Kumpulan Cerita Silat

21/07/2008

Kisah Membunuh Naga (11)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — ceritasilat @ 1:52 am

Kisah Membunuh Naga (11)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Sesudah Coei San, si nonapun berdoa perlahan, “Aku mohon supaya Langit melindungi kami berdua, supaya dari satu ke lain penitisan kami bisa terus menerus menjadi suami-isteri.” Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula, “Andaikata di belakang hari kami bisa kembali di Tionggoan, tee coe akan mencuci hati dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dulu. Tee coe akan bertobat dan bersama-sama suamiku, tee coe akan berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan balk. Tee coe tak akan membunuh manusia lagi secara sembarangan. Jika tee coe melanggar sumpah ini, biarlah Langit dan manusia menghukum tee coe.”

Coei San girang tak kepalang. Ia tak pernah menduga, bahwa tanpa diminta, sang isteri telah bertobat dan bersumpah untuk menjadi manusia balk. Sesudah selesai dengan upacara pernikahan itu, sambil saling mencekal tangan dan duduk berendeng di atas es. Pakaian mereka basah dan hawa dingin menyerang dengan hebat. Akan tetapi, hati mereka hangat bagaikan hangatnya musim semi yang penuh kebahagiaan dan keindahan.

Lewat beberapa lama, baru mereka ingat, bahwa sudah sehari suntuk, perut mereka belum diisi. Kedua senjata Coei San sudah hilang di laut, tapi So So masih mempunyai pedang yang tergantung di pinggangnya. Coei San lalu menghunus pedang isterinya, membungkus ujung pedang dengan kulit beruang dan kemudian, sambil mengerahkan Lwee kang sampai di jeriji tangan, ia menekuknya sehingga ujung pedang itu menjadi bengkok seperti gaetan. Tak lama kemudian, dengan menggunakan gaetan itu, ia berhasil menangkap seekor ikan yang cukup besar. Ikan di wilayah Kutub Utara gemuk dan banyak minyaknya, sehingga biarpun baunya sangat amis dapat menambahkan tenaga dan menghangatkan badan.

Demikianlah siang-malam, gunung es itu terapung-apung ke jurusan utara, Mereka mengerti, bahwa kemungkinin pulang ke Tionggoan hampir tidak ada, tapi hati mereka tenang dan damai. Ketika itu, siang sudah berubah sangat panjang, sedang malam sangat pendek dan mereka tak dapat mengbitung hari lagi.

Pada suatu hari, mendadak mereka lihat mengepulnya asap hitam di sebelah utara. So So yang melihat lebih dulu, mencelos hatinya dan paras mukanya berubah pucat. “Ngo ko!” teriaknya sambil, menuding asap hitam itu.

“Apa di situ terdapat manusia?” tanya sang suami dengan rasa kaget tercampur girang. Tapi biarpun sudah tertampak dalam pandangan mata, tempat mana asap itu keluar masih terpisah jauh sekali, Sesudah lewat lagi satu hari, asap itu jadi makin besar dan makin tinggi kelihatannya dan di antara asap terlihat sinar api.

“Siapa itu?” tanya So So.

Sang suami tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.

“Ngoko, ajal kita sudah hampir tiba,” kata si isteri dengan suara gemetar. “Itu pintu nereka.”

Coei San terkejut, tapi ia segera membujuk, “Mungkin juga di sana ada manusia yang sedang membakar hutan.”

“Kalau membakar hutan, bagaimana asap dan apinya begitu tinggi?” tanya sang isteri.

“So So, sesudah tiba di sini, biarlah kita menyerahkan segala apa kepada Langit,” kata Coei San. “Kalau Langit tidak mau kita mati kedinginan dan ingin kita mati terbakar, biarlah kita menerima nasib.”

Dengan perlahan tapi tentu, gunung es itu terus menuju ke arah asap dan api. Coei San dan So So yang tidak mengerti sebab musababnya, merasa sangat heran dan mereka hanya menganggap, bahwa apa yang bakal terjadi, baik kecelakaan maupun keselamatan, adalah takdir.

Apa yang dilihat mereka sebenarnya adalah sebuah gunung berapi yang bekerja, sehingga sebagai akibat, air laut di seputar gunung itu menjadi hangat dan air yang hangat mengalir ke jurusan selatan. Dengan demikian, secara wajar, air yarg dingin atau es terbetot ke arah utara.
Sebagaimana diketahui, angin dan gelombang yang saling terjadi di tengah lautan adalah karena perbedaan antara air dingin dan panas dalam hawa dan air.

Sesudah terapung-apung lagi sehari semalam, gunung es itu tiba di kaki gunung.

Ternyata gunung berapi itu berada di atas sebuah pulau yang sangat besar. Di sebelah barat terdapat sebuah puncak dengan batu yang bentuk dan macamnya sangat aneh. Selama berkelana di daerah Tionggoan, Coei San sudah kenyang mendaki gunung-gunung yang kenamaan, akan tetapi, belum pernah ia melihat puncak yang begitu luar biasa. Ia mengawasi itu semua dengan mata membelalak dan kegirangan meluap-luap di dalam hatinya. Ia tak tahu bahwa puncak itu adalah tumpukan lahar yang disemprotkan gunung berapi selama ratusan atau ribuan tahun.

Di sebelah timur terdapat tanah datar yang sangat luas. Tanah datar itupun muncul di situ karena bekerjanya gunung berapi. Abu yang disemprotkan oleh gunung itu jatuh ke dalam laut dan lama-lama, mungkin dalam tempo ribuan tahun, air laut teruruk dan muncullah tanah datar yang sangat luas.

Biarpun tempat itu sudah mendekati Kutub Utara, tapi karena gunung berapi masih bekerja, maka hawa di pulau itu menyerupai hawa di gunung Tiang pek san atau daerah Hek Liong kang. Dipuncak-puncak yang tinggi terlihat salju, tapi di tempat yang rendah, pohon-pohon menghijau, pohon siong, pek dan lain-lain yang tidak terdapat diwilayah Tionggoan.

Sesudah memandang beberapa lama dengan mata tidak berkesip, tiba-tiba So So melompat dan memeluk suaminya. “Ngoko! Kita sudah tiba di tempat dewa !” bisiknya dengan suara serak.

Kegirangan Coei San pun sukar dilukiskan. Ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata dan hanya balas memeluk isterinya yang tercinta.

Lama mereka saling peluk dengan disaksikan oloh sejumlah menjangan yang sedang makan rumput dengan tenang di atas pulau itu. Kecuali asap api yang agak menakuti, segala apa yang tertampak di situ adalah tenang, damai dan indah.

Mandadak terdengar teriakan So So, “Celaka ! Kita tak dapat mendarat!” Ternyata gunung es itu, yang terpukul dengan air yang hangat, mulai bergerak meninggalkan pulau.

Coei San pun tidak kurang kagetnya. Buru-buru mengerahkan Lweekang dan menghantam es yang lantas saja somplak sebesar balok. Sesudah itu, sambil memeluk balokan es itu, mereka melompat ke dalam air dan dengan menggunakan tangan dan kaki sebagai penggayu, mereka akhirnya mendarat di pulau itu.

Melihat kedatangen manusia, manjangan-menjangan yang sedang makan rumput mendongak dan mengawasi, tapi mereka tidak memperlihatkan rasa takut sedikit jua. Perlahan-lahan So So mendekati, menepuk-nepuk punggung salah seekor. “Kalau di sini terdapat juga beberapa ekor burung ho, aku pasti akan mengatakan, bahwa tempat ini adalah tempatnya dewa Lam kek Sian ong,” katanya seraya tertawa.

Karena letih, mereka segera merebahkan diri di atas lapangan rumput dan pulas nyenyak untuk beherapa jam lamanya. Waktu tersadar, matahari masih belum menyelam. “Sekarang mari kita menyelidiki pulau ini untuk mendapat tahu apa ada manusia atau binatang buas,” kata sang suami.

“Aku rasa tak mungkin ada binatang buas,” kata So So.

“Lihat saja menjangan-menjangan itu yang hidup damai dan tenteram.”

So So adalah seorang wanita yang sangat memperhatikan dandanannya. Biarpun menghadapi bahaya di atas gunung es, ia tetap berpakaian rapi.

Sekarang sudah berada di atas bumi, begitu tersadar, ia membereskan pakaian dan rambutnya dan kemudian membantu sang suami menyisir rambut. Sesudah itu, barulah mereka berangkat untuk menyelidiki pulau tersebut.

Untuk menghadapi segala kemungkinan, So So mencekal pedangnya yang sudah bengkok, sedang Coei San sendiri lalu mematahkan cabang pohon untuk dijadikan semacam tongkat. Dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan, mereka berlari-lari dari selatan ke utara yang panjangnya lebib dari duapuluh lie. Apa yang dilihat mereka di sepanjang jalan, selain pohon-pohon yang setinggi kate, adalah binatang kecil, burung dan pohon-pohon bunga yang kebanyakan tidak dikenal mereka.

Belakangan, sesudah melewati hutan besar, dari jauh mereka lihat sebuah gunung batu dan dikaki gunung itu terdapat sebuah gua. “Ah! Sungguh bagus tempat ini !” teriak sang isteri sambi1 lari-lari.

“Hati hati!” teriak Coei San.

Belum rapat mulutnya, dari dalam gua mendadak berkelebat satu bayangan dan seekor beruang putih yang sangat besar menerjang keluar. beruang itu yang panjang bulunya seolah-olah seekor kerbau.

Dengan kaget So So melompat mundur. beruang itu berdiri di atas kedua kakinya seperti manusia dan menghantam kepala So So dengan satu telapak kakinya. Nyonya itu menyambut dengan sabetan pedang, tapi apa mau, karena pedang bengkok itu sudah jadi lebih pendek, sabetannya meleset. Baru saja ia mau membabat lagi, binatang itu sudah menubruk dan menghantam senjatanya yang lantas saja jatuh di atas tanah.

“So So, mundur!” teriak Coei San seraya melompat dan menotok lutut beruang itu dengan tongkatnya. Cabang kayu itu patah, tapi tulang kaki binatang itu hancur dan dia mengeluarkan jeritan hebat dan menyeramkan.

Buru-buru So So menjemput pedangnya untuk memberi bantuan.

“Lekas lontarkan pedang itu ke udara!” teriak Coei San. Sang isteri terkejut, tapi ia menurut apa yang diperintahkan suaminya.

Dengan menotol tanah dengan kakinya, Coei San melompat tinggi dengan menggunakan ilmu Tee in ciong dan sekali menjambret, ia menangkap pedang itu. Dengan tangan kiri mencekal tongkat pendek, ia sekarang seperti juga ber senjatakan Gin kauw dan Poan kian pit. Ia mengangkat tangan kanannya dan menyabet dari atas ke bawah dengan gerakan huruf “Hong” (tajam). Pukulan tersebut disertai dengan Lweekang yang sangat dahsyat dan tongkat pendek itu amblas tujuh delapan dim dikepala binatang itu yang sesudah ngamuk dan menggeram hebat, lantas saja rubuh tanpa berkutik lagi.

So So menepuk-nepuk tangan sambil tertawa. “Indah sekali ilmu ringan badan itu!” teriaknya. “Hebat sungguh totokan itu!”

Tapi, baru babis ia berteriak begitu tiba-tiha Coei San berseru, “Awas! Lari!”

Mendengar teriakan suaminya, dengan cepat ia melompat ke depan. Begitu menengok ke belakang, ia terkesiap karena dibelakangnya sudah berbaris tujuh ekor beruang putih yang memperlihatkan sikap menakutkan.

Coei San mengerti bahwa mereka berdua tak akan dapat melawan tujuh binatang buas itu. “Lari!” bisiknya dan mereka lantas saja kabur dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.

Meskipun badannya besar, binatang-binatang itu bisa lari cepat sekali, tapi kecepatan mereka masih kalah dengan ilmu ringan badan Coei San dan So So, sehingga sesudah mengubar beberapa lama, mereka ketinggalan agak jauh. Tapi mereka terus mengejar dari belakang.

“Jalan satu-satunya lari ke air,” kata Coei San “Apa beruang tidak bisa berenang?” tanyanya.

“Entahlah,” jawab So So sambil menggelengkan kepala.

“Harap saja mereka tidak bisa berenang.”

Sambil bicara mereka lari terus secepat-cepatnya.

“Celaka!” mendadak So So mengeluh.

“Mengapa?” tanya Coei San.

“Apa kau tahu apa makanan beruang putih?” sang isteri balas menanya. “Menurut katanya seorang jurumudi, beruang makan madu tawon dan ikan.”

“Makan ikan” menegas Coei San sambil menghentikan tindakannya. “Kalau benar binatang itu makan ikan, mereka pasti bisa berenang.”

Sebelum mereka dapat berdamai terlebih jauh, sekonyong-konyong So So berteriak, “Ih! Mengapa mereka berada di depan kita ?”

Dengan hati berdebar-debar mereka mengawasi enam ekor beruang yang mendatangi dari sebelah depan.

“Bukan. Mereka bukan beruang yang tadi,” kata Coei San. “Kita sekarang dicegat dari depan dan dari belakang,” Sehabis berkata begitu, buru buru ia melompat ke atas satu pohon siong yang sangat besar.

Sesudah berada di atas, ia menggaetkan kedua kakinya di cabang pohon, sehingga badannya menggelantung ke bawah dan kedua tangannya menyambut-tangan sang isteri yang turut melompat ke atas. “Aku harap saja mereka tak dapat memanjat pohon,” kata So So sesudah mereka duduk di satu cabang.

“Biarpun mereka, bisa manjat kita tak usah kuatir,” kata sang suami. “Maju satu, kita binasakan satu. Asal saja tidak dikurung, kita masih dapat melayani.”

Sesaat kemudian, enam ekor beruang yang datang dari depan dan tujuh ekor dari belakang sudah berkumpul di bawah pohon. Mereka mendongak dan menggeram hebat sambil memperlihat gigi mereka.

Coei San mematahkan sebatang cabang kecil yang lain digunakan untuk menimpuk mata seekor beruang.

Timpukan itu mengenakan tepat pada sasarannya dan sambil menggeram serta melompat-lompat karena sakitnya, binatang itu menyeruduk pangkal pohon dengan kepalanya. Melihat hasil pertama, Coei San segera mengulangi perbuatannya. Tapi kawanan binatang itu ternyata pintar sekali dan mereka semua menundukkan kepala dan mulai mengeragoti pohon. Oleh karena begitu, Coei San hanya dapat menimpuk punggung mereka yang kulitnya tebal, sehingga serangan itu tidak dirasakan sama sekali. Tak lama kemudian, pangkal pohon itu sudah somplak sebagian dan jika didorong beramai-ramai, sudah pasti akan roboh.

Coei San menghela napas. “Aku tak nyana, sesudah berhasil menyelamatkan diri dari lautan, kita bakal jadi makanan kawanan beruang,” katanya.

Dengan jantung memukul keras, So So mengawasi satu pohon siong yang terpisah kira-kira tujuh delapan tombak. “Ngoko,” bisiknya. “Dengan ilmu mengentengkan badan, sekali lompat kau bisa turun ke bawah dan dengan sekali lompat lagi, kau bisa naik ke pohon itu.”

Sang suamipun sudah lihat kemungkinan itu. Memang, kalau seorang diri, ia dapat berbuat begitu. Tapi dengan membawa isterinya, mereka tentu akan tercegat di tengah jalan. Maka itu sambil menggeleankan kepala, ia berkata, “Tidak dapat. Tak dapat aku berbuat begitu.”

“Ngoko, tak usah kau pikiri aku,” kata pula sang istiri. “Tidak perlu kita mati berdua-dua.”

“Kita sudah bersumpah, bahwa Langit di atas bumi dibawah, kita tak akan berpisahan untuk selama-lamanya.” jawab sang suami. “Mana dapat aku meninggalkan kau dengan begitu saja ?”

Bukan main rasa terharunya nyonya itu, sehingga air matanya lantas saja berlinang-linang. Ia ingin coba membujuk lagi, tapi mulutnya seearti terkancing.

Sesaat itu, tiba-tiba pohon bergoyang-goyang, karena didesak dengan berbareng oleh kawanan beruang itu.

Hati So So mencelos, sehingga tanpa merasa, ia mengeluarkan teriakan perlanan. Ia tahu. beberapa detik lagi, pohon itu pasti akan rubuh.

Pada saat yang sangat berbahaya, di sebelah kejauhan sekonyong-konyong terdengar suara yang sangat tajam. Suara itu tidak begitu keras, tapi aneh sekali, seperti bunyi burung malam, seperti bunyi khim, seperti angin meniup daun bambu dan seperti bunyi genta.

Begitu mendengar suara itu, ke tiga belas beruang berhenti serentak dalam usahanya untuk merubuhkan pohon dan berdiri diam sambil memasang kuping. Dari sikap mereka, seolah-olah suara itu adalah suara yarg paling menakuti di dalam dunia. Apa yang paling mengherankan lagi, sesaat kemudian, seekor demi seekor menundukkan kepala dan mendekam di atas tanah tanpa bergerak.

Walaupun tak tahu apa artinya itu, Coei San dan So So girang tak kepalang dan harapan besar muncul dalam hati mereka. “Tolong! Tolong!” jerit So So. “Tolong…! beruang mau mencelakakan manusia.”

Jeritan itu disambut dengan suara yang tadi, yang mendatangi dengan kecepatan luar biasa, lebih cepat dari terbangnya burung.

Sesaat kemudian, di depan mereka berkelebat satu bayangan merah, seolah-olah sebuah bola api yang menyambar dari satu pohon di sebelah depan dan kemudian hinggap di dahan pohon di mana Coei San dan So So sedang menyembunyikan diri.

Sekarang baru mereka bisa melihat nyata. Yang hinggap di dahan itu adalah seekor kera yang bulu nya merah, tingginya kira-kira tiga kaki, mukanya putih seperti batu giok, sedang kedua matanya yang berkilat-kilat mengeluarkan sinar keemas-emasan.

Bahwa binatang yang datang ke situ adalah seekor kera yang begitu menarik, tidak diduga-duga mereka. Waktu berteriak untuk meminta pertolongan, So So menaksir, bahwa binatang yang mengeluarkan suara begitu adalah binatang buas yang sangat menakuti.

Tapi karena sedang menghadapi bahaya besar, mau tidak mau, ia berteriak juga. Maka itu, dengan kegirangan yang meluap-luap, ia segera mengangsurkan tangannya ke arah kera itu.

Biarpun belum pernah melihat manusia kera itu ternyata pintar luar biasa. Ia rupanya mengerti maksud persahabatan itu dan segera mengulur satu tangannya dan menyentuh tangan si nyonya.

Sambil menuding kawanan beruang itu, So So berkata, “Mereka mau mencelakakan kami. Apa kau dapat menolong?”

Melihat gerakan So So, seraya memekik kera itu melompat turun dan menghampiri salah seekor beruang. Dengan sekali menggerakkan tangan, jari-jarinya amblas ke dalam kepala beruang itu dan dilain saat, tangannya sudah memegang otak beruang. Ia melompat naik pula dan dengan sikap hormat, mengangsurkan otak beruang itu kepada So So.

Coei San dan isterinya kaget bukan main. Tenaga binatang yang sehebat itu sungguh-sungguh belum pernah didengar mereka. So So sebenarnya tidak sanggup menelan otak mentah itu. Tapi sebab tidak mau membangkitkan kegusaran tuan penolong itu, dengan apa boleh buat, ia menyambutinya. Ia menggigit sebagian otak itu, dan menyerahkan sisanya kepada Coei San.

Di luar dugaan, otak beruang itu lezat luar biasa, lebih enak dari makanan apapun jua yang pernah dimakannya. Sambil bersenyum, ia lalu mengambilnya kembali dari tangan suaminya dan menghabiskan semuanya.

“Terima kasih, terima kasih,” katanya sambil memanggut-manggutkan kepala.

Di lain saa,t kera itu sudah melompat turun lagi dan mengambil pula dua otak beruang yang lalu dimakannya. Sungguh mengherankan, kawanan beruang itu bukan saja tidak berani melawan, tapi juga tidak berani lari. Mereka terus mendekam di atas tanah, seperti orang yang sedang menerima hukuman.

So So tertawa nyaring. “Mampuskan semua beruang itu,” katanya. “Kalau kau tidak keburu datang, kami berdua tentu sudah masuk ke dalam perut mereka.”

Sambil memekik kera itu melompat turun lagi dan dalam sekejap ia sudah membinasakan semua beruang itu.

Coei San dan So so lantas saja turut melompat turun. Melihat tiga belas bangkai binatang itu, Coei San merasa tidak tega dan ia berkata dengan suara menyesal, “Sebenarnya tak usah membinasakan mereka semua. Cukup jika mereka diusir pergi.”

Mendengar perkataan suaminya, So So yang sedang mencekal lengan si kera agak terkejut. “Ngoko tentu mencela aku,” katanya di dalam hati. “Ya…aku harus berusaha untuk mengubah adatku yang kejam.” Tapi biarpun hatinya menyesal, ia tertawa seraya berkata, “Hm…sekarang Ngoko merasa kasihan terhadap biatang-binatang buas itu. Kalau saudara kera tidak datang menolong, apakah beruang-beruang itu akan menaruh belas kasihan terhadap kita?”

“Kalau kita sama kejamnya seperti binatang, bukankah kita tiada beda seperti binatang?” kata sang suami.

“Binatangpun ada juga yang baik,” kata So So sambil tertawa. “Lihatlah saudara kera ini. Kepandaiannya lebih tinggi dan rupanya lebih tampan daripada kau.”

Coei San tertawa terbahak-bahak. “Ai ya?” serunya. “Kau membuat aku cemburu.”

Sesudah terlolos dari lubang jarum, mereka bergembira sekali dan beromong-omong dengan tertawa-tawa. Kera merah itupun tidak kurang gembiranya dan dia melompat-lompat kian kemari.

“Kawanan beruang itu mungkin mempunyai anak, coba kita tengok,” kata Coei San.

Dengan So So menutun kera, mereka lalu masuk ke dalam gua. Sesudah berjalan-jalan kira-kira sembilan tombak, di tengah-tengah gua itu terbuka sebuah lubang, sehingga sinar terang menyorot masuk kedalam. Hanya sayang, gua yang sebenarnya sangat nyaman itu berbau busuk sebab penuh dengan kotoran dan air kencing beruang. “Kalau tidak berbau busuk, tempat ini cocok sekali untuk menjadi tempat meneduh kita,” kata So So sambil menekap hidung.

“Kita dapat memnbersihkannya,” kata sang suami.

“Sesudah lewat sepuluh hari atau paling lama setengah bulan, kurasa bau itu akan hilang sendirinya”

So So mengawasi Coei San dengan hati girang tercampur duka, karena ia ingat, bahwa mulai hari itu, ia akan berdiam di pulau tersebut bersama sama Coei San untuk selama-lamanya.

Sementara itu, Coei San sudah mematahkan cabang-cabang poloh yang lalu dibuat menjadi sebuah sapu. Dengan dibantu oleh isterinya, ia lalu menyapu kotoran beruang.

Dengan gembira si kera coba membantu, tapi biarpun pintar, kera tetap kera dan sebaliknya daripada membantu, ia mengacau pekerjaan orang. Karena mengingat budinya, Coei San dan So So membiarkan ia mengunjuk kenakalannya. Sesudah bekerja berat, gua itu akhirnya bersih, tapi bau busuknya belum mau menghilang juga.

“Alangkah baiknya jika kita dapat mencuci dengan air,” kata So So. “Hanya sayang kita tak punya tahang.”

Sesudah memikir sejenak, Coei San berkata, “Ada jalan,” buru-buru ia mendaki gunung dan mengambil beberapa balok es yang lalu ditaruh dibatu-batu yang agak tinggi dalam gua itu.

“Ngoko, lihai sungguh otakmu!” memuji sang isteri sambil menepuk-nepuk tangan.

Tak lama kemudian, balokan es itu mulai melumer dan airnya mangalir ke bawah, sehingga gua itu seolah-olah disiram.

Sedang suaminya mencuci gua, dengan menggunakan pedang bengkok, So So memotong daging beruang yang kemudian ditumpuk menjadi satu. Walaupun di pulau itu terdapat gunung berapi tapi karena berada dalam wilayah Kutub Utara, maka hawanya masih sangat dingin. Maka itu, sesudah diuruk dengan potongan-potongan es, daging itu rasanya tak akan rusak dalam tempo lama.

Sesudah selesai bekerja, So So menghela napas seraya berkata, “Manusia selalu merasa tidak puas. Jika sekarang kita dapat menyalakan api dan membakar telapak kaki beruang, kita akan dapat mencicipi makanan yang sungguh luar biasa.”

(Telapak kaki beruang semenjak jaman purba sudah diakui sebagai salah satu makanan yang paling enak).

“Api ada, hanya terlalu besar,” kata Coei San sambil mengawasi asap yang mengepul dari gunung berapi. “Perlahan-lahan kita harus berdaya untuk mengambil api itu.”

Malam itu mereka makan otak beruang dan tidur di atas pohon.

Pada esokan paginya, baru saja membuka mata, So So sudah berteriak “Aduh! Wangi sungguh !” Ia melompat turun dari pohon dan mendapat tahu, bahwa bau wangi itu datang dari dalam gua.

Bersama suaminya, ia berlari-lari ke dalam gua, di mana terdapat tumpukan-tumpukan bunga yang tengah dilontarkan kian kemari oleh si kera sambil melompat-lompat, So So yang sangat suka akan bunga jadi girang bukan main dan mengawasi lagak kera itu sambil menepuk-nepuk tangan.

Coei San. “Aku hendak bicarakan serupa soal denganmu.”

Melihat paras suaminya yang bersungguh-sungguh ia agak terkejut. “Ada apa?” tanyanya.

“Aku ingin berunding bagaimana kita bisa mendapatkan api.” jawabnya,

“Ah, orang edan kau!” bentak sang isteri seraya tertawa . “Kukira ada urusan penting. Ambil api! Aku setuju. Lekas beritahukan rencanamu.”

“Di mulut gunung berapi, hawanya luar biasa panas dan kita tak akan dapat mendekatinya,” menerangkan Coei San. “Maka itu menurut pendapatku, jalan satu-satunya ialah membuat tambang yang panjang dari kulit pohon, kemudian menjemur tambang itu dan…”

“Bagus!” memutus sang isteri. “Kemudian mengikat sebutir batu di ujung tambang, melontarkan tambang itu ke mulut gunung barapi dan menariknya kembali sesudah ujung tambang terbakar. Bukankah begitu maksudmu?”

Coei San mengangguk seraya memuji kepintaran isterinya.

Karena ingin sekali makan daging matang, tanpa menyia-nyiakan tempo lagi, mereka segera bekerja. Selang dua hari, mereka sudah membuat tambang yang panjangnya seratus tombak lebih dan yang lalu dijemur di bawah sinar matahari. Pada hari ke empat, dengan membawa tambang itu, mereka lalu pergi ke gunung berapi.

Walaupun kelihatannya dekat, gunung itu terpisah empat puluh li lebih dari tempat mereka. Makin dekat dengan gunung itu, hawa makin panas. Keringat mengucur dari tubuh mereka dan diseputar itu tidak terdapat pohon-pohonan lagi. Apa yang mereka menemuinya hanyalah batu-batu yang gundul.

Sesudah berjalan lagi beberapa lama, hawa panas jadi makin hebat. Melihat muka isterinya yang merah kepanasan, Coei Scan yang menggendong jadi tak merasa tega. “Kau tunggu di sini, biar aku saja yang pergi ke situ,” katanya.

“Jangan rewel!” bentak sang isteri. “Kalau kau banyak bicara, aku tak akan meladeni lagi. Paling banyak seumur hidup kita tidak mengenal api lagi, seumur hidup makan makanan mentah.”

Coei San tersenyum dan mereka terus mendaki gunung itu. Sesudah berjalan lagi kurang lebih satu li, napas mereka tersengal-sengal dan hampir tak dapat bertahan lagi.

Coei San memiliki Lweekang yang sangat tinggi, tapi iapun merasa matanya ber kunang-kunang dan kupingnya berbunyi. “Sudahlah,” katanya. “Dari sini saja kita melontar kan tambang ini. Jika tidak menyala. hem…kita…”

So So tertawa dan menyambungi, “Kita jadi suami-isteri orang hutan…” Belum habis perkataannya, badannya bergoyang-goyang dan ia pasti rubuh jika tidak buru-buru mencekal pundak suaminya.

Dari atas tanah Coei San menjemput sebutir batu yang lalu diikatkan ke ujung tambang. Sesudah itu, sambil berlari-lari dan mengerahkan Lweekang, ia melontarkan tambang dengan sekuat tenaga.

Bagaikan seekor ular, tambang itu terbang di tengah udara, kemudian jatuh di permukaan bumi. Akan tetapi, sebab jarak dengan mulut gunung yang mengeluarkan api, masih terlalu jaub, maka sesudah mereka menunggu beberapa lama, tambang itu belum juga menyala.

Sementara itu, mereka merasakan hawa panas semakin hebat, sehingga mata mereka seolah-olah mengeluarkan api. Coei San menghela napas seraya berkata, “Orang-orang dulu membuat api dengan menggosok kayu atau memukul batu. Sudahlah! Menggunakan tambang tidak berhasil. Biarlah kita cari lain jalan saja.”

Dengan rasa kecewa, So So manggutkan kepalanya.

Selagi ia mau memanggil si kera merah, yang selalu mengikuti ke manapun juga mereka pergi, tiba-tiba ia lihat binatang itu menjemput sebutir batu dan dengan menyontoh cara Coei San, dia berlari-lari, kemudian melontarkan batu itu. Dia gembira bukan main dan kelihatannya tak takut akan hawa panas.

Melihat begitu, tiba-tiba So So mendapat satu pikiran. “Eh, kera itu kelihatannya tidak takut api.” katanya di dalam hati. Ia segera bersiul dan berkata, “Saudara kera, apakah kau dapat menolong untuk membawa ujung tambang ke api dan menyalakannya ?” Sambil berkata begitu, ia memberi isyarat dengan tangannya.

Kera itu ternyata pintar luar biasa. Baru saja So So memberi isyarat dua tiga kali, ia sudah mengerti apa maksudnya dan seraya berbunyi keras, dengan belasan kali lompatan saja, dia sudah melalui seratus tombak lebih dan sesudah menjemput ujung tambang, dia berlari k emulut gunung bagaikan kilat cepatnya.

Melihat begitu, Coei San dan So So merasa menyesal, karena mereka kuatir dia tercemplung di dalam lubang api. “Kauw jie! Kauw jie!” teriak So So. “Balik! Hayo balik!”

Baru saja ia berteriak begitu, jauh-jauh terlihat mengepulnya asap di ujung tambang yang kemudian ditarik dengan cepat oleh si kera dan beberapa saat kemudian ujung tambang yang menyala sudah berada di hadapan Coei San dan So So. Bukan main girangnya mereka, So So melompat dsn memeluk binatang itu, sedang Coai San lalu mengambil cabang-cabang kayu kering yang diikat menjadi satu sebagai semacam obor dan kemudian menyulutnya dengan api ditambang itu.

Apa yang sangat mengherankan bagi mereka ialah, jangankan badannya sedangkan bulu si kera sedikitpun tidak berubah.

Dengan hati gembira, kedua suami-isteri itu segera kembali kegua beruang bersama-sama sikera merah.

Mereka segera mengumpulkan cabang-cabang kayu dan rumput kering untuk membuat sebuah perapian. di dalam dunia, dapat dikatakan semua binatang sangat takuti api. Tapi si kera merah adalah lain dari yang lain.

Sambil mengeluarkan bunyi yang menggelikan dan dengan lagak nakal, ia bergulingan beberapa kali di atas perapian yang berkobar-kobar.

Mendadak Coei San ingat apa yang pernah dituturkan oleh gurunya dan tanpa merasa, ia mengeluarkan seruan “ah !”

“Ada apa ?” tanya sang isteri.

“Soehoe pernah memberitahukan aku, bahwa di dalam dunia hidup semacam tikus yang dinamakan tikus api,” jawabnya. “Tikus itu dapat masuk ke dalam api tanpa terbakar bulunya yang panjangnya satu dim lebih, dapat dibuat menjadi semacam kain yang diberi nama kain asbes. Kalau kain itu kotor, cara mencucinya adalah memasukannya kedalam api dan begitu dikeluarkan dari api, warnanya sudah putih kembali seperti sediakala. Menurut pendapatku, kera itu tidak banyak berbeda dengan tikus yang dituturkan Soehoe.”

So So tertawa. “Jika bulu Saudara Kauw jie rontok, aku akan membuat kain untukmu!” katanya. “Tapi paling sedikit kau harus berusia dua atau tiga ratus tahun.”

Sesudah mempunyai api, segala apa beres, mereka masak air, memasak daging dan membuat satu dua rupa masakan. Sedari perahu tenggelam, belum pernah mereka merasakan makanan matang. Sekarang secara tidak diduga-duga, mereka dapat makan telapak kaki beruang yang kesohor lezat dan dapatlah dibayangkan kegembiraan mereka. Si kera merah yang tidak makan lain kecuali otak beruang, pergi ke hutan untuk mencari buah-buahan.

Madam itu, sesudah makan kenyang, Coei San dan So So tidur di dalam gua di antara bau wangi dari berbagai macam bunga yang luar biasa.

Keesokan paginya, Coei San keluar dari gua dan dengan hati lapang ia memandang ketempat jauh.

Tiba-tiba ia melihat seorang yang bertubuh tinggi besar berdiri tegak di atas batu cadas di pinggir laut. Ia kaget bukan main, karena orang itu bukan lain dari pada Cia Soen! Sesudah mengalami penderitaan yang sangat hebat, ia dan isterinya mendarat di pulau yang indah itu. Tapi baru saja menikmati penghidupan bahagia dan tenteram beberapa hari, si siluman sudah muncul lagi.

Di lain saat, ia lihat Cia Soen jalan mendatangi dengan badan bergoyang-goyang. Ternyata, sesudah matanya buta, ia tidak dapat menangkap ikan atau membunuh beruang, sehingga sedari hari itu, ia tak pernah mengisi perut dan biarpun badannya kuat luar biasa, ia tak dapat mempertahankan diri lagi.

Sesudah berjalan belasan tombak, badannya kelihatan bergemetar dan rubuh di atas tanah.

Buru-buru Coei San kembali ke gua. Begitu melihat suaminya, So So bersenyum seraya berkata, “Ngo..” Ia tidak meneruskan perkataannya sebab melihat paras sang suami yang suram.

Sesudah berhadapan dengan isterinya, Coei San berkata dengan suara perlahan, “Si orang she Cia ada di sini!”

So So melompat bangun seperti orang dipagut ular. “Dia sudah lihat kau ?” bisiknya. Tapi saat itu juga ia ingat, bahwa Cia Soen sudah buta dan hatinya jadi lebih tenang. “Ngoko, kau tak usah takut,” katanya pula. “Masakan kita berdua, ditambah lagi dengan Kauw jie, tidak dapat melawan seorang buta?”

Coei San manggut-manggutkan kepalanya. “Dia rubuh pingsan karena kelaparan” katanya.

“Mari kita tengok,” kata sang isteri sambil merobek ujung bajunya kemudian dirobek lagi jadi empat potong kecil. Dua segera dimasukkan ke dalam kupingnya dan yang dua lagi diserahkan kepada suaminya. Dengan tangan kanan mencekal pedang dan tangan kiri menuntun si kera merah, ia segera mengikuti Coei San untuk menengok Cia Soen.

Sesudah berada dekat, Coei San berteriak, “Cia Cianpwee, apa kau mau makan?”

Dalam keadaan lupa ingat, Cia Soen mendengar teriakan itu dan pada paras mukanya lantas saja terlukis sinar harapan. Tapi di lain saat, ia mengenali, bahwa suara itu adalah suara Coei San dan paras mukanya lantas saja berubah menyeramkan. Selang beberapa lama, barulah ia mengangguk.

Coei San segera melontarkan sepotong daging seraya berteriak, “Sambutlah!”

Cia Soen bangun sambil menekan tanah dengan tangan kiri dan dengan pertolongan kupingnya yang sangat tajam, dengan tangan lainnya ia menangkap daging itu yang lalu dimakan perlahan-lahan.

Melihat seorang yang begitu gagah perkasa telah menjadi lemah, dalam hati Coei San lantas saja timbul perasaan kasihan. Tapi So So mempunyai pendapat lain. Ia sangat tidak sepakat dengan tindakan suaminya yang sudah memberi makanan kepada Cia Soen.

“Hmm! Sesudah kuat, mungkin dia akan membinasakan kita berdua,” katanya di dalam hati. Tapi karena sudah bersumpah untuk menjadi orang baik maka meskipun hatinya mendongkol, ia menutup mulut.

Sesudah makan sepotong daging itu, Cia Soen lantas saja pulas di atas tanah. Coei San segera menyalakan sebuah perapian di dekatnya untuk mengusir hawa dingin dan mengeringkan pakaian Cia Soen yang basah kuyup. Sampai lohor, barulan si buta sadar.

“Tempat apa ini?” tanyanya.

Melihat gerakan mulutnya, Coei San dan So So, yang menungguinya, segera mencabut satu sumbatan kuping untuk mulai bicara, tapi mereka sangat berwaspada dan siap sedia untuk menyumbat kuping jika terlihat gerakan yang luar biasa.

“Pulau ini adalah pulau yang tidak ada manusia.” jawab Coei San.

Cia Soen mengeluarkan suara di hidung. Beberapa saat kemudian, barulah ia berkata, “Kalau begitu kita tak akan bisa pulang.”

“Hal itu lebib baik kita menyerahkan saja kepada kebijaksanaan langit,” kata pula Coei San.

Mendadak Cia Soen meluap darahnya dan bagaikan kalap ia mulai mencaci langit. Sesudah kenyang memaki maki ia meraba-raba satu batu besar dan lalu duduk di atasnya. “Apa yang kamu ingin berbuat terhadapku ?” tanyanya.

Coei San melirik isterinya yang segera memberi isyarat, bahwa ia menyerahkan keputusan kepada sang suami.

Sesudah memikir sejenak, pemuda itu lalu berkata dengan suara nyaring, “Cia Cianpwee, kami berdua suami-isteri…”

“Hm…” Cia Soen memotong pembicaraan orang. “Kamu sudah menjadi suami-isteri?”

Paras muka, So So lantas saja bersemu dadu, sedang hatinya girang. “Dalam pernikahan kami, dapat dikatakan Cianpweelah yang menjadi comblang,” katanya seraya tertawa. “Untuk itu, kami harus menghaturkan terima kasih.”

Cia Soen kembali mengeluarkan suara di hidung.

“Baiklah. Apa yang kamu mau berbuat terhadapku?” tanyanya pula.

“Cia Cianpwee,” kata Coei San. “Kami merasa sangat menyesal bahwa kami telah membutakan kedua matamu. Tapi, karena hal itu sudah terjadi, kami meminta maaf pun tiada gunanya. Jika kita ditakdirkan untuk berdiam di pulau ini seumur hidup dan tak bisa kembali lagi di Tionggoan maka satu-satunya yang dapat diperbuat kami ialah merawat Cianpwee seumur hidup.”

Cia Soen mengangguk. “Ya…begitu saja,” katanya.

“Kami berdua sangat mencintai satu sama lain dan akan hidup atau mati bersama-sama,” kata pula Coei San. “Jika penyakit Cianpwee kumat lagi dan mencelakakan salah seorang di antara kami, maka orang yang masih hidup sudah pasti tak akan mau hidup lebih lama lagi.”

” Kau ingin mengatakan, bahwa jika kalian berdua mati, akupun tak bisa hidup seorang diri di pulau ini. Bukankah begitu?” tanya Cia Soen

“Benar,” jawab Coei San.

“Kalau begitu, perlu apa kalian menyumbat kuping?” tanya pula Cia Soen.

Coei San dan So So saling mengawasi sambil bersenyum dan lalu mencabut potongan kain yang masih menyumbat kuping kiri mereka. Mereka merasa kagum bukan main, karena walaupun sudah tak dapat melihat, Cia Soen masih dapat mengetahui segala apa dengan kupingnya yang sangat tajam.

Sesudah beromong omong sedikit, Coei San lalu meminta orang tua itu memberi nama kepada pulau mereka. “Di pulau ini terdapat es yang ribuan tahun tak pernah melumer dan terdapat pula api yang laksaan tahun tak pernah padam.” kata Cia Soen. “Maka biarlah kita menamakannya pulau Pang hwee to saja.” Pang hwee to berarti Pulau es dan api.

Demikianlah, mulai waktu itu, tiga manusia dan seekor kera menjadi penghuni dari pulau terpencil itu.

Untuk keperluan hidup, Coei San dan So So bekerja keras. Mereka membuat piring mangkok dengan membakar tanah liat, membuat dapur dengan menumbuk tanah dan batu, membuat kursi meja dan lain-lain perabotan rumah tangga. Biarpun buatannya sangat kasar, alat-alat dan perabotan itu dapat memenuhi keperluan mereka. Saban-saban ada tempo yang luang, mereka menanam pohon-pohon bunga di sebelah kiri gua itu.

Cia Soen juga tidak pernah rewel dan hidup dengan tenteram. Setiap hari ia duduk termenung sambil mencekal To liong to. Ia rupanya terus mengasah otak untuk memecahkan rahasia yang bersembunyi dalam golok mustika itu. Mereka membujuk supaya ia jangan memutar otak lagi. “Aku pun mengerti bahwa andaikata aku dapat memecahkan rahasia ini, aku tak akan dapat berdiam di sebuah tempat yang terpencil dan tak punya harapan untuk bisa kembali ke Tionggoan,” jawabnya dengan suara getir. “Akan tetapi, karena aku tak punya kerjaan dan merasa sangat kesepian maka biarlah aku mengasah otak untuk menghilangkan tempo.” Mendengar jawaban yang sangat beralasan, mereka mengangguk dan tidak membujuk lagi.

Kira-kira setengah li dalam gua beruang, terdapat sebuah gua lain yang lebih kecil. Sesudah bekerja keras kurang lebih sepuluh hari, Coai San mengubah gua itu menjadi sebuah kamar yang kecil, yang lalu diserahkan kepada Cia Soen untuk dijadikan kamar tidurnya.

Beberapa bulan telah terlalu dengan cepatnya. Pada suatu hari, bersama si kera merah, Coei San dan So So pesiar ke sebelah utara pulau itu. Di luar dugaan mereka, pulau itu sangat panjang dan sesudah melalui seratus li lebih, mereka belum mencapai ujungnya.

Sesudah berjalan lagi beberapa lama, di sebelah depan menghadang sebuah hutan yang sangat besar. Mereka mendekati hutan itu, tapi baru saja Coei San ingin masuk, si kera merah berbunyi keras dan memperlihatkan sikap ketakutan. So So jadi kuatir dan berkata, “Ngoko, kau tak boleh masuk, Kauw jie kelihatannya sangat ketakutan.”

Coei San merasa heran tercampur kuatir, karena si isteri yang biasanya sangat bergembira jika menemui sesuatu yang luar biasa, pada waktu waktu belakangan sangat lesu kelihatannya. “So So, mengapa kau?” tanyanya. “Apa badanmu kurang enak.”

Ditanya begitu, So So kelihatannya kemalu-maluan, sehingga paras mukanya berubah merah. “Tidak apa-apa,” jawabnya dengan suara perlahan.

Sang suami jadi makin heran dan terus mendesak. Akhirnya, sambil menunduk ia berkata dengan suara perlahan, “Langit rupanya tahu, bahwa kita terlalu kesepian dan akan mengirim seorang manusia lain datang ke pulau ini.”

Coei San terkesiap dan dilain saat, kegirangannya meluap-luap. “Kita akan punya anak?” tanyanya.

“Sts! Perlahan sedikit!” bentak si isteri, tapi di lain saat ia tertawa geli karena baru ia ingat bahwa disekitar hutan itu tiada lain manusia.

Siang-malam terbang bagaikan anak panah yang melesat dari busurnya. Cuaca berubah agi, siang makin pendek dan malam makin panjang, sedang hawa udarapun makin dingin.

Sesudah hamil, So So gampang capai, tapi ia tetap melakukan pekerjaan sebari-hari seperti masak, menambal pakaian dan menyapu lantai.

Malam itu ia sudah hamil hampir sepuluh bulan. Sesudah menyalakan perapian di dalam gua, kedua suami-isteri lalu duduk beromong-omong. “Ngoko, coba kau tebak, apa anak kita lelaki atau perempuan?” kata So So.

“Perempuan seperti kau, lelaki seperti aku, bagiku sama saja.” jawab sang suami.

“Aku lebih suka anak lelaki.” kata pula So So. “Coba kau pilih satu nama untuknya.”

Coei San hanya mengeluarkan suara “hmmm” dan tidak menjawab perkataan isterinya.

“Ngoko, apa sedang dipikir olehmu?” tanya pula sang isteri. “Dalam beberapa hari ini kau kelihatannya agak bingung.”

Coei San bersenyum. “Tak apa-apa, mungkin karena kegirangan bakal menjadi ayah, aku kelihatannya tolol,” jawabnya.

Tapi nyonya itu yang sangat pintar tak dapat diakali. Ia sudah melihat bahwa pada mata suaminya terdapat sinar kekuatiran. “Ngoko, jika kau tidak berterus terang, aku akan jengkel sekali.” katanya dengan suara lemah lembut. “Ada apa yang mendukakan hatimu?”

Coei San menghela napas. “Aku harap saja penglihatanku keliru,” katanya. “Dalam beberapa hari ini, kulihat perubahan pada paras muka Cia Cianpwee.”

So So mengeluarkan seruan tertahan dan berkata dengan suara berkuatir , “Benar, akupun sudah lihat perubahan itu. Paras mukanya makin hari jadi makin ganas dan mungkin sekali ia bakal kalap lagi.”

Coei San manggut-manggutkan kepalanya. “Dia rupanya jengkel karena tidak dapat menembus rahasia yang meliputi To liong to.” katanya.

Tiba-tiba air mata So So mengucur, sehingga suaminya terkejut. “Aku sedikitpun tidak merasa halangan kalau kita mati bertempur dan mati bersama-sama dia,” katanya dengan suara sedih. “Tapi…tapi…”

Dengan rasa terharu, Coei San memeluk istrinya. “Benar sesudah mempunyai anak, kita tak boleh sembarangan mengadu jiwa,” katanya “Kalau dia kumat lagi kalapnya, tiada jalan lain dari pada membinasakannya. Kedua matanya sudah buta dan aku merasa pasti, dia tak akan bisa mencelakakan kita.”

Mendengar niatan suaminya untuk membunuh Cia Soen, badan nyonya itu bergemetaran. Sebagaimana diketahui, waktu masih belum hamil, ia kejam luar biasa dan dapat membunuh puluhan manusia tanpa berkesiap. Tapi sesudah hamil, entah mengapa hatinya jadi berubah mulia.

Pernah kejadian pada suatu hari Coei San menangkap seekor biang menjangan yang diikuti oleh dua anaknya sampai di gua. So So merasa tak tega dan berkeras supaya suaminya melepaskan betina menjangan itu. Ia lebih suka makan buah-buahan saja daripada membunuhnya.

Melihat istrinya menggigil, Coei San tertawa seraya berkata dengan suara menyinta, “Aku harap saja dia tidak kalap lagi. So So, berikan saja nama Liam Coe (Langit Welas asih) kepada anak kita. Apa kau setuju? Aku ingin supaya kalau sudah besar, dia akan terus ingat, bahwa ibunya mempunyai hati yang welas asih. Perempuan atau lelaki, kita berikan saja nama itu.”

So So mengangguk dengan perasaan beruntung. “Dulu, setiap kali aka membunuh manusia, hatiku merasa girang,” katanya. “Tapi sekarang, dengan mengatahui, bahwa dalam hatiku telah muncul perasaan kasih terhadap sesama manusia, aku merasa bahagia dan kebahagiaan itu berbeda jauh dengan kegirangan di waktu dulu, waktu aku membunuh manusia.”

Sang suami manggut-manggutkan kepalanya. “Aku sungguh girang mendaegar pengutaraanmu ini,” katanya. “Orang kata, bibit mencelakakan manusia tidak boleh ditanam di dalam hati, bibit menolong manusia harus dipupuk.”

“Benar,” kata So So. “Tapi bagaimana kita harus bertindak, kalau benar dia kalap lagi. Dengan adanya saudara Kauw jie sebagai pembantu, kekuatan kita bertambah besar.”

“Tapi kurasa kita tidak dapat terlalu mengandalkan kera” kata sang suami. “Dia memang pintar sekali, tapi belum tentu dia mengerti kemauan kita. Kita harus mencari daya upaya yang lebih sempurna.”

“Begini saja,” So So mengajukan usulnya. “Waktu momberikan makanan kepadanya, kita menaruh racun…Tidak! Tidak boleh begitu! Belum tentu dia kalap lagi dan mungkin sekali kita menduga keliru.”

“Aku mempunyai serupa akal yang rasanya dapat digunakan,” kata Coei San. “Mulai besok kita pindah k ebagian sebelum gua ini dan membuat sebuah lubang jebakan di bagian luar dan di atas lubang itu, kita tutup dengan rumput dan daun daun kering.”

“Akal itu sangat baik, hanya aku kuatir kau akan dicegat dia di tengah jalan waktu kau memburu binatang,” kata So So.

Coei San tertawa. “Tak usah kau kuatirkan keselamatanku,” katanya, “Begitu lekas melihat
gelagat kurang baik, aku bisa lantas melarikan diri. Dengan memanjat batu-batu cadas dan tebing, kurasa dia tak akan dapat menyandak aku.”

Keesokan paginya, Coei San lalu mulai menggali lubang di bagian luar gua itu. Karena tidak mempunyai cangkul besi, ia terpaksa menggunakan potongan kayu, sehingga pekerjaan itu memerlukan tenaga yang sangat besar. Tapi berkat Lweekangnya yarg sangat tinggi, sesudah bekerjaa keras tujuh hari lamanya, ia berhasil menggali lubang yang dalamnya sudah kira-kira tiga tombak.

Sementara itu, makin hari Cia Soen makin gila lagaknya. Sering-sering ia menari-nari di tempat terbuka sambil mencekal To liongto.

Coei San bekerja makin keras. Sesudah menggali lima tombak, ia berniat menancapkan potongan-potongan kayu tajam di dasar lubang. Menurut rencananya, gua itu bermulut lebar dan berdasar sempit sehingga jika Cia Soen jatuh ke dalamnya, ia bukan saja akan terluka, tapi sukar dapat melompat keluar karena badannya bakal terjepit. Hanya sayang, sebelum ia selesai mengali sampai lima tombak, penyakit Cia Soen sudah keburu kumat lagi.

Hari itu, sesudah makan tengah hari, Cia Soen jalan mundar-mandir di depan gua. Coei San tidak berani bekerja, karena kuatir suara menggali tanah akan menimbulkan kecurigaannya. Ia juga tidak berani meninggalkan isterinya dan terus berdiam di luar mulut gua sambil menahan napas dan berwaspada.

Tiba-tiba Cia Soen mulai mencaci. Ia mencaci langit, bumi, dewa-dewa dan malaikat-malaikat. Sesudah itu ia mencaci kaisar-kaisar dan orang-orang ternama di jaman purba. Sebagai seorang yang berpengetahuan tinggi, maki-makiannya disertai dengan kutipan-kutipan sejarah sehingga Coei San yang mendengarnya jadi merasa ketarik sekali.

Sesudah puas menyikat orang-orang dulu, ia mulai mencaci pentolan pentolan dalam rimba persilatan. Tatmo Couw soe dari Siau lim pay, Gak Boe Bok (Gak Hoi), jago-jago dan yang lain- lain bintang di langit persilatan semua disikat bersih. Ia mencaci orang-orang gagah dari satu ke lain jaman dan apa yang sangat menarik, caciannya bukan membuta tuli, tapi di sertai juga dengan kupasan-kupasan pedas tajam mengenai kekurangan dari ilmu silat setiap partai
atau perseorangan.

Waktu memaki orang-orang gagah di jaman buntut Lam song (Kerajaan Song Selatan), yang disikat olehnya adalah Tong sia, See tok, Lam tee, Pay kay dan Tiong sin thong dan sesudah lima jago itu, ia mencaci juga Kwee Ceng dan Yo Ko. Akhirnya, tibalah giliran Thio Sam Hong, pendiri dari Boe tong pay dan sampai di situ, Coei San tak dapat menahan sabar lagi.

Dengan darah meluap, Coei San membuka mulutnya untuk balas memaki. Tetapi sebelum perkataannya keluar, tiba-tiba Cia Soen berteriak , “Thio Sam Hong bukan manusia! Muridnya Thio Coei San, juga bukan manusia! Paling benar aku mampuskan dulu bininya!”

Sambil berteriak begitu, ia melompat masuk ke dalam gua.

Coei San lantas saja turut melompat, tapi hampir berbareng, ia dengar suara gedubrakan, sebagai tanda, bahwa orang edan itu sudah terjeblos kedalam jebakan.

Tapi karena di dasar lubang belum dipasang kayu-kayu tajam, maka biarpun terguling. Cia Soen tidak sampai terluka dan sesudah hilang kagetnya, ia segera melompat ke atas.

Sementara itu, Coei San sudah menjemput potongan kayu yang digunakan untuk menggali tanah dan begitu lihat munculnya badan Cia Soen, ia segera menghantam kayu itu. Mendengar sambaran angin tajam, bagaikan kilat Cia Soen menangkap kayu itu dengan tangan kirinya dan membetotnya keras-keras. Coei San tak kuat menahan betotan yang sangat hebat itu, sehingga bukan saja kayu terlepas, tapi telapak tangannyapun terbeset dan mengeluarkan darah. Tapi karena pukulan tersebut, tubuh Cia Soen kembali jatuh ke dalam lubang.

Pada saat itu, tanpa diketahui sang suami, So So sebenarnya sudah hampir melahirkan anak. Waktu si edan itu mondar-mandir di depan gua, perutnya sudah sakit.

Tapi ia tidak berani memanggil suaminya karena kuatir didengar Cia Soen. Sekarang, melihat senjata suaminya direbut, sambil menahan sakit ia mengambil pedangnya yang lalu dilontarkan ke pada Coei San.

“Kepandaian orang itu sepuluh kali lipat tinggi dari padaku dan jika akumem bacok, pedang ini pasti akan direbut olehnya,” pikir Coei San. Mendadak ia ingat, bahwa sesudah kedua matanya buta, Cia Soen menganggap potongan kayu tadi dengan mendengar sambaran angin pukulan. Maka itu, pasti akan berhasil jika bisa menyerang tanpa menerbitkan sambaran angin.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa terbahak-bahak disusul dengan melompatnya si kalap kemulut lubang gua. Coei San segera menudingkan ujung pedang yang sudah diluruskan setelah mereka mendarat di pulau itu ke arah si edan yang sedang melesat ke atas. Ia tidak menikam atau membacok, ia hanya menunggu.

“Crass” ujung pedang menancap di kepala Cia Soen. Karena tak ada sambaran angin, Cia Soen yang sedang melompat ke atas tentu saja tak menduga, bahwa ia akan dipapaki dengan senjata tajam.

Masih untung ia mempunyai kepandaian yang sangat tinggi dan dapat bergerak luar biasa cepat. Begitu ujung pedang menggores batok kepalanya begitu ia melenggakkan kepala seraya menangkap badan pedang dan mengerahkan tenaga Ciankie toei (ilmu untuk menambah berat badan), sehingga tubuhnya jatuh lagi ke dalam lubang dengan kecepatan luar biasa. Tapi, biarpun dapat menyelamatkan jiwanya, ia sudah terluka agak berat dan darah mengucur dari kepalanya.

Begitu jatuh, ia segera mencabut pedang yang menancap dibatok kepalanya dan sesudah menghunus To liong to, untuk ketiga kalinya ia melompat pula sambil memutar golok mustika itu guna melindungi kepalanya.

Kali ini Coei San menimpuk dengan satu batu besar, tapi batu itu dipukul terpental dengan To liong to. Begitu kedua kakinya hinggap dipinggir lubang, Cia Soen menerjang seperti orang gila. Sambil melompat mundur, hati Coei San mencelos. Ia ingat, bahwa hari itu ia dan So So akan berpulang ke alam baka, tanpa melihat lagi anaknya yang belum terlahir.

Biarpun sedang kalap di dalam perkelahian, Cia Soen ternyata masih dapat menggunakan otaknya. Ia merasa, bahwa yang paling penting adalah menjaga supaya Coei San dan So So tidak dapat keluar dari gua itu. Begitu lekas mereka keluar, ia tak akan dapat mencarinya.

Maka itu, dengan tangan kanan mencekal golok dan tangan kiri memegang pedang, ia memutar kedua senjata itu bagaikan titiran cepatnva, sehingga mulut gua tertutup dengan sambaran sambaran senjata yang sangat hebat.

Mendadak, pada saat yang sangat berbahaya bagi dirinya kedua suami-isteri itu, di dalam gua terdengar suara menangisnya bayi. Cia Soen terkesiap dan ia berhenti bergerak. Bayi itu menangis terus.

Pada saat itu, walaupun tahu, bahwa bencana sudah berada di atas kepalanya, Coei San tidak menghiraukan orang edan itu lagi. Dengan perasaan yang tak dapat dilukiskan, mata Coei San dan So Sa mengawasi bayi itu yang menggerak-gerakkan kaki tangannya sambil menangis keras. Mereka mengerti, bahwa dengan sekali membabat, Cia Soen dapat membinasakan mereka bersama bayi yang baru terlahir itu. Tapi mereka tidak menghiraukan. Di dalam hati, mereka bersyukur, bahwa sebelum mati, meraka masih dapat melihat wajah anak itu.

Mereka sama sekali tak pernah mimpi, bahwa tangisan bayi itu mempunyai pengaruh yang sangat luar biasa. Dengan tiba-tiba saja, Cia Soen tersadar dan kalapnya hilang seketika, seperti daun di sapu angin. di depan matanya lantas saja terbayang peristiwa pada puluhan tahun berselang, waktu keluarganya dianiaya. Istrinya belum lama melahirkan dan bayi yang baru lahir itu tidak luput dari keganasan musuh. Dalam otaknya berkelebat-kelebat peringatan-peringatan yang menyayat hati, kecintaan suami-istri, kekejaman musuh, dibantingnya bayi yang baru lahir, usahanya untuk menambah kepandaian, tapi kepandaian musuh bertambah lebih cepat, didapatinya To liong to dan kegagalannya untuk menembus rahasia golok mustika itu. Lama ia berdiri terpaku, sebentar bersenyum, sebentar mengertak gigi.

“Lelaki atau perempuan ?” mendadak terdengar pertanyaan Cia Soen.

“Lelaki…” jawab Coei San.

“Apa arinya sudah digunting?” tanyanya pula.

“Benar! Aduh, kulupa!” jawab Coei San.

Cia Soen segera memutar pedang yang dicekalnya dan menyodorkan gagangnya kepada Coei San yang segera menyambuti dan memotong ari bayi itu. Sesaat itu ia terkesiap, karena barulah ia ingat bahwa si edan berada dekat sekali dengan mereka.

Tapi begitu melirik muka Cia Soen, ia merasa lebih lega, karena kekalapannya sudah menghilang dan paras mukanya terlukis perasaan menyayang.

“Berikan kepadaku,” kata So So dengan suara lemah.

Sang suami segera mengangkat bayi itu dan menaruhnya kedalam dukungan isterinya.

“Apa kau sudah masak air untuk memandikannya ?” tanya Cia Soen dengan suara perlahan.

Coei San tertawa. “Aku benar gila!” katanya. “Aku sudah melupakan segala apa.” Seraya berkata, ia segera bertindak keluar untuk memasak air. Tapi baru satu dua tindakan, ia berhenti karena sangsi.

Cia Soen rupanya dapat menebak kekuatiran pemuda itu, “Kau berdiam saja di sini menemani isterimu,” katanya. “Biar aku yang masak air.”

Ia segera memasukkan To liong to ke dalam sarung dan berjalan keluar sambil melompati lubang jebakan. Tak lama kemudian, ia sudah kembali dengan membawa sepaso air panas dan Coei San lalu memandikan bayinya.

“Bagaimana macamnya bayi itu?” tanya Cia Soen. “Seperti ibunya atau seperti ayahnya ?”

Coei San bersenyum “Lebih banyak menyerupai ibunya,” jawabnya “Tidak gemuk, mukanya potongan kwaci”

Cia Soen menghela napas panjang. Sesudah termenung sejenak, ia berkata dengan suara perlahan, “Aku mendoakan, supaya sesudah besar ia jangan bernasib jelek. Aku mendoakan supaya ia banyak rezeki dan umur panjang, jauh dari segala penderitaan.”

“Cia Cianpwee, apakah nasib anak ini kurang baik?” tanya So So.

“Bukan begitu,” jawabnya, “Kudengar, anak itu menyerupai kau. Kalau benar, ia berparas terlampau ayu. Orang kata, orang yang terlalu ayu sering bernasib jelek sehingga aku kuatir, jika di hari kemudian anak ini masuk dalam dunia pergaulan, ia akan menemui banyak kesukaran.”

“Cia Cianpwee, kau memikir terlalu jauh,” kata Coei San sambil tertawa. “Kita berempat berada di pulau yang terpencil ini, sehingga mana dapat anak kami masuk kedalam dunia pergaulan ?”

“Tidak!” bentak So So. “Kita boleh tak usah kembali ke Tionggoan, tapi anak ini tidak dapat dibiarkan berdiam di sini terus-menerus seumur hidupnya. Sesudah kita bertiga mati, siapa yang akan megawaninya? Sesudah dia dewasa, di mana ia harus mencari isteri ?”

Semenjak kecil In So So berada di antara orang-orang Peh bie kauw dan apa yang dilihatnya ialah perbuatan-perbuatan yang kejam sehingga sesudah besar, sifatnya jadi ganas sekali. Tapi sesudah bersuami-isteri dengan Thio Coei San, sifatnya berubah dengan perlahan. Sekarang setelah menjadi ibu, rasa cinta yang wajar terhadap anaknya memenuhi lubuk hatinya dan ia rela berkorban demi kepentingan bayi yang baru lahir itu.

Mendengar perkataan sang isteri, Coei San berduka sekali. Dengan berada di pulau itu, yang terpisah laksaan li dari wiiayah Tionggoan, dan dengan tak memiliki alat pengangkutan, mana dapat mereka kembali kedalam dunia pergaulan? Tapi ia membungkam, karena kuatir isterinya putus harapan.

“Tak salah perkataan Thio Hoejin.” kata Cia Soen. “Bagi kita bertiga, tidak halangannya untuk berdiam di sini seumur hidup. Tapi anak ini, tidak! Tak dapat kita membiarkan dia berdiam di sini seumur hidupnya tanpa mencicipi kesenangan dunia. Thio Hoejin, kita bertiga harus berusaha sedapat mungkin supaya anak itu bisa kembali ke Tionggoan.”

Bukan main girangnya So So. Ia berusaha untuk bangun berdiri. Buru-buru Coei San mencekal lengannya seraya berkata, “So So, kau mau apa? Rebahan saja!”

“Ngoko,” jawabnya, “Kita berdua harus berlutut di hadapan Cia Cianpwee guna menghaturkan terima kasih untuk kebaikannya terhadap anak kita.”

Cia Soen menggoyang-goyangkan tangannya seraya mencegah, “Tak usah! Tak usah! Apa anak itu sudah di beri nama ?”

“Secara sembarangan kami sudah memilih satu nama, yaitu Liam Coe,” jawab Coei San. “Cia Cianpwee seorang yang berpengetahuan tinggi, makaa bolehlah Cianpwee memilih lain nama yang lebih cocok untuknya!”

Cia Soen memikir sejenak. “Thio Liam Coe…Thio Liam Coe…” katanya. “Namanya itu sudah cukup baik. Tak usah diubah”

Tiba-tiba So-so mendapat satu pikiran. “Orang aneh itu kelihatannya menyayang sekali anakku,” katanya di dalam hati “Paling benar aku memberikan anak ini sebagai anak pungutnya, supaya ia tidak turunkan tangan jahat kalau kalapnya datang lagi.”

Memikir begitu, itu lantas saja berkata, “Cia Cianpwee, untuk kepentingan anak ini, aku akan mengajukan suatu permohonan kepadamu dan kuharap kau tidak menolaknya.”

“Permohonan apa?” tanyanya.

“Aku ingin menyerahkan Liam Coe kepadamu untuk dijadikan anak angkat,” jawabnya. “Biarlah kalau sudah besar, ia dapat merawat kau seperti ayahandanya sendiri. Dengan berada di bawah perlindunganmu, seumur hidupnya ia tentu tak akan dihina orang. Ngoko, bagaimana pendapatmu?”

“Bagus!” kata Coei San. “Aku harap Cia Cianpwee tidak menolak permohonan kami berdua.”

Paras muka Cia Soen mendadak berubah dan diliputi dengan sinar kedukaan yang sangat besar. “Anak kandungku sendiri telah dibanting orang sehingga jadi perkedel,” katanya dengan suara perlahan. “Apa kau tidak lihat?”

Advertisements

2 Comments »

  1. Kapan jj..thio coei sun n in so so maen..kok tiba2 pux ank..he3x bkin pnsaran az..

    Comment by Cai — 07/01/2009 @ 1:18 pm

  2. he he kok cepat banget punya anak.. Hm

    Comment by kusuma — 05/04/2010 @ 5:11 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: