihat ilmu silatnya saja, tapi juga lihai otaknya. Tapi Hoen Goan Pek lek chioe Seng Koen kelihatannya lebih lihai dari pada saudara angkat itu.

“Toako.” kata So So. “Apa benar kedua tetua Khong tong pay dilukakan oleh gurumu?”

Cia Soen mengangguk seraya menjawab “Benar. Akupun telah mengajukan pertanyaan begitu kepada Kong kian. Cia Kiesoe, apa kau lihat mukanya kedua tetua itu ? tanyanya. Bagaimana paras muka mereka? Aku tidak lantas menjawab dan mengingat-ingat beberapa saat, barulah aku berkata: Kalau begitu, Khong tong jie loo benar telah dilukakan oleh guruku. Aku terpaksa mengakuinya, karena kuingat, bahwa pada waktu Khong tong Jie loo menggeletak di tanah, muka mereka penuh dengan bintik-bintik merah darah. Itu merupakan petunjuk, bahwa mereka telah menyerang dengan menggunakan tenaga Im kin (Tenaga lembek), tapi telah dipukul balik dengan ilmu Hoen goan kong. Setahuku, di samping akibat pukulan Hoen goan kong, bintik-bintik merah di muka ialah tanda dari penyakit cacar atau sebangsanya. Tak mungkin Jie loo mendapatkan penyakit cacar, karena pada hal itu, ketika aku baru bertemu dergan Khong tong Ngo loo, mereka semua segar bugar. Aku juga tahu, bahwa di dalam rimba persilatan, Hoen goan kong hanya dimiliki oleh guruku dan aku saja.”

“Kong kian Taysoe manggut-manggutkan kepala. Ia menghela napas seraya berkata: Dalam keadaan mabuk, memang gurumu telah melakukan perbuatan sangat hebat. Sesudah tersadar dari mabuknya, ia malu dan menyesal bukan main. Dua kali kau mencarinya untuk membalas sakit hati, dua kali ia tidak mengambil jiwamu.Ia malah tidak ingin melukakan kau. Tapi karena kau menyerang secara nekad bagaikan orang edan, ia tak bisa meloloskan diri tanpa melukakan kau. Sesudah itu ia ters membayangi kau dari belakang dan tiga kali diam-diam ia sudah menolong kau dari bencana.”

“Aku segara mengingat-ingat dan memang benar, selain dari peristiwa pertempuran melawan para tetua Khongtongpay, dua kali aku terlolos dari bahaya secara mengherankan.”

“Sesudah berdiam sejenak, Kong kian Taysoe berkata pula: karena tahu, bahwa kedosaannya terlalu besar, ia tidak berani memohon ampuh. Ia hanya mengharap, bahwa lama-lama kau akan melupakan sakit hati itu. Tapi di luar dugaan, gelombang yang diterbitkan olehmu makin lama jadi makin besar dan jumlah manusia yang dibinasakan olehmu jadi makin banyak. Hari ini jika kau membinasakan Song Tayhiap, suatu bencana besar tak akan dapat dielakkan lagi.”

“Mendengar itu, aku segera berkata: Baiklah, aku tak akan cari orang she Song itu, Tapi aku harap Taysoe suka minta guruku menemui aku. Jawab kong kian Taysoe: ia tak mempunyai muka untuk bertemu dengan kau dan iapun tak berani menemui kau. Di samping itu, Cia Kiesoe, bukan loolap mau memandang rendah kepadamu, andaikata kau bertemu dengan gurumu, kaupun tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dibandingkan dengan dia, kepandaianmu masih terlalu rendah. Kurasa kau tak akan mampu membalas sakit hatimu.”

“Aku mata sangat mendongkol dan segera berkata: Taysoe adalah seorang pendeta suci yang mempunyai perasaan adil. Apakah dengan berkata begitu Taysoe ingin aku menyudahi saja urusan ini? Ia mengawasi aku dengan sorot mata kasihan.”

“Aku dapat merasakan hebatnya penderitaan Kiosoe katanya. Akan tetap, kau harus ingat, bahwa perbuatan gurumu dilakukan dalam keadaan mabuk arak dan ia sebenarnya sama sekali tidak berniat begitu. Apa pula ia sungguh-sungguh nerasa malu dan menyesal. Maka itu, loolap memohon pertimbangan Kiesoe mengingat kecintaan antara guru dan murid pada masa yang lampau.”

“Mendengar bujukan itu, sambil menahan amarah aku segera berkata dengan suara kaku! Kalau kali ini aku tidak bisa memenangkan dia, biarlah dia binasakan aku. Jika aku tidak bisa membalas sakit hati, akupun tak sudi hidup lebih lama lagi di dalam dunia.”

“Kong kian mengawasi aku dengan paras muka berduka. Lama ia berdiri termenung tanpa menegeluarkan sepatah kata. Cia Kiesoe, katanya dengan suara perlahan, ilmu silat gurumu di waktu sekarang berbeda jauh dari pada di waktu dulu. Biarpun kau mempunyai pukulan Cit siang koen, tak dapat kau melukakannya. Jika kau tak percaya, cobalah jajal pukulan itu terhadap diri loolap.”

“Aku dan Taysoe sama sekali tidak mempunyai permusuhan, mana berani aku melukakan Taysoe? kataku, Walaupun berkepandaian rendah, kurasa Cit Siang koen tak mudah dilawan orang. Mendengar jawabanku, ia mengawasi aku sejenak dan kemudian berkata dengan suara tetap: Cia Kiesoe, marilah kita bertaruh. Gurumu telah membinasakan tigabelas anggauta keluargamu dan kau boleh memukulku tigabelas kali. Jika kau berhasil melukakan aku, aku tak akan campur lagi urusan ini dan gurumu akan keluar untuk menemui kau. Tapi jika kau tak dapat melukakan aku, kau harus melupakan sakit hatimu. Cia Kiesoe, bagaimana pendapatmu? Apa kau setuju pertaruhan ini.”

“Aku tidak lantas menjawab. Kutahu pendeta itu memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan biarpun lihai, Cit siang koen belum tentu dapat melukainya. Kalau aku tidak bisa melukainya, apakah sakit hatiku boleh disudahi saja?”

“Sementara itu, Kong kian sudah berkata: Sekarang aku mau bicara terang-terangan kepada Kiesoe. Sesudah mencampuri urusan ini, loolap pasti tidak akan mempermisikan kau membinasakan lagi kawan-kawan rimba persilatan yang tak berdosa. Jika mulai dari sekarang, Kiesoe menghentikan perbuatan kejam itu, aku bersedia untuk melupakan segala perbuatan perbuatan dulu-dulu.

“Cia Kiesoe, kau mencari musuhmu untuk membalas sakit hati. Apakah kau kira kelurga atau murid-murid dari orang-orang yang dibunuh olehmu tidak akan mencarimu untuk membalas sakit hati?”

“Mendengar perkataan itu yang diucapkan dengan suara keren amarahku meluap. Baiklah aku akan pukul kau tiga belas kali! teriakku. Jika merasa tidak tahan, Taysoe boleh segera berteriak. Seorang laki-laki tak akan melanggar janji sendiri. Kalau kalah, Taysoe harus meyuruh guru menemui aku.”

“Kong kian bersenyum seraya berkata: Kiesoe boleh segera mulai. Melihat badannya yang kate kecil, rambut dan alisnya yang sudah putih, dan paras mukanya yang welas asih, aku sungguh merasa tak tega untuk turun tangan. Maka itu, dalam pukulan pertama, yang ditujukan kedadanya aku hanya menggunakan tiga bagian tenaga”

“Gie hoe,” memotong Bu Kie, “apakah kau menggunakan Cit siang koen yang dapat memutus kan nadi pohon?”

“Tidak,” jawabnya. “Dalam pukulan pertama aku menggunakan Pek lek chioe dari guruku. Begitu terpukul, badan Kong kian Taysoe bergoyang-goyang. Ia mundur setindak, di dalam hati, aku memandang rendah kepadanya. Dengan mengguna kan tiga bagian tenaga saja, ia sudah terhuyung setindak. Aku menduga, bahwa jika aku memukul dengan Cit siang koen, dalam tiga kali pukul mengambil jiwanya. Dalam pukulan kedua aku menambah tenaga. Badannya bergoyang-goyang pula dan dia mundur setindak lagi. Pukulan yang ketiga pun mengeluarkan hasil yang sama”

“Diam-diam aku merasa heran. Dalam pukulan ketiga, aku kembali menambah tenaga, tapi ia tetap dapat menerimanya dengan sikap acuh tak acuh. Selain begitu, akupun merasa heran, karena tubuhnya sama sekali tidak mengeluarkan tenaga yang melawan tenaga pukulanku.”

“Aku segera menarik kesimpulan, bahwa untuk merubuhkannya aku perlu menggunakan seantero tenaga. Akan tetapi, jika aku menggunakan seluruh tenaga, ia tentu akan terpukul mati, atau sedikitnya terluka berat. Biarpun aku seorang jahat dan kejam, tapi terhadap Kong kian Tayso yang rela berkorban untuk kepentingan orang lain, aku menaruh hormat yang sangat besar. Maka itu, aku lantas berkata: Taysoe, kau menerima pukulan tanpa membalas. Aku tak tega memukul lagi. Kau sudah dipukul tiga kali. Baiklah aku sekarang berjanji tak akan cari Song Wan Kiauw.”

“Tapi bagaimana dengan sakit hatimu terhadap Seng Koen? tanyanya. Dengan bernapsu aku menjawab: Aku dan Seng Koen tidak bisa hidup bersama-sama di kolong langit. Kalau bukan dia, akulah yang binasa. Aku berdiam sejenak dan kemudian berkata pula: Tapi sesudah Taysoe tampil ke muka, dengan memandang Taysoe aku berjanji, bahwa mulai dari sekarang aku tak akan membunuh lagi kawan-kawan dalam rimba persilatan. Tujuanku hanya Seng Koen dan keluarganya!”

“Ia merangkap kedua tangannya seraya berkata: Atas nama kawan-kawan rimba persilatan, aku menghaturkan terima kasih untuk janji Kiesoe itu. Tapi loolap sudah mengambil keputusan untuk mendamaikan sakit hati ini, sehingga oleh karenanya, lebih baik Kieso meneruskan pukulan itu”

“Diam-diam aku menghitung-hitung. Memang paling baik aku melakukannya dengan Cit siang koen untuk memaksa keluarnya guruku. Untung juga, aku sudah mahir dalam pukulan itu, sehingga berat entengnya, mengirimnya atau menarik pulangnya dapat dilakukan sesuka hatiku. Dengan demikian, kurasa aku akan dapat mengimbangi pukulanku supaya tidak sampai mengambil jiwa pendeta yang mulia itu. Memikir begitu, aku segera berkata: Baiklah dan lalu mengirim pukulan Cit siang koen. Begitu lekas tinjuku menyentuh dadanya, dada itu agak melesak dan ia maju setindak.”

Boe Kie menepuk-nepuk tangan. “Heran sungguh !” katanya sambil tertawa. “Kali ini, sebaiknya dari pada mundur, Hweeshio tua itu maju ke depan.”

“Toako, bukankah Kong kian Taysoe menyambut pukulanmu dengan ilmu Kim kong Poet hoay tee (ilmu malaikat untuk membebaskan tubuh manusia dari sega1a kerusakan) dari Siauw lim pay?” tanya Coei San.

Cia Soen mengangguk beberapa ka1i. “Ngotee, kau ternyata mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang luas sekali,” ia memuji. “Memang benar Kong kian Taysoe menggunakan ilmu itu. Kali ini, berbeda dari pada waktu menyambut tiga pukulan yang pertama, dari dalam tubuhnya keluar tenaga berbalik, sehingga isi perutku tergoncang hebat. Aku mengerti, bahwa Kong kian Taysoe sudah terpaksa mengeluarkan ilmu tersebut. Jika tidak, ia tak akan dapat menyambut pukulan Cit siang koan. Sudah lama kudengar, bahwa Kim kong Poet hoey tee dari Siauw lim pay adalah salah satu dari lima ilmu ajaib yang tertinggi dalam rimba persilatan. Sekarang baru aku tahu ilmu itu sungguh-sungguh hebat. Aku segera mengirim tinju kelima dengan menggunakan tenaga im-jioe (Tenaga lembek). Ia menyambutnya dengan maju lagi setindak dan aku sendiri lalu mengerahkan Lweekang untuk mempunahkan tenaga im-jioe yang berbalik menghantam diriku…”

“Giehoe,” Boe Kie memutus pula perkataan ayah angkatnva,” pendeta tua itu telah melanggar janji. Ia berjanji tidak akan membalas, tapi mengapa ia menghantam balik tenaga Im-jioemu?”

Cia Soen mengusap-usap kepala bocah itu dan berkata pula dengan suara halus, “Sesudah aku mengirim tinju kelima, Kong kian Taysoe berkata: Cia Kiesoe, aku tak nyana Cit siang koen sedemikian hebat. Jika aku tidak mengerahkan Lweekang untuk menolak tenagamu, aku tak akan dapat bertahan.”

“Tidak apa, kataku. Bahwa Taysoe sudah tidak membalas dengan pukulan, aku sudah merasa amat sangat berterima kasih.”

“Bagaikan hujan angin aku segera mengirim pukulan keenam, ketujuh, kedelapan dan kesembilan. Kong kian Taysoe sungguh-sungguh lihai. Ia menyambut setiap pukulan dengan sikap tenang dan apa yang paling mengherankan, ia dapat membedakan lebih dulu tenaga tenaga yang digunakan olehku.”

“Awas! teriakku seraya mengirim tinju yang ke sepuluh.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: